Aku sudah mati beberapa kali,/ menguburkan diri pada harapan-harapan palsu,/ janji-janji tak bertuan,/ letupan api-api neraka/ ditekan sesamanya,/ disalahpersepsikan oleh dirinya sendiri//
Bangke!// Yang tersisa padaku adalah kehampaan/ Ketiadaan/ kosong!//
Maria, Maria!// Sampai kapan kau akan menggantungkan diri?/ pada palang salib bernama pelayanan,/ hutang budi?/ pada orang-orang yang bertuan kekuasaan,/ haus validasi?/
Kupantau kau dari negeri berlokasi di bumi paling ujung tanah airku, kau tak hanya punya kisah pendekar Jaka Sembung ada para srikandi merah putih sambung menyambung yang akan hilang karena jarangnya disanjung.
dan kucatat bukan hanya Kartini yang berjuang tuk kesetaraan. Ada Dewi Sartika, Rasuna Said dan Nyai Ahmad Dahlan Walanda Maramis dan Rohana Kuddus pejuang emansipasi pendidikan.
Kulihat jejeran nama pahlawan wanita nasonal kita cukup sedikit Di bawah duapuluh nama dan hanya dua digit
entah, apa kriterianya terlalu sulit
atau perempuan berjasa memang selalu terkena edit.
Mereka, para perempuan pahlawanita tak lupakan hidup ada asam dan tak abaikan hidup perempuan yang juga asin bergaram. Merekalah yang dulu tulus buka segala panca indra tuk jadi abdi dalam untuk Indonesia yang masa depan perempuannya masih buram.
Hari ini diperingati sebagai Hari Perempuan Internasional. Tentunya, Ruanita Indonesia telah mempersiapkan berbagai program untuk merayakannya, termasuk menyiapkan diskusi IG LIVE yang menjadi program bulanan.
Pada episode Maret 2025, Ruanita Indonesia menggelar tema perempuan dalam inklusi dan komunitas global yang disuarakan oleh perempuan Indonesia di mancanegara.
Diskusi IG LIVE lewat platform instagram @ruanita.indonesia, Ruanita Indonesia mengundang informan yakni Go Suan Ny yang tinggal di Jerman dan menjadi survivor speaker bagi Ruanita Indonesia. Selain itu, ada Evita Haapavaara yang sedang berwirausaha di Finlandia dan telah tinggal sejak 30 tahun lalu di sana.
Diskusi dipandu oleh Rufi, Zukhrufi Sysdawita, yang menggali berbagai peran dan tantangan perempuan Indonesia seperti Suan Ny dan Evita di mancanegara. Suan Ny bercerita pengalamannya untuk melamar kerja di Jerman yang tak mudah.
Dia mengalami berbagai penolakan, yang membuatnya tidak patah arang untuk terus melamar kerja. Sejak kecelakaan tahun 2017, Suan Ny terpaksa hidup dalam kondisi yang sulit dan dia pun masih menjalani peran sebagai Single Mom.
Dia menyadari bahwa pandangan terhadap perempuan dengan disabilitas masih sering menjadi tantangan bagi Suan Ny. Dia ingin mengubah pandangan tersebut dan meyakinkan bahwa kemampuan seseorang tidak lagi dilihat dari kemampuan fisiknya semata.
Terbukti, Suan Ny berhasil menyelesaikan studi S2 di salah satu universitas di Jerman, padahal situasi Suan Ny yang mengalami keterbatasan fisik saat itu.
Suan Ny ingin membuktikan bahwa orang dengan disabililtas bukan orang bodoh dan tidak memiliki harapan untuk bekerja di dunia profesional.
Suan Ny ingin perspektif yang berbeda dan melihat dirinya bukan sebagai orang disabilitas (=orang yang tidak berdaya), melainkan orang difabel (=different able). Sebagai difabel, Suan Ny bisa menggunakan sendok atau mengetik komputer dengan cara berbeda daripada umumnya.
Lain Suan Ny, lain pula cerita Evita. Dia datang ke Finlandia sejak 1994, yang mana kelompok migran pada masa itu masih sangat kecil di Finlandia. Evita merasa bahwa pendidikannya di Indonesia yang ditempuhnya di Universitas Indonesia, mampu memberikannya kesempatan kerja di Finlandia.
Nyatanya itu tidak mudah! Evita kemudian menginisasi usaha yang dirintisnya di Finlandia, berkat kemudahan legalisasi dan dukungan dari pemerintah Finlandia sendiri untuk perempuan dan kelompok migran.
Apa saja tantangan yang dihadapi Suan Ny dan Evita sebagai perempuan Indonesia di mancanegara? Apa yang menjadi solusi mereka untuk mengatasi tantangan tersebut?
Bagaimana caranya untuk dapat meraih impian di negeri yang mereka tempati sebagai perempuan Indonesia? Apa pesan mereka di Hari Perempuan Internasional?
Simak selengkapnya di kanal YouTube kami berikut dan dukung kami dengan SUBSCRIBE!
Pemuja udara hangat mesti sabar menunggu karena suhu belum beranjak dari titik beku.
Angin dingin Winter Ostsee menembus ventilasi kayu sesaki ruang tamu, menusuk kulit seorang hawa yang sedang berkutik diruang tamu.
Malam itu perapian telah membakar kobar cinta api pada kayu yang lagi bercumbu, menjadikannya bara penghangat tubuh ruang tamu.
Wanita dan degup gundah, diluar beberapa mata bintang masih menyala.
Mata pijar lampu baca diatas meja kerja empat persegi belum gugur, menerangi baris Aksara dan kertas putih, meluap rasa yang tak ingin menjadi mata bara di jiwa yang mencari asa.
Jelaga merayap, hampir menutup mata lampu,
menemani debu yang tak ingin berkaca sendiri di wajah lampu baca ruang tamu.