(CERITA SAHABAT) Cultural Switching dan Strategi Bertahan Tinggal di Jerman

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan namaku Nurjannah. Aku lahir dan besar di sebuah kota kecil di Nganjuk, Jawa Timur. Setelah lulus SMA, aku merantau ke Jakarta untuk kuliah sekaligus bekerja. Seperti banyak perempuan muda Indonesia lainnya, aku punya mimpi sederhana: belajar, bekerja, dan membangun kehidupan yang lebih baik. Tak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa suatu hari aku akan tinggal jauh di negeri orang, tepatnya di Jerman, selama bertahun-tahun.

Perjalananku ke Jerman dimulai sekitar tujuh tahun lalu. Proses pindah ke luar negeri tidaklah mudah. Ada banyak urusan administrasi, dokumen, dan adaptasi mental yang harus dipersiapkan. Saat itu aku masih bekerja, jadi untuk menghemat waktu aku menggunakan jasa agen untuk membantu mengurus semua persyaratan administratif. Meski begitu, tetap saja prosesnya panjang dan melelahkan. Namun, aku selalu percaya bahwa perjalanan besar memang dimulai dengan langkah-langkah kecil yang penuh perjuangan.

Aku masih ingat jelas, ketika pesawat mendarat di bandara Jerman untuk pertama kalinya, pikiranku penuh tanda tanya. “Apakah aku bisa betah? Bisakah aku menyesuaikan diri dengan orang-orang di sini? Bagaimana kalau aku kesepian?”

Hari-hari pertama memang tidak mudah. Aku harus menghadapi perbedaan budaya yang cukup mencolok. Salah satunya soal menjaga waktu. Di Indonesia, terutama di kampung halamanku, sering ada budaya fleksibilitas waktu. Janji bertemu pukul 10 pagi bisa mundur hingga setengah jam atau bahkan satu jam, dan itu dianggap wajar. Namun di Jerman, semuanya sangat berbeda.

Jika ingin bertemu dengan seseorang, harus ada janji temu yang jelas. Tidak bisa tiba-tiba datang tanpa pemberitahuan. Ketepatan waktu adalah bentuk penghargaan yang besar terhadap orang lain. Awalnya aku merasa kikuk, bahkan bingung. Namun lama-kelamaan, aku mulai memahami bahwa disiplin waktu bukan sekadar aturan kaku, melainkan bagian dari cara hidup yang menghargai orang lain.

Sahabat Ruanita, mungkin ada yang bertanya-tanya, apa sih sebenarnya cultural switching itu?

Secara sederhana, cultural switching adalah kemampuan seseorang untuk berpindah, menyesuaikan, atau beralih antara satu budaya ke budaya lain, tergantung pada konteks situasi yang dihadapi. Dalam dunia psikologi dan studi lintas budaya, istilah ini sering digunakan untuk menggambarkan bagaimana individu yang hidup di lingkungan multikultural harus beradaptasi dengan aturan, nilai, dan kebiasaan yang berbeda-beda.

Bagi banyak orang Indonesia yang merantau ke luar negeri, cultural switching adalah keterampilan hidup yang harus dikuasai. Mengapa? Karena budaya Indonesia dan budaya negara tujuan seringkali sangat berbeda. Indonesia dikenal dengan nilai kolektivitas, ramah, penuh toleransi, dan cenderung mengutamakan harmoni dalam hubungan sosial. Sementara itu, budaya Jerman lebih individualis, langsung (to the point), dan realistis.

Follow us

Sebagai contoh, di Indonesia, jika ingin mengkritik seseorang, kita biasanya melakukannya dengan halus agar tidak menyinggung perasaan. Sementara di Jerman, orang terbiasa memberikan kritik langsung tanpa basa-basi. Bagi mereka, kejujuran adalah bentuk penghormatan.

Pada awalnya, aku kaget. Rasanya kok “tajam sekali” ketika orang Jerman menyampaikan pendapat. Tapi setelah dipikir ulang, aku mulai menyadari bahwa itu justru memudahkan. Aku jadi tahu apa yang salah dan apa yang harus diperbaiki, tanpa perlu menebak-nebak maksud di balik ucapan mereka.

Salah satu hal yang paling menantang bagiku adalah bagaimana menerapkan nilai-nilai budaya Indonesia dalam kehidupan sehari-hari di Jerman.

Aku seorang ibu, dan anakku lahir serta tumbuh di sini. Aku ingin anakku mengenal budaya Jerman karena itu adalah lingkungan tempat dia tumbuh besar. Namun di sisi lain, aku juga ingin ia tetap membawa nilai-nilai baik dari Indonesia.

Contoh kecilnya bisa terlihat dari kebiasaan di toilet. Di rumah, aku membiasakan anakku membersihkan diri dengan air, sesuatu yang sangat umum di Indonesia tetapi tidak lazim di Jerman. Ketika di luar rumah, ia bisa beradaptasi dengan kebiasaan setempat, tapi aku selalu mengajarkan bahwa di rumah kita tetap menjaga tradisi dari Indonesia.

Inilah bentuk nyata cultural switching. Anak-anakku belajar bagaimana menyesuaikan diri dengan budaya yang berbeda tanpa kehilangan identitas aslinya.

Yang paling aku syukuri dari pengalaman hidup di Jerman adalah aku jadi lebih percaya diri untuk menjadi diriku sendiri. Di sini, aku merasakan kebebasan untuk mengekspresikan diri tanpa takut dihakimi. Orang-orang cenderung tidak peduli dengan pilihan pribadi kita selama tidak merugikan orang lain.

Hal ini berbeda dengan sebagian budaya di Indonesia, di mana terkadang masih ada tekanan sosial atau pandangan masyarakat yang mengikat. Misalnya, pilihan gaya berpakaian, keputusan menikah atau tidak menikah, atau pilihan karier perempuan sering kali jadi bahan perbincangan. Di Jerman, aku belajar bahwa setiap orang berhak menentukan jalannya sendiri.

Namun, bukan berarti aku harus melepaskan semua nilai dari Indonesia. Justru aku berusaha membawa hal-hal baik dari tanah air, seperti: keramahan, sopan santun, dan kelembutan dalam berbicara. Ini adalah ciri khas orang Indonesia yang membuatku merasa bangga.

Tidak bisa dipungkiri, hidup di luar negeri penuh tantangan. Ada kalanya aku menghadapi situasi sulit: kesepian, rindu keluarga, atau kebingungan menghadapi masalah sehari-hari.

Di saat-saat seperti itu, aku lebih sering mengadopsi gaya Jerman yang realistis dan langsung pada inti masalah. Kalau ada masalah, aku berusaha mencari solusinya secepat mungkin, bukan hanya mengeluh. Budaya Jerman mengajarkanku untuk lebih rasional, lebih lugas, dan lebih fokus pada solusi.

Ada banyak keuntungan tinggal di Jerman. Salah satunya, aku bisa bepergian ke berbagai negara Eropa tanpa perlu visa khusus. Bagi seorang perempuan yang suka menjelajah, ini adalah kesempatan yang luar biasa.

Namun tentu ada juga tantangan. Bahasa menjadi salah satu yang paling besar. Meski aku sudah belajar bahasa Jerman, tetap saja butuh waktu lama untuk benar-benar fasih. Bahasa bukan hanya soal kosakata, tapi juga soal cara berpikir. Budaya Jerman yang to the point membuat cara mereka berkomunikasi berbeda sekali dengan orang Indonesia.

Karena itu, aku selalu menyarankan kepada perempuan Indonesia lain yang ingin pindah ke Jerman: siapkan bahasa dan mental yang kuat. Jangan takut dengan kritik, karena di sini orang tidak ragu untuk menyampaikan kritik secara langsung. Anggaplah itu sebagai masukan yang membangun.

Dari perjalanan hidupku, ada beberapa hal yang ingin kubagikan kepada Sahabat Ruanita atau perempuan Indonesia lainnya yang punya mimpi tinggal di luar negeri:

1. Tetap jadi diri sendiri. Jangan merasa harus mengubah segalanya hanya untuk diterima.

2. Bawa nilai baik dari Indonesia. Ramah kepada orang lain, lembut dalam berbicara, dan sopan santun adalah kekuatan kita.

3. Belajar bahasa sebaik mungkin. Bahasa adalah kunci untuk membuka pintu interaksi dan peluang baru.

4. Siapkan mental yang kuat. Tinggal jauh dari keluarga tidak selalu mudah, jadi penting untuk punya ketahanan mental.

5. Terbuka terhadap perbedaan. Ingat bahwa cultural switching bukan berarti kehilangan identitas, melainkan kemampuan untuk bergerak luwes di antara dua budaya.

Pada akhirnya, bagiku cultural switching bukanlah soal memilih budaya mana yang lebih baik, melainkan soal membangun jembatan di antara dua dunia.

Aku bersyukur bisa belajar disiplin, kejujuran, dan ketegasan dari budaya Jerman. Di saat yang sama, aku tetap membawa kehangatan, keramahan, dan rasa kebersamaan dari Indonesia. Kedua hal ini berpadu dalam keseharian, membentuk versi terbaik dari diriku yang baru.

Setiap kali aku pulang ke Indonesia, aku membawa cerita tentang kehidupan di Jerman. Sebaliknya, setiap hari di Jerman aku juga membawa sepotong Indonesia dalam hatiku. Inilah yang membuat perjalananku sebagai perempuan Indonesia di negeri orang menjadi penuh warna.

Sahabat Ruanita, perjalanan hidupku mungkin hanya satu dari sekian banyak kisah perempuan Indonesia yang tinggal di luar negeri. Namun aku percaya, setiap cerita punya makna. Bagiku, cultural switching bukan sekadar strategi bertahan hidup, melainkan sebuah proses belajar yang membuatku lebih dewasa, lebih kuat, dan lebih menghargai perbedaan.

Semoga cerita ini bisa menjadi inspirasi bagi siapa saja yang tengah bersiap untuk merantau, atau sekadar ingin memahami bagaimana rasanya hidup di antara dua budaya.

Penulis: Nur Jannah, tinggal di Jerman yang dapat dikontak via akun instagram nurjanah_magnus

(KNOWLEDGE SHARING) Lelah Tapi Nggak Bisa Berhenti: Saatnya Kita Belajar Mendengar Diri Sendiri

Hannover, 26 April – Di balik layar-layar laptop yang menyala pada Minggu pagi, 26 April 2026, puluhan peserta dari berbagai latar belakang berkumpul dalam satu ruang virtual. Bukan sekadar untuk belajar, tetapi untuk berhenti sejenak. Ini adalah sesuatu yang selama ini terasa sulit dilakukan. Melalui program knowledge sharing yang diinisiasi oleh Ruanita Indonesia, sesi bertajuk “Lelah Tapi Nggak Bisa Berhenti” menjadi ruang refleksi yang hangat sekaligus membuka mata.

Selama dua jam di Zoom, peserta diajak menyelami satu pertanyaan sederhana namun sering diabaikan: kenapa kita tetap berjalan, bahkan saat sudah sangat lelah? Sinyal bahwa ada kebutuhan yang belum terpenuhi. Sinyal bahwa ada batas yang mungkin sudah lama terlewati.

Bagi banyak orang, lelah bukan sekadar kondisi fisik. Kelelahan hadir sebagai akumulasi dari peran yang terus bertambah, sebagai pekerja, anak, pasangan, teman, sekaligus individu dengan mimpi pribadi. Namun alih-alih berhenti, banyak justru terus melangkah.

Dalam sesi ini, Bayu Prihandito mengajak peserta melihat lelah dari sudut pandang berbeda. “Lelah bukan kelemahan,” ujarnya, “melainkan sinyal.”

Diskusi kemudian mengalir ke pola-pola internal yang sering kali tidak terlihat, tetapi sangat memengaruhi perilaku sehari-hari. Mulai dari kebiasaan people-pleasing, rasa tidak enak untuk berkata “tidak”, hingga dorongan untuk selalu memberi lebih, bahkan saat diri sendiri kosong.

Beberapa peserta berbagi pengalaman. Ada yang merasa bersalah saat beristirahat, ada pula yang baru menyadari bahwa kelelahan yang dialami bukan semata karena pekerjaan, tetapi karena sulit menetapkan batasan.

Di titik ini, sesi berubah menjadi ruang yang sangat personal. Bukan hanya mendengar, tetapi juga merasa dipahami. Diskusi kemudian mengalir ke pola-pola internal yang sering kali tidak terlihat, tetapi sangat memengaruhi perilaku sehari-hari. Mulai dari kebiasaan people-pleasing, rasa tidak enak untuk berkata “tidak”, hingga dorongan untuk selalu memberi lebih, bahkan saat diri sendiri kosong.

Beberapa peserta berbagi pengalaman. Ada yang merasa bersalah saat beristirahat, ada pula yang baru menyadari bahwa kelelahan yang dialami bukan semata karena pekerjaan, tetapi karena sulit menetapkan batasan. Di titik ini, sesi berubah menjadi ruang yang sangat personal. Bukan hanya mendengar, tetapi juga merasa dipahami.

Peserta juga diperkenalkan pada cara-cara praktis untuk mulai menetapkan batasan. Mulai dari komunikasi asertif hingga mengenali tanda-tanda awal kelelahan emosional sebelum menjadi burnout. Program ini tidak hanya menjadi ruang transfer pengetahuan, tetapi juga ruang aman untuk berbagi. Tawa kecil, anggukan setuju, hingga cerita yang nyaris serupa menciptakan rasa kebersamaan yang kuat.

Di akhir sesi, banyak peserta tidak hanya membawa pulang pemahaman baru, tetapi juga kesadaran bahwa mereka tidak sendiri.

Sebagai catatan penting, tujuan dari program Knowledge Sharing adalah berbagi pengetahuan, pengalaman, dan praktik baik dari para praktisi kesehatan mental Indonesia di berbagai negara, dengan menghadirkan ruang aman untuk mempromosikan kesehatan mental yang inklusif dan selaras dengan nilai-nilai Indonesia.

Program ini merupakan bagian dari inisiatif Ruanita Indonesia yang didirikan dan dikelola oleh Anna Knöbl di Jerman, sebagai ruang kolektif digital berbasis manajemen nilai, resource sharing, dan intervensi komunitas dalam konteks lintas negara. Inisiatif ini berfungsi sebagai social support system yang memanfaatkan teknologi digital modern sebagai medium interaksi dan pembelajaran.

(CERITA SAHABAT) Dari Jerman ke Vietnam: Menjadi New Mom Abroad

Halo, sahabat Ruanita! Aku, Cindy, perempuan Indonesia yang kini menjalani babak baru kehidupan sebagai ibu di Vietnam. Kisahku bermula lebih dari tiga belas tahun lalu, ketika tahun 2012 aku berangkat ke Jerman untuk menempuh kuliah S1 jurusan Arsitektur di Hannover. Aku melanjutkan S2 di Cologne dan aku bertemu dengan suamiku, seorang pria Jerman. Setelah lulus, aku bekerja selama tiga tahun di sebuah perusahaan pemerintahan di Jerman.

Tahun 2023, hidupku memasuki fase baru. Aku menikah dengan suamiku dan tak lama kemudian, kami mendapat kabar bahwa pekerjaannya membawa kami ke Vietnam, tepatnya ke kota pantai kecil bernama Quy Nhon.

Perusahaan Jerman tempatnya bekerja menugaskannya mengurus pabrik di sana. Aku mendukung penuh keputusan ini, karena aku pun menyukai pengalaman mengenal budaya dan negara baru. Jadilah kami memulai petualangan baru di Vietnam.

Hidup di Vietnam sangat berbeda dengan di Jerman. Di Jerman, aku terbiasa menikmati udara segar, keindahan empat musim, dan ketenangan kota-kota kecil. Aku dan suamiku sering mendadak pergi hiking atau menjelajah kota tetangga.

Di Quy Nhon, meski ada pantai yang indah, aku merindukan suasana hijau, dingin, dan adem-ayem ala Jerman. Vietnam terasa lebih riuh, semrawut, dan sulit dijangkau secara bahasa.

Komunikasi menjadi tantangan karena kami tidak bisa berbahasa Vietnam, membuat interaksi sosial terasa terbatas. Natal dan Paskah yang biasa dirayakan dengan hangat di Jerman, di sini terasa tidak ada artinya.

Kehamilan pertamaku menjadi tantangan besar, terlebih di negeri orang. Tiga bulan pertama adalah masa yang berat. Aku mengalami mual hebat, muntah-muntah, bahkan bau makanan atau air pun membuatku pusing. Aku berhenti dari pekerjaan online-ku karena kesehatan tidak memungkinkan. Yang paling terasa adalah rasa sepi, karena tidak ada keluarga atau teman dekat di sini. Mungkin juga aku terkendala oleh bahasa di sini.

Untungnya, ketika usia kandungan memasuki empat bulan, aku sempat pulang ke Indonesia selama sebulan. Itu menjadi momen yang sangat menyenangkan sekaligus mengisi energi untukku. Aku juga merasa beruntung memiliki seorang teman Vietnam yang selalu menemani setiap kali kontrol kehamilan. Ia menjadi penerjemah, karena dokter di kota kecil seperti Quy Nhon jarang bisa berbahasa Inggris. Meski fasilitas medis di sini cukup modern, kebersihannya tidak sebaik di Jerman. Namun, biaya layanan medis di Vietnam sangat terjangkau, bahkan tanpa asuransi pun tidak terasa memberatkan.

Di Quy Nhon, tidak ada satu pun orang Indonesia. Teman-teman kami sebagian besar adalah ekspatriat atau orang Vietnam yang bisa berbahasa Inggris. Dukungan mereka terasa berarti, terutama saat mendampingi kami menghadapi proses kehamilan dan persalinan. Mereka membantu menjadi penerjemah, memberikan informasi rumah sakit, bahkan sekadar berbagi pengalaman.

Pengalaman melahirkan di Vietnam juga sangat berbeda. Rumah sakit tidak menyediakan perlengkapan dasar seperti popok, selimut, sabun, hingga alat mandi bayi. Semua harus dibawa sendiri. Layanan seperti membersihkan ibu pascaoperasi, memandikan bayi, atau mengganti sprei harus dipesan secara terpisah. Bahkan makanan untuk pasien pun tidak disediakan, karena keluarga biasanya yang merawat pasien. Di sisi lain, biaya rumah sakit jadi jauh lebih murah, karena yang dibayar hanya paket operasi, dokter, dan kamar rawat inap.

Selama tinggal di Jerman, aku terbiasa dengan budaya mandiri. Semua urusan rumah dan anak dikerjakan sendiri tanpa bantuan nanny. Yang istimewa, pemerintah memberikan fasilitas Vater/Mutterzeit, atau yang disebut sebagai cuti melahirkan dan mengasuh anak dengan gaji tetap, sehingga orang tua punya waktu berkualitas bersama bayi. Fasilitas umum pun mendukung, seperti taman hijau, playground, serta kursus ibu dan anak.

Di Indonesia atau Vietnam, budaya kekeluargaan lebih kental. Anak biasanya diasuh bersama kakek-nenek, atau dititipkan di daycare dengan biaya relatif terjangkau. Namun, fasilitas hijau untuk anak bermain tidak banyak. Di Indonesia, anak lebih sering diajak ke mal atau dikenalkan dengan gadget sejak dini.

Di Vietnam, aku sempat kaget dengan kebiasaan mereka bicara dengan nada keras, bahkan kepada bayi. Kadang bayi diberikan mainan yang sangat berisik sebagai hiburan. Selain itu, anak-anak di sini umumnya masuk daycare sejak usia satu tahun karena kedua orang tua bekerja. Daycare bahkan buka hingga Sabtu, sehingga anak menghabiskan sedikit waktu dengan orang tuanya.

Follow us

Saat aku memesan layanan memandikan bayi, ada tradisi unik. Bayi ditempelkan daun-daunan yang dibakar, katanya untuk kesehatan dan kehangatan tubuh. Aku dan suami memilih pendekatan campuran. Tidak sepenuhnya gaya Eropa, Indonesia, atau Vietnam, tapi yang penting kami punya waktu berkualitas dengan anak.

Suamiku, meskipun sibuk bekerja, ikut terlibat penuh mengurus bayi. Kami berbagi tugas secara setara. Aku ingin anak kami tumbuh dekat dengan alam dan tidak terlalu sibuk dengan gadget.

Masa setelah melahirkan adalah fase paling berat. Setelah keluargaku yang sempat datang dua minggu kembali ke Indonesia, aku merasakan kesepian yang luar biasa. Suamiku sering harus mengambil cuti untuk membantu mengurus bayi yang selalu menangis. Tidur hanya tiga jam per malam, tangan pegal karena harus menggendong terus, payudara bengkak karena aktivitas menyusui semuanya terasa melelahkan.

Aku juga sempat merasa kehilangan diriku sendiri. Hidup seolah hanya berputar pada bayi. Mau mandi atau makan pun harus cepat-cepat sebelum bayi menangis, apalagi kami sendirian di Vietnam tanpa keluarga dan terkendala bahasa. Aku sangat khawatir, jika kami berdua sakit, siapa yang akan menolong untuk mengurus bayi kami.

Kadang aku bertanya-tanya, apakah aku melakukan yang benar? Apakah aku cukup baik sebagai ibu?

Suamiku menjadi penopang utama, baik fisik maupun mental. Ia rela bangun tengah malam untuk mengganti popok agar aku bisa sedikit beristirahat setelah menyusui. Saat akhir pekan, ia sepenuhnya mengurus bayi supaya aku bisa punya me-time. Aku bersyukur karena meski waktu berdua nyaris tidak ada, dia tetap sabar dan memahami perubahan besar yang kami alami.

Kehamilan dan kelahiran membuatku banyak merenung. Kenapa aku ingin punya anak? Jawabannya sederhana, yakni karena aku ingin mencintai manusia kecil ini tanpa pamrih. Seorang bayi tidak pernah meminta dilahirkan, maka sudah seharusnya aku memberikan seratus persen cintaku tanpa mengharapkan balasan.

Sekarang aku menjadi sangat menghargai peran seorang ibu, apalagi mereka yang punya banyak anak dan tetap harus mengurus keperluan rumah tangga. Walaupun terkadang capek dan berat di awal, pengalaman dan peran menjadi seorang ibu untukku sangat berharga. Aku kini sangat bahagia menjalaninya. Rasanya bahagia sekali melihat senyum bayi hanya karena hal-hal kecil. Menjadi orang tua juga berarti punya kesempatan untuk mengenalkan dunia pada anak.

Di Vietnam, aku tidak menemukan komunitas Indonesia secara offline, tapi aku sangat terbantu dengan komunitas daring, terutama grup ibu menyusui di Indonesia. Aku sangat terbantu dengan teman-teman di Jerman dan Indonesia.  Aku juga sering berbagi cerita dengan teman-teman di Jerman, kakak, ibuku, bahkan teman Vietnam yang berpengalaman hamil di kota ini.

Sharing sangat penting agar tidak merasa sendirian. Aku juga selalu jujur dengan suamiku, apalagi soal kelelahan atau rasa sedih. Aku berharap bisa menjadi orang tua yang baik dan sabar, meskipun lelah. Aku ingin cinta dengan suami tetap tumbuh seiring kehadiran anak kami.

Di negara asing ini, kami belajar menjadi tim yang kuat, menghadapi tantangan bersama, dan tetap bisa menikmati petualangan. Hari-hariku kini sepenuhnya untuk bayi. Keluar rumah hanya saat malam atau akhir pekan. Weekend bersama keluarga adalah momen berharga. Kami pergi ke pantai atau kafe sekadar mencari suasana baru. Awalnya rutinitas ini terasa berat, tapi melihat bayi kami tumbuh dan belajar hal baru setiap minggu, aku merasa semua lelah terbayar.

Aku memilih berbicara dengan bayiku dalam bahasa Indonesia. Aku juga ingin mengenalkan budaya Indonesia sejak dini. Suamiku sudah cukup mengenal budaya ini, karena sering berinteraksi dengan keluargaku. Aku berharap bisa sering pulang ke Indonesia dan Jerman agar anakku lebih dekat dengan akar budayanya.

Kisah ini adalah catatan perjalanan seorang ibu baru di negeri asing. Tidak mudah, tapi ada kebahagiaan di setiap peluh dan air mata. Seperti kata orang, menjadi ibu adalah pekerjaan paling berat sekaligus paling membahagiakan di dunia.

Penulis: Cindy, relawan Ruanita dan sekarang sedang menetap di Vietnam. Cindy dapat dikontak melalui akun instagram cinguch atau kanal YouTube-nya Cindy Guchi.

(CERITA SAHABAT) Father Complex: Relasi, Refleksi, dan Rindu

Jika ada satu kata untuk menggambarkan hubungan saya dengan Papa, maka kata itu adalah hangat. Sejak kecil, Papa hadir dengan cara yang dekat, penuh dukungan, dan membuat saya merasa aman. Bukan hanya saya, kakak dan adik saya pun akan mengatakan hal yang sama. Kami bertiga sungguh beruntung, karena punya seorang ayah yang hadir sepenuh hati di masa tumbuh kami.

Sulit untuk menunjuk satu momen yang paling berkesan, karena hampir di setiap fase hidup, Papa selalu ada. Beliau bukan tipe yang sempurna tanpa cela dan memang tidak ada manusia yang demikian. Namun, dalam diri Papa, saya menemukan figur ayah yang cukup. Cukup dalam arti memberi dukungan emosional, cukup dalam arti hadir di saat dibutuhkan, cukup dalam arti menjadi tempat pulang.

Dengan latar belakang psikologi, saya memahami istilah father complex atau kadang disebut juga daddy issues sebagai kondisi yang berakar dari hubungan sulit dengan figur ayah. Entah karena ayah terlalu dominan, dingin secara emosional, terlalu sering mengkritik, absen secara fisik, atau bahkan menyakiti. Meski tidak masuk dalam kategori resmi seperti DSM V atau ICD-10, dinamika ini nyata terlihat dalam kehidupan banyak orang.

Dampaknya bisa beragam, seperti: kesulitan mempercayai orang lain, sulit menjalin kedekatan emosional, atau kebutuhan besar akan validasi dari figur dominan. Ada juga yang kemudian membawa pola itu ke dalam relasi romantis atau relasi kerja dengan figur otoritas.

Dalam diri saya sendiri, tidak ada gejala yang terlalu menonjol. Namun, saya bisa mengenali adanya kebutuhan validasi tertentu dari figur otoritas. Sisi positifnya, hal ini membuat saya berusaha keras di sekolah dan kuliah. Pada akhirnya, nilai saya bagus, bahkan beberapa kali juara kelas. Tapi di sisi lain, diskusi dan perdebatan dengan Papa melatih saya untuk tidak menerima begitu saja otoritas apa pun. Bagi saya, sesuatu harus masuk akal dulu sebelum saya bisa menerimanya. Itu mungkin salah satu warisan paling berharga dari relasi kami.

Papa dan Mama berasal dari latar budaya berbeda, tetapi sama-sama tumbuh dalam nilai-nilai yang memberi tempat lebih bagi anak laki-laki ketimbang perempuan. Namun, dalam praktiknya mereka memilih untuk memperlakukan kami bertiga dengan setara. Pendidikan yang terbaik sesuai kemampuan dan minat diberikan, tanpa membedakan jenis kelamin. Itu keputusan yang sederhana, tetapi dampaknya besar dalam hidup saya.

Saat tumbuh, saya melihat figur ayah dalam budaya populer sering digambarkan sebagai kepala keluarga yang berwibawa, mencari nafkah, menegakkan aturan, membaca koran di beranda rumah, sementara urusan dapur dan anak diserahkan pada ibu. Gambarannya klasik, yaitu berpakaian safari, rokok, dan kopi buatan istri.

Kini, gambaran itu bergeser. Ayah-ayah masa kini lebih terlibat dalam pengasuhan anak, lebih hangat, lebih dekat secara emosional. Namun, di banyak keluarga, keputusan akhir tetap dianggap ranah ayah. Pergeseran peran ini menghadirkan dinamika baru, kadang juga konflik, tergantung konteks sosial dan budaya masing-masing.

Ada satu titik balik dalam relasi saya dengan orang tua, baik Papa maupun Mama, di mana saya mulai menyadari bahwa mereka manusia biasa. Waktu kecil, orang tua tampak seperti pahlawan super. Mereka seperti tak pernah lelah, selalu tahu jawaban, mampu mengatasi segalanya. Tapi seiring saya tumbuh, saya melihat mereka juga bisa salah, lelah, bahkan sakit.

Kesadaran itu menjadi tanda bahwa saya sedang beranjak dewasa. Saya belajar melihat mereka bukan hanya sebagai orang tua, tapi juga sebagai manusia dengan keterbatasan. Dari situ, hubungan kami berubah. Dari relasi yang timpang menjadi relasi yang lebih setara, terutama ketika saya mulai dewasa.

Sekarang, ketika Papa sudah tiada, keinginan terbesar saya terhadap beliau hanya satu, yakni rindu. Saya merindukan kehadiran fisiknya, diskusi-diskusi panjang, perdebatan seru, atau sekadar menanyakan pendapat beliau tentang banyak hal.

Tahun-tahun terakhir hidupnya, hubungan kami semakin matang. Papa makin menghargai kemandirian saya dalam mengambil keputusan, dan saya merasa lebih dihargai sebagai individu dewasa. Meski demikian, di mata saya, saya akan selalu tetap menjadi putrinya.

Bagi saya, berbicara tentang father complex pada akhirnya adalah berbicara tentang dinamika relasi kuasa. Saat kita masih kecil, relasi dengan orang tua memang tidak seimbang. Mereka yang memutuskan, kita mengikuti. Tapi seiring anak bertumbuh, idealnya relasi itu bergeser menjadi lebih setara.

Tidak semua keluarga mengalami pergeseran ini dengan mulus. Kadang otoritas tetap ditekankan, kadang muncul konflik. Tetapi dalam pengalaman saya, pergeseran itu terjadi dengan wajar. Dan saya bersyukur bisa merasakannya bersama Papa.

Jika ada sahabat Ruanita yang membaca tulisan ini dan sedang mengalami konflik batin dengan ayahnya, saya ingin menyampaikan satu hal, setiap keluarga unik. Tidak ada pola tunggal yang bisa berlaku untuk semua orang.

Kalau Anda ingin memahami lebih jauh bagaimana hubungan dengan ayah mempengaruhi hidup saat ini, saya menyarankan melakukannya bersama tenaga profesional seperti psikoterapis atau konselor. Ada hal-hal yang bisa kita selesaikan sendiri, tetapi ada juga yang butuh pendampingan aman dari orang yang terlatih.

Bagi saya, menulis tentang father complex bukanlah tentang mencari kekurangan Papa, melainkan tentang menyadari betapa besar pengaruh relasi itu dalam membentuk siapa saya hari ini. Saya beruntung memiliki figur ayah yang hangat, mendukung, dan penuh kasih. Namun saya juga belajar melihatnya sebagai manusia dengan keterbatasan.

Pada akhirnya, apa yang tersisa kini adalah rindu. Dan mungkin, di dalam rindu itu, saya bisa merasakan kembali kehangatan yang pernah begitu nyata hadir dalam hidup saya.

Penulis: Nelden, tinggal di Jerman dan dapat dikontak via akun instagram @neldendj.

(WARGA MENULIS) Episode Madrid

Dalam rangka merayakan Hari Perempuan Internasional sepanjang Maret 2026, Ruanita Indonesia menghadirkan sebuah kampanye digital yang merayakan kekuatan suara, imajinasi, dan pengalaman perempuan Indonesia sebagai warga global. Kampanye ini mengangkat karya-karya fiksi yang ditulis oleh perempuan Indonesia dari berbagai penjuru dunia, sebuah ruang aman di mana jarak geografis tidak lagi membatasi keberanian untuk bercerita, merawat ingatan, dan membayangkan masa depan.

Melalui Workshop Online Warga Menulis Fiksi, para peserta menarasikan kehidupan mereka di negeri-negeri yang jauh dari tanah air, tentang rindu yang berlapis bahasa, tentang identitas yang terus bertransformasi, tentang keteguhan menghadapi perbedaan, serta tentang solidaritas yang lahir dari keberanian untuk bersuara. Kutipan-kutipan karya fiksi yang lahir dari proses ini akan melalui kurasi dan penyuntingan untuk kemudian diterbitkan sebagai sebuah buku. Ini diharapkan sebuah produk pengetahuan yang merekam jejak batin, pemikiran, dan pengalaman perempuan Indonesia di panggung dunia.

Proyek ini dikelola oleh dua perempuan Indonesia yang juga hidup sebagai warga global: Asmayani Kusrini yang berbasis di Belgia dan Anna Knöbl yang berkarya di Jerman. Bersama, mereka membuka ruang lintas batas bagi perempuan Indonesia untuk menulis bukan hanya sebagai ekspresi kreatif, tetapi sebagai tindakan keberanian, perlawanan, dan perayaan diri.

Kampanye ini bukan sekadar tentang karya fiksi, melainkan tentang menghadirkan perempuan Indonesia sebagai subjek yang berpikir, merasakan, dan menciptakan makna di berbagai belahan dunia. Setiap cerita adalah bukti bahwa pengalaman perempuan adalah sumber pengetahuan yang hidup. Setiap kata adalah langkah menuju dunia yang lebih setara.

Maret 2026, mari membaca, mendengar, dan merayakan suara perempuan Indonesia, di mana pun mereka berada.

Kuingat  serunya perkenalan kami. Pertama aku salah mengucapkan namanya. Huruf “j” dibaca seperti huruh “kh”, dan kedua, awalnya aku pikir José Maria adalah nama perempuan. Hari itu aku jadi mengerti bahwa kalau perempuan maka akan bernama Maria José, bukan José Maria.  Terkait tema nama, kuingat juga Jóse tertawa mendengar namaku yang mirip dengan kata bahasa Spanyol: Ella, pronomina untuk orang ketiga, perempuan.

Belum sempat kuteruskan ingatan itu, dari belakang kurasakan ada sentuhan tangan di bahuku, dan sapaan pemuda  yang kutunggu: „Hello… Ella!.

Ditulis oleh Dyah Narang-Huth di Jerman.

(WARGA MENULIS) Pisau

Dalam rangka merayakan Hari Perempuan Internasional sepanjang Maret 2026, Ruanita Indonesia menghadirkan sebuah kampanye digital yang merayakan kekuatan suara, imajinasi, dan pengalaman perempuan Indonesia sebagai warga global. Kampanye ini mengangkat karya-karya fiksi yang ditulis oleh perempuan Indonesia dari berbagai penjuru dunia, sebuah ruang aman di mana jarak geografis tidak lagi membatasi keberanian untuk bercerita, merawat ingatan, dan membayangkan masa depan.

Melalui Workshop Online Warga Menulis Fiksi, para peserta menarasikan kehidupan mereka di negeri-negeri yang jauh dari tanah air, tentang rindu yang berlapis bahasa, tentang identitas yang terus bertransformasi, tentang keteguhan menghadapi perbedaan, serta tentang solidaritas yang lahir dari keberanian untuk bersuara. Kutipan-kutipan karya fiksi yang lahir dari proses ini akan melalui kurasi dan penyuntingan untuk kemudian diterbitkan sebagai sebuah buku. Ini diharapkan sebuah produk pengetahuan yang merekam jejak batin, pemikiran, dan pengalaman perempuan Indonesia di panggung dunia.

Proyek ini dikelola oleh dua perempuan Indonesia yang juga hidup sebagai warga global: Asmayani Kusrini yang berbasis di Belgia dan Anna Knöbl yang berkarya di Jerman. Bersama, mereka membuka ruang lintas batas bagi perempuan Indonesia untuk menulis bukan hanya sebagai ekspresi kreatif, tetapi sebagai tindakan keberanian, perlawanan, dan perayaan diri.

Kampanye ini bukan sekadar tentang karya fiksi, melainkan tentang menghadirkan perempuan Indonesia sebagai subjek yang berpikir, merasakan, dan menciptakan makna di berbagai belahan dunia. Setiap cerita adalah bukti bahwa pengalaman perempuan adalah sumber pengetahuan yang hidup. Setiap kata adalah langkah menuju dunia yang lebih setara.

Maret 2026, mari membaca, mendengar, dan merayakan suara perempuan Indonesia, di mana pun mereka berada.

Perempuan itu menyuruhku untuk menggenggam pisau itu di tanganku. Aku lakukan dengan mudah, walau berisik sekali kepalaku saat aku melakukan permintaannya itu. Dia meletakkan tangannya di atas meja dan berkata, “Sekarang saya mau Anda, masih sambil menggenggam pisau itu, menaruh pisau ini tepat di samping jari-jari saya”.

Ditulis oleh Mariska Ajeng Harini di Jerman.

(IG LIVE)Bijak di Balik Layar: Media Sosial, Kesehatan Mental, dan Realita Perempuan Masa Kini

Di era digital hari ini, batas antara dunia nyata dan dunia maya semakin tipis. Media sosial bukan lagi sekadar ruang berbagi foto atau cerita, tetapi telah menjadi tempat berekspresi, membangun jejaring, bahkan sumber penghidupan, terutama bagi perempuan. Namun, di balik segala peluangnya, media sosial juga menyimpan tekanan yang sering kali tak disadari.

Itulah yang dibahas dalam diskusi Instagram Live Ruanita Indonesia bersama Zukhrufi Syasdawita sebagai host, menghadirkan dua narasumber perempuan inspiratif: Nettie Kurnia, Content Creator yang tinggal di Serbia, dan Carissa Dimilow, psikolog klinis yang menetap di Jerman. Diskusi ini mengajak kita melihat media sosial secara lebih jujur, bukan hanya sisi terangnya, tetapi juga bayangan gelap di balik layar.

Bagi Carissa, media sosial adalah ruang untuk tetap terhubung. Tinggal jauh dari keluarga di Indonesia membuat media sosial menjadi jembatan emosional yang penting. Secara profesional, media sosial juga membuka akses edukasi, termasuk edukasi kesehatan mental, yang dulu terasa jauh dan kaku.

Namun, Carissa mengakui bahwa tekanan dari media sosial adalah sesuatu yang hampir pasti pernah dialami semua orang. Tuntutan untuk selalu terlihat bahagia, produktif, dan sukses sering kali membuat kita lupa bahwa apa yang kita lihat hanyalah potongan kecil dari kehidupan seseorang.

Hal senada disampaikan oleh Netti. Menurutnya, media sosial lebih sering menampilkan “yang baik-baik saja”. Influencer atau pengguna media sosial hanya menunjukkan beberapa menit dari 24 jam hidup mereka. Oleh karena itu, menyamakan media sosial dengan realita adalah kesalahan yang kerap berdampak pada kesehatan mental.

Sebagai kreator konten yang sering berbagi tentang kehidupan di Serbia, Netti sangat sadar akan batasan. Ia memilih untuk tidak mengekspos kehidupan pribadi, termasuk keluarganya. Setiap kali akan mengunggah sesuatu, ia selalu bertanya pada dirinya sendiri: Apakah ini perlu dibagikan? Apakah ini akan bermanfaat ke depannya?

Pengalaman masa lalu, ketika ia melihat kembali unggahan di era Friendster dan Facebook telah membuat Netti lebih reflektif. Apa yang dulu terasa wajar, kini justru tampak berlebihan dan tak relevan. Dari sana, ia belajar bahwa jejak digital bersifat panjang, dan kita perlu bertanggung jawab atas apa yang kita unggah hari ini.

Ia juga menekankan pentingnya kehati-hatian dalam menyebarkan informasi, terutama di era banjir hoaks dan kecanggihan AI. Salah berbagi informasi bukan hanya menyesatkan orang lain, tetapi juga menjadi beban moral bagi diri sendiri.

Menurut Carissa, dampak media sosial terhadap kesehatan mental sangat besar, terutama bagi generasi muda yang sedang berada dalam fase pencarian jati diri. Di satu sisi, media sosial memberi ruang berekspresi, akses informasi, dan peluang membangun jaringan. Namun di sisi lain, ia juga memicu overthinking, kecemasan sosial, hingga kebiasaan membandingkan diri dengan “highlight hidup” orang lain.

Anak muda yang terbiasa mencari validasi melalui likes dan komentar menjadi lebih rentan terhadap rasa tidak cukup. Bahkan, kebahagiaan bisa perlahan bergantung pada respons dunia digital, bukan pada realita yang dijalani.

Dari pengalaman dan sudut pandang psikologi, para narasumber merangkum beberapa prinsip penting:

Versi Nettie Kurnia:

  1. Sadari bahwa media sosial bukan kehidupan nyata.
  2. Batasi waktu penggunaan secara tegas.
  3. Lakukan digital detox lewat aktivitas dunia nyata yang bermakna.

Versi Carissa Dimilow:

  1. Saring konten dan akun yang diikuti.
  2. Buat batas digital, terutama sebelum tidur.
  3. Lakukan check-in dengan diri sendiri: setelah membuka media sosial, apakah perasaan kita lebih ringan atau justru lebih berat?

Media sosial sejatinya hanyalah alat, yang bisa menjadi sarana koneksi, edukasi, dan hiburan. Sebaliknya media sosial justru sumber tekanan dan kecemasan. Perbedaannya terletak pada kesadaran kita sebagai pengguna.

Diskusi IG LIVE setiap bulan yang diselenggarakan ruanita.indonesia menjadi pengingat penting bahwa menjaga kesehatan mental di dunia digital bukan hal yang mustahil, tetapi perlu diperjuangkan. Dengan batas yang jelas, kesadaran diri, dan keberanian untuk kembali terhubung dengan dunia nyata, kita bisa tetap hadir di media sosial tanpa kehilangan diri sendiri.

Simak selengkapnya rekaman diskusi IG LIVE di kanal YouTube kami berikut ini dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

(CERITA SAHABAT) Dari Lahir Premature, Krabbelstube di Jerman, ke Kesehatan Mental Ibu

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan saya adalah Putri (nama samaran) dan sudah tinggal di Jerman sekitar dua tahun. Saya pindah ke Jerman karena saya menikah dengan pasangan saya, yang merupakan pria berkewarganegaraan Jerman. Saat tiba di Jerman, usia kehamilan saya sudah lebih dari enam bulan, dan masa beradaptasi cukup berat, baik fisik maupun emosional.

Saya sangat ingin anak saya tumbuh dalam kondisi yang optimal. Tantangan utama di awal adalah menghadapi lingkungan baru tanpa keluarga dekat, serta harus melewati masa-masa sulit di rumah sakit dengan kondisi bahasa yang terbatas. 

Ketika saya sedang mengandung di usia 7 bulan, dokter mendeteksi ada masalah pada kehamilan, khususnya pada plasenta. Saya dirujuk untuk pemeriksaan darurat di rumah sakit. Keesokan harinya, saya langsung pergi ke rumah sakit dan ternyata memang harus dirawat inap selama lebih dari satu minggu.

Dokter berusaha mempertahankan kehamilan selama mungkin, tetapi pada akhirnya saya harus menjalani operasi mendadak, karena kondisi yang mengancam. Bayi saya lahir di usia kandungan 32 minggu dengan berat 1,5 kg. Setelah itu, anak saya dirawat di ruang intensif selama lebih dari seminggu, lalu dipindahkan ke ruang perawatan anak biasa. Saya sendiri masih harus tinggal di rumah sakit. 

Anak saya lahir prematur di usia kandungan 32 minggu, setelah saya mengalami komplikasi kehamilan. Anak saya harus dirawat intensif selama hampir tiga bulan di rumah sakit, sementara saya menjalani masa pemulihan dengan kendala bahasa dan tanpa dukungan keluarga dekat.

Tantangan terbesar sebagai ibu pertama kali adalah pada masa awal kelahiran. Kondisi anak saya sangat membutuhkan perawatan intensif, sementara saya memiliki keterbatasan dalam berbahasa Jerman sehingga membuat situasi terasa sangat berat. Selain itu, proses pemulihan saya sendiri pasca operasi dan harus menjalani hari-hari penuh kekhawatiran, tanpa dukungan keluarga di sekitar sangat menguji ketahanan mental saya.

Masa itu sangat sulit dan penuh tekanan, apalagi karena saya belum bisa berbahasa Jerman dan tidak semua perawat bisa berbicara bahasa Inggris. Saya akhirnya meminta izin pulang lebih cepat karena merasa sangat stres dan tidak bisa tidur nyenyak. Anak saya tetap tinggal di rumah sakit selama sekitar tiga bulan, dan saya harus bolak-balik setiap hari untuk menjenguknya. Anak saya juga sempat menjalani operasi kecil. Saya bersyukur bahwa semuanya berjalan baik setelah itu. 

Masa-masa itu sangat menantang, tetapi saya belajar menjadi lebih kuat dan sabar. Saat ini, saya berfokus merawat anak dan menikmati belajar hal-hal baru, terutama seputar dunia anak-anak. Dalam keseharian, saya senang belajar hal baru, seperti dunia anak-anak, dan menikmati membaca serta berkegiatan di rumah.

Sebagai ibu di lingkungan baru, saya harus menyesuaikan diri dengan budaya, bahasa, dan sistem pengasuhan yang berbeda. Saya harus beradaptasi dengan budaya dan bahasa yang sangat berbeda. Saya juga tinggal jauh dari keluarga saya di Indonesia, yang tentu membuat saya merasa cukup kesepian di awal. 

Namun seiring waktu, saya mulai mengenal lingkungan sekitar dan menemukan orang-orang yang baik dan suportif, terutama dalam konteks pengasuhan anak. Saya memutuskan mendaftarkan anak ke Krabbelstube karena anak saya perlu bersosialisasi dan belajar berinteraksi dengan anak-anak lain.

Selain itu, saya juga ingin menjauhkan anak saya dari lingkungan yang tidak kondusif di sekitar rumah, yang menurut saya kurang sehat secara emosional. Saya percaya anak-anak butuh lingkungan yang stabil dan suportif untuk berkembang secara optimal. Meski awalnya sulit, saya bersyukur mendapat dukungan dari para pendidik di Krabbelstube, tempat anak saya kini bersekolah. Nah, apa itu Krabbelstube? Saya ingin berbaginya lewat cerita sahabat berikut ini. 

Di Krabbelstube, anak saya dapat mengikuti berbagai kegiatan seperti olahraga, musik, bermain, dan eksplorasi. Kegiatan di Krabbelstube sangat beragam dan menyenangkan.

Setiap hari Senin ada kegiatan olahraga, hari Kamis ada sesi musik, dan di hari-hari lainnya ada kegiatan bermain bebas, seni, membaca buku, dan eksplorasi di luar ruangan. Semua dilakukan dengan pendekatan yang sesuai dengan perkembangan usia anak. 

Perkembangan anak saya pun sangat pesat. Perbedaan anak saya, sebelum dan sesudah masuk Krabbelstube tentunya tampak sekali. Sebelum masuk Krabbelstube, anak saya belum bisa duduk sendiri.

Sekitar enam bulan setelah masuk, ia berkembang sangat pesat, mulai dari bisa merangkak, memahami perintah sederhana, dan sampai mengekspresikan keinginannya. Ia juga menjadi lebih aktif, tertarik pada lingkungan, dan mulai menunjukkan rasa ingin tahu yang tinggi. 

Secara fisik, saya melihat anak saya menjadi lebih kuat dan aktif. Secara kognitif, ia mulai bisa memahami instruksi dan mengenali rutinitas. Secara emosional, ia lebih ekspresif dan tampak bahagia. Ia juga mulai bisa berkomunikasi dengan cara-cara sederhana dan menunjukkan minat besar terhadap hal-hal di sekitarnya. 

Biaya bulanan sekitar 289 Euro, dengan fasilitas yang lengkap dan lingkungan yang aman. Biaya tersebut mencakup 80 Euro untuk biaya makan, 200 euro untuk betreuungkosten (=biaya penitipan anak), dan 9 Euro untuk keanggotaan kegiatan olahraga. Para pengasuh di Krabbelstube sangat profesional, ramah, dan terbuka. Ketika saya memiliki pertanyaan atau kekhawatiran tentang anak saya, mereka selalu siap memberikan penjelasan yang membantu dan menenangkan.

Fasilitasnya cukup lengkap, termasuk ruang bermain dalam dan luar ruangan, perlengkapan belajar, alat musik, perlengkapan olahraga anak, serta makanan yang disiapkan dengan standar gizi yang baik. Lingkungannya sangat aman dan bersih. 

Saya terkesan dengan sistem pendidikan dan kesehatan anak di Jerman yang terkoordinasi dan mendukung intervensi dini. Sistem di Jerman cukup terstruktur. Anak-anak dipantau secara berkala melalui pemeriksaan kesehatan dan perkembangan, serta bisa mendapatkan bantuan dan dukungan dini dari berbagai lembaga pendidikan dan kesehatan, jika diperlukan. Orang tua juga dilibatkan secara aktif dalam proses ini.  

Saya belajar bahwa kolaborasi antara orang tua, pendidik, dan tenaga kesehatan sangat penting. Sistem di sini sangat terkoordinasi dan fokus pada pencegahan serta intervensi dini. Saya berharap di Indonesia bisa diterapkan sistem pendampingan yang serupa agar setiap anak memiliki kesempatan berkembang secara optimal sejak dini. 

Saya berharap anak saya dapat tumbuh dengan bahagia, percaya diri, dan mampu mengembangkan potensinya secara maksimal. Saya ingin ia mendapatkan pendidikan yang baik, memiliki teman yang mendukung, dan mampu beradaptasi dengan lingkungan sosialnya.

Saya juga berharap ia tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, dan bisa menghargai perbedaan di sekitarnya. Harapan saya, anak saya bisa tumbuh bahagia, percaya diri, dan mampu mengembangkan potensinya. Saya merasa perjalanan ini sangat menantang, terutama secara emosional.

Namun saya belajar untuk lebih kuat dan sabar. Dukungan pasangan dan orang-orang di sekitar sangat membantu. Saya juga mulai menyadari pentingnya menjaga kesehatan mental saya sebagai ibu agar dapat memberikan lingkungan yang positif untuk anak saya. 

Pesan saya: membesarkan anak tidak cukup hanya dengan memberikan makan dan pakaian. Orang tua harus menyediakan lingkungan yang suportif dan sehat secara emosional. Saya menyadari betapa pentingnya menjaga kondisi mental dan stabilitas lingkungan bagi tumbuh kembang anak. Jangan ragu untuk mencari bantuan dan buat keputusan yang terbaik demi kebaikan anak, meskipun itu berat. 

Satu lagi, sahabat Ruanita! Pesan saya untuk para ibu lainnya: jangan ragu mencari bantuan! Jagalah kesehatan mental kita sebagai orang tua, karena itu adalah fondasi bagi anak untuk tumbuh dalam lingkungan yang positif.

Penulis: Putri (nama samaran) dan tinggal di Jerman.

(CERITA SAHABAT) Menjadi Ibu Sambung Lintas Budaya, Ini yang Saya Pelajari

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan saya, Ida yang menetap di Jerman lebih dari 20 tahun lebih. Saya berasal dari Bandung, Indonesia. Sebelum hidup saya berubah total di Jerman, saya adalah seorang guru sosiologi dan guru BK di sebuah SMA Islam berasrama di Bandung.

Hidup saya kala itu penuh dinamika: mengajar, membina remaja dari berbagai pelosok tanah air, dan aktif di berbagai kegiatan sosial. Saya mencintai kehidupan saya yang teratur dan penuh makna masa itu. Tapi hidup kadang membawa kita ke jalan yang sama sekali tak terduga.

Pada tahun 1999, saya dikenalkan oleh beberapa mantan murid saya kepada Pak Muiz, seorang pria Indonesia yang sudah lama menetap di Hamburg, Jerman.

Ia seorang duda dengan lima anak dari pernikahan sebelumnya dengan perempuan Jerman. Perkenalan kami unik, banyak melalui percakapan telepon, tanpa proses pacaran seperti umumnya. Tidak ada romantisme berlebih, hanya ada niat baik dan keberanian untuk membangun kembali hidup yang baru.

Setelah mengenalnya lebih dalam, saya melihat ketulusan seorang ayah yang berjuang membesarkan kelima anaknya sendirian setelah perpisahan yang pahit.

Ada satu kalimat dari Pak Muiz yang membekas di hati saya: “Jangan hanya menikahi saya, tapi juga menikahi anak-anak saya.” Kalimat itu menjadi janji batin saya.

Kami menikah di Bandung. Beberapa bulan kemudian, saya datang ke Jerman sebagai turis, sebelum akhirnya menetap secara resmi di tahun 2000.

Pertemuan dengan Anak-anak Sambung

Saat pertama kali bertemu, anak-anak menyambut saya dengan cukup hangat. Tapi saya bisa merasakan ada dinding tak kasat mata di antara kami. Wajar, saya pikir. Mereka adalah anak-anak dari keluarga broken home, membawa luka dan ketidakpercayaan terhadap figur ibu baru.

Anak pertama, laki-laki, berusia 21 tahun, baru selesai wajib militer. Anak kedua dan ketiga, perempuan, masing-masing berusia 19 dan 18 tahun. Si kembar, dua anak perempuan, baru berusia 11 tahun. Saya membayangkan bahwa dengan usia-usia seperti itu, mereka sudah mandiri seperti remaja di Indonesia. Tapi realitasnya berbeda.

Mereka tumbuh dalam budaya Jerman yang sangat menjunjung kemandirian, namun pada saat yang sama menyimpan luka emosional yang dalam. Anak tertua menarik diri di kamar, kecewa karena gagal berkarier di militer. Anak kedua sibuk dengan Ausbildung, semacam pendidikan vokasi. Anak ketiga berhenti sekolah. Dan si kembar, meski lebih mudah didekati, tetap menunjukkan kehati-hatian.

Tantangan Awal

Bahasa menjadi tantangan pertama. Saya tidak bisa berbahasa Jerman. Bahasa Inggris saya pun tidak banyak berguna di lingkungan kami, karena tetangga-tetangga dan toko-toko di sekitar hanya berbahasa Jerman. Anak-anak sambung saya hanya sedikit mengerti bahasa Indonesia.

Tapi saya tidak menyerah. Saya memilih menggunakan “bahasa tubuh”. Saya memasak untuk mereka, membersihkan rumah, menyiapkan sarapan, mendampingi tugas sekolah si kembar. Dengan itulah saya membangun komunikasi: lewat tindakan, bukan kata-kata.

Suami saya sangat membantu dalam hal ini. Ia meminta anak-anak untuk memanggil saya “Ibu,” bukan hanya menyebut nama saya, meskipun dalam budaya Jerman biasanya anak-anak memanggil ibu sambung dengan nama saja.

Mengalah untuk Bertahan

Saya belajar mengalah. Sangat banyak. Saya tidak membawa konsep otoritas saya sebagai “ibu baru” ke dalam rumah ini. Saya masuk sebagai tamu. Saya memahami bahwa rumah ini pernah retak. Anak-anak ini sudah melalui cukup banyak luka. Maka saya memutuskan, untuk sementara, saya hanya perlu hadir: sebagai teman, sebagai sosok yang konsisten dan bisa dipercaya.

Meskipun demikian, ada masa-masa di mana saya hampir menyerah. Tahun pertama menjadi ujian berat. Dunia saya yang dulu penuh aktivitas sosial, kini berganti menjadi rutinitas membangunkan anak-anak, menyiapkan sarapan, membereskan rumah, memasak, dan mendengarkan kesunyian.

Banyak malam saya bertanya pada diri sendiri: “Mengapa saya meninggalkan dunia saya?” Ada saat-saat di mana rasa kesepian menggerogoti. Ada godaan untuk pulang saja ke Indonesia, kembali ke kehidupan yang nyaman.

Namun saya ingat janji saya. Saya menikahi Pak Muiz dan anak-anaknya. Saya bertahan.

Adaptasi Nilai Budaya

Saya membawa nilai-nilai Indonesia ke dalam rumah ini: keramahan, perhatian, ketekunan. Setiap masakan Indonesia yang saya siapkan menjadi jembatan kecil menuju hati mereka. Mereka mulai menyukai rendang, nasi goreng, sate, dan makanan-makanan sederhana yang saya buat.

Namun saya juga belajar dari budaya Jerman: menghargai privasi, tidak mencampuri urusan orang tanpa diundang, berbicara secukupnya. Anak-anak di sini lebih senang jika diberi ruang. Saya belajar untuk tidak “menggurui” atau “memaksa.” Saya menawarkan bantuan, bukan memaksakan kehadiran saya.

Pelan-pelan, hubungan kami membaik. Si kembar mulai lebih sering bercerita. Mereka menunjukkan hasil ujian sekolahnya, meminta tanda tangan saya, dan menceritakan teman-temannya. Anak-anak yang lebih besar tetap menjaga jarak, tapi saya tahu mereka mulai menghargai kehadiran saya.

Konflik Emosional

Tentu saja, konflik tetap ada. Terutama di awal, ada rasa dari anak-anak bahwa saya “merebut” ayah mereka. Mereka yang selama enam tahun hanya hidup berempat dengan ayahnya, tiba-tiba harus berbagi perhatian.

Saya mengatasi itu dengan mengalah. Saya membiarkan mereka menikmati waktu-waktu bersama ayah mereka. Saya tidak menuntut perhatian suami saya berlebihan. Saya menjaga agar saya tidak memperkeruh suasana. Saya memilih menjadi penyokong dari belakang.

Saya percaya, cinta dan kepercayaan tidak bisa dituntut. Ia harus tumbuh perlahan.

Merayakan Keberhasilan Kecil

Ada satu momen yang sangat membekas: ketika si kembar mendapatkan nilai bagus di sekolah dan mereka berlari pulang menunjukkan hasilnya pada saya. Saat itu, saya tahu bahwa sedikit demi sedikit, dinding itu mulai runtuh.

Ada pula momen di mana anak-anak yang lebih besar, meskipun jarang berbicara, mulai menunjukkan perhatian kecil: memanggil saya untuk makan bersama, atau sekadar mengucapkan terima kasih atas makanan yang saya buat.

Pelajaran Besar

Tinggal di Jerman, menjadi ibu sambung lintas budaya, mengajarkan saya banyak hal:

Pertama, cinta itu lebih dari sekadar kata-kata. Ia hadir dalam perbuatan sederhana: memasak, mendengarkan, menemani dalam kesunyian.

Kedua, membangun keluarga berarti membangun kesabaran dan ketulusan. Kita tidak bisa menuntut cinta. Kita hanya bisa menawarkan cinta.

Ketiga, dalam keluarga lintas budaya, kita tidak bisa membawa semua nilai dari tanah air kita tanpa adaptasi. Kita harus membuka diri, belajar menghormati cara hidup yang berbeda.

Dan keempat, untuk bisa bertahan, kita harus berdamai dengan mimpi-mimpi yang tidak selalu bisa diwujudkan.

Saya dulu bermimpi melanjutkan S2 di Jerman. Tapi saya memilih menunda, karena prioritas saya adalah membangun keluarga ini. Bukan hanya keluarga saya dan suami, tapi juga menyembuhkan luka-luka lama anak-anak sambung kami.

Penutup

Menurut saya, pernikahan adalah ibadah dan merupakan sebuah janji suci pada Tuhan. Saya bertahan dalam pernikahan sebagai ibu sambung, itu lebih disebabkan pada komitmen saya terhadap nilai dan moralitas pernikahan. Pernikahan adalah sebuah kontrak sosial, yang bukan hanya menyangkut suami dan istri, melainkan juga keluarga dari suami dan istri.

Kini, setelah lebih dari dua dekade, saya menulis cerita ini bukan untuk menunjukkan betapa sulitnya perjalanan ini, tapi untuk berbagi bahwa perjalanan ini sangat mungkin dilalui. Dengan cinta, kesabaran, dan kerendahan hati.

Untuk Sahabat Ruanita yang mungkin sedang melalui jalan yang serupa: percayalah, cinta sejati itu dibangun pelan-pelan. Bukan dalam hitungan hari, tapi dalam kesetiaan bertahun-tahun.

Penulis: Ida, tinggal di Hamburg dan dapat dikontak via akun instagram idasurjantiridwan.

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Perjuangan Panjang Seorang Ibu Indonesia di Jerman untuk Keadilan dan Hak Asuh

Sejak Ruanita berdiri pada 2021, implementasi salah satu program berfokus pada dukungan kepada perempuan Indonesia penyintas kekerasan dan bagaimana membangun support system agar mereka tidak sendirian.

Program yang disebut sebagai AISIYU (=AspIrasikan Suara dan Inspirasi nYatamU) melalui kampanye digital agar menjadi perhatian global dan esensial selama 16 Hari Anti Kekerasan terhadap perempuan (HAKTP).

Pada November 2025 dari Cerita Sahabat Spesial (CSS) oleh Ruanita Indonesia (www.ruanita.com) mengangkat kisah Dwi Hariyani, seorang perempuan Indonesia yang telah tinggal di Jerman selama hampir 14 tahun dan menjalani perjuangan hukum demi mendapatkan kembali hak asuh anaknya.

Awal yang Sulit dan Kenyataan yang Pahit

Dwi pindah ke Jerman setelah menikah dengan seorang pria Jerman yang ia temui dalam waktu singkat. Ketika tiba di Jerman dalam kondisi hamil besar, ia menikah dan kemudian melahirkan anak di bulan berikutnya.

Namun, kenyataan hidup tak seindah harapan. Hubungan rumah tangganya kandas, dan yang lebih tragis, anaknya diambil secara sepihak oleh pihak suami saat ia ditinggal keluar rumah.

Frauenhaus: Rumah Aman untuk Permulaan Baru

Beruntung, seorang tetangga orang Jerman memberinya informasi tentang Frauenhaus, yakni rumah perlindungan bagi perempuan yang mengalami kekerasan atau ketidakadilan dalam rumah tangga. Dari tempat itulah perjuangan panjang Dwi dimulai.

Di Frauenhaus, ia mulai dibantu untuk menyusun langkah hukum: mendapatkan pengacara, mencatat kronologi kejadian, dan mempersiapkan dokumen-dokumen yang diperlukan.

Namun, kondisi awal Dwi sangat memberatkan, seperti: tidak memiliki izin tinggal tetap, tidak memiliki pekerjaan, tidak memiliki tempat tinggal sendiri, dan tidak memiliki penghasilan tetap. Semua alasan ini, membuat hak asuh anak lebih berpihak kepada pihak suami.

Enam Tahun, Lebih dari 15 Kali Pengadilan

Apa yang dilalui Dwi bukan perkara mudah, apalagi tinggal jauh dari tanah air. Ia harus menjalani lebih dari 15 kali sidang pengadilan selama hampir tujuh tahun. Hakim yang sama mengikuti perjalanannya, bahkan sempat bertanya, “Kenapa Anda tidak menyerah saja?”

Namun, Dwi memilih untuk tetap bertahan. Sebagai seorang ibu, tidak ada perjuangan yang terlalu berat untuk memperjuangkan anaknya.

Ia percaya pada kekuatan doa dan kekuatan tindakan. “Saya percaya tidak ada yang tidak mungkin dalam Tuhan,” ujarnya dengan mantap.

Menata Hidup Kembali: Bahasa, Pekerjaan, dan Hak Asuh

Saran pengacaranya sederhana tapi berat: jika ingin mendapatkan hak asuh anak, Dwi harus bisa menguasai bahasa Jerman dengan cepat, memiliki pekerjaan tetap, memiliki tempat tinggal mandiri, dan menjalankan hak kunjungan (Umgangsrecht) secara konsisten.

Dwi melakukannya semua. Ia mengikuti kursus bahasa sambil bekerja full time dan mengambil pekerjaan tambahan part-time.

Ia membiayai semua kebutuhan hukum sendiri, dari membayar pengacara hingga kebutuhan sehari-hari. Ia bahkan menempuh perjalanan 400 km dua minggu sekali selama enam tahun untuk bisa bertemu anaknya.

Semua itu dilakukan Dwi seorang diri di Jerman.

Disiplin Diri dan Strategi Bertahan

Dwi mengakui bahwa tantangan terbesar adalah sistem di Jerman dan bagaimana resiliensi dirinya sendiri. Dwi berusaha mengontrol emosi, belajar bahasa asing dalam waktu singkat, dan menghadapi birokrasi yang kompleks, meski itu adalah tantangan yang berat.

Sistem di Jerman membantunya untuknya belajar cepat memahami semua informasi, dengan mandiri. Tidak ada yang benar-benar membimbing atau mendampingi secara intens. “Mereka bantu hanya seminimal itu saja,” ujar Dwi.

Namun Dwi tetap konsisten. Ia menjalankan semua arahan pengacara dan hakim, dengan tekad yang bulat: mendapatkan kembali anaknya dan berjuang untuk membangun kehidupan baru di Jerman.

Frauenhaus dan Pentingnya Edukasi untuk Perempuan Indonesia di Luar Negeri

Dwi menekankan bahwa Frauenhaus adalah langkah pertama yang krusial bagi perempuan di Jerman yang mengalami kekerasan atau tekanan dalam rumah tangga di luar negeri.

Di sana, mereka bisa mendapatkan informasi awal tentang apa yang harus dilakukan, ke mana melapor, dan siapa yang bisa dihubungi.

Namun, edukasi tentang hal ini belum banyak diketahui oleh perempuan Indonesia di luar negeri, terutama yang berada dalam hubungan rentan atau mengalami kekerasan dalam rumah tangga.

Ia berharap ada lembaga payung atau organisasi seperti Ruanita Indonesia yang berfokus melindungi dan mengedukasi perempuan Indonesia di luar negeri, khususnya dalam memahami hak-hak perempuan migran.

Keteguhan Hati, Nilai Diri, dan Pesan untuk Perempuan Indonesia

Dwi tidak ingin kisahnya menjadi sekadar tragedi. Ia menjadikan semua luka itu sebagai pembakar semangat untuk bangkit dan bertahan.

Bahkan ketika sudah bekerja dan mandiri, ia tetap harus membayar semua hutang bantuan pemerintah yang dulu sempat ia terima, saat tak berdaya.

Baginya, perempuan Indonesia harus belajar menakar risiko sebelum menikah dengan orang asing.

Tidak cukup hanya dengan mimpi tentang hidup “lebih enak” di luar negeri. Ada realitas, sistem hukum yang berbeda, dan tantangan yang harus disadari sejak awal.

“Tinggikan value dirimu dulu. Entah kamu tinggal di Indonesia atau di luar negeri, kamu harus punya nilai diri yang kuat,” tegasnya. Karena hanya dengan itu, seorang perempuan bisa bertahan dalam situasi tersulit sekali pun.

Cerita Sahabat Spesial: Menjadi Suara bagi yang Tak Bersuara

Program Cerita Sahabat Spesial adalah program bulanan tiap bulan berbentuk video melalui kanal YouTube Ruanita Indonesia.

Program ini hadir sebagai wadah berbagi cerita, pengalaman, dan inspirasi dari perempuan Indonesia yang tinggal di luar negeri.

Edisi November ini bertepatan dengan peringatan Kampanye Digital 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan. Ini diharapkan dapat menyuarakan pengalaman bagi mereka yang voiceless, seperti Dwi.

Dwi Hariyani bukan hanya sosok ibu. Ia adalah gambaran nyata keteguhan hati perempuan Indonesia yang mampu bertahan, membangun kembali hidupnya dari nol, dan tidak pernah kehilangan harapan, saat tinggal di mancanegara.

Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan tayangan video berdurasi sekitar 10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube Ruanita Rumah Aman Kita dan dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebagai ruang aman berbagi cerita inspiratif perempuan Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Program ini mengangkat pengalaman nyata, perjuangan, serta refleksi para perempuan dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mendorong promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Digagas oleh Anna Knöbl di Jerman, CSS menjadi wadah yang memperkuat suara perempuan, membangun solidaritas, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keadilan serta kesempatan yang setara bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan.

Simak selengkapnya program Cerita Sahabat Spesial (CSS) di kanal YouTube dan pastikan SUBSCRIBE ya:

(CERITA SAHABAT) Apa Arti Sebuah Nama: Mulai Nama Panjang ke Jati Diri

Halo, sahabat Ruanita! Namaku, Christophora Klementia Nevasta Nisyma. Sejak kecil, aku biasa dipanggil Nisyma. Aku sudah tinggal di Jerman sejak tahun 2017, untuk tujuan studi S1, setelah aku lulus SMA di Indonesia pada usia 19 tahun. Dikarenakan ijazah SMA Indonesia tidak diakui di Jerman, aku harus pergi ke Studienkolleg selama satu tahun untuk menyetarakan ijazahku dan berkuliah di Jerman. Kini, aku sudah menyelesaikan pendidikan S1 dan bekerja di sebuah perusahaan di Jerman sebagai Marketing Campaign Manager.

Saat SMA, aku mengambil jurusan Bahasa dan belajar bahasa Jerman, sehingga tak asing tentang kultur Jerman. Di keluarga, ibuku juga pernah mempelajari bahasa Jerman, bahkan hampir berkuliah ke Jerman dan memiliki orang tua angkat orang Jerman. Meski ibu tidak mengajarkan bahasa Jerman, aku merasa tidak asing sama sekali saat mulai belajar bahasa dan kultur Jerman dari nol. Sementara teman-temanku merasa kesulitan, aku merasa pelajaran bahasa Jerman ini mudah dan lama-kelamaan tumbuh rasa suka terhadap bahasa Jerman. Sejak remaja, aku sudah bermimpi kuliah di luar negeri. Namun kendala ekonomi, hal ini menjadi hanyalah sebuah mimpi.

Akhirnya, dengan kemampuan dan kedekatanku akan bahasa Jerman, aku melihat peluang untuk kuliah di Jerman yang lebih terjangkau. Aku pun memutuskan untuk kuliah di Jerman. Saat datang ke Jerman pertama kali, aku sama sekali tidak mengalami culture shock dan merasa sangat nyaman tinggal di Jerman. Budaya sosial, pola pikir dan gaya hidup Jerman terasa sangat cocok dengan karakter pribadiku. Aku merasa seperti menemukan tempat tinggal yang sesuai untukku kelak. Menurutku, negara Jerman memberikan kesempatan tak terbatas dan menyediakan kebutuhan dasar bagi rakyatnya dan warga negara asing yang ingin menetap/tinggal layak di Jerman. Hal ini mendorongku tinggal dan bekerja di Jerman sampai sekarang.

Bercerita tentang namaku, ada sejarahnya. Aku lahir di keluarga katolik yang taat dan almarhum eyang kakung adalah seorang guru bahasa Latin, Yunani, dan Ibrani untuk calon pastor katolik di Yogyakarta. Beliaulah yang memberikan namaku dan adikku. Di keluarga besar, semua cucu eyang kakungku memiliki nama yang juga panjang, tidak hanya aku. Nama Christophora berasal dari bahasa Yunani yang merupakan nama baptisku. Sebagai orang Katolik, orang tua memilih nama tersebut dengan makna teladan hidup dari Santo  Christophorus.

Karena aku perempuan, namaku menjadi Christophora dan memiliki makna membawa Kristus ke mana pun. Selanjutnya, nama Klementia berasal  dari bahasa Latin yang berarti penuh kasih. Selanjutnya, ada nama Nevasta yang merupakan ide ibuku. Kata Nevas konon ditarik dari kata “Nafas” karena aku dilahirkan pada Hari Raya Pentakosta. Hari Raya Pentakosta dirayakan Gereja Katolik untuk merayakan turunnya Roh Kudus. Terakhir, nama Nisyma dari bahasa Ibrani yang berarti didengarkan. Kata orangtuaku, doa mereka akhirnya terkabul, setelah mereka menantikan kehadiranku selama dua tahun.

Nama panjang kerap dianggap sesuatu yang membanggakan, yang menunjukkan garis keturunan atau filosofi tertentu. Namun dalam perjalananku, terutama saat tinggal di Jerman, aku menyadari bahwa nama panjangku ini bisa menjadi sumber kesulitan. Permasalahan penulisan nama lengkap selalu menjadi masalah dan rumit selama aku tinggal di Jerman 8 tahun terakhir, baik secara birokrasi pemerintahan, perkuliahan dan pengalaman kerja. Seperti yang  diketahui, di Indonesia tidak ada konsep hukum tentang kepemilikan nama keluarga seperti di negara-negara lainnya. Di Indonesia tidak ada pula ketentuan dan kepastian bahwa nama depan adalah otomatis nama panggilan. Dalam paspor pun hanya tertera satu baris “nama lengkap” atau “full name”. Sedangkan di sejumlah negara-negara di dunia, termasuk Jerman, kolom nama dibagi menjadi dua: nama depan dan nama keluarga/nama belakang.

Dalam setiap proses pendaftaran baik online maupun offline, kami diwajibkan untuk mengisi kolom nama keluarga pada formulir pendaftaraan apapun. Dalam kasusku, permasalahan sudah mulai terjadi sejak pembuatan paspor pertamaku untuk pergi ke Jerman pertama kali. Baris nama lengkap atau full name pada paspor Indonesia hanya cukup untuk menuliskan namaku  hingga Nevasta (Christophora Klementia Nevasta) sedangkan Nisyma adalah nama panggilanku seumur hidup dan identitas paling penting bagiku. Akhirnya, kantor imigrasi menuliskan nama lengkapku di halaman Endorsement (halaman 4) dan di halaman pertama, yang hanya tertera Christophora Klementia Nevasta Nisyma.

Pada saat pembuatan visa nasional ke Jerman pertama kali, Kedutaan Besar Jerman di Indonesia pun hanya mau mengikuti apa yang tertera di halaman pertama paspor. Tidak peduli apa nama lengkapku secara hukum di Indonesia. Hal ini juga bermasalah pada sistem birokrasi di Jerman yang sangat ketat, di mana itu mengharuskan adanya struktur nama depan (Vorname) dan nama belakang (Nachname). Di sana, nama seseorang harus terdiri dari dua komponen itu. Sementara aku tidak memiliki nama keluarga. Nama belakang dalam sistem Eropa biasanya diwariskan dan menjadi penanda keluarga besar. Dalam struktur penamaan di Indonesia, terutama di keluargaku, kami tidak menggunakan nama keluarga. Nama kami murni adalah rangkaian nama pemberian, tanpa sistem diwariskan.



Setiap kali aku mengurus sesuatu—apakah itu mendaftar asuransi, membuka rekening bank, atau mengurus dokumen universitas—aku selalu menghadapi masalah yang sama: namaku terlalu panjang. Sistem komputer tidak bisa menampungnya. Beberapa karakter hilang. Di beberapa dokumen, hanya dua atau tiga kata yang muncul. Di dokumen lain, urutannya teracak karena sistem Jerman mengasumsikan bahwa kata terakhir adalah nama keluarga, padahal itu bukan bagian dari nama keluargaku—karena aku tidak punya nama keluarga.

Masalah berikutnya adalah konsistensi data. Karena sistem tidak bisa menampung nama panjangku, muncul perbedaan antara satu dokumen dengan dokumen lain. Di asuransi tertulis sebagian nama. Di paspor tertulis lengkap. Di database universitas berbeda lagi. Ketika mengurus perpanjangan visa atau mengurus legalitas, aku selalu harus menjelaskan bahwa ini semua adalah satu nama yang sama, meski tertulis berbeda. Rasanya sangat melelahkan.

Dalam kehidupan sehari-hari dengan orang Jerman atau di setiap perusahaan di mana aku pernah bekerja, aku harus selalu menjelaskan hal yang sama dan berulang, bahwa nama panggilanku Nisyma. Sayangnya, Nisyma ada di paling belakang namaku. Nisyma bukan nama keluargaku. Orang Indonesia tidak punya nama keluarga. Setiap aku berganti tempat kerja atau memulai di perusahaan baru, aku harus menyampaikan hal itu. Kalau aku tidak bilang apapun, mereka akan otomatis memanggilku “Frau Nisyma” atau dalam bahasa Inggris “Ms. Nisyma” di mana umumnya dipandang sebagai nama keluarga. Mereka pun memanggilku secara informal Christophora, bukan Nisyma.

Uniknya, selama delapan tahun terakhir aku sudah pernah tinggal dan terdaftar di lima kota berbeda di Jerman. Aku memiliki tujuh kartu identitas sebagai ijin tinggal and satu visa nasional yang ditempelkan di paspor dengan nama yang tertera berbeda-beda. Terdapat tiga macam penulisan namaku yang berbeda beda – Christophora Klementia Nevasta (Nevasta di baris nama keluarga), Christophora Klementia Nevasta Nisyma (satu baris), Christophora Klementia Nevasta Nisyma (Nisyma di baris nama keluarga). Kartu mahasiswaku dan salah satu idenitias bankku bernamakan Christophora Nisyma. Kartu asuransi kesehatanku bertuliskan Christophora Klementia Nisyma.

Kalau dilihat-lihat, amit amit aku ada masalah hukum misalnya, maka Kepolisian Jerman tentu akan kebingungan dan bisa dikira identitas palsu. Namun, masalahnya itu semua tergantung kantor imigrasi dan instansinya. Ada kantor imigrasi yang begitu kaku hanya mau mengambil nama yang tertera di halaman depan, tetapi ada pula  kantor imigrasi yang bisa memahami dan memasukkan semua namaku. Pada instansi non pemerintahan terkadang masih bisa memahami.

Sampai Februari 2025, aku sempat mempertimbangkan dan merencanakan untuk mengurangi namaku secara resmi di Indonesia, karena permasalahan yang kerap dialami mengenai penulisan/pemanggilan nama yang aku ceritakan sebelumnya. Pada akhirnya, pada perpanjangan izin tinggal sekarang ini (Februari 2025), aku berhasil meyakinkan kantor imigrasi di kotaku sekarang untuk menulis semua namaku di kartu identitasku yang menjadi kartu izin tinggal di Jerman.

Itu pun bukan proses yang mudah. Petugas di kantor imigrasi yang melayaniku, bahkan tidak yakin. Namun, beliau sangat baik karena mau mengusahakan untuk menanyakan pada pimpinan kantor imigrasi kotaku dengan kumpulan foto ijin tinggal dan visaku selama di Jerman dalam 8 tahun terakhir yang kulampirkan. Akhirnya, mereka menyetujui permohonanku dan sekarang nama lengkap aku telah tertulis komplit di kartu identitasku yang baru.

Melihat betapa rumitnya proses penggantian nama di Indonesia secara resmi dan aku harus pulang ke Indonesia untuk mengurusnya dengan waktu proses yang tidak tentu. Saat ini, aku memutuskan untuk menunda penggantian nama secara resmi di Indonesia. Apabila nanti dipermasalahkan oleh kantor catatan sipil saat kami menikah, aku akan mengurusnya. Hal terpenting sekarang nama panggilanku, tertera sesuai seperti di kartu identitasku di Jerman.

Ya, saat ini aku bertunangan dengan pria keturunan Yunani-Rusia yang berkebangsaan Jerman-Yunani. Kami pun berencana akan menikah dan menetap di Jerman. Ketika menikah secara sipil di Jerman, sepengetahuanku,  kami akan ditanya oleh petugas kantor catatan sipil dan diminta mengisi formulir, nama keluarga siapa yang akan dipakai setelah menikah. Atau pun kalau pasangan memutuskan untuk tidak menyamakan nama keluarga, pasangan tersebut harus memutuskan nama keluarga yang akan dipakai untuk anak mereka nanti, apabila mereka memiliki anak di kemudian hari.

Selain itu, ADAC (Asosiasi mobil terbesar di Eropa yang menawarkan asuransi perjalanan dan layanan servis kendaraan) dan Kementerian Luar Negeri Jerman menyarankan, jika seorang anak bepergian ke luar negeri hanya dengan satu orang tua, untuk meminta formulir persetujuan informal dari orang tua lainnya dan khususnya, dalam kasus perbedaan nama, salinan akta kelahiran anak, dan halaman data identitas wali sah harus disediakan, sehingga memudahkan perjalanan serta menghindari kemungkinan kesalahpahaman. Karena aku tidak memiliki nama keluarga dan berdasarkan pertimbangan di atas, aku memutuskan akan mengambil nama keluarga suamiku saat kami menikah nanti.

Selama aku tinggal di Jerman delapan tahun terakhir, aku merasa aneh dan sedih karena kartu identitasku di Jerman tidak mencantumkan nama yang paling penting bagiku. Nama panggilan menurutku, nama di mana aku dikenal sejak aku lahir hingga saat ini, baik di Indonesia maupun di Jerman. Kartu identitas adalah hal penting yang mengatur kehidupan sehari hariku di Jerman. Aku memang tidak bisa memilih namaku sendiri dan diberikan nama ini dengan banyak doa dan harapan yang disematkan keluargaku. Jadi, memang mau tidak mau, aku harus menerima bahwa namaku terlalu panjang. Bagaimana pun aku ingin memperjuangkan untuk nama “Nisyma” selalu ada.

Aku berharap, pemerintah Indonesia bisa mempermudah proses penggantian nama tanpa perlu proses sidang di pengadilan di masa mendatang. Mungkin, itu cukup dengan pengajuan permohonan secara tertulis yang diajukan ke Disdukcapil dan wawancara dengan petugas Disdukcapil. Selain itu, aku berharap pemerintah Indonesia bisa mempertimbangkan untuk membuat baris nama di Indonesia menjadi dua baris, alih-alih hanya satu baris. Apalagi jika aku melihat nama anak-anak jaman sekarang (terlepas dari agamanya), banyak anak memiliki nama lengkap lebih dari dua atau tiga suku kata. Aku melihat juga Indonesia bukan lagi negara dengan pemilik nama hanya satu kata, seperti jaman dulu. Aku yakin ada banyak anak Indonesia, selain aku, yang lahir setelah tahun 2010 memiliki nama yang sangat panjang sepertiku dan tidak bisa menuliskan nama lengkap mereka di halaman depan paspor mereka.

Penulis: Nisyma dapat dikontak via akun Instagram ch.nissymaa dan tinggal di Jerman.

(SIARAN BERITA) Berbagi Pengetahuan Keperawatan dan Layanan Kesehatan Jiwa di Jerman

KALIMANTAN SELATAN, 18 Oktober – Dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia 2025, Ruanita Indonesia bekerja sama dengan Organisasi Kesmenesia serta Ikatan Perawat Kesehatan Jiwa Indonesia (IPKJI) di Kalimantan Selatan menyelenggarakan diskusi online lintas negara pada hari ini.

Kegiatan ini mengusung tema “Akses Layanan Kesehatan Mental Saat Genting dan Bencana”, sesuai dengan fokus peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia 2025 secara global tahun ini.

Acara dihadiri lebih dari seratus orang yang berlangsung secara daring melalui platform Zoom ini diikuti oleh anggota IPKJI, mahasiswa keperawatan jiwa, praktisi kesehatan jiwa, serta masyarakat umum yang tertarik dengan isu lintas budaya dalam kesehatan mental.

Diskusi dibuka oleh Maria Frani Ayu, perawat jiwa sekaligus koordinator penyelenggara, dilanjutkan dengan sambutan dari Achmad Syamsudin, Ketua IPKJI Kalimantan Selatan.

Sesi utama menghadirkan narasumber Aulia Farsi, perawat jiwa di Jerman sekaligus Co-founder Kesmenesia, yang berbagi pengalaman mengenai profesi perawat jiwa di Jerman, mulai dari sistem pendidikan, peran, hingga tantangan di lapangan.

Selain itu, Anna Knöbl, pendiri Ruanita Indonesia, juga membagikan praktik baik mengenai akses layanan kesehatan jiwa di Jerman khususnya pada situasi darurat dan bencana.

Follow us

Diskusi semakin interaktif dengan sesi tanya jawab berdurasi hampir satu jam, di mana peserta antusias menyampaikan pertanyaan seputar layanan kesehatan mental lintas negara. Acara kemudian ditutup dengan rangkuman serta pesan peneguhan dari Maria Frani Ayu.

Melalui kegiatan ini, para peserta mendapatkan wawasan mengenai sistem layanan darurat kesehatan mental di Jerman, seperti: unit gawat darurat psikiatri, hotline krisis 24 jam, serta tim intervensi cepat komunitas, yang dapat menjadi inspirasi dalam memperkuat peran perawat jiwa di Indonesia.

Penyelenggara berharap diskusi ini tidak hanya menjadi ajang berbagi pengetahuan, tetapi juga memperkuat kolaborasi antarprofesi kesehatan jiwa di lintas negara. 

(PODCAST IN ENGLISH) Merantau demi Mimpi: Cerita Perjuangan Usai Studi di Jerman

Apa yang terjadi setelah lulus kuliah di luar negeri? Apakah karier langsung melesat, atau justru penuh tantangan yang tak terduga?

Pertanyaan ini menjadi benang merah dari perbincangan hangat antara Aini, host Jibber-Jabber dari Norwegia, dan Atika, seorang perempuan Indonesia yang baru menyelesaikan studi magisternya di Jerman.

Di episode keempat ini, Atika membagikan kisahnya yang jujur, inspiratif, dan penuh pembelajaran, tentang berani keluar dari zona nyaman, meniti pendidikan di negeri orang, hingga realita keras dunia kerja internasional.

“Merantau” adalah kata kunci yang mengawali perjalanan Atika. Lahir dan besar di Yogyakarta, ia memutuskan melanjutkan pendidikan S2 di Jerman untuk mengejar pertumbuhan pribadi dan profesional.

“Aku ingin keluar dari zona nyaman,” katanya. Alasan lainnya? Jerman menawarkan banyak program magister tanpa biaya kuliah dan biaya hidup yang relatif terjangkau dibanding negara Eropa Barat lainnya.

Atika mengambil program Development Studies di Universitas Passau, sebuah bidang interdisipliner yang mencakup ekonomi, politik, sosiologi, hingga isu-isu keberlanjutan global.

Tujuannya jelas: membangun karier di bidang kerja sama pembangunan internasional (international development cooperation), sebuah bidang yang sejalan dengan pengalamannya bekerja sebelum S2.

Namun, seperti banyak dari kita, arah karier ini tidak langsung terbentuk sejak awal kuliah. Justru pengalaman kerja di lapanganlah yang memperkuat keinginannya melanjutkan pendidikan dan memperluas jejaring global.

Meski lulus dengan semangat dan rencana, Atika menghadapi realita pasar kerja di Jerman yang kompetitif dan tidak selalu ramah pada internasional.

“Lingkungan kerja di sini masih banyak yang mensyaratkan bahasa Jerman bisnis,” ujarnya. Belum lagi kompleksitas visa, preferensi terhadap kewarganegaraan tertentu, serta dinamika politik global yang memengaruhi proyek-proyek pembangunan internasional.

Bahkan di bidang yang identik dengan kerja sama antarnegara seperti international development, Atika tetap merasakan tantangan tinggi sebagai warga negara asing. Kompetisi tidak hanya datang dari sesama mahasiswa internasional, tetapi juga dari lulusan lokal dan global lainnya.

Dari semua strategi pencarian kerja yang ia coba—magang, career fair, dan LinkedIn, Atika menekankan satu hal: jaringan (networking).

“Dulu aku nggak punya network di Jerman sama sekali. Sekarang, aku sudah punya beberapa orang yang bisa aku hubungi, minta feedback, atau sekadar diskusi,” ujarnya.

Prosesnya memang lambat, penuh keraguan, dan terkadang menyulitkan mental. Tapi justru dari langkah-langkah kecil inilah peluang besar muncul.

“Yang penting mulai dulu. Satu langkah membawa ke langkah berikutnya. Jangan tunggu semuanya siap.”

Bagi Atika, merantau bukan hanya tentang pencapaian profesional, tapi juga perjalanan menuju versi terbaik dirinya.

“Kadang kita gagal dan merasa belum berhasil. Tapi sebenarnya kegagalan itu adalah pencapaian juga, karena kita belajar dari situ,” katanya menutup obrolan dengan refleksi yang menyentuh hati.

Baby steps. One step at a time. Karena sering kali kita terlalu keras sama diri sendiri, padahal kita sedang tumbuh.”

Tentang Podcast Jibber-Jabber Indonesian Women Abroad

Podcast audio berbahasa Inggris ini inisiatif Ruanita Indonesia (www.ruanita.com), sebuah organisasi nirlaba yang berkomitmen menciptakan ruang aman bagi perempuan Indonesia di perantauan. Melalui Jibber-Jabber Indonesian Women Abroad, Ruanita Indonesia ingin menghadirkan refleksi perempuan Indonesia dengan interseksionalitas yang dialaminya dalam konteks transnasional, sebagaimana yang digagas oleh Anna Knöbl.

(PODCAST RUMPITA) Literasi Anak di Tengah Dunia Digital yang Mengglobal

Dalam program bulanan diskusi Podcast RUMPITA – Rumpi bersama Ruanita, Anna sebagai Podcaster didampingi oleh relawan Ruanita lainnya yakni Etty P. Theresia yang tinggal di Frankfurt, Jerman.

Diskusi podcast episode bulan September ini, dilakukan dalam rangka memperingati Hari Literasi Sedunia dengan menghadirkan kisah inspiratif dari perempuan Indonesia yang menjadi pemerhati dunia literasi anak-anak.

Informan dalam diskusi podcast RUMPITA episode ke-41 adalah Azizah Seiger, atau akrab disapa Zee, yang menetap di Austria sejak 14 tahun lalu dan merupakan co-founder Seger Reading Club, sebuah komunitas literasi anak yang baru berdiri tapi penuh semangat dan visi besar di Indonesia.

Sebelum menyelami kisah Zee, Etty sempat berbagi tentang inisiatifnya mendirikan klub membaca buku anak di Jerman, yang dikenal Wortschatzbook Klub, komunitas membaca bersama yang aktif sejak 2019 dan kini rutin mengadakan pertemuan luring dua bulan sekali di Frankfurt. Menariknya, “Wordschatz” berasal dari bahasa Jerman Wortschatz, yang berarti “kosa kata”.

Fokus pada klub membaca yang dikelola oleh Zee, diberi nama Seger Reading Club, yang lahir dari kolaborasi antara Zee di Austria dan sahabatnya di Indonesia, yang berlokasi di Dusun Seger, Indonesia.

Kisah lahirnya komunitas ini bermula dari unggahan sahabatnya tersebut di media sosial yang menunjukkan anak-anak membaca dan menggambar di halaman rumahnya. “Langsung saya japri dan bilang: yuk kita bikin Reading Club,” cerita Zee penuh semangat.

Nama “Seger” sendiri ternyata bukan plesetan dari “Seiger” (nama belakang Zee), melainkan nama dusun tempat kegiatan membaca ini berlangsung.

Menurut Zee, berdirinya Seger Reading Club dilandasi dua jenis motivasi:

  1. Motivasi eksternal: terinspirasi dari pejuang literasi di Lombok Utara, keluarga besar guru, serta semangat sahabatnya sendiri.
  2. Motivasi internal: keinginan mendalam untuk menjadi bagian dari perubahan positif, didorong oleh nilai pribadi, hobi menulis, dan semangat memberi makna hidup.

“Ada keberanian yang harus kita miliki untuk menciptakan sesuatu yang berdampak. Dan keberanian itu datang dari kepercayaan diri dan mindset positif,” ujar Zee.

Sebagai ibu dari Yuna, balita 3 tahun yang tumbuh trilingual (bahasa Indonesia, Jerman, dan Inggris), Zee sangat memperhatikan penguatan literasi sejak dini. Ia konsisten membacakan buku, menciptakan rutinitas bedtime stories, dan memperhatikan pelafalan dalam setiap komunikasi.

Menariknya, Zee juga tidak menolak penggunaan teknologi. “Yuna belajar banyak dari kanal seperti Miss Rachel,” ujarnya. Namun, ia selektif, hanya memperbolehkan screen time lewat TV, bukan gadget genggam, untuk menjaga fokus dan keseimbangan bermain.

Yuna kini mampu mengenali huruf-huruf sejak usia dua tahun dan membaca kata-kata sederhana, bukti bahwa dukungan literasi di rumah bisa menghasilkan dampak besar bahkan sejak usia dini.

Di Seger Reading Club, anak-anak yang terbiasa dengan gadget awalnya tampak kurang tertarik pada buku. Untuk menyiasatinya, para relawan membacakan cerita dengan penuh ekspresi dan gerakan.

Sahabat Zee sendiri dan tim juga membuat video dongeng untuk diputar bersama menggunakan laptop. Ke depan, program akan menggunakan proyektor agar anak-anak bisa menonton bersama-sama.

“Banyak anak sekarang mengalami speech delay karena kebanyakan screen time,” tutur Zee. Seger Reading Club menjadi ruang alternatif yang bukan hanya menyenangkan, tapi juga menstimulasi kemampuan bahasa dan komunikasi.

Apa yang dilakukan oleh Zee di Seger Reading Club dan Etty di Wordschatzbook club, menunjukkan bahwa gerakan literasi bisa dimulai dari ruang sekecil apapun, asal ada tekad, keberanian, dan kolaborasi.

“Tanpa keberanian, tidak akan ada karya. Tanpa keinginan membantu, tidak akan ada perubahan,” kata Zee. Di tengah dominasi layar dan tantangan suara perempuan Indonesia di negeri rantau, menjadi pengingat bahwa kita semua bisa menjadi bagian dari solusi.

Simak diskusi PODCAST RUMPITA episode ke-41 berikut di kanal SPOTIFY dan pastikan FOLLOW agar kami dapat berbagi lebih lagi:

(SIARAN BERITA) Ruanita Kerja Sama dengan KemenPPPA dan KBRI Berlin Gelar Diskusi Daring Interaktif Bertema Program Au Pair di Eropa Barat & Skandinavia

JERMAN, 29 Juni 2025 — Ruanita Indonesia, melalui platform daring www.ruanita.com, menyelenggarakan sebuah diskusi online bertajuk “Mengenal Lebih Dekat Program Au Pair di Eropa Barat dan Skandinavia: Peluang, Pengalaman, dan Aspek Hukum” pada Minggu, 29 Juni 2025, pukul 10.00–12.00 CET (15.00–17.00 WIB).

Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen Ruanita dalam menyuarakan perlindungan dan pemberdayaan perempuan Indonesia di luar negeri melalui edukasi dan ruang berbagi yang aman.

Program Au Pair telah menjadi salah satu jalur populer bagi generasi muda Indonesia untuk meraih pengalaman internasional.

Melalui skema ini, peserta—yang biasanya berusia muda—memiliki kesempatan tinggal di luar negeri, tinggal bersama keluarga angkat (host family), belajar bahasa baru, serta memahami budaya lokal secara langsung.

Follow us

Namun, kenyataan di lapangan tidak selalu semulus yang dibayangkan. Banyak calon Au Pair yang melangkah tanpa informasi cukup, bahkan hanya bermodalkan keinginan untuk “keluar negeri secepatnya”, tanpa mengetahui hak dan kewajiban, risiko hukum, dan tantangan hidup sebagai Au Pair di negara asing.

Akibatnya, tidak sedikit yang mengalami kesulitan—bahkan potensi eksploitasi—akibat minimnya bekal informasi dan dukungan.

Melihat fenomena ini, Ruanita Indonesia merasa perlu menghadirkan forum terbuka dan edukatif untuk memberikan informasi yang akurat, serta memperkuat pemahaman calon peserta terhadap realita program Au Pair, khususnya di kawasan Eropa Barat dan Skandinavia.

Acara ini menghadirkan pembicara dari berbagai latar belakang—baik mereka yang tertarik dengan program pertukaran budaya, mereka yang pernah menjadi peserta Au Pair, akademisi yang berminat akan budaya, maupun pihak berwenang dari pemerintah.

Diskusi akan dimoderatori oleh Asti Tyas Nurhidayati, relawan Ruanita Indonesia yang saat ini berdomisili di Islandia.

Susunan acara akan dimulai dengan sambutan dari Irjen Pol. (Purn) Desy Andriani, Deputi Perlindungan Hak Perempuan, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA RI), yang memberikan pengantar mengenai pentingnya perlindungan hukum dan edukasi sebelum mengikuti program internasional seperti Au Pair.

Dua pembicara utama yang akan membagikan pengalaman langsung adalah:

  • Lina Herliana, mantan peserta Au Pair dan kini mahasiswa di Finlandia. Ia memaparkan perjalanannya dari proses pendaftaran hingga kehidupan pasca-Au Pair.
  • Puji Sumarno, Au Pair yang saat ini sedang berada di Norwegia, yang berbagi tantangan dan keseharian sebagai bagian dari keluarga angkat di Eropa Utara.

Diskusi juga akan mendapatkan perspektif hukum dan perlindungan dari perwakilan pemerintah, yaitu Satriyo Pringgodhani, Koordinator Perlindungan WNI dan Konsuler di KBRI Berlin.

Ia menjelaskan bagaimana KBRI Berlin mendampingi WNI yang menjadi peserta Au Pair dan pentingnya mengikuti jalur resmi.

Selain itu, akan hadir seorang penanggap dari kalangan akademisi, yakni Vivid F. Argarini memberikan tinjauan sosial-budaya serta mengamati program Au Pair sebagai program pertukaran budaya, yang diminati oleh mahasiswa yang mencari peluang karier dan hidup di mancanegara.

Menurut Asti Tyas Nurhidayati, diskusi ini bukan sekadar forum berbagi cerita, melainkan juga “benteng informasi dan pelindung” bagi generasi muda Indonesia yang tertarik mengikuti program internasional.

“Melalui pengalaman nyata dan pembahasan legalitas, kami ingin memastikan bahwa adik-adik kita berangkat bukan hanya dengan semangat, tapi juga dengan bekal pengetahuan yang cukup,” ujarnya.

Diskusi ini terbuka untuk mahasiswa, lulusan baru, komunitas pecinta bahasa asing, serta masyarakat umum yang ingin mengetahui lebih dalam tentang pertukaran budaya melalui jalur Au Pair.

Peserta tidak hanya dapat mengikuti acara melalui Zoom, tetapi juga dapat menyimak melalui YouTube Live di kanal Ruanita – Rumah Aman Kita.

Ruanita Indonesia (www.ruanita.com) merupakan komunitas digital dan organisasi relawan yang berbasis manajemen nilai dan intervensi komunitas, dengan fokus pada perlindungan, pendidikan, dan penguatan advokasi perempuan Indonesia di luar negeri. Berbagai kegiatan telah dilakukan sejak pendiriannya, seperti diskusi daring, kampanye kesadaran hak migran, pelatihan keterampilan daring, hingga publikasi e-book edukatif.

Acara ini merupakan bagian dari program reguler yang mendorong keterlibatan aktif perempuan Indonesia dalam isu-isu global, sekaligus memperkuat perlindungan sosial dan hukum di ranah migrasi internasional.

Informasi lebih lanjut: Asti Tyas Nurhidayati (e-mail: info@ruanita.com

Rekamannya dapat dilihat di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE agar mendukung keberlangsungan program kami: