Jakarta, Januari 2026 – Ruanita Indonesia kembali menyelenggarakan program literasi bertajuk Workshop Warga Menulis Fiksi “Gema dari Ruang Hening”, sebuah ruang menulis kolektif untuk orang Indonesia di berbagai negara dalam mengolah pengalaman hidup menjadi karya fiksi yang kuat, bermakna, dan berlapis konteks transnasional. Program ini digelar sebagai bagian dari Kampanye Digital peringatan Hari Perempuan Internasional 2026 dan menjadi salah satu agenda literasi tahunan Ruanita.
Workshop yang berlangsung secara daring ini menghadirkan Asmayani Kusrini, penulis fiksi dan seorang Communications Officer yang bermukim di Brussel, sebagai pemateri utama. Sementara jalannya kegiatan dimoderasi oleh Griska Gunara, relawan Ruanita di Inggris Raya, yang punya latar belakang jurnalistik.
Program berformat tiga pertemuan ini diselenggarakan pada hari Sabtu, 17, 24 Januari, dan 7 Februari 2026 dengan durasi dua jam setiap sesi. Waktu disesuaikan dengan zonasi internasional mulai pukul 09.00 GMT, 10.00 CET, 11.00 EET, hingga 16.00 WIB, untuk memastikan keterjangkauan peserta yang berada di berbagai negara.
Di Ruanita, penyelenggara meyakini bahwa setiap orang memiliki kisahnya sendiri, dan pengalaman lintas batas kerap melahirkan narasi yang kompleks dan kaya. Karena itu, workshop ini dirancang bukan hanya sebagai kelas teknis menulis, tetapi juga sebagai ruang aman untuk meresapi pengalaman transnasional, membaca dan mendiskusikan referensi cerita pendek, menonton film relevan, serta memproduksi karya fiksi yang kemudian dipersiapkan sebagai bagian kampanye publik.
Selain menghasilkan naskah, peserta juga ditargetkan menyelesaikan draft final untuk dikirimkan selambatnya 14 Februari 2026. Karya-karya terpilih akan dipublikasikan dalam Kampanye Digital Hari Perempuan Internasional 2026, serta berpeluang diterbitkan dalam buku ketiga Ruanita Indonesia. Dengan demikian, program ini diharapkan berkontribusi pada produksi pengetahuan dan narasi perempuan Indonesia lintas negara, sekaligus memperkuat praktik literasi kultural yang inklusif dan sensitif pengalaman.
Workshop ini terbuka bagi warga berusia di atas 18 tahun dari mana pun berada yang pernah atau sedang mengalami kehidupan antarnegara. Peserta wajib mengikuti ketentuan teknis seperti kehadiran penuh dalam tiga sesi, penyusunan karya sesuai instruksi pemateri, penyerahan naskah final, serta pemberian persetujuan penggunaan karya dalam kampanye digital. Perekaman dilakukan hanya untuk keperluan dokumentasi internal dan seluruh data peserta akan disimpan maksimal enam bulan sesuai kebijakan privasi penyelenggara.
Melalui workshop “Gema dari Ruang Hening”, Ruanita berharap muncul suara-suara baru dalam penulisan fiksi Indonesia kontemporer yang bersumber dari pengalaman hidup orang Indonesia di berbagai penjuru dunia, baik sebagai pelajar, pekerja, maupun individu yang bergerak lintas batas budaya.
Program ini merupakan bagian dari inisiatif Ruanita Indonesia yang didirikan dan dikelola oleh Anna Knöbl di Jerman, sebagai ruang kolektif digital berbasis manajemen nilai, resource sharing, dan intervensi komunitas dalam konteks lintas negara. Inisiatif ini berfungsi sebagai social support system yang memanfaatkan teknologi digital modern sebagai medium interaksi dan pembelajaran.
Informasi lebih lanjut, kontak Griska Gunara di UK melalui email: info@ruanita.com.
Wanita Alfa atau lebih dikenal khalayak dengan Alfa Female, pertama kali digunakan untuk menggambarkan seorang wanita yang memiliki sifat yang kuat, independent, dan berpengaruh. Istilah ini berasal dari istilah “Alfa Male”, yang digunakan untuk menggambarkan seorang pria yang memimpin dalam segala hal, baik dalam hal profesional maupun pribadi. Dalam hal ini “Wanita Alfa” atau Alfa Female digunakan untuk menggambarkan wanita yang memiliki tingkat kekuatan yang sama dengan Alfa Male.
Kepribadian wanita Alfa sangat kuat. Mereka memiliki keyakinan diri yang tinggi, kemampuan memimpin dengan hebatnya dan tidak takut berbicara demi memperjuangkan pendapat. Mereka menggunakan cara-cara yang efektif untuk mencapai tujuan. Keterampilan berkomunikasi digunakan dengan baik, persuasif dan bisa memotivasi banyak orang adalah salah satu caranya.
Kepopuleran dan pengaruh wanita Alfa di dunia sangat besar dan bisa dibilang meningkat setiap tahunnya. Berikut adalah beberapa tokoh wanita Alfa yang populer dan berpengaruh di dunia:
1. Kamala Harris – Wakil Presiden Amerika Serikat.
2. Angela Merkel – Mantan Kanselir Jerman.
3. Jacinda Ardern – Perdana Menteri Selandia Baru.
4. Hillary Clinton – Mantan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat.
5. Oprah Winfrey – Pembicara, Produser Televisi dan Filantropis.
6. Sheryl Sandberg – COO Facebook dan Penulis Buku “Lean In”.
7. Michelle Obama – Pengacara, Penulis dan Mantan Ibu Negara Amerika Serikat.
8. Indira Gandhi – Mantan Perdana Menteri India.
9. Amanda Gorman – Penyair, Aktivis dan Penulis.
10. Sri Mulyani – Wanita sekaligus orang Indonesia Pertama yang menjabat sebagai Direktur Pelaksana Bank Dunia dan Menteri Keuangan Indonesia.
Tokoh-tokoh wanita Alfa di atas sudah dicatatkan dalam sejarah sebagai pemikir terkemuka dalam bidang mereka masing-masing. Secara umum, saya melihat tokoh-tokoh tersebut sebagai pemimpin inspiratif dan role model bagi banyak orang, terutama bagi kaum wanita.
Mereka membuktikan bahwa gender tidak menjadi penghalang bagi seseorang untuk mencapai kesuksesan dan memimpin dalam bidang tertentu. Mereka menunjukan bahwa bukan gender, melainkan kualitas seperti dedikasi, keterampilan dan kemampuan memimpin adalah faktor yang menjadikan seorang pemimpin hebat dan sukses.
Pencapaian istimewa dari para wanita Alfa di atas adalah kemampuannya untuk menyeimbangkan peran publik dan perannya sebagai wanita dengan sangat baik. Mereka mampu menjalani hidup mereka dengan sangat efektif, menjadi pemimpin di bidang mereka, dan juga memenuhi tanggung jawab sebagai seorang wanita.
Memiliki kemampuan untuk memprioritaskan tugas mereka, memiliki kemampuan untuk mengatasi konflik, dan memastikan bahwa semuanya dapat berjalan lancar. Mereka adalah wanita Alfa yang memiliki kemampuan memotivasi orang lain, baik di tempat kerja maupun di rumah. Terlihat dengan jelas memiliki kemampuan untuk membangun hubungan yang kuat dan harmonis dengan orang-orang di sekitarnya.
Kemudian menjadi pertanyaan di benak saya, bagaimana seorang wanita bisa menjadi wanita Alfa? Wanita-wanita Alfa ini sukses tidak hanya menggebrak stigma kepemimpinan yang biasa dipegang kaum pria, tapi juga memengaruhi publik serta orang yang ada disekitarnya. Menyeimbangkan peran, memberikan kontribusi yang signifikan di berbagai bidang baik di lingkungan kerja maupun di rumah adalah sesuatu luar biasa. Dengan memiliki visi yang jelas dan tidak terpengaruh oleh keterbatasan gender. Wanita Alfa memimpin dengan keterampilan dan keahlian yang luar biasa, membuat keputusan sulit dan membawa perubahan yang diperlukan.
Apakah seorang wanita bisa menjadi wanita Alfa karena bentukan dari sebuah intuisi wanita itu sendiri? Ataukah menjadi seorang wanita Alfa adalah sebuah pilihan yang memang dipilih sendiri oleh wanita itu? Atau munculnya wanita Alfa ini karena lingkungan yang membuatnya? Melalui narasi-narasi di bawah ini saya coba untuk menguraikan.
Narasi yang pertama, ada seorang wanita bernama Fatimah. Sebagai anak bungsu dari keluarga mampu dan istri dari seorang pengusaha sukses, dia memiliki kemampuan dalam memahami situasi dan membuat keputusan yang tepat dan cepat.
