(CERITA SAHABAT) Dari Au Pair ke Mahasiswi: Pertukaran Budaya dan Tantangan Tinggal di Finlandia

Halo, sahabat Ruanita! Namaku Lina Herliana. Aku perempuan Indonesia yang saat ini tinggal di Finlandia dan sedang menjadi mahasiswi di tingkat akhir. Perjalananku ke sini bukan sesuatu yang langsung terjadi begitu saja. Ada banyak hal yang kualami—kegagalan, penolakan, kesepian, musim dingin yang tak mudah, dan juga berbagai tantangan yang muncul ketika aku berani mencoba lagi hingga di titik ini sekarang. 

Kali ini ini, aku ingin bercerita pada sahabat Ruanita semua tentang bagaimana aku bisa menjadi peserta program Au Pair di usia 27 tahun, yang mana pada saat ini batas usia program Au Pair adalah 26 tahun, lalu akhirnya aku bisa berstatus sebagai mahasiswi di negeri yang jauh dari tanah air.

Semuanya bermula dari satu keinginan: aku ingin tinggal di Belanda. Alasan utamanya karena aku ingin bisa lebih sering bertemu nenekku yang tinggal di sana. Namun, waktu itu usiaku sudah 27 tahun, dan banyak program tinggal di luar negeri—termasuk program au pair—yang memiliki batasan usia maksimal 26 tahun. Aku sempat bingung, sehingga aku mulai mencari cara lain agar bisa tetap ke Eropa, terutama ke Belanda.

Dari hasil berselancar di Google dan nonton beberapa channel YouTube, aku mengenal program Au Pair. Aku mulai mencari tahu lebih dalam dan akhirnya mendaftar di situs aupairworld.com. Aku sempat beberapa kali wawancara dengan calon host family di Belanda, tapi sayangnya tidak berhasil. Akhirnya, aku memutuskan untuk tetap pergi ke Belanda menggunakan visa schengen dan mendaftarkan diri sebagai relawan di organisasi migran dan multikultural di sana.

Follow us

Aku sempat tinggal di Belanda selama lebih dari sebulan, menjadi volunteer, dan dari situ temanku menyarankan untuk mencoba lagi untuk mendaftar Au Pair. Aku kembali membuka akun lamaku di situs Au Pair, dan tanpa ekspektasi besar, aku mengubah lokasi ke Finlandia. “Siapa tahu beruntung,” pikirku waktu itu.

Ternyata benar. Dalam waktu 24 jam, aku langsung mendapat balasan dari salah satu keluarga di Finlandia. Kami berdiskusi dan dalam satu hari kami sudah sepakat. Bulan berikutnya, aku pun berangkat ke Finlandia. Sebagai informasi, Finlandia menerapkan batas maksimal apply program Au Pair adalah 30 tahun. Beruntungnya, saat aku apply di Finlandia, usiaku masih belum sampai 30 tahun. 

Awalnya aku masuk Finlandia masih dengan visa schengen dari Belanda. Baru kemudian aku mengajukan visa au pair dari Finlandia langsung. Prosesnya tidak mudah. Pengajuanku sempat ditolak oleh imigrasi Finlandia karena sertifikat bahasa yang aku lampirkan dianggap kurang resmi.

Untungnya, host family-ku sangat mendukung. Mereka sampai menyewa pengacara untuk mengajukan banding. Kami harus menunggu hampir dua tahun sampai visa itu akhirnya keluar. Aku mengajukan permohonan pada Maret 2019, dan baru mendapat visa pada Januari 2021. Proses panjang itu benar-benar menguji kesabaran, tapi aku bersyukur, host family-ku tetap percaya dan memperjuangkan aku.

Setelah beberapa waktu tinggal di kota Tampere, aku pindah ke Helsinki. Di sana aku bekerja penuh waktu di sebuah restoran cepat saji. Restoran itu juga yang membantu proses perpanjangan izin tinggalku. Sambil aku menunggu perpanjangan visa, ibuku wafat di Indonesia. Aku benar-benar sedih saat itu, karena aku tidak bisa pulang untuk menunggu proses pengajuan perpanjangan visa yang belum selesai.

Selain itu, pengalaman tidak mengenakkan sempat terjadi, di mana aku ditolak lagi oleh imigrasi. Namun, aku berhasil mendapat bantuan dari pengacara publik (yang di sini gratis), dan akhirnya berhasil mendapatkan keputusan positif. Saat itu, aku bekerja selama enam bulan sambil mencoba mendaftar kuliah—sekadar mencoba keberuntungan saja.

Aku memang sejak dulu tertarik dengan dunia kuliner. Suatu hari, iklan pendaftaran kuliah muncul di timeline Instagram-ku. Padahal waktu itu pendaftaran sebenarnya sudah tutup. Aku tetap coba apply, dan tiga bulan kemudian aku mendapat undangan wawancara. Ternyata, aku diterima!

Katanya, karena ada mahasiswa yang keluar, dan mereka kekurangan orang. Rasanya seperti tidak dapat dipercaya, aku bisa berkuliah di Finlandia. Aku akhirnya menjadi mahasiswi di bidang culinary di Finlandia.

Salah satu hal yang membuatku bersyukur bisa belajar di sini adalah karena sistem pendidikan Finlandia yang sangat baik. Untuk pemegang izin tinggal tipe A seperti aku, kami bisa mengakses pendidikan secara gratis, bahkan mendapat bantuan dari pemerintah. Aku menerima housing allowance dan study support yang cukup untuk membantuku bertahan hidup di sini. Tentu, aku tetap harus mandiri dalam hal makan dan transportasi, tapi dukungan itu sangat berarti—terutama bila dibandingkan dengan apa yang aku bisa akses di negara sendiri.

Budaya Finlandia juga sangat berbeda. Salah satu culture shock paling besar adalah soal sauna. Di sini, sauna adalah bagian penting dari kehidupan. Mereka biasa beramai-ramai masuk sauna tanpa busana. Aku tidak bisa dan sampai sekarang belum pernah ikut sauna bareng orang lain. Buatku, aku bisa memiliki batas pribadi yang tetap aku jaga karena aku adalah orang Indonesia.

Soal bahasa, aku justru senang. Aku memang suka belajar bahasa baru, jadi tidak kesulitan berkomunikasi. Namun, hal yang sulit justru datang dari musim dingin yang panjang dan ekstrem. Di bulan November dan Desember, Finlandia sangat gelap dan dingin—matahari hampir tidak muncul. Rasanya sangat sepi dan menekan. Tahun-tahun pertama aku tidak terlalu terpengaruh, tapi setelah 3-4 tahun tinggal di sini, dampak musim dingin itu mulai terasa secara mental.

Untuk menjaga kewarasan, aku biasanya mencoba menghibur diri. Anak-anak di keluarga – tempat aku tinggal – mereka suka sekali bermain salju. Jadi, kami sering bermain bersama. Kadang juga kami pergi ke Lapland, ke tempat Santa Claus, dan mencoba olahraga musim dingin. Itu lumayan mengangkat suasana hatiku karena musim dingin di Finlandia.

Sahabat Ruanita, aku pernah juga mengalami hal yang menyakitkan sebagai Au Pair. Pengalaman paling menyakitkan selama menjadi Au Pair, terjadi di bulan terakhir masa tugasku. Hanya karena aku menolak ikut ke summer cottage untuk mengasuh anak-anak, host family-ku tiba-tiba memintaku keluar dari rumah. Aku bahkan tidak menerima uang saku di bulan itu. Rasanya seperti ditendang tanpa peringatan.

Untungnya, aku sudah punya keluarga baru yang siap menerima aku dua minggu kemudian. Sambil menunggu mereka yang sedang liburan, aku kembali ke Belanda untuk sementara. Setelah itu, aku kembali ke Finlandia dan langsung pindah ke rumah host family yang baru.

Pengalaman itu sangat memengaruhi kondisi psikologisku. Namun, di sisi lain, itu juga membuatku lebih kuat dan lebih sadar bahwa hidup di perantauan membutuhkan ketegasan dalam membangun batas diri. Aku belajar untuk tidak bergantung pada orang lain dan harus siap dengan segala kemungkinan.

Sebagai mahasiswi kuliner yang juga seorang muslim, aku pernah khawatir akan diminta memasak makanan yang bertentangan dengan prinsipku. Tapi ternyata, kekhawatiran itu tidak terbukti. Di sini, para pengajar sangat menghormati pilihan pribadi. Aku selalu terbuka dan jujur tentang apa yang bisa dan tidak bisa aku lakukan, dan mereka justru mencari pengganti bahan yang sesuai.

Toleransi di Finlandia cukup tinggi. Selama kita jujur dan terbuka, mereka tidak akan memaksa. Itu hal yang membuatku semakin nyaman belajar di sini.

Finlandia sering disebut sebagai negara paling bahagia di dunia. Namun, kalau aku tanya langsung ke orang Finlandia, mereka sendiri sering merasa tidak selalu bahagia. Tingkat depresi di sini juga cukup tinggi. Tapi yang membuat Finlandia layak disebut negara bahagia adalah karena kesejahteraan warganya sangat terjamin, sistem pendidikannya bagus, dan mereka sangat mencintai alam.

Dan aku pun merasa bahagia di sini. Aku merasa disupport secara nyata—sesuatu yang tidak aku dapatkan di negara sendiri.

Kalau kamu ingin datang ke Finlandia sebagai Au Pair atau mahasiswa, ada dua hal yang harus kamu siapkan: fisik dan mental menghadapi musim dingin, serta kesiapan menghadapi masyarakat yang sangat introvert. Orang Finlandia tidak suka basa-basi. Mereka tidak mudah tersenyum atau memulai percakapan. Jadi, jangan cepat merasa ditolak.

Selain itu, kamu juga harus open-minded, terutama dalam menghadapi perbedaan budaya dan agama. Jangan terlalu kaku dengan aturan pribadi yang tidak fleksibel, karena justru itu yang bisa membuatmu kesulitan beradaptasi.

Dan yang tak kalah penting, dukungan keluarga juga sangat berarti. Tidak semua orang tua Indonesia rela melepas anaknya tinggal di luar negeri, apalagi ikut program au pair yang belum terlalu umum.

Aku berharap pemerintah Indonesia bisa lebih memperhatikan para Au Pair di luar negeri, terutama di negara-negara seperti Finlandia yang belum punya badan perlindungan resmi. Kalau terjadi sesuatu seperti yang kualami dulu—diusir tanpa alasan yang jelas—tidak ada tempat bagi kami untuk mengadu.

Kalau bisa, dibuatlah kerja sama bilateral agar ada sistem pengawasan dan perlindungan yang jelas. Program Au Pair ini sebenarnya positif. Banyak orang Indonesia yang mendapat pengalaman dan peluang hidup baru dari sini. Sayang sekali kalau potensi itu tidak dimaksimalkan atau malah membiarkan risiko-risiko tanpa perlindungan hukum.

Sahabat Ruanita, itulah sepotong perjalanan hidupku yang penuh putaran, dari Indonesia ke Belanda, lalu akhirnya ke Finlandia. Dari relawan, menjadi Au Pair, hingga kini menjalani hidup sebagai mahasiswi di negara yang memberiku ruang untuk tumbuh dan belajar.

Mungkin sahabat Ruanita yang membaca ini juga sedang mencari jalan. Kalau iya, semoga kisahku bisa jadi pengingat: jalan itu mungkin panjang dan berliku, tapi bukan berarti tidak bisa ditempuh.

Penulis: Lina Herliana, yang tinggal di Finlandia dan dapat dikontak via akun instagram linaherl_

(CERITA SAHABAT) Was I not Worth a Goodbye?

Sahabat Ruanita, saya menggunakan dating apps selama lebih dari enam tahun untuk mencari jodoh di Jerman. Saya bertemu dengan beragam laki-laki dari sana. Laki-laki pertama yang saya temui baik dan kami saling menyukai.

Walau pada akhirnya tidak berakhir dengan baik, tapi kali menyelesaikannya dengan baik-baik dan pamit. Laki-laki selanjutnya ada yang mirip, ada juga berbeda, ada mereka menghilang begitu saya tanpa jejak. Perilaku seperti ini sekarang disebut dengan ghosting.

Makna dari ghosting sendiri adalah menghilang tanpa jejak. Seperti hantu (ghost), orang yang melakukan ghosting tidak terlihat tanpa jejak. Menurut saya di-ghosting itu tidak enak. Saya sendiri sudah tidak ingat lagi berapa kali di-ghosting, tapi yang paling membekas di ingatan saya adalah kejadian pada tahun 2017-2018. 

Waktu itu saya dekat dengan seorang laki-laki yang berbeda negara dengan saya. Dia tinggal di Belanda dan saya tinggal di Jerman. Kami pernah bertemu satu kali, saat saya ke Belanda untuk mengunjungi teman baik saya.

Kota tempat tinggal laki-laki ini sebenarnya hanya sekitar satu jam dari kota teman saya, tapi saat itu dia sebenarnya sedang tugas di Inggris. Dia sengaja pulang ke Belanda untuk bertemu saya di kota tetangga. Duh, bikin ge-er sekali ‘kan?

Sebelum dan setelah bertemu semuanya berjalan baik. Setiap hari kami berkomunikasi via tulisan atau telepon. Di telepon kami juga sudah membicarakan, bahwa perkenalan yang kami lakukan ini bertujuan untuk menikah, bukan hanya sekedar main-main saja.

Waktu itu kebetulan mendekati acara wisuda saya dari salah satu universitas di Jerman. Dia bersedia datang menjadi pendamping wisuda saya. Dia sudah setuju untuk mengambil penerbangan pagi dari Belanda ke Jerman karena acara wisuda baru di sore hari pukul 16.30.

Namun dua minggu sebelum saya wisuda, dia menghilang begitu saja tanpa kabar. Ketika itu kami sudah kenal kurang-lebih enam bulan, bukan waktu yang singkat.

Saya ingat, pesan saya di Whatsapp waktu itu berhari-hari belum contreng biru. Mungkin saking ingin menghindar dari saya, dia sampai tidak membuka pesan saya di handphone-nya, jadi hanya membacanya di smartwatch saja. Mungkin.

Itu hanya fantasi saya. Suatu saat tiba-tiba pesan tersebut bercontreng biru dan saya mendapatkan balasan dari dia, yang hanya bilang dia sedang sibuk. Mungkin dia tidak sengaja membuka pesan saya jadi terpaksa harus membalasnya. Mungkin. Itu adalah pesan terakhir yang saya dapatkan dari dia. 

Selama saya menggunakan dating apps, saya pernah juga beberapa kali di-ghosting beberapa laki-laki, tapi laki-laki ini satu-satunya yang membuat saya sangat patah hati dan kecewa karena di-ghosting.

Mungkin karena saya sudah berharap banyak dari dia. Saya butuh waktu lama untuk sembuh dari patah hati saya. Sampai sekarang kejadian tersebut masih membuat saya sedih dan bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi dengan dia.

Jujur, saya juga pernah ghosting ke orang lain, tapi biasanya yang baru mengobrol atau mungkin pernah bertemu sekali, tapi tidak pernah berbicara masalah serius, apa lagi sampai tentang niat menikah.

Benar-benar masih dalam tahap perkenalan awal. Saya melakukan itu biasanya karena tidak tahu dan tidak enak untuk menolak orang, jadi saya menghindari mereka dengan menghilang dari mereka. 

Follow us

Saya juga beberapa kali di-ghosting orang saat di tahap yang sama, tapi itu juga tidak terlalu membekas di ingatan saya. Mungkin karena memang masih baru kenal dan/atau saya sendiri juga tidak suka dengan mereka.

Tapi apa yang laki-laki di Belanda lakukan itu menurut saya kejam sekali. Saya sering memikirkan apa yang salah dari saya sampai dia tidak mengatakan langsung ke saya.

Apakah saya terlalu dominan? Mengapa dia menghilang begitu saja? Saya salah apa? Apa dia juga merasa tidak enak memutuskan saya, makanya menghilang? Apa dia ilfil a.ka hilang feeling ke saya? Begitu buruknya kah saya sampai dia ilfil dan ghosting saya? Dan pikir-pikiran lain yang membuat saya sedih juga tidak percaya diri. 

Saya sempat mengirimkan pesan mengkonfrontasi dia. Saya bertanya mengapa dia keeping distance ke saya dan sebagai orang dewasa sebenarnya kita bisa berbicara jika ada masalah.

Saya juga bilang kalau saya merasa dia tidak punya respect ke saya karena apa yang dia lakukan. Hasilnya nihil, dia tetap tidak bergeming untuk membalas pesan saya. Saya sebenarnya juga ingin menuliskan hal lain ke dia, tentang saya memaafkan dia walau permintaan maaf itu tidak pernah saya dapatkan, tapi untungnya sahabat saya melarang saya untuk mengirimkannya.

Oh iya, mungkin 1-2 bulan, sejak dia ghosting saya, dia aktif lagi di dating app tempat kami berkenalan, padahal sebelumnya saat bersama saya sudah tidak aktif lagi.

Saya memerlukan waktu lama sampai akhirnya bisa mulai melupakan dia. Saat itu saya senang mencari quotes di Instagram yang bisa mewakili isi hati saya. Saya follow seseorang di Instagram yang banyak menulis komik strip tentang patah hati.

