(CERITA SAHABAT SPESIAL) Merayakan Perempuan Migran dan Globalisasi Inklusif bersama Ruanita Indonesia

Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan program bulanan yang dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebuah platform yang berkomitmen pada penguatan kapasitas dan advokasi bagi perempuan Indonesia, khususnya dalam konteks peran dan perjuangan mereka di berbagai bidang kehidupan.

Pada edisi bulan Desember 2025 ini, CSS hadir dalam format istimewa untuk memperingati Hari Migran Internasional, dengan menghadirkan Novy Anggraini, seorang dosen sekaligus kandidat doktoral di Doctoral School of Economic and Regional Science, Matei University, Hungaria.

Lewat sesi berbagi ini, Novy tidak hanya membagikan kisah pribadinya sebagai perempuan Indonesia yang menempuh studi di luar negeri, namun juga menggambarkan kompleksitas, tantangan, serta peluang yang bisa diraih oleh perempuan migran dalam lanskap global saat ini.

Dalam perkenalannya, Novy menegaskan pentingnya pendidikan sebagai pintu masuk bagi perempuan untuk mengambil peran lebih luas di tingkat global. Keputusannya memilih Hungaria sebagai tempat studi bukan hanya karena faktor beasiswa, tapi juga karena posisi strategis negara tersebut di kawasan Eropa Tengah serta reputasinya dalam menghasilkan pemikir dan ilmuwan berkelas dunia.

Di lingkungan akademik Hungaria, Novy merasa dihargai sebagai perempuan. Ia menggambarkan suasana diskusi akademik yang inklusif, tanpa diskriminasi, di mana semua mahasiswa, baik laki-laki maupun perempuan, memiliki kesempatan yang setara untuk berkembang dan menunjukkan kemampuan, termasuk dalam forum-forum internasional seperti konferensi ilmiah.

Dalam sesi Cerita Sahabat Spesial ini, Novy mengajak peserta untuk melihat globalisasi dari dua sisi. Di satu sisi, globalisasi membuka akses yang lebih luas bagi perempuan Indonesia untuk mengembangkan diri, belajar, dan bekerja lintas batas negara. Namun di sisi lain, globalisasi juga menuntut kesiapan, terutama dari segi soft skill dan kemampuan bahasa asing.

“Selain bahasa Inggris, minimal ada satu bahasa asing lagi yang harus dikuasai,” tegasnya. Ia mendorong perempuan Indonesia untuk melakukan riset mendalam sebelum memutuskan merantau.

Hal-hal penting seperti jenis pekerjaan yang banyak dibutuhkan di negara tujuan, keterampilan yang dibutuhkan, dan kebijakan lokal terhadap pekerja migran wajib diketahui sejak awal.

Pengalaman Novy sebagai migran perempuan membawanya memahami langsung bagaimana sistem sosial dan hukum di negara lain bisa memberikan perlindungan yang layak bagi perempuan.

Follow us

Ia mencontohkan sistem cuti hamil di Hungaria yang bisa mencapai tiga tahun, dan selama masa tersebut, perusahaan tetap wajib membayar gaji. “Kalau tidak, perusahaan bisa dituntut,” ujarnya.

Lebih lanjut, Novy juga mengungkap bahwa sistem pajak di Hungaria memberikan keuntungan bagi perempuan, terutama mereka yang berstatus ibu tunggal, termasuk dalam hal tax refund. Yang menarik, hak-hak ini diberikan tidak hanya kepada warga lokal, tetapi juga berlaku untuk migran.

Meski banyak regulasi yang mendukung, Novy menekankan pentingnya keberadaan wadah atau pusat bantuan di negara-negara tujuan migrasi untuk perempuan-perempuan migran Indonesia.

Ia menilai bahwa banyak perempuan migran mengalami tekanan emosional atau tantangan hukum, dan tidak tahu harus ke mana mencari bantuan.

Ia mengusulkan agar pemerintah Indonesia, melalui kerja sama bilateral maupun perwakilan di luar negeri, bisa menyediakan legal consultant atau lembaga advokasi yang secara khusus menangani isu-isu perempuan migran.

“Kita butuh tempat curhat, tempat konsultasi, dan juga pelatihan sebelum diberangkatkan,” tuturnya.

Sebagai dosen di Universitas Muhammadiyah Sukabumi, Novy juga berbagi tentang bagaimana ia melihat peran institusi pendidikan tinggi dalam mempersiapkan mahasiswanya menghadapi tantangan dunia kerja.

Ia menyambut baik kebijakan kampus dan Dikti yang kini mulai mewajibkan magang dan kerja praktik. Baginya, langkah ini sangat strategis untuk menjembatani kesenjangan antara teori yang diajarkan di kampus dengan realitas lapangan.

“Mahasiswa harus dihadapkan pada dunia nyata sejak awal. Mereka harus tahu bagaimana kerja tim, bagaimana menghadapi konflik, dan bagaimana menyelesaikan masalah,” kata Novy.

Menutup sesi CSS, Novy memberikan pesan kuat kepada seluruh perempuan Indonesia yang bercita-cita membangun karier di luar negeri. Ia menekankan pentingnya kesiapan mental dan emosional, bukan hanya teknis.

Perempuan harus tahu apa yang mereka inginkan, menetapkan prioritas, dan membekali diri dengan pengetahuan yang cukup sebelum mengambil langkah besar sebagai pekerja, pelajar, atau profesional di luar negeri.

Lebih jauh, ia mengingatkan pentingnya memperkuat support system sesama perempuan. Baik di dalam negeri maupun di negara tujuan migrasi, perempuan perlu saling menguatkan, berbagi informasi, dan berjejaring agar dapat terus berkembang tanpa merasa sendiri.

Program Cerita Sahabat Spesial episode Desember ini tidak hanya menjadi ruang berbagi pengalaman pribadi, tapi juga menjadi refleksi bersama tentang pentingnya kehadiran kebijakan, dukungan komunitas, dan advokasi sistemik bagi perempuan migran Indonesia.

Peringatan Hari Migran Internasional bukan sekadar seremoni, tapi juga momentum untuk mempertegas komitmen kita semua, baik masyarakat sipil, akademisi, maupun negara, dalam mendukung para perempuan yang memilih berjuang lintas batas demi masa depan yang lebih baik.

Ruanita Indonesia melalui CSS terus menghadirkan cerita-cerita nyata, membangun solidaritas, dan menjadi ruang belajar kolektif agar perjuangan perempuan tidak pernah dipikul sendiri.

Simak selengkapnya di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE agar kami dapat berbagi lebih banyak lagi:

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Perjuangan Panjang Seorang Ibu Indonesia di Jerman untuk Keadilan dan Hak Asuh

Sejak Ruanita berdiri pada 2021, implementasi salah satu program berfokus pada dukungan kepada perempuan Indonesia penyintas kekerasan dan bagaimana membangun support system agar mereka tidak sendirian.

Program yang disebut sebagai AISIYU (=AspIrasikan Suara dan Inspirasi nYatamU) melalui kampanye digital agar menjadi perhatian global dan esensial selama 16 Hari Anti Kekerasan terhadap perempuan (HAKTP).

Pada November 2025 dari Cerita Sahabat Spesial (CSS) oleh Ruanita Indonesia (www.ruanita.com) mengangkat kisah Dwi Hariyani, seorang perempuan Indonesia yang telah tinggal di Jerman selama hampir 14 tahun dan menjalani perjuangan hukum demi mendapatkan kembali hak asuh anaknya.

Awal yang Sulit dan Kenyataan yang Pahit

Dwi pindah ke Jerman setelah menikah dengan seorang pria Jerman yang ia temui dalam waktu singkat. Ketika tiba di Jerman dalam kondisi hamil besar, ia menikah dan kemudian melahirkan anak di bulan berikutnya.

Namun, kenyataan hidup tak seindah harapan. Hubungan rumah tangganya kandas, dan yang lebih tragis, anaknya diambil secara sepihak oleh pihak suami saat ia ditinggal keluar rumah.

Frauenhaus: Rumah Aman untuk Permulaan Baru

Beruntung, seorang tetangga orang Jerman memberinya informasi tentang Frauenhaus, yakni rumah perlindungan bagi perempuan yang mengalami kekerasan atau ketidakadilan dalam rumah tangga. Dari tempat itulah perjuangan panjang Dwi dimulai.

Di Frauenhaus, ia mulai dibantu untuk menyusun langkah hukum: mendapatkan pengacara, mencatat kronologi kejadian, dan mempersiapkan dokumen-dokumen yang diperlukan.

Namun, kondisi awal Dwi sangat memberatkan, seperti: tidak memiliki izin tinggal tetap, tidak memiliki pekerjaan, tidak memiliki tempat tinggal sendiri, dan tidak memiliki penghasilan tetap. Semua alasan ini, membuat hak asuh anak lebih berpihak kepada pihak suami.

Enam Tahun, Lebih dari 15 Kali Pengadilan

Apa yang dilalui Dwi bukan perkara mudah, apalagi tinggal jauh dari tanah air. Ia harus menjalani lebih dari 15 kali sidang pengadilan selama hampir tujuh tahun. Hakim yang sama mengikuti perjalanannya, bahkan sempat bertanya, “Kenapa Anda tidak menyerah saja?”

Namun, Dwi memilih untuk tetap bertahan. Sebagai seorang ibu, tidak ada perjuangan yang terlalu berat untuk memperjuangkan anaknya.

Ia percaya pada kekuatan doa dan kekuatan tindakan. “Saya percaya tidak ada yang tidak mungkin dalam Tuhan,” ujarnya dengan mantap.

Menata Hidup Kembali: Bahasa, Pekerjaan, dan Hak Asuh

Saran pengacaranya sederhana tapi berat: jika ingin mendapatkan hak asuh anak, Dwi harus bisa menguasai bahasa Jerman dengan cepat, memiliki pekerjaan tetap, memiliki tempat tinggal mandiri, dan menjalankan hak kunjungan (Umgangsrecht) secara konsisten.

Dwi melakukannya semua. Ia mengikuti kursus bahasa sambil bekerja full time dan mengambil pekerjaan tambahan part-time.

Ia membiayai semua kebutuhan hukum sendiri, dari membayar pengacara hingga kebutuhan sehari-hari. Ia bahkan menempuh perjalanan 400 km dua minggu sekali selama enam tahun untuk bisa bertemu anaknya.

Semua itu dilakukan Dwi seorang diri di Jerman.

Disiplin Diri dan Strategi Bertahan

Dwi mengakui bahwa tantangan terbesar adalah sistem di Jerman dan bagaimana resiliensi dirinya sendiri. Dwi berusaha mengontrol emosi, belajar bahasa asing dalam waktu singkat, dan menghadapi birokrasi yang kompleks, meski itu adalah tantangan yang berat.

Sistem di Jerman membantunya untuknya belajar cepat memahami semua informasi, dengan mandiri. Tidak ada yang benar-benar membimbing atau mendampingi secara intens. “Mereka bantu hanya seminimal itu saja,” ujar Dwi.

Namun Dwi tetap konsisten. Ia menjalankan semua arahan pengacara dan hakim, dengan tekad yang bulat: mendapatkan kembali anaknya dan berjuang untuk membangun kehidupan baru di Jerman.

Frauenhaus dan Pentingnya Edukasi untuk Perempuan Indonesia di Luar Negeri

Dwi menekankan bahwa Frauenhaus adalah langkah pertama yang krusial bagi perempuan di Jerman yang mengalami kekerasan atau tekanan dalam rumah tangga di luar negeri.

Di sana, mereka bisa mendapatkan informasi awal tentang apa yang harus dilakukan, ke mana melapor, dan siapa yang bisa dihubungi.

Namun, edukasi tentang hal ini belum banyak diketahui oleh perempuan Indonesia di luar negeri, terutama yang berada dalam hubungan rentan atau mengalami kekerasan dalam rumah tangga.

Ia berharap ada lembaga payung atau organisasi seperti Ruanita Indonesia yang berfokus melindungi dan mengedukasi perempuan Indonesia di luar negeri, khususnya dalam memahami hak-hak perempuan migran.

Keteguhan Hati, Nilai Diri, dan Pesan untuk Perempuan Indonesia

Dwi tidak ingin kisahnya menjadi sekadar tragedi. Ia menjadikan semua luka itu sebagai pembakar semangat untuk bangkit dan bertahan.

Bahkan ketika sudah bekerja dan mandiri, ia tetap harus membayar semua hutang bantuan pemerintah yang dulu sempat ia terima, saat tak berdaya.

Baginya, perempuan Indonesia harus belajar menakar risiko sebelum menikah dengan orang asing.

Tidak cukup hanya dengan mimpi tentang hidup “lebih enak” di luar negeri. Ada realitas, sistem hukum yang berbeda, dan tantangan yang harus disadari sejak awal.

“Tinggikan value dirimu dulu. Entah kamu tinggal di Indonesia atau di luar negeri, kamu harus punya nilai diri yang kuat,” tegasnya. Karena hanya dengan itu, seorang perempuan bisa bertahan dalam situasi tersulit sekali pun.

Cerita Sahabat Spesial: Menjadi Suara bagi yang Tak Bersuara

Program Cerita Sahabat Spesial adalah program bulanan tiap bulan berbentuk video melalui kanal YouTube Ruanita Indonesia.

Program ini hadir sebagai wadah berbagi cerita, pengalaman, dan inspirasi dari perempuan Indonesia yang tinggal di luar negeri.

Edisi November ini bertepatan dengan peringatan Kampanye Digital 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan. Ini diharapkan dapat menyuarakan pengalaman bagi mereka yang voiceless, seperti Dwi.

Dwi Hariyani bukan hanya sosok ibu. Ia adalah gambaran nyata keteguhan hati perempuan Indonesia yang mampu bertahan, membangun kembali hidupnya dari nol, dan tidak pernah kehilangan harapan, saat tinggal di mancanegara.

Simak selengkapnya program Cerita Sahabat Spesial (CSS) di kanal YouTube dan pastikan SUBSCRIBE ya:

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Belajar dari India, Bagaimana Keamanan dan Peran Perempuan di Dunia Teknologi

Dalam dunia yang semakin terhubung melalui teknologi digital, keamanan di ruang maya menjadi hal yang tak bisa ditawar lagi. Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) edisi Oktober 2025 yang dikelola oleh Ruanita Indonesia kembali menyuguhkan narasi reflektif dan penuh wawasan, kali ini bersama Anggi Eka Pratiwi, seorang peneliti muda Indonesia yang tengah menempuh studi PhD di bidang Computer Science and Engineering di India.

Anggi berbagi kisah dan gagasannya tentang perlunya perlindungan digital yang komprehensif, pentingnya literasi digital bagi masyarakat umum, dan urgensi keterlibatan perempuan dalam bidang teknologi, terutama di negara berkembang seperti Indonesia.

Mengenal Sosok Anggi Eka Pratiwi

Anggi adalah representasi nyata perempuan muda Indonesia yang berani melangkah ke wilayah dominasi teknologi. Berasal dari latar belakang teknik, ia sejak awal telah menyadari bahwa perempuan masih menjadi minoritas di bidang STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics).

Saat menempuh pendidikan sarjana di Indonesia, dari total 30 mahasiswa di kelasnya, hanya tiga orang yang perempuan, salah satunya adalah dirinya sendiri.

Kini, di India, Anggi tidak hanya melanjutkan pendidikan ke jenjang tertinggi, tetapi juga mendalami topik riset yang sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari kita: competitive information diffusion atau penyebaran informasi kompetitif di media sosial.

Motivasi Penelitian: Mendeteksi dan Menelusuri Informasi Digital

Salah satu keprihatinan utama Anggi terhadap dunia digital saat ini adalah bagaimana hoaks atau informasi palsu menyebar dengan sangat cepat dan tak terdeteksi.

Banyak informasi yang viral di media sosial tidak memiliki sumber jelas, namun tetap beredar luas tanpa ada mekanisme penyaringan yang efektif.

Berangkat dari kegelisahan ini, Anggi memilih fokus penelitiannya untuk menciptakan model deteksi penyebaran informasi secara cepat dan akurat dengan data yang berasal dari media sosial.

Harapannya, model ini kelak bisa membantu masyarakat dan pemerintah dalam melacak asal-muasal berita palsu, serta menghambat laju penyebarannya sebelum menyebabkan kerusakan sosial lebih jauh.

Keamanan Digital: Studi Perbandingan Indonesia dan India

Melalui pengalamannya tinggal dan belajar di India, Anggi menyoroti bagaimana negara tersebut telah membangun sistem keamanan digital yang responsif dan terstruktur.

Di India, jika seseorang menjadi korban penipuan online atau kejahatan siber, masyarakat tahu persis harus menghubungi siapa dan ke mana melapor. Nomor darurat digital tersedia dan ditindaklanjuti secara cepat.

Berbeda dengan pengalamannya di Indonesia, ketika ia mencoba melapor atas insiden digital, respon yang diterima hanya berupa pencatatan tanpa kejelasan tindak lanjut.

Hal ini menimbulkan ketidakpastian dan menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap sistem perlindungan siber di tanah air.

Menurut Anggi, data saja tidak cukup. Harus ada tindakan nyata, respons cepat, dan edukasi publik agar masyarakat tahu hak serta langkah apa yang harus diambil saat berada dalam situasi darurat digital.

Literasi Digital: Bekal Wajib di Era Internet

Dalam wawancaranya, Anggi juga menegaskan pentingnya literasi digital sebagai modal dasar bagi masyarakat modern. Ia mengusulkan agar pemerintah mengadakan pelatihan dasar tentang bagaimana menggunakan internet secara aman dan bertanggung jawab.

Ada tiga poin penting yang Anggi bagikan kepada masyarakat terkait penggunaan internet dan media sosial:

  1. Gunakan media sosial sesuai tujuan yang positif. Jika ingin mencari berita, langsunglah ke situs berita resmi.
  2. Waspadai jejak digital. Apa pun yang dicari dan diakses akan direkam dan memengaruhi jenis konten yang muncul.
  3. Lindungi identitas digital. Gunakan fitur keamanan seperti private IP, adblocker, dan filter konten untuk menghindari paparan konten negatif dan melindungi privasi.

Ia juga mengingatkan bahwa internet bukan ruang netral, melainkan lingkungan yang penuh algoritma dan risiko jika tidak digunakan secara bijak.

Mendorong Perempuan di Dunia STEM

Anggi tidak hanya berbicara soal keamanan digital, tetapi juga membawa isu penting lain: ketimpangan gender di dunia teknologi.

Menurutnya, meskipun ada peningkatan partisipasi perempuan di bidang STEM, peran mereka masih sangat terbatas di tingkat pendidikan tinggi dan profesional.

Ia menyoroti praktik di India yang menetapkan kuota khusus untuk perempuan di program-program teknik dan sains, misalnya 30% dari total mahasiswa harus perempuan.

Kebijakan semacam ini, menurut Anggi, sangat efektif mendorong kesetaraan dan menciptakan ruang yang lebih inklusif bagi perempuan di bidang teknologi.

Indonesia, kata Anggi, perlu mempertimbangkan strategi serupa. Selain itu, dibutuhkan narasi positif dan dukungan struktural agar lebih banyak perempuan tertarik dan merasa aman masuk ke ranah ini, yang selama ini dianggap milik laki-laki.

Pesan untuk Indonesia dan Generasi Digital

Sebagai penutup, Anggi menyampaikan harapan besarnya untuk Indonesia. Ia ingin masyarakat memiliki kesadaran lebih tinggi akan pentingnya keamanan digital, dan agar pemerintah membangun sistem perlindungan yang tidak hanya formal, tapi fungsional dan cepat merespon.

Ia juga mengajak para pemuda, khususnya perempuan Indonesia, untuk tidak takut mengejar bidang-bidang teknologi.

Dunia digital bukan hanya tempat untuk bermain atau hiburan, tapi medan yang luas untuk berkontribusi, meneliti, dan menciptakan solusi bagi tantangan zaman.

Tentang Cerita Sahabat Spesial (CSS)

Program Cerita Sahabat Spesial yang dikelola oleh Ruanita Indonesia adalah program bulanan berbentuk video untuk membagikan cerita, pengalaman, dan wawasan mereka, melalui kanal YouTube Ruanita.

Program ini tidak hanya memperkaya perspektif, tetapi juga menjadi jembatan antara Indonesia dan dunia, melalui suara-suara nyata dari mereka yang belajar, bekerja, dan berjuang di luar batas geografi.

Cerita Anggy Eka Pratiwi adalah cermin bahwa masa depan digital Indonesia bukan hanya tentang teknologi, tetapi juga tentang manusia yang menggunakannya dengan bijak dan aman.

Simak selengkapnya program Cerita Sahabat Spesial (CSS) di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE ya:

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Merayakan Perdamaian Lewat Pendidikan Berbasis Kearifan Lokal

Ruanita Indonesia melalui program Cerita Sahabat Spesial (CSS) terus mengukuhkan diri sebagai penggerak perubahan positif di masyarakat dengan mengangkat tema-tema yang inspiratif dan relevan setiap bulannya.

Untuk edisi September 2025, CSS menghadirkan sosok Maria Regina Jaga, seorang praktisi dan aktivis pendidikan anak usia dini asal Nusa Tenggara Timur yang telah mengabdikan lebih dari satu dekade hidupnya untuk membangun pendidikan berbasis kearifan lokal.

Dalam percakapan hangat dan mendalam ini, Maria mengajak kita untuk merefleksikan kembali hakikat pendidikan, tidak sekadar sebagai upaya mentransfer ilmu pengetahuan, namun sebagai sarana menanamkan nilai-nilai luhur seperti perdamaian, gotong royong, dan penghargaan terhadap perbedaan.


Maria membuka ceritanya dengan sebuah pernyataan kuat: “Kearifan lokal adalah kekuatan.” Ia meyakini bahwa di tengah derasnya arus globalisasi dan kemajuan teknologi, pendidikan harus tetap berpijak pada nilai-nilai lokal yang sudah mengakar dalam kehidupan masyarakat.

Menurutnya, pendidikan karakter yang sejati justru tumbuh dari pemahaman dan penghargaan terhadap kebudayaan sendiri, bukan dari adopsi mentah-mentah model pendidikan luar.


Sebagai seorang master pendidikan anak usia dini, Maria telah lama menerapkan pendekatan ini dalam praktik. Ia memanfaatkan cerita rakyat dan permainan tradisional sebagai media pembelajaran yang tidak hanya menyenangkan, tetapi juga kaya akan makna.

Melalui cerita-cerita lokal, anak-anak belajar memahami nilai persatuan dalam keberagaman, pentingnya kontribusi individu dalam komunitas, dan cara hidup yang selaras dengan lingkungan sosial-budaya mereka.

Gotong Royong sebagai Nilai Universal

Maria menyoroti pentingnya gotong royong, sebuah nilai yang ia temukan masih sangat kuat dalam tradisi masyarakat Nusa Tenggara Timur, khususnya saat membangun rumah adat.

Dalam proses ini, semua elemen masyarakat, baik tua, muda, laki-laki, maupun perempuan, berpartisipasi tanpa merasa lebih dominan satu sama lain.

Nilai gotong royong ini menjadi contoh konkret bagaimana pendidikan karakter bisa muncul dari praktik budaya.

“Setiap individu dihargai atas kontribusinya. Tidak ada yang lebih menonjol,” katanya.

Dalam dunia pendidikan, hal ini dapat diterjemahkan sebagai pendekatan inklusif yang memberi ruang bagi setiap anak untuk berpartisipasi dan berkembang sesuai potensinya.

Pendidikan Damai dalam Praktik Sehari-hari

Salah satu poin paling menyentuh dalam cerita Maria adalah pengalamannya menyaksikan harmoni lintas agama dalam perayaan keagamaan.

Saat umat Katolik merayakan Natal dan Paskah, komunitas Muslim dan penganut agama lain turut serta menjaga keamanan dan membantu pelaksanaan acara.

Bagi Maria, inilah contoh nyata bahwa perdamaian bukan sekadar absennya konflik, tetapi hadir dalam bentuk penghargaan terhadap perbedaan dan kerjasama antarkomunitas.

Ini adalah jenis pendidikan damai yang tidak hanya diajarkan lewat buku teks, tetapi melalui pengalaman langsung dalam kehidupan bermasyarakat.

Kurikulum Inklusif dan Relevan Budaya

Maria juga mengkritisi bagaimana kurikulum nasional saat ini masih terlalu berat sebelah, dengan banyak referensi yang hanya mewakili budaya Indonesia bagian barat.

Ia menekankan pentingnya pemerataan representasi budaya dalam materi pelajaran agar anak-anak dari Indonesia Timur pun merasa diwakili dan dihargai.

Ia menyarankan agar lokal konten seperti legenda daerah, cerita rakyat, serta adat istiadat lokal dimasukkan secara sistematis dalam pembelajaran, khususnya dalam mata pelajaran seperti Bahasa Indonesia.

Hal ini tidak hanya akan memperkuat identitas budaya anak, tetapi juga menumbuhkan empati dan penghargaan terhadap budaya lain.

Teknologi dan Tradisi: Bukan Pilihan, tapi Harmoni

Maria tidak menolak kemajuan teknologi. Ia menyadari bahwa dunia saat ini menuntut generasi muda untuk melek digital dan siap bersaing di era global. Namun, ia menegaskan bahwa teknologi dan tradisi bukanlah dua kutub yang harus dipertentangkan.

“Teknologi harus menjadi alat bantu, bukan satu-satunya sumber pembelajaran,” ujarnya. Ia mengajak para pendidik untuk tetap mengintegrasikan nilai-nilai lokal dalam proses digitalisasi pendidikan, agar kemajuan teknologi tetap berpijak pada akar budaya sendiri.

Pendidikan untuk Perdamaian Lintas Generasi

Salah satu visi besar Maria adalah menciptakan pendidikan yang mampu menjembatani generasi tua dan muda dalam membangun perdamaian.

Pendidikan yang baik menurutnya adalah yang memungkinkan interaksi lintas usia dalam proses belajar-mengajar, misalnya dengan melibatkan para tetua adat atau pengrajin tradisional dalam kelas-kelas tematik.

Dalam dunia yang semakin individualistik, pembelajaran semacam ini menjadi oase yang menghidupkan kembali nilai-nilai kebersamaan dan keberlanjutan antar generasi.

Harapan dan Seruan kepada Pemerintah

Di akhir sesi, Maria menyampaikan harapannya kepada pemerintah Indonesia agar lebih membuka ruang bagi para pendidik, terutama dari wilayah timur Indonesia, untuk terlibat dalam perumusan dan implementasi kebijakan pendidikan.

Ia meminta agar suara dari daerah tidak hanya dijadikan formalitas dalam dokumen, tetapi benar-benar dirasakan dalam praktik lapangan.

Kurikulum nasional, menurutnya, harus lebih dari sekadar dokumen teknis. Ia harus menjadi cerminan dari identitas kolektif bangsa, yang menghormati dan merayakan keragaman budaya sebagai kekayaan yang memperkuat, bukan memecah.

Ruanita Indonesia dan CSS: Mengangkat Suara Pinggiran

Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) adalah program bulanan, diprakarsai oleh Ruanita Indonesia memang dikenal sebagai ruang yang memberi panggung bagi cerita-cerita yang jarang terdengar di media arus utama.

Melalui CSS, Ruanita menghadirkan tokoh-tokoh inspiratif seperti Maria yang membagikan pengalaman dan gagasannya demi membangun Indonesia yang lebih adil, inklusif, dan damai.

Dalam konteks ini, CSS edisi September 2025 bukan sekadar sesi berbagi, melainkan seruan kuat agar pendidikan di Indonesia berpihak pada nilai-nilai kemanusiaan, budaya, dan perdamaian.

Simak selengkapnya dalam kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami:

(CERITA SAHABAT SPESIAL) “Ratu Rendang” dan Diplomasi Kuliner Indonesia ke Amerika Latin

Agustus menjadi bulan yang istimewa bagi seluruh rakyat Indonesia, ketika semangat kemerdekaan digaungkan di berbagai penjuru dunia.

Dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80, Cerita Sahabat Spesial (CSS) edisi Agustus 2025 mempersembahkan kisah inspiratif dari belahan dunia yang jauh: Rio de Janeiro, Brasil, tempat seorang perempuan Indonesia mengharumkan nama bangsa lewat kekuatan rasa kuliner Indonesia.

Dialah Sinta Stepani Surento, perempuan asal Toraja, Sulawesi Selatan, yang kini dikenal sebagai “Ratu Rendang” di Amerika Latin.

Dari Rantepao, Toraja ke Rio de Jainero, Brasil

Sinta menapaki jejak panjang dari tanah kelahirannya di Rantepao hingga menetap di Brasil sejak tahun 2003.

Ia memulai perjalanannya sebagai mahasiswa di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, lalu hijrah ke negeri Samba untuk memulai hidup baru.

Awalnya, Sinta hanya memasak untuk kebutuhan pribadi dan kerabat.

Namun pada 15 April 2003, langkah kecil itu bertransformasi menjadi lompatan besar ketika ia memulai usaha katering makanan Indonesia.

Lambat laun, usahanya berkembang menjadi layanan pengantaran makanan khas Indonesia yang dikenal luas di Rio de Janeiro.

Kini, Sinta melayani sekitar 3.000 klien dari berbagai latar belakang.

Tak hanya komunitas orang Indonesia saja, tapi juga warga lokal Brasil yang penasaran dan jatuh cinta pada cita rasa Nusantara.

Makanan sebagai Jembatan Budaya

Perjalanan Sinta bukan sekadar tentang memasak.

Di balik setiap bumbu dan rempah yang ia racik, terdapat misi kebudayaan yang mendalam: memperkenalkan Indonesia kepada dunia. “Karena makanan itu, orang jadi ingin pergi ke Indonesia,” ujarnya.

Baginya, kuliner adalah salah satu bentuk diplomasi paling efektif.

Ketika orang Brasil mencicipi rendangnya, bukan hanya rasa yang mereka ingat, tapi juga keramahan, kehangatan, dan semangat Indonesia.

Tak jarang, pertemuan bisnis yang buntu akhirnya terselesaikan hanya karena semangkuk rendang.

Sinta bahkan pernah membantu seorang pebisnis Indonesia melobi mitra lokalnya dan negosiasi berhasi, berkat sajian masakan khas Indonesia yang ia buat.

“Saya sempat dijuluki Ratu Rendang di Rio de Janeiro,” kisahnya sambil tertawa.

Tantangan dan Adaptasi Rasa

Namun memperkenalkan kuliner Indonesia di luar negeri tidak selalu mudah. Salah satu tantangan terbesar yang Sinta hadapi adalah soal rasa.

“Masakan kita itu kan cukup pedas ya, dan orang Brazil itu kebanyakan 90 persen dari observasi saya tidak suka pedas,” katanya.

Mau tak mau, Sinta harus melakukan modifikasi terhadap resep agar lebih sesuai dengan lidah lokal.

Ia memisahkan sambal dari masakan utama, menyesuaikan kadar manis dan asin, bahkan mengakali bahan-bahan yang sulit ditemukan seperti kencur atau lengkuas.

“Menurut saya sebagai orang Indonesia tidak sesuai rasanya seperti di Indonesia” katanya, “Tapi bagi orang Brazil, itu sudah enak sekali.”

Adaptasi rasa menjadi bentuk kompromi kreatif agar cita rasa Indonesia tetap bisa dinikmati tanpa kehilangan karakter aslinya.

Dari Dapur ke Media Massa

Popularitas Sinta melesat bukan hanya dari dapur ke dapur, tapi juga merambah ke media massa.

Beberapa media digital dan radio ternama di Brazil seperti CBN Rio de Jeneiro mewawancarainya secara khusus untuk membahas makanan Indonesia.

Bahkan, ia kerap diminta membagikan resep-resep seperti nasi goreng dan mi goreng oleh berbagai majalah gaya hidup.

Jejaring sosial seperti Instagram dan WhatsApp menjadi alat penting dalam mempromosikan bisnis dan budaya Indonesia.

“Dari mulut ke mulut, grup WhatsApp, dan Instagram itu akhirnya saya dibantu teman-teman untuk mempromosikan masakan Indonesia,” jelasnya.

Namun, ia juga mengakui bahwa promosi personal semacam itu tak akan pernah cukup untuk menjangkau skala lebih besar tanpa dukungan institusional yang memadai.

Harapan akan Peran Negara

Meski berhasil membangun usaha dari nol dan mempopulerkan makanan Indonesia di Brazil, Sinta menyimpan harapan besar kepada pemerintah Indonesia agar lebih proaktif dalam mendata dan mendukung duta kuliner informal seperti dirinya.

Menurutnya, negara perlu memetakan siapa saja orang-orang Indonesia di mancanegara yang berpotensi mempromosikan kebudayaan nasional melalui jalur kuliner, serta menyediakan dukungan yang nyata, baik dalam bentuk promosi, pelatihan, maupun pembukaan restoran resmi di luar negeri.

“Kalau benar-benar ingin kuliner Indonesia mendunia’, ya jadikan program ini sesuatu yang tidak tergantikan,” tegasnya.

Sinta sendiri sudah berkali-kali mendapatkan pertanyaan dari klien, orang-orang Brazil soal kapan ia akan membuka restoran sungguhan.

Keinginannya ada, tapi untuk merealisasikannya, ia butuh lebih dari sekadar semangat, ia butuh sistem pendukung.

Diplomasi Kuliner: Aset Strategis Bangsa

Cerita Sinta adalah contoh nyata bahwa diplomasi tak harus dilakukan lewat meja perundingan. Ada bentuk diplomasi yang lebih halus, lebih personal, dan tak kalah ampuh: diplomasi kuliner.

Lewat makanan, Indonesia hadir di meja makan orang-orang asing.

Rendang, sate, dan opor, membuat cinta tumbuh. Rasa penasaran terhadap makanan membuka jalan menuju ketertarikan pada budaya, bahasa, bahkan pariwisata Indonesia.

Bagi orang Brazil yang mengenal Indonesia lewat masakan Sinta, Indonesia bukan lagi negara asing. Ia menjadi rumah rasa yang menyenangkan, penuh kehangatan, dan penuh cerita.

Ruanita Indonesia dan Cerita Sahabat Spesial

Cerita Sahabat Spesial adalah program bulanan dari Ruanita Indonesia yang menyoroti perjuangan, kisah, dan inspirasi perempuan-perempuan Indonesia di berbagai penjuru dunia.

Setiap bulan, satu sosok istimewa dipilih untuk membagikan kisahnya, tentang bagaimana ia menyebarkan nilai, budaya, dan semangat Indonesia, baik secara formal maupun personal.

Melalui kisah Sinta Stepani Surento, kita belajar bahwa kemerdekaan bukan hanya soal sejarah, tapi juga tentang terus menghidupkan identitas bangsa di panggung dunia.

Simak selengkapnya di kanal YouTube kami dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami agar berbagi lebih banyak lagi

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Kisah Perempuan Indonesia di Industri Energi di Qatar

Bulan Juli 2025, Ruanita Indonesia menghadirkan kisah inspiratif dalam seri Cerita Sahabat Spesial dari salah satu sudut dunia yang penuh tantangan: industri energi Qatar.

Kali ini, kita diajak mengenal lebih dekat sosok Nurlany Yassin, atau yang akrab disapa Lany, seorang perempuan Indonesia yang telah lebih dari 13 tahun menetap dan berkarier di Doha sebagai analis komersial di Qatar Energy, perusahaan energi nasional yang berada di jantung industri gas alam cair dunia.

Dalam kesehariannya, Lani bukan hanya berperan sebagai pekerja profesional, tapi juga sebagai seorang ibu dari putri berusia 8 tahun.

Ia menjelajahi peran ganda ini di tengah budaya kerja yang sangat patriarkal, seraya membuktikan bahwa perempuan bisa bertahan, tumbuh, bahkan unggul di lingkungan kerja yang didominasi laki-laki.

Bekerja di Tengah Budaya Patriarkal

Qatar dikenal sebagai salah satu negara dengan struktur budaya yang konservatif. Hal ini sangat memengaruhi pola kebijakan di lingkungan kerja, termasuk dalam industri besar seperti minyak dan gas.

Menurut Lany, masih banyak kebijakan kepegawaian dan administratif yang dibuat tanpa mempertimbangkan perspektif perempuan.

“Banyak kebijakan yang seolah hanya dibuat untuk laki-laki,” ujarnya. Misalnya, dalam dokumen kebijakan perusahaan, istilah yang sering muncul adalah “istri dan anak-anak” tanpa mempertimbangkan skenario jika pekerja utamanya adalah seorang perempuan.

Akibatnya, pegawai perempuan seperti Lany harus melakukan klarifikasi ekstra untuk memastikan apakah hak-hak mereka juga dijamin.

Dalam banyak kasus, kebutuhan perempuan sebagai pekerja, ibu, dan individu sering kali tidak terpikirkan dalam penyusunan awal kebijakan.

“Kadang bukan karena sengaja mengabaikan, tapi karena budaya patriarki itu sangat melekat,” ungkapnya.

Minoritas tapi Punya Nilai Lebih

Sebagai perempuan di lingkungan kerja yang sebagian besar didominasi laki-laki, Lany mengakui bahwa ia berada dalam posisi minoritas.

Namun, ia melihat sisi positif dari kondisi ini. Kadang justru karena menjadi minoritas, ia mendapatkan perlakuan khusus yang menguntungkan.

“Saat saya melakukan kunjungan ke offshore, saya mendapatkan kamar sendiri, sementara rekan-rekan laki-laki tidur di ruang bersama,” ceritanya.

Hal-hal seperti ini menunjukkan bahwa meskipun dominasi laki-laki terasa kuat, keberadaan perempuan bisa membawa perubahan positif dalam dinamika kerja, termasuk dalam fasilitas dan ruang aman.

Namun demikian, Lany tetap menekankan bahwa menjadi minoritas juga berarti harus bekerja lebih keras untuk membuktikan diri.

Perempuan harus menunjukkan tidak hanya keahlian teknis dan keilmuan, tetapi juga komitmen dan konsistensi dalam bekerja.

Ia berharap lebih banyak perempuan Indonesia tidak takut untuk terjun ke bidang-bidang yang selama ini dianggap “maskulin” seperti teknik, fisika, atau geosains.

Komunikasi dan Manajemen Waktu sebagai Kunci

Menjalani peran sebagai profesional dan ibu bukanlah hal mudah, terutama di lingkungan dengan ekspektasi tinggi.

Lany menekankan pentingnya manajemen waktu dan komunikasi yang baik, baik dengan keluarga maupun dengan kantor.

“Selama kita bisa mengatur waktu dengan baik dan terbuka dalam komunikasi, semuanya bisa dijalankan,” katanya.

Kemampuan ini sangat penting, terutama ketika seseorang harus bekerja di luar negeri tanpa sistem dukungan keluarga besar.

Hal ini juga berkaitan erat dengan kemandirian perempuan dalam menentukan jalan hidup dan kariernya.

Tantangan Sistemik dan Ketidaksetaraan yang Tersirat

Dalam wawancara ini, Lany juga mengungkap bagaimana sistem ketenagakerjaan di Qatar, meskipun menawarkan peluang profesional masih menyimpan banyak tantangan dari sisi perlindungan sosial.

Misalnya, tidak adanya skema pensiun yang layak bagi pekerja asing. “Kami harus pintar-pintar menabung sendiri, karena tidak ada uang pensiun. Hanya pesangon,” ungkapnya.

Hal ini berbeda dengan sistem di Indonesia yang menawarkan skema jaminan hari tua atau pensiun yang lebih jelas.

Demikian pula dengan akses terhadap kesejahteraan kesehatan, yang meskipun tersedia di Timur Tengah, tetap sangat bergantung pada kebijakan masing-masing perusahaan.

Dalam konteks ini, penting bagi perempuan untuk tidak sekadar fokus pada gaji atau jabatan, tetapi juga memahami dan memperjuangkan hak-hak mereka sebagai pekerja lintas negara.

Harapan untuk Generasi Perempuan Masa Kini

Menutup ceritanya, Lany memberikan pesan kuat kepada para perempuan Indonesia di mana pun mereka berada.

Ia mengajak semua perempuan untuk tidak membatasi diri hanya karena stigma atau konstruksi sosial yang melekat.

“Yang paling penting adalah apa yang kita inginkan untuk hidup kita. Apa yang membuat kita tertarik dan semangat. Jangan pernah patah semangat, terus kejar cita-cita,” katanya penuh keyakinan.

Lany membuktikan bahwa menjadi perempuan di sektor industri padat laki-laki bukanlah halangan.

Justru, dengan keuletan, keberanian, dan kesadaran atas potensi diri, perempuan bisa hadir sebagai agen perubahan dalam struktur kerja yang selama ini bias gender.

Ruanita Indonesia dan Cerita Sahabat Spesial

Cerita Sahabat Spesial adalah program bulanan Ruanita Indonesia yang menyoroti kisah-kisah nyata perempuan Indonesia dari berbagai latar belakang dan belahan dunia.

Program ini bertujuan membuka ruang inspirasi, pembelajaran, dan refleksi tentang perjuangan serta kekuatan perempuan dalam menghadapi tantangan hidupnya, baik di ruang domestik maupun publik.

Edisi Juli ini adalah bukti bahwa keberanian perempuan menembus batas budaya dan sistem bukan hanya kisah tentang individu, tapi juga tentang harapan kolektif akan masa depan yang lebih adil dan setara.

Simak selengkap di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE kanal YouTube kami agar dapat berbagi lebih banyak lagi

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Trauma-Informed Yoga: Ruang Aman untuk Pulih dan Terhubung

Hari Yoga Sedunia yang diperingati setiap 21 Juni menjadi momentum penting bagi banyak komunitas untuk merayakan harmoni tubuh dan jiwa melalui praktik yoga. Di bulan Juni 2025 ini, Ruanita Indonesia menghadirkan edisi khusus Cerita Sahabat Spesial yang menyoroti tema yang mendalam dan penuh makna: Trauma-Informed Yoga.

Bersama Bernadia, seorang fasilitator yoga dan terapi somatik yang telah menjalani perjalanan panjang lintas negara dan budaya, kita diajak memahami bentuk yoga yang ramah, inklusif, dan menyentuh sisi terdalam dari penyembuhan emosional.

Mengenal Sosok Bernadia

Bernadia kini tinggal di Pulau Fuerteventura, Kepulauan Canary, Spanyol. Sebelumnya ia menetap di Swedia untuk mendalami studi tentang pendidikan luar ruang (outdoor education) dan keberlanjutan (sustainability).

Perjalanannya dalam bidang yoga dan terapi somatik telah mempertemukannya dengan berbagai pendekatan yang memperluas makna yoga bukan hanya sebagai olahraga atau praktik spiritual, tetapi juga sebagai jalan penyembuhan dari luka trauma.

“Saat ini aku fokus pada yoga, trauma, dan terapi somatik,” ujarnya.

Ia kemudian memperkenalkan konsep trauma-informed yoga, sebuah pendekatan yang sangat personal dan empatik dalam memfasilitasi individu, khususnya mereka yang memiliki pengalaman trauma, agar bisa menjadikan yoga sebagai alat bantu penyembuhan, bukan pemicu luka lama.

Follow us

Apa Itu Trauma-Informed Yoga?

Trauma-informed yoga (TIY) bukanlah jenis yoga baru dengan teknik atau gerakan berbeda, melainkan pendekatan yang merangkul prinsip inklusivitas, kesadaran tubuh, dan keamanan emosional.

Dalam praktiknya, fasilitator TIY memahami bahwa trauma tersimpan dalam tubuh dan memengaruhi cara kerja otak.

Oleh karena itu, pendekatan yang digunakan pun sangat hati-hati, mempertimbangkan sensitivitas peserta terhadap pengalaman traumatis masa lalu.

“Trauma adalah respons emosi dari peristiwa negatif yang tersimpan dalam tubuh dan mempengaruhi kelanjutan kerja otak kita,” kata Bernadia.

Otak yang pernah mengalami trauma bisa mudah mengalami reaksi fight, flight, atau freeze saat merasa terancam, walau ancaman itu tidak selalu nyata secara fisik.

Dalam kelas trauma-informed yoga, Bernadia menekankan pentingnya menghadirkan rasa aman. Ini termasuk dalam cara berbicara, menyusun ruang, hingga memilih kata-kata.

Tidak digunakan istilah-istilah dalam bahasa Sanskrit seperti pada yoga tradisional, demi menghindari alienasi atau rasa tidak nyaman bagi peserta yang tidak familiar.

Empat Pilar Trauma-Informed Yoga

Bernadia membagikan empat tema utama dalam trauma-informed yoga yang menjadi fondasi dari pendekatan ini:

  1. Mengalami Momen Saat Ini
    Fokus utama adalah membangun kesadaran penuh terhadap keberadaan di saat ini (being present). Trauma membuat seseorang sering terjebak dalam masa lalu atau cemas akan masa depan. Lewat latihan ini, peserta diajak untuk kembali hadir, merasakan tubuh, nafas, dan emosi saat ini.
  2. Membuat Pilihan
    Peserta diberikan hak penuh untuk memilih gerakan yang paling sesuai bagi dirinya. Tidak ada paksaan atau tekanan untuk mengikuti gerakan yang sulit atau tidak nyaman. “Setiap orang boleh memilih gerakan yang paling aksesibel untuk mereka,” jelas Bernadia. Ini adalah bentuk pemulihan rasa kendali yang sering hilang dalam pengalaman trauma.
  3. Mengambil Aksi yang Efektif
    Ini berkaitan erat dengan membuat pilihan—di mana setiap aksi dalam gerakan yoga harus terasa bermanfaat dan membawa rasa nyaman, bukan sekadar mengikuti instruksi. TIY memfasilitasi peserta untuk memahami apa yang benar-benar dibutuhkan oleh tubuh mereka.
  4. Membangun Ritme dan Keterhubungan
    Kelas TIY biasanya menggunakan sekuens gerakan yang konsisten dan berulang untuk menciptakan rasa ritmis dan aman. Ritme ini juga menjadi jembatan untuk membangun keterhubungan antara fasilitator dan peserta.

Praktik yang Lembut dan Aksesibel

Trauma-informed yoga berbeda dengan kelas yoga konvensional yang kadang menekankan pada performa atau bentuk sempurna.

Di sini, tidak ada istilah “pose harus sempurna”. Sebaliknya, fokusnya adalah pada body awareness atau kesadaran tubuh, seperti mengenali sensasi dingin, panas, nyeri, atau ketegangan di tubuh, dan belajar untuk tidak mengabaikannya.

Selain itu, Bernadia membuka ruang dialog sejak awal kelas.

Ia mempersilakan peserta menyampaikan kebutuhan atau ketidaknyamanan, misalnya jika cahaya lampu terlalu redup atau musik tertentu membangkitkan kenangan traumatis. “Kita bangun lingkungan yang aman dan nyaman sejak awal,” katanya.

Penggunaan istilah gerakan dalam bahasa sehari-hari juga menjadi strategi penting.

Alih-alih menyebut Balasana atau Utkatasana, misalnya, fasilitator akan mengatakan “gerakan seperti duduk di kursi” atau “posisi anak”. Ini membantu peserta lebih memahami dan tidak merasa terasing.

Tidak Mengkualifikasi Pengalaman

Dalam trauma-informed yoga, pengalaman setiap orang tidak dibandingkan atau dinilai.

Tidak ada yang disebut “nafas yang benar” atau “gerakan yang dalam”. Justru TIY menghindari penggunaan kata-kata yang bisa mengandung nilai, seperti “lebih dalam”, “lebih kuat”, atau “lebih baik”.

“Pengalaman tiap orang berbeda.

Tidak perlu menyamakan. Yang penting, apakah itu terasa aman dan nyaman untukmu?” jelas Bernadia.

Peran Fasilitator yang Empatik

Fasilitator TIY memiliki pelatihan khusus untuk memahami respons tubuh terhadap trauma, termasuk bagaimana menghadapi situasi ketika peserta mengalami trigger, yaitu munculnya kembali kenangan atau emosi menyakitkan karena suatu stimulus, seperti suara, posisi tubuh tertentu, atau bahkan aroma.

Seorang guru trauma-informed yoga tidak hanya mengajarkan gerakan, tetapi juga memahami batasan peserta dan tahu cara memberikan dukungan.

Mereka menyadari bahwa tidak semua trauma bisa diselesaikan melalui yoga, dan kerap mendorong peserta untuk tetap menjalin hubungan dengan tenaga profesional seperti psikolog atau psikiater.

Ruang untuk Menolak dan Meninggalkan

Salah satu nilai penting dalam TIY adalah memberi izin kepada peserta untuk tidak ikut. Peserta diperbolehkan meninggalkan kelas kapan saja jika merasa tidak nyaman.

Ini sangat kontras dengan banyak kelas yoga yang secara tidak langsung memberi tekanan sosial untuk bertahan sampai selesai.

Bernadia mengungkapkan bahwa ia sendiri pernah merasa takut untuk meninggalkan kelas yoga ketika tidak nyaman, dan pengalaman itu sangat membekas.

Karena itu, ia menekankan kepada siapa pun yang ingin bergabung di kelasnya untuk merasa bebas meninggalkan ruang saat dibutuhkan—tanpa rasa bersalah.

“Kalau teman-teman mau ikut kelasku, silakan kontak dulu. Nggak perlu cerita masalah traumanya apa, cukup kenalan dulu untuk tahu apakah vibenya cocok atau nggak,” ujarnya.

Yoga Sebagai Pendekatan Pelengkap

Perlu ditekankan bahwa trauma-informed yoga bukan pengganti terapi profesional. Ini adalah pendekatan pelengkap yang bisa mendukung proses pemulihan secara menyeluruh.

Yoga memberikan ruang untuk menyentuh kembali tubuh yang mungkin selama ini dihindari karena trauma, dan membangun kembali rasa aman serta keterhubungan diri.

Komitmen Ruanita Indonesia

Program Cerita Sahabat Spesial merupakan bagian dari komitmen Ruanita Indonesia dalam menyediakan ruang aman, suportif, dan inklusif bagi komunitas untuk tumbuh dan pulih bersama.

Melalui platform ini, kisah-kisah inspiratif dan pendekatan penyembuhan yang beragam dibagikan untuk membuka percakapan, membangun empati, dan memperluas wawasan tentang kesehatan mental dan kesejahteraan emosional.

Edisi kali ini adalah pengingat bahwa yoga bukan sekadar soal fleksibilitas tubuh, tapi juga tentang self-care pada diri sendiri. Tentang pilihan, kesadaran, dan koneksi.

Lebih lanjut, simak program cerita sahabat spesial berikut ini di kanal YouTube kami dan pastikan SUBSCRIBE agar kami berbagi lebih banyak lagi

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Apa yang Bisa Dipelajari dari Pendidikan di Negeri Paling Membahagiakan, Finlandia?

Dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional, program Cerita Sahabat Spesial (CSS) edisi bulan Mei 2025 dari RUANITA – Rumah Aman Kita menghadirkan sosok perempuan inspiratif: Desiree Luhulima, seorang pendidik dan penulis buku pendidikan yang telah tinggal di Finlandia selama hampir tiga dekade.

Melalui program ini, RUANITA mengajak kita menyelami lebih dalam esensi pendidikan dari perspektif orang Indonesia yang telah lama bersentuhan dengan sistem pendidikan Finlandia, salah satu sistem pendidikan terbaik di dunia.

Salah satu kisah paling membekas yang dibagikan Desiree adalah pengalamannya ketika mengunjungi sebuah daerah di Indonesia. Ia mengamati perilaku anak-anak yang membeli teh kemasan plastik saat istirahat sekolah.

Ketika ditanya ke mana mereka membuang gelas plastik tersebut, anak-anak dengan percaya diri menjawab: “ke tempat sampah, supaya tidak menyebabkan banjir.”

Namun ketika bel masuk berbunyi, gelas-gelas itu justru dilempar ke kali.

Follow us

Kejadian ini menjadi simbol nyata bagi Desiree atas apa yang ia sebut sebagai “keterputusan pendidikan”—yaitu ketidaktersambungan antara pengetahuan yang diajarkan dan perilaku nyata yang diterapkan.

Pendidikan yang mestinya membentuk karakter dan kesadaran lingkungan, justru terjebak pada hafalan dan rutinitas kosong.

Desiree membandingkan pengalamannya sebagai orang tua di Indonesia dan di Finlandia.

Di Indonesia, ia pernah mengalami stres berat sebagai ibu karena dua anak laki-lakinya yang sangat aktif.

Ia merasa harus terus mengontrol agar tidak dimarahi guru. Namun, saat berpindah ke Finlandia, anak-anaknya justru diapresiasi.

“Anak-anak diberi kebebasan, diberi ruang, diberi kepercayaan, diapresiasi, suaranya didengar, dan diberi kesempatan seluas-luasnya,” kata Desiree.

Ia melihat bagaimana kelebihan anak dihargai dan kekurangannya dicarikan solusi, bukan disalahkan.

Menurutnya, sistem pendidikan Indonesia sebenarnya bisa mencapai itu juga.

Tapi ada yang belum kena, yaitu “roh” dari pendidikan itu sendiri, yakni semangat dan nilai-nilai yang menghidupi proses belajar-mengajar.

Desiree menjelaskan bagaimana pendekatan “sambil menyambil” diadopsi dalam sistem pendidikan anak usia dini di Finlandia.

Artinya, matematika, IPA, dan pelajaran lain tidak diajarkan secara kaku, tetapi dimasukkan dalam aktivitas bermain.

Bermain menjadi wahana belajar, dan istirahat bukan hanya jeda, melainkan bagian dari proses pembelajaran yang berharga.

Dalam bermain, anak-anak belajar kecerdasan sosial, mengelola konflik, dan berkolaborasi.

Di TK, jam belajar hanya sekitar empat jam sehari dan 190 hari per tahun, namun sarat makna.

Pembelajaran berbasis pengalaman (experience-based learning) dan kolaborasi antar siswa dijadikan kunci utama.

Di Finlandia, guru bukan sekadar profesi, melainkan peran mulia yang secara sadar dipilih. “Menjadi guru itu keren,” ujar Desiree.

Para guru merasa bahwa mereka sedang membentuk bangsa, bukan hanya mengajar mata pelajaran.

Untuk menjadi guru, Desiree sendiri harus menempuh pendidikan pedagogik setara 60 SKS. Proses seleksinya menekankan pada niat dan jiwa sebagai pendidik. Guru juga tidak bekerja sendiri.

Mereka bekerja kolektif untuk menyelesaikan tugas administratif, saling berbagi ide, dan mendukung satu sama lain. Dalam istilah Desiree, ini bukan “mencontek”, melainkan kolaborasi sadar yang adil dan saling memberi.

Salah satu kritik utama Desiree terhadap sistem pendidikan Indonesia adalah soal penilaian. Menurutnya, penilaian di Indonesia masih bersifat menghakimi dan penuh label negatif.

Misalnya, anak yang tidak rajin langsung disebut “malas”, tanpa melihat konteksnya.

Ia menyebut pentingnya penggunaan kata kerja dalam penilaian seperti “kamu sudah bisa menghitung dari satu sampai sepuluh”, bukan sekadar memberi angka atau nilai ujian.

Desiree juga menyoroti bahaya sistem peringkat (ranking), yang secara tidak sadar menyakiti anak-anak yang tidak masuk peringkat atas, dan menciptakan persaingan yang tidak sehat.

“Orang-orang yang masuk ranking adalah orang-orang yang seragam, dan ketika mereka masuk dunia kerja, mereka saling gontok,” ujarnya.

Inti dari seluruh gagasan yang disampaikan Desiree adalah bahwa pendidikan bukan sekadar alat akademik, melainkan proses membentuk manusia seutuhnya.

Anak-anak bukan untuk dilabeli, dibandingkan, atau ditekan, melainkan didampingi agar mereka tumbuh menjadi individu yang mandiri, percaya diri, dan peduli terhadap sekitarnya.

Ia menekankan pentingnya narasi dalam pendidikan: narasi yang positif, suportif, dan membangun.

“Narasi yang dipakai tidak menjatuhkan, tidak mempermalukan, tidak membuang anak.

Mereka disimulasi untuk berperan di dalam komunitasnya,” kata Desiree.

Cerita Desiree Loholima adalah cermin yang jujur dan penuh harapan.

Ia tidak membandingkan untuk merendahkan, tetapi mengajak kita semua merefleksikan: pendidikan seperti apa yang ingin kita wariskan untuk generasi berikutnya?

Melalui program Cerita Sahabat Spesial, RUANITA terus menghadirkan suara-suara sahabat Indonesia di mancanegara yang berbagi pengalaman, pengetahuan, dan pengamatan untuk dipahami, bukan dihakimi.

Selengkapnya dapat dilihat dalam program cerita sahabat spesial yang di kanal YouTube kami berikut ini dan pastikan SUBSCRIBE kanal YouTube kami agar dapat berbagi lebih banyak lagi:

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Resiliensi Ibu yang Punya Anak dengan Pitt Hopkins Syndrom

Tak banyak orang yang memahami dengan baik, bagaimana resiliensi yang dihadapi oleh ibu yang memiliki anak berkebutuhan khusus.

Perjuangan dan tantangan ini yang kemudian ingin dibagikan oleh Vinna Nidia, yang saat diwawancarai sedang tinggal di Belanda, sejak tahun 2013.

Vinna, begitu disapa, telah menikah dengan pria berkewarganegaraan asing dan kini telah memiliki empat orang. Salah satu anak Vinna adalah anak dengan Pitt Hopkins Syndrom.

Vinna mengakui bahwa dia tidak mendapati berbagai gejala yang berbeda dari kehamilannya pada anak dengan Pitt Hopkins Syndrom.

Justru Vinna mendapatinya ketika anaknya lahir dan mengalami keterlambatan dalam tumbuh kembang anak.

Follow us

Tak banyak orang mengenal dengan baik, apa itu Pitt Hopkins Syndrom, apalagi kasus ini sangat jarang di dunia. Vinna mengakui di Indonesia pun baru bisa dihitung dengan jari.

Sehari-hari, Vinna di Belanda pun memiliki kesibukan lainnya seperti mengelola usaha rumahan dan komunitas Pitt Hopkins khusus Indonesia.

Vinna terdorong untuk membagikan pengetahuan dan pengalamannya tentang Pitt Hopkins kepada banyak orang Indonesia, terutama karena kasusnya sangat langka di Indonesia.

Menurut Vinna, sudah banyak negara yang membentuk kelompok dukungan sosial untuk orang tua yang memiliki anak dengan Pitt Hopkins.

Oleh karena itu, Vinna pun menceritakan bagaimana kegigihannya untuk melawan stigma sosial yang biasanya melekat pada ibu yang memiliki anak berkebutuhan khusus seperti dirinya.

Apa itu Pitt Hopkins Syndrom? Bagaimana awal mula diagnosa itu muncul pada anak Vinna? Apa saja perjuangan dan tantangan yang dihadapi Vinna dalam membesarkan anak berkebutuhan khusus? Apa pesan Vinna untuk orang tua yang memiliki anak dengan berkebutuhan khusus?

Simak selengkapnya program Cerita Sahabat Spesial dari Belanda berikut ini dan pastikan SUBSCRIBE kanal YouTube kami, agar kami dapat berbagi lebih banyak lagi:

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Menjadi Dokter Gigi Sambil Berwirausaha di Sela Waktu Lowong di Belgia yang Menantang

Melanjutkan program Cerita Sahabat Spesial Episode Maret 2025, Ruanita Indonesia mengundang sahabat Ruanita yang tinggal di Belgia dan berprofesi sebagai dokter gigi.

Dia adalah Drg. Asti Sutanto yang tinggal di Belgia sudah lebih dari 10 tahun untuk bercerita bagaimana pengalaman dan tantangan yang dihadapinya sebagai bagian dari peringatan Hari Perempuan Internasional 2025.

Dokter gigi Asti berasal dari Surabaya, kemudian pindah ke Belgia tahun 2006 untuk memulai studi lanjutan. Sehari-hari, dokter gigi Asti bekerja 4 hari dalam seminggu dan aktif untuk berbisnis produk-produk Indonesia di Belgia.

Follow us

Drg. Asti pernah menempuh studi kedokteran gigi di Indonesia selama lima tahun. Keputusannya untuk pindah ke Belgia, didasari oleh keinginannya untuk menempuh pendidikan lanjutan di Belanda. Menurutnya, praktik bekerja sebagai dokter gigi di Belgia bukan hal yang mudah di awal kariernya.

Menurut dokter gigi Asti, dia harus menghadapi berbagai perangai pasien dan mentalitas orang lokal, yang kadang disertai dialek dalam berkomunikasi dengannya. Meski begitu, Asti pun perlu memiliki asuransi untuk menjamin keamanan finansialnya selama tinggal di Belgia.

Dokter gigi Asti juga menjelaskan perbedaan sistem asuransi kesehatan di Belanda dengan di Belgia yang berbeda. Selama bekerja menjadi dokter gigi, dia tidak mengalami perlakuan diskriminasi dari pasien-pasien yang ditangani mengingat tak banyak dokter gigi yang praktik di area tersebut.

Apa saja pengalaman dan tantangan yang dialami Asti sebagai dokter gigi di Belgia lebih dari 10 tahun? Mengapa dia perlu ke Belanda dulu? Apa maksudnya sistem undian ketika mau studi kedokteran gigi di Belanda? Apa benar biaya kuliah kedokteran gigi lebih murah di Belgia dibandingkan pengalaman dokter gigi Asti sewaktu di Indonesia dulu?

Simak selengkapnya dalam program Cerita Sahabat Spesial di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE kanal YouTube kami agar dapat berbagi lebih banyak lagi.

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Bagaimana Sebaiknya Budaya Online yang Aman dan Bertanggungjawab di Indonesia?

Melanjutkan episode bulan Februari 2025, Ruanita Indonesia mengangkat tema Safer Internet Day dalam program cerita sahabat spesial, yang ditayangkan tiap bulan. Bagaimana pun, internet telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari, membuka akses informasi dan peluang tanpa batas.

Untuk membahasnya lebih dalam, Ruanita – Rumah Aman Kita – Indonesia mengundang sahabat Ruanita yang sedang studi PhD di University of Birmingham, Inggris. Dia adalah Zakiyatul Mufidah, seorang dosen yang sedang menekuni studi lanjutan.

Zakiya menyadari bahwa rasa aman dalam berinternet di Indonesia masih menjadi tantangan besar. Dalam program Sahabat Spesial yang diinisiasi oleh Ruanita Indonesia, isu-isu terkait keamanan digital dan budaya online diangkat untuk meningkatkan literasi digital masyarakat.

Salah satu penyebab utama kurangnya rasa aman di dunia maya adalah budaya online yang mentoleransi tindakan seperti cyberbullying dan pelanggaran privasi. Misalnya, penggunaan foto tanpa izin, baik untuk candaan maupun tindakan yang lebih serius, masih sering terjadi.

Menurut Zakiya, rendahnya tingkat literasi digital di Indonesia membuat masyarakat cenderung menggunakan internet tanpa memahami risiko atau etika yang menyertainya. Hal ini mencakup kurangnya kesadaran terhadap pentingnya keamanan akun melalui otentikasi ganda (double authentication), risiko menggunakan Wi-Fi publik, hingga bahaya phishing.

Ada empat aspek utama literasi digital, seperti yang dijelaskan oleh Zakiya

  1. Digital Skill: Keterampilan teknis dalam menggunakan teknologi.
  2. Digital Culture: Pemahaman budaya dan tanggung jawab saat berinteraksi di dunia maya.
  3. Digital Ethics: Mempraktikkan etika yang baik dalam komunikasi dan konten digital.
  4. Digital Safety: Menjaga keamanan data pribadi dan melindungi diri dari kejahatan siber.

Kesadaran masyarakat terhadap keempat pilar ini perlu terus ditingkatkan melalui edukasi, kampanye, dan pelatihan praktis.

Simak selengkapnya program cerita sahabat spesial berikut di kanal YouTube kami dan jangan lupa SUBSCRIBE kanal YouTube kami agar dapat berbagi lebih banyak lagi.

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Kemeriahan Imlek di Taiwan

Program Cerita Sahabat Spesial tayang tiap bulan yang mengundang partisipasi berbagai perempuan Indonesia untuk bercerita sesuai tema yang beragam, termasuk tema yang sedang terjadi pada hari ini, yakni Chinese Lunar New Year. Di Indonesia, Chinese Lunar New Year disebut juga Imlek yang tentunya bisa jadi pengalaman berharga bagi orang Indonesia yang tinggal di Taiwan.

Dia adalah sahabat Ruanita yang kini menetap di Taiwan sejak sebelas tahun lalu, di Kota Taipeh. Dia bernama Lili, yang awal mulanya datang ke Taiwan untuk belajar bahasa Taiwan. Lili sendiri mengatakan bahwa perayaan Imlek mendapat hati bagi warga Taiwan, karena durasinya yang lama untuk merayakannya bersama keluarga.

Warga Taiwan biasanya menyambutnya dengan membersihkan rumah sebelum Imlek datang. Namun, Lili menekankan membersihkan rumah hanya sebelum datangnya Imlek, bukan pada jelang H min satu hari dari Chinese Lunar New Year karena hal itu malahan akan menghilangkan keberuntungan di tahun yang baru.

Tak hanya membersihkan rumah, mereka di Taiwan juga mendekorasi rumah mereka sesuai shio yang akan datang pada tahun tersebut. Mereka juga kadang menggantungkan tulisan-tulisan keberuntungan secara terbalik agar keberuntungan datang ke dalam rumah.

Hal menarik yang diceritakan Lili adalah bagaimana warga Taiwan menyiapkan hidangan yang semuanya ditujukan untuk mendatangkan rezeki, keberuntungan, dan kebahagiaan untuk penghuni rumah. Tak hanya itu, Lili juga menjelaskan makna pemberian uang angpo hingga jumlah yang disarankan untuk warga di Taiwan agar bisa mendatangkan keberuntungan.

Seperti apa kemeriahan perayaan Imlek di Taiwan, simak selengkap di kanal YouTube berikut dan jangan lupa SUBSCRIBE kanal YouTube agar dapat berbagi lebih banyak lagi

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Pengelolaan Sumber Daya Air dan Hak Asasi Manusia

Menutup kampanye 16 Hari Tanpa Kekerasan yang menjadi bagian dari program AISIYU (=AspIrasikan Suara dan Inspirasi nyatamU) tahun 2024, Ruanita mengundang sahabat Ruanita yang kini sedang menempuh studi S3 di Belanda. Dia adalah Widya Tuslian yang memiliki latar belakang sebagai socio-legal studies, dengan fokus penelitian di bidang social welfare dan social justice.

Dalam penelitian yang sedang dilakukan, Widya berfokus pada bagaimana tata kelola sumber daya air di masyarakat miskin Urban Jakarta dalam perspektif socio-legal. Meskipun sumber daya air di Indonesia berlimpah, tetapi masalahnya bukan pada ketiadaan air, tetapi bagaimana air bisa dinikmati oleh setiap warga tanpa terkecuali.

Jakarta terkenal dengan infrastruktur development yang paling maju dibandingkan kota-kota lainnya di Indonesia. Namun, di sudut-sudut kota Jakarta, permasalahan air masih sangat pelik, yang terkait dengan tata kelola air. Bagaimana pun aliran air yang keluar itu untuk semua manusia tanpa terkecuali.

Air seharusnya adalah hak dasar semua orang yang menyangkut human dignity, terpaksa menjadi begitu sulit di area poor urban Jakarta karena kebijakan dan tata kelola yang tidak tepat. Selain policy makers, hal ini dipersulit oleh para pebisnis yang hanya memikirkan kepentingan pribadi, dibandingkan hajat hidup orang banyak.

Di Hari Hak Asasi Manusia Sedunia, kita diingatkan lagi bagaimana keadilan sosial bagi seluruh warga Indonesia lewat distribusi air. Air bersih menjadi impian banyak orang, yang seharusnya bisa dinikmati oleh siapa saja. Kenyataannya, air bersih begitu sulit diakses bagi mereka yang tinggal di Poor Urban Jakarta.

Simak selengkapnya dalam kanal YouTube kami berikut ini:

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Bersuara Untuk Perempuan Papua dari Negeri Rantauan

Dalam rangka memperingati Hari Internasional Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan, Ruanita Indonesia (www.ruanita.com) mempersembahkan program bulanan mereka yang bertajuk Cerita Sahabat Spesial (CSS). Program ini merupakan inisiatif untuk menyoroti berbagai kisah nyata tentang perempuan yang berjuang melawan kekerasan dan stigma, serta memperkuat solidaritas di antara mereka.

Edisi November CSS mengangkat kisah inspiratif Cikita Febrilia atau Ciki, seorang perempuan Papua dari Kota Sorong yang saat ini menempuh studi magister di Swiss. Ciki juga merupakan Partnership Manager di organisasi Sa Perempuan Papua, yang bergerak dalam isu-isu yang masih sering dianggap tabu di Papua, seperti kekerasan terhadap perempuan dan stigma sosial yang menempel pada perempuan Papua.

Dalam cerita yang dibagikan, Ciki berbicara tentang pentingnya ruang aman bagi perempuan untuk berbagi cerita, serta upayanya melalui Sa Perempuan Papua untuk menciptakan Honai Aman, sebuah ruang aman yang didedikasikan untuk perempuan Papua.

Ruang ini memungkinkan perempuan-perempuan yang mengalami kekerasan untuk mendapatkan dukungan psikologis dan bantuan hukum. Menurut Ciki, masalah kekerasan di Papua tidak hanya fisik, tetapi juga berupa kekerasan verbal yang menyakitkan, seperti ejekan terkait warna kulit dan bentuk tubuh yang sering diterima oleh perempuan Papua.

Ciki juga mengungkapkan bahwa kekerasan dan stigma yang dialami oleh perempuan Papua sering kali berakar dari sistem patriarki dan trauma turun-temurun. Budaya patriarki yang masih kuat di daerah pedalaman membuat perempuan sulit untuk merdeka dari kekerasan.

Namun, Sa Perempuan Papua terus berupaya untuk mengedukasi dan mendukung perempuan Papua, baik melalui ruang aman fisik maupun platform digital, serta menyebarkan informasi dan edukasi lewat media sosial.

Pengalaman Ciki juga mencakup cyber harassment yang ia terima ketika berbagi foto dalam pakaian adat Papua. Alih-alih diapresiasi, ia justru mendapatkan komentar-komentar negatif yang menyoroti fisiknya, membuatnya merasa tersakiti.

Pengalaman ini memperkuat motivasinya untuk terus berjuang menciptakan lingkungan yang lebih aman bagi perempuan Papua, baik secara fisik maupun digital.

Program CSS edisi ini menyoroti pentingnya solidaritas dan edukasi dalam memberantas kekerasan terhadap perempuan. Ciki menyampaikan bahwa perempuan Papua harus bisa merdeka dari kekerasan dan mencintai diri sendiri, sekaligus membantu perempuan lain untuk mencapai hal yang sama.

Melalui ruang aman yang mereka ciptakan, Sa Perempuan Papua terus berupaya untuk menjangkau lebih banyak perempuan, terutama di daerah pedalaman yang akses terhadap edukasi dan dukungan masih sangat terbatas.

Dengan menghadirkan cerita-cerita seperti ini setiap bulan, Ruanita Indonesia melalui program CSS berusaha untuk menggugah kesadaran publik akan pentingnya dukungan bagi perempuan yang mengalami kekerasan.

Kisah-kisah ini bukan hanya sekedar narasi, tetapi menjadi ajakan bagi kita semua untuk bergerak bersama dalam menciptakan lingkungan yang lebih adil dan aman bagi perempuan di seluruh Indonesia.

Hari Internasional Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan menjadi momentum penting bagi program CSS untuk terus memperjuangkan hak-hak perempuan dan mengajak lebih banyak orang untuk ikut berkontribusi dalam menghentikan kekerasan berbasis gender di seluruh penjuru negeri.

Simak selengkapnya program cerita sahabat spesial di kanal YouTube berikut ini:

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Jadi Advokat Kesehatan Mental Untuk Patahkan Stigma

Dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia 2024, Ruanita Indonesia menghadirkan program bulanan Cerita Sahabat Spesial (CSS). Pada episode Oktober 2024, Ruanita Indonesia mengundang sahabat Ruanita sekaligus relawannya yang tinggal di Jerman untuk berbagi pengalaman pribadi seputar kesehatan mental.

Dia adalah Mariska Ajeng Harini, yang sekarang berprofesi sebagai seorang guru TK yang tinggal di Hamburg. Sebagai koordinator proyek film dokumenter “Dua Kali” lewat Ruanita Indonesia, Ajeng ingin bersuara lebih lantang tentang stigma yang selama ini masih melekat tentang kesehatan mental. Ajeng menjadi sosok inspiratif yang menceritakan perjalanannya melawan berbagai gangguan mental.

Ajeng mengungkapkan bagaimana pada tahun 2021 ia mengalami serangan depresi dan gangguan kecemasan yang berulang, menyebabkan ia menangis tanpa sebab, dan dihantui ketakutan tentang masa depan.

Setelah melewati masa sulit ini, Ajeng memutuskan untuk mencari bantuan profesional dan didiagnosis dengan depresi serta gangguan kecemasan, yang kemudian diperparah dengan OCD (Obsessive-Compulsive Disorder) dan Avoidant Personality Disorder.

Dalam CSS ini, Ajeng menceritakan betapa sulitnya stigma yang melekat pada kesehatan mental, terutama orang-orang Indonesia. Ia berbagi pengalaman tentang sulitnya mendapatkan akses ke terapi di Jerman, sehingga ia harus menjalani perawatan di psikiatri atau rumah sakit jiwa.

Salah satu momen penting dalam video ini adalah ketika Ajeng menekankan pentingnya mencari bantuan yang tepat dari psikolog atau psikiater dan menghindari self-diagnosis, yang sering kali dilakukan oleh banyak orang.

Tujuan utama dari video CSS ini adalah mematahkan stigma terhadap gangguan mental, serta mengedukasi masyarakat tentang pentingnya kesehatan mental.

Ajeng menyampaikan bahwa penyakit mental tidak bisa dianggap remeh, dan melalui pengalamannya ia berharap dapat membantu orang lain memahami bahwa mereka tidak sendirian dalam perjuangan ini.

Program CSS ini juga bertujuan untuk memberikan dukungan dan inspirasi bagi sahabat Ruanita yang mungkin menghadapi tantangan serupa. Ajeng menutup ceritanya dengan pesan kuat bahwa orang dengan gangguan mental bisa sembuh, seperti yang ia alami setelah didiagnosis sembuh dari OCD pada tahun 2023.

Ruanita Indonesia berkomitmen untuk terus mengedukasi dan meningkatkan kesadaran tentang kesehatan mental melalui berbagai program, salah satunya adalah Cerita Sahabat Spesial yang dirilis setiap bulan.

Dengan program ini, diharapkan semakin banyak orang yang tergerak untuk membuka diri dan mencari bantuan, serta bersama-sama mematahkan stigma seputar kesehatan mental di masyarakat.

Simak selengkapnya di kanal YouTube kami berikut: