(CERITA SAHABAT) Apa Itu Niksen dari Belanda?

Hai, sahabat Ruanita! Perkenalkan saya, Ristiyanti Handayani, atau yang biasa dipanggil Risti. Saya sudah menetap sekitar 10 tahun di kota Utrecht, Belanda. Aktivitas sehari-hari saya adalah karyawan swasta dan juga ibu rumah tangga. Saya senang dapat berpartisipasi dalam program cerita sahabat, terutama menceritakan pengamatan dan pengalaman saya seputar praktik baik tinggal di Belanda.

Saat ini, saya akan bercerita tentang Niksen yang (mungkin) sudah diketahui oleh sebagian sahabat Ruanita. Apa itu Niksen sebenarnya? Memang banyak orang akhir-akhir ini, membicarakan tentang Niksen, yakni salah satu filosofi yang diyakini dan dilakukan oleh orang-orang Belanda. Ketika saya pulang kampung di Indonesia beberapa waktu lalu, ada juga orang yang bertanya tentang Niksen ini.

Sebetulnya, Niksen itu konsep filosofi yang diyakini orang-orang Belanda untuk tidak melakukan apa pun dalam jangka waktu yang tidak lama, hanya sekitar beberapa menit saja. Niksen berasal dari kata „Niks“, yakni tidak ada apa-apa.

Salah satu contoh Niksen, yang sering saya amati dari kebiasaan suami sebagai orang Belanda melakukan Niksen, yakni dia duduk santai di halaman belakang rumah atau di balkon rumah kami. Dia hanya duduk saja, melihat sekitar, seperti pohon-pohon, atau beragam binatang kecil seperti kupu-kupu, lebah dll, terutama ketika dia melakukan work from home, nah, dia akan keluar dari ruang kerja dan pergi duduk santai di kebun belakang. Kadang dia memperhatikan kucing tetangga yang sedang bermain, sekitar 5-10 menit. Dia melakukan Niksen tidak lebih dari 15 menit, kemudian dia melanjutkan pekerjaannya kembali. Menurut suami, dia menjadi lebih fresh dan aktif bekerja kembali di belakang komputer.

Ibu mertua saya melakukan kebiasaan Niksen itu biasanya untuk sekitar 5-10 menit saja dengan berbaring. Berbaring saja, itu kebiasaannya yang masih dilakukan sampai sekarang. Sementara saya melakukan Niksen hanya duduk di ruang tamu sambil memperhatikan setiap benda yang ada, karena saya senang sekali menata interior rumah. Meskipun itu dalam kondisi diam, tetapi saya pada akhirnya punya ide untuk memindahkan ini dan itu. Contoh lainnya, saya berdiri di depan jendela saja. Mungkin orang akan bertanya: „Ngapain begitu?“.

Contoh Niksen di tempat kerja, biasanya saya akan berjalan keluar ruangan atau sedikit ngobrol dengan sesama rekan kerja lainnya sambil duduk menikmati cahaya matahari, saat saya betul-betul lelah bekerja. Biasanya orang-orang di sini sudah tahu, mereka melakukan Niksen. Meskipun itu cuma 15 menit saja, tetapi itu sangat membantu di situasi kerja. Saya dan suami biasanya juga suka jalan bersama menuju taman kota dekat rumah, lalu meski hanya sebentar duduk di bangku taman.

Niksen itu adalah aktivitas yang sangat sederhana sekali, yang bisa membuat kita merasa lebih bugar, lebih fresh, dan lebih fokus pada akhirnya. Niksen itu dilakukan dalam waktu yang tidak lama, hanya sebentar saja.  Menurut saya, Niksen adalah perilaku seseorang  tidak melakukan apa-apa atau  tidak melakukan sesuatu kegiatan ragawi yang aktif untuk beberapa saat. 

Melalui cerita sahabat ini, saya ingin menuangkan berbagai gagasan dan pengalaman seputar Niksen. Seperti anggapan bahwa Niksen itu adalah kemalasan dalam tanda kutip, karena bila kata „Niksen“ diterjemahkan dari kata Bahasa Inggris menjadi kemalasan. Namun, saya berpendapat bahwa Niksen itu bukan berarti kita malas, karena kita tidak melakukan apa-apa. Kemalasan dan Niksen itu jelas berbeda. Kemalasan dalam bahasa Belanda berarti „Luiheid“.

Niksen tidak bisa diartikan sebagai sebuah kemalasan. Niksen merupakan suatu aktivitas untuk mengalihkan sesaat dari rutinitas produktif, terutama yang menguras energi dan perhatian. Itu sebab, seseorang perlu waktu sesaat untuk relaks atau rehat sejenak. Itu disebut Niksen. Sedangkan, kemalasan itu cenderung pada seseorang yang memang tidak melakukan kegiatan produktif. Sementara, Niksen adalah mereka benar-benar melakukan kegiatan produktif, tetapi mereka membutuhkan sedikit rehat untuk kembali fokus. Oleh karena itu, saya bisa mengatakan bahwa Niksen itu bukan kemalasan.

Oh ya, praktik Niksen itu dalam waktu pendek pun bisa dilakukan di sela-sela bekerja. Misalnya, orang bisa duduk-duduk sambil minum yang disukainya. Praktik Niksen ini membantu agar waktu kerja menjadi lebih efektif dan efesien, karena saat ini di Belanda tidak dianjurkan „bekerja lembur“. Selain bayaran upah lembur itu besar, orang yang bekerja lembur berarti mereka bekerja melebihi batas kemampuan mereka, sehingga itu membuat mereka lebih stres akan pekerjaan mereka. Bekerjalah secara normal dan efesien dibarengi praktik Niksen, agar hidup lebih seimbang.

Anggapan lainnya juga menyebutkan bahwa Niksen itu seperti stress release atau praktik mindfulness. Apakah benar demikian, sahabat Ruanita? Kalau menurut saya, Niksen boleh saja dianggap demikian. Niksen memungkinkan otak kita rehat atau beristirahat sejenak. Hal ini membantu kita kembali  untuk fokus dan berpikir lebih segar. Itu menurut saya. Setelah melakukan Niksen, kita menjadi refresh untuk pikiran dan jiwa raga kita.

Itu sebab, ada banyak manfaat untuk jiwa dan raga terkait praktik Niksen. Mental kita merasa lebih tenang. Pikiran kita menjadi lebih jernih. Tentu, tubuh merasa lebih segar atau bugar kembali. Itu yang saya rasakan, sehingga kita bisa lebih fokus untuk melanjutkan apa yang sedang kita lakukan.

Menurut saya, praktik Niksen itu menjadi booming sekitar 15 tahun belakangan ini yang berkaitan dengan gaya hidup dan pola kerja yang tidak berimbang (work and life balance) sehingga berakibat pada problema kesehatan mental. Pada akhirnya, orang pun berpikir bahwa bekerja untuk hidup, bukan hidup untuk pekerjaan. Sejak itu, banyak orang melakukan sesuatu yang membuat kesehatan mentalnya tetap terjaga, salah satunya dengan praktik Niksen ini.

Bagi orang Belanda sendiri, praktik Niksen bisa jelas terlihat masif misalnya saat weekend. Saat weekend dan cuaca cerah, orang-orang Belanda itu paling senang duduk-duduk di taman kota atau bangku-bangku yang tersedia di area publik. Mereka juga suka memenuhi teras-teras atau kafe-kafe ketika cuaca cerah selama weekend. Mungkin bagi kita yang tidak terbiasa, kesannya kehidupan orang-orang Belanda begitu santai, padahal mereka sudah bekerja keras di hari-hari weekdays. Di saat weekend, mereka biasanya betul-betul melupakan semua itu sesaat.

Kehadiran Niksen bisa dilihat dari sejarahnya, kemungkinan berawal dari rutinitas kehidupan moderen, seperti tekanan kerja. Sementara, orang-orang Belanda sendiri memiliki istilah menikmati hidup, yang dikenal Lekker-genieten. Niksen tidak bisa disamakan dengan konsep healing. Pada prinsipnya, Niksen adalah cara untuk mencegah agar tidak terjadi masalah-masalah seperti stres atau beban kerja. Sedangkan healing berarti penyembuhan, karena sudah terjadi. Bukankah lebih baik mencegah daripada mengobati?

Terakhir, saya sependapat tentang studi yang menyatakan bahwa Niksen ini memang membantu orang memunculkan ide-ide baru, sehingga orang-orang menjadi lebih kreatif atau produktif lagi. Meskipun kita sedang „Niks“ atau tidak melakukan apapun, otak kita tetap masih memproses informasi, termasuk untuk memecahkan masalah yang ada. Berdasarkan pengalaman pribadi, saat saya „Niks“, justru saya menemukan gagasan yang melintas dalam kepala saya.

Pesan saya kepada sahabat Ruanita, kalau kalian bekerja, manfaatkan waktu secara efesien. Jika kalian sudah mencapai batas ambang kelelahan, selingi sesuatu seperti praktik Niksen sesuai dengan kemampuan masing-masing agar tidak stres. Lakukan Niksen agar kerja lebih efektif dan produktif, asalkan target kerja tercapai. Kira-kira seperti itu gambaran Niksen yang saya ketahui. Artinya, kita meluangkan waktu, meskipun itu dalam waktu durasi singkat untuk tidak melakukan apa pun atau Niks, kata orang Belanda. Hal ini dilakukan agar tubuh tetap dapat rileks, sehingga pikiran menjadi kembali fokus dan hidup kita menjadi seimbang.

Penulis: Risti Handayani, tinggal di Belanda.


Eksplorasi konten lain dari Ruanita - Indonesia

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar