(KNOWLEDGE SHARING) Ruanita Indonesia Ajak Penyintas Autoimun Bangun Self-Compassion dan Komunikasi yang Sehat

JAKARTA, 26 September – Organisasi nirlaba berbasis digital yang berfokus pada promosi kesehatan mental, Ruanita Indonesia sukses menyelenggarakan Knowledge Sharing Meeting bertajuk “Komunikasi yang Menyembuhkan: Membangun Self-Compassion dan Relasi Sehat sebagai Penyintas Autoimun” pada Sabtu, 26 September 2026. Acara yang berlangsung secara daring melalui platform Zoom Meeting pukul 10.00–12.00 CEST ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya komunikasi yang sehat dalam menjaga kesehatan mental serta kualitas hidup para penyintas penyakit kronis. Pertemuan inklusif ini dihadiri oleh para penyintas autoimun, caregiver, keluarga, mahasiswa, hingga masyarakat umum yang memiliki perhatian besar terhadap isu kesehatan mental.

Dipandu oleh Griska Gunara selaku relawan Ruanita Indonesia di Inggris (UK) sebagai moderator, acara ini menghadirkan dua perspektif mendalam yang saling melengkapi. Pada sesi pertama, Azizah, seorang penyintas autoimun asal Indonesia yang kini menetap di Austria, membagikan kisah perjalanan hidupnya yang penuh tantangan. Ia mengisahkan bagaimana proses menerima diagnosis medis, perjuangan menghadapi invisible illness di tengah stigma lingkungan, hingga pentingnya membangun dukungan keluarga. Melalui cerita nyatanya, Azizah menekankan bahwa praktik komunikasi yang baik dan penerimaan diri merupakan kunci utama dalam menjaga stabilitas emosional di tengah kondisi fisik yang tidak menentu.

Melengkapi perspektif tersebut, sesi kedua diisi oleh Yuki Fragariani, seorang Hypnotherapist dan Mental Health Professional yang berbasis di Irlandia. Yuki memaparkan materi ilmiah sekaligus praktis mengenai bagaimana bahasa dan pikiran saling memengaruhi kesehatan mental. Dalam penjelasannya, beliau menyoroti bahaya pola kalimat negatif pada diri sendiri (negative self-talk) yang sering muncul tanpa disadari oleh para penyintas penyakit kronis. Sebagai solusinya, Yuki mengajak para peserta untuk melatih self-compassion atau sikap penuh kasih kepada diri sendiri, serta menerapkan komunikasi asertif agar mampu menyampaikan kebutuhan fisik maupun emosional mereka secara sehat kepada lingkungan sosial.

Acara ditutup dengan sesi diskusi interaktif yang dinamis, sesi tanya jawab, serta refleksi bersama antarperserta. Melalui ruang edukasi yang aman ini, Anna Knöbl berharap para peserta dapat membawa pulang strategi praktis untuk membangun dialog yang lebih empatik dengan diri sendiri maupun orang lain. Dengan suksesnya penyelenggaraan kegiatan ini, Ruanita Indonesia kembali menegaskan komitmennya untuk terus memfasilitasi ruang belajar yang saling menguatkan demi terciptanya lingkungan yang lebih suportif bagi para penyintas autoimun di mana pun berada.

Simak rekaman sesi pemateri berikut di kanal YouTube Ruanita – Rumah Aman Kita berikut dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

(CERITA SAHABAT) Pengalaman Digigit Anjing di India: Antara Takut dan Cemas pada Rabies

Halo, Sahabat Ruanita! Perkenalkan namaku D, perempuan asal Jawa Timur yang sudah hampir sembilan tahun tinggal di India. Aku menikah dengan pria India dan saat ini bekerja sebagai pengajar di salah satu sekolah swasta di sana. Selama tinggal di negeri orang, tentu banyak pengalaman yang aku alami. Namun, ada dua kejadian di tahun 2026 yang sampai hari ini masih membekas dalam ingatanku. Tentunya, ini berkaitan dengan tema cerita sahabat yang ingin kuceritakan. Ya, itu adalah pengalaman terkait gigitan anjing dan kekhawatiran akan rabies.

Kejadian pertama terjadi sekitar beberapa bulan lalu di malam hari. Saat itu aku sedang mengunjungi rumah seorang teman untuk mengantarkan makanan sebelum menghadiri acara kebaktian di rumah jemaat yang masih berada di daerah yang sama. Kami hanya berdiri di dekat pagar rumah sambil berbincang sebentar. Tiba-tiba seekor anjing peliharaan yang berada di luar rumah mendekat dan langsung menggigit kakiku.

Aku sangat terkejut. Saat diperiksa, lukanya hanya berupa goresan kecil tanpa darah, tetapi jujur di dalam hati aku sangat panik. Setelah itu, aku tetap pergi menghadiri kebaktian sambil terus berdoa. Suamiku berusaha menenangkan aku sepanjang perjalanan. Sesampainya di rumah, aku langsung membersihkan luka tersebut.

Keesokan harinya aku memfoto luka itu dan mengirimkannya kepada dokter yang aku kenal. Setelah melihat kondisinya, beliau menyarankan agar aku segera datang ke rumah sakit swasta dekat tempatku bekerja. Syukurlah prosesnya cepat karena ada dokter kenalan yang membuatku merasa lebih nyaman. Setelah diperiksa, dokter menyarankan aku menjalani vaksin anti rabies sebagai tindakan pencegahan.

Aku akhirnya menjalani lima kali suntikan vaksin anti rabies di India. Puji Tuhan, semua proses pengobatan berjalan dengan baik. Namun ternyata pengalaman itu belum berhenti sampai di situ. Tak sampai di situ, suamiku juga mengalami kejadian yang jauh lebih serius. Kami memiliki tiga anjing peliharaan yang semuanya sudah mendapatkan vaksin rabies enam bulan sebelumnya. Hari itu, suamiku membawa salah satu anjing kami bernama Brutus ke rumah sakit hewan karena ada benjolan di tubuhnya dan perlu diperiksa lebih lanjut.

Setelah Brutus dibius dan diambil darahnya, kakak iparku meminta suamiku membangunkannya karena sangat menyayangi hewan tersebut. Padahal sebenarnya jika dibiarkan beberapa saat, Brutus akan sadar sendiri dengan tenang. Karena masih setengah sadar akibat pengaruh bius, Brutus terkejut dan langsung menggigit wajah suamiku.

Kami tidak bisa marah karena hewan itu sedang tidak sadar sepenuhnya. Tetapi sebagai istri, tentu aku sangat syok melihat wajah suamiku penuh luka dan darah. Sesampainya di rumah, aku langsung membersihkan lukanya lalu menghubungi dokter kami. Setelah melihat kondisi luka yang cukup serius, dokter menyarankan agar suamiku segera dibawa ke rumah sakit pemerintah karena membutuhkan penanganan khusus.

Jujur, aku cukup takut dengan rumah sakit pemerintah di India karena prosesnya terkenal panjang dan berbeda dengan di Indonesia. Selain itu, kendala bahasa juga sering menjadi tantangan karena banyak orang menggunakan bahasa daerah. Kadang ketika mereka tahu kita orang asing dan tidak mengerti bahasa setempat, biaya bisa terasa lebih mahal.

Tetapi Puji Tuhan, hari itu suamiku langsung mendapatkan penanganan cepat. Ia menerima 11 jahitan di wajah dan enam suntikan pada hari pertama, lalu dilanjutkan dengan empat suntikan berikutnya sesuai jadwal. Walaupun suntikan terakhir sempat terlewat karena lupa, perawat mengatakan kondisinya tetap aman karena dosis penting sudah diberikan sebelumnya. Sampai hari ini, suamiku dalam keadaan sehat.

Dari dua pengalaman tersebut, aku belajar bahwa gigitan hewan tidak boleh dianggap sepele, bahkan jika hanya berupa goresan kecil tanpa darah. Banyak orang berpikir luka kecil tidak berbahaya, padahal risiko rabies tetap ada. Saat aku digigit, rasa cemas langsung muncul, apalagi setelah melihat berbagai video dan cerita orang yang tidak mendapatkan suntikan rabies tepat waktu. Untuk mengatasi rasa takut dan overthinking, aku mencoba menyibukkan diri dan terus berpikir positif.

Pengalaman ini juga membuatku lebih berhati-hati, terutama saat berkunjung ke rumah orang atau berkendara di India karena terkadang ada anjing yang mengejar di jalan. Selain anjing, di beberapa daerah juga banyak monyet berkeliaran sehingga kewaspadaan memang sangat penting.

Untuk Sahabat Ruanita yang sedang atau akan tinggal di luar negeri, aku ingin mengatakan bahwa hidup jauh dari rumah memang tidak selalu mudah. Ada rindu yang dipendam sendiri, air mata yang jatuh diam-diam, dan perjuangan yang tidak semua orang pahami. Tetapi percayalah, kamu hebat karena mampu bertahan sejauh ini.

Jangan pernah merasa sendirian. Di balik semua luka dan pengorbanan, ada versi dirimu yang sedang tumbuh menjadi perempuan yang lebih kuat, lebih berani, dan lebih dewasa. Tetap jaga hati dan jangan kehilangan dirimu sendiri karena kerasnya dunia. Sejauh apa pun kita pergi, doa orang tua dan tanah kelahiran akan selalu memeluk kita.

Sejak kejadian digigit anjing itu, aku belajar bahwa keberanian bukan berarti tidak takut, tetapi mampu tetap melangkah dengan lebih hati-hati dan penuh kewaspadaan. Kadang sebuah luka justru mengajarkan kita untuk lebih menjaga diri dan lebih menghargai keselamatan. Hati-hati ya, Sahabat Ruanita. Kalau pergi ke India, terutama ke daerah yang banyak hewan berkeliaran, jangan lupa tetap waspada dan jaga diri baik-baik.

Penulis: D yang tinggal di India dan dapat dikontak via e-mail info@ruanita.com

(SIARAN BERITA) Ruanita Indonesia, Komunitas GANAS Taiwan, dan ALZI Ned Perkuat Kapasitas Caregiver PMI melalui Edukasi Demensia pada Peringatan Hari Alzheimer Sedunia 2026

Jakarta, 26 September 2026 – Dalam rangka memperingati Hari Alzheimer Sedunia 2026, Ruanita Indonesia di bawah Yayasan Ruanita Perempuan Indonesia bersama Komunitas GANAS (Gerakan Pemberdayaan Pekerja Migran Indonesia) di Taiwan dan Yayasan ALZI Nederland (ALZI Ned) sukses menyelenggarakan diskusi daring bertajuk “Merawat dengan Hati dan Ilmu: Bekal Dasar Alzheimer bagi Caregiver PMI Taiwan” pada Sabtu (26/9). Kegiatan yang berlangsung melalui Zoom Meeting ini diikuti oleh Pekerja Migran Indonesia (PMI), khususnya para caregiver yang bekerja merawat lansia di Taiwan, serta peserta dari Indonesia dan Belanda.

Kegiatan ini diselenggarakan sebagai bentuk kepedulian terhadap meningkatnya kebutuhan edukasi mengenai demensia Alzheimer bagi para caregiver. Sebagai garda terdepan dalam mendampingi lansia, para PMI menghadapi berbagai tantangan dalam memahami perubahan perilaku, komunikasi, hingga penanganan sehari-hari terhadap penyandang demensia. Melalui kolaborasi lintas negara ini, para peserta memperoleh pengetahuan praktis sekaligus ruang berbagi pengalaman untuk memperkuat kapasitas mereka dalam memberikan perawatan yang lebih baik.

Acara dibuka oleh Fajar, Relawan Ruanita Indonesia di Taiwan sekaligus Founder Komunitas GANAS, yang menekankan pentingnya membangun jejaring dukungan bagi para pekerja migran Indonesia di sektor domestik. Menurutnya, edukasi mengenai Alzheimer tidak hanya meningkatkan kualitas pelayanan kepada lansia, tetapi juga membantu caregiver menjaga kesehatan mental dan ketahanan emosional selama menjalankan pekerjaannya.

Pada sesi pertama, Ari Lestari, caregiver PMI di Taiwan dan anggota Komunitas GANAS, membagikan pengalaman nyata dalam mendampingi lansia dengan Alzheimer. Ia mengisahkan berbagai tantangan yang dihadapi di lapangan, mulai dari perubahan perilaku pasien, kesulitan komunikasi, hingga pentingnya kesabaran dan empati dalam memberikan pendampingan setiap hari. Pengalaman tersebut menjadi refleksi bagi peserta bahwa pekerjaan sebagai caregiver membutuhkan tidak hanya keterampilan teknis, tetapi juga kesiapan emosional.

Sesi kedua menghadirkan Tania, Champion sekaligus Koordinator Regional Indonesia ALZI Nederland di Belanda, yang memberikan pemaparan mengenai pengetahuan dasar Alzheimer, tahapan perkembangan demensia, serta strategi komunikasi yang efektif dengan penyandang Alzheimer. Dalam paparannya, Tania menjelaskan bahwa memahami kondisi medis pasien merupakan langkah penting untuk mengurangi kesalahpahaman, meningkatkan kualitas hidup lansia, dan membantu caregiver menghadapi situasi yang sering kali menantang.

Diskusi berlangsung interaktif dengan antusiasme tinggi dari peserta yang berasal dari berbagai wilayah di Taiwan. Beragam pertanyaan mengemuka, mulai dari cara menghadapi perilaku agresif pada penyandang demensia, teknik berkomunikasi yang lebih efektif, hingga pentingnya menjaga keseimbangan kesehatan mental bagi caregiver. Sesi berbagi pengalaman juga memperlihatkan kuatnya solidaritas di antara para pekerja migran Indonesia yang saling memberikan dukungan dan solusi berdasarkan pengalaman masing-masing.

Melalui kegiatan ini, Ruanita Indonesia, Komunitas GANAS Taiwan, dan ALZI Nederland berharap semakin banyak caregiver PMI yang memiliki pemahaman dasar mengenai demensia sehingga mampu memberikan pendampingan yang lebih profesional, penuh empati, dan berorientasi pada kualitas hidup lansia. Selain itu, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya membangun komunitas belajar yang saling mendukung bagi para pekerja migran Indonesia di luar negeri. Peringatan Hari Alzheimer Sedunia 2026 ini sekaligus menegaskan pentingnya kolaborasi antara organisasi masyarakat sipil, komunitas pekerja migran, dan lembaga pemerhati Alzheimer dalam meningkatkan literasi kesehatan masyarakat Indonesia, baik di dalam maupun di luar negeri.

Rekaman kegiatan akan dipublikasikan melalui kanal YouTube Ruanita – Rumah Aman Kita agar manfaat edukasi dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas dan pastikan SUBSCRIBE ya untuk mendukung kami.

(SIARAN BERITA) Workshop Daring Produksi Audiobook  Dorong Kolaborasi untuk Literasi Inklusif

Jakarta, September 2026 – Yayasan Ruanita Perempuan Indonesia menyelenggarakan Workshop Daring Produksi Audiobook  pada 19–20 September 2026 sebagai bagian dari rangkaian Program AISIYU (AspIrasikan Suara dan Inspirasi nYatamU) dalam mendukung kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan pada 25 November – 10 Desember dan peringatan Hari Braile Sedunia pada Januari 2027 mendatang. Kegiatan ini mempertemukan pegiat inklusi, masyarakat umum, dan mitra strategis untuk memperkuat kapasitas produksi audiobook yang inklusif bagi siapa saja yang memerlukannya.

Workshop diselenggarakan bekerja sama dengan Komunitas Braille’iant Indonesia dan menghadirkan berbagai narasumber dari lembaga negara maupun komunitas yang memiliki perhatian terhadap isu kesetaraan gender, aksesibilitas, dan pendidikan inklusif. Sebagai informasi, komunitas Braille’iant Indonesia adalah komunitas anak muda Jogja yang berfokus pada pengembangan kapasitas difabel netra dan pendidikan inklusi.

Pada sesi pembuka, Ketua Komisi Nasional Disabilitas Republik Indonesia, Dante Rigmalia, menyampaikan materi mengenai pentingnya membangun akses informasi dan literasi yang inklusif bagi penyandang disabilitas. Dalam paparannya, beliau menekankan bahwa akses terhadap pengetahuan merupakan bagian dari pemenuhan hak penyandang disabilitas, sehingga pengembangan media yang mudah diakses, termasuk audiobook, menjadi salah satu upaya nyata untuk mewujudkan masyarakat yang lebih setara dan inklusif.

Sementara itu, sesi mengenai Pengarusutamaan Gender dan Inklusi Sosial (GESI) disampaikan oleh Komisioner Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan), Devi Rahayu. Materi tersebut mengajak peserta memahami pentingnya mengintegrasikan perspektif gender dalam produksi pengetahuan dan media digital, sekaligus memperkuat peran masyarakat dalam mendukung penghapusan kekerasan terhadap perempuan melalui kampanye yang inklusif dan berbasis hak asasi manusia. Workshop daring selama dua hari ini ini dimoderasi oleh Lu’luatul Awaliyah, mahasiswa S2 di UK.

Selain mendapatkan penguatan perspektif gender dan inklusi sosial, peserta juga memperoleh pelatihan teknis produksi audiobook yang difasilitasi oleh Veronica Christamia, Dosen Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) di Tiongkok sekaligus Founder Komunitas Braille’iant Indonesia. Materi mencakup teknik membaca naskah, perekaman suara, hingga penyuntingan audio menggunakan perangkat lunak Audacity.

Workshop diikuti oleh peserta dari berbagai daerah di Indonesia yang memiliki minat pada literasi, produksi konten digital, dan isu aksesibilitas. Melalui sesi praktik, setiap peserta mulai mengerjakan bagian audiobook yang akan dikembangkan secara kolaboratif sebagai produk akhir Program AISIYU. Untuk kampanye digital 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (HAKTP), penyelenggara mengharapkan peserta membuat konten terkait refleksi pengalaman selama proses produksi audiobook, yang berlangsung pada 25 November – 10 Desember mendatang.

Setelah proses produksi dan penyuntingan selesai, audiobook akan dipublikasikan melalui platform Yayasan Ruanita Perempuan Indonesia serta didistribusikan kepada komunitas netra, organisasi penyandang disabilitas, dan sekolah netra di Indonesia pada peringatan Hari Braille Sedunia, 4 Januari 2027. Audiobook ini merupakan bagian dari komitmen Yayasan Ruanita Perempuan Indonesia untuk menghadirkan ruang digital yang positif, kreatif, dan inklusif, sekaligus membangun ruang kolaboratif bagi masyarakat untuk memproduksi karya-karya yang mengangkat nilai kesetaraan gender, aksesibilitas, dan pemberdayaan.

Melalui inisiatif ini, Ruanita Indonesia berharap dapat memperluas akses literasi bagi penyandang disabilitas netra, memperkuat budaya gotong royong dalam berkarya, serta mendorong lahirnya lebih banyak konten digital yang memberikan manfaat sosial bagi masyarakat.

Anna Knöbl selaku bagian dari penyelenggara Workshop Audiobook berharap semakin banyak masyarakat yang memahami bahwa akses terhadap informasi, literasi, dan ruang berekspresi merupakan hak setiap orang. Dia menambahkan bahwa kolaborasi antara organisasi masyarakat sipil, komunitas penyandang disabilitas, dan lembaga negara diharapkan menjadi langkah bersama dalam membangun ekosistem literasi yang inklusif, setara, dan bebas dari kekerasan terhadap perempuan.

(CERITA SAHABAT) Dari Merawat Lansia di Taiwan hingga Menjaga Impian

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan, saya Irma, tapi teman-teman biasa memanggil saya Mbok. Saya berasal dari Jawa Barat, tepatnya Sukabumi, daerah Jampang Kulon. Saat ini saya sedang bekerja di Taiwan sebagai pekerja informal di bidang perawatan lansia atau orang-orang biasa menyebutnya elderly care. Sudah hampir satu tahun saya tinggal di sini. Alhamdulillah, saya sudah mulai merasa lebih nyaman menjalani kehidupan di negeri orang.

Kalau ditanya aktivitas sehari-hari, hari-hari saya di Taiwan cukup padat tapi juga penuh pembelajaran. Saya merawat seorang lansia di rumah majikan, membantu kebutuhan sehari-harinya, mulai dari makan, kebersihan, sampai mengawasi kondisi kesehatannya. Kadang juga harus siap kalau ada kondisi darurat kecil, jadi memang butuh kesabaran dan ketelitian ekstra.

Sebelum berangkat ke Taiwan, saya tinggal dan bekerja di Jakarta. Waktu itu, saya bekerja di sebuah perusahaan distributor lensa kacamata. Namun kemudian, perusahaan tempat saya bekerja mengalami krisis. Saya dan teman-teman mulai mengalami pengurangan karyawan dan juga pengurangan jam kerja. Gaji yang saya terima pun sebenarnya sudah di bawah UMR. Ini buat saya semakin terasa berat.

Di situ saya mulai berpikir, “Bagaimana hidup saya selanjutnya ya?” Pengeluaran tetap jalan, tetapi pemasukan makin kecil. Dari situlah saya mulai membuka diri untuk mencoba peluang kerja di luar negeri.

Awal tahun lalu, saya mulai mencari informasi tentang kerja ke luar negeri, khususnya ke Taiwan atau Hong Kong. Saya juga sempat tanya-tanya ke teman yang sudah punya pengalaman kerja di luar negeri. Dari situ saya dapat gambaran. Menurut teman saya itu, kalau bekerja di Hong Kong, tuntutannya lebih tinggi. Semua harus serba bisa, termasuk masak. Sedangkan saya merasa belum siap di bagian itu. Akhirnya, saya memutuskan untuk mencoba ke Taiwan.

Sebenarnya saya tidak punya latar belakang sebagai perawat profesional. Tapi sebelumnya saya pernah merawat bos dari adik saya yang terkena stroke, walaupun pekerjaan itu hanya sekitar setengah tahun. Dari situ saya punya sedikit gambaran tentang merawat orang sakit, meskipun waktu itu saya sempat merasa kewalahan karena pasiennya cukup sulit dan temperamental.

Setelah memutuskan berangkat ke Taiwan, saya masuk ke penampungan. Orang bilang kayak agency begitu selama tiga bulan. Di sana saya belajar bahasa, terutama bahasa Mandarin dasar, serta beberapa keterampilan dasar untuk pekerjaan perawatan.

Walaupun sudah belajar, ternyata ketika sampai di Taiwan tetap tidak mudah. Bahasa yang digunakan sehari-hari terasa berbeda. Misalnya, saya banyak mendengar logat, cara pengucapan, dan semuanya butuh penyesuaian lagi. Jadi, tantangan terbesar di awal memang soal bahasa.

Selain bahasa, saya juga harus belajar banyak hal baru, terutama dalam hal perawatan kesehatan. Di Taiwan, saya belajar secara otodidak menggunakan alat-alat medis sederhana, seperti alat sedot dahak. Ini pengalaman baru buat saya, karena di Indonesia saya tidak pernah mendapatkan pelatihan seperti ini secara formal.

Kalau dibandingkan dengan kerja di Indonesia, perbedaannya cukup jauh. Dulu di Indonesia, pekerjaan saya lebih sederhana, hanya menjaga pasien dan menemani ke rumah sakit. Tapi di Taiwan, tanggung jawabnya lebih besar dan lebih kompleks.

Untuk soal makanan, awalnya saya agak khawatir, terutama karena banyak makanan yang mengandung babi. Alhamdulillah, orang Taiwan cukup pengertian. Mereka biasanya memberi tahu kalau ada makanan yang mengandung babi. Walaupun kadang mereka belum sepenuhnya paham soal penggunaan minyak babi, tapi niat mereka untuk menghargai sudah terasa.

Selain itu, ada juga banyak warung atau toko Indonesia di sini. Jadi, kalau kangen masakan rumah masih bisa sedikit terobati. Kalau ditanya soal stres, jujur saja, itu pasti ada. Tapi bukan karena pekerjaan atau majikan. Alhamdulillah, majikan saya baik dan tidak banyak menuntut. Mereka justru berusaha membuat saya nyaman.

Justru tekanan terbesar datang dari jauh dari Indonesia, terutama soal keluarga dan anak. Anak saya sempat mengalami masalah kesehatan, setelah saya tiga bulan di sini. Waktu itu saya sempat berpikir untuk pulang. Tapi keluarga menyarankan saya untuk tetap bertahan. Mereka bilang, semoga kondisi anak saya bisa membaik. Di situ saya belajar untuk kuat secara mental, karena ternyata bekerja di luar negeri bukan hanya soal fisik, tapi juga hati.

Sebagai perempuan, saya merasa cukup aman tinggal di Taiwan. Lingkungannya tertib, orang-orangnya sopan, dan jarang ada gangguan. Bahkan kalau keluar malam pun masih terasa aman. Saya juga merasa dihargai sebagai pekerja. Untuk perlindungan kesehatan, saya mendapatkan asuransi. Pernah suatu waktu saya mengalami masalah kulit, dan saya bisa menggunakan kartu asuransi untuk berobat. Bahkan majikan juga membantu dalam hal biaya. Walaupun mungkin tidak semua orang seberuntung itu, tapi pengalaman saya sejauh ini cukup baik.

Selama di Taiwan, saya mendapatkan banyak pengalaman berharga. Saya bertemu dengan orang-orang dari latar belakang yang berbeda, belajar bahasa baru, dan juga mendapatkan pengetahuan tentang dunia kesehatan. Kalau dipikir-pikir, di Indonesia mungkin untuk belajar hal seperti ini harus sekolah dulu. Tapi di sini, saya bisa belajar langsung dari pengalaman sehari-hari. Walaupun tidak mudah, tapi sangat berharga.

Kontrak kerja saya masih sekitar tiga tahun. Awalnya saya berpikir tidak akan menghabiskan kontrak, tapi melihat kondisi ekonomi sekarang, sepertinya saya akan menyelesaikannya. Semua ini saya jalani demi masa depan yang lebih baik, terutama untuk keluarga.

Buat sahabat Ruanita yang sedang mempertimbangkan untuk bekerja di luar negeri, saya ingin berbagi sedikit pesan. Jangan hanya melihat enaknya saja dari media sosial, seperti di TikTok yang terlihat serba indah dan menyenangkan. Kenyataannya tidak sesederhana itu. Bekerja di luar negeri membutuhkan kesiapan fisik dan mental. Bahasa itu sangat penting. Usahakan benar-benar belajar sebelum berangkat. Hal yang paling penting, mental harus kuat, karena kita akan jauh dari keluarga, menghadapi lingkungan baru, dan harus bisa berdiri sendiri.

Namun, balik semua itu, kalau dijalani dengan niat dan kesabaran, pasti ada banyak hal baik yang bisa kita dapatkan.

Penulis: Irma, yang jadi Elderly Care Practitioner di Taiwan yang dapat dikontak melalui akun Facebook Mbo.

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Ketika Rumah Tak Lagi Berbicara Tempat

Melanjutkan program video cerita sahabat spesial (CSS) yang rilis tiap bulan, Ruanita Indonesia mengangkat makna rumah bagi mereka yang bekerja secara nomaden. Mengapa? Bagi sebagian orang, rumah adalah sebuah alamat atau tempat yang bisa ditunjuk di peta, lengkap dengan jalan, kota, dan negara. Namun bagi Itha Pandjaitan Siburian, makna rumah telah berubah. Rumah bukan lagi sekadar tempat tinggal, melainkan sesuatu yang jauh lebih dalam. Bagi Itha, rumah adalah tentang rasa, kehadiran, dan keterikatan hati.

Kini, Itha tinggal di Bogotá, Kolombia, bersama keluarganya. Kehidupan mereka di sana dimungkinkan oleh sebuah pilihan yang semakin relevan di era digital, yaitu menggunakan visa digital nomad. Dengan visa ini, mereka tetap bisa bekerja secara remote tanpa harus terikat pada pekerjaan di negara tempat mereka tinggal. Sebuah keputusan yang terdengar fleksibel, namun menyimpan tantangan yang tidak sedikit.

Perjalanan mereka sebagai keluarga Indonesia di mancanegara tidak dimulai di Kolombia. Sebelumnya, mereka sempat tinggal di Kamboja. Namun, kepindahan ke Kolombia membawa pengalaman yang jauh lebih menantang. Jika di Kamboja, komunitas orang Indonesia masih cukup banyak, di Kolombia jumlahnya sangat sedikit. Rasa asing menjadi lebih terasa, terutama di awal kedatangan. Apalagi menurut Itha, belum ada lingkaran pertemanan dan semuanya terasa benar-benar baru.

Hari-hari Itha diisi dengan proses beradaptasi. Ia membangun relasi dari hal-hal sederhana, seperti berkenalan dengan orang-orang di gym. Dari situ, perlahan ia mengenal kehidupan lokal. Namun, perbedaan budaya tetap menghadirkan kejutan-kejutan kecil yang tidak selalu mudah.

Ia bercerita tentang kebiasaan sehari-hari yang berbeda dari yang ia kenal di Indonesia. Di jalanan, misalnya, pengalaman menunggu bus bisa menjadi petualangan tersendiri. Bus tidak selalu berhenti tepat di halte, sehingga penumpang harus sigap mengejar. Hal-hal kecil seperti ini menjadi bagian dari dinamika hidup yang harus diterima dan dijalani.

Di sisi lain, ia juga menemukan hal-hal yang menghangatkan. Orang-orang Kolombia dikenal ramah, meskipun pada awalnya makanan lokal terasa asing di lidah. Kombinasi nasi dengan pisang atau singkong sempat terasa aneh, tetapi seiring waktu, justru menjadi sesuatu yang bisa dinikmati.

Pengalaman tinggal di luar negeri juga membuka perspektif baru tentang perempuan. Saat di Kamboja, Itha melihat bagaimana perempuan sering kali memegang peran besar dalam ekonomi keluarga, bahkan menjadi tulang punggung. Sementara di Kolombia, ia melihat sisi lain. Menurutnya, perempuan di Kolombia lebih vokal, berani berbicara, dan mengekspresikan pendapatnya dengan percaya diri.

Perbedaan-perbedaan ini tidak hanya memperkaya pengalamannya, tetapi juga memperkuat identitas dirinya sebagai perempuan Indonesia. Justru setelah tinggal jauh dari tanah air, ia merasa kecintaannya terhadap Indonesia semakin dalam. Hal-hal yang dulu terasa biasa, kini menjadi sesuatu yang dirindukan dan dibanggakan.

Dari situlah makna rumah mulai berubah dalam dirinya. Rumah tidak lagi sekadar bangunan atau lokasi geografis. Rumah adalah kehadiran orang-orang tercinta, kebiasaan yang dibawa dari tanah kelahiran, dan nilai-nilai yang tetap hidup di dalam keseharian. “Home is where the heart is,” menjadi kalimat yang kini ia pegang. Di mana hati berada, di situlah rumah berada.

Meskipun tinggal jauh di Kolombia, Itha merasa tidak benar-benar meninggalkan Indonesia. Ia tetap membawa Indonesia dalam kehidupan sehari-harinya dalam cara berpikir, nilai yang ia tanamkan kepada anak-anaknya, dan hal-hal sederhana yang ia lakukan sebagai bagian dari identitasnya.

Baginya, Indonesia bukan sekadar tempat asal, tetapi bagian dari dirinya yang tidak bisa dipisahkan. Sebuah rumah yang tidak akan pernah hilang, ke mana pun langkah membawanya. Di tanah yang jauh, di antara bahasa yang berbeda dan budaya yang baru, Itha menemukan satu hal yang pasti. Bahwa rumah bukan lagi soal di mana kita berada, tetapi tentang apa yang kita bawa di dalam hati.

Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan tayangan video berdurasi sekitar 10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube Ruanita Rumah Aman Kita dan dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebagai ruang aman berbagi cerita inspiratif perempuan Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Program ini mengangkat pengalaman nyata, perjuangan, serta refleksi para perempuan dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mendorong promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Digagas oleh Anna Knöbl di Jerman, CSS menjadi wadah yang memperkuat suara perempuan, membangun solidaritas, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keadilan serta kesempatan yang setara bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan.

Simak selengkapnya program cerita sahabat spesial episode September 2026 di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE agar mendukung kami.

(CERITA SAHABAT) Menjejak dari Bandung ke Belanda, Berlabuh di Denmark

Halo sahabat Ruanita, aku mau ajak kamu duduk santai sejenak, sambil ngopi atau ngeteh, dan ngobrol tentang perjalanan hidupku dari Bandung terus ke Belanda, lalu akhirnya menetap di Denmark. Cerita ini bukan sekadar soal pindah negara, tapi soal memulai hidup dari awal berkali-kali, belajar beradaptasi, dan tetap bertahan meskipun kadang rasanya ingin menyerah. Semoga cerita ini bisa jadi teman untuk kamu yang mungkin lagi berada di persimpangan hidup di luar negeri, atau sekadar penasaran tentang seperti apa sih rasanya hidup di negeri Nordik yang katanya bahagia itu.

Namaku Bertha. Aku lahir dan besar di Bandung, di suasana kota yang hangat, penuh hiruk pikuk, macet, kulineran, dan keluarga besar. Dua puluh tahun lalu, hidup membawaku jauh ke benua Eropa. Tidak langsung ke Denmark. Perhentian pertamaku adalah Belanda, negeri kincir angin, jalan sempit berbatu, dan orang-orang yang terbuka.

Aku ke Belanda mengikuti suami. Cukup berat saat itu, tentu saja, tapi aku masih punya kemewahan: ada keluarga suami yang siap membantu proses adaptasiku. Jadi meskipun harus menaklukkan bahasa Belanda, birokrasi, dan kultur baru, aku tidak merasa benar-benar sendirian. Ada tangan-tangan yang menyambut dan memeluk.

Sampai kemudian, belasan tahun kemudian, hidup kembali mengajakku pindah. Kali ini ke Denmark. Suamiku mendapat pekerjaan baru, dan kami memutuskan untuk mulai babak baru.

Dan di sinilah cerita “survival” itu benar-benar dimulai.

Saat mendengar kata Denmark untuk pertama kali, aku jujur… panik. Bayanganku langsung pada bahasa Danish yang terdengar sulit, seolah huruf-hurufnya bercampur, dan setiap kata seperti setengah dibisikin. Belum lagi fakta bahwa kami tak punya keluarga sama sekali di sana. Kalau di Belanda dulu ada tempat untuk bertanya, curhat, atau sekadar minta tolong, maka di Denmark semuanya serba dari nol.

Aku masih ingat rasa canggung saat menyapa tetangga pertama kali. Mereka sopan, tapi tidak terbuka seperti di Belanda. Ada batas yang tebal dan jelas. Circle pertemanan mereka kecil dan tertutup, dan untuk masuk ke dalamnya bukan perkara mudah. Apalagi kalau kamu orang asing dan belum bisa bahasa Denmark dengan lancar.

Tapi pindah negara tidak memberi kita pilihan selain berusaha. 

Kalau kamu bertanya negara mana yang lebih enak, jawabanku tidak sesederhana membandingkan satu lebih baik dari yang lain. Dua-duanya punya kelebihan dan kekurangan, dan dua-duanya meninggalkan jejak pada cara pandangku.

Yang paling terasa adalah ritme hidup. Di Belanda, masyarakat bergerak dalam ritme yang cepat dan kompetitif. Ada tuntutan sosial dan tekanan prestasi yang membuat orang seakan harus selalu produktif. Di Denmark, ritme hidup terasa jauh lebih santai dan rileks. Work–life balance bukan sekadar slogan; orang-orang benar-benar menghargainya. Mereka pulang kerja tepat waktu tanpa merasa bersalah, dan kehidupan keluarga mendapatkan porsi yang besar.

Sistem sosial pun menjadi pembeda. Di Belanda, birokrasi memang terasa lambat dan kadang membuat frustrasi. Namun, saat tiba di Denmark, aku baru menyadari bahwa proses administrasi bisa menjadi lebih lambat lagi. Meski begitu, di balik kelambatan itu ada konsep negara kesejahteraan yang kuat, yang menjamin pendidikan dan kesehatan bagi warganya, sehingga pada akhirnya kita belajar untuk bersabar.

Untuk urusan pembauran sosial, Belanda jelas lebih ramah terhadap orang asing. Di sana, berbicara dengan tetangga atau memulai percakapan dengan orang baru terasa lebih mudah. Di Denmark, masyarakatnya cenderung tertutup dan membentuk lingkaran pertemanan kecil, yang butuh waktu lama untuk dimasuki pendatang. Meskipun begitu, aku melihat bahwa anak-anak justru lebih mudah menembus batas-batas sosial itu, sehingga memiliki anak dalam keluarga sedikit banyak mempermudah proses adaptasi.

Pendidikan dan dunia kerja pun memiliki nuansa yang berbeda. Di Belanda, tekanan akademik cukup kuat dan standar pendidikan terasa lebih menekan. Di Denmark, pendekatannya lebih santai dan manusiawi, dengan fokus pada kesejahteraan siswa. Namun, kebebasan yang diberikan kepada remaja seringkali membuatku khawatir sebagai seorang ibu. Hal-hal seperti alkohol dan vape dianggap biasa oleh remaja di sana, yang tentu saja membuatku harus lebih waspada dan banyak berdialog dengan anak-anak.

Semua perbedaan itu membuatku menyadari bahwa setiap negara membawa budaya dan nilai yang berbeda, dan kita sebagai pendatang harus belajar untuk menerima tanpa harus kehilangan diri sendiri.

Bahasa Denmark adalah tantangan terbesar.
Aku belajar bersama keluarga, tapi tetap… sulit. Lidahku rasanya perlu latihan khusus. Orang Denmark bisa bicara super cepat, dan aku berkali-kali bingung. Tapi mereka sangat menghargai usaha, dan itu jadi motivasi.

Lalu ada tantangan lain yang bikin aku benar-benar stress: kultur remaja.

Di Denmark, minum alkohol, vape, atau snus di usia gymnasium itu… normal. Sebagai ibu dari tiga remaja, ini hal paling menegangkan. Aku belajar berdialog tanpa menghakimi, tapi tetap tegas. Aku harus membuka mata, tapi menjaga batas. Itu seni yang sampai sekarang masih kupelajari.

Dan terakhir: musim dingin. Di Belanda dingin? Iya. Di Denmark dingin + gelap + berangin.

Musim dingin di sini bukan sekadar dingin, tapi bisa membuat mood turun drastis. Winter depression itu nyata. Matahari jarang muncul. Dan kamu bisa bangun dalam gelap, lalu pulang kerja/school pick-up dalam gelap lagi.

Untungnya, Denmark punya pantai di mana-mana. Dari rumahku ke pantai terdekat cuma 30 menit. Setidaknya ada tempat kabur buat melihat horizon dan merasa kembali bernapas.

Adaptasi bukan soal seberapa siap kamu, tapi seberapa besar kamu mau bertahan. Namun, aku punya beberapa penyelamat, seperti: komunitas Indonesia, komunitas internasional, kunjungan rutin ke Belanda, pantai Denmark, atau keluarga inti sendiri

Ketika kangen kuliner, kangen ngobrol dengan tetangga, kangen suasana hangat… kami kadang balik ke Belanda. Itu jadi vitamin nostalgia.

Tapi di Denmark, aku belajar mandiri. Belajar bahasa. Belajar pajak. Belajar sistem kesehatan. Belajar menerima budaya. Dan di atas semuanya: belajar percaya diri. Meski banyak tantangan, aku harus akui: Denmark memberi rasa aman.

Udara yang bersih, sekolah negeri gratis, akses kesehatan yang hampir tanpa biaya karena subsidi besar, masyarakat yang menghargai privasi, dan ritme hidup yang berimbang, semuanya menciptakan lingkungan yang membuatku merasa cukup dan berkecukupan.

Dari Belanda, aku merindukan komunikasi hangat dengan tetangga, pilihan bahan pangan yang melimpah dengan harga yang lebih bersahabat, serta keramahtamahan yang terasa berbeda.

Di Denmark, makanan impor atau produk tertentu tersedia tapi harganya bisa sangat mahal dan pilihannya terbatas.

Sedangkan dari Indonesia? Ah, itu tidak perlu ditanya: keluarga, makanan, cuaca, dan kebersamaan yang tidak pernah tergantikan.

Pindah negara mengajarkanku satu hal besar: adaptasi itu bukan pilihan, tapi kebutuhan.

Dan setiap kali aku merasa lelah, aku selalu ingat: kalau kita mau bertahan, kita akan menemukan cara.

Tidak ada garis finish dalam adaptasi. Kita tidak pernah selesai belajar. Kita cuma semakin tangguh.

Sahabat Ruanita, Aku percaya kita hebat.Bukan karena kita sempurna, tapi karena kita selalu belajar berdiri setiap kali jatuh.

Harapanku: perempuan Indonesia menemukan tujuan, tetap berdaya, tetap menjadi berkat, dan tidak kehilangan jati diri

Dimanapun kita tinggal, di Bandung, di Belanda, di Denmark, atau di negeri mana pun, rumah bukan soal lokasi. Rumah adalah tentang bagaimana kita membuat hidup tetap berarti.

Sekarang, ketika aku melihat kembali perjalanan dua puluh tahun ini, aku tahu satu hal:Jika dulu aku tidak berani pindah, aku mungkin tidak pernah belajar sebanyak ini.

Denmark mengajariku: bersabar, beradaptasi, menghargai privasi, dan menikmati hidup lebih pelan. Belanda mengajariku: terbuka, komunikatif, dan tidak takut membangun relasi.

Sementara, Indonesia mengajariku: hangat, keluarga, dan ketahanan mental. Semua itu membentuk siapa aku sekarang.

Jadi, sahabat Ruanita, kalau kamu sedang berada di titik bingung, takut, atau terasing di negeri orang, ingat: Kita mungkin mulai dari nol. Tapi kita tidak nol. Kita membawa kekuatan dari semua tempat yang pernah kita tinggali.

Dan seperti yang kubilang: survival to the fittest. Kita bisa. Kita mampu. Kita tangguh.

Dari Bandung ke Belanda lanjut ke Denmark, aku masih berjalan. Dan aku percaya, perempuan Indonesia di manapun berada, akan selalu menemukan jalannya.

Penulis: Bertha Situmeang, relawan Ruanita di Denmark dan dapat dikontak via akun instagram adenk_bvs.

(SIARAN BERITA) PMI Perempuan di Singapura Unjuk Karya Lewat Buku Narasi Hidup PMI Perempuan

Singapura, 13 September – Peluncuran buku Cahaya dari Seberang Laut: Singapura telah sukses diselenggarakan secara daring. Kegiatan ini mempertemukan pekerja migran Indonesia (PMI), pegiat literasi, penulis, serta berbagai pemangku kepentingan dari Singapura dan sejumlah negara penempatan lainnya dalam semangat merayakan karya literasi para PMI. Acara yang digagas oleh Ruanita Indonesia ini merupakan tindak lanjut peringatan Hari Buruh Sedunia 2026 dalam bentuk Workshop Daring Menulis.

Acara dibuka oleh moderator, Reka Monica, salah satu penulis buku sekaligus Relawan Ruanita Indonesia di Singapura, yang menyampaikan apresiasi kepada seluruh narasumber, tamu undangan, penulis, dan peserta yang telah hadir secara virtual. Dalam acara ini, KBRI Singapura juga mengawali dengan pemantik diskusi oleh Rina Komaria, selaku Pelaksana Fungsi Protkons/PWNI KBRI Singapura. Beliau menyampaikan apresiasi atas lahirnya buku tersebut sebagai bukti bahwa pekerja migran Indonesia tidak hanya berkontribusi dalam sektor ekonomi, tetapi juga mampu menghasilkan karya intelektual dan literasi yang menginspirasi. Melalui acara ini, Ruanita Indonesia, menegaskan komitmennya dalam mendukung pemberdayaan perempuan Indonesia, termasuk melalui penguatan budaya literasi di kalangan pekerja migran.

Prosesi peluncuran buku menjadi puncak acara. Buku Cahaya dari Seberang Laut: Singapura merupakan kumpulan tulisan para pekerja migran Indonesia yang merekam pengalaman, perjuangan, harapan, serta refleksi kehidupan selama berada di negeri rantau. Kehadiran buku ini diharapkan menjadi inspirasi sekaligus dokumentasi perjalanan para PMI yang memiliki semangat untuk terus belajar dan berkarya.

Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan diskusi yang menghadirkan Nor Ismah, fasilitator Workshop Daring Menulis PMI Perempuan di Singapura, yang mengulas pentingnya menulis sebagai sarana pemberdayaan diri, dokumentasi pengalaman, dan media menyuarakan kisah para pekerja migran kepada masyarakat luas.

Dalam kesempatan yang sama, Indah, salah satu penulis buku, berbagi pengalaman mengenai proses kreatif menulis dan perjalanan hingga naskahnya menjadi bagian dari buku Cahaya dari Seberang Laut: Singapura. Kisah tersebut memberikan motivasi kepada peserta bahwa siapa pun dapat memulai menulis dari pengalaman hidup yang sederhana namun bermakna. Diikuti juga sharing pengalaman Dewi N.S. Lubis selaku Koordinator Tim Buku dan founder FPMI Singapura yang juga menegaskan pentingnya mendokumentasikan pengalaman hidup sebagai PMI lewat literasi. Buku ini menjadi buku ketiga dari karya FPMI yang senantiasa produktif menghasilkan buah tangan PMI di Singapura.

Diskusi semakin kaya melalui tanggapan dari Fajar, Founder GANAS Community (Gabungan Tenaga Kerja Bersolidaritas Taiwan). Ia mengapresiasi terbitnya buku tersebut sebagai bentuk keberanian para pekerja migran dalam mendokumentasikan pengalaman hidup mereka. Menurutnya, karya-karya seperti ini mampu memperkuat solidaritas antarkomunitas pekerja migran Indonesia di berbagai negara sekaligus memperluas perspektif masyarakat terhadap kehidupan para PMI.

Antusiasme peserta terlihat dalam sesi tanya jawab. Berbagai pertanyaan dan tanggapan disampaikan oleh peserta yang mengikuti kegiatan secara daring dari Singapura maupun negara penempatan lainnya. Diskusi berlangsung hangat dengan pembahasan mengenai proses menulis, pentingnya membangun budaya literasi di kalangan pekerja migran, serta upaya menjaga keberlanjutan gerakan menulis bagi PMI.

Melalui peluncuran buku ini, Forum Penulis Migran Indonesia (FPMI) Singapura bersama Yayasan Ruanita Perempuan Indonesia berharap semakin banyak pekerja migran Indonesia terdorong untuk mendokumentasikan pengalaman, gagasan, dan harapan mereka dalam bentuk tulisan. Literasi diharapkan menjadi ruang pemberdayaan yang mampu memperkuat kapasitas diri sekaligus menghadirkan narasi positif mengenai kontribusi pekerja migran Indonesia di tingkat nasional maupun internasional.

Acara ditutup dengan ucapan terima kasih kepada seluruh narasumber, penulis, peserta, dan pihak-pihak yang telah mendukung terselenggaranya peluncuran buku secara daring. Semangat yang terbangun sepanjang kegiatan diharapkan menjadi awal dari lahirnya lebih banyak karya literasi dari tangan para pekerja migran Indonesia di berbagai belahan dunia.

Rekaman acara dapat disimak melalui kanal YouTube Ruanita – Rumah Aman Kita dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

(IG LIVE) Mendengar, Memahami, dan Mencegah: Menemukan Jalan Keluar dari Kegelapan

Peringatan Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia pada 10 September menjadi momentum bagi Ruanita Indonesia untuk membuka ruang percakapan mengenai kesehatan mental dan pencegahan bunuh diri. Melalui program diskusi Instagram Live, Ruanita Indonesia mengangkat tema mendengar, memahami, dan mencegah, dengan menghadirkan pengalaman personal sekaligus perspektif profesional mengenai mereka yang pernah berada dalam masa-masa paling gelap dalam hidupnya.

Diskusi tersebut menghadirkan Miystica Rosa, seorang praktisi kesehatan mental yang berada di Irlandia, serta Vita, seorang penyintas yang saat ini tinggal di Islandia. Dipandu oleh Zukhrufi Syasdwaita atau disapa Rufi dari Ruanita Indonesia, perbincangan berlangsung sekitar 30 hingga 40 menit dan membuka kesempatan bagi penonton untuk turut berpartisipasi melalui kolom komentar

Percakapan dimulai dari sebuah pengingat sederhana bahwa setiap manusia memiliki alasan dan tujuan keberadaannya. Kehidupan seseorang dipandang tetap memiliki arti, apa pun latar belakang dan situasi yang sedang dihadapinya. Bahkan ketika seseorang sedang berada dalam kondisi yang sangat sulit, keberadaannya tetap penting. Dalam konteks pencegahan bunuh diri, pemaknaan terhadap kehidupan menjadi salah satu pesan penting yang muncul dalam diskusi. Masa-masa gelap tidak dipandang sebagai keadaan yang akan berlangsung selamanya. Kesulitan memang dapat membuat seseorang merasa seolah-olah tidak ada jalan keluar, tetapi kegelapan tersebut tidak harus menjadi akhir dari perjalanan hidup seseorang.

Peringatan Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia kemudian tidak hanya dimaknai sebagai momentum untuk mengingat mereka yang meninggal akibat bunuh diri. Lebih jauh, momen ini menjadi ajakan untuk kembali menghargai kehidupan dan menyadari bahwa setiap orang masih memiliki kesempatan untuk menjalani, memperbaiki, dan melanjutkan hidupnya.

Salah satu bagian penting dalam diskusi adalah pembahasan mengenai berbagai anggapan keliru yang berkembang di masyarakat tentang bunuh diri. Salah satunya adalah keyakinan bahwa bunuh diri merupakan topik yang tidak seharusnya dibicarakan secara terbuka. Pandangan semacam itu justru dapat membuat seseorang yang sedang mengalami krisis semakin terisolasi. Percakapan mengenai bunuh diri perlu dibuka dengan hati-hati agar orang yang sedang berada dalam kegelapan dapat menyadari kondisi yang sedang dialaminya dan memiliki kesempatan untuk mendapatkan pertolongan.

Diskusi juga menyinggung anggapan bahwa hanya profesional tertentu yang dapat membantu seseorang yang memiliki pikiran untuk bunuh diri. Perspektif yang muncul justru menekankan pentingnya peran lingkungan sekitar. Mendengarkan, hadir, membangun koneksi, dan membantu seseorang menemukan akses menuju pertolongan merupakan bagian penting dari upaya pencegahan. Karena itu, membicarakan kondisi seseorang bukan berarti memperburuk keadaan. Sebaliknya, percakapan dapat menjadi langkah awal untuk membuat seseorang menyadari bahwa ia tidak sendirian dan bahwa ada jalan untuk keluar dari situasi yang sedang dihadapinya.

Pengalaman Vita memberikan dimensi personal pada pembahasan tersebut. Ia menggambarkan masa tergelap dalam hidupnya sebagai periode yang dipenuhi stres, depresi, dan kecemasan. Dalam kondisi itu, aktivitas sehari-hari terasa sangat berat. Keinginan untuk melakukan apa pun menghilang dan tidur menjadi pilihan untuk menghindari kenyataan. Perasaan tersebut juga membuatnya menarik diri dari lingkungan. Ia memilih berada di rumah dan menghindari pertemuan dengan orang lain, termasuk anak-anaknya. Isolasi menjadi bagian dari pengalaman ketika seseorang merasa tidak memiliki energi maupun kemampuan untuk menghadapi kehidupan sebagaimana biasanya.

Di balik kondisi tersebut terdapat berbagai persoalan yang saling berkelindan. Kehilangan pasangan, persoalan finansial, tekanan hidup, hingga berbagai pengalaman traumatis dapat membuat seseorang merasa semakin kehilangan harapan. Dalam kondisi krisis, kemampuan untuk melihat masa depan pun dapat menyempit. Seseorang mungkin tidak lagi mampu membayangkan adanya jalan keluar dari masalah yang sedang dihadapinya.

Vita juga menggambarkan betapa sulitnya mengungkapkan kondisi batin ketika seseorang berada dalam situasi tersebut. Ada perasaan yang begitu berat sehingga sulit diterjemahkan menjadi kata-kata. Justru karena itulah kehadiran orang lain dan ruang yang aman untuk berbicara menjadi sangat penting.

Titik balik dalam pengalaman Vita muncul ketika ia menyadari bahwa dirinya membutuhkan pertolongan. Dalam situasi yang terasa sudah runtuh, ia akhirnya menghubungi layanan bantuan krisis Pieta yang tersedia selama 24 jam di tempat ia berada. Keputusan untuk menelepon menjadi sebuah langkah penting karena ia menyadari bahwa dirinya tidak dapat terus berada dalam kondisi tersebut.

Pengalaman tersebut juga memperlihatkan pentingnya kejujuran dalam menjawab pertanyaan sederhana mengenai keadaan seseorang. Dalam kehidupan sehari-hari, pertanyaan tentang kabar sering kali dijawab secara otomatis dengan mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja. Namun, di balik jawaban tersebut bisa saja terdapat pergulatan yang tidak terlihat. Bagi seseorang yang sedang mengalami krisis, keberanian untuk mengatakan kondisi sebenarnya dapat menjadi awal untuk memperoleh bantuan. Mengakui bahwa diri sedang tidak baik-baik saja bukan tanda kelemahan, melainkan sebuah bentuk kesadaran bahwa bantuan diperlukan.

Dalam diskusi tersebut, kesehatan mental juga ditempatkan dalam konteks kehidupan yang lebih luas. Krisis bunuh diri tidak selalu muncul akibat satu persoalan tunggal. Masalah kesehatan fisik atau penyakit kronis, kecemasan, depresi, kehilangan pekerjaan, persoalan keuangan, trauma, maupun masalah dalam keluarga dapat menjadi bagian dari beban yang dirasakan seseorang. Ketika berbagai tekanan menumpuk, seseorang dapat kehilangan harapan dan merasa tidak berdaya. Situasi menjadi semakin berisiko ketika seseorang yang sedang berada dalam kondisi tersebut merasa sendirian dan tidak melihat adanya alternatif untuk keluar dari masalah.

Karena itu, pencegahan bunuh diri tidak cukup dilakukan dengan menunggu seseorang meminta bantuan. Lingkungan sekitar perlu membangun hubungan yang memungkinkan seseorang merasa aman untuk berbicara mengenai apa yang sedang dialaminya. Salah satu pesan terkuat dari diskusi Ruanita Indonesia adalah pentingnya keberanian untuk mendengarkan. Ketika seseorang menunjukkan tanda-tanda sedang berada dalam kondisi sangat gelap, orang-orang di sekitarnya tidak perlu langsung memiliki semua jawaban atau solusi.

Pencegahan pada akhirnya berkaitan dengan membangun koneksi. Ketika seseorang merasa terjebak dalam kegelapan, hubungan dengan teman, keluarga, komunitas, maupun layanan bantuan profesional dapat menjadi bagian dari jalan untuk keluar. Diskusi tersebut menekankan pentingnya menghubungi orang lain dan mencari layanan bantuan ketika dukungan dari lingkungan terdekat belum mencukupi. Hotline atau layanan krisis dapat menjadi salah satu pintu menuju pertolongan yang lebih tepat.

Pesan ini membuat peringatan Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia terasa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Pencegahan bukan hanya tentang tindakan besar atau intervensi profesional. Ia juga dapat dimulai dari keberanian untuk hadir, mendengarkan dengan sungguh-sungguh, memperhatikan perubahan pada orang di sekitar, dan membantu seseorang terhubung dengan pertolongan yang dibutuhkan.

Pada akhirnya, percakapan Ruanita Indonesia mengingatkan bahwa seseorang yang sedang berada dalam kegelapan mungkin tidak selalu mampu menemukan jalan keluarnya seorang diri. Kehadiran orang lain dapat menjadi titik awal. Sebuah percakapan dapat membuka kesadaran. Sebuah panggilan dapat menghadirkan bantuan. Dan sebuah koneksi dapat menjadi jembatan agar seseorang kembali melihat kemungkinan untuk melanjutkan hidup.

Program Diskusi IG LIVE dikelola oleh Ruanita setiap bulan dengan berbagai tema yang bervariasi, sebagai jembatan komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) antara orang Indonesia di luar Indonesia dan orang Indonesia di Indonesia untuk berbagi dan berdiskusi bersama, yang memanfaatkan ruang digital seperti platform instagram. Durasi berlangsung sekitar 30 menit yang berlangsung lewat instagram @ruanita.indonesia dan bersama informan lainnya. Pastikan follow akun Instagram @ruanita.indonesia untuk mendapatkan ruang diskusi digital lainnya yang menarik. Simak juga rekaman selengkapnya di kanal YouTube Ruanita-Rumah Aman Kita dan jangan lupa subscribe, ya!

(SIARAN BERITA) Pentingnya Ruang Aman di Perantauan untuk Berbagi Dukungan Psikologis

MADRID, 5 September – Komunitas perantau Indonesia di Spanyol kini memiliki ruang aman untuk saling menguatkan mental di tengah kerasnya dinamika hidup di negeri orang. Langkah ini diinisiasi oleh Ruanita Indonesia yang menggelar Sesi Nonton & Diskusi Komunitas Indonesia di Spanyol, sebuah ruang inklusif yang dirancang khusus untuk membedah tantangan psikologis warga negara Indonesia di perantauan.

Acara ini dibuka secara resmi oleh Duta Besar RI LBBP untuk Kerajaan Spanyol, Dr. Muhammad Najib. Dalam sambutannya, Dubes Muhammad Najib menyampaikan pesan penguat yang menegaskan bahwa pihak kedutaan sangat mendukung kehadiran ruang-ruang diskusi terbuka seperti ini. Beliau menekankan pentingnya bagi sesama warga Indonesia di luar negeri untuk saling berbagi dukungan psikologis, meruntuhkan stigma seputar kesehatan mental, dan bergandengan tangan menghadapi tantangan adaptasi di lingkungan yang baru. Dukungan nyata dari perwakilan RI ini menjadi legitimasi penting bagi ruang aman yang terus dibangun oleh Ruanita Indonesia.

Mengidentifikasi Gelombang Emosi di Perantauan

Selanjutnya, diskusi interaktif ini dipandu oleh dua fasilitator ahli, yaitu Bernadia Dwiyani, seorang mental health educator sekaligus co-founder Kesmenesia di Spanyol, bersama Anna Knöbl, PhD Student, Psikolog di Jerman yang juga menjadi Produser film pendek dokumenter “Dua Kali” yang mengambil setting kehidupan perantau Indonesia di Jerman. Film “Dua Kali” mengambil cerita dari Relawan Ruanita Indonesia di Jerman yang mengalami permasalahan mental saat Pandemi COVID-19 lalu dan bagaimana dia mengakses layanan kesehatan mental, disertai perjuangannya untuk mematahkan stigma sosial. Suasana diskusi berjalan dengan prinsip ruang aman yang sangat ketat, di mana lembar kerja dan cerita para peserta dijaga kerahasiaannya secara penuh.

Sesi pertama dimulai tepat setelah pemutaran Film “Dua Kali”, yang memicu para peserta untuk mengidentifikasi emosi dominan melalui kacamata karakter di layar kaca. Mereka diajak memvalidasi perasaan-perasaan berat yang kerap melanda warga Indonesia di Spanyol, mulai dari homesickness, rasa sepi ekstrim (expat loneliness), kecemasan mendalam terhadap birokrasi dan masa depan, hingga krisis kehilangan identitas diri.

Menyusun Peta Strategi Hadapi Stres

Memasuki paruh kedua acara setelah penayangan Film “Dua Kali”, fokus diskusi bergeser pada penyusunan peta koping atau strategi konkret dalam menghadapi stres. Para fasilitator memetakan dua jalur utama yang bisa diambil oleh para perantau di Spanyol.

Jalur pertama adalah problem-focused coping untuk mengubah situasi stres, seperti mulai mengambil kursus bahasa lokal, merapikan jadwal pengurusan TIE, atau aktif bergabung dalam jaringan masyarakat Indonesia di Spanyol. Jalur kedua adalah emotion-focused coping untuk menenangkan pikiran saat situasi belum bisa diubah, yang diimplementasikan melalui aksi sederhana seperti menelepon keluarga di tanah air, berjalan sore di taman, atau berolahraga.

Melalui siaran pers ini, Ruanita Indonesia menegaskan kembali pesan psikoedukasi utama mereka bahwa merasa tidak baik-baik saja di tempat yang baru adalah respons yang sepenuhnya normal, dan mengakui kerentanan merupakan langkah awal menuju ketahanan diri. Bagi masyarakat Indonesia di Spanyol yang membutuhkan jaring pengaman atau bantuan psikologis lebih lanjut, Ruanita Indonesia membuka akses konsultasi yang dapat dijadwalkan secara langsung melalui laman booking resmi di website.

(PODCAST RUMPITA) Membaca Bumi dari Masa Lalu: Cerita Peneliti Indonesia di Rusia

Melanjutkan program diskusi podcast RUMPITA – Rumpi bersama Ruanita – di bulan September 2026, kita ingin berdiskusi terkait ilmu bumi, apalagi bumi kita sekarang, terutama di Indonesia yang rawan bencana alam. Seperti baru-baru ini, Indonesia baru saja mengalaminya terkait aktivitas vulkanik. Jadi, apakah bisa membaca masa lalu bumi demi masa depan yang lebih baik? Diskusi yang awalnya ringan perlahan berubah menjadi refleksi mendalam tentang manusia, bumi, dan masa depan.

Diskusi Podcast RUMPITA dipandu oleh Anna di Jerman bersama Rieska Wulandari di Italia, percakapan ini menghadirkan Gerry Utama. Dia adalah seorang peneliti geologi lingkungan yang tak hanya akrab dengan data dan peta, tetapi juga dengan realitas lapangan yang kompleks, bahkan terkadang sulit dijelaskan sepenuhnya oleh logika.

Gerry membuka cerita dengan satu fakta yang mengguncang cara kita memandang bumi. Melalui penelitian di Antartika, ia menemukan bahwa material vulkanik dari Indonesia tersimpan dalam lapisan es di kutub selatan. Abu dari letusan Gunung Tambora pada 1816, Gunung Agung pada 1964, hingga Gunung Samalas pada 1258, ternyata mampu menjangkau wilayah yang begitu jauh. Temuan ini bukan sekadar pencapaian ilmiah, melainkan pengingat bahwa peristiwa di satu titik bumi dapat berdampak secara global. Di situlah, menurutnya, manusia seharusnya mulai menyadari betapa kecilnya posisi kita di hadapan sistem alam yang begitu besar.

Bidang yang ditekuni Gerry, paleogeografi kuarter, berusaha membaca kembali masa lalu bumi melalui jejak-jejak yang tersimpan di alam. Dari sedimen, lapisan es, hingga bentuk bentang alam, semua menyimpan cerita tentang apa yang pernah terjadi. Ia menjelaskan bahwa masa kini sejatinya adalah kunci untuk memahami masa lalu, dan keduanya menjadi dasar untuk membaca kemungkinan masa depan. Dalam perspektif ini, bencana seperti gempa bumi, letusan gunung api, atau perubahan lingkungan bukanlah hal baru. Semuanya pernah terjadi, hanya bentuk dan skalanya yang terus berubah.

Ketika membahas krisis lingkungan, Gerry memilih istilah “kerentanan iklim” dibandingkan “perubahan iklim”. Baginya, bumi secara alami memang selalu mengalami perubahan. Namun, aktivitas manusia mempercepat dan memperparah dinamika tersebut. Sejak era revolusi industri, pelepasan karbon dalam jumlah besar telah mengubah keseimbangan sistem bumi. Dampaknya mulai terasa dalam berbagai bentuk, mulai dari peningkatan suhu global hingga munculnya fenomena cuaca ekstrem yang sebelumnya tidak lazim terjadi.

Indonesia, dalam konteks ini, berada pada posisi yang sangat rentan. Terletak di kawasan cincin api dunia, wilayah ini menjadi titik pertemuan beberapa lempeng tektonik besar. Aktivitas geologi yang tinggi menjadikan gempa bumi, letusan gunung api, hingga longsor sebagai bagian dari realitas yang tak terpisahkan. Gerry menuturkan bahwa melalui data spasial yang ia kumpulkan sejak masa kuliah, ia pernah melihat pola yang mengarah pada potensi bencana. Prediksi itu kemudian terbukti ketika gempa bumi memicu longsor di lokasi yang sama setahun kemudian. Baginya, data bukan hanya angka, melainkan peringatan yang bisa menyelamatkan nyawa jika dipahami dengan benar.

Namun, pengalaman di lapangan mengajarkan bahwa data tidak selalu berdiri sendiri. Dalam banyak kesempatan, ia menghadapi situasi yang tidak sepenuhnya dapat dijelaskan secara ilmiah. Dari drone yang tiba-tiba hilang hingga pengalaman tak terduga di lokasi penelitian, semua itu membawanya pada satu kesadaran. Menurut Gerry, kita perlu menghargai kearifan lokal. Ia bahkan menyebut adanya ruang pertemuan antara sains modern dan pengetahuan tradisional, sesuatu yang ia gambarkan secara ringan sebagai “geomistik”. Dalam pandangannya, apa yang selama ini dianggap mitos sering kali menyimpan logika yang baru bisa dipahami melalui pendekatan ilmiah di masa kini.

Di balik semua itu, sosok peneliti yang digambarkan Gerry jauh dari stereotip umum. Ia menolak anggapan bahwa peneliti selalu identik dengan laboratorium dan buku. Peneliti kebumian justru dituntut untuk tangguh secara fisik, mampu bekerja di medan ekstrem, dan berhadapan langsung dengan kondisi alam yang tidak selalu bersahabat. Baginya, ilmu tidak cukup hanya dipahami secara teoritis, tetapi harus diiringi dengan pengalaman nyata di lapangan.

Perjalanan Gerry sendiri bermula dari sesuatu yang tidak direncanakan. Ia tumbuh dengan bayangan hidup yang sederhana, mengikuti jalur yang dianggap ideal oleh lingkungan sekitarnya. Namun, sebuah kesempatan di masa kuliah membawanya masuk ke dunia riset. Dari sana, ia menemukan panggilan yang kemudian membawanya melangkah lebih jauh, hingga menempuh pendidikan di Rusia. Di St. Petersburg, ia tidak hanya belajar tentang ilmu kebumian, tetapi juga menghadapi tantangan hidup di lingkungan yang ekstrem, mulai dari suhu dingin yang melukai kulit hingga penyesuaian ritme kehidupan yang jauh berbeda dari Indonesia.

Pada akhirnya, percakapan ini kembali pada satu hal yang sederhana namun mendasar, yakni peran manusia. Dalam sejarahnya, manusia adalah makhluk yang mampu merusak sekaligus membangun. Kita memiliki kemampuan untuk mengubah alam dalam skala besar, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk menjaganya. Dari lapisan es di Antartika hingga tanah longsor di perbukitan Indonesia, semua menunjukkan bahwa dampak dari tindakan manusia tidak pernah benar-benar terisolasi.

Kesadaran bahwa manusia itu kecil seharusnya tidak membuat kita merasa tak berdaya. Justru dari situlah muncul tanggung jawab yang lebih besar. Dengan ilmu, data, dan pemahaman yang terus berkembang, manusia memiliki kesempatan untuk tidak hanya memahami bumi, tetapi juga merawatnya.

Simak selengkapnya diskusi podcast RUMPITA di kanal Spotify kami dan pastikan FOLLOW ya untuk mendukung kami

(GALERI FOTO) Nonton dan Diskusi Film “Dua Kali”

Dalam rangka mempromosikan kesehatan mental sekaligus memperkenalkan program konseling online Ruanita Indonesia, acara pemutaran film “Dua Kali” yang disertai psikoedukasi berhasil diselenggarakan dengan baik di gedung pertemuan KBRI Madrid, Spanyol (5/9). Sebelumnya, Tim Ruanita Indonesia juga sempat melakukan audiensi dan tatap muka bersama Dubes RI untuk Kerajaan Spanyol beserta jajarannya, guna memperkuat dukungan sosial bagi warga Indonesia di Spanyol di bidang psikologi, sosial, dan budaya. Ada pun kegiatan ini dilaksanakan oleh relawan Ruanita Indonesia di Spanyol, yakni: Bernadia Dwiyani, Tyka Karunia dan didampingi Anna Knöbl di Jerman.

(CERITA SAHABAT) Supaya Tidak Stres Jadi Pekerja Migran, Ikuti Kultur Kerja yang Ada

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan saya Nana, bukan nama sebenarnya. Saya adalah seorang perempuan Indonesia dengan latar belakang pendidikan Administrasi Bisnis yang kini menetap di Swedia.

Untuk bekerja di negeri IKEA ini, menurut saya, merupakan keputusan besar dalam hidup saya sendiri. Meski menurut saya, ini bukan pertama kalinya saya bekerja di luar negeri.

Sebelumnya, saya juga sempat menghabiskan dua tahun di salah satu negara Asia sebagai seorang administrator. Sekarang saya berkarier sebagai seorang profesional di sebuah perusahaan di Swedia.

Keputusan saya untuk tinggal di Swedia bukan hanya didorong oleh keinginan mengejar karier semata, tetapi juga kebutuhan untuk mendapatkan izin tinggal tetap. Bekerja adalah salah satu cara agar saya bisa mandiri dan bertahan di negara dengan budaya yang sangat berbeda dari tanah kelahiran, Indonesia.

Saat pertama kali bekerja di Swedia, saya merasakan perbedaan besar dalam budaya kerja dibandingkan dengan Indonesia.

Di Swedia, suasana kerja jauh lebih santai dan kurang menuntut. Tidak ada tekanan berlebihan untuk memenuhi tenggat waktu dan tingkat stres secara umum lebih rendah, dibandingkan dengan pengalaman kerja selama masih di Indonesia dulu.

Selain itu, saya senang di Swedia ada Serikat Buruh yang juga memiliki peran besar dalam melindungi hak-hak pekerja. Sahabat Ruanita, tidak ada yang lebih mudah juga tinggal dan bekerja di Swedia. Saya harus menghadapi berbagai tantangan lain yang harus dihadapi. Hambatan pertama tentu saja adalah Bahasa Swedia.

Saya memang fasih dan lancar berbahasa Inggris, tetapi komunikasi dengan kolega lokal tentu saja sulit. Bagaimana pun mereka lebih nyaman menggunakan Bahasa Swedia.

Selain itu, ritme kerja yang lambat terkadang membuat saya frustrasi. Saya terbiasa bekerja cepat dan efisien. Namun di lingkungan baru ini, saya harus belajar untuk terus menyesuaikan diri.

Salah satu pengalaman yang paling menantang bagi saya adalah ketika saya harus menyelesaikan tugas saya dalam satu hari, padahal rekan-rekannya memberikan estimasi waktu beberapa hari.

Respons dari mereka tidak selalu positif. Saya dicap sebagai orang yang “terlalu cepat bekerja” dan dianggap tidak mengikuti ritme kerja yang sudah berlaku.

Saya merasa aneh dan menjadi bingung. Di satu sisi, Saya hanya ingin melakukan pekerjaannya dengan baik, tetapi di sisi lain, kecepatan dan efisiensinya justru membuatnya terlihat “berbeda” dari yang lain.

Saya juga merasakan bahwa budaya egaliter Swedia memengaruhi cara orang berkomunikasi. Di Swedia, tidak ada hirarki yang terlalu menonjol di tempat kerja.

Semua orang diperlakukan setara, termasuk dalam berkomunikasi dengan atasan. Ini adalah hal yang positif, tetapi juga membuatnya harus menyesuaikan diri dengan cara yang berbeda dalam menyampaikan pendapat atau bekerja dengan rekan kerja.

Bekerja di lingkungan yang sangat berbeda memiliki dampak psikologis dan stres tersendiri bagi saya. Saya mengalami trust issues dan merasa kesulitan membangun hubungan dengan rekan-rekan kerja.

Ada momen di mana saya merasa diisolasi dan didiskriminasi karena statusnya sebagai pekerja imigran. Salah satu hal yang paling membuat saya merasa tertolak adalah ketika rekan-rekan kerja enggan menggunakan bahasa Inggris, meskipun mereka sebenarnya bisa.

Merasa sulit beradaptasi, saya mulai menarik diri. Saya lebih memilih untuk fokus pada pekerjaannya dan tidak terlalu memikirkan hubungan sosial di tempat kerja.

Menurut saya, strategi terbaik dalam bekerja adalah “just do my job and go home.” Saya menghindari konfrontasi dan mencoba untuk menyesuaikan diri dengan keadaan. Meski penuh tantangan, saya akhirnya menemukan cara untuk beradaptasi. Saya mulai memahami bahwa bekerja di Swedia berarti menyesuaikan diri dengan prinsip lagom, yaitu keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.

Istilah ini sangat mencerminkan budaya kerja di Swedia, antara lain: tidak terlalu sedikit, tidak terlalu banyak, tetapi cukup.

Saya juga mulai menikmati kebiasaan-kebiasaan baru, seperti fika time, yaitu waktu istirahat untuk minum kopi dan berbincang dengan rekan kerja. Hal ini membantu saya untuk lebih rileks dan memahami bahwa tidak semua hal harus dilakukan dengan terburu-buru.

Selain itu, komunitas Indonesia di Swedia turut membantu saya dalam beradaptasi. Saya mendapat saran untuk tidak terlalu memaksakan diri agar “blending in,” tetapi lebih kepada menghormati budaya kerja yang ada tanpa kehilangan profesionalisme.

Dari semua pengalaman ini, saya belajar bahwa setiap lingkungan kerja memiliki tantangannya sendiri. Saya menyadari bahwa bekerja di perusahaan internasional sangat berbeda dengan bekerja di perusahaan lokal Swedia.

Jika ingin bertahan, seseorang harus mampu beradaptasi dengan sistem yang ada.

Sebagai seorang profesional, saya juga belajar untuk menjadi lebih rendah hati dan tidak menonjolkan diri terlalu berlebihan.

Di satu sisi, saya bangga dengan kemampuan diri yang melebihi ekspektasi perusahaan. Namun, di sisi lain, saya sadar bahwa terlalu menunjukkan keunggulan dapat membuatnya semakin terasing.

Ada satu momen yang membuat saya bangga: ketika saya dipercaya untuk menjadi perwakilan pegawai dalam sesi wawancara dengan konsultan internasional selama proses sertifikasi perusahaan.

Meski pun saya sering merasa diri kurang dihargai di lingkungan kerja saat ini, momen ini mengingatkannya bahwa keahlian tetap memiliki nilai.

Bagi perempuan Indonesia yang ingin bekerja di luar negeri, khususnya di negara dengan budaya yang sangat berbeda, saya memiliki beberapa pesan penting.

Hal pertama adalah belajar bahasa lokal sebelum memutuskan untuk bekerja di luar negeri. Penguasaan bahasa yang baik bisa membuka lebih banyak peluang dan membuat proses adaptasi menjadi lebih mudah.

Hal kedua, saya berpesan untuk bersabar dan belajar menyesuaikan diri. Tidak perlu berusaha keras untuk “blending in,” tetapi cukup dengan bersikap profesional dan menghormati budaya kerja yang ada.

Dan yang terakhir, tetaplah teguh dengan nilai-nilai diri sebagai orang Indonesia. Jangan kehilangan identitas diri sebagai orang Indonesia dan tetaplah berpegang pada prinsip profesionalisme di mana pun berada.

Jika bisa berbicara kepada diri sendiri saat pertama kali datang ke Swedia, saya ingin mengatakan: It will be a roller coaster, so be prepared. Don’t give up easily. Stand up and speak up for yourself. Keep your professionalism at work and do your best. Bring positive values everywhere you go, and never lose your identity!

Penulis: Nana yang tinggal di Swedia dan dapat dikontak via email info@ruanita.com.

(CERITA SAHABAT) Homeschooling di Negeri Bollywood: Perjalanan Pembelajaran Bersama Dua Buah Hati 

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan nama saya Anni,  yang menjalani selama delapan tahun terakhir hidup sebagai seorang istri, ibu, sekaligus pendidik di rumah bagi kedua anak saya di India. Saya menikah dengan seorang pria Kashmir, dan sejak awal pernikahan kami menjalani hubungan jarak jauh. Suami bekerja di India sedangkan saya masih mengajar di Indonesia. Selama tiga tahun, kami menjalani rutinitas yang mungkin tidak umum bagi pasangan baru: dia datang dua kali setahun ke Indonesia, sedangkan saya menyusulnya ke India ketika jadwal mengajar mengizinkan. 

Pada akhirnya, setelah perjalanan LDM yang panjang, kami memutuskan untuk hidup bersama, khususnya demi memulai program kehamilan. Saya pindah ke India, memulai hidup baru, dan dalam keseharian membesarkan dua anak yang kini menjadi pusat dunia saya. Tinggal di India membuka banyak pengalaman baru, mulai dari budaya, gaya hidup, hingga sistem pendidikan yang berbeda antara Indonesia dan tempat saya menetap sekarang. 

Sebagai guru yang pernah lebih dari sepuluh tahun berkecimpung dalam pendidikan dasar di Indonesia, saya tidak bisa tidak memperhatikan perbedaan kurikulum antara dua negara ini. Di India, beban akademik untuk pendidikan dini jauh lebih berat. Anak-anak mulai dikenalkan pada beban akademik sejak usia yang sangat muda; bahkan sebelum masuk sekolah dasar, mereka telah melalui jalur pendidikan dengan struktur yang ketat: mulai dari pre-nursery (2+), Nursery (3+), LKG (4+), hingga UKG (5+). Selain itu, ada pula kultur tuitions, semacam les tambahan yang diberikan hampir setiap hari setelah jam sekolah. Bagi saya yang terbiasa dengan model pendidikan di Indonesia yang lebih seimbang antara bermain dan belajar, sistem ini terasa begitu menuntut, bahkan berlebihan bagi anak-anak usia dini. 

Saya dan suami pun sepakat untuk memberikan “pondasi kesiapan belajar” sejak dini, untuk menumbuhkan rasa cinta belajar, agar anak-anak tidak mengalami tekanan besar ketika masuk sekolah formal India. Namun titik balik terbesar bagi kami adalah masa pandemi. Di India, anak usia dua tahun umumnya disekolahkan ke lembaga pre-nursery, tetapi ketika pandemi datang, semua pembelajaran beralih ke kelas online. Sungguh tidak efektif bagi seorang preschooler untuk duduk menatap layar, mendengarkan instruksi melalui video call, dan diminta memahami konsep akademik lewat monitor. Di sinilah keputusan besar muncul: kami memutuskan untuk melakukan homeschooling. 

Homeschooling sebenarnya sudah lama saya persiapkan, terutama dalam ranah pendidikan agama. Tapi pandemi memberikan dorongan yang lebih besar untuk menerapkan homeschooling secara penuh untuk pendidikan dini. Saya tidak ingin anak-anak “sekolah online” hanya demi mengikuti sistem, sementara masa usia emas mereka menghilang tanpa pengalaman bermain, bergerak, menyentuh dunia, dan merasakan ritme pembelajaran yang alami. 

Kami pun menciptakan rutinitas homeschooling sendiri. Setiap hari, pembelajaran berlangsung lewat aktivitas yang menyenangkan. Saya merancang stimulasi motorik kasar seperti berlari, melompat, memanjat, bermain sepeda, hingga skating. Untuk motorik halus, seperti anak-anak bermain playdough, menggunting, memindahkan benda dengan sendok, dan menulis di atas garam. 

Saya juga mengenalkan keterampilan hidup seperti gosok gigi, mandi mandiri, memakai baju dan sepatu sendiri, menyapu, hingga membuat omelette atau cookies, atau aktivitas sederhana yang melatih koordinasi sekaligus membangun kepercayaan diri mereka. 

Kognisi kami latih lewat puzzle, memory games, permainan warna, alphabet matching, hingga aktivitas menjodohkan benda. Pendidikan agama menjadi bagian yang tidak pernah terlewat. Dari doa-doa pendek, hafalan surat, belajar sholat, hingga membaca Qur’an, fiqih dan aqidah, semuanya kami ajarkan perlahan dalam kehangatan di rumah, juga bersama komunitas di masjid untuk kegiatan tertentu. Salah satu area yang paling penting bagi kami adalah speaking skill, terutama karena anak pertama sempat mengalami riwayat speech delay. Latihan oromotor, permainan bercerita, dan dialog interaktif kami lakukan setiap hari. Sekarang, anak pertama sudah percaya diri mengikuti berbagai speech event di sekolah.

Pendekatan yang kami gunakan sebagian besar terinspirasi dari Montessori, meski saya tidak menerapkan seluruh aparatus Montessori yang standar. Saya lebih senang menyebutnya sebagai belajar lewat bermain (learning through play). Media belajar kami beragam, mulai dari mainan edukatif baik buatan sendiri 

maupun yang tersedia di market, bahan kerajinan, alam terbuka, kunjungan ke science center, museum, hingga buku-buku anak dari berbagai jenis. Gadget pun kami gunakan, tetapi secara terbatas dan hanya untuk aplikasi edukatif yang relevan. 

Tantangan terbesar homeschooling bukanlah pada materi atau kurikulum, tetapi pada diri saya sebagai ibu. Menjadi comfort provider sekaligus discipline establisher bukanlah hal mudah. Bagaimana menjaga agar suasana tetap menyenangkan tetapi tetap memiliki struktur? Bagaimana menjadi tempat yang aman sekaligus mentor dalam aktivitas pembelajaran? Pertanyaan-pertanyaan ini terus saya pelajari setiap hari. Tidak adanya ART di masa lockdown juga membuat manajemen waktu menjadi tantangan tersendiri. 

Dari sisi sosial, anak-anak tidak terlalu mengalami kesulitan karena memang sejak awal kami hidup sebagai keluarga perantau. Kami terbiasa berpindah dari satu state ke state lain karena pekerjaan suami, sehingga lingkup sosial keluarga kami memang kecil. Namun justru dari situ terjalin ikatan keluarga yang semakin kuat antara saya, suami, dan anak-anak. 

Secara teknis, homeschooling relatif mudah kami jalankan karena bahasa Inggris digunakan sebagai bahasa nasional di India, sehingga tidak ada kendala bahasa. Namun untuk bahasa Urdu dan Hindi, kami mengenalkannya sebagai bahasa kedua, sambil tetap mengajarkan bahasa Indonesia. Internet cepat dan murah, jadi pembelajaran daring pun tidak bermasalah. Satu hal yang saya rasakan cukup menantang: harga educational toys di India cenderung lebih mahal dibandingkan di Indonesia. 

Hal yang paling saya syukuri dari homeschooling adalah kreativitas yang tumbuh dari diri saya sendiri. Saya yang dulu perfeksionis belajar untuk melepaskan harapan yang berlebihan. Melihat anak bermain tepung yang berantakan, playdough yang melekat di mana-mana, bentuk cookies yang tak beraturan, atau buku bertebaran di lantai. Itu semua kini menjadi tanda bahwa anak sedang belajar. Saya belajar menerima kekacauan sebagai bagian dari proses tumbuh. Saya belajar bahwa rumah yang “berantakan” bukanlah bukti kegagalan menjadi ibu, tetapi bukti anak sedang mengasah imajinasi dan kemampuan motoriknya. 

Hubungan kami sebagai keluarga pun terasa lebih dalam. Tanpa homeschooling, saya tidak tahu bagaimana kami bisa melewati masa pandemi yang penuh ketidakpastian itu. Homeschooling menjadi cara kami melewati hari dengan penuh makna. Aktivitas yang mempertemukan kami sebagai keluarga, memperkuat komunikasi, dan mengisi waktu dengan kegiatan positif yang dilakukan bersama. 

Setelah pandemi mereda, anak pertama masuk sekolah formal (LKG), sementara saya melanjutkan stimulasi homeschooling untuk anak kedua. Pendidikan akademik formal kami “outsourcing” kepada lembaga sekolah, tetapi sisanya pendidikan agama, life skills, dan kegiatan bermain, tetap kami lakukan di rumah. Berbeda dari kebiasaan keluarga India pada umumnya, kami memilih untuk tidak mengirim anak-anak ke tuitions. Kami 

tetap mempertahankan semangat belajar bersama dalam lingkungan keluarga. Saat ini, setengah jam setelah makan malam adalah bonding rutin belajar bersama, saya dan anak-anak sedang semangat belajar Bahasa Hindi dan Bahasa Kannada, suami semangat dengan Bahasa Jepang. 

Jika ada orang tua Indonesia lain yang ingin mencoba homeschooling, pesan saya adalah: pastikan ayah dan ibu berada pada kesepakatan yang sama. Homeschooling bukan soal materi belajar semata, tetapi soal tujuan, jalur, dan pendekatan. Orang tua perlu memutuskan apakah homeschooling dilakukan sebagai jalur utama atau pendamping pendidikan formal, bagaimana proses administrasinya, dan siapa yang menjadi fasilitator pembelajaran. Belajarlah dari keluarga lain yang lebih dulu menjalankannya, dan jangan takut untuk beradaptasi. 

Pengalaman yang paling unik bagi saya adalah melihat rumah kami perlahan berubah menjadi “laboratorium kecil” yang penuh mainan, alat peraga, bahan art and craft, kardus, botol bekas, dan segala macam benda yang mungkin dianggap sampah bagi orang lain, tetapi bagi kami adalah harta karun kreativitas. Kadang saya harus menguatkan hati untuk melakukan decluttering, tetapi pada dasarnya setiap benda yang ada di rumah memiliki potensi menjadi media belajar.

Jika harus merangkum perjalanan homeschooling kami dalam satu kalimat, saya akan mengatakan: homeschooling menjadi “survival mode” keluarga kami untuk melewati pandemi dan sekaligus strategi menemukan sumber kebahagiaan dan kebermaknaan dalam keluarga untuk terus bertumbuh dalam semangat belajar sepanjang hayat. 

Penulis: Anni’mah tinggal di India yang dapat dikontak via akun instagram zahrazeebee. 

(SIARAN BERITA) Ruanita Indonesia Rayakan Hari Jadi ke-5 dengan Seminar Daring Literasi Finansial untuk Perkuat Ketahanan Ekonomi Masyarakat

Jakarta, 29 Agustus 2026 – Dalam rangka memperingati Hari Lahir Ruanita Indonesia ke-5, Ruanita Indonesia sukses menyelenggarakan Seminar Daring bertajuk “Literasi Finansial sebagai Strategi Bertahan di Tengah Krisis Ekonomi” pada Sabtu (29/8/2026). Kegiatan yang dilaksanakan melalui platform Zoom ini diikuti oleh peserta dari berbagai daerah di Indonesia maupun luar negeri, yang terdiri atas perempuan, keluarga Indonesia, mahasiswa, profesional, dan masyarakat umum.

Seminar ini menjadi bagian dari komitmen Ruanita Indonesia dalam menghadirkan ruang pembelajaran yang relevan dan bermanfaat bagi masyarakat, khususnya perempuan Indonesia, agar semakin siap menghadapi tantangan ekonomi global yang ditandai dengan meningkatnya biaya hidup, ketidakpastian pasar kerja, serta perubahan dinamika keuangan.

Menghadirkan Dessy Rutten, PhD FERSA, Business Change Manager CPO di Rabobank Belanda sekaligus akademisi yang berpengalaman di industri perbankan Uni Eropa, seminar memberikan wawasan komprehensif mengenai pentingnya literasi finansial sebagai fondasi dalam membangun ketahanan ekonomi individu maupun keluarga.

Dalam paparannya, Dessy Rutten menekankan bahwa literasi finansial bukan sekadar kemampuan mengatur pengeluaran, tetapi juga keterampilan memahami risiko keuangan, menyusun perencanaan jangka panjang, membangun dana darurat, serta mengambil keputusan investasi secara bijaksana. Menurutnya, ketahanan finansial dibangun melalui kebiasaan yang konsisten dan disiplin dalam mengelola keuangan, sehingga masyarakat mampu beradaptasi terhadap berbagai perubahan kondisi ekonomi.

Diskusi dipandu oleh Sesilia Susi, Relawan Ruanita Indonesia di Jerman, yang berhasil menghidupkan suasana seminar melalui sesi tanya jawab interaktif. Peserta antusias menyampaikan berbagai pertanyaan seputar pengelolaan keuangan keluarga, strategi menghadapi kenaikan biaya hidup, hingga langkah-langkah mempersiapkan masa depan finansial yang lebih berkelanjutan.

Kegiatan diawali dengan pemutaran cerita sahabat spesial dari para sahabat Ruanita Indonesia sebagai bentuk apresiasi atas perjalanan organisasi selama lima tahun. Suasana penuh kehangatan tersebut menjadi pembuka yang mempererat hubungan antara relawan, mitra, dan masyarakat yang selama ini mendukung berbagai program pemberdayaan Ruanita Indonesia.

Melalui seminar ini, peserta memperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai kondisi ekonomi global beserta dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari, sekaligus memperoleh strategi praktis dalam mengelola keuangan pribadi dan keluarga. Selain memperkuat literasi finansial, kegiatan ini juga menjadi wadah berbagi pengalaman dan memperluas jejaring pembelajaran lintas negara.

Sesilia Susi sebagai perwakilan Ruanita Indonesia menyampaikan apresiasi kepada narasumber, moderator, panitia, relawan, serta seluruh peserta yang telah berpartisipasi dalam menyukseskan program Ruanita Indonesia selama ini. Memasuki usia ke-5, Ruanita Indonesia berkomitmen untuk terus menghadirkan program-program edukatif yang mendukung peningkatan kapasitas perempuan Indonesia serta mendorong lahirnya masyarakat yang lebih tangguh, mandiri, dan adaptif menghadapi berbagai tantangan zaman.

Seminar daring ini diharapkan menjadi langkah nyata dalam menumbuhkan kesadaran akan pentingnya perencanaan keuangan yang sehat dan berkelanjutan, sehingga masyarakat memiliki bekal yang lebih kuat dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi di masa mendatang.

Tentang Ruanita Indonesia

Ruanita Indonesia merupakan organisasi nirlaba yang didirikan oleh Anna Knöbl di Jerman yang berkomitmen pada pemberdayaan orang Indonesia lintas negara melalui berbagai program pendidikan, literasi, pengembangan kapasitas, kepemimpinan, serta penguatan jejaring di tingkat nasional dan internasional. Selama lima tahun perjalanannya, Ruanita Indonesia terus menghadirkan ruang kolaborasi digital yang menginspirasi dan berdampak bagi masyarakat Indonesia di mana saja.