(WARGA MENULIS) Puisi – Mahina

Mahina*

Mahina tak lelah bergulat dengan zaman
Ketika pencakar langit bersaing dengan puncak Binaiya
Mahina ingin tetap pegang dayung dalam pesawat

Mahina masih bergulat dengan zaman
Keluar dari bumi Nunusaku dengan kebaya
Mahina ingin sagu dan kelapa berderajat dunia

Mahina bergulat dengan zaman
Saat pasar riuh dengan bahasa saudagar
Mahina ingin bahasa tana lantang terdengar

Mahina takkan lelah bergulat dengan zaman
Mahina menarik tali rotan dengan kuat
Sengit semangatnya sekeras ombak musim barat

Mahina selalu bergulat dengan zaman
Mengandung dan melahirkan saja ia kalahkan
Tanah, gunung, dan pulau ia buahkan

Mahina tetap berdaya karena percaya
Walaupun perubahan terbit di ufuk barat
Matahari tak pernah terbenam di gunung timur


Ambon, 31 Januari 2025
*) Berarti ‘perempuan’ dalam salah satu bahasa daerah di Maluku

Nama Penulis: Eka Julianty Saimima

Nama Akun Media Sosial: eskhy_s

(SIARAN BERITA) Soft Launching Buku: Warna-warni Kepemimpinan Perempuan

Ruanita Indonesia adalah komunitas orang Indonesia di mancanegara yang mendukung tujuan pembangunan keberlanjutan terutama untuk nomor 3 dan nomor 5 serta membagikan praktik baik orang Indonesia melalui pengalaman, pengamatan, dan pengetahuan dalam berbagai programnya.

Pada fokus nomor 5 yakni kesetaraan gender, RUANITA melakukan berbagai program yang melibatkan banyak perempuan Indonesia di luar negeri untuk menggali potensi mereka dan menempatkan mereka untuk berbagi dukungan satu sama lain terutama untuk kelompok yang rentan.

Dengan prioritas nilai-nilai yang diusung, RUANITA diharapkan bisa menjadi social support system di luar negeri yang mendukung partisipasi perempuan Indonesia di luar negeri. Namun, akses partisipasi perempuan Indonesia masih terbilang rendah baik di Indonesia maupun di luar Indonesia.

Salah satu cara meningkatkan partisipasi perempuan Indonesia adalah melalui promosi praktik baik yang dituangkan dalam tulisan, yang ditulis oleh warga Indonesia di mancanegara melalui program Warga Menulis.

Program Warga Menulis 2023 sudah berhasil terlaksana berkat kerja sama antara RUANITA dengan APPBIPA Jerman dan KBRI Berlin pada 4-5 Februari 2023 dan telah menghasilkan 13 naskah bertema kepemimpinan perempuan di ruang publik yang kemudian berhasil dibukukan. Sebagai penyunting naskah buku, Triyanto Triwikromo yang adalah Sastrawan dan Jurnalis yang juga memberikan essai sebagai pengantar buku ini.

Follow us: @ruanita.indonesia

Tak hanya itu, kata pengantar buku juga ditulis oleh Dewi Savitri Wahab yang kini menjabat sebagai Dubes RI untuk Denmark dan Lithuania. Dewi menguatkan peran pemerintah Indonesia yang telah mendorong terciptanya peluang perempuan untuk berpartisipasi dalam pembangunan. Selain itu, kata pengantar buku pun ditulis oleh Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Berlin, Prof. Dr. Ardi Marwan, yang hadir juga dalam acara Workshop Warga Menulis sebelumnya.

Melalui acara soft launching, RUANITA mengajak warga Indonesia di mancanegara untuk berdiskusi bagaimana partisipasi perempuan dalam ruang publik sehingga perempuan terlibat sebagai subyek pembangunan. Acara Soft Launching berlokasi di Rumah Budaya Indonesia di Berlin atau yang dikenal sebagai Haus der Indonesischen Kulturen pada hari Jumat, 23 Juni 2023 pukul 15.00 CEST atau 22.00 WIB.

Acara bincang-bincang dalam Soft Launching menampilkan tamu yakni: Nurfadni Mutiah yang merupakan salah satu penulis naskah dan kini masih melanjutkan studi S2 di Jerman; Triyanto Triwikromo yang adalah penyunting buku yang kebetulan sedang berada di Jerman; dan Vidi Legowo-Zipperer yang saat ini menjabat sebagai Head of Indonesian Service di Deutsche Welle.

Ada pun acara yang berlangsung sekitar 1,5 jam ini juga menghadirkan pembacaan puisi dari Hedy Holzwarth, perwakilan APPBIPA Jerman. Sebagai awal acara Soft Launching terdapat pula pameran digital ilustrasi naskah buku karya Ridho Handoyo dan komunitas seni di Semarang, Jawa Tengah. Acara ini berlangsung secara Hybrid yang diikuti oleh sebagian peserta lewat akses zoom meeting.

Rekaman acara tersebut dapat disaksikan berikut ini:

(CERITA SAHABAT) Dari Hidup Tanpa Listrik Sampai Suara Perempuan Tak Terdengar

Halo Sahabat RUANITA, saya senang sekali bergabung di sini. Meski saya berada jauh di benua Afrika tetapi saya merasa mendapatkan banyak teman-teman dengan membaca program cerita sahabat atau mendengarkan program kalian. 

Perkenalkan nama saya Ni, sebut saja begitu. Boleh dibilang Ni adalah nickname saya. Saya senang bisa mendapatkan kesempatan untuk berbagi cerita dan pengalaman tinggal di negeri suami yang jauh dari perkiraan saya sebelumnya.

Saya berasal dari kota Jakarta, ibu kota Indonesia yang merupakan kota Metropolitan atau Megapolitan tepatnya sehingga banyak hal yang membuat saya shock ketika saya harus pindah mengikuti permintaan suami ke negaranya, Nigeria. 

Sejak Agustus 2010, saya telah tinggal dan menetap di Lagos, Nigeria. Tepatnya saya sudah 12 tahun menetap di ibu kota Nigeria tersebut. Kota yang saya tempati memiliki penduduk lebih dari 14 juta orang sehingga disebut sebagai kota terbesar kedua di Afrika loh.

Semula saya bertemu suami saat saya masih bekerja di Jakarta. Setelah 4 tahun menikah, suami meminta saya untuk tinggal di Nigeria, negeri asal suami. Alasannya, dia ingin anak-anak kami mengenal budaya dan tradisi asal suami. Saya pun menyanggupi permintaan suami meski tak pernah terbayang dalam impian saya untuk tinggal jauh dari tanah air.

Aktivitas saya sehari-hari di Lagos tidak lebih dari ibu rumah tangga dan mengasuh empat orang anak. Saya juga mengisi waktu luang menjadi Beauty Artist di sini. Pekerjaan yang cukup menjanjikan buat saya. 

Hal yang membuat saya kaget pertama kali tinggal adalah hidup tanpa listrik. Bagaimana pun saya terbiasa hidup di ibu kota Indonesia yang semuanya serba ada, termasuk listrik. I mean, kok bisa ya hidup tanpa listrik. Maklum saya lahir dan besar di Jakarta sehingga itu membuat saya kaget luar biasa. Pada akhirnya, saya menyampaikan keluhan saya ini kepada suami. Menurut saya, fasilitas listrik di kota besar jaman sekarang bukan hal yang mewah dan sulit.

Jadi semua rumah di sini punya generator sebagai pengganti listrik, seperti PLN di Indonesia. Saya berkompromi dengan suami. Alhasil suami pun menopang kehidupan kami dengan membeli bensin untuk bahan bakar generator sehingga kami bisa menikmati listrik tiap saat.

Follow kami di ruanita.indonesia ya!

Hidup menetap di negeri suami bukan perkara yang mudah. Saya hampir menyerah dan memutuskan untuk bercerai dari suami. Waktu itu tahun 2012, saya benar-benar berada dalam titik kritis karena perlakuan ipar atau saudara dari pihak suami. Mereka benar-benar menganggap suara saya tidak penting. Mereka kurang menghargai saya. Saya lelah dan capek sekali saat itu.

Bersyukurlah suami saya pengertian dan mampu memberi saya sudut pandang yang berbeda sehingga saya bisa memahami bahwa tiap negara punya tradisi dan kebiasaan yang berbeda-beda. Puji Tuhan, masalah kami bisa terselesaikan dengan baik. 

Di budaya suku suami, perempuan harus hormat terhadap laki-laki. Hal ini kadang menurut saya tidak masuk akal di mana saya lahir dan dibesarkan di kota Jakarta yang sudah moderen. Kadang suara perempuan seperti saya tidak dianggap, tidak didengar karena laki-laki punya hak lebih tinggi. Jadi suara laki-laki lebih berhak daripada suami. Mereka beralasan karena laki-laki adalah pencari nafkah sehingga mereka lebih berhak daripada perempuan.

Semula saya agak sulit menerima budaya dan cara pandang ini. Beruntungnya suami selalu mendukung dan mengajari saya untuk menerima dan memaklumi keadaan negaranya. Saya tahu bahwa ini butuh proses waktu untuk memahami saja. Begitulah orang-orang Nigeria memaklumi keadaan negara mereka. 

Pada akhirnya saya melihat bahwa saya perlu kedewasaan berpikir, bahwa tiap negara punya tradisi dan kebiasaan yang berbeda-beda. Seperti pepatah di Indonesia bilang: Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Setiap daerah punya adat dan kebiasaan sendiri, yang berbeda-beda dengan adat dan kebiasaan daerah lainnya. 

Saran dari saya untuk menghadapi culture shock adalah sabar, tenang dan mencari tahu alasannya. Kita bisa membuat kompromi seperti yang saya lakukan dengan suami sehingga saya memahami sudut pandangnya. Sebaiknya kita tidak asal men-judge adat dan kebiasaan orang lain. 

Satu lagi pesan saya, jangan mudah menyerah! Hadapi itu sebagai pembelajaran dan pendewasaan kita sebagai pribadi yang bertumbuh. 

Penulis: Ni Filan tinggal di Lagos, Nigeria

(KARTINI VIRTUAL 2022) Inggris: Shally Amanda Gustafson

Dalam rangka menindaklanjuti webinar kewirausahaan perempuan di Eropa yang berhasil di gelar 6 Februari 2022 lalu, Tim Ruanita berhasil mengumpulkan representasi profil perempuan berwirausaha di Eropa dan sekitarnya untuk merayakan Hari Kartini 2022 secara virtual. Hal ini bertujuan untuk memberikan informasi dan inspirasi tentang keragaman domisili dan jenis usaha untuk diketahui bersama. Tim Ruanita memposting representasi profil perempuan berwirausaha selama 2 pekan, 18 – 30 April 2022 di semua saluran media sosial.

Nama:  Shally Amanda Gustafson 

Nama akun media sosial (Facebook + Instagram + YouTube) 

Facebook: Shally Tria Amanda-Gustafson#

Instagram: shally3amanda

Youtube: Shally Gustafson

Nama usaha: Pekerja seni dan film

Domisili negara:  Inggris

Bagaimana sosok “Kartini” yang diingat sewaktu masih di Indonesia? Jelaskan!

Menurut saya, wanita yang mandiri dan penuh percaya diri yang selalu haus dengan ilmu di mana pun kapan pun dan bagaimana pun rintangan yang harus ditempuh.

Menurut teman-teman, bagaimana seharusnya sosok “Kartini” masa kini?

Menurut saya, tidak berbeda dengan Kartini masa lalu. Mereka tetap harus haus dengan ilmu dan berbagi dengan sesama, apapun bidangnya dan dimanapun kita berada. Dengan ilmu akan mempermudah hidup kita untuk beradaptasi dengan situasi dan kondisi di manapun dan kapan pun kita berada.


Apa pesan untuk perempuan-perempuan Indonesia yang ingin merintis usaha di luar Indonesia?

Jangan pelit dengan ilmu apapun bidang usaha kalian! Berbagilah ilmu bagaimana kalian bisa sukses di bidangnya masing-masing. Jangan takut dengan kita berbagi ilmu akan mempersulit usaha kita melainkan akan memperluas usaha kita.