(IG LIVE SPESIAL) Memutus Stigma dan Meningkatkan Solidaritas di Hari AIDS Sedunia

Pada 1 Desember diperingati sebagai Hari AIDS Sedunia, sekaligus masih menjadi rangkaian kampanye digital 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan. Sebelum diskusi dimulai, Ruanita Indonesia turut menyampaikan belasungkawa atas bencana yang terjadi di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara.

Acara ini dipandu oleh Rufi, begitu disapa untuk Zukhrufi Syasdawita dari Ruanita Indonesia, menghadirkan dua narasumber perempuan inspiratif:

  • Chichi Betaubun – aktivis HIV/AIDS Yapeda, Papua, yang kini tengah menempuh studi S2 di Swiss.
  • Ayu Oktariani – aktivis HIV dan penggerak isu perempuan, dikenal lewat platform edukasinya di media sosial.

Memulai diskusi, Chichi memberikan gambaran situasi HIV & AIDS di Papua. Ia menjelaskan bahwa di kota-kota besar seperti Jayapura dan Timika, edukasi HIV relatif mudah dijangkau berkat dukungan sekolah, fasilitas publik, dan komunitas.

Namun tantangan terbesar masih muncul di wilayah pedalaman dan kampung-kampung, di mana pembicaraan tentang HIV masih dianggap tabu. Banyak masyarakat masih mengaitkan HIV dengan kutukan, penyakit kotor, atau perilaku “nakal”. Tidak sedikit yang tidak menyadari bahwa banyak anak terlahir dengan HIV karena penularan dari orang tua.

Di sisi lain, misinformasi masih menjadi hambatan serius. Konten-konten menyesatkan tentang penularan HIV, termasuk isu lama seputar jarum suntik di makanan/minuman—masih dipercaya sebagian masyarakat, meski tidak berdasar.

“Informasi menyesatkan ini bertahan bertahun-tahun dan masih dipercaya hingga kini,” ujar Chichi “Karena itu edukasi tidak boleh berhenti.”

Tinggal di Swiss memberikan perspektif baru bagi Chichi. Ia menuturkan bahwa negara tersebut kini memiliki perlindungan hukum kuat bagi orang yang hidup dengan HIV.

Follow us for more

“Kesadaran publik tinggi, informasinya tepat, dan pemerintah memastikan tidak ada hambatan hukum bagi orang yang hidup dengan HIV,” jelasnya.

Namun ia menekankan bahwa hal terpenting tetaplah kehadiran komunitas, hal yang juga sudah kuat di Papua, seperti kelompok dukungan Melati Support Group.

Ayu kemudian berbagi kisah personalnya. Tahun depan menandai 17 tahun ia hidup dengan HIV, setelah terinfeksi dari suami yang menggunakan jarum suntik tidak steril. Ia menekankan bahwa HIV tidak mengenal batas perilaku, karena semua orang memiliki potensi risiko.

Awalnya, ia tidak punya niat menjadi aktivis. Ia hanya ingin bertahan, mencari informasi, dan menghindari depresi. Kebiasaan membaca sejak kecil membuatnya cepat memahami HIV secara ilmiah, bukan melalui stigma.

Bergabung dengan kelompok dukungan sebaya menjadi titik balik baginya.

“Di sana saya sadar bahwa nilai saya sebagai manusia tidak berkurang sedikit pun. Saya tetap bisa berkarya, sekolah, bekerja, punya mimpi,” tuturnya.

Dari pengalaman itu, ia mulai terjun ke advokasi kebijakan, isu perempuan, serta menyediakan ruang aman bagi komunitas melalui kedai kopi miliknya di Bandung.

Ayu memaparkan tantangan berlapis yang dihadapi perempuan dengan HIV, terutama karena budaya patriarkal yang masih kuat:

1. Stigma lebih berat dibanding laki-laki

Perempuan dengan HIV lebih sering dianggap penyebab masalah atau diasosiasikan dengan perilaku buruk, meski kenyataannya banyak terinfeksi dari pasangan.

2. Minimnya kontrol atas tubuh sendiri

Keputusan tentang menikah, hamil, melahirkan, hingga menyusui sering diambil oleh keluarga atau masyarakat, bukan oleh perempuan itu sendiri.

3. Beban pengasuhan ganda

Perempuan dianggap penanggung jawab utama kesehatan keluarga, sehingga sering mengabaikan kesehatannya sendiri.

4. Risiko kekerasan dan penolakan

Beberapa perempuan mengalami kekerasan atau penolakan setelah diagnosis, terutama jika pasangan menolak tes atau tidak menerima kenyataan.

“HIV itu memiskinkan, bukan hanya materi, tapi juga moral dan batin,” ujarnya.
“Karena itu penanganannya harus holistik, tidak bisa hanya dianggap sebagai persoalan medis.”

HIV tidak bisa dikenali dari fisik seseorang.

Satu-satunya cara mengetahui status HIV adalah tes darah.

Menebak-nebak status HIV seseorang berdasarkan bentuk tubuh, kulit, atau penampilan termasuk bentuk stigma yang perlu dihentikan.

Yang bisa dilakukan masyarakat adalah:

  • mencari informasi yang benar,
  • menghindari asumsi, dan
  • mendorong orang berisiko untuk tes tanpa menghakimi.

Diskusi IG Live Ruanita Indonesia ini menjadi pengingat penting bahwa perjuangan melawan HIV & AIDS bukan hanya soal obat, tetapi juga tentang kemanusiaan, empati, dan ruang aman bagi setiap orang.

Edukasi berkelanjutan, kebijakan inklusif, serta komunitas yang solid menjadi kunci untuk menciptakan masyarakat yang bebas stigma dan diskriminasi.

Selamat Hari AIDS Sedunia.
Mari bersama memutus stigma dan menguatkan solidaritas.

Simak selengkapnya di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung keberlangsungan kami.

(IG LIVE) Cerita Ibu Baru dari Prancis & Dukungan untuk Ibu Menyusui Indonesia

Ruanita Indonesia kembali mengadakan diskusi Instagram Live pada edisi parenting pada bulan November dengan tema “Parenting: Berbagi Pengalaman dan Pengetahuan Menyusui”.

Acara ini dipandu oleh Zukhrufi Syasdawita, Relawan Ruanita Indonesia dan menghadirkan dua narasumber inspiratif: Caroline Shinta, relawan Ruanita Indonesia yang kini tinggal di Prancis dan baru saja menjadi ibu baru, serta Mia Ilmiawati Sadah, konselor menyusui sekaligus pendiri Bubu Institute.

Selama kurang lebih 40 menit, diskusi berlangsung hangat dan penuh wawasan, membahas tantangan, kebahagiaan, serta dukungan yang dibutuhkan para ibu dalam proses menyusui. Mengawali sesi berbagi, Caroline menceritakan pengalamannya menjadi ibu baru di Prancis tanpa kehadiran keluarga besar.

“Kalau di Indonesia ada budaya gotong royong untuk membesarkan anak, di sini saya dan pasangan benar-benar mengurus bayi 100% sendiri,” ujar Caroline.

Ia menggambarkan masa-masa awal menyusui sebagai periode yang sangat menantang, seperti: puting lecet, bayi kesulitan menghisap, kurang tidur, dan rasa lelah tanpa henti.

“Setiap dua jam sekali harus menyusui, lalu memompa ASI ketika bayi tidur. Rasanya non-stop dan melelahkan,” kenangnya.

Namun di balik tantangan itu, ia juga merasakan kehangatan luar biasa dari momen kedekatan dengan bayinya.

“Meski melelahkan, ada rasa bahagia yang tidak tergantikan karena bisa memiliki kontak fisik dan ikatan emosional yang kuat dengan bayi,” tambahnya.

Caroline juga mengapresiasi sistem dukungan pemerintah Prancis terhadap ibu menyusui. Menurutnya, layanan laktasi sudah terintegrasi dalam sistem kesehatan. Sebelum melahirkan, calon ibu diwajibkan mengikuti kelas laktasi bersama bidan, dan setelah melahirkan mereka mendapat pendampingan 24 jam di rumah sakit.

“Ada lembaga milik pemerintah bernama PMI (Protection Maternelle et Infantiles) yang mirip posyandu di Indonesia. Mereka memberikan layanan konsultasi gratis dan mudah diakses, bahkan ada bidan yang datang ke rumah untuk kontrol,” jelasnya.

Narasumber kedua, Mia Ilmiawati Sadah, berbagi kisah di balik pendirian Bubu Institute, platform edukasi menyusui berbasis media sosial.

“Saya berlatar belakang tenaga kesehatan dan ingin terus berkontribusi untuk ibu dan anak meski sering berpindah negara karena pekerjaan suami. Dari situ lahir ide untuk membuat wadah edukasi yang fleksibel dan mudah diakses,” tutur Mia.

Menurutnya, kebutuhan akan konselor menyusui di Indonesia masih tinggi. Kurikulum kesehatan di Indonesia belum memberi porsi cukup besar untuk edukasi menyusui, sehingga banyak tenaga kesehatan belum memiliki kompetensi khusus di bidang ini.

Selain mengelola Bubu Institute, Mia juga aktif di Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI)—organisasi yang menyediakan layanan konseling dan dukungan bagi ibu menyusui di seluruh Indonesia.

“Kadang ibu bukan tidak tahu caranya, tapi butuh teman dan penguatan. Dukungan emosional sangat penting agar ibu percaya diri dan tidak merasa sendirian,” ujarnya.

Baik Caroline maupun Mia sepakat bahwa keberhasilan menyusui tidak hanya bergantung pada ibu, melainkan juga dukungan lingkungan.

Caroline berharap masyarakat dapat lebih menghargai perjuangan ibu menyusui. Sementara itu, Mia menekankan pentingnya implementasi kebijakan yang sudah ada.

“Secara nasional, kebijakan dukungan menyusui sudah banyak, termasuk cuti melahirkan dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2024. Tapi yang penting sekarang adalah penerapannya, di kantor, di daerah, di lingkungan kerja,” tegasnya.

Mia juga mengingatkan bahwa menyusui adalah tanggung jawab bersama. Menutup sesi diskusi, Caroline berpesan agar para ibu mempercayai diri sendiri dan menikmati proses menyusui tanpa tekanan.

Diskusi IG Live Ruanita Indonesia adalah program diskusi setiap bulan yang memanfaatkan ruang virtual seperti instagram untuk memberikan banyak inspirasi dan pengetahuan baru dari berbagai sudut pandang pengalaman, pengetahuan, dan praktik baik.

Diskusi IG LIVE pada bulan November ini bercerita pentingnya dukungan sosial, emosional, dan struktural bagi ibu menyusui. Dari kisah Caroline di Prancis hingga perjuangan Mia di Indonesia, semuanya menegaskan satu hal penting: menyusui adalah perjalanan yang membutuhkan empati, edukasi, dan kebersamaan.

Simak selengkapnya program diskusi IG LIVE di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami:

(IG LIVE SPESIAL) Melepas Diri dari Benang Kusut: Refleksi Trauma di World Trauma Day bersama Ruanita & Kesmenesia

Pada peringatan World Trauma Day tanggal 17 Oktober lalu, Ruanita Indonesia berkolaborasi dengan Kesmenesia menggelar sesi IG Live bertema “Melepas Diri dari Benang Kusut: Edisi Trauma Sedunia” pada Rabu (29/10) lalu.

Dipandu oleh Zukhrufi Syasdawita, Relawan Ruanita Indonesia, sesi ini menghadirkan dua narasumber luar biasa: Bernadia Dwiyani, seorang konselor sekaligus trauma-informed yoga practitioner, dan Mystica Rosa, Psikoterapis sekaligus fasilitator Re-Teach Method yang kini menetap di Irlandia.

Diskusi dibuka dengan pembahasan mendasar: apa sebenarnya trauma itu? Menurut Rosa, trauma bukanlah peristiwa itu sendiri, melainkan energi yang terperangkap dalam sistem saraf tubuh akibat pengalaman yang belum terselesaikan.

“Namanya trauma itu bukan peristiwanya, tetapi energi yang tertangkap di dalam sistem saraf kita,” jelasnya, merujuk pada teori Peter Levine yang banyak meneliti respons hewan liar terhadap ancaman.

Rosa menjelaskan bahwa tubuh memiliki dua sistem saraf utama: sympathetic (yang berfungsi untuk melawan atau lari) dan parasympathetic (yang membuat tubuh membeku saat merasa terancam). Ketika energi akibat peristiwa traumatis tidak tersalurkan, tubuh “membekukannya” di dalam sistem saraf. Inilah yang kemudian membuat seseorang terus merasa waspada, takut, atau bahkan mati rasa dalam jangka panjang.

Lebih lanjut, beliau membedakan beberapa jenis trauma:

  • Trauma akut, akibat peristiwa tunggal seperti kecelakaan atau kehilangan mendadak.
  • Trauma kronis, yang muncul dari tekanan berulang dalam kehidupan sehari-hari.
  • Trauma perkembangan, akibat kurangnya rasa aman di masa kanak-kanak.
  • Trauma relasional dan kolektif, seperti pengalaman pandemi atau bencana besar.

Melanjutkan bahasan tersebut, Bernadia menyoroti keterhubungan antara trauma, tubuh, dan pikiran. Menurutnya, trauma sering kali muncul karena suatu pengalaman yang datang terlalu cepat, terlalu banyak, dan terlalu tiba-tiba, melebihi kapasitas tubuh untuk memprosesnya.

“Saat kita tidak bisa mengekspresikan energi itu, karena situasi sosial misalnya, maka tubuh akhirnya menyimpannya,” ujarnya.

Ia mencontohkan hasil riset yang menunjukkan bahwa stres dan trauma dapat tersimpan di jaringan otot terdalam, bahkan hingga ke fascia. Tubuh pun “mengingat” sensasi-sensasi itu. Inilah sebabnya pendekatan bottom-up kini banyak digunakan dalam pemulihan trauma, yakni dengan mengembalikan kesadaran dan rasa aman melalui tubuh terlebih dahulu, baru kemudian ke ranah pikiran.

“Tubuh punya memori. Jadi penyembuhan trauma bukan cuma soal pikiran, tapi juga soal bagaimana kita belajar merasakan tubuh kita lagi,” jelas Nadia.

Ketika ditanya apakah trauma bisa muncul kembali, Nadia menjelaskan bahwa tubuh bisa terpicu (triggered) oleh hal-hal kecil yang mengingatkan pada pengalaman lama.

“Misalnya seseorang pernah mengalami kekerasan di jalan yang gelap. Meskipun sekarang jalannya aman, tubuh bisa tetap merespons seolah bahaya itu masih ada,” katanya.

Ia menganalogikan trauma seperti mobil yang terus digas tanpa henti. “Kalau terus dipaksa jalan tanpa sempat istirahat, lama-lama mesinnya rusak. Begitu juga tubuh kita,” ujarnya, menggambarkan bagaimana energi yang terus aktif bisa mengarah pada kelelahan kronis, gangguan imun, hingga masalah fisik yang tak terjelaskan secara medis,

Menutup sesi, Rosa kembali menekankan pentingnya kesadaran tubuh dan proses penyelesaian siklus energi yang terperangkap. Ia menjelaskan bahwa sistem saraf kita bekerja tanpa henti menerima rangsangan dari dunia luar. Ketika sistem ini belum “menyelesaikan” siklus trauma, tubuh tetap membaca sinyal bahaya meski situasi sudah aman.

“Yang membuat kita teringat kembali itu adalah trauma memory. Jadi bukan peristiwa yang berulang, tapi sinyal tubuh yang belum selesai,” ujarnya.

Melalui pendekatan seperti Re-Teach Method, seseorang dapat belajar kembali mengenali emosi, mengolah persepsi, dan membangun rasa aman yang baru. Prosesnya pelan, lembut, dan berfokus pada kesadaran tubuh.

Program IG Live ini menjadi ruang reflektif untuk memahami bahwa trauma bukan hanya urusan masa lalu, tetapi juga tentang bagaimana tubuh kita menyimpan, mengingat, dan berusaha bertahan. Rufi menutup sesi dengan ajakan untuk terus belajar mengenali diri:

“Trauma bukan akhir cerita. Ia bisa jadi awal dari perjalanan mengenal diri dan tubuh kita dengan lebih utuh.”

Kolaborasi antara Ruanita Indonesia dan Kesmenesia ini menjadi pengingat bahwa merawat kesehatan mental berarti juga merawat tubuh, sebab keduanya tidak bisa dipisahkan.

Pastikan SUBSCRIBE agar kami berbagi lebih banyak lagi. Simak di kanal YouTube kami berikut:

(IG LIVE) Budaya dan Stigma terhadap Kesehatan Mental: Belajar dari Tiongkok, Swiss, dan Indonesia

Dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia yang jatuh pada 10 Oktober, Ruanita Indonesia melalui akun Instagram resminya, @ruanita.indonesia, menggelar diskusi bertajuk “Budaya dan Stigma pada Orang dengan Gangguan Kesehatan Mental.”

Diskusi ini dipandu oleh Rufi dan menghadirkan dua narasumber muda inspiratif: Hilda Amanda Safir, mahasiswa kedokteran asal Indonesia yang tengah menempuh studi di Tiongkok, serta Putu Rarasati, mental health speaker yang kini menetap di Swiss.

Acara ini diikuti dengan antusias oleh para sahabat Ruanita dari berbagai daerah, yang juga berkesempatan untuk berinteraksi langsung melalui kolom komentar.

Dalam sesi pertama, Hilda Amanda menceritakan pengamatannya selama lima tahun tinggal di Tiongkok. Ia menilai bahwa pandangan masyarakat Tiongkok terhadap isu kesehatan mental kini sedang mengalami perubahan besar.

Follow us

Ia menambahkan bahwa di universitas tempatnya belajar, layanan konseling dan pusat kesehatan mental sudah tersedia secara gratis dan bersifat rahasia. Bahkan, di berbagai daerah, pemerintah bekerja sama dengan kampus untuk mengadakan kampanye tentang pentingnya menjaga kesehatan mental.

“Generasi yang lebih tua masih menganggap gangguan kesehatan mental sebagai hal tabu, bahkan cenderung mengasingkan penderitanya. Namun, di kalangan Gen Z, topik ini sudah semakin terbuka dibicarakan,” ujar Hilda.

“Anak-anak muda di sini sudah tidak segan curhat atau mencari bantuan psikologis. Ada platform daring yang memungkinkan kita berbagi cerita tanpa takut dihakimi,” tambahnya.

Sementara itu, Putu Rarasati membagikan pengalamannya tinggal di Swiss, negara yang dikenal memiliki sistem kesehatan yang sangat inklusif.

“Di Swiss, pembicaraan tentang depresi, burnout, atau terapi itu sudah jadi hal biasa, sama seperti membahas flu,” katanya.

Menurut Rarasati, lingkungan kerja dan sekolah di Swiss secara aktif mendukung kesehatan mental warganya. Karyawan mendapatkan lima minggu cuti wajib dalam setahun untuk mencegah stres, dan setiap individu memiliki akses ke hotline krisis serta layanan konseling yang ditanggung oleh asuransi wajib.

“Di sini, pergi ke psikolog dianggap sama normalnya seperti periksa ke dokter umum. Semua biaya kesehatan mental pun ditanggung asuransi,” jelasnya.

Ketika membahas konteks Indonesia, kedua narasumber sepakat bahwa stigma masih menjadi tantangan besar, meskipun kesadaran masyarakat terhadap isu ini mulai meningkat.

Hilda mengungkapkan bahwa sebagian masyarakat masih memandang gangguan kesehatan mental dari kacamata spiritual.

“Sering kali orang yang sedang tidak baik-baik saja dianggap kurang ibadah atau jauh dari Tuhan. Ada juga yang menganggapnya ‘cengeng’ atau hanya cari perhatian,” ujarnya.

Sementara itu, Rarasati menyoroti fenomena self-stigma ketika individu yang mengalami masalah justru menyalahkan diri sendiri dan enggan mencari bantuan.

“Banyak yang sadar butuh bantuan, tapi takut dicap gila, lemah, atau jadi beban keluarga. Akibatnya, gejala mereka makin berat karena tidak tertangani sejak dini,” tuturnya.

Ia menegaskan bahwa mencari bantuan profesional bukan tanda kelemahan, melainkan bentuk tanggung jawab terhadap diri sendiri.

Baik Hilda maupun Rarasati sepakat bahwa dukungan dari sistem, mulai dari pemerintah, institusi pendidikan, hingga dunia kerja sangat berperan dalam mengurangi stigma.

Hilda mencontohkan bagaimana pemerintah Tiongkok aktif mengirimkan pesan edukatif dan menyediakan layanan konseling gratis di kampus-kampus. Sementara Rarasati menilai sistem asuransi di Swiss dapat menjadi model ideal.

“Kebijakan publik yang berpihak pada kesehatan mental membantu masyarakat melihat bahwa ini bukan isu personal, tapi bagian dari kesejahteraan bersama,” jelas Rarasati.

Diskusi IG Live Ruanita Indonesia ini ditutup dengan ajakan untuk menormalisasi pembicaraan tentang kesehatan mental. Baik Hilda maupun Rarasati menekankan bahwa setiap perasaan adalah valid, dan tidak ada salahnya untuk meminta bantuan ketika merasa tidak baik-baik saja.

“Kalau kamu merasa sedih, lelah, atau homesick, itu valid. Ngobrol, curhat, atau datang ke psikolog bukan tanda kamu lemah, tapi justru tanda kamu berani,” pesan Hilda.

Melalui forum seperti ini, Ruanita Indonesia berharap semakin banyak generasi muda yang sadar, terbuka, dan saling mendukung dalam perjalanan menjaga kesehatan mental.

Simak selengkapnya rekaman diskusi IG LIVE di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

(IG LIVE) Peran Perempuan Indonesia dalam Literasi Global

Dalam rangka memperingati Hari Literasi Internasional, Ruanita Indonesia kembali (@ruanita.indonesia) mengadakan diskusi IG Live dengan tema besar: “Peran Perempuan dalam Perkembangan Literasi Global”.

Acara diskusi bulanan tersebut dipandu oleh tim Ruanita, Zukhrufi Syasdawita, acara ini menghadirkan dua narasumber inspiratif: Alda Trisda, seorang penulis buku anak seri Niko, saat ini menetap di Belgia. Selanjutnya adalah Anna Puspaningtyas – Inisiator aplikasi literasi digital Lentera, kini berbasis di Singapura.

Alda bercerita bahwa keinginannya menulis buku anak sudah ada sejak lama, terinspirasi dari minimnya koleksi buku anak di Indonesia pada awal 2000-an. Melalui berbagai proses, mulai dari mengikuti workshop hingga mengirimkan naskah ke penerbit Canisius, akhirnya lahirlah seri Niko, yang terinspirasi dari anaknya sendiri.

Menurut Alda, menulis buku anak bukan perkara mudah. Ia harus mempertimbangkan tingkat pemahaman, ilustrasi, serta pesan yang tidak menggurui. Ia menekankan pentingnya variasi buku anak dengan jumlah kata yang bertahap, agar anak-anak terbiasa membaca sesuai perkembangan usianya.

Alda juga menyoroti kebutuhan buku bertema neurodiversitas, misalnya tentang autisme, yang lebih inklusif, tidak sekadar menempelkan label atau stereotip. Baginya, literasi anak harus mampu membuka ruang penerimaan dan empati.

Berbeda dengan Alda, Anna berangkat dari keresahan pribadinya selama pandemi. Saat tinggal di Meksiko, ia kesulitan menemukan bacaan fiksi Indonesia secara digital. Dari situ lahirlah ide membuat aplikasi Lentera: platform literasi berbasis digital yang memungkinkan pembaca mengakses buku secara gratis, bahkan tanpa internet (mode offline).

Bagi penulis, Lentera memberikan kesempatan self-publishing dengan sistem royalti yang adil. Anna berharap aplikasi ini bisa menjadi solusi pemerataan akses literasi di daerah-daerah yang minim toko buku maupun distribusi bacaan.

Menariknya, Lentera juga menghadirkan tim editor yang siap memberi masukan kepada para penulis muda. Alih-alih membiarkan karya ditolak mentah-mentah, penulis diberi feedback agar terus berkembang.

Kedua narasumber sepakat bahwa perempuan memegang peranan penting dalam ekosistem literasi. Dari rumah tangga hingga komunitas, ibu atau perempuan seringkali menjadi role model bagi anak-anak dalam membangun kebiasaan membaca.

Alda menekankan perlunya komunitas literasi, baik berupa perpustakaan kecil di desa maupun aplikasi digital—agar anak-anak memiliki akses bacaan yang beragam. Sementara Anna menyoroti tren generasi muda yang kini lebih banyak menulis di platform digital. Menurutnya, justru ini peluang besar: mereka sudah berani berkarya, tinggal bagaimana dibimbing agar kualitas tulisan meningkat.

Diskusi ini membuka mata kita bahwa literasi tidak hanya soal membaca dan menulis, tetapi juga akses, keberagaman, dan inklusivitas. Perempuan, dengan berbagai peran yang dijalankan, menjadi motor penting dalam membangun generasi yang kreatif dan berdaya.

Ruanita Indonesia berkomitmen untuk terus menghadirkan ruang-ruang diskusi literasi. Karena kami percaya, setiap buku, setiap tulisan, dan setiap cerita punya kuasa untuk mengubah dunia.

Simak selengkapnya melalui kanal YouTube dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami:

(IG LIVE) Melahirkan di Mancanegara Bukan Hanya Sekedar Biaya, Simak Berikut Ini

Ruanita Indonesia melalui akun instagram ruanita.indonesia, kembali menggelar diskusi IG LIVE bersama para sahabat Ruanita melalui program IG LIVE. Kali ini, tema yang diangkat adalah “Melahirkan di Mancanegara: Pelajaran dan Tantangan”.

Tema ini sarat cerita personal, penuh makna, dan kaya pembelajaran bagi perempuan Indonesia di berbagai belahan dunia.

Dipandu oleh Zukhrufi Syasdawita, yang disapa Rufi, dari Ruanita Indonesia, diskusi ini menghadirkan dua narasumber perempuan yang membagikan pengalaman mereka menjalani proses kelahiran di luar negeri.

Meski jarak memisahkan dari tanah air, semangat dan kekuatan mereka sebagai ibu menjadi sumber inspirasi.

Dalam cerita para informan, terungkap berbagai pelajaran berharga yang diperoleh dari pengalaman melahirkan di negara lain.

Mereka berbagi tentang bagaimana sistem pelayanan kesehatan di luar negeri dapat berbeda secara signifikan dari Indonesia, baik dalam prosedur medis, budaya komunikasi, hingga dukungan pasca-persalinan.

Keberagaman ini menjadi kesempatan bagi para ibu untuk belajar beradaptasi, memahami perbedaan, dan mengambil yang terbaik dari setiap sistem.

Tak bisa dipungkiri, melahirkan jauh dari keluarga besar membawa tantangan tersendiri. Mulai dari kendala bahasa, perbedaan budaya, hingga rasa rindu kampung halaman. Namun, setiap tantangan yang dihadapi justru memperkuat mental dan membangun rasa percaya diri.

Follow us

Para informan menekankan pentingnya membangun jejaring dukungan, baik dari pasangan, komunitas lokal, maupun sesama ibu di perantauan, untuk menjaga kesehatan fisik dan mental selama proses menjadi orang tua baru.

Dari pengalaman mereka, satu pesan yang ingin disampaikan kepada para perempuan Indonesia adalah: setiap perjalanan menjadi ibu itu unik dan berharga, terlepas dari di mana proses itu berlangsung.

Yang terpenting adalah menjaga kesehatan, menerima dukungan, dan merayakan setiap momen, baik suka maupun duka.

Diskusi ini bukan hanya membuka wawasan, tetapi juga menegaskan bahwa pengalaman melahirkan di mancanegara bukan sekadar cerita tentang jarak dan perbedaan, melainkan tentang keberanian, ketangguhan, dan cinta yang tanpa batas.

Simak selengkapnya diskusi IG LIVE episode Agustus 2025 berikut dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

(IG LIVE) The Joy of Less: Hidup Minimalis dari Perspektif Jurnalis Lepas di Italia dan Desainer Tas di Amerika Serikat

Ruang virtual Instagram Ruanita kembali menjadi tempat hangat berbagi cerita dan inspirasi. Diskusi IG LIVE interaktif bertema “The Joy of Less: Hidup Minimalis dalam Mode dan Fesyen” menghadirkan dua sahabat Ruanita yang tinggal di dua benua berbeda: yakni Rieska Wulandari di Milan, Italia dan Dewi Maya di South Carolina, Amerika Serikat.

Dipandu oleh Zukhrufi Syasdawita dari Ruanita Indonesia, diskusi ini menelusuri makna hidup minimalis dari sudut pandang keseharian hingga industri kreatif seperti fesyen.

Sebagai jurnalis lepas dan kontributor media, Rizka yang tinggal di kota Rimini, Italia, mengawali dengan menggambarkan bahwa hidup minimalis baginya berarti hidup secara cerdas, efisien, dan berkelanjutan.

“Buat saya, minimalisme bukan sekadar gaya hidup lucu-lucu. Tapi trik untuk menghadapi tantangan hidup,” ujarnya.

Rizka menekankan bahwa hidup di kota di Italia dengan ruang yang terbatas menuntut masyarakat untuk berbagi ruang dan fasilitas.

Dari apartemen kecil hingga taman umum, masyarakat belajar memanfaatkan sumber daya bersama—konsep minimalis yang kolektif, bukan individual.

Uniknya, meski Italia dikenal sebagai pusat mode dunia, Rizka mengungkapkan bahwa masyarakatnya justru sangat sadar akan esensi dan kualitas.

Gaya hidup old money atau professional style menjadi bentuk minimalisme tersendiri: membeli barang berkualitas tinggi sebagai investasi jangka panjang, bukan demi tren sesaat.

Sementara itu, Dewi, seorang desainer yang berbasis di South Carolina, AS, berbagi refleksinya setelah bertahun-tahun terjun di industri fashion. Ia mengaku bahwa kesadaran minimalis datang seiring pengalaman dan kedewasaan.

“Dulu, aku ikut tren terus. Tapi makin ke sini, aku sadar: fungsi lebih penting dari estetika sesaat,” katanya.

Dewi kini fokus mengembangkan karya berbasis slow fashion dan upcycled materials. Ia pernah membuat fashion show yang menggunakan tas-tas daur ulang dari plastik dan aktif bekerja sama dengan UKM Indonesia untuk memproduksi barang handmade dari jarak jauh.

Menurutnya, masyarakat Amerika cukup menghargai produk yang etis dan tahan lama. Kesadaran lingkungan dan preferensi terhadap kualitas menjadi alasan kuat mengapa minimalisme dalam fashion menjadi semakin relevan.

Baik Rizka maupun Dewi sepakat bahwa minimalisme tidak harus berarti “pelit” atau kekurangan. Justru, ini soal menyadari kebutuhan dan memprioritaskan fungsi, nilai, dan keberlanjutan. Beberapa tips yang mereka bagikan:

  • Gunakan kembali dan berbagi: dari baju bayi hingga buku, banyak bazar dan platform second-hand di Eropa.
  • Pilih bahan berkualitas: barang yang tahan lama bisa menjadi investasi, bahkan bisa diwariskan atau dijual kembali.
  • Kurasi lemari baju: lebih baik punya sedikit baju yang cocok dan fungsional daripada lemari penuh tren yang cepat usang.
  • Belanja dengan kesadaran: apakah barang ini akan berguna lama? Siapa yang membuatnya? Apa dampaknya bagi lingkungan?

Diskusi IG LIVE ini bukan sekadar tentang gaya atau tren, tapi soal cara memaknai hidup dengan lebih sederhana dan sadar.

“Di Italia, ada musim untuk bekerja keras, dan ada musim untuk istirahat dan menikmati hidup. Itu yang membuat hidup terasa seimbang,” ungkap Rizka sambil tersenyum di sela liburannya di pantai.

Akhir sesi terasa seperti pelukan hangat—dua perempuan Indonesia dari dua benua membuktikan bahwa hidup lebih sedikit bukan berarti kehilangan, tapi justru menemukan kembali makna, kesadaran, dan ruang untuk bernapas.

Simak selengkapnya Diskusi IG LIVE Episode Juli 2025 di kanal YouTube kami dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami

(IG LIVE) Refleksi Perempuan Desa dan Akademisi Bagaimana Membangun Perdamaian

Dalam rangka memperingati International Day of Living Together in Peace yang jatuh setiap tanggal 16 Mei, Ruanita Indonesia menyelenggarakan program diskusi secara langsung melalui platform Instagram Live. Diskusi ini mengangkat tema “Membangun Kedamaian di Tengah Keberagaman”, yang menjadi sangat relevan dalam konteks sosial budaya Indonesia yang multietnis dan multireligius.

Acara ini dipandu oleh Zukhrufi Syasdawita atau yang disapa Rufi dari Ruanita Indonesia. Diskusi IG LIVE menghadirkan dua narasumber perempuan inspiratif: Khaeria Ulfarani Rahman (pendiri Komunitas Perempuan Desa di Indonesia) dan Maria Regina Jaga (akademisi dan kandidat PhD di Amerika Serikat).

Ulfa, membuka diskusi dengan membagikan tantangan yang dihadapi dalam membangun kedamaian di komunitas desa.

Salah satu tantangan utama adalah memperkenalkan konsep penghargaan terhadap keberagaman, baik dalam hal budaya, agama, maupun bahasa. “Kata toleransi itu mudah diucapkan, tapi ketika kita turun langsung ke lapangan, realitasnya tidak sesederhana itu,” ungkapnya.

Menurutnya, perempuan desa sering kali menghadapi hambatan kepercayaan diri dalam mengembangkan potensinya. Melalui Komunitas Perempuan Desa, ia dan rekan-rekannya menginisiasi pendampingan agar perempuan desa dapat bertumbuh dan berdaya, sehingga mampu memahami pentingnya pendidikan dan menjadi agen harmoni dalam komunitas mereka. Pemberdayaan ini tidak hanya soal ekonomi, tetapi juga mendorong ruang dialog dan penghargaan atas perbedaan.

Follow us

Maria Regina Jaga, yang akrab disapa Inja, memberikan perspektif dari sisi pendidikan karakter. Ia menekankan bahwa pendidikan karakter harus dimulai dari lingkungan terkecil, yakni keluarga dan sekolah. Dalam pandangannya, perbedaan suku, etnis, dan agama bukanlah hambatan, tetapi sumber kekuatan yang perlu dirangkul.

Ia menyebut pentingnya peran guru dalam membentuk karakter anak sejak dini. “Guru punya tantangan untuk mempertahankan nilai-nilai baik dari rumah, sembari menanamkan bahwa keberagaman adalah hal yang harus dirangkul,” jelas Inja. Ia juga menyoroti perlunya keberanian dalam menghadapi perbedaan dengan terbuka dan empatik, sesuatu yang bisa dicapai melalui interaksi langsung di lingkungan pendidikan.

Ulfa membagikan cerita tentang perjalanannya bersama komunitas perempuan di berbagai daerah, termasuk di kawasan adat Amatoa Kajang, Sulawesi Selatan. Di komunitas ini, mereka tidak hanya menekankan penghormatan antarsesama manusia, tetapi juga terhadap alam sebagai bagian dari kearifan lokal. Ulfa percaya bahwa ketika perempuan desa diberdayakan dan memiliki kesadaran pendidikan, mereka akan menjadi agen perubahan yang mampu menjaga harmoni sosial.

Ia juga mengisahkan pengalamannya ketika berkunjung ke Kalimantan Timur, di mana ia merasa diterima sepenuhnya oleh komunitas lokal meskipun berasal dari latar belakang budaya yang berbeda. “Saya Bugis, mereka Dayak. Tapi saya merasa menjadi bagian dari mereka,” katanya. Ini menunjukkan bahwa kedamaian tidak hanya bisa dirasakan, tetapi juga dibangun melalui pengalaman lintas budaya yang penuh penerimaan.

Inja kemudian berbagi pengalaman selama menempuh pendidikan di Amerika Serikat. Ia menjelaskan bagaimana pendekatan culturally responsive pedagogy diterapkan di sana, yaitu sebuah metode pendidikan yang menghargai keberagaman budaya peserta didik. Anak-anak dilatih menjadi mediator konflik sejak usia dini melalui simulasi konflik dan diskusi solusi.

Menurutnya, pendidikan di AS tidak hanya mengajarkan anak untuk memahami bahwa konflik itu nyata, tetapi juga menyediakan ruang untuk mempelajari bagaimana menghadapi konflik tersebut secara sehat. Di sini empati dan kemampuan mendengarkan menjadi kunci dalam membangun karakter.

Ia juga menceritakan bahwa sebagai pelajar internasional, ia mendapat kesempatan menjadi global ambassador untuk mengenalkan budaya dan nilai-nilai pendidikan dari Indonesia. Dalam proses ini, ia menyadari bahwa meskipun terdapat perbedaan pendekatan, nilai-nilai dasar dalam pendidikan karakter seperti empati, toleransi, dan kejujuran tetap memiliki benang merah yang universal.

Dalam penelitiannya, Inja berfokus pada pendidikan karakter yang berbasis kearifan lokal, khususnya di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT). Ia menyoroti pentingnya menghidupkan kembali budaya tutur seperti cerita rakyat, yang sarat dengan nilai-nilai positif dan keberagaman.

Sayangnya, banyak nilai-nilai tersebut tidak lagi diajarkan secara formal dan mulai tergerus oleh arus modernisasi. “Anak-anak sekarang cenderung melupakan akar dan budaya mereka sendiri,” ujarnya. Dengan merevitalisasi cerita rakyat dan budaya lokal dalam kurikulum pendidikan, ia berharap empati dan penghargaan lintas budaya bisa tumbuh sejak dini.

Ulfa juga menekankan bahwa pemberdayaan yang dilakukan tidak hanya menyasar perempuan secara umum, tetapi juga perempuan dengan disabilitas. Menurutnya, inklusivitas adalah bagian penting dari harmoni sosial. Ia berharap semua individu bisa memiliki hak dan kesempatan yang sama, tanpa ada yang merasa tertinggal atau dianggap berbeda.

“Kita harus menyampaikan bahwa kita semua sama. Kita punya potensi dan kesempatan yang sama,” ujarnya dengan penuh semangat.

Diskusi ditutup dengan penekanan pentingnya kolaborasi antar pemangku kepentingan, baik komunitas, akademisi, hingga pemerintah. Kak Inja menyebut bahwa upaya menjaga kedamaian tidak harus melalui tindakan besar. Tindakan kecil di tingkat komunitas pun, jika dilakukan secara konsisten dan kolaboratif, dapat memberikan dampak besar bagi masyarakat luas.

Ulfa menambahkan bahwa perempuan harus bisa saling menguatkan dalam gerakan maupun aksi-aksi lokal. “Cukup kegiatan kecil yang masif di tingkatan desa. Jadilah lilin-lilin kecil yang menerangi sekitar,” tuturnya.

Keduanya sepakat bahwa perempuan memiliki peran strategis dalam membangun perdamaian. Tidak hanya sebagai penggerak komunitas, tetapi juga sebagai pendidik dan penjaga nilai-nilai empati dan toleransi dalam keluarga dan masyarakat.

