(CERITA SAHABAT) Bagaimana Bijak Bersosial Media Menurut Saya?

Halo, sahabat Ruanita! Izinkan saya memperkenalkan diri terlebih dulu. Saya biasa dipanggil Tyka dan saat ini saya tinggal di salah satu provinsi  di negara Spanyol, yaitu Barcelona. Saya tinggal sekitar 10 tahun lamanya. Dalam kurun waktu yang lumayan cukup panjang saya memberanikan diri untuk berwirausaha di sini.  Tentunya, itu membutuhkan sebuah keberanian dan mental yang lumayan cukup berat.  Mungkin ada beberapa pertanyaan dari sahabat Ruanita, apa yang menjadi inspirasi saya.  

Menurut saya, Barcelona adalah salah satu provinsi di Spanyol yang memberikan ruang  untuk kita lebih mudah membangun komunikasi, berelasi, dan berwiraswasta. Saya mengamati, kebanyakan  perempuan-perempuan lokalnya begitu mandiri dan punya integritas tinggi untuk menciptakan peluang. 

Banyak perempuan di sini gigih, tangguh, dan bisa membaca serta menangkap sebuah peluang. Secara tidak langsung, daya tarik mereka menumbuhkan hasrat besar bagi saya untuk  berwiraswasta dibandingkan menjadi karyawan. Tentunya, lingkungan dan relasi saya dengan  perempuan-perempuan di sini menjadi inspirasi saya. Saya tidak dapat menyebutkan nama mereka satu per satu, sayangnya.  

Saat ini, saya lebih fokus mengembangkan diri di bidang pariwisata yang mencakup  Hospitality, Event and Travel secara global.  

Untuk traveling, memang menjadi salah satu usaha kami. Bagi saya, traveling itu sangat  perlu ya. Secara tidak langsung, traveling memberikan wawasan dan  kesempatan serta ruang yang lebih untuk upgrade diri dan masih banyak Benefit lainnya. Saya yakin, jika sahabat Ruanita mencoba melakukan traveling bagi yang belum pernah, maka pasti akan merasakan perubahan yang luar biasa.

MEDIA SOSIAL DAN TINGGAL DI LUAR NEGERI

Media sosial itu bagi kami sangat menguntungkan, asalkan dalam penggunaan secara betul dan  memang dibutuhkan. Contohnya, media sosial akan  menguntungkan bagi kita yang sedang membangun usaha, untuk sarana membangun komunikasi, relasi, promosi (marketing) ataupun  bisa jadi untuk personal branding. Mungkin ini pendapat saya pribadi, tergantung  penggunaannya, bila kita gunakan secara positif. Tentunya, ini akan mengundang reaksi yang positif, tetapi kalau digunakan secara negatif, hasilnya akan menjadi negatif juga.  

Peran media sosial bagi saya 70% bisa untuk menjangkau komunikasi global dan relasi dibandingkan dilakukan secara  offline, yang mana tentunya sangat mempermudah dan dengan budget, yang lebih minus untuk bidang  marketing.  

Kami menggunakan media sosial untuk menciptakan aplikasi, branding, dan kampanye serta kolaborasi di Instagram, TikTok, dan ini sangat membantu kami.  

Kami membagikan pengalaman yang tujuannya untuk promosi, demi perkembangan bisnis kami di travel. Andaikan kami tidak memiliki bisnis di pariwisata, mungkin saya secara pribadi jarang melakukan update. Jadi, kami menggunakan media sosial untuk suatu kebutuhan. Itu salah satu kebijakan yang saya ambil juga.  

Selama ini, tantangan jarang sekali kami temukan karena kami hidup di sebuah tempat yang  penghasilanya 80% di bidang pariwisata di mana secara tidak langsung kami berperan  mengkampanyekan destinasi-destinasi mereka di bidang apapun. Sebelumnya, kami selalu  membangun komunikasi dengan yang bersangkutan ataupun atas permintaan mereka untuk  berkolaborasi.  

BIJAK DALAM BERSOSIAL MEDIA 

Terkait bijak bersosial media, berdasarkan pengalaman, kami sangat berhati-hati dan memahami  apa yang kita lempar atau melakukan update di media sosial, flexing, update status yang mengkritik, bicara  uang, politik, atau agama, maka saya sangat menghindarinya.  Hanya fokus untuk kegiatan-kegiatan yang sesuai profesi pekerjaan dan produk kami. Selama ini, kami belum pernah menemukan hal negatif, seperti cyberbullying, kritik, dan hal negatif lainnya.  Mungkin apa yang kita dapat, mungkin akan menyesuaikan apa yang kita lempar di media sosial. 

Kembali beralih tentang pendapat netizen Indonesia ya. Mungkin hanya sekilas kadang kami  membaca tetapi  tidak ditujukan ke kami. Saya pribadi begitu sulit berkomentar, cukup kami  mengerti situasi mereka dan kami lebih cenderung mencari solusi saja.

Setiap individu berhak bicara  apapun, tetapi kalau kita bisa mengerti mereka. Itu tidak akan menjadi beban yang mengganggu, apalagi  menjadi masalah buat kita. Ambil nilai positifnya saja, seburuk apapun komentar netizen, setidaknya ada segi positifnya yang bisa diambil.  

Budaya berkomentar di Spanyol jauh sangat beda ya dengan netizen Indonesia. Namun, maaf jangan  dijadikan perbandingan! Orang Spanyol akan lebih berkomentar membangun! Mereka berkomentar untuk membutuhkan informasi atau mereka ingin membangun untuk relasi. Jadi, itu salah satu hal yang menguntungkan kami.  

Kami sangat menjaga privasi dan data kami, dengan tidak menggunakan sosial media untuk  privasi kami seperti: keadaan keluarga, kondisi keluarga, atau kegiatan-kegiatan yang tidak bersangkutan dengan marketing kami, yang pastinya akan kami hindari untuk update di sosial media.  

Bagi sahabat Ruanita semua, media sosial akan menjadi bagian jembatan menuju  kesuksesan atau mencapai impian dalam bisnis apapun, asalkan kita bisa bersikap bijak dalam menggunakannya.

Bijak bermedia sosial diperlukan agar media sosial tidak menjerumuskan kita ke banyak hal negatif, yang kadang kita tidak menyadarinya. Pada akhirnya, tidak bisa bersikap bijak bermedia sosial akan membawa ke arus ke kehidupan, yang bisa  dibilang sulit, bila kita salah menggunakannya.  

Harapan saya kepada pemerintah Indonesia adalah pentingnya memberikan edukasi yang tepat mengenai penggunaan media sosial, agar masyarakat memahami batasan dan etika dalam menggunakannya. Hal ini tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga harus dimulai dari kesadaran setiap individu.

Regulasi yang dibuat pemerintah tidak akan efektif jika sumber daya manusianya tidak dibangun terlebih dahulu. Oleh karena itu, pendidikan tentang literasi digital perlu dimulai sejak usia dini, dari anak-anak hingga generasi muda.

Peran keluarga, terutama orang tua, sangat penting dalam membimbing anak memilih dan menggunakan media sosial secara bijak. Jika setiap orang tua di Indonesia melakukan ini, maka akan terjadi perubahan besar dalam cara kita berinteraksi di ruang digital. Dengan sinergi antara individu dan kebijakan pemerintah, media sosial bisa menjadi ruang yang lebih sehat dan produktif untuk semua.

PENUTUP DAN INSPIRASI 

Sejauh ini, pengalaman bersosial media bagi kami sangat bermanfaat bagi saya pribadi dan tim  kami, serta bisa mempermudah klien kami untuk menggunakan sebagai sarana informasi yang  mereka butuhkan, terutama di bidang pariwisata dan Hospitality yang dibutuhkan konsumen. Selain itu, media sosial kami anggap sebagai rasa penghargaan bagi konsumen kami atas apresiasi kami, yang telah memberi  kepercayaan ke kami dalam event mereka.  

Untuk seluruh sahabat Ruanita, yang menjadi pengguna sosial media dan ingin atau sedang berkarya di luar  negeri, ini pesan saya. Pertama, pahami apa Rule dalam menggunakan media sosial di tempat tersebut. Pasti setiap tempat memiliki Rule masing-masing yang berbeda dengan Indonesia. Bila sahabat Ruanita sudah paham benefit-nya, maka akan banyak perilaku bijak dalam membangun media sosial, seperti: memberi atau  mencari informasi positif.  

Sejauh ini, saya tetap akan menggunakan media sosial, baik Instagram, TikTok, dan evaluasi  aplikasi kami untuk di teknologi pariwisata. Tentunya, ini akan menjadi sebuah alat atau produk  yang bisa bermanfaat bagi orang banyak ke depan. Prinsip saya, media sosial merupakan salah satu bagian dari nyawa bisnis kami.  

Selebihnya tulisan ini semata-mata saya petik berdasarkan pengalaman saya pribadi. Mungkin  sahabat Ruanita bisa memetik hal positif untuk membantu Anda semua untuk terus  bertumbuh dan berkembang dalam membangun bisnis di luar negeri. Sebaiknya, kita tidak ragu dan tidak salah untuk menentukan pilihan dalam menggunakan media sosial. Sekian dari saya. Bila ada kekurangan, harap dimengerti dan dimaafkan.  

Penulis: Tyka Karunia, perempuan Indonesia berwirausaha di Barcelona, Spanyol, yang dapat dikontak melalui akun Instagram @tykakarunia.

(CERITA SAHABAT) Membesarkan Anak di Latvia dan Bagaimana Menemukan “Rumah” di Negeri Baltik

Halo, sahabat Ruanita! Nama saya Soca Indriya, biasa dipanggil Soca. Saya tinggal di Latvia bersama suami dan ketiga anak kami. Perjalanan ini awalnya bukan rencana besar yang kami buat jauh-jauh hari. Kami pindah ke sini karena saya mendapat tawaran bekerja di sebuah perusahaan multinasional yang berkantor di Latvia. Dari situlah kehidupan baru kami dimulai, jauh dari tanah air dan keluarga besar.

Jika dulu ada yang bertanya pada saya, “Apakah kamu akan menetap di Latvia?” mungkin saya hanya akan tersenyum bingung. Latvia bukan negara yang sering masuk dalam daftar destinasi impian. Tapi takdir membawa kami ke sini. Dengan tiga anak kecil, yakni si sulung usia 9 tahun, si anak tengah perempuan 8 tahun, dan si bungsu laki-laki 4 tahun, yang kemudian membuat kami berani mencoba hidup di negeri Baltik.

Awalnya penuh tanda tanya. Bagaimana dengan sekolah anak-anak? Bagaimana dengan cuaca yang katanya ekstrem? Bagaimana dengan bahasa yang terdengar asing di telinga? Semua itu jadi bagian dari petualangan pertama kami.

Dan ternyata, setelah dijalani, Latvia menyimpan kenyamanan tersendiri. Fasilitas umum untuk anak-anak sangat mendukung. Kota terasa tenang, tidak bising. Ada ruang untuk keluarga menikmati waktu bersama, sesuatu yang sebelumnya agak sulit kami dapatkan ketika masih di Indonesia karena kesibukan pekerjaan.

Perbedaan pertama yang paling terasa adalah soal cuaca. Latvia hanya punya musim panas sekitar tiga bulan. Sisanya adalah musim gugur, musim dingin, dan musim semi, di mana saya merasakan suhu yang jauh lebih dingin dari yang pernah saya bayangkan.

Di Indonesia, saya terbiasa bertemu orang di jalan, tersenyum, atau sekadar berbasa-basi dengan tetangga. Di Latvia, semua itu hampir tidak ada. Orang keluar rumah biasanya karena ada urusan. Senyum pada orang asing bahkan bisa dianggap mencurigakan.

Awalnya aneh, bahkan terasa dingin bukan hanya di udara, tetapi juga soal interaksi satu sama lain. Namun lama-kelamaan saya belajar, inilah budaya mereka. Dan sedikit demi sedikit, saya juga ikut berubah. Saya mulai terbiasa hidup dengan cara yang lebih “Latvian”, meski tetap menjaga jati diri sebagai orang Indonesia.

Salah satu perbedaan besar membesarkan anak di Latvia adalah ketiadaan dukungan keluarga besar. Tidak ada nenek, kakek, atau kerabat yang bisa ikut membantu. Akibatnya, anak-anak jadi lebih dekat kepada kami sebagai orang tua.

Saya merasakan ini sebagai hal yang sangat berharga. Hubungan emosional kami terasa lebih kuat. Tapi tentu saja, ada tanggung jawab tambahan. Di Indonesia, banyak orang tua bisa “menitipkan” urusan belajar anak kepada guru les atau kursus tambahan. Di sini, kami harus benar-benar mengambil peran penuh.

Saya dan suami menjadi guru untuk anak-anak kami. Dari pelajaran sekolah, hingga nilai-nilai kehidupan. Dan jujur saja, saya merasa banyak belajar juga dari proses ini.

Latvia memiliki sejarah panjang sebagai bagian dari Uni Soviet. Salah satu dampaknya adalah, masyarakat di sini tidak begitu religius. Agama ada, tetapi tidak begitu kuat dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagai muslim, saya harus ekstra berjuang menanamkan nilai agama pada anak-anak. Kami mengajarkan mengaji di rumah, melatih berpuasa meski teman-teman mereka tidak berpuasa, dan menjaga ibadah harian sebisa mungkin. Rasanya seperti mendaki perlahan, tapi saya percaya inilah investasi terbesar bagi masa depan anak-anak.

Syukurlah ada komunitas masjid di kota kami. Sesekali mereka mengadakan acara khusus anak-anak. Itu sangat berarti, karena membuat anak-anak merasa tidak sendirian dalam menjalani identitas keislamannya.

Bahasa adalah dunia baru bagi anak-anak saya. Di rumah, kami tetap menggunakan Bahasa Indonesia. Saya ingin mereka tidak kehilangan bahasa ibu. Tapi di luar rumah, anak-anak harus berbahasa Latvia.

Follow for more

Hal menarik, mereka juga otomatis bisa berbahasa Inggris. Teman-teman di sekolah datang dari berbagai negara, sehingga bahasa Inggris menjadi jembatan komunikasi. Tanpa kursus khusus, anak-anak bisa menguasai tiga bahasa sekaligus: Indonesia, Latvia, dan Inggris.

Ada pengalaman yang sampai sekarang membuat saya tersenyum setiap kali mengingatnya. Anak kedua saya, ketika baru masuk sekolah, memilih diam total. Ia tidak berbicara sama sekali dalam bahasa Latvia. Ternyata, itu caranya belajar. Ia mengamati, menyerap, mencatat dalam ingatan. Setelah tiga bulan, ia tiba-tiba bisa berbahasa Latvia dengan lancar. Wali kelasnya sampai terkejut, dan seluruh teman sekelas bertepuk tangan menyambut “aksi diam” yang akhirnya berakhir.

Saya merasa bersyukur dengan sistem pendidikan di Latvia. Sekolah menerima anak-anak kami dengan tangan terbuka. Guru wali kelas baik dan sabar.

Ketika bulan Ramadhan tiba, saya memberi tahu guru bahwa anak-anak tidak akan makan siang selama sebulan. Mereka tidak sepenuhnya mengerti konsep puasa, tapi mereka menghormati keputusan itu. Rasanya hangat sekali ketika melihat anak-anak tetap didukung meski berbeda dengan mayoritas.

Secara sosial, keluarga kami cukup diterima di Latvia. Jumlah imigran memang tidak banyak, sehingga wajah Asia masih terbilang jarang. Generasi muda Latvia relatif terbuka. Namun generasi tua masih sering memperlihatkan rasa asing, misalnya dengan tatapan penuh selidik di transportasi umum.

Awalnya, hal itu membuat saya kurang nyaman. Tapi lama-kelamaan, saya belajar untuk tidak terlalu memikirkan. Saya lebih memilih fokus pada hal-hal positif: anak-anak punya teman, sekolah mendukung, dan kehidupan berjalan baik.

