
Memasuki awal tahun 2026, Ruanita berkolaborasi dengan Kesmenesia menghadirkan IG Live Spesial yang mengangkat topik yang sangat relevan bagi banyak orang: resolusi awal tahun dan kaitannya dengan kesehatan mental. Diskusi ini dipandu oleh Nadia, Co-Founder Kesmenesia sekaligus konselor, dan menghadirkan dua narasumber dengan latar belakang dan perspektif yang berbeda namun saling melengkapi.
Hadir sebagai pembicara adalah Andi Pratiwi, seorang psikolog klinis dan praktisi Brainspotting yang berdomisili di Brisbane, Australia, dan Sven Juda Co-Founder Kesmenesia, yang juga merupakan mahasiswa S2 Psikologi di Maastricht University, Belanda, dan saat ini berada di Jerman. Diskusi lintas negara ini memberikan sudut pandang yang kaya mengenai resolusi, motivasi, serta tekanan sosial yang kerap muncul di awal tahun.
Resolusi Awal Tahun: Antara Harapan dan Realita
Dalam pembukaannya, Nadia menyoroti bagaimana resolusi awal tahun sering kali menjadi tradisi tahunan. Namun, di balik semangat “awal yang baru”, tidak sedikit orang justru merasa terbebani ketika resolusi tersebut tidak tercapai.
Andi menjelaskan bahwa resolusi kerap dipandang sebagai outcome yang kaku, misalnya target berat badan atau pencapaian tertentu. Cara pandang ini berisiko memunculkan jarak antara actual self dan ideal self, yang pada akhirnya dapat memicu stres dan rasa gagal.
“Resolusi akan lebih sehat untuk mental jika dilihat sebagai intensi, bukan sekadar target,” ujar Andi. Menurutnya, fokus pada nilai (values) seperti kesehatan, keseimbangan hidup, atau self-love jauh lebih berkelanjutan, dibandingkan target yang terlalu spesifik dan kaku.
Hal ini juga berlaku dalam konteks kesehatan mental. Alih-alih menetapkan resolusi seperti “berhenti cemas” atau “tidak boleh overthinking”, Andi menyarankan untuk menggeser fokus ke arah membangun relasi yang lebih penuh welas asih dengan diri sendiri. Menurutnya, itu adalah bagian alami dari manusia dan tidak bisa dihapus begitu saja.
Mengapa Resolusi Sering Gagal di Tengah Jalan?
Dari perspektif psikologi industri organisasi, Sven menyoroti fenomena honeymoon phase dalam resolusi awal tahun, di mana semangat tinggi di awal sering kali meredup dalam beberapa minggu. Salah satu penyebab utamanya adalah target yang tidak realistis dan perencanaan yang terlalu abstrak.
“Kita sering punya niat besar, tapi tidak diikuti dengan rencana yang konkret,” jelas Sven. Ia menekankan pentingnya concrete planning, seperti menentukan hari dan frekuensi aktivitas, agar resolusi tidak berhenti sebagai wacana.
Namun, Sven juga mengingatkan bahwa konsistensi tidak harus identik dengan kesempurnaan. Ketika rencana tidak berjalan sesuai harapan, misalnya karena sakit atau kondisi tertentu, hal tersebut tidak serta-merta berarti kegagalan. Di sinilah peran self-compassion menjadi krusial.
Menariknya, Sven juga membagikan temuan riset bahwa membangun kebiasaan baru tidak sesingkat yang sering dibayangkan. Dibutuhkan waktu antara 2–3 bulan, bahkan hingga 200 hari untuk kebiasaan yang lebih kompleks. Ekspektasi yang terlalu tinggi dalam waktu singkat justru dapat melemahkan motivasi.
Konsistensi Lebih Penting daripada Kesempurnaan
Andi menambahkan bahwa dalam membangun resolusi, prinsip konsistensi pelan-pelan jauh lebih sehat dibandingkan tuntutan untuk langsung sempurna. Target yang terlalu tinggi berisiko membuat seseorang jatuh lebih sakit ketika gagal mencapainya.
Diskusi ini menekankan bahwa resolusi sebaiknya dipandang sebagai proses belajar. Ketika tidak berjalan sesuai rencana, itu bukan akhir, melainkan bagian dari pembelajaran dan penyesuaian diri.
Hidup di Luar Negeri: Perspektif Baru tentang Produktivitas
Pada segmen kedua, diskusi bergeser ke pengalaman hidup sebagai perantau di luar negeri dan pengaruhnya terhadap kesehatan mental. Andi membagikan pengalamannya di Brisbane, di mana budaya hidup terasa lebih santai dan present. Jam kerja yang jelas, kebiasaan pulang tepat waktu, serta keberanian mengambil cuti saat sakit menjadi pelajaran berharga baginya.
“Di sini aku belajar bahwa dunia tidak harus selalu terburu-buru,” ujar Andi. Ia melihat bahwa produktivitas tidak selalu berarti bekerja lebih lama, tetapi mampu menjaga keseimbangan antara kerja, kesehatan, dan kehidupan pribadi.
Hal ini diamini oleh Nadia, yang menyoroti bagaimana kemampuan menikmati momen sehari-hari, yang sering dianggap membosankan, tetapi justru merupakan seni hidup yang sering terlupakan.
Menutup Awal Tahun dengan Lebih Penuh Kesadaran
IG Live Spesial Ruanita dan Kesmenesia ini menjadi pengingat bahwa resolusi awal tahun tidak harus menjadi sumber tekanan. Dengan memahami nilai diri, membangun motivasi internal, membuat rencana yang realistis, serta mempraktikkan self-compassion, resolusi dapat menjadi alat untuk tumbuh, bukan untuk menyalahkan diri.
Awal tahun bukan tentang menjadi versi “sempurna” dari diri kita, melainkan tentang berjalan lebih selaras dengan diri sendiri, satu langkah kecil pada satu waktu.
Ikuti terus konten reflektif dan diskusi kesehatan mental lainnya hanya di www.ruanita.com dan simak selengkapnya di kanal YouTube Kesmenesia berikut. Pastikan SUBSCRIBE ya untuk mendukung kami.