Suatu hari dia pos sebuah komik hanya dengan satu paragraf, “Was I not worth a goodbye?”. Saya menangis saat membaca itu. Ini seperti berasal dari hati terdalam saya. Apakah saya tidak berharga sampai seorang laki-laki berhenti menghubungi saya tanpa bilang apa pun? 

Mungkin waktu itu saya me-repost komik tersebut di Whatsapp story saya, saya tidak ingat lagi, tapi seingat saya ada kenalan laki-laki, yang waktu itu dekat dengan saya dan tahu cerita saya di-ghosting laki-laki sebelumnya, menenangkan saya dengan bilang, “It’s not the worth of your, he showed his worth.

Kata-kata itu menyejukkan saya yang sedang mellow. Mungkin sejak itu saya mulai bisa berdamai dengan diri sendiri. Apa pun alasan dia ghosting saya waktu itu, dia hanya menunjukkan buruknya nilai atau kualitas dia.   

Penulis: Anonim.

(CERITA SAHABAT) Mulai dari Cerita Horor ke Cerita Supranatural di Turki

Halo, sahabat Ruanita! Kembali lagi dengan saya Karin yang tinggal di Turki. Ini adalah kali ketiga, saya berpartisipasi dalam program cerita sahabat. Tulisan saya yang pertama dan kedua, bisa kalian baca langsung di website Ruanita ya, www.ruanita.com

Kali ini, saya akan berbagi pengalaman yang berbeda. Saya bercerita tentang pengalaman mistis, yang belum tentu mudah dipercayai. Saya sudah lebih dari empat tahun tinggal di Turki. Setelah menikah, pada bulan september 2020, kami pindah ke ‘Apartemen Baru’. Apartemen tersebut benar-benar baru dibangun dan penghuninya hanya ada beberapa orang, termasuk kami. 

Kami tinggal di lantai 2 nomor 9. Bangunan apartemen kami hanya memiliki empat lantai dan letak apartemen kami berada di pojok, dekat dengan lift. Pada hari pertama kami pindah, kebetulan suami saya saat itu punya jadwal shift malam. Saya pun tidur sendirian akhirnya di kamar. Pada pukul 23.30, suami saya berangkat kerja. Setelah suami saya pergi, saya kembali ke kamar untuk siap-siap tidur. Sebelum tidur seperti biasa, saya membaca doa dan mematikan lampu kamar. 

Saat saya tertidur saya bermımpi, dikejar- kejar seorang pria. Dalam mimpi tersebut, pria itu mencekik leher saya dan mendorong saya ke arah pohon besar. Cekikannya terasa sangat kencang sehingga saya susah bernafas dan perlu meminta tolong. Tiba-tiba, almarhum ayah saya datang ke mimpi dan menepuk-nepuk bahu, sambil memanggil panggilan kecil saya (dede). Ayah saya memanggil dengan suaranya bass-nya dan nada medok orang Jawa. Ayah saya memanggil:  ‘De… De… De… Dedeee’. Seketika saya terbangun dengan nafas terengah-engah. Saya merasa lelah sekali saat itu. Saya kemudian cek handphone, ternyata saat itu baru sekitar pukul 02.30 pagi. 

Rasa mengantuk saya kemudian hilang dan bercampur sedih haru. Dalam mimpi itu, saya merasa ayah saya sedang melindungi saya dari kejauhan. Karena saya tidak bisa tidur, akhirnya saya menunggu pagi sampai suami saya pulang bekerja. Saat sarapan, saya bercerita dengan suami. Menurut suami, apa yang saya alami merupakan ‘Sleep Paralysis’ di mana saya merasa seperti tidak bisa bicara dan tidak bisa melakukan apa-apa. Itu seperti pengalaman ketindihan. Secara logika, saya pun setuju karena sleep paralysis bisa dijelaskan secara medis. 

Hari kedua, saya masih tidur sendirian. Saat beranjak tidur, seperti biasa saya berdoa dan hanya menyalakan lampu tidur. Saya tertidur pulas, kemudian tiba-tiba saya terbangun di antara kenyataan atau mimpi. Saya merasa selimut saya tiba-tiba seperti ada yang menekan-nekan di pinggir kedua kaki saya. Saya merasa seperti ada gelombang besar dan dingin di atas selimut. Saya merasa seperti akan menggulung kaki saya. Saat itu, saya dengan sekuat tenaga menendang selimut dan langsung menyalakan lampu, termasuk lampu di kamar mandi. 

Saya melihat jam, ternyata jam menunjukkan pukul 02.30 pagi. Saya mencoba tidur lagi. Kali ini, saya tidur dengan lampu menyala. Tidak lama tertidur, saya terbangun lagi karena dari bawah selimut kaki saya seperti ada gelombang yang dingin. Namun, saya hanya merasa dari kaki sampai betis saja. Seketika saya bangun lagi dan melihat jam pukul  04.00 pagi waktu Turki. Pada akhirnya, saya menunggu sampai pagi atau suami saya tiba di rumah. Saya tidak menceritakan kepada suami karena saya sudah tahu jawabannya. Itu pasti dijawab dengan logika dan tidak akan percaya. 

Follow us

Hari ketiga tinggal di apartemen, saya shalat maghrib dan membaca surat yasin di kamar sebanyak 3 kali. Saat saya mau tidur, saya memegang tasbih dan berzıkir sampai saya tertidur. Alhamdulillah, hari ketiga saya bisa tidur dengan tenang. Selama satu minggu, saya membaca surat yasin sebanyak tiga kali, setelah shalat maghrib. Setelah kejadian itu, saya menanamkan di pikiran saya, bahwa semua itu hanya halusinasi. Mungkin pengalaman itu, disebabkan saya terlalu lelah atau capek. 

Pada tahun 2023, saat musim panas seperti biasa, saya dan suami suka memancing di laut. Sebelum memancing, saya biasanya menyiapkan bekal untuk makan di sana. Saat saya sedang memasak, suami saya mengatakan bahwa dia akan pergi ke parkiran mobil untuk menaruh barang-barang dan membeli umpan ikan. Tak lupa, suami bertanya kalau saya mungkin memerlukan sesuatu karena suami ingin pergi ke supermarket terdekat. Saya pun bersemangat untuk menyahut keperluan yang bisa dibeli di supermarket. Saya menduga suami akan berpergian selama lima belas menit dan segera kembali.

Sekitar lima menit berlalu, ada suara pintu mengetuk. Saya langsung bergegas untuk membuka. Saat saya membuka pintu,  tidak ada siapa-siapa di sana. Saya berpikir itu pasti anak kecil yang suka iseng. Biasanya ada anak kecil yang suka iseng memencet bel pintu. Saya pun segera lanjut memasak dan mengabaikan ketukan pintu tersebut. 

Saat saya lanjut memasak, kembali pintu depan diketuk tetapi bunyinya kali ini lebih kencang dengan dua kali ketukan. Saya pun menjawab ‘sebentar’. Ketika saya membuka pintu, tiba-tiba ada angin segar seperti melewati tubuh saya. Saya langsung merinding saat angin tersebut melewati tubuh saya itu. Padahal saat itu sedang musim panas lebih dari 32 derajat dan waktu itu sekitar pukul dua siang. Karena penasaran, saya pun bergegas keluar pintu mengecek lift dan tangga, apakah ada orang iseng yang mengetuk-ngetuk pintu. Namun, saya tidak menemukan siapa-siapa. 

Saat saya kembali masuk dan melanjutkan memasak yang hampir selesai, tiba-tiba pintu depan seperti membuka kunci pintu. Saya pikir orang itu adalah pencuri seperti dalam film serial Killer, yang mau masuk ke rumah. Ternyata suami saya pulang ke rumah. Di perjalanan memancing, saya bercerita kejadian tersebut. Suami saya merespon bahwa mungkin saja itu anak kecil yang biasanya iseng. Anak kecil biasanya mengetuk pintu, kemudian dia bersembunyi saat saya tidak tahu. Suami pun berujar bahwa dia juga dahulu sering melakukan keisengan serupa, memencet bel pintu tetangga dan langsung kabur. Mendengar penjelasan suami, saya pun mengamini kalau mungkin itu perbuatan anak kecil.

Pada tahun 2024 bulan Agustus, merupakan bulan terakhir musim panas. Kebiasaan saya saat akhir musim panas adalah saya membereskan dan menyimpan pakaian di bawah tempat tidur. Di bawah tempat tidur, ada tempat untuk penyimpanan barang. Saya menjadikannya sebagai tempat untuk menyimpan seprei, selimut, handuk, dan pakaian. 

Saat saya membuka kasur untuk menaruh barang di bawahnya, di atas kasur saya mendengar bunyi yang membuat saya kaget. Saya pun langsung melihat ke atas kasur, ternyata tidak ada apa-apa. Saya masih berpikir positif, bahwa itu mungkin masalah kasur saja. Saya kembali merapikan baju di bawah kasur saya tersebut, kemudian saya bercerita ke suami saya. Suami saya merespon bahwa itu mungkin disebabkan pegas penyangga, karena kami sudah memakainya sekitar empat tahun. Mungkin pula, kami sudah seharusnya  mengganti kasur yang baru. Dalam hati kecil saya, sebenarnya masih ragu apakah pegas kasur kami rusak, padahal kasur tersebut masih sangat layak dan enak dipakai. Saya pun sudah tidak memikirkan hal itu lagi. 

Beberapa hari setelah itu, suami saya mendapatkan giliran masuk shift malam.  Saya kembali tidur sendirian. Pada suatu malam, saya terbangun sekitar pukul 3.30 pagi. Saya mendengar suara tetapi tidak saya gubris. Saya pikir bahwa itu mungkin saja kucing di luar. Saya  pun sangat mengantuk saat itu dan saya tidur kembali. Saya tidak menghiraukan suara-suara tersebut. Pukul 07.00 pagi saya bangun dan pergi ke kamar mandi. Saat saya keluar dari kamar mandi dan hendak mematikan lampu lorong, yang dekat dengan pintu masuk. Saat saya hendak menekan saklarnya, saya melihat lampu bohlam terjatuh. Saya melihat ke atas, ternyata lampu bohlam dekat pintu masuk itu copot. Saya mengambil bohlamnya dan langsung badan saya merinding, teringat akan bunyi semalam. Hal ini yang belum bisa saya jelaskan secara logika, termasuk suami saya. Saat saya bercerita ke suami, dia hanya diam. Lampu bohlam tersebut benar-benar jatuh,  seperti orang mencopot lampu dan tidak ada retak atau goresan apapun. 

Saya selalu berpikir, apabila memang ada energi atau entitas lain, saya tidak peduli, asalkan tidak mengganggu kami di rumah. Karena kejadian-kejadian yang saya alami, saya menjadi lebih rajin membaca kitab suci, terutama saat malam jumat. Saya selalu menanamkan di pikiran saya, bahwa Allah menciptakan  manusia sebagai makhluk paling mulia, apabila kita bertaqwa kepadaNya. Oleh karena itu, saya tidak pernah takut karena saya selalu percaya Allah pasti melindungi saya dari segala marabahaya. Sejak saat itu sampai dengan hari ini saya menulis, tidak pernah ada hal-hal aneh lagi terjadi di apartemen saya. 

Cerita lain, di luar dari apartemen saya adalah, saat saya berkunjung ke usaha jahit milik sepupu suami saya. Tepatnya di pagi hari tahun 2023, saya pergi berkunjung ke sana.  Usaha jahit tersebut terletak di sebuah Ruko, yang berada tepat di bawah apartemen yang berbeda satu blok dengan saya. Saat itu, saya hanya sekedar berkunjung dan berbicara sedikit untuk melatih bahasa Turki saya. 

Di ruko tersebut, ada sepupu suami saya, ada seorang penjahit yang bekerja di sana, dan seorang nenek sedang duduk memegang satu gelas air putih, sambil membacakan mantra.  Selesai dia membacakan mantra, satu gelas yang dipegang nenek diberikan ke sepupu suami saya. Sepupu suami saya membagi air dalam satu gelas tersebut untuk dituang dan dicampurkan ke dalam dua botol air minum besar, berukuran 1.5 liter. Setelah itu, satu botol besar tersebut, sepupu suami saya minum airnya, mencuci mukanya, dan menyipratkan ke seluruh ruangan ruko miliknya. Dia mulai melakukannya mulai dari mesin jahit, komputer, kain-kainnya, benang-benangnya, bangku-bangku, sampai pada jendela yang dicipratkan air tersebut. 

Sisa air yang ada di botol kemudian disiram ke luar, tepatnya di pinggir-pinggir rukonya. Saya pun semakin penasaran dan bertanya ke dalam bahasa Turki. Saya bertanya tentang air tersebut dan mengapa dia melakukan hal tersebut. Saya pun bertanya perihal nenek yang membacakan mantra. Sepupu suami saya merespon pertanyaan saya sambil tersenyum. Dia mengatakan bahwa nenek yang datang membacakan mantra merupakan orang istimewa yang khusus datang untuk membuat air untuk “Nazar”. Nenek itu juga berdoa dengan menggunakan media air, agar dapat menjauhkan orang jahat yang mungkin mau menjatuhkan bisnis sepupu suami saya. Selain itu, sepupu suami saya juga berharap bahwa kehadiran nenek dan apa yang dilakukannya mendatangkan peruntungan, seperti banyak pelanggan yang datang ke usaha jahitnya.  

Saya pun menceritakan kepada sepupu suami bahwa tradisi di Indonesia pun ada dan biasanya mantra yang disampaikan itu berasal dari kitab suci. Sepupu suami saya pun menjawab, apa yang dibacakan nenek tadi pun bersumber dari kitab suci yang berbahasa Turki kuno. 

Hal lain terkait pengalaman mistis. Suami saya pernah ditawarkan oleh temannya untuk berkunjung ke suatu pedesaan di Turki, untuk mendatangi salah seorang ahli spiritual. Teman suami rupanya memiliki bisnis. Istrinya beliau juga orang asing. Mereka bermaksud mendatangi ahli spiritual dengan tujuan melihat peruntungan bisnisnya. Sekali mengunjungi ahli spiritual tersebut, teman suami saya membayar minimal 3000 lira atau sekitar 1.4 juta rupiah. Teman suami saya menjelaskan ahli spiritual tersebut melihat dari tanggal lahir dan astrology kita. Selanjutnya, dia memberitahu apa yang seharusnya dilakukan dan tidak dilakukan untuk mendapatkan keberuntungan hidup. 

Suami saya tidak mempercayai hal seperti itu. Menurut logika suami, mungkin saja ahli spiritual tersebut adalah seorang motivator yang menyemangati orang-orang untuk dapat sukses dalam melakukan bisnisnya. Suami juga berpendapat mungkin saja ahli spiritual tersebut sebenarnya adalah seseorang yang bisa memanipulasi pikiran seseorang. Saya berpikir kembali, mungkin saja logika suami saya benar, karena suami saya benar-benar tidak percaya akan ada hal-hal seperti itu.

Sekian cerita dari saya, saya secara pribadi percaya bahwa ada entitas lain di dunia ini yang tidak terlihat secara kasat mata. Namun, percayalah selama kita adalah manusia yang beriman dan bertaqwa kepadaNya, kita tidak akan merasakan takut atau cemas, karena kita yakin bahwa Allah selalu ada untuk melindungi umatnya yang percaya akan kekuasaan-Nya. 

Penulis: Karin yang tinggal di Turki dan dapat dikontak via akun instagram @noviakarina19.

(CERITA SAHABAT) Kata dan Buku adalah Harta Karun Kita

Sahabat Ruanita pernah mendengar istilah tsundoku atau bibliomania?  Saya baru-baru ini saja mengenal istilah-istilah tersebut, tapi tenyata saya sudah lama menjadi salah seorang yang melakukan praktiknya.  Apa sih tsundoku atau bibliomania itu? 

Istilah ini ternyata mengacu pada seseorang yang lebih banyak membeli buku daripada membacanya.  Ya, salah satunya adalah saya. Meskipun sudah mencoba untuk mengurangi belanja buku, tetap saja koleksi buku saya lebih banyak dari waktu yang bisa saya luangkan untuk membacanya.

Dari situ saya sempat terpikir untuk membuat kelompok baca bareng, bahasa kerennya sih book club ya.  Selain untuk memberikan kesempatan buku-buku untuk dibaca orang lain juga, saya juga bermimpi bahwa lewat kegiatan itu saya bisa meluangkan waktu untuk semakin sering membaca dan menemukan teman untuk ngobrol tentang berbagai tema seru.

Beberapa tahun ide ini mengendap di kepala, sampai akhirnya terpikir, sepertinya harus mulai dari versi digital dulu.  Maka lahirlah akun Instagram Wortschatz Book Club (@wortschatz.bookclub) di akhir tahun 2019, yang disusul dengan kanal membaca nyaring di Youtube dengan nama yang sama.  

Mengapa namanya Wortschatz? Apalagi dicampur dengan Book Club, aduh, bahasa Jerman campur bahasa Inggris. Mana bahasa Indonesianya?

Nama ini saya pilih karena pertama, memang tujuan saya adalah sesama orang Indonesia yang tinggal di Jerman, atau orang Jerman yang tertarik akan buku dan bahasa Indonesia, sehingga mereka pasti sudah familiar dengan kata ini. 

