
Sebagai warga Indonesia yang sudah delapan tahun hidup di Jerman, jalan hidup yang saya tempuh mampu mengajarkan saya banyak hal secara lebih mendalam. Saya rasa, keragaman manusia dan fenomena sosial yang terjadi di Jerman, merupakan faktor yang mendorongnya.
Meninggalkan zona nyaman di Indonesia untuk menghadapi lingkungan sosial yang lebih luas dan lebih kompleks memang tidak mudah dan rasanya campur aduk. Namun sejalan dengan prosesnya, ternyata pengalaman ini mampu memperluas perspektif saya sebagai manusia. “Ketidaknyamanan“ ini justru saya pandang sebagai “hak istimewa“ yang sangat saya syukuri.
Saya mengawali perjalanan di Jerman pada tahun 2015. Waktu itu, saya mengikuti program AuPair (hidup dengan keluarga lokal Jerman untuk belajar bahasa dan budaya setempat). Lantas saya mengikuti suara hati saya untuk berkuliah Master di Friedrich-Schiller-Universität Jena; jurusan Bahasa Jerman sebagai bahasa asing. Saya menggemari bahasa sudah sejak kecil. Kegemaran itulah yang mengantarkan saya hingga sejauh ini. Saat ini, saya bekerja sebagai Guru Bahasa Jerman bagi Penutur Asing di kota Leipzig.
Ketika diundang oleh RUANITA untuk mengurai cerita bertema “Charity”, secara tidak langsung saya juga terundang untuk menilik ulang perjalanan hidup saya, karena pengalaman rantau saya sering kali bersinggungan dengan tema tersebut. Setelah menerima tawaran menulis, saya tidak langsung bergegas mengumpulkan ide. Namun, saya justru memberi jarak dengan tema tersebut karena saya ingin melihat ulang dan mendokumentasikan cerita saya dengan lebih jernih.
“Charity” lazimnya diartikan sebagai “amal” dalam Bahasa Indonesia. Namun menurut saya, kata tersebut masih terlalu sempit untuk menggambarkan makna mulia dari “memberi tanpa pamrih“. Karena berdasarkan pengamatan saya, kebanyakan orang memandang aksi beramal sebagai sebuah transaksi; dengan harapan agar di masa depan ia mendapatkan “imbalan“ hal baik.
Karena saya ingin melihat tema ini secara lebih mendalam, lantas saya melakukan riset dan memilih satu kata dalam Bahasa Sansekerta yakni “Sanātana Dharma“ sebagai dasar tulisan saya. Mengingat bahasa ini juga merupakan salah satu unsur pembentuk Bahasa Indonesia.
“Sanātana Dharma“ berarti hukum yang mendasari eksistensi kehidupan dan menyangkut sifat alami kemanusiaan. Jika dibandingkan dengan hukum lainnya, misalnya hukum sosial; Sanātana Dharma tidak bersifat generasional yang harus diadaptasi bagi setiap generasi. Selain itu, Sanātana Dharma juga tidak bersifat transaksional seperti dalam proses jual beli.
Saya pribadi memaknai ber-dharma sebagai kelaziman, karena kesadaran berbagi kepada sesama sudah saya dapatkan dari rumah. Saya tumbuh dalam sebuah keluarga yang gemar memberi, meskipun kadang keadaan kami sendiri belum stabil. Semangat memberi itulah yang lantas saya bawa sepanjang perjalanan saya hingga sekarang.
Kilas balik pada Desember 2016, ketika masih menjadi mahasiswi di Jerman; saya dipercaya untuk menjadi ketua acara “Malam Budaya Indonesia dan Penggalangan Dana untuk Perpustakaan Keliling di Aceh dan Sumba Timur“. Kala itu, saya yang baru saja pindah ke kota yang baru dan mulai belajar beradaptasi dengan budaya perkuliahan di Jerman, langsung memberanikan diri untuk memimpin acara tersebut. Meskipun saya tahu bahwa aktivitas saya akan semakin padat, karena saya berkuliah sambil bekerja, tetapi saya tidak menghentikan langkah. Saya menikmati prosesnya.
Inspirasi datang ketika saya melihat postingan Instagram teman saya, yang kala itu menjadi pendidik sukarelawan di daerah terluar Indonesia. Ia mengadakan kegiatan membaca bersama anak-anak di Aceh dan Sumba Timur. Menurut laporannya, masih banyak anak-anak Indonesia usia Sekolah Dasar di kedua daerah tersebut yang belum lancar membaca, karena secara geografis mereka tidak mendapatkan akses ke perpustakaan atau toko buku.
Semesta bergerak terlalu indah. Dalam waktu yang bersamaan, saya sedang mencari alamat untuk menyalurkan dana yang akan kami kumpulkan melalui penjualan tiket acara. Setelah memilah berbagai organisasi, saya menjatuhkan pilihan pada Program Perpustakaan Keliling tersebut. Ketika teman saya mengirimkan beberapa video keadaan di lapangan, hati saya langsung tergerak. Suara hati saya mengatakan, bahwa karya kami di Jerman harus mampu memberikan dampak positif bagi sesama; khususnya bagi anak-anak di daerah-daerah terluar Indonesia.
Perjalanan ber-dharma saya tidak berhenti di situ saja. Saat ini, saya sedang aktif ber-dharma sosial di sebuah komunitas pendidikan “Gemar Teghing Academy“ (GTA), yang dirintis oleh seorang teman baik saya dari Bengkulu yang kini tinggal di Berlin. Dalam komunitas ini, saya dipercaya untuk memimpin bagian Divisi Mitra Kerja sama dan Kolaborasi. Program-program kami saat ini meliputi:
- Kolaborasi dengan Bengkulu Express TV setiap hari Minggu dalam acara “Meraih Mimpi“, di mana diaspora Indonesia berbagi pengalaman kepada generasi muda tentang tema berkuliah atau bekerja di manca negara.
- Pengenalan Bahasa Jerman dasar secara gratis.
- Webinar seputar tema: Mental Health dan Intercultural Communication Competence.
- Kerja sama dengan organisasi seperti PPI Dunia, PPI TV, PPI Berlin/Brandenburg; bahkan dengan lembaga pendidikan seperti Universitas Negeri Semarang dan Universiti Malaysia Sabah.
Hal yang mendasari saya untuk ikut ambil bagian dalam komunitas ini adalah spirit yang melatarbelakanginya. Ketika pandemi dan lockdown berlangsung, pendiri GTA merefleksi diri dan melihat ulang masa sekolahnya. Seperti saya pribadi, ia tidak memiliki kesempatan untuk belajar banyak hal di luar sekolah karena keterbatasan ekonomi keluarga. Lalu ia tergerak untuk menyediakan platform belajar daring bagi generasi muda di Indonesia.
Selain itu, saya juga ber-dharma kepada “Ibu Bumi“ melalui “Save Soil Movement“: Sebuah gerakan global yang menyuarakan pentingnya revitalisasi kesuburan tanah, karena tanah merupakan dasar dan sumber kehidupan kita di planet bumi. Dalam komunitas ini, saya bekerja secara mobile dan internasional bagi Save Soil Jerman dan Indonesia. Karena saya bekerja sama dengan berbagai manusia dari berbagai macam latar belakang, maka kecakapan komunikasi antar budaya saya juga bisa terlatih.
Pengalaman ber-dharma menjadi sukarelawan mengajarkan saya banyak hal. Saya mampu mengubah pola pikir dan kepribadian saya. Saya menyadari, bahwa ketika saya bersedia untuk memberikan diri seutuhnya tanpa embel-embel “imbalan“ hal baik, di sana saya merasakan kebahagiaan yang utuh. Konsep bahagia yang saya miliki bukan perihal materi, melainkan batiniah. Saya merasa menjadi manusia seutuhnya, ketika saya tidak hanya memikirkan diri saya sendiri; namun ketika saya juga turut berorientasi kepada kesejahteraan sesama manusia bahkan non manusia (misalnya alam).
Sayangnya kesediaan ber-dharma sebagai sukarelawan belum banyak diminati. Bahkan parahnya lagi, gerakan aktivis kadang masih dipandang skeptis oleh beberapa kalangan. Padahal menurut saya, generasi muda saat ini memiliki banyak potensi dan kemungkinan untuk memulai gerakan-gerakan konstruktif yang bisa membawa perbaikan bagi masa depan.
Saya berharap agar pemerintah Indonesia dan dunia bersedia mendengarkan aspirasi, memberikan lebih banyak dukungan, serta penghargaan kepada organisasi atau komunitas yang digerakkan secara sukarela. Para sukarelawan hebat ini memiliki semangat dan kepedulian terhadap penyelesaian berbagai masalah, serta rela menginvestasikan waktu dan energi mereka untuk mencari solusi. Oleh karena itu, sudah sepantasnya jika mereka diberi dukungan secara menyeluruh, agar gerakan yang mereka suarakan bisa membawa perubahan atau perbaikan bagi masa depan.
Kembali ke konsep “Sanātana Dharma“ di atas. Sanātana berarti timeless (tak terbatas waktu), dan Dharma berarti law (hukum). Menurut pandangan budaya Hindu dan Buddha, hukum ini yang mendasari kehidupan dan merupakan sifat alami kemanusiaan. Ini bukan tentang transaksi (memberi menerima), tetapi tentang memahami sifat alami eksistensi kita sebagai manusia.
Sudah saatnya, kita belajar mengasah sensibilitas diri terhadap hal-hal yang perlu dilakukan bagi kebaikan bersama. Karena sensibilitas itu mampu menuntun kita kepada “rasa ingin memberi“ (sense of giving), yang dengannya kita bisa membuka berbagai kemungkinan dan menemukan fungsi keberadaan kita sebagai manusia. Dalam hal ini, kita memang harus mau dan mampu mengupas ego dan pergi ke arah “tanpa pamrih“ (selflessness). Apabila kita mampu melihat hal-hal yang melebihi kebutuhan diri kita sendiri, lantas melakukan sesuatu yang diperlukan untuk hal tersebut secara ikhlas, maka kita menjalankan dharma secara utuh.
Jika ditanya, mengapa saya memilih jalan ber-dharma; maka jawaban saya akan sangat sederhana. “Dharma-based way of living can bring me back to my natural existence as human being; since Sanātana Dharma is the way, how the nature of existence functions”
Penulis: Debora Sisca. Dia adalah Volunteer, Intercultural Speaker, and German as Foreign Language Teacher in Leipzig, Germany.
Eksplorasi konten lain dari Ruanita - Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.