Di rumah, kami berusaha sekuat tenaga menjaga budaya Indonesia. Kami tetap berbicara dalam Bahasa Indonesia, tetap memasak makanan Indonesia, dan tetap menceritakan kisah-kisah tentang tanah air.

Setiap 17 Agustus dan Idul Fitri, komunitas Indonesia di Latvia mengadakan perayaan sederhana. Kami membawa makanan masing-masing, berbagi cerita, dan melepas rindu akan suasana tanah air. Itu jadi momen penting untuk mengingatkan anak-anak: bahwa mereka berasal dari negeri kaya budaya bernama Indonesia.

Tantangan terbesar adalah soal tradisi. Bahasa dan makanan masih bisa dijaga. Tapi suasana perayaan kampung, tarian daerah, atau upacara bendera di sekolah tentu sulit tergantikan.

Hidup di lingkungan yang berbeda tentu memberi dampak psikologis bagi anak-anak. Saya dan suami berusaha mendukung perkembangan emosional mereka. Kami mendorong anak-anak ikut dalam kegiatan sekolah, berteman dengan siapa saja, dan berani menghadapi perbedaan.

Kadang ada miskomunikasi dengan teman-teman. Saya mencoba menjembatani, tapi tidak mengambil alih. Saya ingin anak-anak belajar menyelesaikan masalah sendiri. Saya percaya, itu akan membuat mereka lebih dewasa.

Sejauh ini, anak-anak cukup kuat. Tidak ada rasa minder atau merasa berbeda. Justru mereka lebih percaya diri karena bisa menguasai bahasa lebih dari satu.

Saya menyadari bahwa kelak, ketika anak-anak menginjak remaja, mungkin akan ada benturan budaya. Remaja Latvia cenderung lebih bebas, dengan pola pergaulan yang berbeda dari nilai yang kami anut sebagai keluarga Indonesia muslim.

Itu menjadi tantangan besar bagi kami. Kami hanya bisa menyiapkan pondasi sejak dini, agar mereka kuat memegang nilai yang kami tanamkan, sekaligus tetap bisa beradaptasi dengan lingkungannya.

Dari semua perjalanan ini, saya belajar bahwa hidup di luar negeri membuat keluarga kecil kami semakin solid. Dulu, ketika masih di Indonesia, saya dan suami sibuk bekerja. Waktu berkualitas bersama anak-anak hanya tersedia di akhir pekan. Itu pun kadang terganggu urusan pekerjaan.

Di Latvia, meski jauh dari keluarga besar, justru kami lebih banyak waktu bersama. Anak-anak lebih dekat dengan kami. Hubungan terasa lebih hangat. Saya benar-benar menikmati fase ini.

Harapan saya sederhana tapi besar: saya ingin anak-anak menyelesaikan pendidikan dengan baik, tumbuh menjadi pribadi yang kuat, bisa beradaptasi dengan dunia global, tapi tetap mencintai Indonesia.

Saya ingin mereka tetap fasih berbahasa Indonesia, tetap bangga dengan identitasnya, dan kelak, dari manapun mereka berada, bisa memberi kontribusi untuk negeri asal.

Untuk para orang tua Indonesia yang juga menjalani kehidupan di negeri orang, saya ingin menyampaikan: Tetap semangat. Syukuri hal-hal kecil setiap hari. Situasi di luar negeri mungkin tidak selalu ideal, tapi selalu ada sisi yang layak dijalani, dinikmati, dan diperjuangkan.

Perjalanan ini bukan sekadar tentang beradaptasi di tempat baru, tetapi juga tentang menemukan kembali arti keluarga, kebersamaan, dan cinta pada tanah air meski dari jauh.

Penulis: Soca Indriya, tinggal di Latvia dan dapat dikontak via akun instagram @socasoci.

(CERITA SAHABAT) Melahirkan Tanpa Mitos, Terpenting adalah Ibu yang Melahirkan itu Happy di Swiss

“Aku pernah bertanya ke suamiku, ada tidak sih mitos seputar kehamilan seperti itu di Swiss? Karena di Indonesia ada ya. Lalu kata suamiku, ‘tidak ada, yang penting ibu yang baru melahirkan happy, senang’. Tidak ada mitos-mitos seperti itu.” – Fitri

Halo, sahabat Ruanita! Kali ini, kita akan menceritakan Fitri berdasarkan program cerita sahabat spesial, yang pernah ditayangkan pada episode Juni 2022 lalu. Fitri adalah seorang perempuan Indonesia yang kini tinggal di Swiss dan membagikan pengalamannya saat menjalani kehamilan dan proses persalinan di negeri Eropa Tengah tersebut. Dalam kisahnya, ia membandingkan bagaimana pendekatan terhadap kehamilan dan persalinan sangat berbeda antara Indonesia dan Swiss, termasuk dalam hal kepercayaan, mitos, dan praktik keseharian.

Di Indonesia, kita sangat akrab dengan mitos-mitos kehamilan: mulai dari larangan makan makanan tertentu, posisi tidur yang diatur, sampai pantangan bersentuhan dengan benda atau aktivitas tertentu yang katanya bisa berdampak pada bayi. Namun, bagi Fitri, semua mitos itu seperti menguap begitu saja ketika ia menjalani kehamilan di Swiss.

Saat ia bertanya kepada suaminya, yang merupakan orang Swiss, apakah ada pantangan atau kepercayaan tertentu yang harus diikuti selama kehamilan, jawabannya sederhana namun mencengangkan bagi Fitri: tidak ada.

Yang terpenting dalam sistem Swiss, menurut suaminya dan tim medis yang mendampingi, adalah kesejahteraan ibu: apakah sang ibu merasa senang, tenang, dan nyaman. Tidak ada larangan makan ini atau itu, tidak ada anjuran untuk menghindari hal-hal tertentu berdasarkan kepercayaan turun-temurun. Semua rekomendasi medis berdasarkan ilmu pengetahuan dan kebutuhan individual sang ibu.

Bagi Fitri, sistem layanan kesehatan di Swiss merupakan salah satu yang terbaik yang pernah ia alami. Dari kontrol kehamilan bulanan, suntikan, tindakan medis, hingga pengobatan dan proses melahirkan – semuanya ditanggung oleh asuransi. Ia bahkan tidak perlu pusing menyiapkan pakaian atau perlengkapan bayi di rumah sakit, karena semuanya telah disediakan.

Menariknya, sistem perawatan ibu hamil dan melahirkan di Swiss begitu terstruktur. Setiap ibu hamil mendapatkan informasi jelas dan terperinci sejak awal. Ketika waktu melahirkan semakin dekat, Fitri tinggal menelepon rumah sakit yang telah ditentukan untuk membuat janji. Bahkan sebelum hari kelahiran, kondisi dirinya diperiksa dan ia diberikan tindakan akupunktur untuk mempercepat pembukaan – sebuah praktik medis yang jauh dari nuansa mistik atau mitos.

Hal unik lainnya adalah bahwa dokter kandungan yang mendampingi pemeriksaan kehamilan bulanan bukanlah orang yang akan menolong persalinan. Proses kelahiran Fitri justru ditangani oleh bidan rumah sakit, seorang profesional yang sudah terlatih.

Prosesnya pun sangat fleksibel. Saat diminta memilih metode persalinan, ia diberikan pilihan: normal atau melalui air (water birth). Fitri memilih melahirkan secara normal karena merasa tidak nyaman dengan kemungkinan melihat darah di air.

Setelah persalinan, Fitri dan bayinya langsung dipindahkan ke kamar bersama. Sistem di Swiss sangat menekankan ikatan antara ibu dan bayi, sehingga mereka tidak dipisahkan.

Hal yang lebih mengesankan lagi adalah layanan pascapersalinan di rumah. Lima hari setelah keluar dari rumah sakit, bidan akan datang ke rumah untuk memeriksa kondisi ibu dan bayi. Mereka mengecek berat badan bayi, melihat apakah ada tanda-tanda masalah kesehatan, dan bahkan mengajarkan ulang cara menyusui dan memandikan bayi.

Lebih lanjut, lembaga perlindungan anak setempat, juga akan datang ke rumah. Kunjungan mereka bukan dalam rangka menghakimi, melainkan untuk memastikan bahwa anak tumbuh di lingkungan yang aman dan sehat. Mereka ingin melihat apakah ibu dan ayah merasa bahagia, apakah rumah tangga harmonis, dan apakah ada potensi stres yang dapat mengganggu perkembangan anak.

Karena kemampuan bahasa Jermannya saat itu belum terlalu lancar, Fitri bahkan diberikan buku-buku anak sebagai bentuk dukungan edukatif untuk keluarga mudanya. Baginya, sistem ini sangat membantu dan tidak membuatnya merasa sendirian.

Satu hal lagi yang menarik adalah soal subsidi. Pemerintah Swiss memberikan bantuan tunai sekitar 200 Swiss Franc per anak setiap bulan (saat itu) jumlah yang cukup signifikan untuk membantu membeli kebutuhan dasar seperti susu dan popok. Sistem ini berlaku baik bagi ibu maupun ayah, tergantung siapa yang bekerja.

Bagi Fitri, menjalani kehamilan dan persalinan tanpa tekanan mitos membuatnya merasa lebih ringan dan fokus pada hal-hal penting: kesehatannya sendiri dan kebahagiaan bayinya. Ia merasa bahwa sistem Swiss lebih mempercayai kekuatan pengetahuan, pendampingan profesional, dan dukungan sosial, daripada ketakutan yang tidak rasional.

Cerita Fitri memberi kita perspektif bahwa kehamilan adalah pengalaman yang sangat personal dan seharusnya bebas dari rasa takut yang tidak berdasar. Pengalaman di Swiss menunjukkan bahwa ibu bisa lebih bahagia dan tenang ketika didampingi oleh sistem yang empatik, ilmiah, dan suportif, bukan oleh larangan-larangan yang belum tentu relevan.

Ruanita percaya bahwa setiap perempuan Indonesia, di mana pun mereka berada, berhak mendapatkan dukungan yang ramah, berbasis bukti, dan bebas stigma. Cerita sahabat seperti ini menjadi inspirasi kita semua untuk terus mendorong sistem layanan yang lebih baik, lebih peduli, dan lebih manusiawi.

Penulis: Andanistya, Relawan Ruanita Indonesia.

(CERITA SAHABAT) Dari Lahir Premature, Krabbelstube di Jerman, ke Kesehatan Mental Ibu

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan saya adalah Putri (nama samaran) dan sudah tinggal di Jerman sekitar dua tahun. Saya pindah ke Jerman karena saya menikah dengan pasangan saya, yang merupakan pria berkewarganegaraan Jerman. Saat tiba di Jerman, usia kehamilan saya sudah lebih dari enam bulan, dan masa beradaptasi cukup berat, baik fisik maupun emosional.

Saya sangat ingin anak saya tumbuh dalam kondisi yang optimal. Tantangan utama di awal adalah menghadapi lingkungan baru tanpa keluarga dekat, serta harus melewati masa-masa sulit di rumah sakit dengan kondisi bahasa yang terbatas. 

Ketika saya sedang mengandung di usia 7 bulan, dokter mendeteksi ada masalah pada kehamilan, khususnya pada plasenta. Saya dirujuk untuk pemeriksaan darurat di rumah sakit. Keesokan harinya, saya langsung pergi ke rumah sakit dan ternyata memang harus dirawat inap selama lebih dari satu minggu.

Dokter berusaha mempertahankan kehamilan selama mungkin, tetapi pada akhirnya saya harus menjalani operasi mendadak, karena kondisi yang mengancam. Bayi saya lahir di usia kandungan 32 minggu dengan berat 1,5 kg. Setelah itu, anak saya dirawat di ruang intensif selama lebih dari seminggu, lalu dipindahkan ke ruang perawatan anak biasa. Saya sendiri masih harus tinggal di rumah sakit. 

Anak saya lahir prematur di usia kandungan 32 minggu, setelah saya mengalami komplikasi kehamilan. Anak saya harus dirawat intensif selama hampir tiga bulan di rumah sakit, sementara saya menjalani masa pemulihan dengan kendala bahasa dan tanpa dukungan keluarga dekat.

Tantangan terbesar sebagai ibu pertama kali adalah pada masa awal kelahiran. Kondisi anak saya sangat membutuhkan perawatan intensif, sementara saya memiliki keterbatasan dalam berbahasa Jerman sehingga membuat situasi terasa sangat berat. Selain itu, proses pemulihan saya sendiri pasca operasi dan harus menjalani hari-hari penuh kekhawatiran, tanpa dukungan keluarga di sekitar sangat menguji ketahanan mental saya.

Masa itu sangat sulit dan penuh tekanan, apalagi karena saya belum bisa berbahasa Jerman dan tidak semua perawat bisa berbicara bahasa Inggris. Saya akhirnya meminta izin pulang lebih cepat karena merasa sangat stres dan tidak bisa tidur nyenyak. Anak saya tetap tinggal di rumah sakit selama sekitar tiga bulan, dan saya harus bolak-balik setiap hari untuk menjenguknya. Anak saya juga sempat menjalani operasi kecil. Saya bersyukur bahwa semuanya berjalan baik setelah itu. 

Masa-masa itu sangat menantang, tetapi saya belajar menjadi lebih kuat dan sabar. Saat ini, saya berfokus merawat anak dan menikmati belajar hal-hal baru, terutama seputar dunia anak-anak. Dalam keseharian, saya senang belajar hal baru, seperti dunia anak-anak, dan menikmati membaca serta berkegiatan di rumah.

Sebagai ibu di lingkungan baru, saya harus menyesuaikan diri dengan budaya, bahasa, dan sistem pengasuhan yang berbeda. Saya harus beradaptasi dengan budaya dan bahasa yang sangat berbeda. Saya juga tinggal jauh dari keluarga saya di Indonesia, yang tentu membuat saya merasa cukup kesepian di awal. 

Namun seiring waktu, saya mulai mengenal lingkungan sekitar dan menemukan orang-orang yang baik dan suportif, terutama dalam konteks pengasuhan anak. Saya memutuskan mendaftarkan anak ke Krabbelstube karena anak saya perlu bersosialisasi dan belajar berinteraksi dengan anak-anak lain.

Selain itu, saya juga ingin menjauhkan anak saya dari lingkungan yang tidak kondusif di sekitar rumah, yang menurut saya kurang sehat secara emosional. Saya percaya anak-anak butuh lingkungan yang stabil dan suportif untuk berkembang secara optimal. Meski awalnya sulit, saya bersyukur mendapat dukungan dari para pendidik di Krabbelstube, tempat anak saya kini bersekolah. Nah, apa itu Krabbelstube? Saya ingin berbaginya lewat cerita sahabat berikut ini. 

Di Krabbelstube, anak saya dapat mengikuti berbagai kegiatan seperti olahraga, musik, bermain, dan eksplorasi. Kegiatan di Krabbelstube sangat beragam dan menyenangkan.

Setiap hari Senin ada kegiatan olahraga, hari Kamis ada sesi musik, dan di hari-hari lainnya ada kegiatan bermain bebas, seni, membaca buku, dan eksplorasi di luar ruangan. Semua dilakukan dengan pendekatan yang sesuai dengan perkembangan usia anak. 

Perkembangan anak saya pun sangat pesat. Perbedaan anak saya, sebelum dan sesudah masuk Krabbelstube tentunya tampak sekali. Sebelum masuk Krabbelstube, anak saya belum bisa duduk sendiri.

Sekitar enam bulan setelah masuk, ia berkembang sangat pesat, mulai dari bisa merangkak, memahami perintah sederhana, dan sampai mengekspresikan keinginannya. Ia juga menjadi lebih aktif, tertarik pada lingkungan, dan mulai menunjukkan rasa ingin tahu yang tinggi. 

Secara fisik, saya melihat anak saya menjadi lebih kuat dan aktif. Secara kognitif, ia mulai bisa memahami instruksi dan mengenali rutinitas. Secara emosional, ia lebih ekspresif dan tampak bahagia. Ia juga mulai bisa berkomunikasi dengan cara-cara sederhana dan menunjukkan minat besar terhadap hal-hal di sekitarnya. 

Biaya bulanan sekitar 289 Euro, dengan fasilitas yang lengkap dan lingkungan yang aman. Biaya tersebut mencakup 80 Euro untuk biaya makan, 200 euro untuk betreuungkosten (=biaya penitipan anak), dan 9 Euro untuk keanggotaan kegiatan olahraga. Para pengasuh di Krabbelstube sangat profesional, ramah, dan terbuka. Ketika saya memiliki pertanyaan atau kekhawatiran tentang anak saya, mereka selalu siap memberikan penjelasan yang membantu dan menenangkan.

Fasilitasnya cukup lengkap, termasuk ruang bermain dalam dan luar ruangan, perlengkapan belajar, alat musik, perlengkapan olahraga anak, serta makanan yang disiapkan dengan standar gizi yang baik. Lingkungannya sangat aman dan bersih. 

Saya terkesan dengan sistem pendidikan dan kesehatan anak di Jerman yang terkoordinasi dan mendukung intervensi dini. Sistem di Jerman cukup terstruktur. Anak-anak dipantau secara berkala melalui pemeriksaan kesehatan dan perkembangan, serta bisa mendapatkan bantuan dan dukungan dini dari berbagai lembaga pendidikan dan kesehatan, jika diperlukan. Orang tua juga dilibatkan secara aktif dalam proses ini.  

Saya belajar bahwa kolaborasi antara orang tua, pendidik, dan tenaga kesehatan sangat penting. Sistem di sini sangat terkoordinasi dan fokus pada pencegahan serta intervensi dini. Saya berharap di Indonesia bisa diterapkan sistem pendampingan yang serupa agar setiap anak memiliki kesempatan berkembang secara optimal sejak dini. 

Saya berharap anak saya dapat tumbuh dengan bahagia, percaya diri, dan mampu mengembangkan potensinya secara maksimal. Saya ingin ia mendapatkan pendidikan yang baik, memiliki teman yang mendukung, dan mampu beradaptasi dengan lingkungan sosialnya.

Saya juga berharap ia tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, dan bisa menghargai perbedaan di sekitarnya. Harapan saya, anak saya bisa tumbuh bahagia, percaya diri, dan mampu mengembangkan potensinya. Saya merasa perjalanan ini sangat menantang, terutama secara emosional.

Namun saya belajar untuk lebih kuat dan sabar. Dukungan pasangan dan orang-orang di sekitar sangat membantu. Saya juga mulai menyadari pentingnya menjaga kesehatan mental saya sebagai ibu agar dapat memberikan lingkungan yang positif untuk anak saya. 

Pesan saya: membesarkan anak tidak cukup hanya dengan memberikan makan dan pakaian. Orang tua harus menyediakan lingkungan yang suportif dan sehat secara emosional. Saya menyadari betapa pentingnya menjaga kondisi mental dan stabilitas lingkungan bagi tumbuh kembang anak. Jangan ragu untuk mencari bantuan dan buat keputusan yang terbaik demi kebaikan anak, meskipun itu berat. 

Satu lagi, sahabat Ruanita! Pesan saya untuk para ibu lainnya: jangan ragu mencari bantuan! Jagalah kesehatan mental kita sebagai orang tua, karena itu adalah fondasi bagi anak untuk tumbuh dalam lingkungan yang positif.

Penulis: Putri (nama samaran) dan tinggal di Jerman.

(CERITA SAHABAT) Menjadi Ibu Sambung Lintas Budaya, Ini yang Saya Pelajari

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan saya, Ida yang menetap di Jerman lebih dari 20 tahun lebih. Saya berasal dari Bandung, Indonesia. Sebelum hidup saya berubah total di Jerman, saya adalah seorang guru sosiologi dan guru BK di sebuah SMA Islam berasrama di Bandung.

Hidup saya kala itu penuh dinamika: mengajar, membina remaja dari berbagai pelosok tanah air, dan aktif di berbagai kegiatan sosial. Saya mencintai kehidupan saya yang teratur dan penuh makna masa itu. Tapi hidup kadang membawa kita ke jalan yang sama sekali tak terduga.

Pada tahun 1999, saya dikenalkan oleh beberapa mantan murid saya kepada Pak Muiz, seorang pria Indonesia yang sudah lama menetap di Hamburg, Jerman.

Ia seorang duda dengan lima anak dari pernikahan sebelumnya dengan perempuan Jerman. Perkenalan kami unik, banyak melalui percakapan telepon, tanpa proses pacaran seperti umumnya. Tidak ada romantisme berlebih, hanya ada niat baik dan keberanian untuk membangun kembali hidup yang baru.

Setelah mengenalnya lebih dalam, saya melihat ketulusan seorang ayah yang berjuang membesarkan kelima anaknya sendirian setelah perpisahan yang pahit.

Ada satu kalimat dari Pak Muiz yang membekas di hati saya: “Jangan hanya menikahi saya, tapi juga menikahi anak-anak saya.” Kalimat itu menjadi janji batin saya.

Kami menikah di Bandung. Beberapa bulan kemudian, saya datang ke Jerman sebagai turis, sebelum akhirnya menetap secara resmi di tahun 2000.

Pertemuan dengan Anak-anak Sambung

Saat pertama kali bertemu, anak-anak menyambut saya dengan cukup hangat. Tapi saya bisa merasakan ada dinding tak kasat mata di antara kami. Wajar, saya pikir. Mereka adalah anak-anak dari keluarga broken home, membawa luka dan ketidakpercayaan terhadap figur ibu baru.

Anak pertama, laki-laki, berusia 21 tahun, baru selesai wajib militer. Anak kedua dan ketiga, perempuan, masing-masing berusia 19 dan 18 tahun. Si kembar, dua anak perempuan, baru berusia 11 tahun. Saya membayangkan bahwa dengan usia-usia seperti itu, mereka sudah mandiri seperti remaja di Indonesia. Tapi realitasnya berbeda.

Mereka tumbuh dalam budaya Jerman yang sangat menjunjung kemandirian, namun pada saat yang sama menyimpan luka emosional yang dalam. Anak tertua menarik diri di kamar, kecewa karena gagal berkarier di militer. Anak kedua sibuk dengan Ausbildung, semacam pendidikan vokasi. Anak ketiga berhenti sekolah. Dan si kembar, meski lebih mudah didekati, tetap menunjukkan kehati-hatian.

Tantangan Awal

Bahasa menjadi tantangan pertama. Saya tidak bisa berbahasa Jerman. Bahasa Inggris saya pun tidak banyak berguna di lingkungan kami, karena tetangga-tetangga dan toko-toko di sekitar hanya berbahasa Jerman. Anak-anak sambung saya hanya sedikit mengerti bahasa Indonesia.

Tapi saya tidak menyerah. Saya memilih menggunakan “bahasa tubuh”. Saya memasak untuk mereka, membersihkan rumah, menyiapkan sarapan, mendampingi tugas sekolah si kembar. Dengan itulah saya membangun komunikasi: lewat tindakan, bukan kata-kata.

Suami saya sangat membantu dalam hal ini. Ia meminta anak-anak untuk memanggil saya “Ibu,” bukan hanya menyebut nama saya, meskipun dalam budaya Jerman biasanya anak-anak memanggil ibu sambung dengan nama saja.

Mengalah untuk Bertahan

Saya belajar mengalah. Sangat banyak. Saya tidak membawa konsep otoritas saya sebagai “ibu baru” ke dalam rumah ini. Saya masuk sebagai tamu. Saya memahami bahwa rumah ini pernah retak. Anak-anak ini sudah melalui cukup banyak luka. Maka saya memutuskan, untuk sementara, saya hanya perlu hadir: sebagai teman, sebagai sosok yang konsisten dan bisa dipercaya.

Meskipun demikian, ada masa-masa di mana saya hampir menyerah. Tahun pertama menjadi ujian berat. Dunia saya yang dulu penuh aktivitas sosial, kini berganti menjadi rutinitas membangunkan anak-anak, menyiapkan sarapan, membereskan rumah, memasak, dan mendengarkan kesunyian.

Banyak malam saya bertanya pada diri sendiri: “Mengapa saya meninggalkan dunia saya?” Ada saat-saat di mana rasa kesepian menggerogoti. Ada godaan untuk pulang saja ke Indonesia, kembali ke kehidupan yang nyaman.

Namun saya ingat janji saya. Saya menikahi Pak Muiz dan anak-anaknya. Saya bertahan.

Adaptasi Nilai Budaya

Saya membawa nilai-nilai Indonesia ke dalam rumah ini: keramahan, perhatian, ketekunan. Setiap masakan Indonesia yang saya siapkan menjadi jembatan kecil menuju hati mereka. Mereka mulai menyukai rendang, nasi goreng, sate, dan makanan-makanan sederhana yang saya buat.

Namun saya juga belajar dari budaya Jerman: menghargai privasi, tidak mencampuri urusan orang tanpa diundang, berbicara secukupnya. Anak-anak di sini lebih senang jika diberi ruang. Saya belajar untuk tidak “menggurui” atau “memaksa.” Saya menawarkan bantuan, bukan memaksakan kehadiran saya.

Pelan-pelan, hubungan kami membaik. Si kembar mulai lebih sering bercerita. Mereka menunjukkan hasil ujian sekolahnya, meminta tanda tangan saya, dan menceritakan teman-temannya. Anak-anak yang lebih besar tetap menjaga jarak, tapi saya tahu mereka mulai menghargai kehadiran saya.

Konflik Emosional

Tentu saja, konflik tetap ada. Terutama di awal, ada rasa dari anak-anak bahwa saya “merebut” ayah mereka. Mereka yang selama enam tahun hanya hidup berempat dengan ayahnya, tiba-tiba harus berbagi perhatian.

Saya mengatasi itu dengan mengalah. Saya membiarkan mereka menikmati waktu-waktu bersama ayah mereka. Saya tidak menuntut perhatian suami saya berlebihan. Saya menjaga agar saya tidak memperkeruh suasana. Saya memilih menjadi penyokong dari belakang.

Saya percaya, cinta dan kepercayaan tidak bisa dituntut. Ia harus tumbuh perlahan.

Merayakan Keberhasilan Kecil

Ada satu momen yang sangat membekas: ketika si kembar mendapatkan nilai bagus di sekolah dan mereka berlari pulang menunjukkan hasilnya pada saya. Saat itu, saya tahu bahwa sedikit demi sedikit, dinding itu mulai runtuh.

Ada pula momen di mana anak-anak yang lebih besar, meskipun jarang berbicara, mulai menunjukkan perhatian kecil: memanggil saya untuk makan bersama, atau sekadar mengucapkan terima kasih atas makanan yang saya buat.

Pelajaran Besar

Tinggal di Jerman, menjadi ibu sambung lintas budaya, mengajarkan saya banyak hal:

Pertama, cinta itu lebih dari sekadar kata-kata. Ia hadir dalam perbuatan sederhana: memasak, mendengarkan, menemani dalam kesunyian.

Kedua, membangun keluarga berarti membangun kesabaran dan ketulusan. Kita tidak bisa menuntut cinta. Kita hanya bisa menawarkan cinta.

Ketiga, dalam keluarga lintas budaya, kita tidak bisa membawa semua nilai dari tanah air kita tanpa adaptasi. Kita harus membuka diri, belajar menghormati cara hidup yang berbeda.

Dan keempat, untuk bisa bertahan, kita harus berdamai dengan mimpi-mimpi yang tidak selalu bisa diwujudkan.

Saya dulu bermimpi melanjutkan S2 di Jerman. Tapi saya memilih menunda, karena prioritas saya adalah membangun keluarga ini. Bukan hanya keluarga saya dan suami, tapi juga menyembuhkan luka-luka lama anak-anak sambung kami.

Penutup

Menurut saya, pernikahan adalah ibadah dan merupakan sebuah janji suci pada Tuhan. Saya bertahan dalam pernikahan sebagai ibu sambung, itu lebih disebabkan pada komitmen saya terhadap nilai dan moralitas pernikahan. Pernikahan adalah sebuah kontrak sosial, yang bukan hanya menyangkut suami dan istri, melainkan juga keluarga dari suami dan istri.

Kini, setelah lebih dari dua dekade, saya menulis cerita ini bukan untuk menunjukkan betapa sulitnya perjalanan ini, tapi untuk berbagi bahwa perjalanan ini sangat mungkin dilalui. Dengan cinta, kesabaran, dan kerendahan hati.

Untuk Sahabat Ruanita yang mungkin sedang melalui jalan yang serupa: percayalah, cinta sejati itu dibangun pelan-pelan. Bukan dalam hitungan hari, tapi dalam kesetiaan bertahun-tahun.

Penulis: Ida, tinggal di Hamburg dan dapat dikontak via akun instagram idasurjantiridwan.

(CERITA SAHABAT) Sempat Kerja di Singapura, Kini Aku Menetap di Bangladesh

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan, namaku Hartini. Aku berasal dari sebuah kota kecil di Cilacap, Jawa Tengah. Aku hanyalah perempuan biasa yang kini menjalani kehidupan jauh dari tanah kelahiran, tepatnya di Bangladesh, bersama suami dan anak-anakku.

Aku bisa tinggal di Bangladesh karena menikah dengan seorang pria Bangladesh. Dari situlah babak baru dalam hidupku dimulai. Kini, sudah sembilan tahun aku hidup di negeri Bengali ini.

Aku dikaruniai dua orang anak yang menjadi penguat sekaligus pelengkap hidupku. Anak pertamaku berusia 10 tahun, sementara si bungsu kini berusia 6,5 tahun. Kehadiran mereka membuat aku semakin tegar menjalani hari-hari di negeri asing.

Ketika pertama kali datang, aku merasa kagum sekaligus canggung. Orang-orang di sini sangat ramah. Mereka sering datang ke rumahku untuk sekadar melihat dan berkenalan. Mereka penasaran, seperti apa perempuan Indonesia yang menikah dengan pria Bangladesh.

Rasa ingin tahu mereka sempat membuatku kikuk, tetapi lama-lama aku terbiasa. Aku belajar bahwa keramahan itu adalah cara mereka menunjukkan penerimaan.

Sebagai perempuan Indonesia, aku melihat ada perbedaan besar dengan kehidupan di tanah air. Di sini, banyak perempuan memakai burqa atau pakaian panjang. Itu bagian dari norma sosial dan budaya yang dijunjung tinggi.

Peran laki-laki juga terasa lebih dominan. Perempuan sering berjalan atau beraktivitas bersama laki-laki sebagai bentuk kebersamaan keluarga. Hal ini tentu berbeda dengan kebiasaan di Indonesia, tetapi bagiku ini adalah hal baru yang harus dipahami dengan hati terbuka.

Salah satu hal yang membuatku terkejut adalah cara makan. Di Bangladesh, semua orang makan dengan tangan, bahkan ketika menyantap sup! Awalnya sulit bagiku, tetapi akhirnya aku belajar untuk menyesuaikan diri.

Follow us

Hal-hal kecil seperti ini justru membuatku semakin menyadari betapa uniknya kehidupan lintas budaya.

Meski jauh dari tanah air, ada sesuatu yang membuatku betah: alam Bangladesh. Lingkungan tempatku tinggal masih sangat alami. Burung-burung beterbangan setiap hari, bahkan kadang masuk ke dalam rumah. Aku juga bisa dengan mudah melihat serigala yang berkeliaran di lokasi tempat tinggalku sekarang.

Suasana itu membuatku merasa damai. Jujur saja, aku jarang melihat pemandangan seperti ini ketika masih di Indonesia.

Bangladesh memiliki musim yang sangat berbeda dari Indonesia. Musim dingin adalah masa yang paling sulit untukku karena aku belum pernah mengalaminya sebelumnya. Aku bahkan sempat jatuh sakit di awal kehidupanku di sini. Tetapi perlahan, aku belajar beradaptasi.

Anak-anakku tumbuh dalam lingkungan yang penuh kebersamaan. Keluarga besar di sini biasanya tinggal berdekatan, sehingga suasana selalu ramai. Aku bersyukur karena mereka bisa merasakan kehidupan sosial yang kaya, meski jauh dari Indonesia.

Hidup di Bangladesh memberiku banyak pelajaran. Aku belajar tentang kesabaran, ketabahan, dan rasa syukur. Hidup jauh dari keluarga membuatku lebih mandiri.

Aku juga belajar untuk lebih peduli pada sesama, karena di sini masih banyak orang yang hidup sederhana dan membutuhkan bantuan.

Sampai hari ini, aku belum pernah pulang ke Indonesia lagi. Rindu keluarga tentu ada, sangat besar malah. Tapi kerinduan itu kuobati lewat telepon dan video call.

Ada kendala biaya, ada juga halangan pandemi COVID-19 yang membuat rencanaku tertunda. Suamiku kini bekerja di Singapura setelah sempat berhenti bekerja beberapa tahun. Kami berjuang bersama, sambil terus menyimpan harapan untuk bisa pulang ke tanah air suatu hari nanti.

Aku berdoa, semoga tahun depan kami bisa kembali ke Indonesia. Aku ingin memeluk keluarga, melepas rindu, dan merasakan lagi tanah tempat aku dilahirkan.

Untuk para perempuan Indonesia yang ingin tinggal, menikah, atau belajar di Bangladesh, pesanku sederhana: siapkan hati untuk menerima perbedaan. Jangan kaget dengan aturan sosial, budaya, maupun cuaca.

Terimalah dengan lapang dada, karena setiap perbedaan menyimpan pelajaran berharga yang akan membuat kita lebih kuat dan bijaksana.

Dari Cilacap ke Bangladesh, inilah perjalananku. Sebuah cerita tentang cinta, kesabaran, dan harapan yang tak pernah padam. Perjalanan ini bukan hanya tentang berpindah tempat, tapi juga tentang belajar menerima perbedaan, menghargai budaya, serta menemukan arti kesabaran dan syukur dalam keseharian.

Aku percaya, setiap perempuan punya kekuatan untuk beradaptasi di mana pun ia berada, asalkan hatinya terbuka. Bagaimana denganmu, Sahabat Ruanita?

Penulis: Hartini, Content Creator yang tinggal di Bangladesh dan dapat dikontak melalui akun instagram hartini_zia.

(CERITA SAHABAT) Tidak Merasa Sepi atau Sedih di Hari Raya, Justru Saya Belajar Toleransi dari Sesama Perantau di Taiwan

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan nama saya Elok Fenisia, biasa dipanggil Elok. Saat ini, saya adalah seorang ibu beranak satu dan bekerja sebagai full-time mom. Saya mengurus dan merawat anak saya sendiri dari lahir sampai saat ini berusia 16 bulan di Taiwan. Sejak pertengahan tahun 2025 ini, saya dan keluarga menetap di Paraguay, Amerika Selatan.

Saya berasal dari Balikpapan, kemudian saya sempat berdomisili di Surabaya. Sebelum pindah ke Taiwan, saya berkuliah S1 jurusan psikologi di Malang, kemudian saya sempat juga melanjutkan studi S2 di Surabaya.

Perjalanan saya ke Taiwan diawali dengan pertemuan saya dengan suami, yang dulu masih menjadi pacar, ketika saya sedang mencari peluang studi S2 di Surabaya. Saat itu, saya datang ke gereja dan berjumpa dengan Lorddy, yang kini menjadi suami saya. Saat itu, Lorddy sedang menunggu pengumuman studi S2 di Taiwan. Singkat cerita, kami merasa cocok dan memutuskan menjalin hubungan berpacaran. Tiga bulan setelah itu, Lorddy diterima kuliah S2 di Taiwan, sehingga kami harus menjalani hubungan jarak jauh. 

Selama empat tahun delapan bulan akhirnya hubungan jarak jauh itu pun berakhir dengan komitmen janji s ucipernikahan. Kami menikah di Surabaya, yang membuat kami memutuskan untuk tinggal bersama di Taiwan. Saya pun segera mengurus administrasi untuk kelengkapan visa. Saya pun berangkat ke Taiwan dan tinggal di Taiwan di tengah suami sedang menempuh pendidikan studi S3, hingga sekarang bekerja. Itu sebabnya, mengapa saya berada di sini sejak tahun 2022.

Momen perayaan Natal bagi saya sangat spesial, yang mana saya selalu merayakan dengan penuh kemeriahan, ketika saya masih berada di Indonesia. Sebaliknya, ini berbeda sekali ketika saya berada di Taiwan. Saya mengalami kesedihan, saat saya merayakan Natal di Taiwan.

Follow us

Tentunya, ada perasaan jauh dari keluarga besar di Indonesia, sehingga tidak bisa merayakannya bersama keluarga besar. Perayaan Natal di Taiwan sangat berbeda dengan di Indonesia, mengingat bahwa hari raya Natal bukan hari libur nasional keagamaan di Taiwan. 

Sekalipun Natal di Taiwan bukan hari libur, tetapi gereja saya tetap merayakannya di hari Minggu yang mendekati tanggal 25 Desember tersebut. Agar lebih meriah, perayaan Natal pada 25 Desember tersebut, saya pun memasak makanan spesial Indonesia. Saya juga membuat aneka kue kering dan memasang aksesoris Natal. Meski perayaan Natal berbeda dengan kebiasaan yang saya alami sewaktu di Indonesia, saya tidak merasa ada tantangan tersendiri. Saya mencoba beradaptasi dan menerima kondisi yang sedang saya alami. Hal terpenting buat saya adalah bisa berkumpul dengan suami dan anak saya. Itu sudah cukup di hari raya Natal.

Saya juga melihat bahwa saya tidak sendirian ketika sedang berada di perantauan saat merayakan Natal. Sebagian besar komunitas yang saya kenal di Taiwan adalah teman-teman anggota gereja, yang selalu memberikan dukungan sosial dan semangat satu sama lain, dalam menyambut Natal. Dukungan positif tidak hanya datang dari mereka yang seiman saja, saya juga pernah merasakan dukungan dari orang-orang sekitar saya, meskipun mereka tidak merayakan Natal. Mereka memberikan ucapan Natal dan lainnya mereka memberikan parcel Natal, padahal mereka tidak merayakan Natal. 

Justru perbedaan keyakinan di antara kenalan dan teman-teman saya, memperkuat solidaritas dan jembatan untuk saling memahami satu sama lain. Saya sangat menghargai hal itu. Contohnya, saat saya pergi ke Taipei Main Station, tempat berkumpulnya orang Indonesia atau beberapa titik tempat lainnya di Taiwan, saya mendapati acara berbagi makanan/minuman  untuk menyambut Natal. Selain itu, ada beberapa kali acara kebersamaan yang mampu menyatukan perbedaan menjadi jembatan untuk saling memahami dan menghargai. Artinya, meski saya jauh dari Indonesia, saya merasakan perayaan Natal di tengah keragaman perbedaan keyakinan bersama orang-orang di Taiwan.

Di tengah dunia yang beragam, tentu tak mudah merawat solidaritas. Saya pikir, ini bisa dimulai dari hal sederhana, seperti senyuman saat bertemu dan berkumpul atau memberi ucapan saat momen spesial mereka. Bentuk solidaritas lainnya adalah kita bisa memberikan bantuan, ketika mereka membutuhkan, misalnya: memberi tumpangan, memberi arahan jika mereka bertanya, dan tidak menghakimi atas apa yang mereka lakukan.

Di Taiwan sendiri, saya ikut serta bergabung dalam komunitas Gereja Kristen Indonesia (Indonesia Ministry Bread of Life Church). Saya dan suami aktif melayani di gereja setiap ibadah Minggu hingga momen Natal. Dalam komunitas ini, mereka sangat hangat menyambut saya dan mendukung pertumbuhan saya secara rohani dan mental. Beberapa kali, kami juga mengadakan acara kebersamaan dengan orang yang berbeda keyakinan, seperti jalan-jalan bersama ataupun hanya sekedar makan bersama.

Menurut saya, bergabung dalam komunitas ketika kita berada di perantauan seperti Taiwan, tentu sangat berperan penting. Mereka adalah rumah kedua saya. Kami bisa mengadakan ibadah perayaan Natal bersama, yang mana saya pun ikut melayani di sana. Saya sangat terharu dan bersyukur bisa merayakan Natal bersama teman-teman seperantauan di Taiwan. Biasanya saat menyambut Natal ini, mereka membagi bingkisan kue, coklat, serta ada makan bersama. Menyaksikan banyak orang Taiwan yang juga merayakan Natal bersama di gereja, pun menambah momen bersyukur saya di saat hari raya Natal. Bahkan ketika saya melahirkan dan memiliki anak, mereka sangat mendukung dari hal kecil seperti kebutuhan bayi hingga dukungan finansial.

Makna Natal menurut saya merupakan bentuk kasih atas apa yang Tuhan berikan dalam hidup saya, sehingga di mana pun saya berada tidak mengubah pandangan makna Natal itu sendiri. Sekalipun saya berada di negara yang tidak merayakan hari raya Natal, hati saya akan tetap bersemangat dan bersyukur dalam menyambut Natal. Menurut saya, perayaan Natal tidak bergantung pada di lokasi mana kita tinggal, tetapi bagaimana kita tetap merayakannya di dalam hati kita. 

Tentu saja, ada lesson learned dalam hidup tentang toleransi dan solidaritas yang dipelajari selama tinggal di Taiwan. Saat saya tinggal jauh dari tanah air, saya bertemu dengan orang-orang dari berbagai latar belakang budaya, agama, dan kebiasan yang berbeda. Dari sini, saya belajar tentang toleransi bukan sekedar kata, tetapi sikap nyata yang harus dilakukan setiap harinya. Pertama, kita perlu menghargai perbedaan tanpa menghakimi. Sebelum menilai seseorang, saya belajar mencoba memahami sudut pandang yang berbeda. Saya memahami bahwa perbedaan pandangan justru akan memperkaya kapasitas toleransi saya. 

Kedua, kita perlu membangun komunikasi yang baik agar menghindari kesalahpahaman. Saya belajar bahwa komunikasi yang jelas dan terbuka, menghasilkan respon yang lebih baik di dalam perbedaan. Ketiga, kita bisa saja menemukan persamaan di tengah perbedaan. Saya menyadari bahwa persamaan paling utama adalah saya dan teman-teman di Taiwan adalah orang perantauan. Pada akhirnya, saya belajar bahwa sekalipun kita berbeda, kita memiliki hal yang sama yaitu rasa rindu akan tanah air dan membawa nama tanah air di Taiwan. Oleh sebab itu, saya belajar tentang toleransi dan solidaritas dari sesama perantau di Taiwan.

Sahabat Ruanita, jika kalian merayakan Natal yang jauh dari tanah air ataupun di negara yang tidak memiliki hari libur Natal, semoga damai dan sukacita Natal selalu menyertai hati kalian semua. Menurut saya, Natal adalah tentang Iman dan pengharapan. Sekalipun suasana di sekitar mungkin terasa berbeda, kita perlu ingat bahwa Natal tidak bergantung pada tempat, tetapi ada dalam hati. Tetaplah bersinar dan biarlah kasih, iman, dan pengharapan tetap menjadi sumber kekuatanmu.

Terakhir, bagi Sahabat Ruanita yang merayakan Natal, kita perlu sebarkan semangat Natal di mana pun berada. Meskipun, perayaan Natal terasa sepi, kita tidak perlu merasa sendiri. Ketahuilah bahwa banyak perempuan Indonesia lain yang mengalami hal yang sama. Temukan komunitas di sekitar kalian tinggal, baik secara offline/langsung maupun online/daring, untuk saling menguatkan dan berbagi kebahagiaan Natal.

Motto saya: Hidup bukan sekadar menghitung hari, tetapi bagaimana kita mengisi setiap hari dengan makna. Bagi saya, “Setiap Hari Harus Spesial” sudah melekat di hati dalam menciptakan kisah yang tak hanya berarti bagi diri saya, tetapi juga bagi orang-orang di sekitar, khususnya bagi orang yang saya sayangi. Saya percaya bahwa sekecil apa pun momen itu, jika dijalani dengan rasa syukur, akan menjadi spesial. 

Penulis: Elok Fenisia, tinggal di Paraguay dan sempat menetap juga di Taiwan dan dapat dikontak lewat akun IG: @elokfenisia.

(CERITA SAHABAT) Merak: Seni Menikmati Hidup Tanpa Terburu-buru di Serbia

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan saya Mery, perempuan asal Indonesia yang sejak tahun 2015 menetap di Serbia setelah menikah dengan suami yang berkewarganegaraan Serbia. Sebelum pindah, saya tinggal di Bekasi—sebuah kota yang sibuk, penuh dengan lalu lintas macet, dan ritme hidup yang selalu terburu-buru. Kini, kehidupan saya berbalik arah 180 derajat. Dari keramaian kota besar, saya beralih ke sebuah desa yang berjarak dua hingga tiga jam perjalanan dari Belgrade, ibu kota Serbia.

Perbedaan itu sangat terasa. Di Bekasi, semua serba cepat dan penuh tekanan. Di sini, hidup berjalan jauh lebih santai. Ritme yang dulu menuntut saya berlari kini berubah menjadi langkah-langkah yang lebih tenang dan teratur.

Tantangan terbesar yang saya hadapi ketika pindah ke Serbia adalah iklim. Tubuh saya butuh waktu lama untuk menyesuaikan diri dengan musim dingin yang begitu ekstrim dibandingkan dengan cuaca tropis Indonesia. Sampai sekarang pun, setiap kali musim dingin datang, saya masih harus berjuang menyesuaikan diri.

Namun, di balik tantangan itu, ada banyak hal yang membuat saya kagum. Di desa tempat saya tinggal, orang-orang memiliki kebiasaan yang sederhana tetapi hangat: mereka selalu menyapa siapa pun yang mereka temui di jalan. Anak-anak pun sudah terbiasa menghormati orang dewasa dengan sapaan ramah. Setiap pagi, para orang tua biasanya berkumpul bergantian di rumah tetangga untuk minum kopi bersama. Saya merasa inilah salah satu kekayaan budaya yang mengajarkan pentingnya keakraban sosial.

Di Serbia, saya berkenalan dengan sebuah istilah yang indah: merak (мерак). Sulit menemukan padanan kata yang tepat dalam bahasa Indonesia, tetapi secara sederhana merak berarti seni menikmati hidup tanpa terburu-buru.

Saya pertama kali merasakannya ketika berjalan-jalan di taman kota. Orang-orang duduk santai di bangku, bercakap-cakap sambil menyeruput kopi, atau sekadar mengawasi anak-anak bermain. Tidak ada rasa terburu-buru, tidak ada agenda besar. Hanya momen sederhana yang dijalani dengan penuh kesadaran.

Di desa, merak hadir lebih dekat dengan alam. Kami sering duduk di halaman rumah, berbincang santai, sambil menikmati suara burung berkicau. Kadang-kadang muncul ayam hutan, kelinci liar, atau bahkan kijang. Semua itu menghadirkan kebahagiaan yang begitu sederhana, tapi mendalam.

Ketika membandingkan kehidupan di Serbia dan Indonesia, saya melihat perbedaan besar dalam cara orang menemukan kebahagiaan. Di Indonesia, khususnya di kota besar, kehidupan sering kali dipenuhi kesibukan dan tuntutan sosial. Di Serbia, terutama di pedesaan, kebahagiaan hadir dalam bentuk kebersamaan yang tenang: berjalan di hutan, bercocok tanam, atau duduk santai di rumah bersama keluarga.