Follow us

Alasan kedua, saya suka sekali terjemahan langsung dari kata Wortschatz.  Meskipun kata Wortschatz artinya adalah „kosakata“ dalam bahasa Indonesia, namun jika diterjemahkan mentah-mentah kata ini mengandung sebuah arti yang indah: harta karun kata-kata.  Coba bayangkan, betapa kata-kata adalah harta yang sangat berharga. 

Buku anak sendiri selalu menarik untuk saya karena saya suka sekali melihat dan membaca buku yang berwarna-warni.  Pada waktu saya mulai belajar bahasa Jerman, suami saya – yang pada saat itu bahkan belum berstatus sebagai pacar – membelikan saya sebuah buku anak berbahasa Jerman yang lucu sekali.  Sejak saat itu, saya jadi sering mencoba untuk membaca buku anak untuk menambah kosakata.  

Alasan lain mengapa saya tidak keberatan untuk membeli dan mengumpulkan buku anak adalah untuk memanjakan diri sendiri. 

Meskipun saya tumbuh di dalam keluarga dengan banyak buku dan bahan bacaan di rumah, membeli buku anak dengan kertas tebal, full color dan berhalaman sedikit bukanlah prioritas karena untuk kami termasuk mahal sekali. 

Buku anak masa kini pun isinya sangat beragam.  Tidak seperti di masa kecil saya di mana pilihan kami adalah membaca dongeng nusantara cetakan stensil hitam putih yang penuh dengan titipan pesan moral atau cerita-cerita terjemahan putri-putrian Disney.  Jadilah saya sangat menikmati berbagai buku bacaan anak yang bervariasi, seru dan juga menarik secara visual.

Sewaktu kecil orang tua saya rajin menceritakan dongeng Si Kancil dan membacakan nyaring buku, artikel surat kabar, bahkan serial komik Manusia Laba-Laba yang terbit setiap akhir pekan di koran lokal. 

Karena itulah ketika berpikir-pikir, bagaimana ya caranya „berbagi“ buku tanpa harus mengirim buku fisiknya, saya terpikir untuk melakukan aktivitas membacakan nyaring atau read aloud

Sebagai guru bahasa Inggris dan bahasa Indonesia, saya juga merasa bahwa mendengarkan suara orang Indonesia yang membacakan kalimat-kalimat bahasa Indonesia dengan kecepatan yang terkontrol pasti juga membantu untuk memperkuat asosiasi antara tulisan dan ucapan kosakata bahasa Indonesia, melatih pendengaran sekaligus melatih pelafalan.

Saya sangat beruntung, karena saya mendapatkan kontak beberapa penerbit buku anak yang mengijinkan saya untuk membacakan buku-buku anak terbitan mereka, serta menampilkannya di kanal Youtube Wortschatz Book Club sebagai kegiatan non-profit. 

Dalam beberapa tahun terakhir ada juga semakin banyak alternatif bacaan anak berkualitas yang tersedia secara legal secara digital yang boleh digunakan dalam kegiatan literasi anak. 

Kalau kita berbicara tentang membaca, tentunya kita tak bisa lepas dari berbagai tujuan dari kegiatan membaca itu sendiri.  Selain membaca untuk bersantai, bersenang-senang atau masuk ke dunia fantasi, kita juga membaca untuk mengumpulkan informasi. 

Kita semua pasti pernah membaca buku demi menyelesaikan tugas di sekolah atau kampus, atau membaca buku manual untuk mengetahui cara mengoperasikan alat elektronik yang baru dibeli, atau membaca tabloid gosip untuk tahu berita gosip artis terbaru.  Itu semua adalah informasi yang bisa kita dapatkan dari berbagai sumber bacaan.

Untuk menghemat waktu dalam mengumpulkan informasi, ada banyak teknik membaca yang seringkali dirangkum dalam istilah speed reading.  Saya sendiri paling sering menggunakan dua teknik yang bernama scanning dan skimming

Scanning adalah sebuah teknik di mana kita membaca sekilas sebuah teks, atau membaca bagian-bagian tertentu sebuah teks, untuk memahami inti utama dari isi teks tersebut.  Sementara skimming adalah sebuah teknik di mana kita secara khusus mencari informasi tertentu dalam teks, misalnya ketika harus menjawab pertanyaan dalam ujian yang memuat bahan bacaan.  

Menurut saya, penting sekali untuk mengenalkan kegiatan membaca sebagai sesuatu yang menyenangkan, sekaligus memperkaya pengetahuan.  Oleh karena itu mengambil waktu untuk benar-benar menikmati seluruh aspek dari buku dan kegiatan membaca adalah fokus dari kegiatan membaca pada usia dini. Dalam kegiatan read aloud, kita mengeksplorasi sebuah buku dari gambar sampulnya, warna-warninya, sampai jalan cerita dan rima bahasanya. 

Menanamkan prinsip bahwa kegiatan membaca adalah sesuatu yang menyenangkan ini penting karena pada saat anak mulai masuk sekolah, kegiatan membaca akan lebih banyak bertujuan untuk mengumpulkan informasi dan pelan-pelan bergeser dari „kesenangan“ menjadi „tugas“. 

Pada saat anak mulai banyak membaca di sekolah inilah pelan-pelan bisa diperkenalkan beberapa konsep dasar speed reading, misalnya seperti mengenali bahwa banyak ide utama dalam sebuah paragraf bisa ditemukan di kalimat pertama atau kalimat terakhir dari paragraf tersebut. 

Hal ini di kemudian hari akan membantu anak untuk melakukan teknik scanning atau skimming secara sederhana, meskipun belum mengenal istilahnya.  

Salah satu kelebihan utama dari kegiatan read aloud adalah mendekatkan anak dengan buku dan tulisan jauh sebelum anak bisa membaca sendiri. 

Melalui pendekatan audio dan visual, kombinasi suara orang tua atau pendamping yang membacakan teks dengan ilustrasi dan bentuk huruf-huruf yang ada di halaman buku, anak mulai dibiasakan untuk memahami bahwa teks dan rangkaian huruf di atas kertas memiliki makna.

Dalam teks yang dibacakan nyaring, anak sudah biasa mengenali elemen 5W 1 H; apa yang terjadi, siapa yang melakukannya, di mana kejadiannya, kapan kejadiannya, mengapa terjadi, dan bagaimana bisa terjadi.  Bukankah ini elemen-elemen umum dalam hampir semua cerita dan teks informatif?

Karena itu skill atau kemampuan yang kita dapatkan dari kegiatan read aloud menjadi modal kita untuk memahami teks tertulis ketika kita sudah bisa membaca sendiri, sebuah kelebihan yang juga direkam dalam berbagai penelitian yang dirangkum oleh Jim Trelease dalam bukunya The Read-Aloud Handbook (7th Edition, Penguin Books, New York, 2013).

Dalam kegiatan Wortschatz Book Club sendiri kami sering bertemu dengan banyak keluarga yang sudah secara rutin melakukan kegiatan read aloud di rumah. 

Ada juga yang mengatakan bahwa mereka mempelajari teknik read aloud dari salah satu workshop singkat yang diberikan oleh Wortschatz Book Club dalam rangka Hari Anak Nasional 2021 dan sudah berhasil memraktikkannya di dalam keluarga. 

Senang sekali mendengar sharing seperti ini, karena saya optimis bahwa anak-anak yang sudah biasa menikmati kegiatan membaca nyaring bersama keluarga akan punya kesan positif terhadap kegiatan membaca, dan semoga akan terus membaca sampai mereka dewasa.

Tentu buku cetak konvensional memiliki saingan berat di dunia keseharian.  Perkembangan teknologi bisa menjadi peluang sekaligus tantangan dalam dunia buku. 

Di satu sisi kemajuan teknologi memberikan semakin banyak kesempatan untuk membaca dalam berbagai format dan kesempatan.  Di sisi lain, teknologi juga menciptakan banyak alternatif “hiburan“ yang lebih menarik dan serba instan jika dibandingkan dengan buku.

Saya mungkin sedikit kuno, namun saya cenderung berhati-hati dengan penggunaan AI atau kecerdasan artifisial untuk membantu membaca dan merangkum bahan bacaan.  Meskipun tidak ada salahnya mencoba berbagai teknologi terbaru untuk membantu mempermudah hidup, namun banyak hal dalam kehidupan sehari-hari, termasuk membaca, adalah skill atau kemampuan yang harus terus diasah.  

Kemampuan untuk membaca secara kritis sangatlah penting dalam kehidupan modern yang semakin lama semakin mengaburkan batas antara dunia nyata dan dunia maya. Harapannya tentu saja agar para pembaca mampu dengan cepat mengenali informasi penting di dalam tulisan yang ditemukan di dunia nyata maupun dunia maya, dan tidak sekadar terjebak hanya membaca judulnya saja, alias terkena judul click bait.  

Sejak pertengahan tahun 2023 Wortschatz Book Club juga secara rutin mengadakan kegiatan luring di kota Frankfurt am Main, saat ini fokusnya masih pada literasi anak.  Dalam beberapa kesempatan, ada juga keluarga yang menanyakan mengenai kemungkinan untuk bersama-sama belajar bahasa Indonesia bersama anak-anak keturunan Indonesia. 

Mungkin akan segera terwujud kegiatan ini? Mungkin juga suatu saat di masa depan meluas pada kegiatan literasi untuk seluruh anggota keluarga, bukan anak-anak saja? Mohon dukungan dan bantuan doanya ya, Sahabat Ruanita.  Dan selamat membaca bersama keluarga!

Penulis: Etty Prihantini Theresia, bisa dikontak via @wortschatz.bookclub atau @ep_theresia atau Facebook Etty Prihantini.

(CERITA SAHABAT) Menjalani Kehidupan Damai di Tanah Eropa

Hidup bersama dalam damai bagi saya adalah sebuah pencapaian. Itu adalah keadaan di mana kita merasa tenang karena semua kebutuhan dasar, seperti tempat tinggal, telah terpenuhi. Saya bersyukur memiliki rumah yang bebas dari beban utang bank, yang memberi saya kedamaian batin dan rasa aman hingga masa tua. Kedamaian ini bukan hanya soal materi, tetapi juga perasaan bahwa saya dan keluarga memiliki fondasi kuat untuk menjalani hidup.

Ketika berbicara tentang Hungaria, negara tempat saya tinggal saat ini, khususnya di ibu kota Budapest, saya melihat toleransi sebagai bagian penting dari kehidupan masyarakatnya. Orang-orang Hungaria, umumnya, ramah dan suka membantu, terutama ketika saya membutuhkan informasi atau bantuan kecil lainnya. Meski demikian, saya belum pernah secara langsung menyaksikan konflik yang diselesaikan dengan pendekatan damai. Namun, harmoni yang saya rasakan di sini memberikan pelajaran berharga.

Hungaria juga mengajarkan saya tentang keberagaman. Sebagai orang Indonesia, saya melihat masyarakat di sini sangat menghargai kebebasan berekspresi selama tidak merugikan orang lain. Komunitas Indonesia di Budapest pun dapat menjalankan berbagai kegiatan, seperti pertemuan arisan atau jalan-jalan bersama, tanpa hambatan. Tradisi Hungaria yang menjunjung tenggang rasa ini menjadi landasan penting dalam menciptakan kehidupan yang damai.

Salah satu hal menarik di Hungaria adalah peran seni dan budaya dalam membangun harmoni. Festival musik dan pameran budaya yang rutin digelar setiap tahun menjadi ruang bagi masyarakat untuk mengekspresikan keberagaman karakter dan visi mereka. Inisiatif ini, menurut saya, adalah cara yang indah untuk menguatkan kesadaran akan pentingnya hidup bersama dalam damai.

Follow us

Namun, tantangan tetap ada. Belajar untuk benar-benar menerima perbedaan adalah pekerjaan yang tidak mudah, baik di Hungaria maupun di tempat lain. Meski demikian, upaya pemerintah dan organisasi lokal untuk mempromosikan dialog lintas budaya menjadi langkah positif yang layak diapresiasi. Sebagai orang Indonesia di mancanegara, saya percaya bahwa berpartisipasi dalam program-program lokal, berinteraksi dengan masyarakat, dan menghargai budaya setempat adalah kontribusi kecil yang dapat berdampak besar.

Pengalaman saya di Hungaria memberikan pelajaran penting yang dapat diterapkan di Indonesia: merangkul keberagaman untuk membangun harmoni sosial. Sebagai bangsa yang plural, kita memiliki potensi besar untuk memperkuat persatuan melalui penghargaan terhadap perbedaan. Pluralisme ini harus dipelihara sebagai aset, di mana kita yang berbeda latar belakang bisa berjalan bersama menuju tujuan yang sama.

Harapan saya untuk masa depan sederhana saja. Saya ingin melihat dunia, termasuk Hungaria dan Indonesia, terus hidup dalam kondisi damai sejahtera. Saya berharap kita semua dapat menjadi teladan dalam mempraktikkan nilai-nilai hidup bersama dalam damai, saling menginspirasi, dan saling menguatkan.

Kepada sahabat Ruanita, pesan saya adalah hidup apa adanya. Nikmati apa yang telah kita miliki, tetap bersyukur, dan bantu orang lain sesuai kemampuan kita. Dengan cara ini, saya percaya, hidup bersama dalam damai bukan hanya sebuah cita-cita, tetapi sebuah kenyataan yang dapat kita wujudkan bersama.

Penulis: Hayati Surjono, tinggal di Budapest dan dapat dikontak via akun Instagram szulcsan.hayati

(CERITA SAHABAT) Menemukan Harmoni Kawin Campur Indonesia – India Lewat Perjalanan Hidup di Goa, India

Setiap perjalanan hidup adalah untaian cerita unik yang penuh warna. Saya adalah Dian, seorang perempuan Indonesia yang kini menetap di Goa, India, membagikan kisah luar biasa tentang perjuangan, cinta, dan harmoni antarbudaya. 

Di balik tantangan yang dihadapi, saya menemukan kekuatan untuk bangkit dan membangun kehidupan baru yang lebih baik.

Hidup saya diwarnai oleh masa lalu yang kelam. Pernikahan pertama penuh dengan kekerasan rumah tangga, membuat hidup dalam ketakutan setiap hari. Namun, Tuhan punya rencana indah. 

Dalam proses melarikan diri dari penderitaan itu, saya bertemu dengan pria yang kini menjadi suami. Dengan penuh kesabaran, ia membantu saya keluar dari lingkungan penuh kekerasan.

Perjuangan terbesar saya adalah mendapatkan hak asuh kedua putra saya. Setelah melewati banyak tantangan, saya berhasil memperjuangkan kebersamaan mereka. “Bisa kembali bersama anak-anak adalah keajaiban,” itu pikiran saya.

Menikah kembali membawa saya ke Goa, kota pesisir yang terkenal akan keindahan arsitektur masa lalu dan harmoni keberagamannya. Awalnya, saya merasa canggung menghadapi budaya yang sangat berbeda dengan Indonesia. 

Namun, suami, seorang pria yang penuh pengertian, menjadi pendukung terbesar. Ia memberi kebebasan saya untuk bekerja sebagai guru TK dan mendorong saya mandiri.

Follow us

Perlahan, Goa membuka hati saya. Tradisi masyarakat lokal yang menghargai keberagaman mengajarkan saya tentang cara hidup harmonis di tengah perbedaan. Saya menemukan keindahan dalam toleransi dan kesederhanaan.

Hidup di negara asing tidaklah mudah. Saya menghadapi berbagai kendala, mulai dari perbedaan kebiasaan hingga akses transportasi yang kurang memadai dibandingkan di Indonesia.

Misalnya, kebiasaan masyarakat Goa yang bangun lebih siang menjadi tantangan bagi saya yang terbiasa bangun pagi untuk menyiapkan sarapan.

Namun, dari setiap tantangan, saya belajar untuk beradaptasi dan menghargai hal-hal sederhana. Bagi saya, hidup di Goa adalah proses belajar yang terus-menerus.

Di tengah kehidupan baru, saya berkomitmen untuk menjaga warisan budaya Indonesia. Saya mengajarkan anak-anak untuk selalu bersikap sopan santun khas Indonesia, menceritakan dongeng Nusantara, dan mengenalkan tradisi Indonesia. 

Bagi saya, ini cara saya memastikan mereka tidak melupakan akar budaya mereka, sehingga mereka bisa bangga menjadi anak-anak Indonesia, meskipun mereka besar di Goa, India.

Pernikahan antarbudaya memiliki tantangan tersendiri. Saya dan suami kerap menghadapi perbedaan pandangan, tetapi mereka selalu mengutamakan komunikasi. Menurut saya, kunci pernikahan kami adalah saling menghormati dan memahami.

Pesan suami seperti, “Patience, patience, and more patience”, menjadi pegangan saya dalam menjalani hari-hari sulit.

Dengan kesabaran, kami mampu menciptakan hubungan yang harmonis meski berasal dari latar belakang budaya yang berbeda.

Di Goa, saya menemukan dukungan dari komunitas gereja setempat. Mereka menjadi keluarga kedua yang selalu memberikan bantuan dan penguatan.

Kehadiran komunitas ini membuat saya merasa lebih nyaman dan diterima di lingkungan baru saya.

Teruntuk perempuan Indonesia yang mempertimbangkan pernikahan antarbudaya, saya berbagi pesan inspiratif: “Jadilah kuat. Pernikahan antarbudaya membutuhkan kesabaran, komitmen, dan pengertian yang mendalam. Pelajari tradisi pasangan Anda, karena itu adalah langkah awal untuk menciptakan hubungan yang harmonis.”

Melalui perjalanan panjang, saya kini memiliki impian sederhana: membesarkan anak-anak dengan nilai-nilai budaya Indonesia dan India.

Dengan komunikasi dan saling menghormati, saya yakin keluarga kami akan terus kuat dan penuh cinta.

Cerita tentang keteguhan hati dan cinta yang mengatasi perbedaan ini menunjukkan bahwa harmoni dapat tercapai di mana pun, selama ada rasa saling menghargai.

Penulis: Dianita Pramesti, relawan Ruanita Indoenesia, yang dapat dikontak via akun Instagram pramesti.dianita dan sedang tinggal di Goa, India.

(CERITA SAHABAT) Jaga Balita dan Anak Sakit di Swedia, Dibayar Pemerintah. Apa Iya?

Dalam dunia kerja di Swedia, seringkali saya mendengar rekan kerja berkata: ”Jag vabbar min son. Då stannar jag hemma”. Atau, ”Han vabbar sin dotter”, ujar seorang rekan kerja ketika saya menanyakan ketidakhadirannya. Saking penasarannya, apa sih vabbar itu? saya google untuk mencari tahu. Kalian penasaran juga kan?

Ternyata, menurut situs resmi Badan Asuransi Jaminan Sosial Swedia (Försäkringskassan), vabba itu sebuah kosa kata kerja Swedia yang diambil dari kata benda vab yang berarti vård av barn atau stay at home to take care the sick kid dalam bahasa Inggrisnya. 

Singkat kata, vab itu pengajuan sick leave yang dilakukan oleh orang tua karena harus mengurus anak yang sedang sakit di rumah. Istilah ini juga merujuk pada aktivitas harus menginap di rumah sakit. 

Nah, saat vabba itu tentu saja konsentrasi pada pekerjaan buyar. Fokus perhatian orangtua tertuju pada kondisi anak yang sedang sakit. Artinya, orang tua yang vabba itu tidak mampu menjalankan kewajiban pekerjaannya. 

Namun, ijin vabba ini tetap harus diajukan dan sepengetahuan pihak personalia di mana dia bekerja. Mengapa? Karena hal itu terkait dengan persyaratan saat pengajuan kompensasi berupa uang yang bakal didapat oleh pengaju vabba dari Badan Asuransi Jaminan Sosial Swedia (Försäkringskassan). 

Yup! Pengaju vabba akan mendapatkan penggantian sejumlah uang dari badan asuransi sosial negara tersebut. Tentu, nilai uang pengganti ke pengaju vabba itu ada standar perhitungannya, sesuai dengan ketentuan dan persyaratan Försäkringskassan dan kasus kategori vabba-nya. Sebagai informasi, batas usia anak yang boleh di-vabba oleh orang tuanya, yakni anak berusia 0 – 12 tahun. 

Lalu, seperti apa sih proses pengajuan kompensasi uang karena menjaga anak sakit (vabba) ke Försäkringskassan itu? 

Pertama, pengajuan kompensasi itu segera dilakukan ketika anak sudah sembuh dan sang orang tua sudah siap untuk bekerja kembali. Dalam pengajuannya itu mencantumkan jumlah hari yang membuat orang tua harus stay at home

Namun, ada maksimum jumlah hari stay at home yang bisa dikompensasikan. Biasanya jumlah hari tersebut hanya sampai 90 hari. Kedua, tentu proses pengajuan kompensasi itu harus dilengkapi lampiran dokumen berupa surat keterangan sakit sang anak tercinta dari dokter. 

Ya! Di Swedia, jika sakit dan harus stay at home atau stay at hospital sampai lebih dari 7 hari, maka pada hari ke-8 harus melampirkan surat keterangan sakit. Sebenarnya, informasi proses pengajuan hak tersebut sudah sangat jelas dan detil yang dapat dibaca di laman resmi www.forsakringskassan.se

Sahabat Ruanita perlu tahu prinsip sederhana vabba. Negara Swedia peduli dengan situasi kondisi orangtua yang harus just stay at home untuk mengurus balita dan anak tercinta yang sedang terbaring sakit. 

Bisa dikatakan, hal ini merupakan manfaat dari uang pajak yang kami bayarkan ke Pemerintah Swedia. Cukup lumayan jika dihitung total persentase pajak dari total penghasilan bulanan. Hitungannya bisa mencapai 30-50% dari total penghasilan. 

Belum lagi, setiap kami berbelanja, misalnya kebutuhan pangan, sandang, papan sampai tersier seperti elektronik, semua itu tetap ada perhitungan pajaknya (moms in Swedish) yakni 6%, 12% dan 25%. Singkat kata, pajak tinggi yang dibayarkan itu ada wujud nyatanya yang bisa dinikmati kembali oleh masyarakat Swedia.

Nah, kira-kira begitu pengalaman saya selama tinggal di Swedia. Bagaimana pengalaman sahabat Ruanita lainnya tentang cuti sakit sebagai orang tua? 

Penulis: Tutut Hanadayani, Kontributor Ruanita Indonesia yang tinggal di Swedia dan dapat dikontak lewat akun Instagram @kabarkoe

(CERITA SAHABAT) Melindungi Anak dengan Imunisasi – Fakta dan Harapan

Halo, Sahabat Ruanita. Kali ini Ruanita Indonesia kembali hadir dalam Cerita Sahabat bersama Astrid Kurniasari untuk membahas tema imunisasi pada anak. Astrid Kurniasari adalah seorang general practitioner (GP) yang kini berdomisili di Norwegia.

Setelah lulus dari pendidikan kedokteran Universitas Brawijaya Malang dan bekerja sebagai dokter poliklinik di Indonesia, ia pindah ke Norwegia pada tahun 2012 bersama keluarganya. Kini Astrid sedang menjalani program Lege i Spesialisering-1 (LIS-1) di rumah sakit dan fasilitas kesehatan kommune

Di Norwegia inilah Astrid merasakan pengalaman hidup dan karir yang berbeda, sekaligus menikmati keseimbangan antara bekerja dan membesarkan anak-anaknya. “Motivasi kami tinggal di Norwegia pada awalnya adalah untuk mendapatkan pengalaman hidup yang lebih seimbang. Negara ini sangat mendukung work-life balance,” tutur Astrid.

Kehadiran negara dalam bentuk kemudahan fasilitas daycare dan jatah parental leave yang panjang membuat Astrid sebagai orangtua mampu membesarkan anak-anaknya sekaligus berkarir dan bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. 

Follow us

Pengalaman Astrid dalam menangani pasien terkait imunisasi di Norwegia membuka wawasan baru. Dalam perjalanannya, Astrid tidak hanya menangani kasus kesehatan tetapi juga mendalami isu-isu penting seputar imunisasi.

Menurut Astrid, imunisasi adalah hak dasar setiap anak. “Ini adalah cara kita melindungi mereka dari penyakit yang sebenarnya dapat dicegah,” jelasnya. 

Ia menekankan bahwa manfaat imunisasi tidak hanya melindungi individu tetapi juga membentuk kekebalan komunitas (herd immunity). “Herd immunity sangat penting, terutama untuk melindungi kelompok rentan seperti bayi baru lahir, lansia, atau orang dengan sistem imun yang lemah.”

Sistem Imunisasi di Norwegia dan Pelajaran untuk Indonesia

Astrid menjelaskan bahwa imunisasi di Indonesia dibagi menjadi imunisasi yang diwajibkan dan yang dianjurkan, sedangkan imunisasi di Norwegia semua imunisasi bersifat dianjurkan (voluntary).

Meski program imunisasi di Norwegia bersifat sukarela, tetapi hampir semua keluarga mematuhinya. 

Pada prinsipnya, imunisasi dasar untuk bayi di Norwegia dilakukan di posyandu, sedangkan imunisasi ulangan (booster) dan yang dianjurkan untuk anak-anak dan remaja dilaksanakan di sekolah dasar dan sekolah menengah.

Selain itu ada juga imunisasi atau vaksinasi tambahan yang dianjurkan sebelum bepergian ke negara-negara dengan penyakit endemis tertentu; imunisasi ini dapat diakses secara mandiri dan dilakukan di klinik imunisasi khusus perjalanan ataupun di tempat praktik dokter. 

Sementara di Indonesia, imunisasi dasar, lanjutan dan mandiri bisa dilakukan di posyandu, sekolah, atau di tempat praktik dokter, rumah sakit, ataupun rumah imunisasi – sesuai dengan permintaan pasien.

Salah satu perbedaan utama antara Norwegia dan Indonesia adalah vaksin BCG. “Norwegia tidak memberikan vaksin BCG secara rutin karena bukan negara endemis tuberkulosis,” jelasnya.

Meski begitu, vaksin ini tetap diberikan kepada anak-anak dari kelompok risiko tertentu. Lalu vaksin Hepatitis A, tifoid dan DBD hanya diberikan atas permintaan khusus dari orang-orang yang akan bepergian ke negara dengan risiko penularan tinggi, dan ini tidak masuk dalam program pemerintah. Vaksin Varicella juga diberikan hanya jika ada permintaan pribadi karena tidak masuk program vaksin yang dianjurkan pemerintah.

Persepsi dan edukasi mengenai imunisasi di Indonesia dan Norwegia 

Astrid menyoroti beberapa perbedaan persepsi akan imunisasi di Indonesia dan Norwegia, namun menurutnya, sulit untuk membandingkan masyarakat di kedua negara tersebut. Perbedaan karakteristik yang sangat beragam di masyarakat Indonesia dari segi budaya, kepercayaan, tingkat ekonomi dan pendidikan turut mempengaruhi keragaman persepsi akan imunisasi.

Ini berbeda dengan masyarakat Norwegia tidak memiliki keragaman yang signifikan diantara sesama penduduknya, namun keragaman justru datang dari kelompok warga pendatang/imigran.

Menurut Astrid, baik Indonesia dan Norwegia memiliki tantangannya masing-masing dalam edukasi imunisasi namun kuncinya adalah penggunaan sarana penyampaian edukasi yang tepat tentang dan disesuaikan kondisi masyarakat.

Misalnya, di Norwegia, sumber informasi untuk imunisasi dari Folkehelseinstitutet (FHI) bisa diakses dengan mudah oleh siapapun dan tersedia dalam beberapa bahasa. Sedangkan di Indonesia, tidak semua orang dapat mengakses informasi imunisasi dari IDAI atau Kemenkes. Justru peran para pemimpin komunitas, pemuka agama dan tokoh masyarakat sangat kuat.

Di Norwegia, Astrid mengedukasi pasien dengan menunjukkan fakta dari sumber kredibel. Ia mencontohkan situs FHI di Norwegia atau CDC dan IDAI untuk masyarakat Indonesia. “Kunci meluruskan mitos adalah edukasi yang berkelanjutan,” jelasnya. Astrid menyoroti bahwa akses terhadap informasi menjadi kunci keberhasilan imunisasi di Norwegia. 

“Di sini, pemerintah menyediakan informasi yang mudah diakses dan tersedia dalam berbagai bahasa,” ungkapnya. Ia berharap Indonesia dapat mengadopsi pendekatan serupa dengan melibatkan tokoh masyarakat dan pemuka agama dalam edukasi imunisasi.

Sebagai dokter, Astrid sering menghadapi mitos-mitos seputar imunisasi, baik di Indonesia maupun di Norwegia. Salah satu mitos yang paling sering ia temui adalah anggapan bahwa vaksin MMR dapat menyebabkan autisme.

“Itu adalah mitos yang sudah dibantah oleh banyak penelitian ilmiah,” tegas Astrid. Ia juga mengklarifikasi mitos lain seperti batuk atau pilek tidak boleh divaksin” atau vaksin mengandung bahan haram untuk umat Muslim.

Mengenai efek samping vaksinasi, dari pengamatan biasanya minim sekali dan umumnya berupa demam ringan dan sedikit nyeri di bekas suntikan.

Ini memang akan membuat anak merasa kurang sehat atau rewel, namun bisa diatasi dengan membuat anak merasa nyaman, mengompres bekas suntikan yang sakit, atau memberikan obat paracetamol jika anak merasa nyeri atau demam.

Astrid kerap menjelaskan kepada pasiennya bahwa efek samping vaksin yang umum, seperti demam ringan atau rasa nyeri di area bekas suntikan, biasanya tidak sebanding dengan risiko penyakit yang dapat dicegahnya.

“Jika ada kekhawatiran mengenai efek samping atau reaksi alergi, sebaiknya bertanya langsung kepada tenaga medis dan merujuk pada sumber terpercaya seperti IDAI, WHO atau CDC,” tambahnya. 

Harapan Untuk Masa Depan

Astrid memiliki harapan besar untuk program imunisasi di Indonesia. “Tantangannya memang besar, mulai dari keberagaman masyarakat hingga geografis yang sulit,” katanya.

Namun, ia yakin bahwa tenaga kesehatan di Indonesia dapat terus bersemangat mengedukasi masyarakat. Dengan kolaborasi bersama komunitas dan tokoh masyarakat, cakupan imunisasi dapat ditingkatkan.

Di akhir wawancara, Astrid berpesan kepada orang tua yang masih ragu untuk memberikan imunisasi kepada anak-anak mereka.

“Vaksinasi adalah investasi untuk masa depan anak Anda. Jangan ragu untuk mencari informasi dari sumber yang terpercaya dan berkonsultasi dengan dokter.”

—-

Penulis: Aini Hanafiah, relawan Ruanita di Norwegia berdasarkan wawancara dengan Astrid Kurniasari yang dapat dikontak lewat akun instagram @astridku.

(CERITA SAHABAT) Jadikan Kakek-Nenek Sebagai Support System Untuk Anak-anak, Begini Pengalaman Saya

Halo, sahabat Ruanita! Ini kali kedua saya berpartisipasi dalam program cerita sahabat. Nama saya Berta. Saya berasal dari Bandung, Indonesia. Saya menikah dengan pria berkewarganegaraan Belanda, dan kami memiliki 3 orang anak. Tahun 2022 lalu, suami saya mendapatkan pekerjaan baru di Aalborg, Denmark, dan akhirnya kami pun pindah ke Denmark, kemudian menetap sampai dengan saat ini. 

Karena kami orang tua dengan latar belakang budaya yang sangat berbeda, antara budaya barat dan timur, terkadang memang muncul konflik-konflik kecil sehubungan dengan pola asuh anak. Namun, kami berdua selalu berkomunikasi dan mencari jalan tengah, seperti hal-hal terbaik  apa saja yang menurut kami patut diterapkan untuk anak-anak kami.

Sebelum kami pindah ke Denmark, kami tinggal di kota yang sama di mana kakek-nenek dari pihak suami juga tinggal di sana. Interaksi cukup dekat, karena kami tinggal tidak jauh dari rumah mereka.

Kami bergantian berkunjung, terkadang kami yang pergi ke rumah kakek-nenek, terkadang kakek-nenek yang berkunjung ke rumah kami, terutama di hari-hari istimewa seperti hari ulang tahun, Hari Raya Natal, perayaan tahun baru atau Hari Raya Paskah. Jika jadwal memungkinkan, kami pun pergi berlibur bersama. Ini hal yang memang jarang dilakukan, karena sulit untuk menemukan jadwal yang cocok.

Sedangkan untuk kakek-nenek dari pihak saya di Indonesia, komunikasi dilakukan melalui whatsapp atau video call. Ini yang agak sulit, karena anak-anak saya tidak bisa  berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan fasih. Kakek-nenek mereka di Indonesia hanya berkomunikasi dalam bahasa Inggris yang sangat terbatas.

Anak-anak kami tidak memiliki ikatan khusus dengan salah satu pihak kakek-nenek, hanya karena kendala bahasa. Anak-anak kami lebih mudah berkomunikasi dengan kakek-nenek mereka di Belanda dibandingkan dengan kakek-nenek mereka di Indonesia.

Follow us

Kami  menjelaskan kepada anak-anak kami tentang pentingnya hubungan dan interaksi dengan kakek-nenek mereka, walaupun tinggal di negara yang berbeda. Dengan teknologi komunikasi yang semakin berkembang pesat saat ini, komunikasi lintas kota bahkan lintas benua tidak terlalu sulit dibandingkan beberapa tahun silam. Kakek-nenek walaupun tinggal jauh, adalah bagian dari keluarga dan ada hubungan darah. Anak-anak kami diajarkan untuk bersikap hormat terhadap kakek-nenek mereka.

Seperti yang dijelaskan di atas, ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk memastikan anak-anak tetap terhubung dengan kakek-nenek mereka. Bertepatan dengan ulang tahun anak kami yang bungsu, kakek mereka dari Indonesia berpulang ke Sang Khalik.

Mereka tidak bisa melihat kakek mereka sebelum dimakamkan untuk yang terakhir kalinya, karena ketika itu mereka masih terlalu kecil untuk dibawa ke Indonesia dalam kondisi yang hectic dan sulit untuk meminta ijin jangka panjang dari sekolah.

Menjelang akhir tahun 2019, nenek mereka dari Belanda berpulang ke Sang Khalik. Ini kondisi yang cukup berat, karena mereka menyaksikan bagaimana nenek sakit dan kondisinya terus menurun sampai akhirnya berpulang. Kami memberikan ruang dan waktu untuk mereka berkabung dan memroses situasi ini dengan cara mereka sendiri.

Pada bulan September 2021, kakek mereka berpulang ke Sang Khalik. Anak-anak pun dihadapkan dengan situasi yang sama di mana mereka menyaksikan kondisi kakek ketika sakit. Mereka ikut menyaksikan ketika dokter tidak bisa melakukan pengobatan lagi, dan  sampai selesai pemakaman.

Kami pun memberikan ruang dan waktu untuk mereka berkabung dan memroses segala sesuatunya, dan berkomunikasi dengan mereka dan tetap siaga ketika mereka ingin meluapkan emosi atau sekedar ingin mengobrol hal-hal yang berkaitan dengan kakek nenek mereka, baik dari Indonesia maupun Belanda.

Kami berpikir bahwa kakek-nenek anak-anak kami dari Belanda dan Indonesia berinteraksi dengan cara yang tidak terlalu berbeda, kecuali perbedaan bahasa. Kakek-nenek mereka dari Indonesia dan Belanda sangat protective (tapi bukan yang overprotective) terhadap cucu-cucu mereka.

Pada intinya, baik budaya Indonesia maupun Belanda mengajarkan tentang sopan santun dan hormat pada orang tua. Jadi, itu yang kami terapkan kepada anak-anak kami sehubungan dengan interaksi mereka dengan kakek-nenek mereka. Kami mengajarkan supaya anak-anak santun dalam bersikap, bertutur kata ketika kami berkunjung ke rumah kakek-nenek mereka, baik di Belanda maupun di Indonesia. Dalam hal ini, anak-anak tetap kami beri ruang untuk bermain dengan kakek-nenek mereka selayaknya anak-anak bermain dengan kakek nenek pada umumnya.

Anak-anak kami fasih berbahasa Belanda karena mereka lahir dan besar di Belanda, sehingga kakek-nenek di Belanda tidak ada kendala dalam hal berkomunikasi. Sebaliknya, anak-anak kami tidak fasih dalam berbahasa Indonesia karena satu dan lain hal. Kakek-nenek mereka di Indonesia belajar sedikit-sedikit bahasa Inggris sebagai jalan tengah dalam berkomunikasi dengan anak-anak kami.

Meski begitu, kedekatan anak-anak kami dengan kakek-neneknya seperti memberi ruang untuk anak-anak belajar. Kami berharap bahwa anak-anak kami belajar dari kakek-nenek mereka dari Indonesia dan Belanda, bagaimana mereka bekerja keras untuk bisa bertahan di tengah dunia yang semakin kompetitif.

Anak-anak diharapkan untuk belajar bahwa segala sesuatu harus melewati proses yang tidak selalu mudah, dan jangan pernah menyerah sebelum mereka mencapai garis finish. Kami berharap juga anak-anak bisa belajar pentingnya bersosialisasi dengan lingkungan sekitar, dimulai dari membangun hubungan baik dengan tetangga dan membangun network dengan orang banyak.

Kakek-nenek dari Indonesia dan Belanda mengajarkan pentingnya aktivitas bersama keluarga untuk memelihara hubungan yang satu dengan yang lain, walaupun tinggal berjauhan. Misalnya, makan malam bersama, menghabiskan akhir pekan bersama, merayakan hari raya bersama, bahkan melakukan hal kecil di rumah bersama keluarga seperti misalnya bermain permainan bersama.

Ketika anak-anak kami sedang berada di rumah kakek-nenek mereka di Belanda, dan mereka makan bersama, maka anak-anak akan mendapatkan dessert yang boleh mereka pilih sendiri, karena kakek nenek sudah menyiapkan beberapa dessert yang berbeda.

Ketika kami berkunjung ke rumah kakek nenek mereka di Indonesia, maka nenek akan menyiapkan menu ayam goreng sederhana yang menjadi menu favorit anak-anak setiap kali kami berkunjung ke Indonesia.

Tentunya, tidak mudah beradaptasi dalam menggabungkan tiga budaya (Indonesia, Belanda, dan Denmark) dalam kehidupan sehari-hari anak-anak kakak. Untuk budaya Indonesia dan Belanda, kami sebagai orang tua bisa mencari jalan tengah dan kompromi, sekiranya hal-hal apa saja yang baik untuk diajarkan kepada anak-anak kami.

Yang lebih sulit sebenarnya adalah mengenalkan budaya Denmark kepada mereka, karena terkadang kami sebagai orang tua maupun individu dewasa agak sulit memahami budaya Denmark, jika perbedaannya terlalu besar dengan budaya Belanda. Perlahan-lahan kami menjelaskan kepada anak-anak bagaimana kehidupan, budaya dan kebiasan orang-orang Denmark dan mengajarkan hal-hal baik yang bisa ditiru dan hal-hal yang tidak baik yang tidak perlu ditiru.

Tantangan terbesar lainnya adalah menjaga hubungan antara anak-anak dengan kakek-nenek di Indonesia, karena kendala bahasa dan perbedaan waktu yang cukup banyak, 5 jam di musim panas dan 6 jam di musim dingin. Agak sulit untuk mencari waktu yang tepat apabila anak-anak ingin berbicara langsung dengan kakek-nenek di Indonesia. Solusinya hanya dengan mengirim pesan lewat whatsapp.

Terkadang saya mencoba untuk merekam film-film pendek dan mengirimnya ke Indonesia sehingga kakek-nenek mereka bisa sedikit banyak mengikuti aktivitas anak-anak, dan mencoba mencari waktu yang tepat di akhir pekan untuk video call ke Indonesia.Sejak pindah ke Denmark, anak-anak memiliki perangkat telepon genggam masing-masing (karena mereka membutuhkannya untuk beberapa hal di sekolah), dan kami pun membuat grup whatsapp khusus untuk anggota keluarga , di mana anak-anak pun bisa saling berkirim pesan sebagai media komunikasi jarak jauh.

Kakek nenek di Belanda terlibat cukup aktif dalam mengasuh anak-anak. Ada kalanya kakek nenek di Belanda menjemput anak-anak dari sekolah, disaat kami berdua ada kepentingan lain yang waktunya berbenturan dengan jam pulang sekolah.

Sering berkunjung ke Indonesia tentu saja agak sulit karena biaya yang cukup tinggi untuk pergi ke Indonesia setiap liburan sekolah musim panas. Namun ketika kami ada kesempatan untuk berlibur ke Indonesia, maka kami akan memberikan waktu  kepada kakek nenek di Indonesia untuk membangun hubungan dan berinteraksi dengan cucu-cucu mereka.

Kakek-nenek dari kedua belah pihak berperan besar sebagai support system untuk keluarga kami. Ketika kami dalam situasi pelik, kami tahu kepada siapa kami bisa meminta tolong, walaupun mungkin hanya untuk menjaga anak-anak ketika kami harus ke suatu tempat. Dan kakek nenek di Indonesia pun adalah support system kami di Indonesia , sehingga kami pun bisa menikmati liburan yang agak terbatas waktunya.

Kakek-nenek dari kedua belah pihak tidak terlalu ikut campur dalam urusan pengasuhan dan pembelajaran anak-anak, karena biar bagaimana pun kami sebagai orang tua yang bertanggung jawab untuk mengasuh dan mendidik anak. Namun, kami selalu bisa meminta nasihat kepada kakek nenek jika kami sebagai orang tua tidak bisa menemukan solusi yang tepat berkaitan dengan pengasuhan dan pembelajaran anak-anak-

Saat ini, anak-anak kami hanya memiliki satu nenek dari Indonesia. Harapan saya secara pribadi adalah, anak-anak mau belajar bahasa Indonesia lebih banyak lagi, dan lebih aktif berkomunikasi dengan nenek mereka di Indonesia, walaupun hanya sekedar menanyakan kabar. Tentu saja, saya berharap bahwa kami sekeluarga bisa sering berkunjung ke Indonesia dan diberi kesehatan dan umur panjang.

Kakek-nenek dari kedua belah pihak memberi ciri  masing-masing dalam pembentukan indentitas anak-anak sebagai keluarga dari perkawinan campur. Kakek-nenek dari kedua belah pihak memperkaya cerita bagi anak-anak kami, sehingga mereka bangga sebagai anak-anak dari perkawinan campur.

Apabila saya bisa merencanakan liburan bersama dengan kakek-nenek dari kedua belah pihak, maka liburan yang paling cocok untuk keluarga kami adalah liburan tanpa jadwal yang padat merayap, tanpa ada tekanan untuk melakukan hal-hal yang belum tentu disukai oleh semua anggota keluarga. Menurut saya, yang paling penting dalam liburan bersama adalah menikmati waktu bersama tanpa ada keharusan melakukan hal ini dan itu.

Sebagai penutup, saya tidak punya nasihat khusus karena saya rasa setiap keluarga memiliki cerita dan latar belakang masing-masing yang berbeda-beda. Saya hanya ingin menambahkan pentingnya menjaga komunikasi dengan keluarga, entah itu kakek-nenek, sepupu, om atau tante. Walaupun tidak tinggal satu kota atau satu negara, mereka adalah support system yang terdekat, ketika kita menghadapi sesuatu masalah.

Penulis: Berta Situmeang, yang tinggal di Denmark dan dapat dihubungi via akun Instagram adenk_bvs

(CERITA SAHABAT) Pitt Hopkins Syndrome, Resiliensi Ibu, Cahaya Kecilku

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan, aku biasa dipanggil Amy dan kini menetap di United Kingdom (UK) sejak menikah dengan pria berkewarganegaraan asing. Aku juga seorang ibu dari tiga orang anak, yang mana anak pertama kini berusia 13 tahun, anak kedua sekarang berusia 11 tahun, dan anak ketiga berusia 1,5 tahun.

Anakku kedua ini yang mengubah hidupku sepenuhnya, karena dia begitu istimewa yang membuat hidupku berubah. Aku merasa istimewa sebagai seorang ibu, karena diberi amanah besar untuk merawat anakku, yang terlahir dengan Pitt Hopkins Syndrome. Justru, aku menyadari ini setelah aku pergi Umroh ke Mekkah dan bertemu dengan seorang perempuan bijaksana di sana. 

Perjalanan panjang diagnosa anakku kedua dengan Pitt Hopkins Syndrome, dimulai dari pengalamanku mengandungnya sejak kami masih di Dubai. Di Dubai, kami tidak punya keluarga, sementara keluarga besar suami tinggal di Inggris.

Suami memutuskan untuk tinggal di Inggris, karena kami hanya bertiga saat itu: aku, anakku, dan suamiku – di Dubai. Aku merasa kehamilan anakku yang kedua baik-baik saja, seperti kehamilanku sebelumnya. Hanya saja, medical record yang kupegang selama di Dubai tidak begitu detil dan komplit, sebagaimana yang diminta pihak petugas kesehatan di Inggris.

Pada umur kehamilan yang ketujuh bulan, aku pindah ke Inggris. Ketika dokter kandungan di Inggris memeriksa janinku, terlihat bahwa semua baik-baik saja. Berbagai tes kehamilan dimulai lagi dari awal, karena tak cukup informasi yang kubawa dari Dubai. Pada usia kandunganku saat itu sudah memasuki minggu ke-38, yang mana dokter memperhatikan bahwa pergerakan janin begitu lambat.

Follow us

Aku pun harus mengalami induksi.  Akhirnya, anakku kedua lahir dengan selamat. Anakku melewati serangkaian tes untuk memastikan kondisinya, tetapi respon yang diberikan anakku ini begitu berbeda. Dia begitu lamban merespon, yang kemudian membuat hatiku merasakan bahwa anakku yang kedua, sepertinya berbeda dari anakku yang pertama.  

Proses hingga mendapatkan diagnosis Pitt Hopkins Syndrome itu begitu panjang dan tidaklah mudah. Pada usia beberapa bulan, dia tidak menunjukkan perkembangan seperti bayi-bayi lainnya. Dia terlambat tengkurap, merangkak, dan sulit melakukan kontak mata dalam waktu yang lama. Awalnya, aku mencoba meyakinkan diriku bahwa setiap anak berkembang dengan kecepatannya sendiri.

Namun, hati kecilku berkata lain. Anakku yang kedua ini pernah sempat dikatakan, punya masalah dengan liver, karena dia tampak begitu kuning. Dia didiagnosa hyperbilirubinia. Hyperbilirubinemia adalah kondisi di mana kadar bilirubin dalam darah meningkat di atas batas normal. Bilirubin adalah zat kuning yang dihasilkan dari pemecahan sel darah merah dan biasanya diproses oleh hati, sebelum dikeluarkan melalui empedu ke dalam tinja. Anakku ini sampai dibawa ke rumah sakit khusus liver, nyatanya semua baik-baik saja. 

Ahli juga sempat menyebut anakku memiliki mitokondrial disorder. Mitokondrial disorder pada bayi baru lahir adalah kelainan yang terjadi akibat disfungsi mitokondria, yaitu bagian sel yang bertanggung jawab menghasilkan energi. Karena hampir semua sel tubuh membutuhkan energi, gangguan pada mitokondria dapat memengaruhi berbagai organ, terutama otak, otot, jantung, dan hati. Setelah dicek berkali-kali, anakku tidak memiliki kelainan tersebut, meskipun tumbuh kembang anakku begitu lambat. 

Pada usia sekitar tujuh bulan, anakku mulai mengalami batuk yang sangat parah. Kondisi ini menurut ahli, anakku didiagnosa Unsafe Swallow. Unsafe Swalow pada bayi baru lahir adalah kondisi di mana bayi mengalami kesulitan atau ketidakamanan saat menelan makanan atau cairan. Ini bisa terjadi karena berbagai alasan, termasuk gangguan neurologis, kelemahan otot, atau kelainan anatomi.

Jika tidak ditangani dengan baik, kondisi ini dapat menyebabkan aspirasi, yaitu masuknya cairan atau makanan ke saluran pernapasan, yang bisa berujung pada infeksi paru-paru (pneumonia aspirasi). Karena batuknya yang sangat parah, suatu kali, pernah aku merasa putus asa melihat kondisi anakku yang sudah koma, dengan oksigennya yang drop, dan bibirnya tampak biru. Feeling-ku sempat mengatakan: “Anakku meninggal. He is gone. He is gone. Alhamdulilah, anakku survive dan dia bisa bertahan.” 

Tak hanya itu, anakku yang kedua ini juga sempat didiagnosa oleh ahli memiliki visual sight impairment. Pada bayi baru lahir, visual sight impairment adalah kondisi di mana bayi mengalami gangguan penglihatan sejak lahir atau dalam beberapa bulan pertama kehidupannya. Ini bisa terjadi akibat kelainan pada mata, saraf optik, atau otak yang mengolah informasi visual. Diagnosa ini disebabkan anakku ini tidak bisa mengikuti objek yang dililhatnya, mungkin dia mengalami gangguan penglihatan. 

Sudah tidak terhitung lagi, berapa kali anakku harus bolak-balik rumah dan rumah sakit, hingga rumah sakit seperti rumah keduanya, padahal usianya saat itu masih belum dua tahun. Mondar-mandir ke rumah sakit dengan diagnosa yang bermacam-macam dan tidak tepat kerap membuatku semakin sulit, apalagi suamiku saat itu masih bekerja di Dubai. Beruntunglah, aku mendapatkan dukungan dari keluarga besar pihak suamiku di Inggris untuk membantu merawat anakku yang pertama dan membesarkan hatiku. 

Situasi begitu rumit dengan diagnosa anakku yang kedua. Pada saat dia berusia 6 bulan, anakku dirujuk ke berbagai macam spesialis, seperti: speech delay language, dan physiotherapy. Tak berhenti di situ saja, anakku juga dirujuk ke rumah sakit perawatan khusus anak-anak buat genetic, neurology and ophthalmology.

Pada saat usianya memasuki 1,5 tahun, anakku didiagnosa Pitt Hopkins Syndrome. Suamiku yang masih berada di Dubai, akhirnya memutuskan ikut pindah ke Inggris, pada saat anakku memasuki usia 2 tahun. Aku bahkan tidak tahu apa itu Pitt Hopkins Syndrome.

Dokter menjelaskan bahwa ini adalah kelainan genetik yang sangat langka, yang memengaruhi perkembangan fisik dan kognitif anak. Anak-anak dengan kondisi ini sering mengalami kesulitan berbicara, berjalan, serta memiliki gangguan pernapasan dan intelektual. 

Aku sempat tidak percaya, bahwa dia mengalami kelainan genetik. Bagaimana mungkin itu terjadi padaku? It was so hard! Aku sempat berpikir negatif tentang masa depan anakku kelak. Lima tahun pertama, aku tidak bisa menerima kondisi anakku. Aku sempat bertanya kepada Allah: “Why you chose me?”. 

Dalam perjalanan ini, aku juga menemukan komunitas yang luar biasa. Ibu-ibu lain yang memiliki anak dengan kondisi yang sama menjadi tempatku berbagi. Aku belajar dari pengalaman mereka, mendapatkan dukungan emosional, dan merasa bahwa aku tidak sendirian. Suatu kali, aku belajar dari seorang ibu dalam kelompok dukungan sosial, di mana dia memiliki tiga orang anak dan semua anaknya adalah anak-anak berkebutuhan khusus.

Bersyukurlah aku mendapatkan dukungan sosial dari kelompok orang tua yang memiliki situasi serupa di Inggris ini. Kami berbagi dukungan satu sama lain, yang saling menguatkan buat saya. Itu sangat membantu saya. Pemerintah di sini juga memberikan banyak fasilitas dan dukungan bagi para orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus, seperti anakku kedua. Semua fasilitas dan sarana pendukung, seperti terapi dan dukungan sosial pada orang tua pun disiapkan di sini.

Aku ingin anakku melihat dunia, meskipun aku tahu dia mungkin tidak memahami sepenuhnya. Kami kerap berpergian, termasuk ke Indonesia. Namun, dalam perjalanan itu, aku menyadari bahwa dunia ini tidak selalu ramah terhadap anak-anak dengan kebutuhan khusus. Aku sering mendapatkan tatapan aneh, bahkan komentar kasar dari orang-orang yang tidak memahami kondisi anakku. Aku belajar untuk tidak peduli dengan pandangan orang lain. Yang terpenting adalah anakku mendapatkan cinta dan dukungan yang dia butuhkan.

Ada hari-hari di mana aku merasa sangat lelah. Menemani anakku menjalani berbagai terapi, mengajarkan keterampilan sederhana yang bagi anak lain mungkin begitu mudah, adalah tantangan besarku. Namun, aku juga menyadari bahwa keberadaanku sebagai ibunya adalah sumber kekuatan terbesarnya.

Di tengah semua tantangan, aku menyadari satu hal: resiliensi adalah kunci. Sebagai seorang ibu, aku harus terus maju, tidak peduli seberapa sulit jalannya. Aku mungkin jauh dari tanah air, tetapi hatiku tetap kuat. Anakku adalah cahaya kecilku, dan aku akan melakukan apa pun untuk memastikan dia mendapatkan kehidupan terbaik.

Penulis: Amy, seorang ibu yang punya anak dengan Pitt Hopkins Syndrome di Inggris dan dapat dikontak via Instagram hamza_pitthopkins_syndrome.

(CERITA SAHABAT) Perempuan Butuh Sains, Sains Butuh Perempuan

Halo, sahabat Ruanita! Nama saya, Rieska Wulandari yang telah menetap di Italia sejak Agustus 2010 lalu, saya bekerja sebagai jurnalis lepas di Italia untuk media massa televisi di tanah air dan saya juga seorang ibu dari dua orang anak dan bersuamikan seorang Italia.

Saya menjadi jurnalis karena latar belakang pendidikan saya memang sarjana Jurnalistik Fikom Unpad. Saya meliput berbagai kegiatan aktual di Italia untuk pemirsa Indonesia dan sebagai pengamat sosial saya juga mengamati kiprah perempuan dalam berbagai isu termasuk dalam hal partisipasi perempuan dalam bidang sains. 

Tinggal di Italia selama hampir 15 tahun, saya menilai masyarakat Italia menempatkan perempuan dalam posisi yang sangat penting, bahkan Perdana Menteri Italia, Giorgia Meloni mencatatkan dirinya sebagai Perdana Menteri perempuan pertama di Italia dan  dalam berbagai bidang termasuk sektor sains, kontribusi perempuan, sangat diperhatikan. 

Perempuan tak sekedar dianggap sebagai rekan kerja/ilmuwan/cendekia setara, namun juga punya kesempatan untuk mendapatkan posisi puncak dan  kadang diakui lebih cemerlang daripada pria.

Kondisi ini, tidak serta merta muncul. Dibutuhkan perjalanan dan sejarah panjang bagi masyarakat Italia untuk bisa mencapai titik ini. Seperti negara-negara lainnya,  dahulu kaum perempuan Italia juga hanya ditempatkan di belakang layar. Baru pada tahun 1874 perempuan diizinkan masuk sekolah menengah atas dan universitas, meskipun banyak institusi yang terus menolak mereka saat itu, namun gerakannya sudah mulai muncul.

Follow us

Sejarah pendidikan perempuan di Italia adalah perjalanan menarik yang mencerminkan perubahan masyarakat yang lebih luas, pergeseran budaya, dan perjuangan berkelanjutan untuk kesetaraan gender. Pada tahun 1886, Pemerintahan Italia menetapkan undang-undang pertama yang menjamin akses yang sama terhadap pendidikan dasar bagi anak perempuan. Hal ini merupakan langkah maju yang signifikan dalam menyadari pentingnya mendidik anak perempuan.

Berlanjut kurang dari seratus tahun kemudian, tahun 1946 perempuan di Italia memperoleh hak untuk memilih di Italia yang berkaitan erat dengan status pendidikan mereka. Kemampuan untuk memilih dipandang sebagai perluasan hak-hak perempuan, didukung oleh peningkatan prestasi pendidikan mereka. 

Momen ketika perempuan Italia sudah mulai boleh ikut dalam pemilu ini, diabadikan dalam film karya Paola Cortellesi yang berjudul C’e Ancora Domani (There’s Still Tomorrow /Masih Ada Hari Esok), menggambarkan betapa kekuatan perempuan di bidang pendidikan dan politik memberikan perkembangan yang revolusioner kepada masa depan individu dan juga pada sebuah bangsa.

Film yang merupakan debut sutradara Paola Cortellesi, memenangkan People’s Choice Awards, penghargaan dari publik, pada Festival Film Internasional Pingyao edisi kedelapan, yang diprakarsai oleh sutradara Jia Zhange (pemenang Golden Lion di Festival Film Internasional Venesia pada tahun 2006 untuk Still Life) dan diselenggarakan di Tiongkok dari tanggal 24 hingga 30 September.

There’s Still Tomorrow juga telah mengumpulkan berbagai penghargaan tidak hanya di Italia, tetapi juga di luar negeri dari negara-negara Eropa hingga Australia.

Kembali lagi ke sejarah Italia dalam memperjuangkan hak perempuan, pemerintah Italia memperkuat hak perempuan dalam kesetaraan akses pendidikan dengan menerbitkan UU tahun 1977.  Sahabat Ruanita perlu tahu, bahwa tujuan dari undang-udang ini untuk mencegah diskriminasi terhadap perempuan di bidang pendidikan dan tempat kerja, dengan menekankan kesempatan yang sama bagi anak perempuan di semua lingkungan pendidikan. 

Itu sebab, saya berpendapat tidak ada perbedaan antara perempuan dengan laki-laki di Italia. Hanya saja, perempuan memang memiliki tugas lain. Sebagai ibu rumah tangga misalnya, perempuan yang berkarier penuh di bidang ini, tidak semudah dengan para pria. Namun, secara hak dan kewajiban antara perempuan dan laki-laki, tidak ada perbedaan. 

Sejauh pengalaman tinggal di Italia sebagai jurnalis, saya malah mendapat banyak privilege dibandingkan pria. Secara etika dan hukum, perempuan di Italia memiliki sistem perlindungan penuh dan bahkan masuk dalam skala prioritas, untuk konteks tertentu.

Terkait perempuan di bidang sains selama tinggal di Italia, saya menyaksikan bahwa Italia telah sukses mengirim astronot perempuan yaitu Samantha Cristoforetti yang berangkat dengan rioket Soyuz pada 23 November 2014 dan ditempatkan selama 200 hari di Stasiun ISS serta yang kedua kali pada 27 Aoril 2022 dengan Space X untuk ekspedisi selama 170 hari dan ditempatkan di stasiun ISS.

Selain itu, prestasi kaum perempuan dalam bidang olahraga juga sangat mencenangkan dengan banyaknya delegasi atau kontingen dari Italia yang memenangkan berbagai kompetisi internasional, piala dunia dan termasuk Olimpiade. Tentunya, saya melihat bahwa hal ini tidak terlepas dari dukungan lingkungan kerja atau lingkungan akademik. Mereka sangat mendukung perempuan untuk maju dan sukses dalam sektor sains. 

Sebagai seorang jurnalis, saya sekarang sebagai sekretaris dewan untuk organisasi jurnalis asing di Italia, Stampa Estera di Milan dan tahun ini kami meluncurkan Premio Innovazione Semi yaitu penghargaan di bidang inovasi. Perempuan tentu diperbolehkan mengikuti kompetisi ini. Selain itu, organisasi ini juga memiliki anggota jurnalis perempuan dalam jumlah yang cukup signifikan. 

Tokoh perempuan di bidang sains yang membuat saya kagum adalah seperti Rita Levi-Montalcini, seorang ahli saraf pemenang Hadiah Nobel. Selain itu, saya juga mengagumi Emma Bonino, seorang politisi terkemuka dan pembela hak-hak perempuan, memberikan contoh bagaimana pendidikan dapat memberdayakan perempuan untuk memberikan kontribusi yang signifikan kepada masyarakat dan seorang jurnalis kawakan Italia Oriana Fallaci yang telah mewawancara tokoh-tokoh internasional dunia dan menghasilkan berbagai buku jurnalistik yang impresif, yang membuka mata dunia pada pentingnya mengutamakan hak dan kemerdekaan semua bangsa dan terutama perempuan.

Sementara dari Indonesia, meski tokoh ini bukan seorang ahli sains, saya mengidolakan Kartini. Menurut saya, beliau merupakan tokoh yang sangat penting dan saya kagumi karena pikiran dan tulisannya telah membuka kemungkinan kepada para perempuan untuk bersekolah, mengenyam pendidikan, dan menentukan sendiri masa depannya. 

Bagi para perempuan muda yang ingin menyelami dunia sains, tantangan terbesar di bidang ini adalah untuk teguh dan memantapkan langkahnya dalam menjalani bidang ini tak hanya untuk mengangkat image tapi benar-benar sebagai panggilan hidup. 

Di Italia saya perhatikan, peran pria di dalam sains sama beratnya dengan perempuan karena peran pria dan perempuan dalam keluarga memang sama-sama harus berkontribusi pada perkembangan keluarga dan anak, apabila mereka telah memiliki keturunan.

Yang menjadi pembeda adalah pusat-pusat riset dan teknologi, industry dan media yang berkaitan dengan bidang ini kebanyakan terletak di Italia Utara, sehingga kebanyakan dari mereka yang ingin berkembang di bidang ini, harus pindah ke Italia bagian utara. 

Sejauh ini, saya belum melihat peneiti Indonesia yang berkiprah di Italia meski ada beberapa kenalan saya, perempuan yang bekerja di pusat riset milik Uni Eropa yang berlokasi di Italia dan beberapa perempuan yang menjalankan riset berkaitan dengan studi master dan doktoral mereka di Italia. 

Jika digali, Indonesia punya banyak peluang dalam bidang sains di Italia. Hanya saja perbedaan bahasa, sistem sertifikasi, dan tidak adanya MoU yang terjalin antara Indonesia dan Italia dalam hal ketenagakerjaan, membuat kesulitan bagi mereka yang ingin mengejar peluang di bidang ini di Italia. 

Tentunya, ada pengaruh yang besar dalam perbedaan budaya antara Indonesia dan Italia terhadap namun untuk kehidupan sekarang, sangat bisa didiskusikan dan sangat bisa dipertimbangkan. 

Melihat perjalanan Italia yang demikian komit melibatkan perempuan dalam dunia sains, sebetulnya tidak mustahil Indonesia juga sudah dalam perjalanan ke sana, terutama bila kita berkaca lagi pada kebudayaan kuno, di mana ketika pengaruh agama-agama populer belum masuk.

Seperti dalam kebudayaan Sunda dan Minang, posisi perempuan sangat dihormati dan dianggap sebagai gender yang harus mendapatkan prioritas. Hal ini terlihat dalam pantun-pantun Sunda, sementara dalam kebudayaan Minang masih berprinsip matrilineal hingga kini. Situasi berubah ketika paham patriaki memasuki Nusantara, baik melalui paham bernafas keagamaan maupun karena manipulasi politik dan kekuasaan. 

Jika sahabat Ruanita ingin mengejar karier atau pendidikan di bidang sains, khususnya Italia, saya rasa Italia bisa dijadikan sebagai referensi yang cukup menarik karena negara ini telah melahirkan tokoh tokoh jenius di bidang sains, keputusan mengambil pendidikan di Italia akan menjadi keputusan strategik di mana sahabat Ruanita bisa mengambil langsung dari rahim ilmu dan kebudayaan itu sendiri, yang mana bahasa latin yang menjadi inti kebudayaan Eropa lahir. 

Menjalani dan berinteraksi dengan berbagai komunitas di Italia, refleksi terbesar saya adalah perempuan di Italia, memiliki peran krusial dalam perkembangan sains secara nasional. Bahkan peran ini bisa mewakili posisi Italia secara global, apalagi bila ada pemenang nobel atau astronot yang berkebangsaan Italia. 

Selain pendidikan publik, keberadaan lembaga pendidikan yang diasuh gereja (Yayasan katolik), juga memberikan kontribusi yang sangat besar pada perkembangan Sains. Meskipun sekolah ini bernafaskan katolik, namun pelajaran sainsnya tidak terkungkung ideologi agama, melainkan sangat terbuka pada penemuan-penemuan ilmu pengetahuan termasuk menerima bahwa bumi terbentuk melalui teori big bang dan adanya evolusi. 

Hal ini membuat perkembangan sains di Italia tidak berbenturan dengan ranah ideologi dan prinsip-prinsip agama atau keimanan. Demikian juga peran serta perempuan dalam segala bidang sangat didorong dan tidak mengurung perempuan untuk puas dengan peran domestik, namun dalam peran lain yang sangat penting bagi kehidupan ilmu pengetahuan, sosial, politik, berbangsa dan bernegara.

Sikap keterbukaan yayasan katolik pada sains ini menjadi tantangan bagi Indonesia, sebuah bangsa yang akhir-akhir ini kita akui, cenderung terkungkung dalam kerangka religius sehingga kontraproduktif dengan kemajuan sains. 

Sebagai perempuan Indonesia di Italia, saya berharap semoga kedua negara bisa saling berkontribusi dalam hal memajukan perempuan di dunia sains. Bagaimanapun sains membutuhkan perempuan dan perempuan membutuhkan sains, lebih jauh, Italia membutuhkan Indonesia dan Indonesia juga membutuhkan Italia. 

Saya kita, sudah saatnya untuk mulai terbuka dan menyambut keterlibatan perempuan di bidang sains, bahkan harus mendorong perempuan dan memberikan dukungan serta pengayoman agar ketika menjalankan profesi ini, perempuan mendapatkan hasil yang maksimal dan dilindungi secara hukum, sehingga mereka dapat menjalankannya dalam rasa tenang dan nyaman. 

Saya yakin, perempuan Indonesia tidak hanya potensial, bahkan juga semakin banyak perempuan Indonesia yang bergerak di bidang ini, sehingga Indonesia akan menjelma menjadi sebuah negara yang sangat kuat. Ingatlah, pada kaum perempuan yang menjalani bidang ini, persaingan akan selalu ada. Persaingan dalam dunia kerja, baik antar sesama perempuan maupun dengan laki-laki sama kerasnya dalam konteks yang berbeda.

Oleh karena itu, semangat hanya akan ada jika diri sendiri memang teguh pendirian. Memang yang dijalani adalah sesuatu yang dicintai. Passion atau renjana bukan sekedar menjalankan pesan orang tua atau sekedar agar tampak terpandang. Selama jalan itu kita ambil – karena memang kerinduan kita dan ada panggilan jiwa – apapun tantangannya, akan dapat dijalani meski berat dan terjal. 

Sekali lagi sahabat Ruanita, ini saran saya:

  1. Kenali bahasanya, raih sertifikat bahasa secara formal, karena ini akan sangat membantu, baik dalam proses studi maupun dalam konteks profesionalisme. 
  2. Carilah universitas yang sesuai. Beberapa universitas di Italia juga sangat excellence dalam program-program spesifik. Saya yakin ini memberikan manfaat besar bagi yang melakukan riset maupun bagi masyarakat secara umum. 

Penulis: Rieska Wulandari, tinggal di Italia, pengelola website http://ri3ska.com/ dan www.wartaeropa.com, kontributor cerita sahabat di www.ruanita.com dan dapat dikontak via akun Instagram ri3ska.

(CERITA SAHABAT) “I am Enough!” dan Standar Kecantikan di Media Sosial

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan saya, Griska Gunara dan kerap disapa dengan nama Griska. Saat ini saya menetap di United Kingdom. Sehari-hari saya berprofesi sebagai Jurnalis Foto, Praktisi Yoga, dan Meditasi. Saya senang sekali dapat berpartisipasi dalam program cerita sahabat dalam tema: social media’s impact on beauty standar and how they affect women, karena media sosial yang menjadi bagian dari keseharian kita sekarang telah mengubah standar kecantikan di masyarakat.

Perubahan ini cukup signifikan karena keinginan perempuan untuk tetap cantik dan sehat secara alami. Itu sebab, saya perhatikan banyak wanita masa kini memilih sehat dengan konsumsi make up yang alami pula. Produk kecantikan di pasaran sekarang juga banyak yang menawarkan berbahan alami. 

Bagaimana pun produk kecantikan adalah bagian dari upaya perempuan untuk tampil menarik dan percaya diri ketika tampil di hadapan umum. Sejujurnya, saya pernah merasa tertekan dan tidak percaya diri juga. Ketidakpercayaan diri saya muncul ketika dihadapkan pada sesuatu yang saya belum siap secara mental, misalnya. Namun, bagi saya ini menjadi hal yang lucu, bila saya membandingkan diri saya dengan orang lain di media sosial. Pada kenyataannya, kepercayaan diri itu ditentukan oleh saya secara pribadi. Prinsip saya, sayalah yang bertanggungjawab jika saya ingin meningkatkan kepercayaan diri.

Di sisi lain, tidak dapat dipungkiri bahwa ada peran influencer di media sosial. Dengan pesan yang tepat sasaran, nyatanya cukup banyak membantu memperkuat standar kecantikan yang sudah ada, misalnya persepsi kecantikan alami wanita Indonesia. Meski kenyataannya, saya belum menemukan influencer yang “Setia” dengan satu brand saja. Kebanyakan dari mereka sudah bekerja sama (endorse) dengan client satu dan lainnya untuk urusan barter promosi. 

Follow us

Selain peran influencer di media sosial, ada faktor lain yang juga membentuk standar kecantikan di dunia maya. Tentu, kalian masih ingat bagaimana media sosial juga memperlihatkan foto wajah para selebritis, tanpa filter atau edit foto dengan foto yang sudah diedit. Menurut saya, itu sah saja menggunakan filter dan aplikasi pengeditan foto. Hal itu tergantung dengan kebutuhan si pengguna. Saya pribadi senang menggunakan filter foto kalau sedang -bad hair day– misalnya. Atau, ketika saya sedang mengedit foto, saya paling suka tone warna mendekati momen aslinya. Justru, penggunaan filter tidak terlalu sering saya gunakan. 

Sahabat Ruanita, setujukah kalau standar kecantikan yang ada di media sosial itu berpengaruh pada kesehatan mental juga? Seiring dengan meningkatnya produk kecantikan di media sosial, tak sering penjualnya adalah dokter dan pakar kecantikan juga yang berlomba memberikan service dan produk terbaik. Nah, sebagai konsumen, kita perlu cermat. Jika tidak, produk yang tidak sesuai dan tidak cocok dengan kulit, misalnya, akan cukup merugikan kita, baik itu secara finansial maupun mental juga loh.

Oh ya, apakah kalian juga merasakan kalau media sosial juga menuntut kita untuk tampil sempurna? Saya merasakan bahwa media sosial kini memegang peran penting dalam memberikan image standard sosial untuk tampil terbaik. Pengaruhnya tentu dalam hidup sehari-hari yang bisa terlihat dari seberapa konsumtifnya kalian dalam mengeluarkan biaya untuk belanja kebutuhan agar tetap sesuai dengan standar kecantikan tersebut. 

Kita tidak bisa menghindari apa yang ditampilkan di media sosial dengan algoritmanya, tetapi kita bisa mengatur sendiri pilihan konten yang efektif untuk kita konsumsi. Namun, media sosial juga memunculkan gerakan body positivity yang marak untuk melawan standar kecantikan yang sempit dan tidak sehat.

Gerakan ‘Body Positivity’ mengajak kita untuk menjadi percaya diri dengan apa yang kita punya. Menyadari bahwa diri ini saja sudah cukup. “I am enough!” Dorongan untuk menjadi berani menghadapi tekanan standar kecantikan di  media sosial adalah hal mendasar yang bisa didapatkan dari rumah.

Untuk menghadapi tekanan standar kecantikan di media sosial memang tidak mudah, termasuk saya di usia saya yang tidak lagi muda dan suka merasa tidak percaya diri. Terkadang saya pun ikut berlomba mengusahakan diri untuk lebih ini dan itu. Namun, saya sekarang sudah menemukan strategi untuk melawannya. Lewat yoga yang rutin saya lakukan dan tekuni selama beberapa tahun belakangan ini, ini menjadi strategi saya untuk menjaga pola hidup seimbang.

Strategi lainnya, tentu saya melakukan hiatus atau sejenak berhenti dari media sosial untuk beberapa minggu. Ternyata istirahat dari media sosial yang saya lakukan hingga sebulan. Saya merasa berbeda, karena prioritas fokus yang diatur untuk tetap balance dengan kehidupan sehari-hari. Jadi, hal yang yang dilakukan lebih dari 21 hari dapat mengubah pola hidup sehari-hari tergantung dengan apa yang kita lakukan. 

Saya sendiri sekarang sedang banyak mengurangi penggunaan chemical juga. Memang, ini tidak bisa langsung seluruh keluarga mengubah pola hidup tetapi saya berusaha tetap melakukannya dan memberi contoh saja dulu. Saya percaya pada diri sendiri saja dulu. Dan ini telah membantu kita tetap percaya diri akan diri sendiri, tanpa terpengaruh persepsi negatif tentang kecantikan yang ditentukan masyarakat. 

Kembali ke tema tentang standar kecantikan di media sosial, sebagai Praktisi Yoga dan aktif bersosial media, berikut pesan saya. Pertama, kita perlu meminimalisir pilihan kita untuk following media sosial. Kedua, kita bisa mencari komunitas yang mendekati apa yang kita suka, misalnya grup memasak atau grup yoga. Hal yang mendasar lainnya adalah kita belajar mengatur asupan nutrisi untuk diri sendiri. Jika kita sudah berhasil konsisten, maka kita bagikan ke seluruh keluarga untuk melakukan hal sehat yang sama. Dari mindset ini, kemudian lahirlah keingintahuan untuk memasak makanan sehat untuk diri sendiri dan keluarga. 

Penulis: Griska Gunara, berprofesi sebagai Photojournalist, Yoga Instructor and Meditation Practitioner. Griska kini menetap di United Kingdom dan dapat dihubungi via akun IG : @griskagunara, @griskashtanga.

(CERITA SAHABAT) Pernah Jadi Korban Perundungan, Kini Aktif Serukan Social Justice

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan aku adalah Rufi (akun instagram @zsyasdawita), yang sedang tinggal di Jerman untuk menyelesaikan studi S2 di jurusan Public Policy and Good Governance. Lewat program cerita sahabat, aku ingin membagikan hasil wawancaraku dengan seorang teman asal Indonesia dalam tema Social Justice

Temanku yang dimaksud adalah Dyfna, bukan nama sebenarnya dan sekarang juga tinggal di Jerman. Tepatnya Dyfna sedang tinggal di Leipzig sejak satu tahun lalu. Jika kita mendengar kata “Social Justice” mungkin yang terbayang adalah para profesional dan praktisi yang bergerak di bidang hukum dan keadilan. Nah, aku ingin membawa sahabat Ruanita dalam perspektif yang berbeda, yakni bagaimana perasaan orang yang tidak mengalami “social justice” dalam hidupnya, seperti yang dialami Dyfna ini.

Dfyna pernah mengalami peristiwa tidak mengenakkan, yang memegaruhi keputusannya untuk terlibat dalam bidang keadilan sosial. Awalnya, Dyfna mengalami peristiwa ketidakadilan pada saat dia masih duduk di bangku sekolah. Dyfna menganggap hal itu terjadi karena dia berasal dari suku minoritas pada saat dia bersekolah.  Selain itu, dia memiliki warna kulit yang lebih gelap dari kebanyakan teman-teman sekolahnya. Akibat perasaan tidak adil dan perlakuan rasisme tersebut, Dfyna memutuskan untuk melawan ketidakadilan sosial. 

Setiap orang punya definisi yang mungkin berbeda-beda tentang keadilan sosial, termasuk Dyfna. Menurutnya, keadilan sosial adalah kondisi saat semua orang memiliki persamaan hak dan mendapatkan perlakuan yang sama, tanpa adanya diskriminasi, baik itu  berdasarkan ras, jenis kelamin, agama, atau status sosial. Hal ini penting sekali karena Dyfna percaya bahwa masyarakat yang adil akan menciptakan lingkungan yang harmonis 

Tentu saja, Dyfna bukan hanya berteori saja tentang keadilan sosial, melainkan dia juga memiliki proyek atau inisiatif yang sedang dikerjakannya. Dia memiliki proyek terbaru yang berkaitan dengan program pemberdayaan di kota tempat tinggalnya saat ini. Proyek ini dikerjakannya bersama teman-teman aktivis yang punya concern yang sama, terkait bidang social justice. Proyek ini bertujuan untuk memberikan dukungan psikologis dan hukum kepada korban perundungan atau bullying, khususnya anak-anak sekolah dan remaja. Dyfna dan teman-temannya berharap proyek ini akan membantu para korban untuk bangkit dan mendapatkan keadilan yang layak.

Dalam implementasi proyek ini, tentu saja tidak mudah. Ada banyak tantangan yang harus dihadapi Dyfna dan kawan-kawan seperjuangannya. Salah satu yang terbesar yang dihadapinya adalah  adalah ketimpangan sosial di masyarakat Indonesia. Di Indonesia, masih terdapat kelas-kelas sosial yang menciptakan adanya ketimpangan di masyarakat, sehingga ada yang merasa diri mereka lebih superior daripada orang-orang yang berada di kelas bawah, menurut kaum superior ini. 

Melihat adanya kesenjangan tersebut, Dyfna pun berupaya untuk menciptakan ruang yang ‘merata’ bagi setiap pihak, khususnya dalam edukasi dan literasi tentang keadilan sosial. Contoh konkritnya adalah melakukan kampanye-kampanye, baik secara online maupun offline, sehingga diharapkan semua orang memiliki akses yang sama dalam mendapatkan pemahaman tentang keadilan sosial.

Tak hanya melakukan edukasi dan literasi saja, Dyfna merasa pentingnya peran advokasi dalam memajukan isu keadilan sosial ini agar dapat meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat. Menurut Dyfna, advokasi dan pendidikan memainkan peran penting dalam memajukan isu keadilan sosial dengan memberikan informasi yang akurat dan memberdayakan masyarakat untuk mengambil tindakan. Strategi yang dimainkan Dyfna adalah mengadakan lokakarya, seminar, dan menggunakan media sosial untuk menyebarkan informasi.

Sebagaimana sahabat Ruanita ketahui, praktiknya tentu tidak mudah ketika komunitas kami membantu anak-anak korban bullying yang mengalami ketidakadilan, khususnya karena rasisme. Dyfna dan komunitas bergerak untuk memotivasi dan mengedukasi mereka dengan cara-cara seperti sosialisasi ke sekolah-sekolah untuk menanamkan pentingnya keadilan sosial. Hal ini dimaksudkan agar anak-anak di sekolah teredukasi dan lebih aware akan hal tersebut. Dyfna dan teman-teman aktivis berharap korban-korban perundungan di sekolah bisa bangkit dan tetap semangat kembali, terutama mereka tidak malu dan minder dengan identitas mereka ataupun warna kulit mereka.

Apa yang Dyfna dan teman-teman aktivis lakukan tidak dapat terwujud sepenuhnya, apabila pemerintah tidak mendukungnya. Menurut Dyfna, pemerintah dan kebijakan publik memainkan peran yang sangat penting dalam mendukung dan menegakkan  keadilan sosial. Ketika pemerintah mampu menciptakan kebijakan yang inklusif dan adil bagi semua pihak, tentunya hal tersebut mampu membantu memerangi ketidakadilan dan diskriminasi. Sebaliknya, kalau tidak ada kebijakan yang mendukung dalam mengupayakan terwujudnya keadilan sosial, pastinya itu dapat menjadi hambatan yang besar dalam penegakan keadilan sosial.

Sahabat Ruanita, satu hal yang penting untuk diketahui tentang penegakan keadilan sosial adalah interseksi keadilan sosial itu sendiri, seperti ras, gender, dan kelas sosial yang saling terkait. Interseksionalitas merupakan konsep penting dalam keadilan sosial yang saling berhubungan dan memengaruhi satu sama lain. Oleh karena itu, ketika kita paham tentang interseksionalitas,  kita bisa melihat gambaran kesenjangan yang ada secara lebih luas dan kompleks.

Dalam kehidupan digitalisasi yang berkembang seperti sekarang ini, Dyfna berpikir kita bisa memanfaatkan teknologi dan sosial media sebagai kunci social movement. Ya, tentunya teknologi dan media sosial mempunyai dampak yang signifikan terhadap gerakan keadilan sosial dengan memperluas jangkauan dan mempercepat penyebaran informasi. Namun, ada juga tantangan yang perlu diatasi, seperti misinformasi dan juga hoax yang saat ini tersebar luas di media sosial dengan mudah.

Terakhir, lewat peringatan World Day of Social Justice ini, Dyfna menyerukan bahwa kita bisa mulai terlibat dalam keadilan sosial, baik secara personal maupun institusional, yang bisa dimulai dari edukasi diri kita sendiri terlebih dahulu dan komunitas terdekatnya. Bahkan dari lingkup keluarga, Dyfna berpendapat bahwa kita bisa melakukan awareness tentang isu-isu keadilan sosial, serta berpartisipasi dalam kegiatan lokal. Langkah kecil seperti sukarela di organisasi sosial atau mengikuti kampanye kesadaran yang bisa berdampak besar.

Penulis: Zukrufi Syasdawita yang tinggal di Jerman dan dapat dikontak via akun instagram @zsyasdawita. Naskah berdasarkan wawancara dengan Dyfna (nama samaran) adalah mahasiswa yang sudah tinggal selama 1 tahun di Leipzig, Jerman.

(CERITA SAHABAT) Di Hari Safer Internet, Ini yang Perlu Diperhatikan Untuk Keamanan, Kenyamanan dan Internet yang Bertanggungjawab

Halo Sahabat Ruanita, perkenalkan nama saya Herawasih Yasandikusuma. Saya biasa dipanggil Wasih. Saat ini saya tinggal di Geneva, Switzerland dari sejak lulus SMA di Indonesia, atau saya sudah berada di Swiss hampir 50 tahun. Dulu saya bekerja di berbagai organisasi internasional yang dikelola PBB, sekarang saya sudah tidak bekerja lagi. Saya sudah pensiun dan aktif menjalani pekerjaan lowong sebagai domain digital marketing. 

Sejak pandemi Covid-19, saya mulai mencari kesibukan untuk bekerja secara online, apalagi saya sudah pensiun. Saya kemudian menekuni bisnis yang bisa dijalankan dari rumah atau work from home. Saya pun mengambil Closing Online Course. Setelah mendapatkan sertifikat tersebut, saya mencari infopreneur di LinkedIn. Dari situ, pekerjaan saya dimulai dalam bidang digital world. 

Tentunya, bekerja di dunia digital tidak mudah. Ada banyak ancaman keamanan siber yang biasanya melanda para profesional digital marketing seperti saya. Ancaman tersebut antara lain: Phishing attacks, data breaches, ransomware/malware, insider threats, dan sebagainya. 

Oleh karena itu, penting bagi mereka yang aktif dalam digital marketing untuk selalu vigilant dan memakai secure password. Bagaimana pun kita tidak pernah tahu bahaya digital yang mengancam, sehingga saya menyarankan selalu untuk memperbaharui software yang dimiliki. 

Selain itu, kita perlu berhati-hati terhadap informasi seperti link, pranala atau tautan yang dibagikan. Bukan tidak mungkin, salah klik link atau pranala yang sembarangan itu bisa mengancam keamanan digital kita juga. 

Selama ini, saya tidak pernah mengalami berbagai serangan di dunia maya yang mengancam. Tentunya, saya selalu alert dan berhati-hati dalam menggunakan platforms. 

Saya selalu memastikan only partnering with reliable entities yang akan dibuka link atau tautan yang diberikan, kemudian memastikan pembayaran yang aman saat bertransaksi, dan yang terpenting adalah melaporkan apabila ada suspicious accounts pada media sosial. 

Menurut saya, adanya artificial intelligence dalam dunia digital setidaknya dunia sudah terbantu dalam digital marketing. Hal ini juga mempermudah pekerjaan saya dalam dunia digital. Namun, kita tetap perlu berhati-hati dan bersikap waspada di dunia digital, terutama apabila terjadi penyalahgunaan data dan informasi yang tidak benar. Bagaimana pun, kecerdasan buatan tidak dapat menggantikan kecerdasan manusia sesungguhnya. 

Beberapa cybersecurity practices yang dapat melindungi data pribadi dan informasi sensitif klien, seperti yang saya lakukan, antara lain: (1). Secara teratur, selalu melakukan back up data klien, yang memastikan data tersimpan dengan baik, aman, dan tidak hilang; (2). Memastikan pembaharuan sistem dan platform software; (3). Selalu menggunakan perangkat encrypted communication misalnya saja layanan email yang aman, aplikasi pesan yang sudah encrypted; (4). Memberikan training best practices kepada rekan kerja lainnya, seperti bagaimana mengenali phising email, tidak menggunakan public wifi untuk pekerjaan yang berkaitan dengan pekerjaan, memberikan akses data klien hanya kepada rekan kerja yang memerlukannya; (5). Mereviu dan melakukan pembaharuan akses; (6). Menggunakan pasword yang aman dengan otentifikasi berbagai faktor.  

Tentunya, pekerjaan digital marketing sering kali melakukan lewat email marketing. Beberapa langkah yang dapat diambil untuk memastikan keamanannya dari serangan phising seperti: (1). Encrypt informasi sensitif dan data klien di dalam email untuk mencegah unauthorized access kalau-kalau terjadi serangan hackers yang tidak diinginkan; (2). Memonitor kampanye email marketing, terutama untuk aktivitas yang tidak biasa, misalnya: kenaikan dari bounce rate atau complaints dari klien yang disebabkan oleh phishing attack; (3). Memakai secure email marketing platforms dengan advanced security features (spam filtering, phishing detection, encryption); (4). Melatih staf marketing dan klien supaya tidak sembarangan melakukan klik link yang mencurigakan atau mengunduh file lampiran dari pengirim yang tidak dikenal; (5). Melaporkan kepada staf IT apabila ada email yang mencurigakan; (6). Menggunakan email authentication protocols untuk memverifikasi keaslian domain pengirim dan mencegah spoofing email.

Spoofing email adalah tindakan memalsukan header email sehingga pesan tampak seolah-olah berasal dari sumber yang sah atau tepercaya, padahal sebenarnya berasal dari pengirim yang tidak sah atau jahat. Ini adalah bentuk penipuan yang sering digunakan dalam serangan phishing atau upaya penipuan lainnya. Di tengah era digital seperti sekarang, kita perlu memperhatikan keamanan siber dalam bekerja dan bertransaksi di dunia digital. 

Hal ini penting untuk perlindungan terhadap ancaman siber seperti: protect sensitive information (personal data, financial details) dari penyalahgunaan akses dan otoritas yang tidak dikenali; mencegah financial losses for individuals and businesses dari kasus ransomware atau phishing scams; menjaga online transactions dengan cybersecurity measures (encryption, secure payment gateways); menjaga kepercayaan dan reputasi dengan cybersecurity practices yang kuat sehingga membantu bisnis terpercaya dan kredibel karena telah menunjukkan komitmen untuk melindungi data dan privasi mereka. 

Beberapa contoh seperti yang pernah terjadi Marriott International mengalami data breach atau pelanggaran data yang mengungkap detail kartu pembayaran lebih dari 5 juta pelanggan. Sahabat Ruanita juga perlu tahu Facebook menghadapi reaksi keras dan pengawasan atas penanganan data pengguna dalam Cambridge Analytica Scandal.

Tentunya, kita perlu tahu cara mengidentifikasi dan menghindari website atau aplikasi yang berpotensi berbahaya saat melakukan riset pasar. Beberapa tips antara lain: 

  1. Melakukan verifikasi kredibilitas situs web (contact information, privacy policy, terms of service, hindari situs web dengan URL mencurigakan, spelling errors, poor design); 
  2. Selalu teliti pada reputasi situs web atau aplikasi (cari reviews, ratings, feedback from other users untuk menilai kredibilitas dan kepercayaan situs web atau aplikasi);
  3. Perlu berhati-hati terhadap email and pesan yang tidak diminta, dengan cara menghindari mengeklik tautan atau mengunduh lampiran email yang bisa berisi malware atau phishing; 
  4. Perlu menggunakan sumber yang dapat dipercara untuk download untuk meminimalkan risiko pengunduhan malware atau malicious software); 
  5. Menjaga dan melindungi software and security measures up to date with the latest patches to protect against security vulnerabilities
  6. Selalu gunakan jaringan yang aman, dengan cara menghindari melakukan riset pasar pada jaringan wifi publik karena jaringan tersebut mungkin tidak aman,
  7. Gunakan VPN (virtual private network) saat mengakses informasi sensitif di jaringan publik; 
  8. Bersikap waspada pada tanda bahaya (berhati-hati terhadap situs web atau aplikasi yang meminta informasi sensitif seperti passwords, financial details atau data pribadi tanpa alasan yang sah); 
  9. Selalu percaya naluri sendiri dan bersikap hati-hati bila ada sesuatu yang mencurigakan.

Di tengah ancaman bahaya siber, kita perlu melakukan pelatihan keamanan yang sangat penting bagi tim pemasaran digital untuk meningkatkan kesadaran, melindungi data sensitif, dan memitigasi risiko serangan siber. Dengan mendidik anggota tim tentang praktik baik keamanan siber, organisasi dapat mengurangi kemungkinan pelanggaran data, serangan phishing dan cyber threats yang lain. 

Berikut beberapa topik penting yang harus dibahas dalam pelatihan keamanan siber untuk tim pemasaran digital: 

  1. Mengajar  anggota tim cara mengenali email phishing, menghindari mengklik tautan berbahaya atau mengunduh lampiran, dan melaporkan email mencurigakan ke departemen IT; 
  2. Menggunakan password security (tekankan pentingnya membuat kata sandi yang kuat dan unik, menggunakan autentikasi multifaktor, dan menghindari penggunaan ulang kata sandi di seluruh akun);
  3. Menekankan data protection (mendidik anggota tim tentang pentingnya menjaga data sensitif, mengikuti peraturan perlindungan data, dan menangani informasi klien dengan aman); 
  4. Memastikan secure communication (encrypted communication tools, layanan email yang aman, dan metode berbagi file yang aman untuk melindungi informasi sensitif yang dibagikan dalam tim dan klien); 
  5. Meningkatkan kesadaran rekayasa sosial (meningkatkan kesadaran tentang taktik rekayasa sosial yang digunakan oleh cyber attackers untuk memanipulasi individu agar mengungkapkan informasi rahasia atau melakukan tindakan tidak sah); 
  6. Melatih anggota tim tentang cara merespon insiden keamana dan memberikan panduan device security (memberikan panduan tentang pengamanan perangkat yang digunakan untuk bekerja, keeping software updated, using anti-malware programs); 

Sahabat Ruanita, terakhir saya pikir kita perlu memastikan bahwa platform media sosial yang digunakan untuk kampanye marketing aman dari serangan siber. Dengan mengikuti langkah-langkah berikut, kita bisa tetap waspada sehingga bisnis tetap berjalan aman. Berikut beberapa langkah untuk membantu melindungi akun dan kampanye media sosial: 

  1. Melakukan autentifikasi dengan 2 faktor untuk menambah lapisan ekstra dan mencegah akses yang tidak dikehendaki, menambah lapisan keamanan ekstra, dan mencegah akses tidak sah.
  2. Even if passwords are compromised, buatlah kata sandi yang kuat dan unik untuk akun media sosial dan hindari penggunaan kata sandi yang sama di beberapa akun.
  3. Batasi akses ke akun media sosial hanya untuk anggota tim yang berwenang dan hindari berbagi kredensial login atau informasi sensitif melalui saluran yang tidak aman.
  4. Secara teratur, lakukan review and pembaharuan account permissions, settings, and connected apps to ensure that only necessary permissions are granted
  5. Melatih anggota tim pemasaran untuk mengenali taktik rekayasa sosial yang digunakan dalam serangan phishing, seperti fake login pages atau pesan yang menipu, untuk mencegah akses tidak sah ke akun; 
  6. Rutin memantau aktivitas akun media sosial untuk setiap perilaku yang tidak biasa (unauthorized login attempts, changes to account settings, or suspicious posts) dan segera ambil tindakan jika ada aktivitas mencurigakan yang terdeteksi; 
  7. Rajin cek informasi tentang security updates dan praktik terbaik yang disediakan oleh platform media sosial dan berita terkait ancaman keamanan media sosial; 
  8. Gunakan social media management tool that offers security features (pemantauan akun, kontrol akses dan metode otorisasi yang aman untuk mengelola dan melindungi akun media sosial). 

Menurut saya, kebijakan privasi menjadi hal utama yang harus menjadi fokus digital marketing. Mereka yang bekerja di digital marketing harus memastikan bahwa mereka memiliki dasar hukum untuk memproses data pribadi, mendapatkan persetujuan eksplisit untuk pengumpulan data, memberikan pemberitahuan privasi yang transparan, dan menerapkan perlindungan data; Peraturan Perlindungan Data Umum (GDPR) berlaku untuk bisnis yang beroperasi di Uni Eropa. 

Selain itu, para digital marketers harus menyadari undang-undang pemberitahuan pelanggaran data yang mengharuskan bisnis perlu memberi tahu pihak berwenang jika terjadi pelanggaran data yang membahayakan informasi pribadi. COPPA, undang-undang federal AS, misalnya mengatur pengumpulan informasi pribadi online dari anak-anak di bawah usia 13 tahun. Digital marketers  harus mendapatkan izin orang tua sebelum mengumpulkan informasi pribadi dari anak-anak berdasarkan peraturan COPPA tersebut. Para digital marketers dalam kampanye pemasaran email harus menyertakan informasi pengirim yang akurat sesuai undang-undang seperti elektronik privasi yang berlaku di negara Uni Eropa dan mematuhi guidelines for commercial email communications.

Di Hari Internasional Safer Internet, saya ingin membagikan strategi untuk membantu mendeteksi dan mencegah aktivitas berbahaya, antara lain: (1). menerapkan proses verifikasi akun di mana pengguna wajib untuk memverifikasi identitas mereka melalui metode seperti verifikasi email, verifikasi telepon atau CAPTCHA untuk mengurangi pembuatan akun palsu oleh bot atau pelaku jahat; (2). memantau aktivitas akun secara rutin untuk mengetahui pola yang tidak biasa, seperti high volume of account registrations atau login dari lokasi mencurigakan, yang dapat mengindikasikan aktivitas bot atau akun penipuan; (3). menerapkan alat dan layanan pendeteksi bot yang dapat mengidentifikasi dan memblokir automated bot traffic di situs web, social media platform, atau kampanye iklan untuk mencegah interaksi penipuan; (4). Lakukan track engagement metrics such as click-through rates, conversion rates, time on site to identify abnormal patterns or inconsistencies that may indicate bot activity influencing campaign performance; (5). Lakukan verifikasi CAPTCHA untuk pengiriman formulir, untuk membedakan antara aktivitas manusia dan aktivitas otomatis, serta mencegah bot mengirimkan fake leads; (6). Gunakan teknik pemblokiran IP dan pembatasan kecepatan untuk membatasi akses ke situs web atau aplikasi dari alamat IP yang mencurigakan atau untuk membatasi frekuensi interaksi pengguna untuk mencegah abusive behavior by bots; (7). Latih tim digital marketers tentang cara mengenali dan merespons aktivitas mencurigakan, seperti akun palsu atau interaksi yang didorong oleh bot; (8). Lakukan kolaborasi dengan cybersecurity experts untuk menilai keamanan kampanye digital marketing dan mengembangkan strategi untuk memerangi serangan bot dan aktivitas jahat lainnya secara efektif. Hal-hal yang disebutkan ini dapat menjaga reputasi brand mereka dan memastikan integritas upaya pemasaran mereka.

Dalam rangka Safer Internet Day, pesan saya kepada dunia dan pelaku dunia digital yakni: selalu memprioritaskan online safety, security and responsible use of the internet. Dengan bekerja sama, kita dapat mempromosikan internet yang lebih aman bagi semua. Tentunya, kita dapat menciptakan lingkungan online yang lebih aman dan positif di mana setiap orang dapat bereksplorasi dan berinovasi dengan percaya diri.

Penulis adalah Herawasih Yasandikusuma, yang tinggal di Jenewa, Swiss. Dapat dikontak via akun LinkedIn herawasih yasandikusuma dan facebook/instagram: wasihtravel.

(CERITA SAHABAT) Kanker, Cinta, dan Harapan Baru di Swedia

Halo, sahabat Ruanita! Saya Rizki, atau biasa dipanggil Kiki. Saya pindah ke Swedia sejak empat tahun lalu, terhitung sejak September ini. Sekarang saya bekerja full time di Swedia. Saya senang bisa berpartisipasi dalam program cerita sahabat yang dikelola Ruanita Indonesia, apalagi tema ini adalah tentang hari kepedulian kanker sedunia. Saya adalah caregiver dari suami yang meninggal beberapa tahun lalu, karena terminal kanker liver.

Saat saya pertama kali menginjakkan kaki di Swedia, saya tak pernah membayangkan perjalanan hidup saya akan penuh dengan cobaan besar. Suami, yang saya kenal sebagai sosok pekerja keras dan penuh kasih, adalah segalanya bagi saya. Namun, hidup memiliki cara tersendiri untuk menguji kita.

Musim panas 2021 menjadi awal dari perubahan besar dalam hidup saya. Suami saya yang selama ini tampak sehat, mulai sering diare. Awalnya, kami menganggapnya masalah biasa, mungkin efek makanan atau intoleransi laktosa. Namun, diare itu tidak kunjung sembuh, ditambah demam tinggi setiap malam. Di tengah kebingungan, kami bolak-balik ke dokter, menjalani berbagai tes hingga akhirnya ditemukan tumor di livernya.

Diagnosis awal menyebutkan tumor itu tidak ganas, dan rencana operasi segera disusun. Harapan kami tumbuh kembali. Tapi, tiga bulan kemudian, hasil tes lanjutan memberi kami pukulan yang tidak pernah kami duga: kanker liver stadium terminal. Dokter memperkirakan usianya tinggal enam bulan.

Diawali dengan diare yang terus-menerus hingga demam tinggi setiap malam, kami mengira ini hanya masalah pencernaan biasa. Namun, rangkaian kunjungan ke rumah sakit mengungkap kenyataan pahit: ada tumor di livernya. Hasil awal menyatakan tumor itu tidak ganas, tapi kondisinya terus memburuk. Setelah tiga bulan, diagnosis akhir menyatakan kanker hati stadium terminal. Dokter memprediksi usianya hanya tersisa enam bulan.

Saya hancur mendengar kabar itu. Tetapi dia—suami saya—memilih untuk tegar. Di tengah air mata saya yang tak terbendung, dia menggenggam tangan saya, memberi ketenangan yang rasanya jauh dari jangkauan saya saat itu.

Menjadi caregiver bukanlah sesuatu yang pernah saya bayangkan, apalagi dalam kondisi berada di negara asing. Setiap hari, saya belajar menjadi perawat darurat—mempersiapkan obat, memberi suntikan, hingga merawatnya di rumah. Melihat tubuhnya melemah, bekas suntikan yang membiru di perutnya, rasanya hati saya pecah. Tapi saya tahu, saya harus kuat. Saya harus ada di sana untuknya.

Sistem kesehatan di Swedia sangat membantu, memberikan kami akses langsung ke dokter dan perawat khusus. Tapi, sebagai seorang pendatang, kendala bahasa dan budaya sering membuat saya merasa terasing. Dia selalu berusaha menguatkanku, bahkan meminta istri sahabatnya mengajak saya keluar rumah untuk sekadar menghirup udara segar. “Kamu perlu keluar, meskipun hanya sebentar,” katanya.

Momen paling sulit dalam hidup saya adalah saat-saat terakhirnya. Saya  ingat malam itu, ketika suhu tubuhnya tak kunjung turun meskipun sudah diberi obat. Saya memeluknya erat, berdoa tanpa henti, berharap ada mukjizat. Dalam detik-detik terakhir, dia menggenggam tanganku dan berbisik, “Aku mencintaimu. Semua akan baik-baik saja.” Saya tahu itu caranya berpamitan, memberi saya kekuatan untuk melanjutkan hidup.


Saya mendapati diri saya berada di medan yang tidak pernah saya siapkan. Merawat seseorang yang Anda cintai saat ia perlahan melemah adalah perjuangan fisik dan mental yang tiada duanya. Setiap hari saya belajar melakukan banyak hal: memberikan suntikan, menyiapkan makanan, hingga memastikan ia nyaman di tengah rasa sakitnya. Semua itu dilakukan tanpa memikirkan diri sendiri.

Sulit berada di negara asing tanpa dukungan yang saya butuhkan. Bahasa menjadi kendala, dan saya sering merasa sendirian. Namun, dia selalu menemukan cara untuk mendukung saya, bahkan dalam kondisi tubuhnya yang semakin lemah. “Pergilah keluar sebentar, ngopi dengan istri sahabatku,” katanya. Meski berat meninggalkannya, saya tahu dia ingin saya tetap kuat.

Dari perjalanan ini, saya belajar banyak hal. Saya belajar untuk menghargai setiap momen, sekecil apa pun. Saya belajar untuk mencintai tanpa syarat dan berdoa tanpa henti. Kehilangan memang menyakitkan, tapi cinta yang kami miliki membuat segalanya lebih ringan.

Tiga minggu setelah diagnosis terminal, dia meninggal dunia. Momen itu begitu cepat, tapi sekaligus melegakan karena saya tahu ia tak lagi merasakan sakit. Sebelum ia pergi, ia menggenggam tangan saya erat dan berbisik, “I love you. Everything will be okay.”

Dalam kehilangan, saya belajar banyak tentang kekuatan cinta dan doa. Saya belajar untuk selalu menghargai waktu bersama orang-orang yang kita sayangi, sekecil apa pun momennya. Perjuangan kami melawan kanker adalah pengingat bahwa setiap hari adalah anugerah.

Pesan untuk Hari Kanker Sedunia

Saya ingin berbagi pesan kepada siapa pun yang menghadapi perjalanan ini: jangan pernah berhenti berdoa, berharap, dan mencintai. Sebagai caregiver, kita bisa menjadi pilar kekuatan bagi orang yang kita cintai. Jangan ragu untuk meminta bantuan dari keluarga atau teman, dan luangkan waktu untuk menjaga kesehatan mental Anda sendiri.

Untuk Sahabat Ruanita, mari kita tunjukkan kepedulian kepada mereka yang berjuang melawan kanker, baik pasien maupun caregiver. Terkadang, dukungan kecil seperti mendengarkan atau memberi pelukan hangat bisa membuat perbedaan besar.

Hari Kanker Sedunia bukan hanya tentang kesadaran akan penyakit ini, tetapi juga tentang cinta, keteguhan, dan harapan. Semoga cerita saya dapat menjadi pelita kecil bagi mereka yang sedang berjalan di jalan penuh duri ini.

Penulis: Kiky, relawan Ruanita Indonesia di Swedia yang dapat dikontak via akun instagram: little_monkey2016.