Kemampuan ini berasal dari intuisinya yang kuat dan dalam, yang seolah memberikan nasihat dan petunjuk kepadanya dalam setiap tahap hidupnya. Fatimah selalu memercayai dan mengikuti intuisinya, bahkan saat orang lain tidak setuju dengan pilihan hidupnya.
Ia memutuskan untuk mengikuti mimpinya dan mengejar karir di bidang yang benar-benar passion-nya menjadi Teknisi Mesin meskipun ini berarti meninggalkan kenyamanan dan keamanan yang ditawarkan pekerjaan lamanya. Intuisi Fatimah membawanya ke lingkungan dan situasi baru yang memacu pertumbuhan dan pengembangan diri.
Ia beradaptasi dan membuat keputusan yang tepat, membawanya mencapai kesuksesan yang luar biasa dalam bidang yang dipilihnya. Fatimah memimpin timnya dengan visi yang jelas dan tegas, memotivasi orang untuk bekerja sama dan membantu mereka mencapai potensi yang maksimal. Ia memimpin dengan kepemimpinan yang inspiratif dan membantu orang lain untuk berkembang dan sukses bersama.
Fatimah menjadi contoh bagi wanita lain bahwa intuisi adalah kekuatan yang sangat kuat dan dapat membantu seseorang mencapai kesuksesan dan memimpin hidup mereka. Ia membuktikan bahwa dengan memercayai intuisi dan mengikuti intuisi, seseorang dapat mencapai kesuksesan dan memiliki pengaruh besar dalam lingkupnya.
Narasi yang kedua, sosok wanita bernama Dian, anak sulung dan seorang ibu tunggal dengan 5 anak, kondisi keluarganya mengharuskan Dian untuk mengemban tanggung jawab sebagai kepala keluarga. Dian memutuskan memilih untuk menjadi sosok kepala keluarga yang kuat dan tangguh supaya bisa membawa keluarganya sukses dan mapan.
Dian bekerja dengan giat sambil menjalankan rumah tangga serta membesarkan anak-anaknya sendiri. Dian mulai membangun usaha catering rumahan yang dikerjakan sendiri pada awalnya, hingga akhirnya usaha catering-nya sukses dan memiliki karyawan total lebih dari 800 orang.
Dian berhasil memotivasi dan meyakinkan karyawan-karyawannya untuk sukses bersama dengan membuka cabang di beberapa kota lain. Di sini kita bisa melihat, Dian adalah sosok yang memiliki kemampuan dalam memilih pilihan hidupnya dengan kuat dan tegas. Tekanan lingkungan dan permasalahan demi permasalahan tidak gentar ia hadapi dengan sebaiknya.
Saat ini pada usianya menjelang 70 tahun, Dian sudah bisa menikmati hasil kerja kerasnya selama ini, menikmati masa-masa pensiun, ia berhasil membesarkan anak-anaknya dengan baik. Kelima anak Dian sukses menyelesaikan pendidikan hingga tingkat pascasarjana dan berkarir dengan gemilang.
Dian adalah contoh dari seorang wanita yang memilih untuk menjadi wanita Alfa tangguh. Ia membuktikan dengan membuat pilihan hidup yang berani, seseorang bisa menjadi wanita Alfa yang sukses memberikan dampak positif untuk dirinya, keluarganya dan juga timnya.
Narasi yang ketiga. Diceritakan bahwa Mira, wanita yang tumbuh dalam lingkungan yang sangat mendukung dan membentuk dirinya menjadi wanita Alfa. Ia dibesarkan dalam lingkungan yang memperkuat pemikiran dan keyakinan bahwa setiap setiap wanita memiliki potensi untuk memimpin dan berpengaruh dalam lingkup mereka.
Mira adalah anak dari seorang wanita sukses pemilik perusahaan besar yang menaungi beberapa perusahaan dan berpengaruh dalam lingkup bisnis. Ia menjadi panutan Mira dan membantu Mira memahami bahwa wanita adalah kaum berdaya yang memiliki kemampuan memimpin dan bisa memengaruhi publik. Mira memperoleh pendidikan yang kuat dan sangat menunjang serta lingkup kerja yang menyediakan kesempatan baginya untuk mengembangkan dan memperkuat kemampuannya sebagai wanita Alfa.
Ia bekerja dengan tim dan pimpinan yang menghormati serta mendukung potensi dan bakat yang dimilikinya. Mira kini menjadi sosok wanita Alfa, pengusaha sukses dan aktivis yang populer menyuarakan aspirasi-aspirasi lingkungan dengan dampak positif yang dirasakan oleh masyarakat. Melalui ide-ide yang ia suarakan, terjadi banyak perubahan kebijakan pemerintah ke arah yang lebih baik.
Sosok Mira adalah bukti bahwa lingkungan adalah tempat terbaik yang memengaruhi pembentukan pola pikir dan karakter seseorang. Ia menjadi contoh bahwa dengan memiliki lingkungan yang menghormati dan mendukung setiap potensi wanita untuk berkembang, seorang wanita bisa menjadi wanita Alfa yang sukses dan berpengaruh terhadap masyarakat sekitarnya.
Ada beberapa wanita yang secara alami berintuisi, memiliki kepribadian dan sikap yang kuat dalam memimpin, sementara yang lainnya mungkin harus memilih untuk mengembangkan serta memperkuat kemampuan mereka dalam memimpin melalui pelatihan atau kegiatan-kegiatan yang sifatnya menawarkan “untuk menambah dan mengasah ilmu kepemimpinan”.
Saya pun percaya bahwa pengalaman hidup dan lingkungan juga memainkan peran dalam membentuk seorang wanita menjadi wanita Alfa. Terkadang, orang-orang dapat memutuskan untuk menjadi pemimpin setelah mengalami situasi atau tantangan yang membutuhkan mereka untuk memimpin dan membuktikan kemampuan mereka.
Perlu diingat bahwa setiap wanita memiliki potensi untuk sukses, tidak peduli apakah mereka memiliki sifat wanita Alfa atau tidak. Keberhasilan dalam bidang apapun tergantung pada kerja keras, dedikasi dan kemampuan belajar yang tangguh serta beradaptasi.
Jadi walaupun secara alami memiliki kepribadian dan sikap wanita Alfa, tidak ada jaminan bahwa wanita ini akan sukses. Apalagi menggebrak dan berpengaruh terhadap publik, tidak ada batasan bagi siapa saja mencapai kesuksesan.
Panggilan untuk setiap wanita: Kejarlah impian dan manfaatkan potensi Anda sepenuhnya! Ini adalah ajakan untuk memiliki keberanian dan tekad untuk memimpin dan berkontribusi positif dalam masyarakat.
Menjadi wanita Alfa di ruang publik, bukan hanya tentang sukses di bidang tertentu saja, ini tentang memiliki dedikasi dan gairah untuk mencapai kesuksesan bersama. Mari berperan ganda dan buktikan bahwa wanita bisa berdaya, membuat perbedaan positif bagi diri sendiri dan dalam hidup banyak orang.
Sampai akhirnya pada suatu hari Anda bisa berkata layaknya kalimat mutiara anonim: “Jangan meremehkan saya! Saya tahu lebih banyak daripada yang saya katakan, melakukan lebih banyak dari yang saya bicarakan dan memperhatikan lebih banyak dari yang Anda sadari.”
Penulis: Nadiya Dewantari, peserta Workshop Warga Menulis 2023 dan tinggal di Jerman
“Apalah arti sebuah nama”, satu kalimat yang tak asing bagi kita semua. Jika kita renungi, kalimat tersebut mempunyai arti yang dalam. Sebuah sikap bahwa ada hal lain yang lebih penting daripada sebuah nama. Buat saya sendiri, tema nama selalu menarik perhatian. Sebuah nama mempunyai latar belakang tradisi tua yang sangat berpengaruh dalam kehidupan seseorang, terutama bagi kehidupan seorang perempuan.
Di banyak negara, perempuan menukar nama keluarganya dengan nama keluarga suami yang dinikahinya. Di Indonesia fenomena yang ada adalah perempuan Indonesia kehilangan nama depannya setelah mereka berkeluarga, berganti dengan Mama Si Tole atau Istri Si Anu. Tetapi fenomena ini mungkin tidak banyak terjadi terhadap perempuan pemimpin. Apakah seorang perempuan harus menjadi pemimpin untuk tidak kehilangan nama depannya?
Para perempuan Indonesia lahir dan mendapatkan nama yang diberikan orangtua mereka. Biasanya nama mempunyai arti penting dan merupakan wujud kebahagiaan, harapan bahkan sebuah doa dari orang tua mereka. Di luar nama yang menunjukkan tradisi, identitas adat dan agama, nama depan menjadi bagian aktif dalam kehidupan para perempuan sejak lahir.
Nama tersebut seharusnya menjadi nama yang melekat di sepanjang hidup mereka. Tetapi tak jarang nama itu hanya dikenal hanya sampai mereka mendirikan keluarga. Terlepas dari hanya sebatas pemberian nama dari orang tua, ada juga aturan pemberian nama terkait adat dan hukum yang mengikat.
Mari kita simak beberapa contoh perjalanan para perempuan pemimpin di beberapa negara dan nama depan mereka. Saya mengambil contoh Indonesia, Jerman dan Spanyol sebagai tiga negara yang saya kenal baik. Indonesia sebagai kampung halaman, tanah kelahiran. Jerman dan Spanyol sebagai kampung halaman pilihan, tanah domisili.
Megawati Soekarnoputri, nama perempuan terkenal yang pernah menjadi pimpinan negara Republik Indonesia pada tahun 2001 hingga 2004. Nama depannya sangat kental kita kenal: Megawati atau nama singkatnya, Mega.
Publik menyapa politisi perempuan ini dengan sebutan Bu Mega. Sebagai pemimpin, putri dari salah satu Proklamator Kemerdekaan Republik Indonesia ini, sudah lebih dulu menjadi presiden perempuan pertama di Indonesia. Di Jerman, perempuan pemimpin yang disapa publik dengan nama Frau (Ibu) Angela Merkel. Ia menjadi kanselir negeri Jerman 16 tahun lamanya, sejak 2005 hingga 2021.
Ia menjadi seorang perempuan yang dicatat sejarah sebagai kanselir perempuan pertama di negara Republik Federal Jerman. Frau Merkel juga menjadi salah satu perempuan paling berpengaruh di dunia.
Berbeda dengan Bu Mega, Frau Merkel lahir dengan nama lain, yaitu Angela Dorothea Kasner. Kita bisa melihat bahwa tradisi nama seorang perempuan Indonesia sangatlah kental dengan nama depan pemberian orang tuanya. Kita ambil nama lain, misalnya Profesor Conny Semiawan, seorang ilmuwan, mantan rektor Universitas Negri Jakarta, sebutan yang lebih dikenal untuk Almarhumah adalah Ibu Conny, bukan Ibu Semiawan.
Lain halnya dengan di Jerman. Ada hukum pemberian nama, yaitu ada nama depan dan nama keluarga yang mengikat. Ada tata cara penggunaan bahasa dalam menyapa nama. Tambah lagi, ada juga aturan perubahan nama keluarga saat seseorang menikah. Saat ini hukum itu berbeda dibanding saat Frau Merkel menikah dengan suami pertamanya.
Saat itu mungkin belum banyak pilihan, umumnya orang memutuskan menanggalkan nama belakangnya untuk ditukar dengan nama suaminya. Di pernikahan keduanya Frau Merkel menggunakan nama keluarga sebelumnya, tidak mengubah namanya. Kini secara hukum, saat seseorang menikah, di Jerman ada banyak pilihan yang bisa diambil.
Orang bisa menambah, mengurangi, atau pun tetap tetap mempertahankan nama yang disandang sebelumnya. Selain contoh di atas, ada hal yang harus diingat. Misalnya presiden Uni Eropa, seorang perempuan bernama Ursula von der Leyen, sebutannya Frau von der Leyen. Sebutan dengan cara Indonesia dengan kata sapa diikuti nama depan, Frau Ursula, tidak akan terjadi.
Sementara di Indonesia, penambahan atau pengurangan nama yang dicatat secara hukum karena pernikahan, tidaklah menjadi bagian aturan yang digunakan.
Contoh kecil di atas memperlihatkan perbedaan tentang penggunaan nama di masing-masing negara. Di Jerman dan di Indonesia, aturan resmi penggunaan nama itu sangat lekat dengan tradisi dan aturan hukum yang berlaku. Di bagian dunia lain ada banyak tradisi dan aturan yang berbeda. Saya ambil contoh, misalnya budaya pemberian nama di negara Spanyol.
Jangan berpikir, bahwa sebagai salah satu negara di wilayah Eropa, aturan di Spanyol sama atau pun mirip dengan Jerman. Penjelasan di bawah ini diharap bisa membuka pemahaman umum. Tradisi pemberian nama sama sekali tak bergantung pada letak geografi. Memang pada dasarnya dari pilihan nama-nama di Jerman dan di Spanyol ditemui perbedaan dan kesamaan.
Di Spanyol, pilihan nama asli Spanyol sebagai nama yang dicatat di kantor pencatatan sipil menjadi aturan yang mengikat. Nama asli Spanyol bisa menunjukkan asal geografi, ada nama khas dari wilayah Katalan, Galicia, Andalusia, dan lainnya. Orang asli Spanyol memberikan nama pada anaknya dengan memilih nama depan dari nama-nama yang sudah ada di buku nama-nama depan orang Spanyol.
Saya ingat, seorang perempuan Spanyol ingin menamai anaknya Thelma, tetapi dalam buku besar nama, hanya ada nama Telma. Maka ia harus mengajukan permohonan. Aturan ini membuat nama-nama asli Spanyol tetap ada, tidak tergeser oleh nama asing. Selain di Spanyol, kita bisa mengenali nama-nama orang Spanyol yang digunakan juga di negara-negara Amerika Selatan.
Tiap orang Spanyol, saat lahir mereka mendapatkan satu atau beberapa nama depan yang diikuti dengan dua nama keluarga yang berjejer. Nama keluarga terdiri dari satu nama keluarga dari bapak dan satu nama keluarga dari ibu. Kita ambil saja, ratu negeri Spanyol saat ini yang bernama Letizia Ortiz Rocasolano, nama yang disandang saat ia lahir, Letizia sebagai nama depannya, nama Ortiz adalah nama keluarga yang dia peroleh dari bapak, dan nama Rocasolano dari nama keluarga ibu.
Perempuan yang sebelum menikah berprofesi sebagai seorang jurnalis itu, kini dipanggil dengan sebutan Doña Letizia. Tradisi penggunaan nama depan, yang dijadikan sebagai nama publik, tidak dikenal dalam tradisi dan aturan masyarakat Jerman, sementara dalam tradisi Spanyol, kata sebutan –Doña, Señora itu mirip dengan penggunaan sebutan bagi perempuan di Indonesia yaitu Nona, Ibu, Nyonya.
Jadi kalau menilik tema tradisi atau pun hukum pemberian nama, kita tidak bisa menggunakan pemetaan atas dasar geografi. Di Eropa juga banyak tradisi yang mengikat dan yang membebaskan perempuan menjadi dirinya dan memilih nama dirinya sesuai yang dia inginkan.
Para perempuan Indonesia biasanya punya nama depan yang dipakai sebagai nama diri, nama yang disebut oleh publik, apalagi jika dia berada di posisi yang menempatkannya sebagai pemimpin. Akan tetapi, secara umum dan secara luas, dalam kehidupan perempuan yang sudah menikah di Indonesia.
Kebanyakan mereka kehilangan nama depan karena nama panggilan yang digunakan dalam keseharian berorientasi pada suami atau anak mereka. Jangan heran jika kita berkunjung ke rumah seorang teman perempuan, seringkali kita harus tahu siapa nama panggilan yang digunakan oleh orang sekitarnya.
Seorang perempuan yang bernama Tridewi Anandaputri, setelah menikah dengan suaminya yang bernama Raja Suhari, sangat wajar jika pelan-pelan tak ada orang di lingkungan tinggalnya yang kenal nama Tridewi, Anandaputri atau nama lengkapnya, karena sejak awal berumah tangga sudah digunakan nama sebutan Bu Raja atau Bu Suhari.
Nama perempuan itu bisa juga hilang saat dipakai sebutan Mama Dewa, jika misalnya anak sulung mereka bernama Dewa.
Para perempuan pemimpin menurut saya menjadi contoh baik mempunyai nama diri, memakai nama depan mereka. Nama depan seorang perempuan di Indonesia bisa hilang karena kebiasaan masyarakat. Sayang sekali bahwa tema ini kurang mendapat perhatian, bukan saja perhatian secara umum, tapi juga perhatian dari para penyandangnya sendiri.
Bisa jadi karena keberterimaan yang tinggi dari penyandang nama tersebut. Mereka yang sudah merasa puas mendapat posisi sebutan Istri Si Anu ataupun Mama Si Tole. Jika situasinya memang demikian maka tak ada hal yang perlu diubah. Akan tetapi, untuk para perempuan yang belum terlanjur kehilangan nama depannya, saya berharap agar tulisan ini bisa bermanfaat sebagai bahan pertimbangan Anda.
Keputusan perubahan ada di tangan Anda, siapa pun Anda, dengan nama apa pun Anda ingin tampil di ruang publik dan lingkungan Anda. Satu hal saya yakini, bahwa tak harus jadi pemimpin untuk tetap mempertahankan nama depan Anda. Selamat Hari Perempuan Sedunia 2023!
Penulis: Dyah Narang-Huth, peserta Workshop Warga Menulis 2023 dan tinggal di Jerman.