(SIARAN BERITA) Ruanita Indonesia Berhasil Perkuat Kesiapan Profesional dan Interkultural Perawat Indonesia di Negara Berbahasa Jerman

Berlin, 28 Juni – Workshop online bertajuk “Praktik Nyata Perawat Indonesia di Eropa” sukses diselenggarakan dalam dua sesi pada Minggu, 28 Juni 2026 dan Minggu, 5 Juli 2026, pukul 10.00–12.00 CEST, melalui platform Zoom Meeting yang difasilitasi oleh Ruanita Indonesia. Kegiatan ini menghadirkan Henny Silalahi, dosen keperawatan di Jerman, sebagai pemateri utama, dengan fokus pada penguatan kompetensi profesional, komunikasi klinis, serta kesiapan interkultural bagi perawat Indonesia yang bekerja atau akan berkarier di negara-negara berbahasa Jerman seperti Jerman, Swiss, dan Austria.

Workshop ini terbuka bagi perawat Indonesia dari berbagai jalur karier, termasuk mereka yang sedang mempersiapkan keberangkatan ke Jerman untuk meniti profesi keperawatan. Dengan pendekatan berbasis bukti (evidence-based insight), simulasi kasus nyata, dan refleksi pengalaman peserta, kegiatan ini dirancang untuk menjawab tantangan riil yang dihadapi perawat migran Indonesia di Eropa.

Selama ini, dunia keperawatan antarbudaya lebih banyak menekankan sisi administrasi dan kompetensi bahasa asing saja, padahal praktik nyata lebih daripada itu. Workshop daring ini menjawab kebutuhan komunikasi dan kompetensi yang masih ada gap di antara perawat-perawat di negara berbahasa Jerman.

Pada sesi pertama, workshop dibuka secara resmi oleh Deputy Chief of Mission (DCM) KBRI Berlin, Bapak Fajar Wirawan Harijo. Bapak Fajar Wirawan Harijo mengapresi ruang-ruang digital yang dibangun oleh Ruanita Indonesia untuk menyediakan ruang belajar sesama orang Indonesia, seperti workshop daring keperawatan antarbudaya. Ia menilai program ini bisa terus dilanjutkan di kemudian hari untuk membantu para perawat Indonesia beradaptasi dengan situasi negara tujuan, seperti Jerman.

Di hari pertama, peserta mendalami tema Intercultural Nursing Practice (Indonesia vs Jerman) yang membahas perbedaan budaya kerja, pola komunikasi, otonomi pasien, serta tanggung jawab hukum perawat di sistem kesehatan Jerman. Diskusi berkembang pada dinamika hubungan profesional antara tenaga kesehatan, termasuk bagaimana gaya komunikasi langsung dalam budaya Jerman dapat dipersepsikan berbeda oleh tenaga kesehatan asal Indonesia.

Sesi kedua mengangkat topik Clinical Communication & Workplace Survival, yang menitikberatkan pada keterampilan komunikasi efektif di lingkungan klinis, termasuk penggunaan metode SBAR, interaksi dengan pasien lansia, hingga strategi menghadapi konflik komunikasi dalam tim interprofesional. Peserta juga mengikuti simulasi handover dan latihan kalimat klinis yang relevan untuk konteks rumah sakit di Jerman.

Setiap sesi dirancang selama dua jam dengan struktur pembelajaran 20 persen konsep inti, 50 persen studi kasus dan simulasi, serta 30 persen diskusi dan refleksi pengalaman. Model ini memungkinkan peserta tidak hanya memahami teori, tetapi juga memperoleh alat praktis yang dapat diterapkan langsung di tempat kerja.

Sebagai luaran, peserta memperoleh berbagai perangkat pendukung seperti checklist adaptasi budaya klinis, template komunikasi praktis, serta kumpulan frasa kunci yang umum digunakan dalam pelayanan kesehatan di Jerman.

Anna Knöbl, Founder Ruanita Indonesia, yang turut mengoordinasikan jalannya kegiatan, menegaskan bahwa workshop ini lahir dari kebutuhan nyata komunitas perawat Indonesia di Eropa.

“Perawat Indonesia di negara-negara berbahasa Jerman membutuhkan ruang belajar yang tidak hanya membahas teori, tetapi juga praktik nyata di lapangan. Workshop ini menjadi jembatan untuk memperkuat kesiapan profesional, adaptasi budaya, dan strategi karier yang realistis bagi mereka,” ujar Founder Ruanita Indonesia, Anna Knöbl yang tinggal di Jerman. Lebih lanjut Anna menekankan pentingnya kolaborasi lintas budaya dalam membangun ekosistem pendukung bagi tenaga kesehatan migran.

“Kami ingin menghadirkan forum yang relevan dan berdampak langsung. Tantangan terbesar bukan hanya bahasa, tetapi bagaimana memahami sistem kerja, komunikasi profesional, dan budaya klinis yang berbeda. Inilah kompetensi yang perlu dipersiapkan sejak awal,” jelas Anna Knöbl sekali lagi. Melalui workshop ini, diharapkan peserta menjadi lebih siap menghadapi culture shock, mampu berkomunikasi lebih efektif di rumah sakit, serta memiliki strategi karier yang lebih terarah di negara-negara berbahasa Jerman.

Keberhasilan penyelenggaraan program ini menandai semakin pentingnya ruang pengembangan kapasitas bagi tenaga kesehatan Indonesia di ranah global, sekaligus membuka peluang untuk penyelenggaraan program lanjutan yang lebih spesifik sesuai kebutuhan komunitas profesional Indonesia di Eropa.

(IG LIVE) Ketika Menjadi Janda Bukan Akhir Cerita: Belajar Memilih Empati di Hari Internasional Janda

Mungkin tidak banyak tahu kalau ada peringatan Hari Internasional Janda yang diperingati tiap 23 Juni. Tentunya, kami mengambil momen ini untuk para perempuan agar bisa bersuara tentang bagaimana pengalaman dan tantangannya dalam status pernikahan yang disebut janda tersebut. Bahkan status janda itu masih menjadi stigma sosial yang memang perlu terus disuarakan, seperti melalui program diskusi IG LIVE bulan Juni ini. Program ini berhasil mengundang Telda Hille, yang bercerai dari suaminya di Jerman dan Barbie Nouva, seorang perempuan Indonesia yang memilih menjadi Single Mom by Choice di Rumania.

Melihat perempuan sendirian bersama anak tampaknya masih memberikan pertanyaan pribadi, seperti: “Ayahnya mana?”; “Kok bisa jadi ibu tunggal?”; “Nggak kasihan anaknya?” dan lain sebagainya. Bagi sebagian orang, pertanyaan itu mungkin hanya basa-basi. Namun bagi perempuan yang sedang berjuang membesarkan anak seorang diri, setiap kalimat itu bisa menjadi pengingat bahwa masyarakat masih lebih mudah menghakimi daripada memahami.

Itulah benang merah yang mengalir sepanjang diskusi Instagram Live Ruanita Indonesia dalam rangka memperingati Hari Internasional Janda yang diperingati setiap 23 Juni. Selama hampir satu jam, dua perempuan Indonesia yang kini tinggal di Eropa membuka lembar kehidupan yang selama ini jarang diceritakan kepada publik. Bukan untuk mencari simpati, melainkan untuk mengajak kita melihat bahwa di balik status “janda” atau “single mom” selalu ada kisah yang jauh lebih kompleks daripada apa yang tampak di permukaan.

Barbie menjadi orang pertama yang berbagi cerita. Dengan suara yang tenang, ia mengenang bagaimana impiannya membangun keluarga harus berubah arah ketika pasangan yang dicintainya meninggal dunia. Kepergian itu memang menghapus banyak rencana, tetapi tidak menghilangkan keinginannya untuk menjadi seorang ibu. Ia memilih melanjutkan mimpi tersebut melalui keputusan yang telah mereka rencanakan bersama. Keputusan yang bagi dirinya lahir dari cinta, tetapi bagi sebagian orang justru memunculkan banyak tanda tanya.

Menariknya, selama tinggal di Eropa, Barbie hampir tidak pernah merasa harus menjelaskan pilihan hidupnya kepada siapa pun. Tidak ada yang sibuk bertanya siapa ayah anaknya atau mengapa ia membesarkan anak sendirian. Orang-orang menghormati ruang pribadi dan percaya bahwa setiap keluarga memiliki cerita yang tidak harus diketahui orang lain.

Namun suasananya berubah ketika ia lebih sering berada di Indonesia. Pertanyaan-pertanyaan mulai berdatangan. Bukan sekali dua kali, tetapi hampir setiap kali bertemu orang baru. Dari mana ayah anaknya? Apakah masih berkomunikasi? Mengapa memilih jalan hidup seperti itu? Awalnya Barbie mencoba menjawab dengan sabar. Lama-kelamaan ia menyadari bahwa yang melelahkan bukanlah memberikan penjelasan, melainkan menghadapi rasa ingin tahu yang seolah tidak ada habisnya.

Meski demikian, ia tidak pernah mengatakan bahwa membesarkan anak seorang diri adalah perjalanan yang mudah. Ada saat-saat ketika putranya mulai membutuhkan figur laki-laki dalam kehidupannya. Beruntung, ia memiliki saudara laki-laki yang hadir sebagai teladan bagi sang anak. Dukungan keluarga dan sahabat terdekat menjadi pengingat bahwa seorang ibu tidak harus menjalani semuanya sendirian. Kadang, kekuatan datang dari orang-orang yang memilih tinggal ketika yang lain hanya datang untuk bertanya.

Cerita berikutnya datang dari Telda. Jika Barbie berbicara tentang kehilangan, maka Telda berbicara tentang keberanian meninggalkan hubungan yang tidak lagi sehat. Saat memutuskan bercerai, anaknya masih sangat kecil. Di masa itu, ia bukan hanya harus menata ulang hidupnya, tetapi juga berusaha tetap menjadi tempat paling aman bagi buah hatinya.

Yang paling berat ternyata bukan proses perceraian itu sendiri. Yang jauh lebih menguras tenaga adalah komentar orang-orang di sekitarnya. Demi menjaga kesehatan mental, Telda memilih menutup akun media sosialnya. Ia tidak ingin setiap hari membaca penilaian dari orang-orang yang bahkan tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di balik rumah tangganya. Baginya, diam bukan berarti menyerah. Diam adalah cara bertahan agar dirinya tetap bisa menjadi ibu yang utuh bagi anaknya.

Di tengah masa yang penuh ketidakpastian itu, justru lingkungan tempat ia tinggal di Jerman menghadirkan pengalaman yang berbeda. Rekan kerja membantunya menemukan tempat perlindungan bagi perempuan. Teman-temannya bersedia menjaga anak ketika ia harus menjalani pemeriksaan di rumah sakit. Tidak banyak pertanyaan yang diajukan. Yang lebih sering terdengar justru kalimat sederhana, “Apa yang bisa kami bantu?” Dukungan seperti itulah yang perlahan memulihkan rasa percaya dirinya.

Dalam diskusi tersebut, baik Barbie maupun Telda sama-sama menyoroti satu hal yang menurut mereka sangat membedakan pengalaman hidup di Eropa dan Indonesia, yaitu cara masyarakat memandang kehidupan pribadi seseorang. Di banyak negara Eropa, status sebagai ibu tunggal bukanlah identitas yang harus diperdebatkan. Sementara di Indonesia, status tersebut masih sering menjadi bahan penilaian sosial. Padahal tidak seorang pun benar-benar mengetahui luka, perjuangan, maupun alasan yang membawa seseorang sampai pada titik itu.

Ketika diminta menyampaikan pesan kepada masyarakat Indonesia, Telda tidak berbicara tentang perubahan besar. Ia hanya mengajak kita belajar satu hal yang sederhana: empati. Menurutnya, masyarakat tidak harus selalu memiliki jawaban atas kehidupan orang lain. Tidak semua masalah membutuhkan komentar. Tidak semua kisah membutuhkan penilaian. Kadang seseorang hanya membutuhkan telinga yang mau mendengar dan hati yang bersedia memahami.

Ucapan itu terasa begitu emosional ketika Telda mengenang bagaimana komentar negatif yang pernah ia terima masih membekas hingga hari ini. Ia mengaku berusaha tidak menangis di depan orang lain karena ingin terlihat kuat. Namun sesampainya di rumah, semua rasa sakit itu tetap mencari jalannya sendiri. Saat itulah ia menyadari bahwa kata-kata dapat meninggalkan luka yang tidak terlihat, tetapi sangat lama sembuhnya.

Meski demikian, keduanya sepakat bahwa alasan mereka terus melangkah selalu kembali kepada anak-anak mereka. Melihat anak tumbuh sehat, tertawa, bermain, dan menjalani hidup dengan bahagia menjadi sumber tenaga yang membuat semua perjuangan terasa berarti. Mereka tidak sedang mengejar pengakuan sebagai perempuan yang hebat. Mereka hanya ingin menjadi ibu yang hadir sepenuh hati bagi anak-anaknya.

Hari Internasional Janda pada akhirnya bukan hanya berbicara tentang perempuan yang kehilangan pasangan. Hari ini mengingatkan kita bahwa di sekitar kita ada banyak perempuan yang setiap hari sedang bertarung melawan kesepian, stigma, dan berbagai prasangka yang tidak mereka pilih. Mungkin kita tidak mampu menghapus semua beban yang mereka pikul. Namun kita selalu punya pilihan untuk tidak menambah bebannya. Sebab sebelum mengajukan pertanyaan, mungkin kita perlu mengingat satu hal: setiap orang sedang membawa cerita yang tidak seluruhnya bisa kita lihat. Sering kali, bentuk kasih yang paling sederhana adalah memilih untuk mendengarkan, bukan menghakimi.

Program Diskusi IG LIVE dikelola oleh Ruanita setiap bulan dengan berbagai tema yang bervariasi, sebagai jembatan komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) antara orang Indonesia di luar Indonesia dan orang Indonesia di Indonesia untuk berbagi dan berdiskusi bersama, yang memanfaatkan ruang digital seperti platform instagram. Durasi berlangsung sekitar 30 menit yang berlangsung lewat instagram @ruanita.indonesia dan bersama informan lainnya.

Simak selengkapnya di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

(SIARAN BERITA) Seminar Daring Hari UMKM Internasional 2026

Jakarta, 27 Juni 2026 — Dalam rangka memperingati Hari UMKM Internasional, Ruanita Indonesia sukses menyelenggarakan kegiatan diskusi daring bertajuk “Dari Nol ke Global, Cara Jitu Berwirausaha” pada Sabtu, 27 Juni 2026 melalui platform Zoom Meeting. Kegiatan ini menghadirkan narasumber perempuan Indonesia yang memiliki pengalaman dan praktik baik dalam mengelola kewirausahaan di mancanegara.

Kegiatan diikuti oleh pelaku UMKM, perempuan wirausaha, akademisi, dan masyarakat umum di mana saja yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman peserta mengenai penyusunan business plan, proses perizinan usaha di luar negeri, serta strategi membangun usaha di tingkat global.

Koordinator penyelenggara sekaligus moderator kegiatan, Griska Gunara, menyampaikan bahwa perempuan Indonesia memiliki potensi besar untuk berkembang dalam dunia kewirausahaan internasional apabila diberikan akses pengetahuan, jejaring, dan inspirasi yang tepat.

“Diskusi ini menjadi ruang berbagi pengalaman dan praktik baik perempuan Indonesia di berbagai negara agar semakin banyak perempuan berani memulai dan mengembangkan usaha hingga tingkat global,” ujar Griska Gunara.

Acara dibuka dengan motivasi dari Griska sendiri yang pernah menjadi pelaku usaha saat masih di Indonesia dulu. Dia berharap acara ini mendorong siapa saja dapat memanfaatkan keterampilan kejuruan dan teknologi digital sebagai bekal membangun usaha kreatif dan inovatif.

Acara kemudian dilanjutkan dengan pemaparan sisi akademisi, Novy Anggaraini, PhD Student di Hungaria dan dosen ekonomi di Indonesia, menjelaskan pentingnya business plan sebagai fondasi dalam membangun usaha yang berkelanjutan. Ia juga menekankan perlunya adaptasi budaya bisnis dan penguatan kompetensi kewirausahaan bagi perempuan Indonesia yang ingin mengembangkan usaha di luar negeri.

Sementara itu, Winda Sulistiawati, perempuan wirausaha di Austria, berbagi pengalaman mengenai proses penyusunan business plan, pengajuan izin usaha, serta tantangan membangun usaha kuliner di Eropa, umumnya dan Austria, khususnya. Pada sesi berikutnya, Dewi Maya, perempuan wirausaha di Amerika Serikat dan owner brand tas “Dewi Maya”, memaparkan strategi pemasaran dan legalisasi usaha di Amerika Serikat.

Diskusi juga menghadirkan praktisi Dwi Kuntari, yang telah melakukan ekspor impor dengan brand Jamu Deka. Dia membagikan pengalaman dalam mengelola usaha “Jamu Deka” serta tantangan ekspor produk lokal Indonesia ke pasar internasional, seperti Italia.

Peserta terlihat antusias mengikuti sesi tanya jawab interaktif yang membahas peluang usaha global, tantangan adaptasi budaya bisnis, hingga strategi pemasaran digital untuk UMKM. Melalui kegiatan ini, Ruanita Indonesia berharap semakin banyak perempuan Indonesia yang percaya diri untuk memulai usaha, memperluas jejaring kolaborasi, dan mengembangkan bisnis hingga tingkat internasional.

Anna Knöbl ingin memperkuat jaringan perempuan yang tertarik berwirausaha untuk membuat networking berkelanjutan yang saling mendukung lewat ruang digital yang diinisasi Ruanita Indonesia. Di masa berikutnya, Ruanita Indonesia akan membuat Networking para perempuan Indonesia di mana saja untuk bisa belajar satu sama lain dalam kewirausahaan.

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Bagaimana Hidup sebagai Janda di Tengah Mayoritas Janda di Kamboja?

Tahukah kalau 23 Juni diperingati sebagai Hari Janda Internasional? Di banyak negara, status janda masih kerap dipandang sebelah mata. Namun, di balik label itu ada kisah perjuangan, keberanian, dan cinta tanpa batas. Salah satunya datang dari Ricca Maurizky, seorang perempuan Indonesia yang kini tinggal di Kamboja. Ricca bercerita bahwa di Kamboja, cukup banyak perempuan berstatus janda. Namun, pandangan masyarakat di sana berbeda dengan negara tetangga. Ia membandingkan dengan Malaysia yang membedakan istilah janda (cerai hidup) dan balu (ditinggal mati).

Menurut Ricca, di Malaysia, status balu lebih dihormati, karena kehilangan pasangan bukanlah pilihan. Sementara janda karena perceraian sering dianggap sebagai kegagalan rumah tangga.

“Tapi buat aku sendiri, entah itu janda atau balu, aku hanya ingin mempredikatkan diriku sebagai single parent,” ujarnya tegas.

Di tahun keempat tinggal di Kamboja, Ricca menjalani operasi karena fibroid. Dari situ, ia juga didiagnosis mengalami anxiety dan depression. Kondisi ini memaksanya untuk beradaptasi dan mengambil langkah berani. Dokter menyarankan Ricca pindah rumah demi memperbaiki suasana hati. Ia menyiapkan apartemen yang lebih kecil, dengan fasilitas lift dan layanan kebersihan mingguan. Semua dipikirkan agar setelah operasi, ia tetap bisa beraktivitas dengan aman dan nyaman.

Keputusan itu bukan hanya soal tempat tinggal, tapi juga bentuk nyata dari usaha untuk pulih. “Bagus itu, berarti kamu mau sembuh,” kata dokternya, memberi semangat. Di tengah stigma masyarakat, Ricca bersyukur dikelilingi lingkungan yang memahami perjuangannya. Rekan-rekan kerja melihat dirinya bukan sekadar janda, melainkan seorang ibu tangguh yang membesarkan dua anak seorang diri.

Bahkan, keluarganya mendukung penuh jika ia ingin menikah lagi. “Cari teman hidup, atau pengganti ayahnya anak-anak, itu terserah kamu,” begitu pesan dari mertuanya. Namun, Ricca memilih fokus pada perjalanan hidupnya saat ini. Selain sulit mencari pasangan, tantangan lain adalah kesepian. Hidup di luar negeri membuatnya sulit mendapatkan teman dekat.

“Orang asing yang datang ke sini tidak ada yang menetap. Mereka datang karena misi, karena tugas. Jadi nggak mudah,” tuturnya.

Kisah Ricca menggambarkan realita banyak janda di seluruh dunia, diantara stigma, kesepian, dan perjuangan membesarkan anak-anak. Namun, dari sana juga lahir ketangguhan, keberanian untuk pulih, dan kemampuan merancang kehidupan baru. Hari Janda Internasional bukan sekadar peringatan, tetapi ajakan untuk menghormati perjuangan perempuan seperti Ricca. Bagi mereka, status bukanlah akhir, melainkan jalan baru untuk menemukan resiliensi di tengah perjuangan tinggal jauh dari tanah air.

Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan tayangan video berdurasi sekitar 10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube Ruanita Rumah Aman Kita dan dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebagai ruang aman berbagi cerita inspiratif perempuan Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Program ini mengangkat pengalaman nyata, perjuangan, serta refleksi para perempuan dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mendorong promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Digagas oleh Anna Knöbl di Jerman, CSS menjadi wadah yang memperkuat suara perempuan, membangun solidaritas, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keadilan serta kesempatan yang setara bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan.

Simak selengkapnya program Cerita Sahabat Spesial berikut ini dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

(KNOWLEDGE SHARING) Bagaimana Membangun Kesadaran Berisiko dalam Relasi?

Jakarta, 20 Juni 2026 – Ruanita Indonesia yang memfasilitasi grup profesi/akademisi/asosiasi orang Indonesia di mancanegara yang berlatarbelakang psikologi atau kesehatan mental hari ini menyelenggarakan kegiatan Knowledge Sharing bertajuk “Relational Risk Awareness: Pengambilan Keputusan, Batasan, dan Keamanan dalam Relasi; Online, Offline, Lokal, maupun Jarak Jauh” secara daring dengan menghadirkan Family and Marriage Counselor, Leya Trajanoska, sebagai narasumber utama. Sebagai informasi, Leya lulusan S1 Psikologi dan profesi Psikolog penjurusan klinis Anak dan Remaja, Leya kemudian melanjutkan studi S2 Psikologi di Kanada dengan penjurusan Family and Marriage.

Kegiatan ini hadir sebagai respons terhadap semakin kompleksnya dinamika relasi interpersonal yang dihadapi orang Indonesia dewasa muda, baik yang tinggal di Indonesia maupun di luar negeri. Relasi saat ini dapat dimulai melalui berbagai jalur, mulai dari lingkungan kerja, komunitas, keluarga, hingga platform digital dan hubungan jarak jauh lintas negara. Di balik peluang membangun hubungan yang bermakna, terdapat pula risiko manipulasi emosional, penipuan, hingga eksploitasi personal maupun finansial yang semakin sering terjadi.

Melalui pendekatan berbasis bukti yang mengintegrasikan psikologi klinis, neuroscience pengambilan keputusan, dan literatur tentang manipulasi interpersonal, kegiatan ini dirancang sebagai ruang psikoedukasi yang netral, inklusif, dan tidak menghakimi. Fokus utama kegiatan bukan pada bentuk relasi tertentu, melainkan pada keterampilan universal yang dibutuhkan untuk membangun hubungan secara sadar, aman, dan sehat.

Dalam sesi ini, peserta akan mempelajari bagaimana keterlibatan emosional memengaruhi proses pengambilan keputusan, mengenali pola manipulasi seperti love bombing, urgency pressure, dan inkonsistensi perilaku, hingga memahami berbagai bentuk penipuan relasional seperti romance scam, sextortion, dan investment fraud yang dapat terjadi dalam konteks online maupun offline. Sebelum dimulai, peserta diwajibkan untuk mengisi lembar elektronik sebagai assesment kebutuhan pemateri.

Selain itu, peserta juga akan mendapatkan kerangka praktis untuk menilai relasi sehat dan tidak sehat, memahami pentingnya batasan dalam hubungan interpersonal, serta strategi pengambilan keputusan yang lebih sadar dan aman. Kegiatan akan diselenggarakan secara daring dengan format psikoedukasi interaktif, studi kasus aplikatif, diskusi kelompok kecil, dan sesi tanya jawab terstruktur. Sasaran kegiatan adalah orang Indonesia dewasa berusia 23 tahun ke atas, termasuk profesional muda, pekerja, mahasiswa pascasarjana, dan masyarakat umum yang sedang berada pada tahap kehidupan di mana keputusan relasional jangka panjang menjadi relevan.

Menurut Anna Knöbl, panitia penyelenggara, kegiatan ini diharapkan menjadi ruang belajar yang aman dan reflektif bagi peserta untuk memahami dinamika relasi interpersonal secara lebih sadar di tengah perkembangan relasi modern yang semakin kompleks dan lintas konteks budaya maupun geografis.

“Relasi yang sehat tidak hanya dibangun atas dasar ketertarikan emosional, tetapi juga membutuhkan kesadaran, kemampuan mengenali risiko, serta keterampilan menetapkan batasan yang aman,” ujar Anna, selaku penyelenggara.

Melalui kegiatan ini, peserta diharapkan memiliki kerangka berpikir yang lebih jernih untuk menilai pola dalam relasi, mengenali tanda manipulasi sejak dini, mengambil keputusan dengan lebih sadar, serta memperoleh pengetahuan aplikatif yang relevan untuk jangka panjang. Untuk informasi lebih lanjut mengenai jadwal pelaksanaan dan pendaftaran, masyarakat dapat mengikuti informasi resmi melalui kanal media sosial dan platform Ruanita Indonesia.

(GALERI FOTO) Mendiskusikan Film “Dua Kali” dan Buku “Gema dari Ruang Hening” di Hamburg

Dalam rangka memperingati Bulan Indonesia di Jerman selama sebulan penuh yang diselenggarakan oleh DIG Hamburg e.V., Ruanita Indonesia berkesempatan untuk berbagi dan berdiskusi dengan warga Indonesia di Hamburg. Acara berlangsung pada hari Jumat-Sabtu, 5-6 Juni 2026. Pada kesempatan ini, Ruanita Indonesia memanfaatkan untuk menayangkan film “Dua Kali” sebagai media diskusi dan refleksi tentang tema kesehatan mental dan layanan kesehatan jiwa di Jerman. Selain itu, ada juga kesempatan untuk berdiskusi Hybrid bersama para kontributor buku ketiga “Gema dari Ruang Hening” dari berbagai lokasi negara dengan para peserta Bulan Indonesia yang datang di Hamburg. Kredit foto: Dyah Narang-Huth (DIG Hamburg e.V.)

(SIARAN BERITA) Trauma Masa Kecil: Mengenali, Memahami, dan Menyikapi dengan Sehat

Jakarta, 31 Mei – Kegiatan psikoedukasi bertajuk “Trauma Masa Kecil: Mengenali, Memahami, dan Menyikapi dengan Sehat” telah sukses dilaksanakan secara daring melalui Zoom dengan melibatkan pelajar Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di luar negeri dan masyarakat Indonesia lainnya. Kegiatan ini menjadi wadah edukatif sekaligus reflektif dalam meningkatkan kesadaran akan pentingnya memahami dampak pengalaman masa kecil terhadap kehidupan dewasa.

Selama dua jam pelaksanaan, peserta memperoleh pemaparan mengenai konsep trauma masa kecil, bentuk-bentuknya, serta bagaimana pengalaman tersebut dapat memengaruhi relasi interpersonal, regulasi emosi, hingga cara individu menghadapi tantangan akademik maupun sosial. Materi disampaikan secara komprehensif dengan pendekatan yang sensitif dan berbasis ilmu psikologi.

Salah satu hal yang menonjol dari kegiatan ini adalah terjadinya interaksi yang hangat dan bermakna antara pemateri dan peserta. Dalam sesi diskusi, peserta secara aktif membagikan pengalaman, pertanyaan, serta refleksi pribadi terkait dinamika trauma yang mereka rasakan atau sadari dalam kehidupan sehari-hari. Interaksi ini memperlihatkan besarnya kebutuhan akan ruang dialog yang aman, suportif, dan bebas stigma.

Kegiatan difasilitasi oleh Lovely Christi Zega, Psikologi Klinis di Jerman, dan berharap ini tidak hanya menjadi forum pembelajaran, tetapi juga menghadirkan safe space yang mendorong peserta untuk lebih bijak dalam memandang pengalaman masa lalu. Peserta diajak memahami bahwa mengenali respons emosional diri merupakan langkah awal yang penting, sekaligus menyadari bahwa proses pemulihan membutuhkan pendekatan yang tepat dan tidak selalu dapat dijalani sendiri.

Follow us

Melalui sesi ini, peserta juga didorong untuk mengambil langkah profesional dalam memahami status situasi pengalamannya terkait trauma. Kesadaran untuk mencari bantuan dari tenaga kesehatan mental yang kompeten ditegaskan sebagai bentuk keberanian dan tanggung jawab terhadap diri sendiri, bukan sebagai tanda kelemahan.

Dengan terlaksananya kegiatan ini, diharapkan semakin banyak pelajar Indonesia di luar negeri yang memiliki pemahaman lebih baik mengenai kesehatan mental, serta berani membangun langkah-langkah sehat dalam menghadapi pengalaman emosional yang kompleks. Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa proses mengenali luka masa lalu bukan untuk terjebak di dalamnya, melainkan sebagai jalan menuju pertumbuhan yang lebih sehat, sadar, dan berdaya.

Sebagai catatan penting, tujuan dari Psikoedukasi online ini sebagai bagian dari program Knowledge Sharing yang diinisiasi Anna Knöbl. Yakni program untuk berbagi pengetahuan, pengalaman, dan praktik baik dari para praktisi kesehatan mental Indonesia di berbagai negara, dengan menghadirkan ruang aman untuk mempromosikan kesehatan mental yang inklusif dan selaras dengan nilai-nilai Indonesia.

Program ini merupakan bagian dari inisiatif Ruanita Indonesia yang didirikan dan dikelola oleh Anna Knöbl di Jerman, sebagai ruang kolektif digital berbasis manajemen nilai, resource sharing, dan intervensi komunitas dalam konteks lintas negara. Inisiatif ini berfungsi sebagai social support system yang memanfaatkan teknologi digital modern sebagai medium interaksi dan pembelajaran.

Bila Anda memerlukan materi tertulis sebagai rangkuman acara ini, silakan mengisi permohonan formulir elektronik materi informasi, sebagaimana Link yang ditautkan. Setelah mengisi formulir elektronik tersebut, kirimkan email permohonan ke info@ruanita.com ya.

(CERITA SAHABAT) Membebaskan Diri dari Diam: Perjalanan Saya Keluar dari Silent Treatment

Halo, Sahabat Ruanita! Perkenalkan, nama saya Lily. Saya seorang perempuan Indonesia yang menikah dengan pria berkewarganegaraan India. Saat ini, saya telah tinggal di negeri Bollywood itu selama kurang lebih lima belas tahun. Jika saya ingat kembali, perjalanan saya meninggalkan tanah air bukan hanya perpindahan fisik, melainkan juga awal dari perjalanan batin yang penuh pelajaran, luka, dan pada akhirnya, kekuatan.

Ketika kami menikah, semua terasa indah. Kehidupan rumah tangga di awal berjalan seperti yang saya harapkan. Meskipun tentu ada perbedaan budaya, saya berpikir semua bisa diatasi dengan cinta dan pengertian. Saya tahu bahwa dalam setiap pernikaha, apalagi pernikahan campuran. Jatuh bangun adalah hal yang wajar. Saya percaya bahwa komitmen yang kuat bisa menjadi penopang di tengah perbedaan. Namun, ternyata tidak semua keyakinan saya berjalan sesuai harapan.

Saya masih ingat jelas saat pertama kali tiba di India. Gambaran saya tentang negara ini dibentuk dari film-film Bollywood yang saya tonton sejak kecil. Romantis, penuh warna, dan hangat. Kenyataannya, kehidupan di sini sangat berbeda. Tantangan dimulai sejak saya harus beradaptasi dengan keluarga suami. Pada awalnya, mereka memperlakukan saya dengan baik, setidaknya ketika suami ada. Namun, semua berubah ketika suami mulai sering bepergian, meninggalkan saya di rumah bersama ibu mertua dan kakak ipar. Saat itulah saya mulai merasakan dinginnya jarak dan dinginnya kata yang tak pernah terucap.

Perlakuan yang tadinya ramah berubah menjadi penuh sindiran halus, bahkan fitnah. Mereka mengadu domba, menuduh saya melakukan hal-hal yang tidak pernah saya lakukan, dan yang paling menyakitkan adalah mereka tidak pernah mau mengakui kesalahan, apalagi meminta maaf. Setiap kali saya mencoba menjelaskan kepada suami, saya justru disalahkan. Posisi saya begitu sulit. Di satu sisi ingin membela diri, di sisi lain tahu bahwa suara saya tidak akan pernah mengalahkan loyalitasnya pada keluarganya. Pada akhirnya, saya memilih diam. Bukan karena saya setuju, tetapi karena saya tidak tahu lagi bagaimana cara membuat suara saya didengar.

Follow us

Diam itu, pada mulanya, hanya terjadi sesekali. Namun, perlahan-lahan, ia menjadi pola hubungan. Suami mulai jarang berbicara, lebih sering mengabaikan, hingga akhirnya memutuskan pindah ke negara lain untuk bekerja. Saya dan anak-anak ditinggalkan di India bersama keluarga besarnya. Tidak ada komunikasi hangat, tidak ada perhatian, tidak ada kata-kata dukungan. Yang ada hanya jarak, baik secara fisik maupun emosional. Dan yang lebih menghancurkan, di tengah diam itu saya mengetahui bahwa ia menikahi perempuan lain di negara tempatnya bekerja dan bahkan memiliki anak.

Kabar itu membuat hati saya runtuh. Marah, sakit hati, dan kecewa. Semuanya bercampur jadi satu. Lebih dari itu, saya merasa dikhianati bukan hanya sebagai istri, tapi juga sebagai ibu dari anak-anak kami. Ia tidak memikirkan perasaan mereka, tidak memikirkan bagaimana luka ini akan memengaruhi hidup mereka. Meski begitu, saya tetap percaya bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan saya. Saya percaya akan ada waktu ketika Tuhan menegur dan menyadarkan dia.

Namun, keyakinan itu tidak serta-merta menghapus rasa sakit. Diam yang berkepanjangan ini seperti racun yang meresap perlahan. Saya bingung harus berbuat apa. Saya hidup di negara dengan bahasa dan budaya yang berbeda, jauh dari keluarga dan sahabat di Indonesia. Saya merasa sendirian, terkurung di ruang hening yang menyesakkan. Kondisi psikologis saya memburuk. Saya menjadi cemas, takut berbuat salah, merasa tidak pernah cukup baik. Berat badan saya turun drastis, dan saya mengalami stres hingga depresi. Saya merasa hancur, baik secara mental maupun fisik.

Di tengah semua itu, satu hal yang membuat saya tetap berdiri adalah anak-anak. Mereka tumbuh dengan sehat dan ceria, meski tidak memiliki ayah yang hadir secara emosional maupun fisik. Melihat mereka tersenyum memberi saya alasan untuk tetap bertahan. Mereka adalah pengingat bahwa saya tidak boleh kalah oleh keadaan.

Saya sempat mencoba mencari jalan keluar dengan bercerita kepada teman-teman atau kerabat jauh. Sayangnya, upaya itu justru sering memperburuk keadaan karena terlalu banyak pihak yang ikut campur tanpa benar-benar memahami situasi. Saya juga sempat membalas diam dengan diam, berharap suami menyadari dan memulai pembicaraan. Nyatanya, itu hanya membuat jarak semakin jauh.

Akhirnya, saya menyadari bahwa saya tidak bisa terus hidup dalam lingkaran ini. Saya mulai mencari bantuan dari profesional: konselor, psikolog, dan juga komunitas sosial. Saya bersyukur, di tengah keterasingan ini, Tuhan mempertemukan saya dengan orang-orang yang peduli. Ada teman-teman di gereja, rekan-rekan muslim Indonesia di sini, dan juga sahabat-sahabat di tempat kerja yang menjadi keluarga baru saya. Mereka tidak hanya memberi dukungan moral, tapi juga mengingatkan saya bahwa saya masih berharga.

Tinggal di India memberi saya banyak pelajaran berharga. Saya belajar berani berkata “tidak” terhadap perlakuan yang tidak adil, belajar untuk tidak selalu memprioritaskan perasaan orang lain sampai mengorbankan diri sendiri. Sebagai perempuan Indonesia, saya dulu dikenal ramah dan sulit menolak. Namun, saya mulai sadar bahwa kelembutan yang tidak dibarengi batas bisa dimanfaatkan orang lain. Saya juga memahami bahwa diam, dalam konteks hubungan yang tidak sehat, bukanlah solusi. Diam bisa menjadi hukuman yang merusak, membuat luka semakin dalam. Saya berusaha mengubah diri agar tidak lagi membiarkan masalah membeku tanpa penyelesaian.

Pengalaman ini membuat saya semakin yakin bahwa komunikasi adalah kunci. Konflik memang tak terhindarkan, tetapi cara kita menghadapinya menentukan arah hubungan. Saya berharap bisa lebih berani menyatakan perasaan dan pikiran saya, meski itu berarti menghadapi ketidaknyamanan. Karena saya tahu, diam yang memendam hanya akan menggerogoti hati pelan-pelan.

Sekarang, hidup saya sudah berbeda. Saya tidak lagi bersama suami yang dulu. Tuhan menghadirkan pasangan yang baru, yang mengerti saya dan menerima anak-anak saya. Dengan dia, saya belajar bahwa masalah bisa diselesaikan melalui percakapan, bukan dibiarkan membusuk dalam diam. Anak-anak saya tumbuh di lingkungan yang lebih tenang, lebih aman secara emosional. Meski luka lama tidak sepenuhnya hilang, saya tahu saya berada di jalur pemulihan.

Bagi Sahabat Ruanita yang mungkin sedang berada di situasi serupa, pesan saya sederhana namun penting: jangan biarkan diri terperangkap dalam hubungan yang membungkam. Silent treatment bukan tanda kedewasaan, melainkan tanda ketidakmampuan mengelola konflik. Jika diam dipakai untuk mengontrol atau menghukum, itu adalah bentuk kekerasan emosional. Beranilah memecah kebisuan itu. Mungkin tidak mudah, bahkan mungkin menakutkan, tapi percayalah, suara kita berharga.

Saya pernah gagal mempertahankan hubungan dengan ayah anak-anak saya karena kami tidak pernah benar-benar tinggal bersama secara utuh. Komunikasi kami rapuh, dan diam menjadi jurang yang memisahkan. Namun, kegagalan itu bukan akhir. Bersama pasangan saya sekarang, saya membuktikan bahwa komunikasi yang sehat bisa menyelamatkan hubungan. Tidak ada yang sempurna, tetapi ada perbedaan besar antara berjuang bersama dan dibiarkan berjuang sendirian.

Hari ini, saya berdiri bukan sebagai korban, tetapi sebagai penyintas. Saya ingin setiap perempuan yang membaca kisah ini tahu bahwa keluar dari lingkaran diam itu mungkin. Ada kehidupan yang lebih baik di luar sana, ada cinta yang lebih sehat, ada ruang di mana suara Anda tidak hanya didengar, tetapi juga dihargai.

Sahabat Ruanita, mari kita saling menguatkan. Diam mungkin terlihat seperti pilihan aman, tapi dalam banyak kasus, itu hanya memperpanjang penderitaan. Bicara, cari bantuan, dan lindungi diri Anda. Karena kita semua berhak untuk dicintai dengan cara yang sehat, tanpa kebisuan yang menyiksa.

Penulis: Lily, perempuan Indonesia di India dan dapat dikontak via akun e-mail: info@ruanita.com

(SIARAN BERITA) Seminar Daring “Youth Diplomacy and Digital Literacy” Berlangsung Interaktif dan Inspiratif yang Berdampak Inklusif

Sabtu, 23 Mei 2026 — Ruanita Indonesia sukses menyelenggarakan Seminar Online bertajuk “Youth Diplomacy and Digital Empowerment” melalui platform Zoom Meeting. Kegiatan yang berlangsung selama dua jam ini diikuti oleh peserta dari berbagai latar belakang yang antusias mempelajari diplomasi praktis dan pemanfaatan media digital untuk gerakan sosial.

Seminar daring ini diselenggarakan sebagai ruang belajar interaktif bagi generasi muda dan komunitas untuk memahami pentingnya diplomasi dalam pembangunan berkelanjutan, sekaligus meningkatkan kemampuan literasi digital dalam memperkuat advokasi sosial.

Acara dibuka dengan salam pembuka dari Aurelia Vinton, PPI Amerop, yang menekankan pentingnya kolaborasi lintas komunitas dan pemanfaatan teknologi digital untuk menciptakan dampak sosial yang lebih luas dan berkelanjutan. Harapannya, ruang-ruang digital seperti ini akan memperkaya pengetahuan dan pengalaman terkait tema-teman pembangunan sosial yang inklusif dan berkelanjutan, seperti yang baru saja dilaksanakan.

Pada sesi pertama, Hernita Oktarini, Relawan Ruanita Indonesia sekaligus lulusan Development Studies di Jerman dan peneliti independen isu pesisir serta sustainability, membawakan materi mengenai konsep diplomasi dalam pembangunan berkelanjutan. Hernita menjelaskan bagaimana individu dan komunitas dapat berkontribusi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), termasuk melalui kolaborasi internasional dan penguatan isu masyarakat pesisir serta nelayan.

Peserta juga diajak memahami tantangan dan peluang dalam membangun kemitraan global untuk mendukung komunitas lokal. Diskusi berlangsung aktif dengan berbagai pertanyaan terkait strategi membangun jejaring internasional dan praktik diplomasi di tingkat komunitas. Sesi kedua menghadirkan Veronica Christamia, dosen di Tiongkok sekaligus founder Komunitas Netra dan Nasi Bungkus Gratis Jogja. Veronica membagikan pengalaman mengenai pentingnya literasi digital untuk gerakan sosial dan strategi membangun narasi yang impactful di media sosial.

Follow us

Dalam paparannya, Veronica menjelaskan berbagai pendekatan sederhana namun efektif dalam membuat konten advokasi, mulai dari storytelling, reels, hingga kampanye digital berbasis komunitas. Peserta juga mendapatkan wawasan mengenai penggunaan platform digital untuk memperluas awareness terhadap isu sosial. Salah satu bagian yang paling menarik dalam workshop ini adalah sesi mini workshop, di mana peserta diminta menyusun konsep kampanye sosial berbasis digital. Peserta merancang ide kampanye dengan menentukan isu yang diangkat, target audiens, strategi kolaborasi, platform digital yang digunakan, hingga contoh caption dan ide konten kampanye.

Melalui praktik tersebut, peserta tidak hanya memperoleh pemahaman teoritis, tetapi juga pengalaman langsung dalam merancang kampanye sosial yang relevan dan aplikatif. Kegiatan ditutup dengan sesi refleksi, foto bersama, serta harapan agar workshop ini dapat menjadi awal lahirnya berbagai ide kolaborasi dan gerakan sosial yang lebih kreatif, inklusif, dan berdampak positif bagi masyarakat.

Ruanita Indonesia berharap kegiatan ini dapat terus mendorong generasi muda untuk aktif membangun perubahan sosial melalui diplomasi, kolaborasi, dan pemanfaatan teknologi digital secara bijak dan berkelanjutan. Lebih lanjut, rekaman pemaparan materi dapat disimak melalui kanal YouTube Ruanita – Rumah Aman Kita berikut:

(CERITA SAHABAT) Cultural Switching dan Strategi Bertahan Tinggal di Jerman

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan namaku Nurjannah. Aku lahir dan besar di sebuah kota kecil di Nganjuk, Jawa Timur. Setelah lulus SMA, aku merantau ke Jakarta untuk kuliah sekaligus bekerja. Seperti banyak perempuan muda Indonesia lainnya, aku punya mimpi sederhana: belajar, bekerja, dan membangun kehidupan yang lebih baik. Tak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa suatu hari aku akan tinggal jauh di negeri orang, tepatnya di Jerman, selama bertahun-tahun.

Perjalananku ke Jerman dimulai sekitar tujuh tahun lalu. Proses pindah ke luar negeri tidaklah mudah. Ada banyak urusan administrasi, dokumen, dan adaptasi mental yang harus dipersiapkan. Saat itu aku masih bekerja, jadi untuk menghemat waktu aku menggunakan jasa agen untuk membantu mengurus semua persyaratan administratif. Meski begitu, tetap saja prosesnya panjang dan melelahkan. Namun, aku selalu percaya bahwa perjalanan besar memang dimulai dengan langkah-langkah kecil yang penuh perjuangan.

Aku masih ingat jelas, ketika pesawat mendarat di bandara Jerman untuk pertama kalinya, pikiranku penuh tanda tanya. “Apakah aku bisa betah? Bisakah aku menyesuaikan diri dengan orang-orang di sini? Bagaimana kalau aku kesepian?”

Hari-hari pertama memang tidak mudah. Aku harus menghadapi perbedaan budaya yang cukup mencolok. Salah satunya soal menjaga waktu. Di Indonesia, terutama di kampung halamanku, sering ada budaya fleksibilitas waktu. Janji bertemu pukul 10 pagi bisa mundur hingga setengah jam atau bahkan satu jam, dan itu dianggap wajar. Namun di Jerman, semuanya sangat berbeda.

Jika ingin bertemu dengan seseorang, harus ada janji temu yang jelas. Tidak bisa tiba-tiba datang tanpa pemberitahuan. Ketepatan waktu adalah bentuk penghargaan yang besar terhadap orang lain. Awalnya aku merasa kikuk, bahkan bingung. Namun lama-kelamaan, aku mulai memahami bahwa disiplin waktu bukan sekadar aturan kaku, melainkan bagian dari cara hidup yang menghargai orang lain.

Sahabat Ruanita, mungkin ada yang bertanya-tanya, apa sih sebenarnya cultural switching itu?

Secara sederhana, cultural switching adalah kemampuan seseorang untuk berpindah, menyesuaikan, atau beralih antara satu budaya ke budaya lain, tergantung pada konteks situasi yang dihadapi. Dalam dunia psikologi dan studi lintas budaya, istilah ini sering digunakan untuk menggambarkan bagaimana individu yang hidup di lingkungan multikultural harus beradaptasi dengan aturan, nilai, dan kebiasaan yang berbeda-beda.

Bagi banyak orang Indonesia yang merantau ke luar negeri, cultural switching adalah keterampilan hidup yang harus dikuasai. Mengapa? Karena budaya Indonesia dan budaya negara tujuan seringkali sangat berbeda. Indonesia dikenal dengan nilai kolektivitas, ramah, penuh toleransi, dan cenderung mengutamakan harmoni dalam hubungan sosial. Sementara itu, budaya Jerman lebih individualis, langsung (to the point), dan realistis.

Follow us

Sebagai contoh, di Indonesia, jika ingin mengkritik seseorang, kita biasanya melakukannya dengan halus agar tidak menyinggung perasaan. Sementara di Jerman, orang terbiasa memberikan kritik langsung tanpa basa-basi. Bagi mereka, kejujuran adalah bentuk penghormatan.

Pada awalnya, aku kaget. Rasanya kok “tajam sekali” ketika orang Jerman menyampaikan pendapat. Tapi setelah dipikir ulang, aku mulai menyadari bahwa itu justru memudahkan. Aku jadi tahu apa yang salah dan apa yang harus diperbaiki, tanpa perlu menebak-nebak maksud di balik ucapan mereka.

Salah satu hal yang paling menantang bagiku adalah bagaimana menerapkan nilai-nilai budaya Indonesia dalam kehidupan sehari-hari di Jerman.

Aku seorang ibu, dan anakku lahir serta tumbuh di sini. Aku ingin anakku mengenal budaya Jerman karena itu adalah lingkungan tempat dia tumbuh besar. Namun di sisi lain, aku juga ingin ia tetap membawa nilai-nilai baik dari Indonesia.

Contoh kecilnya bisa terlihat dari kebiasaan di toilet. Di rumah, aku membiasakan anakku membersihkan diri dengan air, sesuatu yang sangat umum di Indonesia tetapi tidak lazim di Jerman. Ketika di luar rumah, ia bisa beradaptasi dengan kebiasaan setempat, tapi aku selalu mengajarkan bahwa di rumah kita tetap menjaga tradisi dari Indonesia.

Inilah bentuk nyata cultural switching. Anak-anakku belajar bagaimana menyesuaikan diri dengan budaya yang berbeda tanpa kehilangan identitas aslinya.

Yang paling aku syukuri dari pengalaman hidup di Jerman adalah aku jadi lebih percaya diri untuk menjadi diriku sendiri. Di sini, aku merasakan kebebasan untuk mengekspresikan diri tanpa takut dihakimi. Orang-orang cenderung tidak peduli dengan pilihan pribadi kita selama tidak merugikan orang lain.

Hal ini berbeda dengan sebagian budaya di Indonesia, di mana terkadang masih ada tekanan sosial atau pandangan masyarakat yang mengikat. Misalnya, pilihan gaya berpakaian, keputusan menikah atau tidak menikah, atau pilihan karier perempuan sering kali jadi bahan perbincangan. Di Jerman, aku belajar bahwa setiap orang berhak menentukan jalannya sendiri.

Namun, bukan berarti aku harus melepaskan semua nilai dari Indonesia. Justru aku berusaha membawa hal-hal baik dari tanah air, seperti: keramahan, sopan santun, dan kelembutan dalam berbicara. Ini adalah ciri khas orang Indonesia yang membuatku merasa bangga.

Tidak bisa dipungkiri, hidup di luar negeri penuh tantangan. Ada kalanya aku menghadapi situasi sulit: kesepian, rindu keluarga, atau kebingungan menghadapi masalah sehari-hari.

Di saat-saat seperti itu, aku lebih sering mengadopsi gaya Jerman yang realistis dan langsung pada inti masalah. Kalau ada masalah, aku berusaha mencari solusinya secepat mungkin, bukan hanya mengeluh. Budaya Jerman mengajarkanku untuk lebih rasional, lebih lugas, dan lebih fokus pada solusi.

Ada banyak keuntungan tinggal di Jerman. Salah satunya, aku bisa bepergian ke berbagai negara Eropa tanpa perlu visa khusus. Bagi seorang perempuan yang suka menjelajah, ini adalah kesempatan yang luar biasa.

Namun tentu ada juga tantangan. Bahasa menjadi salah satu yang paling besar. Meski aku sudah belajar bahasa Jerman, tetap saja butuh waktu lama untuk benar-benar fasih. Bahasa bukan hanya soal kosakata, tapi juga soal cara berpikir. Budaya Jerman yang to the point membuat cara mereka berkomunikasi berbeda sekali dengan orang Indonesia.

Karena itu, aku selalu menyarankan kepada perempuan Indonesia lain yang ingin pindah ke Jerman: siapkan bahasa dan mental yang kuat. Jangan takut dengan kritik, karena di sini orang tidak ragu untuk menyampaikan kritik secara langsung. Anggaplah itu sebagai masukan yang membangun.

Dari perjalanan hidupku, ada beberapa hal yang ingin kubagikan kepada Sahabat Ruanita atau perempuan Indonesia lainnya yang punya mimpi tinggal di luar negeri:

1. Tetap jadi diri sendiri. Jangan merasa harus mengubah segalanya hanya untuk diterima.

2. Bawa nilai baik dari Indonesia. Ramah kepada orang lain, lembut dalam berbicara, dan sopan santun adalah kekuatan kita.

3. Belajar bahasa sebaik mungkin. Bahasa adalah kunci untuk membuka pintu interaksi dan peluang baru.

4. Siapkan mental yang kuat. Tinggal jauh dari keluarga tidak selalu mudah, jadi penting untuk punya ketahanan mental.

5. Terbuka terhadap perbedaan. Ingat bahwa cultural switching bukan berarti kehilangan identitas, melainkan kemampuan untuk bergerak luwes di antara dua budaya.

Pada akhirnya, bagiku cultural switching bukanlah soal memilih budaya mana yang lebih baik, melainkan soal membangun jembatan di antara dua dunia.

Aku bersyukur bisa belajar disiplin, kejujuran, dan ketegasan dari budaya Jerman. Di saat yang sama, aku tetap membawa kehangatan, keramahan, dan rasa kebersamaan dari Indonesia. Kedua hal ini berpadu dalam keseharian, membentuk versi terbaik dari diriku yang baru.

Setiap kali aku pulang ke Indonesia, aku membawa cerita tentang kehidupan di Jerman. Sebaliknya, setiap hari di Jerman aku juga membawa sepotong Indonesia dalam hatiku. Inilah yang membuat perjalananku sebagai perempuan Indonesia di negeri orang menjadi penuh warna.

Sahabat Ruanita, perjalanan hidupku mungkin hanya satu dari sekian banyak kisah perempuan Indonesia yang tinggal di luar negeri. Namun aku percaya, setiap cerita punya makna. Bagiku, cultural switching bukan sekadar strategi bertahan hidup, melainkan sebuah proses belajar yang membuatku lebih dewasa, lebih kuat, dan lebih menghargai perbedaan.

Semoga cerita ini bisa menjadi inspirasi bagi siapa saja yang tengah bersiap untuk merantau, atau sekadar ingin memahami bagaimana rasanya hidup di antara dua budaya.

Penulis: Nur Jannah, tinggal di Jerman yang dapat dikontak via akun instagram nurjanah_magnus

(IG LIVE) Belajar Mengurangi Kebisingan Digital, demi Pikiran yang Lebih Tenang

Notifikasi yang terus berbunyi, kebiasaan membuka media sosial tanpa sadar, grup percakapan yang tidak ada habisnya, hingga tekanan untuk selalu mengikuti informasi terbaru perlahan menjadi bagian dari keseharian banyak orang. Di tengah derasnya arus digital tersebut, ruang untuk benar-benar tenang sering kali semakin sempit.

Fenomena inilah yang diangkat dalam program bulanan Diskusi IG LIVE yang dikelola akun Instagram Ruanita Indonesia pada episode Mei 2026 bertajuk Digital Declutter. Diskusi ini menghadirkan dua narasumber Indonesia yang tinggal di Eropa, yakni Aghata Yasmin, mahasiswa Informatika di Slovenia, serta Fransisca Hapsari, peneliti teknologi pendidikan dan mahasiswa doktoral di Jerman.

Diselenggarakan menjelang peringatan World Telecommunication and Information Society Day pada 17 Mei, diskusi tersebut membahas bagaimana kehidupan digital yang semakin padat tidak hanya memengaruhi fokus dan kesehatan mental, tetapi juga keamanan data pribadi.

Dalam percakapan tersebut, Yasmin menjelaskan bahwa salah satu tantangan terbesar di era digital adalah cognitive load atau beban mental akibat terlalu banyak informasi yang masuk setiap hari. Menurutnya, meskipun notifikasi atau informasi digital tidak tampak secara fisik, otak manusia tetap memproses semuanya secara terus-menerus.

Follow us

Ia menggambarkan kondisi tersebut seperti meja kerja yang terlalu penuh. Ketika terlalu banyak hal menumpuk secara bersamaan, seseorang menjadi sulit fokus dan lebih cepat merasa lelah. Hal serupa terjadi dalam kehidupan digital ketika seseorang terus-menerus menerima notifikasi media sosial, pesan instan, atau konten baru tanpa jeda.

Pengalaman tinggal di Slovenia juga membuat Yasmin melihat perbedaan budaya dalam penggunaan media sosial. Jika di Indonesia banyak aktivitas sehari-hari cenderung langsung dibagikan ke dunia digital, ia merasa kehidupan di Slovenia lebih memberi ruang untuk hadir secara utuh dalam interaksi nyata.

Ia mulai membiasakan diri menikmati aktivitas tanpa harus terus mendokumentasikan semuanya. Saat pergi hiking bersama teman, misalnya, ia memilih menyimpan telepon genggam di tas agar dapat benar-benar menikmati percakapan dan suasana sekitar.

Selain membatasi paparan digital, Yasmin juga menerapkan kebiasaan sederhana seperti mematikan data internet selama beberapa waktu setiap hari, mengatur ulang galeri foto agar lebih terorganisasi, hingga menyimpan dokumen pribadi di penyimpanan digital yang lebih aman dan terkontrol.

Sementara itu, Fransisca Hapsari menyoroti sisi lain dari kehidupan digital yang sering diabaikan, yakni keamanan data pribadi. Menurutnya, perkembangan teknologi yang sangat cepat dalam dua dekade terakhir tidak hanya membuka peluang positif, tetapi juga meningkatkan risiko kejahatan siber.

Ia menjelaskan bahwa banyak pengguna internet masih menggunakan teknologi secara tidak sadar, mulai dari memberikan data pribadi secara sembarangan hingga menggunakan kata sandi yang sama untuk berbagai aplikasi. Kebiasaan tersebut membuat pengguna lebih rentan terhadap penipuan digital, peretasan, maupun pencurian identitas.

Fransisca membagikan pengalamannya ketika menerima ancaman digital setelah terjadi kebocoran data dari sebuah platform belanja daring di Indonesia. Saat itu ia sempat panik karena menerima pesan yang mengklaim mengetahui kata sandinya dan meminta sejumlah uang. Pengalaman tersebut membuatnya lebih sadar pentingnya keamanan digital dan pengelolaan data pribadi.

Menurutnya, digital declutter bukan hanya soal membersihkan file atau mengurangi penggunaan media sosial, tetapi juga tentang membangun kesadaran terhadap teknologi yang digunakan setiap hari. Ia mengajak pengguna untuk lebih kritis terhadap aplikasi yang diunduh, izin akses yang diberikan, serta kebiasaan digital yang sebenarnya tidak lagi diperlukan.

Diskusi tersebut juga menyinggung bagaimana media sosial memengaruhi kesehatan mental, terutama munculnya rasa lelah, FOMO (fear of missing out), hingga kecenderungan membandingkan hidup dengan orang lain. Yasmin memperkenalkan konsep JOMO atau joy of missing out, yakni kemampuan menikmati hidup tanpa merasa harus selalu mengikuti semua informasi dan tren yang beredar. Menurutnya, ketika seseorang mulai membatasi paparan digital, fokus dan kejernihan berpikir perlahan kembali terbentuk.

Fransisca menambahkan bahwa penggunaan media sosial tanpa tujuan yang jelas sering kali membuat seseorang masuk dalam pola mindless scrolling yang menguras energi mental tanpa disadari. Ia mengingatkan pentingnya membangun kebiasaan digital yang lebih sadar, termasuk membatasi penggunaan gawai sebelum tidur dan mengurangi paparan cahaya layar yang dapat mengganggu kualitas istirahat.

Selain berbicara tentang individu, diskusi ini juga menyoroti pentingnya peran keluarga dalam membangun kebiasaan digital yang sehat. Yasmin menekankan pentingnya menciptakan momen bersama tanpa gawai, seperti makan bersama, memasak, atau berbincang tanpa gangguan layar. Menurutnya, teknologi seharusnya menjadi alat yang membantu kehidupan manusia, bukan sebaliknya mengendalikan manusia. Karena itu, kesadaran untuk memilih apa yang dikonsumsi secara digital menjadi semakin penting di tengah banjir informasi saat ini.

Melalui Diskusi IG LIVE bulanan, Ruanita Indonesia menghadirkan ruang percakapan lintas negara yang membahas berbagai isu keseharian perempuan Indonesia secara reflektif dan relevan dengan perkembangan zaman. Episode tentang digital declutter ini menjadi pengingat bahwa di tengah kehidupan yang semakin terkoneksi, menjaga ketenangan pikiran dan batas sehat dengan dunia digital merupakan bentuk perawatan diri yang juga penting dilakukan.

Simak selengkapnya rekaman program diskusi IG LIVE berikut ini di kanal YouTube Ruanita – Rumah Aman Kita dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

(CERITA SAHABAT) Ciptakan Ruang Digital Sehat dengan Digital Minimalism

Halo, sahabat Ruanita! Terima kasih atas kesempatannya. Saya sangat senang memiliki kesempatan untuk berbagi cerita dengan sahabat Ruanita disini. Pada kesempatan ini, saya ingin berbagi cerita tentang pengalaman saya menjalani praktik digital minimalism serta kaitannya dengan kesehatan mental. Meskipun sebenarnya menulis kedua topik ini cukup menantang bagi saya karena saya bukan seorang expert dan bukan seorang digital minimalst sejati seutuhnya. 

Dalam cerita ini saya ingin berbagi sesuatu dengan jujur dan apa adanya. Tentu, tulisan ini tidaklah sempurna, namun saya berharap, siapapun yang membaca tulisan ini dapat mengambil sesuatu yang mungkin berguna atau bermanfaat dari praktik digital minimalism sederhana yang telah saya jalani selama beberapa tahun terakhir ini. 

Perkenalkan, saya Ihma, sarjana Psikologi lulusan Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Aceh. Sejak tahun 2023, saya bekerja sebagai Community Organizer di Yayasan PASKA Aceh, sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat lokal di Kabupaten Pidie, Aceh. Saya bertanggung jawab untuk mendampingi Rumah Belajar yaitu komunitas penyintas kekerasan di masa konflik Aceh dari beberapa desa pedalaman di Kabupaten Pidie Jaya. Melalui pekerjaan ini, saya terlibat dalam kerja-kerja pemberdayaan, memberikan dukungan psikososial, serta pendidikan kritis bagi masyarakat di akar rumput. Saya juga terlibat dalam kerja-kerja advokasi kepada pemerintah untuk mendorong pemenuhan hak-hak korban konflik yang selama ini terpinggirkan.

Tahun 2024, saya mendapat kesempatan mengikuti program Learning Exchange ke Jerman yang disponsori oleh Asia Justice and Rights dan Watch Indonesia. Di sana, saya belajar langsung tentang isu-isu Hak Asasi Manusia, memorialisasi, dan budaya mengingat di masyarakat Jerman. Sebuah pengalaman yang memperkaya perspektif saya sebagai aktivis muda dari Aceh. Pada Juli 2025, saya memutuskan untuk mengundurkan diri dari PASKA Aceh karena alasan personal. Meski begitu, semangat saya untuk terus terlibat dalam advokasi dan pemberdayaan masyarakat tidak akan berhenti. Kini, saya tengah menata ulang arah hidup, memperdalam kemampuan bahasa Inggris, dan menjalani hari-hari dengan belajar secara mandiri melalui platform belajar daring.

Kalau ditanya apa yang pertama kali membuat saya tertarik dengan dunia psikologi. Sejujurnya, dulu memilih Psikologi sebagai jurusan kuliah saya bukanlah keputusan yang direncanakan matang. Bisa dibilang, itu pilihan yang cukup spontan. Saat pertama kali mendaftar, saya belum tahu banyak tentang Psikologi. Hal yang saya pahami saat itu sangat sederhana, ilmu psikologi adalah ilmu tentang jiwa manusia, dan entah kenapa saya langsung mengaitkannya dengan “orang gila.” 

Tapi kalau saya melihat ke belakang, khususnya saat masa SMA, ternyata ada satu pengalaman yang secara tidak sadar menjadi awal ketertarikan saya terhadap dunia psikologi. Waktu itu, saya sering membantu abang saya yang kuliah di jurusan Keperawatan mengerjakan tugas-tugas tentang topik halusinasi, delusi dan waham pada pasien dengan gangguan skizofrenia. Tanpa saya sadari, ternyata saya tertarik dengan bagaimana pikiran manusia bekerja, dan bagaimana kita bisa memahami mereka yang dianggap “berbeda.”

Sekarang saya merasa sangat bersyukur pernah membuat keputusan spontan itu. Karena lewat Psikologi, saya belajar banyak hal, terutama tentang diri saya sendiri.
Dulu, saya merasa cukup pendiam, sulit bergaul, dan kurang percaya diri. Tapi dengan memahami Psikologi, saya jadi lebih mengenal diri sendiri, lebih menerima, dan lebih menyayangi diri saya sebagai manusia yang utuh, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Ini berdampak besar pada rasa percaya diri dan cara saya menjalani hidup dan bekerja. Psikologi juga mengubah cara saya melihat dunia yang penuh keberagaman. Saya jadi lebih menghargai bahwa setiap individu itu unik, punya latar belakang, budaya, keyakinan, dan pengalaman yang berbeda-beda. Nilai-nilai inilah yang membantu saya ketika bekerja di masyarakat, membangun empati, menjaga toleransi, tetap rendah hati dalam berinteraksi dengan siapa pun dan menjunjung nilai-nilai kemanusiaan.

Bicara tentang digital minimalism, saya akan mulai bercerita tentang bagaimana keseharian saya sebelumnya dalam menggunakan teknologi digital. Sebagai bagian dari generasi Z yang memang tumbuh bersama teknologi saya cukup dekat dengan teknologi digital. Bisa dibilang, saya juga sangat bergantung pada media digital. Teknologi sangat membantu saya dalam belajar, berinteraksi, dan mengembangkan keterampilan baru. Tapi di sisi lain, saya juga mengalami dampak negatifnya. Saya termasuk orang yang cenderung sulit lepas dari handphone. Dulu, saya bisa menghabiskan rata-rata 5–6 jam sehari hanya untuk scroll Instagram. Kebiasaan ini mulai terasa mengganggu, terutama saat saya sedang ingin fokus belajar atau bekerja. Bahkan ketika sedang bersama teman-teman, saya sering kali tanpa sadar terus mengecek ponsel dan jadi tidak benar-benar hadir dalam interaksi sosial. Saat itu, saya mulai sadar bahwa meskipun teknologi bisa memberi manfaat besar, tapi kalau tidak digunakan dengan bijak, justru bisa menyabotase waktu, perhatian, dan kualitas hubungan sosial saya sendiri.

Sebenarnya, pertama kali saya berkenalan dengan konsep minimalism secara umum dimulai sejak saya mengikuti akun Instagram lyfewithless di tahun 2020. Namun perkenalan dengan praktik digital minimalsm dimulai pada tahun 2021, saat saya berkesempatan bertemu dengan Asfinawati yang saat itu menjabat sebagai Direktur Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) dalam sebuah kegiatan yang diselenggarakan di KontraS Aceh. 

Pertemuan pertama dengan Mbak Asfin menjadi titik awal yang sangat berkesan. Saya cukup kaget sekaligus kagum ketika tahu bahwa seorang Asfinawati yang sering saya lihat di banyak media, dikenal lantang menyuarakan isu keadilan, dan memiliki pengetahuan yang luas, ternyata tidak memiliki akun media sosial pribadi seperti Instagram, TikTok, YouTube channel dan sebagainya. Bagi saya saat itu, hal ini cukup menggugah. Di tengah era digital yang serba terhubung dan penuh distraksi, pilihan beliau untuk tidak hadir di media sosial justru terasa sangat kuat dan berani. Dari sanalah saya mulai tertarik mencari tahu lebih jauh tentang gaya hidup minimalis dalam hal penggunaan teknologi dan media digital.

Follow us

Namun jika di ingat kembali, saya bisa bilang bahwa keputusan saya untuk mulai mempraktikkan digital minimalism sangat berkaitan dengan kondisi kesehatan mental yang saya alami. Tepatnya di tahun 2022, saat saya berada di titik hidup yang cukup berat, mengalami krisis eksistensial pasca lulus kuliah dan harus menjalani terapi secara rutin dengan tenaga profesional. Di masa itu, saya mulai belajar kembali tentang diri sendiri, tentang makna hidup, dan nilai-nilai apa yang benar-benar penting bagi saya. Saya masih ingat sekali, setelah menjalani beberapa sesi konsultasi dengan psikiater, saya merasa energi saya jadi cepat sekali habis. Saya menjadi sangat sensitif terhadap emosi dan cerita orang-orang di sekitar saya. Ada satu momen yang membekas, saya pernah menangis tersedu-sedu hanya karena mendengar teman saya bercerita tentang kucing yang mati di jalan. Buat sebagian orang hal itu mungkin sepele, tapi bagi saya saat itu, dunia terasa sangat menyeramkan.

Di tengah kekacauan itu, saya mulai mempertanyakan banyak hal, termasuk kebiasaan saya menggunakan media sosial. Kenapa saya selalu merasa perlu membuka Instagram, Twitter (sekarang X), atau Facebook? Apakah saya benar-benar butuh terkoneksi dengan semua orang? Apakah saya hanya sedang berusaha membuktikan bahwa saya masih “ada”, masih berdaya? Yang paling berat adalah ketika saya tidak bisa menjawab pertanyaan “Kenapa saya harus punya media sosial?”

Pertanyaan-pertanyaan ini terus berputar di kepala saya, hampir setiap hari. Saya merasa dunia bergerak terlalu cepat dan saya tidak punya waktu untuk sekadar menikmati hari-hari saya. Saya lelah. Sampai akhirnya saya mulai mengevaluasi kebiasaan digital saya sendiri, dari tracking waktu penggunaan aplikasi hingga mencoba digital detox kecil-kecilan. Saya kaget ketika tahu bahwa saya bisa menghabiskan 5–6 jam sehari hanya untuk Instagram. 

Dari sana, saya mulai mengurangi waktu penggunaan media sosial, membatasi jadwal, berhenti mem-follow akun media sosial yang saya rasa tidak bermanfaat, menonaktifkan beberapa akun media sosial untuk sementara, bahkan menghapus beberapa aplikasi yang sebenarnya tidak benar-benar saya butuhkan. Dalam proses itu, saya mulai banyak membaca dan mencari tahu tentang digital detox, hingga akhirnya saya tahu bahwa apa yang sedang saya lakukan adalah bagian dari praktik digital minimalism. Dan ternyata, saya tidak sendiri. Ada banyak orang lain yang juga menjalani dan mendapatkan manfaat dari gaya hidup ini.

Saat pertama kali saya mulai membatasi penggunaan media sosial, ada beberapa reaksi dari lingkungan sekitar yang saya dapat. Reaksi dari keluarga cukup santai. Keluarga saya memang bukan tipe keluarga yang terlalu bergantung pada media sosial, jadi perubahan ini tidak menjadi masalah besar bagi mereka. Teman-teman saya juga merespons dengan wajar. Saya hanya perlu menjelaskan bahwa saya sedang mengurangi waktu dengan handphone, jadi mungkin saya akan sedikit lambat dalam membalas pesan atau merespons panggilan mereka. Syukurnya, mereka bisa memahami hal itu tanpa drama.

Yang cukup menantang justru datang dari lingkungan kerja. Reaksinya sangat beragam, ada yang menyindir, ada yang marah, bahkan ada yang sampai berhenti berbicara dengan saya karena saya menolak menerima panggilan telepon di luar jam kerja, atau enggan membahas pekerjaan saat sedang tidak sedang bekerja. 

Awalnya tentu hal itu tidak mudah bagi saya. Tapi seiring waktu, batasan yang saya tetapkan mulai menjadi hal yang biasa. Penolakan saya menjadi sesuatu yang bisa diterima, sama seperti saya juga belajar menerima bentuk batasan atau penolakan dari mereka. Beberapa rekan kerja saja akhirnya memahami bahwa saya tidak sedang mengabaikan mereka, saya hanya sedang belajar menjaga ruang pribadi saya dan memilih untuk memberikan respons di waktu yang saya rasa tepat.

Sebenarnya, praktik digital minimalism yang saya jalani bukanlah sesuatu yang instan atau kaku. Tapi lebih pada proses sadar untuk lebih bijak dalam menggunakan teknologi dengan menyesuaikan kebutuhan, kapasitas, dan kondisi saya sendiri.

Beberapa hal yang saya praktikkan antara lain, seperti :

  1. Membatasi waktu bermain media sosial. Setiap aplikasi media sosial saya atur dengan batas waktu tertentu. Tujuannya agar saya lebih sadar berapa lama waktu yang saya habiskan untuk berselancar, dan tidak terjebak terlalu lama di satu aplikasi.
  2. Mengatur waktu penggunaan handphone, terutama sebelum dan sesudah tidur. Saya berusaha berhenti menggunakan handphone minimal satu jam sebelum tidur. Ini membantu saya mendapatkan kualitas tidur yang lebih baik dan tidak terdistraksi dengan notifikasi. Saat bangun pagi pun, saya tidak langsung membuka handphone atau mengaktifkan internet. Meskipun saya cukup fleksibel untuk rutinitas pagi, tapi untuk aturan sebelum tidur benar-benar saya jaga.
  3. Menetapkan batasan untuk urusan pekerjaan. Saya mencoba untuk tidak membahas hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan di malam hari, kecuali jika benar-benar mendesak. Ini penting buat saya agar ada ruang istirahat yang utuh, dan tidak membawa beban kerja ke waktu pribadi.
  4. Menghapus aplikasi yang tidak digunakan. Jika dalam waktu tertentu ada aplikasi yang tidak saya buka atau tidak benar-benar bermanfaat, saya akan menghapusnya. Ini memberi ruang lebih di handphone, sehingga saya dapat menggunakan ruang tersebut untuk hal lain yang bermanfaat.
  5. Merapikan file digital, termasuk foto dan dokumen. Saya juga rutin menghapus foto atau dokumen pribadi yang sudah tidak relevan. Untuk file pekerjaan yang mungkin masih dibutuhkan sewaktu-waktu, saya simpan dalam folder khusus agar lebih mudah ditemukan dan tidak bercampur dengan file pribadi.
  6. Lebih berhati-hati dengan penggunaan internet publik. Sekarang saya sudah tidak menggunakan WiFi gratis dari tempat umum seperti warung kopi, restoran, atau layanan umum lainnya. Praktik digital minimalism ternyata juga membuat saya lebih sadar tentang keamanan digital dan pentingnya menjaga privasi.
  7. Lebih selektif sebelum meng-install aplikasi atau menyimpan file. Sebelum mendownload sesuatu, saya akan bertanya dulu pada diri sendiri, apakah ini benar-benar saya butuhkan, atau hanya karena ikut-ikutan tren? Untuk menjawab pertanyaan ini mungkin saya butuh waktu beberapa hari. Tapi kalau akhirnya saya merasa tidak terlalu penting, ya saya memilih untuk tidak meng-install.

Tentu saja, saya tidak selalu berhasil menjalankan semua ini dengan konsisten. Tapi setiap kali mulai lengah, saya selalu berusaha untuk kembali mengingat niat awal saya untuk hidup lebih tenang, lebih sadar, dan lebih hadir, baik untuk diri saya sendiri maupun untuk orang lain. 

Saya tentu saja menetapkan batasan khusus terhadap penggunaan media sosial, ponsel, atau aplikasi tertentu dalam menjalani praktik digital minimalsm ini. Seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya, hampir semua aplikasi media sosial termasuk WhatsApp memiliki batasan waktu khusus. Namun untuk aplikasi seperti Instagram dan TikTok, saya menerapkan batasan yang lebih ketat, karena saya tahu dari pengalaman pribadi bahwa aplikasi-aplikasi ini bisa sangat menyita atensi dan waktu saya. Saya juga menyadari bahwa terlalu lama terpapar konten yang terus-menerus berganti. Terutama yang sifatnya visual dan emosional dapat membuat saya jadi sangat sensitif, mudah terdistraksi, bahkan kadang merasa cemas tanpa alasan yang jelas. 

Selain itu, ada semacam tekanan tidak langsung juga untuk terus ter-update, membandingkan diri dengan orang lain, atau merasa harus “ikut” dengan hal-hal yang sebenarnya tidak terlalu penting bagi saya. Dengan menetapkan batasan yang jelas, saya merasa lebih tenang. Saya bisa mengembalikan fokus pada hal-hal yang benar-benar saya pilih untuk diperhatikan. Dan saya juga belajar untuk tidak merasa bersalah jika melewatkan satu dua hal yang sedang ramai dibicarakan atau terjadi di media sosial.

Kunci utama dari memanfaatkan teknologi digital secara bijak terutama untuk mengelola kebutuhan profesional adalah awareness atau kesadaran. Menurut saya, ketika kita tahu dengan jelas apa tujuan kita menggunakan teknologi, apakah untuk riset, membaca, menyusun laporan, atau kebutuhan pekerjaan lainnya, maka kita akan lebih bertanggung jawab dalam menggunakannya. Saya percaya dengan memiliki tujuan yang jelas, kita bisa lebih produktif dan tidak mudah terdistraksi. Dengan melatih awarness terhadap media digital, saya belajar untuk bisa membedakan kapan teknologi menjadi alat bantu yang mempercepat pekerjaan, dan kapan ia justru mengambil alih fokus saya. Bagi saya, teknologi digital bukan sesuatu yang harus dihindari, hanya perlu dikelola dengan bijak supaya tetap bisa meningkatkan kualitas hidup kita, tanpa mengorbankan kesehatan mental, ruang pribadi, atau keseimbangan hidup.

Sebenarnya saya juga punya beberapa rutinitas harian yang sangat membantu saya menjaga batasan penggunaan teknologi digital. Salah satunya adalah olahraga di pagi hari. Setelah bangun tidur, saya biasanya melakukan olahraga seperti jalan dan lari, kemudian melanjutkan dengan bersih-bersih rumah dan mandi sebelum mulai menggunakan media digital. Kalau dipikir-pikir kebiasaan ini dari bangun tidur sampai selesai aktivitas tersebut, saya bisa tidak menyentuh gadget selama 2-3 jam. 

Saya bersyukur rutinitas ini membantu saya untuk memulai hari dengan kondisi yang lebih segar dan fokus. Selain itu, kebiasaan saya pada saat belajar juga membantu saya menjaga digital boundaries. Kalau lagi mau fokus, saya biasanya mengaktifkan mode jangan gangu  di smartphone. Mode ini membantu saya tetap fokus menggunakan teknologi untuk belajar, tanpa terganggu oleh notifikasi dari media sosial atau aplikasi lain. Menurut saya cara ini sangat membantu saya dalam memanfaatkan teknologi tanpa kehilangan konsentrasi.

Jika membahas mengenai dampak penggunaan digital yang berlebihan terhadap kesehatan mental, menurut saya persoalan ini cukup kompleks. Isu ini telah banyak diteliti, baik di Indonesia maupun di berbagai negara lain, dan mencakup berbagai aspek mulai dari kesejahteraan psikologis, aspek kepribadian, sikap sosial, hingga kaitannya dengan gangguan mental yang lebih serius. 

Namun, kalau kita coba lihat dari sudut pandang yang lebih dekat, kita bisa mulai dengan menilai bagaimana kebiasaan digital seseorang memengaruhi cara pandangnya terhadap dirinya sendiri, serta terhadap dunia di sekitarnya. Salah satu laporan dari WHO berjudul Teens, Screens, and Mental Health menunjukkan bahwa remaja yang menggunakan media sosial secara bermasalah cenderung mengalami penurunan kesejahteraan psikologis, gangguan tidur, dan menurunnya performa akademik.

Penelitian lain oleh Widowati dan Syafiq (2022) juga menemukan dampak psikologis negatif yang timbul akibat penggunaan media sosial secara berlebihan. Salah satu penyebabnya adalah informasi yang datang terlalu cepat dan berlebihan (overstimulasi digital), yang bisa memicu fenomena emotional contagion atau penularan emosi.

Akibatnya, seseorang bisa mengalami peningkatan emosi negatif, konflik interpersonal, kecenderungan menunda pekerjaan, manajemen waktu yang buruk, hingga kesulitan dalam mengendalikan diri. Dengan kata lain, penggunaan media digital yang berlebihan berpotensi membentuk citra diri yang negatif, menurunkan produktivitas, serta mengganggu pola hidup sehat, seperti istirahat yang cukup dan rasa aman secara emosional.

Dari sisi yang lain, kita juga bisa melihat bagaimana pola konsumsi digital memengaruhi cara pandang seseorang terhadap dunia. Menurut laporan dari American Psychological Association (APA), terlalu banyak menghabiskan waktu di media sosial dapat meningkatkan kerentanan terhadap paparan konten yang bersifat berbahaya, seperti informasi palsu, ujaran kebencian, hingga konten yang mengandung rasisme atau diskriminasi. Ini terjadi karena mesin pencari dan algoritma media sosial tidak bebas dari bias, sehingga hal ini dapat memperkuat stereotipe yang sudah ada dalam masyarakat (Social Media Brings Benefits and Risks to Teens, APA, 2023). Dengan kata lain, karena adanya bias algoritma, terlalu banyak menghabiskan waktu di media sosial dapat memperparah kondisi sosial masyarakat, yaitu dengan memperkuat prasangka, dan bahkan ikut berkontribusi pada polarisasi (rasisme) di tengah masyarakat.

Kemudian jika bercerita tentang apa saja manfaat psikologis yang saya rasakan sejak menjalani digital minimalism. Sejujurnya banyak sekali manfaat psikologis yang saya rasa berarti dalam hidup saya. Pertama, saya jadi bisa lebih fokus pada hal-hal yang ada di sekitar saya. Saya memberikan perhatian dan energi secara penuh saat berinteraksi dengan orang lain secara nyata, tanpa harus terdistraksi oleh media sosial. Misalnya, saya bisa duduk tenang dan ngobrol dengan teman tanpa bermain handphone. Kecemasan saya yang dulu sering muncul karena takut tertinggal informasi atau merasa harus selalu update di media sosial, kini jauh berkurang. 

Saya belajar menerima bahwa setiap orang memiliki proses hidupnya masing-masing, dan berhenti membandingkan diri dengan orang lain di media sosial. Saya bisa melihat bahwa orang-orang biasanya cenderung hanya membagikan sesuatu yang menurut mereka baik, sisi-sisi menarik tentang hidup mereka di media sosial. Memahami hal ini, saya belajar untuk meningkatkan rasa keberhargaan diri saya dan melihat manusia dengan kacamata manusia. Bahwa sebagai manusia, kita tidak mungkin dapat selalu sempurna dalam semua hal, dan itu tidak apa-apa. Seperti kata-kata Laura A. King yang pernah saya baca di buku Psikologi “hidup yang tidak sempurna, tetaplah hidup yang berharga”. 

Selain itu, manfaat lain yang saya rasakan sejak menjalani praktik digital minimalsm adalah saya punya lebih banyak waktu untuk belajar hal-hal baru yang membuat saya bahagia, seperti memasak, belajar bahasa baru, dan berbagai aktivitas positif lainnya. Saya merasa lebih bahagia dari sebelumnya. Saya juga belajar melihat realitas secara lebih nyata dan dekat. 

Contohnya, saat mengunggah sebuah konten dan mendapatkan hanya 10 likes, saya berpikir bahwa ada 10 orang nyata yang menyukai konten saya, dan itu sudah lebih dari cukup. Ini mengubah cara saya memandang apresiasi dan ekspektasi sosial. Rasa lega juga datang dari terbebasnya saya dari beban harus memenuhi ekspektasi sosial atau berpura-pura menunjukkan keberdayaan diri di media sosial. Saya jadi punya ruang untuk lebih menerima diri saya apa adanya, dengan segala kekuatan dan kelemahan yang saya miliki.

Manfaat yang paling terasa adalah peningkatan kualitas tidur. Saya tidak lagi cemas sampai susah tidur atau terbangun di tengah malam hanya karena memikirkan konten di media sosial atau hal-hal viral lainnya. Saya belajar untuk menerima bahwa banyak hal di luar kendali saya, dan saya tidak harus mengendalikan semuanya. Saya bertanggung jawab pada hidup saya sendiri, dan saya tidak perlu bertanggung jawab atas bagaimana orang lain menilai saya. Lagi-lagi, saya adalah manusia dan hidup saya berharga.

Jika di tanya apakah saya menggunakan pendekatan psikologis tertentu untuk membantu saya dalam mengurangi ketergantungan digital. Iya, dan saya akan bilang bahwa pendekatan itu sangatlah sederhana dan dapat dilakukan siapa saja; yaitu latihan mindfulness (kesadaran penuh). Mindfulness membantu saya sadar kapan, bagaimana, dan kenapa saya menggunakan teknologi digital, sehingga saya dapat meminimalkan penggunaan media digital tanpa tujuan. Sebagai orang yang juga cenderung cemas, mindfulness membantu saya untuk tetap tenang dan tidak terbawa stres karena overstimulasi digital. 

Contoh latihan mindfullness sederhana yang saya lakukan adalah saya melatih diri untuk tahu kapan harus pakai media digital dan kapan harus berhenti. Kalau sedang tidak terlalu perlu buka handphone, saya memilih untuk mengabaikannya. Dari situ, saya belajar menghargai momen yang ada. Misalnya, saat ngopi bareng teman, saya belajar untuk fokus ngobrol tanpa gangguan hp. Selain itu, saya juga berlatih untuk punya waktu tanpa gadget, misalnya saat makan atau istirahat yaitu dengan mematikan notifikasi dan menjauhkan perangkat digital. Ini sangat membantu saya dalam menjaga keseimbangan dan kesehatan mental saya. Saya percaya dengan latihan ini, kita bisa menggunakan teknologi dengan lebih bijak.

Bicara tentang tantangan dalam menjalani parktik digital minimalsm, hal yang paling menantang bagi saya sebenarnya adalah ketika saya tidak selalu bisa dihubungi dalam situasi penting. Sehingga saya harus bersedia jika hilang dari daftar kontak darurat yang bisa dihubungi orang-orang terdekat saya, karena kebiasaan membatasi penggunaan handphone. Bahkan kadang, saya sengaja tidak membawa gadget saat bepergian, jadi sangat mungkin jika ada hal penting atau mendesak yang terjadi di sekitar saya, saya tidak akan langsung tahu. Saya bersyukur keluarga saya cukup memahami kebiasaan ini. Jadi, jika mereka benar-benar perlu menghubungi saya, biasanya mereka akan mencari tahu lewat orang yang mungkin sedang bersama saya saat itu. 

Meski begitu, saya tidak bisa memungkiri bahwa ada rasa sedih dan bersalah ketika saya terlambat mengetahui kabar penting, terutama jika itu menyangkut orang-orang terdekat saya. Namun saya sadar, ini adalah bagian dari konsekuensi yang harus saya hadapi dalam proses menjaga batasan digital. Saya terus belajar untuk mencari cara agar bisa tetap hadir untuk orang-orang terdekat, tanpa harus mengorbankan keseimbangan dan ketenangan diri yang sedang saya upayakan.

Meskipun telah menjalani praktik digital minimalsm selama beberapa tahun, saya tetap mengakui bahwa saya tidak selalu berhasil mempraktikkannya. Mengingat cara saya dalam menyikapi momen-momen “kambuh” ingin kembali menggunakan media digital secara berlebihan, sangatlah beragam. Contohnya saat saya merasa ingin menonton drama terbaru seharian, maka hal yang saya lakukan waktu itu adalah saya mengunduh aplikasi streaming, menonton sampai saya merasa cukup, lalu menghapus aplikasi tersebut kembali. Namun sebelum itu, saya biasanya akan membuat semacam “perjanjian” dengan diri sendiri. Bahwa saya hanya boleh melakukannya untuk hari ini saja dan harus berhenti sebelum jadwal tidur tiba. Momen seperti ini sebenarnya cukup jarang terjadi, mengingat dulu jadwal dan beban kerja saya lumayan padat.

Contoh lainnya adalah pada saat saya merasa ingin sekali tetap berada di media sosial melebihi batas waktu yang saya tetapkan. Maka cara saya menyikapinya adalah dengan memberi waktu tambahan sekitar 1–10 menit dari batas waktu yang sudah saya tetapkan, agar saya bisa melepas dan merasa cukup. Lalu dapat meninggalkan aplikasi itu dengan tenang, tanpa rasa terpaksa atau menyesal. 

Bagi saya, pelajaran paling berharga dari praktik digital minimalism yang saya jalani adalah bahwa memiliki batasan yang sehat (healthy boundaries) merupakan sebuah kekuatan. Di era yang serba terkoneksi dan cepat seperti sekarang, bisa mengatakan “cukup” pada paparan informasi atau interaksi digital adalah bentuk keberdayaan yang tidak semua orang sadari pentingnya. Saya belajar bahwa tidak semua hal perlu diketahui, tidak semua percakapan perlu diikuti, dan tidak semua notifikasi harus segera ditanggapi. Memilih untuk hadir secara sadar dan utuh dalam kehidupan nyata ternyata jauh lebih bermakna dibanding terus-menerus aktif di dunia digital tapi merasa kosong. Saya juga belajar menerima bahwa terkoneksi secara digital bukan satu-satunya cara untuk merasa terhubung dengan orang lain. Kadang, jeda dan jarak justru membuat hubungan terasa lebih tulus dan berkualitas. Yang tidak kalah penting, saya belajar bahwa menjaga diri, baik dari sisi mental, emosional, maupun waktu adalah bentuk tanggung jawab yang tidak egois. Justru dari situlah saya bisa menjadi pribadi yang lebih tenang, lebih fokus, dan lebih hadir dalam hidup saya sendiri

Untuk perempuan Indonesia di mana pun berada, terutama yang sedang merasa lelah, kewalahan, atau kehilangan arah karena terlalu banyak distraksi digital, saya ingin bilang bahwa tidak apa-apa untuk mengambil jarak. Kadang kita tidak bisa melihat sesuatu dengan jelas jika berada terlalu dekat dengan hal itu. Memberi jarak justru membantu kita untuk melihat sesuatu dengan lebih baik. Digital minimalism bukan tentang menjauh sepenuhnya dari teknologi, tapi tentang memberi ruang untuk diri sendiri untuk menilai kembali apa yang benar-benar penting bagi hidup kita. Bagi saya, ini adalah cara untuk menjaga energi, memulihkan fokus, dan memberi ruang bagi hal-hal yang benar-benar membuat kita tumbuh.

Kita semua tau bahwa saat ini kita hidup di zaman yang sangat cepat dan bising, di mana perhatian mudah sekali tercuri. Tapi kita tetap punya kuasa untuk menciptakan ruang tenang dalam hidup kita masing-masing. Punya batasan yang sehat bukan berarti kita tertutup, namun justru hal itu merupakan bentuk dari keberanian untuk menjaga diri dan tetap hadir dengan utuh. Baik untuk diri sendiri maupun untuk orang-orang yang kita cintai. 

Kalau kamu tertarik untuk belajar mempraktikkan digital minimalism, kamu bisa mulai dari langkah kecil yang sederhana. Kamu bisa mulai dengan menyadari kapan kamu butuh jeda, dan berikan jeda itu untuk dirimu sendiri, lakukan sesuatu yang bisa membuatmu merasa lebih baik. Entah itu melakukan hobi, belajar atau apapun itu. Kalau kamu sudah mulai mencoba mempraktikkannya dan merasa kesulitan, saya ingin memberi tahu kamu bahwa kamu tidak harus mempraktikkan digital minimalsm dengan sempurna. 

Go easy on yourself dan nikmati proses belajar memberi jarak itu. Kamu tau, saya sebenarnya juga tidak selalu melakukannya dengan sempurna dan itu tidak apa-apa.  Bagi saya, praktik digital minimalism bukan tentang kesempurnaan praktiknya, tapi soal memilih hadir dengan sadar, dengan tenang dan dengan penuh kasih dalam hidup yang kita jalani setiap hari.

Dalam tulisan ini, saya juga ingin menyebut tokoh inspirasi favorit saya lainnya, dalam proses belajar digital minimalsm, yaitu Marissa Anita, seorang jurnalis dan aktris yang juga terkenal menerapkan digital minimalism dalam hidupnya. Konten-konten Marissa tentang digital minimalism sangat menggugah dan membuka sudut pandang saya, terutama terkait penggunaan media digital. Kamu bisa menemukan konten-kontennya di Channel YouTube, website, dan platform lainnya. Selain itu, saya juga terinspirasi dari komunitas @lyfewithless di Instagram, sebuah komunitas hidup minimalis yang aktif mengkampanyekan gaya hidup minimalisme, termasuk praktik digital minimalism. Dari sana, saya mengenal beberapa orang yang sama-sama tertarik belajar dan menjalani gaya hidup minimalis seperti saya. 

Kalau bicara soal buku, sebenarnya saya belum banyak membaca buku best seller tentang digital minimalism seperti karya Cal Newport. Namun, salah satu buku yang sangat berkesan bagi saya adalah buku filsafat berjudul Memaknai Digitalitas karya Reza A.A Wattimena. Meski buku ini tidak terlalu terkenal, buku ini memberikan pemikiran-pemikiran kritis tentang bagaimana kita harus menghadapi digitalisasi, menempatkan diri di dalamnya, dan mencari keseimbangan antara dunia nyata dan dunia digital. Intinya, buku ini mengajak saya untuk terus mengembangkan kesadaran dalam menjalani hidup di era digital. Buku ini juga bisa diakses dengan mudah melalui aplikasi Ipusnas.

Bicara tentang hubungan antara perempuan, teknologi, dan kesehatan mental di masa kini. Saya melihat bahwa perempuan hari ini hidup dalam tekanan yang cukup kompleks. Di satu sisi, teknologi membuka banyak peluang untuk belajar, bekerja, berkarya, dan bersuara untuk perempuan. Tapi di sisi lain, arus informasi dan ekspektasi yang terus-menerus muncul lewat media sosial sering kali membuat perempuan merasa tidak cukup. 

Banyak perempuan sering kali merasa tidak cukup pintar, tidak cukup produktif, tidak cukup cantik, tidak cukup “berhasil”. Saya percaya teknologi bisa menjadi alat pemberdayaan bagi perempuan, namun jika tidak disikapi dengan sadar, teknologi juga bisa menjadi sumber tekanan. Terutama bagi perempuan yang terbiasa menempatkan kebutuhan orang lain di atas dirinya sendiri. Terkoneksi terus-menerus bisa membuatnya kehilangan energi dan ruang pribadi yang aman. 

Menurut saya, inilah alasan mengapa penting bagi perempuan untuk mulai membangun relasi yang lebih sehat dengan teknologi. Bukan dengan menolaknya, tapi dengan menggunakan teknologi secara sadar, memilih mana yang benar-benar penting, dan berani mengambil jeda saat dibutuhkan. Bagi saya, perempuan yang bisa menjaga batasannya di dunia digital adalah perempuan yang lebih mampu menjaga kesehatannya, baik fisik, emosional, maupun mental. Dan ini adalah bentuk keberdayaan yang tidak kalah penting dari pencapaian lainnya dalam hidup.

Harapan saya, semoga perempuan dapat semakin menyadari pentingnya menciptakan budaya digital yang sehat. Saya ingin perempuan punya keberanian untuk menetapkan batasan yang melindungi kesehatan mental, energi dan diri mereka secara utuh, tanpa merasa bersalah ketika melakukannya. Dengan demikian, kita bisa menjadikan teknologi tidak hanya sekedar alat bantu, tapi juga sumber kekuatan dan kesejahteraan. 

Saya percaya, ketika perempuan mampu mengelola hubungan mereka dengan dunia digital secara bijak, hal itu akan membawa perubahan positif tidak hanya bagi diri sendiri, tapi juga bagi keluarga dan komunitas di sekitarnya. Terakhir, semoga semakin banyak perempuan yang merasa diberdayakan untuk menciptakan ruang digital yang sehat dan bermakna, bagi dirinya, bagi kita semua.

Penulis: Ihmatul Hidayah, tinggal di Aceh dan dapat dikontak via akun instagram: Ihmatul_hdyh.

(KNOWLEDGE SHARING) Lelah Tapi Nggak Bisa Berhenti: Saatnya Kita Belajar Mendengar Diri Sendiri

Hannover, 26 April – Di balik layar-layar laptop yang menyala pada Minggu pagi, 26 April 2026, puluhan peserta dari berbagai latar belakang berkumpul dalam satu ruang virtual. Bukan sekadar untuk belajar, tetapi untuk berhenti sejenak. Ini adalah sesuatu yang selama ini terasa sulit dilakukan. Melalui program knowledge sharing yang diinisiasi oleh Ruanita Indonesia, sesi bertajuk “Lelah Tapi Nggak Bisa Berhenti” menjadi ruang refleksi yang hangat sekaligus membuka mata.

Selama dua jam di Zoom, peserta diajak menyelami satu pertanyaan sederhana namun sering diabaikan: kenapa kita tetap berjalan, bahkan saat sudah sangat lelah? Sinyal bahwa ada kebutuhan yang belum terpenuhi. Sinyal bahwa ada batas yang mungkin sudah lama terlewati.

Bagi banyak orang, lelah bukan sekadar kondisi fisik. Kelelahan hadir sebagai akumulasi dari peran yang terus bertambah, sebagai pekerja, anak, pasangan, teman, sekaligus individu dengan mimpi pribadi. Namun alih-alih berhenti, banyak justru terus melangkah.

Dalam sesi ini, Bayu Prihandito mengajak peserta melihat lelah dari sudut pandang berbeda. “Lelah bukan kelemahan,” ujarnya, “melainkan sinyal.”

Diskusi kemudian mengalir ke pola-pola internal yang sering kali tidak terlihat, tetapi sangat memengaruhi perilaku sehari-hari. Mulai dari kebiasaan people-pleasing, rasa tidak enak untuk berkata “tidak”, hingga dorongan untuk selalu memberi lebih, bahkan saat diri sendiri kosong.

Beberapa peserta berbagi pengalaman. Ada yang merasa bersalah saat beristirahat, ada pula yang baru menyadari bahwa kelelahan yang dialami bukan semata karena pekerjaan, tetapi karena sulit menetapkan batasan.

Di titik ini, sesi berubah menjadi ruang yang sangat personal. Bukan hanya mendengar, tetapi juga merasa dipahami. Diskusi kemudian mengalir ke pola-pola internal yang sering kali tidak terlihat, tetapi sangat memengaruhi perilaku sehari-hari. Mulai dari kebiasaan people-pleasing, rasa tidak enak untuk berkata “tidak”, hingga dorongan untuk selalu memberi lebih, bahkan saat diri sendiri kosong.

Beberapa peserta berbagi pengalaman. Ada yang merasa bersalah saat beristirahat, ada pula yang baru menyadari bahwa kelelahan yang dialami bukan semata karena pekerjaan, tetapi karena sulit menetapkan batasan. Di titik ini, sesi berubah menjadi ruang yang sangat personal. Bukan hanya mendengar, tetapi juga merasa dipahami.

Peserta juga diperkenalkan pada cara-cara praktis untuk mulai menetapkan batasan. Mulai dari komunikasi asertif hingga mengenali tanda-tanda awal kelelahan emosional sebelum menjadi burnout. Program ini tidak hanya menjadi ruang transfer pengetahuan, tetapi juga ruang aman untuk berbagi. Tawa kecil, anggukan setuju, hingga cerita yang nyaris serupa menciptakan rasa kebersamaan yang kuat.

Di akhir sesi, banyak peserta tidak hanya membawa pulang pemahaman baru, tetapi juga kesadaran bahwa mereka tidak sendiri.

Sebagai catatan penting, tujuan dari program Knowledge Sharing adalah berbagi pengetahuan, pengalaman, dan praktik baik dari para praktisi kesehatan mental Indonesia di berbagai negara, dengan menghadirkan ruang aman untuk mempromosikan kesehatan mental yang inklusif dan selaras dengan nilai-nilai Indonesia.

Program ini merupakan bagian dari inisiatif Ruanita Indonesia yang didirikan dan dikelola oleh Anna Knöbl di Jerman, sebagai ruang kolektif digital berbasis manajemen nilai, resource sharing, dan intervensi komunitas dalam konteks lintas negara. Inisiatif ini berfungsi sebagai social support system yang memanfaatkan teknologi digital modern sebagai medium interaksi dan pembelajaran.

(PODCAST IN ENGLISH) Menavigasikan Hidup di Swiss Lewat Bahasa dan Penemuan Jati Diri

Memperingati Hari Kartini pada 21 April ini, Ruanita Indonesia menghadirkan program audio podcast spesial berbahasa Inggris, Jibber-jabber Indonesian Women Abroad episode ke-6. Kita akan mendengarkan bagaimana perjalanan dari ruang kelas di Chiang Mai hingga ruang rapat perusahaan teknologi di Zurich, dari Hesti Aryani dalam belajar memahami dunia melalui bahasa.

Dalam podcast Jibber Jabber Indonesian Women Abroad, dari Ruanita Indonesia, Hesti berbagi kisahnya sebagai perempuan Indonesia yang hidup dan bekerja di luar negeri, menavigasi identitas, bahasa, dan sistem yang sering kali kompleks bagi pendatang baru.

Pada usia 21 tahun, Hesti menerima kesempatan mengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) di Chiang Mai, Thailand. Tanpa banyak persiapan, bahkan tanpa penguasaan bahasa lokal, Hesti melangkah keluar dari zona nyaman. Dari situ, pintu-pintu lain terbuka, hingga akhirnya membawanya ke Swiss pada 2019, tepat sebelum pandemi. Namun, seperti banyak cerita migrasi lainnya, perjalanan ini bukan tanpa kejutan.

“Saya selalu membayangkan kalau pindah ke luar negeri, itu ke negara berbahasa Inggris,” ujarnya. “Tapi hidup punya rencana lain.”

Tiba di Swiss, Hesti dihadapkan pada realitas yang lebih kompleks dari sekadar perbedaan bahasa. Negara dengan empat bahasa nasional ini menuntut lebih dari kemampuan berbahasa Inggris.

Dari mengurus asuransi, mencari tempat tinggal, hingga membuat janji dokter. Semuanya dilakukan dalam bahasa Jerman. Bahkan dokumen resmi dan komunikasi administratif hampir sepenuhnya menggunakan bahasa lokal.

“Bukan cuma soal bahasa,” jelasnya. “Tapi juga memahami konteks budaya, cara komunikasi, bahkan cara berpikir yang sangat terstruktur dan sistematis.”

Pengalaman ini memperlihatkan bahwa bahasa adalah pintu masuk ke sistem Kini, Hesti bekerja sebagai profesional di perusahaan teknologi di Zurich. Perannya berada di persimpangan antara bisnis, bahasa, dan teknologi mulai dari melatih model kecerdasan buatan hingga membangun kemitraan lintas budaya.

Follow us

Menariknya, latar belakang linguistiknya justru menjadi kekuatan utama.

Ia membantu “menerjemahkan” bukan hanya bahasa, tetapi juga makna, konteks, dan nuansa, yakni sesuatu yang belum sepenuhnya bisa dilakukan mesin.

“Teknologi penting, tapi empati dan pemahaman manusia tetap tidak tergantikan,” tegasnya dan tanpa kunci yang tepat, akses menjadi terbatas.

Kisah Hesti adalah cerminan pengalaman berlapis yang dialami banyak perempuan Indonesia di luar negeri di mana identitas sebagai perempuan, migran, profesional, dan pembelajar bahasa saling beririsan. Ini bukan hanya tentang berpindah tempat, tetapi tentang membangun ulang diri di lingkungan yang baru.

Dan mungkin, seperti yang ditunjukkan Hesti, kuncinya bukan pada seberapa siap kita saat memulai melainkan seberapa terbuka kita untuk terus belajar di sepanjang perjalanan.

Tentang Podcast Jibber-Jabber Indonesian Women Abroad

Podcast audio berbahasa Inggris ini inisiatif Ruanita Indonesia (www.ruanita.com), sebuah organisasi nirlaba yang berkomitmen menciptakan ruang aman bagi perempuan Indonesia di perantauan. Melalui Jibber-Jabber Indonesian Women Abroad, Ruanita Indonesia ingin menghadirkan refleksi perempuan Indonesia dengan interseksionalitas yang dialaminya dalam konteks transnasional, sebagaimana yang digagas oleh Anna Knöbl.

Simak selengkapnya di kanal SPOTIFY berikut dan pastikan FOLLOW untuk mendukung kami.

(CERITA SAHABAT) Dari Jerman ke Vietnam: Menjadi New Mom Abroad

Halo, sahabat Ruanita! Aku, Cindy, perempuan Indonesia yang kini menjalani babak baru kehidupan sebagai ibu di Vietnam. Kisahku bermula lebih dari tiga belas tahun lalu, ketika tahun 2012 aku berangkat ke Jerman untuk menempuh kuliah S1 jurusan Arsitektur di Hannover. Aku melanjutkan S2 di Cologne dan aku bertemu dengan suamiku, seorang pria Jerman. Setelah lulus, aku bekerja selama tiga tahun di sebuah perusahaan pemerintahan di Jerman.

Tahun 2023, hidupku memasuki fase baru. Aku menikah dengan suamiku dan tak lama kemudian, kami mendapat kabar bahwa pekerjaannya membawa kami ke Vietnam, tepatnya ke kota pantai kecil bernama Quy Nhon.

Perusahaan Jerman tempatnya bekerja menugaskannya mengurus pabrik di sana. Aku mendukung penuh keputusan ini, karena aku pun menyukai pengalaman mengenal budaya dan negara baru. Jadilah kami memulai petualangan baru di Vietnam.

Hidup di Vietnam sangat berbeda dengan di Jerman. Di Jerman, aku terbiasa menikmati udara segar, keindahan empat musim, dan ketenangan kota-kota kecil. Aku dan suamiku sering mendadak pergi hiking atau menjelajah kota tetangga.

Di Quy Nhon, meski ada pantai yang indah, aku merindukan suasana hijau, dingin, dan adem-ayem ala Jerman. Vietnam terasa lebih riuh, semrawut, dan sulit dijangkau secara bahasa.

Komunikasi menjadi tantangan karena kami tidak bisa berbahasa Vietnam, membuat interaksi sosial terasa terbatas. Natal dan Paskah yang biasa dirayakan dengan hangat di Jerman, di sini terasa tidak ada artinya.

Kehamilan pertamaku menjadi tantangan besar, terlebih di negeri orang. Tiga bulan pertama adalah masa yang berat. Aku mengalami mual hebat, muntah-muntah, bahkan bau makanan atau air pun membuatku pusing. Aku berhenti dari pekerjaan online-ku karena kesehatan tidak memungkinkan. Yang paling terasa adalah rasa sepi, karena tidak ada keluarga atau teman dekat di sini. Mungkin juga aku terkendala oleh bahasa di sini.

Untungnya, ketika usia kandungan memasuki empat bulan, aku sempat pulang ke Indonesia selama sebulan. Itu menjadi momen yang sangat menyenangkan sekaligus mengisi energi untukku. Aku juga merasa beruntung memiliki seorang teman Vietnam yang selalu menemani setiap kali kontrol kehamilan. Ia menjadi penerjemah, karena dokter di kota kecil seperti Quy Nhon jarang bisa berbahasa Inggris. Meski fasilitas medis di sini cukup modern, kebersihannya tidak sebaik di Jerman. Namun, biaya layanan medis di Vietnam sangat terjangkau, bahkan tanpa asuransi pun tidak terasa memberatkan.

Di Quy Nhon, tidak ada satu pun orang Indonesia. Teman-teman kami sebagian besar adalah ekspatriat atau orang Vietnam yang bisa berbahasa Inggris. Dukungan mereka terasa berarti, terutama saat mendampingi kami menghadapi proses kehamilan dan persalinan. Mereka membantu menjadi penerjemah, memberikan informasi rumah sakit, bahkan sekadar berbagi pengalaman.

Pengalaman melahirkan di Vietnam juga sangat berbeda. Rumah sakit tidak menyediakan perlengkapan dasar seperti popok, selimut, sabun, hingga alat mandi bayi. Semua harus dibawa sendiri. Layanan seperti membersihkan ibu pascaoperasi, memandikan bayi, atau mengganti sprei harus dipesan secara terpisah. Bahkan makanan untuk pasien pun tidak disediakan, karena keluarga biasanya yang merawat pasien. Di sisi lain, biaya rumah sakit jadi jauh lebih murah, karena yang dibayar hanya paket operasi, dokter, dan kamar rawat inap.

Selama tinggal di Jerman, aku terbiasa dengan budaya mandiri. Semua urusan rumah dan anak dikerjakan sendiri tanpa bantuan nanny. Yang istimewa, pemerintah memberikan fasilitas Vater/Mutterzeit, atau yang disebut sebagai cuti melahirkan dan mengasuh anak dengan gaji tetap, sehingga orang tua punya waktu berkualitas bersama bayi. Fasilitas umum pun mendukung, seperti taman hijau, playground, serta kursus ibu dan anak.

Di Indonesia atau Vietnam, budaya kekeluargaan lebih kental. Anak biasanya diasuh bersama kakek-nenek, atau dititipkan di daycare dengan biaya relatif terjangkau. Namun, fasilitas hijau untuk anak bermain tidak banyak. Di Indonesia, anak lebih sering diajak ke mal atau dikenalkan dengan gadget sejak dini.

Di Vietnam, aku sempat kaget dengan kebiasaan mereka bicara dengan nada keras, bahkan kepada bayi. Kadang bayi diberikan mainan yang sangat berisik sebagai hiburan. Selain itu, anak-anak di sini umumnya masuk daycare sejak usia satu tahun karena kedua orang tua bekerja. Daycare bahkan buka hingga Sabtu, sehingga anak menghabiskan sedikit waktu dengan orang tuanya.

Follow us

Saat aku memesan layanan memandikan bayi, ada tradisi unik. Bayi ditempelkan daun-daunan yang dibakar, katanya untuk kesehatan dan kehangatan tubuh. Aku dan suami memilih pendekatan campuran. Tidak sepenuhnya gaya Eropa, Indonesia, atau Vietnam, tapi yang penting kami punya waktu berkualitas dengan anak.

Suamiku, meskipun sibuk bekerja, ikut terlibat penuh mengurus bayi. Kami berbagi tugas secara setara. Aku ingin anak kami tumbuh dekat dengan alam dan tidak terlalu sibuk dengan gadget.

Masa setelah melahirkan adalah fase paling berat. Setelah keluargaku yang sempat datang dua minggu kembali ke Indonesia, aku merasakan kesepian yang luar biasa. Suamiku sering harus mengambil cuti untuk membantu mengurus bayi yang selalu menangis. Tidur hanya tiga jam per malam, tangan pegal karena harus menggendong terus, payudara bengkak karena aktivitas menyusui semuanya terasa melelahkan.

Aku juga sempat merasa kehilangan diriku sendiri. Hidup seolah hanya berputar pada bayi. Mau mandi atau makan pun harus cepat-cepat sebelum bayi menangis, apalagi kami sendirian di Vietnam tanpa keluarga dan terkendala bahasa. Aku sangat khawatir, jika kami berdua sakit, siapa yang akan menolong untuk mengurus bayi kami.

Kadang aku bertanya-tanya, apakah aku melakukan yang benar? Apakah aku cukup baik sebagai ibu?

Suamiku menjadi penopang utama, baik fisik maupun mental. Ia rela bangun tengah malam untuk mengganti popok agar aku bisa sedikit beristirahat setelah menyusui. Saat akhir pekan, ia sepenuhnya mengurus bayi supaya aku bisa punya me-time. Aku bersyukur karena meski waktu berdua nyaris tidak ada, dia tetap sabar dan memahami perubahan besar yang kami alami.

Kehamilan dan kelahiran membuatku banyak merenung. Kenapa aku ingin punya anak? Jawabannya sederhana, yakni karena aku ingin mencintai manusia kecil ini tanpa pamrih. Seorang bayi tidak pernah meminta dilahirkan, maka sudah seharusnya aku memberikan seratus persen cintaku tanpa mengharapkan balasan.

Sekarang aku menjadi sangat menghargai peran seorang ibu, apalagi mereka yang punya banyak anak dan tetap harus mengurus keperluan rumah tangga. Walaupun terkadang capek dan berat di awal, pengalaman dan peran menjadi seorang ibu untukku sangat berharga. Aku kini sangat bahagia menjalaninya. Rasanya bahagia sekali melihat senyum bayi hanya karena hal-hal kecil. Menjadi orang tua juga berarti punya kesempatan untuk mengenalkan dunia pada anak.

Di Vietnam, aku tidak menemukan komunitas Indonesia secara offline, tapi aku sangat terbantu dengan komunitas daring, terutama grup ibu menyusui di Indonesia. Aku sangat terbantu dengan teman-teman di Jerman dan Indonesia.  Aku juga sering berbagi cerita dengan teman-teman di Jerman, kakak, ibuku, bahkan teman Vietnam yang berpengalaman hamil di kota ini.

Sharing sangat penting agar tidak merasa sendirian. Aku juga selalu jujur dengan suamiku, apalagi soal kelelahan atau rasa sedih. Aku berharap bisa menjadi orang tua yang baik dan sabar, meskipun lelah. Aku ingin cinta dengan suami tetap tumbuh seiring kehadiran anak kami.

Di negara asing ini, kami belajar menjadi tim yang kuat, menghadapi tantangan bersama, dan tetap bisa menikmati petualangan. Hari-hariku kini sepenuhnya untuk bayi. Keluar rumah hanya saat malam atau akhir pekan. Weekend bersama keluarga adalah momen berharga. Kami pergi ke pantai atau kafe sekadar mencari suasana baru. Awalnya rutinitas ini terasa berat, tapi melihat bayi kami tumbuh dan belajar hal baru setiap minggu, aku merasa semua lelah terbayar.

Aku memilih berbicara dengan bayiku dalam bahasa Indonesia. Aku juga ingin mengenalkan budaya Indonesia sejak dini. Suamiku sudah cukup mengenal budaya ini, karena sering berinteraksi dengan keluargaku. Aku berharap bisa sering pulang ke Indonesia dan Jerman agar anakku lebih dekat dengan akar budayanya.

Kisah ini adalah catatan perjalanan seorang ibu baru di negeri asing. Tidak mudah, tapi ada kebahagiaan di setiap peluh dan air mata. Seperti kata orang, menjadi ibu adalah pekerjaan paling berat sekaligus paling membahagiakan di dunia.

Penulis: Cindy, relawan Ruanita dan sekarang sedang menetap di Vietnam. Cindy dapat dikontak melalui akun instagram cinguch atau kanal YouTube-nya Cindy Guchi.