(PODCAST RUMPITA) Meraih Mimpi dari Melbourne: Perjalanan Anindya Zahra di Dunia Farmasi

Di program diskusi Podcat Rumpita – Rumpi bersama Ruanita – episode Februari 2026 mempersembahkan diskusi inspiratif bersama Anindya Zahra Nugrahningrum, atau akrab disapa Anin atau Anne, mahasiswa asal Indonesia yang kini menempuh pendidikan di Monash University, Melbourne, Australia, dalam bidang Pharmaceutical Science.

Bersama Anna di Jerman dan Rieska di Italia, host Podcast RUMPITA, Anin berbagi cerita tentang perjuangan, adaptasi, serta visinya membangun industri farmasi dan kosmetik berbasis kekayaan alam Indonesia.

Anin memulai pendidikannya di Melbourne sejak Februari 2024. Dengan usia yang masih muda, ia langsung menempuh kuliah S1 di luar negeri. Tantangan adaptasi menjadi bagian besar dari perjalanannya, namun dukungan penuh dari pihak kampus dan komunitas internasional membantunya untuk terus maju.

“Saya bersyukur mendapatkan banyak dukungan dari Monash, mulai dari layanan konseling gratis, bantuan akademik, hingga lingkungan pertemanan yang suportif,” ujar Anin.

Di Australia, sistem pendidikan farmasi berbeda dari Indonesia. Mahasiswa hanya fokus pada empat mata kuliah utama setiap semester agar pembelajaran lebih efektif.

Anin menyoroti pentingnya fokus akademik, serta bagaimana mahasiswa internasional diberikan ruang untuk berkembang, baik secara akademik maupun mental.

Bahasa Inggris menjadi tantangan tersendiri, terutama dalam konteks akademik yang berbeda dari percakapan sehari-hari. Namun, keberagaman mahasiswa dari berbagai negara membuatnya merasa tidak sendiri.

Salah satu bagian paling menarik dari cerita Anin adalah visinya membangun industri skincare dan kosmetik berbahan alami dari Kalimantan.

Sebagai putri daerah, ia merasa memiliki tanggung jawab untuk memanfaatkan potensi alam Indonesia, khususnya bahan organik yang dapat dikembangkan secara global.

“Saya ingin menimba ilmu selama dua sampai tiga tahun di Australia, lalu kembali ke Indonesia untuk mengembangkan produk skincare berbasis bahan lokal dari Kalimantan,” kata Anin penuh semangat.

Ia juga menyadari pentingnya kesadaran nasional terhadap kekayaan sumber daya alam, terutama untuk keperluan farmasi dan kosmetik alami, yang saat ini menjadi tren di berbagai negara, termasuk Eropa.

Melalui diskusi bersama Rieska dan Anna, podcast ini juga memberikan wawasan tentang bagaimana industri farmasi berkembang di Italia dan Jerman.

Di Eropa, tren kembali ke bahan-bahan organik terus menguat seiring meningkatnya kesadaran terhadap efek samping bahan kimia.

Pengalaman pribadi para host dalam mengakses obat-obatan juga memperlihatkan perbedaan sistem kesehatan antar negara.

Di akhir sesi, Anin memberikan pesan yang menyentuh bagi perempuan Indonesia yang ingin terjun di dunia farmasi dan kecantikan:

“Kita perlu sadar akan potensi negeri sendiri. Jangan ragu bermimpi besar dan belajar ke luar negeri, tapi jangan lupa kembali untuk berkontribusi. Indonesia kaya, dan kita bisa memanfaatkan kekayaan itu untuk membantu lebih banyak orang.”

Podcast ini bukan hanya tentang farmasi, tapi juga tentang semangat perempuan muda Indonesia dalam berkarya untuk tanah air.

Dengarkan program diskusi Podcast Rumpita: Rumpi bersama Ruanita. Pastikan FOLLOW akun podcast RUMPITA di kanal Spotify berikut ini:

(PODCAST RUMPITA) Berbagi Cerita Merantau Bersama “The Perantau” di Australia

Program RUMPITA – Rumpi bersama Ruanita – dalam episode berikut dipandu oleh Anna dan Putri yang tinggal di Jerman, yang membahas tentang pengalaman merantau di luar negeri. Untuk memperkaya cerita merantau, Anna mengundang Founder of The Perantau, yakni podcast yang dikhususkan untuk berbagi cerita merantau di seputaran benua Australia.

Billy sendiri telah berhasil menyelesaikan studi S1 dan S2 di salah satu universitas di Melbourne, Australia. Rekaman Podcast sudah dilakukan sejak tahun lalu. Selain mengelola Podcast “The Perantau”, Billy juga bekerja sebagai Digital and Social Journalist dan University Tutor. Lainnya, Billy aktif sebagai research assistant di Australia.

Dengan pengetahuannya di bidang komunikasi dan keahliannya, Billy mengajak teman-temannya untuk mengelola podcast “The Perantau” yang berisi serba-serbi kehidupan merantau di Australia. Bagi warga di Indonesia, Podcast “The Perantau” kini juga hadir di platform “Noice” dan APPLE PODCAST.

Berawal dari pengalamannya selama Pandemi Covid-19, Billy menemukan aktivitas barunya dengan membuat rekaman Podcast bersama orang-orang Indonesia di sekitarnya. Tentunya, begitu mudah bagi Billy bertemu dengan sesama orang Indonesia karena Melbourne banyak dihuni oleh perantau dari Indonesia. Selain itu, Billy juga aktif di PPI Australia, yang beragam jumlah dan jenisnya.

Billy menyebutkan ada sekitar dua ribu mahasiswa Indonesia di Melbourne. Belum lagi, Billy juga bisa menjumpai restoran khas masakan Indonesia, yang tentunya hal ini tidak mudah didapat di negara lain. Suasana merantau yang berbeda dibandingkan mereka yang merasa sendirian di negeri rantauan.

Lewat Podcast “The Perantau”, Billy menjumpai sesama perantau Indonesia yang sudah lebih puluhan tahun tinggal di Melbourne atau merintis usaha di negeri rantauan. Bagi Billy, setiap cerita yang dikemas dalam “The Perantau” selalu ada tujuan dan maksud yang ingin disampaikan, meski Billy tidak menyebutkan target market pendengarnya.

Apa yang mendasari Billy mengelola Podcast “The Perantau”? Apa saja strategi yang dikembangkan Billy dalam membagi waktu antara mengelola Podcast dengan pekerjaannya sehari-hari? Apa saja yang ditawarkan Billy lewat podcast ini? Apa pesan Billy bagi sahabat Ruanita yang ingin merantau, terutama merantau ke Melbourne, Australia?

Simak selengkapnya dalam diskusi podcast RUMPITA berikut ini: