(WARGA MENULIS) Puisi – Mau Kapan Lagi

Mau Kapan Lagi?

Oleh: Keket Kape

Utas medsos rame dengan puan yang tinggal puing raga
Femisida menyeruak satu demi satu terkuak
Peluh dan pilu membasahi anak, ibu, bapak, dan saudara
Di meja hijau ketok palu bebas menggelegar

Sementara di kampung seberang sungai
Puan terdiam saat terima beda tunai
Meski datang lebih awal, keringat lebih mengucur
Bahkan saat haid pun susah minta libur

Di ruang-ruang kerja di kota
Kaki puan terikat tanpa bisa lari kencang
Posisi ini, itu … mustahil
Perjuangan dikalikan nol … jadi nihil

Follow us



Dalam ladang politik, puan seringkali gigit jari
Penyelenggara lima, hanya satu yang boleh terisi
Bagaimana bisa mengisi kursi
Sudah ditentukan jumlah sebelum seleksi

Ada banyak karena …
Pujian ayah yang berbeda atas prestasi yang sama
Pun mbalung sumsumnya “Surga nunut, neraka katut”
Puan hanyalah “kanca wingking” yang mesti nurut

Tidak bisa menunggu lagi …

Sebab menunggu untuk apa?
Untuk siapa?
Setiap detik dan intervalnya adalah anugerah Sang Pemberi Waktu
yang mestinya puan merekahkan senyum

*Keket KaPe adalah nama pena Chatarina Pancer Istiyani
FB: Chatarina Pancer Istiyani
IG: Chatarina Pancer Istiyani
YT: Chapaist Channel


Eksplorasi konten lain dari Ruanita - Indonesia

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar