Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan namaku Nurjannah. Aku lahir dan besar di sebuah kota kecil di Nganjuk, Jawa Timur. Setelah lulus SMA, aku merantau ke Jakarta untuk kuliah sekaligus bekerja. Seperti banyak perempuan muda Indonesia lainnya, aku punya mimpi sederhana: belajar, bekerja, dan membangun kehidupan yang lebih baik. Tak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa suatu hari aku akan tinggal jauh di negeri orang, tepatnya di Jerman, selama bertahun-tahun.
Perjalananku ke Jerman dimulai sekitar tujuh tahun lalu. Proses pindah ke luar negeri tidaklah mudah. Ada banyak urusan administrasi, dokumen, dan adaptasi mental yang harus dipersiapkan. Saat itu aku masih bekerja, jadi untuk menghemat waktu aku menggunakan jasa agen untuk membantu mengurus semua persyaratan administratif. Meski begitu, tetap saja prosesnya panjang dan melelahkan. Namun, aku selalu percaya bahwa perjalanan besar memang dimulai dengan langkah-langkah kecil yang penuh perjuangan.
Aku masih ingat jelas, ketika pesawat mendarat di bandara Jerman untuk pertama kalinya, pikiranku penuh tanda tanya. “Apakah aku bisa betah? Bisakah aku menyesuaikan diri dengan orang-orang di sini? Bagaimana kalau aku kesepian?”
Hari-hari pertama memang tidak mudah. Aku harus menghadapi perbedaan budaya yang cukup mencolok. Salah satunya soal menjaga waktu. Di Indonesia, terutama di kampung halamanku, sering ada budaya fleksibilitas waktu. Janji bertemu pukul 10 pagi bisa mundur hingga setengah jam atau bahkan satu jam, dan itu dianggap wajar. Namun di Jerman, semuanya sangat berbeda.
Jika ingin bertemu dengan seseorang, harus ada janji temu yang jelas. Tidak bisa tiba-tiba datang tanpa pemberitahuan. Ketepatan waktu adalah bentuk penghargaan yang besar terhadap orang lain. Awalnya aku merasa kikuk, bahkan bingung. Namun lama-kelamaan, aku mulai memahami bahwa disiplin waktu bukan sekadar aturan kaku, melainkan bagian dari cara hidup yang menghargai orang lain.
Sahabat Ruanita, mungkin ada yang bertanya-tanya, apa sih sebenarnya cultural switching itu?
Secara sederhana, cultural switching adalah kemampuan seseorang untuk berpindah, menyesuaikan, atau beralih antara satu budaya ke budaya lain, tergantung pada konteks situasi yang dihadapi. Dalam dunia psikologi dan studi lintas budaya, istilah ini sering digunakan untuk menggambarkan bagaimana individu yang hidup di lingkungan multikultural harus beradaptasi dengan aturan, nilai, dan kebiasaan yang berbeda-beda.
Bagi banyak orang Indonesia yang merantau ke luar negeri, cultural switching adalah keterampilan hidup yang harus dikuasai. Mengapa? Karena budaya Indonesia dan budaya negara tujuan seringkali sangat berbeda. Indonesia dikenal dengan nilai kolektivitas, ramah, penuh toleransi, dan cenderung mengutamakan harmoni dalam hubungan sosial. Sementara itu, budaya Jerman lebih individualis, langsung (to the point), dan realistis.
Sebagai contoh, di Indonesia, jika ingin mengkritik seseorang, kita biasanya melakukannya dengan halus agar tidak menyinggung perasaan. Sementara di Jerman, orang terbiasa memberikan kritik langsung tanpa basa-basi. Bagi mereka, kejujuran adalah bentuk penghormatan.
Pada awalnya, aku kaget. Rasanya kok “tajam sekali” ketika orang Jerman menyampaikan pendapat. Tapi setelah dipikir ulang, aku mulai menyadari bahwa itu justru memudahkan. Aku jadi tahu apa yang salah dan apa yang harus diperbaiki, tanpa perlu menebak-nebak maksud di balik ucapan mereka.
Salah satu hal yang paling menantang bagiku adalah bagaimana menerapkan nilai-nilai budaya Indonesia dalam kehidupan sehari-hari di Jerman.
Aku seorang ibu, dan anakku lahir serta tumbuh di sini. Aku ingin anakku mengenal budaya Jerman karena itu adalah lingkungan tempat dia tumbuh besar. Namun di sisi lain, aku juga ingin ia tetap membawa nilai-nilai baik dari Indonesia.
Contoh kecilnya bisa terlihat dari kebiasaan di toilet. Di rumah, aku membiasakan anakku membersihkan diri dengan air, sesuatu yang sangat umum di Indonesia tetapi tidak lazim di Jerman. Ketika di luar rumah, ia bisa beradaptasi dengan kebiasaan setempat, tapi aku selalu mengajarkan bahwa di rumah kita tetap menjaga tradisi dari Indonesia.
Inilah bentuk nyata cultural switching. Anak-anakku belajar bagaimana menyesuaikan diri dengan budaya yang berbeda tanpa kehilangan identitas aslinya.
Yang paling aku syukuri dari pengalaman hidup di Jerman adalah aku jadi lebih percaya diri untuk menjadi diriku sendiri. Di sini, aku merasakan kebebasan untuk mengekspresikan diri tanpa takut dihakimi. Orang-orang cenderung tidak peduli dengan pilihan pribadi kita selama tidak merugikan orang lain.
Hal ini berbeda dengan sebagian budaya di Indonesia, di mana terkadang masih ada tekanan sosial atau pandangan masyarakat yang mengikat. Misalnya, pilihan gaya berpakaian, keputusan menikah atau tidak menikah, atau pilihan karier perempuan sering kali jadi bahan perbincangan. Di Jerman, aku belajar bahwa setiap orang berhak menentukan jalannya sendiri.
Namun, bukan berarti aku harus melepaskan semua nilai dari Indonesia. Justru aku berusaha membawa hal-hal baik dari tanah air, seperti: keramahan, sopan santun, dan kelembutan dalam berbicara. Ini adalah ciri khas orang Indonesia yang membuatku merasa bangga.
Tidak bisa dipungkiri, hidup di luar negeri penuh tantangan. Ada kalanya aku menghadapi situasi sulit: kesepian, rindu keluarga, atau kebingungan menghadapi masalah sehari-hari.
Di saat-saat seperti itu, aku lebih sering mengadopsi gaya Jerman yang realistis dan langsung pada inti masalah. Kalau ada masalah, aku berusaha mencari solusinya secepat mungkin, bukan hanya mengeluh. Budaya Jerman mengajarkanku untuk lebih rasional, lebih lugas, dan lebih fokus pada solusi.
Ada banyak keuntungan tinggal di Jerman. Salah satunya, aku bisa bepergian ke berbagai negara Eropa tanpa perlu visa khusus. Bagi seorang perempuan yang suka menjelajah, ini adalah kesempatan yang luar biasa.
Namun tentu ada juga tantangan. Bahasa menjadi salah satu yang paling besar. Meski aku sudah belajar bahasa Jerman, tetap saja butuh waktu lama untuk benar-benar fasih. Bahasa bukan hanya soal kosakata, tapi juga soal cara berpikir. Budaya Jerman yang to the point membuat cara mereka berkomunikasi berbeda sekali dengan orang Indonesia.
Karena itu, aku selalu menyarankan kepada perempuan Indonesia lain yang ingin pindah ke Jerman: siapkan bahasa dan mental yang kuat. Jangan takut dengan kritik, karena di sini orang tidak ragu untuk menyampaikan kritik secara langsung. Anggaplah itu sebagai masukan yang membangun.
Dari perjalanan hidupku, ada beberapa hal yang ingin kubagikan kepada Sahabat Ruanita atau perempuan Indonesia lainnya yang punya mimpi tinggal di luar negeri:
1. Tetap jadi diri sendiri. Jangan merasa harus mengubah segalanya hanya untuk diterima.
2. Bawa nilai baik dari Indonesia. Ramah kepada orang lain, lembut dalam berbicara, dan sopan santun adalah kekuatan kita.
3. Belajar bahasa sebaik mungkin. Bahasa adalah kunci untuk membuka pintu interaksi dan peluang baru.
4. Siapkan mental yang kuat. Tinggal jauh dari keluarga tidak selalu mudah, jadi penting untuk punya ketahanan mental.
5. Terbuka terhadap perbedaan. Ingat bahwa cultural switching bukan berarti kehilangan identitas, melainkan kemampuan untuk bergerak luwes di antara dua budaya.
Pada akhirnya, bagiku cultural switching bukanlah soal memilih budaya mana yang lebih baik, melainkan soal membangun jembatan di antara dua dunia.
Aku bersyukur bisa belajar disiplin, kejujuran, dan ketegasan dari budaya Jerman. Di saat yang sama, aku tetap membawa kehangatan, keramahan, dan rasa kebersamaan dari Indonesia. Kedua hal ini berpadu dalam keseharian, membentuk versi terbaik dari diriku yang baru.
Setiap kali aku pulang ke Indonesia, aku membawa cerita tentang kehidupan di Jerman. Sebaliknya, setiap hari di Jerman aku juga membawa sepotong Indonesia dalam hatiku. Inilah yang membuat perjalananku sebagai perempuan Indonesia di negeri orang menjadi penuh warna.
Sahabat Ruanita, perjalanan hidupku mungkin hanya satu dari sekian banyak kisah perempuan Indonesia yang tinggal di luar negeri. Namun aku percaya, setiap cerita punya makna. Bagiku, cultural switching bukan sekadar strategi bertahan hidup, melainkan sebuah proses belajar yang membuatku lebih dewasa, lebih kuat, dan lebih menghargai perbedaan.
Semoga cerita ini bisa menjadi inspirasi bagi siapa saja yang tengah bersiap untuk merantau, atau sekadar ingin memahami bagaimana rasanya hidup di antara dua budaya.
Penulis: Nur Jannah, tinggal di Jerman yang dapat dikontak via akun instagram nurjanah_magnus
Notifikasi yang terus berbunyi, kebiasaan membuka media sosial tanpa sadar, grup percakapan yang tidak ada habisnya, hingga tekanan untuk selalu mengikuti informasi terbaru perlahan menjadi bagian dari keseharian banyak orang. Di tengah derasnya arus digital tersebut, ruang untuk benar-benar tenang sering kali semakin sempit.
Fenomena inilah yang diangkat dalam program bulanan Diskusi IG LIVE yang dikelola akun Instagram Ruanita Indonesia pada episode Mei 2026 bertajuk Digital Declutter. Diskusi ini menghadirkan dua narasumber Indonesia yang tinggal di Eropa, yakni Aghata Yasmin, mahasiswa Informatika di Slovenia, serta Fransisca Hapsari, peneliti teknologi pendidikan dan mahasiswa doktoral di Jerman.
Diselenggarakan menjelang peringatan World Telecommunication and Information Society Day pada 17 Mei, diskusi tersebut membahas bagaimana kehidupan digital yang semakin padat tidak hanya memengaruhi fokus dan kesehatan mental, tetapi juga keamanan data pribadi.
Dalam percakapan tersebut, Yasmin menjelaskan bahwa salah satu tantangan terbesar di era digital adalah cognitive load atau beban mental akibat terlalu banyak informasi yang masuk setiap hari. Menurutnya, meskipun notifikasi atau informasi digital tidak tampak secara fisik, otak manusia tetap memproses semuanya secara terus-menerus.
Ia menggambarkan kondisi tersebut seperti meja kerja yang terlalu penuh. Ketika terlalu banyak hal menumpuk secara bersamaan, seseorang menjadi sulit fokus dan lebih cepat merasa lelah. Hal serupa terjadi dalam kehidupan digital ketika seseorang terus-menerus menerima notifikasi media sosial, pesan instan, atau konten baru tanpa jeda.
Pengalaman tinggal di Slovenia juga membuat Yasmin melihat perbedaan budaya dalam penggunaan media sosial. Jika di Indonesia banyak aktivitas sehari-hari cenderung langsung dibagikan ke dunia digital, ia merasa kehidupan di Slovenia lebih memberi ruang untuk hadir secara utuh dalam interaksi nyata.
Ia mulai membiasakan diri menikmati aktivitas tanpa harus terus mendokumentasikan semuanya. Saat pergi hiking bersama teman, misalnya, ia memilih menyimpan telepon genggam di tas agar dapat benar-benar menikmati percakapan dan suasana sekitar.
Selain membatasi paparan digital, Yasmin juga menerapkan kebiasaan sederhana seperti mematikan data internet selama beberapa waktu setiap hari, mengatur ulang galeri foto agar lebih terorganisasi, hingga menyimpan dokumen pribadi di penyimpanan digital yang lebih aman dan terkontrol.
Sementara itu, Fransisca Hapsari menyoroti sisi lain dari kehidupan digital yang sering diabaikan, yakni keamanan data pribadi. Menurutnya, perkembangan teknologi yang sangat cepat dalam dua dekade terakhir tidak hanya membuka peluang positif, tetapi juga meningkatkan risiko kejahatan siber.
Ia menjelaskan bahwa banyak pengguna internet masih menggunakan teknologi secara tidak sadar, mulai dari memberikan data pribadi secara sembarangan hingga menggunakan kata sandi yang sama untuk berbagai aplikasi. Kebiasaan tersebut membuat pengguna lebih rentan terhadap penipuan digital, peretasan, maupun pencurian identitas.
Fransisca membagikan pengalamannya ketika menerima ancaman digital setelah terjadi kebocoran data dari sebuah platform belanja daring di Indonesia. Saat itu ia sempat panik karena menerima pesan yang mengklaim mengetahui kata sandinya dan meminta sejumlah uang. Pengalaman tersebut membuatnya lebih sadar pentingnya keamanan digital dan pengelolaan data pribadi.
Menurutnya, digital declutter bukan hanya soal membersihkan file atau mengurangi penggunaan media sosial, tetapi juga tentang membangun kesadaran terhadap teknologi yang digunakan setiap hari. Ia mengajak pengguna untuk lebih kritis terhadap aplikasi yang diunduh, izin akses yang diberikan, serta kebiasaan digital yang sebenarnya tidak lagi diperlukan.
Diskusi tersebut juga menyinggung bagaimana media sosial memengaruhi kesehatan mental, terutama munculnya rasa lelah, FOMO (fear of missing out), hingga kecenderungan membandingkan hidup dengan orang lain. Yasmin memperkenalkan konsep JOMO atau joy of missing out, yakni kemampuan menikmati hidup tanpa merasa harus selalu mengikuti semua informasi dan tren yang beredar. Menurutnya, ketika seseorang mulai membatasi paparan digital, fokus dan kejernihan berpikir perlahan kembali terbentuk.
Fransisca menambahkan bahwa penggunaan media sosial tanpa tujuan yang jelas sering kali membuat seseorang masuk dalam pola mindless scrolling yang menguras energi mental tanpa disadari. Ia mengingatkan pentingnya membangun kebiasaan digital yang lebih sadar, termasuk membatasi penggunaan gawai sebelum tidur dan mengurangi paparan cahaya layar yang dapat mengganggu kualitas istirahat.
Selain berbicara tentang individu, diskusi ini juga menyoroti pentingnya peran keluarga dalam membangun kebiasaan digital yang sehat. Yasmin menekankan pentingnya menciptakan momen bersama tanpa gawai, seperti makan bersama, memasak, atau berbincang tanpa gangguan layar. Menurutnya, teknologi seharusnya menjadi alat yang membantu kehidupan manusia, bukan sebaliknya mengendalikan manusia. Karena itu, kesadaran untuk memilih apa yang dikonsumsi secara digital menjadi semakin penting di tengah banjir informasi saat ini.
Melalui Diskusi IG LIVE bulanan, Ruanita Indonesia menghadirkan ruang percakapan lintas negara yang membahas berbagai isu keseharian perempuan Indonesia secara reflektif dan relevan dengan perkembangan zaman. Episode tentang digital declutter ini menjadi pengingat bahwa di tengah kehidupan yang semakin terkoneksi, menjaga ketenangan pikiran dan batas sehat dengan dunia digital merupakan bentuk perawatan diri yang juga penting dilakukan.
Simak selengkapnya rekaman program diskusi IG LIVE berikut ini di kanal YouTube Ruanita – Rumah Aman Kita dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.
Banjarbaru, Kalimantan Selatan – Dalam rangka memperingati Hari Perawat Sedunia (International Nurses Day), Yayasan Ruanita Perempuan Indonesia berkolaborasi dengan Institut Kesehatan Suaka Insan menyelenggarakan diskusi daring bertajuk “Global Nurse Migration: Opportunity, Protection, and Ethics” atau “Perawat Indonesia di Panggung Global: Pengalaman, Etika, dan Kesehatan Mental.”
Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu, 16 Mei 2026 ini diikuti oleh peserta dari berbagai latar belakang, mulai dari mahasiswa keperawatan, tenaga kesehatan, hingga masyarakat umum. Acara dibuka oleh Ketua DPK PPNI Rumah Sakit Suaka Insan, Sutikno Ners., M.Kes.; Rektor IKES Suaka Insan, Sr. Imelda Ingir, PhD; Yayasan Ruanita Perempuan Indonesia, Sesilia Susi.
Diskusi ini menghadirkan para perawat Indonesia yang telah berkarier di berbagai negara, seperti Denmark, Amerika Serikat, dan Uni Emirat Arab, serta akademisi keperawatan di Taiwan. Para narasumber berbagi pengalaman langsung terkait praktik kerja di luar negeri, tantangan adaptasi, hingga pembelajaran yang mereka dapatkan selama berkarier secara global.
Dalam diskusi ini, dibahas bagaimana kebutuhan tenaga perawat dunia yang terus meningkat membuka peluang besar bagi perawat Indonesia. Dengan jumlah tenaga keperawatan yang cukup besar, Indonesia memiliki potensi strategis untuk berkontribusi di tingkat global.
Namun demikian, para pembicara menekankan bahwa migrasi perawat tidak hanya berbicara tentang peluang ekonomi, tetapi juga kesiapan kompetensi, pemahaman etika, serta perlindungan hukum. Peserta diajak untuk melihat migrasi sebagai bagian dari pertukaran pengetahuan, di mana pengalaman internasional dapat menjadi bekal untuk memperkuat sistem kesehatan di Indonesia.
Selain peluang karier, isu perlindungan dan etika menjadi sorotan utama dalam diskusi. Para narasumber mengangkat berbagai tantangan yang sering dihadapi perawat di luar negeri, seperti perbedaan budaya kerja, hambatan komunikasi, hingga tekanan psikologis.
Kesehatan mental perawat menjadi topik penting yang dibahas secara terbuka. Para pembicara membagikan pengalaman dalam menghadapi culture shock, beban kerja, serta cara menjaga keseimbangan emosional di lingkungan kerja yang baru. Diskusi ini juga menekankan pentingnya dukungan sistem, baik dari institusi pendidikan, organisasi profesi, maupun lingkungan kerja, untuk membantu perawat tetap sehat secara mental dan profesional.
Kegiatan ini dikemas dalam bentuk pemaparan materi, sharing pengalaman, serta sesi tanya jawab interaktif yang berlangsung aktif. Peserta tidak hanya mendapatkan wawasan baru, tetapi juga kesempatan untuk berdialog langsung dengan para narasumber. Selain itu, kegiatan ini turut menjadi ruang untuk memperkuat jejaring antarperawat dan calon tenaga kesehatan, baik di dalam maupun luar negeri.
Melalui kegiatan ini, Anna Knöbl sebagai penyelenggara berharap para perawat Indonesia semakin siap menghadapi tantangan global dengan bekal kompetensi, pemahaman etika, serta ketahanan mental yang lebih baik. Diskusi ini menjadi pengingat bahwa perawat tidak hanya berperan dalam pelayanan kesehatan, tetapi juga sebagai bagian penting dari sistem kesehatan global yang terus berkembang.
Simak rekaman diskusi daring peringatan Hari Perawat Internasional di Kanal YouTube kami dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.
Halo, sahabat Ruanita! Terima kasih atas kesempatannya. Saya sangat senang memiliki kesempatan untuk berbagi cerita dengan sahabat Ruanita disini. Pada kesempatan ini, saya ingin berbagi cerita tentang pengalaman saya menjalani praktik digital minimalism serta kaitannya dengan kesehatan mental. Meskipun sebenarnya menulis kedua topik ini cukup menantang bagi saya karena saya bukan seorang expert dan bukan seorang digital minimalst sejati seutuhnya.
Dalam cerita ini saya ingin berbagi sesuatu dengan jujur dan apa adanya. Tentu, tulisan ini tidaklah sempurna, namun saya berharap, siapapun yang membaca tulisan ini dapat mengambil sesuatu yang mungkin berguna atau bermanfaat dari praktik digital minimalism sederhana yang telah saya jalani selama beberapa tahun terakhir ini.
Perkenalkan, saya Ihma, sarjana Psikologi lulusan Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Aceh. Sejak tahun 2023, saya bekerja sebagai Community Organizer di Yayasan PASKA Aceh, sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat lokal di Kabupaten Pidie, Aceh. Saya bertanggung jawab untuk mendampingi Rumah Belajar yaitu komunitas penyintas kekerasan di masa konflik Aceh dari beberapa desa pedalaman di Kabupaten Pidie Jaya. Melalui pekerjaan ini, saya terlibat dalam kerja-kerja pemberdayaan, memberikan dukungan psikososial, serta pendidikan kritis bagi masyarakat di akar rumput. Saya juga terlibat dalam kerja-kerja advokasi kepada pemerintah untuk mendorong pemenuhan hak-hak korban konflik yang selama ini terpinggirkan.
Tahun 2024, saya mendapat kesempatan mengikuti program Learning Exchange ke Jerman yang disponsori oleh Asia Justice and Rights dan Watch Indonesia. Di sana, saya belajar langsung tentang isu-isu Hak Asasi Manusia, memorialisasi, dan budaya mengingat di masyarakat Jerman. Sebuah pengalaman yang memperkaya perspektif saya sebagai aktivis muda dari Aceh. Pada Juli 2025, saya memutuskan untuk mengundurkan diri dari PASKA Aceh karena alasan personal. Meski begitu, semangat saya untuk terus terlibat dalam advokasi dan pemberdayaan masyarakat tidak akan berhenti. Kini, saya tengah menata ulang arah hidup, memperdalam kemampuan bahasa Inggris, dan menjalani hari-hari dengan belajar secara mandiri melalui platform belajar daring.
Kalau ditanya apa yang pertama kali membuat saya tertarik dengan dunia psikologi. Sejujurnya, dulu memilih Psikologi sebagai jurusan kuliah saya bukanlah keputusan yang direncanakan matang. Bisa dibilang, itu pilihan yang cukup spontan. Saat pertama kali mendaftar, saya belum tahu banyak tentang Psikologi. Hal yang saya pahami saat itu sangat sederhana, ilmu psikologi adalah ilmu tentang jiwa manusia, dan entah kenapa saya langsung mengaitkannya dengan “orang gila.”
Tapi kalau saya melihat ke belakang, khususnya saat masa SMA, ternyata ada satu pengalaman yang secara tidak sadar menjadi awal ketertarikan saya terhadap dunia psikologi. Waktu itu, saya sering membantu abang saya yang kuliah di jurusan Keperawatan mengerjakan tugas-tugas tentang topik halusinasi, delusi dan waham pada pasien dengan gangguan skizofrenia. Tanpa saya sadari, ternyata saya tertarik dengan bagaimana pikiran manusia bekerja, dan bagaimana kita bisa memahami mereka yang dianggap “berbeda.”
Sekarang saya merasa sangat bersyukur pernah membuat keputusan spontan itu. Karena lewat Psikologi, saya belajar banyak hal, terutama tentang diri saya sendiri. Dulu, saya merasa cukup pendiam, sulit bergaul, dan kurang percaya diri. Tapi dengan memahami Psikologi, saya jadi lebih mengenal diri sendiri, lebih menerima, dan lebih menyayangi diri saya sebagai manusia yang utuh, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Ini berdampak besar pada rasa percaya diri dan cara saya menjalani hidup dan bekerja. Psikologi juga mengubah cara saya melihat dunia yang penuh keberagaman. Saya jadi lebih menghargai bahwa setiap individu itu unik, punya latar belakang, budaya, keyakinan, dan pengalaman yang berbeda-beda. Nilai-nilai inilah yang membantu saya ketika bekerja di masyarakat, membangun empati, menjaga toleransi, tetap rendah hati dalam berinteraksi dengan siapa pun dan menjunjung nilai-nilai kemanusiaan.
Bicara tentang digitalminimalism, saya akan mulai bercerita tentang bagaimana keseharian saya sebelumnya dalam menggunakan teknologi digital. Sebagai bagian dari generasi Z yang memang tumbuh bersama teknologi saya cukup dekat dengan teknologi digital. Bisa dibilang, saya juga sangat bergantung pada media digital. Teknologi sangat membantu saya dalam belajar, berinteraksi, dan mengembangkan keterampilan baru. Tapi di sisi lain, saya juga mengalami dampak negatifnya. Saya termasuk orang yang cenderung sulit lepas dari handphone. Dulu, saya bisa menghabiskan rata-rata 5–6 jam sehari hanya untuk scroll Instagram. Kebiasaan ini mulai terasa mengganggu, terutama saat saya sedang ingin fokus belajar atau bekerja. Bahkan ketika sedang bersama teman-teman, saya sering kali tanpa sadar terus mengecek ponsel dan jadi tidak benar-benar hadir dalam interaksi sosial. Saat itu, saya mulai sadar bahwa meskipun teknologi bisa memberi manfaat besar, tapi kalau tidak digunakan dengan bijak, justru bisa menyabotase waktu, perhatian, dan kualitas hubungan sosial saya sendiri.
Sebenarnya, pertama kali saya berkenalan dengan konsep minimalism secara umum dimulai sejak saya mengikuti akun Instagram lyfewithless di tahun 2020. Namun perkenalan dengan praktik digitalminimalsm dimulai pada tahun 2021, saat saya berkesempatan bertemu dengan Asfinawati yang saat itu menjabat sebagai Direktur Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) dalam sebuah kegiatan yang diselenggarakan di KontraS Aceh.
Pertemuan pertama dengan Mbak Asfin menjadi titik awal yang sangat berkesan. Saya cukup kaget sekaligus kagum ketika tahu bahwa seorang Asfinawati yang sering saya lihat di banyak media, dikenal lantang menyuarakan isu keadilan, dan memiliki pengetahuan yang luas, ternyata tidak memiliki akun media sosial pribadi seperti Instagram, TikTok, YouTube channel dan sebagainya. Bagi saya saat itu, hal ini cukup menggugah. Di tengah era digital yang serba terhubung dan penuh distraksi, pilihan beliau untuk tidak hadir di media sosial justru terasa sangat kuat dan berani. Dari sanalah saya mulai tertarik mencari tahu lebih jauh tentang gaya hidup minimalis dalam hal penggunaan teknologi dan media digital.
Namun jika di ingat kembali, saya bisa bilang bahwa keputusan saya untuk mulai mempraktikkan digital minimalism sangat berkaitan dengan kondisi kesehatan mental yang saya alami. Tepatnya di tahun 2022, saat saya berada di titik hidup yang cukup berat, mengalami krisis eksistensial pasca lulus kuliah dan harus menjalani terapi secara rutin dengan tenaga profesional. Di masa itu, saya mulai belajar kembali tentang diri sendiri, tentang makna hidup, dan nilai-nilai apa yang benar-benar penting bagi saya. Saya masih ingat sekali, setelah menjalani beberapa sesi konsultasi dengan psikiater, saya merasa energi saya jadi cepat sekali habis. Saya menjadi sangat sensitif terhadap emosi dan cerita orang-orang di sekitar saya. Ada satu momen yang membekas, saya pernah menangis tersedu-sedu hanya karena mendengar teman saya bercerita tentang kucing yang mati di jalan. Buat sebagian orang hal itu mungkin sepele, tapi bagi saya saat itu, dunia terasa sangat menyeramkan.
Di tengah kekacauan itu, saya mulai mempertanyakan banyak hal, termasuk kebiasaan saya menggunakan media sosial. Kenapa saya selalu merasa perlu membuka Instagram, Twitter (sekarang X), atau Facebook? Apakah saya benar-benar butuh terkoneksi dengan semua orang? Apakah saya hanya sedang berusaha membuktikan bahwa saya masih “ada”, masih berdaya? Yang paling berat adalah ketika saya tidak bisa menjawab pertanyaan “Kenapa saya harus punya media sosial?”
Pertanyaan-pertanyaan ini terus berputar di kepala saya, hampir setiap hari. Saya merasa dunia bergerak terlalu cepat dan saya tidak punya waktu untuk sekadar menikmati hari-hari saya. Saya lelah. Sampai akhirnya saya mulai mengevaluasi kebiasaan digital saya sendiri, dari tracking waktu penggunaan aplikasi hingga mencoba digital detox kecil-kecilan. Saya kaget ketika tahu bahwa saya bisa menghabiskan 5–6 jam sehari hanya untuk Instagram.
Dari sana, saya mulai mengurangi waktu penggunaan media sosial, membatasi jadwal, berhenti mem-follow akun media sosial yang saya rasa tidak bermanfaat, menonaktifkan beberapa akun media sosial untuk sementara, bahkan menghapus beberapa aplikasi yang sebenarnya tidak benar-benar saya butuhkan. Dalam proses itu, saya mulai banyak membaca dan mencari tahu tentang digital detox, hingga akhirnya saya tahu bahwa apa yang sedang saya lakukan adalah bagian dari praktik digital minimalism. Dan ternyata, saya tidak sendiri. Ada banyak orang lain yang juga menjalani dan mendapatkan manfaat dari gaya hidup ini.
Saat pertama kali saya mulai membatasi penggunaan media sosial, ada beberapa reaksi dari lingkungan sekitar yang saya dapat. Reaksi dari keluarga cukup santai. Keluarga saya memang bukan tipe keluarga yang terlalu bergantung pada media sosial, jadi perubahan ini tidak menjadi masalah besar bagi mereka. Teman-teman saya juga merespons dengan wajar. Saya hanya perlu menjelaskan bahwa saya sedang mengurangi waktu dengan handphone, jadi mungkin saya akan sedikit lambat dalam membalas pesan atau merespons panggilan mereka. Syukurnya, mereka bisa memahami hal itu tanpa drama.
Yang cukup menantang justru datang dari lingkungan kerja. Reaksinya sangat beragam, ada yang menyindir, ada yang marah, bahkan ada yang sampai berhenti berbicara dengan saya karena saya menolak menerima panggilan telepon di luar jam kerja, atau enggan membahas pekerjaan saat sedang tidak sedang bekerja.
Awalnya tentu hal itu tidak mudah bagi saya. Tapi seiring waktu, batasan yang saya tetapkan mulai menjadi hal yang biasa. Penolakan saya menjadi sesuatu yang bisa diterima, sama seperti saya juga belajar menerima bentuk batasan atau penolakan dari mereka. Beberapa rekan kerja saja akhirnya memahami bahwa saya tidak sedang mengabaikan mereka, saya hanya sedang belajar menjaga ruang pribadi saya dan memilih untuk memberikan respons di waktu yang saya rasa tepat.
Sebenarnya, praktik digitalminimalism yang saya jalani bukanlah sesuatu yang instan atau kaku. Tapi lebih pada proses sadar untuk lebih bijak dalam menggunakan teknologi dengan menyesuaikan kebutuhan, kapasitas, dan kondisi saya sendiri.
Beberapa hal yang saya praktikkan antara lain, seperti :
Membatasi waktu bermain media sosial. Setiap aplikasi media sosial saya atur dengan batas waktu tertentu. Tujuannya agar saya lebih sadar berapa lama waktu yang saya habiskan untuk berselancar, dan tidak terjebak terlalu lama di satu aplikasi.
Mengatur waktu penggunaan handphone, terutama sebelum dan sesudah tidur. Saya berusaha berhenti menggunakan handphone minimal satu jam sebelum tidur. Ini membantu saya mendapatkan kualitas tidur yang lebih baik dan tidak terdistraksi dengan notifikasi. Saat bangun pagi pun, saya tidak langsung membuka handphone atau mengaktifkan internet. Meskipun saya cukup fleksibel untuk rutinitas pagi, tapi untuk aturan sebelum tidur benar-benar saya jaga.
Menetapkan batasan untuk urusan pekerjaan. Saya mencoba untuk tidak membahas hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan di malam hari, kecuali jika benar-benar mendesak. Ini penting buat saya agar ada ruang istirahat yang utuh, dan tidak membawa beban kerja ke waktu pribadi.
Menghapus aplikasi yang tidak digunakan. Jika dalam waktu tertentu ada aplikasi yang tidak saya buka atau tidak benar-benar bermanfaat, saya akan menghapusnya. Ini memberi ruang lebih di handphone, sehingga saya dapat menggunakan ruang tersebut untuk hal lain yang bermanfaat.
Merapikan file digital, termasuk foto dan dokumen. Saya juga rutin menghapus foto atau dokumen pribadi yang sudah tidak relevan. Untuk file pekerjaan yang mungkin masih dibutuhkan sewaktu-waktu, saya simpan dalam folder khusus agar lebih mudah ditemukan dan tidak bercampur dengan file pribadi.
Lebih berhati-hati dengan penggunaan internet publik. Sekarang saya sudah tidak menggunakan WiFi gratis dari tempat umum seperti warung kopi, restoran, atau layanan umum lainnya. Praktik digital minimalism ternyata juga membuat saya lebih sadar tentang keamanan digital dan pentingnya menjaga privasi.
Lebih selektif sebelum meng-install aplikasi atau menyimpan file. Sebelum mendownload sesuatu, saya akan bertanya dulu pada diri sendiri, apakah ini benar-benar saya butuhkan, atau hanya karena ikut-ikutan tren? Untuk menjawab pertanyaan ini mungkin saya butuh waktu beberapa hari. Tapi kalau akhirnya saya merasa tidak terlalu penting, ya saya memilih untuk tidak meng-install.
Tentu saja, saya tidak selalu berhasil menjalankan semua ini dengan konsisten. Tapi setiap kali mulai lengah, saya selalu berusaha untuk kembali mengingat niat awal saya untuk hidup lebih tenang, lebih sadar, dan lebih hadir, baik untuk diri saya sendiri maupun untuk orang lain.
Saya tentu saja menetapkan batasan khusus terhadap penggunaan media sosial, ponsel, atau aplikasi tertentu dalam menjalani praktik digital minimalsm ini. Seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya, hampir semua aplikasi media sosial termasuk WhatsApp memiliki batasan waktu khusus. Namun untuk aplikasi seperti Instagram dan TikTok, saya menerapkan batasan yang lebih ketat, karena saya tahu dari pengalaman pribadi bahwa aplikasi-aplikasi ini bisa sangat menyita atensi dan waktu saya. Saya juga menyadari bahwa terlalu lama terpapar konten yang terus-menerus berganti. Terutama yang sifatnya visual dan emosional dapat membuat saya jadi sangat sensitif, mudah terdistraksi, bahkan kadang merasa cemas tanpa alasan yang jelas.
Selain itu, ada semacam tekanan tidak langsung juga untuk terus ter-update, membandingkan diri dengan orang lain, atau merasa harus “ikut” dengan hal-hal yang sebenarnya tidak terlalu penting bagi saya. Dengan menetapkan batasan yang jelas, saya merasa lebih tenang. Saya bisa mengembalikan fokus pada hal-hal yang benar-benar saya pilih untuk diperhatikan. Dan saya juga belajar untuk tidak merasa bersalah jika melewatkan satu dua hal yang sedang ramai dibicarakan atau terjadi di media sosial.
Kunci utama dari memanfaatkan teknologi digital secara bijak terutama untuk mengelola kebutuhan profesional adalah awareness atau kesadaran. Menurut saya, ketika kita tahu dengan jelas apa tujuan kita menggunakan teknologi, apakah untuk riset, membaca, menyusun laporan, atau kebutuhan pekerjaan lainnya, maka kita akan lebih bertanggung jawab dalam menggunakannya. Saya percaya dengan memiliki tujuan yang jelas, kita bisa lebih produktif dan tidak mudah terdistraksi. Dengan melatih awarness terhadap media digital, saya belajar untuk bisa membedakan kapan teknologi menjadi alat bantu yang mempercepat pekerjaan, dan kapan ia justru mengambil alih fokus saya. Bagi saya, teknologi digital bukan sesuatu yang harus dihindari, hanya perlu dikelola dengan bijak supaya tetap bisa meningkatkan kualitas hidup kita, tanpa mengorbankan kesehatan mental, ruang pribadi, atau keseimbangan hidup.
Sebenarnya saya juga punya beberapa rutinitas harian yang sangat membantu saya menjaga batasan penggunaan teknologi digital. Salah satunya adalah olahraga di pagi hari. Setelah bangun tidur, saya biasanya melakukan olahraga seperti jalan dan lari, kemudian melanjutkan dengan bersih-bersih rumah dan mandi sebelum mulai menggunakan media digital. Kalau dipikir-pikir kebiasaan ini dari bangun tidur sampai selesai aktivitas tersebut, saya bisa tidak menyentuh gadget selama 2-3 jam.
Saya bersyukur rutinitas ini membantu saya untuk memulai hari dengan kondisi yang lebih segar dan fokus. Selain itu, kebiasaan saya pada saat belajar juga membantu saya menjaga digital boundaries. Kalau lagi mau fokus, saya biasanya mengaktifkan mode jangan gangu di smartphone. Mode ini membantu saya tetap fokus menggunakan teknologi untuk belajar, tanpa terganggu oleh notifikasi dari media sosial atau aplikasi lain. Menurut saya cara ini sangat membantu saya dalam memanfaatkan teknologi tanpa kehilangan konsentrasi.
Jika membahas mengenai dampak penggunaan digital yang berlebihan terhadap kesehatan mental, menurut saya persoalan ini cukup kompleks. Isu ini telah banyak diteliti, baik di Indonesia maupun di berbagai negara lain, dan mencakup berbagai aspek mulai dari kesejahteraan psikologis, aspek kepribadian, sikap sosial, hingga kaitannya dengan gangguan mental yang lebih serius.
Namun, kalau kita coba lihat dari sudut pandang yang lebih dekat, kita bisa mulai dengan menilai bagaimana kebiasaan digital seseorang memengaruhi cara pandangnya terhadap dirinya sendiri, serta terhadap dunia di sekitarnya. Salah satu laporan dari WHO berjudul Teens, Screens, and Mental Health menunjukkan bahwa remaja yang menggunakan media sosial secara bermasalah cenderung mengalami penurunan kesejahteraan psikologis, gangguan tidur, dan menurunnya performa akademik.
Penelitian lain oleh Widowati dan Syafiq (2022) juga menemukan dampak psikologis negatif yang timbul akibat penggunaan media sosial secara berlebihan. Salah satu penyebabnya adalah informasi yang datang terlalu cepat dan berlebihan (overstimulasi digital), yang bisa memicu fenomena emotional contagion atau penularan emosi.
Akibatnya, seseorang bisa mengalami peningkatan emosi negatif, konflik interpersonal, kecenderungan menunda pekerjaan, manajemen waktu yang buruk, hingga kesulitan dalam mengendalikan diri. Dengan kata lain, penggunaan media digital yang berlebihan berpotensi membentuk citra diri yang negatif, menurunkan produktivitas, serta mengganggu pola hidup sehat, seperti istirahat yang cukup dan rasa aman secara emosional.
Dari sisi yang lain, kita juga bisa melihat bagaimana pola konsumsi digital memengaruhi cara pandang seseorang terhadap dunia. Menurut laporan dari American Psychological Association (APA), terlalu banyak menghabiskan waktu di media sosial dapat meningkatkan kerentanan terhadap paparan konten yang bersifat berbahaya, seperti informasi palsu, ujaran kebencian, hingga konten yang mengandung rasisme atau diskriminasi. Ini terjadi karena mesin pencari dan algoritma media sosial tidak bebas dari bias, sehingga hal ini dapat memperkuat stereotipe yang sudah ada dalam masyarakat (Social Media Brings Benefits and Risks to Teens, APA, 2023). Dengan kata lain, karena adanya bias algoritma, terlalu banyak menghabiskan waktu di media sosial dapat memperparah kondisi sosial masyarakat, yaitu dengan memperkuat prasangka, dan bahkan ikut berkontribusi pada polarisasi (rasisme) di tengah masyarakat.
Kemudian jika bercerita tentang apa saja manfaat psikologis yang saya rasakan sejak menjalani digital minimalism. Sejujurnya banyak sekali manfaat psikologis yang saya rasa berarti dalam hidup saya. Pertama, saya jadi bisa lebih fokus pada hal-hal yang ada di sekitar saya. Saya memberikan perhatian dan energi secara penuh saat berinteraksi dengan orang lain secara nyata, tanpa harus terdistraksi oleh media sosial. Misalnya, saya bisa duduk tenang dan ngobrol dengan teman tanpa bermain handphone. Kecemasan saya yang dulu sering muncul karena takut tertinggal informasi atau merasa harus selalu update di media sosial, kini jauh berkurang.
Saya belajar menerima bahwa setiap orang memiliki proses hidupnya masing-masing, dan berhenti membandingkan diri dengan orang lain di media sosial. Saya bisa melihat bahwa orang-orang biasanya cenderung hanya membagikan sesuatu yang menurut mereka baik, sisi-sisi menarik tentang hidup mereka di media sosial. Memahami hal ini, saya belajar untuk meningkatkan rasa keberhargaan diri saya dan melihat manusia dengan kacamata manusia. Bahwa sebagai manusia, kita tidak mungkin dapat selalu sempurna dalam semua hal, dan itu tidak apa-apa. Seperti kata-kata Laura A. King yang pernah saya baca di buku Psikologi “hidup yang tidak sempurna, tetaplah hidup yang berharga”.
Selain itu, manfaat lain yang saya rasakan sejak menjalani praktik digitalminimalsm adalah saya punya lebih banyak waktu untuk belajar hal-hal baru yang membuat saya bahagia, seperti memasak, belajar bahasa baru, dan berbagai aktivitas positif lainnya. Saya merasa lebih bahagia dari sebelumnya. Saya juga belajar melihat realitas secara lebih nyata dan dekat.
Contohnya, saat mengunggah sebuah konten dan mendapatkan hanya 10 likes, saya berpikir bahwa ada 10 orang nyata yang menyukai konten saya, dan itu sudah lebih dari cukup. Ini mengubah cara saya memandang apresiasi dan ekspektasi sosial. Rasa lega juga datang dari terbebasnya saya dari beban harus memenuhi ekspektasi sosial atau berpura-pura menunjukkan keberdayaan diri di media sosial. Saya jadi punya ruang untuk lebih menerima diri saya apa adanya, dengan segala kekuatan dan kelemahan yang saya miliki.
Manfaat yang paling terasa adalah peningkatan kualitas tidur. Saya tidak lagi cemas sampai susah tidur atau terbangun di tengah malam hanya karena memikirkan konten di media sosial atau hal-hal viral lainnya. Saya belajar untuk menerima bahwa banyak hal di luar kendali saya, dan saya tidak harus mengendalikan semuanya. Saya bertanggung jawab pada hidup saya sendiri, dan saya tidak perlu bertanggung jawab atas bagaimana orang lain menilai saya. Lagi-lagi, saya adalah manusia dan hidup saya berharga.
Jika di tanya apakah saya menggunakan pendekatan psikologis tertentu untuk membantu saya dalam mengurangi ketergantungan digital. Iya, dan saya akan bilang bahwa pendekatan itu sangatlah sederhana dan dapat dilakukan siapa saja; yaitu latihan mindfulness (kesadaran penuh). Mindfulness membantu saya sadar kapan, bagaimana, dan kenapa saya menggunakan teknologi digital, sehingga saya dapat meminimalkan penggunaan media digital tanpa tujuan. Sebagai orang yang juga cenderung cemas, mindfulness membantu saya untuk tetap tenang dan tidak terbawa stres karena overstimulasi digital.
Contoh latihan mindfullness sederhana yang saya lakukan adalah saya melatih diri untuk tahu kapan harus pakai media digital dan kapan harus berhenti. Kalau sedang tidak terlalu perlu buka handphone, saya memilih untuk mengabaikannya. Dari situ, saya belajar menghargai momen yang ada. Misalnya, saat ngopi bareng teman, saya belajar untuk fokus ngobrol tanpa gangguan hp. Selain itu, saya juga berlatih untuk punya waktu tanpa gadget, misalnya saat makan atau istirahat yaitu dengan mematikan notifikasi dan menjauhkan perangkat digital. Ini sangat membantu saya dalam menjaga keseimbangan dan kesehatan mental saya. Saya percaya dengan latihan ini, kita bisa menggunakan teknologi dengan lebih bijak.
Bicara tentang tantangan dalam menjalani parktik digitalminimalsm, hal yang paling menantang bagi saya sebenarnya adalah ketika saya tidak selalu bisa dihubungi dalam situasi penting. Sehingga saya harus bersedia jika hilang dari daftar kontak darurat yang bisa dihubungi orang-orang terdekat saya, karena kebiasaan membatasi penggunaan handphone. Bahkan kadang, saya sengaja tidak membawa gadget saat bepergian, jadi sangat mungkin jika ada hal penting atau mendesak yang terjadi di sekitar saya, saya tidak akan langsung tahu. Saya bersyukur keluarga saya cukup memahami kebiasaan ini. Jadi, jika mereka benar-benar perlu menghubungi saya, biasanya mereka akan mencari tahu lewat orang yang mungkin sedang bersama saya saat itu.
Meski begitu, saya tidak bisa memungkiri bahwa ada rasa sedih dan bersalah ketika saya terlambat mengetahui kabar penting, terutama jika itu menyangkut orang-orang terdekat saya. Namun saya sadar, ini adalah bagian dari konsekuensi yang harus saya hadapi dalam proses menjaga batasan digital. Saya terus belajar untuk mencari cara agar bisa tetap hadir untuk orang-orang terdekat, tanpa harus mengorbankan keseimbangan dan ketenangan diri yang sedang saya upayakan.
Meskipun telah menjalani praktik digitalminimalsm selama beberapa tahun, saya tetap mengakui bahwa saya tidak selalu berhasil mempraktikkannya. Mengingat cara saya dalam menyikapi momen-momen “kambuh” ingin kembali menggunakan media digital secara berlebihan, sangatlah beragam. Contohnya saat saya merasa ingin menonton drama terbaru seharian, maka hal yang saya lakukan waktu itu adalah saya mengunduh aplikasi streaming, menonton sampai saya merasa cukup, lalu menghapus aplikasi tersebut kembali. Namun sebelum itu, saya biasanya akan membuat semacam “perjanjian” dengan diri sendiri. Bahwa saya hanya boleh melakukannya untuk hari ini saja dan harus berhenti sebelum jadwal tidur tiba. Momen seperti ini sebenarnya cukup jarang terjadi, mengingat dulu jadwal dan beban kerja saya lumayan padat.
Contoh lainnya adalah pada saat saya merasa ingin sekali tetap berada di media sosial melebihi batas waktu yang saya tetapkan. Maka cara saya menyikapinya adalah dengan memberi waktu tambahan sekitar 1–10 menit dari batas waktu yang sudah saya tetapkan, agar saya bisa melepas dan merasa cukup. Lalu dapat meninggalkan aplikasi itu dengan tenang, tanpa rasa terpaksa atau menyesal.
Bagi saya, pelajaran paling berharga dari praktik digital minimalism yang saya jalani adalah bahwa memiliki batasan yang sehat (healthy boundaries) merupakan sebuah kekuatan. Di era yang serba terkoneksi dan cepat seperti sekarang, bisa mengatakan “cukup” pada paparan informasi atau interaksi digital adalah bentuk keberdayaan yang tidak semua orang sadari pentingnya. Saya belajar bahwa tidak semua hal perlu diketahui, tidak semua percakapan perlu diikuti, dan tidak semua notifikasi harus segera ditanggapi. Memilih untuk hadir secara sadar dan utuh dalam kehidupan nyata ternyata jauh lebih bermakna dibanding terus-menerus aktif di dunia digital tapi merasa kosong. Saya juga belajar menerima bahwa terkoneksi secara digital bukan satu-satunya cara untuk merasa terhubung dengan orang lain. Kadang, jeda dan jarak justru membuat hubungan terasa lebih tulus dan berkualitas. Yang tidak kalah penting, saya belajar bahwa menjaga diri, baik dari sisi mental, emosional, maupun waktu adalah bentuk tanggung jawab yang tidak egois. Justru dari situlah saya bisa menjadi pribadi yang lebih tenang, lebih fokus, dan lebih hadir dalam hidup saya sendiri
Untuk perempuan Indonesia di mana pun berada, terutama yang sedang merasa lelah, kewalahan, atau kehilangan arah karena terlalu banyak distraksi digital, saya ingin bilang bahwa tidak apa-apa untuk mengambil jarak. Kadang kita tidak bisa melihat sesuatu dengan jelas jika berada terlalu dekat dengan hal itu. Memberi jarak justru membantu kita untuk melihat sesuatu dengan lebih baik. Digital minimalism bukan tentang menjauh sepenuhnya dari teknologi, tapi tentang memberi ruang untuk diri sendiri untuk menilai kembali apa yang benar-benar penting bagi hidup kita. Bagi saya, ini adalah cara untuk menjaga energi, memulihkan fokus, dan memberi ruang bagi hal-hal yang benar-benar membuat kita tumbuh.
Kita semua tau bahwa saat ini kita hidup di zaman yang sangat cepat dan bising, di mana perhatian mudah sekali tercuri. Tapi kita tetap punya kuasa untuk menciptakan ruang tenang dalam hidup kita masing-masing. Punya batasan yang sehat bukan berarti kita tertutup, namun justru hal itu merupakan bentuk dari keberanian untuk menjaga diri dan tetap hadir dengan utuh. Baik untuk diri sendiri maupun untuk orang-orang yang kita cintai.
Kalau kamu tertarik untuk belajar mempraktikkan digital minimalism, kamu bisa mulai dari langkah kecil yang sederhana. Kamu bisa mulai dengan menyadari kapan kamu butuh jeda, dan berikan jeda itu untuk dirimu sendiri, lakukan sesuatu yang bisa membuatmu merasa lebih baik. Entah itu melakukan hobi, belajar atau apapun itu. Kalau kamu sudah mulai mencoba mempraktikkannya dan merasa kesulitan, saya ingin memberi tahu kamu bahwa kamu tidak harus mempraktikkan digital minimalsm dengan sempurna.
Go easy on yourself dan nikmati proses belajar memberi jarak itu. Kamu tau, saya sebenarnya juga tidak selalu melakukannya dengan sempurna dan itu tidak apa-apa. Bagi saya, praktik digital minimalism bukan tentang kesempurnaan praktiknya, tapi soal memilih hadir dengan sadar, dengan tenang dan dengan penuh kasih dalam hidup yang kita jalani setiap hari.
Dalam tulisan ini, saya juga ingin menyebut tokoh inspirasi favorit saya lainnya, dalam proses belajar digital minimalsm, yaitu Marissa Anita, seorang jurnalis dan aktris yang juga terkenal menerapkan digital minimalism dalam hidupnya. Konten-konten Marissa tentang digital minimalism sangat menggugah dan membuka sudut pandang saya, terutama terkait penggunaan media digital. Kamu bisa menemukan konten-kontennya di Channel YouTube, website, dan platform lainnya. Selain itu, saya juga terinspirasi dari komunitas @lyfewithless di Instagram, sebuah komunitas hidup minimalis yang aktif mengkampanyekan gaya hidup minimalisme, termasuk praktik digital minimalism. Dari sana, saya mengenal beberapa orang yang sama-sama tertarik belajar dan menjalani gaya hidup minimalis seperti saya.
Kalau bicara soal buku, sebenarnya saya belum banyak membaca buku best seller tentang digital minimalism seperti karya Cal Newport. Namun, salah satu buku yang sangat berkesan bagi saya adalah buku filsafat berjudul Memaknai Digitalitas karya Reza A.A Wattimena. Meski buku ini tidak terlalu terkenal, buku ini memberikan pemikiran-pemikiran kritis tentang bagaimana kita harus menghadapi digitalisasi, menempatkan diri di dalamnya, dan mencari keseimbangan antara dunia nyata dan dunia digital. Intinya, buku ini mengajak saya untuk terus mengembangkan kesadaran dalam menjalani hidup di era digital. Buku ini juga bisa diakses dengan mudah melalui aplikasi Ipusnas.
Bicara tentang hubungan antara perempuan, teknologi, dan kesehatan mental di masa kini. Saya melihat bahwa perempuan hari ini hidup dalam tekanan yang cukup kompleks. Di satu sisi, teknologi membuka banyak peluang untuk belajar, bekerja, berkarya, dan bersuara untuk perempuan. Tapi di sisi lain, arus informasi dan ekspektasi yang terus-menerus muncul lewat media sosial sering kali membuat perempuan merasa tidak cukup.
Banyak perempuan sering kali merasa tidak cukup pintar, tidak cukup produktif, tidak cukup cantik, tidak cukup “berhasil”. Saya percaya teknologi bisa menjadi alat pemberdayaan bagi perempuan, namun jika tidak disikapi dengan sadar, teknologi juga bisa menjadi sumber tekanan. Terutama bagi perempuan yang terbiasa menempatkan kebutuhan orang lain di atas dirinya sendiri. Terkoneksi terus-menerus bisa membuatnya kehilangan energi dan ruang pribadi yang aman.
Menurut saya, inilah alasan mengapa penting bagi perempuan untuk mulai membangun relasi yang lebih sehat dengan teknologi. Bukan dengan menolaknya, tapi dengan menggunakan teknologi secara sadar, memilih mana yang benar-benar penting, dan berani mengambil jeda saat dibutuhkan. Bagi saya, perempuan yang bisa menjaga batasannya di dunia digital adalah perempuan yang lebih mampu menjaga kesehatannya, baik fisik, emosional, maupun mental. Dan ini adalah bentuk keberdayaan yang tidak kalah penting dari pencapaian lainnya dalam hidup.
Harapan saya, semoga perempuan dapat semakin menyadari pentingnya menciptakan budaya digital yang sehat. Saya ingin perempuan punya keberanian untuk menetapkan batasan yang melindungi kesehatan mental, energi dan diri mereka secara utuh, tanpa merasa bersalah ketika melakukannya. Dengan demikian, kita bisa menjadikan teknologi tidak hanya sekedar alat bantu, tapi juga sumber kekuatan dan kesejahteraan.
Saya percaya, ketika perempuan mampu mengelola hubungan mereka dengan dunia digital secara bijak, hal itu akan membawa perubahan positif tidak hanya bagi diri sendiri, tapi juga bagi keluarga dan komunitas di sekitarnya. Terakhir, semoga semakin banyak perempuan yang merasa diberdayakan untuk menciptakan ruang digital yang sehat dan bermakna, bagi dirinya, bagi kita semua.
Penulis: Ihmatul Hidayah, tinggal di Aceh dan dapat dikontak via akun instagram: Ihmatul_hdyh.
Melanjutkan program bulanan diskusi Podcast RUMPITA, Rumpi Bersama Ruanita, dimaksudkan untuk memperingati Hari Pendidikan Nasional di Indonesia. Podcast pada episode ini dipandu oleh Anna yang tinggal di Jerman dan Dianita yang tinggal di India. Selain menjadi relawan Ruanita, Dianita juga pengajar di sebuah TK (Taman Kanak-kanak) di India.
Sementara informan yang diundang dalam episode ini adalah seorang dosen, podcaster, sekaligus kandidat PhD di University of Vienna, Austria. Sebagai informasi, rekaman dilakukan pada saat informan masih menyelesaikan studi PhD di Wina, Austria. Beliau adalah Adityo Darmawan Sudagung, yang juga dosen tetap di Universitas Tanjungpura, Pontianak.Dalam wawancara ini, Adityo berbagi pandangan terkait kondisi dosen di Indonesia. Menurutnya, masih ada jurang ketimpangan kesejahteraan antara dosen senior dan dosen yang baru memulai karier.
Meskipun masyarakat sering beranggapan dosen adalah profesi yang mapan, kenyataannya tidak sedikit yang masih berjuang, bahkan harus mencari pekerjaan sampingan untuk memenuhi kebutuhan. “Image dosen itu kaya, tapi faktanya banyak yang belum sejahtera,” ungkapnya.
Isu ini semakin ramai sejak munculnya tagar #JanganJadiDosen pada Februari 2024, yang membuka realitas gaji dan beban kerja dosen di media sosial. Menurut Adityo, tagar tersebut sebenarnya bukan hanya peringatan, melainkan juga bentuk kritik sosial agar pemerintah lebih serius memperhatikan kesejahteraan tenaga pengajar. Selain kesejahteraan, Adityo menekankan bahwa manajemen waktu adalah tantangan utama seorang dosen. Mengajar bukan hanya soal masuk kelas, tetapi juga menyiapkan materi, memberi tugas, memeriksa hasil kerja mahasiswa, membimbing skripsi, menulis penelitian, melakukan pengabdian masyarakat, hingga menyelesaikan tumpukan administrasi.
“Kalau restoran ada yang buka 24 jam, dosen mungkin lebih dari itu,” ujarnya sambil tertawa kecil.
Dari sisi lain, Dianita yang saat ini menjadi guru TK di India juga membagikan pengalamannya. Meski berbeda jenjang pendidikan, ia merasakan kesamaan: tugas administrasi yang menyita banyak waktu di luar jam mengajar.
“Kadang bisa 2 jam sendiri hanya untuk persiapan dan ambil materi ke head office,” ceritanya.
Di India, ada standarisasi tertentu untuk guru, tetapi masalah gaji tetap menjadi isu klasik. Hal ini membuat kita melihat benang merah bahwa baik dosen maupun guru, sama-sama menghadapi tantangan kesejahteraan dan beban kerja administratif yang tinggi. Diskusi semakin menarik ketika menyentuh isu besar: bagaimana komitmen pemerintah dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045 melalui pendidikan.
Menurut Adityo, meskipun Indonesia sudah mengalokasikan 20% anggaran pendidikan, pemerataan kesejahteraan guru dan dosen masih jauh dari maksimal. Selain itu, ketimpangan fasilitas pendidikan di daerah-daerah juga sangat terasa, terlebih saat pandemi.
“Bayangkan, ada sekolah yang siswanya kelas 3 tapi belum bisa baca tulis karena selama pandemi hanya diberi tugas tanpa interaksi belajar mengajar,” tuturnya.
Meski berat, baik Adityo maupun Dianita sepakat bahwa passion menjadi bahan bakar utama mereka untuk tetap mengajar. Namun, mereka berharap passion tersebut tidak lagi dijadikan alasan untuk menutup mata terhadap isu kesejahteraan tenaga pendidik. Seperti yang ditekankan Adityo, “Kalau benar-benar ingin pendidikan Indonesia maju, jangan ada yang tertinggal. Bukan hanya soal gaji, tapi juga dukungan fasilitas, literatur, dan akses yang adil untuk semua pengajar.”
Episode kali ini menjadi refleksi penting di Hari Pendidikan Nasional. Diskusi bersama Adityo dan Dianita menunjukkan bahwa perjuangan guru dan dosen masih panjang. Namun, dengan semangat, advokasi, dan kesadaran bersama, semoga dunia pendidikan di Indonesia bisa menjadi lebih baik. Simak selengkapnya diskusi podcast RUMPITA berikut di kanal Spotify dan pastikan untuk FOLLOW ya!
Singapura, Mei 2026 — Dalam rangka memperingati Hari Buruh Sedunia, Ruanita Indonesia dan komunitas FPMI di Singapura menyelenggarakan kegiatan Workshop Daring Menulis bertajuk “From Zero to Hero: Bersuara Lewat Tulisan untuk Pekerja Migran Indonesia (PMI) Perempuan”. Kegiatan ini dilaksanakan pada Minggu, 3, 10, dan 17 Mei 2026 secara daring melalui platform Zoom Meeting.
Workshop ini bertujuan untuk menyediakan ruang aman dan produktif bagi PMI perempuan untuk mendokumentasikan pengalaman hidup mereka di perantauan melalui tulisan, sekaligus memperkuat kapasitas literasi sebagai bagian dari upaya advokasi dan produksi pengetahuan berbasis pengalaman.
Kegiatan ini mendapat dukungan dari Kedutaan Besar Republik Indonesia di Singapura, yang dihadiri oleh Maradona A Runtukahu, Koordinator Protokol dan Kekonsuleran, dan Komnas Perempuan sebagai lembaga nasional yang fokus pada perlindungan perempuan.
Dalam sesi pembukaan, perwakilan KBRI Singapura menyampaikan pentingnya peningkatan kapasitas dan ruang ekspresi bagi PMI, khususnya perempuan, sebagai bagian dari upaya penguatan perlindungan dan pemberdayaan. KBRI Singapura juga menegaskan komitmennya untuk terus mendukung program-program yang memberikan dampak langsung bagi kesejahteraan dan perlindungan pekerja migran Indonesia di Singapura.
Sementara itu, Komnas Perempuan, yang diwakili oleh Komisioner Devi Rahayu, menyoroti pentingnya perspektif perlindungan berbasis gender dalam konteks migrasi tenaga kerja. Dalam paparannya, Komnas Perempuan menekankan bahwa pengalaman perempuan migran tidak hanya terkait aspek ekonomi, tetapi juga mencakup isu kerentanan, kekerasan berbasis gender, serta pentingnya akses terhadap keadilan dan perlindungan yang komprehensif.
Workshop ini menghadirkan pemateri pertama Dr. Nor Ismah, PostDoctoral Fellow di Asian Research Institute National University of Singapore (NUS) yang memberikan pelatihan teknis menulis dan storytelling berbasis pengalaman. Pemateri kedua adalah Anna Knöbl, PhD Student di Universität Passau, Germany yang menyampaikan pentingnya narasi dalam mendokumentasikan pengalaman hidup.
Melalui rangkaian workshop selama 3 kali pertemuan, peserta tidak hanya belajar menulis, tetapi juga akan mendapatkan pendampingan (mentoring) hingga menghasilkan karya tulisan yang akan dihimpun dalam sebuah buku bersama sebagai output akhir kegiatan. Program ini juga membuka ruang jejaring (networking) antar PMI perempuan, serta memberikan sertifikat elektronik bagi peserta.
Selain itu, kegiatan dimoderasi oleh Dewi Lubis, PMI di Singapura dan Founder komunitas penulis migran. Acara ini juga menghadirkan sesi diskusi, refleksi, dan mentoring penulisan yang diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam membangun komunitas penulis PMI perempuan, sekaligus memperkuat suara dan narasi perempuan migran Indonesia di ruang publik.
Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan nama saya Ocha Femmerling. Saya seorang istri dan ibu dari tiga anak. Empat tahun lalu, hidup saya dan keluarga berubah ketika kami pindah ke Dubai, Uni Emirat Arab. Keputusan itu datang karena suami mendapat kesempatan kerja di sana, dan saya ikut bersama anak-anak.
Sejujurnya, Dubai sudah lama menjadi salah satu impian kami. Sebelum benar-benar menetap, saya sering mendengar cerita tentang kota ini, seperti: gedung pencakar langit yang megah, kehidupan multikultural, juga keamanan yang terkenal baik. Ketika kesempatan itu datang, saya merasa senang sekaligus bersyukur. Rasanya seperti pintu menuju pengalaman baru terbuka lebar bagi kami sekeluarga.
Tentu saja, pindah negara bukan hanya soal berpindah alamat. Ada proses panjang yang harus dijalani: meninggalkan kenyamanan di tanah air, belajar menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, hingga menemukan ritme kehidupan yang sesuai.
Tahun kepindahan kami ke Dubai bertepatan dengan masa pandemi COVID-19. Bisa dibayangkan betapa penuh tantangan dan rasa cemasnya saat itu. Banyak pertanyaan yang muncul: bagaimana kondisi di negara tujuan, bagaimana sistem kesehatannya, dan apakah aman membawa anak-anak di situasi global yang tidak pasti?
Tapi begitu tiba di Dubai, rasa khawatir itu berangsur berkurang. Pemerintah di sana sigap mengatur penanganan pandemi. Sistem kesehatan berjalan rapi, protokol jelas, dan sebagai pendatang saya merasa terlindungi. Hal itu membuat proses adaptasi kami lebih ringan. Tidak ada rasa takut berlebihan, justru tumbuh keyakinan bahwa kami bisa membangun kehidupan baru di kota ini.
Kalau bicara adaptasi, hal paling terasa tentu soal cuaca. Kami tiba di Dubai tepat pada musim panas. Saya yang terbiasa dengan suhu di Indonesia sekitar 20–30an derajat Celsius bisa membuat kulit terbakar dan keringat bercucuran.
Rasanya keluar rumah sebentar saja bisa membuat keringat mengucur deras. Anak-anak juga butuh waktu untuk terbiasa. Untungnya, hampir semua fasilitas di Dubai didukung sistem pendingin ruangan yang sangat baik, mulai dari rumah, transportasi umum, hingga pusat perbelanjaan. Meski panas ekstrem di luar, ada keseimbangan yang membuat kami tetap bisa beraktivitas dengan nyaman.
Seiring waktu, tubuh pun belajar beradaptasi. Saya jadi tahu kapan waktu yang tepat untuk keluar rumah, bagaimana menyiapkan kebutuhan anak-anak, hingga cara menjaga kesehatan keluarga di tengah suhu ekstrem.
Banyak orang bertanya apakah kami mengalami culture shock saat tinggal di Dubai. Jawaban saya: tidak. Justru saya dan keluarga menikmati proses mengenal budaya baru.
Dubai itu unik. Meski bagian dari Uni Emirat Arab dengan budaya Arab yang kental, kota ini juga menjadi rumah bagi banyak ekspatriat dari berbagai negara. Hasilnya, terbentuklah lingkungan multikultural yang menarik.
Bahasa Inggris menjadi bahasa umum yang dipakai sehari-hari. Kami tidak merasa kesulitan berkomunikasi. Anak-anak di sekolah pun belajar berinteraksi dengan teman-teman dari berbagai bangsa, bahkan mendapat pelajaran bahasa tambahan yang memperkaya wawasan mereka.
Dari segi budaya lokal, saya merasa aturan-aturan yang ada cukup mudah dipahami. Misalnya pemisahan ruang publik antara laki-laki dan perempuan di beberapa tempat, seperti rumah sakit, ruang tunggu, atau toilet umum. Semua itu justru memberi rasa aman, terutama bagi perempuan.
Bagi saya, Dubai adalah contoh bagaimana sebuah kota bisa merangkul keberagaman, sambil tetap menjaga identitas budayanya sendiri.
Keseharian saya di Dubai berputar di sekitar keluarga. Sebagai ibu, sebagian besar waktu saya tersita untuk mengurus anak-anak, mendampingi mereka sekolah, sekaligus memastikan kebutuhan rumah tangga berjalan lancar.
Namun saya juga belajar menyeimbangkan peran sebagai ibu rumah tangga dengan kebutuhan bersosialisasi. Sesekali saya keluar bersama teman-teman, baik dari komunitas Indonesia maupun kenalan dari negara lain. Aktivitas ini penting untuk menjaga kesehatan mental, apalagi ketika tinggal jauh dari tanah air.
Dari segi kualitas hidup, saya merasakan banyak hal positif. Dubai menawarkan standar pendidikan yang baik untuk anak-anak, akses gizi dan kesehatan yang memadai, serta lingkungan multikultural yang kaya pengalaman. Rasanya anak-anak saya mendapat kesempatan berharga untuk tumbuh di kota dengan dinamika budaya seperti ini.
Berbicara soal transportasi umum di Dubai menurut saya sudah sangat baik. Ada banyak pilihan seperti metro, bus, taksi. Taksi di Dubai menggunakan mobil-mobil mewah seperti Tesla, Lexus, Mercy, dll bahkan mobil patroli polisi pun menggunakan Lamborghini dan Ferrari. Saat ini pemerintah Dubai sedang uji coba taxi drone sebagai alat transportasi baru untuk masa depan. Hal ini dilakukan mengingat slogan “Habibi Come To Dubai”. Oh ya, di Dubai ada transportasi pakai taksi perahu (water taxi) juga loh.
Setelah dua tahun tinggal di Dubai, saya mulai aktif bergabung dengan berbagai komunitas. Ada DWP KJRI Dubai, pengajian, Indonesia Ladies Badminton (ILB), komunitas bowling, hingga arisan.
Bergabung dengan komunitas memberi saya dua hal penting. Pertama, kesempatan untuk networking, mengenal lebih banyak orang, dan saling mendukung sesama perantau. Kedua, komunitas menjadi cara untuk tetap terhubung dengan budaya Indonesia. Melalui kegiatan bersama, rasa rindu tanah air sedikit terobati.
Kegiatan ini juga memperlihatkan betapa eratnya solidaritas di antara perempuan Indonesia di luar negeri. Kami saling mendukung, saling mengingatkan, dan bersama-sama menjaga identitas sebagai orang Indonesia.
Meski sudah menetap lama di Dubai, saya tetap menjaga hubungan dengan keluarga dan teman di Indonesia. Teknologi memudahkan semua itu. Lewat videocall, voicecall, WhatsApp group, atau interaksi di media sosial, jarak ribuan kilometer terasa lebih dekat.
Bagi saya, koneksi ini penting bukan hanya untuk menjaga hubungan kekeluargaan, tetapi juga sebagai pengingat bahwa identitas saya tetap berakar di tanah air.
Salah satu hal yang paling saya rasakan di Dubai adalah perlindungan terhadap perempuan. Prinsip ladies first benar-benar diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Di sini ada banyak fasilitas khusus perempuan: taksi khusus, antrian khusus, bahkan ruang tunggu terpisah. Perempuan juga bisa menolak berada di lift sendirian bersama lawan jenis. Bahkan berjalan sendirian di tengah malam pun terasa aman. Jika ada gangguan, laporan ke polisi akan langsung ditangani dengan cepat.
Hal ini membuat saya sebagai perempuan Indonesia merasa nyaman. Tidak ada rasa takut, tidak ada keterbatasan yang menghalangi aktivitas. Lingkungan Dubai sangat ramah bagi pendatang, sehingga saya merasa diterima dengan baik.
Ada pepatah yang selalu saya pegang: “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.” Hidup di luar negeri berarti belajar menyesuaikan diri dengan aturan dan budaya setempat.
Misal penduduk Indonesia di Dubai dan Emirate Utara ada sekitar 80rb-an orang. Disini jika kami kangen dengan masakan Indonesia ada beberapa restoran Indo yang bisa menjadi pilihan seperti Dapoer Kita, Little Bali, Betawi Resto, Bandung Resto dll.
Saya percaya, kita tetap harus membawa identitas sebagai orang Indonesia, tapi dengan cara yang selaras dengan budaya lokal. Jangan sampai kita menentang aturan negara yang kita tinggali. Sebaliknya, kita harus menunjukkan sikap baik, karena setiap tindakan kita akan dilihat sebagai cerminan bangsa.
Hal lain yang penting dipersiapkan sebelum tinggal di Dubai adalah ketahanan menghadapi cuaca ekstrim. Dari panas terik musim panas hingga dingin musim dingin, perbedaan suhu bisa sangat tajam. Selain itu, kita harus terbiasa mengikuti peraturan setempat, sekecil apapun itu.
Bagi keluarga kami, Dubai bukan hanya persinggahan sementara. Kami berencana tinggal di sini dalam jangka panjang. Selain karena pekerjaan suami, kami juga ingin anak-anak mendapat pendidikan terbaik untuk masa depan mereka.
Saya bisa menggambarkan Dubai dalam tiga kata: aman, nyaman, menyenangkan. Ketiga hal itu sudah cukup untuk membuat kami merasa betah dan ingin terus melanjutkan kehidupan di sini.
Bagi saya, menjadi perempuan Indonesia di Dubai adalah pengalaman berharga. Saya belajar banyak hal tentang adaptasi, menghargai perbedaan, dan menjaga identitas bangsa di tengah lingkungan multikultural.
Pesan saya untuk perempuan Indonesia di manapun berada: tetaplah menjunjung tinggi nilai-nilai luhur budaya kita. Di mana pun kita tinggal, identitas itu akan selalu menjadi bagian dari kita.
Penulis: Ocha Femmerling, yang tinggal di Dubai UEA dan dapat dikontak via IG: @oca_ozi.
Setiap 3 Mei, dunia memperingati World Freedom Press Day sebagai bentuk kesadaran akan pentingnya berekspresi dan berpendapat sebagai bagian dari hak asasi manusia. Sejalan dengan hal tersebut, Ruanita Indonesia mengundang sahabat Ruanita yang tinggal di Belgia dan banyak bergelut dalam dunia komunikasi dan jurnalistik.
Dia adalah Asmayani Kusrini, seorang pekerja profesional yang kini menetap di Belgia. Menurutnya, dunia digital telah memberikan ruang yang sangat luas dan inklusif bagi perempuan untuk menyuarakan ide, termasuk melalui apa yang sudah dilakukan oleh Ruanita Indonesia.
Kehadiran platforma digital telah memperkaya perspektif dan pengalaman dari berbagai sudut pandang, yang tentunya bisa membantu perempuan juga tidak hanya sebagai penikmat saja tetapi juga pencipta narasi, yang tentunya juga bisa dari perspektif perempuan itu sendiri.
Dalam konteks global, Rini, begitu akrab disapa, menyadari diperlukan jembatan lintas budaya yang dapat mengangkat isu-isu kesetaraan gender, identitas manusia, dan hal-hal lainnya yang tentunya bisa tampil berbeda dari media anti mainstreaming.
Kehadiran digitalisasi juga mempermudah kolaborasi lintas negara dan lintas komunitas seperti yang dilakukan Ruanita Indonesia. Kembali lagi, Rini menekankan untuk tetap kritis dan bijak dalam memanfaatkan media digital, sehingga tidak hanya terkesan reaktif, tapi juga konstruktif.
Bagaimana pun kehadiran perempuan di manapun itu sangat penting untuk memperkaya perspektif, terutama dalam menantang dominasi narasi tunggal laki-laki. Menurut Rini, semakin banyak perempuan yang bersuara, semakin kuat juga posisi kita dalam membentuk budaya keterbukaan.
Meskipun begitu, Rini menyadari bahwa perempuan yang vokal atau mampu menyuarakan perspektif yang kritis, seringkali menjadi sasaran ujaran kebencian, doxing, pelecehan malah di ruang digital. Di tengah dunia kreativitas sekarang, kita sebaiknya harus bertanggung jawab dengan apa yang disuarakan.
Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan tayangan video berdurasi sekitar 10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube Ruanita Rumah Aman Kita dan dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebagai ruang aman berbagi cerita inspiratif perempuan Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Program ini mengangkat pengalaman nyata, perjuangan, serta refleksi para perempuan dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mendorong promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Digagas oleh Anna Knöbl di Jerman, CSS menjadi wadah yang memperkuat suara perempuan, membangun solidaritas, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keadilan serta kesempatan yang setara bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan.
Terkait dengan Hari Kebebasan Pers Sedunia dan sebagai orang yang pernah bekerja sebagai jurnalis, apa pesan Rini? Simak selengkapnya di Kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.
Hannover, 26 April – Di balik layar-layar laptop yang menyala pada Minggu pagi, 26 April 2026, puluhan peserta dari berbagai latar belakang berkumpul dalam satu ruang virtual. Bukan sekadar untuk belajar, tetapi untuk berhenti sejenak. Ini adalah sesuatu yang selama ini terasa sulit dilakukan. Melalui program knowledge sharing yang diinisiasi oleh Ruanita Indonesia, sesi bertajuk “Lelah Tapi Nggak Bisa Berhenti” menjadi ruang refleksi yang hangat sekaligus membuka mata.
Selama dua jam di Zoom, peserta diajak menyelami satu pertanyaan sederhana namun sering diabaikan: kenapa kita tetap berjalan, bahkan saat sudah sangat lelah? Sinyal bahwa ada kebutuhan yang belum terpenuhi. Sinyal bahwa ada batas yang mungkin sudah lama terlewati.
Bagi banyak orang, lelah bukan sekadar kondisi fisik. Kelelahan hadir sebagai akumulasi dari peran yang terus bertambah, sebagai pekerja, anak, pasangan, teman, sekaligus individu dengan mimpi pribadi. Namun alih-alih berhenti, banyak justru terus melangkah.
Dalam sesi ini, Bayu Prihandito mengajak peserta melihat lelah dari sudut pandang berbeda. “Lelah bukan kelemahan,” ujarnya, “melainkan sinyal.”
Diskusi kemudian mengalir ke pola-pola internal yang sering kali tidak terlihat, tetapi sangat memengaruhi perilaku sehari-hari. Mulai dari kebiasaan people-pleasing, rasa tidak enak untuk berkata “tidak”, hingga dorongan untuk selalu memberi lebih, bahkan saat diri sendiri kosong.
Beberapa peserta berbagi pengalaman. Ada yang merasa bersalah saat beristirahat, ada pula yang baru menyadari bahwa kelelahan yang dialami bukan semata karena pekerjaan, tetapi karena sulit menetapkan batasan.
Di titik ini, sesi berubah menjadi ruang yang sangat personal. Bukan hanya mendengar, tetapi juga merasa dipahami. Diskusi kemudian mengalir ke pola-pola internal yang sering kali tidak terlihat, tetapi sangat memengaruhi perilaku sehari-hari. Mulai dari kebiasaan people-pleasing, rasa tidak enak untuk berkata “tidak”, hingga dorongan untuk selalu memberi lebih, bahkan saat diri sendiri kosong.
Beberapa peserta berbagi pengalaman. Ada yang merasa bersalah saat beristirahat, ada pula yang baru menyadari bahwa kelelahan yang dialami bukan semata karena pekerjaan, tetapi karena sulit menetapkan batasan. Di titik ini, sesi berubah menjadi ruang yang sangat personal. Bukan hanya mendengar, tetapi juga merasa dipahami.
Peserta juga diperkenalkan pada cara-cara praktis untuk mulai menetapkan batasan. Mulai dari komunikasi asertif hingga mengenali tanda-tanda awal kelelahan emosional sebelum menjadi burnout. Program ini tidak hanya menjadi ruang transfer pengetahuan, tetapi juga ruang aman untuk berbagi. Tawa kecil, anggukan setuju, hingga cerita yang nyaris serupa menciptakan rasa kebersamaan yang kuat.
Di akhir sesi, banyak peserta tidak hanya membawa pulang pemahaman baru, tetapi juga kesadaran bahwa mereka tidak sendiri.
Sebagai catatan penting, tujuan dari program Knowledge Sharing adalah berbagi pengetahuan, pengalaman, dan praktik baik dari para praktisi kesehatan mental Indonesia di berbagai negara, dengan menghadirkan ruang aman untuk mempromosikan kesehatan mental yang inklusif dan selaras dengan nilai-nilai Indonesia.
Program ini merupakan bagian dari inisiatif Ruanita Indonesia yang didirikan dan dikelola oleh Anna Knöbl di Jerman, sebagai ruang kolektif digital berbasis manajemen nilai, resource sharing, dan intervensi komunitas dalam konteks lintas negara. Inisiatif ini berfungsi sebagai social support system yang memanfaatkan teknologi digital modern sebagai medium interaksi dan pembelajaran.
Halo, sahabat Ruanita! Namaku Dewi Novita Sari Lubis, banyak yang memanggilku Dewi Lubis. Aku lahir di Batam dan aku merantau ke Singapura sebagai pekerja migran, sejak 2019. Sampai hari ini, aku telah bekerja dengan tiga pemberi kerja, dan kini sedang menjalani kontrak kedua di majikan ketiga. Di sela-sela bekerja, aku juga melanjutkan pendidikan jarak jauh di Universitas Terbuka, mengambil Ilmu Hukum. Ini seperti cita-cita masa kecil yang tidak pernah padam, sekaligus misi kemanusiaan yang ingin kujalani seumur hidup.
Bagiku, menjadi pekerja migran bukan hanya tentang bekerja dan mengirim uang ke rumah. Ini tentang bertahan, belajar, dan perlahan memahami bahwa sebagai perempuan, aku juga punya hak atas kehidupan yang layak, bermartabat, dan setara.
Pengalaman menjadi relawan dan pendamping sesama sebenarnya sudah dimulai jauh sebelum aku menginjakkan kaki di Singapura. Saat masih di Malaysia, banyak cerita yang datang kepadaku, mulai dari tetangga, teman kerja, hingga orang asing yang tiba-tiba mengetuk pintu rumah hanya untuk bercerita dan meminta bantuan. Ada yang sekadar ingin didengarkan, sampai ada yang benar-benar terjebak dalam masalah besar.
Salah satu peristiwa paling membekas dalam hidupku adalah saat seorang teman kerja meninggal dunia di Malaysia. Rumah sakit membutuhkan data keluarga korban, sementara kami semua tidak tahu harus menghubungi siapa. Aku yang akhirnya berusaha mencari jejak keluarganya. Prosesnya rumit, melelahkan, dan penuh cerita yang sulit dijelaskan dengan logika. Pada akhirnya, orang tua korban datang ke rumahku. Ada kisah yang ambigu, nyaris seperti cerita horor. Namun, aku percaya bahwa mungkin ini jalan yang Tuhan tentukan agar aku belajar tentang empati, tanggung jawab, dan arti kemanusiaan.
Tak lama setelah itu, aku mendapat kabar duka dari seorang tetangga yang bekerja di Singapura. Kabar itu menjadi titik balik, mendorongku untuk berpindah negara dan memulai hidup baru di sini. Sejak saat itu, tanpa sadar, aku kembali berada di jalur yang sama: mendengarkan, menemani, dan membantu.
Hingga hari ini, sudah puluhan aduan yang kuterima. Tidak dengan aksi besar, tidak dengan suara lantang. Aku membantu lewat cara sederhana seperti: mengadvokasi, membimbing, dan memberi semangat lewat percakapan WhatsApp. Kadang hanya dengan kalimat pendek, tapi penuh makna: “Kamu tidak sendiri.”
Perempuan, Hak, dan Kenyataan di Lapangan
Ketertarikanku pada isu kesetaraan berangkat dari satu keyakinan sederhana: aku perempuan, dan aku berhak hidup layak. Setiap kehidupan patut dihargai dan diperjuangkan. Jika seseorang sudah rela berkorban demi orang lain, entah itu keluarga, anak, orang tua, maka mengapa ia tidak layak mendapatkan penghargaan dan kesempatan yang semestinya?
Sayangnya, kenyataan di lapangan sering kali tidak seindah teori. Banyak ucapan, janji, bahkan aturan tertulis yang tidak berjalan sebagaimana mestinya. Aku tidak ingin melihat penderitaan, apalagi pembatasan hak antara perempuan dan laki-laki, atau diskriminasi berdasarkan status sosial, kasta, atau label apa pun. Bagiku, semua orang setara.
Aku pernah melihat dan mendengar langsung cerita kekerasan, ketidakadilan, dan diskriminasi yang dialami teman-temanku. Hal-hal semacam ini bukan cerita langka. Salah satu yang paling mengejutkanku adalah kisah tentang perbedaan upah berdasarkan gender. Seorang pekerja migran Indonesia (PMI) perempuan menjaga seorang nenek dengan upah 850 dolar Singapura per bulan. Ketika ia pulang dan digantikan oleh pekerja laki-laki, upahnya langsung naik sekitar 250 dolar, dengan alasan “tenaganya lebih kuat untuk mengangkat nenek”.
Aku terkejut. Tapi aku juga sadar, dalam posisi kami sebagai pekerja migran, sering kali tidak banyak yang bisa dilakukan.
Bertahan, Bersyukur, dan Tetap Kritis
Aku bersyukur, di majikan tempatku bekerja saat ini, kondisiku relatif baik. Akses komunikasi terbuka, gaji transparan, makanan layak, dan tempat istirahat memadai. Namun, ada yang sangat berarti bagiku, yakni kesempatan untuk melanjutkan pendidikan. Tentu ada hal-hal kecil yang menurutku seharusnya tidak terjadi, tapi aku belajar menerima satu kenyataan: hidup tidak pernah sempurna.
Bagiku, prinsip give and take penting. Tidak semua keinginan bisa terwujud persis seperti harapan. Selama hak-hak dasar terpenuhi, seperti: gaji cukup, waktu istirahat, kesempatan berkembang, maka aku merasa sudah berada di posisi yang layak. Bisa sekolah dan tetap dekat dengan keluarga saja, menurutku sudah lebih dari cukup.
Namun, bukan berarti aku menutup mata terhadap kerentanan yang dialami banyak PMI lain.
Pendidikan, Skill, dan Daya Tawar
Sebagai pekerja migran, aku melihat salah satu akar utama kerentanan upah adalah minimnya pendidikan, pengetahuan, dan keterampilan. Ini menciptakan perbedaan daya saing yang sangat besar, baik antar-PMI maupun dengan pekerja dari negara lain.
Di Singapura, misalnya, pekerja migran dari Filipina yang memiliki sertifikasi caregiver bisa mendapatkan upah 700 hingga 1.500 dolar Singapura. Sementara banyak PMI baru hanya menerima 550–580 dolar. Perbedaannya terlihat jelas dari kemampuan bahasa Inggris dan cara kerja. Ini bukan soal siapa lebih rajin, tapi soal akses terhadap peningkatan kapasitas.
Status sosial juga sangat memengaruhi. Bahkan di antara sesama orang Indonesia di Singapura, perbedaan itu terasa. Mereka yang sudah lama menetap biasanya punya pekerjaan dan upah lebih baik. Dalam relasi dengan majikan, ada yang sangat manusiawi, tapi ada juga yang terang-terangan berkata, “Kamu helper, aku majikan. Kita tidak sama.”
Kalimat seperti itu mungkin terdengar sederhana, tapi dampaknya seperti menciptakan jarak, rasa kecil, dan ketakutan untuk bersuara.
Intimidasi yang Masih Nyata
Kesenjangan antara pekerja formal dan non-formal masih sangat terasa. Meski sering digaungkan bahwa “semua sama”, di lapangan intimidasi masih terjadi. Ada saudari yang gajinya dipotong karena masakannya dianggap tidak enak, atau karena dituduh tidak rajin. Padahal pemotongan gaji semacam itu tidak dibenarkan oleh aturan Ministry of Manpower Singapura.
Ada juga kasus ketika barang majikan rusak tanpa sebab jelas, tapi pekerja yang disalahkan. Ketidaktahuan hak membuat banyak PMI memilih diam, takut kehilangan pekerjaan.
Hukum, Negara, dan Celah yang Berbahaya
Menurut pengamatanku, Indonesia sebenarnya sudah berupaya memperjuangkan kesetaraan dan perlindungan PMI melalui undang-undang dan kebijakan. KBRI juga banyak membantu menyelesaikan kasus. Singapura sendiri punya regulasi yang kuat. Namun, selalu ada celah yang dimanfaatkan pihak tidak bertanggung jawab, termasuk sindikat perdagangan orang atau sponsor.
Salah satu polemik besar adalah direct hire. Di Singapura, ini legal. Di Indonesia, sering dianggap bermasalah karena data PMI tidak tercatat dengan baik. Akibatnya, muncul masalah seperti potongan gaji tidak transparan, atau PMI yang tidak terlindungi secara administratif.
Aku percaya, solusi hanya bisa dicapai lewat kerja sama bilateral yang jelas, pendataan terintegrasi, dan sosialisasi masif kepada PMI dan majikan.
Dalam keterbatasanku, aku memilih satu hal: memberi keberanian. Ketika teman mengeluh gaji terlambat, aku tidak menyuruh mereka marah. Aku ajak bicara dengan sopan. Misalnya, mengirim pesan sederhana: “Mam, besok tanggal 20 ya gajiannya. Terima kasih.”
Tiga bulan terakhir, aku mendampingi dua saudari yang awalnya sangat takut. Sekarang mereka lebih berani menyampaikan hak setelah menunaikan kewajiban. Hal kecil, tapi berdampak besar.
Aku juga melihat bagaimana posisi tawar perempuan sering dilemahkan oleh relasi personal. Banyak PMI perempuan tertipu bujuk rayu pasangan, yang berujung pemecatan, penipuan, bahkan kekerasan. Ada yang membawa pasangan ke rumah majikan, ada yang diintimidasi pacar. Dari cerita-cerita ini, aku belajar satu hal: fokus pada tujuan. Bekerja, mencari nafkah, dan pulang dengan selamat.
Keterbatasan bahasa, skill, dan kepekaan terhadap lingkungan membuat perempuan semakin rentan. Karena itu, strategi terpenting adalah terus belajar.
Pesan untuk Perempuan Pekerja Migran
Aku percaya, perempuan harus terus meningkatkan pengetahuan dan keterampilan. Jangan takut bermimpi lebih tinggi. Kita tidak harus selamanya berada di posisi yang sama. Jika skill meningkat, beranilah melangkah ke posisi yang lebih baik. Jangan terjebak zona nyaman.
Kesetaraan bukan soal menuntut kuasa. Ini tentang hak untuk bahagia, aman, dan dihargai.
Untuk seluruh Perempuan Indonesia Pekerja Migran di Singapura dan di mana pun berada: kalian hebat. Jalan kita tidak selalu lurus dan mulus. Tapi setiap tetes keringat adalah bukti cinta dan pengorbanan. Kalian pantas bahagia. Kejar mimpi kalian. Jangan takut belajar, jangan takut berubah. Masa lalu adalah pelajaran, dan masa depan masih bisa diperjuangkan.
Kalian bukan hanya pahlawan devisa. Kalian adalah perempuan tangguh yang layak hidup setara dan bermartabat.
Penulis: Dewi Lubis, Pekerja Migran di Singapura, Penulis, Mahasiswa Hukum di UT, Founder Komunitas FPMI-SG (Forum Penulis Migran Indonesia Singapura), Tim Relawan Advokasi SBMI DPLN Singapura, serta Relawan Ruanita di Singapura. Dewi dapat dikontak via akun instagram dewi_lubis1.
Melanjutkan program bulanan Diskusi IG LIVE, Ruanita Indonesia di bulan April 2026 hadir dengan tema parenting. Di balik unggahan manis seorang ibu bersama bayinya di luar negeri, ada kisah-kisah yang tak selalu terlihat. Ada rasa syukur, haru, lelah, bingung, bahkan kesepian yang datang bersamaan. Menjadi ibu baru saja sudah menghadirkan perubahan besar, apalagi jika dijalani jauh dari kampung halaman, keluarga, dan budaya yang selama ini menjadi tempat bersandar.
Dalam diskusi Instagram Live Program Bulanan Ruanita Indonesia, topik “New Mom Abroad” menjadi ruang berbagi yang hangat sekaligus reflektif. Bersama dua narasumber inspiratif, antara lain: Ranindra, seorang psikolog sekaligus co-founder Kesmenesia yang tinggal di Prancis. Didampingi Dina, fashion director & stylist sekaligus ibu muda di Amerika Serikat. Diskusi ini menyingkap realitas menjadi ibu baru di negeri orang.
Bagi Dina, perjalanan menjadi ibu di luar negeri dimulai pada masa pandemi COVID-19. Kehamilan yang seharusnya menjadi kabar bahagia justru dibayangi stres administratif dan ketidakpastian sistem kesehatan. Ia mengisahkan bagaimana kebingungan soal asuransi membuat dirinya harus berhadapan dengan proses birokrasi yang melelahkan. Ketidaktahuan terhadap sistem setempat bahkan sempat membuat kunjungannya ke fasilitas kesehatan disalahartikan sebagai permintaan layanan aborsi.
Di tengah situasi pandemi, setiap pemeriksaan kehamilan menjadi sumber kecemasan tersendiri. Namun tantangan terbesar datang saat persalinan. Rencana melahirkan normal berubah drastis menjadi operasi caesar darurat. Kehabisan banyak darah, harus menjalani transfusi, dan terpisah sehari penuh dari sang bayi yang masuk NICU menjadi pengalaman yang begitu membekas.
“Waktu itu rasanya benar-benar seperti di ambang hidup dan mati,” ungkapnya.
Di tengah kondisi fisik dan mental yang rapuh, Dina juga menghadapi tekanan sosial yang datang tanpa empati. Salah satunya ketika seorang sesama orang Indonesia di luar negeri yang justru menghakimi keputusannya memberi susu formula. Komentar semacam itu menjadi contoh nyata bagaimana seorang ibu baru sering kali harus menghadapi ekspektasi dan penilaian, bahkan dari orang yang tak mengetahui perjuangan di balik keputusannya.
Ranindra menyoroti bahwa kesehatan mental ibu baru sering kali mulai terguncang sejak proses persalinan itu sendiri. Banyak perempuan datang ke ruang bersalin dengan harapan tertentu: ingin melahirkan normal, ingin suasana yang tenang, ingin pengalaman yang sesuai impian. Namun realitas tak selalu berjalan seperti rencana.
Ketika proses persalinan berubah mendadak karena alasan medis, ibu harus menghadapi rasa kehilangan atas ekspektasi yang telah dibangun. Menurut Ranindra, ini adalah bentuk grief, yakni duka atas pengalaman yang tidak sesuai harapan yang sering kali tidak disadari.
Di sisi lain, perubahan hormon pasca melahirkan, terutama penurunan estrogen, turut berperan dalam munculnya baby blues. Emosi menjadi naik turun, tubuh kelelahan, dan tekanan tanggung jawab baru datang bersamaan. Sayangnya, kondisi ini sering diremehkan dengan kalimat seperti, “Yang penting ibu dan anak sehat.” Padahal, seperti ditegaskan Ranindra, kesehatan anak berawal dari kesehatan ibunya.
Menjadi ibu baru di luar negeri menambah lapisan tantangan yang unik. Di banyak negara Barat, budaya individualisme sangat kuat. Tidak ada keluarga besar yang siap membantu, tidak ada asisten rumah tangga, dan tidak ada tradisi “diurus” pasca melahirkan seperti yang umum di Indonesia.
Seorang ibu harus mengurus bayi, membersihkan rumah, memasak, hingga menyesuaikan diri dengan ritme hidup baru, sering kali hanya bersama pasangan. Selain itu, perbedaan budaya dalam membesarkan anak juga menjadi tantangan besar.
Di negara-negara Barat, kemandirian anak didorong sejak sangat dini: tidur di kamar sendiri, makan sendiri, hingga dibiasakan menyampaikan pendapat secara langsung. Sementara banyak ibu Indonesia tumbuh dengan nilai kebersamaan, kelekatan, dan pola asuh yang lebih penuh sentuhan. Perbedaan ini kerap memunculkan kebingungan, bahkan konflik kecil dalam keluarga multikultural. Bagi Ranindra, tantangan terbesarnya justru ada pada bagaimana mempertahankan nilai-nilai yang diyakini, sambil tetap terbuka terhadap sistem baru.
“Bukan berarti budaya mereka salah. Tapi saya perlu menjelaskan kenapa saya memilih cara yang sesuai dengan nilai yang saya kenal,” ujarnya.
Saat ditanya tentang cara bertahan, keduanya menekankan pentingnya support system. Bagi Ranindra, satu orang yang benar-benar memahami, terutama pasangan, sudah menjadi penopang besar. Tidak perlu banyak orang, tetapi perlu seseorang yang bisa menjadi tempat bersandar. Dina sendiri merasa beruntung memiliki pasangan yang suportif dan penuh humor, yang membuat masa-masa awal menjadi ibu terasa lebih ringan.
Menjadi ibu baru di negeri orang bukan sekadar soal merawat bayi. Ini adalah perjalanan mengenali diri, menerima ketidaksempurnaan, dan menemukan cara baru untuk merasa utuh. Ada hari-hari penuh tawa, ada malam-malam penuh tangis. Ada rasa bangga, tapi juga rindu. Ada cinta yang besar, namun juga kelelahan yang tak terucap.
Namun dari semua itu, para ibu belajar satu hal penting: rumah tidak selalu berarti tempat. Kadang, rumah adalah rasa aman yang dibangun dalam diri sendiri. Dan bagi para new mom abroad, perjalanan ini bukan hanya tentang membesarkan anak tetapi juga tentang bertumbuh menjadi versi diri yang lebih kuat, lebih lembut, dan lebih berani. Karena pada akhirnya, setiap ibu sedang belajar. Dan itu sudah lebih dari cukup.
Simak selengkapnya rekaman program diskusi IG LIVE berikut ini di kanal YouTube Ruanita – Rumah Aman Kita dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.
Dhaka, 21 April – Dalam rangka memperingati Hari Kartini, diskusi daring bertajuk “Peran Perempuan pada Masa Kartini Modern: Menginspirasi Perempuan untuk Berkarya dan Berdaya” telah diselenggarakan pada Selasa (21/4/2026).
Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara Yayasan Ruanita Perempuan Indonesia dan KBRI Dhaka, serta didukung oleh Dharma Wanita Persatuan (DWP) KBRI Dhaka. Acara dilaksanakan secara daring melalui Zoom dan diikuti oleh peserta dari berbagai negara.
Acara resmi dimoderasi oleh Pelaksana Fungsi Sosial dan Budaya KBRI Dhaka, Sahid Nurkarim, yang memberikan salam pembuka dan menyampaikan tujuan kegiatan serta pentingnya peran perempuan dalam berbagai sektor, termasuk diplomasi budaya.
Sambutan kehormatan disampaikan oleh Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Bangladesh dan Nepal, Y.M. Ibu Listyowati. Dalam sambutannya, ia menegaskan komitmen KBRI Dhaka dalam mendukung peran perempuan sebagai bagian dari diplomasi budaya Indonesia di kawasan Bangladesh dan Nepal.
Pengantar diskusi disampaikan oleh Ketua Dharma Wanita Persatuan KBRI Dhaka, Verra Fastriana, yang menyoroti kontribusi aktif DWP dalam berbagai kegiatan diplomasi budaya, khususnya yang melibatkan perempuan Indonesia di luar negeri.
Diskusi kemudian menghadirkan sejumlah narasumber dari kalangan akademisi dan praktisi. Dosen Hubungan Internasional Universitas Sriwijaya, Maudy Noor Fadhlia, memaparkan peran perempuan dalam diplomasi budaya dari perspektif akademik, termasuk analisis kritis mengenai posisi perempuan dalam hubungan internasional.
Sementara itu, Ari Nursenja, pendiri Rumah BIPA Bandung sekaligus relawan Ruanita dan mahasiswa doktoral di Finlandia, membagikan pengalaman mengenai peran komunitas dan organisasi dalam memperkuat diplomasi berbasis perempuan.
Dari lapangan, dua relawan Ruanita turut berbagi pengalaman langsung. Risti Putri yang berdomisili di Nepal dan Eliawati di Bangladesh memaparkan praktik nyata keterlibatan perempuan dalam kegiatan sosial dan budaya yang berdampak pada penguatan hubungan masyarakat Indonesia dengan komunitas lokal.
Kegiatan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang dipandu oleh Sahid Nurkarim. Peserta aktif mengajukan pertanyaan yang kemudian dijawab oleh para narasumber, mencerminkan tingginya antusiasme terhadap isu pemberdayaan perempuan di ranah global.
Acara ditutup dengan kesimpulan yang menegaskan bahwa perempuan memiliki peran strategis dalam membangun diplomasi budaya, tidak hanya melalui institusi formal, tetapi juga melalui komunitas dan inisiatif individu. Melalui kegiatan ini, diharapkan semangat Kartini terus hidup dalam bentuk nyata, yakni perempuan yang berdaya, berkarya, dan mampu memberikan kontribusi positif di tingkat nasional maupun internasional.
Jakarta, April 2026 – Ruanita Indonesia bersama Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Amerop telah menyelenggarakan workshop online bertajuk “The Forgotten Banda Neira: Women, Gender, Inclusivity & Social Justice in Island Community” pada Sabtu–Minggu, 18–19 April 2026 melalui platform Zoom.
Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian persiapan program pengabdian masyarakat ke Banda Neira, dengan fokus pada penguatan perspektif etika, kesadaran gender, serta keadilan sosial bagi peserta yang berasal dari berbagai negara studi.
Workshop difasilitasi oleh Fransisca Ariantiningsih, PhD student di Amerika Serikat dan aktivis lingkungan hidup; Zakiyatul Mufidah, PhD student di Inggris sekaligus dosen di Indonesia; serta fasilitator Ferdyani Atikaputri dan Anna Knöbl.
Selama dua hari pelaksanaan, workshop menghadirkan ruang diskusi yang mendorong peserta untuk memahami Banda Neira tidak hanya sebagai lokasi geografis atau destinasi sejarah, tetapi sebagai komunitas dengan kompleksitas sosial yang dipengaruhi oleh warisan kolonial, dinamika ekonomi, serta relasi gender.
Peserta diajak untuk merefleksikan berbagai pertanyaan kunci, antara lain:
Bagaimana cara berkunjung tanpa mengeksotisasi komunitas lokal?
Siapa yang diuntungkan dari narasi tentang Banda Neira?
Bagaimana sejarah kolonial masih memengaruhi kehidupan sosial saat ini?
Pendekatan yang digunakan bersifat partisipatif, melalui diskusi kelompok, refleksi kritis, serta pemetaan gagasan secara kolektif.
Workshop juga menekankan pentingnya memahami isu gender dalam konteks yang lebih luas melalui pendekatan interseksionalitas, yang mempertimbangkan keterkaitan antara gender, kelas, geografi, dan akses terhadap sumber daya.
Dalam sesi diskusi, peserta mengeksplorasi konsep kerja tak terlihat (invisible labor), khususnya peran perempuan dalam menopang kehidupan sosial dan ekonomi yang sering tidak tercatat dalam narasi dominan.
Selain itu, peserta didorong untuk mengembangkan kesadaran terhadap posisi dan peran mereka sebagai bagian dari masyarakat yang lebih luas, serta potensi bias dalam praktik pengabdian masyarakat.
Salah satu fokus utama workshop adalah membangun kesadaran tentang etika representasi dan risiko eksotisasi dalam dokumentasi maupun narasi tentang komunitas.
Peserta diajak untuk membedakan antara empati dan pendekatan yang berpotensi memosisikan masyarakat sebagai objek, serta untuk menghindari narasi yang bersifat heroik atau paternalistik.
Sebagai bagian dari proses ini, peserta juga menyusun komitmen etis yang akan menjadi panduan dalam pelaksanaan kegiatan lapangan.
Sebagai tindak lanjut, peserta diharapkan membentuk kelompok kerja untuk mengembangkan karya kolektif, ssebagai medium yang etis dan tidak eksploitatif, sekaligus menjadi arsip pembelajaran kolektif peserta.
Komitmen terhadap Pembelajaran Kritis
Melalui workshop ini, Ruanita Indonesia menegaskan komitmennya dalam mendorong pendekatan pengabdian masyarakat yang tidak hanya berorientasi pada kegiatan lapangan, tetapi juga pada proses pembelajaran kritis, reflektif, dan berkelanjutan.
Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi landasan bagi peserta untuk menjalankan program pengabdian dengan kesadaran sosial yang lebih mendalam, serta membangun praktik yang lebih adil dan inklusif dalam berinteraksi dengan komunitas.
Memperingati Hari Kartini pada 21 April ini, Ruanita Indonesia menghadirkan program audio podcast spesial berbahasa Inggris, Jibber-jabber Indonesian Women Abroad episode ke-6. Kita akan mendengarkan bagaimana perjalanan dari ruang kelas di Chiang Mai hingga ruang rapat perusahaan teknologi di Zurich, dari Hesti Aryani dalam belajar memahami dunia melalui bahasa.
Dalam podcast Jibber JabberIndonesian Women Abroad, dari Ruanita Indonesia, Hesti berbagi kisahnya sebagai perempuan Indonesia yang hidup dan bekerja di luar negeri, menavigasi identitas, bahasa, dan sistem yang sering kali kompleks bagi pendatang baru.
Pada usia 21 tahun, Hesti menerima kesempatan mengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) di Chiang Mai, Thailand. Tanpa banyak persiapan, bahkan tanpa penguasaan bahasa lokal, Hesti melangkah keluar dari zona nyaman. Dari situ, pintu-pintu lain terbuka, hingga akhirnya membawanya ke Swiss pada 2019, tepat sebelum pandemi. Namun, seperti banyak cerita migrasi lainnya, perjalanan ini bukan tanpa kejutan.
“Saya selalu membayangkan kalau pindah ke luar negeri, itu ke negara berbahasa Inggris,” ujarnya. “Tapi hidup punya rencana lain.”
Tiba di Swiss, Hesti dihadapkan pada realitas yang lebih kompleks dari sekadar perbedaan bahasa. Negara dengan empat bahasa nasional ini menuntut lebih dari kemampuan berbahasa Inggris.
Dari mengurus asuransi, mencari tempat tinggal, hingga membuat janji dokter. Semuanya dilakukan dalam bahasa Jerman. Bahkan dokumen resmi dan komunikasi administratif hampir sepenuhnya menggunakan bahasa lokal.
“Bukan cuma soal bahasa,” jelasnya. “Tapi juga memahami konteks budaya, cara komunikasi, bahkan cara berpikir yang sangat terstruktur dan sistematis.”
Pengalaman ini memperlihatkan bahwa bahasa adalah pintu masuk ke sistem Kini, Hesti bekerja sebagai profesional di perusahaan teknologi di Zurich. Perannya berada di persimpangan antara bisnis, bahasa, dan teknologi mulai dari melatih model kecerdasan buatan hingga membangun kemitraan lintas budaya.
Menariknya, latar belakang linguistiknya justru menjadi kekuatan utama.
Ia membantu “menerjemahkan” bukan hanya bahasa, tetapi juga makna, konteks, dan nuansa, yakni sesuatu yang belum sepenuhnya bisa dilakukan mesin.
“Teknologi penting, tapi empati dan pemahaman manusia tetap tidak tergantikan,” tegasnya dan tanpa kunci yang tepat, akses menjadi terbatas.
Kisah Hesti adalah cerminan pengalaman berlapis yang dialami banyak perempuan Indonesia di luar negeri di mana identitas sebagai perempuan, migran, profesional, dan pembelajar bahasa saling beririsan. Ini bukan hanya tentang berpindah tempat, tetapi tentang membangun ulang diri di lingkungan yang baru.
Dan mungkin, seperti yang ditunjukkan Hesti, kuncinya bukan pada seberapa siap kita saat memulai melainkan seberapa terbuka kita untuk terus belajar di sepanjang perjalanan.
Tentang Podcast Jibber-Jabber Indonesian Women Abroad
Podcast audio berbahasa Inggris ini inisiatif Ruanita Indonesia (www.ruanita.com), sebuah organisasi nirlaba yang berkomitmen menciptakan ruang aman bagi perempuan Indonesia di perantauan. Melalui Jibber-Jabber Indonesian Women Abroad, Ruanita Indonesia ingin menghadirkan refleksi perempuan Indonesia dengan interseksionalitas yang dialaminya dalam konteks transnasional, sebagaimana yang digagas oleh Anna Knöbl.
Simak selengkapnya di kanal SPOTIFY berikut dan pastikan FOLLOW untuk mendukung kami.
Halo, sahabat Ruanita! Aku, Cindy, perempuan Indonesia yang kini menjalani babak baru kehidupan sebagai ibu di Vietnam. Kisahku bermula lebih dari tiga belas tahun lalu, ketika tahun 2012 aku berangkat ke Jerman untuk menempuh kuliah S1 jurusan Arsitektur di Hannover. Aku melanjutkan S2 di Cologne dan aku bertemu dengan suamiku, seorang pria Jerman. Setelah lulus, aku bekerja selama tiga tahun di sebuah perusahaan pemerintahan di Jerman.
Tahun 2023, hidupku memasuki fase baru. Aku menikah dengan suamiku dan tak lama kemudian, kami mendapat kabar bahwa pekerjaannya membawa kami ke Vietnam, tepatnya ke kota pantai kecil bernama Quy Nhon.
Perusahaan Jerman tempatnya bekerja menugaskannya mengurus pabrik di sana. Aku mendukung penuh keputusan ini, karena aku pun menyukai pengalaman mengenal budaya dan negara baru. Jadilah kami memulai petualangan baru di Vietnam.
Hidup di Vietnam sangat berbeda dengan di Jerman. Di Jerman, aku terbiasa menikmati udara segar, keindahan empat musim, dan ketenangan kota-kota kecil. Aku dan suamiku sering mendadak pergi hiking atau menjelajah kota tetangga.
Di Quy Nhon, meski ada pantai yang indah, aku merindukan suasana hijau, dingin, dan adem-ayem ala Jerman. Vietnam terasa lebih riuh, semrawut, dan sulit dijangkau secara bahasa.
Komunikasi menjadi tantangan karena kami tidak bisa berbahasa Vietnam, membuat interaksi sosial terasa terbatas. Natal dan Paskah yang biasa dirayakan dengan hangat di Jerman, di sini terasa tidak ada artinya.
Kehamilan pertamaku menjadi tantangan besar, terlebih di negeri orang. Tiga bulan pertama adalah masa yang berat. Aku mengalami mual hebat, muntah-muntah, bahkan bau makanan atau air pun membuatku pusing. Aku berhenti dari pekerjaan online-ku karena kesehatan tidak memungkinkan. Yang paling terasa adalah rasa sepi, karena tidak ada keluarga atau teman dekat di sini. Mungkin juga aku terkendala oleh bahasa di sini.
Untungnya, ketika usia kandungan memasuki empat bulan, aku sempat pulang ke Indonesia selama sebulan. Itu menjadi momen yang sangat menyenangkan sekaligus mengisi energi untukku. Aku juga merasa beruntung memiliki seorang teman Vietnam yang selalu menemani setiap kali kontrol kehamilan. Ia menjadi penerjemah, karena dokter di kota kecil seperti Quy Nhon jarang bisa berbahasa Inggris. Meski fasilitas medis di sini cukup modern, kebersihannya tidak sebaik di Jerman. Namun, biaya layanan medis di Vietnam sangat terjangkau, bahkan tanpa asuransi pun tidak terasa memberatkan.
Di Quy Nhon, tidak ada satu pun orang Indonesia. Teman-teman kami sebagian besar adalah ekspatriat atau orang Vietnam yang bisa berbahasa Inggris. Dukungan mereka terasa berarti, terutama saat mendampingi kami menghadapi proses kehamilan dan persalinan. Mereka membantu menjadi penerjemah, memberikan informasi rumah sakit, bahkan sekadar berbagi pengalaman.
Pengalaman melahirkan di Vietnam juga sangat berbeda. Rumah sakit tidak menyediakan perlengkapan dasar seperti popok, selimut, sabun, hingga alat mandi bayi. Semua harus dibawa sendiri. Layanan seperti membersihkan ibu pascaoperasi, memandikan bayi, atau mengganti sprei harus dipesan secara terpisah. Bahkan makanan untuk pasien pun tidak disediakan, karena keluarga biasanya yang merawat pasien. Di sisi lain, biaya rumah sakit jadi jauh lebih murah, karena yang dibayar hanya paket operasi, dokter, dan kamar rawat inap.
Selama tinggal di Jerman, aku terbiasa dengan budaya mandiri. Semua urusan rumah dan anak dikerjakan sendiri tanpa bantuan nanny. Yang istimewa, pemerintah memberikan fasilitas Vater/Mutterzeit, atau yang disebut sebagai cuti melahirkan dan mengasuh anak dengan gaji tetap, sehingga orang tua punya waktu berkualitas bersama bayi. Fasilitas umum pun mendukung, seperti taman hijau, playground, serta kursus ibu dan anak.
Di Indonesia atau Vietnam, budaya kekeluargaan lebih kental. Anak biasanya diasuh bersama kakek-nenek, atau dititipkan di daycare dengan biaya relatif terjangkau. Namun, fasilitas hijau untuk anak bermain tidak banyak. Di Indonesia, anak lebih sering diajak ke mal atau dikenalkan dengan gadget sejak dini.
Di Vietnam, aku sempat kaget dengan kebiasaan mereka bicara dengan nada keras, bahkan kepada bayi. Kadang bayi diberikan mainan yang sangat berisik sebagai hiburan. Selain itu, anak-anak di sini umumnya masuk daycare sejak usia satu tahun karena kedua orang tua bekerja. Daycare bahkan buka hingga Sabtu, sehingga anak menghabiskan sedikit waktu dengan orang tuanya.
Saat aku memesan layanan memandikan bayi, ada tradisi unik. Bayi ditempelkan daun-daunan yang dibakar, katanya untuk kesehatan dan kehangatan tubuh. Aku dan suami memilih pendekatan campuran. Tidak sepenuhnya gaya Eropa, Indonesia, atau Vietnam, tapi yang penting kami punya waktu berkualitas dengan anak.
Suamiku, meskipun sibuk bekerja, ikut terlibat penuh mengurus bayi. Kami berbagi tugas secara setara. Aku ingin anak kami tumbuh dekat dengan alam dan tidak terlalu sibuk dengan gadget.
Masa setelah melahirkan adalah fase paling berat. Setelah keluargaku yang sempat datang dua minggu kembali ke Indonesia, aku merasakan kesepian yang luar biasa. Suamiku sering harus mengambil cuti untuk membantu mengurus bayi yang selalu menangis. Tidur hanya tiga jam per malam, tangan pegal karena harus menggendong terus, payudara bengkak karena aktivitas menyusui semuanya terasa melelahkan.
Aku juga sempat merasa kehilangan diriku sendiri. Hidup seolah hanya berputar pada bayi. Mau mandi atau makan pun harus cepat-cepat sebelum bayi menangis, apalagi kami sendirian di Vietnam tanpa keluarga dan terkendala bahasa. Aku sangat khawatir, jika kami berdua sakit, siapa yang akan menolong untuk mengurus bayi kami.
Kadang aku bertanya-tanya, apakah aku melakukan yang benar? Apakah aku cukup baik sebagai ibu?
Suamiku menjadi penopang utama, baik fisik maupun mental. Ia rela bangun tengah malam untuk mengganti popok agar aku bisa sedikit beristirahat setelah menyusui. Saat akhir pekan, ia sepenuhnya mengurus bayi supaya aku bisa punya me-time. Aku bersyukur karena meski waktu berdua nyaris tidak ada, dia tetap sabar dan memahami perubahan besar yang kami alami.
Kehamilan dan kelahiran membuatku banyak merenung. Kenapa aku ingin punya anak? Jawabannya sederhana, yakni karena aku ingin mencintai manusia kecil ini tanpa pamrih. Seorang bayi tidak pernah meminta dilahirkan, maka sudah seharusnya aku memberikan seratus persen cintaku tanpa mengharapkan balasan.
Sekarang aku menjadi sangat menghargai peran seorang ibu, apalagi mereka yang punya banyak anak dan tetap harus mengurus keperluan rumah tangga. Walaupun terkadang capek dan berat di awal, pengalaman dan peran menjadi seorang ibu untukku sangat berharga. Aku kini sangat bahagia menjalaninya. Rasanya bahagia sekali melihat senyum bayi hanya karena hal-hal kecil. Menjadi orang tua juga berarti punya kesempatan untuk mengenalkan dunia pada anak.
Di Vietnam, aku tidak menemukan komunitas Indonesia secara offline, tapi aku sangat terbantu dengan komunitas daring, terutama grup ibu menyusui di Indonesia. Aku sangat terbantu dengan teman-teman di Jerman dan Indonesia. Aku juga sering berbagi cerita dengan teman-teman di Jerman, kakak, ibuku, bahkan teman Vietnam yang berpengalaman hamil di kota ini.
Sharing sangat penting agar tidak merasa sendirian. Aku juga selalu jujur dengan suamiku, apalagi soal kelelahan atau rasa sedih. Aku berharap bisa menjadi orang tua yang baik dan sabar, meskipun lelah. Aku ingin cinta dengan suami tetap tumbuh seiring kehadiran anak kami.
Di negara asing ini, kami belajar menjadi tim yang kuat, menghadapi tantangan bersama, dan tetap bisa menikmati petualangan. Hari-hariku kini sepenuhnya untuk bayi. Keluar rumah hanya saat malam atau akhir pekan. Weekend bersama keluarga adalah momen berharga. Kami pergi ke pantai atau kafe sekadar mencari suasana baru. Awalnya rutinitas ini terasa berat, tapi melihat bayi kami tumbuh dan belajar hal baru setiap minggu, aku merasa semua lelah terbayar.
Aku memilih berbicara dengan bayiku dalam bahasa Indonesia. Aku juga ingin mengenalkan budaya Indonesia sejak dini. Suamiku sudah cukup mengenal budaya ini, karena sering berinteraksi dengan keluargaku. Aku berharap bisa sering pulang ke Indonesia dan Jerman agar anakku lebih dekat dengan akar budayanya.
Kisah ini adalah catatan perjalanan seorang ibu baru di negeri asing. Tidak mudah, tapi ada kebahagiaan di setiap peluh dan air mata. Seperti kata orang, menjadi ibu adalah pekerjaan paling berat sekaligus paling membahagiakan di dunia.
Penulis: Cindy, relawan Ruanita dan sekarang sedang menetap di Vietnam. Cindy dapat dikontak melalui akun instagram cinguch atau kanal YouTube-nyaCindy Guchi.