Rumah Aman Kita: "Rumah" adalah di mana hati berada
Penulis: Admin RUANITA - Rumah Aman Kita
"Rumah" orang Indonesia di luar Indonesia di mana kita bisa berdiskusi & berbagi pengetahuan, pengalaman, pengamatan, dan praktik baik dalam konteks Transnational Cultural Psychological.
Di antara riuhnya suara bising pandanganku kabur jauh tenggelam dalam diri yang asing Layaknya deru kehidupan yang selalu riuh Mengoyak gejolak isi kepalaku yang terasa penuh
Entah berapa kali aku berseru “Apakah aku masih utuh?” Jeritan batin menukik diantara hening malam yang gaduh Menerima takdir semesta dengan menggerutu “Bisakah KAU segera menjemputku?” Ucapku merayu sembari derai air menggenangi ujung kelopak mata yang sayu
Hingga aku tersadar bahwa diriku tak pernah utuh Bahkan untuk hidup yang katanya milikku Nyatanya kakiku lebam membiru dan mulutkupun membisu kaku Tidak selayaknya merpati yang kedua sayapnya terbang bebas jauh
Kata orang aku pasti mampu, ucap mereka dengan angkuh Yang pada kenyataannya aku hanya manusia yang rapuh Tidak pernah diberi kebebasan untuk memilih hidupku Karena bagi mereka, aku hanya seorang Perempuan yang wajib patuh untuk mendapatkan surga Itu
Program Diskusi Podcast Rumpita – Rumpi by Ruanita Indonesia – tayang tiap bulan dengan berbagai tema yang ditawarkan. Pada episode Maret 2025 ini, Ruanita Indonesia mengangkat tema terkait perayaan Hari Perempuan Internasional yang jatuh tiap 8 Maret. Oleh karena itu, informan yang diundang adalah sahabat Ruanita yang tinggal di Swiss.
Dia adalah Sekar, yang telah lama tinggal di Swiss sejak tahun 2017, kini bekerja sebagai Business Analyst di perusahaan swasta yang menyediakan data-data finansial untuk kebutuhan kliennya.
Sekar sendiri secara profesional telah berhasil memimpin timnya yang terdiri atas orang-orang dari berbagai latar belakang kebangsaan.
Sekar bercerita perjalanan kariernya yang tak mudah. Itu semua bermula dari pekerjaannya di Indonesia yang berurusan dengan perbankan. Tak puas dengan kariernya di Indonesia, Sekar memutuskan untuk mengambil studi lanjutan di Korea Selatan.
Para pendengar Podcast RUMPITA akan mendengar bagaimana perjalanan kuliah Sekar yang tak mudah juga di Korea Selatan, yang semula dibayangkannya indah seperti layaknya drama-drama yang disajikan dalam film asal negeri gingseng ini.
Kuliah belum selesai di Korea Selatan, Sekar bertemu dengan pria yang menjadi ayah dari anaknya. Sekar pun memutuskan untuk pindah dan melanjutkan studi di Swiss.
Swiss merupakan negara maju yang tak mudah juga ditaklukan oleh Sekar seorang diri, ketika akhirnya dia harus menjadi Single Mom.
Lewat kebijakan yang ditetapkan oleh Pemerintah Swiss, Sekar tidak perlu bekerja banting tulang seratus persen agar dapat membesarkan anaknya.
Sekar bisa tetap merawat anaknya dan bekerja secara profesional. Meski telah berpisah dengan suami, Sekar pun berbagi peran dan tanggung jawab dengan anaknya untuk membesarkan anak mereka.
Simak diskusi podcast yang dipandu oleh Kristin dan Anna tentang perjalanan karier Sekar mulai dari Indonesia, Korea Selatan, hingga Swiss. Apakah mendapatkan pekerjaan di Swiss itu cukup hanya berbekal Bahasa Inggris saja?
Apa saja syarat-syarat untuk berkuliah di Korea Selatan dan di Swiss? Bagaimana Sekar berbagi peran dan tanggung jawabnya menjadi pekerja profesional dengan seorang Single Mom? Apa kiat-kiat Sekar untuk menjalani kehidupan kerja yang seimbang di Hari Perempuan Internasional ini?
Jangan lupa FOLLOW akun Spotify Rumpita, Rumpi by Ruanita Indonesia agar kami dapat berbagi lebih banyak lagi.
jiwa puan seperti peta perang dan raganya adalah sisa lebam yang tak mungkin semula kadang cuma menuntut diam, kadang menuntut tunduk kuat, kuat, kuat, begitu orang cuma minta ia kuat;
bekas belur lebur itu kini mirip ruhnya ruh yang tak selalu bertutur itu ia tutup rapat dalam peti cekung pipinya menelan duka dalam punggung tunggal seakan malam tak pernah menagih air mata di punggungnya tertulis besar-besar : “tidak nenerima lelah”
dalam hening yang ia peluk erat ada bara menyala lirih bukan untuk melawan hanya untuk mengingat— luka melewati simbol kekalahan ia pagar gahar tanpa kelakar.
Hei, dengar! Kenalkan, aku adalah umbi jahe Aku bisa melawan parasit seperti ameba Yang diam-diam menggerogoti, perlahan membunuh tanpa diketahui Aku dijuluki umbi
Ya, umbi yang sering diremehkan Yang sering juga (dipaksa) kerja rodi Aku begitu kuat, dengan aroma khas aromatik Aku diberi nama tanaman rimpang Yang bisa kau ajak melawan Melawan ameba saja bisa Apalagi melawan oligarki
Lirik puisi: Sebuah buku Duduk nyaman di meja makan Di luar, sehelai koran Terbang terbawa senafas angin Seekor kucing Berjalan hati-hati melewati pintu kaca tanpa mencari apa-apa
Seorang istri Bernafas dalam cemas memandang suaminya Seonggok keprihatinan menunggu Setetes air mata mengalir turun mencari mulut supaya merasakan keasinannya Setelah semua berlalu Sebanyak prestasi apa yang perlu dikenal? Dan, apakah orang yang tak peduli akan perbuatannya, masih berperasaan? Mengapa, Amerika?
Nama Penulis: Matthew Eddy (dengan bantuan dari Yacinta Kurniasih)
Aku sudah mati beberapa kali,/ menguburkan diri pada harapan-harapan palsu,/ janji-janji tak bertuan,/ letupan api-api neraka/ ditekan sesamanya,/ disalahpersepsikan oleh dirinya sendiri//
Bangke!// Yang tersisa padaku adalah kehampaan/ Ketiadaan/ kosong!//
Maria, Maria!// Sampai kapan kau akan menggantungkan diri?/ pada palang salib bernama pelayanan,/ hutang budi?/ pada orang-orang yang bertuan kekuasaan,/ haus validasi?/
Kupantau kau dari negeri berlokasi di bumi paling ujung tanah airku, kau tak hanya punya kisah pendekar Jaka Sembung ada para srikandi merah putih sambung menyambung yang akan hilang karena jarangnya disanjung.
dan kucatat bukan hanya Kartini yang berjuang tuk kesetaraan. Ada Dewi Sartika, Rasuna Said dan Nyai Ahmad Dahlan Walanda Maramis dan Rohana Kuddus pejuang emansipasi pendidikan.
Kulihat jejeran nama pahlawan wanita nasonal kita cukup sedikit Di bawah duapuluh nama dan hanya dua digit
entah, apa kriterianya terlalu sulit
atau perempuan berjasa memang selalu terkena edit.
Mereka, para perempuan pahlawanita tak lupakan hidup ada asam dan tak abaikan hidup perempuan yang juga asin bergaram. Merekalah yang dulu tulus buka segala panca indra tuk jadi abdi dalam untuk Indonesia yang masa depan perempuannya masih buram.
Hari ini diperingati sebagai Hari Perempuan Internasional. Tentunya, Ruanita Indonesia telah mempersiapkan berbagai program untuk merayakannya, termasuk menyiapkan diskusi IG LIVE yang menjadi program bulanan.
Pada episode Maret 2025, Ruanita Indonesia menggelar tema perempuan dalam inklusi dan komunitas global yang disuarakan oleh perempuan Indonesia di mancanegara.
Diskusi IG LIVE lewat platform instagram @ruanita.indonesia, Ruanita Indonesia mengundang informan yakni Go Suan Ny yang tinggal di Jerman dan menjadi survivor speaker bagi Ruanita Indonesia. Selain itu, ada Evita Haapavaara yang sedang berwirausaha di Finlandia dan telah tinggal sejak 30 tahun lalu di sana.
Diskusi dipandu oleh Rufi, Zukhrufi Sysdawita, yang menggali berbagai peran dan tantangan perempuan Indonesia seperti Suan Ny dan Evita di mancanegara. Suan Ny bercerita pengalamannya untuk melamar kerja di Jerman yang tak mudah.
Dia mengalami berbagai penolakan, yang membuatnya tidak patah arang untuk terus melamar kerja. Sejak kecelakaan tahun 2017, Suan Ny terpaksa hidup dalam kondisi yang sulit dan dia pun masih menjalani peran sebagai Single Mom.
Dia menyadari bahwa pandangan terhadap perempuan dengan disabilitas masih sering menjadi tantangan bagi Suan Ny. Dia ingin mengubah pandangan tersebut dan meyakinkan bahwa kemampuan seseorang tidak lagi dilihat dari kemampuan fisiknya semata.
Terbukti, Suan Ny berhasil menyelesaikan studi S2 di salah satu universitas di Jerman, padahal situasi Suan Ny yang mengalami keterbatasan fisik saat itu.
Suan Ny ingin membuktikan bahwa orang dengan disabililtas bukan orang bodoh dan tidak memiliki harapan untuk bekerja di dunia profesional.
Suan Ny ingin perspektif yang berbeda dan melihat dirinya bukan sebagai orang disabilitas (=orang yang tidak berdaya), melainkan orang difabel (=different able). Sebagai difabel, Suan Ny bisa menggunakan sendok atau mengetik komputer dengan cara berbeda daripada umumnya.
Lain Suan Ny, lain pula cerita Evita. Dia datang ke Finlandia sejak 1994, yang mana kelompok migran pada masa itu masih sangat kecil di Finlandia. Evita merasa bahwa pendidikannya di Indonesia yang ditempuhnya di Universitas Indonesia, mampu memberikannya kesempatan kerja di Finlandia.
Nyatanya itu tidak mudah! Evita kemudian menginisasi usaha yang dirintisnya di Finlandia, berkat kemudahan legalisasi dan dukungan dari pemerintah Finlandia sendiri untuk perempuan dan kelompok migran.
Apa saja tantangan yang dihadapi Suan Ny dan Evita sebagai perempuan Indonesia di mancanegara? Apa yang menjadi solusi mereka untuk mengatasi tantangan tersebut?
Bagaimana caranya untuk dapat meraih impian di negeri yang mereka tempati sebagai perempuan Indonesia? Apa pesan mereka di Hari Perempuan Internasional?
Simak selengkapnya di kanal YouTube kami berikut dan dukung kami dengan SUBSCRIBE!
Pemuja udara hangat mesti sabar menunggu karena suhu belum beranjak dari titik beku.
Angin dingin Winter Ostsee menembus ventilasi kayu sesaki ruang tamu, menusuk kulit seorang hawa yang sedang berkutik diruang tamu.
Malam itu perapian telah membakar kobar cinta api pada kayu yang lagi bercumbu, menjadikannya bara penghangat tubuh ruang tamu.
Wanita dan degup gundah, diluar beberapa mata bintang masih menyala.
Mata pijar lampu baca diatas meja kerja empat persegi belum gugur, menerangi baris Aksara dan kertas putih, meluap rasa yang tak ingin menjadi mata bara di jiwa yang mencari asa.
Jelaga merayap, hampir menutup mata lampu,
menemani debu yang tak ingin berkaca sendiri di wajah lampu baca ruang tamu.
Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan saya, Griska Gunara dan kerap disapa dengan nama Griska. Saat ini saya menetap di United Kingdom. Sehari-hari saya berprofesi sebagai Jurnalis Foto, Praktisi Yoga, dan Meditasi. Saya senang sekali dapat berpartisipasi dalam program cerita sahabat dalam tema: social media’s impact on beauty standar and how they affect women, karena media sosial yang menjadi bagian dari keseharian kita sekarang telah mengubah standar kecantikan di masyarakat.
Perubahan ini cukup signifikan karena keinginan perempuan untuk tetap cantik dan sehat secara alami. Itu sebab, saya perhatikan banyak wanita masa kini memilih sehat dengan konsumsi make up yang alami pula. Produk kecantikan di pasaran sekarang juga banyak yang menawarkan berbahan alami.
Bagaimana pun produk kecantikan adalah bagian dari upaya perempuan untuk tampil menarik dan percaya diri ketika tampil di hadapan umum. Sejujurnya, saya pernah merasa tertekan dan tidak percaya diri juga. Ketidakpercayaan diri saya muncul ketika dihadapkan pada sesuatu yang saya belum siap secara mental, misalnya. Namun, bagi saya ini menjadi hal yang lucu, bila saya membandingkan diri saya dengan orang lain di media sosial. Pada kenyataannya, kepercayaan diri itu ditentukan oleh saya secara pribadi. Prinsip saya, sayalah yang bertanggungjawab jika saya ingin meningkatkan kepercayaan diri.
Di sisi lain, tidak dapat dipungkiri bahwa ada peran influencer di media sosial. Dengan pesan yang tepat sasaran, nyatanya cukup banyak membantu memperkuat standar kecantikan yang sudah ada, misalnya persepsi kecantikan alami wanita Indonesia. Meski kenyataannya, saya belum menemukan influencer yang “Setia” dengan satu brand saja. Kebanyakan dari mereka sudah bekerja sama (endorse) dengan client satu dan lainnya untuk urusan barter promosi.
Selain peran influencer di media sosial, ada faktor lain yang juga membentuk standar kecantikan di dunia maya. Tentu, kalian masih ingat bagaimana media sosial juga memperlihatkan foto wajah para selebritis, tanpa filter atau edit foto dengan foto yang sudah diedit. Menurut saya, itu sah saja menggunakan filter dan aplikasi pengeditan foto. Hal itu tergantung dengan kebutuhan si pengguna. Saya pribadi senang menggunakan filter foto kalau sedang -bad hair day– misalnya. Atau, ketika saya sedang mengedit foto, saya paling suka tone warna mendekati momen aslinya. Justru, penggunaan filter tidak terlalu sering saya gunakan.
Sahabat Ruanita, setujukah kalau standar kecantikan yang ada di media sosial itu berpengaruh pada kesehatan mental juga? Seiring dengan meningkatnya produk kecantikan di media sosial, tak sering penjualnya adalah dokter dan pakar kecantikan juga yang berlomba memberikan service dan produk terbaik. Nah, sebagai konsumen, kita perlu cermat. Jika tidak, produk yang tidak sesuai dan tidak cocok dengan kulit, misalnya, akan cukup merugikan kita, baik itu secara finansial maupun mental juga loh.
Oh ya, apakah kalian juga merasakan kalau media sosial juga menuntut kita untuk tampil sempurna? Saya merasakan bahwa media sosial kini memegang peran penting dalam memberikan image standard sosial untuk tampil terbaik. Pengaruhnya tentu dalam hidup sehari-hari yang bisa terlihat dari seberapa konsumtifnya kalian dalam mengeluarkan biaya untuk belanja kebutuhan agar tetap sesuai dengan standar kecantikan tersebut.
Kita tidak bisa menghindari apa yang ditampilkan di media sosial dengan algoritmanya, tetapi kita bisa mengatur sendiri pilihan konten yang efektif untuk kita konsumsi. Namun, media sosial juga memunculkan gerakan body positivity yang marak untuk melawan standar kecantikan yang sempit dan tidak sehat.
Gerakan ‘Body Positivity’ mengajak kita untuk menjadi percaya diri dengan apa yang kita punya. Menyadari bahwa diri ini saja sudah cukup. “I am enough!” Dorongan untuk menjadi berani menghadapi tekanan standar kecantikan di media sosial adalah hal mendasar yang bisa didapatkan dari rumah.
Untuk menghadapi tekanan standar kecantikan di media sosial memang tidak mudah, termasuk saya di usia saya yang tidak lagi muda dan suka merasa tidak percaya diri. Terkadang saya pun ikut berlomba mengusahakan diri untuk lebih ini dan itu. Namun, saya sekarang sudah menemukan strategi untuk melawannya. Lewat yoga yang rutin saya lakukan dan tekuni selama beberapa tahun belakangan ini, ini menjadi strategi saya untuk menjaga pola hidup seimbang.
Strategi lainnya, tentu saya melakukan hiatus atau sejenak berhenti dari media sosial untuk beberapa minggu. Ternyata istirahat dari media sosial yang saya lakukan hingga sebulan. Saya merasa berbeda, karena prioritas fokus yang diatur untuk tetap balance dengan kehidupan sehari-hari. Jadi, hal yang yang dilakukan lebih dari 21 hari dapat mengubah pola hidup sehari-hari tergantung dengan apa yang kita lakukan.
Saya sendiri sekarang sedang banyak mengurangi penggunaan chemical juga. Memang, ini tidak bisa langsung seluruh keluarga mengubah pola hidup tetapi saya berusaha tetap melakukannya dan memberi contoh saja dulu. Saya percaya pada diri sendiri saja dulu. Dan ini telah membantu kita tetap percaya diri akan diri sendiri, tanpa terpengaruh persepsi negatif tentang kecantikan yang ditentukan masyarakat.
Kembali ke tema tentang standar kecantikan di media sosial, sebagai Praktisi Yoga dan aktif bersosial media, berikut pesan saya. Pertama, kita perlu meminimalisir pilihan kita untuk following media sosial. Kedua, kita bisa mencari komunitas yang mendekati apa yang kita suka, misalnya grup memasak atau grup yoga. Hal yang mendasar lainnya adalah kita belajar mengatur asupan nutrisi untuk diri sendiri. Jika kita sudah berhasil konsisten, maka kita bagikan ke seluruh keluarga untuk melakukan hal sehat yang sama. Dari mindset ini, kemudian lahirlah keingintahuan untuk memasak makanan sehat untuk diri sendiri dan keluarga.
Penulis: Griska Gunara, berprofesi sebagai Photojournalist, Yoga Instructor and Meditation Practitioner. Griska kini menetap di United Kingdom dan dapat dihubungi via akun IG : @griskagunara, @griskashtanga.
Dalam rangka memperingati Hari Bahasa Ibu Internasional yang jatuh tiap 21 Februari, Ruanita Indonesia turut serta mempromosikan Bahasa Indonesia lewat program Podcast RUMPITA yang menghadirkan pengajar BIPA, Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing.
Dia adalah Ari Nursenja Rivanti, yang adalah pengajar BIPA yang bertugas sebagai pengajar BIPA di Finlandia sejak 2019.
Dalam program Podcast RUMPITA, diskusi dipandu oleh Kristina Ayuningtyas yang kini menjadi relawan Ruanita di Prancis dan Anna.
Ari, begitu tamu podcast pada episode ini disapa, menjadi Founder dari Rumah BIPA sejak 2017. Selain itu, Ari kini menekuni sebagai pengajar BIPA di University of Victoria di Kanada sejak Agustus 2024 lalu.
Pada saat rekaman Podcast berlangsung, Ari sedang sibuk mempersiapkan materi ajar di kelas BIPA di Finlandia. Ari juga menjadi student double degree di sebuah universitas di Helsinki.
Untuk mengajarkan BIPA, Ari menggunakan Bahasa Inggris kepada pemelajar di Finlandia secara online yang ternyata cukup tinggi peminatnya.
Hal menarik lainnya, pemerintah Finlandia sendiri mendorong anak-anak birasial yakni salah satu orang tuanya berasal dari Indonesia, untuk dapat mengikuti kelas BIPA khusus anak-anak.
Meski begitu, pemelajar di Finlandia itu tidak melulu warga Finlandia saja.
Ari juga bercerita pengalamannya mengajar BIPA di Australia, di mana pelajaran Bahasa Indonesia juga menjadi mata pelajaran di kurikulum mereka.
Untuk mengajarkan BIPA lebih muda, Ari juga menjelaskan banyak menggunakan media interaktif yang menarik untuk siswa untuk memahami Bahasa Indonesia sebagai bahasa asing mereka.
Bagaimana pengalaman Ari mengajarkan BIPA di Australia, Asia, Eropa dan kini Kanada? Apa saja pengalaman menarik dan menantang untuk Ari mengajarkan BIPA?
Apa saja cerita seru dari Ari menghadapi pemelajar Bahasa Indonesia dari berbagai negara dan kultur? Apa saran Ari kepada sahabat Ruanita yang ingin belajar menjadi pengajar BIPA dan mendapatkan kesempatan bekerja di mancanegara?
Simak diskusi Podcast RUMPITA berikut ini selengkapnya dan jangan lupa FOLLOW akun Spotify kami: