(CERITA SAHABAT) Menjadi Bahagia dan Ikhlas Lewat Aksi Donor Darah

Halo, sahabat Ruanita. Saya adalah Maria Magdalena Rudatin atau yang mungkin sebagian dari kalian kenal saya dengan nama panggilan Rudatin. Sehari-hari saya bekerja secara sukarela sebagai tenaga admin di Ruanita dan pekerjaan paruh waktu lainnya di Indonesia. Saya juga merawat dan melayani ibu saya yang sudah berusia 86 tahun. Saya senang sekali bisa terlibat dalam program cerita sahabat, apalagi tema yang diangkat adalah donor darah. Boleh dibilang saya adalah pendonor darah tetap dan saya senang melakukannya. 

Setiap ada program donor darah di paroki saya, maka saya akan ikut serta untuk mendonorkan sebagian darah saya. Ya, saya mulai melakukan donor darah sejak saya masih duduk di bangku SMA di Semarang, Jawa Tengah. Saya juga punya kartu donor darah yang diterbitkan oleh Palang Merah Indonesia (PMI). Jumlah donor darah saya hingga saat ini di tahun 2024 sudah mencapai 40 kali banyaknya, berdasarkan kartu donor darah yang ada. Selama saya mendonorkan darah, saya bersyukur Tuhan memberikan darah baru untuk kesehatan saya dan saya bisa membantu sesama saya lainnya.

Saya aktif mendonorkan darah, karena darah manusia pemberian Tuhan, sehingga sangat baik buat saya memberikan darah untuk sesama. Saya yakin Tuhan pasti memberikan darah baru lagi apabila saya mendonorkannya. Aktivitas donor darah adalah aktivitas yang sangat mulia dan berperikemanusiaan kepada sesama manusia.

Follow us

Darah adalah salah satu faktor penentu kesehatan dalam hidup manusia. Itu sebab, kita perlu merawat dan menjaga kesehatan darah, sehingga kita bisa hidup sehat. Darah yang sehat menjadi aset bagi diri sendiri dan sesama yang membutuhkan. 

Ada banyak alasan, mengapa ada orang-orang seperti saya senang sekali mendonorkan darahnya. Pertama, bisa jadi orang tersebut sadar dan sukarela memberikan darahnya sehingga menjadi kebiasaan positif untuk keberlangsungan hidup orang lain. Kedua, ada banyak literatur yang menjelaskan bahwa mendonorkan darah dapat memberikan efek sehat bagi pendonornya sendiri. 

Bagaimanapun,  tubuh pendonor akan memproduksi darah baru lagi setelah 3 bulan donor darah. Oleh karena itu, ada anjuran pula bahwa kegiatan donor darah bisa dilakukan rutin setiap 3 bulan dalam setahun. Alasan terakhir, saya pikir mendonorkan darah adalah ucapan syukur pada Tuhan atas darah yang diberikan Tuhan secara cuma-cuma. Darah itu gratis yang Tuhan berikan pada kita, sehingga  sudah seyogyanya pendonor, merasa bahagia bila mereka berbagi hidup dengan sesama lainnya melalui donor darah. 

Bagi pendonor seperti saya, donor darah adalah salah satu bentuk solidaritas  kemanusiaan. Saya setuju dengan pendapat tersebut, karena darah adalah sumber utama dalam diri manusia yang sangat dibutuhkan untuk hidup. Darah seperti “bahan bakar” untuk menggerakkan mesin, bila kita umpamakan. 

Darah merupakan daya kekuatan dalam diri manusia untuk melakukan  berbagai aktivitasnya, sehingga manusia sangat diwajibkan untuk menjaga  kesehatan tubuhnya, supaya aliran darah dalam tubuh berjalan dengan  lancar, seperti menjaga pola makan dan minum, melakukan gaya hidup  sehat. Mendonorkan darah adalah bentuk wujud kepedulian manusia kepada sesama manusia, karena manusia disadarkan untuk mau berbagi atau memberi dari kepunyaannya kepada sesama yang sangat membutuhkan darah dalam dirinya. 

Memang betul bahwa tidak semua orang bisa melakukan donor darah. Saya termasuk beruntung bisa mendonorkan darah saya, sejak saya masih duduk di bangku SMA di Indonesia. Di Indonesia, persyaratan usia pendonor darah adalah 17 tahun atau yang memang diizinkan oleh dokter. Pengalaman pertama saya donor darah adalah saat saya masih berusia 16 tahun dan dokter mengizinkan saya melakukan donor darah, meski usia belum genap 17 tahun.

Saat itu, tenaga ahli melakukan pemeriksaan HB yang waktu itu dilakukan di jari dengan ditusuk jarum. HB adalah Hemoglobin, yakni zat dalam darah yang menyebabkan darah cair  atau darah kental. Tetesan darah yang ke luar diteteskan di gelas yang berisi zat penentu HB.  Bila tetesan darah langsung ke dasar gelas maka dinyatakan HB darah termasuk kategori baik. Sebaliknya, bila tetesan darah mengambang pada gelas, maka  dinyatakan HB berkategori rendah. Kegiatan mengukur HB dengan bantuan  cairan dalam gelas ukur berlangsung cukup lama. 

Seingat saya, baru sekitar tahun 2008 sudah ada alat untuk mengukur HB menggunakan secara otomatis. Caranya, yaitu setetes darah diletakkan di kaca kecil, lalu dimasukkan ke alat pengukur HB. Nilai ukuran HB yang diizinkan untuk pendonor darah baik laki-laki maupun perempuan adalah mereka yang memiliki HB sebesar minimal HB 12,5 minimal. Ini pun sudah menunjukkan kategori darah yang baik, karena cair. 

Tata urutan untuk mengikuti donor darah di Indonesia antara lain:

1) Berbadan sehat dengan berat badan minimal 45 kilogram dan berusia minimal 17 tahun. 

2) Bersedia mendaftarkan diri sebagai pendonor dengan mengisi formulir merah jambu dari petugas aksi donor darah. Pendonor wajib menjawab pertanyaan yang disediakan oleh tim Palang Merah Indonesia dan bersedia menandatanganinya. 

3) Pemeriksaan HB (Hemoglobin) oleh petugas dengan menusuk salah satu  jari untuk diambil setetes darah dan diperiksa dalam mesin cek HB selama  3 detik lalu terbaca jumlah HB pendonor. 

4) Pemeriksaan HB sekaligus untuk pemeriksaan golongan darah pendonor (A, B, AB, O). 

5) Pemeriksaan tensi tubuh pendonor harus sesuai aturan Kesehatan adalah  100-160 (Sistole) dan 70-100 (Diastole) yang dilakukan oleh dokter umum. 

6) Dokter Umum menulis jumlah darah yang akan didonorkan sekitar 250 ml – 350 ml setiap pendonor sesuai hasil pemeriksaan Dokter Umum. 

7) Pendonor siap untuk melakukan donor darah dengan berbaring pada tempat tidur dan jarum donor dimasukkan ke lengan pendonor. Untuk aktivitas donor darah, biasanya pendonor memerlukan waktu 8 menit. 

8) Setelah donor darah selesai, pendonor diberikan makanan kecil dan minum  untuk menstabilkan daya tahan tubuh dan kemudian petugas akan menyerahkan Kartu Donor sesuai golongan darah pendonor. 

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, tentu saja aktivitas donor darah bisa bermanfaat bagi pendonor sendiri. Kita bisa meningkatkan imunitas tubuh atau daya tahan tubuh karena terjadi perputaran darah baru yang telah didonorkan. Biasanya saya mengalami tubuh saya merasa lebih segar, asalkan pola makan dan minum kita sesuai dengan pola hidup sehat. 

Tentunya, kita memiliki daya pikir yang lebih positif karena tingkat kesadaran untuk berbagi kepada sesama. Selesai mendonorkan darah, hati saya selalu senang dan bangga bisa melihat sesama  menjadi lebih sehat setelah mendapatkan bantuan donor darah. Ini seperti mengingatkan saya akan tanggung jawab moral dan cinta kasih kepada manusia sesuai keyakinan saya. Bagi saya, donor darah adalah cara saya menghargai arti bahwa “Hidup adalah hadiah Tuhan untuk berbagi”. 

Setelah berkali-kali melakukan aktivitas donor darah, saya pastinya punya pengalaman berkesan dalam hidup. Suatu waktu ada teman se-paroki dengan saya, meminta saya untuk menjadi pendonor darah untuk neneknya yang sudah berusia 90 tahun. Sang nenek saat itu sedang dirawat di salah rumah sakit di  Jakarta. 

Saya bersyukur, petugas menerima saya untuk bisa melakukan aktivitas donor darah setelah dilakukan pemeriksaan  syarat-syarat dari dokter di Palang Merah Indonesia (PMI). Pemeriksaan ini dilakukan di PMI, yang berlokasi di Jalan  Kramat Raya Jakarta Pusat. Sebagai informasi, bila kita ingin melakukan aktivitas donor darah untuk membantu orang lain, maka kita perlu datang ke Palang Merah Indonesia (PMI) yang ada di setiap daerah. 

Singkat cerita, sang nenek tersebut menerima donor darah yang saya bagikan, kemudian nenek kembali sehat.  Hemoglobin si nenek naik. Beberapa hari kemudian, nenek tersebut dipanggil Tuhan. Saya terharu bahwa nenek boleh menerima donor darah dari saya, walaupun pada akhirnya dia harus berpulang. Itu adalah kehendak Tuhan. 

Pengalaman lainnya adalah bahwa saya tidak selalu berhasil mendonorkan darah loh. Saya kadang pernah ditolak, meski niat saya baik untuk mendonorkan darah saya. Biasanya itu terjadi karena masalah kadar HB saya yang tergolong rendah. Itu mungkin disebabkan karena saya kurang mengonsumsi sayuran hijau. Padahal  bila saya berhasil mendonorkan darah, saya merasa bahagia dan ikhlas. 

Berdasarkan data, pengetahuan masyarakat akan donor darah sudah baik hanya  saja kesadaran dan pengalaman mendonorkan darah yang masih belum baik, termasuk ada  berbagai persepsi/mitos yang salah. Oleh karena itu, saya senang Ruanita mengangkat tema donor darah ini dan saya berkesempatan untuk menceritakan pengalaman saya menjadi pendonor darah. 

Menurut saya, kita perlu memberi edukasi sebanyak-banyaknya kepada masyarakat, sebagaimana slogan yang selalu saya ingat setiap aktivitas donor darah. Slogan itu adalah: “Setetes Darahmu, Menghidupkan Sesama.”

Ini mungkin terdengar klise, tetapi saya pikir ide berikut bisa menjadi saran saya sebagai pendonor kepada pemerintah Indonesia. 

a) Membuat materi ajar di bidang pendidikan, misalnya pelajaran agama dan atau pelajaran kewarganegaraan tentang tema mendonorkan darah. 

b) Memperbanyak edukasi dan kampanye bahwa aktivitas donor darah itu menyehatkan dan  menyelamatkan nyawa manusia. 

c) Membuat aksi kemanusiaan donor darah yang digelar di tingkat 

pemerintahan kota dan pemerintahan daerah, mulai tingkat Rukun Warga (RW) hingga Kecamatan.

d) Melakukan kegiatan sosial aksi donor darah di berbagai kesempatan, seperti Tujuhbelasan, Hari Internasional Kesehatan, dsb.  

Sahabat Ruanita yang hebat, kita perlu bersyukur untuk berkat sehat dan nafas  hidup yang kita terima dari Sang Pencipta. Rasa syukur tersebut bisa diwujudnyatakan, salah satunya adalah memberi kehidupan kepada sesama lain melalui aksi donor darah. Dengan mendonorkan darah yang kita miliki, kita sudah menyelamatkan sesama kita.  

Penulis: Rudatin, yang dapat dikontak via info@ruanita.com.


Eksplorasi konten lain dari Ruanita - Indonesia

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar