(PODCAST RUMPITA) Mengenal Profesi Dokter Gigi Anak dan Pentingnya Kesehatan Gigi Sejak Dini bersama Drg. Natalia Ekaputri

Dalam edisi spesial Hari Kesehatan Dunia, Podcast Rumpita – Rumpi bersama Ruanita – menghadirkan narasumber istimewa: drg. Natalia Ekapuntri, seorang dokter gigi asal Indonesia yang kini tinggal dan berpraktik di Belanda.

Bersama Anna di Jerman dan Dianita di India, diskusi podcast Rumpita kali ini menyoroti pentingnya kesehatan mulut dan gigi anak-anak, serta berbagai tantangan dan sistem pelayanan kesehatan gigi di Belanda.

Saat pertama kali pindah ke Belanda, Natalia tidak bisa langsung membuka praktik. Ia harus mengikuti serangkaian uji kualifikasi, mulai dari uji bahasa Belanda setara IELTS, hingga tes teori dan praktik kedokteran gigi yang sangat ketat. Proses ini memakan waktu hingga dua tahun, apalagi sambil mengurus keluarga dan membesarkan anak.

Di Belanda, sistemnya menekankan tanggung jawab individu. Semua dokter, termasuk dokter gigi, harus melalui validasi menyeluruh sebelum bisa praktik,” ujar Natalia.

Diskusi kemudian mengarah pada kasus anak-anak yang takut ke dokter gigi. Diana, co-host yang tinggal di India, bercerita tentang putranya yang mengalami trauma karena pengalaman buruk saat pemeriksaan di sekolah. Anak-anak lain menangis dan berteriak, dan sejak itu putranya enggan ke dokter gigi.

Natalia menanggapi dengan menyampaikan bahwa trauma seperti ini bisa dipahami, tetapi bisa dipulihkan. Yang terpenting adalah membangun kepercayaan anak terhadap dokter gigi, mulai dari hal sederhana seperti menyambut dengan ramah, mengenalkan alat-alat secara visual, hingga memberi ruang komunikasi yang nyaman.

“Saya selalu bilang ke pasien anak, saya bukan sekadar dokter gigi, saya adalah teman mereka yang ingin tahu pengalaman mereka,” jelas Natalia.

Natalia menekankan bahwa merawat gigi bukan hanya soal teknis. Seorang dokter gigi harus juga memiliki empati dan pendekatan holistik, karena banyak kasus gigi berkaitan dengan masalah sensorik, psikologis, hingga neurologis. Ia pernah menangani anak dengan autisme yang awalnya sulit ditangani, namun setelah observasi dan pendekatan bersama keluarga, anak tersebut dapat dirawat dengan lebih baik.

Saya bukan hanya memeriksa gigi. Saya bertanya, ‘Apa makanan favoritmu? Apakah kamu suka tekstur tertentu?’ Dari situ saya bisa mendeteksi apakah ada indikasi kebutuhan khusus,” ungkapnya.

Salah satu keunggulan sistem kesehatan gigi di Belanda adalah akses gratis bagi anak-anak hingga usia 18 tahun. Bahkan, ada program dari organisasi yang mengunjungi sekolah-sekolah dengan unit mobil perawatan gigi untuk memberikan edukasi dan pencegahan sejak dini.

Anak-anak dikenalkan pada alat seperti kaca mulut dan disikat bersama sambil belajar. Edukasi ini diberikan secara individual, bukan massal, sehingga anak-anak merasa lebih aman dan diperhatikan.

Podcast ini menjadi pengingat pentingnya peran dokter gigi dalam membangun kepercayaan dan menciptakan ruang aman untuk anak-anak. Bagi para orang tua, penting juga untuk tidak memaksakan perawatan, tetapi memberikan pemahaman dan menjadi jembatan kepercayaan antara anak dan dokter.

“Sama seperti mobil yang harus diservis rutin, mulut dan gigi juga perlu dikontrol setiap enam bulan,” tutup Natalia dengan analogi yang sederhana tapi mengena.

Simak selengkapnya diskusi PODCAST RUMPITA di Kanal Spotify RUMPITA dan pastikan FOLLOW untuk mendukung kami.

(CERITA SAHABAT) Father Complex: Relasi, Refleksi, dan Rindu

Jika ada satu kata untuk menggambarkan hubungan saya dengan Papa, maka kata itu adalah hangat. Sejak kecil, Papa hadir dengan cara yang dekat, penuh dukungan, dan membuat saya merasa aman. Bukan hanya saya, kakak dan adik saya pun akan mengatakan hal yang sama. Kami bertiga sungguh beruntung, karena punya seorang ayah yang hadir sepenuh hati di masa tumbuh kami.

Sulit untuk menunjuk satu momen yang paling berkesan, karena hampir di setiap fase hidup, Papa selalu ada. Beliau bukan tipe yang sempurna tanpa cela dan memang tidak ada manusia yang demikian. Namun, dalam diri Papa, saya menemukan figur ayah yang cukup. Cukup dalam arti memberi dukungan emosional, cukup dalam arti hadir di saat dibutuhkan, cukup dalam arti menjadi tempat pulang.

Dengan latar belakang psikologi, saya memahami istilah father complex atau kadang disebut juga daddy issues sebagai kondisi yang berakar dari hubungan sulit dengan figur ayah. Entah karena ayah terlalu dominan, dingin secara emosional, terlalu sering mengkritik, absen secara fisik, atau bahkan menyakiti. Meski tidak masuk dalam kategori resmi seperti DSM V atau ICD-10, dinamika ini nyata terlihat dalam kehidupan banyak orang.

Dampaknya bisa beragam, seperti: kesulitan mempercayai orang lain, sulit menjalin kedekatan emosional, atau kebutuhan besar akan validasi dari figur dominan. Ada juga yang kemudian membawa pola itu ke dalam relasi romantis atau relasi kerja dengan figur otoritas.

Dalam diri saya sendiri, tidak ada gejala yang terlalu menonjol. Namun, saya bisa mengenali adanya kebutuhan validasi tertentu dari figur otoritas. Sisi positifnya, hal ini membuat saya berusaha keras di sekolah dan kuliah. Pada akhirnya, nilai saya bagus, bahkan beberapa kali juara kelas. Tapi di sisi lain, diskusi dan perdebatan dengan Papa melatih saya untuk tidak menerima begitu saja otoritas apa pun. Bagi saya, sesuatu harus masuk akal dulu sebelum saya bisa menerimanya. Itu mungkin salah satu warisan paling berharga dari relasi kami.

Papa dan Mama berasal dari latar budaya berbeda, tetapi sama-sama tumbuh dalam nilai-nilai yang memberi tempat lebih bagi anak laki-laki ketimbang perempuan. Namun, dalam praktiknya mereka memilih untuk memperlakukan kami bertiga dengan setara. Pendidikan yang terbaik sesuai kemampuan dan minat diberikan, tanpa membedakan jenis kelamin. Itu keputusan yang sederhana, tetapi dampaknya besar dalam hidup saya.

Saat tumbuh, saya melihat figur ayah dalam budaya populer sering digambarkan sebagai kepala keluarga yang berwibawa, mencari nafkah, menegakkan aturan, membaca koran di beranda rumah, sementara urusan dapur dan anak diserahkan pada ibu. Gambarannya klasik, yaitu berpakaian safari, rokok, dan kopi buatan istri.

Kini, gambaran itu bergeser. Ayah-ayah masa kini lebih terlibat dalam pengasuhan anak, lebih hangat, lebih dekat secara emosional. Namun, di banyak keluarga, keputusan akhir tetap dianggap ranah ayah. Pergeseran peran ini menghadirkan dinamika baru, kadang juga konflik, tergantung konteks sosial dan budaya masing-masing.

Ada satu titik balik dalam relasi saya dengan orang tua, baik Papa maupun Mama, di mana saya mulai menyadari bahwa mereka manusia biasa. Waktu kecil, orang tua tampak seperti pahlawan super. Mereka seperti tak pernah lelah, selalu tahu jawaban, mampu mengatasi segalanya. Tapi seiring saya tumbuh, saya melihat mereka juga bisa salah, lelah, bahkan sakit.

Kesadaran itu menjadi tanda bahwa saya sedang beranjak dewasa. Saya belajar melihat mereka bukan hanya sebagai orang tua, tapi juga sebagai manusia dengan keterbatasan. Dari situ, hubungan kami berubah. Dari relasi yang timpang menjadi relasi yang lebih setara, terutama ketika saya mulai dewasa.

Sekarang, ketika Papa sudah tiada, keinginan terbesar saya terhadap beliau hanya satu, yakni rindu. Saya merindukan kehadiran fisiknya, diskusi-diskusi panjang, perdebatan seru, atau sekadar menanyakan pendapat beliau tentang banyak hal.

Tahun-tahun terakhir hidupnya, hubungan kami semakin matang. Papa makin menghargai kemandirian saya dalam mengambil keputusan, dan saya merasa lebih dihargai sebagai individu dewasa. Meski demikian, di mata saya, saya akan selalu tetap menjadi putrinya.

Bagi saya, berbicara tentang father complex pada akhirnya adalah berbicara tentang dinamika relasi kuasa. Saat kita masih kecil, relasi dengan orang tua memang tidak seimbang. Mereka yang memutuskan, kita mengikuti. Tapi seiring anak bertumbuh, idealnya relasi itu bergeser menjadi lebih setara.

Tidak semua keluarga mengalami pergeseran ini dengan mulus. Kadang otoritas tetap ditekankan, kadang muncul konflik. Tetapi dalam pengalaman saya, pergeseran itu terjadi dengan wajar. Dan saya bersyukur bisa merasakannya bersama Papa.

Jika ada sahabat Ruanita yang membaca tulisan ini dan sedang mengalami konflik batin dengan ayahnya, saya ingin menyampaikan satu hal, setiap keluarga unik. Tidak ada pola tunggal yang bisa berlaku untuk semua orang.

Kalau Anda ingin memahami lebih jauh bagaimana hubungan dengan ayah mempengaruhi hidup saat ini, saya menyarankan melakukannya bersama tenaga profesional seperti psikoterapis atau konselor. Ada hal-hal yang bisa kita selesaikan sendiri, tetapi ada juga yang butuh pendampingan aman dari orang yang terlatih.

Bagi saya, menulis tentang father complex bukanlah tentang mencari kekurangan Papa, melainkan tentang menyadari betapa besar pengaruh relasi itu dalam membentuk siapa saya hari ini. Saya beruntung memiliki figur ayah yang hangat, mendukung, dan penuh kasih. Namun saya juga belajar melihatnya sebagai manusia dengan keterbatasan.

Pada akhirnya, apa yang tersisa kini adalah rindu. Dan mungkin, di dalam rindu itu, saya bisa merasakan kembali kehangatan yang pernah begitu nyata hadir dalam hidup saya.

Penulis: Nelden, tinggal di Jerman dan dapat dikontak via akun instagram @neldendj.

(PODCAST PMI STORIES) Cerita Transformasi dari Asia ke Skandinavia

Podcast PMI Stories – Cerita-cerita Pekerja Migran Indonesia episode kedua menghadirkan kisah Sari Wijayanti, seorang pekerja migran Indonesia (PMI) yang pernah bekerja selama sembilan tahun di Singapura dan kini menetap di Swedia setelah menikah dengan warga setempat. Dipandu oleh Dewi Lubis, PMI di Singapura sekaligus host podcast, episode ini menggali perjalanan karier Sari, transisi hidup antarnegara, hingga proses membangun kehidupan baru di Eropa.

Sari memulai perjalanannya sebagai PMI di Singapura dengan alasan ekonomi. Ia menyadari kondisi finansial saat itu belum cukup memberikan rasa aman bagi dirinya dan kedua putranya. Di Singapura, Sari bekerja di sektor domestik dengan tanggung jawab sebagai nursery dan caregiver, mengasuh anak kecil sesuai dengan keterampilan yang ia miliki.

Tantangan terbesarnya adalah menghadapi anak-anak yang sedang tantrum atau sakit, yang mana situasi tersebut menuntut kesabaran, ketahanan emosi, dan profesionalitas tinggi. Namun, dukungan komunitas PMI yang aktif dengan kegiatan positif, serta support penuh dari orang tua yang menjaga anak-anaknya di Indonesia, menjadi fondasi kuat yang membuatnya mampu fokus bekerja dan berkembang.

Tak pernah terbayang sebelumnya bahwa hidupnya akan membawanya pindah ke Eropa. Keputusan hijrah ke Swedia dilandasi kepercayaan pada pasangan dan harapan akan masa depan yang lebih baik. Proses pengurusan visa ikatan keluarga memakan waktu sekitar satu tahun, yakni masa tunggu yang cukup panjang dan penuh ketidakpastian.

Setibanya di Swedia, Sari menghadapi culture shock terbesar pada cuaca ekstrem empat musim, terutama musim dingin yang sangat berbeda dari iklim tropis Asia Tenggara. Tantangan berikutnya adalah bahasa Swedia, yang menjadi kunci penting integrasi sosial. Meski masyarakat Swedia fasih berbahasa Inggris, kemampuan bahasa lokal tetap dibutuhkan untuk benar-benar menyatu dalam kehidupan sehari-hari.

Kini, setelah 16 bulan menetap di Swedia, Sari menjalani kehidupan baru dengan bekerja paruh waktu di restoran sebagai waitress dan kasir, sembari mengikuti kelas bahasa Swedia secara daring sebagai persiapan mengikuti sekolah bahasa formal.

Ia menekankan bahwa di Swedia, kesetaraan gender sangat dijunjung tinggi, di mana perempuan didorong untuk mandiri dan berkontribusi melalui pekerjaan, termasuk dalam sistem pajak dan jaminan sosial yang mendukung kesejahteraan jangka panjang seperti dana pensiun.

Dalam refleksinya, Sari mengakui bahwa integrasi sosial di Swedia kini semakin menantang. Ia menyoroti adanya pergeseran sosial yang membuat pendatang harus lebih mandiri dan proaktif dalam belajar bahasa serta memahami budaya lokal.

Tantangan pengangguran dan kesenjangan sosial di kalangan migran turut menjadi isu yang memengaruhi proses integrasi. Meski demikian, dukungan pasangan dan komunikasi dengan komunitas Indonesia melalui grup daring menjadi penguat dalam proses adaptasinya.

Menutup perbincangan, Sari berbagi pesan mendalam bagi para PMI yang tengah membangun masa depan di luar negeri. Ia mengingatkan agar perjuangan tidak dianggap sebagai beban, melainkan sebagai proses pembelajaran, seperti layaknya sekolah kehidupan. Mungkin suatu saat akan mencapai titik kelulusan.

Sari mendorong PMI untuk mempersiapkan mental, memahami budaya negara tujuan, dan menguasai bahasa sebelum memutuskan pindah, terutama dalam konteks pernikahan lintas negara. “Buatlah uang bekerja untuk kalian, bukan kalian yang terus bekerja untuk uang,” pesannya. Ia seperti menegaskan pentingnya kemandirian finansial dan visi jangka panjang.

Cerita Sari Wijayanti menjadi potret transformasi identitas seorang PMI, dari pekerja domestik di Asia Tenggara hingga perempuan Indonesia yang tengah membangun babak baru kehidupan di Eropa. Episode ini tidak hanya menghadirkan cerita migrasi, tetapi juga refleksi tentang keberanian mengambil keputusan, adaptasi lintas budaya, dan makna perjuangan dalam meraih masa depan yang lebih baik.

Melalui Podcast PMI Stories, Produser Anna Knöbl berupaya menghadirkan suara-suara yang kerap terpinggirkan. Cerita Irma bukan hanya kisah personal, tetapi cerminan pengalaman banyak pekerja migran perempuan Indonesia tentang bagaimana bertahan dan mengalahkan tantangan yang jauh berbeda dibandingkan di tanah air sendiri.

Simak selengkapnya dalam program audio podcast PMI Stories berikut ini dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

(CERITA SAHABAT) Sebelum Tinggal di Bangladesh, Begini Pengalaman Melahirkan dan Membesarkan Anak di Korea Selatan

Halo Sahabat Ruanita, nama saya Sienna Mila, boleh panggil saya Mila atau Sienna. Saya adalah seorang ibu yang pernah menetap di Korea Selatan dan kini menetap di Bangladesh. Perjalanan hidup saya cukup panjang dan berliku, hingga akhirnya membawa saya melahirkan anak pertama di Korea Selatan. Menurut saya, itu merupakan sebuah pengalaman yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya.

Semuanya berawal dari tahun 2000-an, tepatnya setelah saya lulus SMA. Saat itu saya bekerja di sebuah restoran Korea di kawasan Melawai, Jakarta. Sambil bekerja, saya juga melanjutkan kuliah S1. Dari restoran tersebut, saya mulai mengenal budaya Korea dan bertemu banyak orang Korea yang tinggal atau bekerja di Jakarta.

Pekerjaan saya kemudian berkembang. Saya berkesempatan menjadi PA (Personal Assistant) sekaligus sekretaris untuk seorang staf ahli asal Korea yang bekerja di salah satu Kementerian di Jakarta. Di situlah hidup saya berubah. Saya belajar banyak tentang kedisiplinan, budaya kerja, sekaligus membuka jaringan pertemanan dengan banyak orang Korea dari berbagai bidang bisnis.

Sepuluh tahun bekerja, saya kemudian diperkenalkan dengan kenalan atasan saya untuk menjalin kerja sama bisnis. Perusahaan itu bergerak di bidang pengembangan IT di Korea Selatan, dengan rencana membangun platform belanja online di Indonesia. Dari perjanjian itu, saya mulai bolak-balik Indonesia–Korea, hingga akhirnya saya tinggal cukup lama di Korea Selatan.

Antara tahun 2018 sampai 2022, saya dan suami lebih banyak menetap di Korea. Alasannya cukup dramatis: saya mengalami pecah ketuban lebih awal ketika sedang melakukan kunjungan bisnis di kota Daegu. Saat itu, saya tengah hamil anak pertama. Awalnya saya sudah konsultasi dengan dokter di Indonesia sebelum berangkat, kondisi kandungan sehat dan diperbolehkan naik pesawat selama penerbangan tidak lebih dari 10 jam. Karena penerbangan ke Korea Selatan hanya memakan waktu 6 jam, saya merasa aman saja.

Namun takdir berkata lain. Di tengah kesibukan urusan bisnis, saya tiba-tiba harus menghadapi momen kelahiran di negara asing. Untungnya, ketika itu saya ditemani suami yang memang ikut ke Korea Selatan untuk urusan bisnis juga.

Saat tiba di rumah sakit di Daegu, kendala pertama yang saya hadapi adalah bahasa. Tidak banyak tenaga medis yang bisa berbahasa Inggris, sementara saya dan suami tidak menguasai bahasa Korea. Komunikasi menjadi sulit sekali.

Saya mengalami kontraksi cukup lama, hingga akhirnya dokter yang bisa berbahasa Inggris datang dan memutuskan bahwa saya harus melahirkan lewat operasi Caesar. Malam itu saya masuk ruang operasi, perasaan saya campur aduk antara panik, takut, dan pasrah.

Proses persalinan berjalan, tetapi setelah melahirkan saya mengalami pendarahan hebat. Rasa sakitnya luar biasa, hingga saya diberi morfin. Saking sakitnya, saya sempat berpikir saya tidak akan selamat malam itu. Alhamdulillah, saya masih diberi kekuatan dan akhirnya bisa melewati masa kritis tersebut.

Tiga hari setelah melahirkan, kondisi saya mulai membaik. Saat itu ada seorang ibu yang datang dan menawarkan saya untuk menggunakan jasa postpartum care. Apa itu? Itu adalah layanan perawatan pasca melahirkan yang populer di Korea. Layanan ini mencakup perawatan ibu, bayi, hingga pemulihan fisik. Namun saya menolak, lebih karena pertimbangan pribadi dan biaya.

Setelah tujuh hari dirawat, saya diperbolehkan pulang. Namun saat berada di kasir rumah sakit, saya dan suami dibuat kaget. Karena tidak memiliki asuransi di Korea, biaya persalinan kami mencapai 7,5 juta Won, atau sekitar 89 juta rupiah.

Saya mencoba meminta bantuan bagian administrasi dengan harapan ada potongan atau keringanan. Tetapi staf rumah sakit justru menyalahkan kami. Kalimat yang masih saya ingat hingga sekarang adalah: “Kenapa melahirkan di Korea? Seperti di Indonesia tidak ada rumah sakit saja.”

Saya dan suami hanya bisa terdiam. Akhirnya, kami membayar penuh tanpa potongan sedikit pun. Perasaan saya campur aduk antara lelah, sedih, sekaligus kecewa.

Setelah keluar dari rumah sakit, suami saya akhirnya diterima bekerja di perusahaan partner kami di bidang IT. Saya pun tinggal di rumah untuk mengurus bayi. Namun perjuangan baru saja dimulai.

Perbedaan cuaca, sulitnya mencari layanan kesehatan anak, hingga kendala bahasa membuat hari-hari kami penuh tantangan. Saya masih ingat ketika anak kami demam tinggi di tengah malam. Kami bergegas ke UGD terdekat, tetapi karena saat itu hari Minggu, rumah sakit seperti rumah sakit hantu, yakni sepi, tanpa ada dokter atau perawat yang berjaga.

Ada juga masa ketika saya bingung mencari susu formula untuk bayi. Setiap kali mencoba merek baru, kulit bayi saya bereaksi dengan gatal-gatal dan kemerahan di sekujur tubuh. Saya hanya bisa menangis sendirian sambil menenangkan anak.

Untungnya, saya mendapat dukungan besar dari keluarga suami di Bangladesh dan keluarga saya di Indonesia, meski hanya lewat video call. Suami juga sangat membantu setiap kali ia pulang kerja. Mantan atasan saya bahkan membantu komunikasi dengan pihak rumah sakit dan pengurusan visa.

Setelah lebih dari dua tahun di Korea, saya akhirnya memutuskan pulang ke Indonesia. Saya ingin anak saya belajar bahasa Indonesia dan bersekolah di PAUD. Alhamdulillah, anak saya kini sudah fasih berbahasa ibunya.

Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan ke Bangladesh, negara asal suami. Suami masih harus menyelesaikan kontraknya di Korea hingga 2026, sementara saya dan anak menetap di Bangladesh dulu. Anak saya akan mulai sekolah dasar di sana, dengan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar. Kami pun berencana melanjutkan perjalanan ke Kanada atau Amerika di masa depan, demi masa depan pendidikan anak.

Melahirkan di Korea Selatan memberikan saya banyak pelajaran berharga, terutama tentang persiapan. Untuk Sahabat Ruanita yang mungkin suatu saat berencana melahirkan di luar negeri, saya ingin berbagi beberapa hal:

1. Bahasa itu penting. Jika tidak bisa bahasa lokal, setidaknya harus ada keluarga atau pendamping yang bisa membantu.

2. Asuransi wajib. Jangan pernah bepergian tanpa asuransi, apalagi jika sedang hamil.

3. Postpartum care di Korea sangat baik. Jika ada biaya, jangan ragu untuk ikut. Itu akan membantu pemulihan ibu dan bayi.

4. Status kewarganegaraan bayi. Di Korea, bayi yang lahir dari orang tua bukan warga negara Korea tidak otomatis mendapat hak atau benefit apa pun.

5. Persiapan mental, fisik, dan materi. Semua harus seimbang. Jangan hanya siap materi, tapi juga siap menghadapi cuaca, lingkungan, hingga budaya baru.

Sahabat Ruanita, pengalaman melahirkan di Korea adalah salah satu momen paling sulit sekaligus paling berharga dalam hidup saya. Rasanya seperti ujian besar yang Allah berikan, Alhamdulillah saya bisa melewatinya.

Kalau ditanya, apakah saya mau mengulang pengalaman melahirkan di negara ketiga lagi? Jawabannya: tidak. Terlalu banyak risiko, terutama jika tanpa dukungan keluarga dekat dan tanpa penguasaan bahasa.

Namun, saya tetap bersyukur. Dari pengalaman ini, saya belajar tentang ketabahan, dukungan keluarga, dan pentingnya persiapan. Saya juga belajar bahwa menjadi seorang ibu berarti siap menghadapi hal-hal di luar dugaan, di mana pun kita berada.

Bagi saya, melahirkan di luar negeri, terutama di negara dengan bahasa yang berbeda, bukan hanya soal proses medis. Itu juga soal bertahan hidup, menyesuaikan diri, dan menemukan kekuatan di saat kita merasa sendirian.

Itulah cerita saya, Sahabat Ruanita. Pengalaman melahirkan di Korea Selatan akan selalu menjadi bagian dari perjalanan hidup saya. Meski penuh air mata, rasa sakit, dan kekecewaan, ada juga rasa syukur, cinta, dan kekuatan baru yang saya temukan.

Semoga cerita ini bisa menjadi pelajaran dan inspirasi bagi perempuan Indonesia lain yang mungkin sedang atau akan menghadapi situasi serupa.

Penulis: Sienna Mila, seorang ibu yang tinggal di Bangladesh dan dapat dikontak via akun instagram: sienna_milaa.