Follow us

Yang paling kontras bagi saya adalah suasana kumpul keluarga. Di Indonesia, kumpul keluarga biasanya ramai dan besar. Di Serbia, suasananya lebih sederhana dan intim. Keduanya sama-sama berharga, hanya berbeda cara.

Sejak tinggal di Serbia, saya belajar untuk mempraktikkan merak dalam kehidupan sehari-hari. Bagi saya, merak bisa sesederhana:

  • Bangun pagi tanpa terburu-buru.
  • Mengurangi waktu bermain media sosial.
  • Menghabiskan lebih banyak waktu untuk berbicara dengan keluarga.
  • Memasak sendiri dengan bahan segar dari pasar lokal atau kebun.
  • Memilih produk yang ramah lingkungan.
  • Menikmati berjalan di alam terbuka.
  • Bercocok tanam di musim panas.

Semua itu membuat hidup saya terasa lebih tenang, bermakna, dan bahagia. Saya merasa lebih hadir di setiap momen, lebih dekat dengan orang-orang tercinta, dan lebih sadar akan hal-hal kecil yang patut disyukuri.

Bagi saya, merak erat kaitannya dengan tiga elemen: alam, waktu, dan hubungan sosial.

Alam memberi ketenangan dan keseimbangan. Berjalan di hutan, menikmati pemandangan, atau sekadar menghirup udara segar membuat stres berkurang dan rasa syukur meningkat.

Waktu luang yang tidak dihabiskan di depan layar gadget membuat saya lebih fokus pada saat ini. Saya bisa benar-benar menikmati percakapan, aktivitas rumah, atau sekadar duduk santai tanpa harus merasa bersalah karena tidak “produktif.”

Hubungan sosial menjadi pengikat. Waktu bersama keluarga dan teman-teman, meski sederhana, memberi makna yang dalam. Kehangatan itu adalah bagian dari merak.

Pelajaran paling berharga yang saya dapatkan dari gaya hidup merak adalah menyadari bahwa kita sering mengejar hal-hal yang sebenarnya tidak kita butuhkan. Perlambatlah langkah, maka kita akan lebih jernih melihat apa yang penting.

Dengan slow living, saya bisa memberikan perhatian penuh pada orang-orang terdekat—suami, anak-anak, keluarga. Saya bisa lebih menghargai momen yang ada, dan yang pasti, stres pun berkurang.

Sebagai perempuan Indonesia yang tinggal di luar negeri, saya tahu banyak dari kita yang merasa harus selalu produktif, harus selalu berhasil. Saya percaya produktif dan berhasil memang penting, tetapi tidak boleh membuat kita kehilangan keseimbangan hidup.

Bagi saya, kunci utamanya adalah punya tujuan yang jelas, mengelola waktu dengan bijak, menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, serta tetap berpikir positif. Produktivitas sejati bukan hanya tentang hasil besar, tapi juga tentang kualitas hidup yang kita jalani setiap hari.

Jika saya boleh membagi satu kebiasaan sederhana ala Serbia yang bisa diterapkan di mana pun, itu adalah ritual minum kopi. Bukan sekadar minumannya, tetapi momen yang tercipta.

Di Serbia, kopi dinikmati bukan untuk terburu-buru berangkat kerja, melainkan untuk bersantai, bercakap, dan terhubung dengan orang lain. Bagi saya, kopi pagi bersama keluarga atau teman adalah bentuk merak yang paling nyata. Ia menjadi jeda dari hiruk pikuk hidup, sebuah kesempatan untuk benar-benar hadir.

Sekarang, rumah bagi saya bukan hanya bangunan fisik. Rumah adalah tempat di mana saya diterima, dihargai, dan bisa menjadi diri sendiri. Rumah adalah kehangatan keluarga, tempat di mana saya merasa aman dan dicintai tanpa syarat.

Rumah, bagi saya, adalah tempat yang selalu membuat saya ingin pulang.

Dari perjalanan saya, dari Bekasi hingga Serbia, saya belajar bahwa kebahagiaan bisa ditemukan dalam kesederhanaan. Tidak selalu tentang pencapaian besar, tapi tentang momen kecil yang dijalani dengan penuh kesadaran.

Pesan saya untuk siapa pun yang membaca: hargai setiap momen, fokus pada hal-hal yang benar-benar penting, dan temukan kebahagiaan dalam kesederhanaan. Jangan takut untuk memperlambat langkah, karena justru dengan itulah kita bisa merasakan hidup dengan lebih utuh.

Penulis: Merry, tinggal di Serbia dan dapat dikontak via akun instagram cemanitempehserbia. 

(CERITA SAHABAT) Tantangan Pascamelahirkan yang Menguras Mental, Ketika Hidup di 2 Negara Berbeda

Halo, sahabat Ruanita! Ijinkan saya memperkenalkan diri. Nama saya Merry, yang saat ini menjadi ibu rumah tangga penuh. Saya sekarang berdomisili di Portugal. Saat cerita sahabat ini ditulis, saya tinggal di Arab Saudi.

Sedikit membagikan cerita dari saya terkait pengalaman melahirkan yang cukup menantang buat saya, kelahiran pertama pada masa pandemi Covid-19 terjadi, dan kelahiran kedua di Arab Saudi. Kedua kelahiran tersebut dijalani tanpa bantuan keluarga dan jauh dari sanak saudara di Indonesia, yang seharusnya bisa menjadi social support system buat saya.

Saya melahirkan kedua anak saya di dua negara yang berbeda. Kelahiran pertama di Singapura dan kelahiran kedua di Arab Saudi. Berbeda sistem layanan kesehatan, berbeda bahasa dan juga budayanya.

Follow us

Pada kedua proses melahirkan tersebut tidak ada kendala, tapi saya rasakan mulai tumbuh rasa baby blues itu beberapa bulan setelah melahirkan. Setelah kepindahan kami, saya mulai timbul rasa kesepian dan terisolasi. Di mana proses adaptasi tersebut tidak mudah bagi saya.

Sejak saat itu saya menyadari bahwa pentingnya menjaga kesehatan mental kita sendiri, demi ibu dan anak. Keterbukaan dan berdiskusi pada pasangan tentang hal-hal yang membuat diri kita kurang percaya diri, juga membantu mengurangi tuntutan untuk selalu menjadi sempurna. 

Meski teknologi lebih mudah dan modern, nyatanya setelah melahirkan akan mulai timbul adanya rasa tekanan dalam menjalani aktivitas sehari-hari yang berperan sebagai seorang ibu dan berkomitmen penuh kepada orang yang kita cintai, untuk tetap menjaga keharmonisan pada keluarga maupun orang-orang terdekat. 

Tentunya dalam menjaga kesehatan mental setelah melahirkan sangat dibutuhkan dukungan penuh dari pasangan, keluarga, atau orang terdekat maupun komunitas yang dapat memberikan pandangan positif, agar rasa percaya diri kita kembali. 

Begitulah sahabat Ruanita pengalaman saya sebagai ibu pascamelahirkan, jauh dari tanah air dan situasi negara tinggal yang berbeda budaya. Tinggal di luar negeri tentunya tidak selalu indah. Adaptasi itu perlu. Semoga cerita saya.

Penulis: Merry, perempuan Indonesia tinggal di Portugal.

(CERITA SAHABAT) Menjadi Single Mom by Choice di Rumania: It’s my Choice

Halo Sahabat Ruanita, perkenalkan, saya Barbie Nouva, yang kini menetap di Rumania. Saya lahir dan besar di Indonesia, dengan darah campuran yang unik. Mama saya berasal dari Brasil, sementara papa saya berdarah Arab. Sejak kecil, saya sudah terbiasa berada di persimpangan budaya, sehingga saya tumbuh di antara beragam nilai, bahasa, dan kebiasaan.

Masa muda saya banyak diwarnai dengan musik. Saya menempuh pendidikan di Berlin University, mengambil studi Musik. Musik adalah cinta pertama saya, pintu yang membawa saya berkelana jauh dari tanah kelahiran. Namun, setelah lulus dan kembali ke Indonesia, karier musik saya tidak berkembang sesuai harapan. Dari situ saya mengambil keputusan: saya kembali lagi ke Eropa. Saya sempat melanjutkan studi di Spanyol, hingga akhirnya mendapat tawaran pekerjaan di Rumania.

Awal 2024, saya resmi pindah ke sini. Saat ini, saya sedang menjalani parental leave selama dua tahun. Hari-hari saya diisi dengan mengurus anak, mengikuti kelas daring tentang parenting dan keterampilan baru, membuat konten edukasi tentang perjalanan saya sebagai ibu tunggal, serta tetap mengelola bisnis skincare di Indonesia dari jauh.



Keputusan saya menjadi seorang single mom by choice tidak datang tiba-tiba. Ini berawal dari sebuah janji dan cinta. Bersama almarhum pasangan saya, kami pernah merencanakan memiliki anak lewat inseminasi. Alasan utamanya adalah kesehatan saya. Saya memiliki autoimun, riwayat overweight, dan pernah koma karena anoreksia nervosa. Kondisi itu membuat beliau khawatir jika saya hamil secara alami.

Beliau yang lebih dulu mencari informasi tentang inseminasi. Saya masih ingat, betapa seriusnya ia memastikan bahwa saya akan tetap sehat jika suatu hari kami memiliki anak. Sayangnya, rencana itu terhenti ketika beliau berpulang karena kanker. Kehilangan itu mengguncang saya. Saya bahkan sempat menunda semuanya, memberi tahu rumah sakit bahwa saya tidak akan melanjutkan program.

Meski begitu, saya tetap menjaga komunikasi dengan bank donor yang sudah kami pilih. Dalam hati, saya menyimpan satu janji untuk diri sendiri: jika suatu saat saya merasa siap, dan menemukan donor yang mirip dengan beliau, saya akan melanjutkan langkah ini.



Bagi saya, single mother by choice bukan sekadar label. Ia adalah perwujudan kesiapan seorang perempuan untuk menjadi ibu meskipun tidak memiliki pasangan. Ini tentang tanggung jawab, keberanian, dan cinta yang mendalam.

Sebenarnya, keinginan saya menjadi ibu tunggal sudah ada sejak remaja. Waktu itu, saya menyampaikannya pelan-pelan pada keluarga. Mereka hanya tersenyum, menganggapnya angan-angan anak kecil. Tapi ide itu tetap tumbuh di hati saya.

Akhirnya saya benar-benar menjalani prosedur inseminasi dan hamil, keluarga terkejut. Kehamilan saya tidak berjalan mulus. Kondisi fisik saya melemah hingga dokter utama sempat menyarankan untuk mempertimbangkan terminasi. Itu masa-masa penuh air mata.

Saya berbicara dengan keluarga, dan jawaban mereka membuat saya terharu. Mereka berkata, “Ini kan mimpi kamu. Kalau kamu memilih bertahan, jalani dengan sepenuh hati.” Kata-kata itu menjadi cahaya di tengah gelap. Saya merasa dikuatkan, dicintai, dan tidak dihakimi. Meski jarak memisahkan, mereka selalu hadir.

Setelah anak saya lahir, tantangan baru pun dimulai. Tantangan terbesar justru datang dari pikiran saya sendiri. Saya sering overthinking terhadap komentar orang. Tak jarang muncul rasa takut dan ragu. Dari situ saya belajar untuk memilah: komentar mana yang akan saya dengarkan, dan mana yang sebaiknya saya abaikan.

Dari sisi sosial, menjadi ibu tunggal di Rumania punya warna tersendiri. Secara budaya, banyak orang masih memandang single mother by choice dengan rasa kasihan atau keheranan. Ada yang berkata, “sayang sekali…” dengan nada prihatin. Tetapi dari sisi hukum dan layanan kesehatan, pemerintah tetap melindungi hak-hak ibu tunggal. Itu membuat saya merasa aman, meskipun ada stigma di sekitar.

Kendala bahasa juga membuat saya sulit masuk ke komunitas ibu tunggal lokal. Mayoritas menggunakan bahasa Rumania, sementara saya hanya bisa bahasa Inggris. Saya tetap berusaha membangun koneksi, tapi memang tidak mudah.

Menjadi ibu tunggal berarti saya harus kuat, tapi saya juga manusia biasa. Masa kehamilan yang penuh drama fisik, ditambah pengalaman diskriminasi di tempat kerja, membuat kondisi mental saya jatuh. Saya bahkan sempat mengalami trust issue yang cukup parah.

Untuk menjaga diri, saya rutin berkomunikasi dengan psikolog dan psikiater. Saya belajar untuk punya me time: berkuda, pilates, atau sekadar melatih diri mempercayakan anak pada nanny, meskipun tetap saya awasi lewat CCTV.

Setiap kali saya ingin menyerah, saya melihat anak saya. Dia adalah alasan saya bertahan, hadiah terindah dari Tuhan, cahaya yang membuat saya terus melangkah.

Di sini, komunitas ibu tunggal biasanya fokus pada mereka yang mengalami kesulitan ekonomi. Untuk single mom by choice, hampir tidak ada wadah yang khusus. Saya sempat bergabung dengan kelompok lokal, tapi kendala bahasa membuat saya tidak aktif.

Beruntung, saya punya dua sahabat orang Indonesia di Rumania. Kami sering memasak bersama, makan bareng, ngobrol, bermain di taman dengan anak-anak. Sederhana, tapi sangat berarti. Kehadiran mereka seperti oase di hari-hari yang kadang terasa sepi.

Kalau bisa memutar waktu, saya ingin lebih mempersiapkan tubuh saya sebelum menjalani prosedur. Namun, saya tidak menyesal dengan keputusan ini. Menjadi single mom by choice adalah pilihan terbaik yang pernah saya ambil.

Setelah kepergian almarhum, saya sadar bahwa saya belum siap memiliki pasangan lagi. Hubungan-hubungan lain tidak berjalan baik. Tetapi untuk anak, saya siap sepenuhnya. Anak saya adalah pusat hidup saya, alasan saya untuk menciptakan rumah yang penuh cinta, disiplin, dan nilai-nilai yang saya yakini.

Saya tahu banyak perempuan di Indonesia mungkin merasa siap menjadi ibu, tapi belum tentu siap menjadi istri. Dan itu tidak apa-apa.

Pesan saya sederhana: jika memang sudah siap, lakukan dengan tenang. Ikuti kata hati, jangan terburu-buru mengikuti standar orang lain. Baik dalam memilih pasangan maupun donor, yang paling penting adalah kesiapan diri sendiri.

Saya juga berharap masyarakat Indonesia bisa lebih bijak melihat pilihan single mom by choice. Ini bukan soal kebebasan tanpa batas, tapi soal tanggung jawab. Perempuan yang memilih jalan ini biasanya sudah memikirkan pendidikan, kesejahteraan, dan masa depan anaknya dengan matang.

Pada akhirnya, menjadi ibu tunggal bukan tentang kekurangan, melainkan tentang keberanian. Tentang cinta yang memilih untuk hadir, bahkan ketika jalannya berbeda. Tentang komitmen untuk memberikan yang terbaik bagi generasi berikutnya.

Sahabat Ruanita, ini adalah cerita saya. Semoga bisa menjadi pengingat bahwa setiap perempuan punya hak untuk memilih jalan hidupnya sendiri. Ingatlah, bahwa keibuan, dalam segala bentuk apapun pilihannya, selalu berakar pada cinta.

Penulis: Barbie Nouva, perempuan Indonesia yang kini menjalani hidup sebagai Single Mom by Choice di Rumania dan dapat dikontak via akun instagram official.barbienouva.

(CERITA SAHABAT) Begini Rasanya Pengalaman Menyusui Pertama Kali, Jauh dari Keluarga di Amerika Serikat

Halo, sahabat Ruanita! Saya biasa dipanggil Fajar. Saya adalah seorang ibu, yang berasal dari Madiun, Jawa Timur. Saya senang kembali lagi berpartisipasi dalam program cerita sahabat ini. Jujur, saya senang mengikuti program Ruanita dari kejauhan, di negeri Paman Sam. Ya, saya sudah tinggal di negeri Paman Sam sejak setahun belakangan ini. Sahabat Ruanita, pernah membaca cerita saya tentang pengalaman melahirkan yang dimuat oleh Ruanita. 

Saya pindah ke Amerika Serikat sejak Desember 2023. Tak lama berselang, saya pun melahirkan anak pertama saya, buah hati perkawinan saya dengan pria berkewarganegaraan Amerika Serikat. Pada Mei 2024 menjadi momen paling berkesan dalam hidup, saya melahirkan anak pertama saya. Proses persalinan di Amerika cukup nyaman, saya menjalani operasi sesar dan dalam waktu singkat sudah bisa bergerak. 

Ini tentunya berbeda dengan kebanyakan para ibu lainnya yang melahirkan sesar pula. Sebut saja, kakak saya yang melahirkan secara sesar di Indonesia pun masih merasakan rasa sakit persalinan tersebut. Sementara tidak demikian dengan saya di sini. Ini pengalaman pertama kali saya melahirkan dan juga perjalanan menyusui sebagai ibu baru. Ternyata, apa yang saya pelajari sebelumnya lewat internet tidak sepenuhnya mudah untuk dijalani. Ada banyak tantangan yang tidak saya duga sebelumnya.

Sebelum persalinan tiba, saya sudah memelajari berbagai hal terkait menyusui pada bayi. Saya sudah bertekad untuk menyusui bayi saya secara langsung. Itu sebab, saya mulai mencari tahu bagaimana menyusui bayi itu sebenarnya.

Jika di Indonesia, ada banyak bantuan dan dukungan dari orang tua, saudara, dan kerabat, tetapi tidak di sini. Saya begitu merasa sendirian melaluinya. Tak ada ibu, saudara, atau teman yang bisa saya tanyai. Semua harus saya pelajari sendiri lewat internet atau selebaran informasi di pusat layanan Kesehatan Masyarakat di sini. Saya bahkan sempat mengalami puting lecet hingga harus menghentikan menyusui langsung dan beralih ke botol selama dua minggu.

Di Amerika Serikat, terdapat pilihan untuk menyusui bayi. Mereka juga menawarkan kelas laktasi bagi ibu menyusui. Kelas hanya berlangsung sekali dan umumnya berbayar. Saya tidak mengambil kelas laktasi. Dokter saya sudah membantu saya tentang bagaimana menyusui bayi dengan benar. 

Di rumah sakit, para suster membantu saya memastikan pelekatan (latch) yang sempurna. Saya sempat berpikir menyusui akan mudah, toh saya sudah menonton banyak video di YouTube. Namun, realitanya berbeda. Malam pertama di mana saya seharusnya bisa menyusui anak saya, bayi saya tidak mau menyusu. Saya panik, apakah ada yang salah dengan saya? Apakah ASI saya tidak keluar? Suster menyarankan saya untuk pumping guna memastikan ASI saya tersedia. Setelah mencoba, ternyata ASI ada, hanya saja pelekatan saya belum sempurna. 

Jadi, sahabat Ruanita. Kita perlu memastikan sekali, apakah puting ibu benar-benar sepenuhnya masuk ke dalam bayi atau tidak. Keesokan harinya, seorang dokter laktasi datang, kemudian mengajari saya cara menyusui dengan benar.

Di Amerika, menyusui bukan hal yang diwajibkan. Banyak ibu memilih memberi susu formula atau pumping karena mereka bekerja. Di sini bahkan tersedia ASI yang sudah dimasukan dalam cup plastik yang siap diberikan ke bayi. Ini ASI sekali pakai, bagi mereka yang ingin mendapatkan ASI untuk bayi mereka, tetapi tidak bisa atau tidak ingin menyusui bayi mereka secara langsung. 

Hal yang cukup mengejutkan bagi saya adalah bagaimana donor ASI menjadi opsi di rumah sakit. Setelah operasi, saya masih terlalu lemah untuk menyusui, dan suster menawarkan susu donor yang berbayar. Dengan berat hati, saya menyetujui pemberian susu donor karena saya tidak ingin bayi saya langsung diberikan susu formula. Dalam Islam, ada aturan terkait ibu susuan, dan saya sempat khawatir, tapi di saat itu, kesehatan bayi saya adalah prioritas.

Secara emosional, menyusui di negeri orang sangat melelahkan. Saya harus bangun sendiri di tengah malam, memasak, dan mengurus rumah tanpa bantuan. Suami saya membantu sebisa mungkin, tetapi tetap saja saya merasa semua tanggung jawab ada di pundak saya. Untuk mencari dukungan, saya sering mendengarkan ceramah di YouTube dan berkonsultasi dengan kakak saya lewat telepon.

Saya juga menyadari adanya perbedaan budaya dalam menyusui. Di Amerika, fasilitas menyusui di tempat umum sangat minim. Saya belum pernah menemukan ruang laktasi di pusat perbelanjaan, seperti di Indonesia. Saya pernah menyusui di tempat umum saat berkunjung ke suatu tempat, di sekitar tempat tinggal saya. Karena tak ada tempat khusus, saya harus menutup diri dengan jilbab. Untungnya, orang-orang di sini cukup cuek, sehingga saya tidak merasa dipandang aneh.

Kini, setelah delapan bulan, saya mulai mempersiapkan MPASI untuk anak saya. Di Amerika, bayi diperkenalkan dengan makanan satu per satu, seperti puree brokoli atau apel, berbeda dengan di Indonesia yang langsung mengenalkan makanan lengkap. Saya sempat dilema dalam menentukan metode yang akan saya pilih untuk anak saya.

Melalui pengalaman ini, saya belajar bahwa menyusui adalah perjalanan yang tidak mudah, tetapi juga sangat berharga. Untuk ibu-ibu Indonesia yang akan menyusui di Amerika, persiapkan diri dengan baik, banyak belajar, dan jangan ragu untuk mencari bantuan profesional jika diperlukan. Kita mungkin jauh dari keluarga, tapi kita tetap bisa memberikan yang terbaik untuk buah hati kita.

Penulis: Fajar Latif, seorang ibu dan content creator yang tinggal di Amerika Serikat dan dapat dikontak via akun Instagram thomasandfajar.

(CERITA SAHABAT) Apa Arti Sebuah Nama: Mulai Nama Panjang ke Jati Diri

Halo, sahabat Ruanita! Namaku, Christophora Klementia Nevasta Nisyma. Sejak kecil, aku biasa dipanggil Nisyma. Aku sudah tinggal di Jerman sejak tahun 2017, untuk tujuan studi S1, setelah aku lulus SMA di Indonesia pada usia 19 tahun. Dikarenakan ijazah SMA Indonesia tidak diakui di Jerman, aku harus pergi ke Studienkolleg selama satu tahun untuk menyetarakan ijazahku dan berkuliah di Jerman. Kini, aku sudah menyelesaikan pendidikan S1 dan bekerja di sebuah perusahaan di Jerman sebagai Marketing Campaign Manager.

Saat SMA, aku mengambil jurusan Bahasa dan belajar bahasa Jerman, sehingga tak asing tentang kultur Jerman. Di keluarga, ibuku juga pernah mempelajari bahasa Jerman, bahkan hampir berkuliah ke Jerman dan memiliki orang tua angkat orang Jerman. Meski ibu tidak mengajarkan bahasa Jerman, aku merasa tidak asing sama sekali saat mulai belajar bahasa dan kultur Jerman dari nol. Sementara teman-temanku merasa kesulitan, aku merasa pelajaran bahasa Jerman ini mudah dan lama-kelamaan tumbuh rasa suka terhadap bahasa Jerman. Sejak remaja, aku sudah bermimpi kuliah di luar negeri. Namun kendala ekonomi, hal ini menjadi hanyalah sebuah mimpi.

Akhirnya, dengan kemampuan dan kedekatanku akan bahasa Jerman, aku melihat peluang untuk kuliah di Jerman yang lebih terjangkau. Aku pun memutuskan untuk kuliah di Jerman. Saat datang ke Jerman pertama kali, aku sama sekali tidak mengalami culture shock dan merasa sangat nyaman tinggal di Jerman. Budaya sosial, pola pikir dan gaya hidup Jerman terasa sangat cocok dengan karakter pribadiku. Aku merasa seperti menemukan tempat tinggal yang sesuai untukku kelak. Menurutku, negara Jerman memberikan kesempatan tak terbatas dan menyediakan kebutuhan dasar bagi rakyatnya dan warga negara asing yang ingin menetap/tinggal layak di Jerman. Hal ini mendorongku tinggal dan bekerja di Jerman sampai sekarang.

Bercerita tentang namaku, ada sejarahnya. Aku lahir di keluarga katolik yang taat dan almarhum eyang kakung adalah seorang guru bahasa Latin, Yunani, dan Ibrani untuk calon pastor katolik di Yogyakarta. Beliaulah yang memberikan namaku dan adikku. Di keluarga besar, semua cucu eyang kakungku memiliki nama yang juga panjang, tidak hanya aku. Nama Christophora berasal dari bahasa Yunani yang merupakan nama baptisku. Sebagai orang Katolik, orang tua memilih nama tersebut dengan makna teladan hidup dari Santo  Christophorus.

Karena aku perempuan, namaku menjadi Christophora dan memiliki makna membawa Kristus ke mana pun. Selanjutnya, nama Klementia berasal  dari bahasa Latin yang berarti penuh kasih. Selanjutnya, ada nama Nevasta yang merupakan ide ibuku. Kata Nevas konon ditarik dari kata “Nafas” karena aku dilahirkan pada Hari Raya Pentakosta. Hari Raya Pentakosta dirayakan Gereja Katolik untuk merayakan turunnya Roh Kudus. Terakhir, nama Nisyma dari bahasa Ibrani yang berarti didengarkan. Kata orangtuaku, doa mereka akhirnya terkabul, setelah mereka menantikan kehadiranku selama dua tahun.

Nama panjang kerap dianggap sesuatu yang membanggakan, yang menunjukkan garis keturunan atau filosofi tertentu. Namun dalam perjalananku, terutama saat tinggal di Jerman, aku menyadari bahwa nama panjangku ini bisa menjadi sumber kesulitan. Permasalahan penulisan nama lengkap selalu menjadi masalah dan rumit selama aku tinggal di Jerman 8 tahun terakhir, baik secara birokrasi pemerintahan, perkuliahan dan pengalaman kerja. Seperti yang  diketahui, di Indonesia tidak ada konsep hukum tentang kepemilikan nama keluarga seperti di negara-negara lainnya. Di Indonesia tidak ada pula ketentuan dan kepastian bahwa nama depan adalah otomatis nama panggilan. Dalam paspor pun hanya tertera satu baris “nama lengkap” atau “full name”. Sedangkan di sejumlah negara-negara di dunia, termasuk Jerman, kolom nama dibagi menjadi dua: nama depan dan nama keluarga/nama belakang.

Dalam setiap proses pendaftaran baik online maupun offline, kami diwajibkan untuk mengisi kolom nama keluarga pada formulir pendaftaraan apapun. Dalam kasusku, permasalahan sudah mulai terjadi sejak pembuatan paspor pertamaku untuk pergi ke Jerman pertama kali. Baris nama lengkap atau full name pada paspor Indonesia hanya cukup untuk menuliskan namaku  hingga Nevasta (Christophora Klementia Nevasta) sedangkan Nisyma adalah nama panggilanku seumur hidup dan identitas paling penting bagiku. Akhirnya, kantor imigrasi menuliskan nama lengkapku di halaman Endorsement (halaman 4) dan di halaman pertama, yang hanya tertera Christophora Klementia Nevasta Nisyma.

Pada saat pembuatan visa nasional ke Jerman pertama kali, Kedutaan Besar Jerman di Indonesia pun hanya mau mengikuti apa yang tertera di halaman pertama paspor. Tidak peduli apa nama lengkapku secara hukum di Indonesia. Hal ini juga bermasalah pada sistem birokrasi di Jerman yang sangat ketat, di mana itu mengharuskan adanya struktur nama depan (Vorname) dan nama belakang (Nachname). Di sana, nama seseorang harus terdiri dari dua komponen itu. Sementara aku tidak memiliki nama keluarga. Nama belakang dalam sistem Eropa biasanya diwariskan dan menjadi penanda keluarga besar. Dalam struktur penamaan di Indonesia, terutama di keluargaku, kami tidak menggunakan nama keluarga. Nama kami murni adalah rangkaian nama pemberian, tanpa sistem diwariskan.



Setiap kali aku mengurus sesuatu—apakah itu mendaftar asuransi, membuka rekening bank, atau mengurus dokumen universitas—aku selalu menghadapi masalah yang sama: namaku terlalu panjang. Sistem komputer tidak bisa menampungnya. Beberapa karakter hilang. Di beberapa dokumen, hanya dua atau tiga kata yang muncul. Di dokumen lain, urutannya teracak karena sistem Jerman mengasumsikan bahwa kata terakhir adalah nama keluarga, padahal itu bukan bagian dari nama keluargaku—karena aku tidak punya nama keluarga.

Masalah berikutnya adalah konsistensi data. Karena sistem tidak bisa menampung nama panjangku, muncul perbedaan antara satu dokumen dengan dokumen lain. Di asuransi tertulis sebagian nama. Di paspor tertulis lengkap. Di database universitas berbeda lagi. Ketika mengurus perpanjangan visa atau mengurus legalitas, aku selalu harus menjelaskan bahwa ini semua adalah satu nama yang sama, meski tertulis berbeda. Rasanya sangat melelahkan.

Dalam kehidupan sehari-hari dengan orang Jerman atau di setiap perusahaan di mana aku pernah bekerja, aku harus selalu menjelaskan hal yang sama dan berulang, bahwa nama panggilanku Nisyma. Sayangnya, Nisyma ada di paling belakang namaku. Nisyma bukan nama keluargaku. Orang Indonesia tidak punya nama keluarga. Setiap aku berganti tempat kerja atau memulai di perusahaan baru, aku harus menyampaikan hal itu. Kalau aku tidak bilang apapun, mereka akan otomatis memanggilku “Frau Nisyma” atau dalam bahasa Inggris “Ms. Nisyma” di mana umumnya dipandang sebagai nama keluarga. Mereka pun memanggilku secara informal Christophora, bukan Nisyma.

Uniknya, selama delapan tahun terakhir aku sudah pernah tinggal dan terdaftar di lima kota berbeda di Jerman. Aku memiliki tujuh kartu identitas sebagai ijin tinggal and satu visa nasional yang ditempelkan di paspor dengan nama yang tertera berbeda-beda. Terdapat tiga macam penulisan namaku yang berbeda beda – Christophora Klementia Nevasta (Nevasta di baris nama keluarga), Christophora Klementia Nevasta Nisyma (satu baris), Christophora Klementia Nevasta Nisyma (Nisyma di baris nama keluarga). Kartu mahasiswaku dan salah satu idenitias bankku bernamakan Christophora Nisyma. Kartu asuransi kesehatanku bertuliskan Christophora Klementia Nisyma.

Kalau dilihat-lihat, amit amit aku ada masalah hukum misalnya, maka Kepolisian Jerman tentu akan kebingungan dan bisa dikira identitas palsu. Namun, masalahnya itu semua tergantung kantor imigrasi dan instansinya. Ada kantor imigrasi yang begitu kaku hanya mau mengambil nama yang tertera di halaman depan, tetapi ada pula  kantor imigrasi yang bisa memahami dan memasukkan semua namaku. Pada instansi non pemerintahan terkadang masih bisa memahami.

Sampai Februari 2025, aku sempat mempertimbangkan dan merencanakan untuk mengurangi namaku secara resmi di Indonesia, karena permasalahan yang kerap dialami mengenai penulisan/pemanggilan nama yang aku ceritakan sebelumnya. Pada akhirnya, pada perpanjangan izin tinggal sekarang ini (Februari 2025), aku berhasil meyakinkan kantor imigrasi di kotaku sekarang untuk menulis semua namaku di kartu identitasku yang menjadi kartu izin tinggal di Jerman.

Itu pun bukan proses yang mudah. Petugas di kantor imigrasi yang melayaniku, bahkan tidak yakin. Namun, beliau sangat baik karena mau mengusahakan untuk menanyakan pada pimpinan kantor imigrasi kotaku dengan kumpulan foto ijin tinggal dan visaku selama di Jerman dalam 8 tahun terakhir yang kulampirkan. Akhirnya, mereka menyetujui permohonanku dan sekarang nama lengkap aku telah tertulis komplit di kartu identitasku yang baru.

Melihat betapa rumitnya proses penggantian nama di Indonesia secara resmi dan aku harus pulang ke Indonesia untuk mengurusnya dengan waktu proses yang tidak tentu. Saat ini, aku memutuskan untuk menunda penggantian nama secara resmi di Indonesia. Apabila nanti dipermasalahkan oleh kantor catatan sipil saat kami menikah, aku akan mengurusnya. Hal terpenting sekarang nama panggilanku, tertera sesuai seperti di kartu identitasku di Jerman.

Ya, saat ini aku bertunangan dengan pria keturunan Yunani-Rusia yang berkebangsaan Jerman-Yunani. Kami pun berencana akan menikah dan menetap di Jerman. Ketika menikah secara sipil di Jerman, sepengetahuanku,  kami akan ditanya oleh petugas kantor catatan sipil dan diminta mengisi formulir, nama keluarga siapa yang akan dipakai setelah menikah. Atau pun kalau pasangan memutuskan untuk tidak menyamakan nama keluarga, pasangan tersebut harus memutuskan nama keluarga yang akan dipakai untuk anak mereka nanti, apabila mereka memiliki anak di kemudian hari.

Selain itu, ADAC (Asosiasi mobil terbesar di Eropa yang menawarkan asuransi perjalanan dan layanan servis kendaraan) dan Kementerian Luar Negeri Jerman menyarankan, jika seorang anak bepergian ke luar negeri hanya dengan satu orang tua, untuk meminta formulir persetujuan informal dari orang tua lainnya dan khususnya, dalam kasus perbedaan nama, salinan akta kelahiran anak, dan halaman data identitas wali sah harus disediakan, sehingga memudahkan perjalanan serta menghindari kemungkinan kesalahpahaman. Karena aku tidak memiliki nama keluarga dan berdasarkan pertimbangan di atas, aku memutuskan akan mengambil nama keluarga suamiku saat kami menikah nanti.

Selama aku tinggal di Jerman delapan tahun terakhir, aku merasa aneh dan sedih karena kartu identitasku di Jerman tidak mencantumkan nama yang paling penting bagiku. Nama panggilan menurutku, nama di mana aku dikenal sejak aku lahir hingga saat ini, baik di Indonesia maupun di Jerman. Kartu identitas adalah hal penting yang mengatur kehidupan sehari hariku di Jerman. Aku memang tidak bisa memilih namaku sendiri dan diberikan nama ini dengan banyak doa dan harapan yang disematkan keluargaku. Jadi, memang mau tidak mau, aku harus menerima bahwa namaku terlalu panjang. Bagaimana pun aku ingin memperjuangkan untuk nama “Nisyma” selalu ada.

Aku berharap, pemerintah Indonesia bisa mempermudah proses penggantian nama tanpa perlu proses sidang di pengadilan di masa mendatang. Mungkin, itu cukup dengan pengajuan permohonan secara tertulis yang diajukan ke Disdukcapil dan wawancara dengan petugas Disdukcapil. Selain itu, aku berharap pemerintah Indonesia bisa mempertimbangkan untuk membuat baris nama di Indonesia menjadi dua baris, alih-alih hanya satu baris. Apalagi jika aku melihat nama anak-anak jaman sekarang (terlepas dari agamanya), banyak anak memiliki nama lengkap lebih dari dua atau tiga suku kata. Aku melihat juga Indonesia bukan lagi negara dengan pemilik nama hanya satu kata, seperti jaman dulu. Aku yakin ada banyak anak Indonesia, selain aku, yang lahir setelah tahun 2010 memiliki nama yang sangat panjang sepertiku dan tidak bisa menuliskan nama lengkap mereka di halaman depan paspor mereka.

Penulis: Nisyma dapat dikontak via akun Instagram ch.nissymaa dan tinggal di Jerman.

(CERITA SAHABAT) Bijak Berinternet Melalui Edukasi dan Literasi Digital yang Tepat

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan aku, Zakiyatul Mufidah, yang berasal dari Blitar, Jawa Timur. Saat ini, aku sedang menjalani tahun ketiga studi PhD di University of Birmingham, Inggris. Berada di luar negeri membuka banyak perspektif baru bagiku, terutama tentang bagaimana dunia digital dipandang dan diatur dengan lebih ketat dibandingkan di Indonesia.

Di Inggris, kesadaran akan keamanan dan privasi digital begitu tinggi. Contohnya, penggunaan gambar di internet benar-benar dikontrol. Di sekolah anakku, misalnya, memiliki aturan ketat tentang pemakaian foto anak-anak di media sosial. Setiap orang tua harus memberikan izin tertulis jika foto anak mereka ingin digunakan di situs web atau akun media sosial sekolah. Ini berbeda jauh dengan di Indonesia, di mana masih banyak orang yang tidak menyadari betapa pentingnya menjaga privasi di dunia maya.

Sebagai seorang yang sedang meneliti aktivitas perempuan di dunia digital, aku menyadari betapa pentingnya menjaga akun kita dari ancaman siber. Salah satu cara paling dasar adalah menggunakan Double Authentication atau bahkan Multiple Authentication saat masuk ke akun digital. Pernah suatu kali, aku gagal mengakses akun emailku, karena dianggap akses ilegal ke emailku. Beruntung, aku menerapkan sistem keamanan ganda, sehingga menyelamatkanku dari peretasan.

Sahabat Ruanita, ini bukan hanya tentang melindungi akun, kesadaran digital juga berarti memahami ancaman seperti phishing dan pemakaian WiFi publik yang tidak aman. Dulu, aku pernah meremehkan ancaman ini hingga akhirnya menyadari bahwa akses WiFi publik bisa menjadi celah bagi peretas untuk masuk ke akun pribadi kita. Pengalaman ini mengajarkanku untuk selalu berpikir dua kali sebelum mengklik tautan atau menggunakan jaringan internet yang tidak terpercaya.

Budaya Digital di Indonesia dan Tantangannya

Oh ya, selain perlindungan teknis, kita perlu perhatikan juga aspek budaya digital yang juga menjadi tantangan, khususnya di Indonesia. Kultur online kita masih mentoleransi tindakan seperti cyberbullying, pencurian data, hingga penyalahgunaan informasi. Berbeda dengan di Inggris, di mana ada sanksi sosial dan hukum yang jelas bagi pelaku kejahatan digital, di Indonesia masih banyak kasus yang tidak mendapat perhatian serius.

Cyberbullying misalnya, masih dianggap sebagai hal yang wajar di Indonesia. Banyak kasus di mana korban justru disalahkan atau dianggap “berlebihan” saat melaporkan kejadian tersebut. Di Inggris, bahkan tindakan sekecil mengunggah foto seseorang tanpa izin bisa menimbulkan konsekuensi serius, baik secara hukum maupun sosial. Ini menunjukkan betapa pentingnya kesadaran tentang hak privasi dan etika digital yang perlu lebih diperhatikan di Indonesia.

Sahabat Ruanita juga perlu tahu bahwa banyak orang masih abai terhadap keamanan akun digital mereka. Banyak yang menggunakan kata sandi yang lemah atau tidak menerapkan sistem keamanan tambahan. Padahal, dengan maraknya kejahatan siber, langkah-langkah perlindungan ini sangatlah penting. Di Indonesia, juga masih banyak orang yang tidak sadar akan bahaya phishing dan serangan siber lainnya, yang sering kali datang dalam bentuk email atau tautan mencurigakan.

Peran Orang Tua dalam Mendidik Anak tentang Internet

Sebagai orang tua, aku merasa bertanggung jawab untuk mengedukasi anak-anakku tentang cara berinternet yang aman dan bertanggung jawab. Aku sering berbincang dengan mereka tentang digital literacy—yang mencakup keterampilan digital, etika digital, budaya digital, dan keamanan digital. Sebab, internet bukan hanya soal hiburan, tetapi juga ruang yang harus dipahami dan dikelola dengan bijak.

Di sekolah anakku, di Inggris pun aktif dalam mengajarkan keamanan digital kepada murid-muridnya. Misalnya, sebelum mengambil atau menyebarkan foto teman sekelas, mereka harus meminta izin terlebih dahulu. Hal ini berbeda dengan di Indonesia, di mana masih banyak anak yang dengan mudahnya mengambil foto teman dan menyebarkannya tanpa berpikir panjang. Apakah ini juga dialami sahabat Ruanita lainnya?

Selain itu, sekolah juga memberikan aturan ketat mengenai penggunaan media sosial. Anak-anak di bawah usia 13 tahun tidak diperbolehkan memiliki akun di platform seperti TikTok atau Instagram. Para orang tua juga diminta untuk menandatangani surat persetujuan terkait penggunaan gambar anak mereka di acara sekolah. Ini adalah contoh bagaimana regulasi yang jelas bisa membantu menciptakan lingkungan digital yang lebih aman.

Regulasi dan Penegakan Hukum di Indonesia

Bagaimana pun, salah satu faktor yang membuat internet di Indonesia masih terasa kurang aman adalah lemahnya penegakan hukum terkait kejahatan siber. Di Inggris, regulasi mengenai keamanan digital diterapkan dengan sangat ketat. Namun, di Indonesia, masih ada banyak celah dalam sistem hukum yang membuat para pelaku kejahatan digital bisa lolos tanpa konsekuensi yang berarti.

Misalnya, ada kasus di mana seorang guru melaporkan tindakan tidak etis di sekolahnya, tetapi malah justru ia yang terkena sanksi hukum. Hal ini menunjukkan bahwa masih ada ketimpangan dalam penerapan hukum, di mana yang memiliki kekuasaan sering kali lebih dilindungi dibandingkan rakyat biasa.

Selain itu, ada juga permasalahan dalam Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE), yang sering kali digunakan untuk membungkam kritik terhadap pemerintah atau pihak berkuasa. Banyak pasal dalam UU ITE yang ambigu dan bisa diinterpretasikan secara berbeda-beda, sehingga justru seringkali merugikan masyarakat biasa.

Pentingnya Edukasi dan Literasi Digital

Oleh karena itu, aku semakin yakin bahwa literasi digital bukan hanya tugas individu, tetapi juga tanggung jawab bersama—antara pemerintah, sekolah, dan masyarakat. Edukasi adalah kunci untuk menciptakan budaya digital yang lebih sehat. Masyarakat perlu diberikan pemahaman tentang bagaimana menggunakan internet dengan aman dan bertanggung jawab.

Menurut sahabat Ruanita, bagaimana dengan di Indonesia? Menurutku, masih banyak orang yang menggunakan internet tanpa benar-benar memahami risiko dan etika dalam dunia digital. Banyak yang asal berbagi informasi tanpa mengecek kebenarannya, atau bahkan ikut menyebarkan ujaran kebencian tanpa menyadari dampak negatifnya. Oleh karena itu, kampanye literasi digital harus lebih digencarkan, baik melalui media sosial, sekolah, maupun komunitas lokal.

Selain itu, orang tua juga harus lebih aktif dalam mengawasi penggunaan internet anak-anak mereka. Ada banyak alat dan aplikasi yang bisa membantu memfilter konten yang tidak pantas untuk anak-anak. Dengan pengawasan yang baik, anak-anak bisa tumbuh dengan pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana berinternet dengan aman.

Aku berharap suatu hari nanti, Indonesia bisa memiliki ekosistem digital yang lebih aman, di mana setiap orang merasa terlindungi dan bisa memanfaatkan teknologi dengan maksimal tanpa harus takut akan ancaman siber. Karena pada akhirnya, dunia maya adalah bagian dari kehidupan kita, dan sudah seharusnya kita menjaganya seperti kita menjaga dunia nyata.

Penulis: Zakiyatul Mufidah yang kini sedang menempuh studi PhD, akademisi, dan relawan Ruanita di Inggris. Cerita ini juga ditulis ulang berdasarkan program cerita sahabat spesial yang rilis bulan Februari 2025 lalu.

(CERITA SAHABAT) Dari Usaha Kuliner Indonesia di Prancis ke Pesan di Hari World Food Day

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan, saya bernama Dena yang sekarang bermukim di Prancis. Saya senang ditawari untuk berkontribusi dalam program cerita sahabat, terkait program pangan karena saya dulu berkuliah di jurusan teknologi pangan di salah satu universitas ternama di Indonesia. Bagaimana saya tiba di Prancis? Berawal tahun 2017, saya bertemu dengan suami saya yang berkewarganegaraan Prancis di Jakarta.

Saat itu, saya masih bekerja di salah satu perusahaan asal Jerman. Tidak selang berapa lama dari perkenalan tersebut, kami memutuskan menikah sehingga saya pun berhenti kerja dan mempersiapkan diri untuk tinggal bersama suami di Prancis.

Saya menetap di Prancis bersama suami dan putra kami. Selain mengurus keperluan di rumah, sehari-hari saya juga menyalurkan hobi memasak dengan membuat aneka jajanan kaki lima favorit saya seperti bakso halal, pempek dan otak-otak untuk orang-orang Indonesia di Eropa yang rindu dengan jajanan kaki lima.

Tentunya, latar belakang studi di bidang teknologi pangan di Indonesia dan aktivitas saya mengelola usaha rumahan tersebut – membuat saya sangat tertarik untuk membagikan pengalaman dan pendapat saya terkait World Food Day.

Saya bahagia, jika orang-orang menikmati masakan yang saya buat dan mengapresiasi apa yang saya masak. Memasak tidak hanya hobi buat saya, tetapi bagaimana menciptakan kreasi makanan dan memasarkannya – yang saya pelajari sewaktu di bangku kuliah dan dunia pekerjaan di Indonesia, membuat saya semakin tertantang untuk menekuninya. 

Follow us

Berkenalan dengan Usaha Kuliner Rumahan

Usaha rumahan ini dimulai dari kecintaan saya pada jajanan kaki lima favorit saya yang begitu sulit ditemukan di Utara Prancis. Saya pun mencoba membuatnya sendiri di rumah, dengan konsep Halal dan cita rasa otentik seperti kita membeli jajanan bakso di kaki lima. Ketika saya membagikannya di media sosial, teman-teman yang melihat pun ingin mencobanya.

Ternyata, saya mendapatkan respon yang sangat positif. Saya berpikir, mengapa tidak mencoba untuk berjualan kecil-kecilan. Setidaknya, saya dapat memberikan kemudahan kepada orang-orang Indonesia di Eropa yang kesulitan memasak atau mendapatkan jajanan kaki lima favorit mereka. 

Berdasarkan testimoni pelanggan saya – sebagian besar adalah orang Indonesia – mereka sangat senang dengan bakso dan pempek buatan saya. Buat orang-orang Prancis atau orang asing lainnya, yang mencicipi kuliner saya, rasa bakso terbilang unik.

Sedangkan untuk pempek, orang Prancis belum terlalu familiar dengan pempek, kecuali mereka pernah berkunjung ke Indonesia sebelumnya. Mereka senang dapat menikmati variasi olahan lain dari ikan.

Karena saya mengelola usaha rumahan berdasarkan pesanan, dengan target pasar saya adalah orang-orang Indonesia yang kangen makan bakso dan pempek selama tinggal di Eropa khususnya di Prancis, mungkin tantangan saya adalah soal otentifikasi cita rasa makanan tersebut.

Maksud saya, bagaimana mempertahankan masakan dengan cita rasa dan tekstur yang autentik, seperti halnya cita rasa bakso dan pempek yang dijual di Indonesia. Dalam hal ini, tantangan dimulai dari membuat resep, ketersediaan bahan baku dan bumbu-bumbu yang digunakan, hingga soal pemasaran dan pengiriman pesanan. 

Mengenai regulasi atau standar keamanan pangan antara Indonesia dan Prancis, pada dasarnya hampir sama, seperti pelatihan HACCP (Hazard Analysis and Critical Control Points) serta pelatihan lainnya yang terkait dengan keamanan pangan.

Meskipun jualan kuliner saya berkonsep masakan Indonesia ala rumahan, tetapi saya sudah menerapkan hal-hal yang terkait dengan standar keamanan pangan, agar masakan rumahan yang saya masak adalah masakan yang halal, aman, bersih, sehat dan layak untuk dikonsumsi.

Sejak awal membuat resep adonan bakso dan pempek ini, saya memutuskan hanya menggunakan bahan-bahan sederhana yang mudah didapat di Prancis untuk mempermudah saya berikutnya, dalam menjaga kualitas dan cita rasa bakso dan pempek agar tetap konsisten.

Adapun bahan baku yang saya gunakan sangat mudah ditemukan di Prancis. Saya biasanya membelinya dari orang Indonesia yang berjualan produk-produk Indonesia di Prancis, di toko Asia, maupun di supermarket di Prancis. Sedangkan untuk bahan baku daging, saya berbelanja di toko daging halal di kota saya.

Berbicara strategi pemasaran yang digunakan, saya menggunakan media sosial seperti Instagram dan Facebook. Menurut saya, keduanya sangat ampuh dan efektif untuk menjangkau orang-orang Indonesia di Eropa, yang tersebar di Prancis maupun wilayah eropa lainnya. Selain itu, media sosial tersebut sangat memudahkan saya untuk berkomunikasi dengan calon pelanggan dan pelanggan lainnya untuk mengetahui apa yang mereka butuhkan.

Calon pelanggan juga dapat dengan mudah mempelajari produk saya, sebelum membeli. Mereka bisa melihat foto dan video dari produk kuliner rumahan saya, serta testimoni-testimoni dari pelanggan lain yang sudah membeli produk saya.

Keilmuan dan Aspek Kesehatan dalam Makanan 

Sahabat Ruanita, seperti yang dijelaskan sebelumnya, bahwa saya mempelajari tentang teknologi pangan. Itu sebab, saya menerapkan ilmu yang dipelajari di bangku kuliah untuk mengolah pangan dengan aman dan sesuai standar higienitas, seperti: masalah kebersihan diri, kebersihan peralatan memasak, kebersihan area pengolahan, penanganan bahan baku mentah, serta proses pengolahan, pemasakan dan pengemasan. 

Di awal, tantangan saya membuat resep adonan bakso dan adonan pempek adalah pemilihan bahan baku, yang sesuai dengan ketersediaannya di supermarket di Prancis.

Misalnya, penggunaan ikan tenggiri untuk pempek, sesuai resep originalnya, yang ternyata sangat sulit ditemukan di Prancis atau negara Eropa lainnya. Saya pun melakukan banyak riset untuk memilih dan mengetahui jenis ikan lainnya. 

Pada dasarnya, saya menggunakan bahan dan bumbu-bumbu dasar sederhana, tanpa bahan pengawet dan tanpa tambahan bahan untuk mengenyalkan bakso.

Ketika ada order pesanan, saya selalu memasaknya di akhir pekan, supaya kualitas produk masih bagus saat pengiriman produk ke pelanggan di hari Senin.

Perspektif tentang World Food Day & Industri Makanan 

Sahabat Ruanita, apakah mungkin usaha rumahan kaki lima seperti yang saya lakukan dapat berkontribusi untuk sustainability? Menurut saya, usaha Bakso Kaki Lima Eropa ini sudah berkontribusi dalam sustainability pangan loh.

Usaha saya ini dibuat berdasarkan pesanan, supaya tidak ada makanan yang terbuang. Saya juga tidak menggunakan bahan pengawet untuk mempertahankan kualitas selama proses distribusi dan pengiriman produk ke pelanggan. Namun, saya menerapkan teknik-teknik dalam ilmu teknologi pangan seperti dalam proses pengolahan dan pengemasannya, sehingga produk bisa bertahan baik ke tangan pelanggan.

Saya selalu menyarankan ke pelanggan, agar produk disimpan dalam freezer (keadaan beku) untuk menambah umur penyimpanan, bila tidak langsung dimasak pada hari penerimaan paket produk dari ekspedisi. 

Karena saya menggunakan bahan baku yang masih segar, tanpa pengawet, dan berkualitas, tentu tantangan terbesar adalah bagaimana produk saya bisa bertahan kualitasnya, masih aman dan layak dikonsumsi saat pelanggan menerima produk. 

Sahabat Ruanita, sebagai informasi untuk proses pengiriman ke pelanggan biasanya memerlukan jangka waktu minimal tiga hingga tujuh hari kerja. Belum lagi, biaya pengiriman satu hari di Prancis maupun ke negara lain di Eropa sangat mahal. Dalam mengatasi proses pengiriman yang lebih dari 24 jam ini, maka saya menerapkan ilmu yang saya dapatkan saat dibangku kuliah jurusan teknologi pangan dengan melakukan riset dan percobaan agar produk tetap dapat bertahan kualitasnya dan aman dikonsumsi, walau tanpa menggunakan mesin pendingin selama proses pengiriman oleh ekspedisi. 

Pesan saya buat sahabat Ruanita yang ingin menekuni usaha kuliner rumahan, maka lakukan dan jalani apa yang disukai, terutama bisa dimulai dari hal-hal yang berhubungan dengan kuliner favorit.

Dari hal ini, kalian akan mudah mengembangkannya lebih luas lagi. Tidak perlu fokus ke kesulitannya dulu, melainkan fokuslah ke proses dan solusinya terlebih dahulu.

Harapan saya melalui usaha Bakso Kaki Lima Eropa ini, Insya Allah bisa berkembang menjadi kedai bakso dan jajanan kaki lima di Paris atau di kota-kota besar lainnya di Prancis, bahkan bisa ekspansi ke negara-negara Uni Eropa lainnya.

Saya juga berharap penggemar bakso dan jajanan kaki lima, tidak hanya orang Indonesia yang berada di Eropa saja, tetapi juga warga lokal Eropa lainnya.

Di hari World Food Day, marilah kita ikut berkontribusi dengan cara melakukan hal-hal yang sederhana di rumah, seperti mengurangi pemborosan makanan dan mengurang limbah pangan.

Hari Pangan Sedunia juga dapat dimaknai sebagai pengingat bahwa masih ada masyarakat dunia lainnya yang mengalami kelaparan atau mereka yang kesulitan untuk mendapatkan akses terhadap makanan yang cukup dan bergizi.

Dengan adanya Hari Pangan Dunia, kita juga dapat mendukung upaya untuk membangun sistem pangan yang tangguh dan berkelanjutan serta memberantas kelaparan bagi generasi mendatang.

Penulis: Dena T. Djajadisastra, tinggal di Prancis dan mengelola usaha rumahan yang dapat dihubungi via akun instagram @baksokaki5eropa.

(CERITA SAHABAT) Ini Cara Saya Melalui Midlife Crisis

Sahabat Ruanita, perkenalkan saya Griska Gunara, yang kini berusia sudah kepala empat alias 40-an. Saya telah menetap di Inggris selama beberapa tahun dan menjalani kehidupan yang dinamis, sebagai seorang ibu, praktisi yoga dan meditasi, dan photojournalist, serta juga menjadi kontributor di media online, termasuk juga di program cerita sahabat Ruanita loh. Seiring berjalannya usia, tentu saya pun menghadapi berbagai tantangan yang membuat saya melakukan refleksi diri.


Salah satu fase yang sering dihadapi manusia, namun jarang dibahas secara terbuka, adalah midlife crisis. Oleh karena itu, saya ingin berbagi pendapat dan pengalaman saya tersebut. Dulu, di usia 20-an, saya menganggap quarterlife crisis sebagai sesuatu yang menakutkan dan negatif. Namun, setelah mengalaminya sendiri, saya menyadari bahwa ini adalah fase transisi psikologis yang alami terjadi dalam diri manusia. Berbicara tentang Midlife crisis, umumnya terjadi antara usia 40 dan 60 tahun dan ditandai dengan perasaan tidak puas, kegelisahan, serta pencarian makna hidup. Ini bukan sekadar gangguan emosional, tetapi refleksi diri yang mendalam mengenai identitas, pencapaian, dan tujuan hidup ke depan.

Follow us

Saat mengalami quarterlife crisis di usia 20-an, saya berjuang mencari jati diri, menghadapi tekanan dari lingkungan, dan mencari tahu arah hidupnya. Berbeda dengan itu, midlife crisis atau yang disebut “krisis paruh baya” lebih berkaitan dengan refleksi mendalam tentang perjalanan hidup yang sudah ditempuh dan bagaimana seseorang ingin menjalani sisa hidupnya. Hal ini sejalan dengan istilah “Krisis paruh baya” dicetuskan pertama kali pada tahun 1960-an oleh Psikolog asal Kanada. Menurut saya, krisis yang dihadapi ini bukanlah pengalaman universal dan hanya berbeda fase pada Midlife-Crisis dan Quarterlife-Crisis.

Menurut saya, beberapa tanda dan gejala umum dari midlife crisis meliputi:

  • Ketidakseimbangan emosional
  • Kegelisahan dan kecemasan
  • Keinginan untuk mengubah hidup secara signifikan
  • Mempertanyakan identitas dan pencapaian diri
  • Kesadaran tentang penuaan dan keterbatasan hidup
  • Gangguan fisik seperti insomnia atau perubahan berat badan drastis

Setiap individu memiliki pemicu yang berbeda dalam menghadapi midlife crisis. Saya mengalaminya setelah ada perubahan dalam keluarga, terutama ketika putri saya akan segera lulus SMA dan melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi. Selain itu, perbedaan budaya antara Indonesia dan Inggris juga memberikan tantangan tersendiri dalam menavigasi peran saya sebagai ibu dan perempuan yang ingin terus berkembang. Saya menilai, terkadang kurangnya penghargaan atas kontribusi dalam proyek kolaboratif juga bisa menjadi pemicu ketidakpuasan diri.


Sahabat Ruanita, saya menilai tantangan terbesar dalam menghadapi midlife crisis adalah diri sendiri. Terkadang, seseorang tanpa sadar menciptakan hambatan yang menghalangi pertumbuhan pribadi. Oleh karena itu, menyeimbangkan kehidupan, memiliki waktu untuk diri sendiri (me-time), serta menjaga kesehatan mental menjadi hal yang sangat penting. Seperti yang saya lakukan sebagai praktisi yoga dan meditasi, tentunya sangat membantu saya mengenali diri saya sendiri. 


Dengan kemajuan digitalisasi, masyarakat Indonesia, terutama di perkotaan, mulai lebih sadar akan adanya fenomena ini. Namun, masih ada stigma dan pandangan tabu terkait midlife crisis, terutama bagi perempuan. Misalnya, munculnya istilah puber kedua atau menopause yang sering kali dikaitkan dengan perubahan psikologis dan emosional pada perempuan usia paruh baya. Apakah sahabat Ruanita pernah mendengar atau mengalami hal ini?


Menurut saya, terdapat perbedaan mendasar antara cara perempuan Indonesia dan Inggris dalam menghadapi midlife crisis. Budaya di Inggris cenderung lebih individualistis, jadi banyak perempuan yang menghadapi midlife crisis dengan mencari perubahan yang lebih personal, seperti beralih karier, traveling, atau mengejar hobi baru. Terapi & self-care lebih umum karena lebih diterima secara luas, sehingga lebih banyak perempuan yang mencari bantuan profesional untuk mengatasi perasaan kehilangan arah atau ketidakpuasan dalam hidup. Tekanan sosial untuk tetap menjalankan peran tradisional sebagai istri atau ibu lebih rendah dibandingkan di Indonesia. 

Perempuan Inggris dapat lebih bebas menentukan pilihan hidup – keterbukaan ini yang membuat mereka merasa lebih leluasa untuk bercerai, pindah kota, atau mengubah gaya hidup tanpa merasa terlalu terikat oleh ekspektasi masyarakat. Isu seperti menopause, kesehatan mental depresi, atau perubahan hormonal dapat diperbincangkan lebih terbuka, sehingga perempuan di Inggris merasa lebih didukung dan memiliki lebih banyak sumber daya untuk menghadapinya.

Berdasarkan pengalaman, ini beberapa cara yang bisa membantu seseorang menghadapi midlife crisis dengan lebih positif, antara lain:

  1. Menjelajahi Minat Baru
    • Belajar keterampilan baru seperti bahasa, seni, atau musik.
    • Menulis jurnal reflektif untuk mencatat perjalanan hidup.
  2. Meningkatkan Koneksi Spiritual & Emosional
    • Praktik yoga dan meditasi untuk menenangkan pikiran.
    • Melakukan retreat atau perjalanan spiritual.
  3. Menjalin Koneksi Sosial Baru
    • Menghadiri agenda pertemuan di organisasi kemasyarakatan.
    • Berbagi pengalaman dengan orang lain melalui mentorship.
  4. Merawat Kesehatan Fisik & Mental
    • Mencoba olahraga baru seperti hiking atau bersepeda.
    • Mengadopsi pola makan sehat dan memasak makanan bergizi.
  5. Mengeksplorasi Karier & Kreativitas
    • Mencari peluang karier baru yang lebih bermakna.
    • Mengeksplorasi kegiatan kreatif seperti fotografi atau menulis.
    • Traveling untuk menemukan perspektif baru dalam hidup.


Seiring dengan perjalanan menghadapi midlife crisis, saya merasakan perubahan cara pandang terhadap diri sendiri dan kehidupan. Saya menjadi lebih percaya diri, tidak lagi terlalu bergantung pada validasi eksternal, dan lebih sadar akan pentingnya keseimbangan hidup. Saya menyadari bahwa kesuksesan sejati bukan hanya tentang pencapaian materi atau prestasi, tetapi juga tentang penerimaan diri dan kedamaian batin.


Di akhir, saya ingin memberikan pesan yang inspiratif kepada sahabat Ruanita, terutama perempuan Indonesia yang sedang menghadapi midlife crisis:

“Beranilah menghadapi diri sendiri dan berikan ruang untuk refleksi. Hidup tidak berhenti sampai di sini—ini justru awal dari babak baru yang lebih matang dan bermakna. Tidak selalu harus kuat atau mengutamakan orang lain; merawat diri sendiri bukanlah tindakan egois, tetapi bentuk mencintai diri sendiri. Jangan takut menghadapi perubahan, karena keindahan seorang perempuan tidak ditentukan oleh usia. Dunia belum berakhir—justru babak baru yang luar biasa menanti untuk dituliskan dalam perjalanan hidup kita.”


Jadi sahabat Ruanita, Midlife crisis bukanlah akhir, melainkan kesempatan untuk menata ulang hidup dengan lebih sadar dan bermakna. Semoga cerita saya dapat menginspirasi banyak perempuan untuk menghadapi fase ini dengan keberanian, kesadaran, dan kebahagiaan yang lebih dalam.

Penulis: Griska Gunara, tinggal di Inggris dan dapat dihubungi via akun instagram @griskagunara.