(CERITA SAHABAT) Cegah Diabetes Dari Edukasi Diri Sampai Konsumsi Nutrisi

Halo Sahabat RUANITA, perkenalkan nama saya Yulyana. Ada pula yang memanggil saya, Juliana. Es klingt fast gleiche😊 atau dalam Bahasa Jerman maksudnya, itu sama saja mau dipanggil Yulyana atau Juliana. Saya tinggal di Jerman sejak April 2013. Lokasi tinggal saya terletak di desa kecil, namanya Iggensbach. Areanya berada di sekitar Landkreis Deggendorf-Passau, negara bagian Bavaria.

Kalau mau dibayangkan, lokasi tinggal saya itu sekitar 25 – 30 kilometer dari Kota Passau. Kalau kita naik kendaraan melalui Autobahn, jalan tol dalam Bahasa Jerman, maka lokasi tinggal saya bisa dicapai sekitar 15 – 16 kilometer dari Kota Deggendorf. Di kota Deggendorf inilah, saya bekerja sebagai Krankenpflegerin atau perawat dalam Bahasa Indonesia di IMC Stroke Station. Lebih jelasnya, saya adalah perawat pasien stroke dengan sistem monitor. 

Saya senang bisa ikut berpartisipasi dalam program cerita sahabat RUANITA, terutama berkaitan dengan pengalaman saya tentang diabetes yang dialami oleh orang-orang terdekat saya. Kita perlu tahu kalau diabetes merupakan salah satu Silent Killer Disease, karena penyakit ini begitu tersembuyi. Apabila kita terlambat menanganinya, ini akan berkomplikasi ke organ tubuh lainnya. Oleh karena itu, penting untuk kita mengedukasi diri sendiri tentang status kesehatan kita dan konsumsi nutrisi harian kita.

Berbicara soal diabetes, ini bukan hal asing bagi saya. Keluarga saya merupakan keluarga yang memiliki penyakit ini. Itu sebab diabetes dikenal sebagai penyakit keturunan. Jadi, mau tidak mau, saya pun memiliki gen ini. Saya kehilangan oma yang meninggal karena diabetes mellitus. Seingat saya, almarhum oma hanya mengontrol pola makan seperti mengurangi konsumsi gula dan karbohidrat. Namun diabetes yang diderita oma berujung pada komplikasi.

Komplikasi yang dialami almarhum oma sudah sampai ke organ mata, di mana dia harus mengalami kebutaan. Almarhum oma mengalami dekubitus level 4, yang sudah tembus ke tulang dan sulit disembuhkan. Kejadian itu sekitar tahun 1996, yang mana kami sekeluarga belum banyak mengenal dekubitus. Saat itu, belum ada penanganan yang optimal untuk pasien diabetes dengan luka dekubitus di Indonesia. 

Diabetes juga dialami oleh papa saya, yang didiagnosa sebagai diabetes melitus tipe 2 oleh dokter. Menurut saya, penanganan papa jauh lebih baik ketimbang almarhum oma. Papa diberi obat gula dan rutin diperiksa kadar gula darahnya. Selain itu, fungsi ginjal papa pun diperiksa per tiga bulan, terutama untuk Hba1C. Papa saya juga mengontrol konsumsi karbohidrat dan gula sehingga kadar gula darahnya selalu stabil. Ketika seseorang didiagnosa memiliki diabetes, maka dia harus mulai mengedukasi dirinya sendiri untuk mengetahui asupan nutrisi dan perilaku kesehariannya.

Salah satu teman baik saya pun didiagnosa diabetes melitus tipe 2 di saat usianya sudah memasuki pertengahan 30 tahunan. Tentu saja, dia sangat panik luar biasa dan begitu cemas. Saya bisa memahami situasinya yang tidak mudah menerima kenyataan tersebut. Apalagi dia harus hidup tanpa nasi sebagai makanan pokok orang Indonesia. Itu sangat menyulitkan dia di awal hari-hari tanpa nasi. Tidak hanya mengontrol konsumsi nasi saja, dia pun harus mengontrol kadar gula darahnya. Dia pun jadi lebih banyak mengonsumsi makanan yang lebih bergizi. 

Bagi saya, didiagnosa penyakit apapun itu bukan berita menyenangkan bagi setiap orang. Apalagi kalau kita didiagnosa diabetes, yakni penyakit yang tidak bisa disembuhkan secara total. Namun, kita perlu tahu kalau diabetes itu bisa dicegah bahkan kita bisa mengendalikan komplikasinya. Penyakit diabetes sendiri memiliki dua tipe yakni diabetes tipe 1 dan tipe 2. Pada diabetes tipe 1 disebabkan oleh tubuh tidak bisa memproduksi insulin. Sedangkan pada diabetes tipe 2 disebabkan karena tubuh gagal menggunakan atau memproduksi insulin secara efektif. Insulin sendiri merupakan hormon penting yang dapat membantu mengantarkan glukosa ke sel tubuh agar bisa menghasilkan energi. 

Seperti cerita saya di atas, diabetes telah menyerang orang-orang terdekat saya. Sebagai orang yang berpotensi memiliki diagnosa diabetes. saya pun mulai waspada terhadap kemungkinan ini. Benar saja, saya pun didiagnosa diabetes gestasional pada saat saya sedang hamil. Beruntungnya diagnosa ini cepat diketahui di awal sehingga penanganannya bisa segera dilakukan. Saya wajib melakukan tes darah sebanyak 4 kali dalam sehari, antara lain: saat bangun tidur, satu jam setelah sarapan, satu jam setelah makan siang, dan satu jam setelah makan malam. 

Tak hanya tes darah saja, saya pun harus melakukan diet sehat seperti karbohidrat. Saya pun jadi lebih memerhatikan kadar indeks karbohidrat yang dikonsumsi. Tentu saja, ini bukan hal mudah dilakukan di awal karena saya harus melakukannya sendiri agar saya tetap sehat. Saya harus menimbang semua makanan yang akan dimakan, misalnya untuk nasi, pasta, atau mi maka saya hanya boleh mengonsumsi sebesar 15 gram saja. Itu setara dengan 3-4 sendok makan full. Saya hanya boleh makan dengan porsi yang sedikit tetapi sering. Jelas, itu tidak mudah ya😊

Puji Tuhan, saya bisa melewati fase ini dan tidak memerlukan suntikan insulin selama proses kehamilan saya. Setelah anak saya lahir pun, saya wajib mengecek kembali kadar gula darah. Dokter internist endokrinologi menyatakan kalau hasilnya normal. Dengan kesadaran saya sendiri, saya harus menjaga pola makan saya. Itu adalah kebiasaan sehat yang harus dilakukan oleh mereka yang didiagnosa diabetes. Saya pun rutin untuk datang dan memeriksakan diri ke Hausartzin atau dokter saya di Jerman. 

Berbicara tentang diabetes, tidak hanya disebabkan oleh pengalaman orang terdekat saya dan apa yang saya alami sendiri. Menurut saya, penanganan diabetes di Indonesia saat ini jauh lebih baik daripada saat perawatan almarhum oma sekitar tahun 1990-an. Keberhasilan ini ditunjang oleh program BPJS-Prolanis atau Program Pengelolaan Penyakit Kronis seperti pasien-pasien yang didiagnosa diabetes di Indonesia. Jadi mereka yang didiagnosa diabetes dapat rutin mendaftarkan dirinya ke puskesmas terdekat, kemudian mereka akan dirujuk ke dokter spesialis endokrinologi. Para pasien diabetes melitus dan hipertensi akan mendapatkan obat gula, pen suntik insulin, bahkan check up laboratorium gratis setiap enam bulan untuk kadar gula darah, Hba1C, fungsi ginjal, dan juga kolesterol darah. 

Saya salut dengan komitmen pemerintah Indonesia untuk meningkatkan kualitas kesehatan warganya melalui program BPJS. Namun begitu, ini belum sepenuhnya optimal bila tidak didukung oleh kesadaran warga sendiri akan pola hidup sehat. Saat saya berlibur ke Indonesia, saya melihat dan mengalami banyak produk makanan yang dijual dengan kadar gula yang tidak terkontrol. Sayangnya, masyarakat awam masih kurang peka akan hal ini. Hidup sehat itu ada di tangan kita.

Dalam rangka World Diabetes Day, kita bisa mengedukasi diri sendiri dengan membaca informasi yang tertera dalam produk makanan atau minuman yang dijual. Menurut saya, pemerintah Indonesia perlu menerapkan limit maksimal kadar gula dalam suatu produk makanan atau minuman seperti di Eropa. Di beberapa negara Eropa, produsen bahan makanan wajib mencantumkan besaran persentase kadar gula dalam suatu produk makanan yang diproduksi. Semakin banyak kadar gula dalam produk tersebut, maka semakin banyak pajak yang harus dibayar pihak produsen. Cara lain adalah adanya Nutriscore skala yang menjadi patokan huruf dari A sampai dengan E dengan pemberian warna yang menentukan kadar gulanya seperti: A dengan warna hijau, B dengan warna hijau muda, C dengan warna kuning, D dengan warna orange, dan E dengan warna merah.

Sebagai konsumen, kita perlu bersikap cerdas dengan membaca petunjuk kemasan makanan atau minuman yang akan dikonsumsi. Kita perlu cari tahu atau bertanya ke narasumber yang kompeten atau ahli di bidangnya seperti dokter atau ahli nutrisi mengenai diabetes. Saya pikir penting untuk warga Indonesia mendapatkan penyuluhan kesehatan yang benar dan tepat tentang diabetes melalui kegiatan kemasyarakatan di komunitas-komunitas di Indonesia. Seperti misalnya, kita bisa mengedukasi diri dari mitos-mitos yang beredar dan tidak benar. Ada banyak mitos yang mengatakan kalau diabetes menyerang pada orang-orang yang memiliki kelebihan berat badan. Itu tidak benar. Diabetes dapat dialami pada siapa saja, terutama mereka yang tidak bisa menjaga pola makan dan hidup sehat. 

Pesan saya, pertama, diabetes itu bukan penyakit menular ya! Kedua, bersikaplah self-care atau peduli pada apa yang kita konsumsi. Ingat, segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Life healthy and balanced ya, Sahabat RUANITA! Terakhir, diabetes melitus bukan akhir segalanya. Kita masih bisa menjalani hidup dengan normal asalkan kita lebih memerhatikan pola makan dan rajin berolahraga, tentunya. 

Penulis: Juliana Wildenauer, tinggal di Jerman dan dapat dikontak via akun Instagram: @schnuckiesnappy.


Eksplorasi konten lain dari Ruanita - Indonesia

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar