(SIARAN BERITA) Ruanita Indonesia, Komunitas GANAS Taiwan, dan ALZI Ned Perkuat Kapasitas Caregiver PMI melalui Edukasi Demensia pada Peringatan Hari Alzheimer Sedunia 2026

Jakarta, 26 September 2026 – Dalam rangka memperingati Hari Alzheimer Sedunia 2026, Ruanita Indonesia di bawah Yayasan Ruanita Perempuan Indonesia bersama Komunitas GANAS (Gerakan Pemberdayaan Pekerja Migran Indonesia) di Taiwan dan Yayasan ALZI Nederland (ALZI Ned) sukses menyelenggarakan diskusi daring bertajuk “Merawat dengan Hati dan Ilmu: Bekal Dasar Alzheimer bagi Caregiver PMI Taiwan” pada Sabtu (26/9). Kegiatan yang berlangsung melalui Zoom Meeting ini diikuti oleh Pekerja Migran Indonesia (PMI), khususnya para caregiver yang bekerja merawat lansia di Taiwan, serta peserta dari Indonesia dan Belanda.

Kegiatan ini diselenggarakan sebagai bentuk kepedulian terhadap meningkatnya kebutuhan edukasi mengenai demensia Alzheimer bagi para caregiver. Sebagai garda terdepan dalam mendampingi lansia, para PMI menghadapi berbagai tantangan dalam memahami perubahan perilaku, komunikasi, hingga penanganan sehari-hari terhadap penyandang demensia. Melalui kolaborasi lintas negara ini, para peserta memperoleh pengetahuan praktis sekaligus ruang berbagi pengalaman untuk memperkuat kapasitas mereka dalam memberikan perawatan yang lebih baik.

Acara dibuka oleh Fajar, Relawan Ruanita Indonesia di Taiwan sekaligus Founder Komunitas GANAS, yang menekankan pentingnya membangun jejaring dukungan bagi para pekerja migran Indonesia di sektor domestik. Menurutnya, edukasi mengenai Alzheimer tidak hanya meningkatkan kualitas pelayanan kepada lansia, tetapi juga membantu caregiver menjaga kesehatan mental dan ketahanan emosional selama menjalankan pekerjaannya.

Pada sesi pertama, Ari Lestari, caregiver PMI di Taiwan dan anggota Komunitas GANAS, membagikan pengalaman nyata dalam mendampingi lansia dengan Alzheimer. Ia mengisahkan berbagai tantangan yang dihadapi di lapangan, mulai dari perubahan perilaku pasien, kesulitan komunikasi, hingga pentingnya kesabaran dan empati dalam memberikan pendampingan setiap hari. Pengalaman tersebut menjadi refleksi bagi peserta bahwa pekerjaan sebagai caregiver membutuhkan tidak hanya keterampilan teknis, tetapi juga kesiapan emosional.

Sesi kedua menghadirkan Tania, Champion sekaligus Koordinator Regional Indonesia ALZI Nederland di Belanda, yang memberikan pemaparan mengenai pengetahuan dasar Alzheimer, tahapan perkembangan demensia, serta strategi komunikasi yang efektif dengan penyandang Alzheimer. Dalam paparannya, Tania menjelaskan bahwa memahami kondisi medis pasien merupakan langkah penting untuk mengurangi kesalahpahaman, meningkatkan kualitas hidup lansia, dan membantu caregiver menghadapi situasi yang sering kali menantang.

Diskusi berlangsung interaktif dengan antusiasme tinggi dari peserta yang berasal dari berbagai wilayah di Taiwan. Beragam pertanyaan mengemuka, mulai dari cara menghadapi perilaku agresif pada penyandang demensia, teknik berkomunikasi yang lebih efektif, hingga pentingnya menjaga keseimbangan kesehatan mental bagi caregiver. Sesi berbagi pengalaman juga memperlihatkan kuatnya solidaritas di antara para pekerja migran Indonesia yang saling memberikan dukungan dan solusi berdasarkan pengalaman masing-masing.

Melalui kegiatan ini, Ruanita Indonesia, Komunitas GANAS Taiwan, dan ALZI Nederland berharap semakin banyak caregiver PMI yang memiliki pemahaman dasar mengenai demensia sehingga mampu memberikan pendampingan yang lebih profesional, penuh empati, dan berorientasi pada kualitas hidup lansia. Selain itu, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya membangun komunitas belajar yang saling mendukung bagi para pekerja migran Indonesia di luar negeri. Peringatan Hari Alzheimer Sedunia 2026 ini sekaligus menegaskan pentingnya kolaborasi antara organisasi masyarakat sipil, komunitas pekerja migran, dan lembaga pemerhati Alzheimer dalam meningkatkan literasi kesehatan masyarakat Indonesia, baik di dalam maupun di luar negeri.

Rekaman kegiatan akan dipublikasikan melalui kanal YouTube Ruanita – Rumah Aman Kita agar manfaat edukasi dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas dan pastikan SUBSCRIBE ya untuk mendukung kami.

(SIARAN BERITA) Workshop Daring Produksi Audiobook  Dorong Kolaborasi untuk Literasi Inklusif

Jakarta, September 2026 – Yayasan Ruanita Perempuan Indonesia menyelenggarakan Workshop Daring Produksi Audiobook  pada 19–20 September 2026 sebagai bagian dari rangkaian Program AISIYU (AspIrasikan Suara dan Inspirasi nYatamU) dalam mendukung kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan pada 25 November – 10 Desember dan peringatan Hari Braile Sedunia pada Januari 2027 mendatang. Kegiatan ini mempertemukan pegiat inklusi, masyarakat umum, dan mitra strategis untuk memperkuat kapasitas produksi audiobook yang inklusif bagi siapa saja yang memerlukannya.

Workshop diselenggarakan bekerja sama dengan Komunitas Braille’iant Indonesia dan menghadirkan berbagai narasumber dari lembaga negara maupun komunitas yang memiliki perhatian terhadap isu kesetaraan gender, aksesibilitas, dan pendidikan inklusif. Sebagai informasi, komunitas Braille’iant Indonesia adalah komunitas anak muda Jogja yang berfokus pada pengembangan kapasitas difabel netra dan pendidikan inklusi.

Pada sesi pembuka, Ketua Komisi Nasional Disabilitas Republik Indonesia, Dante Rigmalia, menyampaikan materi mengenai pentingnya membangun akses informasi dan literasi yang inklusif bagi penyandang disabilitas. Dalam paparannya, beliau menekankan bahwa akses terhadap pengetahuan merupakan bagian dari pemenuhan hak penyandang disabilitas, sehingga pengembangan media yang mudah diakses, termasuk audiobook, menjadi salah satu upaya nyata untuk mewujudkan masyarakat yang lebih setara dan inklusif.

Sementara itu, sesi mengenai Pengarusutamaan Gender dan Inklusi Sosial (GESI) disampaikan oleh Komisioner Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan), Devi Rahayu. Materi tersebut mengajak peserta memahami pentingnya mengintegrasikan perspektif gender dalam produksi pengetahuan dan media digital, sekaligus memperkuat peran masyarakat dalam mendukung penghapusan kekerasan terhadap perempuan melalui kampanye yang inklusif dan berbasis hak asasi manusia. Workshop daring selama dua hari ini ini dimoderasi oleh Lu’luatul Awaliyah, mahasiswa S2 di UK.

Selain mendapatkan penguatan perspektif gender dan inklusi sosial, peserta juga memperoleh pelatihan teknis produksi audiobook yang difasilitasi oleh Veronica Christamia, Dosen Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) di Tiongkok sekaligus Founder Komunitas Braille’iant Indonesia. Materi mencakup teknik membaca naskah, perekaman suara, hingga penyuntingan audio menggunakan perangkat lunak Audacity.

Workshop diikuti oleh peserta dari berbagai daerah di Indonesia yang memiliki minat pada literasi, produksi konten digital, dan isu aksesibilitas. Melalui sesi praktik, setiap peserta mulai mengerjakan bagian audiobook yang akan dikembangkan secara kolaboratif sebagai produk akhir Program AISIYU. Untuk kampanye digital 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (HAKTP), penyelenggara mengharapkan peserta membuat konten terkait refleksi pengalaman selama proses produksi audiobook, yang berlangsung pada 25 November – 10 Desember mendatang.

Setelah proses produksi dan penyuntingan selesai, audiobook akan dipublikasikan melalui platform Yayasan Ruanita Perempuan Indonesia serta didistribusikan kepada komunitas netra, organisasi penyandang disabilitas, dan sekolah netra di Indonesia pada peringatan Hari Braille Sedunia, 4 Januari 2027. Audiobook ini merupakan bagian dari komitmen Yayasan Ruanita Perempuan Indonesia untuk menghadirkan ruang digital yang positif, kreatif, dan inklusif, sekaligus membangun ruang kolaboratif bagi masyarakat untuk memproduksi karya-karya yang mengangkat nilai kesetaraan gender, aksesibilitas, dan pemberdayaan.

Melalui inisiatif ini, Ruanita Indonesia berharap dapat memperluas akses literasi bagi penyandang disabilitas netra, memperkuat budaya gotong royong dalam berkarya, serta mendorong lahirnya lebih banyak konten digital yang memberikan manfaat sosial bagi masyarakat.

Anna Knöbl selaku bagian dari penyelenggara Workshop Audiobook berharap semakin banyak masyarakat yang memahami bahwa akses terhadap informasi, literasi, dan ruang berekspresi merupakan hak setiap orang. Dia menambahkan bahwa kolaborasi antara organisasi masyarakat sipil, komunitas penyandang disabilitas, dan lembaga negara diharapkan menjadi langkah bersama dalam membangun ekosistem literasi yang inklusif, setara, dan bebas dari kekerasan terhadap perempuan.

(CERITA SAHABAT) Dari Merawat Lansia di Taiwan hingga Menjaga Impian

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan, saya Irma, tapi teman-teman biasa memanggil saya Mbok. Saya berasal dari Jawa Barat, tepatnya Sukabumi, daerah Jampang Kulon. Saat ini saya sedang bekerja di Taiwan sebagai pekerja informal di bidang perawatan lansia atau orang-orang biasa menyebutnya elderly care. Sudah hampir satu tahun saya tinggal di sini. Alhamdulillah, saya sudah mulai merasa lebih nyaman menjalani kehidupan di negeri orang.

Kalau ditanya aktivitas sehari-hari, hari-hari saya di Taiwan cukup padat tapi juga penuh pembelajaran. Saya merawat seorang lansia di rumah majikan, membantu kebutuhan sehari-harinya, mulai dari makan, kebersihan, sampai mengawasi kondisi kesehatannya. Kadang juga harus siap kalau ada kondisi darurat kecil, jadi memang butuh kesabaran dan ketelitian ekstra.

Sebelum berangkat ke Taiwan, saya tinggal dan bekerja di Jakarta. Waktu itu, saya bekerja di sebuah perusahaan distributor lensa kacamata. Namun kemudian, perusahaan tempat saya bekerja mengalami krisis. Saya dan teman-teman mulai mengalami pengurangan karyawan dan juga pengurangan jam kerja. Gaji yang saya terima pun sebenarnya sudah di bawah UMR. Ini buat saya semakin terasa berat.

Di situ saya mulai berpikir, “Bagaimana hidup saya selanjutnya ya?” Pengeluaran tetap jalan, tetapi pemasukan makin kecil. Dari situlah saya mulai membuka diri untuk mencoba peluang kerja di luar negeri.

Awal tahun lalu, saya mulai mencari informasi tentang kerja ke luar negeri, khususnya ke Taiwan atau Hong Kong. Saya juga sempat tanya-tanya ke teman yang sudah punya pengalaman kerja di luar negeri. Dari situ saya dapat gambaran. Menurut teman saya itu, kalau bekerja di Hong Kong, tuntutannya lebih tinggi. Semua harus serba bisa, termasuk masak. Sedangkan saya merasa belum siap di bagian itu. Akhirnya, saya memutuskan untuk mencoba ke Taiwan.

Sebenarnya saya tidak punya latar belakang sebagai perawat profesional. Tapi sebelumnya saya pernah merawat bos dari adik saya yang terkena stroke, walaupun pekerjaan itu hanya sekitar setengah tahun. Dari situ saya punya sedikit gambaran tentang merawat orang sakit, meskipun waktu itu saya sempat merasa kewalahan karena pasiennya cukup sulit dan temperamental.

Setelah memutuskan berangkat ke Taiwan, saya masuk ke penampungan. Orang bilang kayak agency begitu selama tiga bulan. Di sana saya belajar bahasa, terutama bahasa Mandarin dasar, serta beberapa keterampilan dasar untuk pekerjaan perawatan.

Walaupun sudah belajar, ternyata ketika sampai di Taiwan tetap tidak mudah. Bahasa yang digunakan sehari-hari terasa berbeda. Misalnya, saya banyak mendengar logat, cara pengucapan, dan semuanya butuh penyesuaian lagi. Jadi, tantangan terbesar di awal memang soal bahasa.

Selain bahasa, saya juga harus belajar banyak hal baru, terutama dalam hal perawatan kesehatan. Di Taiwan, saya belajar secara otodidak menggunakan alat-alat medis sederhana, seperti alat sedot dahak. Ini pengalaman baru buat saya, karena di Indonesia saya tidak pernah mendapatkan pelatihan seperti ini secara formal.

Kalau dibandingkan dengan kerja di Indonesia, perbedaannya cukup jauh. Dulu di Indonesia, pekerjaan saya lebih sederhana, hanya menjaga pasien dan menemani ke rumah sakit. Tapi di Taiwan, tanggung jawabnya lebih besar dan lebih kompleks.

Untuk soal makanan, awalnya saya agak khawatir, terutama karena banyak makanan yang mengandung babi. Alhamdulillah, orang Taiwan cukup pengertian. Mereka biasanya memberi tahu kalau ada makanan yang mengandung babi. Walaupun kadang mereka belum sepenuhnya paham soal penggunaan minyak babi, tapi niat mereka untuk menghargai sudah terasa.

Selain itu, ada juga banyak warung atau toko Indonesia di sini. Jadi, kalau kangen masakan rumah masih bisa sedikit terobati. Kalau ditanya soal stres, jujur saja, itu pasti ada. Tapi bukan karena pekerjaan atau majikan. Alhamdulillah, majikan saya baik dan tidak banyak menuntut. Mereka justru berusaha membuat saya nyaman.

Justru tekanan terbesar datang dari jauh dari Indonesia, terutama soal keluarga dan anak. Anak saya sempat mengalami masalah kesehatan, setelah saya tiga bulan di sini. Waktu itu saya sempat berpikir untuk pulang. Tapi keluarga menyarankan saya untuk tetap bertahan. Mereka bilang, semoga kondisi anak saya bisa membaik. Di situ saya belajar untuk kuat secara mental, karena ternyata bekerja di luar negeri bukan hanya soal fisik, tapi juga hati.

Sebagai perempuan, saya merasa cukup aman tinggal di Taiwan. Lingkungannya tertib, orang-orangnya sopan, dan jarang ada gangguan. Bahkan kalau keluar malam pun masih terasa aman. Saya juga merasa dihargai sebagai pekerja. Untuk perlindungan kesehatan, saya mendapatkan asuransi. Pernah suatu waktu saya mengalami masalah kulit, dan saya bisa menggunakan kartu asuransi untuk berobat. Bahkan majikan juga membantu dalam hal biaya. Walaupun mungkin tidak semua orang seberuntung itu, tapi pengalaman saya sejauh ini cukup baik.

Selama di Taiwan, saya mendapatkan banyak pengalaman berharga. Saya bertemu dengan orang-orang dari latar belakang yang berbeda, belajar bahasa baru, dan juga mendapatkan pengetahuan tentang dunia kesehatan. Kalau dipikir-pikir, di Indonesia mungkin untuk belajar hal seperti ini harus sekolah dulu. Tapi di sini, saya bisa belajar langsung dari pengalaman sehari-hari. Walaupun tidak mudah, tapi sangat berharga.

Kontrak kerja saya masih sekitar tiga tahun. Awalnya saya berpikir tidak akan menghabiskan kontrak, tapi melihat kondisi ekonomi sekarang, sepertinya saya akan menyelesaikannya. Semua ini saya jalani demi masa depan yang lebih baik, terutama untuk keluarga.

Buat sahabat Ruanita yang sedang mempertimbangkan untuk bekerja di luar negeri, saya ingin berbagi sedikit pesan. Jangan hanya melihat enaknya saja dari media sosial, seperti di TikTok yang terlihat serba indah dan menyenangkan. Kenyataannya tidak sesederhana itu. Bekerja di luar negeri membutuhkan kesiapan fisik dan mental. Bahasa itu sangat penting. Usahakan benar-benar belajar sebelum berangkat. Hal yang paling penting, mental harus kuat, karena kita akan jauh dari keluarga, menghadapi lingkungan baru, dan harus bisa berdiri sendiri.

Namun, balik semua itu, kalau dijalani dengan niat dan kesabaran, pasti ada banyak hal baik yang bisa kita dapatkan.

Penulis: Irma, yang jadi Elderly Care Practitioner di Taiwan yang dapat dikontak melalui akun Facebook Mbo.

(SIARAN BERITA) PMI Perempuan di Singapura Unjuk Karya Lewat Buku Narasi Hidup PMI Perempuan

Singapura, 13 September – Peluncuran buku Cahaya dari Seberang Laut: Singapura telah sukses diselenggarakan secara daring. Kegiatan ini mempertemukan pekerja migran Indonesia (PMI), pegiat literasi, penulis, serta berbagai pemangku kepentingan dari Singapura dan sejumlah negara penempatan lainnya dalam semangat merayakan karya literasi para PMI. Acara yang digagas oleh Ruanita Indonesia ini merupakan tindak lanjut peringatan Hari Buruh Sedunia 2026 dalam bentuk Workshop Daring Menulis.

Acara dibuka oleh moderator, Reka Monica, salah satu penulis buku sekaligus Relawan Ruanita Indonesia di Singapura, yang menyampaikan apresiasi kepada seluruh narasumber, tamu undangan, penulis, dan peserta yang telah hadir secara virtual. Dalam acara ini, KBRI Singapura juga mengawali dengan pemantik diskusi oleh Rina Komaria, selaku Pelaksana Fungsi Protkons/PWNI KBRI Singapura. Beliau menyampaikan apresiasi atas lahirnya buku tersebut sebagai bukti bahwa pekerja migran Indonesia tidak hanya berkontribusi dalam sektor ekonomi, tetapi juga mampu menghasilkan karya intelektual dan literasi yang menginspirasi. Melalui acara ini, Ruanita Indonesia, menegaskan komitmennya dalam mendukung pemberdayaan perempuan Indonesia, termasuk melalui penguatan budaya literasi di kalangan pekerja migran.

Prosesi peluncuran buku menjadi puncak acara. Buku Cahaya dari Seberang Laut: Singapura merupakan kumpulan tulisan para pekerja migran Indonesia yang merekam pengalaman, perjuangan, harapan, serta refleksi kehidupan selama berada di negeri rantau. Kehadiran buku ini diharapkan menjadi inspirasi sekaligus dokumentasi perjalanan para PMI yang memiliki semangat untuk terus belajar dan berkarya.

Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan diskusi yang menghadirkan Nor Ismah, fasilitator Workshop Daring Menulis PMI Perempuan di Singapura, yang mengulas pentingnya menulis sebagai sarana pemberdayaan diri, dokumentasi pengalaman, dan media menyuarakan kisah para pekerja migran kepada masyarakat luas.

Dalam kesempatan yang sama, Indah, salah satu penulis buku, berbagi pengalaman mengenai proses kreatif menulis dan perjalanan hingga naskahnya menjadi bagian dari buku Cahaya dari Seberang Laut: Singapura. Kisah tersebut memberikan motivasi kepada peserta bahwa siapa pun dapat memulai menulis dari pengalaman hidup yang sederhana namun bermakna. Diikuti juga sharing pengalaman Dewi N.S. Lubis selaku Koordinator Tim Buku dan founder FPMI Singapura yang juga menegaskan pentingnya mendokumentasikan pengalaman hidup sebagai PMI lewat literasi. Buku ini menjadi buku ketiga dari karya FPMI yang senantiasa produktif menghasilkan buah tangan PMI di Singapura.

Diskusi semakin kaya melalui tanggapan dari Fajar, Founder GANAS Community (Gabungan Tenaga Kerja Bersolidaritas Taiwan). Ia mengapresiasi terbitnya buku tersebut sebagai bentuk keberanian para pekerja migran dalam mendokumentasikan pengalaman hidup mereka. Menurutnya, karya-karya seperti ini mampu memperkuat solidaritas antarkomunitas pekerja migran Indonesia di berbagai negara sekaligus memperluas perspektif masyarakat terhadap kehidupan para PMI.

Antusiasme peserta terlihat dalam sesi tanya jawab. Berbagai pertanyaan dan tanggapan disampaikan oleh peserta yang mengikuti kegiatan secara daring dari Singapura maupun negara penempatan lainnya. Diskusi berlangsung hangat dengan pembahasan mengenai proses menulis, pentingnya membangun budaya literasi di kalangan pekerja migran, serta upaya menjaga keberlanjutan gerakan menulis bagi PMI.

Melalui peluncuran buku ini, Forum Penulis Migran Indonesia (FPMI) Singapura bersama Yayasan Ruanita Perempuan Indonesia berharap semakin banyak pekerja migran Indonesia terdorong untuk mendokumentasikan pengalaman, gagasan, dan harapan mereka dalam bentuk tulisan. Literasi diharapkan menjadi ruang pemberdayaan yang mampu memperkuat kapasitas diri sekaligus menghadirkan narasi positif mengenai kontribusi pekerja migran Indonesia di tingkat nasional maupun internasional.

Acara ditutup dengan ucapan terima kasih kepada seluruh narasumber, penulis, peserta, dan pihak-pihak yang telah mendukung terselenggaranya peluncuran buku secara daring. Semangat yang terbangun sepanjang kegiatan diharapkan menjadi awal dari lahirnya lebih banyak karya literasi dari tangan para pekerja migran Indonesia di berbagai belahan dunia.

Rekaman acara dapat disimak melalui kanal YouTube Ruanita – Rumah Aman Kita dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

(IG LIVE) Mendengar, Memahami, dan Mencegah: Menemukan Jalan Keluar dari Kegelapan

Peringatan Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia pada 10 September menjadi momentum bagi Ruanita Indonesia untuk membuka ruang percakapan mengenai kesehatan mental dan pencegahan bunuh diri. Melalui program diskusi Instagram Live, Ruanita Indonesia mengangkat tema mendengar, memahami, dan mencegah, dengan menghadirkan pengalaman personal sekaligus perspektif profesional mengenai mereka yang pernah berada dalam masa-masa paling gelap dalam hidupnya.

Diskusi tersebut menghadirkan Miystica Rosa, seorang praktisi kesehatan mental yang berada di Irlandia, serta Vita, seorang penyintas yang saat ini tinggal di Islandia. Dipandu oleh Zukhrufi Syasdwaita atau disapa Rufi dari Ruanita Indonesia, perbincangan berlangsung sekitar 30 hingga 40 menit dan membuka kesempatan bagi penonton untuk turut berpartisipasi melalui kolom komentar

Percakapan dimulai dari sebuah pengingat sederhana bahwa setiap manusia memiliki alasan dan tujuan keberadaannya. Kehidupan seseorang dipandang tetap memiliki arti, apa pun latar belakang dan situasi yang sedang dihadapinya. Bahkan ketika seseorang sedang berada dalam kondisi yang sangat sulit, keberadaannya tetap penting. Dalam konteks pencegahan bunuh diri, pemaknaan terhadap kehidupan menjadi salah satu pesan penting yang muncul dalam diskusi. Masa-masa gelap tidak dipandang sebagai keadaan yang akan berlangsung selamanya. Kesulitan memang dapat membuat seseorang merasa seolah-olah tidak ada jalan keluar, tetapi kegelapan tersebut tidak harus menjadi akhir dari perjalanan hidup seseorang.

Peringatan Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia kemudian tidak hanya dimaknai sebagai momentum untuk mengingat mereka yang meninggal akibat bunuh diri. Lebih jauh, momen ini menjadi ajakan untuk kembali menghargai kehidupan dan menyadari bahwa setiap orang masih memiliki kesempatan untuk menjalani, memperbaiki, dan melanjutkan hidupnya.

Salah satu bagian penting dalam diskusi adalah pembahasan mengenai berbagai anggapan keliru yang berkembang di masyarakat tentang bunuh diri. Salah satunya adalah keyakinan bahwa bunuh diri merupakan topik yang tidak seharusnya dibicarakan secara terbuka. Pandangan semacam itu justru dapat membuat seseorang yang sedang mengalami krisis semakin terisolasi. Percakapan mengenai bunuh diri perlu dibuka dengan hati-hati agar orang yang sedang berada dalam kegelapan dapat menyadari kondisi yang sedang dialaminya dan memiliki kesempatan untuk mendapatkan pertolongan.

Diskusi juga menyinggung anggapan bahwa hanya profesional tertentu yang dapat membantu seseorang yang memiliki pikiran untuk bunuh diri. Perspektif yang muncul justru menekankan pentingnya peran lingkungan sekitar. Mendengarkan, hadir, membangun koneksi, dan membantu seseorang menemukan akses menuju pertolongan merupakan bagian penting dari upaya pencegahan. Karena itu, membicarakan kondisi seseorang bukan berarti memperburuk keadaan. Sebaliknya, percakapan dapat menjadi langkah awal untuk membuat seseorang menyadari bahwa ia tidak sendirian dan bahwa ada jalan untuk keluar dari situasi yang sedang dihadapinya.

Pengalaman Vita memberikan dimensi personal pada pembahasan tersebut. Ia menggambarkan masa tergelap dalam hidupnya sebagai periode yang dipenuhi stres, depresi, dan kecemasan. Dalam kondisi itu, aktivitas sehari-hari terasa sangat berat. Keinginan untuk melakukan apa pun menghilang dan tidur menjadi pilihan untuk menghindari kenyataan. Perasaan tersebut juga membuatnya menarik diri dari lingkungan. Ia memilih berada di rumah dan menghindari pertemuan dengan orang lain, termasuk anak-anaknya. Isolasi menjadi bagian dari pengalaman ketika seseorang merasa tidak memiliki energi maupun kemampuan untuk menghadapi kehidupan sebagaimana biasanya.

Di balik kondisi tersebut terdapat berbagai persoalan yang saling berkelindan. Kehilangan pasangan, persoalan finansial, tekanan hidup, hingga berbagai pengalaman traumatis dapat membuat seseorang merasa semakin kehilangan harapan. Dalam kondisi krisis, kemampuan untuk melihat masa depan pun dapat menyempit. Seseorang mungkin tidak lagi mampu membayangkan adanya jalan keluar dari masalah yang sedang dihadapinya.

Vita juga menggambarkan betapa sulitnya mengungkapkan kondisi batin ketika seseorang berada dalam situasi tersebut. Ada perasaan yang begitu berat sehingga sulit diterjemahkan menjadi kata-kata. Justru karena itulah kehadiran orang lain dan ruang yang aman untuk berbicara menjadi sangat penting.

Titik balik dalam pengalaman Vita muncul ketika ia menyadari bahwa dirinya membutuhkan pertolongan. Dalam situasi yang terasa sudah runtuh, ia akhirnya menghubungi layanan bantuan krisis Pieta yang tersedia selama 24 jam di tempat ia berada. Keputusan untuk menelepon menjadi sebuah langkah penting karena ia menyadari bahwa dirinya tidak dapat terus berada dalam kondisi tersebut.

Pengalaman tersebut juga memperlihatkan pentingnya kejujuran dalam menjawab pertanyaan sederhana mengenai keadaan seseorang. Dalam kehidupan sehari-hari, pertanyaan tentang kabar sering kali dijawab secara otomatis dengan mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja. Namun, di balik jawaban tersebut bisa saja terdapat pergulatan yang tidak terlihat. Bagi seseorang yang sedang mengalami krisis, keberanian untuk mengatakan kondisi sebenarnya dapat menjadi awal untuk memperoleh bantuan. Mengakui bahwa diri sedang tidak baik-baik saja bukan tanda kelemahan, melainkan sebuah bentuk kesadaran bahwa bantuan diperlukan.

Dalam diskusi tersebut, kesehatan mental juga ditempatkan dalam konteks kehidupan yang lebih luas. Krisis bunuh diri tidak selalu muncul akibat satu persoalan tunggal. Masalah kesehatan fisik atau penyakit kronis, kecemasan, depresi, kehilangan pekerjaan, persoalan keuangan, trauma, maupun masalah dalam keluarga dapat menjadi bagian dari beban yang dirasakan seseorang. Ketika berbagai tekanan menumpuk, seseorang dapat kehilangan harapan dan merasa tidak berdaya. Situasi menjadi semakin berisiko ketika seseorang yang sedang berada dalam kondisi tersebut merasa sendirian dan tidak melihat adanya alternatif untuk keluar dari masalah.

Karena itu, pencegahan bunuh diri tidak cukup dilakukan dengan menunggu seseorang meminta bantuan. Lingkungan sekitar perlu membangun hubungan yang memungkinkan seseorang merasa aman untuk berbicara mengenai apa yang sedang dialaminya. Salah satu pesan terkuat dari diskusi Ruanita Indonesia adalah pentingnya keberanian untuk mendengarkan. Ketika seseorang menunjukkan tanda-tanda sedang berada dalam kondisi sangat gelap, orang-orang di sekitarnya tidak perlu langsung memiliki semua jawaban atau solusi.

Pencegahan pada akhirnya berkaitan dengan membangun koneksi. Ketika seseorang merasa terjebak dalam kegelapan, hubungan dengan teman, keluarga, komunitas, maupun layanan bantuan profesional dapat menjadi bagian dari jalan untuk keluar. Diskusi tersebut menekankan pentingnya menghubungi orang lain dan mencari layanan bantuan ketika dukungan dari lingkungan terdekat belum mencukupi. Hotline atau layanan krisis dapat menjadi salah satu pintu menuju pertolongan yang lebih tepat.

Pesan ini membuat peringatan Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia terasa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Pencegahan bukan hanya tentang tindakan besar atau intervensi profesional. Ia juga dapat dimulai dari keberanian untuk hadir, mendengarkan dengan sungguh-sungguh, memperhatikan perubahan pada orang di sekitar, dan membantu seseorang terhubung dengan pertolongan yang dibutuhkan.

Pada akhirnya, percakapan Ruanita Indonesia mengingatkan bahwa seseorang yang sedang berada dalam kegelapan mungkin tidak selalu mampu menemukan jalan keluarnya seorang diri. Kehadiran orang lain dapat menjadi titik awal. Sebuah percakapan dapat membuka kesadaran. Sebuah panggilan dapat menghadirkan bantuan. Dan sebuah koneksi dapat menjadi jembatan agar seseorang kembali melihat kemungkinan untuk melanjutkan hidup.

Program Diskusi IG LIVE dikelola oleh Ruanita setiap bulan dengan berbagai tema yang bervariasi, sebagai jembatan komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) antara orang Indonesia di luar Indonesia dan orang Indonesia di Indonesia untuk berbagi dan berdiskusi bersama, yang memanfaatkan ruang digital seperti platform instagram. Durasi berlangsung sekitar 30 menit yang berlangsung lewat instagram @ruanita.indonesia dan bersama informan lainnya. Pastikan follow akun Instagram @ruanita.indonesia untuk mendapatkan ruang diskusi digital lainnya yang menarik. Simak juga rekaman selengkapnya di kanal YouTube Ruanita-Rumah Aman Kita dan jangan lupa subscribe, ya!

(PODCAST RUMPITA) Membaca Bumi dari Masa Lalu: Cerita Peneliti Indonesia di Rusia

Melanjutkan program diskusi podcast RUMPITA – Rumpi bersama Ruanita – di bulan September 2026, kita ingin berdiskusi terkait ilmu bumi, apalagi bumi kita sekarang, terutama di Indonesia yang rawan bencana alam. Seperti baru-baru ini, Indonesia baru saja mengalaminya terkait aktivitas vulkanik. Jadi, apakah bisa membaca masa lalu bumi demi masa depan yang lebih baik? Diskusi yang awalnya ringan perlahan berubah menjadi refleksi mendalam tentang manusia, bumi, dan masa depan.

Diskusi Podcast RUMPITA dipandu oleh Anna di Jerman bersama Rieska Wulandari di Italia, percakapan ini menghadirkan Gerry Utama. Dia adalah seorang peneliti geologi lingkungan yang tak hanya akrab dengan data dan peta, tetapi juga dengan realitas lapangan yang kompleks, bahkan terkadang sulit dijelaskan sepenuhnya oleh logika.

Gerry membuka cerita dengan satu fakta yang mengguncang cara kita memandang bumi. Melalui penelitian di Antartika, ia menemukan bahwa material vulkanik dari Indonesia tersimpan dalam lapisan es di kutub selatan. Abu dari letusan Gunung Tambora pada 1816, Gunung Agung pada 1964, hingga Gunung Samalas pada 1258, ternyata mampu menjangkau wilayah yang begitu jauh. Temuan ini bukan sekadar pencapaian ilmiah, melainkan pengingat bahwa peristiwa di satu titik bumi dapat berdampak secara global. Di situlah, menurutnya, manusia seharusnya mulai menyadari betapa kecilnya posisi kita di hadapan sistem alam yang begitu besar.

Bidang yang ditekuni Gerry, paleogeografi kuarter, berusaha membaca kembali masa lalu bumi melalui jejak-jejak yang tersimpan di alam. Dari sedimen, lapisan es, hingga bentuk bentang alam, semua menyimpan cerita tentang apa yang pernah terjadi. Ia menjelaskan bahwa masa kini sejatinya adalah kunci untuk memahami masa lalu, dan keduanya menjadi dasar untuk membaca kemungkinan masa depan. Dalam perspektif ini, bencana seperti gempa bumi, letusan gunung api, atau perubahan lingkungan bukanlah hal baru. Semuanya pernah terjadi, hanya bentuk dan skalanya yang terus berubah.

Ketika membahas krisis lingkungan, Gerry memilih istilah “kerentanan iklim” dibandingkan “perubahan iklim”. Baginya, bumi secara alami memang selalu mengalami perubahan. Namun, aktivitas manusia mempercepat dan memperparah dinamika tersebut. Sejak era revolusi industri, pelepasan karbon dalam jumlah besar telah mengubah keseimbangan sistem bumi. Dampaknya mulai terasa dalam berbagai bentuk, mulai dari peningkatan suhu global hingga munculnya fenomena cuaca ekstrem yang sebelumnya tidak lazim terjadi.

Indonesia, dalam konteks ini, berada pada posisi yang sangat rentan. Terletak di kawasan cincin api dunia, wilayah ini menjadi titik pertemuan beberapa lempeng tektonik besar. Aktivitas geologi yang tinggi menjadikan gempa bumi, letusan gunung api, hingga longsor sebagai bagian dari realitas yang tak terpisahkan. Gerry menuturkan bahwa melalui data spasial yang ia kumpulkan sejak masa kuliah, ia pernah melihat pola yang mengarah pada potensi bencana. Prediksi itu kemudian terbukti ketika gempa bumi memicu longsor di lokasi yang sama setahun kemudian. Baginya, data bukan hanya angka, melainkan peringatan yang bisa menyelamatkan nyawa jika dipahami dengan benar.

Namun, pengalaman di lapangan mengajarkan bahwa data tidak selalu berdiri sendiri. Dalam banyak kesempatan, ia menghadapi situasi yang tidak sepenuhnya dapat dijelaskan secara ilmiah. Dari drone yang tiba-tiba hilang hingga pengalaman tak terduga di lokasi penelitian, semua itu membawanya pada satu kesadaran. Menurut Gerry, kita perlu menghargai kearifan lokal. Ia bahkan menyebut adanya ruang pertemuan antara sains modern dan pengetahuan tradisional, sesuatu yang ia gambarkan secara ringan sebagai “geomistik”. Dalam pandangannya, apa yang selama ini dianggap mitos sering kali menyimpan logika yang baru bisa dipahami melalui pendekatan ilmiah di masa kini.

Di balik semua itu, sosok peneliti yang digambarkan Gerry jauh dari stereotip umum. Ia menolak anggapan bahwa peneliti selalu identik dengan laboratorium dan buku. Peneliti kebumian justru dituntut untuk tangguh secara fisik, mampu bekerja di medan ekstrem, dan berhadapan langsung dengan kondisi alam yang tidak selalu bersahabat. Baginya, ilmu tidak cukup hanya dipahami secara teoritis, tetapi harus diiringi dengan pengalaman nyata di lapangan.

Perjalanan Gerry sendiri bermula dari sesuatu yang tidak direncanakan. Ia tumbuh dengan bayangan hidup yang sederhana, mengikuti jalur yang dianggap ideal oleh lingkungan sekitarnya. Namun, sebuah kesempatan di masa kuliah membawanya masuk ke dunia riset. Dari sana, ia menemukan panggilan yang kemudian membawanya melangkah lebih jauh, hingga menempuh pendidikan di Rusia. Di St. Petersburg, ia tidak hanya belajar tentang ilmu kebumian, tetapi juga menghadapi tantangan hidup di lingkungan yang ekstrem, mulai dari suhu dingin yang melukai kulit hingga penyesuaian ritme kehidupan yang jauh berbeda dari Indonesia.

Pada akhirnya, percakapan ini kembali pada satu hal yang sederhana namun mendasar, yakni peran manusia. Dalam sejarahnya, manusia adalah makhluk yang mampu merusak sekaligus membangun. Kita memiliki kemampuan untuk mengubah alam dalam skala besar, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk menjaganya. Dari lapisan es di Antartika hingga tanah longsor di perbukitan Indonesia, semua menunjukkan bahwa dampak dari tindakan manusia tidak pernah benar-benar terisolasi.

Kesadaran bahwa manusia itu kecil seharusnya tidak membuat kita merasa tak berdaya. Justru dari situlah muncul tanggung jawab yang lebih besar. Dengan ilmu, data, dan pemahaman yang terus berkembang, manusia memiliki kesempatan untuk tidak hanya memahami bumi, tetapi juga merawatnya.

Simak selengkapnya diskusi podcast RUMPITA di kanal Spotify kami dan pastikan FOLLOW ya untuk mendukung kami

(GALERI FOTO) Nonton dan Diskusi Film “Dua Kali”

Dalam rangka mempromosikan kesehatan mental sekaligus memperkenalkan program konseling online Ruanita Indonesia, acara pemutaran film “Dua Kali” yang disertai psikoedukasi berhasil diselenggarakan dengan baik di gedung pertemuan KBRI Madrid, Spanyol (5/9). Sebelumnya, Tim Ruanita Indonesia juga sempat melakukan audiensi dan tatap muka bersama Dubes RI untuk Kerajaan Spanyol beserta jajarannya, guna memperkuat dukungan sosial bagi warga Indonesia di Spanyol di bidang psikologi, sosial, dan budaya. Ada pun kegiatan ini dilaksanakan oleh relawan Ruanita Indonesia di Spanyol, yakni: Bernadia Dwiyani, Tyka Karunia dan didampingi Anna Knöbl di Jerman.

(CERITA SAHABAT) Homeschooling di Negeri Bollywood: Perjalanan Pembelajaran Bersama Dua Buah Hati 

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan nama saya Anni,  yang menjalani selama delapan tahun terakhir hidup sebagai seorang istri, ibu, sekaligus pendidik di rumah bagi kedua anak saya di India. Saya menikah dengan seorang pria Kashmir, dan sejak awal pernikahan kami menjalani hubungan jarak jauh. Suami bekerja di India sedangkan saya masih mengajar di Indonesia. Selama tiga tahun, kami menjalani rutinitas yang mungkin tidak umum bagi pasangan baru: dia datang dua kali setahun ke Indonesia, sedangkan saya menyusulnya ke India ketika jadwal mengajar mengizinkan. 

Pada akhirnya, setelah perjalanan LDM yang panjang, kami memutuskan untuk hidup bersama, khususnya demi memulai program kehamilan. Saya pindah ke India, memulai hidup baru, dan dalam keseharian membesarkan dua anak yang kini menjadi pusat dunia saya. Tinggal di India membuka banyak pengalaman baru, mulai dari budaya, gaya hidup, hingga sistem pendidikan yang berbeda antara Indonesia dan tempat saya menetap sekarang. 

Sebagai guru yang pernah lebih dari sepuluh tahun berkecimpung dalam pendidikan dasar di Indonesia, saya tidak bisa tidak memperhatikan perbedaan kurikulum antara dua negara ini. Di India, beban akademik untuk pendidikan dini jauh lebih berat. Anak-anak mulai dikenalkan pada beban akademik sejak usia yang sangat muda; bahkan sebelum masuk sekolah dasar, mereka telah melalui jalur pendidikan dengan struktur yang ketat: mulai dari pre-nursery (2+), Nursery (3+), LKG (4+), hingga UKG (5+). Selain itu, ada pula kultur tuitions, semacam les tambahan yang diberikan hampir setiap hari setelah jam sekolah. Bagi saya yang terbiasa dengan model pendidikan di Indonesia yang lebih seimbang antara bermain dan belajar, sistem ini terasa begitu menuntut, bahkan berlebihan bagi anak-anak usia dini. 

Saya dan suami pun sepakat untuk memberikan “pondasi kesiapan belajar” sejak dini, untuk menumbuhkan rasa cinta belajar, agar anak-anak tidak mengalami tekanan besar ketika masuk sekolah formal India. Namun titik balik terbesar bagi kami adalah masa pandemi. Di India, anak usia dua tahun umumnya disekolahkan ke lembaga pre-nursery, tetapi ketika pandemi datang, semua pembelajaran beralih ke kelas online. Sungguh tidak efektif bagi seorang preschooler untuk duduk menatap layar, mendengarkan instruksi melalui video call, dan diminta memahami konsep akademik lewat monitor. Di sinilah keputusan besar muncul: kami memutuskan untuk melakukan homeschooling. 

Homeschooling sebenarnya sudah lama saya persiapkan, terutama dalam ranah pendidikan agama. Tapi pandemi memberikan dorongan yang lebih besar untuk menerapkan homeschooling secara penuh untuk pendidikan dini. Saya tidak ingin anak-anak “sekolah online” hanya demi mengikuti sistem, sementara masa usia emas mereka menghilang tanpa pengalaman bermain, bergerak, menyentuh dunia, dan merasakan ritme pembelajaran yang alami. 

Kami pun menciptakan rutinitas homeschooling sendiri. Setiap hari, pembelajaran berlangsung lewat aktivitas yang menyenangkan. Saya merancang stimulasi motorik kasar seperti berlari, melompat, memanjat, bermain sepeda, hingga skating. Untuk motorik halus, seperti anak-anak bermain playdough, menggunting, memindahkan benda dengan sendok, dan menulis di atas garam. 

Saya juga mengenalkan keterampilan hidup seperti gosok gigi, mandi mandiri, memakai baju dan sepatu sendiri, menyapu, hingga membuat omelette atau cookies, atau aktivitas sederhana yang melatih koordinasi sekaligus membangun kepercayaan diri mereka. 

Kognisi kami latih lewat puzzle, memory games, permainan warna, alphabet matching, hingga aktivitas menjodohkan benda. Pendidikan agama menjadi bagian yang tidak pernah terlewat. Dari doa-doa pendek, hafalan surat, belajar sholat, hingga membaca Qur’an, fiqih dan aqidah, semuanya kami ajarkan perlahan dalam kehangatan di rumah, juga bersama komunitas di masjid untuk kegiatan tertentu. Salah satu area yang paling penting bagi kami adalah speaking skill, terutama karena anak pertama sempat mengalami riwayat speech delay. Latihan oromotor, permainan bercerita, dan dialog interaktif kami lakukan setiap hari. Sekarang, anak pertama sudah percaya diri mengikuti berbagai speech event di sekolah.

Pendekatan yang kami gunakan sebagian besar terinspirasi dari Montessori, meski saya tidak menerapkan seluruh aparatus Montessori yang standar. Saya lebih senang menyebutnya sebagai belajar lewat bermain (learning through play). Media belajar kami beragam, mulai dari mainan edukatif baik buatan sendiri 

maupun yang tersedia di market, bahan kerajinan, alam terbuka, kunjungan ke science center, museum, hingga buku-buku anak dari berbagai jenis. Gadget pun kami gunakan, tetapi secara terbatas dan hanya untuk aplikasi edukatif yang relevan. 

Tantangan terbesar homeschooling bukanlah pada materi atau kurikulum, tetapi pada diri saya sebagai ibu. Menjadi comfort provider sekaligus discipline establisher bukanlah hal mudah. Bagaimana menjaga agar suasana tetap menyenangkan tetapi tetap memiliki struktur? Bagaimana menjadi tempat yang aman sekaligus mentor dalam aktivitas pembelajaran? Pertanyaan-pertanyaan ini terus saya pelajari setiap hari. Tidak adanya ART di masa lockdown juga membuat manajemen waktu menjadi tantangan tersendiri. 

Dari sisi sosial, anak-anak tidak terlalu mengalami kesulitan karena memang sejak awal kami hidup sebagai keluarga perantau. Kami terbiasa berpindah dari satu state ke state lain karena pekerjaan suami, sehingga lingkup sosial keluarga kami memang kecil. Namun justru dari situ terjalin ikatan keluarga yang semakin kuat antara saya, suami, dan anak-anak. 

Secara teknis, homeschooling relatif mudah kami jalankan karena bahasa Inggris digunakan sebagai bahasa nasional di India, sehingga tidak ada kendala bahasa. Namun untuk bahasa Urdu dan Hindi, kami mengenalkannya sebagai bahasa kedua, sambil tetap mengajarkan bahasa Indonesia. Internet cepat dan murah, jadi pembelajaran daring pun tidak bermasalah. Satu hal yang saya rasakan cukup menantang: harga educational toys di India cenderung lebih mahal dibandingkan di Indonesia. 

Hal yang paling saya syukuri dari homeschooling adalah kreativitas yang tumbuh dari diri saya sendiri. Saya yang dulu perfeksionis belajar untuk melepaskan harapan yang berlebihan. Melihat anak bermain tepung yang berantakan, playdough yang melekat di mana-mana, bentuk cookies yang tak beraturan, atau buku bertebaran di lantai. Itu semua kini menjadi tanda bahwa anak sedang belajar. Saya belajar menerima kekacauan sebagai bagian dari proses tumbuh. Saya belajar bahwa rumah yang “berantakan” bukanlah bukti kegagalan menjadi ibu, tetapi bukti anak sedang mengasah imajinasi dan kemampuan motoriknya. 

Hubungan kami sebagai keluarga pun terasa lebih dalam. Tanpa homeschooling, saya tidak tahu bagaimana kami bisa melewati masa pandemi yang penuh ketidakpastian itu. Homeschooling menjadi cara kami melewati hari dengan penuh makna. Aktivitas yang mempertemukan kami sebagai keluarga, memperkuat komunikasi, dan mengisi waktu dengan kegiatan positif yang dilakukan bersama. 

Setelah pandemi mereda, anak pertama masuk sekolah formal (LKG), sementara saya melanjutkan stimulasi homeschooling untuk anak kedua. Pendidikan akademik formal kami “outsourcing” kepada lembaga sekolah, tetapi sisanya pendidikan agama, life skills, dan kegiatan bermain, tetap kami lakukan di rumah. Berbeda dari kebiasaan keluarga India pada umumnya, kami memilih untuk tidak mengirim anak-anak ke tuitions. Kami 

tetap mempertahankan semangat belajar bersama dalam lingkungan keluarga. Saat ini, setengah jam setelah makan malam adalah bonding rutin belajar bersama, saya dan anak-anak sedang semangat belajar Bahasa Hindi dan Bahasa Kannada, suami semangat dengan Bahasa Jepang. 

Jika ada orang tua Indonesia lain yang ingin mencoba homeschooling, pesan saya adalah: pastikan ayah dan ibu berada pada kesepakatan yang sama. Homeschooling bukan soal materi belajar semata, tetapi soal tujuan, jalur, dan pendekatan. Orang tua perlu memutuskan apakah homeschooling dilakukan sebagai jalur utama atau pendamping pendidikan formal, bagaimana proses administrasinya, dan siapa yang menjadi fasilitator pembelajaran. Belajarlah dari keluarga lain yang lebih dulu menjalankannya, dan jangan takut untuk beradaptasi. 

Pengalaman yang paling unik bagi saya adalah melihat rumah kami perlahan berubah menjadi “laboratorium kecil” yang penuh mainan, alat peraga, bahan art and craft, kardus, botol bekas, dan segala macam benda yang mungkin dianggap sampah bagi orang lain, tetapi bagi kami adalah harta karun kreativitas. Kadang saya harus menguatkan hati untuk melakukan decluttering, tetapi pada dasarnya setiap benda yang ada di rumah memiliki potensi menjadi media belajar.

Jika harus merangkum perjalanan homeschooling kami dalam satu kalimat, saya akan mengatakan: homeschooling menjadi “survival mode” keluarga kami untuk melewati pandemi dan sekaligus strategi menemukan sumber kebahagiaan dan kebermaknaan dalam keluarga untuk terus bertumbuh dalam semangat belajar sepanjang hayat. 

Penulis: Anni’mah tinggal di India yang dapat dikontak via akun instagram zahrazeebee. 

(SIARAN BERITA) Ruanita Indonesia Rayakan Hari Jadi ke-5 dengan Seminar Daring Literasi Finansial untuk Perkuat Ketahanan Ekonomi Masyarakat

Jakarta, 29 Agustus 2026 – Dalam rangka memperingati Hari Lahir Ruanita Indonesia ke-5, Ruanita Indonesia sukses menyelenggarakan Seminar Daring bertajuk “Literasi Finansial sebagai Strategi Bertahan di Tengah Krisis Ekonomi” pada Sabtu (29/8/2026). Kegiatan yang dilaksanakan melalui platform Zoom ini diikuti oleh peserta dari berbagai daerah di Indonesia maupun luar negeri, yang terdiri atas perempuan, keluarga Indonesia, mahasiswa, profesional, dan masyarakat umum.

Seminar ini menjadi bagian dari komitmen Ruanita Indonesia dalam menghadirkan ruang pembelajaran yang relevan dan bermanfaat bagi masyarakat, khususnya perempuan Indonesia, agar semakin siap menghadapi tantangan ekonomi global yang ditandai dengan meningkatnya biaya hidup, ketidakpastian pasar kerja, serta perubahan dinamika keuangan.

Menghadirkan Dessy Rutten, PhD FERSA, Business Change Manager CPO di Rabobank Belanda sekaligus akademisi yang berpengalaman di industri perbankan Uni Eropa, seminar memberikan wawasan komprehensif mengenai pentingnya literasi finansial sebagai fondasi dalam membangun ketahanan ekonomi individu maupun keluarga.

Dalam paparannya, Dessy Rutten menekankan bahwa literasi finansial bukan sekadar kemampuan mengatur pengeluaran, tetapi juga keterampilan memahami risiko keuangan, menyusun perencanaan jangka panjang, membangun dana darurat, serta mengambil keputusan investasi secara bijaksana. Menurutnya, ketahanan finansial dibangun melalui kebiasaan yang konsisten dan disiplin dalam mengelola keuangan, sehingga masyarakat mampu beradaptasi terhadap berbagai perubahan kondisi ekonomi.

Diskusi dipandu oleh Sesilia Susi, Relawan Ruanita Indonesia di Jerman, yang berhasil menghidupkan suasana seminar melalui sesi tanya jawab interaktif. Peserta antusias menyampaikan berbagai pertanyaan seputar pengelolaan keuangan keluarga, strategi menghadapi kenaikan biaya hidup, hingga langkah-langkah mempersiapkan masa depan finansial yang lebih berkelanjutan.

Kegiatan diawali dengan pemutaran cerita sahabat spesial dari para sahabat Ruanita Indonesia sebagai bentuk apresiasi atas perjalanan organisasi selama lima tahun. Suasana penuh kehangatan tersebut menjadi pembuka yang mempererat hubungan antara relawan, mitra, dan masyarakat yang selama ini mendukung berbagai program pemberdayaan Ruanita Indonesia.

Melalui seminar ini, peserta memperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai kondisi ekonomi global beserta dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari, sekaligus memperoleh strategi praktis dalam mengelola keuangan pribadi dan keluarga. Selain memperkuat literasi finansial, kegiatan ini juga menjadi wadah berbagi pengalaman dan memperluas jejaring pembelajaran lintas negara.

Sesilia Susi sebagai perwakilan Ruanita Indonesia menyampaikan apresiasi kepada narasumber, moderator, panitia, relawan, serta seluruh peserta yang telah berpartisipasi dalam menyukseskan program Ruanita Indonesia selama ini. Memasuki usia ke-5, Ruanita Indonesia berkomitmen untuk terus menghadirkan program-program edukatif yang mendukung peningkatan kapasitas perempuan Indonesia serta mendorong lahirnya masyarakat yang lebih tangguh, mandiri, dan adaptif menghadapi berbagai tantangan zaman.

Seminar daring ini diharapkan menjadi langkah nyata dalam menumbuhkan kesadaran akan pentingnya perencanaan keuangan yang sehat dan berkelanjutan, sehingga masyarakat memiliki bekal yang lebih kuat dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi di masa mendatang.

Tentang Ruanita Indonesia

Ruanita Indonesia merupakan organisasi nirlaba yang didirikan oleh Anna Knöbl di Jerman yang berkomitmen pada pemberdayaan orang Indonesia lintas negara melalui berbagai program pendidikan, literasi, pengembangan kapasitas, kepemimpinan, serta penguatan jejaring di tingkat nasional dan internasional. Selama lima tahun perjalanannya, Ruanita Indonesia terus menghadirkan ruang kolaborasi digital yang menginspirasi dan berdampak bagi masyarakat Indonesia di mana saja.

(PODCAST PMI STORIES) Dari Bekerja di Dapur di Dubai Menuju Mimpi Toko Kue

Di balik hiruk pikuk Dubai yang penuh gemerlap, tersimpan kisah seorang perempuan Indonesia yang tengah membangun hidupnya kembali. Pelan namun pasti, dengan keberanian dan keyakinan. Namanya Yuni, pekerja migran Indonesia (PMI) asal Sukabumi, yang menjadikan dapur kecil di negeri orang sebagai jalan untuk menemukan jati diri dan mewujudkan impian. Dalam PMI Stories Episode #4, Yuni berbagi kisah tentang bagaimana ia memulai perjalanan sebagai PMI, melewati pergantian majikan, jatuh bangun dalam bekerja, hingga akhirnya menemukan kekuatan baru lewat usaha kuliner Indonesia yang ia bangun sendiri di Dubai.

Motivasi pertama Yuni ketika memutuskan menjadi PMI sederhana namun penuh makna. Yuni ingin membantu orang tua yang sudah lanjut usia. Baginya, keluarga adalah tanggung jawab yang tak bisa ditawar, dan menjadi PMI adalah cara yang ia pilih untuk memastikan mereka tetap sejahtera. Namun di balik itu, ada sesuatu yang Yuni simpan jauh di dalam hati. Yuni bermimpi membuka toko kue, baik di Dubai maupun di Indonesia.

“Saya ingin punya usaha nantinya, usaha di kue,” tuturnya.

Mimpi itu tidak pernah padam, bahkan ketika hidup sebagai pekerja rumah tangga di luar negeri menguji kesabarannya. Dari kontrak dua tahun tanpa libur hingga berpindah dari satu majikan ke majikan lain, Yuni tetap mempertahankan tekadnya untuk menjadi perempuan yang mandiri. Pertama kali tiba di Dubai pada 2019 lewat agen penyalur, Yuni bekerja dengan keluarga Emirati yang memiliki enam anak. Tidak ada hari libur, namun ia bersyukur mendapat majikan yang baik. Meski demikian, kerinduan untuk merasakan kebebasan membuatnya berpikir ulang tentang jalan hidupnya.

Setelah kontrak berakhir, Yuni memutuskan mencoba cara lain. Yuni bekerja secara mandiri, yakni mencari majikan langsung lewat situs, grup Facebook, hingga Instagram. Cara ini memberi ruang gerak lebih besar, dan perlahan, Yuni merasakan Dubai bukan sekadar tempat bekerja, melainkan tempat ia menemukan dirinya.

“This is me. This is my life.” kata Yuni sekali lagi.

Dubai menjadi cermin yang memperlihatkan siapa Yuni sebenarnya. Ketika kesempatan bazar KJRI Dubai datang, Yuni bersiap menjual roti unyil, spesialisasinya di dunia baking. Tetapi tiga hari sebelum acara, oven satu-satunya rusak. Alih-alih menyerah, seorang teman menyarankan ia mencoba martabak.

Belum pernah membuatnya, Yuni belajar dari YouTube, mencoba sekali, dan berhasil. Di hari bazar, martabaknya laku keras. Ternyata, baru Yuni yang menjual martabak live on the spot. Kini ia berjualan secara online dari rumah majikan, menerima pesanan, mengatur kurir, menulis alamat pelanggan, dan tetap bekerja sebagai PMI. Semua dilakukan dengan satu tantangan terbesar, bagaimana Yuni bisa membagi waktu.

Jika Yuni menengok ke belakang, ia melihat dirinya yang dulu hanya bekerja tanpa tujuan. Hari ini, ia melihat perempuan yang mandiri, percaya diri, bahagia, dan tahu apa yang ingin ia capai.

“This is Yuni. Inilah Yuni yang saya cari.” katanya menutup rekaman podcast.

Melalui Podcast PMI Stories, Produser Anna Knöbl berupaya menghadirkan suara-suara yang kerap terpinggirkan, seperti pekerja migran Indonesia (PMI). Cerita Yuni bukan hanya kisah personal, tetapi cerminan pengalaman banyak pekerja migran perempuan Indonesia tentang keberanian, luka yang dipendam, dan kekuatan untuk terus melangkah.

PMI Stories adalah program audio podcast yang menghadirkan cerita-cerita Pekerja Migran Indonesia (PMI) dari berbagai penjuru dunia. Melalui kisah nyata, para PMI berbagi pengalaman hidup, tantangan yang dihadapi, peluang yang diraih, serta harapan untuk kehidupan yang lebih baik. Dipandu oleh Dewi Lubis, PMI dan perempuan Indonesia yang tinggal di Singapura, PMI Stories menjadi ruang aman untuk bercerita, didengar, dan dipahami. Kami percaya bahwa setiap PMI bukan sekadar angka atau status kerja, melainkan manusia dengan perjalanan hidup, suara, dan cerita yang bermakna. Karena di balik setiap perjalanan migrasi, selalu ada cerita yang layak untuk didengarkan.

Simak selengkapnya dalam program audio podcast PMI Stories berikut ini dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

(IG LIVE) Jarak Bukan Penghalang: Menjaga Waras dan Ikatan Emosional dalam LDR Parenting

Menjalani peran sebagai orang tua pembuat keputusan tunggal di rumah sementara pasangan berada di belahan bumi lain bukanlah perkara mudah. Komunitas Ruanita Indonesia (www.ruanita.com) membedah tuntas realita ini melalui program diskusi IG Live terbarunya. Bersama pemandu acara Rufi, diskusi hangat berdurasi 30 hingga 40 menit ini menghadirkan dua narasumber luar biasa: Mila Siena, seorang ibu yang kini menetap di Bangladesh, dan Reneta Kristiani, seorang psikolog sekaligus mahasiswa PhD yang berbasis di Melbourne, Australia.

Mila Siena membuka cerita dengan membagikan pengalamannya saat terpaksa menjalani Long-Distance Relationship (LDR) Parenting bersama sang suami yang bekerja di Korea Selatan. Terjebak di tengah situasi pandemi COVID-19 dari tahun 2019 hingga 2022, Mila merasakan isolasi yang luar biasa di apartemennya yang terletak dua jam dari Seoul.

“Anak saya saat itu baru berusia empat tahun, sulit berbicara, dan kurang bersosialisasi karena lingkungan kami sepi anak-anak,” kenang Mila.

Keputusan untuk membawa sang anak pulang ke Indonesia pada tahun 2022 ternyata membawa tantangan baru. Perbedaan cuaca dan makanan membuat anaknya sering jatuh sakit setiap bulan. Kondisi fisik anak yang drop ini memicu gesekan emosional dengan sang suami di seberang sana.

“Setiap hari kami bertengkar lewat telepon. Suami selalu mempertanyakan apa yang anak makan, mengapa bisa sakit, dan banyak hal lainnya,” tambah Mila.

Dampak psikologis yang paling menyedihkan bagi Mila adalah keengganan anaknya untuk berkomunikasi dengan sang ayah. Setiap kali melakukan panggilan video (video call), sang anak hanya mau menyapa singkat sebelum akhirnya berpaling dan menyudahi obrolan. Jarak yang membentang perlahan sempat mengaburkan figur ayah di mata sang anak.

Sebagai seorang psikolog, Renetta Christiani meluruskan bahwa setiap anak memiliki cara yang berbeda-beda dalam mengekspresikan kerinduan dan kecemasan mereka saat terpisah dari orang tua. Reaksi anak yang menolak melakukan video call, seperti yang dialami anak Mila bukan berarti mereka tidak sayang.

“Anak-anak sering kali mencoba mengatasi rasa sakit hati dan rindu mereka dengan cara tetap sibuk bermain. Mengharuskan anak duduk diam menatap layar dalam waktu lama sering kali tidak efektif,” jelas Reneta Kristiani.

Reneta Kristiani menambahkan, anak-anak yang terpisah dari salah satu orang tuanya rentan merasa tidak aman (insecure). Mereka kerap menunjukkan kecemasan berlebih, seperti mengalami gangguan tidur atau menjadi sangat manja dan protektif kepada orang tua yang ada di dekatnya karena takut kehilangan figur tersebut.

Salah satu momen krusial yang disoroti Renetta adalah fase adaptasi sosial di sekolah. Anak-anak akan memperhatikan lingkungan sekitar mereka. Saat melihat teman-temannya diantar oleh kedua orang tua secara lengkap di ruang kelas, anak yang menjalani LDR parenting akan mulai bertanya-tanya dan merasakan kekosongan.

Bagaimana cara menjaga kesehatan mental keluarga dan meregulasi emosi anak dari jarak jauh? Renetta dan Mila membagikan beberapa tips praktis:

  • Gunakan Alternatif Komunikasi: Jika anak bosan atau menolak video call, beralihlah ke pesan suara (voice note) atau buat proyek kecil bersama yang dinantikan anak saat waktu mengobrol tiba.
  • Melibatkan Pasangan dalam Aktivitas: Mila menerapkan strategi rutin menelepon suami sebelum anak tidur. Ia juga aktif mengirimkan foto, video tugas sekolah, dan melibatkan suami dalam rapat sekolah anak secara daring.
  • Merawat Memori Masa Lalu: Orang tua di rumah bisa sesekali memutar foto atau video lama untuk memicu ingatan anak tentang momen-momen indah bersama ayahnya, seperti momen makan barbekyu bersama saat sang anak masih balita.
  • Ekspresikan Emosi Lewat Seni: Bantu anak meluapkan emosi, kemarahan, atau kesedihan mereka melalui musik, bernyanyi, atau membuat karya seni bersama.

Di akhir sesi diskusi, Mila menekankan bahwa fondasi terpenting dari keberhasilan LDR parenting adalah kepercayaan penuh dan kesepakatan mutlak antara suami dan istri. Anak-anak, terutama yang masih kecil, sangat membutuhkan kehadiran fisik orang tua mereka. Oleh karena itu, pasangan yang menjalani LDR juga perlu memiliki rencana yang jelas tentang kapan mereka bisa berkumpul kembali sebagai satu keluarga utuh.

“Suami istri harus saling percaya, tidak boleh mudah salah paham, dan selalu mendiskusikan kebutuhan anak bersama-sama. Jangan mengambil keputusan sepihak,” tegas Mila.

Melalui ruang diskusi yang diinisiasi oleh Ruanita Indonesia ini, para ibu dan perempuan lintas negara diingatkan kembali bahwa LDR parenting sangat mungkin dijalani dengan sukses, asalkan komunikasi antar-pasangan tetap terjaga kuat demi stabilitas tumbuh kembang dan kesehatan mental anak.

Program Diskusi IG LIVE dikelola oleh Ruanita setiap bulan dengan berbagai tema yang bervariasi, sebagai jembatan komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) antara orang Indonesia di luar Indonesia dan orang Indonesia di Indonesia untuk berbagi dan berdiskusi bersama, yang memanfaatkan ruang digital seperti platform instagram. Durasi berlangsung sekitar 30 menit yang berlangsung lewat instagram @ruanita.indonesia dan bersama informan lainnya. Pastikan follow akun Instagram @ruanita.indonesia untuk mendapatkan ruang diskusi digital lainnya yang menarik. Simak juga rekaman selengkapnya di kanal YouTube Ruanita-Rumah Aman Kita dan jangan lupa subscribe, ya!

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Makna Kartu Ucapan Mulai dari Relasi Hingga Kesehatan Mental

Di zaman ketika hampir semua ucapan berpindah ke layar ponsel, seorang perempuan Indonesia di Makau tetap memilih cara lama untuk menyampaikan perasaannya, yaitu melalui selembar kartu buatan tangan. Bagi Fransiska Orris-Beding, yang biasa disapa Siska, membuat kartu bukan sekadar hobi. Ia menyebutnya sebagai “cara untuk mengekspresikan diri dan menjaga kewarasan”.

“Membuat kartu itu buat saya bisa mengekspresikan sangat banyak. Tidak hanya kata-kata, tapi juga gambar, kesan saya terhadap seseorang, bentuk perhatian dan penghargaan terhadap orang lain,” kata Siska menegaskan.

Siska sudah tinggal di Makau selama lebih dari 16 tahun. Namun cintanya pada kartu ucapan dimulai jauh sebelum itu, ketika ia masih berusia sekitar 10 tahun.

Saat kecil, ia sering melihat sang kakak membuat kartu kecil untuk diberikan kepada teman-teman. Suatu hari, sang kakak berkata padanya, “Kamu kan sudah lihat saya buat. Kamu pasti bisa. Ini bahan-bahannya, coba kamu bikin sendiri.” Sejak saat itu, Siska mulai membuat kartu untuk Natal dan Valentine. Dari sana lahir kebiasaan yang ia teruskan hingga kini.

Bagi Siska, selembar kartu bukan sekadar media untuk menyampaikan pesan. Ia menyebutnya sebagai potongan kecil dari dirinya sendiri, yaitu sesuatu yang lahir dari waktu, perhatian, dan kasih sayang. Dalam setiap kartu, ia berusaha memasukkan elemen yang menggambarkan penerimanya. Jika seseorang menyukai warna tertentu atau memiliki karakter khas, Siska akan menyesuaikan desain kartunya. “Itu bentuk ekspresi penghargaan dan cinta,” ujarnya.

Ia percaya, hubungan personal antara pembuat dan penerima adalah inti dari makna sebuah kartu. Oleh karena itu, setiap karyanya selalu dibuat dengan hati. Selama masa pandemi, ketika Makau menutup diri dari dunia luar selama hampir tiga tahun, kegiatan sederhana membuat kartu menjadi penyelamat bagi kesehatan mental Siska. Sebagai warga non-residen, ia tidak bisa meninggalkan Makau tanpa risiko tak bisa kembali. Isolasi dan keterbatasan membuat banyak orang kewalahan. Bagi Siska, membuat kartu menjadi terapi yang menenangkan.

Ia menyadari, aktivitas kreatif ini bukan hanya menyehatkan bagi pembuat, tetapi juga memberi dampak positif bagi penerimanya. Kartu menjadi sarana komunikasi emosional dan bentuk perhatian yang hangat di masa-masa sulit. Lebih dari sekadar karya seni, kartu adalah ruang sunyi tempat perasaan diolah dan disampaikan dengan lembut. “Memberi kartu itu menjadi sarana untuk menyatakan perasaan yang sulit diucapkan secara langsung,” katanya. Dalam proses menulis pesan di dalam kartu, seseorang mengambil waktu: berpikir, menimbang kata, dan menulis dengan hati-hati.

Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan tayangan video berdurasi sekitar 10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube Ruanita Rumah Aman Kita dan dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebagai ruang aman berbagi cerita inspiratif perempuan Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Program ini mengangkat pengalaman nyata, perjuangan, serta refleksi para perempuan dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mendorong promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Digagas oleh Anna Knöbl di Jerman, CSS menjadi wadah yang memperkuat suara perempuan, membangun solidaritas, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keadilan serta kesempatan yang setara bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan.

Simak selengkapnya di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami:

(SIARAN BERITA) Peringati Hari Anak Nasional melalui Diskusi Dwi Kewarganegaraan dan Identitas Anak Indonesia di Keluarga Internasional

ISLAMABAD, 26 Juli 2026 – Dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional Indonesia 2026, Ruanita Indonesia sukses menyelenggarakan diskusi daring bertajuk “Anak Global, Identitas Nasional: Memahami Dwi Kewarganegaraan dan Masa Depan Anak Indonesia di Keluarga Internasional” pada Minggu (26/7). Kegiatan yang berlangsung melalui Zoom Meeting ini diikuti sekitar 40 peserta yang berasal dari berbagai negara, terdiri atas orang tua, perempuan Indonesia di luar negeri, pemerhati anak, akademisi, serta masyarakat umum.

Diskusi diselenggarakan sebagai ruang edukasi untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai isu dwi kewarganegaraan, perlindungan hukum anak hasil perkawinan campuran, serta pentingnya membangun identitas nasional bagi anak-anak Indonesia yang tumbuh dalam lingkungan multikultural.

Acara diawali dengan pembukaan oleh Rahmat Hindiarta Kusuma, Koordinator Fungsi Pensosbud KBRI Islamabad, Pakistan, yang menegaskan pentingnya perlindungan hak-hak anak Indonesia di luar negeri, termasuk anak-anak yang berada dalam keluarga dengan latar belakang kewarganegaraan ganda. Dalam sambutannya, ia menjelaskan bahwa Fungsi Pensosbud KBRI memiliki peran dalam memberikan pendampingan, informasi, dan fasilitasi terkait berbagai persoalan sosial dan kekonsuleran yang dihadapi WNI di luar negeri, termasuk isu yang berkaitan dengan status kewarganegaraan anak hasil perkawinan campuran.

Setelah pembukaan tersebut, moderator Dewi N. S. Lubis, Mahasiswa Hukum Universitas Terbuka di Singapura, mengawali diskusi dengan menekankan bahwa Hari Anak Nasional menjadi momentum penting untuk memperhatikan hak-hak anak Indonesia, termasuk mereka yang tinggal di luar negeri dan menghadapi dinamika identitas sebagai bagian dari keluarga internasional.

Pada sesi pertama, Maudy Noor Fadhlia, dosen Hubungan Internasional Universitas Sriwijaya, memaparkan aspek perlindungan hukum internasional bagi anak berkewarganegaraan ganda. Ia menjelaskan berbagai regulasi yang mengatur status kewarganegaraan anak Indonesia, tantangan administrasi, serta pentingnya perlindungan negara terhadap hak-hak anak di tengah mobilitas masyarakat global.

Sesi berikutnya menghadirkan Rina Harahap, Relawan Ruanita Indonesia di Pakistan, yang membagikan pengalaman keluarga Indonesia di Pakistan dalam mengurus dokumen kewarganegaraan anak serta berbagai tantangan administrasi yang dihadapi keluarga lintas negara. Ia menekankan pentingnya memperoleh informasi yang akurat agar orang tua dapat memenuhi hak-hak sipil anak sejak dini.

Pengalaman serupa disampaikan oleh Rindu Ragilia, content creator yang berdomisili di Portugal. Sebagai ibu yang menikah dengan warga Pakistan dan membesarkan anak-anak yang lahir di negara ketiga, ia berbagi kisah mengenai pengasuhan lintas budaya, pengenalan bahasa Indonesia, serta upaya menanamkan nilai-nilai kebangsaan kepada anak-anak yang tumbuh di lingkungan internasional.

Perspektif psikologis disampaikan oleh Reneta, psikolog yang berdomisili di Australia. Dalam paparannya, ia menjelaskan bahwa anak-anak birasial dan multikultural memiliki potensi besar untuk berkembang sebagai individu yang adaptif dan terbuka terhadap keberagaman. Namun demikian, dukungan keluarga tetap menjadi faktor penting dalam membangun rasa percaya diri, identitas diri yang sehat, serta keterikatan terhadap budaya asal.

Diskusi berlangsung interaktif melalui sesi tanya jawab yang membahas berbagai persoalan, mulai dari prosedur kewarganegaraan, hak-hak anak dalam keluarga lintas negara, hingga strategi membangun identitas nasional tanpa mengabaikan realitas sebagai warga dunia.

Melalui kegiatan ini, Ruanita Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan ruang edukasi dan berbagi pengalaman bagi perempuan Indonesia dan keluarga Indonesia di berbagai belahan dunia. Diskusi ini juga diharapkan dapat meningkatkan literasi masyarakat mengenai isu dwi kewarganegaraan, memperkuat jejaring dukungan bagi keluarga Indonesia di luar negeri, serta menjadi referensi publik melalui dokumentasi yang akan ditayangkan di kanal YouTube Ruanita Indonesia.

Peringatan Hari Anak Nasional tahun ini menjadi pengingat bahwa setiap anak Indonesia, di mana pun mereka tumbuh, memiliki hak yang sama untuk memperoleh perlindungan, pengakuan identitas, serta kesempatan berkembang tanpa kehilangan akar budaya dan kebanggaan sebagai bagian dari bangsa Indonesia.

Simak selengkapnya rekaman diskusi daring yang tayang di kanal YouTube kami dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami

(PRODUK) Buku Kumpulan Cerita Fiksi Kolektif: Gema dari Ruang Hening

Buku ini merupakan kumpulan cerita fiksi yang lahir dari pengalaman batin, refleksi, dan imajinasi 25 perempuan Indonesia yang hidup tersebar di 14 negara. Berakar dari kampanye digital Ruanita Indonesia dalam rangka Hari Perempuan Internasional Maret 2026, karya ini menjadi ruang bersama untuk merayakan suara perempuan sebagai warga global yang melintasi batas geografis, budaya, dan identitas.

Setiap cerita menghadirkan potret kehidupan perempuan Indonesia di perantauan: tentang rindu yang tak sederhana, pergulatan identitas di negeri orang, relasi rumah tangga yang kompleks, hingga perjuangan menghadapi diskriminasi, kekerasan, dan kesepian. Di sisi lain, kisah-kisah ini juga menampilkan ketangguhan, keberanian mengambil keputusan, pencarian makna diri, serta upaya membangun mimpi dan kemandirian di tengah keterbatasan.

Dari konflik keluarga, tekanan sosial, hingga pertemuan lintas budaya, para tokoh dalam buku ini bergerak di antara dua dunia, yakni mempertahankan akar sekaligus beradaptasi dengan realitas baru. Ada suara-suara yang dulu dipendam kini menemukan jalannya: tentang menjadi anak perempuan pertama, menjadi istri di tanah konflik, menjadi pekerja migran yang terpinggirkan, hingga menjadi individu yang berani mendefinisikan ulang kebahagiaan dan identitasnya.

Disunting dari hasil Workshop Online Warga Menulis Fiksi, buku ini bukan sekadar kumpulan cerita melainkan arsip hidup tentang pengalaman perempuan Indonesia di panggung global. Ini menjadi bukti bahwa setiap pengalaman perempuan adalah pengetahuan, setiap luka adalah narasi, dan setiap kata adalah bentuk keberanian.


Buku ini mengajak pembaca untuk tidak hanya membaca, tetapi juga mendengar dan merasakan, bahwa di balik jarak dan perbedaan, ada benang merah yang menghubungkan antara perjuangan untuk menjadi diri sendiri dan dunia yang lebih setara.

Nantikan buku ini yang akan dijadikan dalam versi audio dalam produksi bersama secara sukarela dalam waktu dekat.

(PODCAST IN ENGLISH) Dari Lulusan Keperawatan di Indonesia Menjadi Paramedis di Amerika Serikat: Perjalanan Memulai Lagi dari Nol

“Saya pikir memindahkan ijazah ke Amerika Serikat akan mudah. Ternyata tidak.”

Kalimat itu diucapkan Eka Nilawati tanpa dramatisasi. Setelah lebih dari satu dekade berkarier sebagai perawat di Indonesia, termasuk menjadi kepala perawat ICU dan ia membayangkan pengalamannya akan menjadi modal untuk melanjutkan profesi yang sama di Amerika Serikat. Namun, kenyataan berkata lain. Ketika pindah ke Amerika Serikat pada 2016 melalui visa keluarga setelah menikah dengan warga negara Amerika, Eka mendapati bahwa pengalaman profesional yang telah dibangunnya selama bertahun-tahun tidak otomatis diakui. Di balik statusnya sebagai tenaga kesehatan berpengalaman, ia kembali menjadi seseorang yang harus memulai semuanya dari awal. Perjalanan itu bukan sekadar soal administrasi atau penyetaraan ijazah. Ia adalah kisah tentang identitas, migrasi, menjadi ibu, menjadi mahasiswa lagi, hingga belajar menerima bahwa memulai dari nol bukan berarti gagal.

Banyak perempuan Indonesia yang bermigrasi berharap dapat melanjutkan profesinya di negara tujuan. Namun, bagi tenaga kesehatan, proses tersebut jauh lebih kompleks dibanding sekadar menerjemahkan ijazah. Eka menjelaskan bahwa setiap negara bagian di Amerika Serikat memiliki regulasi berbeda terkait pengakuan profesi keperawatan. Proses verifikasi pendidikan, pengalaman kerja, hingga lisensi harus dilakukan melalui lembaga resmi, dan sering kali membutuhkan komunikasi langsung antara institusi di Indonesia dengan otoritas di Amerika. Ketika ia menjalani proses tersebut, Indonesia masih berada dalam masa transisi dari sistem administrasi manual menuju digital. Tidak adanya titik kontak yang jelas untuk proses verifikasi membuat langkahnya terhambat selama bertahun-tahun.

“Yang saya bayangkan sederhana, ternyata membutuhkan waktu, biaya, dan kesabaran yang luar biasa.”

Alih-alih menyerah, Eka memilih jalan lain. Karena belum dapat bekerja sebagai perawat, ia menerima pekerjaan sebagai caregiver di panti lansia. Pekerjaan yang secara administratif hanya membutuhkan ijazah sekolah menengah itu menjadi pintu masuknya kembali ke dunia pelayanan kesehatan. Dari sana, ia mengikuti pelatihan menjadi Certified Nursing Assistant (CNA), kemudian meningkatkan sertifikasinya agar dapat bekerja di rumah sakit.

Lima tahun bekerja sebagai CNA memberinya pengalaman baru mengenai sistem kesehatan Amerika Serikat sekaligus memperlihatkan bahwa perjalanan karier tidak selalu bergerak lurus. Kadang seseorang harus mundur beberapa langkah agar dapat melangkah lebih jauh. Di balik perjalanan profesional tersebut, ada kehidupan lain yang terus berjalan. Eka juga menjalani peran sebagai ibu dari dua anak, bekerja, sekaligus kembali menjadi mahasiswa. Setelah kelahiran anak keduanya, ia memutuskan kembali ke bangku kuliah untuk menentukan arah karier berikutnya.

“Target saya bukan menjadi mahasiswa dengan nilai sempurna. Target saya adalah menyelesaikan pendidikan.”

Pernyataan sederhana itu menggambarkan perubahan cara pandang yang dialami banyak perempuan setelah bermigrasi. Standar kesempurnaan yang selama ini melekat sering kali harus dinegosiasikan dengan realitas kehidupan sehari-hari. Ada waktu ketika buku kuliah harus ditutup karena anak membutuhkan perhatian. Ada saat ketika tugas kuliah dikerjakan setelah semua pekerjaan rumah selesai. Dan ada hari-hari ketika keberhasilan diukur bukan dari nilai A, melainkan dari kemampuan bertahan menjalani semuanya.

Awalnya, Eka berencana kembali menjadi perawat. Namun pandemi mengubah segalanya. Ibunya di Indonesia mengalami stroke. Tidak adanya sistem layanan darurat seperti 911 menyebabkan penanganan medis terlambat diberikan. Tak lama kemudian, ayahnya meninggal dunia akibat komplikasi diabetes setelah mengalami keterlambatan mendapatkan pertolongan. Peristiwa itu mengubah arah hidupnya. Alih-alih kembali menempuh jalur keperawatan, Eka memilih menjadi paramedis. Baginya, profesi tersebut bukan sekadar pekerjaan baru, melainkan cara untuk memahami sistem layanan darurat yang suatu hari nanti ingin ia bawa pulang ke Indonesia. Mimpi itu mungkin masih jauh. Namun justru dari pengalaman personal itulah lahir gagasan tentang perubahan.

Bagi perempuan Indonesia yang ingin melanjutkan karier tenaga kesehatan di Amerika Serikat, Eka memiliki satu pesan utama: persiapan harus dimulai bahkan sebelum meninggalkan Indonesia. Kemampuan bahasa Inggris, sertifikasi seperti IELTS atau TOEFL, memahami persyaratan lisensi di negara bagian tujuan, hingga membangun komunikasi dengan universitas asal merupakan langkah yang dapat menghemat banyak waktu dan biaya. Menurutnya, proses tersebut tidak murah. Namun biaya terbesar justru datang ketika seseorang berangkat tanpa informasi yang memadai.

Di luar seluruh proses administrasi dan pendidikan, ada satu hal yang menurut Eka jauh lebih penting. Bekerja di sektor kesehatan tidak bisa hanya didorong oleh alasan ekonomi. Merawat seseorang pada masa paling rentan dalam hidupnya membutuhkan empati, kesabaran, dan penghormatan terhadap martabat manusia. Ia juga menyoroti pentingnya perlindungan privasi pasien di Amerika Serikat melalui regulasi seperti HIPAA. Bagi tenaga kesehatan, menjaga kerahasiaan informasi pasien bukan sekadar etika, melainkan kewajiban hukum yang dapat menentukan keberlangsungan profesi.

Baginya, budaya menghormati privasi pasien merupakan salah satu pelajaran penting yang layak terus diperkuat di berbagai sistem kesehatan, termasuk di Indonesia. Perjalanan Eka menunjukkan bahwa migrasi bukan hanya perpindahan geografis. Ia adalah proses menegosiasikan ulang identitas profesional, membangun kembali rasa percaya diri, dan menerima bahwa pengalaman panjang sekalipun kadang tidak langsung diakui di tempat baru. Namun, memulai dari awal tidak selalu berarti kehilangan arah. Kadang justru dari titik nol itulah seseorang menemukan alasan baru untuk terus melangkah. Dan bagi banyak perempuan Indonesia di perantauan, keberanian untuk terus belajar, beradaptasi, serta membuka kemungkinan-kemungkinan baru mungkin menjadi bekal paling berharga dalam perjalanan lintas negara.

Tentang Podcast Jibber-Jabber Indonesian Women Abroad

Podcast audio berbahasa Inggris ini merupakan inisiatif Ruanita Indonesia (www.ruanita.com), sebuah organisasi nirlaba yang berkomitmen menciptakan ruang aman bagi perempuan Indonesia di perantauan. Melalui Jibber-Jabber Indonesian Women Abroad, Ruanita Indonesia ingin menghadirkan refleksi perempuan Indonesia dengan interseksionalitas yang dialaminya dalam konteks transnasional, sebagaimana yang digagas oleh Anna Knöbl.

Simak selengkapnya di kanal SPOTIFY dan pastikan FOLLOW untuk mendukung kami.