Hannover, 26 April – Di balik layar-layar laptop yang menyala pada Minggu pagi, 26 April 2026, puluhan peserta dari berbagai latar belakang berkumpul dalam satu ruang virtual. Bukan sekadar untuk belajar, tetapi untuk berhenti sejenak. Ini adalah sesuatu yang selama ini terasa sulit dilakukan. Melalui program knowledge sharing yang diinisiasi oleh Ruanita Indonesia, sesi bertajuk “Lelah Tapi Nggak Bisa Berhenti” menjadi ruang refleksi yang hangat sekaligus membuka mata.
Selama dua jam di Zoom, peserta diajak menyelami satu pertanyaan sederhana namun sering diabaikan: kenapa kita tetap berjalan, bahkan saat sudah sangat lelah? Sinyal bahwa ada kebutuhan yang belum terpenuhi. Sinyal bahwa ada batas yang mungkin sudah lama terlewati.
Bagi banyak orang, lelah bukan sekadar kondisi fisik. Kelelahan hadir sebagai akumulasi dari peran yang terus bertambah, sebagai pekerja, anak, pasangan, teman, sekaligus individu dengan mimpi pribadi. Namun alih-alih berhenti, banyak justru terus melangkah.
Dalam sesi ini, Bayu Prihandito mengajak peserta melihat lelah dari sudut pandang berbeda. “Lelah bukan kelemahan,” ujarnya, “melainkan sinyal.”
Diskusi kemudian mengalir ke pola-pola internal yang sering kali tidak terlihat, tetapi sangat memengaruhi perilaku sehari-hari. Mulai dari kebiasaan people-pleasing, rasa tidak enak untuk berkata “tidak”, hingga dorongan untuk selalu memberi lebih, bahkan saat diri sendiri kosong.
Beberapa peserta berbagi pengalaman. Ada yang merasa bersalah saat beristirahat, ada pula yang baru menyadari bahwa kelelahan yang dialami bukan semata karena pekerjaan, tetapi karena sulit menetapkan batasan.
Di titik ini, sesi berubah menjadi ruang yang sangat personal. Bukan hanya mendengar, tetapi juga merasa dipahami. Diskusi kemudian mengalir ke pola-pola internal yang sering kali tidak terlihat, tetapi sangat memengaruhi perilaku sehari-hari. Mulai dari kebiasaan people-pleasing, rasa tidak enak untuk berkata “tidak”, hingga dorongan untuk selalu memberi lebih, bahkan saat diri sendiri kosong.
Beberapa peserta berbagi pengalaman. Ada yang merasa bersalah saat beristirahat, ada pula yang baru menyadari bahwa kelelahan yang dialami bukan semata karena pekerjaan, tetapi karena sulit menetapkan batasan. Di titik ini, sesi berubah menjadi ruang yang sangat personal. Bukan hanya mendengar, tetapi juga merasa dipahami.
Peserta juga diperkenalkan pada cara-cara praktis untuk mulai menetapkan batasan. Mulai dari komunikasi asertif hingga mengenali tanda-tanda awal kelelahan emosional sebelum menjadi burnout. Program ini tidak hanya menjadi ruang transfer pengetahuan, tetapi juga ruang aman untuk berbagi. Tawa kecil, anggukan setuju, hingga cerita yang nyaris serupa menciptakan rasa kebersamaan yang kuat.
Di akhir sesi, banyak peserta tidak hanya membawa pulang pemahaman baru, tetapi juga kesadaran bahwa mereka tidak sendiri.
Sebagai catatan penting, tujuan dari program Knowledge Sharing adalah berbagi pengetahuan, pengalaman, dan praktik baik dari para praktisi kesehatan mental Indonesia di berbagai negara, dengan menghadirkan ruang aman untuk mempromosikan kesehatan mental yang inklusif dan selaras dengan nilai-nilai Indonesia.
Program ini merupakan bagian dari inisiatif Ruanita Indonesia yang didirikan dan dikelola oleh Anna Knöbl di Jerman, sebagai ruang kolektif digital berbasis manajemen nilai, resource sharing, dan intervensi komunitas dalam konteks lintas negara. Inisiatif ini berfungsi sebagai social support system yang memanfaatkan teknologi digital modern sebagai medium interaksi dan pembelajaran.
Halo, sahabat Ruanita! Namaku Dewi Novita Sari Lubis, banyak yang memanggilku Dewi Lubis. Aku lahir di Batam dan aku merantau ke Singapura sebagai pekerja migran, sejak 2019. Sampai hari ini, aku telah bekerja dengan tiga pemberi kerja, dan kini sedang menjalani kontrak kedua di majikan ketiga. Di sela-sela bekerja, aku juga melanjutkan pendidikan jarak jauh di Universitas Terbuka, mengambil Ilmu Hukum. Ini seperti cita-cita masa kecil yang tidak pernah padam, sekaligus misi kemanusiaan yang ingin kujalani seumur hidup.
Bagiku, menjadi pekerja migran bukan hanya tentang bekerja dan mengirim uang ke rumah. Ini tentang bertahan, belajar, dan perlahan memahami bahwa sebagai perempuan, aku juga punya hak atas kehidupan yang layak, bermartabat, dan setara.
Pengalaman menjadi relawan dan pendamping sesama sebenarnya sudah dimulai jauh sebelum aku menginjakkan kaki di Singapura. Saat masih di Malaysia, banyak cerita yang datang kepadaku, mulai dari tetangga, teman kerja, hingga orang asing yang tiba-tiba mengetuk pintu rumah hanya untuk bercerita dan meminta bantuan. Ada yang sekadar ingin didengarkan, sampai ada yang benar-benar terjebak dalam masalah besar.
Salah satu peristiwa paling membekas dalam hidupku adalah saat seorang teman kerja meninggal dunia di Malaysia. Rumah sakit membutuhkan data keluarga korban, sementara kami semua tidak tahu harus menghubungi siapa. Aku yang akhirnya berusaha mencari jejak keluarganya. Prosesnya rumit, melelahkan, dan penuh cerita yang sulit dijelaskan dengan logika. Pada akhirnya, orang tua korban datang ke rumahku. Ada kisah yang ambigu, nyaris seperti cerita horor. Namun, aku percaya bahwa mungkin ini jalan yang Tuhan tentukan agar aku belajar tentang empati, tanggung jawab, dan arti kemanusiaan.
Tak lama setelah itu, aku mendapat kabar duka dari seorang tetangga yang bekerja di Singapura. Kabar itu menjadi titik balik, mendorongku untuk berpindah negara dan memulai hidup baru di sini. Sejak saat itu, tanpa sadar, aku kembali berada di jalur yang sama: mendengarkan, menemani, dan membantu.
Hingga hari ini, sudah puluhan aduan yang kuterima. Tidak dengan aksi besar, tidak dengan suara lantang. Aku membantu lewat cara sederhana seperti: mengadvokasi, membimbing, dan memberi semangat lewat percakapan WhatsApp. Kadang hanya dengan kalimat pendek, tapi penuh makna: “Kamu tidak sendiri.”
Perempuan, Hak, dan Kenyataan di Lapangan
Ketertarikanku pada isu kesetaraan berangkat dari satu keyakinan sederhana: aku perempuan, dan aku berhak hidup layak. Setiap kehidupan patut dihargai dan diperjuangkan. Jika seseorang sudah rela berkorban demi orang lain, entah itu keluarga, anak, orang tua, maka mengapa ia tidak layak mendapatkan penghargaan dan kesempatan yang semestinya?
Sayangnya, kenyataan di lapangan sering kali tidak seindah teori. Banyak ucapan, janji, bahkan aturan tertulis yang tidak berjalan sebagaimana mestinya. Aku tidak ingin melihat penderitaan, apalagi pembatasan hak antara perempuan dan laki-laki, atau diskriminasi berdasarkan status sosial, kasta, atau label apa pun. Bagiku, semua orang setara.
Aku pernah melihat dan mendengar langsung cerita kekerasan, ketidakadilan, dan diskriminasi yang dialami teman-temanku. Hal-hal semacam ini bukan cerita langka. Salah satu yang paling mengejutkanku adalah kisah tentang perbedaan upah berdasarkan gender. Seorang pekerja migran Indonesia (PMI) perempuan menjaga seorang nenek dengan upah 850 dolar Singapura per bulan. Ketika ia pulang dan digantikan oleh pekerja laki-laki, upahnya langsung naik sekitar 250 dolar, dengan alasan “tenaganya lebih kuat untuk mengangkat nenek”.
Aku terkejut. Tapi aku juga sadar, dalam posisi kami sebagai pekerja migran, sering kali tidak banyak yang bisa dilakukan.
Bertahan, Bersyukur, dan Tetap Kritis
Aku bersyukur, di majikan tempatku bekerja saat ini, kondisiku relatif baik. Akses komunikasi terbuka, gaji transparan, makanan layak, dan tempat istirahat memadai. Namun, ada yang sangat berarti bagiku, yakni kesempatan untuk melanjutkan pendidikan. Tentu ada hal-hal kecil yang menurutku seharusnya tidak terjadi, tapi aku belajar menerima satu kenyataan: hidup tidak pernah sempurna.
Bagiku, prinsip give and take penting. Tidak semua keinginan bisa terwujud persis seperti harapan. Selama hak-hak dasar terpenuhi, seperti: gaji cukup, waktu istirahat, kesempatan berkembang, maka aku merasa sudah berada di posisi yang layak. Bisa sekolah dan tetap dekat dengan keluarga saja, menurutku sudah lebih dari cukup.
Namun, bukan berarti aku menutup mata terhadap kerentanan yang dialami banyak PMI lain.
Pendidikan, Skill, dan Daya Tawar
Sebagai pekerja migran, aku melihat salah satu akar utama kerentanan upah adalah minimnya pendidikan, pengetahuan, dan keterampilan. Ini menciptakan perbedaan daya saing yang sangat besar, baik antar-PMI maupun dengan pekerja dari negara lain.
Di Singapura, misalnya, pekerja migran dari Filipina yang memiliki sertifikasi caregiver bisa mendapatkan upah 700 hingga 1.500 dolar Singapura. Sementara banyak PMI baru hanya menerima 550–580 dolar. Perbedaannya terlihat jelas dari kemampuan bahasa Inggris dan cara kerja. Ini bukan soal siapa lebih rajin, tapi soal akses terhadap peningkatan kapasitas.
Status sosial juga sangat memengaruhi. Bahkan di antara sesama orang Indonesia di Singapura, perbedaan itu terasa. Mereka yang sudah lama menetap biasanya punya pekerjaan dan upah lebih baik. Dalam relasi dengan majikan, ada yang sangat manusiawi, tapi ada juga yang terang-terangan berkata, “Kamu helper, aku majikan. Kita tidak sama.”
Kalimat seperti itu mungkin terdengar sederhana, tapi dampaknya seperti menciptakan jarak, rasa kecil, dan ketakutan untuk bersuara.
Intimidasi yang Masih Nyata
Kesenjangan antara pekerja formal dan non-formal masih sangat terasa. Meski sering digaungkan bahwa “semua sama”, di lapangan intimidasi masih terjadi. Ada saudari yang gajinya dipotong karena masakannya dianggap tidak enak, atau karena dituduh tidak rajin. Padahal pemotongan gaji semacam itu tidak dibenarkan oleh aturan Ministry of Manpower Singapura.
Ada juga kasus ketika barang majikan rusak tanpa sebab jelas, tapi pekerja yang disalahkan. Ketidaktahuan hak membuat banyak PMI memilih diam, takut kehilangan pekerjaan.
Hukum, Negara, dan Celah yang Berbahaya
Menurut pengamatanku, Indonesia sebenarnya sudah berupaya memperjuangkan kesetaraan dan perlindungan PMI melalui undang-undang dan kebijakan. KBRI juga banyak membantu menyelesaikan kasus. Singapura sendiri punya regulasi yang kuat. Namun, selalu ada celah yang dimanfaatkan pihak tidak bertanggung jawab, termasuk sindikat perdagangan orang atau sponsor.
Salah satu polemik besar adalah direct hire. Di Singapura, ini legal. Di Indonesia, sering dianggap bermasalah karena data PMI tidak tercatat dengan baik. Akibatnya, muncul masalah seperti potongan gaji tidak transparan, atau PMI yang tidak terlindungi secara administratif.
Aku percaya, solusi hanya bisa dicapai lewat kerja sama bilateral yang jelas, pendataan terintegrasi, dan sosialisasi masif kepada PMI dan majikan.
Dalam keterbatasanku, aku memilih satu hal: memberi keberanian. Ketika teman mengeluh gaji terlambat, aku tidak menyuruh mereka marah. Aku ajak bicara dengan sopan. Misalnya, mengirim pesan sederhana: “Mam, besok tanggal 20 ya gajiannya. Terima kasih.”
Tiga bulan terakhir, aku mendampingi dua saudari yang awalnya sangat takut. Sekarang mereka lebih berani menyampaikan hak setelah menunaikan kewajiban. Hal kecil, tapi berdampak besar.
Aku juga melihat bagaimana posisi tawar perempuan sering dilemahkan oleh relasi personal. Banyak PMI perempuan tertipu bujuk rayu pasangan, yang berujung pemecatan, penipuan, bahkan kekerasan. Ada yang membawa pasangan ke rumah majikan, ada yang diintimidasi pacar. Dari cerita-cerita ini, aku belajar satu hal: fokus pada tujuan. Bekerja, mencari nafkah, dan pulang dengan selamat.
Keterbatasan bahasa, skill, dan kepekaan terhadap lingkungan membuat perempuan semakin rentan. Karena itu, strategi terpenting adalah terus belajar.
Pesan untuk Perempuan Pekerja Migran
Aku percaya, perempuan harus terus meningkatkan pengetahuan dan keterampilan. Jangan takut bermimpi lebih tinggi. Kita tidak harus selamanya berada di posisi yang sama. Jika skill meningkat, beranilah melangkah ke posisi yang lebih baik. Jangan terjebak zona nyaman.
Kesetaraan bukan soal menuntut kuasa. Ini tentang hak untuk bahagia, aman, dan dihargai.
Untuk seluruh Perempuan Indonesia Pekerja Migran di Singapura dan di mana pun berada: kalian hebat. Jalan kita tidak selalu lurus dan mulus. Tapi setiap tetes keringat adalah bukti cinta dan pengorbanan. Kalian pantas bahagia. Kejar mimpi kalian. Jangan takut belajar, jangan takut berubah. Masa lalu adalah pelajaran, dan masa depan masih bisa diperjuangkan.
Kalian bukan hanya pahlawan devisa. Kalian adalah perempuan tangguh yang layak hidup setara dan bermartabat.
Penulis: Dewi Lubis, Pekerja Migran di Singapura, Penulis, Mahasiswa Hukum di UT, Founder Komunitas FPMI-SG (Forum Penulis Migran Indonesia Singapura), Tim Relawan Advokasi SBMI DPLN Singapura, serta Relawan Ruanita di Singapura. Dewi dapat dikontak via akun instagram dewi_lubis1.
Melanjutkan program bulanan Diskusi IG LIVE, Ruanita Indonesia di bulan April 2026 hadir dengan tema parenting. Di balik unggahan manis seorang ibu bersama bayinya di luar negeri, ada kisah-kisah yang tak selalu terlihat. Ada rasa syukur, haru, lelah, bingung, bahkan kesepian yang datang bersamaan. Menjadi ibu baru saja sudah menghadirkan perubahan besar, apalagi jika dijalani jauh dari kampung halaman, keluarga, dan budaya yang selama ini menjadi tempat bersandar.
Dalam diskusi Instagram Live Program Bulanan Ruanita Indonesia, topik “New Mom Abroad” menjadi ruang berbagi yang hangat sekaligus reflektif. Bersama dua narasumber inspiratif, antara lain: Ranindra, seorang psikolog sekaligus co-founder Kesmenesia yang tinggal di Prancis. Didampingi Dina, fashion director & stylist sekaligus ibu muda di Amerika Serikat. Diskusi ini menyingkap realitas menjadi ibu baru di negeri orang.
Bagi Dina, perjalanan menjadi ibu di luar negeri dimulai pada masa pandemi COVID-19. Kehamilan yang seharusnya menjadi kabar bahagia justru dibayangi stres administratif dan ketidakpastian sistem kesehatan. Ia mengisahkan bagaimana kebingungan soal asuransi membuat dirinya harus berhadapan dengan proses birokrasi yang melelahkan. Ketidaktahuan terhadap sistem setempat bahkan sempat membuat kunjungannya ke fasilitas kesehatan disalahartikan sebagai permintaan layanan aborsi.
Di tengah situasi pandemi, setiap pemeriksaan kehamilan menjadi sumber kecemasan tersendiri. Namun tantangan terbesar datang saat persalinan. Rencana melahirkan normal berubah drastis menjadi operasi caesar darurat. Kehabisan banyak darah, harus menjalani transfusi, dan terpisah sehari penuh dari sang bayi yang masuk NICU menjadi pengalaman yang begitu membekas.
“Waktu itu rasanya benar-benar seperti di ambang hidup dan mati,” ungkapnya.
Di tengah kondisi fisik dan mental yang rapuh, Dina juga menghadapi tekanan sosial yang datang tanpa empati. Salah satunya ketika seorang sesama orang Indonesia di luar negeri yang justru menghakimi keputusannya memberi susu formula. Komentar semacam itu menjadi contoh nyata bagaimana seorang ibu baru sering kali harus menghadapi ekspektasi dan penilaian, bahkan dari orang yang tak mengetahui perjuangan di balik keputusannya.
Ranindra menyoroti bahwa kesehatan mental ibu baru sering kali mulai terguncang sejak proses persalinan itu sendiri. Banyak perempuan datang ke ruang bersalin dengan harapan tertentu: ingin melahirkan normal, ingin suasana yang tenang, ingin pengalaman yang sesuai impian. Namun realitas tak selalu berjalan seperti rencana.
Ketika proses persalinan berubah mendadak karena alasan medis, ibu harus menghadapi rasa kehilangan atas ekspektasi yang telah dibangun. Menurut Ranindra, ini adalah bentuk grief, yakni duka atas pengalaman yang tidak sesuai harapan yang sering kali tidak disadari.
Di sisi lain, perubahan hormon pasca melahirkan, terutama penurunan estrogen, turut berperan dalam munculnya baby blues. Emosi menjadi naik turun, tubuh kelelahan, dan tekanan tanggung jawab baru datang bersamaan. Sayangnya, kondisi ini sering diremehkan dengan kalimat seperti, “Yang penting ibu dan anak sehat.” Padahal, seperti ditegaskan Ranindra, kesehatan anak berawal dari kesehatan ibunya.
Menjadi ibu baru di luar negeri menambah lapisan tantangan yang unik. Di banyak negara Barat, budaya individualisme sangat kuat. Tidak ada keluarga besar yang siap membantu, tidak ada asisten rumah tangga, dan tidak ada tradisi “diurus” pasca melahirkan seperti yang umum di Indonesia.
Seorang ibu harus mengurus bayi, membersihkan rumah, memasak, hingga menyesuaikan diri dengan ritme hidup baru, sering kali hanya bersama pasangan. Selain itu, perbedaan budaya dalam membesarkan anak juga menjadi tantangan besar.
Di negara-negara Barat, kemandirian anak didorong sejak sangat dini: tidur di kamar sendiri, makan sendiri, hingga dibiasakan menyampaikan pendapat secara langsung. Sementara banyak ibu Indonesia tumbuh dengan nilai kebersamaan, kelekatan, dan pola asuh yang lebih penuh sentuhan. Perbedaan ini kerap memunculkan kebingungan, bahkan konflik kecil dalam keluarga multikultural. Bagi Ranindra, tantangan terbesarnya justru ada pada bagaimana mempertahankan nilai-nilai yang diyakini, sambil tetap terbuka terhadap sistem baru.
“Bukan berarti budaya mereka salah. Tapi saya perlu menjelaskan kenapa saya memilih cara yang sesuai dengan nilai yang saya kenal,” ujarnya.
Saat ditanya tentang cara bertahan, keduanya menekankan pentingnya support system. Bagi Ranindra, satu orang yang benar-benar memahami, terutama pasangan, sudah menjadi penopang besar. Tidak perlu banyak orang, tetapi perlu seseorang yang bisa menjadi tempat bersandar. Dina sendiri merasa beruntung memiliki pasangan yang suportif dan penuh humor, yang membuat masa-masa awal menjadi ibu terasa lebih ringan.
Menjadi ibu baru di negeri orang bukan sekadar soal merawat bayi. Ini adalah perjalanan mengenali diri, menerima ketidaksempurnaan, dan menemukan cara baru untuk merasa utuh. Ada hari-hari penuh tawa, ada malam-malam penuh tangis. Ada rasa bangga, tapi juga rindu. Ada cinta yang besar, namun juga kelelahan yang tak terucap.
Namun dari semua itu, para ibu belajar satu hal penting: rumah tidak selalu berarti tempat. Kadang, rumah adalah rasa aman yang dibangun dalam diri sendiri. Dan bagi para new mom abroad, perjalanan ini bukan hanya tentang membesarkan anak tetapi juga tentang bertumbuh menjadi versi diri yang lebih kuat, lebih lembut, dan lebih berani. Karena pada akhirnya, setiap ibu sedang belajar. Dan itu sudah lebih dari cukup.
Simak selengkapnya rekaman program diskusi IG LIVE berikut ini di kanal YouTube Ruanita – Rumah Aman Kita dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.
Dhaka, 21 April – Dalam rangka memperingati Hari Kartini, diskusi daring bertajuk “Peran Perempuan pada Masa Kartini Modern: Menginspirasi Perempuan untuk Berkarya dan Berdaya” telah diselenggarakan pada Selasa (21/4/2026).
Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara Yayasan Ruanita Perempuan Indonesia dan KBRI Dhaka, serta didukung oleh Dharma Wanita Persatuan (DWP) KBRI Dhaka. Acara dilaksanakan secara daring melalui Zoom dan diikuti oleh peserta dari berbagai negara.
Acara resmi dimoderasi oleh Pelaksana Fungsi Sosial dan Budaya KBRI Dhaka, Sahid Nurkarim, yang memberikan salam pembuka dan menyampaikan tujuan kegiatan serta pentingnya peran perempuan dalam berbagai sektor, termasuk diplomasi budaya.
Sambutan kehormatan disampaikan oleh Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Bangladesh dan Nepal, Y.M. Ibu Listyowati. Dalam sambutannya, ia menegaskan komitmen KBRI Dhaka dalam mendukung peran perempuan sebagai bagian dari diplomasi budaya Indonesia di kawasan Bangladesh dan Nepal.
Pengantar diskusi disampaikan oleh Ketua Dharma Wanita Persatuan KBRI Dhaka, Verra Fastriana, yang menyoroti kontribusi aktif DWP dalam berbagai kegiatan diplomasi budaya, khususnya yang melibatkan perempuan Indonesia di luar negeri.
Diskusi kemudian menghadirkan sejumlah narasumber dari kalangan akademisi dan praktisi. Dosen Hubungan Internasional Universitas Sriwijaya, Maudy Noor Fadhlia, memaparkan peran perempuan dalam diplomasi budaya dari perspektif akademik, termasuk analisis kritis mengenai posisi perempuan dalam hubungan internasional.
Sementara itu, Ari Nursenja, pendiri Rumah BIPA Bandung sekaligus relawan Ruanita dan mahasiswa doktoral di Finlandia, membagikan pengalaman mengenai peran komunitas dan organisasi dalam memperkuat diplomasi berbasis perempuan.
Dari lapangan, dua relawan Ruanita turut berbagi pengalaman langsung. Risti Putri yang berdomisili di Nepal dan Eliawati di Bangladesh memaparkan praktik nyata keterlibatan perempuan dalam kegiatan sosial dan budaya yang berdampak pada penguatan hubungan masyarakat Indonesia dengan komunitas lokal.
Kegiatan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang dipandu oleh Sahid Nurkarim. Peserta aktif mengajukan pertanyaan yang kemudian dijawab oleh para narasumber, mencerminkan tingginya antusiasme terhadap isu pemberdayaan perempuan di ranah global.
Acara ditutup dengan kesimpulan yang menegaskan bahwa perempuan memiliki peran strategis dalam membangun diplomasi budaya, tidak hanya melalui institusi formal, tetapi juga melalui komunitas dan inisiatif individu. Melalui kegiatan ini, diharapkan semangat Kartini terus hidup dalam bentuk nyata, yakni perempuan yang berdaya, berkarya, dan mampu memberikan kontribusi positif di tingkat nasional maupun internasional.
Jakarta, April 2026 – Ruanita Indonesia bersama Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Amerop telah menyelenggarakan workshop online bertajuk “The Forgotten Banda Neira: Women, Gender, Inclusivity & Social Justice in Island Community” pada Sabtu–Minggu, 18–19 April 2026 melalui platform Zoom.
Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian persiapan program pengabdian masyarakat ke Banda Neira, dengan fokus pada penguatan perspektif etika, kesadaran gender, serta keadilan sosial bagi peserta yang berasal dari berbagai negara studi.
Workshop difasilitasi oleh Fransisca Ariantiningsih, PhD student di Amerika Serikat dan aktivis lingkungan hidup; Zakiyatul Mufidah, PhD student di Inggris sekaligus dosen di Indonesia; serta fasilitator Ferdyani Atikaputri dan Anna Knöbl.
Selama dua hari pelaksanaan, workshop menghadirkan ruang diskusi yang mendorong peserta untuk memahami Banda Neira tidak hanya sebagai lokasi geografis atau destinasi sejarah, tetapi sebagai komunitas dengan kompleksitas sosial yang dipengaruhi oleh warisan kolonial, dinamika ekonomi, serta relasi gender.
Peserta diajak untuk merefleksikan berbagai pertanyaan kunci, antara lain:
Bagaimana cara berkunjung tanpa mengeksotisasi komunitas lokal?
Siapa yang diuntungkan dari narasi tentang Banda Neira?
Bagaimana sejarah kolonial masih memengaruhi kehidupan sosial saat ini?
Pendekatan yang digunakan bersifat partisipatif, melalui diskusi kelompok, refleksi kritis, serta pemetaan gagasan secara kolektif.
Workshop juga menekankan pentingnya memahami isu gender dalam konteks yang lebih luas melalui pendekatan interseksionalitas, yang mempertimbangkan keterkaitan antara gender, kelas, geografi, dan akses terhadap sumber daya.
Dalam sesi diskusi, peserta mengeksplorasi konsep kerja tak terlihat (invisible labor), khususnya peran perempuan dalam menopang kehidupan sosial dan ekonomi yang sering tidak tercatat dalam narasi dominan.
Selain itu, peserta didorong untuk mengembangkan kesadaran terhadap posisi dan peran mereka sebagai bagian dari masyarakat yang lebih luas, serta potensi bias dalam praktik pengabdian masyarakat.
Salah satu fokus utama workshop adalah membangun kesadaran tentang etika representasi dan risiko eksotisasi dalam dokumentasi maupun narasi tentang komunitas.
Peserta diajak untuk membedakan antara empati dan pendekatan yang berpotensi memosisikan masyarakat sebagai objek, serta untuk menghindari narasi yang bersifat heroik atau paternalistik.
Sebagai bagian dari proses ini, peserta juga menyusun komitmen etis yang akan menjadi panduan dalam pelaksanaan kegiatan lapangan.
Sebagai tindak lanjut, peserta diharapkan membentuk kelompok kerja untuk mengembangkan karya kolektif, ssebagai medium yang etis dan tidak eksploitatif, sekaligus menjadi arsip pembelajaran kolektif peserta.
Komitmen terhadap Pembelajaran Kritis
Melalui workshop ini, Ruanita Indonesia menegaskan komitmennya dalam mendorong pendekatan pengabdian masyarakat yang tidak hanya berorientasi pada kegiatan lapangan, tetapi juga pada proses pembelajaran kritis, reflektif, dan berkelanjutan.
Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi landasan bagi peserta untuk menjalankan program pengabdian dengan kesadaran sosial yang lebih mendalam, serta membangun praktik yang lebih adil dan inklusif dalam berinteraksi dengan komunitas.
Memperingati Hari Kartini pada 21 April ini, Ruanita Indonesia menghadirkan program audio podcast spesial berbahasa Inggris, Jibber-jabber Indonesian Women Abroad episode ke-6. Kita akan mendengarkan bagaimana perjalanan dari ruang kelas di Chiang Mai hingga ruang rapat perusahaan teknologi di Zurich, dari Hesti Aryani dalam belajar memahami dunia melalui bahasa.
Dalam podcast Jibber JabberIndonesian Women Abroad, dari Ruanita Indonesia, Hesti berbagi kisahnya sebagai perempuan Indonesia yang hidup dan bekerja di luar negeri, menavigasi identitas, bahasa, dan sistem yang sering kali kompleks bagi pendatang baru.
Pada usia 21 tahun, Hesti menerima kesempatan mengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) di Chiang Mai, Thailand. Tanpa banyak persiapan, bahkan tanpa penguasaan bahasa lokal, Hesti melangkah keluar dari zona nyaman. Dari situ, pintu-pintu lain terbuka, hingga akhirnya membawanya ke Swiss pada 2019, tepat sebelum pandemi. Namun, seperti banyak cerita migrasi lainnya, perjalanan ini bukan tanpa kejutan.
“Saya selalu membayangkan kalau pindah ke luar negeri, itu ke negara berbahasa Inggris,” ujarnya. “Tapi hidup punya rencana lain.”
Tiba di Swiss, Hesti dihadapkan pada realitas yang lebih kompleks dari sekadar perbedaan bahasa. Negara dengan empat bahasa nasional ini menuntut lebih dari kemampuan berbahasa Inggris.
Dari mengurus asuransi, mencari tempat tinggal, hingga membuat janji dokter. Semuanya dilakukan dalam bahasa Jerman. Bahkan dokumen resmi dan komunikasi administratif hampir sepenuhnya menggunakan bahasa lokal.
“Bukan cuma soal bahasa,” jelasnya. “Tapi juga memahami konteks budaya, cara komunikasi, bahkan cara berpikir yang sangat terstruktur dan sistematis.”
Pengalaman ini memperlihatkan bahwa bahasa adalah pintu masuk ke sistem Kini, Hesti bekerja sebagai profesional di perusahaan teknologi di Zurich. Perannya berada di persimpangan antara bisnis, bahasa, dan teknologi mulai dari melatih model kecerdasan buatan hingga membangun kemitraan lintas budaya.
Menariknya, latar belakang linguistiknya justru menjadi kekuatan utama.
Ia membantu “menerjemahkan” bukan hanya bahasa, tetapi juga makna, konteks, dan nuansa, yakni sesuatu yang belum sepenuhnya bisa dilakukan mesin.
“Teknologi penting, tapi empati dan pemahaman manusia tetap tidak tergantikan,” tegasnya dan tanpa kunci yang tepat, akses menjadi terbatas.
Kisah Hesti adalah cerminan pengalaman berlapis yang dialami banyak perempuan Indonesia di luar negeri di mana identitas sebagai perempuan, migran, profesional, dan pembelajar bahasa saling beririsan. Ini bukan hanya tentang berpindah tempat, tetapi tentang membangun ulang diri di lingkungan yang baru.
Dan mungkin, seperti yang ditunjukkan Hesti, kuncinya bukan pada seberapa siap kita saat memulai melainkan seberapa terbuka kita untuk terus belajar di sepanjang perjalanan.
Tentang Podcast Jibber-Jabber Indonesian Women Abroad
Podcast audio berbahasa Inggris ini inisiatif Ruanita Indonesia (www.ruanita.com), sebuah organisasi nirlaba yang berkomitmen menciptakan ruang aman bagi perempuan Indonesia di perantauan. Melalui Jibber-Jabber Indonesian Women Abroad, Ruanita Indonesia ingin menghadirkan refleksi perempuan Indonesia dengan interseksionalitas yang dialaminya dalam konteks transnasional, sebagaimana yang digagas oleh Anna Knöbl.
Simak selengkapnya di kanal SPOTIFY berikut dan pastikan FOLLOW untuk mendukung kami.
Halo, sahabat Ruanita! Aku, Cindy, perempuan Indonesia yang kini menjalani babak baru kehidupan sebagai ibu di Vietnam. Kisahku bermula lebih dari tiga belas tahun lalu, ketika tahun 2012 aku berangkat ke Jerman untuk menempuh kuliah S1 jurusan Arsitektur di Hannover. Aku melanjutkan S2 di Cologne dan aku bertemu dengan suamiku, seorang pria Jerman. Setelah lulus, aku bekerja selama tiga tahun di sebuah perusahaan pemerintahan di Jerman.
Tahun 2023, hidupku memasuki fase baru. Aku menikah dengan suamiku dan tak lama kemudian, kami mendapat kabar bahwa pekerjaannya membawa kami ke Vietnam, tepatnya ke kota pantai kecil bernama Quy Nhon.
Perusahaan Jerman tempatnya bekerja menugaskannya mengurus pabrik di sana. Aku mendukung penuh keputusan ini, karena aku pun menyukai pengalaman mengenal budaya dan negara baru. Jadilah kami memulai petualangan baru di Vietnam.
Hidup di Vietnam sangat berbeda dengan di Jerman. Di Jerman, aku terbiasa menikmati udara segar, keindahan empat musim, dan ketenangan kota-kota kecil. Aku dan suamiku sering mendadak pergi hiking atau menjelajah kota tetangga.
Di Quy Nhon, meski ada pantai yang indah, aku merindukan suasana hijau, dingin, dan adem-ayem ala Jerman. Vietnam terasa lebih riuh, semrawut, dan sulit dijangkau secara bahasa.
Komunikasi menjadi tantangan karena kami tidak bisa berbahasa Vietnam, membuat interaksi sosial terasa terbatas. Natal dan Paskah yang biasa dirayakan dengan hangat di Jerman, di sini terasa tidak ada artinya.
Kehamilan pertamaku menjadi tantangan besar, terlebih di negeri orang. Tiga bulan pertama adalah masa yang berat. Aku mengalami mual hebat, muntah-muntah, bahkan bau makanan atau air pun membuatku pusing. Aku berhenti dari pekerjaan online-ku karena kesehatan tidak memungkinkan. Yang paling terasa adalah rasa sepi, karena tidak ada keluarga atau teman dekat di sini. Mungkin juga aku terkendala oleh bahasa di sini.
Untungnya, ketika usia kandungan memasuki empat bulan, aku sempat pulang ke Indonesia selama sebulan. Itu menjadi momen yang sangat menyenangkan sekaligus mengisi energi untukku. Aku juga merasa beruntung memiliki seorang teman Vietnam yang selalu menemani setiap kali kontrol kehamilan. Ia menjadi penerjemah, karena dokter di kota kecil seperti Quy Nhon jarang bisa berbahasa Inggris. Meski fasilitas medis di sini cukup modern, kebersihannya tidak sebaik di Jerman. Namun, biaya layanan medis di Vietnam sangat terjangkau, bahkan tanpa asuransi pun tidak terasa memberatkan.
Di Quy Nhon, tidak ada satu pun orang Indonesia. Teman-teman kami sebagian besar adalah ekspatriat atau orang Vietnam yang bisa berbahasa Inggris. Dukungan mereka terasa berarti, terutama saat mendampingi kami menghadapi proses kehamilan dan persalinan. Mereka membantu menjadi penerjemah, memberikan informasi rumah sakit, bahkan sekadar berbagi pengalaman.
Pengalaman melahirkan di Vietnam juga sangat berbeda. Rumah sakit tidak menyediakan perlengkapan dasar seperti popok, selimut, sabun, hingga alat mandi bayi. Semua harus dibawa sendiri. Layanan seperti membersihkan ibu pascaoperasi, memandikan bayi, atau mengganti sprei harus dipesan secara terpisah. Bahkan makanan untuk pasien pun tidak disediakan, karena keluarga biasanya yang merawat pasien. Di sisi lain, biaya rumah sakit jadi jauh lebih murah, karena yang dibayar hanya paket operasi, dokter, dan kamar rawat inap.
Selama tinggal di Jerman, aku terbiasa dengan budaya mandiri. Semua urusan rumah dan anak dikerjakan sendiri tanpa bantuan nanny. Yang istimewa, pemerintah memberikan fasilitas Vater/Mutterzeit, atau yang disebut sebagai cuti melahirkan dan mengasuh anak dengan gaji tetap, sehingga orang tua punya waktu berkualitas bersama bayi. Fasilitas umum pun mendukung, seperti taman hijau, playground, serta kursus ibu dan anak.
Di Indonesia atau Vietnam, budaya kekeluargaan lebih kental. Anak biasanya diasuh bersama kakek-nenek, atau dititipkan di daycare dengan biaya relatif terjangkau. Namun, fasilitas hijau untuk anak bermain tidak banyak. Di Indonesia, anak lebih sering diajak ke mal atau dikenalkan dengan gadget sejak dini.
Di Vietnam, aku sempat kaget dengan kebiasaan mereka bicara dengan nada keras, bahkan kepada bayi. Kadang bayi diberikan mainan yang sangat berisik sebagai hiburan. Selain itu, anak-anak di sini umumnya masuk daycare sejak usia satu tahun karena kedua orang tua bekerja. Daycare bahkan buka hingga Sabtu, sehingga anak menghabiskan sedikit waktu dengan orang tuanya.
Saat aku memesan layanan memandikan bayi, ada tradisi unik. Bayi ditempelkan daun-daunan yang dibakar, katanya untuk kesehatan dan kehangatan tubuh. Aku dan suami memilih pendekatan campuran. Tidak sepenuhnya gaya Eropa, Indonesia, atau Vietnam, tapi yang penting kami punya waktu berkualitas dengan anak.
Suamiku, meskipun sibuk bekerja, ikut terlibat penuh mengurus bayi. Kami berbagi tugas secara setara. Aku ingin anak kami tumbuh dekat dengan alam dan tidak terlalu sibuk dengan gadget.
Masa setelah melahirkan adalah fase paling berat. Setelah keluargaku yang sempat datang dua minggu kembali ke Indonesia, aku merasakan kesepian yang luar biasa. Suamiku sering harus mengambil cuti untuk membantu mengurus bayi yang selalu menangis. Tidur hanya tiga jam per malam, tangan pegal karena harus menggendong terus, payudara bengkak karena aktivitas menyusui semuanya terasa melelahkan.
Aku juga sempat merasa kehilangan diriku sendiri. Hidup seolah hanya berputar pada bayi. Mau mandi atau makan pun harus cepat-cepat sebelum bayi menangis, apalagi kami sendirian di Vietnam tanpa keluarga dan terkendala bahasa. Aku sangat khawatir, jika kami berdua sakit, siapa yang akan menolong untuk mengurus bayi kami.
Kadang aku bertanya-tanya, apakah aku melakukan yang benar? Apakah aku cukup baik sebagai ibu?
Suamiku menjadi penopang utama, baik fisik maupun mental. Ia rela bangun tengah malam untuk mengganti popok agar aku bisa sedikit beristirahat setelah menyusui. Saat akhir pekan, ia sepenuhnya mengurus bayi supaya aku bisa punya me-time. Aku bersyukur karena meski waktu berdua nyaris tidak ada, dia tetap sabar dan memahami perubahan besar yang kami alami.
Kehamilan dan kelahiran membuatku banyak merenung. Kenapa aku ingin punya anak? Jawabannya sederhana, yakni karena aku ingin mencintai manusia kecil ini tanpa pamrih. Seorang bayi tidak pernah meminta dilahirkan, maka sudah seharusnya aku memberikan seratus persen cintaku tanpa mengharapkan balasan.
Sekarang aku menjadi sangat menghargai peran seorang ibu, apalagi mereka yang punya banyak anak dan tetap harus mengurus keperluan rumah tangga. Walaupun terkadang capek dan berat di awal, pengalaman dan peran menjadi seorang ibu untukku sangat berharga. Aku kini sangat bahagia menjalaninya. Rasanya bahagia sekali melihat senyum bayi hanya karena hal-hal kecil. Menjadi orang tua juga berarti punya kesempatan untuk mengenalkan dunia pada anak.
Di Vietnam, aku tidak menemukan komunitas Indonesia secara offline, tapi aku sangat terbantu dengan komunitas daring, terutama grup ibu menyusui di Indonesia. Aku sangat terbantu dengan teman-teman di Jerman dan Indonesia. Aku juga sering berbagi cerita dengan teman-teman di Jerman, kakak, ibuku, bahkan teman Vietnam yang berpengalaman hamil di kota ini.
Sharing sangat penting agar tidak merasa sendirian. Aku juga selalu jujur dengan suamiku, apalagi soal kelelahan atau rasa sedih. Aku berharap bisa menjadi orang tua yang baik dan sabar, meskipun lelah. Aku ingin cinta dengan suami tetap tumbuh seiring kehadiran anak kami.
Di negara asing ini, kami belajar menjadi tim yang kuat, menghadapi tantangan bersama, dan tetap bisa menikmati petualangan. Hari-hariku kini sepenuhnya untuk bayi. Keluar rumah hanya saat malam atau akhir pekan. Weekend bersama keluarga adalah momen berharga. Kami pergi ke pantai atau kafe sekadar mencari suasana baru. Awalnya rutinitas ini terasa berat, tapi melihat bayi kami tumbuh dan belajar hal baru setiap minggu, aku merasa semua lelah terbayar.
Aku memilih berbicara dengan bayiku dalam bahasa Indonesia. Aku juga ingin mengenalkan budaya Indonesia sejak dini. Suamiku sudah cukup mengenal budaya ini, karena sering berinteraksi dengan keluargaku. Aku berharap bisa sering pulang ke Indonesia dan Jerman agar anakku lebih dekat dengan akar budayanya.
Kisah ini adalah catatan perjalanan seorang ibu baru di negeri asing. Tidak mudah, tapi ada kebahagiaan di setiap peluh dan air mata. Seperti kata orang, menjadi ibu adalah pekerjaan paling berat sekaligus paling membahagiakan di dunia.
Penulis: Cindy, relawan Ruanita dan sekarang sedang menetap di Vietnam. Cindy dapat dikontak melalui akun instagram cinguch atau kanal YouTube-nyaCindy Guchi.
Melanjutkan program cerita sahabat spesial di bulan April 2026, Ruanita Indonesia mengangkat tema Hari Kesehatan Sedunia yang jatuh pada 7 April, dengan mengundang sahabat Ruanita yang berprofesi sebagai ibu dan peneliti medis di Jepang. Dia adalah Ratoe Suraya yang pernah menjadi dokter di Indonesia kemudian melanjutkan studi PhD di Jepang dan kini menetap di negeri matahari terbit tersebut.
Dokter Ratoe, begitu akrab disapa, kini bekerja di lab respirologi atau laboratorium yang khusus menangani paru di Kobe University, Provinsi Hyogo di Jepang. Tentunya berada dalam posisi sekarang, tidak mudah dihadapi oleh Ratoe sendiri. Terbentur oleh ijin praktik di Jepang, membuatnya banting sentir menjadi peneliti di Jepang.
Ratoe mengakui, bekerja di Jepang diperlukan kompetensi bahasa Jepang yang cukup menantang. Di samping itu, dia harus berbagi peran sebagai pekerja profesional dan ibu rumah tangga di Jepang, termasuk bagaimana mengerjakan tugas domestik, tanpa asistensi dari siapa pun. Bersyukur bahwa pemerintah Jepang memberikan layanan kesehatan yang sama untuk pekerja profesional seperti Ratoe dan keluarganya.
Sebagai contoh, anaknya dapat dititipkan di Akachan Baby Home atau Daycare sejak berusia 6 bulan. Ratoe mengakui tidak ada kesulitan untuk mendaftarkan anak di Daycare di Kota Kobe, Provinsi Hyogo. Menurutnya, pemerintah Jepang sangat concern terhadap kesehatan ibu dan anak mulai sejak dalam kandungan si ibu. Hal itu bisa diterapkan di Indonesia untuk mencegah penyakit-penyakit yang rentan dan berisiko.
Sebelum anak dilahirkan, ada pre screening untuk mengetahui kelainan metabolis dan kelainan kongenital selama dalam kandungan. Setelah anak lahir, ada pengecekan juga seperti screening tulis, screening mata dan seterusnya yang memastikan status kesehatan anak. Di Jepang, setiap anak mendapatkan tunjangan anak dengan prosedur yang mudah, termasuk untuk pekerja profesional seperti Ratoe yang bukan merupakan warga negara Jepang.
Ratoe mengingatkan bahwa tidak perlu khawatir jika ada orang Indonesia yang ingin tinggal dan menetap di Jepang apabila membawa anak-anak mereka. Bagaimana pun pemerintah Jepang memastikan setiap orang yang tinggal di Jepang untuk mendapatkan layanan kesehatan yang berlaku sama untuk warga negara Jepang sendiri.
Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan tayangan video berdurasi sekitar 10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube Ruanita Rumah Aman Kita dan dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebagai ruang aman berbagi cerita inspiratif perempuan Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Program ini mengangkat pengalaman nyata, perjuangan, serta refleksi para perempuan dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mendorong promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Digagas oleh Anna Knöbl di Jerman, CSS menjadi wadah yang memperkuat suara perempuan, membangun solidaritas, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keadilan serta kesempatan yang setara bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan.
Belajar dari studi dan tinggal di Jepang, apa rekomendasi Dokter Ratoe untuk pemerintah Indonesia di Hari Kesehatan Sedunia bagi layanan kesehatan ibu dan anak? Simak selengkapnya di Kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.
Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan saya, Wenny, di Prancis. Saya menikah dengan pria berkewarganegaraan Prancis. Karena jadwal kerja suami yang sangat padat, ia jarang berada di rumah. Sehari-hari, saya yang mengurus dan membesarkan anak kami seorang diri.
Dalam keluarga, bahasa sehari-hari yang kami gunakan adalah Bahasa Inggris, walaupun mertua dan suami saya lebih nyaman menggunakan Bahasa Prancis. Saya sendiri tidak begitu fasih lagu-lagu anak berbahasa Prancis, sehingga sejak anak bayi saya terbiasa menggunakan YouTube untuk memutarkan lagu-lagu tersebut. Tanpa sadar, dari situlah anak saya banyak terpapar screen time. Saya belakangan menyadari bahwa kebiasaan ini membuat anak jadi sulit mengendalikan emosi dan cenderung kecanduan layar.
Selain itu, anak saya lahir prematur. Dia lahir sebulan lebih cepat dari perkiraan. Proses kelahiran pun cukup sulit. Saya harus menunggu lama untuk melahirkan normal, meski akhirnya dokter tetap melakukan operasi caesar. Sejak lahir, saya sudah merasa ada sesuatu yang berbeda. Anak saya jarang sekali mengeluarkan suara, tidak “bubbling” seperti bayi pada umumnya.
Ketika usianya masuk satu tahun, tanda-tanda keterlambatan bicara mulai semakin jelas. Meski ia mengerti instruksi dan bisa merespons panggilan, ia jarang mengeluarkan kata. Saat berinteraksi dengan keluarga suami, mereka tidak terlalu khawatir. Bagi mereka, wajar saja anak menjadi bilingual atau bahkan trilingual karena terbiasa mendengar tiga bahasa (Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Bahasa Prancis). Mereka percaya suatu hari nanti anak akan bisa berbicara. Namun sebagai seorang ibu, saya tetap merasa cemas.
Saya dan suami sempat membawa anak ke beberapa dokter, dari dokter umum hingga pediatric. Hasilnya? Tidak ada diagnosis khusus, hanya saran agar kami sabar dan mengurangi screen time. Seorang pediatris bahkan menekankan konsep zero screen bagi anak kecil. Tetapi praktiknya sulit, karena saya sendirian mengurus rumah dan anak tanpa banyak dukungan.
Di usia 2 tahun 5 bulan, anak saya sudah sangat mengerti apa yang kami katakan dalam Bahasa Prancis maupun Bahasa Inggris. Ia bisa mengikuti instruksi sederhana, bahkan membantu menyiapkan sepatu ketika kami hendak keluar rumah. Namun kosakatanya masih terbatas, seperti: hanya “mama”, “papa”, “yes”, “no”, dan beberapa kata dalam Bahasa Prancis. Anak saya menunjukkan kecerdasan dalam aspek motorik dan tindakan, tetapi perkembangan verbalnya lambat.
Menurut saya, sistem kesehatan di Prancis terasa lambat jika dibandingkan dengan di Indonesia, di mana layanan terapi wicara sudah mulai berkembang luas. Di sini, kami harus mencari sendiri referensi dan dokter belum tentu mau menerima pasien baru tanpa rujukan resmi.
Tantangan terberat bagi saya adalah rasa kesepian dalam mengasuh anak. Suami sibuk, keluarga jauh, dan keterampilan bahasa saya yang terbatas membuat saya harus berjuang ekstra. Anak saya tidak pergi rutin ke daycare lagi, karena keterbatasan waktu suami untuk mengantar, sehingga kesehariannya lebih banyak bersama saya.
Meski begitu, saya belajar untuk bersyukur. Hal-hal kecil seperti mendengar anak menyebut “mama” atau “daddy” sudah menjadi kebahagiaan besar bagi saya. Saya percaya anak saya termasuk late bloomer. Suatu hari, ia akan berbicara dengan lancar, mungkin pada usia 3 atau 4 tahun.
Saya menyadari bahwa membesarkan anak di luar negeri, dengan latar budaya dan bahasa yang berbeda, penuh tantangan. Ada kalanya saya merasa bingung antara mengajarkan bahasa Indonesia, bahasa Inggris, atau bahasa Prancis. Mertua tentu berharap cucu mereka fasih berbahasa Prancis, sementara saya ingin anak tetap mengenal bahasa ibu.
Harapan saya sederhana: semoga anak saya bisa tumbuh percaya diri dan mampu berkomunikasi dengan baik layaknya anak-anak lain seusianya, meskipun jalannya sedikit lebih lambat.
Tips dari saya untuk orang tua lainnya, tanpa bermaksud menggurui tetapi belajar satu sama lain, antara lain:
Kurangi paparan layar sejak dini. Lebih baik memperkenalkan lagu anak-anak secara langsung, bukan dari YouTube.
Konsistensi bahasa. Pilih satu bahasa utama lebih dulu sebelum memperkenalkan bahasa lain agar anak tidak bingung.
Dukungan bersama. Ayah dan ibu perlu sama-sama terlibat, jangan hanya salah satu yang memikul beban pengasuhan.
Bersyukur pada progres kecil. Setiap kata baru yang keluar dari mulut anak adalah pencapaian besar.
Siap menghadapi perbedaan budaya. Tinggal di luar negeri berarti siap menghadapi pola asuh, aturan, dan ekspektasi yang berbeda dengan di Indonesia.
Sahabat Ruanita, menjadi ibu dari anak dengan keterlambatan bicara membuat saya belajar banyak hal. Saya belajar tentang kesabaran, penerimaan, dan arti syukur. Saya yakin, bahwa setiap anak punya waktunya sendiri. Dan untuk anak saya, meski ia seorang late bloomer, saya percaya suatu hari nanti ia akan mengejar ketertinggalannya.
Penulis: Wenny, tinggal di Prancis dan dapat dikontak via akun instagram wennymarty.
Den Haag, 11 April — Dalam rangka peringatan Hari Kesehatan Sedunia 2026, Ruanita Indonesi kembali hadir menggelar diskusi daring yang berfokus pada kesehatan gigi. Tema acara yang diambil yakni: “Kupas Tuntas Kesehatan Gigi dari Balita ke Lansia” memberikan pemahaman yang mendalam perihal kesehatan gigi yang terabaikan. Diskusi daring yang hangat tentang kesehatan gigi dan mulut mengalir selama dua jam penuh, mempertemukan orang tua, caregiver, anggota komunitas lansia seperti ALZI Ned, hingga pemerhati kesehatan dalam satu ruang virtual.
Kegiatan ini menjadi refleksi bahwa kesehatan gigi dan mulut bukan sekadar urusan estetika, melainkan bagian tak terpisahkan dari kualitas hidup. Momentum Hari Kesehatan Sedunia dimanfaatkan untuk menyoroti isu yang kerap luput dari perhatian, padahal dampaknya terasa sejak usia dini hingga lanjut usia.
Diskusi dibuka oleh moderator, Dessy de Waal-Ekarini, tenaga kesehatan yang bermukim di Belanda. Dalam pengantarnya, ia mengajak peserta melihat kesehatan gigi sebagai investasi jangka panjang. “Perawatan gigi bukan hanya soal hari ini, tetapi tentang masa depan anak-anak kita dan kualitas hidup saat menua,” ujarnya, mengawali sesi dengan penuh semangat.
Sesi pertama menghadirkan Drg. Natalia Ekaputri dari Belanda yang mengupas kesehatan gigi anak-anak. Ia menekankan bahwa masalah gigi berlubang pada balita dan anak usia sekolah masih menjadi tantangan serius, termasuk di komunitas diaspora. Menurutnya, peran orang tua sangat krusial dalam membentuk kebiasaan sejak dini. Orang tua memerhatikan kebiasaan si kecil mulai dari membatasi konsumsi gula, membiasakan menyikat gigi dua kali sehari, hingga rutin memeriksakan gigi ke dokter.
Dengan gaya penyampaian yang komunikatif, ia menjelaskan bagaimana gangguan gigi dapat memengaruhi tumbuh kembang anak, konsentrasi belajar, bahkan kepercayaan diri. “Rasa sakit pada gigi bisa membuat anak sulit makan dan tidur. Dalam jangka panjang, ini memengaruhi nutrisi dan perkembangan mereka,” jelasnya. Para orang tua tampak antusias, terlihat dari deretan pertanyaan yang mulai memenuhi kolom chat bahkan sebelum sesi berakhir.
Memasuki sesi kedua, Drg. Asti Sutanto dari Belgia memperluas perspektif ke kelompok dewasa dan lansia. Ia mengingatkan bahwa masalah gigi tidak berhenti ketika seseorang beranjak dewasa. Penyakit gusi, kehilangan gigi, hingga infeksi mulut dapat berkaitan erat dengan penyakit kronis seperti diabetes dan gangguan jantung. Pada lansia, tantangannya semakin kompleks, terutama bagi mereka yang mengalami penurunan fungsi kognitif atau berisiko demensia.
Ia juga menyoroti pentingnya dukungan keluarga dan caregiver dalam merawat kesehatan mulut lansia, terutama yang memiliki keterbatasan fisik. “Kesehatan mulut memengaruhi kemampuan makan, berbicara, dan bersosialisasi. Pada lansia, ini sangat berhubungan dengan kualitas hidup,” paparnya.
Sesi tanya jawab menjadi bagian paling dinamis. Peserta dari komunitas parenting dan komunitas lansia seperti ALZI Ned aktif berbagi pengalaman, mulai dari anak yang sulit menyikat gigi hingga orang tua lanjut usia yang menolak memakai gigi tiruan. Diskusi berkembang menjadi ruang saling belajar, tidak hanya antara narasumber dan peserta, tetapi juga antarpeserta.
Beberapa peserta mengaku baru menyadari kaitan erat antara kesehatan gigi dan risiko penyakit sistemik. Ada pula yang terinspirasi untuk mulai menerapkan jadwal pemeriksaan rutin keluarga setelah mengikuti diskusi ini.
Kegiatan ditutup dengan rangkuman pesan kunci dari kedua pemateri bahwa pencegahan lebih baik daripada pengobatan. Edukasi harus dimulai sejak dini serta berlanjut sepanjang hayat. Semangat kolaborasi lintas komunitas terasa kuat, membuka peluang kerja sama berkelanjutan dalam program promotif dan preventif di masa mendatang.
Dessy de Waal-Ekarini sebagai moderator menyatakan bahwa diskusi daring ini bukan sekadar peringatan seremonial, melainkan pengingat bahwa senyum sehat adalah cerminan kepedulian terhadap diri sendiri dan orang-orang terkasih. Dari balita hingga lansia, kesehatan gigi dan mulut terbukti menjadi fondasi penting bagi hidup yang lebih berkualitas, yang selama ini masih kurang menjadi perhatian kesehatan secara keseluruhan.
Rekaman acara dapat disimak di kanal kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.
Dalam edisi spesial Hari Kesehatan Dunia, Podcast Rumpita – Rumpi bersama Ruanita – menghadirkan narasumber istimewa: drg. Natalia Ekapuntri, seorang dokter gigi asal Indonesia yang kini tinggal dan berpraktik di Belanda.
Bersama Anna di Jerman dan Dianita di India, diskusi podcast Rumpita kali ini menyoroti pentingnya kesehatan mulut dan gigi anak-anak, serta berbagai tantangan dan sistem pelayanan kesehatan gigi di Belanda.
Saat pertama kali pindah ke Belanda, Natalia tidak bisa langsung membuka praktik. Ia harus mengikuti serangkaian uji kualifikasi, mulai dari uji bahasa Belanda setara IELTS, hingga tes teori dan praktik kedokteran gigi yang sangat ketat. Proses ini memakan waktu hingga dua tahun, apalagi sambil mengurus keluarga dan membesarkan anak.
Di Belanda, sistemnya menekankan tanggung jawab individu. Semua dokter, termasuk dokter gigi, harus melalui validasi menyeluruh sebelum bisa praktik,” ujar Natalia.
Diskusi kemudian mengarah pada kasus anak-anak yang takut ke dokter gigi. Diana, co-host yang tinggal di India, bercerita tentang putranya yang mengalami trauma karena pengalaman buruk saat pemeriksaan di sekolah. Anak-anak lain menangis dan berteriak, dan sejak itu putranya enggan ke dokter gigi.
Natalia menanggapi dengan menyampaikan bahwa trauma seperti ini bisa dipahami, tetapi bisa dipulihkan. Yang terpenting adalah membangun kepercayaan anak terhadap dokter gigi, mulai dari hal sederhana seperti menyambut dengan ramah, mengenalkan alat-alat secara visual, hingga memberi ruang komunikasi yang nyaman.
“Saya selalu bilang ke pasien anak, saya bukan sekadar dokter gigi, saya adalah teman mereka yang ingin tahu pengalaman mereka,” jelas Natalia.
Natalia menekankan bahwa merawat gigi bukan hanya soal teknis. Seorang dokter gigi harus juga memiliki empati dan pendekatan holistik, karena banyak kasus gigi berkaitan dengan masalah sensorik, psikologis, hingga neurologis. Ia pernah menangani anak dengan autisme yang awalnya sulit ditangani, namun setelah observasi dan pendekatan bersama keluarga, anak tersebut dapat dirawat dengan lebih baik.
Saya bukan hanya memeriksa gigi. Saya bertanya, ‘Apa makanan favoritmu? Apakah kamu suka tekstur tertentu?’ Dari situ saya bisa mendeteksi apakah ada indikasi kebutuhan khusus,” ungkapnya.
Salah satu keunggulan sistem kesehatan gigi di Belanda adalah akses gratis bagi anak-anak hingga usia 18 tahun. Bahkan, ada program dari organisasi yang mengunjungi sekolah-sekolah dengan unit mobil perawatan gigi untuk memberikan edukasi dan pencegahan sejak dini.
Anak-anak dikenalkan pada alat seperti kaca mulut dan disikat bersama sambil belajar. Edukasi ini diberikan secara individual, bukan massal, sehingga anak-anak merasa lebih aman dan diperhatikan.
Podcast ini menjadi pengingat pentingnya peran dokter gigi dalam membangun kepercayaan dan menciptakan ruang aman untuk anak-anak. Bagi para orang tua, penting juga untuk tidak memaksakan perawatan, tetapi memberikan pemahaman dan menjadi jembatan kepercayaan antara anak dan dokter.
“Sama seperti mobil yang harus diservis rutin, mulut dan gigi juga perlu dikontrol setiap enam bulan,” tutup Natalia dengan analogi yang sederhana tapi mengena.
Simak selengkapnya diskusi PODCAST RUMPITA di Kanal Spotify RUMPITA dan pastikan FOLLOW untuk mendukung kami.
Jika ada satu kata untuk menggambarkan hubungan saya dengan Papa, maka kata itu adalah hangat. Sejak kecil, Papa hadir dengan cara yang dekat, penuh dukungan, dan membuat saya merasa aman. Bukan hanya saya, kakak dan adik saya pun akan mengatakan hal yang sama. Kami bertiga sungguh beruntung, karena punya seorang ayah yang hadir sepenuh hati di masa tumbuh kami.
Sulit untuk menunjuk satu momen yang paling berkesan, karena hampir di setiap fase hidup, Papa selalu ada. Beliau bukan tipe yang sempurna tanpa cela dan memang tidak ada manusia yang demikian. Namun, dalam diri Papa, saya menemukan figur ayah yang cukup. Cukup dalam arti memberi dukungan emosional, cukup dalam arti hadir di saat dibutuhkan, cukup dalam arti menjadi tempat pulang.
Dengan latar belakang psikologi, saya memahami istilah father complex atau kadang disebut juga daddy issues sebagai kondisi yang berakar dari hubungan sulit dengan figur ayah. Entah karena ayah terlalu dominan, dingin secara emosional, terlalu sering mengkritik, absen secara fisik, atau bahkan menyakiti. Meski tidak masuk dalam kategori resmi seperti DSM V atau ICD-10, dinamika ini nyata terlihat dalam kehidupan banyak orang.
Dampaknya bisa beragam, seperti: kesulitan mempercayai orang lain, sulit menjalin kedekatan emosional, atau kebutuhan besar akan validasi dari figur dominan. Ada juga yang kemudian membawa pola itu ke dalam relasi romantis atau relasi kerja dengan figur otoritas.
Dalam diri saya sendiri, tidak ada gejala yang terlalu menonjol. Namun, saya bisa mengenali adanya kebutuhan validasi tertentu dari figur otoritas. Sisi positifnya, hal ini membuat saya berusaha keras di sekolah dan kuliah. Pada akhirnya, nilai saya bagus, bahkan beberapa kali juara kelas. Tapi di sisi lain, diskusi dan perdebatan dengan Papa melatih saya untuk tidak menerima begitu saja otoritas apa pun. Bagi saya, sesuatu harus masuk akal dulu sebelum saya bisa menerimanya. Itu mungkin salah satu warisan paling berharga dari relasi kami.
Papa dan Mama berasal dari latar budaya berbeda, tetapi sama-sama tumbuh dalam nilai-nilai yang memberi tempat lebih bagi anak laki-laki ketimbang perempuan. Namun, dalam praktiknya mereka memilih untuk memperlakukan kami bertiga dengan setara. Pendidikan yang terbaik sesuai kemampuan dan minat diberikan, tanpa membedakan jenis kelamin. Itu keputusan yang sederhana, tetapi dampaknya besar dalam hidup saya.
Saat tumbuh, saya melihat figur ayah dalam budaya populer sering digambarkan sebagai kepala keluarga yang berwibawa, mencari nafkah, menegakkan aturan, membaca koran di beranda rumah, sementara urusan dapur dan anak diserahkan pada ibu. Gambarannya klasik, yaitu berpakaian safari, rokok, dan kopi buatan istri.
Kini, gambaran itu bergeser. Ayah-ayah masa kini lebih terlibat dalam pengasuhan anak, lebih hangat, lebih dekat secara emosional. Namun, di banyak keluarga, keputusan akhir tetap dianggap ranah ayah. Pergeseran peran ini menghadirkan dinamika baru, kadang juga konflik, tergantung konteks sosial dan budaya masing-masing.
Ada satu titik balik dalam relasi saya dengan orang tua, baik Papa maupun Mama, di mana saya mulai menyadari bahwa mereka manusia biasa. Waktu kecil, orang tua tampak seperti pahlawan super. Mereka seperti tak pernah lelah, selalu tahu jawaban, mampu mengatasi segalanya. Tapi seiring saya tumbuh, saya melihat mereka juga bisa salah, lelah, bahkan sakit.
Kesadaran itu menjadi tanda bahwa saya sedang beranjak dewasa. Saya belajar melihat mereka bukan hanya sebagai orang tua, tapi juga sebagai manusia dengan keterbatasan. Dari situ, hubungan kami berubah. Dari relasi yang timpang menjadi relasi yang lebih setara, terutama ketika saya mulai dewasa.
Sekarang, ketika Papa sudah tiada, keinginan terbesar saya terhadap beliau hanya satu, yakni rindu. Saya merindukan kehadiran fisiknya, diskusi-diskusi panjang, perdebatan seru, atau sekadar menanyakan pendapat beliau tentang banyak hal.
Tahun-tahun terakhir hidupnya, hubungan kami semakin matang. Papa makin menghargai kemandirian saya dalam mengambil keputusan, dan saya merasa lebih dihargai sebagai individu dewasa. Meski demikian, di mata saya, saya akan selalu tetap menjadi putrinya.
Bagi saya, berbicara tentang father complex pada akhirnya adalah berbicara tentang dinamika relasi kuasa. Saat kita masih kecil, relasi dengan orang tua memang tidak seimbang. Mereka yang memutuskan, kita mengikuti. Tapi seiring anak bertumbuh, idealnya relasi itu bergeser menjadi lebih setara.
Tidak semua keluarga mengalami pergeseran ini dengan mulus. Kadang otoritas tetap ditekankan, kadang muncul konflik. Tetapi dalam pengalaman saya, pergeseran itu terjadi dengan wajar. Dan saya bersyukur bisa merasakannya bersama Papa.
Jika ada sahabat Ruanita yang membaca tulisan ini dan sedang mengalami konflik batin dengan ayahnya, saya ingin menyampaikan satu hal, setiap keluarga unik. Tidak ada pola tunggal yang bisa berlaku untuk semua orang.
Kalau Anda ingin memahami lebih jauh bagaimana hubungan dengan ayah mempengaruhi hidup saat ini, saya menyarankan melakukannya bersama tenaga profesional seperti psikoterapis atau konselor. Ada hal-hal yang bisa kita selesaikan sendiri, tetapi ada juga yang butuh pendampingan aman dari orang yang terlatih.
Bagi saya, menulis tentang father complex bukanlah tentang mencari kekurangan Papa, melainkan tentang menyadari betapa besar pengaruh relasi itu dalam membentuk siapa saya hari ini. Saya beruntung memiliki figur ayah yang hangat, mendukung, dan penuh kasih. Namun saya juga belajar melihatnya sebagai manusia dengan keterbatasan.
Pada akhirnya, apa yang tersisa kini adalah rindu. Dan mungkin, di dalam rindu itu, saya bisa merasakan kembali kehangatan yang pernah begitu nyata hadir dalam hidup saya.
Penulis: Nelden, tinggal di Jerman dan dapat dikontak via akun instagram @neldendj.
Podcast PMI Stories – Cerita-cerita Pekerja Migran Indonesia episode kedua menghadirkan kisah Sari Wijayanti, seorang pekerja migran Indonesia (PMI) yang pernah bekerja selama sembilan tahun di Singapura dan kini menetap di Swedia setelah menikah dengan warga setempat. Dipandu oleh Dewi Lubis, PMI di Singapura sekaligus host podcast, episode ini menggali perjalanan karier Sari, transisi hidup antarnegara, hingga proses membangun kehidupan baru di Eropa.
Sari memulai perjalanannya sebagai PMI di Singapura dengan alasan ekonomi. Ia menyadari kondisi finansial saat itu belum cukup memberikan rasa aman bagi dirinya dan kedua putranya. Di Singapura, Sari bekerja di sektor domestik dengan tanggung jawab sebagai nursery dan caregiver, mengasuh anak kecil sesuai dengan keterampilan yang ia miliki.
Tantangan terbesarnya adalah menghadapi anak-anak yang sedang tantrum atau sakit, yang mana situasi tersebut menuntut kesabaran, ketahanan emosi, dan profesionalitas tinggi. Namun, dukungan komunitas PMI yang aktif dengan kegiatan positif, serta support penuh dari orang tua yang menjaga anak-anaknya di Indonesia, menjadi fondasi kuat yang membuatnya mampu fokus bekerja dan berkembang.
Tak pernah terbayang sebelumnya bahwa hidupnya akan membawanya pindah ke Eropa. Keputusan hijrah ke Swedia dilandasi kepercayaan pada pasangan dan harapan akan masa depan yang lebih baik. Proses pengurusan visa ikatan keluarga memakan waktu sekitar satu tahun, yakni masa tunggu yang cukup panjang dan penuh ketidakpastian.
Setibanya di Swedia, Sari menghadapi culture shock terbesar pada cuaca ekstrem empat musim, terutama musim dingin yang sangat berbeda dari iklim tropis Asia Tenggara. Tantangan berikutnya adalah bahasa Swedia, yang menjadi kunci penting integrasi sosial. Meski masyarakat Swedia fasih berbahasa Inggris, kemampuan bahasa lokal tetap dibutuhkan untuk benar-benar menyatu dalam kehidupan sehari-hari.
Kini, setelah 16 bulan menetap di Swedia, Sari menjalani kehidupan baru dengan bekerja paruh waktu di restoran sebagai waitress dan kasir, sembari mengikuti kelas bahasa Swedia secara daring sebagai persiapan mengikuti sekolah bahasa formal.
Ia menekankan bahwa di Swedia, kesetaraan gender sangat dijunjung tinggi, di mana perempuan didorong untuk mandiri dan berkontribusi melalui pekerjaan, termasuk dalam sistem pajak dan jaminan sosial yang mendukung kesejahteraan jangka panjang seperti dana pensiun.
Dalam refleksinya, Sari mengakui bahwa integrasi sosial di Swedia kini semakin menantang. Ia menyoroti adanya pergeseran sosial yang membuat pendatang harus lebih mandiri dan proaktif dalam belajar bahasa serta memahami budaya lokal.
Tantangan pengangguran dan kesenjangan sosial di kalangan migran turut menjadi isu yang memengaruhi proses integrasi. Meski demikian, dukungan pasangan dan komunikasi dengan komunitas Indonesia melalui grup daring menjadi penguat dalam proses adaptasinya.
Menutup perbincangan, Sari berbagi pesan mendalam bagi para PMI yang tengah membangun masa depan di luar negeri. Ia mengingatkan agar perjuangan tidak dianggap sebagai beban, melainkan sebagai proses pembelajaran, seperti layaknya sekolah kehidupan. Mungkin suatu saat akan mencapai titik kelulusan.
Sari mendorong PMI untuk mempersiapkan mental, memahami budaya negara tujuan, dan menguasai bahasa sebelum memutuskan pindah, terutama dalam konteks pernikahan lintas negara. “Buatlah uang bekerja untuk kalian, bukan kalian yang terus bekerja untuk uang,” pesannya. Ia seperti menegaskan pentingnya kemandirian finansial dan visi jangka panjang.
Cerita Sari Wijayanti menjadi potret transformasi identitas seorang PMI, dari pekerja domestik di Asia Tenggara hingga perempuan Indonesia yang tengah membangun babak baru kehidupan di Eropa. Episode ini tidak hanya menghadirkan cerita migrasi, tetapi juga refleksi tentang keberanian mengambil keputusan, adaptasi lintas budaya, dan makna perjuangan dalam meraih masa depan yang lebih baik.
Melalui Podcast PMI Stories, Produser Anna Knöbl berupaya menghadirkan suara-suara yang kerap terpinggirkan. Cerita Irma bukan hanya kisah personal, tetapi cerminan pengalaman banyak pekerja migran perempuan Indonesia tentang bagaimana bertahan dan mengalahkan tantangan yang jauh berbeda dibandingkan di tanah air sendiri.
Simak selengkapnya dalam program audio podcast PMI Stories berikut ini dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.
Halo Sahabat Ruanita, nama saya Sienna Mila, boleh panggil saya Mila atau Sienna. Saya adalah seorang ibu yang pernah menetap di Korea Selatan dan kini menetap di Bangladesh. Perjalanan hidup saya cukup panjang dan berliku, hingga akhirnya membawa saya melahirkan anak pertama di Korea Selatan. Menurut saya, itu merupakan sebuah pengalaman yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya.
Semuanya berawal dari tahun 2000-an, tepatnya setelah saya lulus SMA. Saat itu saya bekerja di sebuah restoran Korea di kawasan Melawai, Jakarta. Sambil bekerja, saya juga melanjutkan kuliah S1. Dari restoran tersebut, saya mulai mengenal budaya Korea dan bertemu banyak orang Korea yang tinggal atau bekerja di Jakarta.
Pekerjaan saya kemudian berkembang. Saya berkesempatan menjadi PA (Personal Assistant) sekaligus sekretaris untuk seorang staf ahli asal Korea yang bekerja di salah satu Kementerian di Jakarta. Di situlah hidup saya berubah. Saya belajar banyak tentang kedisiplinan, budaya kerja, sekaligus membuka jaringan pertemanan dengan banyak orang Korea dari berbagai bidang bisnis.
Sepuluh tahun bekerja, saya kemudian diperkenalkan dengan kenalan atasan saya untuk menjalin kerja sama bisnis. Perusahaan itu bergerak di bidang pengembangan IT di Korea Selatan, dengan rencana membangun platform belanja online di Indonesia. Dari perjanjian itu, saya mulai bolak-balik Indonesia–Korea, hingga akhirnya saya tinggal cukup lama di Korea Selatan.
Antara tahun 2018 sampai 2022, saya dan suami lebih banyak menetap di Korea. Alasannya cukup dramatis: saya mengalami pecah ketuban lebih awal ketika sedang melakukan kunjungan bisnis di kota Daegu. Saat itu, saya tengah hamil anak pertama. Awalnya saya sudah konsultasi dengan dokter di Indonesia sebelum berangkat, kondisi kandungan sehat dan diperbolehkan naik pesawat selama penerbangan tidak lebih dari 10 jam. Karena penerbangan ke Korea Selatan hanya memakan waktu 6 jam, saya merasa aman saja.
Namun takdir berkata lain. Di tengah kesibukan urusan bisnis, saya tiba-tiba harus menghadapi momen kelahiran di negara asing. Untungnya, ketika itu saya ditemani suami yang memang ikut ke Korea Selatan untuk urusan bisnis juga.
Saat tiba di rumah sakit di Daegu, kendala pertama yang saya hadapi adalah bahasa. Tidak banyak tenaga medis yang bisa berbahasa Inggris, sementara saya dan suami tidak menguasai bahasa Korea. Komunikasi menjadi sulit sekali.
Saya mengalami kontraksi cukup lama, hingga akhirnya dokter yang bisa berbahasa Inggris datang dan memutuskan bahwa saya harus melahirkan lewat operasi Caesar. Malam itu saya masuk ruang operasi, perasaan saya campur aduk antara panik, takut, dan pasrah.
Proses persalinan berjalan, tetapi setelah melahirkan saya mengalami pendarahan hebat. Rasa sakitnya luar biasa, hingga saya diberi morfin. Saking sakitnya, saya sempat berpikir saya tidak akan selamat malam itu. Alhamdulillah, saya masih diberi kekuatan dan akhirnya bisa melewati masa kritis tersebut.
Tiga hari setelah melahirkan, kondisi saya mulai membaik. Saat itu ada seorang ibu yang datang dan menawarkan saya untuk menggunakan jasa postpartum care. Apa itu? Itu adalah layanan perawatan pasca melahirkan yang populer di Korea. Layanan ini mencakup perawatan ibu, bayi, hingga pemulihan fisik. Namun saya menolak, lebih karena pertimbangan pribadi dan biaya.
Setelah tujuh hari dirawat, saya diperbolehkan pulang. Namun saat berada di kasir rumah sakit, saya dan suami dibuat kaget. Karena tidak memiliki asuransi di Korea, biaya persalinan kami mencapai 7,5 juta Won, atau sekitar 89 juta rupiah.
Saya mencoba meminta bantuan bagian administrasi dengan harapan ada potongan atau keringanan. Tetapi staf rumah sakit justru menyalahkan kami. Kalimat yang masih saya ingat hingga sekarang adalah: “Kenapa melahirkan di Korea? Seperti di Indonesia tidak ada rumah sakit saja.”
Saya dan suami hanya bisa terdiam. Akhirnya, kami membayar penuh tanpa potongan sedikit pun. Perasaan saya campur aduk antara lelah, sedih, sekaligus kecewa.
Setelah keluar dari rumah sakit, suami saya akhirnya diterima bekerja di perusahaan partner kami di bidang IT. Saya pun tinggal di rumah untuk mengurus bayi. Namun perjuangan baru saja dimulai.
Perbedaan cuaca, sulitnya mencari layanan kesehatan anak, hingga kendala bahasa membuat hari-hari kami penuh tantangan. Saya masih ingat ketika anak kami demam tinggi di tengah malam. Kami bergegas ke UGD terdekat, tetapi karena saat itu hari Minggu, rumah sakit seperti rumah sakit hantu, yakni sepi, tanpa ada dokter atau perawat yang berjaga.
Ada juga masa ketika saya bingung mencari susu formula untuk bayi. Setiap kali mencoba merek baru, kulit bayi saya bereaksi dengan gatal-gatal dan kemerahan di sekujur tubuh. Saya hanya bisa menangis sendirian sambil menenangkan anak.
Untungnya, saya mendapat dukungan besar dari keluarga suami di Bangladesh dan keluarga saya di Indonesia, meski hanya lewat video call. Suami juga sangat membantu setiap kali ia pulang kerja. Mantan atasan saya bahkan membantu komunikasi dengan pihak rumah sakit dan pengurusan visa.
Setelah lebih dari dua tahun di Korea, saya akhirnya memutuskan pulang ke Indonesia. Saya ingin anak saya belajar bahasa Indonesia dan bersekolah di PAUD. Alhamdulillah, anak saya kini sudah fasih berbahasa ibunya.
Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan ke Bangladesh, negara asal suami. Suami masih harus menyelesaikan kontraknya di Korea hingga 2026, sementara saya dan anak menetap di Bangladesh dulu. Anak saya akan mulai sekolah dasar di sana, dengan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar. Kami pun berencana melanjutkan perjalanan ke Kanada atau Amerika di masa depan, demi masa depan pendidikan anak.
Melahirkan di Korea Selatan memberikan saya banyak pelajaran berharga, terutama tentang persiapan. Untuk Sahabat Ruanita yang mungkin suatu saat berencana melahirkan di luar negeri, saya ingin berbagi beberapa hal:
1. Bahasa itu penting. Jika tidak bisa bahasa lokal, setidaknya harus ada keluarga atau pendamping yang bisa membantu.
2. Asuransi wajib. Jangan pernah bepergian tanpa asuransi, apalagi jika sedang hamil.
3. Postpartum care di Korea sangat baik. Jika ada biaya, jangan ragu untuk ikut. Itu akan membantu pemulihan ibu dan bayi.
4. Status kewarganegaraan bayi. Di Korea, bayi yang lahir dari orang tua bukan warga negara Korea tidak otomatis mendapat hak atau benefit apa pun.
5. Persiapan mental, fisik, dan materi. Semua harus seimbang. Jangan hanya siap materi, tapi juga siap menghadapi cuaca, lingkungan, hingga budaya baru.
Sahabat Ruanita, pengalaman melahirkan di Korea adalah salah satu momen paling sulit sekaligus paling berharga dalam hidup saya. Rasanya seperti ujian besar yang Allah berikan, Alhamdulillah saya bisa melewatinya.
Kalau ditanya, apakah saya mau mengulang pengalaman melahirkan di negara ketiga lagi? Jawabannya: tidak. Terlalu banyak risiko, terutama jika tanpa dukungan keluarga dekat dan tanpa penguasaan bahasa.
Namun, saya tetap bersyukur. Dari pengalaman ini, saya belajar tentang ketabahan, dukungan keluarga, dan pentingnya persiapan. Saya juga belajar bahwa menjadi seorang ibu berarti siap menghadapi hal-hal di luar dugaan, di mana pun kita berada.
Bagi saya, melahirkan di luar negeri, terutama di negara dengan bahasa yang berbeda, bukan hanya soal proses medis. Itu juga soal bertahan hidup, menyesuaikan diri, dan menemukan kekuatan di saat kita merasa sendirian.
Itulah cerita saya, Sahabat Ruanita. Pengalaman melahirkan di Korea Selatan akan selalu menjadi bagian dari perjalanan hidup saya. Meski penuh air mata, rasa sakit, dan kekecewaan, ada juga rasa syukur, cinta, dan kekuatan baru yang saya temukan.
Semoga cerita ini bisa menjadi pelajaran dan inspirasi bagi perempuan Indonesia lain yang mungkin sedang atau akan menghadapi situasi serupa.
Penulis: Sienna Mila, seorang ibu yang tinggal di Bangladesh dan dapat dikontak via akun instagram: sienna_milaa.