London, 18 Januari 2026 — Acara diskusi daring bertajuk “Awal yang Baru untuk Pikiran yang Sehat” yang mengangkat tema promosi kesehatan mental bagi masyarakat Indonesia di Inggris Raya telah berlangsung pada Minggu malam waktu Indonesia, dan berhasil menarik partisipasi masyarakat Indonesia dari berbagai kota di Inggris Raya serta beberapa negara di sekitarnya. Kegiatan yang diprakarsai oleh komunitas Ruanita dan didukung oleh KBRI London itu digelar melalui platform Zoom Meeting selama dua jam, sejak pukul 10.00 hingga 12.00 waktu Inggris atau pukul 17.00 hingga 19.00 WIB.
Acara dibuka oleh Ketua DWP KBRI London, Sari Percaya, yang dalam pengantarnya menekankan pentingnya menempatkan kesehatan mental sebagai bagian integral dari resolusi awal tahun. Menurutnya, awal tahun bukan hanya momentum untuk memperbaiki kesehatan fisik, karier, atau ekonomi, namun juga kesempatan untuk merawat keseimbangan batin dan ketangguhan emosional.
Sari juga mengulas sejumlah tantangan kesehatan mental yang umum dihadapi Warga Negara Indonesia di Inggris Raya, mulai dari jarak dengan keluarga dan tanah air, tekanan akademik maupun pekerjaan, adaptasi budaya dan cuaca, hingga keterbatasan jejaring sosial. Ia menegaskan bahwa ruang aman berbasis komunitas, seperti yang dibangun Ruanita, turut membantu mengurangi rasa kesepian dan menumbuhkan solidaritas sesama perantau.
Diskusi kemudian dipandu oleh moderator Zakiyatul Mufidah, mahasiswa program doktor di University of Birmingham sekaligus relawan Ruanita. Pada sesi pertama, dua narasumber menyampaikan materi utama mengenai kesehatan mental dari perspektif ilmiah maupun praktis.
Pemateri pertama, Idei K. Swasti, psikolog sekaligus kandidat doktor bidang psikologi di University of Leeds, memaparkan materi berjudul “Kesehatan Mental sebagai Resolusi Awal Tahun: Spiritualitas dan Gotong Royong di Perantauan.” Dalam paparannya, ia menekankan bahwa kesehatan mental harus ditempatkan setara dengan kesehatan fisik dan bahwa masyarakat Indonesia memiliki modal budaya yang kuat berupa spiritualitas, gotong royong, dan rasa kekeluargaan sebagai sumber resiliensi dalam menghadapi tekanan hidup di luar negeri.
Sementara itu, pemateri kedua, Yuki Fragariani, praktisi kesehatan mental yang berbasis di Irlandia, membahas peran pikiran bawah sadar dan metode hipnoterapi dalam menjaga keseimbangan mental. Ia memberikan beberapa contoh pendekatan self-healing yang dapat diterapkan peserta secara mandiri untuk mengelola stres dan kelelahan emosional.
Memasuki sesi kedua, peserta diberikan kesempatan untuk berdialog langsung dengan narasumber melalui tanya jawab interaktif. Sejumlah peserta turut berbagi pengalaman pribadi mengenai tantangan akademik, tekanan kerja, dan rasa rindu keluarga selama tinggal di luar negeri. Diskusi berlangsung hangat dan menggambarkan adanya kebutuhan nyata akan ruang berbagi dan dukungan komunitas dalam isu kesehatan mental.
Kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat literasi dan kesadaran masyarakat Indonesia mengenai pentingnya menjaga kesehatan mental, sekaligus mengurangi stigma yang selama ini menjadi penghambat dalam mencari pertolongan psikologis. Selain itu, acara ini juga memperkuat solidaritas dan jejaring dukungan di kalangan orang Indonesia di mancanegara, khususnya di Inggris Raya.
Dengan keberlangsungan kegiatan tersebut, penyelenggara berharap langkah awal ini dapat menciptakan strategi kesehatan mental yang berkelanjutan bagi WNI di perantauan dan menjadi bagian dari upaya perlindungan masyarakat Indonesia di luar negeri.
Info lebih lanjut: Zakiyatul Mufidah, Relawan Ruanita di UK dapat dikontak melalui info@ruanita.com
Selengkapnya rekaman dapat disimak di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.
Jakarta, 6 Desember 2025 – Dalam rangka memperingati 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (16 HAKTP), Ruanita Indonesia berkolaborasi dengan Perhimpunan Pelajar Indonesia Dunia menyelenggarakan forum daring bertajuk “Perempuan di Ruang Digital: Literasi, Keamanan, dan Kesehatan Mental di Era Teknologi Global”, pada Sabtu, 6 Desember 2025, pukul 16.00–18.00 WIB melalui platform Zoom Meeting.
Forum ini menjadi bagian dari upaya global memperkuat kesadaran dan aksi nyata untuk menghapus berbagai bentuk kekerasan terhadap perempuan, khususnya di ruang digital. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, perempuan menghadapi bentuk-bentuk kekerasan baru seperti cyber harassment, doxing, revenge porn, body shaming, dan berbagai kekerasan berbasis gender lainnya.
Forum Online ini dimoderasi oleh Ari Nursenja, mahasiswa doktoral di Finlandia, dan dihadiri secara khusus oleh Duta Besar Republik Indonesia untuk Bulgaria, Albania, dan Makedonia Utara, Listiana Operanata, yang memberikan sambutan kehormatan.
Sebagai pemantik diskusi, hadir Irjen Pol (Purn) Desy Andriani, Deputi Perlindungan Hak Perempuan (PHP) Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) Republik Indonesia yang menyoroti meningkatnya tren kekerasan berbasis online dan pentingnya kebijakan perlindungan perempuan di dunia digital.
Dalam sesi pengantar, Aurelia Aranti Vinton dari PPI Amerop menegaskan bahwa forum ini merupakan wujud nyata kolaborasi mahasiswa Indonesia di luar negeri dalam mengadvokasi isu sosial global. Ia menekankan pentingnya literasi digital, keamanan data pribadi, dan peran perempuan dalam menciptakan komunitas daring yang aman dan saling mendukung.
Forum ini menghadirkan tiga panelis perempuan Indonesia yang tengah menempuh studi doktoral di berbagai negara, masing-masing membagikan perspektif tentang isu perempuan di era digital.
Zakiyatul Mufidah (PhD Student di United Kingdom) mengangkat tema “Membangun Digital Sisterhood Anti Kekerasan”, dengan menyoroti pentingnya solidaritas dan aktivisme digital perempuan yang berpijak pada konsep cozy feminism, yakni sebuah bentuk perlawanan terhadap kekerasan simbolik melalui narasi yang ramah dan membangun.
Sementara itu, Fransisca Hapsari (PhD Student di Jerman) dalam paparannya berjudul “Kesehatan Mental dan Pemberdayaan Perempuan di Era Digital” membahas keterkaitan antara teknologi, psikologi, dan tantangan kesehatan mental yang dihadapi perempuan akibat tekanan sosial di dunia maya.
Adapun Anggy Eka Pratiwi (PhD Student di India) melalui topik “Pentingnya Literasi Digital dan Keamanan Siber bagi Perempuan” menekankan perlunya peningkatan literasi digital dan kesadaran akan keamanan siber agar perempuan mampu melindungi diri dari berbagai risiko kekerasan serta eksploitasi daring.
Sebagai penutup sesi panel, Chatarina Pancer Istiyani dari Komnas Perempuan menyampaikan tanggapan dan seruan aksi untuk memperkuat ekosistem perlindungan perempuan di ruang digital. Ia menegaskan pentingnya kolaborasi lintas lembaga dan peran aktif masyarakat dalam mendorong kebijakan publik yang berpihak pada korban.
Forum ini ditutup dengan refleksi bersama tentang pentingnya digital sisterhood, solidaritas antarperempuan untuk menciptakan ruang digital yang inklusif, aman, dan berkeadilan gender.
Sebagai tindak lanjut, Ruanita Indonesia akan merilis rekaman video diskusi melalui kanal resmi www.ruanita.com, serta policy brief hasil diskusi untuk memperkuat advokasi perlindungan perempuan di ruang digital.
Beroperasi di bawah naungan Yayasan Ruanita Perempuan Indonesia, Ruanita Indonesia adalah sebuah platform digital pengetahuan dan advokasi nirlaba. Dengan landasan manajemen nilai dan resources sharing, kami berfokus pada isu psikologi, sosial, dan budaya yang relevan dalam situasi transnasional. Melalui kolaborasi pengalaman kolektif, diskusi interaktif, dan kampanye edukatif, kami bertekad menciptakan ruang digital yang inklusif dan mengedepankan interseksionalitas untuk semua.
Informasi lebih lanjut, dapat mengontak Ari Nursenja selaku koordinator acara melalui email: info@ruanita.com.
POLICY BRIEF (DRAFT – UNTUK KOMNAS PEREMPUAN & KEMENPPPA)
Disusun untuk: Komnas Perempuan & Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA)
1. Executive Summary
Peningkatan Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO) terhadap perempuan Indonesia menunjukkan urgensi intervensi kebijakan yang lebih sistematis dan berbasis bukti. Bentuk-bentuk kekerasan seperti non-consensual dissemination of intimate images (NCII), sexual extortion, cyberstalking, penipuan berbasis relasi semu, serta penyalahgunaan teknologi deepfake semakin meluas.
Policy brief ini menyajikan analisis dan rekomendasi strategis untuk memperkuat perlindungan melalui penguatan regulasi, literasi digital, akuntabilitas platform, dan layanan pemulihan, selaras dengan mandat Komnas Perempuan dan KemenPPPA.
2. Latar Belakang
KBGO meningkat dan menjadi ancaman serius terhadap hak asasi perempuan. Ruang digital menjadi bagian integral kehidupan perempuan, namun risiko seperti eksploitasi data, manipulasi teknologi, dan kekerasan psikologis terus berkembang. Mandat Komnas Perempuan dan KemenPPPA diperlukan untuk menghasilkan kebijakan efektif.
3. Identifikasi Masalah Utama
Kompleksitas bentuk KBGO seperti NCII dan deepfake.
Dampak serius pada kesehatan mental dan partisipasi publik.
Kerentanan teknis dan rendahnya literasi digital.
Kesenjangan implementasi kebijakan dan layanan korban.
4. Analisis Kebijakan
KBGO melanggar hak atas rasa aman dan privasi. Intervensi diperlukan melalui penguatan pemantauan, layanan korban, akuntabilitas platform, dan edukasi publik.
5. Rekomendasi Kebijakan
A. Untuk Komnas Perempuan:
Memperkuat dokumentasi dan pemantauan KBGO.
Mengembangkan rekomendasi kebijakan terkait NCII dan deepfake.
Sinkronisasi kebijakan antarlembaga.
Memperluas kampanye perlindungan perempuan di ruang digital.
B. Untuk KemenPPPA:
Integrasi literasi digital sensitif gender dalam program nasional.
Modul literasi digital bagi perempuan terkait keamanan data.
Penguatan layanan trauma-informed.
Peningkatan kapasitas UPTD PPA dalam penanganan bukti digital.
C. Kolaborasi Komnas Perempuan – KemenPPPA:
Menyusun pedoman nasional penanganan KBGO.
Kampanye nasional “Ruang Digital Aman bagi Perempuan Indonesia”.
Membangun mekanisme rujukan cepat antarinstansi dan platform digital.
D. Untuk Platform Digital:
Mekanisme pelaporan cepat untuk NCII dan deepfake.
Implementasi safety by default.
Dialog teknis dengan pemerintah dan Komnas Perempuan.
E. Untuk Sektor Pendidikan & Organisasi Sipil:
Penguatan riset dan edukasi publik tentang KBGO.
Pelibatan komunitas perempuan sebagai agen deteksi dini.
6. Pesan Kunci
KBGO adalah pelanggaran serius yang memerlukan respons terintegrasi. Literasi digital sensitif gender dan akuntabilitas platform adalah pilar utama.
7. Penutup
Ancaman digital terhadap perempuan Indonesia membutuhkan kolaborasi kuat antar lembaga negara, platform digital, dan masyarakat sipil. Rekomendasi kebijakan ini diharapkan memperkuat perlindungan perempuan di ruang digital.
Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan aku, Zakiyatul Mufidah, yang berasal dari Blitar, Jawa Timur. Saat ini, aku sedang menjalani tahun ketiga studi PhD di University of Birmingham, Inggris. Berada di luar negeri membuka banyak perspektif baru bagiku, terutama tentang bagaimana dunia digital dipandang dan diatur dengan lebih ketat dibandingkan di Indonesia.
Di Inggris, kesadaran akan keamanan dan privasi digital begitu tinggi. Contohnya, penggunaan gambar di internet benar-benar dikontrol. Di sekolah anakku, misalnya, memiliki aturan ketat tentang pemakaian foto anak-anak di media sosial. Setiap orang tua harus memberikan izin tertulis jika foto anak mereka ingin digunakan di situs web atau akun media sosial sekolah. Ini berbeda jauh dengan di Indonesia, di mana masih banyak orang yang tidak menyadari betapa pentingnya menjaga privasi di dunia maya.
Sebagai seorang yang sedang meneliti aktivitas perempuan di dunia digital, aku menyadari betapa pentingnya menjaga akun kita dari ancaman siber. Salah satu cara paling dasar adalah menggunakan Double Authentication atau bahkan Multiple Authentication saat masuk ke akun digital. Pernah suatu kali, aku gagal mengakses akun emailku, karena dianggap akses ilegal ke emailku. Beruntung, aku menerapkan sistem keamanan ganda, sehingga menyelamatkanku dari peretasan.
Sahabat Ruanita, ini bukan hanya tentang melindungi akun, kesadaran digital juga berarti memahami ancaman seperti phishing dan pemakaian WiFi publik yang tidak aman. Dulu, aku pernah meremehkan ancaman ini hingga akhirnya menyadari bahwa akses WiFi publik bisa menjadi celah bagi peretas untuk masuk ke akun pribadi kita. Pengalaman ini mengajarkanku untuk selalu berpikir dua kali sebelum mengklik tautan atau menggunakan jaringan internet yang tidak terpercaya.
Budaya Digital di Indonesia dan Tantangannya
Oh ya, selain perlindungan teknis, kita perlu perhatikan juga aspek budaya digital yang juga menjadi tantangan, khususnya di Indonesia. Kultur online kita masih mentoleransi tindakan seperti cyberbullying, pencurian data, hingga penyalahgunaan informasi. Berbeda dengan di Inggris, di mana ada sanksi sosial dan hukum yang jelas bagi pelaku kejahatan digital, di Indonesia masih banyak kasus yang tidak mendapat perhatian serius.
Cyberbullying misalnya, masih dianggap sebagai hal yang wajar di Indonesia. Banyak kasus di mana korban justru disalahkan atau dianggap “berlebihan” saat melaporkan kejadian tersebut. Di Inggris, bahkan tindakan sekecil mengunggah foto seseorang tanpa izin bisa menimbulkan konsekuensi serius, baik secara hukum maupun sosial. Ini menunjukkan betapa pentingnya kesadaran tentang hak privasi dan etika digital yang perlu lebih diperhatikan di Indonesia.
Sahabat Ruanita juga perlu tahu bahwa banyak orang masih abai terhadap keamanan akun digital mereka. Banyak yang menggunakan kata sandi yang lemah atau tidak menerapkan sistem keamanan tambahan. Padahal, dengan maraknya kejahatan siber, langkah-langkah perlindungan ini sangatlah penting. Di Indonesia, juga masih banyak orang yang tidak sadar akan bahaya phishing dan serangan siber lainnya, yang sering kali datang dalam bentuk email atau tautan mencurigakan.
Peran Orang Tua dalam Mendidik Anak tentang Internet
Sebagai orang tua, aku merasa bertanggung jawab untuk mengedukasi anak-anakku tentang cara berinternet yang aman dan bertanggung jawab. Aku sering berbincang dengan mereka tentang digital literacy—yang mencakup keterampilan digital, etika digital, budaya digital, dan keamanan digital. Sebab, internet bukan hanya soal hiburan, tetapi juga ruang yang harus dipahami dan dikelola dengan bijak.
Di sekolah anakku, di Inggris pun aktif dalam mengajarkan keamanan digital kepada murid-muridnya. Misalnya, sebelum mengambil atau menyebarkan foto teman sekelas, mereka harus meminta izin terlebih dahulu. Hal ini berbeda dengan di Indonesia, di mana masih banyak anak yang dengan mudahnya mengambil foto teman dan menyebarkannya tanpa berpikir panjang. Apakah ini juga dialami sahabat Ruanita lainnya?
Selain itu, sekolah juga memberikan aturan ketat mengenai penggunaan media sosial. Anak-anak di bawah usia 13 tahun tidak diperbolehkan memiliki akun di platform seperti TikTok atau Instagram. Para orang tua juga diminta untuk menandatangani surat persetujuan terkait penggunaan gambar anak mereka di acara sekolah. Ini adalah contoh bagaimana regulasi yang jelas bisa membantu menciptakan lingkungan digital yang lebih aman.
Regulasi dan Penegakan Hukum di Indonesia
Bagaimana pun, salah satu faktor yang membuat internet di Indonesia masih terasa kurang aman adalah lemahnya penegakan hukum terkait kejahatan siber. Di Inggris, regulasi mengenai keamanan digital diterapkan dengan sangat ketat. Namun, di Indonesia, masih ada banyak celah dalam sistem hukum yang membuat para pelaku kejahatan digital bisa lolos tanpa konsekuensi yang berarti.
Misalnya, ada kasus di mana seorang guru melaporkan tindakan tidak etis di sekolahnya, tetapi malah justru ia yang terkena sanksi hukum. Hal ini menunjukkan bahwa masih ada ketimpangan dalam penerapan hukum, di mana yang memiliki kekuasaan sering kali lebih dilindungi dibandingkan rakyat biasa.
Selain itu, ada juga permasalahan dalam Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE), yang sering kali digunakan untuk membungkam kritik terhadap pemerintah atau pihak berkuasa. Banyak pasal dalam UU ITE yang ambigu dan bisa diinterpretasikan secara berbeda-beda, sehingga justru seringkali merugikan masyarakat biasa.
Pentingnya Edukasi dan Literasi Digital
Oleh karena itu, aku semakin yakin bahwa literasi digital bukan hanya tugas individu, tetapi juga tanggung jawab bersama—antara pemerintah, sekolah, dan masyarakat. Edukasi adalah kunci untuk menciptakan budaya digital yang lebih sehat. Masyarakat perlu diberikan pemahaman tentang bagaimana menggunakan internet dengan aman dan bertanggung jawab.
Menurut sahabat Ruanita, bagaimana dengan di Indonesia? Menurutku, masih banyak orang yang menggunakan internet tanpa benar-benar memahami risiko dan etika dalam dunia digital. Banyak yang asal berbagi informasi tanpa mengecek kebenarannya, atau bahkan ikut menyebarkan ujaran kebencian tanpa menyadari dampak negatifnya. Oleh karena itu, kampanye literasi digital harus lebih digencarkan, baik melalui media sosial, sekolah, maupun komunitas lokal.
Selain itu, orang tua juga harus lebih aktif dalam mengawasi penggunaan internet anak-anak mereka. Ada banyak alat dan aplikasi yang bisa membantu memfilter konten yang tidak pantas untuk anak-anak. Dengan pengawasan yang baik, anak-anak bisa tumbuh dengan pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana berinternet dengan aman.
Aku berharap suatu hari nanti, Indonesia bisa memiliki ekosistem digital yang lebih aman, di mana setiap orang merasa terlindungi dan bisa memanfaatkan teknologi dengan maksimal tanpa harus takut akan ancaman siber. Karena pada akhirnya, dunia maya adalah bagian dari kehidupan kita, dan sudah seharusnya kita menjaganya seperti kita menjaga dunia nyata.
Penulis: Zakiyatul Mufidah yang kini sedang menempuh studi PhD, akademisi, dan relawan Ruanita di Inggris. Cerita ini juga ditulis ulang berdasarkan program cerita sahabat spesial yang rilis bulan Februari 2025 lalu.
JAKARTA, 26 April 2025 – Dalam rangka memperingati Hari Kartini, Ruanita Indonesia bekerja sama dengan PW Muslimat NU DIY menyelenggarakan diskusi daring bertajuk “Kartini dalam Dunia Digital”.
Acara ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman perempuan mengenai peluang dan tantangan yang dihadapi dalam dunia digital serta memberikan edukasi tentang literasi berinternet yang aman dan efektif.
Diskusi berlangsung secara daring melalui platform Zoom, yang dihadiri oleh perempuan Indonesia dari berbagai negara dan profesi, yang tertarik dengan isu kesetaraan gender dalam teknologi digital.
Dalam pengantar diskusi sekaligus membuka acara, Hj. Fatma Amalia selaku Ketua PW Muslimat NU DIY menekankan bahwa perempuan memiliki potensi besar untuk berkembang dalam dunia digital.
Namun, masih banyak tantangan yang harus dihadapi, seperti kesenjangan akses teknologi, rendahnya literasi digital, serta ancaman keamanan siber, termasuk kekerasan berbasis gender online.
Acara ini menghadirkan dua perempuan Indonesia sebagai pemateri yang berbagi pengetahuan dan keilmuan dunia digital.
Pemateri pertama adalah Zakiyatul Mufidah Ahmad, seorang PhD student di University of Birmingham dan dosen di Universitas Trunojoyo Indonesia.
Zakiya memaparkan hasil risetnya mengenai bagaimana perempuan memanfaatkan teknologi digital dalam berbagai sektor. Berdasarkan temuannya, perempuan semakin aktif dalam bidang wirausaha digital, pendidikan, dan advokasi sosial.
Namun, ia juga menyoroti tantangan yang dihadapi, seperti bias gender dalam industri teknologi serta minimnya akses terhadap sumber daya digital bagi perempuan di daerah terpencil.
Pemateri kedua adalah Rizqi Mutqiyyah, Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Surabaya, alumni International Institute of Information Technology Bangalore, India jurusan MSc Digital Society dengan Beasiswa Kominfo.
Dalam pemaparannya, ia menekankan pentingnya literasi digital bagi perempuan agar dapat memanfaatkan internet secara aman dan efektif.
Rizqi juga menjelaskan strategi dalam mengelola informasi dan identitas digital guna menghindari ancaman siber, seperti pencurian data dan kekerasan berbasis gender online.
Diskusi ini semakin menarik dengan kehadiran penanggap yang berasal dari komunitas perempuan Indonesia di Dubai, Uni Emirat Arab.
Utari Giri sebagai penanggap berpendapat mengenai pentingnya kebijakan perlindungan perempuan di dunia digital serta upaya yang telah dilakukan untuk mengurangi kekerasan berbasis gender di internet.
Setelah sesi pemaparan materi, diskusi dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang dimoderasi oleh Izidiza Febrine, relawan Ruanita di Jerman.
Banyak peserta yang mengungkapkan pengalaman serta pandangan mereka mengenai isu perempuan dan teknologi. Beberapa peserta juga berbagi strategi yang telah mereka terapkan dalam memanfaatkan dunia digital untuk pemberdayaan perempuan.
Di akhir acara, Zakiyatul Mufidah sebagai koordinator penyelenggara menegaskan bahwa diskusi ini diharapkan dapat menjadi langkah awal untuk meningkatkan kesadaran perempuan terhadap pentingnya peran mereka dalam dunia digital.
Sebagai tambahan informasi, acara ini juga dihadiri oleh perempuan Indonesia yang tergabung dalam DWP KBRI Dhaka, para perempuan di Nepal, serta PW Muslimat NU di Taiwan dan Jepang, yang berpartisipasi menanyakan permasalahan dunia digital yang sedang meningkat partisipasinya.
Dengan semakin berkembangnya teknologi, perempuan harus mampu beradaptasi dan memanfaatkannya secara maksimal demi kemajuan diri sendiri dan masyarakat.
Sebagai penutup, seluruh peserta diajak untuk terus berjejaring dan berkolaborasi dalam memperjuangkan hak perempuan di dunia digital.
Melalui akses dan pemanfaatan teknologi yang lebih baik, perempuan dapat terus berkontribusi dalam berbagai bidang serta memperkuat peran mereka dalam pembangunan sosial dan ekonomi.
Rekaman acara tersebut dapat disimak di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE kanal YouTube kami untuk mendukung kami:
Melanjutkan episode bulan Februari 2025, Ruanita Indonesia mengangkat tema Safer Internet Day dalam program cerita sahabat spesial, yang ditayangkan tiap bulan. Bagaimana pun, internet telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari, membuka akses informasi dan peluang tanpa batas.
Untuk membahasnya lebih dalam, Ruanita – Rumah Aman Kita – Indonesia mengundang sahabat Ruanita yang sedang studi PhD di University of Birmingham, Inggris. Dia adalah Zakiyatul Mufidah, seorang dosen yang sedang menekuni studi lanjutan.
Zakiya menyadari bahwa rasa aman dalam berinternet di Indonesia masih menjadi tantangan besar. Dalam program Sahabat Spesial yang diinisiasi oleh Ruanita Indonesia, isu-isu terkait keamanan digital dan budaya online diangkat untuk meningkatkan literasi digital masyarakat.
Salah satu penyebab utama kurangnya rasa aman di dunia maya adalah budaya online yang mentoleransi tindakan seperti cyberbullying dan pelanggaran privasi. Misalnya, penggunaan foto tanpa izin, baik untuk candaan maupun tindakan yang lebih serius, masih sering terjadi.
Menurut Zakiya, rendahnya tingkat literasi digital di Indonesia membuat masyarakat cenderung menggunakan internet tanpa memahami risiko atau etika yang menyertainya. Hal ini mencakup kurangnya kesadaran terhadap pentingnya keamanan akun melalui otentikasi ganda (double authentication), risiko menggunakan Wi-Fi publik, hingga bahaya phishing.
Ada empat aspek utama literasi digital, seperti yang dijelaskan oleh Zakiya
Digital Skill: Keterampilan teknis dalam menggunakan teknologi.
Digital Culture: Pemahaman budaya dan tanggung jawab saat berinteraksi di dunia maya.
Digital Ethics: Mempraktikkan etika yang baik dalam komunikasi dan konten digital.
Digital Safety: Menjaga keamanan data pribadi dan melindungi diri dari kejahatan siber.
Kesadaran masyarakat terhadap keempat pilar ini perlu terus ditingkatkan melalui edukasi, kampanye, dan pelatihan praktis.
Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan tayangan video berdurasi sekitar 10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube Ruanita Rumah Aman Kita dan dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebagai ruang aman berbagi cerita inspiratif perempuan Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Program ini mengangkat pengalaman nyata, perjuangan, serta refleksi para perempuan dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mendorong promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Digagas oleh Anna Knöbl di Jerman, CSS menjadi wadah yang memperkuat suara perempuan, membangun solidaritas, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keadilan serta kesempatan yang setara bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan.
Simak selengkapnya program cerita sahabat spesial berikut di kanal YouTube kami dan jangan lupa SUBSCRIBE kanal YouTube kami agar dapat berbagi lebih banyak lagi.
Halo sahabat Ruanita, perkenalkan nama saya Zakiyatul Mufidah. Saya berasal dari Blitar Jawa Timur. Saat ini, saya sedang studi PhD di University of Birmingham di Inggris dan telah memasuki tahun kedua saya berada di negeri Harry Potter ini. Pada September 2022 lalu, saya mendapatkan beasiswa LPDP. Selain mengerjakan studi PhD, kesibukan saya sehari-hari dimulai sejak pagi, yakni mempersiapkan anak-anak berangkat ke sekolah, mengantar mereka ke sekolah dan saya lanjut menuju ke kampus.
Sebagai seorang ibu, saya berusaha memberikan hak anak-anak saya mendapatkan waktu dari saya. Oleh karena itu, saya berusaha semaksimal mungkin memanfaatkan waktu bersama mereka sebelum bersekolah. Ini adalah waktu saya bersama anak-anak, sebelum mengerjakan tugas kampus dan riset saya di kampus, sampai saat saya kembali menjemput anak-anak dari sekolah.
Selepas sekolah, kembali saya bersama dengan anak-anak. Saya membersamai mereka belajar, mengaji, sholat sampai selesai Isya’ dan free time. Setelah anak-anak tidur, kemudian saya bisa membuka laptop lagi (dengan catatan jika saya tidak ikut terlelap juga sampai pagi, hehehe…
Sebelum berbicara tentang bagaimana proses penyesuaian anak, perlu saya ceritakan sedikit tentang latar belakang anak-anak saya, karena saya melihat latar belakang anak sangat berpengaruh pada proses penyesuaiannya. Misalnya, anak saya adalah anak desa (anak kampung) karena mereka tinggal di lingkungan perkampungan. Anak-anak saya tidak terbiasa dengan dengan jadwal padat les ini itu, dsb. Mereka pergi sekolah, lanjut bermain, mengaji di madrasah, bermain lagi, pergi ke Musholla, dst. Mereka juga terbiasa hidup komunal dengan tetangga atau teman sebaya di lingkungan kami. Dan, satu lagi, anak-anak tidak terbiasa terpapar dengan Bahasa Inggris dalam kesehariannya. Nah, proses penyesuaian saat anak-anak masuk sekolah di sini cukup menantang.
Saya bisa merasakan tentunya berat untuk anak-anak saya, dari segi bahasa, sebagai satu-satunya alat berkomunikasi. Anak-anak saya sampai sekarang masih struggling dengan Bahasa Inggris. Namun untungnya, sistem sekolah di sini sangat inklusif, tidak judgmental dan lebih “encouraging” ke setiap anak, sehingga anak-anak tetap bersemangat, tidak merasa stres atau tertekan.
Selain itu, persoalan budaya dan kebiasaan juga cukup menantang pada tahap penyesuaian ini. Contoh kecil, kebiasaan makan nasi. Anak yang masih duduk di Year 1 sampai Year 4, itu masih dapat free lunch dari sekolah. Tentu, konsep lunch di sini berbeda dengan lunch di Indonesia, yang berarti makan nasi, lengkap dengan lauk pauknya. Di sini lunch dari sekolah biasanya sandwich, hotdog, potato, pizza, dll. Pastinya jarang sekali ada nasi. Nah, selama proses penyesuaian tersebut, kami harus menyiapkan bekal nasi dan lauk pauk untuk dibawa ke sekolah, karena anak-anak belum mau free school meal tersebut. Ini cukup merepotkan, karena saya harus masak besar di pagi hari. Setelah 4-5 bulan, sedikit demi sedikit anak-anak mau mencoba school meal dan tidak perlu membawa bekal nasi ke sekolah lagi.
Proses perpindahan sekolah anak dari Indonesia ke Inggris juga tidak semudah membalikkan kedua telapak tangan. Sistem sekolah di sini cukup ketat, dan sesuai dengan peraturan yang ditetapkan oleh city council. Tidak ada sistem “titip”. Karena anak-anak menyusul saya pada akhir September lalu, maka mereka saat mendaftar sekolah masuk ke in-year admission. Mereka tidak bisa ikut mendaftar online, seperti jika masuk pada awal tahun akademik. Jadi, kami mendatangi sekolah yang dekat dengan tempat kami tinggal.
Untuk mendaftar sekolah, syaratnya cukup dengan paspor dan bukti alamat tempat tinggal. Kuota diberikan berdasarkan zona. Setelah mengisi formulir pendaftaran dan melampirkan dokumen yang diminta, lalu ada visit dari sekolah. Kunjungan sekolah ini untuk memastikan jika kami benar-benar tinggal di alamat tersebut dan anak-anak mempunyai tempat tinggal yang layak. Kebetulan anak saya gendernya sama semua, sehingga mereka tidak harus punya kamar sendiri-sendiri. Selanjutnya, mereka bisa langsung masuk sekolah pada keesokan harinya, tanpa wajib memakai seragam sekolah. Seragam mereka cukup baju basic yang bisa didapatkan dengan mudah di toko serba ada, di dekat rumah.
Selanjutnya, pengelompokan usia sekolah di sini cukup berbeda dengan di Indonesia. Anak saya di Indonesia masuk ke dalam kelas 5 SD, tetapi di sini masuk kelompok Year 6 atau kelas 6. Anak kedua, yang masih TK B di Indonesia, di sini masuk kelompok usia Year 2. Lalu, anak ketiga masih TK A di Indonesia, tetapi di sini masuk kelompok Year 1. Gap kelompok usia ini cukup berpengaruh pada mental dan kemampuan kognitif anak. Ini yang menyebabkan anak-anak butuh effort yang lumayan untuk penyesuaian. Alhamdulillah, semuanya sudah bisa masuk sekolah, setelah menunggu 3 minggu.
Keputusan menyekolahkan anak-anak di Inggris, sejalan dengan keputusan membawa keluarga ikut tinggal di Inggris selama masa studi saya. Saya pernah menjalani LDR dengan anak di tahun pertama studi. Dan itu beratnya luar biasa. Di satu sisi raga saya di sini, tetapi di sisi lain hati dan pikiran saya ada di tanah air. Itu sebab, saya pun tidak bisa totalitas beraktivitas di kampus. Beratnya berpisah dengan buah hati menjadi salah satu alasan saya, memboyong mereka ke sini.
Alasan kedua adalah saya merasakan betapa pendidikan di sini sangat bagus dan berkualitas. Kalaupun di tanah air ada yang seperti di sini, itu pasti berada di kota besar dengan biaya yang tidak murah. Saya ingin sekali, tidak hanya saya saja sendiri yang bisa merasakan dan mengenyam pendidikan di sini, tetapi anak-anak saya juga. Tentunya, itu diiringi dengan drama dan tantangan-tantangan yang menyertainya.
Everything takes time. Tantangan-tantangan selama proses perpindahan memang tidak mudah. Sebagai orang tua, kami berusaha selalu berpikiran positif. Saya selalu mengajak ngobrol anak-anak dan menanyakan apa dan bagaimana perasaannya, agar mereka tidak sampai stres. Tantangan terberat tentu saat merespon anak yang homesick dan ingin pulang ke Indonesia saja. Namun, kami selalu berusaha menguatkan anak-anak. Bahwa segala sesuatu butuh waktu, butuh proses, dan selalu tidak mudah di awal, apalagi dengan budaya yang sama sekali baru dan belum menguasai Bahasa Inggris. Sebagai orang tua, kami harus terus mengingatkan untuk sabar. Kami mengingatkan kembali tujuan kami semua datang ke sini, yaitu menuntut ilmu. Menuntut ilmu itu wajib bagi tiap mukmin, baik laki-laki maupun perempuan.
Saat memutuskan membawa serta anak-anak dan pindah sekolah ke luar negeri, sebagai orang tua, kita perlu memperhatikan sejumlah faktor. Pertama, kita perlu memberi pemahaman kepada anak-anak bagaimana lingkungan dan budaya yang akan menjadi tempat tinggal barunya. Ini bisa dilakukan dengan sounding jauh-jauh hari sebelumnya, sehingga mereka punya gambaran dan bayangan tentang lingkungan yang akan mereka tempati. Kedua, kita perlu memberi pemahaman kepada mereka bahwa tidak hanya budaya, tetapi aturan-aturannya juga berbeda. Contohnya, aturan di sekolah, di lingkungan sosial, dan di tempat umum. Ketiga, sebagai orang tua, kita tidak lelah menemani dan harus lebih kuat mental, apalagi saat anak-anak sedang tantrum atau bad mood. Mereka juga butuh diperhatikan, terutama kesehatan mentalnya. Oleh karena itu, kita perlu saling mengingatkan tentang motivasi apa yang membuat kita sekeluarga bisa berada di Inggris. Mengingatkan kembali bahwa, ini adalah visi dan tujuan keluarga. Ini bukan hanya visi ibu atau ayah atau anak-anak saja. Berada di sini, survive di sini, dan berproses di sini adalah visi Bersama.
Dua hal yang paling sering dirindukan anak-anak saya dan kadang menjadi trigger homesick bagi mereka. Pertama, suasana dan lingkungannya. Mereka terbiasa bermain lepas di luar bersama teman-temanya. Istilahnya, mereka adalah anak petualang seperti: bersepeda keliling kampung, beli jajan/makanan kecil di warung, atau sesederhana main bola atau main layangan di lapangan. Sementara saat mereka sudah tinggal di Inggris, mereka merasa “terkungkung” di dalam rumah. Mereka keluar harus ditemani orang tua dan main bola di park harus dibungkus dengan jaket tebal. Mereka tidak menemukan abang-abang yang berjualan di pinggir jalan, dst.
Kedua, mereka beberapa kali bilang kangen dengan camilan atau makanan Indonesia. Cara saya mengatasinya, saya coba mengajak mereka explore tempat-tempat baru sebulan sekali atau jika ada waktu luang. Sementara untuk makanan, saya coba buatkan masakan Indonesia dengan bahan yang ada. Kadang kalau camilan, saya biasanya jastip ke teman yang pulang ke Indonesia. Upaya tersebut sudah lumayan dan cukup mengobati rasa kangen mereka.
Ada cerita menarik dari anak saya tentang proses adaptasinya di sekolah. Hal ini terjadi saat anak saya berulang tahun. Dia terheran-heran karena ada anjuran dari sekolah yang dikirim via email orang tua, agar anak yang berulang tahun tidak membawa makanan dan membagi-bagikan makanan kepada teman-temannya di sekolah. Saya mengerti aturan ini. Mungkin hal ini terkait food allergens yang menjadi isu penting di sekolah. Namun, anak saya lalu bilang: “Kok, di sini tidak boleh berbagi ya ma? Padahal kalau di Indonesia, ada yang berulang tahun, biasanya kita bawa nasi kuning atau kue untuk dibagikan ke teman-teman di sekolah. Itu lebih seru atau biasanya mereka yang berulang tahun, traktir makan di kantin.”
Menurut saya, ada beberapa kelebihan memindahkan anak bersekolah ke luar negeri. Pertama, kita bisa tetap dekat dan memantau perkembangan anak, baik fisik, akademik, mental, dan spiritualnya. Kedua, anak menjadi belajar tentang keberagaman dalam hal apapun, seperti cara hidup, bentuk tubuh, warna kulit, agama, kepercayaan, pilihan hidup, bahkan sistem atau peraturannya. Hal ini bisa membuat anak belajar beradaptasi dan menyesuaikan dengan adat/kebiasaan di mana dia tinggal. Anak lebih menghormati dan menghargai keberagaman. Ketiga, anak mempunyai pengalaman hidup yang akan dikenang seumur hidupnya, memiliki proses hidup dan belajar yang menantang, mengajarkan mereka untuk lebih siap dengan berbagai kemungkinan dan dinamisnya kehidupan. Keempat, mereka bisa merasakan bagaimana sistem belajar dan pendidikan di luar negeri yang cenderung inklusif dan tidak judgmental yang mengukur kinerja siswa dengan standar yang sama. Mereka lebih didorong untuk berkompetisi dengan dirinya sendiri, bukan dengan temannya. Setiap progress meskipun kecil sangat diapresiasi dan dihargai.
Terakhir, ini juga tidak kalah penting adalah kelebihan sekolah di sini. Sekolah di sini sangat mendorong anak menjadi suka membaca. Saya kurang tahu bagaimana persisnya, tetapi saya melihat anak-anak saya lebih cenderung suka membaca. Saat jalan keluar pun mereka lebih bersemangat menghabiskan waktu di toko buku, daripada di toko baju atau sepatu.
Saran saya, bagi sahabat Ruanita yang berniat membawa anak-anaknya ke luar negeri, adalah segerakan, jangan ditunda! Kuatkan niat yang baik untuk menuntut ilmu, berproses menjadi manusia yang tangguh dan unggul. Jangan lupa menjaga keseimbangan antara hati, pikiran, dan mental supaya tidak mudah lelah dan menyerah saat hidup sedang tidak berpihak pada kita. Sebagai orang tua, kita harus lebih siap saat anak-anak menghadapi masa-masa penyesuaian, lebih sabar dan berpikiran positif. Terakhir, ini tak kalah penting juga untuk selalu ditanamkan dalam diri kita dan anak-anak, bahwa tiap proses yang kita jalani, semuanya tidak terlepas dari kuasa dan kehendak Tuhan.
Penulis: Zakiyatul Mufidah Ahmad, Mahasiswi PhD di Inggris dan dapat dikontak di akun IG: zakiyatulmufidahahmad
Diskusi Podcast RUMPITA pada episode ke-23 mengangkat tema yang berkaitan dengan perayaan Hari Perempuan Internasional yang diperingati tiap 8 Maret. Untuk membahas lebih dalam, Ruanita Indonesia mengundang Sahabat Ruanita yang tinggal di Inggris dan sedang menempuh studi S3 di University of Birmingham.
Dia adalah Zakiyatul Mufidah Ahmad yang bekerja sebagai dosen di salah satu provinsi di Indonesia dan juga seorang ibu dari tiga orang putra.
Zakiya, begitu dia disapa, merupakan salah satu penerima beasiswa LPDP yang berkesempatan juga membawa serta keluarganya untuk mendampingi beliau menjalani studi S3 di Inggris.
Dalam kesempatan diskusi podcast, Zakiya mengaku bahwa dia tidak ingin kehilangan momen kebersamaan bersama anak-anaknya, terutama hal-hal yang menyangkut pendidikan non formal yang tidak diterimanya di sekolah.
Pendidikan non formal menurut Zakiya pun sama pentingnya melalui keterlibatan peran orang tua dalam keseharian bersama anak-anak.
Zakiya ingin agar anak-anaknya bisa mengenyam pendidikan yang sama baiknya seperti dirinya yang sedang menempuh pendidikan lanjutan S3 di Inggris dan dia tidak ingin menelantarkan anak-anak, terutama pendidikan non formal bersama orang tua.
Zakiya pun berbagi peran bersama suami untuk mengurus keperluan dan kebutuhan pendidikan anak-anak selama tinggal studi S3. Zakiya mengakui anak-anak tidak mudah beradaptasi dengan situasi di Inggris, apalagi anak-anak dulu di Indonesia tinggal di wilayah rural.
Anak-anak Zakiya pun mengaku mengalami perubahan adaptasi sosial dan budaya, terutama bagaimana anak-anak dipersiapkan untuk bisa mengenyam pendidikan di Inggris.
Apa saja strategi yang dipersiapkan Zakiya agar peran sebagai mahasiswi S3 dengan ibu bisa dapat berjalan seimbang? Apa saja persiapan yang dilakukan Zakiya agar anak-anak dapat beradaptasi sosial dan budaya untuk sekolah baru mereka di Inggris? Tantangan apa yang dihadapi Zakiya dalam menjalani peran tersebut di Inggris? Apa pesan Zakiya dalam perayaan Hari Perempuan Internasional?
Diskusi Podcast selengkapnya dapat disimak berikut ini: