(PODCAST RUMPITA) Belajar dan Berkiprah di Dunia Medis, Tiongkok bersama Hilda Amanda Safir

Di awal tahun 2026, podcast RUMPITA – Rumpi bareng Ruanita menghadirkan sosok inspiratif yang tengah menempuh pendidikan kedokteran di luar negeri: Hilda Amanda Safir, mahasiswi asal Indonesia di Anhui Medical University, Tiongkok.

Dipandu oleh Anna, percakapan hangat ini mengupas kehidupan Hilda di provinsi Anhui, mulai dari proses perkuliahan, budaya setempat, hingga teknologi medis terkini yang ia temui selama studi di Tiongkok.

Hilda telah tinggal di Tiongkok sejak tahun 2019. Ia mengungkap bahwa proses pendaftaran kuliah dan beasiswa di Tiongkok cukup sederhana, seleksi dilakukan sepenuhnya melalui dokumen seperti paspor, transkrip nilai, sertifikat TOEFL atau HSK, serta hasil medical check-up.

Ia menyarankan untuk menyiapkan dokumen jauh hari sebelum tenggat karena peminat beasiswa sangat banyak.

Hilda menerima beasiswa penuh dari Pemerintah Anhui yang mencakup:

  • Biaya kuliah (SPP),
  • Buku dan perlengkapan akademik,
  • Asrama kampus,
  • Tunjangan hidup dan makan.

Ia menambahkan bahwa semua mahasiswa, baik lokal maupun internasional, diwajibkan tinggal di asrama kampus.

Sebagai mahasiswi program kedokteran bidang bedah, Hilda memulai perjalanannya dengan niat menjadi dokter sejak SMA. Kecintaannya pada ilmu pengetahuan dan semangat memberi dampak langsung kepada pasien mendorongnya untuk memilih spesialisasi ini.

Salah satu tantangan terberat di awal adalah bahasa Mandarin. Saat baru tiba, ia belum bisa berbicara Mandarin dan sempat berkomunikasi dengan bahasa tubuh dan Google Translate.

Namun seiring waktu, Hilda berhasil menyesuaikan diri karena lingkungan memaksanya belajar dengan cepat, terutama karena pasien rumah sakit tidak bisa berbahasa Inggris.

“Kalau mau praktik langsung di rumah sakit, kita harus bisa Bahasa Mandarin. Karena pasiennya tidak bisa berbahasa Inggris. Jadi kita harus bisa tanya kondisi mereka langsung.”

Hilda sempat menceritakan pengalaman menarik ketika pertama kali menangani pasien di rumah sakit. Salah satu pasiennya bertanya kenapa ia mengenakan hijab saat musim panas. Ia menjelaskan bahwa itu bagian dari keyakinannya sebagai Muslim, dan pasien merespons dengan baik.

Hilda menyampaikan bahwa teknologi medis di Tiongkok berkembang sangat pesat, bahkan di kampusnya sudah digunakan robot operasi. Dokter hanya duduk di depan monitor dan mengoperasikan robot untuk melakukan prosedur langsung ke pasien.

Ia membandingkan dengan beberapa negara lain, bahwa teknologi seperti ini belum tentu digunakan secara luas. Menurut Hilda, ini adalah salah satu kekuatan besar sistem medis di Tiongkok.

Tinggal di dekat dengan Wuhan, Hilda mengungkap bahwa jumlah Muslim di kota tersebut tidak sebanyak di daerah seperti Xinjiang. Untuk urusan makanan, meskipun banyak pilihan, ia lebih sering memasak sendiri makanan khas Indonesia.

Ia juga menyarankan bahwa bagi siapa pun yang ingin ke Tiongkok, ada banyak opsi kuliner, dan kebanyakan kota sudah sangat terbuka pada wisatawan maupun mahasiswa internasional.

Di akhir diskusi, Hilda menyampaikan pesan kepada para perempuan Indonesia yang ingin berkuliah atau mengejar mimpi, khususnya di bidang STEM atau kedokteran:

  1. Jangan ragu untuk bermimpi besar dan terus berusaha.
  2. Buang rasa insecure, karena kesempatan tidak datang dua kali.
  3. Ambil langkah kecil sekarang, karena itu akan membawamu lebih dekat ke tujuan besar.

“Coba dulu. Niat baik dan langkah kecil hari ini bisa jadi awal dari pencapaian besar di masa depan.”

Dengarkan diskusi podcast RUMPITA selengkapnya berikut ini di kanal Spotify dan pastikan FOLLOW untuk mendukung kami terus berbagi.

(IG LIVE) Budaya dan Stigma terhadap Kesehatan Mental: Belajar dari Tiongkok, Swiss, dan Indonesia

Dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia yang jatuh pada 10 Oktober, Ruanita Indonesia melalui akun Instagram resminya, @ruanita.indonesia, menggelar diskusi bertajuk “Budaya dan Stigma pada Orang dengan Gangguan Kesehatan Mental.”

Diskusi ini dipandu oleh Rufi dan menghadirkan dua narasumber muda inspiratif: Hilda Amanda Safir, mahasiswa kedokteran asal Indonesia yang tengah menempuh studi di Tiongkok, serta Putu Rarasati, mental health speaker yang kini menetap di Swiss.

Acara ini diikuti dengan antusias oleh para sahabat Ruanita dari berbagai daerah, yang juga berkesempatan untuk berinteraksi langsung melalui kolom komentar.

Dalam sesi pertama, Hilda Amanda menceritakan pengamatannya selama lima tahun tinggal di Tiongkok. Ia menilai bahwa pandangan masyarakat Tiongkok terhadap isu kesehatan mental kini sedang mengalami perubahan besar.

Follow us

Ia menambahkan bahwa di universitas tempatnya belajar, layanan konseling dan pusat kesehatan mental sudah tersedia secara gratis dan bersifat rahasia. Bahkan, di berbagai daerah, pemerintah bekerja sama dengan kampus untuk mengadakan kampanye tentang pentingnya menjaga kesehatan mental.

“Generasi yang lebih tua masih menganggap gangguan kesehatan mental sebagai hal tabu, bahkan cenderung mengasingkan penderitanya. Namun, di kalangan Gen Z, topik ini sudah semakin terbuka dibicarakan,” ujar Hilda.

“Anak-anak muda di sini sudah tidak segan curhat atau mencari bantuan psikologis. Ada platform daring yang memungkinkan kita berbagi cerita tanpa takut dihakimi,” tambahnya.

Sementara itu, Putu Rarasati membagikan pengalamannya tinggal di Swiss, negara yang dikenal memiliki sistem kesehatan yang sangat inklusif.

“Di Swiss, pembicaraan tentang depresi, burnout, atau terapi itu sudah jadi hal biasa, sama seperti membahas flu,” katanya.

Menurut Rarasati, lingkungan kerja dan sekolah di Swiss secara aktif mendukung kesehatan mental warganya. Karyawan mendapatkan lima minggu cuti wajib dalam setahun untuk mencegah stres, dan setiap individu memiliki akses ke hotline krisis serta layanan konseling yang ditanggung oleh asuransi wajib.

“Di sini, pergi ke psikolog dianggap sama normalnya seperti periksa ke dokter umum. Semua biaya kesehatan mental pun ditanggung asuransi,” jelasnya.

Ketika membahas konteks Indonesia, kedua narasumber sepakat bahwa stigma masih menjadi tantangan besar, meskipun kesadaran masyarakat terhadap isu ini mulai meningkat.

Hilda mengungkapkan bahwa sebagian masyarakat masih memandang gangguan kesehatan mental dari kacamata spiritual.

“Sering kali orang yang sedang tidak baik-baik saja dianggap kurang ibadah atau jauh dari Tuhan. Ada juga yang menganggapnya ‘cengeng’ atau hanya cari perhatian,” ujarnya.

Sementara itu, Rarasati menyoroti fenomena self-stigma ketika individu yang mengalami masalah justru menyalahkan diri sendiri dan enggan mencari bantuan.

“Banyak yang sadar butuh bantuan, tapi takut dicap gila, lemah, atau jadi beban keluarga. Akibatnya, gejala mereka makin berat karena tidak tertangani sejak dini,” tuturnya.

Ia menegaskan bahwa mencari bantuan profesional bukan tanda kelemahan, melainkan bentuk tanggung jawab terhadap diri sendiri.

Baik Hilda maupun Rarasati sepakat bahwa dukungan dari sistem, mulai dari pemerintah, institusi pendidikan, hingga dunia kerja sangat berperan dalam mengurangi stigma.

Hilda mencontohkan bagaimana pemerintah Tiongkok aktif mengirimkan pesan edukatif dan menyediakan layanan konseling gratis di kampus-kampus. Sementara Rarasati menilai sistem asuransi di Swiss dapat menjadi model ideal.

“Kebijakan publik yang berpihak pada kesehatan mental membantu masyarakat melihat bahwa ini bukan isu personal, tapi bagian dari kesejahteraan bersama,” jelas Rarasati.

Diskusi IG Live Ruanita Indonesia ini ditutup dengan ajakan untuk menormalisasi pembicaraan tentang kesehatan mental. Baik Hilda maupun Rarasati menekankan bahwa setiap perasaan adalah valid, dan tidak ada salahnya untuk meminta bantuan ketika merasa tidak baik-baik saja.

“Kalau kamu merasa sedih, lelah, atau homesick, itu valid. Ngobrol, curhat, atau datang ke psikolog bukan tanda kamu lemah, tapi justru tanda kamu berani,” pesan Hilda.

Melalui forum seperti ini, Ruanita Indonesia berharap semakin banyak generasi muda yang sadar, terbuka, dan saling mendukung dalam perjalanan menjaga kesehatan mental.

Simak selengkapnya rekaman diskusi IG LIVE di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

(PODCAST RUMPITA) Membangun Desa, Usai Studi di Mancanegara

Dalam episode spesial RUMPITA kali ini, Ruanita Indonesia mengajak kamu mengenal lebih dekat sosok Muhammad Shahinshah Kafiul Khuluq, atau yang akrab disapa Kafi, mahasiswa Indonesia yang kini tengah menempuh pendidikan di Tiongkok setelah sebelumnya pernah belajar di Turki.

Bersama Eci dan Anna, yang tinggal di Jerman, perbincangan Podcaster RUMPITA dengan Kafi mengalir ringan namun sarat makna: tentang pendidikan lintas negara, tantangan bahasa dan budaya, hingga impian besar untuk berkontribusi kembali ke tanah air.

Follow us

Perjalanan akademik Kafi bukan kisah instan. Ia tumbuh dan belajar di pesantren, yang menurutnya memberikan bekal penting berupa kedisiplinan, etika, dan nilai tanggung jawab. Dari lingkungan yang kental dengan nilai-nilai tradisional, ia melangkah keluar untuk mengecap pengalaman global.

Kini, ia menempuh studi di jurusan International Economics and Trade di Nanjing University of Information Science and Technology, Tiongkok. Sebelumnya, ia juga sempat mengenyam pendidikan di Turki.

“Belajar di Tiongkok memberi saya akses langsung pada praktik perdagangan global dan teknologi,” ujar Kafi. “Sedangkan di Turki, saya lebih banyak dibekali fondasi teori dan suasana yang hangat dari masyarakatnya.”

Banyak orang menganggap bahasa Mandarin sulit, namun tidak bagi Kafi. “Saya justru merasa bahasa Cina lebih mudah daripada bahasa Turki,” ujarnya sambil tertawa. Menurutnya, meski Mandarin menggunakan karakter, struktur kalimatnya lebih sederhana. “Kuncinya hanya dua: hafalan kosa kata dan menulis.”

Sistem perkuliahan di Tiongkok juga mendukung pelajar internasional—kelas disampaikan dalam bahasa Inggris, meski tetap ada kelas bahasa Cina untuk menunjang interaksi sehari-hari.

Dalam menghadapi perbedaan budaya, Kafi juga berbagi kisah lucu dan reflektif. Salah satunya, saat ia tidak menghabiskan teh dan roti yang disuguhkan oleh tuan rumah Turki—hal yang ternyata dianggap kurang sopan di sana. “Ternyata cukup dicicipi saja untuk menghormati,” kenangnya.

Menurut Kafi, gaya pendidikan di Turki dan Tiongkok sangat berbeda. Di Turki, fokus lebih pada teori dan pemahaman konseptual. Sementara di Tiongkok, pendekatannya praktis dan adaptif terhadap perkembangan teknologi global.

“Kedua pengalaman ini sangat melengkapi. Saya jadi bisa melihat ekonomi dari dua sudut yang berbeda—yang analitis dan yang aplikatif,” jelasnya.

Pengalaman lintas budaya ini memperkaya perspektifnya, terutama dalam memahami perdagangan internasional secara lebih kontekstual dan sensitif terhadap perbedaan.

Tidak lengkap rasanya membahas kehidupan di luar negeri tanpa menyentuh soal makanan. Kafi mengaku menyukai berbagai hidangan dari kedua negara. Dari zurna kebap yang panjangnya bisa dibagi tiga orang di Turki, hingga baklava yang super manis dan cocok disandingkan dengan teh pahit khas sana.

Di Tiongkok, ia menemukan banyak cita rasa yang lebih dekat dengan lidah Asia Tenggara. Meski begitu, ia menyarankan untuk tetap berhati-hati karena beberapa makanan sangat pedas atau penuh minyak cabai.

“Di Turki, saya belajar membangun jaringan sosial dalam masyarakat multikultural. Di Tiongkok, saya belajar beradaptasi cepat dan memanfaatkan teknologi,” ujar Kafi. Kedua pelajaran ini menurutnya sangat penting dalam membentuk pribadi yang fleksibel, berwawasan global, dan tahan banting.

Ia juga terinspirasi untuk terus menimba ilmu, dengan rencana melanjutkan studi S2 di Kanada di bidang bisnis dan ekonomi. Tapi impian utamanya tidak berhenti di sana.

Kafi berasal dari sebuah desa di Lamongan, Jawa Timur. Ia punya cita-cita besar: mendirikan perusahaan ekspor-impor yang bisa memberdayakan masyarakat lokal, khususnya para petani.

“Saya ingin masyarakat desa tidak hanya menjual hasil panen mentah, tapi bisa mengolahnya agar nilai jualnya lebih tinggi,” katanya. Ia percaya bahwa Indonesia kaya akan sumber daya—yang dibutuhkan adalah sistem dan pengetahuan agar kekayaan itu bisa dikelola dan dimanfaatkan secara berkelanjutan.

Bagi para pendengar RUMPITA yang bermimpi untuk studi ke luar negeri, Kafi punya pesan sederhana namun kuat: “Beranilah mencoba dan siapkan diri sebaik mungkin.”

Ia menekankan pentingnya riset, kepercayaan diri, dan ketekunan. “Persaingan itu ada, tapi peluang juga ada. Jangan takut memulai dari titik nol,” katanya.

Simak selengkapnya di saluran PODCAST RUMPITA dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami:

(PODCAST RUMPITA) Mengenali Isu Kesehatan Mental dan Cashless Society di Tiongkok

Dalam episode ke-29, program Podcast Rumpita (=Rumpi bersama Ruanita) mengambil tema kesehatan mental, sebagaimana peringatan dunia setiap 10 Oktober. Untuk membahas lebih lanjut, Fadni yang memandu diskusi podcast mengundang sahabat Ruanita yang tinggal di Tiongkok. Fadni adalah mahasiswa S2 di Universitas Humboldt di Berlin, Jerman.

Tamu yang hadir adalah Yantri Dewi, yang pernah tinggal di Belgia dan Norwegia, dan kini menetap di Tiongkok bersama keluarga. Yantri menceritakan pengalamannya saat terjadi Lockdown di Tiongkok, di mana Yantri bisa merasakan isu kesehatan mental dijalaninya selama di sana. Yantri mengatakan tema kesehatan mental telah ada dalam materi ajar kursus mandarin yang dipelajarinya.

Meski begitu, perlakukan Yantri sebagai expat selama tinggal di Tiongkok berbeda dengan warga Tiongkok sendiri dalam mendapatkan layanan kesehatan jiwa. Bagi Yantri, ia kini sudah fasih dalam berbicara bahasa Mandarin dan tidak kesulitan dalam berkomunikasi dengan warga lokal.

Yanti kini bekerja sebagai pengajar di sekolah internasional di Tiongkok. Dia juga banyak bercerita tentang perubahan masyarakat yang mengarah pada budaya digitalisasi yang meningkat. Budaya yang disebut cashless society memang diterapkan di Tiongkok. Banyak hal yang memang terkesan asing tetapi ini membuat tampak mudah ketika cashless menjadi kultur sehari-hari.

Apa yang membuat Yantri memutuskan tinggal di Tiongkok? Bagaimana pengalaman Yantri terkait isu kesehatan mental di Tiongkok? Apa saja yang menarik dan menantang dari kehidupan cashless society yang diterapkan di Tiongkok? Apa pesan Yantri kalau sahabat Ruanita ingin tinggal atau berwisata ke Tiongkok?

Simak selengkapnya lewat kanal podcast Spotify berikut ini dan jangan lupa follow kanal Spotify kami: