(CERITA SAHABAT) Melindungi Anak dengan Imunisasi – Fakta dan Harapan

Halo, Sahabat Ruanita. Kali ini Ruanita Indonesia kembali hadir dalam Cerita Sahabat bersama Astrid Kurniasari untuk membahas tema imunisasi pada anak. Astrid Kurniasari adalah seorang general practitioner (GP) yang kini berdomisili di Norwegia.

Setelah lulus dari pendidikan kedokteran Universitas Brawijaya Malang dan bekerja sebagai dokter poliklinik di Indonesia, ia pindah ke Norwegia pada tahun 2012 bersama keluarganya. Kini Astrid sedang menjalani program Lege i Spesialisering-1 (LIS-1) di rumah sakit dan fasilitas kesehatan kommune

Di Norwegia inilah Astrid merasakan pengalaman hidup dan karir yang berbeda, sekaligus menikmati keseimbangan antara bekerja dan membesarkan anak-anaknya. “Motivasi kami tinggal di Norwegia pada awalnya adalah untuk mendapatkan pengalaman hidup yang lebih seimbang. Negara ini sangat mendukung work-life balance,” tutur Astrid.

Kehadiran negara dalam bentuk kemudahan fasilitas daycare dan jatah parental leave yang panjang membuat Astrid sebagai orangtua mampu membesarkan anak-anaknya sekaligus berkarir dan bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. 

Follow us

Pengalaman Astrid dalam menangani pasien terkait imunisasi di Norwegia membuka wawasan baru. Dalam perjalanannya, Astrid tidak hanya menangani kasus kesehatan tetapi juga mendalami isu-isu penting seputar imunisasi.

Menurut Astrid, imunisasi adalah hak dasar setiap anak. “Ini adalah cara kita melindungi mereka dari penyakit yang sebenarnya dapat dicegah,” jelasnya. 

Ia menekankan bahwa manfaat imunisasi tidak hanya melindungi individu tetapi juga membentuk kekebalan komunitas (herd immunity). “Herd immunity sangat penting, terutama untuk melindungi kelompok rentan seperti bayi baru lahir, lansia, atau orang dengan sistem imun yang lemah.”

Sistem Imunisasi di Norwegia dan Pelajaran untuk Indonesia

Astrid menjelaskan bahwa imunisasi di Indonesia dibagi menjadi imunisasi yang diwajibkan dan yang dianjurkan, sedangkan imunisasi di Norwegia semua imunisasi bersifat dianjurkan (voluntary).

Meski program imunisasi di Norwegia bersifat sukarela, tetapi hampir semua keluarga mematuhinya. 

Pada prinsipnya, imunisasi dasar untuk bayi di Norwegia dilakukan di posyandu, sedangkan imunisasi ulangan (booster) dan yang dianjurkan untuk anak-anak dan remaja dilaksanakan di sekolah dasar dan sekolah menengah.

Selain itu ada juga imunisasi atau vaksinasi tambahan yang dianjurkan sebelum bepergian ke negara-negara dengan penyakit endemis tertentu; imunisasi ini dapat diakses secara mandiri dan dilakukan di klinik imunisasi khusus perjalanan ataupun di tempat praktik dokter. 

Sementara di Indonesia, imunisasi dasar, lanjutan dan mandiri bisa dilakukan di posyandu, sekolah, atau di tempat praktik dokter, rumah sakit, ataupun rumah imunisasi – sesuai dengan permintaan pasien.

Salah satu perbedaan utama antara Norwegia dan Indonesia adalah vaksin BCG. “Norwegia tidak memberikan vaksin BCG secara rutin karena bukan negara endemis tuberkulosis,” jelasnya.

Meski begitu, vaksin ini tetap diberikan kepada anak-anak dari kelompok risiko tertentu. Lalu vaksin Hepatitis A, tifoid dan DBD hanya diberikan atas permintaan khusus dari orang-orang yang akan bepergian ke negara dengan risiko penularan tinggi, dan ini tidak masuk dalam program pemerintah. Vaksin Varicella juga diberikan hanya jika ada permintaan pribadi karena tidak masuk program vaksin yang dianjurkan pemerintah.

Persepsi dan edukasi mengenai imunisasi di Indonesia dan Norwegia 

Astrid menyoroti beberapa perbedaan persepsi akan imunisasi di Indonesia dan Norwegia, namun menurutnya, sulit untuk membandingkan masyarakat di kedua negara tersebut. Perbedaan karakteristik yang sangat beragam di masyarakat Indonesia dari segi budaya, kepercayaan, tingkat ekonomi dan pendidikan turut mempengaruhi keragaman persepsi akan imunisasi.

Ini berbeda dengan masyarakat Norwegia tidak memiliki keragaman yang signifikan diantara sesama penduduknya, namun keragaman justru datang dari kelompok warga pendatang/imigran.

Menurut Astrid, baik Indonesia dan Norwegia memiliki tantangannya masing-masing dalam edukasi imunisasi namun kuncinya adalah penggunaan sarana penyampaian edukasi yang tepat tentang dan disesuaikan kondisi masyarakat.

Misalnya, di Norwegia, sumber informasi untuk imunisasi dari Folkehelseinstitutet (FHI) bisa diakses dengan mudah oleh siapapun dan tersedia dalam beberapa bahasa. Sedangkan di Indonesia, tidak semua orang dapat mengakses informasi imunisasi dari IDAI atau Kemenkes. Justru peran para pemimpin komunitas, pemuka agama dan tokoh masyarakat sangat kuat.

Di Norwegia, Astrid mengedukasi pasien dengan menunjukkan fakta dari sumber kredibel. Ia mencontohkan situs FHI di Norwegia atau CDC dan IDAI untuk masyarakat Indonesia. “Kunci meluruskan mitos adalah edukasi yang berkelanjutan,” jelasnya. Astrid menyoroti bahwa akses terhadap informasi menjadi kunci keberhasilan imunisasi di Norwegia. 

“Di sini, pemerintah menyediakan informasi yang mudah diakses dan tersedia dalam berbagai bahasa,” ungkapnya. Ia berharap Indonesia dapat mengadopsi pendekatan serupa dengan melibatkan tokoh masyarakat dan pemuka agama dalam edukasi imunisasi.

Sebagai dokter, Astrid sering menghadapi mitos-mitos seputar imunisasi, baik di Indonesia maupun di Norwegia. Salah satu mitos yang paling sering ia temui adalah anggapan bahwa vaksin MMR dapat menyebabkan autisme.

“Itu adalah mitos yang sudah dibantah oleh banyak penelitian ilmiah,” tegas Astrid. Ia juga mengklarifikasi mitos lain seperti batuk atau pilek tidak boleh divaksin” atau vaksin mengandung bahan haram untuk umat Muslim.

Mengenai efek samping vaksinasi, dari pengamatan biasanya minim sekali dan umumnya berupa demam ringan dan sedikit nyeri di bekas suntikan.

Ini memang akan membuat anak merasa kurang sehat atau rewel, namun bisa diatasi dengan membuat anak merasa nyaman, mengompres bekas suntikan yang sakit, atau memberikan obat paracetamol jika anak merasa nyeri atau demam.

Astrid kerap menjelaskan kepada pasiennya bahwa efek samping vaksin yang umum, seperti demam ringan atau rasa nyeri di area bekas suntikan, biasanya tidak sebanding dengan risiko penyakit yang dapat dicegahnya.

“Jika ada kekhawatiran mengenai efek samping atau reaksi alergi, sebaiknya bertanya langsung kepada tenaga medis dan merujuk pada sumber terpercaya seperti IDAI, WHO atau CDC,” tambahnya. 

Harapan Untuk Masa Depan

Astrid memiliki harapan besar untuk program imunisasi di Indonesia. “Tantangannya memang besar, mulai dari keberagaman masyarakat hingga geografis yang sulit,” katanya.

Namun, ia yakin bahwa tenaga kesehatan di Indonesia dapat terus bersemangat mengedukasi masyarakat. Dengan kolaborasi bersama komunitas dan tokoh masyarakat, cakupan imunisasi dapat ditingkatkan.

Di akhir wawancara, Astrid berpesan kepada orang tua yang masih ragu untuk memberikan imunisasi kepada anak-anak mereka.

“Vaksinasi adalah investasi untuk masa depan anak Anda. Jangan ragu untuk mencari informasi dari sumber yang terpercaya dan berkonsultasi dengan dokter.”

—-

Penulis: Aini Hanafiah, relawan Ruanita di Norwegia berdasarkan wawancara dengan Astrid Kurniasari yang dapat dikontak lewat akun instagram @astridku.

(CERITA SAHABAT) Jadikan Kakek-Nenek Sebagai Support System Untuk Anak-anak, Begini Pengalaman Saya

Halo, sahabat Ruanita! Ini kali kedua saya berpartisipasi dalam program cerita sahabat. Nama saya Berta. Saya berasal dari Bandung, Indonesia. Saya menikah dengan pria berkewarganegaraan Belanda, dan kami memiliki 3 orang anak. Tahun 2022 lalu, suami saya mendapatkan pekerjaan baru di Aalborg, Denmark, dan akhirnya kami pun pindah ke Denmark, kemudian menetap sampai dengan saat ini. 

Karena kami orang tua dengan latar belakang budaya yang sangat berbeda, antara budaya barat dan timur, terkadang memang muncul konflik-konflik kecil sehubungan dengan pola asuh anak. Namun, kami berdua selalu berkomunikasi dan mencari jalan tengah, seperti hal-hal terbaik  apa saja yang menurut kami patut diterapkan untuk anak-anak kami.

Sebelum kami pindah ke Denmark, kami tinggal di kota yang sama di mana kakek-nenek dari pihak suami juga tinggal di sana. Interaksi cukup dekat, karena kami tinggal tidak jauh dari rumah mereka.

Kami bergantian berkunjung, terkadang kami yang pergi ke rumah kakek-nenek, terkadang kakek-nenek yang berkunjung ke rumah kami, terutama di hari-hari istimewa seperti hari ulang tahun, Hari Raya Natal, perayaan tahun baru atau Hari Raya Paskah. Jika jadwal memungkinkan, kami pun pergi berlibur bersama. Ini hal yang memang jarang dilakukan, karena sulit untuk menemukan jadwal yang cocok.

Sedangkan untuk kakek-nenek dari pihak saya di Indonesia, komunikasi dilakukan melalui whatsapp atau video call. Ini yang agak sulit, karena anak-anak saya tidak bisa  berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan fasih. Kakek-nenek mereka di Indonesia hanya berkomunikasi dalam bahasa Inggris yang sangat terbatas.

Anak-anak kami tidak memiliki ikatan khusus dengan salah satu pihak kakek-nenek, hanya karena kendala bahasa. Anak-anak kami lebih mudah berkomunikasi dengan kakek-nenek mereka di Belanda dibandingkan dengan kakek-nenek mereka di Indonesia.

Follow us

Kami  menjelaskan kepada anak-anak kami tentang pentingnya hubungan dan interaksi dengan kakek-nenek mereka, walaupun tinggal di negara yang berbeda. Dengan teknologi komunikasi yang semakin berkembang pesat saat ini, komunikasi lintas kota bahkan lintas benua tidak terlalu sulit dibandingkan beberapa tahun silam. Kakek-nenek walaupun tinggal jauh, adalah bagian dari keluarga dan ada hubungan darah. Anak-anak kami diajarkan untuk bersikap hormat terhadap kakek-nenek mereka.

Seperti yang dijelaskan di atas, ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk memastikan anak-anak tetap terhubung dengan kakek-nenek mereka. Bertepatan dengan ulang tahun anak kami yang bungsu, kakek mereka dari Indonesia berpulang ke Sang Khalik.

Mereka tidak bisa melihat kakek mereka sebelum dimakamkan untuk yang terakhir kalinya, karena ketika itu mereka masih terlalu kecil untuk dibawa ke Indonesia dalam kondisi yang hectic dan sulit untuk meminta ijin jangka panjang dari sekolah.

Menjelang akhir tahun 2019, nenek mereka dari Belanda berpulang ke Sang Khalik. Ini kondisi yang cukup berat, karena mereka menyaksikan bagaimana nenek sakit dan kondisinya terus menurun sampai akhirnya berpulang. Kami memberikan ruang dan waktu untuk mereka berkabung dan memroses situasi ini dengan cara mereka sendiri.

Pada bulan September 2021, kakek mereka berpulang ke Sang Khalik. Anak-anak pun dihadapkan dengan situasi yang sama di mana mereka menyaksikan kondisi kakek ketika sakit. Mereka ikut menyaksikan ketika dokter tidak bisa melakukan pengobatan lagi, dan  sampai selesai pemakaman.

Kami pun memberikan ruang dan waktu untuk mereka berkabung dan memroses segala sesuatunya, dan berkomunikasi dengan mereka dan tetap siaga ketika mereka ingin meluapkan emosi atau sekedar ingin mengobrol hal-hal yang berkaitan dengan kakek nenek mereka, baik dari Indonesia maupun Belanda.

Kami berpikir bahwa kakek-nenek anak-anak kami dari Belanda dan Indonesia berinteraksi dengan cara yang tidak terlalu berbeda, kecuali perbedaan bahasa. Kakek-nenek mereka dari Indonesia dan Belanda sangat protective (tapi bukan yang overprotective) terhadap cucu-cucu mereka.

Pada intinya, baik budaya Indonesia maupun Belanda mengajarkan tentang sopan santun dan hormat pada orang tua. Jadi, itu yang kami terapkan kepada anak-anak kami sehubungan dengan interaksi mereka dengan kakek-nenek mereka. Kami mengajarkan supaya anak-anak santun dalam bersikap, bertutur kata ketika kami berkunjung ke rumah kakek-nenek mereka, baik di Belanda maupun di Indonesia. Dalam hal ini, anak-anak tetap kami beri ruang untuk bermain dengan kakek-nenek mereka selayaknya anak-anak bermain dengan kakek nenek pada umumnya.

Anak-anak kami fasih berbahasa Belanda karena mereka lahir dan besar di Belanda, sehingga kakek-nenek di Belanda tidak ada kendala dalam hal berkomunikasi. Sebaliknya, anak-anak kami tidak fasih dalam berbahasa Indonesia karena satu dan lain hal. Kakek-nenek mereka di Indonesia belajar sedikit-sedikit bahasa Inggris sebagai jalan tengah dalam berkomunikasi dengan anak-anak kami.

Meski begitu, kedekatan anak-anak kami dengan kakek-neneknya seperti memberi ruang untuk anak-anak belajar. Kami berharap bahwa anak-anak kami belajar dari kakek-nenek mereka dari Indonesia dan Belanda, bagaimana mereka bekerja keras untuk bisa bertahan di tengah dunia yang semakin kompetitif.

Anak-anak diharapkan untuk belajar bahwa segala sesuatu harus melewati proses yang tidak selalu mudah, dan jangan pernah menyerah sebelum mereka mencapai garis finish. Kami berharap juga anak-anak bisa belajar pentingnya bersosialisasi dengan lingkungan sekitar, dimulai dari membangun hubungan baik dengan tetangga dan membangun network dengan orang banyak.

Kakek-nenek dari Indonesia dan Belanda mengajarkan pentingnya aktivitas bersama keluarga untuk memelihara hubungan yang satu dengan yang lain, walaupun tinggal berjauhan. Misalnya, makan malam bersama, menghabiskan akhir pekan bersama, merayakan hari raya bersama, bahkan melakukan hal kecil di rumah bersama keluarga seperti misalnya bermain permainan bersama.

Ketika anak-anak kami sedang berada di rumah kakek-nenek mereka di Belanda, dan mereka makan bersama, maka anak-anak akan mendapatkan dessert yang boleh mereka pilih sendiri, karena kakek nenek sudah menyiapkan beberapa dessert yang berbeda.

Ketika kami berkunjung ke rumah kakek nenek mereka di Indonesia, maka nenek akan menyiapkan menu ayam goreng sederhana yang menjadi menu favorit anak-anak setiap kali kami berkunjung ke Indonesia.

Tentunya, tidak mudah beradaptasi dalam menggabungkan tiga budaya (Indonesia, Belanda, dan Denmark) dalam kehidupan sehari-hari anak-anak kakak. Untuk budaya Indonesia dan Belanda, kami sebagai orang tua bisa mencari jalan tengah dan kompromi, sekiranya hal-hal apa saja yang baik untuk diajarkan kepada anak-anak kami.

Yang lebih sulit sebenarnya adalah mengenalkan budaya Denmark kepada mereka, karena terkadang kami sebagai orang tua maupun individu dewasa agak sulit memahami budaya Denmark, jika perbedaannya terlalu besar dengan budaya Belanda. Perlahan-lahan kami menjelaskan kepada anak-anak bagaimana kehidupan, budaya dan kebiasan orang-orang Denmark dan mengajarkan hal-hal baik yang bisa ditiru dan hal-hal yang tidak baik yang tidak perlu ditiru.

Tantangan terbesar lainnya adalah menjaga hubungan antara anak-anak dengan kakek-nenek di Indonesia, karena kendala bahasa dan perbedaan waktu yang cukup banyak, 5 jam di musim panas dan 6 jam di musim dingin. Agak sulit untuk mencari waktu yang tepat apabila anak-anak ingin berbicara langsung dengan kakek-nenek di Indonesia. Solusinya hanya dengan mengirim pesan lewat whatsapp.

Terkadang saya mencoba untuk merekam film-film pendek dan mengirimnya ke Indonesia sehingga kakek-nenek mereka bisa sedikit banyak mengikuti aktivitas anak-anak, dan mencoba mencari waktu yang tepat di akhir pekan untuk video call ke Indonesia.Sejak pindah ke Denmark, anak-anak memiliki perangkat telepon genggam masing-masing (karena mereka membutuhkannya untuk beberapa hal di sekolah), dan kami pun membuat grup whatsapp khusus untuk anggota keluarga , di mana anak-anak pun bisa saling berkirim pesan sebagai media komunikasi jarak jauh.

Kakek nenek di Belanda terlibat cukup aktif dalam mengasuh anak-anak. Ada kalanya kakek nenek di Belanda menjemput anak-anak dari sekolah, disaat kami berdua ada kepentingan lain yang waktunya berbenturan dengan jam pulang sekolah.

Sering berkunjung ke Indonesia tentu saja agak sulit karena biaya yang cukup tinggi untuk pergi ke Indonesia setiap liburan sekolah musim panas. Namun ketika kami ada kesempatan untuk berlibur ke Indonesia, maka kami akan memberikan waktu  kepada kakek nenek di Indonesia untuk membangun hubungan dan berinteraksi dengan cucu-cucu mereka.

Kakek-nenek dari kedua belah pihak berperan besar sebagai support system untuk keluarga kami. Ketika kami dalam situasi pelik, kami tahu kepada siapa kami bisa meminta tolong, walaupun mungkin hanya untuk menjaga anak-anak ketika kami harus ke suatu tempat. Dan kakek nenek di Indonesia pun adalah support system kami di Indonesia , sehingga kami pun bisa menikmati liburan yang agak terbatas waktunya.

Kakek-nenek dari kedua belah pihak tidak terlalu ikut campur dalam urusan pengasuhan dan pembelajaran anak-anak, karena biar bagaimana pun kami sebagai orang tua yang bertanggung jawab untuk mengasuh dan mendidik anak. Namun, kami selalu bisa meminta nasihat kepada kakek nenek jika kami sebagai orang tua tidak bisa menemukan solusi yang tepat berkaitan dengan pengasuhan dan pembelajaran anak-anak-

Saat ini, anak-anak kami hanya memiliki satu nenek dari Indonesia. Harapan saya secara pribadi adalah, anak-anak mau belajar bahasa Indonesia lebih banyak lagi, dan lebih aktif berkomunikasi dengan nenek mereka di Indonesia, walaupun hanya sekedar menanyakan kabar. Tentu saja, saya berharap bahwa kami sekeluarga bisa sering berkunjung ke Indonesia dan diberi kesehatan dan umur panjang.

Kakek-nenek dari kedua belah pihak memberi ciri  masing-masing dalam pembentukan indentitas anak-anak sebagai keluarga dari perkawinan campur. Kakek-nenek dari kedua belah pihak memperkaya cerita bagi anak-anak kami, sehingga mereka bangga sebagai anak-anak dari perkawinan campur.

Apabila saya bisa merencanakan liburan bersama dengan kakek-nenek dari kedua belah pihak, maka liburan yang paling cocok untuk keluarga kami adalah liburan tanpa jadwal yang padat merayap, tanpa ada tekanan untuk melakukan hal-hal yang belum tentu disukai oleh semua anggota keluarga. Menurut saya, yang paling penting dalam liburan bersama adalah menikmati waktu bersama tanpa ada keharusan melakukan hal ini dan itu.

Sebagai penutup, saya tidak punya nasihat khusus karena saya rasa setiap keluarga memiliki cerita dan latar belakang masing-masing yang berbeda-beda. Saya hanya ingin menambahkan pentingnya menjaga komunikasi dengan keluarga, entah itu kakek-nenek, sepupu, om atau tante. Walaupun tidak tinggal satu kota atau satu negara, mereka adalah support system yang terdekat, ketika kita menghadapi sesuatu masalah.

Penulis: Berta Situmeang, yang tinggal di Denmark dan dapat dihubungi via akun Instagram adenk_bvs

(CERITA SAHABAT) Pitt Hopkins Syndrome, Resiliensi Ibu, Cahaya Kecilku

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan, aku biasa dipanggil Amy dan kini menetap di United Kingdom (UK) sejak menikah dengan pria berkewarganegaraan asing. Aku juga seorang ibu dari tiga orang anak, yang mana anak pertama kini berusia 13 tahun, anak kedua sekarang berusia 11 tahun, dan anak ketiga berusia 1,5 tahun.

Anakku kedua ini yang mengubah hidupku sepenuhnya, karena dia begitu istimewa yang membuat hidupku berubah. Aku merasa istimewa sebagai seorang ibu, karena diberi amanah besar untuk merawat anakku, yang terlahir dengan Pitt Hopkins Syndrome. Justru, aku menyadari ini setelah aku pergi Umroh ke Mekkah dan bertemu dengan seorang perempuan bijaksana di sana. 

Perjalanan panjang diagnosa anakku kedua dengan Pitt Hopkins Syndrome, dimulai dari pengalamanku mengandungnya sejak kami masih di Dubai. Di Dubai, kami tidak punya keluarga, sementara keluarga besar suami tinggal di Inggris.

Suami memutuskan untuk tinggal di Inggris, karena kami hanya bertiga saat itu: aku, anakku, dan suamiku – di Dubai. Aku merasa kehamilan anakku yang kedua baik-baik saja, seperti kehamilanku sebelumnya. Hanya saja, medical record yang kupegang selama di Dubai tidak begitu detil dan komplit, sebagaimana yang diminta pihak petugas kesehatan di Inggris.

Pada umur kehamilan yang ketujuh bulan, aku pindah ke Inggris. Ketika dokter kandungan di Inggris memeriksa janinku, terlihat bahwa semua baik-baik saja. Berbagai tes kehamilan dimulai lagi dari awal, karena tak cukup informasi yang kubawa dari Dubai. Pada usia kandunganku saat itu sudah memasuki minggu ke-38, yang mana dokter memperhatikan bahwa pergerakan janin begitu lambat.

Follow us

Aku pun harus mengalami induksi.  Akhirnya, anakku kedua lahir dengan selamat. Anakku melewati serangkaian tes untuk memastikan kondisinya, tetapi respon yang diberikan anakku ini begitu berbeda. Dia begitu lamban merespon, yang kemudian membuat hatiku merasakan bahwa anakku yang kedua, sepertinya berbeda dari anakku yang pertama.  

Proses hingga mendapatkan diagnosis Pitt Hopkins Syndrome itu begitu panjang dan tidaklah mudah. Pada usia beberapa bulan, dia tidak menunjukkan perkembangan seperti bayi-bayi lainnya. Dia terlambat tengkurap, merangkak, dan sulit melakukan kontak mata dalam waktu yang lama. Awalnya, aku mencoba meyakinkan diriku bahwa setiap anak berkembang dengan kecepatannya sendiri.

Namun, hati kecilku berkata lain. Anakku yang kedua ini pernah sempat dikatakan, punya masalah dengan liver, karena dia tampak begitu kuning. Dia didiagnosa hyperbilirubinia. Hyperbilirubinemia adalah kondisi di mana kadar bilirubin dalam darah meningkat di atas batas normal. Bilirubin adalah zat kuning yang dihasilkan dari pemecahan sel darah merah dan biasanya diproses oleh hati, sebelum dikeluarkan melalui empedu ke dalam tinja. Anakku ini sampai dibawa ke rumah sakit khusus liver, nyatanya semua baik-baik saja. 

Ahli juga sempat menyebut anakku memiliki mitokondrial disorder. Mitokondrial disorder pada bayi baru lahir adalah kelainan yang terjadi akibat disfungsi mitokondria, yaitu bagian sel yang bertanggung jawab menghasilkan energi. Karena hampir semua sel tubuh membutuhkan energi, gangguan pada mitokondria dapat memengaruhi berbagai organ, terutama otak, otot, jantung, dan hati. Setelah dicek berkali-kali, anakku tidak memiliki kelainan tersebut, meskipun tumbuh kembang anakku begitu lambat. 

Pada usia sekitar tujuh bulan, anakku mulai mengalami batuk yang sangat parah. Kondisi ini menurut ahli, anakku didiagnosa Unsafe Swallow. Unsafe Swalow pada bayi baru lahir adalah kondisi di mana bayi mengalami kesulitan atau ketidakamanan saat menelan makanan atau cairan. Ini bisa terjadi karena berbagai alasan, termasuk gangguan neurologis, kelemahan otot, atau kelainan anatomi.

Jika tidak ditangani dengan baik, kondisi ini dapat menyebabkan aspirasi, yaitu masuknya cairan atau makanan ke saluran pernapasan, yang bisa berujung pada infeksi paru-paru (pneumonia aspirasi). Karena batuknya yang sangat parah, suatu kali, pernah aku merasa putus asa melihat kondisi anakku yang sudah koma, dengan oksigennya yang drop, dan bibirnya tampak biru. Feeling-ku sempat mengatakan: “Anakku meninggal. He is gone. He is gone. Alhamdulilah, anakku survive dan dia bisa bertahan.” 

Tak hanya itu, anakku yang kedua ini juga sempat didiagnosa oleh ahli memiliki visual sight impairment. Pada bayi baru lahir, visual sight impairment adalah kondisi di mana bayi mengalami gangguan penglihatan sejak lahir atau dalam beberapa bulan pertama kehidupannya. Ini bisa terjadi akibat kelainan pada mata, saraf optik, atau otak yang mengolah informasi visual. Diagnosa ini disebabkan anakku ini tidak bisa mengikuti objek yang dililhatnya, mungkin dia mengalami gangguan penglihatan. 

Sudah tidak terhitung lagi, berapa kali anakku harus bolak-balik rumah dan rumah sakit, hingga rumah sakit seperti rumah keduanya, padahal usianya saat itu masih belum dua tahun. Mondar-mandir ke rumah sakit dengan diagnosa yang bermacam-macam dan tidak tepat kerap membuatku semakin sulit, apalagi suamiku saat itu masih bekerja di Dubai. Beruntunglah, aku mendapatkan dukungan dari keluarga besar pihak suamiku di Inggris untuk membantu merawat anakku yang pertama dan membesarkan hatiku. 

Situasi begitu rumit dengan diagnosa anakku yang kedua. Pada saat dia berusia 6 bulan, anakku dirujuk ke berbagai macam spesialis, seperti: speech delay language, dan physiotherapy. Tak berhenti di situ saja, anakku juga dirujuk ke rumah sakit perawatan khusus anak-anak buat genetic, neurology and ophthalmology.

Pada saat usianya memasuki 1,5 tahun, anakku didiagnosa Pitt Hopkins Syndrome. Suamiku yang masih berada di Dubai, akhirnya memutuskan ikut pindah ke Inggris, pada saat anakku memasuki usia 2 tahun. Aku bahkan tidak tahu apa itu Pitt Hopkins Syndrome.

Dokter menjelaskan bahwa ini adalah kelainan genetik yang sangat langka, yang memengaruhi perkembangan fisik dan kognitif anak. Anak-anak dengan kondisi ini sering mengalami kesulitan berbicara, berjalan, serta memiliki gangguan pernapasan dan intelektual. 

Aku sempat tidak percaya, bahwa dia mengalami kelainan genetik. Bagaimana mungkin itu terjadi padaku? It was so hard! Aku sempat berpikir negatif tentang masa depan anakku kelak. Lima tahun pertama, aku tidak bisa menerima kondisi anakku. Aku sempat bertanya kepada Allah: “Why you chose me?”. 

Dalam perjalanan ini, aku juga menemukan komunitas yang luar biasa. Ibu-ibu lain yang memiliki anak dengan kondisi yang sama menjadi tempatku berbagi. Aku belajar dari pengalaman mereka, mendapatkan dukungan emosional, dan merasa bahwa aku tidak sendirian. Suatu kali, aku belajar dari seorang ibu dalam kelompok dukungan sosial, di mana dia memiliki tiga orang anak dan semua anaknya adalah anak-anak berkebutuhan khusus.

Bersyukurlah aku mendapatkan dukungan sosial dari kelompok orang tua yang memiliki situasi serupa di Inggris ini. Kami berbagi dukungan satu sama lain, yang saling menguatkan buat saya. Itu sangat membantu saya. Pemerintah di sini juga memberikan banyak fasilitas dan dukungan bagi para orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus, seperti anakku kedua. Semua fasilitas dan sarana pendukung, seperti terapi dan dukungan sosial pada orang tua pun disiapkan di sini.

Aku ingin anakku melihat dunia, meskipun aku tahu dia mungkin tidak memahami sepenuhnya. Kami kerap berpergian, termasuk ke Indonesia. Namun, dalam perjalanan itu, aku menyadari bahwa dunia ini tidak selalu ramah terhadap anak-anak dengan kebutuhan khusus. Aku sering mendapatkan tatapan aneh, bahkan komentar kasar dari orang-orang yang tidak memahami kondisi anakku. Aku belajar untuk tidak peduli dengan pandangan orang lain. Yang terpenting adalah anakku mendapatkan cinta dan dukungan yang dia butuhkan.

Ada hari-hari di mana aku merasa sangat lelah. Menemani anakku menjalani berbagai terapi, mengajarkan keterampilan sederhana yang bagi anak lain mungkin begitu mudah, adalah tantangan besarku. Namun, aku juga menyadari bahwa keberadaanku sebagai ibunya adalah sumber kekuatan terbesarnya.

Di tengah semua tantangan, aku menyadari satu hal: resiliensi adalah kunci. Sebagai seorang ibu, aku harus terus maju, tidak peduli seberapa sulit jalannya. Aku mungkin jauh dari tanah air, tetapi hatiku tetap kuat. Anakku adalah cahaya kecilku, dan aku akan melakukan apa pun untuk memastikan dia mendapatkan kehidupan terbaik.

Penulis: Amy, seorang ibu yang punya anak dengan Pitt Hopkins Syndrome di Inggris dan dapat dikontak via Instagram hamza_pitthopkins_syndrome.

(CERITA SAHABAT) Perempuan Butuh Sains, Sains Butuh Perempuan

Halo, sahabat Ruanita! Nama saya, Rieska Wulandari yang telah menetap di Italia sejak Agustus 2010 lalu, saya bekerja sebagai jurnalis lepas di Italia untuk media massa televisi di tanah air dan saya juga seorang ibu dari dua orang anak dan bersuamikan seorang Italia.

Saya menjadi jurnalis karena latar belakang pendidikan saya memang sarjana Jurnalistik Fikom Unpad. Saya meliput berbagai kegiatan aktual di Italia untuk pemirsa Indonesia dan sebagai pengamat sosial saya juga mengamati kiprah perempuan dalam berbagai isu termasuk dalam hal partisipasi perempuan dalam bidang sains. 

Tinggal di Italia selama hampir 15 tahun, saya menilai masyarakat Italia menempatkan perempuan dalam posisi yang sangat penting, bahkan Perdana Menteri Italia, Giorgia Meloni mencatatkan dirinya sebagai Perdana Menteri perempuan pertama di Italia dan  dalam berbagai bidang termasuk sektor sains, kontribusi perempuan, sangat diperhatikan. 

Perempuan tak sekedar dianggap sebagai rekan kerja/ilmuwan/cendekia setara, namun juga punya kesempatan untuk mendapatkan posisi puncak dan  kadang diakui lebih cemerlang daripada pria.

Kondisi ini, tidak serta merta muncul. Dibutuhkan perjalanan dan sejarah panjang bagi masyarakat Italia untuk bisa mencapai titik ini. Seperti negara-negara lainnya,  dahulu kaum perempuan Italia juga hanya ditempatkan di belakang layar. Baru pada tahun 1874 perempuan diizinkan masuk sekolah menengah atas dan universitas, meskipun banyak institusi yang terus menolak mereka saat itu, namun gerakannya sudah mulai muncul.

Follow us

Sejarah pendidikan perempuan di Italia adalah perjalanan menarik yang mencerminkan perubahan masyarakat yang lebih luas, pergeseran budaya, dan perjuangan berkelanjutan untuk kesetaraan gender. Pada tahun 1886, Pemerintahan Italia menetapkan undang-undang pertama yang menjamin akses yang sama terhadap pendidikan dasar bagi anak perempuan. Hal ini merupakan langkah maju yang signifikan dalam menyadari pentingnya mendidik anak perempuan.

Berlanjut kurang dari seratus tahun kemudian, tahun 1946 perempuan di Italia memperoleh hak untuk memilih di Italia yang berkaitan erat dengan status pendidikan mereka. Kemampuan untuk memilih dipandang sebagai perluasan hak-hak perempuan, didukung oleh peningkatan prestasi pendidikan mereka. 

Momen ketika perempuan Italia sudah mulai boleh ikut dalam pemilu ini, diabadikan dalam film karya Paola Cortellesi yang berjudul C’e Ancora Domani (There’s Still Tomorrow /Masih Ada Hari Esok), menggambarkan betapa kekuatan perempuan di bidang pendidikan dan politik memberikan perkembangan yang revolusioner kepada masa depan individu dan juga pada sebuah bangsa.

Film yang merupakan debut sutradara Paola Cortellesi, memenangkan People’s Choice Awards, penghargaan dari publik, pada Festival Film Internasional Pingyao edisi kedelapan, yang diprakarsai oleh sutradara Jia Zhange (pemenang Golden Lion di Festival Film Internasional Venesia pada tahun 2006 untuk Still Life) dan diselenggarakan di Tiongkok dari tanggal 24 hingga 30 September.

There’s Still Tomorrow juga telah mengumpulkan berbagai penghargaan tidak hanya di Italia, tetapi juga di luar negeri dari negara-negara Eropa hingga Australia.

Kembali lagi ke sejarah Italia dalam memperjuangkan hak perempuan, pemerintah Italia memperkuat hak perempuan dalam kesetaraan akses pendidikan dengan menerbitkan UU tahun 1977.  Sahabat Ruanita perlu tahu, bahwa tujuan dari undang-udang ini untuk mencegah diskriminasi terhadap perempuan di bidang pendidikan dan tempat kerja, dengan menekankan kesempatan yang sama bagi anak perempuan di semua lingkungan pendidikan. 

