(CERITA SAHABAT) Begini Rasanya Pengalaman Menyusui Pertama Kali, Jauh dari Keluarga di Amerika Serikat

Halo, sahabat Ruanita! Saya biasa dipanggil Fajar. Saya adalah seorang ibu, yang berasal dari Madiun, Jawa Timur. Saya senang kembali lagi berpartisipasi dalam program cerita sahabat ini. Jujur, saya senang mengikuti program Ruanita dari kejauhan, di negeri Paman Sam. Ya, saya sudah tinggal di negeri Paman Sam sejak setahun belakangan ini. Sahabat Ruanita, pernah membaca cerita saya tentang pengalaman melahirkan yang dimuat oleh Ruanita. 

Saya pindah ke Amerika Serikat sejak Desember 2023. Tak lama berselang, saya pun melahirkan anak pertama saya, buah hati perkawinan saya dengan pria berkewarganegaraan Amerika Serikat. Pada Mei 2024 menjadi momen paling berkesan dalam hidup, saya melahirkan anak pertama saya. Proses persalinan di Amerika cukup nyaman, saya menjalani operasi sesar dan dalam waktu singkat sudah bisa bergerak. 

Ini tentunya berbeda dengan kebanyakan para ibu lainnya yang melahirkan sesar pula. Sebut saja, kakak saya yang melahirkan secara sesar di Indonesia pun masih merasakan rasa sakit persalinan tersebut. Sementara tidak demikian dengan saya di sini. Ini pengalaman pertama kali saya melahirkan dan juga perjalanan menyusui sebagai ibu baru. Ternyata, apa yang saya pelajari sebelumnya lewat internet tidak sepenuhnya mudah untuk dijalani. Ada banyak tantangan yang tidak saya duga sebelumnya.

Sebelum persalinan tiba, saya sudah memelajari berbagai hal terkait menyusui pada bayi. Saya sudah bertekad untuk menyusui bayi saya secara langsung. Itu sebab, saya mulai mencari tahu bagaimana menyusui bayi itu sebenarnya.

Jika di Indonesia, ada banyak bantuan dan dukungan dari orang tua, saudara, dan kerabat, tetapi tidak di sini. Saya begitu merasa sendirian melaluinya. Tak ada ibu, saudara, atau teman yang bisa saya tanyai. Semua harus saya pelajari sendiri lewat internet atau selebaran informasi di pusat layanan Kesehatan Masyarakat di sini. Saya bahkan sempat mengalami puting lecet hingga harus menghentikan menyusui langsung dan beralih ke botol selama dua minggu.

Di Amerika Serikat, terdapat pilihan untuk menyusui bayi. Mereka juga menawarkan kelas laktasi bagi ibu menyusui. Kelas hanya berlangsung sekali dan umumnya berbayar. Saya tidak mengambil kelas laktasi. Dokter saya sudah membantu saya tentang bagaimana menyusui bayi dengan benar. 

Di rumah sakit, para suster membantu saya memastikan pelekatan (latch) yang sempurna. Saya sempat berpikir menyusui akan mudah, toh saya sudah menonton banyak video di YouTube. Namun, realitanya berbeda. Malam pertama di mana saya seharusnya bisa menyusui anak saya, bayi saya tidak mau menyusu. Saya panik, apakah ada yang salah dengan saya? Apakah ASI saya tidak keluar? Suster menyarankan saya untuk pumping guna memastikan ASI saya tersedia. Setelah mencoba, ternyata ASI ada, hanya saja pelekatan saya belum sempurna. 

Jadi, sahabat Ruanita. Kita perlu memastikan sekali, apakah puting ibu benar-benar sepenuhnya masuk ke dalam bayi atau tidak. Keesokan harinya, seorang dokter laktasi datang, kemudian mengajari saya cara menyusui dengan benar.

Di Amerika, menyusui bukan hal yang diwajibkan. Banyak ibu memilih memberi susu formula atau pumping karena mereka bekerja. Di sini bahkan tersedia ASI yang sudah dimasukan dalam cup plastik yang siap diberikan ke bayi. Ini ASI sekali pakai, bagi mereka yang ingin mendapatkan ASI untuk bayi mereka, tetapi tidak bisa atau tidak ingin menyusui bayi mereka secara langsung. 

Hal yang cukup mengejutkan bagi saya adalah bagaimana donor ASI menjadi opsi di rumah sakit. Setelah operasi, saya masih terlalu lemah untuk menyusui, dan suster menawarkan susu donor yang berbayar. Dengan berat hati, saya menyetujui pemberian susu donor karena saya tidak ingin bayi saya langsung diberikan susu formula. Dalam Islam, ada aturan terkait ibu susuan, dan saya sempat khawatir, tapi di saat itu, kesehatan bayi saya adalah prioritas.

Secara emosional, menyusui di negeri orang sangat melelahkan. Saya harus bangun sendiri di tengah malam, memasak, dan mengurus rumah tanpa bantuan. Suami saya membantu sebisa mungkin, tetapi tetap saja saya merasa semua tanggung jawab ada di pundak saya. Untuk mencari dukungan, saya sering mendengarkan ceramah di YouTube dan berkonsultasi dengan kakak saya lewat telepon.

Saya juga menyadari adanya perbedaan budaya dalam menyusui. Di Amerika, fasilitas menyusui di tempat umum sangat minim. Saya belum pernah menemukan ruang laktasi di pusat perbelanjaan, seperti di Indonesia. Saya pernah menyusui di tempat umum saat berkunjung ke suatu tempat, di sekitar tempat tinggal saya. Karena tak ada tempat khusus, saya harus menutup diri dengan jilbab. Untungnya, orang-orang di sini cukup cuek, sehingga saya tidak merasa dipandang aneh.

Kini, setelah delapan bulan, saya mulai mempersiapkan MPASI untuk anak saya. Di Amerika, bayi diperkenalkan dengan makanan satu per satu, seperti puree brokoli atau apel, berbeda dengan di Indonesia yang langsung mengenalkan makanan lengkap. Saya sempat dilema dalam menentukan metode yang akan saya pilih untuk anak saya.

Melalui pengalaman ini, saya belajar bahwa menyusui adalah perjalanan yang tidak mudah, tetapi juga sangat berharga. Untuk ibu-ibu Indonesia yang akan menyusui di Amerika, persiapkan diri dengan baik, banyak belajar, dan jangan ragu untuk mencari bantuan profesional jika diperlukan. Kita mungkin jauh dari keluarga, tapi kita tetap bisa memberikan yang terbaik untuk buah hati kita.

Penulis: Fajar Latif, seorang ibu dan content creator yang tinggal di Amerika Serikat dan dapat dikontak via akun Instagram thomasandfajar.

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Merayakan Perdamaian Lewat Pendidikan Berbasis Kearifan Lokal

Ruanita Indonesia melalui program Cerita Sahabat Spesial (CSS) terus mengukuhkan diri sebagai penggerak perubahan positif di masyarakat dengan mengangkat tema-tema yang inspiratif dan relevan setiap bulannya.

Untuk edisi September 2025, CSS menghadirkan sosok Maria Regina Jaga, seorang praktisi dan aktivis pendidikan anak usia dini asal Nusa Tenggara Timur yang telah mengabdikan lebih dari satu dekade hidupnya untuk membangun pendidikan berbasis kearifan lokal.

Dalam percakapan hangat dan mendalam ini, Maria mengajak kita untuk merefleksikan kembali hakikat pendidikan, tidak sekadar sebagai upaya mentransfer ilmu pengetahuan, namun sebagai sarana menanamkan nilai-nilai luhur seperti perdamaian, gotong royong, dan penghargaan terhadap perbedaan.


Maria membuka ceritanya dengan sebuah pernyataan kuat: “Kearifan lokal adalah kekuatan.” Ia meyakini bahwa di tengah derasnya arus globalisasi dan kemajuan teknologi, pendidikan harus tetap berpijak pada nilai-nilai lokal yang sudah mengakar dalam kehidupan masyarakat.

Menurutnya, pendidikan karakter yang sejati justru tumbuh dari pemahaman dan penghargaan terhadap kebudayaan sendiri, bukan dari adopsi mentah-mentah model pendidikan luar.


Sebagai seorang master pendidikan anak usia dini, Maria telah lama menerapkan pendekatan ini dalam praktik. Ia memanfaatkan cerita rakyat dan permainan tradisional sebagai media pembelajaran yang tidak hanya menyenangkan, tetapi juga kaya akan makna.

Melalui cerita-cerita lokal, anak-anak belajar memahami nilai persatuan dalam keberagaman, pentingnya kontribusi individu dalam komunitas, dan cara hidup yang selaras dengan lingkungan sosial-budaya mereka.

Gotong Royong sebagai Nilai Universal

Maria menyoroti pentingnya gotong royong, sebuah nilai yang ia temukan masih sangat kuat dalam tradisi masyarakat Nusa Tenggara Timur, khususnya saat membangun rumah adat.

Dalam proses ini, semua elemen masyarakat, baik tua, muda, laki-laki, maupun perempuan, berpartisipasi tanpa merasa lebih dominan satu sama lain.

Nilai gotong royong ini menjadi contoh konkret bagaimana pendidikan karakter bisa muncul dari praktik budaya.

“Setiap individu dihargai atas kontribusinya. Tidak ada yang lebih menonjol,” katanya.

Dalam dunia pendidikan, hal ini dapat diterjemahkan sebagai pendekatan inklusif yang memberi ruang bagi setiap anak untuk berpartisipasi dan berkembang sesuai potensinya.

Pendidikan Damai dalam Praktik Sehari-hari

Salah satu poin paling menyentuh dalam cerita Maria adalah pengalamannya menyaksikan harmoni lintas agama dalam perayaan keagamaan.

Saat umat Katolik merayakan Natal dan Paskah, komunitas Muslim dan penganut agama lain turut serta menjaga keamanan dan membantu pelaksanaan acara.

Bagi Maria, inilah contoh nyata bahwa perdamaian bukan sekadar absennya konflik, tetapi hadir dalam bentuk penghargaan terhadap perbedaan dan kerjasama antarkomunitas.

Ini adalah jenis pendidikan damai yang tidak hanya diajarkan lewat buku teks, tetapi melalui pengalaman langsung dalam kehidupan bermasyarakat.

Kurikulum Inklusif dan Relevan Budaya

Maria juga mengkritisi bagaimana kurikulum nasional saat ini masih terlalu berat sebelah, dengan banyak referensi yang hanya mewakili budaya Indonesia bagian barat.

Ia menekankan pentingnya pemerataan representasi budaya dalam materi pelajaran agar anak-anak dari Indonesia Timur pun merasa diwakili dan dihargai.

Ia menyarankan agar lokal konten seperti legenda daerah, cerita rakyat, serta adat istiadat lokal dimasukkan secara sistematis dalam pembelajaran, khususnya dalam mata pelajaran seperti Bahasa Indonesia.

Hal ini tidak hanya akan memperkuat identitas budaya anak, tetapi juga menumbuhkan empati dan penghargaan terhadap budaya lain.

Teknologi dan Tradisi: Bukan Pilihan, tapi Harmoni

Maria tidak menolak kemajuan teknologi. Ia menyadari bahwa dunia saat ini menuntut generasi muda untuk melek digital dan siap bersaing di era global. Namun, ia menegaskan bahwa teknologi dan tradisi bukanlah dua kutub yang harus dipertentangkan.

“Teknologi harus menjadi alat bantu, bukan satu-satunya sumber pembelajaran,” ujarnya. Ia mengajak para pendidik untuk tetap mengintegrasikan nilai-nilai lokal dalam proses digitalisasi pendidikan, agar kemajuan teknologi tetap berpijak pada akar budaya sendiri.

Pendidikan untuk Perdamaian Lintas Generasi

Salah satu visi besar Maria adalah menciptakan pendidikan yang mampu menjembatani generasi tua dan muda dalam membangun perdamaian.

Pendidikan yang baik menurutnya adalah yang memungkinkan interaksi lintas usia dalam proses belajar-mengajar, misalnya dengan melibatkan para tetua adat atau pengrajin tradisional dalam kelas-kelas tematik.

Dalam dunia yang semakin individualistik, pembelajaran semacam ini menjadi oase yang menghidupkan kembali nilai-nilai kebersamaan dan keberlanjutan antar generasi.

Harapan dan Seruan kepada Pemerintah

Di akhir sesi, Maria menyampaikan harapannya kepada pemerintah Indonesia agar lebih membuka ruang bagi para pendidik, terutama dari wilayah timur Indonesia, untuk terlibat dalam perumusan dan implementasi kebijakan pendidikan.

Ia meminta agar suara dari daerah tidak hanya dijadikan formalitas dalam dokumen, tetapi benar-benar dirasakan dalam praktik lapangan.

Kurikulum nasional, menurutnya, harus lebih dari sekadar dokumen teknis. Ia harus menjadi cerminan dari identitas kolektif bangsa, yang menghormati dan merayakan keragaman budaya sebagai kekayaan yang memperkuat, bukan memecah.

Ruanita Indonesia dan CSS: Mengangkat Suara Pinggiran

Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) adalah program bulanan, diprakarsai oleh Ruanita Indonesia memang dikenal sebagai ruang yang memberi panggung bagi cerita-cerita yang jarang terdengar di media arus utama.

Melalui CSS, Ruanita menghadirkan tokoh-tokoh inspiratif seperti Maria yang membagikan pengalaman dan gagasannya demi membangun Indonesia yang lebih adil, inklusif, dan damai.

Dalam konteks ini, CSS edisi September 2025 bukan sekadar sesi berbagi, melainkan seruan kuat agar pendidikan di Indonesia berpihak pada nilai-nilai kemanusiaan, budaya, dan perdamaian.

Simak selengkapnya dalam kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami:

(WARGA MENULIS) Kampanye Hari Alzheimer Sedunia 2023

  1. Lokasi tinggal:  Amerika Serikat
  1. Pengalaman dalam keterkaitan dengan Alzheimer

Saya bernama Debora dan berprofesi sebagai guru piano. Ibu saya bernama, L S Veronica Sinaga. Ibu saya adalah ODD (=Orang Dengan Demensia) yang berusia 83 tahun dan  tinggal di Indonesia. Saya merawat ibu saya secara jarak jauh. Ibu saya ditemani oleh 2 caregiver yang dibayar. Ibu saya mulai tidak mengenali saya pada tahun 2015. Secara rutin, saya melakukan komunikasi dengan ibu dan kedua orang caregiver tersebut secara jarak jauh melalui telepon atau panggilan video. Ini dilakukan hampir setiap hari dan kebanyakan dilakukan di malam hari waktu setempat. 

Saya juga terapis musik di klinik. Saya kemudian menemukan cara jitu untuk berkomunikasi dengan ibu saya, yaitu dengan bermain piano. Dengan bermain piano, saya menarik perhatian ibu saya untuk terus berkomunikasi melalui telepon atau panggilan video. Sampai akhirnya, ibu saya kurang memiliki minat dan perhatian untuk berbicara melalui telepon. Karena kondisi ibu ini, bapak saya pun sudah meninggal baru-baru ini. Saya menyempatkan pulang ke Indonesia, sebisa mungkin untuk bertemu langsung dengan ibu.

Sampai saat ini, ibu saya tidak menyadari atau memahami bahwa bapak saya sudah meninggal. Kadang dia bertanya, “Suami saya kemana?” dan ada beberapa kali “bright moment”, ibu menyadari kalau bapak sudah tidak ada.

  1. Mengapa penting mengenali Alzheimer sedini mungkin?

Penyakit Alzheimer memang belum ada obatnya. Ini terjadi secara perlahan, tidak hanya menyebabkan penurunan daya ingat saja. Alzheimer juga membuat gangguan kemampuan berbicara dan perubahan perilaku. Menurut pengalaman saya, Alzheimer seperti menghancurkan keluarga. Apalagi dalam keluarga saya, ibu adalah pilar keluarga yang menyatukan keluarga. Dengan cepatnya gejala Alzheimer mengurangi ingatan dan merubah perilaku ibu saya. Efek ini juga dirasakan oleh keluarga saya. Ngobrol dengan ibu sudah tidak bisa seperti dulu lagi. Beliau seperti berbicara pada orang asing atau orang yang tidak dia kenal.

Tidak mudah bagi saya untuk bekerja sama dengan kakak-adik dalam merawat ibu. Kesadaran akan penyakit Alzheimer menurut mereka, dianggap sebagai proses penuaan yang memang wajar pada lansia. Saat ini, ibu sudah semakin sulit diajak bicara. Kemampuan dia mengerti kalimat sudah sangat menurun. Kita seperti berbicara pada anak balita. Beliau hanya mampu merespon atau memahami pembicaraan dengan kalimat pendek saja.

Mengenali Alzheimer sejak dini, menerapkan perawatan, dan penanganan yang terarah untuk ODD memang tidak sempat kami laksanakan untuk ibu saya. Setelah hal ini kami terapkan, terlihat ini sangat membantu ingatan dan perilaku ibu saya.

  1. Pesan di Hari Alzheimer Sedunia 2023

Bagi saya, bulan Alzheimer ini bagaikan penyemangat bagi saya dan kakak saya untuk bisa terus merawat ibu saya. Ada masa-masa saya dan kakak saya sedih dengan kondisi ibu, tetapi akhirnya kami tergerak untuk mengubah mindset kami. Kami menerima kondisi ini dengan hati yang gembira, walaupun ini tidak mudah. Saya menerima kondisi ibu. Saya memperkaya diri dengan pengetahuan tentang Alzheimer, membaca buku, dan melalui berbagai organisasi, seperti Alzheimer Society, Alzheimer Indonesia, atau ALZI cabang San Francisco.

Saya bertekad memberikan kasih sayang dan cinta yang dulu saya terima dari ibu saya, walau pun saat ini ibu sering kali tidak mengenali saya. Saya percaya, dalam hati ibu ada saya. Walau pun ibu tidak mengenali saya, saya bertekad untuk selalu mengingat semua kenangan bersama ibu saya.

Dalam rangka Hari Alzheimer Sedunia 2023, kita harus menyayangi orang tua dan selalu berkomunikasi dengan mereka. Jika orang tua terdeteksi Alzheimer, persatukan keluarga untuk bersama-sama menyamakan pikiran dan pengetahuan untuk meningkatkan kualitas hidup. Bukan saja ODD, tetapi juga suami/istri yang menjadi caregiver langsung, juga anak-anak, cucu yang jauh, dan dekat dapat bersatu merawat ODD bersama-sama. 

  1. Kontak

Debora Nainggolan

California, USA

Akun Instagram: deelimit_skyz1008