(CERITA SAHABAT SPESIAL) “Ratu Rendang” dan Diplomasi Kuliner Indonesia ke Amerika Latin

Agustus menjadi bulan yang istimewa bagi seluruh rakyat Indonesia, ketika semangat kemerdekaan digaungkan di berbagai penjuru dunia.

Dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80, Cerita Sahabat Spesial (CSS) edisi Agustus 2025 mempersembahkan kisah inspiratif dari belahan dunia yang jauh: Rio de Janeiro, Brasil, tempat seorang perempuan Indonesia mengharumkan nama bangsa lewat kekuatan rasa kuliner Indonesia.

Dialah Sinta Stepani Surento, perempuan asal Toraja, Sulawesi Selatan, yang kini dikenal sebagai “Ratu Rendang” di Amerika Latin.

Dari Rantepao, Toraja ke Rio de Jainero, Brasil

Sinta menapaki jejak panjang dari tanah kelahirannya di Rantepao hingga menetap di Brasil sejak tahun 2003.

Ia memulai perjalanannya sebagai mahasiswa di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, lalu hijrah ke negeri Samba untuk memulai hidup baru.

Awalnya, Sinta hanya memasak untuk kebutuhan pribadi dan kerabat.

Namun pada 15 April 2003, langkah kecil itu bertransformasi menjadi lompatan besar ketika ia memulai usaha katering makanan Indonesia.

Lambat laun, usahanya berkembang menjadi layanan pengantaran makanan khas Indonesia yang dikenal luas di Rio de Janeiro.

Kini, Sinta melayani sekitar 3.000 klien dari berbagai latar belakang.

Tak hanya komunitas orang Indonesia saja, tapi juga warga lokal Brasil yang penasaran dan jatuh cinta pada cita rasa Nusantara.

Makanan sebagai Jembatan Budaya

Perjalanan Sinta bukan sekadar tentang memasak.

Di balik setiap bumbu dan rempah yang ia racik, terdapat misi kebudayaan yang mendalam: memperkenalkan Indonesia kepada dunia. “Karena makanan itu, orang jadi ingin pergi ke Indonesia,” ujarnya.

Baginya, kuliner adalah salah satu bentuk diplomasi paling efektif.

Ketika orang Brasil mencicipi rendangnya, bukan hanya rasa yang mereka ingat, tapi juga keramahan, kehangatan, dan semangat Indonesia.

Tak jarang, pertemuan bisnis yang buntu akhirnya terselesaikan hanya karena semangkuk rendang.

Sinta bahkan pernah membantu seorang pebisnis Indonesia melobi mitra lokalnya dan negosiasi berhasi, berkat sajian masakan khas Indonesia yang ia buat.

“Saya sempat dijuluki Ratu Rendang di Rio de Janeiro,” kisahnya sambil tertawa.

Tantangan dan Adaptasi Rasa

Namun memperkenalkan kuliner Indonesia di luar negeri tidak selalu mudah. Salah satu tantangan terbesar yang Sinta hadapi adalah soal rasa.

“Masakan kita itu kan cukup pedas ya, dan orang Brazil itu kebanyakan 90 persen dari observasi saya tidak suka pedas,” katanya.

Mau tak mau, Sinta harus melakukan modifikasi terhadap resep agar lebih sesuai dengan lidah lokal.

Ia memisahkan sambal dari masakan utama, menyesuaikan kadar manis dan asin, bahkan mengakali bahan-bahan yang sulit ditemukan seperti kencur atau lengkuas.

“Menurut saya sebagai orang Indonesia tidak sesuai rasanya seperti di Indonesia” katanya, “Tapi bagi orang Brazil, itu sudah enak sekali.”

Adaptasi rasa menjadi bentuk kompromi kreatif agar cita rasa Indonesia tetap bisa dinikmati tanpa kehilangan karakter aslinya.

Dari Dapur ke Media Massa

Popularitas Sinta melesat bukan hanya dari dapur ke dapur, tapi juga merambah ke media massa.

Beberapa media digital dan radio ternama di Brazil seperti CBN Rio de Jeneiro mewawancarainya secara khusus untuk membahas makanan Indonesia.

Bahkan, ia kerap diminta membagikan resep-resep seperti nasi goreng dan mi goreng oleh berbagai majalah gaya hidup.

Jejaring sosial seperti Instagram dan WhatsApp menjadi alat penting dalam mempromosikan bisnis dan budaya Indonesia.

“Dari mulut ke mulut, grup WhatsApp, dan Instagram itu akhirnya saya dibantu teman-teman untuk mempromosikan masakan Indonesia,” jelasnya.

Namun, ia juga mengakui bahwa promosi personal semacam itu tak akan pernah cukup untuk menjangkau skala lebih besar tanpa dukungan institusional yang memadai.

Harapan akan Peran Negara

Meski berhasil membangun usaha dari nol dan mempopulerkan makanan Indonesia di Brazil, Sinta menyimpan harapan besar kepada pemerintah Indonesia agar lebih proaktif dalam mendata dan mendukung duta kuliner informal seperti dirinya.

Menurutnya, negara perlu memetakan siapa saja orang-orang Indonesia di mancanegara yang berpotensi mempromosikan kebudayaan nasional melalui jalur kuliner, serta menyediakan dukungan yang nyata, baik dalam bentuk promosi, pelatihan, maupun pembukaan restoran resmi di luar negeri.

“Kalau benar-benar ingin kuliner Indonesia mendunia’, ya jadikan program ini sesuatu yang tidak tergantikan,” tegasnya.

Sinta sendiri sudah berkali-kali mendapatkan pertanyaan dari klien, orang-orang Brazil soal kapan ia akan membuka restoran sungguhan.

Keinginannya ada, tapi untuk merealisasikannya, ia butuh lebih dari sekadar semangat, ia butuh sistem pendukung.

Diplomasi Kuliner: Aset Strategis Bangsa

Cerita Sinta adalah contoh nyata bahwa diplomasi tak harus dilakukan lewat meja perundingan. Ada bentuk diplomasi yang lebih halus, lebih personal, dan tak kalah ampuh: diplomasi kuliner.

Lewat makanan, Indonesia hadir di meja makan orang-orang asing.

Rendang, sate, dan opor, membuat cinta tumbuh. Rasa penasaran terhadap makanan membuka jalan menuju ketertarikan pada budaya, bahasa, bahkan pariwisata Indonesia.

Bagi orang Brazil yang mengenal Indonesia lewat masakan Sinta, Indonesia bukan lagi negara asing. Ia menjadi rumah rasa yang menyenangkan, penuh kehangatan, dan penuh cerita.

Ruanita Indonesia dan Cerita Sahabat Spesial

Cerita Sahabat Spesial adalah program bulanan dari Ruanita Indonesia yang menyoroti perjuangan, kisah, dan inspirasi perempuan-perempuan Indonesia di berbagai penjuru dunia.

Setiap bulan, satu sosok istimewa dipilih untuk membagikan kisahnya, tentang bagaimana ia menyebarkan nilai, budaya, dan semangat Indonesia, baik secara formal maupun personal.

Melalui kisah Sinta Stepani Surento, kita belajar bahwa kemerdekaan bukan hanya soal sejarah, tapi juga tentang terus menghidupkan identitas bangsa di panggung dunia.

Simak selengkapnya di kanal YouTube kami dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami agar berbagi lebih banyak lagi

(IG LIVE) Bagaimana Perkembangan Slow Fashion versus Fast Fashion?

Diskusi IG LIVE episode Juli 2023 yang diangkat oleh RUANITA lewat akun Instagram ruanita.indonesia adalah tentang Fast Fashion. Sebagaimana kita ketahui, perkembangan fashion begitu cepat seiring dengan tuntutan gaya hidup, permintaan pasar, hingga harga yang terjangkau turut serta memicu kehadiran fenomena sosial ini. Tentu saja Fast Fashion yang dibahas dalam IG LIVE ini bukan hanya menyangkut mode semata, melainkan saja isu lingkungan hidup dan kemanusiaan yang kian hari mengancam.

Untuk membahas lebih detil, RUANITA mengundang praktisi fesyen antara lain: Vanny Tousignant yang tinggal di Amerika Serikat lewat akun Instagram vannytousignant dan Eugenia Putri Stederi yang tinggal di Jerman lewat akun Instagram utte_tee. Vanny sendiri adalah seorang Founder dan Fashion Producer dari New York Indonesia Fashion Week yang berdiri sejak 2017. Sedangkan Eugenia atau biasa disapa Ute adalah Supporter Local Labels yang sering diminta menjadi model voluntary untuk karya fesyen.

Vanny telah banyak berpengalaman dalam mempromosikan brand fashion Indonesia yang memiliki potensi untuk masuk ke pasar mode New York. Vanny telah 21 tahun bekerja di Amerika Serikat sehingga menjabat Restaurant Manager kemudian beralih ke mode. Vanny berpendapat bahwa pilihan hidup fast and slow fashion itu berada di tangan konsumen.

Follow us: ruanita.indonesia

Desainer Indonesia sudah merancang pakaian-pakaian ternama dan akan berkembang pesat dalam dunia fesyen. Menurut Vanny, dia menjadi konsultan mode agar nama Indonesia dikenal lebih luas di dunia. Vanny ingin memerkenalkan mode Indonesia seperti tenun atau busana tradisional Indonesia ke kancah dunia Internasional.

Sementara Ute sejak 2016 mulai menggiatkan produk lokal di Jerman terutama penggunaan barang secondhand dan layak pakai. Tahun 2020 Ute mulai merambah untuk mempromosikan label lokal di Indonesia. Ute sendiri lebih memilih mode yang nyaman dipakai dan tidak memikirkan opini atau pendapat orang tentang pilihan pakaian yang dikenakannya.

Vanny menyarankan agar pemerintah dapat giat mempromosikan pengrajin lokal di daerah yang kaya akan tradisi seperti tenun, perhiasan, dan berbagai produk lokal. Sebagai konsumen, kita pun perlu bijak dengan membeli karya pengrajin lokal sehingga mendongkrak perekonomian negara Indonesia juga. Indonesia tidak hanya sebagai konsumen fesyen saja, tetapi Vanny menilai Indonesia punya potensi yang besar juga dalam dunia fesyen di masa mendatang.

Apa yang dimaksud dengan fast fashion sebenarnya? Bagaimana tantangan dunia fashion sekarang ini dalam melihat perkembangan mode yang kian cepat? Apa langkah praktisi fashion seperti Vanny dan Ute dalam menekan laju fast fashion? Apa harapan mereka sebagai praktisi fesyen untuk kita sebagai konsumen?

Silakan subscribe kanal YouTube kami agar kami bisa berbagi lebih banyak lagi.