Itu sebab, saya berpendapat tidak ada perbedaan antara perempuan dengan laki-laki di Italia. Hanya saja, perempuan memang memiliki tugas lain. Sebagai ibu rumah tangga misalnya, perempuan yang berkarier penuh di bidang ini, tidak semudah dengan para pria. Namun, secara hak dan kewajiban antara perempuan dan laki-laki, tidak ada perbedaan. 

Sejauh pengalaman tinggal di Italia sebagai jurnalis, saya malah mendapat banyak privilege dibandingkan pria. Secara etika dan hukum, perempuan di Italia memiliki sistem perlindungan penuh dan bahkan masuk dalam skala prioritas, untuk konteks tertentu.

Terkait perempuan di bidang sains selama tinggal di Italia, saya menyaksikan bahwa Italia telah sukses mengirim astronot perempuan yaitu Samantha Cristoforetti yang berangkat dengan rioket Soyuz pada 23 November 2014 dan ditempatkan selama 200 hari di Stasiun ISS serta yang kedua kali pada 27 Aoril 2022 dengan Space X untuk ekspedisi selama 170 hari dan ditempatkan di stasiun ISS.

Selain itu, prestasi kaum perempuan dalam bidang olahraga juga sangat mencenangkan dengan banyaknya delegasi atau kontingen dari Italia yang memenangkan berbagai kompetisi internasional, piala dunia dan termasuk Olimpiade. Tentunya, saya melihat bahwa hal ini tidak terlepas dari dukungan lingkungan kerja atau lingkungan akademik. Mereka sangat mendukung perempuan untuk maju dan sukses dalam sektor sains. 

Sebagai seorang jurnalis, saya sekarang sebagai sekretaris dewan untuk organisasi jurnalis asing di Italia, Stampa Estera di Milan dan tahun ini kami meluncurkan Premio Innovazione Semi yaitu penghargaan di bidang inovasi. Perempuan tentu diperbolehkan mengikuti kompetisi ini. Selain itu, organisasi ini juga memiliki anggota jurnalis perempuan dalam jumlah yang cukup signifikan. 

Tokoh perempuan di bidang sains yang membuat saya kagum adalah seperti Rita Levi-Montalcini, seorang ahli saraf pemenang Hadiah Nobel. Selain itu, saya juga mengagumi Emma Bonino, seorang politisi terkemuka dan pembela hak-hak perempuan, memberikan contoh bagaimana pendidikan dapat memberdayakan perempuan untuk memberikan kontribusi yang signifikan kepada masyarakat dan seorang jurnalis kawakan Italia Oriana Fallaci yang telah mewawancara tokoh-tokoh internasional dunia dan menghasilkan berbagai buku jurnalistik yang impresif, yang membuka mata dunia pada pentingnya mengutamakan hak dan kemerdekaan semua bangsa dan terutama perempuan.

Sementara dari Indonesia, meski tokoh ini bukan seorang ahli sains, saya mengidolakan Kartini. Menurut saya, beliau merupakan tokoh yang sangat penting dan saya kagumi karena pikiran dan tulisannya telah membuka kemungkinan kepada para perempuan untuk bersekolah, mengenyam pendidikan, dan menentukan sendiri masa depannya. 

Bagi para perempuan muda yang ingin menyelami dunia sains, tantangan terbesar di bidang ini adalah untuk teguh dan memantapkan langkahnya dalam menjalani bidang ini tak hanya untuk mengangkat image tapi benar-benar sebagai panggilan hidup. 

Di Italia saya perhatikan, peran pria di dalam sains sama beratnya dengan perempuan karena peran pria dan perempuan dalam keluarga memang sama-sama harus berkontribusi pada perkembangan keluarga dan anak, apabila mereka telah memiliki keturunan.

Yang menjadi pembeda adalah pusat-pusat riset dan teknologi, industry dan media yang berkaitan dengan bidang ini kebanyakan terletak di Italia Utara, sehingga kebanyakan dari mereka yang ingin berkembang di bidang ini, harus pindah ke Italia bagian utara. 

Sejauh ini, saya belum melihat peneiti Indonesia yang berkiprah di Italia meski ada beberapa kenalan saya, perempuan yang bekerja di pusat riset milik Uni Eropa yang berlokasi di Italia dan beberapa perempuan yang menjalankan riset berkaitan dengan studi master dan doktoral mereka di Italia. 

Jika digali, Indonesia punya banyak peluang dalam bidang sains di Italia. Hanya saja perbedaan bahasa, sistem sertifikasi, dan tidak adanya MoU yang terjalin antara Indonesia dan Italia dalam hal ketenagakerjaan, membuat kesulitan bagi mereka yang ingin mengejar peluang di bidang ini di Italia. 

Tentunya, ada pengaruh yang besar dalam perbedaan budaya antara Indonesia dan Italia terhadap namun untuk kehidupan sekarang, sangat bisa didiskusikan dan sangat bisa dipertimbangkan. 

Melihat perjalanan Italia yang demikian komit melibatkan perempuan dalam dunia sains, sebetulnya tidak mustahil Indonesia juga sudah dalam perjalanan ke sana, terutama bila kita berkaca lagi pada kebudayaan kuno, di mana ketika pengaruh agama-agama populer belum masuk.

Seperti dalam kebudayaan Sunda dan Minang, posisi perempuan sangat dihormati dan dianggap sebagai gender yang harus mendapatkan prioritas. Hal ini terlihat dalam pantun-pantun Sunda, sementara dalam kebudayaan Minang masih berprinsip matrilineal hingga kini. Situasi berubah ketika paham patriaki memasuki Nusantara, baik melalui paham bernafas keagamaan maupun karena manipulasi politik dan kekuasaan. 

Jika sahabat Ruanita ingin mengejar karier atau pendidikan di bidang sains, khususnya Italia, saya rasa Italia bisa dijadikan sebagai referensi yang cukup menarik karena negara ini telah melahirkan tokoh tokoh jenius di bidang sains, keputusan mengambil pendidikan di Italia akan menjadi keputusan strategik di mana sahabat Ruanita bisa mengambil langsung dari rahim ilmu dan kebudayaan itu sendiri, yang mana bahasa latin yang menjadi inti kebudayaan Eropa lahir. 

Menjalani dan berinteraksi dengan berbagai komunitas di Italia, refleksi terbesar saya adalah perempuan di Italia, memiliki peran krusial dalam perkembangan sains secara nasional. Bahkan peran ini bisa mewakili posisi Italia secara global, apalagi bila ada pemenang nobel atau astronot yang berkebangsaan Italia. 

Selain pendidikan publik, keberadaan lembaga pendidikan yang diasuh gereja (Yayasan katolik), juga memberikan kontribusi yang sangat besar pada perkembangan Sains. Meskipun sekolah ini bernafaskan katolik, namun pelajaran sainsnya tidak terkungkung ideologi agama, melainkan sangat terbuka pada penemuan-penemuan ilmu pengetahuan termasuk menerima bahwa bumi terbentuk melalui teori big bang dan adanya evolusi. 

Hal ini membuat perkembangan sains di Italia tidak berbenturan dengan ranah ideologi dan prinsip-prinsip agama atau keimanan. Demikian juga peran serta perempuan dalam segala bidang sangat didorong dan tidak mengurung perempuan untuk puas dengan peran domestik, namun dalam peran lain yang sangat penting bagi kehidupan ilmu pengetahuan, sosial, politik, berbangsa dan bernegara.

Sikap keterbukaan yayasan katolik pada sains ini menjadi tantangan bagi Indonesia, sebuah bangsa yang akhir-akhir ini kita akui, cenderung terkungkung dalam kerangka religius sehingga kontraproduktif dengan kemajuan sains. 

Sebagai perempuan Indonesia di Italia, saya berharap semoga kedua negara bisa saling berkontribusi dalam hal memajukan perempuan di dunia sains. Bagaimanapun sains membutuhkan perempuan dan perempuan membutuhkan sains, lebih jauh, Italia membutuhkan Indonesia dan Indonesia juga membutuhkan Italia. 

Saya kita, sudah saatnya untuk mulai terbuka dan menyambut keterlibatan perempuan di bidang sains, bahkan harus mendorong perempuan dan memberikan dukungan serta pengayoman agar ketika menjalankan profesi ini, perempuan mendapatkan hasil yang maksimal dan dilindungi secara hukum, sehingga mereka dapat menjalankannya dalam rasa tenang dan nyaman. 

Saya yakin, perempuan Indonesia tidak hanya potensial, bahkan juga semakin banyak perempuan Indonesia yang bergerak di bidang ini, sehingga Indonesia akan menjelma menjadi sebuah negara yang sangat kuat. Ingatlah, pada kaum perempuan yang menjalani bidang ini, persaingan akan selalu ada. Persaingan dalam dunia kerja, baik antar sesama perempuan maupun dengan laki-laki sama kerasnya dalam konteks yang berbeda.

Oleh karena itu, semangat hanya akan ada jika diri sendiri memang teguh pendirian. Memang yang dijalani adalah sesuatu yang dicintai. Passion atau renjana bukan sekedar menjalankan pesan orang tua atau sekedar agar tampak terpandang. Selama jalan itu kita ambil – karena memang kerinduan kita dan ada panggilan jiwa – apapun tantangannya, akan dapat dijalani meski berat dan terjal. 

Sekali lagi sahabat Ruanita, ini saran saya:

  1. Kenali bahasanya, raih sertifikat bahasa secara formal, karena ini akan sangat membantu, baik dalam proses studi maupun dalam konteks profesionalisme. 
  2. Carilah universitas yang sesuai. Beberapa universitas di Italia juga sangat excellence dalam program-program spesifik. Saya yakin ini memberikan manfaat besar bagi yang melakukan riset maupun bagi masyarakat secara umum. 

Penulis: Rieska Wulandari, tinggal di Italia, pengelola website http://ri3ska.com/ dan www.wartaeropa.com, kontributor cerita sahabat di www.ruanita.com dan dapat dikontak via akun Instagram ri3ska.

(CERITA SAHABAT) “I am Enough!” dan Standar Kecantikan di Media Sosial

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan saya, Griska Gunara dan kerap disapa dengan nama Griska. Saat ini saya menetap di United Kingdom. Sehari-hari saya berprofesi sebagai Jurnalis Foto, Praktisi Yoga, dan Meditasi. Saya senang sekali dapat berpartisipasi dalam program cerita sahabat dalam tema: social media’s impact on beauty standar and how they affect women, karena media sosial yang menjadi bagian dari keseharian kita sekarang telah mengubah standar kecantikan di masyarakat.

Perubahan ini cukup signifikan karena keinginan perempuan untuk tetap cantik dan sehat secara alami. Itu sebab, saya perhatikan banyak wanita masa kini memilih sehat dengan konsumsi make up yang alami pula. Produk kecantikan di pasaran sekarang juga banyak yang menawarkan berbahan alami. 

Bagaimana pun produk kecantikan adalah bagian dari upaya perempuan untuk tampil menarik dan percaya diri ketika tampil di hadapan umum. Sejujurnya, saya pernah merasa tertekan dan tidak percaya diri juga. Ketidakpercayaan diri saya muncul ketika dihadapkan pada sesuatu yang saya belum siap secara mental, misalnya. Namun, bagi saya ini menjadi hal yang lucu, bila saya membandingkan diri saya dengan orang lain di media sosial. Pada kenyataannya, kepercayaan diri itu ditentukan oleh saya secara pribadi. Prinsip saya, sayalah yang bertanggungjawab jika saya ingin meningkatkan kepercayaan diri.

Di sisi lain, tidak dapat dipungkiri bahwa ada peran influencer di media sosial. Dengan pesan yang tepat sasaran, nyatanya cukup banyak membantu memperkuat standar kecantikan yang sudah ada, misalnya persepsi kecantikan alami wanita Indonesia. Meski kenyataannya, saya belum menemukan influencer yang “Setia” dengan satu brand saja. Kebanyakan dari mereka sudah bekerja sama (endorse) dengan client satu dan lainnya untuk urusan barter promosi. 

Follow us

Selain peran influencer di media sosial, ada faktor lain yang juga membentuk standar kecantikan di dunia maya. Tentu, kalian masih ingat bagaimana media sosial juga memperlihatkan foto wajah para selebritis, tanpa filter atau edit foto dengan foto yang sudah diedit. Menurut saya, itu sah saja menggunakan filter dan aplikasi pengeditan foto. Hal itu tergantung dengan kebutuhan si pengguna. Saya pribadi senang menggunakan filter foto kalau sedang -bad hair day– misalnya. Atau, ketika saya sedang mengedit foto, saya paling suka tone warna mendekati momen aslinya. Justru, penggunaan filter tidak terlalu sering saya gunakan. 

Sahabat Ruanita, setujukah kalau standar kecantikan yang ada di media sosial itu berpengaruh pada kesehatan mental juga? Seiring dengan meningkatnya produk kecantikan di media sosial, tak sering penjualnya adalah dokter dan pakar kecantikan juga yang berlomba memberikan service dan produk terbaik. Nah, sebagai konsumen, kita perlu cermat. Jika tidak, produk yang tidak sesuai dan tidak cocok dengan kulit, misalnya, akan cukup merugikan kita, baik itu secara finansial maupun mental juga loh.

Oh ya, apakah kalian juga merasakan kalau media sosial juga menuntut kita untuk tampil sempurna? Saya merasakan bahwa media sosial kini memegang peran penting dalam memberikan image standard sosial untuk tampil terbaik. Pengaruhnya tentu dalam hidup sehari-hari yang bisa terlihat dari seberapa konsumtifnya kalian dalam mengeluarkan biaya untuk belanja kebutuhan agar tetap sesuai dengan standar kecantikan tersebut. 

Kita tidak bisa menghindari apa yang ditampilkan di media sosial dengan algoritmanya, tetapi kita bisa mengatur sendiri pilihan konten yang efektif untuk kita konsumsi. Namun, media sosial juga memunculkan gerakan body positivity yang marak untuk melawan standar kecantikan yang sempit dan tidak sehat.

Gerakan ‘Body Positivity’ mengajak kita untuk menjadi percaya diri dengan apa yang kita punya. Menyadari bahwa diri ini saja sudah cukup. “I am enough!” Dorongan untuk menjadi berani menghadapi tekanan standar kecantikan di  media sosial adalah hal mendasar yang bisa didapatkan dari rumah.

Untuk menghadapi tekanan standar kecantikan di media sosial memang tidak mudah, termasuk saya di usia saya yang tidak lagi muda dan suka merasa tidak percaya diri. Terkadang saya pun ikut berlomba mengusahakan diri untuk lebih ini dan itu. Namun, saya sekarang sudah menemukan strategi untuk melawannya. Lewat yoga yang rutin saya lakukan dan tekuni selama beberapa tahun belakangan ini, ini menjadi strategi saya untuk menjaga pola hidup seimbang.

Strategi lainnya, tentu saya melakukan hiatus atau sejenak berhenti dari media sosial untuk beberapa minggu. Ternyata istirahat dari media sosial yang saya lakukan hingga sebulan. Saya merasa berbeda, karena prioritas fokus yang diatur untuk tetap balance dengan kehidupan sehari-hari. Jadi, hal yang yang dilakukan lebih dari 21 hari dapat mengubah pola hidup sehari-hari tergantung dengan apa yang kita lakukan. 

Saya sendiri sekarang sedang banyak mengurangi penggunaan chemical juga. Memang, ini tidak bisa langsung seluruh keluarga mengubah pola hidup tetapi saya berusaha tetap melakukannya dan memberi contoh saja dulu. Saya percaya pada diri sendiri saja dulu. Dan ini telah membantu kita tetap percaya diri akan diri sendiri, tanpa terpengaruh persepsi negatif tentang kecantikan yang ditentukan masyarakat. 

Kembali ke tema tentang standar kecantikan di media sosial, sebagai Praktisi Yoga dan aktif bersosial media, berikut pesan saya. Pertama, kita perlu meminimalisir pilihan kita untuk following media sosial. Kedua, kita bisa mencari komunitas yang mendekati apa yang kita suka, misalnya grup memasak atau grup yoga. Hal yang mendasar lainnya adalah kita belajar mengatur asupan nutrisi untuk diri sendiri. Jika kita sudah berhasil konsisten, maka kita bagikan ke seluruh keluarga untuk melakukan hal sehat yang sama. Dari mindset ini, kemudian lahirlah keingintahuan untuk memasak makanan sehat untuk diri sendiri dan keluarga. 

Penulis: Griska Gunara, berprofesi sebagai Photojournalist, Yoga Instructor and Meditation Practitioner. Griska kini menetap di United Kingdom dan dapat dihubungi via akun IG : @griskagunara, @griskashtanga.

(CERITA SAHABAT) Pernah Jadi Korban Perundungan, Kini Aktif Serukan Social Justice

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan aku adalah Rufi (akun instagram @zsyasdawita), yang sedang tinggal di Jerman untuk menyelesaikan studi S2 di jurusan Public Policy and Good Governance. Lewat program cerita sahabat, aku ingin membagikan hasil wawancaraku dengan seorang teman asal Indonesia dalam tema Social Justice

Temanku yang dimaksud adalah Dyfna, bukan nama sebenarnya dan sekarang juga tinggal di Jerman. Tepatnya Dyfna sedang tinggal di Leipzig sejak satu tahun lalu. Jika kita mendengar kata “Social Justice” mungkin yang terbayang adalah para profesional dan praktisi yang bergerak di bidang hukum dan keadilan. Nah, aku ingin membawa sahabat Ruanita dalam perspektif yang berbeda, yakni bagaimana perasaan orang yang tidak mengalami “social justice” dalam hidupnya, seperti yang dialami Dyfna ini.

Dfyna pernah mengalami peristiwa tidak mengenakkan, yang memegaruhi keputusannya untuk terlibat dalam bidang keadilan sosial. Awalnya, Dyfna mengalami peristiwa ketidakadilan pada saat dia masih duduk di bangku sekolah. Dyfna menganggap hal itu terjadi karena dia berasal dari suku minoritas pada saat dia bersekolah.  Selain itu, dia memiliki warna kulit yang lebih gelap dari kebanyakan teman-teman sekolahnya. Akibat perasaan tidak adil dan perlakuan rasisme tersebut, Dfyna memutuskan untuk melawan ketidakadilan sosial. 

Setiap orang punya definisi yang mungkin berbeda-beda tentang keadilan sosial, termasuk Dyfna. Menurutnya, keadilan sosial adalah kondisi saat semua orang memiliki persamaan hak dan mendapatkan perlakuan yang sama, tanpa adanya diskriminasi, baik itu  berdasarkan ras, jenis kelamin, agama, atau status sosial. Hal ini penting sekali karena Dyfna percaya bahwa masyarakat yang adil akan menciptakan lingkungan yang harmonis 

Tentu saja, Dyfna bukan hanya berteori saja tentang keadilan sosial, melainkan dia juga memiliki proyek atau inisiatif yang sedang dikerjakannya. Dia memiliki proyek terbaru yang berkaitan dengan program pemberdayaan di kota tempat tinggalnya saat ini. Proyek ini dikerjakannya bersama teman-teman aktivis yang punya concern yang sama, terkait bidang social justice. Proyek ini bertujuan untuk memberikan dukungan psikologis dan hukum kepada korban perundungan atau bullying, khususnya anak-anak sekolah dan remaja. Dyfna dan teman-temannya berharap proyek ini akan membantu para korban untuk bangkit dan mendapatkan keadilan yang layak.

Dalam implementasi proyek ini, tentu saja tidak mudah. Ada banyak tantangan yang harus dihadapi Dyfna dan kawan-kawan seperjuangannya. Salah satu yang terbesar yang dihadapinya adalah  adalah ketimpangan sosial di masyarakat Indonesia. Di Indonesia, masih terdapat kelas-kelas sosial yang menciptakan adanya ketimpangan di masyarakat, sehingga ada yang merasa diri mereka lebih superior daripada orang-orang yang berada di kelas bawah, menurut kaum superior ini. 

Melihat adanya kesenjangan tersebut, Dyfna pun berupaya untuk menciptakan ruang yang ‘merata’ bagi setiap pihak, khususnya dalam edukasi dan literasi tentang keadilan sosial. Contoh konkritnya adalah melakukan kampanye-kampanye, baik secara online maupun offline, sehingga diharapkan semua orang memiliki akses yang sama dalam mendapatkan pemahaman tentang keadilan sosial.

Tak hanya melakukan edukasi dan literasi saja, Dyfna merasa pentingnya peran advokasi dalam memajukan isu keadilan sosial ini agar dapat meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat. Menurut Dyfna, advokasi dan pendidikan memainkan peran penting dalam memajukan isu keadilan sosial dengan memberikan informasi yang akurat dan memberdayakan masyarakat untuk mengambil tindakan. Strategi yang dimainkan Dyfna adalah mengadakan lokakarya, seminar, dan menggunakan media sosial untuk menyebarkan informasi.

Sebagaimana sahabat Ruanita ketahui, praktiknya tentu tidak mudah ketika komunitas kami membantu anak-anak korban bullying yang mengalami ketidakadilan, khususnya karena rasisme. Dyfna dan komunitas bergerak untuk memotivasi dan mengedukasi mereka dengan cara-cara seperti sosialisasi ke sekolah-sekolah untuk menanamkan pentingnya keadilan sosial. Hal ini dimaksudkan agar anak-anak di sekolah teredukasi dan lebih aware akan hal tersebut. Dyfna dan teman-teman aktivis berharap korban-korban perundungan di sekolah bisa bangkit dan tetap semangat kembali, terutama mereka tidak malu dan minder dengan identitas mereka ataupun warna kulit mereka.

Apa yang Dyfna dan teman-teman aktivis lakukan tidak dapat terwujud sepenuhnya, apabila pemerintah tidak mendukungnya. Menurut Dyfna, pemerintah dan kebijakan publik memainkan peran yang sangat penting dalam mendukung dan menegakkan  keadilan sosial. Ketika pemerintah mampu menciptakan kebijakan yang inklusif dan adil bagi semua pihak, tentunya hal tersebut mampu membantu memerangi ketidakadilan dan diskriminasi. Sebaliknya, kalau tidak ada kebijakan yang mendukung dalam mengupayakan terwujudnya keadilan sosial, pastinya itu dapat menjadi hambatan yang besar dalam penegakan keadilan sosial.

Sahabat Ruanita, satu hal yang penting untuk diketahui tentang penegakan keadilan sosial adalah interseksi keadilan sosial itu sendiri, seperti ras, gender, dan kelas sosial yang saling terkait. Interseksionalitas merupakan konsep penting dalam keadilan sosial yang saling berhubungan dan memengaruhi satu sama lain. Oleh karena itu, ketika kita paham tentang interseksionalitas,  kita bisa melihat gambaran kesenjangan yang ada secara lebih luas dan kompleks.

Dalam kehidupan digitalisasi yang berkembang seperti sekarang ini, Dyfna berpikir kita bisa memanfaatkan teknologi dan sosial media sebagai kunci social movement. Ya, tentunya teknologi dan media sosial mempunyai dampak yang signifikan terhadap gerakan keadilan sosial dengan memperluas jangkauan dan mempercepat penyebaran informasi. Namun, ada juga tantangan yang perlu diatasi, seperti misinformasi dan juga hoax yang saat ini tersebar luas di media sosial dengan mudah.

Terakhir, lewat peringatan World Day of Social Justice ini, Dyfna menyerukan bahwa kita bisa mulai terlibat dalam keadilan sosial, baik secara personal maupun institusional, yang bisa dimulai dari edukasi diri kita sendiri terlebih dahulu dan komunitas terdekatnya. Bahkan dari lingkup keluarga, Dyfna berpendapat bahwa kita bisa melakukan awareness tentang isu-isu keadilan sosial, serta berpartisipasi dalam kegiatan lokal. Langkah kecil seperti sukarela di organisasi sosial atau mengikuti kampanye kesadaran yang bisa berdampak besar.

Penulis: Zukrufi Syasdawita yang tinggal di Jerman dan dapat dikontak via akun instagram @zsyasdawita. Naskah berdasarkan wawancara dengan Dyfna (nama samaran) adalah mahasiswa yang sudah tinggal selama 1 tahun di Leipzig, Jerman.

(CERITA SAHABAT) Di Hari Safer Internet, Ini yang Perlu Diperhatikan Untuk Keamanan, Kenyamanan dan Internet yang Bertanggungjawab

Halo Sahabat Ruanita, perkenalkan nama saya Herawasih Yasandikusuma. Saya biasa dipanggil Wasih. Saat ini saya tinggal di Geneva, Switzerland dari sejak lulus SMA di Indonesia, atau saya sudah berada di Swiss hampir 50 tahun. Dulu saya bekerja di berbagai organisasi internasional yang dikelola PBB, sekarang saya sudah tidak bekerja lagi. Saya sudah pensiun dan aktif menjalani pekerjaan lowong sebagai domain digital marketing. 

Sejak pandemi Covid-19, saya mulai mencari kesibukan untuk bekerja secara online, apalagi saya sudah pensiun. Saya kemudian menekuni bisnis yang bisa dijalankan dari rumah atau work from home. Saya pun mengambil Closing Online Course. Setelah mendapatkan sertifikat tersebut, saya mencari infopreneur di LinkedIn. Dari situ, pekerjaan saya dimulai dalam bidang digital world. 

Tentunya, bekerja di dunia digital tidak mudah. Ada banyak ancaman keamanan siber yang biasanya melanda para profesional digital marketing seperti saya. Ancaman tersebut antara lain: Phishing attacks, data breaches, ransomware/malware, insider threats, dan sebagainya. 

Oleh karena itu, penting bagi mereka yang aktif dalam digital marketing untuk selalu vigilant dan memakai secure password. Bagaimana pun kita tidak pernah tahu bahaya digital yang mengancam, sehingga saya menyarankan selalu untuk memperbaharui software yang dimiliki. 

Selain itu, kita perlu berhati-hati terhadap informasi seperti link, pranala atau tautan yang dibagikan. Bukan tidak mungkin, salah klik link atau pranala yang sembarangan itu bisa mengancam keamanan digital kita juga. 

Selama ini, saya tidak pernah mengalami berbagai serangan di dunia maya yang mengancam. Tentunya, saya selalu alert dan berhati-hati dalam menggunakan platforms. 

Saya selalu memastikan only partnering with reliable entities yang akan dibuka link atau tautan yang diberikan, kemudian memastikan pembayaran yang aman saat bertransaksi, dan yang terpenting adalah melaporkan apabila ada suspicious accounts pada media sosial. 

Menurut saya, adanya artificial intelligence dalam dunia digital setidaknya dunia sudah terbantu dalam digital marketing. Hal ini juga mempermudah pekerjaan saya dalam dunia digital. Namun, kita tetap perlu berhati-hati dan bersikap waspada di dunia digital, terutama apabila terjadi penyalahgunaan data dan informasi yang tidak benar. Bagaimana pun, kecerdasan buatan tidak dapat menggantikan kecerdasan manusia sesungguhnya. 

Beberapa cybersecurity practices yang dapat melindungi data pribadi dan informasi sensitif klien, seperti yang saya lakukan, antara lain: (1). Secara teratur, selalu melakukan back up data klien, yang memastikan data tersimpan dengan baik, aman, dan tidak hilang; (2). Memastikan pembaharuan sistem dan platform software; (3). Selalu menggunakan perangkat encrypted communication misalnya saja layanan email yang aman, aplikasi pesan yang sudah encrypted; (4). Memberikan training best practices kepada rekan kerja lainnya, seperti bagaimana mengenali phising email, tidak menggunakan public wifi untuk pekerjaan yang berkaitan dengan pekerjaan, memberikan akses data klien hanya kepada rekan kerja yang memerlukannya; (5). Mereviu dan melakukan pembaharuan akses; (6). Menggunakan pasword yang aman dengan otentifikasi berbagai faktor.  

Tentunya, pekerjaan digital marketing sering kali melakukan lewat email marketing. Beberapa langkah yang dapat diambil untuk memastikan keamanannya dari serangan phising seperti: (1). Encrypt informasi sensitif dan data klien di dalam email untuk mencegah unauthorized access kalau-kalau terjadi serangan hackers yang tidak diinginkan; (2). Memonitor kampanye email marketing, terutama untuk aktivitas yang tidak biasa, misalnya: kenaikan dari bounce rate atau complaints dari klien yang disebabkan oleh phishing attack; (3). Memakai secure email marketing platforms dengan advanced security features (spam filtering, phishing detection, encryption); (4). Melatih staf marketing dan klien supaya tidak sembarangan melakukan klik link yang mencurigakan atau mengunduh file lampiran dari pengirim yang tidak dikenal; (5). Melaporkan kepada staf IT apabila ada email yang mencurigakan; (6). Menggunakan email authentication protocols untuk memverifikasi keaslian domain pengirim dan mencegah spoofing email.

Spoofing email adalah tindakan memalsukan header email sehingga pesan tampak seolah-olah berasal dari sumber yang sah atau tepercaya, padahal sebenarnya berasal dari pengirim yang tidak sah atau jahat. Ini adalah bentuk penipuan yang sering digunakan dalam serangan phishing atau upaya penipuan lainnya. Di tengah era digital seperti sekarang, kita perlu memperhatikan keamanan siber dalam bekerja dan bertransaksi di dunia digital. 

Hal ini penting untuk perlindungan terhadap ancaman siber seperti: protect sensitive information (personal data, financial details) dari penyalahgunaan akses dan otoritas yang tidak dikenali; mencegah financial losses for individuals and businesses dari kasus ransomware atau phishing scams; menjaga online transactions dengan cybersecurity measures (encryption, secure payment gateways); menjaga kepercayaan dan reputasi dengan cybersecurity practices yang kuat sehingga membantu bisnis terpercaya dan kredibel karena telah menunjukkan komitmen untuk melindungi data dan privasi mereka. 

Beberapa contoh seperti yang pernah terjadi Marriott International mengalami data breach atau pelanggaran data yang mengungkap detail kartu pembayaran lebih dari 5 juta pelanggan. Sahabat Ruanita juga perlu tahu Facebook menghadapi reaksi keras dan pengawasan atas penanganan data pengguna dalam Cambridge Analytica Scandal.

Tentunya, kita perlu tahu cara mengidentifikasi dan menghindari website atau aplikasi yang berpotensi berbahaya saat melakukan riset pasar. Beberapa tips antara lain: 

  1. Melakukan verifikasi kredibilitas situs web (contact information, privacy policy, terms of service, hindari situs web dengan URL mencurigakan, spelling errors, poor design); 
  2. Selalu teliti pada reputasi situs web atau aplikasi (cari reviews, ratings, feedback from other users untuk menilai kredibilitas dan kepercayaan situs web atau aplikasi);
  3. Perlu berhati-hati terhadap email and pesan yang tidak diminta, dengan cara menghindari mengeklik tautan atau mengunduh lampiran email yang bisa berisi malware atau phishing; 
  4. Perlu menggunakan sumber yang dapat dipercara untuk download untuk meminimalkan risiko pengunduhan malware atau malicious software); 
  5. Menjaga dan melindungi software and security measures up to date with the latest patches to protect against security vulnerabilities
  6. Selalu gunakan jaringan yang aman, dengan cara menghindari melakukan riset pasar pada jaringan wifi publik karena jaringan tersebut mungkin tidak aman,
  7. Gunakan VPN (virtual private network) saat mengakses informasi sensitif di jaringan publik; 
  8. Bersikap waspada pada tanda bahaya (berhati-hati terhadap situs web atau aplikasi yang meminta informasi sensitif seperti passwords, financial details atau data pribadi tanpa alasan yang sah); 
  9. Selalu percaya naluri sendiri dan bersikap hati-hati bila ada sesuatu yang mencurigakan.

Di tengah ancaman bahaya siber, kita perlu melakukan pelatihan keamanan yang sangat penting bagi tim pemasaran digital untuk meningkatkan kesadaran, melindungi data sensitif, dan memitigasi risiko serangan siber. Dengan mendidik anggota tim tentang praktik baik keamanan siber, organisasi dapat mengurangi kemungkinan pelanggaran data, serangan phishing dan cyber threats yang lain. 

Berikut beberapa topik penting yang harus dibahas dalam pelatihan keamanan siber untuk tim pemasaran digital: 

  1. Mengajar  anggota tim cara mengenali email phishing, menghindari mengklik tautan berbahaya atau mengunduh lampiran, dan melaporkan email mencurigakan ke departemen IT; 
  2. Menggunakan password security (tekankan pentingnya membuat kata sandi yang kuat dan unik, menggunakan autentikasi multifaktor, dan menghindari penggunaan ulang kata sandi di seluruh akun);
  3. Menekankan data protection (mendidik anggota tim tentang pentingnya menjaga data sensitif, mengikuti peraturan perlindungan data, dan menangani informasi klien dengan aman); 
  4. Memastikan secure communication (encrypted communication tools, layanan email yang aman, dan metode berbagi file yang aman untuk melindungi informasi sensitif yang dibagikan dalam tim dan klien); 
  5. Meningkatkan kesadaran rekayasa sosial (meningkatkan kesadaran tentang taktik rekayasa sosial yang digunakan oleh cyber attackers untuk memanipulasi individu agar mengungkapkan informasi rahasia atau melakukan tindakan tidak sah); 
  6. Melatih anggota tim tentang cara merespon insiden keamana dan memberikan panduan device security (memberikan panduan tentang pengamanan perangkat yang digunakan untuk bekerja, keeping software updated, using anti-malware programs); 

Sahabat Ruanita, terakhir saya pikir kita perlu memastikan bahwa platform media sosial yang digunakan untuk kampanye marketing aman dari serangan siber. Dengan mengikuti langkah-langkah berikut, kita bisa tetap waspada sehingga bisnis tetap berjalan aman. Berikut beberapa langkah untuk membantu melindungi akun dan kampanye media sosial: 

  1. Melakukan autentifikasi dengan 2 faktor untuk menambah lapisan ekstra dan mencegah akses yang tidak dikehendaki, menambah lapisan keamanan ekstra, dan mencegah akses tidak sah.
  2. Even if passwords are compromised, buatlah kata sandi yang kuat dan unik untuk akun media sosial dan hindari penggunaan kata sandi yang sama di beberapa akun.
  3. Batasi akses ke akun media sosial hanya untuk anggota tim yang berwenang dan hindari berbagi kredensial login atau informasi sensitif melalui saluran yang tidak aman.
  4. Secara teratur, lakukan review and pembaharuan account permissions, settings, and connected apps to ensure that only necessary permissions are granted
  5. Melatih anggota tim pemasaran untuk mengenali taktik rekayasa sosial yang digunakan dalam serangan phishing, seperti fake login pages atau pesan yang menipu, untuk mencegah akses tidak sah ke akun; 
  6. Rutin memantau aktivitas akun media sosial untuk setiap perilaku yang tidak biasa (unauthorized login attempts, changes to account settings, or suspicious posts) dan segera ambil tindakan jika ada aktivitas mencurigakan yang terdeteksi; 
  7. Rajin cek informasi tentang security updates dan praktik terbaik yang disediakan oleh platform media sosial dan berita terkait ancaman keamanan media sosial; 
  8. Gunakan social media management tool that offers security features (pemantauan akun, kontrol akses dan metode otorisasi yang aman untuk mengelola dan melindungi akun media sosial). 

Menurut saya, kebijakan privasi menjadi hal utama yang harus menjadi fokus digital marketing. Mereka yang bekerja di digital marketing harus memastikan bahwa mereka memiliki dasar hukum untuk memproses data pribadi, mendapatkan persetujuan eksplisit untuk pengumpulan data, memberikan pemberitahuan privasi yang transparan, dan menerapkan perlindungan data; Peraturan Perlindungan Data Umum (GDPR) berlaku untuk bisnis yang beroperasi di Uni Eropa. 

Selain itu, para digital marketers harus menyadari undang-undang pemberitahuan pelanggaran data yang mengharuskan bisnis perlu memberi tahu pihak berwenang jika terjadi pelanggaran data yang membahayakan informasi pribadi. COPPA, undang-undang federal AS, misalnya mengatur pengumpulan informasi pribadi online dari anak-anak di bawah usia 13 tahun. Digital marketers  harus mendapatkan izin orang tua sebelum mengumpulkan informasi pribadi dari anak-anak berdasarkan peraturan COPPA tersebut. Para digital marketers dalam kampanye pemasaran email harus menyertakan informasi pengirim yang akurat sesuai undang-undang seperti elektronik privasi yang berlaku di negara Uni Eropa dan mematuhi guidelines for commercial email communications.

Di Hari Internasional Safer Internet, saya ingin membagikan strategi untuk membantu mendeteksi dan mencegah aktivitas berbahaya, antara lain: (1). menerapkan proses verifikasi akun di mana pengguna wajib untuk memverifikasi identitas mereka melalui metode seperti verifikasi email, verifikasi telepon atau CAPTCHA untuk mengurangi pembuatan akun palsu oleh bot atau pelaku jahat; (2). memantau aktivitas akun secara rutin untuk mengetahui pola yang tidak biasa, seperti high volume of account registrations atau login dari lokasi mencurigakan, yang dapat mengindikasikan aktivitas bot atau akun penipuan; (3). menerapkan alat dan layanan pendeteksi bot yang dapat mengidentifikasi dan memblokir automated bot traffic di situs web, social media platform, atau kampanye iklan untuk mencegah interaksi penipuan; (4). Lakukan track engagement metrics such as click-through rates, conversion rates, time on site to identify abnormal patterns or inconsistencies that may indicate bot activity influencing campaign performance; (5). Lakukan verifikasi CAPTCHA untuk pengiriman formulir, untuk membedakan antara aktivitas manusia dan aktivitas otomatis, serta mencegah bot mengirimkan fake leads; (6). Gunakan teknik pemblokiran IP dan pembatasan kecepatan untuk membatasi akses ke situs web atau aplikasi dari alamat IP yang mencurigakan atau untuk membatasi frekuensi interaksi pengguna untuk mencegah abusive behavior by bots; (7). Latih tim digital marketers tentang cara mengenali dan merespons aktivitas mencurigakan, seperti akun palsu atau interaksi yang didorong oleh bot; (8). Lakukan kolaborasi dengan cybersecurity experts untuk menilai keamanan kampanye digital marketing dan mengembangkan strategi untuk memerangi serangan bot dan aktivitas jahat lainnya secara efektif. Hal-hal yang disebutkan ini dapat menjaga reputasi brand mereka dan memastikan integritas upaya pemasaran mereka.

Dalam rangka Safer Internet Day, pesan saya kepada dunia dan pelaku dunia digital yakni: selalu memprioritaskan online safety, security and responsible use of the internet. Dengan bekerja sama, kita dapat mempromosikan internet yang lebih aman bagi semua. Tentunya, kita dapat menciptakan lingkungan online yang lebih aman dan positif di mana setiap orang dapat bereksplorasi dan berinovasi dengan percaya diri.

Penulis adalah Herawasih Yasandikusuma, yang tinggal di Jenewa, Swiss. Dapat dikontak via akun LinkedIn herawasih yasandikusuma dan facebook/instagram: wasihtravel.

(CERITA SAHABAT) Kanker, Cinta, dan Harapan Baru di Swedia

Halo, sahabat Ruanita! Saya Rizki, atau biasa dipanggil Kiki. Saya pindah ke Swedia sejak empat tahun lalu, terhitung sejak September ini. Sekarang saya bekerja full time di Swedia. Saya senang bisa berpartisipasi dalam program cerita sahabat yang dikelola Ruanita Indonesia, apalagi tema ini adalah tentang hari kepedulian kanker sedunia. Saya adalah caregiver dari suami yang meninggal beberapa tahun lalu, karena terminal kanker liver.

Saat saya pertama kali menginjakkan kaki di Swedia, saya tak pernah membayangkan perjalanan hidup saya akan penuh dengan cobaan besar. Suami, yang saya kenal sebagai sosok pekerja keras dan penuh kasih, adalah segalanya bagi saya. Namun, hidup memiliki cara tersendiri untuk menguji kita.

Musim panas 2021 menjadi awal dari perubahan besar dalam hidup saya. Suami saya yang selama ini tampak sehat, mulai sering diare. Awalnya, kami menganggapnya masalah biasa, mungkin efek makanan atau intoleransi laktosa. Namun, diare itu tidak kunjung sembuh, ditambah demam tinggi setiap malam. Di tengah kebingungan, kami bolak-balik ke dokter, menjalani berbagai tes hingga akhirnya ditemukan tumor di livernya.

Diagnosis awal menyebutkan tumor itu tidak ganas, dan rencana operasi segera disusun. Harapan kami tumbuh kembali. Tapi, tiga bulan kemudian, hasil tes lanjutan memberi kami pukulan yang tidak pernah kami duga: kanker liver stadium terminal. Dokter memperkirakan usianya tinggal enam bulan.

Diawali dengan diare yang terus-menerus hingga demam tinggi setiap malam, kami mengira ini hanya masalah pencernaan biasa. Namun, rangkaian kunjungan ke rumah sakit mengungkap kenyataan pahit: ada tumor di livernya. Hasil awal menyatakan tumor itu tidak ganas, tapi kondisinya terus memburuk. Setelah tiga bulan, diagnosis akhir menyatakan kanker hati stadium terminal. Dokter memprediksi usianya hanya tersisa enam bulan.

Saya hancur mendengar kabar itu. Tetapi dia—suami saya—memilih untuk tegar. Di tengah air mata saya yang tak terbendung, dia menggenggam tangan saya, memberi ketenangan yang rasanya jauh dari jangkauan saya saat itu.

Menjadi caregiver bukanlah sesuatu yang pernah saya bayangkan, apalagi dalam kondisi berada di negara asing. Setiap hari, saya belajar menjadi perawat darurat—mempersiapkan obat, memberi suntikan, hingga merawatnya di rumah. Melihat tubuhnya melemah, bekas suntikan yang membiru di perutnya, rasanya hati saya pecah. Tapi saya tahu, saya harus kuat. Saya harus ada di sana untuknya.

Sistem kesehatan di Swedia sangat membantu, memberikan kami akses langsung ke dokter dan perawat khusus. Tapi, sebagai seorang pendatang, kendala bahasa dan budaya sering membuat saya merasa terasing. Dia selalu berusaha menguatkanku, bahkan meminta istri sahabatnya mengajak saya keluar rumah untuk sekadar menghirup udara segar. “Kamu perlu keluar, meskipun hanya sebentar,” katanya.

Momen paling sulit dalam hidup saya adalah saat-saat terakhirnya. Saya  ingat malam itu, ketika suhu tubuhnya tak kunjung turun meskipun sudah diberi obat. Saya memeluknya erat, berdoa tanpa henti, berharap ada mukjizat. Dalam detik-detik terakhir, dia menggenggam tanganku dan berbisik, “Aku mencintaimu. Semua akan baik-baik saja.” Saya tahu itu caranya berpamitan, memberi saya kekuatan untuk melanjutkan hidup.


Saya mendapati diri saya berada di medan yang tidak pernah saya siapkan. Merawat seseorang yang Anda cintai saat ia perlahan melemah adalah perjuangan fisik dan mental yang tiada duanya. Setiap hari saya belajar melakukan banyak hal: memberikan suntikan, menyiapkan makanan, hingga memastikan ia nyaman di tengah rasa sakitnya. Semua itu dilakukan tanpa memikirkan diri sendiri.

Sulit berada di negara asing tanpa dukungan yang saya butuhkan. Bahasa menjadi kendala, dan saya sering merasa sendirian. Namun, dia selalu menemukan cara untuk mendukung saya, bahkan dalam kondisi tubuhnya yang semakin lemah. “Pergilah keluar sebentar, ngopi dengan istri sahabatku,” katanya. Meski berat meninggalkannya, saya tahu dia ingin saya tetap kuat.

Dari perjalanan ini, saya belajar banyak hal. Saya belajar untuk menghargai setiap momen, sekecil apa pun. Saya belajar untuk mencintai tanpa syarat dan berdoa tanpa henti. Kehilangan memang menyakitkan, tapi cinta yang kami miliki membuat segalanya lebih ringan.

Tiga minggu setelah diagnosis terminal, dia meninggal dunia. Momen itu begitu cepat, tapi sekaligus melegakan karena saya tahu ia tak lagi merasakan sakit. Sebelum ia pergi, ia menggenggam tangan saya erat dan berbisik, “I love you. Everything will be okay.”

Dalam kehilangan, saya belajar banyak tentang kekuatan cinta dan doa. Saya belajar untuk selalu menghargai waktu bersama orang-orang yang kita sayangi, sekecil apa pun momennya. Perjuangan kami melawan kanker adalah pengingat bahwa setiap hari adalah anugerah.

Pesan untuk Hari Kanker Sedunia

Saya ingin berbagi pesan kepada siapa pun yang menghadapi perjalanan ini: jangan pernah berhenti berdoa, berharap, dan mencintai. Sebagai caregiver, kita bisa menjadi pilar kekuatan bagi orang yang kita cintai. Jangan ragu untuk meminta bantuan dari keluarga atau teman, dan luangkan waktu untuk menjaga kesehatan mental Anda sendiri.

Untuk Sahabat Ruanita, mari kita tunjukkan kepedulian kepada mereka yang berjuang melawan kanker, baik pasien maupun caregiver. Terkadang, dukungan kecil seperti mendengarkan atau memberi pelukan hangat bisa membuat perbedaan besar.

Hari Kanker Sedunia bukan hanya tentang kesadaran akan penyakit ini, tetapi juga tentang cinta, keteguhan, dan harapan. Semoga cerita saya dapat menjadi pelita kecil bagi mereka yang sedang berjalan di jalan penuh duri ini.

Penulis: Kiky, relawan Ruanita Indonesia di Swedia yang dapat dikontak via akun instagram: little_monkey2016.

(CERITA SAHABAT) Analisis Konsumsi Politik Generasi Z dalam Perspektif Herd Mentality

Di tengah gempuran media sosial, anak muda kerap membutuhkan validasi dari  pengguna media sosial lainnya untuk meningkatkan value diri. Fenomena ini diikuti dengan  maraknya fomo (fear of missing out) yang menyebabkan hadirnya trend-trend baru untuk  menarik perhatian anak-anak muda, pada Gen Z khususnya. Dengan intensitas interaksi  digital yang tinggi, generasi Z banyak hidup dan mengelola media sosial. Hal ini kemudian  membuat istilah herd mentality mulai menguap kembali ke media massa. 

Herd mentality merupakan sebuah fenomena di mana adanya kecenderungan  seseorang untuk menyesuaikan diri dengan kelompok sosial di sekitarnya, agar mudah  diterima. Fenomena ini semakin intensif beberapa dekade belakang, terlebih dalam studi ilmu  sosial seperti psikologi, sosiologi, serta ekonomi.

Herd mentality menjadi relevan  pembahasannya dalam bidang ilmu pengetahuan karena menyangkut pola hidup, perilaku,  serta persepsi atau pendapat dari diri sendiri. Hal ini dapat terjadi disebabkan oleh tekanan  sosial, pengaruh ketimpangan status sosial, serta pengaruh algoritma di sosial media. Dalam  tulisan ini, saya akan mencoba menuliskan terkait skema gen z dalam persepsi diri untuk  mengupas pusaran herd mentality sebagai salah satu hal yang menggerakkan dinamika trend  di media sosial. 

Gen Z sebagai salah satu generasi yang besar pengaruhnya dan tengah berada di  masa-masa produktif, banyak mengelola kegiatannya di media sosial. Seiring dengan  perkembangan zaman, penggunaan media sosial semakin intensif.

Seperti pada agenda politik  terkait ‘Peringatan Darurat’ yang dimulai dari X di tanggal 21 Agustus 2024, saya juga turut  berpartisipasi dalam kampanye tersebut. Sebelum ikut serta, saya mencoba mencari tahu  konteks dan tujuannya. Selain itu, penggunaan icon peringatan darurat juga mulai gencar  disuarakan di Instagram dan platform-platform lainnya. 

Di satu sisi, popularitas dinaikkannya isu ‘Peringatan Darurat” di media massa  membawa konsekuensi yang kurang menyenangkan, seperti serangan dan kritikan. Hal  tersebut banyak dialami oleh mutual-an saya lainnya.

Di sisi lain, hal ini juga menunjukkan  bahwa isu politik sangat menarik perhatian publik serta mampu menggerakkan massa dalam  jumlah yang besar di seluruh penjuru negeri.

Meskipun terdapat kekhawatiran yang saya rasakan, namun semangat untuk mengedukasi dan berpartisipasi dalam demokrasi mendorong  saya untuk tetap aktif bersuara di berbagai platform media sosial yang saya miliki. Di luar dari konteks politik, perilaku herd mentality sering terjadi dalam kehidupan  sehari-hari, termasuk dalam lingkungan akademik.

Misalnya, dalam diskusi kelas, banyak  mahasiswa yang cenderung mengikuti pendapat teman sekelas atau dosen, tanpa mengalami  proses berpikir kritis. Hal ini menunjukkan kurangnya sikap skeptis dan keinginan untuk  mencari informasi lebih jauh lagi.

Dengan demikian, banyak bahan kajian dan obrolan yang  semestinya diutarakan di dalam kelas, menjadi hanya tersimpan di lingkup kelompok diskusi  yang lebih kecil, atau lebih parahnya lagi hanya tersimpan di kepala masing-masing. 

Perilaku herd mentality yang juga melingkupi anak muda, terkhusus gen z dalam  melakukan pembelian item tertentu. Salah satu contohnya adalah pembelian merchandise  politik yang marak terjadi di kalangan gen Z. Melalui media sosial, gen z mudah terdapat  berbagai macam konten politik, mulai dari informasi aksi, opini, hingga promosi partai atau  kelompok tertentu.

Akibatnya, sering kali banyak yang tidak membatasi diri dan merasa  skeptic, sehingga mudah terpapar informasi apa saja di media sosial. Hal ini juga  berhubungan dengan trend-trend tertentu untuk menaikkan frekuensi minat gen z terhadap  suatu individu yang mewakili partai tertentu. 

Dengan demikian, hal-hal yang tengah banyak diikuti oleh sebagian kelompok  masyarakat di media sosial, tidak harus turut kita ikuti juga. Dalam hal ini, ketika individu  memiliki prinsip diri yang kuat, hal-hal diluar kebutuhan diri akan dapat dikontrol dengan  mudah. Seperti skema herd mentality yang banyak menjangkit anak-anak muda seperti ini,  dapat dengan mudah menggoyahkan kenyamanan diri dan keamanan diri sendiri.

Perilaku  herd mentality yang perlu di filter dapat dilakukan dengan cara membuat kelompok dengan  prinsip hidup yang sama, agar terhindar dari perilaku konsumtif dan membahayakan, serta  dapat menahan diri untuk tidak turut menyebarkan informasi yang tidak dapat dipahami latar  belakangnya. Hal ini mencegah terjadinya penyebaran misinformasi di kalangan yang sama. 

Ketika mengkaji mengenai herd mentality, kerap hal ini disangkut pautkan dengan  konformitas, padahal kedua hal tersebut cukup berbeda. Konformitas merupakan  kecenderungan individu untuk menyesuaikan diri dengan norma sosial dalam suatu kelompok,  hal seperti ini biasanya terjadi ketika kita pindah ke lingkungan yang baru.

Sedangkan herd  mentality biasanya mengarah ke tindakan tanpa berpikir kritis yang kerap terjadi karena  pengaruh tekanan sosial. Hal ini biasanya terjadi ketika ada informasi yang baru diterima dan  tidak ditelaah latar belakangnya. Sebagai individu yang tinggal di berbagai macam latar  belakang budaya yang berbeda, tentu saja perilaku herd mentality dalam beberapa aspek kerap terjadi kepada saya, seperti ketika adanya isu politik yang mencuat tanpa kajian terlebih  dahulu.

Perilaku ini dapat menimbulkan kekacauan publik apabila tidak ditelaah lebih dalam. Selain itu, herd mentality lebih cenderung terpengaruh kepada masyarakat kolektif,  hal ini diakibatkan lekatnya budaya yang dirawat secara turun menurun. 

Masyarakat kolektif  lebih banyak menekan kelompok tertentu untuk mengikuti aturan budaya yang ada. Seperti  masih banyaknya yang beranggapan bahwa perempuan dalam ranah politik merupakan aib  bagi sebagian masyarakat adat. Padahal itu merupakan bentuk keterwakilannya  suara politik perempuan di lingkup yang lebih luas.

Pendidikan politik juga belum bisa  sepenuhnya mewadahi aspirasi perempuan, terlebih pada kelompok kolektif. Hal yang patut dipelajari dalam menghadapi fenomena herd mentality adalah  pembiasaan diri dengan mengedepankan prinsip hidup dan tingginya sikap skeptisme dalam  berbagai macam hal. Sikap tersebut dapat membangun prinsip hidup yang lebih kuat daripada  tidak sama sekali.

Hal paling mudah yang dapat dilakukan guna meningkatkan kesadaran diri  adalah, dengan membaca kembali informasi-informasi yang beredar di media massa. Menyaringnya dengan berpikir kritis dan kembali mendiskusikannya dengan orang-orang  terdekat. 

Tentang penulis: Nila merupakan mahasiswa yang menempuh pendidikan S1 di jurusan ilmu komunikasi. Memiliki minat besar dalam bidang media dan tulisan, hal tersebut tertuang dalam tulisan tulisannya di laman pribadinya. Informasi tulisan medium.com/@morisdeala dan instagram.com/@nila.docx

(CERITA SAHABAT) Pelukan: Bahasa Cinta yang Tak Perlu Berbahasa

Nama saya Siwi, biasa dipanggil Siwi oleh teman-teman dekat. Saya tinggal di Jerman, tepatnya di kota Berlin, dan sudah menetap di sini selama kurang lebih 10 tahun. Minat saya beragam, mulai dari membaca buku, memasak, serta mendalami budaya setempat. Pekerjaan sehari-hari saya adalah sebagai ibu, mahasiswi dan juga business developer di sebuah perusahaan tas di Berlin.

Di keluarga saya sendiri, berpelukan antara orang tua dan anak-anak atau antar kerabat sudah menjadi hal yang biasa. Budaya ini berasal dari nilai-nilai kekeluargaan yang kuat di Indonesia, di mana berpelukan dimaknai sebagai cara untuk menunjukkan kasih sayang dan dukungan emosional. 

Ketika saya pulang ke Indonesia, saya selalu merasakan kehangatan dalam pelukan orang tua dan suami saya setiap dia pulang kerja. Pelukan bagi kami seperti obat, untuk menunjukan rasa cinta, rindu, dan saling menguatkan. Saya berpikir, kami sudah bekerja keras selama berbulan-bulan dan momen berpelukan menjadi simbol pencapaian dan kerja sama yang erat. 

Dari sudut pandang budaya, berpelukan ini menunjukkan rasa keakraban dan solidaritas, sedangkan secara psikologis, ini memberi saya rasa dihargai dan diperhatikan, menguatkan ikatan emosional kami.

Sebagai ibu baru di perantauan merasa bahwa setiap tangan yang terulur adalah seperti harapan, begitu juga pelukan. Pelukan yang sederhana menyimpulkan banyak cinta, hangat, dan penghargaan. Berpelukan dalam budaya Indonesia sering kali dianggap sebagai tanda keakraban dan kasih sayang. 

Budaya kita sangat menghargai kedekatan emosional, dan berpelukan adalah salah satu cara untuk mengekspresikan rasa hormat dan cinta. Ini berbeda dengan budaya lain yang mungkin lebih menekankan pada kesantunan dengan cara yang lebih formal.

Menurut saya, berpelukan dalam budaya Indonesia sering kali dianggap sebagai tanda keakraban dan kasih sayang. Budaya kita sangat menghargai kedekatan emosional, dan berpelukan adalah salah satu cara untuk mengekspresikan rasa hormat dan cinta. Ini berbeda dengan budaya lain yang mungkin lebih menekankan pada kesantunan dengan cara yang lebih formal.

Saya memahami bahwa ada anggapan bahwa berpelukan hanya dilakukan sesama gender atau menyiratkan romantisme. Namun, bagi saya, berpelukan lebih dari sekadar aspek romantis. Ini adalah cara untuk menunjukkan dukungan, kasih sayang, dan keakraban tanpa memandang gender. Pandangan ini sangat penting untuk membangun hubungan yang sehat dan harmonis.

Secara psikologis, berpelukan memberikan banyak manfaat bagi saya. Ini membantu mengurangi stres, meningkatkan perasaan nyaman, dan memperkuat ikatan sosial. Berpelukan juga dapat merangsang produksi hormon oksitosin, yang dikenal sebagai “hormon cinta”, yang membantu meningkatkan mood dan rasa bahagia.

Saya pernah mengalami situasi di mana seseorang enggan untuk dipeluk. Hal ini terjadi saat saya ingin memeluk seorang teman yang baru saja kehilangan anggota keluarganya. Saya memahami bahwa tidak semua orang nyaman dengan kontak fisik. Alasan mereka mungkin beragam, termasuk perbedaan budaya, pengalaman pribadi, atau preferensi individu.

Di tempat kerja, saya juga pernah melihat budaya berpelukan diterapkan untuk menciptakan suasana yang lebih informal dan setara. Saya setuju dengan pendekatan ini karena dapat membantu mengurangi ketegangan dan membangun hubungan kerja yang lebih baik. Namun, penting untuk selalu menghormati batasan pribadi dan memastikan bahwa semua orang merasa nyaman.

Selama pandemi Covid-19, keterbatasan dalam kontak sosial, termasuk berpelukan, sangat mempengaruhi saya. Saya merasakan kehilangan kehangatan dan kedekatan yang biasanya dirasakan melalui pelukan. Berpelukan sangat penting dalam konteks kesehatan mental karena memberikan rasa nyaman dan mendukung kesejahteraan emosional, terutama di masa-masa sulit.

Kepada Sahabat Ruanita, saya ingin menyampaikan bahwa berpelukan memiliki banyak manfaat baik dari perspektif budaya maupun psikologis. Ini membantu memperkuat hubungan sosial, memberikan dukungan emosional, dan meningkatkan kesejahteraan mental. Jangan ragu untuk menunjukkan kasih sayang melalui pelukan, selama itu dilakukan dengan rasa hormat dan kesadaran akan batasan pribadi. 

“Hugs are the heartbeat from the soul to the soul.” — Terri Guillemets. Dan seperti banyak bahasa cinta yang dilakukan oleh manusia, pelukan adalah bahasa cinta yang tidak perlu berbahasa: hanya butuh dua tangan yang terulur dan empati.

Penulis: Siwi yang tinggal di Berlin, Jerman dan dapat dikontak via akun Instagram @swdiary95. 

(CERITA SAHABAT) Hormati Prinsip Seseorang yang Stay Single, Bukan Malahan Lakukan Single Shaming

Halo Sahabat Ruanita, perkenalkan namaku Nita dan sekarang tinggal di Indonesia. Aku hampir 6 tahun menetap di Jerman untuk melanjutkan studi. Di tahun 2024, aku kembali tinggal di Indonesia. Sehari-hari, aku bekerja sebagai pengajar bahasa di kota kecil di Jawa Tengah. Tahun ini, aku akan berumur 36 tahun.

Senang sekali dapat bersuara lewat tema Single Shaming dalam program cerita sahabat ini. Bagaimana pun aku merasa tertekan dan tidak nyaman saat orang lain membahas status single aku, kehidupan privasiku atau latar belakang ceritaku sendiri. Sejak aku tinggal di Eropa, kehidupanku di sana seolah-olah mengajarkan bahwa ada beberapa hal yang termasuk ranah privasi dan tidak seharusnya orang lain ikut campur lebih dalam. 

Salah satunya adalah hal yang menyangkut status dan hubungan. Selain itu, aku juga punya kisah mengenai hubungan yang tidak mengenakkan di masa lalu sehingga mempengaruhi keputusanku untuk stay single sampai sekarang. Alasan ini pun bersifat pribadi sehingga orang lain tidak perlu tahu. Kedua alasan inilah yang menyebabkan rasa tidak nyaman itu muncul ketika orang lain membahas status Single aku.

Tidak mudah untuk mempertahankan prinsip, terlebih menyangkut status hubungan “stay single” ini. Biasanya orang-orang di sekitarku merespon beragam ketika mereka tahu aku masih single. Ada yang merasa kasihan, ada yang mengolok-olok, tetapi ada juga yang bersikap biasa saja. 

Terkadang aku merasa orang-orang di sekitarku menghakimiku hanya karena statusku yang masih lajang. Contohnya, ketika aku berkumpul dengan teman-teman lama dari masa sekolah dulu. Sebagian besar dari mereka yang sebenarnya tidak dekat denganku akan bertanya padaku. Apakah aku sudah menikah atau belum? Mereka kemudian memberikan komentar negatif yang bernada menyalahkan dan menuduh aku yang terlalu pemilih. Ada juga yang beranggapan status akademikku yang menurut mereka terlalu tinggi, hingga tidak ada pria yang berani mendekatiku. 

Aku sendiri tidak ambil pusing pendapat atau komentar orang lain terhadap statusku yang masih melajang. Kadang aku tidak memberikan jawaban yang serius. Kadang aku bawa jadi guyonan saja, daripada aku merasa sakit hati pada akhirnya. Aku menyadari bahwa orang Indonesia memang belum siap apabila mendapat jawaban yang serius dan bersifat kritik pedas, ketika mereka bertanya atau berkomentar tentang status single orang lain. 

Di sisi lain, aku merasa ada momen di mana aku seperti dipaksa untuk segera mencari pasangan. Hal ini lebih kuat datang justru dari keluargaku sendiri, terutama ibuku. Berulang kali aku mencoba untuk memberikan pengertian ke ibuku, bahwa saat ini aku memang tidak fokus untuk mencari pasangan. Aku sekarang sedang lebih fokus untuk membangun karir terlebih dahulu. Kadang aku juga cuma bercanda dengan merespon: “Aku mau menikah dengan siapa, wong pacar aja tidak punya”. 

Menurutku, masyarakat sah saja memiliki pandangan yang kuat tentang pentingnya memiliki pasangan. Itu mungkin berkaitan dengan kultur dan kepercayaan orang Indonesia yang masih kolot (tradisional). Mereka masih menganggap bahwa perempuan mempunyai masa expired berdasarkan umur. Pendapat ini tentu saja dikaitkan dengan kemampuan reproduksi seorang perempuan. Jika seseorang tidak memiliki pasangan, maka orang tersebut merupakan outlier atau outcast di masyarakat yang perlu dikasihani, karena mereka tidak seperti orang-orang kebanyakan. 

Beruntungnya, masih ada saja orang yang bersedia mendukung keputusanku untuk fokus pada karier. Dari keluarga, justru kakak iparku yang mendukungku untuk fokus membangun karier terlebih dahulu. Setelah berkarier, aku kemudian bisa memutuskan untuk mempunyai pasangan dan menikah. Selain itu, di luar keluarga masih ada sahabat-sahabatku yang mengetahui perjalanan hidupku. Mereka juga mendukungku untuk menjalani hidup sesuai dengan pace-nya saja. Mereka selalu mendengar, jika aku bercerita dan memberikan afirmasi positif terhadap semua keputusan yang aku ambil. 

Aku perlu memperhatikan kebahagiaanku sendiri, meskipun itu tidak mudah menghadapi tekanan di tengah lingkungan sekitar terhadap status lajangku. Caraku menjaga kepercayaan diri adalah dengan menyibukkan diri dengan pekerjaanku saat ini. Aku juga selalu bertemu dengan banyak orang. Walaupun aku belum punya pasangan, aku bisa menunjukkan kalau aku adalah orang yang mudah bergaul di lingkungan manapun. Selain itu, aku juga berusaha menikmati setiap proses kehidupan dan menikmati hari-hariku dengan teman-temanku. Aku pun senang melakukan hobiku. 

Kembali lagi soal tema single shaming, aku pernah berbicara secara langsung dengan orang yang melakukannya padaku. Kebetulan orang tersebut berasal dari saudara jauhku. Ketika aku memberikan pendapatku, mereka langsung terdiam. Akhirnya, mereka hanya bisa bilang “iya juga ya”. Seolah-olah komentar mereka itu hanyalah basa-basi saja, yang tidak ada efeknya. Padahal mereka seharusnya berpikir terlebih dulu tentang perasaanku, sebelum berbicara. 

Lewat cerita sahabat ini, aku ingin menyampaikan pesan kepada mereka yang sering memberikan komentar negatif tentang status single seseorang. Tolong normalisasi bahwa urusan status single seseorang itu adalah suatu privasi. Artinya, orang lain tidak perlu berkomentar atau mempertanyakan lebih lanjut, apabila hanya untuk basa-basi atau olok-olok semata. Bagaimana pun kalian tidak akan pernah tahu apa yang terjadi dengan orang tersebut, sehingga mereka memilih untuk stay single. Hargai prinsip hidup seseorang tersebut yang (mungkin) masih memilih untuk berstatus single

Penulis: Nita dan dapat dikontak via akun instagram msiyuun_

(CERITA SAHABAT) Terima Kasih Itu Bukan Hanya Perlu, Melainkan Harus

Halo Sahabat Ruanita, perkenalkan nama saya Theresia Indri Noviatun Assenheimer. Saya biasa dipanggil Iin. Saat ini, saya tinggal di Dietzenbach, suatu kota kecil 15 Kilometer dari Frankfurt, Jerman

Sejak tahun 1993, saya tinggal di Dietzenbach. Saya lahir dan dibesarkan di Yogyakarta dan telah menyelesaikan pendidikan sarjana di IKIP Sanata Dharma Yogyakarta.

Saya adalah ibu dari dua orang putra yang sudah dewasa. Anak pertama sudah bekerja, sedangkan anak kedua masih menyelesaikan studi Master di Universitas St. Gallen, Swiss.

Sejak anak pertama saya berusia 11 bulan, saya bekerja paruh waktu di suatu toko kado dan peralatan rumah tangga di Offenbach. Sejak tahun 1998 sampai sekarang, saya bekerja 25 jam per minggu di suatu Supermarket di Offenbach. Meskipun hanya separuh hari, tetapi saya dipercaya untuk memegang Backstation atau Bakery.

Di waktu senggang saya suka menulis kecil-kecilan dan sederhana di kompasiana. Kesenangan menulis baru saya mulai pada saat pandemi Covid-19 lalu. Selain itu, saya juga aktif melayani di paroki di mana kami tinggal. Tanggung jawab saya seperti menata bunga di sekitar altar di gereja. Untuk merangkai bunga di gereja ini memang sudah saya lakukan sejak di Yogyakarta. Hobi ini berlanjut  pada tahun 1995, saya mengikuti kursus merangkai bunga di VHS di Dietzenbach.

Saya juga aktif melayani di Komunitas Masyarakat Katolik di Frankfurt sebagai kuster atau menyiapkan perayaan Misa. Saya tergerak menuliskan tema “Terima Kasih” yang sudah menjadi bagian dari hidup kita sehari-hari. Kata terima kasih sangat penting bagi saya. 

Suatu saat, saya bertemu dengan seorang rekan kerja lama, yang mana kami sama-sama. pernah bekerja di supermarket yang sama. Rekan kerja saya itu terkesan pada saya, karena saya selalu bilang terima kasih. Misalnya, saat saya duduk di kasir dan memanggil rekan kerja lainnya agar kasir berikutnya dapat dibuka, bila antrian sudah panjang. Rupanya rekan kerja saya terkesan, karena saya tidak hanya memanggil nama sambil  berkata Bitte (Silakan, dalam Bahasa Indonesia), tetapi juga selalu diakhiri dengan Danke (terima kasih). 

Rekan kerja saya tersebut berpendapat, bahwa panggilan mikrofon yang saya lakukan selalu ada kata Bitte dan diakhir dengan Danke. Sebisa mungkin saya mengucapkan terima kasih juga untuk hal-hal sederhana. Misalnya, saya selalu berucap terima kasih kepada seseorang yang menahan pintu, ketika kami memasuki suatu ruangan. 

Ucapan terima kasih merupakan penghargaan kepada orang lain. Nyatanya, itu tidak mudah untuk mampu mengucapkan terima kasih dengan tulus dari hati. Saya merasa kuncinya adalah kerendahan hati. Menurut saya, seseorang yang memiliki kerendahan hati tidak sulit untuk mengucapkan terima kasih.

Dalam ucapan terima kasih tersirat rasa syukur, seperti syukur karena kebaikan orang lain. 

Jadi, menurut saya mengucapkan terima kasih itu perlu,  bahkan harus.

Budaya mengucapkan terima kasih bagus karena membuat hubungan dengan orang lain lebih nyaman. Ucapan terima kasih, baik yang diterima maupun diberikan, membuat nyaman yang menerimanya, meskipun kadang dikatakan tanpa senyuman. Bagi kita orang timur, kata terima kasih selalu diiringi dengan tersenyum.

Sering saya mendapati orang-orang tidak mengucapkan terima kasih. Menurut saya, mungkin saja mereka tidak terbiasa mengucapkan terima kasih. Misalnya, saat mereka sedang membayar di kasir dan uangnya tidak cukup, masih beberapa Cent. Kekurangan beberapa Cent tersebut saya ikhlaskan, meskipun orang tersebut tidak saya kenal. Setelah saya relakan beberapa Cent kepada orang tersebut, dia tidak mengatakan terima kasih sama sekali. Dia hanya cukup mengatakan „Ok“.

Ada kemungkinan mereka tidak terbiasa. Mungkin saja mereka begitu tiba-tiba, sehingga mereka bisa saja tidak terpikir bilang terima kasih. Ada kemungkinan lain orang tersebut tidak bisa Bahasa Jerman. Sekarang, Jerman telah menjadi negara multikultural dan banyak orang juga bukan orang Jerman yang bisa jadi tidak mengerti Bahasa Jerman.

Kalau kita melakukan sesuatu yang baik pada orang lain, kemudian orang tersebut tidak mengucapkan terima kasih, maka ya sudahlah! Saya selalu berpikir memberi saja dan membuat kebaikan saja,  tidak perlu berharap orang mengucapkan terima kasih. 

Sejak kecil di rumah, anak- anak saya telah terbiasa mengucapkan terima kasih mulai dari hal-hal sederhana. Misalnya, setelah kami selesai makan bersama, maka anak-anak hampir selalu mengatakan „Danke Mama für leckere Essen„  atau “Terima kasih mama untuk makanan yang enak.”

Demikian juga saya mengatakan terima kasih untuk anak- anak, apabila anak-anak membantu saya membereskan meja makan, dan lain sebagainya. Saat ini, anak- anak tidak tinggal di rumah lagi. Bila mereka datang, saya mengucapkan terima kasih juga untuk waktunya dan kedatangan mereka. 

Dalam keluarga, terkadang kita menyepelekan dan sudah biasa tidak perlu mengucapkan terima kasih, karena hubungan sangat dekat. Tidak! Menurut saya, terima kasih itu perlu dalam relasi apa pun, seperti suami istri, orang tua dan anak, anak dan orang tua, dan seterusnya.

Saya yakin ucapan terima kasih yang biasa dan sederhana akan menyenangkan dan membahagiakan. Kalau hal ini dibiasakan dari rumah, maka anak-anak pun tidak sulit untuk mengucapkan terima kasih di luar rumah.

Menurut saya, ucapan terima kasih sangatlah perlu. Ucapan terimakasih disampaikan di mana saja, bila diperlukan, bahkan dengan orang yang tidak dikenal. Dari ucapan terima kasih yang biasa dan sederhana ini, tentu akan membuat nyaman siapa saja.

Penulis: Iin Assenheimer yang tinggal di Jerman dan dapat dikontak via akun Instagram iinassenheimer.

(CERITA SAHABAT) Tradisi Tahun Baru yang Kualami di Serbia

Halo, sahabat Ruanita. Perkenalkan aku Mery Christiani, yang pernah tinggal di Jakarta dan kini menetap di Serbia. Sehari-hari, aku beraktivitas seperti umumnya ibu rumah tangga dan mengelola usaha rumahan tempe. Setiap hari aku membuat tempe dan melakukan pengiriman setiap Senin dan Kamis, dikarenakan aku ingin tempe masih fresh saat diterima. Pengiriman tempe memerlukan satu hari ke lokasi tujuan. 

Selain membuat tempe, aku juga sibuk dengan berkebun di belakang rumah. Aku punya tanaman kentang dan lainnya, seperti kebun buat kebutuhan sehari-hari keluarga. Tak hanya itu, aku ‚kan tidak tinggal di kota besar seperti Beograd, ibukota Serbia, aku pun mengelola peternakkan milik keluarga. 

Sejak aku tinggal di Serbia, aku menilai warga di sini sebagian besar penduduk Serbia beragama Kristen Ortodoks, tetapi ada juga yang beragama Katolik dan Islam. Sepanjang saya tinggal di Serbia, menurut saya, orang-orang Serbia di lingkungan sekitar saya tinggal merupakan orang-orang yang tidak terlalu religius.

Di Indonesia, umumnya orang-orang merayakan Natal di tanggal 25 Desember, tetapi mereka di sini merayakannya pada tanggal 7 Januari. Itu sebab, mereka merayakan tahun baru  itu dua kali, yaitu tanggal 1 Januari atau 13 Januari. Kenapa mereka di Serbia merayakan Natal dan Tahun Baru berbeda dengan negara-negara lainnya? karena Serbia menggunakan perhitungan kalender Julian.

Berdasarkan pengamatanku selama tinggal di Serbia, mereka memiliki satu makanan khas yang selalu dinikmati setiap tahun baru. Namanya Česnica. Itu semacam roti yang di dalamnya diberikan koin. Namun, tidak setiap roti diberikan koin. Mereka yang beruntung, tentu akan mendapatkan roti berisi koin.

Itu artinya, mereka yang mendapatkan roti berisi koin akan mendapatkan good luck sepanjang tahun. Roti ”tahun baru” yang dimaksud dibentuk dengan berbagai macam. Ada yang berbentuk bunga, ada yang berbentu mahkota, dan lain-lain yang kemudian diberikan koin di dalam roti tersebut. 

Di sini juga terdapat makanan pembuka sebagai starter. Namanya meze. Di Serbia, meze mencakup berbagai macam makanan kecil yang biasanya disajikan sebelum hidangan utama.

Hidangan meze di Serbia sering kali disajikan di acara-acara sosial dan pertemuan keluarga, dan dimaksudkan untuk dinikmati bersama dengan minuman seperti rakija (brendi buah lokal) atau anggur.

Ada makanan favorit saya yakni Punjena Paprika. Paprika besar yang sudah dibuang bijinya tersebut kemudian diisi dengan campuran daging cincang, beras, bawang bombay, paprika bubuk, garam, dan tomat. Setelah itu, paprika terisi, kemudian disusun ke dalam panci.

Lalu, panci diisi dengan air dan direbus sampai airnya menyusut. Setelah itu, kami masukkan ke dalam oven. Jika sudah matang, biasanya kami menikmatinya dengan sour cream dan roti. Itu sudah yummy!

Makanan kedua favorit lainnya adalah Sarma. Ini hampir sama dengan Punjena Paprika, tetapi Sarma menggunakan kol atau kubis. Isiannya bisa dengan campuran daging cincang, beras, bawang bombay, paprika bubuk, garam, dan tomat. Setelah terisi di lembaran kol atau kubis, tahapan mengolahnya sama seperti memasak Punjena Paprika.

Kalau soal makanan di tahun baru, aku juga suka sekali dengan goulash, yang sebenarnya ini menu yang umum ada di negara Eropa lainnya. Ada juga yang menyebutnya Paprikash. Ini seperti sup daging. Orang-orang di Serbia umumnya suka makanan daging atau masakan olahan daging.

Oleh karena itu, mereka sering kali mengadakan acara seperti barbeque untuk memanggang daging bersama. Di sini banyak sekali penjual kambing guling dan babi guling.

Acara barbeque buat orang-orang di Serbia menjadi penanda kebersamaan untuk menikmati waktu bersama. Orang Serbia mengatakan daging guling atau daging yang digunakan sebagai barbeque merupakan daging terbaik di dunia, karena binatang yang dijadikan daging guling diberi makan secara organik dan natural.

Itu sebab, daging guling di sini begitu tasty. Satu lagi sebagai gambaran, hampir sebagian besar masakan dan makanan Serbia sama dengan Turkies Cuisines, karena dahulu Yugoslavia sempat dijajah oleh negara Turki cukup lama. 

Secara garis besar, tradisi tahun baru seperti layaknya di negara lain, mereka berkumpul dengan keluarga juga di malam penutupan tahun. Kami biasanya berkumpul merayakan pesta bersama keluarga seperti mengadakan pesta barbeque, satay daging atau makanan seafood sambil ngobrol-ngobrol satu sama lain.

Malam pergantian tahun juga diisi dengan pesta kembang api untuk menghitung waktu mundur pergantian tahun, seperti waktu saya berada di Indonesia dulu. Hanya saja yang berbeda adalah kami biasanya dansa (dancing) di Serbia atau bernyanyi, ini yang tidak dilakukan seperti di Indonesia dulu.

Tradisi lainnya adalah kami biasanya bersulang merayakan tahun baru dengan minuman lokal yang mengandung alkohol, namanya Raki. Sambil bersulang, kami memberikan ucapan keberuntungan di tahun yang baru seperti: good health, good wealth, long life dan semacamnya. 

Selama tinggal di Serbia, tradisi menyalakan kembang api hampir ada di tiap rumah di sini. Hanya saja, saya dan keluarga biasanya pergi ke semacam City Center untuk melihat perayaan kembang api. Di City Center tersebut, terdapat pesta kembang api dan juga konser musik.

Sementara dulu di Indonesia, saya tidak terlalu merayakan kemeriahan tahun baru. Saya sudah kapok berpergian di malam pergantian tahun baru, justru mendapati macet di mana-mana. Setelah itu, saya tidak ingin keluar lagi dalam merayakan tahun baru.

Seperti umumnya perayaan pesta kembang api di kota-kota besar, di Serbia pun demikian. Biasanya saya hanya menyaksikan dari televisi, pesta kembang api di pusat kota Beograd. Pesta kembang api dilaksanakan di waterfront di Beograd dan terlihat sangat indah saat saya melihatnya di televisi.

Stasiun televisi seperti TVRI di Indonesia, namanya RTS, yang berisi berbagai program selama jelang tahun baru. Programnya itu bisa berisi komedi, musik atau hiburan berbagai artis, yang kemudian ditutup dengan menghitung mundur perayaan pergantian tahun baru. 

Sahabat Ruanita, biasanya di awal tahun selalu terselip harapan dan resolusi di awal tahun. Begitu pun warga di Serbia. Orang-orang di Serbia biasanya mengucapkan: ” Srećna Nova godina! – Selamat Tahun Baru!” sambil bersulang.

Berdasarkan pengamatan saya, mereka biasanya mengutamakan kesehatan untuk harapan di awal tahun yang baru. Kalau kita tidak sehat, bagaimana kita bisa menikmati hidup dan bekerja. Kalau sahabat Ruanita, apa harapan dan resolusi di awal tahun yang baru?

Penulis: Merry Christiani yang tinggal di Serbia dan dapat dikontak via akun Instagram: cemanitempehserbia.

(CERITA SAHABAT) Pengalaman Melahirkan dan Merawat Bayi Lahir Prematur BBLR

Salam kenal, Sahabat Ruanita. Saya adalah Mosi Retnani  dan dapat dikontak via akun instagram @mosiretnani. Saya, suami, dan anak kami yang saat ini masih balita, tinggal di Sleman, Yogyakarta, Indonesia. Tahun ini masuk tahun keempat kami tinggal di desa, sebuah wilayah yang dari segi budaya, bahasa, ritme harian, bahkan makanannya berbeda dengan Jakarta, tempat kami tinggal sebelumnya. Ya, meski perbedaannya tidak sampai 180 derajat sih. 

Kalau semua berjalan aman sentosa, saya dan suami sudah memiliki tiga anak. Namun kami kehilangan janin-janin di dua kehamilan pertama, yang umurnya berakhir hanya sampai di minggu kedelapan. Kehilangan tersebut terjadi pada tahun pertama pernikahan kami. Jangan ditanya bagaimana rasanya, setelah diberi bahagia, lalu diambil, dan diganti dengan kesedihan, dikali dua. 

Setelah dua peristiwa tersebut, kami memutuskan untuk menjeda sejenak dari semua hal yang berkaitan dengan ‘hamil’. Masuk tahun kedua pernikahan, kami mulai mempertimbangkan ikut program hamil. Kami mendatangi tiga dokter kandungan untuk konsultasi. Namun tak dipungkiri, jenuh pun melanda kami karena merasa program hamil berjalan begitu-begitu saja. Minum suplemen, konsultasi dokter, jaga makanan dan sebagainya, rasanya berlangsung monoton, bahkan jadi sering muncul pikiran paranoia seperti bila jajan di kaki-lima akan membuat program kami gagal. Di sisi lain, saya akui sebenarnya program hamil ini baik karena mendorong perbaikan gaya hidup, tetapi bagi kami, jadi malah tidak bahagia dalam menjalaninya. Yang seharusnya dijalani dengan sukacita, tetapi malah terasa monoton dan membebani. Ini bukan contoh yang baik untuk dijadikan acuan pasangan promil, ya.

Saya lupa di tahun keberapa tepatnya, kami memutuskan untuk berhenti mengikuti promil. Kami memutuskan untuk tidak lagi fokus soal keturunan. Fokus ke membangun rumah tangga bahagia meski semisal Allah SWT memang tidak menghendaki kami memiliki keturunan. Saya masih ingat malam sebelum kami memutuskan untuk berhenti promil, saya mengambil wudhu lalu sholat tahajud. Dalam doa, saya berucap: Ya Rabb, bila Engkau memang tidak berkehendak kami memiliki keturunan, kami ikhlas, insyaallah. Karena Engkau lah yang lebih tahu tentang hidup kami. Lapangkan hati hamba dan suami dalam menerima setiap kehendak-Mu. Setelahnya, saya merasa lebih plong dalam menjalani kehidupan rumah tangga, lebih tangguh, dan legowo menghadapi setiap pertemuan keluarga besar atau sekedar menjawab ujaran tetangga sekitar rumah. Kala itu, kami tidak memilih program IVF, karena anggaran tidak menyokong ke arah sana.

Di suatu pagi di tahun keenam pernikahan kami, alat testpack yang biasanya membuat kami merespon datar usai melihat hasilnya, pagi itu membuat saya bengong sejenak. Dua garis. Saya lalu membangunkan suami,“Be, ih bangun ini lihat. Masa aku hamil, kata testpack. Beneran gak sih??”. Suami hanya merespon dengan gumaman di bawah pengaruh alam bawah sadar. Usai salat subuh berjamaah, kami masih tidak percaya melihat hasilnya namun memutuskan tidur lagi. Saya pikir kalau memang beneran hamil, toh tinggal pergi konsul ke obgyn, tidak perlu yang harus gimana-gimana. 

Sekitar pukul sembilan pagi, saya bangun dan kembali mengecek testpack. Ternyata betul, dua garis biru, nyata. Saya Kembali membangunkan suami, “Be ini beneran, aku hamil!” Dan dia hanya merespon,”Alhamdulillah. Tapi aku lanjut bobo dulu ya, sejam lagi deh,” ujarnya. Saya tidak marah, malah mengiyakan ikhlas, karena malamnya dia habis lembur. 

Sorenya kami konsultasi ke dokter kandungan yang ketiga. Alasannya standar, dekat dari rumah dan kami sudah nyaman dengan dokter itu. Ketika melihat layar mesin USG, sekilas trauma kegagalan hamil menyeruak di pikiran saya. Saya coba tangkis dengan berpikir positif. Hanya sepenggal kalimat “Selamat ya bu,” dari dokter itu saja yang saya ingat usai keluar dari ruang konsultasi. Sampai di rumah pun, kami tidak langsung bersukacita mengabari para orang tua tentang kehamilan yang menahun dinanti mereka. Mungkin karena kala itu trauma dua kali kehilangan janin masih mendominasi pikiran kami. Kata suami, saya tak usah banyak kepikiran, dia yang akan mengabari orang tua kami. 

Hari-hari kehamilan yang kami jalani terasa biasa saja, hanya perut saya saja yang perlahan melendung. Saya yang kala itu masih terikat kontrak dengan salah satu media online untuk mengelola konten media sosialnya bersama teman, malah merasa terhibur dengan kesibukan kerjaan, di sela nafsu makan yang menguap. Setiap hari suami membawa oleh-oleh air kelapa dan air jahe sepulang kerja. Air jahe mempan mengatasi mual saya, sementara air kelapa mengikuti saran dokter. Selain itu, saya disarankan mengkonsumsi susu yang dipasteurisasi, alih-alih susu khusus kehamilan atau UHT. Alasan dokter karena susu pasteurisasi tidak mengalami proses pengolahan yang panjang untuk bisa dikonsumsi. Kami juga selalu diresepkan suplemen asam folat organik dan lainnya. 

Masuk pekan ke-35 kehamilan, kehamilan saya ternyata disimpulkan bermasalah karena beberapa hal terlihat tidak wajar. Bengkak di kedua kaki saya terlihat janggal dan berlebihan, menurut bidan pendamping di kelas senam hamil. “Kita tensi dulu ya Bu, saya biar bisa memastikan apakah ini wajar atau tidak,” ujar bidan. Ternyata hasil tensi saya tinggi, sekitar 120-an. Bidan kembali bertanya, ”Bu, apa merasa pusing?”. Saya menggeleng. Lalu bidan meminta saya menunggu sejam untuk kembali ditensi, sementara ia menghubungi dokter kandungan kami. “Kita tunggu dulu ya Bu, khawatirnya tensi ibu tinggi karena habis senam hamil,” ujar bidan setelah mengecek riwayat tensi saya selama kehamilan selalu berada di posisi normal. 

Ternyata tensi saya tidak kunjung turun, memang betulan tinggi. Bidan kembali menghubungi dokter untuk kembali mengobservasi saya. Saya diminta datang keesokan harinya tanpa perlu membuat janji temu lagi, karena hari itu dokternya sedang persiapan penanganan operasi lahiran. 

Setelah cek laboratorium berjenjang atas anjuran dokter, kehamilan saya disimpulkan masuk kategori preeklamsia. Artinya, janin harus segera dikeluarkan karena akan membahayakan ibu dan janin. Setiap hari sampai hari persalinan, saya harus kembali menjalani beberapa prosedur seperti pemantauan detak jantung bayi, penyuntikan pematang paru-paru janin sebanyak dua kali karena dia akan lahir prematur, pemantauan tensi saya, dan lainnya. Dokter pun segera menjadwalkan operasi caesar, “Bu, jadwal caesar-nya Sabtu ini ya. Pagi. Tapi kalau ternyata ibu merasa tidak fit atau kenapa-kenapa, ibu harus langsung saja datang ke IGD sini. Sampai ketemu Sabtu insyaallah ya bu,” kata dokter dengan raut wajah tenangnya. 

Jujur saya sempat panik karena baju-baju bayi dan peralatan lainnya belum semua disiapkan. “Nanti adek tidak ada baju habis lahir, terus gimana?”. Paniknya sebatas itu, bukan yang cemas takut perut harus dibuka tujuh lapis atau kepanikan lainnya. Namun alhamdulillah emosi kami berdua terbilang stabil. Kakak-kakak dan ibu saya memberi dukungan penuh, sehingga sampai hari persalinan membuat kami merasa cukup tenang. 

Bayi premature BBLR kami lahir dengan berat 1,9 kilogram pada tahun 2019 lalu. Usai persalinan yang jatuh di usia kehamilan 35 minggu, bayi saya harus masuk inkubator di ruang perinatologi. Setelah mendapat kabar bahwa bayi kami sehat dan organnya berfungsi dengan baik meski prematur, kami lega dan bersyukur. Selama masa pemulihan, suamilah yang bolak-balik antara ruang perinatologi dan kamar inap saya. Dua kakak saya dan ibu bergantian menjenguk saat suami harus ngantor. Oleh dokter anak, bayi kami dianjurkan diberi susu khusus tinggi lemak agar bobot badannya yang tergolong rendah (1,9 kg) bisa cepat naik sekaligus tandem dengan ASI saya. “Nanti setelah bobotnya cukup di angka aman, susu suplemennya dihentikan ya bu. Cukup ASI saja,” kata dokter anak yang ikut mendampingi dokter kandungan dalam persalinan.

Susu impor yang dimaksud ternyata harganya ‘wow’ dan sulit dicari di sekitaran rumah sakit. Setelah konsultasi dengan dokter anak, boleh memakai merek lokal yang fungsi dan kandungannya mirip, meskipun harganya yang juga cukup tinggi haha! 

Di ruang perinatologi tiap menunggui bayi kami, saya diajari lagi cara perlekatan yang tepat untuk mulut anak ke payudara meski sebelumnya saya sudah tiga kali mengikuti kelas laktasi di rumah sakit yang sama atas rekomendasi dokter kandungan. 

Setelah tiga hari dirawat inap, dokter menyatakan jahitan tidak bermasalah serta fisik saya sudah cukup pulih, saya dibolehkan pulang. Namun bayi kami masih harus menetap di perinatologi karena dinilai belum cukup kuat untuk hidup di luar inkubator. Sedih dan pilu kembali merayapi ruang emosi. Bagaimana tidak, selama di rumah sakit pun kami tidak bisa berdampingan dalam satu ruang seperti pasien bersalin lainnya, momen yang sangat kami dambakan. Malah setelah pulang pun masih terpisah atap. Hal yang sama juga dirasakan suami. Dia yang paling semangat usai melihat bayi kami lahir di dunia, jadi gundah saat tahu kabar tersebut. “Bapak dan ibu tidak perlu kawatir atau sedih ya, karena ini kan untuk kebaikan adik bayi,” ujar perawat di ruang perinatologi usai kami berpamitan. Sesampainya di rumah, saya tidak bisa tidur tenang, teringat bayi kami. Belum ada 24 jam saja saya sudah rindu. “Aku aja yang antar ASI ke rumah sakit. Kamu istirahat, biar luka operasi cepat kering,” kata suami keesokan paginya. Meski rindu dan gusar, saya harus realistis karena kalau tidak cepat pulih, saya tidak akan bisa optimal merawat bayi bila waktunya ia dibolehkan pulang nanti. Menjelang sore, telepon seluler suami berdering. Ternyata bayi kami sudah dibolehkan pulang usai diobservasi dokter anak, salah satunya karena bobotnya dinilai cukup untuk tidak lagi dirawat di perinatologi. Rasanya senang luar biasa. 

Rumah sakit jaraknya tak sampai 2 kilometer dari rumah kami. Usai ashar, kami menjemput bayi kami ke rumah sakit. Sebelumnya, ibu menyarankan untuk tinggal sementara di rumahnya agar kami ada yang membantu merawat bayi. Dan kami pun menurut. “Ibu ini baju-baju bayinya masih pada kebesaran ya, tapi enggak apa-apa malah jadi awet dan hemat ya nak ya,” ujar bidan dengan nada bercanda sambil menyerahkan bayi kami. Kami tertawa kecil menanggapinya, karena baju tidur model wearpack ukuran bayi baru lahir yang kami siapkan untuk si bayi pulang, terlihat longgar di tubuhnya. Perawat sampai menggulung bagian lengan dan kakinya beberapa kali agar tidak mengganggu geraknya karena kepanjangan. 

Baik bidan atau dokter tidak menyarankan menyediakan alat pendukung khusus bagi bayi kami, namun ada beberapa hal penting yang wajib dilakukan di rumah. Pertama, memperbanyak kontak kulit dengan kulit (skin to skin) dengan metode kanguru (kangaroo care). Metode ini dinilai mampu mengurangi stres bayi prematur terutama bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) dalam merespon lingkungan luarnya yang baru. Suara dan detak jantung orang tuanya akan menenangkan si bayi, selain memberi kehangatan di tubuhnya. Kangaroo care juga membantu menstimulasi produksi ASI di badan ibu agar membantu bobot bayi prematur cepat naik. 

Kedua, jaga suhu tubuh bayi BBLR ini dengan cara membedong dan rajin mengecek suhu tubuhnya. Bayi prematur, terutama dengan kondisi BBLR, belum mempunyai cukup lemak untuk membantu tubuhnya beradaptasi dengan suhu lingkungannya yang baru. Karena itu saya selalu meletakkan thermometer digital di sisi bantal bayi karena suatu hari usai beberapa hari kepulangannya, saya pernah panik ketika memegang kaki dan tangannya yang mendadak dingin. Hal ini sempat kami konsultasikan ke dokter anak dan jawabannya demikian yang dijelaskan sebelumnya. 

Ketiga, bayi prematur bisa dibilang gemar tidur sehingga kami harus membuat jadwal minum susu yang konsisten yang ketika tiba waktu menyusu. Kalau bayi masih tidur, maka wajib dibangunkan untuk disusui. Ini adalah saran dari perawat bayi di ruang perinatologi, yang diberikan sebelum kami pulang. Bagian ini yang cukup menantang bagi kami karena selalu ada pergulatan rasa tidak tega dan realita yang harus kami jalani untuk menopang kebutuhan susunya. 

Keempat, pemberian suplemen zat besi yang dosisnya disesuaikan dengan bobot bayi. Berdasarkan literasi yang saya baca kala itu dan dokter anak yang membersamai komunitas Prematur Indonesia, pemberian suplemen zat besi sesuai rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) bermanfaat untuk membantu memenuhi kebutuhan tubuh bayi prematur/ prematur BBLR yang sangat rentan mengalami defisiensi zat besi. Menurut dokter, suplemen zat besi ini sebaiknya mulai diberikan pada bayi prematur pada usia 1 bulan. 

Kelima, kami juga disarankan memeriksa mata bayi -terutama pemeriksaan retina, bila memungkinkan- secara rutin ke dokter mata anak. Hal ini karena beberapa bayi prematur memiliki potensi penyakit mata yang disebut retinopati prematuritas (ROP), sebuah kondisi dimana penglihatan mata anak akan terganggu bila tidak sejak dini ditangani.  Selain itu, bayi premature juga lebih sering mengalami risiko mata juling dibanding bayi tipikal. 

Karena banyak kondisi yang harus kami jaga, maka kami memutuskan keluar rumah hanya untuk keperluan ke rumah sakit saja, sampai bayi kami cukup kuat beradaptasi dengan lingkungan barunya di luar rahim. Di sisi lain, kami sangat bersyukur karena keluarga di lingkaran utama memberi dukungan penuh dan mau memahami kondisi bayi yang berbeda dari para sepupunya kala masih bayi. Ibu dan kakak-kakak saya terus kami informasikan apa saja yang wajib mereka ketahui dalam membantu merawat bayi kami. Selain memberi dukungan moral dalam merawat bayi, mereka juga mendukung dalam mengurus pekerjaan rumah seperti membantu menjemur dan menyetrika pakaian dan mengirim makanan setiap hari ke rumah setelah kami memutuskan untuk kembali ke rumah, sampai kami dinilai cukup mandiri untuk melakukan rutinitas harian seperti sebelum ada bayi. 

Harapan saya, teman-teman perempuan yang harus merasakan persalinan awal dan melahirkan bayi prematur menjadi tidak merasa sendiri dan berani untuk meminta tolong kepada suami, saudara, orang tua dan teman akrab kita, juga jangan segan meminta pertolongan kepada tenaga medis saat memang membutuhkannya. Bagi para ibu yang mengalami kondisi serupa, jangan ragu untuk bergabung dalam komunitas prematur yang ada di lingkungan sekitar atau secara daring, karena saya akui dampaknya cukup signifikan terutama dari segi literasi dan pengalaman yang dibagikan sesama anggota komunitas, sehingga menghapus “rasa sendiri” dalam merawat dan membesarkan bayi prematur berbagai kondisi, termasuk bayi prematur BBLR. 

Untuk pemerintah, saya berharap semakin giat dalam mensosialisasikan dan membagi literasi persalinan dini dari segi pemicu, risiko pada ibu dan bayi, serta cara menangani bayi pasca persalinan. Peran pemerintah juga penting dalam meningkatkan keterampilan tenaga medis dan menyediakan tenaga ahli psikologi di berbagai pelosok agar mendukung tumbuh kembang bayi prematur dan menjaga kondisi emosi ibu. Demikian, semoga tulisan saya bermanfaat untuk para Sahabat Ruanita. 

Penulis: Aini Hanafiah, relawan Ruanita di Norwegia, dikontak via akun instagram: aini_hanafiah, dan menulis berdasarkan wawancara dengan Mosi Retnani.

(CERITA SAHABAT) Apa Itu Niksen dari Belanda?

Hai, sahabat Ruanita! Perkenalkan saya, Ristiyanti Handayani, atau yang biasa dipanggil Risti. Saya sudah menetap sekitar 10 tahun di kota Utrecht, Belanda. Aktivitas sehari-hari saya adalah karyawan swasta dan juga ibu rumah tangga. Saya senang dapat berpartisipasi dalam program cerita sahabat, terutama menceritakan pengamatan dan pengalaman saya seputar praktik baik tinggal di Belanda.

Saat ini, saya akan bercerita tentang Niksen yang (mungkin) sudah diketahui oleh sebagian sahabat Ruanita. Apa itu Niksen sebenarnya? Memang banyak orang akhir-akhir ini, membicarakan tentang Niksen, yakni salah satu filosofi yang diyakini dan dilakukan oleh orang-orang Belanda. Ketika saya pulang kampung di Indonesia beberapa waktu lalu, ada juga orang yang bertanya tentang Niksen ini.

Sebetulnya, Niksen itu konsep filosofi yang diyakini orang-orang Belanda untuk tidak melakukan apa pun dalam jangka waktu yang tidak lama, hanya sekitar beberapa menit saja. Niksen berasal dari kata „Niks“, yakni tidak ada apa-apa.

Salah satu contoh Niksen, yang sering saya amati dari kebiasaan suami sebagai orang Belanda melakukan Niksen, yakni dia duduk santai di halaman belakang rumah atau di balkon rumah kami. Dia hanya duduk saja, melihat sekitar, seperti pohon-pohon, atau beragam binatang kecil seperti kupu-kupu, lebah dll, terutama ketika dia melakukan work from home, nah, dia akan keluar dari ruang kerja dan pergi duduk santai di kebun belakang. Kadang dia memperhatikan kucing tetangga yang sedang bermain, sekitar 5-10 menit. Dia melakukan Niksen tidak lebih dari 15 menit, kemudian dia melanjutkan pekerjaannya kembali. Menurut suami, dia menjadi lebih fresh dan aktif bekerja kembali di belakang komputer.

Ibu mertua saya melakukan kebiasaan Niksen itu biasanya untuk sekitar 5-10 menit saja dengan berbaring. Berbaring saja, itu kebiasaannya yang masih dilakukan sampai sekarang. Sementara saya melakukan Niksen hanya duduk di ruang tamu sambil memperhatikan setiap benda yang ada, karena saya senang sekali menata interior rumah. Meskipun itu dalam kondisi diam, tetapi saya pada akhirnya punya ide untuk memindahkan ini dan itu. Contoh lainnya, saya berdiri di depan jendela saja. Mungkin orang akan bertanya: „Ngapain begitu?“.

Contoh Niksen di tempat kerja, biasanya saya akan berjalan keluar ruangan atau sedikit ngobrol dengan sesama rekan kerja lainnya sambil duduk menikmati cahaya matahari, saat saya betul-betul lelah bekerja. Biasanya orang-orang di sini sudah tahu, mereka melakukan Niksen. Meskipun itu cuma 15 menit saja, tetapi itu sangat membantu di situasi kerja. Saya dan suami biasanya juga suka jalan bersama menuju taman kota dekat rumah, lalu meski hanya sebentar duduk di bangku taman.

Niksen itu adalah aktivitas yang sangat sederhana sekali, yang bisa membuat kita merasa lebih bugar, lebih fresh, dan lebih fokus pada akhirnya. Niksen itu dilakukan dalam waktu yang tidak lama, hanya sebentar saja.  Menurut saya, Niksen adalah perilaku seseorang  tidak melakukan apa-apa atau  tidak melakukan sesuatu kegiatan ragawi yang aktif untuk beberapa saat. 

Melalui cerita sahabat ini, saya ingin menuangkan berbagai gagasan dan pengalaman seputar Niksen. Seperti anggapan bahwa Niksen itu adalah kemalasan dalam tanda kutip, karena bila kata „Niksen“ diterjemahkan dari kata Bahasa Inggris menjadi kemalasan. Namun, saya berpendapat bahwa Niksen itu bukan berarti kita malas, karena kita tidak melakukan apa-apa. Kemalasan dan Niksen itu jelas berbeda. Kemalasan dalam bahasa Belanda berarti „Luiheid“.

Niksen tidak bisa diartikan sebagai sebuah kemalasan. Niksen merupakan suatu aktivitas untuk mengalihkan sesaat dari rutinitas produktif, terutama yang menguras energi dan perhatian. Itu sebab, seseorang perlu waktu sesaat untuk relaks atau rehat sejenak. Itu disebut Niksen. Sedangkan, kemalasan itu cenderung pada seseorang yang memang tidak melakukan kegiatan produktif. Sementara, Niksen adalah mereka benar-benar melakukan kegiatan produktif, tetapi mereka membutuhkan sedikit rehat untuk kembali fokus. Oleh karena itu, saya bisa mengatakan bahwa Niksen itu bukan kemalasan.

Oh ya, praktik Niksen itu dalam waktu pendek pun bisa dilakukan di sela-sela bekerja. Misalnya, orang bisa duduk-duduk sambil minum yang disukainya. Praktik Niksen ini membantu agar waktu kerja menjadi lebih efektif dan efesien, karena saat ini di Belanda tidak dianjurkan „bekerja lembur“. Selain bayaran upah lembur itu besar, orang yang bekerja lembur berarti mereka bekerja melebihi batas kemampuan mereka, sehingga itu membuat mereka lebih stres akan pekerjaan mereka. Bekerjalah secara normal dan efesien dibarengi praktik Niksen, agar hidup lebih seimbang.

Anggapan lainnya juga menyebutkan bahwa Niksen itu seperti stress release atau praktik mindfulness. Apakah benar demikian, sahabat Ruanita? Kalau menurut saya, Niksen boleh saja dianggap demikian. Niksen memungkinkan otak kita rehat atau beristirahat sejenak. Hal ini membantu kita kembali  untuk fokus dan berpikir lebih segar. Itu menurut saya. Setelah melakukan Niksen, kita menjadi refresh untuk pikiran dan jiwa raga kita.

Itu sebab, ada banyak manfaat untuk jiwa dan raga terkait praktik Niksen. Mental kita merasa lebih tenang. Pikiran kita menjadi lebih jernih. Tentu, tubuh merasa lebih segar atau bugar kembali. Itu yang saya rasakan, sehingga kita bisa lebih fokus untuk melanjutkan apa yang sedang kita lakukan.

Menurut saya, praktik Niksen itu menjadi booming sekitar 15 tahun belakangan ini yang berkaitan dengan gaya hidup dan pola kerja yang tidak berimbang (work and life balance) sehingga berakibat pada problema kesehatan mental. Pada akhirnya, orang pun berpikir bahwa bekerja untuk hidup, bukan hidup untuk pekerjaan. Sejak itu, banyak orang melakukan sesuatu yang membuat kesehatan mentalnya tetap terjaga, salah satunya dengan praktik Niksen ini.

Bagi orang Belanda sendiri, praktik Niksen bisa jelas terlihat masif misalnya saat weekend. Saat weekend dan cuaca cerah, orang-orang Belanda itu paling senang duduk-duduk di taman kota atau bangku-bangku yang tersedia di area publik. Mereka juga suka memenuhi teras-teras atau kafe-kafe ketika cuaca cerah selama weekend. Mungkin bagi kita yang tidak terbiasa, kesannya kehidupan orang-orang Belanda begitu santai, padahal mereka sudah bekerja keras di hari-hari weekdays. Di saat weekend, mereka biasanya betul-betul melupakan semua itu sesaat.

Kehadiran Niksen bisa dilihat dari sejarahnya, kemungkinan berawal dari rutinitas kehidupan moderen, seperti tekanan kerja. Sementara, orang-orang Belanda sendiri memiliki istilah menikmati hidup, yang dikenal Lekker-genieten. Niksen tidak bisa disamakan dengan konsep healing. Pada prinsipnya, Niksen adalah cara untuk mencegah agar tidak terjadi masalah-masalah seperti stres atau beban kerja. Sedangkan healing berarti penyembuhan, karena sudah terjadi. Bukankah lebih baik mencegah daripada mengobati?

Terakhir, saya sependapat tentang studi yang menyatakan bahwa Niksen ini memang membantu orang memunculkan ide-ide baru, sehingga orang-orang menjadi lebih kreatif atau produktif lagi. Meskipun kita sedang „Niks“ atau tidak melakukan apapun, otak kita tetap masih memproses informasi, termasuk untuk memecahkan masalah yang ada. Berdasarkan pengalaman pribadi, saat saya „Niks“, justru saya menemukan gagasan yang melintas dalam kepala saya.

Pesan saya kepada sahabat Ruanita, kalau kalian bekerja, manfaatkan waktu secara efesien. Jika kalian sudah mencapai batas ambang kelelahan, selingi sesuatu seperti praktik Niksen sesuai dengan kemampuan masing-masing agar tidak stres. Lakukan Niksen agar kerja lebih efektif dan produktif, asalkan target kerja tercapai. Kira-kira seperti itu gambaran Niksen yang saya ketahui. Artinya, kita meluangkan waktu, meskipun itu dalam waktu durasi singkat untuk tidak melakukan apa pun atau Niks, kata orang Belanda. Hal ini dilakukan agar tubuh tetap dapat rileks, sehingga pikiran menjadi kembali fokus dan hidup kita menjadi seimbang.

Penulis: Risti Handayani, tinggal di Belanda.