Dalam suasana hangat diskusi ini, tersampaikan pesan bahwa perdamaian bukanlah sekadar idealisme, tetapi bisa dibangun dari tindakan konkret sehari-hari. Mulai dari mendengarkan, menghargai perbedaan, hingga memberi ruang kepada mereka yang kerap terpinggirkan. Diskusi ini menjadi bukti nyata bahwa ruang-ruang dialog seperti yang difasilitasi Ruanita Indonesia adalah bentuk kontribusi penting dalam menciptakan masyarakat yang inklusif dan harmonis.

Simak selengkapnya program bulanan Diskusi IG LIVE episode Mei 2025 berikut ini di kanal YouTube kami dan pastikan SUBSCRIBE agar kami dapat berbagi lebih banyak lagi

(IG LIVE) Selamat Hari Perempuan Internasional!

Hari ini diperingati sebagai Hari Perempuan Internasional. Tentunya, Ruanita Indonesia telah mempersiapkan berbagai program untuk merayakannya, termasuk menyiapkan diskusi IG LIVE yang menjadi program bulanan.

Pada episode Maret 2025, Ruanita Indonesia menggelar tema perempuan dalam inklusi dan komunitas global yang disuarakan oleh perempuan Indonesia di mancanegara.

Diskusi IG LIVE lewat platform instagram @ruanita.indonesia, Ruanita Indonesia mengundang informan yakni Go Suan Ny yang tinggal di Jerman dan menjadi survivor speaker bagi Ruanita Indonesia. Selain itu, ada Evita Haapavaara yang sedang berwirausaha di Finlandia dan telah tinggal sejak 30 tahun lalu di sana.

Diskusi dipandu oleh Rufi, Zukhrufi Sysdawita, yang menggali berbagai peran dan tantangan perempuan Indonesia seperti Suan Ny dan Evita di mancanegara. Suan Ny bercerita pengalamannya untuk melamar kerja di Jerman yang tak mudah.

Dia mengalami berbagai penolakan, yang membuatnya tidak patah arang untuk terus melamar kerja. Sejak kecelakaan tahun 2017, Suan Ny terpaksa hidup dalam kondisi yang sulit dan dia pun masih menjalani peran sebagai Single Mom.

Dia menyadari bahwa pandangan terhadap perempuan dengan disabilitas masih sering menjadi tantangan bagi Suan Ny. Dia ingin mengubah pandangan tersebut dan meyakinkan bahwa kemampuan seseorang tidak lagi dilihat dari kemampuan fisiknya semata.

Follow us

Terbukti, Suan Ny berhasil menyelesaikan studi S2 di salah satu universitas di Jerman, padahal situasi Suan Ny yang mengalami keterbatasan fisik saat itu.

Suan Ny ingin membuktikan bahwa orang dengan disabililtas bukan orang bodoh dan tidak memiliki harapan untuk bekerja di dunia profesional.

Suan Ny ingin perspektif yang berbeda dan melihat dirinya bukan sebagai orang disabilitas (=orang yang tidak berdaya), melainkan orang difabel (=different able). Sebagai difabel, Suan Ny bisa menggunakan sendok atau mengetik komputer dengan cara berbeda daripada umumnya.

Lain Suan Ny, lain pula cerita Evita. Dia datang ke Finlandia sejak 1994, yang mana kelompok migran pada masa itu masih sangat kecil di Finlandia. Evita merasa bahwa pendidikannya di Indonesia yang ditempuhnya di Universitas Indonesia, mampu memberikannya kesempatan kerja di Finlandia.

Nyatanya itu tidak mudah! Evita kemudian menginisasi usaha yang dirintisnya di Finlandia, berkat kemudahan legalisasi dan dukungan dari pemerintah Finlandia sendiri untuk perempuan dan kelompok migran.

Apa saja tantangan yang dihadapi Suan Ny dan Evita sebagai perempuan Indonesia di mancanegara? Apa yang menjadi solusi mereka untuk mengatasi tantangan tersebut?

Bagaimana caranya untuk dapat meraih impian di negeri yang mereka tempati sebagai perempuan Indonesia? Apa pesan mereka di Hari Perempuan Internasional?

Simak selengkapnya di kanal YouTube kami berikut dan dukung kami dengan SUBSCRIBE!

(CERITA SAHABAT) Pernah Jadi Korban Perundungan, Kini Aktif Serukan Social Justice

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan aku adalah Rufi (akun instagram @zsyasdawita), yang sedang tinggal di Jerman untuk menyelesaikan studi S2 di jurusan Public Policy and Good Governance. Lewat program cerita sahabat, aku ingin membagikan hasil wawancaraku dengan seorang teman asal Indonesia dalam tema Social Justice

Temanku yang dimaksud adalah Dyfna, bukan nama sebenarnya dan sekarang juga tinggal di Jerman. Tepatnya Dyfna sedang tinggal di Leipzig sejak satu tahun lalu. Jika kita mendengar kata “Social Justice” mungkin yang terbayang adalah para profesional dan praktisi yang bergerak di bidang hukum dan keadilan. Nah, aku ingin membawa sahabat Ruanita dalam perspektif yang berbeda, yakni bagaimana perasaan orang yang tidak mengalami “social justice” dalam hidupnya, seperti yang dialami Dyfna ini.

Dfyna pernah mengalami peristiwa tidak mengenakkan, yang memegaruhi keputusannya untuk terlibat dalam bidang keadilan sosial. Awalnya, Dyfna mengalami peristiwa ketidakadilan pada saat dia masih duduk di bangku sekolah. Dyfna menganggap hal itu terjadi karena dia berasal dari suku minoritas pada saat dia bersekolah.  Selain itu, dia memiliki warna kulit yang lebih gelap dari kebanyakan teman-teman sekolahnya. Akibat perasaan tidak adil dan perlakuan rasisme tersebut, Dfyna memutuskan untuk melawan ketidakadilan sosial. 

Setiap orang punya definisi yang mungkin berbeda-beda tentang keadilan sosial, termasuk Dyfna. Menurutnya, keadilan sosial adalah kondisi saat semua orang memiliki persamaan hak dan mendapatkan perlakuan yang sama, tanpa adanya diskriminasi, baik itu  berdasarkan ras, jenis kelamin, agama, atau status sosial. Hal ini penting sekali karena Dyfna percaya bahwa masyarakat yang adil akan menciptakan lingkungan yang harmonis 

Tentu saja, Dyfna bukan hanya berteori saja tentang keadilan sosial, melainkan dia juga memiliki proyek atau inisiatif yang sedang dikerjakannya. Dia memiliki proyek terbaru yang berkaitan dengan program pemberdayaan di kota tempat tinggalnya saat ini. Proyek ini dikerjakannya bersama teman-teman aktivis yang punya concern yang sama, terkait bidang social justice. Proyek ini bertujuan untuk memberikan dukungan psikologis dan hukum kepada korban perundungan atau bullying, khususnya anak-anak sekolah dan remaja. Dyfna dan teman-temannya berharap proyek ini akan membantu para korban untuk bangkit dan mendapatkan keadilan yang layak.

Dalam implementasi proyek ini, tentu saja tidak mudah. Ada banyak tantangan yang harus dihadapi Dyfna dan kawan-kawan seperjuangannya. Salah satu yang terbesar yang dihadapinya adalah  adalah ketimpangan sosial di masyarakat Indonesia. Di Indonesia, masih terdapat kelas-kelas sosial yang menciptakan adanya ketimpangan di masyarakat, sehingga ada yang merasa diri mereka lebih superior daripada orang-orang yang berada di kelas bawah, menurut kaum superior ini. 

Melihat adanya kesenjangan tersebut, Dyfna pun berupaya untuk menciptakan ruang yang ‘merata’ bagi setiap pihak, khususnya dalam edukasi dan literasi tentang keadilan sosial. Contoh konkritnya adalah melakukan kampanye-kampanye, baik secara online maupun offline, sehingga diharapkan semua orang memiliki akses yang sama dalam mendapatkan pemahaman tentang keadilan sosial.

Tak hanya melakukan edukasi dan literasi saja, Dyfna merasa pentingnya peran advokasi dalam memajukan isu keadilan sosial ini agar dapat meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat. Menurut Dyfna, advokasi dan pendidikan memainkan peran penting dalam memajukan isu keadilan sosial dengan memberikan informasi yang akurat dan memberdayakan masyarakat untuk mengambil tindakan. Strategi yang dimainkan Dyfna adalah mengadakan lokakarya, seminar, dan menggunakan media sosial untuk menyebarkan informasi.

Sebagaimana sahabat Ruanita ketahui, praktiknya tentu tidak mudah ketika komunitas kami membantu anak-anak korban bullying yang mengalami ketidakadilan, khususnya karena rasisme. Dyfna dan komunitas bergerak untuk memotivasi dan mengedukasi mereka dengan cara-cara seperti sosialisasi ke sekolah-sekolah untuk menanamkan pentingnya keadilan sosial. Hal ini dimaksudkan agar anak-anak di sekolah teredukasi dan lebih aware akan hal tersebut. Dyfna dan teman-teman aktivis berharap korban-korban perundungan di sekolah bisa bangkit dan tetap semangat kembali, terutama mereka tidak malu dan minder dengan identitas mereka ataupun warna kulit mereka.

Apa yang Dyfna dan teman-teman aktivis lakukan tidak dapat terwujud sepenuhnya, apabila pemerintah tidak mendukungnya. Menurut Dyfna, pemerintah dan kebijakan publik memainkan peran yang sangat penting dalam mendukung dan menegakkan  keadilan sosial. Ketika pemerintah mampu menciptakan kebijakan yang inklusif dan adil bagi semua pihak, tentunya hal tersebut mampu membantu memerangi ketidakadilan dan diskriminasi. Sebaliknya, kalau tidak ada kebijakan yang mendukung dalam mengupayakan terwujudnya keadilan sosial, pastinya itu dapat menjadi hambatan yang besar dalam penegakan keadilan sosial.

Sahabat Ruanita, satu hal yang penting untuk diketahui tentang penegakan keadilan sosial adalah interseksi keadilan sosial itu sendiri, seperti ras, gender, dan kelas sosial yang saling terkait. Interseksionalitas merupakan konsep penting dalam keadilan sosial yang saling berhubungan dan memengaruhi satu sama lain. Oleh karena itu, ketika kita paham tentang interseksionalitas,  kita bisa melihat gambaran kesenjangan yang ada secara lebih luas dan kompleks.

Dalam kehidupan digitalisasi yang berkembang seperti sekarang ini, Dyfna berpikir kita bisa memanfaatkan teknologi dan sosial media sebagai kunci social movement. Ya, tentunya teknologi dan media sosial mempunyai dampak yang signifikan terhadap gerakan keadilan sosial dengan memperluas jangkauan dan mempercepat penyebaran informasi. Namun, ada juga tantangan yang perlu diatasi, seperti misinformasi dan juga hoax yang saat ini tersebar luas di media sosial dengan mudah.

Terakhir, lewat peringatan World Day of Social Justice ini, Dyfna menyerukan bahwa kita bisa mulai terlibat dalam keadilan sosial, baik secara personal maupun institusional, yang bisa dimulai dari edukasi diri kita sendiri terlebih dahulu dan komunitas terdekatnya. Bahkan dari lingkup keluarga, Dyfna berpendapat bahwa kita bisa melakukan awareness tentang isu-isu keadilan sosial, serta berpartisipasi dalam kegiatan lokal. Langkah kecil seperti sukarela di organisasi sosial atau mengikuti kampanye kesadaran yang bisa berdampak besar.

Penulis: Zukrufi Syasdawita yang tinggal di Jerman dan dapat dikontak via akun instagram @zsyasdawita. Naskah berdasarkan wawancara dengan Dyfna (nama samaran) adalah mahasiswa yang sudah tinggal selama 1 tahun di Leipzig, Jerman.

(IG LIVE) Safer Internet Day

Program IG LIVE lewat platform akun instagram @ruanita.indonesia dilaksanakan tiap bulan dengan berbagai tema diselenggarakan sebagai ruang diskusi dan berbagi inspirasi.

Pada bulan Februari 2025 ini, tema yang diambil sejalan dengan Safer Internet Day yang diperingati pada 11 Februari 2025 lalu.

Safer Internet Day mengingatkan kita bahwa internet kini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari yang tak terpisahkan dan kita perlu aware tentang bagaimana berinternet yang aman, sehat, dan bertanggung jawab.

Demikian pernyataan pembuka pemandu diskusi, Host IG LIVE, yakni relawan Ruanita Indonesia – Zukhrufi Sysdawita.

Bagi Herawasih Yasandikusuma, Digital Marketer yang bermukim di Swiss, Safer Internet Day adalah momen untuk kita dapat menjaga informasi pribadi.

Selain itu, dia menghimbau bagaimana menggunakan sandi atau password yang aman dalam berinternet. Wasih – demikian disapa – mengingatkan pentingnya multi-faktor autentifikasi.

Berkaitan dengan kecerdasan buatan, Wasih juga menyatakan bagaimana hidup berdampingan dengan Artificial Intelligence, yang dapat membantu kita bekerja.

Lainnya, Netti yang tinggal di Serbia dan aktif sebagai digital content creator – menyatakan pentingnya edukasi tentang kultur berinternet, termasuk bagaimana mengedukasi anak-anak yang berusia sekolah.

Di Serbia, Netti menegaskan sudah ada program untuk sekolah tentang literasi digital.

Meski orang tua masih khawatir dengan internet untuk hal-hal yang tidak edukatif, tetapi orang tua bisa membuat batasan pada anak yang bisa diatur pada bagian setting platform media sosial tersebut, seperti misalnya: Facebook atau Instagram.

Lebih lanjut diskusi IG LIVE ini dapat disimak di kanal YouTube kami dan jangan lupa SUBSCRIBE agar kami dapat berbagi lebih banyak lagi.

(IG LIVE) Bahas Tuntas Single Shaming

Melanjutkan diskusi IG Live yang tayang setiap bulan, pada bulan Januari 2025 Ruanita – Rumah Aman Kita – Indonesia menggelar diskusi yang tak kalah seru untuk membahas status single, bersama dua sahabat Ruanita yang berada di dua lokasi negara berbeda.

Tentunya, diskusi IG Live tetap dipandu oleh Zukhrufi Sysdawita yang membahasnya secara menarik bersama Ecie Linasari dan Nissa Vidyanita. Pandangan single shaming bisa dilihat dalam perspektif budaya dan atau psikologi, tetapi apakah benar ini disebabkan ketidaksetaraan gender?

Ecie meyakini bahwa pertanyaan tentang status single yang disandangnya lebih banyak diperoleh dari orang-orang Indonesia, meski dia berada di Jerman. Batasan yang tegas memang diperlukan untuk merespon pertanyaan orang-orang sekitar atau membuat komentar negatif yang tidak tepat.

Sementara Vidya memahami bahwa Single Shaming mudah terjadi di masyarakat, yang masih menempatkan perempuan pada posisi marjinal. Vidya tidak mengalami single shaming saat berada di Irlandia. Perempuan yang tidak berpasangan masih dianggap sebagai bentuk kegagalan.

Single shaming juga masih dipandang kuat dalam perspektif budaya, sehingga hal itu tidak terjadi pada masyarakat di Jerman atau di Irlandia. Menurut Ecie, orang asing yang tak kenal di Indonesia bisa saja dengan mudahnya bertanya tentang status pernikahan padanya.

Vidya pun berpesan kepada sahabat Ruanita yang menyimak Diskusi IG Live untuk percaya bahwa tidak ada yang salah menjadi single. Berikan pula batasan yang menandakan bahwa kita harus bisa menghargai diri sendiri dan orang lain.

Simak selengkapnya diskusi IG Live berikut ini:

(IG LIVE) Literasi Ibu Untuk Persiapan Kelahiran Bayi Prematur

Menutup akhir tahun 2024, Ruanita Indonesia menggelar diskusi ig live yang diselengggarakan tiap bulan dengan beragam tema yang menarik. Nah, program diskusi ig live ruanita juga meningkatkan promosi tema parenting yang mungkin belum banyak dibahas, mengingat tema ini masih dipandang personal. Hal ini termasuk tentang bagaimana pengalaman ibu melahirkan prematur dalam tema yang dibahas berikut ini.

Diskusi IG LIVE episode Desember 2024 mengundang sahabat Ruanita yang tinggal di Jerman dan di Indonesia untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan seputar kelahiran bayi prematur yang mereka hadapi. Bagaimana mereka bertukar cerita dan informasi, sehingga memperkaya diskusi IG LIVE kali ini tentang pentingnya literasi kesehatan ibu dan anak, agar ibu dan anak sama-sama sehat.

Diawali dengan cerita Siwi yang melahirkan anak prematur di Jerman. Ia bercerita bagaimana pihak rumah sakit dan pemerintah Jerman begitu mendukung fasilitas pada saat ia melahirkan bayi prematur. Siwi merasakan bahwa pengalamannya ini tidak mudah dan begitu mengkhawatirkan baginya saat itu.

Bagi Siwi, kehadiran suami sangat berarti untuk mendukung pemulihan kondisinya setelah melahirkan bayi premature. Hal serupa juga dialami oleh Mosi yang menekankan pentingnya dukungan suami dan keluarga besar saat ibu baru saja melahirkan bayi premture.

Mosi merasa kagum dengan cerita Siwi tentang bagaimana kehadiran negara lewat fasilitas yang diterima Siwi setelah melahirkan. Siwi bahkan mendapatkan perhatian ekstra karena kelahiran bayi prematur, seperti asisten rumah tangga selama dua minggu hingga kondisinya pulih dan adanya tenaga ahli seperti dokter dan bidan yang membantu merawat bayinya yang masih prematur.

Bagi Siwi dan Mosi, kehadiran social support system seperti pasangan hidup, keluarga besar, hingga support group yang mengalami kelahiran prematur sangat membantu untuk meningkatkan pemahaman bagaimana menghadapi bayi yang lahir prematur, terutama persoalan psikologis yang tidak mudah dihadapi oleh para ibu yang memiliki bayi prematur.

Simak Diskusi IG Live selengkapnya berikut ini dan jangan lupa SUBSCRIBE kanal YouTube kami:

(IG LIVE) Memotret Ruang Aman Perempuan

Dalam rangka peringatan Hari Internasional Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan sebagai bagian dari aksi program AISIYU (=AspIrasikan Suara & Inspirasi nYatamU) yang dilaksanakan sejak tahun 2021, Ruanita – Rumah Aman Kita – Indonesia mengadakan kampanye digital berupa foto bertema ruang aman perempuan.

Program AISIYU 2024 ini mendapatkan dukungan dari KJRI Hamburg dan KOMNAS PEREMPUAN yang berlangsung pada September lalu dan diikuti oleh sekitar dua puluh orang peserta yang mendapatkan keterampilan bagaimana teori dan teknik memotret dengan menggunakan ponsel. Terkumpul 13 foto yang telah terpilih oleh pemateri Workshop Fotografi Pakai Ponsel, yakni Yogi Ardhi, yang bekerja sebagai jurnalis foto.

Terkait dengan acara tersebut, Ruanita Indonesia melaksanakan diskusi IG Live episode November 2024 ini untuk membahas lebih dalam program AISIYU. Hadir sebagai informan adalah Mariska Ajeng Harini, selaku Koordinator AISIYU 2024 dan Bahrul Fuad, Komisioner Komnas Perempuan. Acara diskusi dipandu oleh Zukrufi Sysdawita, yang tinggal di Jerman.

Ajeng sendiri mengakui bahwa usulan mengadakan fotografi disebabkan kebutuhan untuk melakukan kampanye digital yang dirasa masih kurang dalam memotret ruang aman bagi perempuan selama ini. Sebagai orang yang suka dengan dunia fotografi, Ajeng ingin memotivasi sahabat Ruanita lainnya untuk menjadikan foto sebagai bentuk advokasi terhadap tema perempuan.

Ajeng merasa bahwa program AISIYU menjadi ruang ekpresi dan aspirasi untuk menyuarakan tema ruang aman perempuan agar lebih mudah diterima publik. Ruang aman yang dimaksud adalah ruang yang terbuka bagi perempuan, terlepas dari perbedaan latar belakang suku, agama, pendidikan, strata sosial, bahkan kelompok minoritas seperti perempuan dengan disabilitas atau perempuan dengan HIV & AIDS.

Komnas Perempuan yang diwakilkan oleh Cak Fu mengapresiasi upaya-upaya Ruanita Indonesia untuk melakukan berbagai aksi kampanye edukasi dan advokasi lewat program AISIYU, terutama untuk orang-orang Indonesia di luar Indonesia.

Cak Fu menambahkan Ruanita Indonesia telah mengemas tema AISIYU yang menarik sejak berdiri di tahun 2021. Hal ini tentunya lebih memudahkan publik untuk ikut serta bersuara, lewat berbagai produk kampanye global. Komnas Perempuan sendiri sudah memiliki berbagai program setiap tahunnya dalam 16 Hari Tanpa Kekerasan, agar menjadi gerakan bersama untuk siapa saja, terutama untuk menciptakan ruang aman bagi perempuan.

Simak selengkapnya diskusi IG LIVE episode November 2024 berikut ini:

(IG LIVE) Bagaimana Temukan Passion dalam Berkarier?

Tentunya, ada banyak pertimbangan mengapa orang harus meninggalkan karier demi mengejar passion. Ada yang berhasil dalam menekuni satu karier dalam hidup mereka, tetapi ada pula yang telah berganti karier dan belum mendapatkan passion yang dicarinya.

Lewat program diskusi IG Live tiap bulan, Ruanita Indonesia lewat akun instagram ruanita.indonesia yang dipandu oleh Zukhrufi Sysdawita atau yang disapa Rufi. Dia adalah relawan Ruanita Indonesia yang tinggal di Jerman, memandu obrolan seputar karier dan passion selama 30 menit. Rufi juga merupakan lulusan Master Governance and Public Policy dari University of Passau, Jerman.

Diskusi ini berhasil mengundang Tyka Karunia, perempuan Indonesia yang tinggal di Spanyol. Dia membagikan pengalamannya dalam membangun startup di bidang pariwisata yang bertujuan untuk menjembatani pengusaha UMKM Indonesia dengan pasar internasional. Ia juga menekankan pentingnya mengejar passion yang sejalan dengan minat pribadi dan tanggung jawab yang dimiliki.

Karena masalah teknis, diskusi IG Live tidak berhasil mengundang Putri Trapsiloningrum, seorang konsultan e-commerce di Jerman, pada kesempatan ini. Topik mengenai tantangan berkarier di Eropa turut dibahas. Tyka mengakui adanya perbedaan budaya, lingkungan, serta hambatan psikologis yang mempengaruhi proses adaptasi dan keberhasilan di lingkungan kerja.

Pada akhirnya, diskusi IG Live ini sepakat bahwa komitmen dan dukungan lingkungan, baik dari keluarga maupun rekan kerja, menjadi faktor penting dalam keberhasilan karier. Diskusi ini berlangsung selama 40 menit, di mana para peserta diajak untuk berinteraksi melalui kolom komentar dan bertanya seputar cara menemukan passion dalam karir mereka sendiri.

Acara diskusi ini juga menjadi ajang promosi untuk program mentoring karier perempuan di Eropa Barat yang akan diselenggaraka Ruanita dalam waktu dekat. Program ini akan mendorong peserta dapat belajar tentang pembuatan CV dan surat lamaran, khususnya untuk berkarier di Eropa.

Simak selengkapnya diskusi IG Live episode Eropa ini di kanal YouTube kami: