Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan namaku Nurjannah. Aku lahir dan besar di sebuah kota kecil di Nganjuk, Jawa Timur. Setelah lulus SMA, aku merantau ke Jakarta untuk kuliah sekaligus bekerja. Seperti banyak perempuan muda Indonesia lainnya, aku punya mimpi sederhana: belajar, bekerja, dan membangun kehidupan yang lebih baik. Tak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa suatu hari aku akan tinggal jauh di negeri orang, tepatnya di Jerman, selama bertahun-tahun.
Perjalananku ke Jerman dimulai sekitar tujuh tahun lalu. Proses pindah ke luar negeri tidaklah mudah. Ada banyak urusan administrasi, dokumen, dan adaptasi mental yang harus dipersiapkan. Saat itu aku masih bekerja, jadi untuk menghemat waktu aku menggunakan jasa agen untuk membantu mengurus semua persyaratan administratif. Meski begitu, tetap saja prosesnya panjang dan melelahkan. Namun, aku selalu percaya bahwa perjalanan besar memang dimulai dengan langkah-langkah kecil yang penuh perjuangan.
Aku masih ingat jelas, ketika pesawat mendarat di bandara Jerman untuk pertama kalinya, pikiranku penuh tanda tanya. “Apakah aku bisa betah? Bisakah aku menyesuaikan diri dengan orang-orang di sini? Bagaimana kalau aku kesepian?”
Hari-hari pertama memang tidak mudah. Aku harus menghadapi perbedaan budaya yang cukup mencolok. Salah satunya soal menjaga waktu. Di Indonesia, terutama di kampung halamanku, sering ada budaya fleksibilitas waktu. Janji bertemu pukul 10 pagi bisa mundur hingga setengah jam atau bahkan satu jam, dan itu dianggap wajar. Namun di Jerman, semuanya sangat berbeda.
Jika ingin bertemu dengan seseorang, harus ada janji temu yang jelas. Tidak bisa tiba-tiba datang tanpa pemberitahuan. Ketepatan waktu adalah bentuk penghargaan yang besar terhadap orang lain. Awalnya aku merasa kikuk, bahkan bingung. Namun lama-kelamaan, aku mulai memahami bahwa disiplin waktu bukan sekadar aturan kaku, melainkan bagian dari cara hidup yang menghargai orang lain.
Sahabat Ruanita, mungkin ada yang bertanya-tanya, apa sih sebenarnya cultural switching itu?
Secara sederhana, cultural switching adalah kemampuan seseorang untuk berpindah, menyesuaikan, atau beralih antara satu budaya ke budaya lain, tergantung pada konteks situasi yang dihadapi. Dalam dunia psikologi dan studi lintas budaya, istilah ini sering digunakan untuk menggambarkan bagaimana individu yang hidup di lingkungan multikultural harus beradaptasi dengan aturan, nilai, dan kebiasaan yang berbeda-beda.
Bagi banyak orang Indonesia yang merantau ke luar negeri, cultural switching adalah keterampilan hidup yang harus dikuasai. Mengapa? Karena budaya Indonesia dan budaya negara tujuan seringkali sangat berbeda. Indonesia dikenal dengan nilai kolektivitas, ramah, penuh toleransi, dan cenderung mengutamakan harmoni dalam hubungan sosial. Sementara itu, budaya Jerman lebih individualis, langsung (to the point), dan realistis.
Sebagai contoh, di Indonesia, jika ingin mengkritik seseorang, kita biasanya melakukannya dengan halus agar tidak menyinggung perasaan. Sementara di Jerman, orang terbiasa memberikan kritik langsung tanpa basa-basi. Bagi mereka, kejujuran adalah bentuk penghormatan.
Pada awalnya, aku kaget. Rasanya kok “tajam sekali” ketika orang Jerman menyampaikan pendapat. Tapi setelah dipikir ulang, aku mulai menyadari bahwa itu justru memudahkan. Aku jadi tahu apa yang salah dan apa yang harus diperbaiki, tanpa perlu menebak-nebak maksud di balik ucapan mereka.
Salah satu hal yang paling menantang bagiku adalah bagaimana menerapkan nilai-nilai budaya Indonesia dalam kehidupan sehari-hari di Jerman.
Aku seorang ibu, dan anakku lahir serta tumbuh di sini. Aku ingin anakku mengenal budaya Jerman karena itu adalah lingkungan tempat dia tumbuh besar. Namun di sisi lain, aku juga ingin ia tetap membawa nilai-nilai baik dari Indonesia.
Contoh kecilnya bisa terlihat dari kebiasaan di toilet. Di rumah, aku membiasakan anakku membersihkan diri dengan air, sesuatu yang sangat umum di Indonesia tetapi tidak lazim di Jerman. Ketika di luar rumah, ia bisa beradaptasi dengan kebiasaan setempat, tapi aku selalu mengajarkan bahwa di rumah kita tetap menjaga tradisi dari Indonesia.
Inilah bentuk nyata cultural switching. Anak-anakku belajar bagaimana menyesuaikan diri dengan budaya yang berbeda tanpa kehilangan identitas aslinya.
Yang paling aku syukuri dari pengalaman hidup di Jerman adalah aku jadi lebih percaya diri untuk menjadi diriku sendiri. Di sini, aku merasakan kebebasan untuk mengekspresikan diri tanpa takut dihakimi. Orang-orang cenderung tidak peduli dengan pilihan pribadi kita selama tidak merugikan orang lain.
Hal ini berbeda dengan sebagian budaya di Indonesia, di mana terkadang masih ada tekanan sosial atau pandangan masyarakat yang mengikat. Misalnya, pilihan gaya berpakaian, keputusan menikah atau tidak menikah, atau pilihan karier perempuan sering kali jadi bahan perbincangan. Di Jerman, aku belajar bahwa setiap orang berhak menentukan jalannya sendiri.
Namun, bukan berarti aku harus melepaskan semua nilai dari Indonesia. Justru aku berusaha membawa hal-hal baik dari tanah air, seperti: keramahan, sopan santun, dan kelembutan dalam berbicara. Ini adalah ciri khas orang Indonesia yang membuatku merasa bangga.
Tidak bisa dipungkiri, hidup di luar negeri penuh tantangan. Ada kalanya aku menghadapi situasi sulit: kesepian, rindu keluarga, atau kebingungan menghadapi masalah sehari-hari.
Di saat-saat seperti itu, aku lebih sering mengadopsi gaya Jerman yang realistis dan langsung pada inti masalah. Kalau ada masalah, aku berusaha mencari solusinya secepat mungkin, bukan hanya mengeluh. Budaya Jerman mengajarkanku untuk lebih rasional, lebih lugas, dan lebih fokus pada solusi.
Ada banyak keuntungan tinggal di Jerman. Salah satunya, aku bisa bepergian ke berbagai negara Eropa tanpa perlu visa khusus. Bagi seorang perempuan yang suka menjelajah, ini adalah kesempatan yang luar biasa.
Namun tentu ada juga tantangan. Bahasa menjadi salah satu yang paling besar. Meski aku sudah belajar bahasa Jerman, tetap saja butuh waktu lama untuk benar-benar fasih. Bahasa bukan hanya soal kosakata, tapi juga soal cara berpikir. Budaya Jerman yang to the point membuat cara mereka berkomunikasi berbeda sekali dengan orang Indonesia.
Karena itu, aku selalu menyarankan kepada perempuan Indonesia lain yang ingin pindah ke Jerman: siapkan bahasa dan mental yang kuat. Jangan takut dengan kritik, karena di sini orang tidak ragu untuk menyampaikan kritik secara langsung. Anggaplah itu sebagai masukan yang membangun.
Dari perjalanan hidupku, ada beberapa hal yang ingin kubagikan kepada Sahabat Ruanita atau perempuan Indonesia lainnya yang punya mimpi tinggal di luar negeri:
1. Tetap jadi diri sendiri. Jangan merasa harus mengubah segalanya hanya untuk diterima.
2. Bawa nilai baik dari Indonesia. Ramah kepada orang lain, lembut dalam berbicara, dan sopan santun adalah kekuatan kita.
3. Belajar bahasa sebaik mungkin. Bahasa adalah kunci untuk membuka pintu interaksi dan peluang baru.
4. Siapkan mental yang kuat. Tinggal jauh dari keluarga tidak selalu mudah, jadi penting untuk punya ketahanan mental.
5. Terbuka terhadap perbedaan. Ingat bahwa cultural switching bukan berarti kehilangan identitas, melainkan kemampuan untuk bergerak luwes di antara dua budaya.
Pada akhirnya, bagiku cultural switching bukanlah soal memilih budaya mana yang lebih baik, melainkan soal membangun jembatan di antara dua dunia.
Aku bersyukur bisa belajar disiplin, kejujuran, dan ketegasan dari budaya Jerman. Di saat yang sama, aku tetap membawa kehangatan, keramahan, dan rasa kebersamaan dari Indonesia. Kedua hal ini berpadu dalam keseharian, membentuk versi terbaik dari diriku yang baru.
Setiap kali aku pulang ke Indonesia, aku membawa cerita tentang kehidupan di Jerman. Sebaliknya, setiap hari di Jerman aku juga membawa sepotong Indonesia dalam hatiku. Inilah yang membuat perjalananku sebagai perempuan Indonesia di negeri orang menjadi penuh warna.
Sahabat Ruanita, perjalanan hidupku mungkin hanya satu dari sekian banyak kisah perempuan Indonesia yang tinggal di luar negeri. Namun aku percaya, setiap cerita punya makna. Bagiku, cultural switching bukan sekadar strategi bertahan hidup, melainkan sebuah proses belajar yang membuatku lebih dewasa, lebih kuat, dan lebih menghargai perbedaan.
Semoga cerita ini bisa menjadi inspirasi bagi siapa saja yang tengah bersiap untuk merantau, atau sekadar ingin memahami bagaimana rasanya hidup di antara dua budaya.
Penulis: Nur Jannah, tinggal di Jerman yang dapat dikontak via akun instagram nurjanah_magnus
Notifikasi yang terus berbunyi, kebiasaan membuka media sosial tanpa sadar, grup percakapan yang tidak ada habisnya, hingga tekanan untuk selalu mengikuti informasi terbaru perlahan menjadi bagian dari keseharian banyak orang. Di tengah derasnya arus digital tersebut, ruang untuk benar-benar tenang sering kali semakin sempit.
Fenomena inilah yang diangkat dalam program bulanan Diskusi IG LIVE yang dikelola akun Instagram Ruanita Indonesia pada episode Mei 2026 bertajuk Digital Declutter. Diskusi ini menghadirkan dua narasumber Indonesia yang tinggal di Eropa, yakni Aghata Yasmin, mahasiswa Informatika di Slovenia, serta Fransisca Hapsari, peneliti teknologi pendidikan dan mahasiswa doktoral di Jerman.
Diselenggarakan menjelang peringatan World Telecommunication and Information Society Day pada 17 Mei, diskusi tersebut membahas bagaimana kehidupan digital yang semakin padat tidak hanya memengaruhi fokus dan kesehatan mental, tetapi juga keamanan data pribadi.
Dalam percakapan tersebut, Yasmin menjelaskan bahwa salah satu tantangan terbesar di era digital adalah cognitive load atau beban mental akibat terlalu banyak informasi yang masuk setiap hari. Menurutnya, meskipun notifikasi atau informasi digital tidak tampak secara fisik, otak manusia tetap memproses semuanya secara terus-menerus.
Ia menggambarkan kondisi tersebut seperti meja kerja yang terlalu penuh. Ketika terlalu banyak hal menumpuk secara bersamaan, seseorang menjadi sulit fokus dan lebih cepat merasa lelah. Hal serupa terjadi dalam kehidupan digital ketika seseorang terus-menerus menerima notifikasi media sosial, pesan instan, atau konten baru tanpa jeda.
Pengalaman tinggal di Slovenia juga membuat Yasmin melihat perbedaan budaya dalam penggunaan media sosial. Jika di Indonesia banyak aktivitas sehari-hari cenderung langsung dibagikan ke dunia digital, ia merasa kehidupan di Slovenia lebih memberi ruang untuk hadir secara utuh dalam interaksi nyata.
Ia mulai membiasakan diri menikmati aktivitas tanpa harus terus mendokumentasikan semuanya. Saat pergi hiking bersama teman, misalnya, ia memilih menyimpan telepon genggam di tas agar dapat benar-benar menikmati percakapan dan suasana sekitar.
Selain membatasi paparan digital, Yasmin juga menerapkan kebiasaan sederhana seperti mematikan data internet selama beberapa waktu setiap hari, mengatur ulang galeri foto agar lebih terorganisasi, hingga menyimpan dokumen pribadi di penyimpanan digital yang lebih aman dan terkontrol.
Sementara itu, Fransisca Hapsari menyoroti sisi lain dari kehidupan digital yang sering diabaikan, yakni keamanan data pribadi. Menurutnya, perkembangan teknologi yang sangat cepat dalam dua dekade terakhir tidak hanya membuka peluang positif, tetapi juga meningkatkan risiko kejahatan siber.
Ia menjelaskan bahwa banyak pengguna internet masih menggunakan teknologi secara tidak sadar, mulai dari memberikan data pribadi secara sembarangan hingga menggunakan kata sandi yang sama untuk berbagai aplikasi. Kebiasaan tersebut membuat pengguna lebih rentan terhadap penipuan digital, peretasan, maupun pencurian identitas.
Fransisca membagikan pengalamannya ketika menerima ancaman digital setelah terjadi kebocoran data dari sebuah platform belanja daring di Indonesia. Saat itu ia sempat panik karena menerima pesan yang mengklaim mengetahui kata sandinya dan meminta sejumlah uang. Pengalaman tersebut membuatnya lebih sadar pentingnya keamanan digital dan pengelolaan data pribadi.
Menurutnya, digital declutter bukan hanya soal membersihkan file atau mengurangi penggunaan media sosial, tetapi juga tentang membangun kesadaran terhadap teknologi yang digunakan setiap hari. Ia mengajak pengguna untuk lebih kritis terhadap aplikasi yang diunduh, izin akses yang diberikan, serta kebiasaan digital yang sebenarnya tidak lagi diperlukan.
Diskusi tersebut juga menyinggung bagaimana media sosial memengaruhi kesehatan mental, terutama munculnya rasa lelah, FOMO (fear of missing out), hingga kecenderungan membandingkan hidup dengan orang lain. Yasmin memperkenalkan konsep JOMO atau joy of missing out, yakni kemampuan menikmati hidup tanpa merasa harus selalu mengikuti semua informasi dan tren yang beredar. Menurutnya, ketika seseorang mulai membatasi paparan digital, fokus dan kejernihan berpikir perlahan kembali terbentuk.
Fransisca menambahkan bahwa penggunaan media sosial tanpa tujuan yang jelas sering kali membuat seseorang masuk dalam pola mindless scrolling yang menguras energi mental tanpa disadari. Ia mengingatkan pentingnya membangun kebiasaan digital yang lebih sadar, termasuk membatasi penggunaan gawai sebelum tidur dan mengurangi paparan cahaya layar yang dapat mengganggu kualitas istirahat.
Selain berbicara tentang individu, diskusi ini juga menyoroti pentingnya peran keluarga dalam membangun kebiasaan digital yang sehat. Yasmin menekankan pentingnya menciptakan momen bersama tanpa gawai, seperti makan bersama, memasak, atau berbincang tanpa gangguan layar. Menurutnya, teknologi seharusnya menjadi alat yang membantu kehidupan manusia, bukan sebaliknya mengendalikan manusia. Karena itu, kesadaran untuk memilih apa yang dikonsumsi secara digital menjadi semakin penting di tengah banjir informasi saat ini.
Melalui Diskusi IG LIVE bulanan, Ruanita Indonesia menghadirkan ruang percakapan lintas negara yang membahas berbagai isu keseharian perempuan Indonesia secara reflektif dan relevan dengan perkembangan zaman. Episode tentang digital declutter ini menjadi pengingat bahwa di tengah kehidupan yang semakin terkoneksi, menjaga ketenangan pikiran dan batas sehat dengan dunia digital merupakan bentuk perawatan diri yang juga penting dilakukan.
Simak selengkapnya rekaman program diskusi IG LIVE berikut ini di kanal YouTube Ruanita – Rumah Aman Kita dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.
Halo, sahabat Ruanita! Terima kasih atas kesempatannya. Saya sangat senang memiliki kesempatan untuk berbagi cerita dengan sahabat Ruanita disini. Pada kesempatan ini, saya ingin berbagi cerita tentang pengalaman saya menjalani praktik digital minimalism serta kaitannya dengan kesehatan mental. Meskipun sebenarnya menulis kedua topik ini cukup menantang bagi saya karena saya bukan seorang expert dan bukan seorang digital minimalst sejati seutuhnya.
Dalam cerita ini saya ingin berbagi sesuatu dengan jujur dan apa adanya. Tentu, tulisan ini tidaklah sempurna, namun saya berharap, siapapun yang membaca tulisan ini dapat mengambil sesuatu yang mungkin berguna atau bermanfaat dari praktik digital minimalism sederhana yang telah saya jalani selama beberapa tahun terakhir ini.
Perkenalkan, saya Ihma, sarjana Psikologi lulusan Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Aceh. Sejak tahun 2023, saya bekerja sebagai Community Organizer di Yayasan PASKA Aceh, sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat lokal di Kabupaten Pidie, Aceh. Saya bertanggung jawab untuk mendampingi Rumah Belajar yaitu komunitas penyintas kekerasan di masa konflik Aceh dari beberapa desa pedalaman di Kabupaten Pidie Jaya. Melalui pekerjaan ini, saya terlibat dalam kerja-kerja pemberdayaan, memberikan dukungan psikososial, serta pendidikan kritis bagi masyarakat di akar rumput. Saya juga terlibat dalam kerja-kerja advokasi kepada pemerintah untuk mendorong pemenuhan hak-hak korban konflik yang selama ini terpinggirkan.
Tahun 2024, saya mendapat kesempatan mengikuti program Learning Exchange ke Jerman yang disponsori oleh Asia Justice and Rights dan Watch Indonesia. Di sana, saya belajar langsung tentang isu-isu Hak Asasi Manusia, memorialisasi, dan budaya mengingat di masyarakat Jerman. Sebuah pengalaman yang memperkaya perspektif saya sebagai aktivis muda dari Aceh. Pada Juli 2025, saya memutuskan untuk mengundurkan diri dari PASKA Aceh karena alasan personal. Meski begitu, semangat saya untuk terus terlibat dalam advokasi dan pemberdayaan masyarakat tidak akan berhenti. Kini, saya tengah menata ulang arah hidup, memperdalam kemampuan bahasa Inggris, dan menjalani hari-hari dengan belajar secara mandiri melalui platform belajar daring.
Kalau ditanya apa yang pertama kali membuat saya tertarik dengan dunia psikologi. Sejujurnya, dulu memilih Psikologi sebagai jurusan kuliah saya bukanlah keputusan yang direncanakan matang. Bisa dibilang, itu pilihan yang cukup spontan. Saat pertama kali mendaftar, saya belum tahu banyak tentang Psikologi. Hal yang saya pahami saat itu sangat sederhana, ilmu psikologi adalah ilmu tentang jiwa manusia, dan entah kenapa saya langsung mengaitkannya dengan “orang gila.”
Tapi kalau saya melihat ke belakang, khususnya saat masa SMA, ternyata ada satu pengalaman yang secara tidak sadar menjadi awal ketertarikan saya terhadap dunia psikologi. Waktu itu, saya sering membantu abang saya yang kuliah di jurusan Keperawatan mengerjakan tugas-tugas tentang topik halusinasi, delusi dan waham pada pasien dengan gangguan skizofrenia. Tanpa saya sadari, ternyata saya tertarik dengan bagaimana pikiran manusia bekerja, dan bagaimana kita bisa memahami mereka yang dianggap “berbeda.”
Sekarang saya merasa sangat bersyukur pernah membuat keputusan spontan itu. Karena lewat Psikologi, saya belajar banyak hal, terutama tentang diri saya sendiri. Dulu, saya merasa cukup pendiam, sulit bergaul, dan kurang percaya diri. Tapi dengan memahami Psikologi, saya jadi lebih mengenal diri sendiri, lebih menerima, dan lebih menyayangi diri saya sebagai manusia yang utuh, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Ini berdampak besar pada rasa percaya diri dan cara saya menjalani hidup dan bekerja. Psikologi juga mengubah cara saya melihat dunia yang penuh keberagaman. Saya jadi lebih menghargai bahwa setiap individu itu unik, punya latar belakang, budaya, keyakinan, dan pengalaman yang berbeda-beda. Nilai-nilai inilah yang membantu saya ketika bekerja di masyarakat, membangun empati, menjaga toleransi, tetap rendah hati dalam berinteraksi dengan siapa pun dan menjunjung nilai-nilai kemanusiaan.
Bicara tentang digitalminimalism, saya akan mulai bercerita tentang bagaimana keseharian saya sebelumnya dalam menggunakan teknologi digital. Sebagai bagian dari generasi Z yang memang tumbuh bersama teknologi saya cukup dekat dengan teknologi digital. Bisa dibilang, saya juga sangat bergantung pada media digital. Teknologi sangat membantu saya dalam belajar, berinteraksi, dan mengembangkan keterampilan baru. Tapi di sisi lain, saya juga mengalami dampak negatifnya. Saya termasuk orang yang cenderung sulit lepas dari handphone. Dulu, saya bisa menghabiskan rata-rata 5–6 jam sehari hanya untuk scroll Instagram. Kebiasaan ini mulai terasa mengganggu, terutama saat saya sedang ingin fokus belajar atau bekerja. Bahkan ketika sedang bersama teman-teman, saya sering kali tanpa sadar terus mengecek ponsel dan jadi tidak benar-benar hadir dalam interaksi sosial. Saat itu, saya mulai sadar bahwa meskipun teknologi bisa memberi manfaat besar, tapi kalau tidak digunakan dengan bijak, justru bisa menyabotase waktu, perhatian, dan kualitas hubungan sosial saya sendiri.
Sebenarnya, pertama kali saya berkenalan dengan konsep minimalism secara umum dimulai sejak saya mengikuti akun Instagram lyfewithless di tahun 2020. Namun perkenalan dengan praktik digitalminimalsm dimulai pada tahun 2021, saat saya berkesempatan bertemu dengan Asfinawati yang saat itu menjabat sebagai Direktur Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) dalam sebuah kegiatan yang diselenggarakan di KontraS Aceh.
Pertemuan pertama dengan Mbak Asfin menjadi titik awal yang sangat berkesan. Saya cukup kaget sekaligus kagum ketika tahu bahwa seorang Asfinawati yang sering saya lihat di banyak media, dikenal lantang menyuarakan isu keadilan, dan memiliki pengetahuan yang luas, ternyata tidak memiliki akun media sosial pribadi seperti Instagram, TikTok, YouTube channel dan sebagainya. Bagi saya saat itu, hal ini cukup menggugah. Di tengah era digital yang serba terhubung dan penuh distraksi, pilihan beliau untuk tidak hadir di media sosial justru terasa sangat kuat dan berani. Dari sanalah saya mulai tertarik mencari tahu lebih jauh tentang gaya hidup minimalis dalam hal penggunaan teknologi dan media digital.
Namun jika di ingat kembali, saya bisa bilang bahwa keputusan saya untuk mulai mempraktikkan digital minimalism sangat berkaitan dengan kondisi kesehatan mental yang saya alami. Tepatnya di tahun 2022, saat saya berada di titik hidup yang cukup berat, mengalami krisis eksistensial pasca lulus kuliah dan harus menjalani terapi secara rutin dengan tenaga profesional. Di masa itu, saya mulai belajar kembali tentang diri sendiri, tentang makna hidup, dan nilai-nilai apa yang benar-benar penting bagi saya. Saya masih ingat sekali, setelah menjalani beberapa sesi konsultasi dengan psikiater, saya merasa energi saya jadi cepat sekali habis. Saya menjadi sangat sensitif terhadap emosi dan cerita orang-orang di sekitar saya. Ada satu momen yang membekas, saya pernah menangis tersedu-sedu hanya karena mendengar teman saya bercerita tentang kucing yang mati di jalan. Buat sebagian orang hal itu mungkin sepele, tapi bagi saya saat itu, dunia terasa sangat menyeramkan.
Di tengah kekacauan itu, saya mulai mempertanyakan banyak hal, termasuk kebiasaan saya menggunakan media sosial. Kenapa saya selalu merasa perlu membuka Instagram, Twitter (sekarang X), atau Facebook? Apakah saya benar-benar butuh terkoneksi dengan semua orang? Apakah saya hanya sedang berusaha membuktikan bahwa saya masih “ada”, masih berdaya? Yang paling berat adalah ketika saya tidak bisa menjawab pertanyaan “Kenapa saya harus punya media sosial?”
Pertanyaan-pertanyaan ini terus berputar di kepala saya, hampir setiap hari. Saya merasa dunia bergerak terlalu cepat dan saya tidak punya waktu untuk sekadar menikmati hari-hari saya. Saya lelah. Sampai akhirnya saya mulai mengevaluasi kebiasaan digital saya sendiri, dari tracking waktu penggunaan aplikasi hingga mencoba digital detox kecil-kecilan. Saya kaget ketika tahu bahwa saya bisa menghabiskan 5–6 jam sehari hanya untuk Instagram.
Dari sana, saya mulai mengurangi waktu penggunaan media sosial, membatasi jadwal, berhenti mem-follow akun media sosial yang saya rasa tidak bermanfaat, menonaktifkan beberapa akun media sosial untuk sementara, bahkan menghapus beberapa aplikasi yang sebenarnya tidak benar-benar saya butuhkan. Dalam proses itu, saya mulai banyak membaca dan mencari tahu tentang digital detox, hingga akhirnya saya tahu bahwa apa yang sedang saya lakukan adalah bagian dari praktik digital minimalism. Dan ternyata, saya tidak sendiri. Ada banyak orang lain yang juga menjalani dan mendapatkan manfaat dari gaya hidup ini.
Saat pertama kali saya mulai membatasi penggunaan media sosial, ada beberapa reaksi dari lingkungan sekitar yang saya dapat. Reaksi dari keluarga cukup santai. Keluarga saya memang bukan tipe keluarga yang terlalu bergantung pada media sosial, jadi perubahan ini tidak menjadi masalah besar bagi mereka. Teman-teman saya juga merespons dengan wajar. Saya hanya perlu menjelaskan bahwa saya sedang mengurangi waktu dengan handphone, jadi mungkin saya akan sedikit lambat dalam membalas pesan atau merespons panggilan mereka. Syukurnya, mereka bisa memahami hal itu tanpa drama.
Yang cukup menantang justru datang dari lingkungan kerja. Reaksinya sangat beragam, ada yang menyindir, ada yang marah, bahkan ada yang sampai berhenti berbicara dengan saya karena saya menolak menerima panggilan telepon di luar jam kerja, atau enggan membahas pekerjaan saat sedang tidak sedang bekerja.
Awalnya tentu hal itu tidak mudah bagi saya. Tapi seiring waktu, batasan yang saya tetapkan mulai menjadi hal yang biasa. Penolakan saya menjadi sesuatu yang bisa diterima, sama seperti saya juga belajar menerima bentuk batasan atau penolakan dari mereka. Beberapa rekan kerja saja akhirnya memahami bahwa saya tidak sedang mengabaikan mereka, saya hanya sedang belajar menjaga ruang pribadi saya dan memilih untuk memberikan respons di waktu yang saya rasa tepat.
Sebenarnya, praktik digitalminimalism yang saya jalani bukanlah sesuatu yang instan atau kaku. Tapi lebih pada proses sadar untuk lebih bijak dalam menggunakan teknologi dengan menyesuaikan kebutuhan, kapasitas, dan kondisi saya sendiri.
Beberapa hal yang saya praktikkan antara lain, seperti :
Membatasi waktu bermain media sosial. Setiap aplikasi media sosial saya atur dengan batas waktu tertentu. Tujuannya agar saya lebih sadar berapa lama waktu yang saya habiskan untuk berselancar, dan tidak terjebak terlalu lama di satu aplikasi.
Mengatur waktu penggunaan handphone, terutama sebelum dan sesudah tidur. Saya berusaha berhenti menggunakan handphone minimal satu jam sebelum tidur. Ini membantu saya mendapatkan kualitas tidur yang lebih baik dan tidak terdistraksi dengan notifikasi. Saat bangun pagi pun, saya tidak langsung membuka handphone atau mengaktifkan internet. Meskipun saya cukup fleksibel untuk rutinitas pagi, tapi untuk aturan sebelum tidur benar-benar saya jaga.
Menetapkan batasan untuk urusan pekerjaan. Saya mencoba untuk tidak membahas hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan di malam hari, kecuali jika benar-benar mendesak. Ini penting buat saya agar ada ruang istirahat yang utuh, dan tidak membawa beban kerja ke waktu pribadi.
Menghapus aplikasi yang tidak digunakan. Jika dalam waktu tertentu ada aplikasi yang tidak saya buka atau tidak benar-benar bermanfaat, saya akan menghapusnya. Ini memberi ruang lebih di handphone, sehingga saya dapat menggunakan ruang tersebut untuk hal lain yang bermanfaat.
Merapikan file digital, termasuk foto dan dokumen. Saya juga rutin menghapus foto atau dokumen pribadi yang sudah tidak relevan. Untuk file pekerjaan yang mungkin masih dibutuhkan sewaktu-waktu, saya simpan dalam folder khusus agar lebih mudah ditemukan dan tidak bercampur dengan file pribadi.
Lebih berhati-hati dengan penggunaan internet publik. Sekarang saya sudah tidak menggunakan WiFi gratis dari tempat umum seperti warung kopi, restoran, atau layanan umum lainnya. Praktik digital minimalism ternyata juga membuat saya lebih sadar tentang keamanan digital dan pentingnya menjaga privasi.
Lebih selektif sebelum meng-install aplikasi atau menyimpan file. Sebelum mendownload sesuatu, saya akan bertanya dulu pada diri sendiri, apakah ini benar-benar saya butuhkan, atau hanya karena ikut-ikutan tren? Untuk menjawab pertanyaan ini mungkin saya butuh waktu beberapa hari. Tapi kalau akhirnya saya merasa tidak terlalu penting, ya saya memilih untuk tidak meng-install.
Tentu saja, saya tidak selalu berhasil menjalankan semua ini dengan konsisten. Tapi setiap kali mulai lengah, saya selalu berusaha untuk kembali mengingat niat awal saya untuk hidup lebih tenang, lebih sadar, dan lebih hadir, baik untuk diri saya sendiri maupun untuk orang lain.
Saya tentu saja menetapkan batasan khusus terhadap penggunaan media sosial, ponsel, atau aplikasi tertentu dalam menjalani praktik digital minimalsm ini. Seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya, hampir semua aplikasi media sosial termasuk WhatsApp memiliki batasan waktu khusus. Namun untuk aplikasi seperti Instagram dan TikTok, saya menerapkan batasan yang lebih ketat, karena saya tahu dari pengalaman pribadi bahwa aplikasi-aplikasi ini bisa sangat menyita atensi dan waktu saya. Saya juga menyadari bahwa terlalu lama terpapar konten yang terus-menerus berganti. Terutama yang sifatnya visual dan emosional dapat membuat saya jadi sangat sensitif, mudah terdistraksi, bahkan kadang merasa cemas tanpa alasan yang jelas.
Selain itu, ada semacam tekanan tidak langsung juga untuk terus ter-update, membandingkan diri dengan orang lain, atau merasa harus “ikut” dengan hal-hal yang sebenarnya tidak terlalu penting bagi saya. Dengan menetapkan batasan yang jelas, saya merasa lebih tenang. Saya bisa mengembalikan fokus pada hal-hal yang benar-benar saya pilih untuk diperhatikan. Dan saya juga belajar untuk tidak merasa bersalah jika melewatkan satu dua hal yang sedang ramai dibicarakan atau terjadi di media sosial.
Kunci utama dari memanfaatkan teknologi digital secara bijak terutama untuk mengelola kebutuhan profesional adalah awareness atau kesadaran. Menurut saya, ketika kita tahu dengan jelas apa tujuan kita menggunakan teknologi, apakah untuk riset, membaca, menyusun laporan, atau kebutuhan pekerjaan lainnya, maka kita akan lebih bertanggung jawab dalam menggunakannya. Saya percaya dengan memiliki tujuan yang jelas, kita bisa lebih produktif dan tidak mudah terdistraksi. Dengan melatih awarness terhadap media digital, saya belajar untuk bisa membedakan kapan teknologi menjadi alat bantu yang mempercepat pekerjaan, dan kapan ia justru mengambil alih fokus saya. Bagi saya, teknologi digital bukan sesuatu yang harus dihindari, hanya perlu dikelola dengan bijak supaya tetap bisa meningkatkan kualitas hidup kita, tanpa mengorbankan kesehatan mental, ruang pribadi, atau keseimbangan hidup.
Sebenarnya saya juga punya beberapa rutinitas harian yang sangat membantu saya menjaga batasan penggunaan teknologi digital. Salah satunya adalah olahraga di pagi hari. Setelah bangun tidur, saya biasanya melakukan olahraga seperti jalan dan lari, kemudian melanjutkan dengan bersih-bersih rumah dan mandi sebelum mulai menggunakan media digital. Kalau dipikir-pikir kebiasaan ini dari bangun tidur sampai selesai aktivitas tersebut, saya bisa tidak menyentuh gadget selama 2-3 jam.
Saya bersyukur rutinitas ini membantu saya untuk memulai hari dengan kondisi yang lebih segar dan fokus. Selain itu, kebiasaan saya pada saat belajar juga membantu saya menjaga digital boundaries. Kalau lagi mau fokus, saya biasanya mengaktifkan mode jangan gangu di smartphone. Mode ini membantu saya tetap fokus menggunakan teknologi untuk belajar, tanpa terganggu oleh notifikasi dari media sosial atau aplikasi lain. Menurut saya cara ini sangat membantu saya dalam memanfaatkan teknologi tanpa kehilangan konsentrasi.
Jika membahas mengenai dampak penggunaan digital yang berlebihan terhadap kesehatan mental, menurut saya persoalan ini cukup kompleks. Isu ini telah banyak diteliti, baik di Indonesia maupun di berbagai negara lain, dan mencakup berbagai aspek mulai dari kesejahteraan psikologis, aspek kepribadian, sikap sosial, hingga kaitannya dengan gangguan mental yang lebih serius.
Namun, kalau kita coba lihat dari sudut pandang yang lebih dekat, kita bisa mulai dengan menilai bagaimana kebiasaan digital seseorang memengaruhi cara pandangnya terhadap dirinya sendiri, serta terhadap dunia di sekitarnya. Salah satu laporan dari WHO berjudul Teens, Screens, and Mental Health menunjukkan bahwa remaja yang menggunakan media sosial secara bermasalah cenderung mengalami penurunan kesejahteraan psikologis, gangguan tidur, dan menurunnya performa akademik.
Penelitian lain oleh Widowati dan Syafiq (2022) juga menemukan dampak psikologis negatif yang timbul akibat penggunaan media sosial secara berlebihan. Salah satu penyebabnya adalah informasi yang datang terlalu cepat dan berlebihan (overstimulasi digital), yang bisa memicu fenomena emotional contagion atau penularan emosi.
Akibatnya, seseorang bisa mengalami peningkatan emosi negatif, konflik interpersonal, kecenderungan menunda pekerjaan, manajemen waktu yang buruk, hingga kesulitan dalam mengendalikan diri. Dengan kata lain, penggunaan media digital yang berlebihan berpotensi membentuk citra diri yang negatif, menurunkan produktivitas, serta mengganggu pola hidup sehat, seperti istirahat yang cukup dan rasa aman secara emosional.
Dari sisi yang lain, kita juga bisa melihat bagaimana pola konsumsi digital memengaruhi cara pandang seseorang terhadap dunia. Menurut laporan dari American Psychological Association (APA), terlalu banyak menghabiskan waktu di media sosial dapat meningkatkan kerentanan terhadap paparan konten yang bersifat berbahaya, seperti informasi palsu, ujaran kebencian, hingga konten yang mengandung rasisme atau diskriminasi. Ini terjadi karena mesin pencari dan algoritma media sosial tidak bebas dari bias, sehingga hal ini dapat memperkuat stereotipe yang sudah ada dalam masyarakat (Social Media Brings Benefits and Risks to Teens, APA, 2023). Dengan kata lain, karena adanya bias algoritma, terlalu banyak menghabiskan waktu di media sosial dapat memperparah kondisi sosial masyarakat, yaitu dengan memperkuat prasangka, dan bahkan ikut berkontribusi pada polarisasi (rasisme) di tengah masyarakat.
Kemudian jika bercerita tentang apa saja manfaat psikologis yang saya rasakan sejak menjalani digital minimalism. Sejujurnya banyak sekali manfaat psikologis yang saya rasa berarti dalam hidup saya. Pertama, saya jadi bisa lebih fokus pada hal-hal yang ada di sekitar saya. Saya memberikan perhatian dan energi secara penuh saat berinteraksi dengan orang lain secara nyata, tanpa harus terdistraksi oleh media sosial. Misalnya, saya bisa duduk tenang dan ngobrol dengan teman tanpa bermain handphone. Kecemasan saya yang dulu sering muncul karena takut tertinggal informasi atau merasa harus selalu update di media sosial, kini jauh berkurang.
Saya belajar menerima bahwa setiap orang memiliki proses hidupnya masing-masing, dan berhenti membandingkan diri dengan orang lain di media sosial. Saya bisa melihat bahwa orang-orang biasanya cenderung hanya membagikan sesuatu yang menurut mereka baik, sisi-sisi menarik tentang hidup mereka di media sosial. Memahami hal ini, saya belajar untuk meningkatkan rasa keberhargaan diri saya dan melihat manusia dengan kacamata manusia. Bahwa sebagai manusia, kita tidak mungkin dapat selalu sempurna dalam semua hal, dan itu tidak apa-apa. Seperti kata-kata Laura A. King yang pernah saya baca di buku Psikologi “hidup yang tidak sempurna, tetaplah hidup yang berharga”.
Selain itu, manfaat lain yang saya rasakan sejak menjalani praktik digitalminimalsm adalah saya punya lebih banyak waktu untuk belajar hal-hal baru yang membuat saya bahagia, seperti memasak, belajar bahasa baru, dan berbagai aktivitas positif lainnya. Saya merasa lebih bahagia dari sebelumnya. Saya juga belajar melihat realitas secara lebih nyata dan dekat.
Contohnya, saat mengunggah sebuah konten dan mendapatkan hanya 10 likes, saya berpikir bahwa ada 10 orang nyata yang menyukai konten saya, dan itu sudah lebih dari cukup. Ini mengubah cara saya memandang apresiasi dan ekspektasi sosial. Rasa lega juga datang dari terbebasnya saya dari beban harus memenuhi ekspektasi sosial atau berpura-pura menunjukkan keberdayaan diri di media sosial. Saya jadi punya ruang untuk lebih menerima diri saya apa adanya, dengan segala kekuatan dan kelemahan yang saya miliki.
Manfaat yang paling terasa adalah peningkatan kualitas tidur. Saya tidak lagi cemas sampai susah tidur atau terbangun di tengah malam hanya karena memikirkan konten di media sosial atau hal-hal viral lainnya. Saya belajar untuk menerima bahwa banyak hal di luar kendali saya, dan saya tidak harus mengendalikan semuanya. Saya bertanggung jawab pada hidup saya sendiri, dan saya tidak perlu bertanggung jawab atas bagaimana orang lain menilai saya. Lagi-lagi, saya adalah manusia dan hidup saya berharga.
Jika di tanya apakah saya menggunakan pendekatan psikologis tertentu untuk membantu saya dalam mengurangi ketergantungan digital. Iya, dan saya akan bilang bahwa pendekatan itu sangatlah sederhana dan dapat dilakukan siapa saja; yaitu latihan mindfulness (kesadaran penuh). Mindfulness membantu saya sadar kapan, bagaimana, dan kenapa saya menggunakan teknologi digital, sehingga saya dapat meminimalkan penggunaan media digital tanpa tujuan. Sebagai orang yang juga cenderung cemas, mindfulness membantu saya untuk tetap tenang dan tidak terbawa stres karena overstimulasi digital.
Contoh latihan mindfullness sederhana yang saya lakukan adalah saya melatih diri untuk tahu kapan harus pakai media digital dan kapan harus berhenti. Kalau sedang tidak terlalu perlu buka handphone, saya memilih untuk mengabaikannya. Dari situ, saya belajar menghargai momen yang ada. Misalnya, saat ngopi bareng teman, saya belajar untuk fokus ngobrol tanpa gangguan hp. Selain itu, saya juga berlatih untuk punya waktu tanpa gadget, misalnya saat makan atau istirahat yaitu dengan mematikan notifikasi dan menjauhkan perangkat digital. Ini sangat membantu saya dalam menjaga keseimbangan dan kesehatan mental saya. Saya percaya dengan latihan ini, kita bisa menggunakan teknologi dengan lebih bijak.
Bicara tentang tantangan dalam menjalani parktik digitalminimalsm, hal yang paling menantang bagi saya sebenarnya adalah ketika saya tidak selalu bisa dihubungi dalam situasi penting. Sehingga saya harus bersedia jika hilang dari daftar kontak darurat yang bisa dihubungi orang-orang terdekat saya, karena kebiasaan membatasi penggunaan handphone. Bahkan kadang, saya sengaja tidak membawa gadget saat bepergian, jadi sangat mungkin jika ada hal penting atau mendesak yang terjadi di sekitar saya, saya tidak akan langsung tahu. Saya bersyukur keluarga saya cukup memahami kebiasaan ini. Jadi, jika mereka benar-benar perlu menghubungi saya, biasanya mereka akan mencari tahu lewat orang yang mungkin sedang bersama saya saat itu.
Meski begitu, saya tidak bisa memungkiri bahwa ada rasa sedih dan bersalah ketika saya terlambat mengetahui kabar penting, terutama jika itu menyangkut orang-orang terdekat saya. Namun saya sadar, ini adalah bagian dari konsekuensi yang harus saya hadapi dalam proses menjaga batasan digital. Saya terus belajar untuk mencari cara agar bisa tetap hadir untuk orang-orang terdekat, tanpa harus mengorbankan keseimbangan dan ketenangan diri yang sedang saya upayakan.
Meskipun telah menjalani praktik digitalminimalsm selama beberapa tahun, saya tetap mengakui bahwa saya tidak selalu berhasil mempraktikkannya. Mengingat cara saya dalam menyikapi momen-momen “kambuh” ingin kembali menggunakan media digital secara berlebihan, sangatlah beragam. Contohnya saat saya merasa ingin menonton drama terbaru seharian, maka hal yang saya lakukan waktu itu adalah saya mengunduh aplikasi streaming, menonton sampai saya merasa cukup, lalu menghapus aplikasi tersebut kembali. Namun sebelum itu, saya biasanya akan membuat semacam “perjanjian” dengan diri sendiri. Bahwa saya hanya boleh melakukannya untuk hari ini saja dan harus berhenti sebelum jadwal tidur tiba. Momen seperti ini sebenarnya cukup jarang terjadi, mengingat dulu jadwal dan beban kerja saya lumayan padat.
Contoh lainnya adalah pada saat saya merasa ingin sekali tetap berada di media sosial melebihi batas waktu yang saya tetapkan. Maka cara saya menyikapinya adalah dengan memberi waktu tambahan sekitar 1–10 menit dari batas waktu yang sudah saya tetapkan, agar saya bisa melepas dan merasa cukup. Lalu dapat meninggalkan aplikasi itu dengan tenang, tanpa rasa terpaksa atau menyesal.
Bagi saya, pelajaran paling berharga dari praktik digital minimalism yang saya jalani adalah bahwa memiliki batasan yang sehat (healthy boundaries) merupakan sebuah kekuatan. Di era yang serba terkoneksi dan cepat seperti sekarang, bisa mengatakan “cukup” pada paparan informasi atau interaksi digital adalah bentuk keberdayaan yang tidak semua orang sadari pentingnya. Saya belajar bahwa tidak semua hal perlu diketahui, tidak semua percakapan perlu diikuti, dan tidak semua notifikasi harus segera ditanggapi. Memilih untuk hadir secara sadar dan utuh dalam kehidupan nyata ternyata jauh lebih bermakna dibanding terus-menerus aktif di dunia digital tapi merasa kosong. Saya juga belajar menerima bahwa terkoneksi secara digital bukan satu-satunya cara untuk merasa terhubung dengan orang lain. Kadang, jeda dan jarak justru membuat hubungan terasa lebih tulus dan berkualitas. Yang tidak kalah penting, saya belajar bahwa menjaga diri, baik dari sisi mental, emosional, maupun waktu adalah bentuk tanggung jawab yang tidak egois. Justru dari situlah saya bisa menjadi pribadi yang lebih tenang, lebih fokus, dan lebih hadir dalam hidup saya sendiri
Untuk perempuan Indonesia di mana pun berada, terutama yang sedang merasa lelah, kewalahan, atau kehilangan arah karena terlalu banyak distraksi digital, saya ingin bilang bahwa tidak apa-apa untuk mengambil jarak. Kadang kita tidak bisa melihat sesuatu dengan jelas jika berada terlalu dekat dengan hal itu. Memberi jarak justru membantu kita untuk melihat sesuatu dengan lebih baik. Digital minimalism bukan tentang menjauh sepenuhnya dari teknologi, tapi tentang memberi ruang untuk diri sendiri untuk menilai kembali apa yang benar-benar penting bagi hidup kita. Bagi saya, ini adalah cara untuk menjaga energi, memulihkan fokus, dan memberi ruang bagi hal-hal yang benar-benar membuat kita tumbuh.
Kita semua tau bahwa saat ini kita hidup di zaman yang sangat cepat dan bising, di mana perhatian mudah sekali tercuri. Tapi kita tetap punya kuasa untuk menciptakan ruang tenang dalam hidup kita masing-masing. Punya batasan yang sehat bukan berarti kita tertutup, namun justru hal itu merupakan bentuk dari keberanian untuk menjaga diri dan tetap hadir dengan utuh. Baik untuk diri sendiri maupun untuk orang-orang yang kita cintai.
Kalau kamu tertarik untuk belajar mempraktikkan digital minimalism, kamu bisa mulai dari langkah kecil yang sederhana. Kamu bisa mulai dengan menyadari kapan kamu butuh jeda, dan berikan jeda itu untuk dirimu sendiri, lakukan sesuatu yang bisa membuatmu merasa lebih baik. Entah itu melakukan hobi, belajar atau apapun itu. Kalau kamu sudah mulai mencoba mempraktikkannya dan merasa kesulitan, saya ingin memberi tahu kamu bahwa kamu tidak harus mempraktikkan digital minimalsm dengan sempurna.
Go easy on yourself dan nikmati proses belajar memberi jarak itu. Kamu tau, saya sebenarnya juga tidak selalu melakukannya dengan sempurna dan itu tidak apa-apa. Bagi saya, praktik digital minimalism bukan tentang kesempurnaan praktiknya, tapi soal memilih hadir dengan sadar, dengan tenang dan dengan penuh kasih dalam hidup yang kita jalani setiap hari.
Dalam tulisan ini, saya juga ingin menyebut tokoh inspirasi favorit saya lainnya, dalam proses belajar digital minimalsm, yaitu Marissa Anita, seorang jurnalis dan aktris yang juga terkenal menerapkan digital minimalism dalam hidupnya. Konten-konten Marissa tentang digital minimalism sangat menggugah dan membuka sudut pandang saya, terutama terkait penggunaan media digital. Kamu bisa menemukan konten-kontennya di Channel YouTube, website, dan platform lainnya. Selain itu, saya juga terinspirasi dari komunitas @lyfewithless di Instagram, sebuah komunitas hidup minimalis yang aktif mengkampanyekan gaya hidup minimalisme, termasuk praktik digital minimalism. Dari sana, saya mengenal beberapa orang yang sama-sama tertarik belajar dan menjalani gaya hidup minimalis seperti saya.
Kalau bicara soal buku, sebenarnya saya belum banyak membaca buku best seller tentang digital minimalism seperti karya Cal Newport. Namun, salah satu buku yang sangat berkesan bagi saya adalah buku filsafat berjudul Memaknai Digitalitas karya Reza A.A Wattimena. Meski buku ini tidak terlalu terkenal, buku ini memberikan pemikiran-pemikiran kritis tentang bagaimana kita harus menghadapi digitalisasi, menempatkan diri di dalamnya, dan mencari keseimbangan antara dunia nyata dan dunia digital. Intinya, buku ini mengajak saya untuk terus mengembangkan kesadaran dalam menjalani hidup di era digital. Buku ini juga bisa diakses dengan mudah melalui aplikasi Ipusnas.
Bicara tentang hubungan antara perempuan, teknologi, dan kesehatan mental di masa kini. Saya melihat bahwa perempuan hari ini hidup dalam tekanan yang cukup kompleks. Di satu sisi, teknologi membuka banyak peluang untuk belajar, bekerja, berkarya, dan bersuara untuk perempuan. Tapi di sisi lain, arus informasi dan ekspektasi yang terus-menerus muncul lewat media sosial sering kali membuat perempuan merasa tidak cukup.
Banyak perempuan sering kali merasa tidak cukup pintar, tidak cukup produktif, tidak cukup cantik, tidak cukup “berhasil”. Saya percaya teknologi bisa menjadi alat pemberdayaan bagi perempuan, namun jika tidak disikapi dengan sadar, teknologi juga bisa menjadi sumber tekanan. Terutama bagi perempuan yang terbiasa menempatkan kebutuhan orang lain di atas dirinya sendiri. Terkoneksi terus-menerus bisa membuatnya kehilangan energi dan ruang pribadi yang aman.
Menurut saya, inilah alasan mengapa penting bagi perempuan untuk mulai membangun relasi yang lebih sehat dengan teknologi. Bukan dengan menolaknya, tapi dengan menggunakan teknologi secara sadar, memilih mana yang benar-benar penting, dan berani mengambil jeda saat dibutuhkan. Bagi saya, perempuan yang bisa menjaga batasannya di dunia digital adalah perempuan yang lebih mampu menjaga kesehatannya, baik fisik, emosional, maupun mental. Dan ini adalah bentuk keberdayaan yang tidak kalah penting dari pencapaian lainnya dalam hidup.
Harapan saya, semoga perempuan dapat semakin menyadari pentingnya menciptakan budaya digital yang sehat. Saya ingin perempuan punya keberanian untuk menetapkan batasan yang melindungi kesehatan mental, energi dan diri mereka secara utuh, tanpa merasa bersalah ketika melakukannya. Dengan demikian, kita bisa menjadikan teknologi tidak hanya sekedar alat bantu, tapi juga sumber kekuatan dan kesejahteraan.
Saya percaya, ketika perempuan mampu mengelola hubungan mereka dengan dunia digital secara bijak, hal itu akan membawa perubahan positif tidak hanya bagi diri sendiri, tapi juga bagi keluarga dan komunitas di sekitarnya. Terakhir, semoga semakin banyak perempuan yang merasa diberdayakan untuk menciptakan ruang digital yang sehat dan bermakna, bagi dirinya, bagi kita semua.
Penulis: Ihmatul Hidayah, tinggal di Aceh dan dapat dikontak via akun instagram: Ihmatul_hdyh.
Hannover, 26 April – Di balik layar-layar laptop yang menyala pada Minggu pagi, 26 April 2026, puluhan peserta dari berbagai latar belakang berkumpul dalam satu ruang virtual. Bukan sekadar untuk belajar, tetapi untuk berhenti sejenak. Ini adalah sesuatu yang selama ini terasa sulit dilakukan. Melalui program knowledge sharing yang diinisiasi oleh Ruanita Indonesia, sesi bertajuk “Lelah Tapi Nggak Bisa Berhenti” menjadi ruang refleksi yang hangat sekaligus membuka mata.
Selama dua jam di Zoom, peserta diajak menyelami satu pertanyaan sederhana namun sering diabaikan: kenapa kita tetap berjalan, bahkan saat sudah sangat lelah? Sinyal bahwa ada kebutuhan yang belum terpenuhi. Sinyal bahwa ada batas yang mungkin sudah lama terlewati.
Bagi banyak orang, lelah bukan sekadar kondisi fisik. Kelelahan hadir sebagai akumulasi dari peran yang terus bertambah, sebagai pekerja, anak, pasangan, teman, sekaligus individu dengan mimpi pribadi. Namun alih-alih berhenti, banyak justru terus melangkah.
Dalam sesi ini, Bayu Prihandito mengajak peserta melihat lelah dari sudut pandang berbeda. “Lelah bukan kelemahan,” ujarnya, “melainkan sinyal.”
Diskusi kemudian mengalir ke pola-pola internal yang sering kali tidak terlihat, tetapi sangat memengaruhi perilaku sehari-hari. Mulai dari kebiasaan people-pleasing, rasa tidak enak untuk berkata “tidak”, hingga dorongan untuk selalu memberi lebih, bahkan saat diri sendiri kosong.
Beberapa peserta berbagi pengalaman. Ada yang merasa bersalah saat beristirahat, ada pula yang baru menyadari bahwa kelelahan yang dialami bukan semata karena pekerjaan, tetapi karena sulit menetapkan batasan.
Di titik ini, sesi berubah menjadi ruang yang sangat personal. Bukan hanya mendengar, tetapi juga merasa dipahami. Diskusi kemudian mengalir ke pola-pola internal yang sering kali tidak terlihat, tetapi sangat memengaruhi perilaku sehari-hari. Mulai dari kebiasaan people-pleasing, rasa tidak enak untuk berkata “tidak”, hingga dorongan untuk selalu memberi lebih, bahkan saat diri sendiri kosong.
Beberapa peserta berbagi pengalaman. Ada yang merasa bersalah saat beristirahat, ada pula yang baru menyadari bahwa kelelahan yang dialami bukan semata karena pekerjaan, tetapi karena sulit menetapkan batasan. Di titik ini, sesi berubah menjadi ruang yang sangat personal. Bukan hanya mendengar, tetapi juga merasa dipahami.
Peserta juga diperkenalkan pada cara-cara praktis untuk mulai menetapkan batasan. Mulai dari komunikasi asertif hingga mengenali tanda-tanda awal kelelahan emosional sebelum menjadi burnout. Program ini tidak hanya menjadi ruang transfer pengetahuan, tetapi juga ruang aman untuk berbagi. Tawa kecil, anggukan setuju, hingga cerita yang nyaris serupa menciptakan rasa kebersamaan yang kuat.
Di akhir sesi, banyak peserta tidak hanya membawa pulang pemahaman baru, tetapi juga kesadaran bahwa mereka tidak sendiri.
Sebagai catatan penting, tujuan dari program Knowledge Sharing adalah berbagi pengetahuan, pengalaman, dan praktik baik dari para praktisi kesehatan mental Indonesia di berbagai negara, dengan menghadirkan ruang aman untuk mempromosikan kesehatan mental yang inklusif dan selaras dengan nilai-nilai Indonesia.
Program ini merupakan bagian dari inisiatif Ruanita Indonesia yang didirikan dan dikelola oleh Anna Knöbl di Jerman, sebagai ruang kolektif digital berbasis manajemen nilai, resource sharing, dan intervensi komunitas dalam konteks lintas negara. Inisiatif ini berfungsi sebagai social support system yang memanfaatkan teknologi digital modern sebagai medium interaksi dan pembelajaran.
Memperingati Hari Kartini pada 21 April ini, Ruanita Indonesia menghadirkan program audio podcast spesial berbahasa Inggris, Jibber-jabber Indonesian Women Abroad episode ke-6. Kita akan mendengarkan bagaimana perjalanan dari ruang kelas di Chiang Mai hingga ruang rapat perusahaan teknologi di Zurich, dari Hesti Aryani dalam belajar memahami dunia melalui bahasa.
Dalam podcast Jibber JabberIndonesian Women Abroad, dari Ruanita Indonesia, Hesti berbagi kisahnya sebagai perempuan Indonesia yang hidup dan bekerja di luar negeri, menavigasi identitas, bahasa, dan sistem yang sering kali kompleks bagi pendatang baru.
Pada usia 21 tahun, Hesti menerima kesempatan mengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) di Chiang Mai, Thailand. Tanpa banyak persiapan, bahkan tanpa penguasaan bahasa lokal, Hesti melangkah keluar dari zona nyaman. Dari situ, pintu-pintu lain terbuka, hingga akhirnya membawanya ke Swiss pada 2019, tepat sebelum pandemi. Namun, seperti banyak cerita migrasi lainnya, perjalanan ini bukan tanpa kejutan.
“Saya selalu membayangkan kalau pindah ke luar negeri, itu ke negara berbahasa Inggris,” ujarnya. “Tapi hidup punya rencana lain.”
Tiba di Swiss, Hesti dihadapkan pada realitas yang lebih kompleks dari sekadar perbedaan bahasa. Negara dengan empat bahasa nasional ini menuntut lebih dari kemampuan berbahasa Inggris.
Dari mengurus asuransi, mencari tempat tinggal, hingga membuat janji dokter. Semuanya dilakukan dalam bahasa Jerman. Bahkan dokumen resmi dan komunikasi administratif hampir sepenuhnya menggunakan bahasa lokal.
“Bukan cuma soal bahasa,” jelasnya. “Tapi juga memahami konteks budaya, cara komunikasi, bahkan cara berpikir yang sangat terstruktur dan sistematis.”
Pengalaman ini memperlihatkan bahwa bahasa adalah pintu masuk ke sistem Kini, Hesti bekerja sebagai profesional di perusahaan teknologi di Zurich. Perannya berada di persimpangan antara bisnis, bahasa, dan teknologi mulai dari melatih model kecerdasan buatan hingga membangun kemitraan lintas budaya.
Menariknya, latar belakang linguistiknya justru menjadi kekuatan utama.
Ia membantu “menerjemahkan” bukan hanya bahasa, tetapi juga makna, konteks, dan nuansa, yakni sesuatu yang belum sepenuhnya bisa dilakukan mesin.
“Teknologi penting, tapi empati dan pemahaman manusia tetap tidak tergantikan,” tegasnya dan tanpa kunci yang tepat, akses menjadi terbatas.
Kisah Hesti adalah cerminan pengalaman berlapis yang dialami banyak perempuan Indonesia di luar negeri di mana identitas sebagai perempuan, migran, profesional, dan pembelajar bahasa saling beririsan. Ini bukan hanya tentang berpindah tempat, tetapi tentang membangun ulang diri di lingkungan yang baru.
Dan mungkin, seperti yang ditunjukkan Hesti, kuncinya bukan pada seberapa siap kita saat memulai melainkan seberapa terbuka kita untuk terus belajar di sepanjang perjalanan.
Tentang Podcast Jibber-Jabber Indonesian Women Abroad
Podcast audio berbahasa Inggris ini inisiatif Ruanita Indonesia (www.ruanita.com), sebuah organisasi nirlaba yang berkomitmen menciptakan ruang aman bagi perempuan Indonesia di perantauan. Melalui Jibber-Jabber Indonesian Women Abroad, Ruanita Indonesia ingin menghadirkan refleksi perempuan Indonesia dengan interseksionalitas yang dialaminya dalam konteks transnasional, sebagaimana yang digagas oleh Anna Knöbl.
Simak selengkapnya di kanal SPOTIFY berikut dan pastikan FOLLOW untuk mendukung kami.
Halo, sahabat Ruanita! Aku, Cindy, perempuan Indonesia yang kini menjalani babak baru kehidupan sebagai ibu di Vietnam. Kisahku bermula lebih dari tiga belas tahun lalu, ketika tahun 2012 aku berangkat ke Jerman untuk menempuh kuliah S1 jurusan Arsitektur di Hannover. Aku melanjutkan S2 di Cologne dan aku bertemu dengan suamiku, seorang pria Jerman. Setelah lulus, aku bekerja selama tiga tahun di sebuah perusahaan pemerintahan di Jerman.
Tahun 2023, hidupku memasuki fase baru. Aku menikah dengan suamiku dan tak lama kemudian, kami mendapat kabar bahwa pekerjaannya membawa kami ke Vietnam, tepatnya ke kota pantai kecil bernama Quy Nhon.
Perusahaan Jerman tempatnya bekerja menugaskannya mengurus pabrik di sana. Aku mendukung penuh keputusan ini, karena aku pun menyukai pengalaman mengenal budaya dan negara baru. Jadilah kami memulai petualangan baru di Vietnam.
Hidup di Vietnam sangat berbeda dengan di Jerman. Di Jerman, aku terbiasa menikmati udara segar, keindahan empat musim, dan ketenangan kota-kota kecil. Aku dan suamiku sering mendadak pergi hiking atau menjelajah kota tetangga.
Di Quy Nhon, meski ada pantai yang indah, aku merindukan suasana hijau, dingin, dan adem-ayem ala Jerman. Vietnam terasa lebih riuh, semrawut, dan sulit dijangkau secara bahasa.
Komunikasi menjadi tantangan karena kami tidak bisa berbahasa Vietnam, membuat interaksi sosial terasa terbatas. Natal dan Paskah yang biasa dirayakan dengan hangat di Jerman, di sini terasa tidak ada artinya.
Kehamilan pertamaku menjadi tantangan besar, terlebih di negeri orang. Tiga bulan pertama adalah masa yang berat. Aku mengalami mual hebat, muntah-muntah, bahkan bau makanan atau air pun membuatku pusing. Aku berhenti dari pekerjaan online-ku karena kesehatan tidak memungkinkan. Yang paling terasa adalah rasa sepi, karena tidak ada keluarga atau teman dekat di sini. Mungkin juga aku terkendala oleh bahasa di sini.
Untungnya, ketika usia kandungan memasuki empat bulan, aku sempat pulang ke Indonesia selama sebulan. Itu menjadi momen yang sangat menyenangkan sekaligus mengisi energi untukku. Aku juga merasa beruntung memiliki seorang teman Vietnam yang selalu menemani setiap kali kontrol kehamilan. Ia menjadi penerjemah, karena dokter di kota kecil seperti Quy Nhon jarang bisa berbahasa Inggris. Meski fasilitas medis di sini cukup modern, kebersihannya tidak sebaik di Jerman. Namun, biaya layanan medis di Vietnam sangat terjangkau, bahkan tanpa asuransi pun tidak terasa memberatkan.
Di Quy Nhon, tidak ada satu pun orang Indonesia. Teman-teman kami sebagian besar adalah ekspatriat atau orang Vietnam yang bisa berbahasa Inggris. Dukungan mereka terasa berarti, terutama saat mendampingi kami menghadapi proses kehamilan dan persalinan. Mereka membantu menjadi penerjemah, memberikan informasi rumah sakit, bahkan sekadar berbagi pengalaman.
Pengalaman melahirkan di Vietnam juga sangat berbeda. Rumah sakit tidak menyediakan perlengkapan dasar seperti popok, selimut, sabun, hingga alat mandi bayi. Semua harus dibawa sendiri. Layanan seperti membersihkan ibu pascaoperasi, memandikan bayi, atau mengganti sprei harus dipesan secara terpisah. Bahkan makanan untuk pasien pun tidak disediakan, karena keluarga biasanya yang merawat pasien. Di sisi lain, biaya rumah sakit jadi jauh lebih murah, karena yang dibayar hanya paket operasi, dokter, dan kamar rawat inap.
Selama tinggal di Jerman, aku terbiasa dengan budaya mandiri. Semua urusan rumah dan anak dikerjakan sendiri tanpa bantuan nanny. Yang istimewa, pemerintah memberikan fasilitas Vater/Mutterzeit, atau yang disebut sebagai cuti melahirkan dan mengasuh anak dengan gaji tetap, sehingga orang tua punya waktu berkualitas bersama bayi. Fasilitas umum pun mendukung, seperti taman hijau, playground, serta kursus ibu dan anak.
Di Indonesia atau Vietnam, budaya kekeluargaan lebih kental. Anak biasanya diasuh bersama kakek-nenek, atau dititipkan di daycare dengan biaya relatif terjangkau. Namun, fasilitas hijau untuk anak bermain tidak banyak. Di Indonesia, anak lebih sering diajak ke mal atau dikenalkan dengan gadget sejak dini.
Di Vietnam, aku sempat kaget dengan kebiasaan mereka bicara dengan nada keras, bahkan kepada bayi. Kadang bayi diberikan mainan yang sangat berisik sebagai hiburan. Selain itu, anak-anak di sini umumnya masuk daycare sejak usia satu tahun karena kedua orang tua bekerja. Daycare bahkan buka hingga Sabtu, sehingga anak menghabiskan sedikit waktu dengan orang tuanya.
Saat aku memesan layanan memandikan bayi, ada tradisi unik. Bayi ditempelkan daun-daunan yang dibakar, katanya untuk kesehatan dan kehangatan tubuh. Aku dan suami memilih pendekatan campuran. Tidak sepenuhnya gaya Eropa, Indonesia, atau Vietnam, tapi yang penting kami punya waktu berkualitas dengan anak.
Suamiku, meskipun sibuk bekerja, ikut terlibat penuh mengurus bayi. Kami berbagi tugas secara setara. Aku ingin anak kami tumbuh dekat dengan alam dan tidak terlalu sibuk dengan gadget.
Masa setelah melahirkan adalah fase paling berat. Setelah keluargaku yang sempat datang dua minggu kembali ke Indonesia, aku merasakan kesepian yang luar biasa. Suamiku sering harus mengambil cuti untuk membantu mengurus bayi yang selalu menangis. Tidur hanya tiga jam per malam, tangan pegal karena harus menggendong terus, payudara bengkak karena aktivitas menyusui semuanya terasa melelahkan.
Aku juga sempat merasa kehilangan diriku sendiri. Hidup seolah hanya berputar pada bayi. Mau mandi atau makan pun harus cepat-cepat sebelum bayi menangis, apalagi kami sendirian di Vietnam tanpa keluarga dan terkendala bahasa. Aku sangat khawatir, jika kami berdua sakit, siapa yang akan menolong untuk mengurus bayi kami.
Kadang aku bertanya-tanya, apakah aku melakukan yang benar? Apakah aku cukup baik sebagai ibu?
Suamiku menjadi penopang utama, baik fisik maupun mental. Ia rela bangun tengah malam untuk mengganti popok agar aku bisa sedikit beristirahat setelah menyusui. Saat akhir pekan, ia sepenuhnya mengurus bayi supaya aku bisa punya me-time. Aku bersyukur karena meski waktu berdua nyaris tidak ada, dia tetap sabar dan memahami perubahan besar yang kami alami.
Kehamilan dan kelahiran membuatku banyak merenung. Kenapa aku ingin punya anak? Jawabannya sederhana, yakni karena aku ingin mencintai manusia kecil ini tanpa pamrih. Seorang bayi tidak pernah meminta dilahirkan, maka sudah seharusnya aku memberikan seratus persen cintaku tanpa mengharapkan balasan.
Sekarang aku menjadi sangat menghargai peran seorang ibu, apalagi mereka yang punya banyak anak dan tetap harus mengurus keperluan rumah tangga. Walaupun terkadang capek dan berat di awal, pengalaman dan peran menjadi seorang ibu untukku sangat berharga. Aku kini sangat bahagia menjalaninya. Rasanya bahagia sekali melihat senyum bayi hanya karena hal-hal kecil. Menjadi orang tua juga berarti punya kesempatan untuk mengenalkan dunia pada anak.
Di Vietnam, aku tidak menemukan komunitas Indonesia secara offline, tapi aku sangat terbantu dengan komunitas daring, terutama grup ibu menyusui di Indonesia. Aku sangat terbantu dengan teman-teman di Jerman dan Indonesia. Aku juga sering berbagi cerita dengan teman-teman di Jerman, kakak, ibuku, bahkan teman Vietnam yang berpengalaman hamil di kota ini.
Sharing sangat penting agar tidak merasa sendirian. Aku juga selalu jujur dengan suamiku, apalagi soal kelelahan atau rasa sedih. Aku berharap bisa menjadi orang tua yang baik dan sabar, meskipun lelah. Aku ingin cinta dengan suami tetap tumbuh seiring kehadiran anak kami.
Di negara asing ini, kami belajar menjadi tim yang kuat, menghadapi tantangan bersama, dan tetap bisa menikmati petualangan. Hari-hariku kini sepenuhnya untuk bayi. Keluar rumah hanya saat malam atau akhir pekan. Weekend bersama keluarga adalah momen berharga. Kami pergi ke pantai atau kafe sekadar mencari suasana baru. Awalnya rutinitas ini terasa berat, tapi melihat bayi kami tumbuh dan belajar hal baru setiap minggu, aku merasa semua lelah terbayar.
Aku memilih berbicara dengan bayiku dalam bahasa Indonesia. Aku juga ingin mengenalkan budaya Indonesia sejak dini. Suamiku sudah cukup mengenal budaya ini, karena sering berinteraksi dengan keluargaku. Aku berharap bisa sering pulang ke Indonesia dan Jerman agar anakku lebih dekat dengan akar budayanya.
Kisah ini adalah catatan perjalanan seorang ibu baru di negeri asing. Tidak mudah, tapi ada kebahagiaan di setiap peluh dan air mata. Seperti kata orang, menjadi ibu adalah pekerjaan paling berat sekaligus paling membahagiakan di dunia.
Penulis: Cindy, relawan Ruanita dan sekarang sedang menetap di Vietnam. Cindy dapat dikontak melalui akun instagram cinguch atau kanal YouTube-nyaCindy Guchi.
Dalam edisi spesial Hari Kesehatan Dunia, Podcast Rumpita – Rumpi bersama Ruanita – menghadirkan narasumber istimewa: drg. Natalia Ekapuntri, seorang dokter gigi asal Indonesia yang kini tinggal dan berpraktik di Belanda.
Bersama Anna di Jerman dan Dianita di India, diskusi podcast Rumpita kali ini menyoroti pentingnya kesehatan mulut dan gigi anak-anak, serta berbagai tantangan dan sistem pelayanan kesehatan gigi di Belanda.
Saat pertama kali pindah ke Belanda, Natalia tidak bisa langsung membuka praktik. Ia harus mengikuti serangkaian uji kualifikasi, mulai dari uji bahasa Belanda setara IELTS, hingga tes teori dan praktik kedokteran gigi yang sangat ketat. Proses ini memakan waktu hingga dua tahun, apalagi sambil mengurus keluarga dan membesarkan anak.
Di Belanda, sistemnya menekankan tanggung jawab individu. Semua dokter, termasuk dokter gigi, harus melalui validasi menyeluruh sebelum bisa praktik,” ujar Natalia.
Diskusi kemudian mengarah pada kasus anak-anak yang takut ke dokter gigi. Diana, co-host yang tinggal di India, bercerita tentang putranya yang mengalami trauma karena pengalaman buruk saat pemeriksaan di sekolah. Anak-anak lain menangis dan berteriak, dan sejak itu putranya enggan ke dokter gigi.
Natalia menanggapi dengan menyampaikan bahwa trauma seperti ini bisa dipahami, tetapi bisa dipulihkan. Yang terpenting adalah membangun kepercayaan anak terhadap dokter gigi, mulai dari hal sederhana seperti menyambut dengan ramah, mengenalkan alat-alat secara visual, hingga memberi ruang komunikasi yang nyaman.
“Saya selalu bilang ke pasien anak, saya bukan sekadar dokter gigi, saya adalah teman mereka yang ingin tahu pengalaman mereka,” jelas Natalia.
Natalia menekankan bahwa merawat gigi bukan hanya soal teknis. Seorang dokter gigi harus juga memiliki empati dan pendekatan holistik, karena banyak kasus gigi berkaitan dengan masalah sensorik, psikologis, hingga neurologis. Ia pernah menangani anak dengan autisme yang awalnya sulit ditangani, namun setelah observasi dan pendekatan bersama keluarga, anak tersebut dapat dirawat dengan lebih baik.
Saya bukan hanya memeriksa gigi. Saya bertanya, ‘Apa makanan favoritmu? Apakah kamu suka tekstur tertentu?’ Dari situ saya bisa mendeteksi apakah ada indikasi kebutuhan khusus,” ungkapnya.
Salah satu keunggulan sistem kesehatan gigi di Belanda adalah akses gratis bagi anak-anak hingga usia 18 tahun. Bahkan, ada program dari organisasi yang mengunjungi sekolah-sekolah dengan unit mobil perawatan gigi untuk memberikan edukasi dan pencegahan sejak dini.
Anak-anak dikenalkan pada alat seperti kaca mulut dan disikat bersama sambil belajar. Edukasi ini diberikan secara individual, bukan massal, sehingga anak-anak merasa lebih aman dan diperhatikan.
Podcast ini menjadi pengingat pentingnya peran dokter gigi dalam membangun kepercayaan dan menciptakan ruang aman untuk anak-anak. Bagi para orang tua, penting juga untuk tidak memaksakan perawatan, tetapi memberikan pemahaman dan menjadi jembatan kepercayaan antara anak dan dokter.
“Sama seperti mobil yang harus diservis rutin, mulut dan gigi juga perlu dikontrol setiap enam bulan,” tutup Natalia dengan analogi yang sederhana tapi mengena.
Simak selengkapnya diskusi PODCAST RUMPITA di Kanal Spotify RUMPITA dan pastikan FOLLOW untuk mendukung kami.
Jika ada satu kata untuk menggambarkan hubungan saya dengan Papa, maka kata itu adalah hangat. Sejak kecil, Papa hadir dengan cara yang dekat, penuh dukungan, dan membuat saya merasa aman. Bukan hanya saya, kakak dan adik saya pun akan mengatakan hal yang sama. Kami bertiga sungguh beruntung, karena punya seorang ayah yang hadir sepenuh hati di masa tumbuh kami.
Sulit untuk menunjuk satu momen yang paling berkesan, karena hampir di setiap fase hidup, Papa selalu ada. Beliau bukan tipe yang sempurna tanpa cela dan memang tidak ada manusia yang demikian. Namun, dalam diri Papa, saya menemukan figur ayah yang cukup. Cukup dalam arti memberi dukungan emosional, cukup dalam arti hadir di saat dibutuhkan, cukup dalam arti menjadi tempat pulang.
Dengan latar belakang psikologi, saya memahami istilah father complex atau kadang disebut juga daddy issues sebagai kondisi yang berakar dari hubungan sulit dengan figur ayah. Entah karena ayah terlalu dominan, dingin secara emosional, terlalu sering mengkritik, absen secara fisik, atau bahkan menyakiti. Meski tidak masuk dalam kategori resmi seperti DSM V atau ICD-10, dinamika ini nyata terlihat dalam kehidupan banyak orang.
Dampaknya bisa beragam, seperti: kesulitan mempercayai orang lain, sulit menjalin kedekatan emosional, atau kebutuhan besar akan validasi dari figur dominan. Ada juga yang kemudian membawa pola itu ke dalam relasi romantis atau relasi kerja dengan figur otoritas.
Dalam diri saya sendiri, tidak ada gejala yang terlalu menonjol. Namun, saya bisa mengenali adanya kebutuhan validasi tertentu dari figur otoritas. Sisi positifnya, hal ini membuat saya berusaha keras di sekolah dan kuliah. Pada akhirnya, nilai saya bagus, bahkan beberapa kali juara kelas. Tapi di sisi lain, diskusi dan perdebatan dengan Papa melatih saya untuk tidak menerima begitu saja otoritas apa pun. Bagi saya, sesuatu harus masuk akal dulu sebelum saya bisa menerimanya. Itu mungkin salah satu warisan paling berharga dari relasi kami.
Papa dan Mama berasal dari latar budaya berbeda, tetapi sama-sama tumbuh dalam nilai-nilai yang memberi tempat lebih bagi anak laki-laki ketimbang perempuan. Namun, dalam praktiknya mereka memilih untuk memperlakukan kami bertiga dengan setara. Pendidikan yang terbaik sesuai kemampuan dan minat diberikan, tanpa membedakan jenis kelamin. Itu keputusan yang sederhana, tetapi dampaknya besar dalam hidup saya.
Saat tumbuh, saya melihat figur ayah dalam budaya populer sering digambarkan sebagai kepala keluarga yang berwibawa, mencari nafkah, menegakkan aturan, membaca koran di beranda rumah, sementara urusan dapur dan anak diserahkan pada ibu. Gambarannya klasik, yaitu berpakaian safari, rokok, dan kopi buatan istri.
Kini, gambaran itu bergeser. Ayah-ayah masa kini lebih terlibat dalam pengasuhan anak, lebih hangat, lebih dekat secara emosional. Namun, di banyak keluarga, keputusan akhir tetap dianggap ranah ayah. Pergeseran peran ini menghadirkan dinamika baru, kadang juga konflik, tergantung konteks sosial dan budaya masing-masing.
Ada satu titik balik dalam relasi saya dengan orang tua, baik Papa maupun Mama, di mana saya mulai menyadari bahwa mereka manusia biasa. Waktu kecil, orang tua tampak seperti pahlawan super. Mereka seperti tak pernah lelah, selalu tahu jawaban, mampu mengatasi segalanya. Tapi seiring saya tumbuh, saya melihat mereka juga bisa salah, lelah, bahkan sakit.
Kesadaran itu menjadi tanda bahwa saya sedang beranjak dewasa. Saya belajar melihat mereka bukan hanya sebagai orang tua, tapi juga sebagai manusia dengan keterbatasan. Dari situ, hubungan kami berubah. Dari relasi yang timpang menjadi relasi yang lebih setara, terutama ketika saya mulai dewasa.
Sekarang, ketika Papa sudah tiada, keinginan terbesar saya terhadap beliau hanya satu, yakni rindu. Saya merindukan kehadiran fisiknya, diskusi-diskusi panjang, perdebatan seru, atau sekadar menanyakan pendapat beliau tentang banyak hal.
Tahun-tahun terakhir hidupnya, hubungan kami semakin matang. Papa makin menghargai kemandirian saya dalam mengambil keputusan, dan saya merasa lebih dihargai sebagai individu dewasa. Meski demikian, di mata saya, saya akan selalu tetap menjadi putrinya.
Bagi saya, berbicara tentang father complex pada akhirnya adalah berbicara tentang dinamika relasi kuasa. Saat kita masih kecil, relasi dengan orang tua memang tidak seimbang. Mereka yang memutuskan, kita mengikuti. Tapi seiring anak bertumbuh, idealnya relasi itu bergeser menjadi lebih setara.
Tidak semua keluarga mengalami pergeseran ini dengan mulus. Kadang otoritas tetap ditekankan, kadang muncul konflik. Tetapi dalam pengalaman saya, pergeseran itu terjadi dengan wajar. Dan saya bersyukur bisa merasakannya bersama Papa.
Jika ada sahabat Ruanita yang membaca tulisan ini dan sedang mengalami konflik batin dengan ayahnya, saya ingin menyampaikan satu hal, setiap keluarga unik. Tidak ada pola tunggal yang bisa berlaku untuk semua orang.
Kalau Anda ingin memahami lebih jauh bagaimana hubungan dengan ayah mempengaruhi hidup saat ini, saya menyarankan melakukannya bersama tenaga profesional seperti psikoterapis atau konselor. Ada hal-hal yang bisa kita selesaikan sendiri, tetapi ada juga yang butuh pendampingan aman dari orang yang terlatih.
Bagi saya, menulis tentang father complex bukanlah tentang mencari kekurangan Papa, melainkan tentang menyadari betapa besar pengaruh relasi itu dalam membentuk siapa saya hari ini. Saya beruntung memiliki figur ayah yang hangat, mendukung, dan penuh kasih. Namun saya juga belajar melihatnya sebagai manusia dengan keterbatasan.
Pada akhirnya, apa yang tersisa kini adalah rindu. Dan mungkin, di dalam rindu itu, saya bisa merasakan kembali kehangatan yang pernah begitu nyata hadir dalam hidup saya.
Penulis: Nelden, tinggal di Jerman dan dapat dikontak via akun instagram @neldendj.
Halo Sahabat Ruanita, nama saya Sienna Mila, boleh panggil saya Mila atau Sienna. Saya adalah seorang ibu yang pernah menetap di Korea Selatan dan kini menetap di Bangladesh. Perjalanan hidup saya cukup panjang dan berliku, hingga akhirnya membawa saya melahirkan anak pertama di Korea Selatan. Menurut saya, itu merupakan sebuah pengalaman yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya.
Semuanya berawal dari tahun 2000-an, tepatnya setelah saya lulus SMA. Saat itu saya bekerja di sebuah restoran Korea di kawasan Melawai, Jakarta. Sambil bekerja, saya juga melanjutkan kuliah S1. Dari restoran tersebut, saya mulai mengenal budaya Korea dan bertemu banyak orang Korea yang tinggal atau bekerja di Jakarta.
Pekerjaan saya kemudian berkembang. Saya berkesempatan menjadi PA (Personal Assistant) sekaligus sekretaris untuk seorang staf ahli asal Korea yang bekerja di salah satu Kementerian di Jakarta. Di situlah hidup saya berubah. Saya belajar banyak tentang kedisiplinan, budaya kerja, sekaligus membuka jaringan pertemanan dengan banyak orang Korea dari berbagai bidang bisnis.
Sepuluh tahun bekerja, saya kemudian diperkenalkan dengan kenalan atasan saya untuk menjalin kerja sama bisnis. Perusahaan itu bergerak di bidang pengembangan IT di Korea Selatan, dengan rencana membangun platform belanja online di Indonesia. Dari perjanjian itu, saya mulai bolak-balik Indonesia–Korea, hingga akhirnya saya tinggal cukup lama di Korea Selatan.
Antara tahun 2018 sampai 2022, saya dan suami lebih banyak menetap di Korea. Alasannya cukup dramatis: saya mengalami pecah ketuban lebih awal ketika sedang melakukan kunjungan bisnis di kota Daegu. Saat itu, saya tengah hamil anak pertama. Awalnya saya sudah konsultasi dengan dokter di Indonesia sebelum berangkat, kondisi kandungan sehat dan diperbolehkan naik pesawat selama penerbangan tidak lebih dari 10 jam. Karena penerbangan ke Korea Selatan hanya memakan waktu 6 jam, saya merasa aman saja.
Namun takdir berkata lain. Di tengah kesibukan urusan bisnis, saya tiba-tiba harus menghadapi momen kelahiran di negara asing. Untungnya, ketika itu saya ditemani suami yang memang ikut ke Korea Selatan untuk urusan bisnis juga.
Saat tiba di rumah sakit di Daegu, kendala pertama yang saya hadapi adalah bahasa. Tidak banyak tenaga medis yang bisa berbahasa Inggris, sementara saya dan suami tidak menguasai bahasa Korea. Komunikasi menjadi sulit sekali.
Saya mengalami kontraksi cukup lama, hingga akhirnya dokter yang bisa berbahasa Inggris datang dan memutuskan bahwa saya harus melahirkan lewat operasi Caesar. Malam itu saya masuk ruang operasi, perasaan saya campur aduk antara panik, takut, dan pasrah.
Proses persalinan berjalan, tetapi setelah melahirkan saya mengalami pendarahan hebat. Rasa sakitnya luar biasa, hingga saya diberi morfin. Saking sakitnya, saya sempat berpikir saya tidak akan selamat malam itu. Alhamdulillah, saya masih diberi kekuatan dan akhirnya bisa melewati masa kritis tersebut.
Tiga hari setelah melahirkan, kondisi saya mulai membaik. Saat itu ada seorang ibu yang datang dan menawarkan saya untuk menggunakan jasa postpartum care. Apa itu? Itu adalah layanan perawatan pasca melahirkan yang populer di Korea. Layanan ini mencakup perawatan ibu, bayi, hingga pemulihan fisik. Namun saya menolak, lebih karena pertimbangan pribadi dan biaya.
Setelah tujuh hari dirawat, saya diperbolehkan pulang. Namun saat berada di kasir rumah sakit, saya dan suami dibuat kaget. Karena tidak memiliki asuransi di Korea, biaya persalinan kami mencapai 7,5 juta Won, atau sekitar 89 juta rupiah.
Saya mencoba meminta bantuan bagian administrasi dengan harapan ada potongan atau keringanan. Tetapi staf rumah sakit justru menyalahkan kami. Kalimat yang masih saya ingat hingga sekarang adalah: “Kenapa melahirkan di Korea? Seperti di Indonesia tidak ada rumah sakit saja.”
Saya dan suami hanya bisa terdiam. Akhirnya, kami membayar penuh tanpa potongan sedikit pun. Perasaan saya campur aduk antara lelah, sedih, sekaligus kecewa.
Setelah keluar dari rumah sakit, suami saya akhirnya diterima bekerja di perusahaan partner kami di bidang IT. Saya pun tinggal di rumah untuk mengurus bayi. Namun perjuangan baru saja dimulai.
Perbedaan cuaca, sulitnya mencari layanan kesehatan anak, hingga kendala bahasa membuat hari-hari kami penuh tantangan. Saya masih ingat ketika anak kami demam tinggi di tengah malam. Kami bergegas ke UGD terdekat, tetapi karena saat itu hari Minggu, rumah sakit seperti rumah sakit hantu, yakni sepi, tanpa ada dokter atau perawat yang berjaga.
Ada juga masa ketika saya bingung mencari susu formula untuk bayi. Setiap kali mencoba merek baru, kulit bayi saya bereaksi dengan gatal-gatal dan kemerahan di sekujur tubuh. Saya hanya bisa menangis sendirian sambil menenangkan anak.
Untungnya, saya mendapat dukungan besar dari keluarga suami di Bangladesh dan keluarga saya di Indonesia, meski hanya lewat video call. Suami juga sangat membantu setiap kali ia pulang kerja. Mantan atasan saya bahkan membantu komunikasi dengan pihak rumah sakit dan pengurusan visa.
Setelah lebih dari dua tahun di Korea, saya akhirnya memutuskan pulang ke Indonesia. Saya ingin anak saya belajar bahasa Indonesia dan bersekolah di PAUD. Alhamdulillah, anak saya kini sudah fasih berbahasa ibunya.
Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan ke Bangladesh, negara asal suami. Suami masih harus menyelesaikan kontraknya di Korea hingga 2026, sementara saya dan anak menetap di Bangladesh dulu. Anak saya akan mulai sekolah dasar di sana, dengan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar. Kami pun berencana melanjutkan perjalanan ke Kanada atau Amerika di masa depan, demi masa depan pendidikan anak.
Melahirkan di Korea Selatan memberikan saya banyak pelajaran berharga, terutama tentang persiapan. Untuk Sahabat Ruanita yang mungkin suatu saat berencana melahirkan di luar negeri, saya ingin berbagi beberapa hal:
1. Bahasa itu penting. Jika tidak bisa bahasa lokal, setidaknya harus ada keluarga atau pendamping yang bisa membantu.
2. Asuransi wajib. Jangan pernah bepergian tanpa asuransi, apalagi jika sedang hamil.
3. Postpartum care di Korea sangat baik. Jika ada biaya, jangan ragu untuk ikut. Itu akan membantu pemulihan ibu dan bayi.
4. Status kewarganegaraan bayi. Di Korea, bayi yang lahir dari orang tua bukan warga negara Korea tidak otomatis mendapat hak atau benefit apa pun.
5. Persiapan mental, fisik, dan materi. Semua harus seimbang. Jangan hanya siap materi, tapi juga siap menghadapi cuaca, lingkungan, hingga budaya baru.
Sahabat Ruanita, pengalaman melahirkan di Korea adalah salah satu momen paling sulit sekaligus paling berharga dalam hidup saya. Rasanya seperti ujian besar yang Allah berikan, Alhamdulillah saya bisa melewatinya.
Kalau ditanya, apakah saya mau mengulang pengalaman melahirkan di negara ketiga lagi? Jawabannya: tidak. Terlalu banyak risiko, terutama jika tanpa dukungan keluarga dekat dan tanpa penguasaan bahasa.
Namun, saya tetap bersyukur. Dari pengalaman ini, saya belajar tentang ketabahan, dukungan keluarga, dan pentingnya persiapan. Saya juga belajar bahwa menjadi seorang ibu berarti siap menghadapi hal-hal di luar dugaan, di mana pun kita berada.
Bagi saya, melahirkan di luar negeri, terutama di negara dengan bahasa yang berbeda, bukan hanya soal proses medis. Itu juga soal bertahan hidup, menyesuaikan diri, dan menemukan kekuatan di saat kita merasa sendirian.
Itulah cerita saya, Sahabat Ruanita. Pengalaman melahirkan di Korea Selatan akan selalu menjadi bagian dari perjalanan hidup saya. Meski penuh air mata, rasa sakit, dan kekecewaan, ada juga rasa syukur, cinta, dan kekuatan baru yang saya temukan.
Semoga cerita ini bisa menjadi pelajaran dan inspirasi bagi perempuan Indonesia lain yang mungkin sedang atau akan menghadapi situasi serupa.
Penulis: Sienna Mila, seorang ibu yang tinggal di Bangladesh dan dapat dikontak via akun instagram: sienna_milaa.
Dalam rangka merayakan Hari Perempuan Internasional sepanjang Maret 2026, Ruanita Indonesia menghadirkan sebuah kampanye digital yang merayakan kekuatan suara, imajinasi, dan pengalaman perempuan Indonesia sebagai warga global. Kampanye ini mengangkat karya-karya fiksi yang ditulis oleh perempuan Indonesia dari berbagai penjuru dunia, sebuah ruang aman di mana jarak geografis tidak lagi membatasi keberanian untuk bercerita, merawat ingatan, dan membayangkan masa depan.
Melalui Workshop Online Warga Menulis Fiksi, para peserta menarasikan kehidupan mereka di negeri-negeri yang jauh dari tanah air, tentang rindu yang berlapis bahasa, tentang identitas yang terus bertransformasi, tentang keteguhan menghadapi perbedaan, serta tentang solidaritas yang lahir dari keberanian untuk bersuara. Kutipan-kutipan karya fiksi yang lahir dari proses ini akan melalui kurasi dan penyuntingan untuk kemudian diterbitkan sebagai sebuah buku. Ini diharapkan sebuah produk pengetahuan yang merekam jejak batin, pemikiran, dan pengalaman perempuan Indonesia di panggung dunia.
Proyek ini dikelola oleh dua perempuan Indonesia yang juga hidup sebagai warga global: Asmayani Kusrini yang berbasis di Belgia dan Anna Knöbl yang berkarya di Jerman. Bersama, mereka membuka ruang lintas batas bagi perempuan Indonesia untuk menulis bukan hanya sebagai ekspresi kreatif, tetapi sebagai tindakan keberanian, perlawanan, dan perayaan diri.
Kampanye ini bukan sekadar tentang karya fiksi, melainkan tentang menghadirkan perempuan Indonesia sebagai subjek yang berpikir, merasakan, dan menciptakan makna di berbagai belahan dunia. Setiap cerita adalah bukti bahwa pengalaman perempuan adalah sumber pengetahuan yang hidup. Setiap kata adalah langkah menuju dunia yang lebih setara.
Maret 2026, mari membaca, mendengar, dan merayakan suara perempuan Indonesia, di mana pun mereka berada.
Malam ini punggung saya kaku. Seharian berpindah dari bangsal rumah sakit, ke perpustakaan, lalu ke meja diskusi, rasanya sumsum tulang saya sedang diperas. Menjadi perawat sekaligus mahasiswa di negeri orang adalah perjuangan menyeimbangkan “American Mind” yang menuntut standar tinggi, dengan “Asian Heart” yang mudah tersinggung. Salah sedikit, profesionalisme dianggap serangan pribadi. Lelahnya bukan main.
Ditulis oleh Maria Frani Ayu Andari Dias di Indonesia
Dalam rangka merayakan Hari Perempuan Internasional sepanjang Maret 2026, Ruanita Indonesia menghadirkan sebuah kampanye digital yang merayakan kekuatan suara, imajinasi, dan pengalaman perempuan Indonesia sebagai warga global. Kampanye ini mengangkat karya-karya fiksi yang ditulis oleh perempuan Indonesia dari berbagai penjuru dunia, sebuah ruang aman di mana jarak geografis tidak lagi membatasi keberanian untuk bercerita, merawat ingatan, dan membayangkan masa depan.
Melalui Workshop Online Warga Menulis Fiksi, para peserta menarasikan kehidupan mereka di negeri-negeri yang jauh dari tanah air, tentang rindu yang berlapis bahasa, tentang identitas yang terus bertransformasi, tentang keteguhan menghadapi perbedaan, serta tentang solidaritas yang lahir dari keberanian untuk bersuara. Kutipan-kutipan karya fiksi yang lahir dari proses ini akan melalui kurasi dan penyuntingan untuk kemudian diterbitkan sebagai sebuah buku. Ini diharapkan sebuah produk pengetahuan yang merekam jejak batin, pemikiran, dan pengalaman perempuan Indonesia di panggung dunia.
Proyek ini dikelola oleh dua perempuan Indonesia yang juga hidup sebagai warga global: Asmayani Kusrini yang berbasis di Belgia dan Anna Knöbl yang berkarya di Jerman. Bersama, mereka membuka ruang lintas batas bagi perempuan Indonesia untuk menulis bukan hanya sebagai ekspresi kreatif, tetapi sebagai tindakan keberanian, perlawanan, dan perayaan diri.
Kampanye ini bukan sekadar tentang karya fiksi, melainkan tentang menghadirkan perempuan Indonesia sebagai subjek yang berpikir, merasakan, dan menciptakan makna di berbagai belahan dunia. Setiap cerita adalah bukti bahwa pengalaman perempuan adalah sumber pengetahuan yang hidup. Setiap kata adalah langkah menuju dunia yang lebih setara.
Maret 2026, mari membaca, mendengar, dan merayakan suara perempuan Indonesia, di mana pun mereka berada.
Dan hari itu tiba. Ica terlebih dahulu kirim SMS kepada Rachman bahwa hubungan mereka telah berakhir. Dengan berat hati Rachman juga menyetujuinya. Rachman juga sempat menelepon Ica dan menyanyikan dua buah lagu yaitu “Aku Memilih Setia” dari Fatin dan “Don’t You Remember” dari Adele. Dan begitu sebaliknya, Ica juga menyanyikan sebuah lagu yang berjudul “Pergilah Kasih” dari d’Masiv. Mereka saling berjanji untuk tidak pacaran sebelum cita-cita dan mimpi mereka tercapai.
Dalam rangka merayakan Hari Perempuan Internasional sepanjang Maret 2026, Ruanita Indonesia menghadirkan sebuah kampanye digital yang merayakan kekuatan suara, imajinasi, dan pengalaman perempuan Indonesia sebagai warga global. Kampanye ini mengangkat karya-karya fiksi yang ditulis oleh perempuan Indonesia dari berbagai penjuru dunia, sebuah ruang aman di mana jarak geografis tidak lagi membatasi keberanian untuk bercerita, merawat ingatan, dan membayangkan masa depan.
Melalui Workshop Online Warga Menulis Fiksi, para peserta menarasikan kehidupan mereka di negeri-negeri yang jauh dari tanah air, tentang rindu yang berlapis bahasa, tentang identitas yang terus bertransformasi, tentang keteguhan menghadapi perbedaan, serta tentang solidaritas yang lahir dari keberanian untuk bersuara. Kutipan-kutipan karya fiksi yang lahir dari proses ini akan melalui kurasi dan penyuntingan untuk kemudian diterbitkan sebagai sebuah buku. Ini diharapkan sebuah produk pengetahuan yang merekam jejak batin, pemikiran, dan pengalaman perempuan Indonesia di panggung dunia.
Proyek ini dikelola oleh dua perempuan Indonesia yang juga hidup sebagai warga global: Asmayani Kusrini yang berbasis di Belgia dan Anna Knöbl yang berkarya di Jerman. Bersama, mereka membuka ruang lintas batas bagi perempuan Indonesia untuk menulis bukan hanya sebagai ekspresi kreatif, tetapi sebagai tindakan keberanian, perlawanan, dan perayaan diri.
Kampanye ini bukan sekadar tentang karya fiksi, melainkan tentang menghadirkan perempuan Indonesia sebagai subjek yang berpikir, merasakan, dan menciptakan makna di berbagai belahan dunia. Setiap cerita adalah bukti bahwa pengalaman perempuan adalah sumber pengetahuan yang hidup. Setiap kata adalah langkah menuju dunia yang lebih setara.
Maret 2026, mari membaca, mendengar, dan merayakan suara perempuan Indonesia, di mana pun mereka berada.
Kawin campur ini ternyata bukan soal menyatukan dua paspor, Bu. Ini soal bagaimana aku harus tetap menjadi ‘Indonesia’ di saat tubuhku sendiri mulai mengkhianatiku. Kulitku meratap, ia minta air, ia minta minyak, ia minta kepastian bahwa aku masih seorang perempuan meski rahimku sebentar lagi sunyi. Ibu, gema suaramu selalu ada di antara heningnya salju Ankara. Engkau pernah bilang, ‘Perempuan itu seperti tanah, makin kering makin butuh dipupuk kasih sayang.’ Sekarang aku mengerti kenapa aku terus mengoleskan minyak ini berkali-kali. Aku bukan sedang mengobati kulit, Bu. Aku sedang memupuk rindu supaya aku tidak hancur menjadi debu di negeri orang.
LONDON, 8 Maret – Menyadari persoalan psikologis yang dialami perempuan pekerja migran Indonesia seperti: kesepian, trauma, sandwich generation, hingga pikiran bunuh diri, yang telah mendorong Ruanita Indonesia menyelenggarakan sesi konseling kelompok daring ini.
Bagi banyak Perempuan Pekerja Migran Indonesia (PMI), perjalanan bekerja di luar negeri bukan hanya tentang pengorbanan ekonomi, tetapi juga tentang menghadapi tekanan, kehilangan, dan pengalaman yang meninggalkan luka batin.
Dalam memperingati Hari Perempuan Internasional, sesi konseling kelompok daring dihadirkan sebagai ruang aman bagi PMI yang memiliki situasi trauma dan sedang tinggal di luar Indonesia. Selama dua jam, para peserta terhubung melalui pertemuan virtual untuk berbagi pengalaman, mendengarkan satu sama lain, dan membangun rasa saling menguatkan dalam suasana yang empatik dan penuh penghormatan.
Sesi ini difasilitasi oleh Idei Swasti, Psikolog dan kandidat doktor di Inggris, serta relawan Ruanita Indonesia. Dengan pendekatan yang hangat dan partisipatif, peserta diajak memahami bahwa respons terhadap trauma adalah hal yang manusiawi. Tidak ada kewajiban untuk membuka detail pengalaman; yang diutamakan adalah rasa aman, kerahasiaan, dan kebersamaan.
Dalam dinamika kelompok, terlihat bahwa meski latar belakang negara dan jenis pekerjaan berbeda, pengalaman emosional yang dirasakan memiliki kesamaan: rasa sepi, tekanan berkepanjangan, serta kebutuhan untuk didengar tanpa dihakimi.
Beberapa peserta membagikan refleksi tentang beban kerja dan jarak dari keluarga, sementara yang lain memilih hadir dan menyimak, tetap menjadi bagian dari lingkar dukungan yang tercipta.
Menurut Anna Knöbl, Founder dari Ruanita Indonesia, yang memberikan pengantar awal sesi konseling, momentum Hari Perempuan Internasional dimaknai bukan hanya sebagai perayaan, melainkan sebagai pengingat bahwa kesehatan mental perempuan migran adalah isu nyata yang perlu mendapat perhatian bersama. Kegiatan ini memang bukan pengganti terapi individual, namun menjadi langkah kolektif untuk membangun solidaritas, memulihkan harapan, dan menegaskan bahwa perempuan migran tidak berjalan sendiri dalam proses penyembuhan mereka.
Dalam rangka merayakan Hari Perempuan Internasional sepanjang Maret 2026, Ruanita Indonesia menghadirkan sebuah kampanye digital yang merayakan kekuatan suara, imajinasi, dan pengalaman perempuan Indonesia sebagai warga global. Kampanye ini mengangkat karya-karya fiksi yang ditulis oleh perempuan Indonesia dari berbagai penjuru dunia, sebuah ruang aman di mana jarak geografis tidak lagi membatasi keberanian untuk bercerita, merawat ingatan, dan membayangkan masa depan.
Melalui Workshop Online Warga Menulis Fiksi, para peserta menarasikan kehidupan mereka di negeri-negeri yang jauh dari tanah air, tentang rindu yang berlapis bahasa, tentang identitas yang terus bertransformasi, tentang keteguhan menghadapi perbedaan, serta tentang solidaritas yang lahir dari keberanian untuk bersuara. Kutipan-kutipan karya fiksi yang lahir dari proses ini akan melalui kurasi dan penyuntingan untuk kemudian diterbitkan sebagai sebuah buku. Ini diharapkan sebuah produk pengetahuan yang merekam jejak batin, pemikiran, dan pengalaman perempuan Indonesia di panggung dunia.
Proyek ini dikelola oleh dua perempuan Indonesia yang juga hidup sebagai warga global: Asmayani Kusrini yang berbasis di Belgia dan Anna Knöbl yang berkarya di Jerman. Bersama, mereka membuka ruang lintas batas bagi perempuan Indonesia untuk menulis bukan hanya sebagai ekspresi kreatif, tetapi sebagai tindakan keberanian, perlawanan, dan perayaan diri.
Kampanye ini bukan sekadar tentang karya fiksi, melainkan tentang menghadirkan perempuan Indonesia sebagai subjek yang berpikir, merasakan, dan menciptakan makna di berbagai belahan dunia. Setiap cerita adalah bukti bahwa pengalaman perempuan adalah sumber pengetahuan yang hidup. Setiap kata adalah langkah menuju dunia yang lebih setara.
Maret 2026, mari membaca, mendengar, dan merayakan suara perempuan Indonesia, di mana pun mereka berada.
Di sanalah luka pertama lahir. Malamnya, meja makan terasa seperti ruang sidang.
“Kalau memang ambil, bilang saja,” kata Cece tanpa menatap. Sendok di tangan Sari berhenti.
“Saya nggak ambil Ce, tidak tahu saya!”
Remuk hati Sari, menahan agar air mata tak jatuh, dan segera dia menyelesaikan makan nya. Tapi serasa semua sesak tak bisa ditelan. Koko ikut bicara, suaranya hati-hati.