
Halo, sahabat Ruanita! Saya adalah Maria Frani Ayu Andari Dias atau biasa dipanggil Ayu dan saat ini bekerja sebagai perawat jiwa di Indonesia. Berdasarkan Undang-Undang No. 38 Tahun 2014 tentang Keperawatan, perawat jiwa adalah perawat yang telah mendapatkan pendidikan dan pelatihan khusus dalam bidang kesehatan jiwa atau keperawatan jiwa di Indonesia. Perawat jiwa bekerja di berbagai fasilitas kesehatan, seperti rumah sakit jiwa, bagian psikiatri di rumah sakit umum, klinik kesehatan mental, dan layanan kesehatan komunitas.
Berbicara tentang Avoidant Personality Disorder (AvPD), saya ingin berbagi pengalaman saya. Sebelum saya membagikan cerita berikut, saya telah meminta consent dari yang bersangkutan. Di Hari Kesehatan Mental Sedunia 2024, tujuan saya berbagi cerita adalah agar kita dapat meningkatkan literasi di bidang kesehatan mental dan mendorong kesadaran diri untuk mengecek status kesehatan mental kepada tenaga profesional. Terdapat 1.5% sampai 2.5% ditemukan kasus AvPD pada populasi warga Amerika Serikat. Ini bukan berarti bahwa AvPD dapat dianggap biasa saja oleh kebanyakan dari kita.
Dia adalah Dian (bukan nama yang sebenarnya) yang selalu menarik perhatian saya. Saat pertama kali bertemu, kesan pertama yang saya dapatkan adalah Dian sangat pendiam dan cenderung menghindari interaksi sosial. Matanya selalu menunduk dan dia jarang sekali terlibat dalam percakapan dengan yang lain. Setelah beberapa sesi konsultasi, saya mulai mencurigai bahwa dia menunjukkan gejala yang konsisten dengan Avoidant Personality Disorder (AvPD). Psikiater dan psikolog pun memiliki satu suara, Dian memang menunjukkan tanda-tanda Avoidant Personality Disorder (AvPD).
AvPD adalah gangguan kepribadian menghindar yang ditandai dengan rasa takut yang berlebihan terhadap penolakan dan kritik dari orang lain. Dian hidup dalam ketakutan akan penolakan sehingga lebih memilih untuk menjauh dari interaksi sosial yang mungkin mempermalukannya. Sebagai seorang Perawat Jiwa, tugas saya adalah membantu dia mengidentifikasi dan mengatasi ketakutannya ini, dengan cara yang aman dan efektif.
AvPD berbeda dengan Social Anxiety Disorder (SAD), meskipun keduanya menunjukkan tanda dan gejala yang hampir sama, yaitu sama-sama menghindari atau menjauhi hubungan sosial dengan orang lain. Meskipun demikian, ada perbedaan yang sangat signifikan antara AvPD dan SAD. Orang dengan SAD menjauhi interaksi sosial karena adanya ketakutan untuk dinilai atau diperhatikan oleh orang lain. Sedangkan orang dengan AvPD memiliki motivasi untuk menghindari interaksi sosial atau bahkan hubungan dengan orang lain, yang terjadi karena rendahnya harga diri yang dimiliki dan disertai kecemasan. Orang dengan SAD pasti memiliki masalah kecemasan, sedangkan orang dengan AvPD tidak selalu memiliki masalah kecemasan.
Dian menunjukkan tanda dan gejala yang sangat jelas mengarah pada AvPD. Dia memiliki pemikiran-pemikiran negatif tentang dirinya sendiri dan sangat sensitif akan kritik dari orang lain. Ketika orang lain menilai dirinya, termasuk penilaian tergolong positif, Dian tetap tidak mampu menerimanya. Dian akan menganalisis setiap pernyataan yang dilemparkan kepadanya, langsung sangat terbebani akan pernyataan tersebut, dan kemudian menghindari interaksi dengan orang lain. Dalam dialog, Dian pun tidak mampu menyebutkan satu hal positif tentang dirinya. Ia menolak untuk bercermin. Dian selalu mengatakan bahwa, “Rambut saya tidak rapi, pakaian saya jelek, suara saya tidak merdu, jadi lebih baik saya diam saja,” dan masih banyak lagi.
Dalam beberapa pertemuan, Dian mengatakan ia sering ditinggal sendiri ketika masih kecil, karena kedua orang tuanya sibuk bekerja. Ketika Dian meminta perhatian dari orang tuanya, terutama dari ibunya, Dian langsung dibentak dan dimarahi. Hal ini membuat Dian memilih untuk menjadi mandiri, menyelesaikan masalahnya sendiri, perlahan menjauhkan diri dari berbagai interaksi sosial, dan bahkan enggan menjalin hubungan dengan orang lain.
Pada dasarnya, Dian adalah seorang perempuan yang cantik dan menawan. Dian mampu menyelesaikan pekerjaan yang diberikan kepadanya. Namun, ia menolak untuk kontak dengan orang lain, lebih memilih untuk diam, menghindar, dan mengisolasikan diri secara sadar. Dian merasa tidak nyaman dengan orang lain yang mendekatinya, apalagi yang “penasaran” dengan dirinya. Dian sering tidak hadir dalam pertemuan-pertemuan keluarga. Dian sungguh tidak merasa ada yang salah dengan tingkah lakunya ini.
Ketika ditanya mengenai alasannya, Dian mengatakan bahwa dia takut dengan penolakan-penolakan yang mungkin akan muncul dari pertemuannya dengan orang lain. Dian merasa dirinya tidak cukup. Dian telah menilai bahwa orang lain tidak akan bisa menerima dirinya. Dian juga mengatakan bahwa dia tidak ingin merepotkan orang lain dengan berinteraksi dengan dirinya.
Dalam kasus seperti ini, pendekatan pertama yang saya lakukan adalah membangun rasa percaya, dalam bahasa yang sering kami – Perawat Jiwa – gunakan adalah membina hubungan saling percaya. Ya, kepercayaan adalah dasar dari hubungan terapeutik yang dapat menyembuhkan dan memulihkan. Dalam kasus AvPD, sangat penting bagi klien untuk merasa aman dan diterima, sebelum mereka dapat membuka diri. Saya selalu berusaha menciptakan suasana yang tenang dan mendukung, setiap kali kami bertemu. Saya tidak pernah memaksanya untuk berbicara atau melakukan sesuatu yang tidak nyaman baginya. Sebaliknya, saya memberinya ruang untuk menyampaikan perasaannya secara perlahan.
Setelah hubungan yang lebih terbuka terbentuk, saya mulai mengajaknya untuk berbicara tentang perasaannya, khususnya mengenai ketakutannya terhadap interaksi sosial. Saya mendengarkan dengan penuh perhatian dan mencoba memahami sudut pandangnya, tanpa memberikan penilaian. Saya ingin dia tahu bahwa perasaannya valid dan dapat dipahami, meskipun kita berdua tahu bahwa rasa takutnya sering kali berlebihan.
Salah satu bagian penting dari perawatan adalah memberikan pendidikan kesehatan yang tepat. Saya menjelaskan kepada Dian tentang AvPD, termasuk apa yang menyebabkan kondisi ini dan bagaimana cara mengatasinya. Saya juga memperkenalkan berbagai strategi coping yang dapat membantunya mengelola rasa cemas, seperti teknik relaksasi dan terapi kognitif perilaku. Saya yakin, dia dapat mulai merasa lebih terkendali terhadap situasinya dengan bekal pengetahuan yang cukup.
Selain itu, saya juga mendorong Dian untuk mengambil langkah-langkah kecil dalam menghadapi ketakutannya. Misalnya, saya mengajaknya untuk mencoba berinteraksi dengan satu atau dua orang secara perlahan. Awalnya, dia sangat enggan. Namun, dukungan dan dorongan yang tepat telah membuat Dian mulai mengambil risiko-risiko kecil dalam situasi sosial. Setiap langkah kecil yang diambil adalah sebuah pencapaian besar. Saya selalu memastikan untuk mengakui kemajuannya.
Saya juga bekerja sama dengan tim multidisiplin, termasuk psikolog dan psikiater, untuk memastikan bahwa dia mendapatkan perawatan yang komprehensif. Terapis memberikan dukungan tambahan melalui sesi terapi yang lebih mendalam, sementara saya fokus pada aspek perawatan sehari-hari dan pemantauan perkembangan emosionalnya. Kolaborasi ini sangat penting untuk memberikan pendekatan holistik bagi kemajuan Dian.
Namun, perjalanan ini tentu tidak selalu mudah. Ada saat-saat di mana dia kembali mundur ke dalam cangkangnya, merasa putus asa, dan kembali menutup diri. Dalam momen-momen seperti ini, saya harus bersabar dan memberikan dukungan tanpa henti. Saya menyadari bahwa proses ini bukanlah instan; ini adalah proses panjang yang memerlukan kesabaran, ketekunan, dan pengertian.
Seiring waktu, saya mulai melihat perubahan positif pada dirinya. Dia menjadi lebih berani untuk berinteraksi dengan orang lain, meskipun masih dalam lingkup yang sangat terbatas. Keberanian yang mulai tumbuh ini adalah hasil dari dukungan berkelanjutan dan usaha kerasnya untuk melawan ketakutannya. Saya merasa bangga melihat dia mulai menemukan kepercayaan diri yang sebelumnya hilang.
Melalui pengalaman ini, saya belajar bahwa merawat orang dengan AvPD memerlukan pendekatan yang hati-hati dan penuh empati. Setiap klien memiliki tempo pemulihan yang beragam. Sebagai perawat jiwa, saya harus siap untuk mendukungnya sepanjang perjalanan tersebut. Saya juga menyadari betapa pentingnya peran saya dalam memberikan rasa aman dan dukungan emosional, yang sering kali menjadi pondasi utama bagi proses pemulihan.
Sebagai penutup, saya ingin menekankan bahwa krisis kepercayaan atau trust issues dapat menjadi bagian dari AvPD, tetapi bukan satu-satunya faktor penyebab. Orang dengan AvPD sering mengalami kesulitan mempercayai orang lain, tetapi ini lebih karena rasa takut akan penolakan dan kritik daripada sekedar ketidakpercayaan.
Krisis kepercayaan biasanya berkembang karena pengalaman negatif di masa lalu yang membuat seseorang sulit mempercayai orang lain, tetapi dalam AvPD, masalah ini lebih terkait dengan perasaan inferioritas dan kecemasan sosial. Di Hari Kesehatan Mental Sedunia, saya ingin berbagi dukungan dan apresiasi kepada para perawat jiwa yang telah melayani para klien selama ini.
Selamat Hari Kesehatan Mental Sedunia 2024!
Penulis: Maria Frani Ayu Andari Dias, Perawat Jiwa dan tinggal di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Indonesia.
Eksplorasi konten lain dari Ruanita - Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.