(SIARAN BERITA) Femisida Dalam Berbagai Perspektif: Budaya, Psikolog, dan Hukum

Femisida, atau pembunuhan berbasis gender yang menargetkan perempuan, merupakan isu global yang semakin menjadi perhatian dunia. Berdasarkan Sidang Umum Dewan HAM PBB, femisida adalah pembunuhan terhadap perempuan yang didorong oleh kebencian, dendam, penaklukan, penguasaan, penikmatan dan pandangan terhadap perempuan sebagai kepemilikan di mana pelaku kejahatan berbuat sesuka hatinya karena korbannya adalah perempuan.

Muatan motif dalam kejahatan femisida berbeda dari pembunuhan biasa karena femisida mengandung aspek ketimpangan kuasa antara pria dan wanita, ketidaksetaraan gender, patriarki, stereotip misoginistik, dominasi/agresi/opresi, serta praktik budaya dan norma sosial yang merugikan perempuan. 

Pada tahun 2022, United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC) mengklasifikasikan femisida yang menjelaskan dengan rinci bahwa sebagian besar femisida terjadi di ruang privat dengan berbagai motif kompleks yang dijabarkan dalam 16 kategori.

Pada tahun 2018, 20 negara anggota Uni Eropa meratifikasi Konvensi Istanbul di mana negara berkewajiban untuk menangani kasus kekerasan terhadap perempuan secara menyeluruh dalam segala bentuk dan mengambil langkah-langkah untuk mencegah kekerasan terhadap perempuan, melindungi korban, dan mengadili para pelakunya.

Kegagalan dalam menangani kasus adalah tanggung jawab negara. Konvensi Istanbul menekankan bahwa sulit tercipta kesetaraan antara perempuan dan laki-laki jika perempuan terus mengalami kekerasan berbasis gender dalam skala besar, tetapi lembaga negara menutup mata akan kondisi ini.

Di Indonesia sendiri, kenyataan yang terjadi adalah kasus femisida belum tercatat secara memadai. Komnas Perempuan Indonesia telah memantau femisida sejak 2017. Dalam dokumen ‘Femisida: Tuntutan Pembaruan Hukum dan Kebijakan Menyikapi Ancaman’ yang diterbitkan Komnas Perempuan pada tahun 2020, disebutkan bahwa kasus-kasus femisida di Indonesia jelas meningkat dalam jumlah maupun jenisnya, tetapi belum mendapat perhatian serius, bahkan masih dipandang sebagai tindakan kriminal biasa.

Setelah rilisan dokumen Komnas Perempuan yang bertajuk ‘Alarm bagi Negara dan Kita Semua: Hentikan Femisida (Pembunuhan terhadap Perempuan)’ di tahun 2017, belum ada perubahan hukum dan kebijakan terkait femisida oleh Polri maupun negara.

Hasil dari pemantauan Komnas Perempuan terhadap berita femisida dari media daring sepanjang 2019 mencatat jumlah 145 kasus. Namun, jumlah ini baru sebatas kasus femisida yang diliput oleh media massa, belum terhitung yang tidak diberitakan.

Dari data yang dikumpulkan Komnas Perempuan, relasi pelaku dengan korban sebagian besar masih berada dalam ranah relasi personal. Lalu, terdapat pola kekerasan sadisme berlapis yang dialami oleh korban perempuan dan tindak pelucutan martabat korban.

Di Indonesia, penghilangan nyawa diatur tersebar dalam Pasal 44 UU Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga (UU KDRT) dan juga di KUHP yaitu Pasal 338, Pasal 339, Pasal 340, Pasal 344, Pasal 345, dan Pasal 350.

Berdasarkan pantauan Komnas Perempuan, motif dan modus kekerasan berbasis gender sebelum atau yang menyertainya tidak menjadi faktor pemberat hukuman. Kasus femisida tidak hanya merenggut nyawa tetapi juga berdampak signifikan pada tatanan sosial, termasuk kesehatan mental keluarga korban dan masyarakat.

Salah satu kasus femisida yang melibatkan perempuan Indonesia terjadi di Jerman pada tahun 2024, yang mana almarhum datang ke Jerman untuk menimba ilmu dan membangun karier yang gemilang. Oleh karena itu, diskusi ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan tentang kekerasan terhadap perempuan di mancanegara, terutama yang berkaitan dengan Femisida dan mendorong semua warga Indonesia untuk dapat melaporkan, dan mencatat kasus-kasus kekerasan yang dialami warga Indonesia di mancanegara lewat kolom pengaduan yang dibuat oleh Ruanita Indonesia, yang kemudian akan dilaporkan dalam laporan tahunan ke Komnas Perempuan Indonesia.

Untuk memperluas pengetahuan publik akan isu femisida dan kasus kekerasan terhadap perempuan Indonesia di mancanegara, Ruanita Indonesia bekerja sama dengan PPI Dunia akan menyelenggarakan diskusi online yang mengangkat tema “Femisida dalam Perspektif Psikologi, Budaya, dan Hukum“. Diskusi online ini akan diselenggarakan pada hari Minggu, 9 Februari 2025 pukul 10.00 – 12.00 CET (16.00 – 18.00 WIB) melalui platform digital Zoom meeting.

Diskusi online ini dibuka secara resmi oleh Asisten Deputi Perlinndungan Hak Perempuan dalam Rumah Tangga dan Rentan, Kementerian Pemberdayaan dan Perlindungan Perempuan dan Anak Republik Indonesia, Enni Widiyanti. Beliau menekankan pentingnya pengaturan khusus mengenai femisida dalam peraturan perundang-undangan Indonesia. Beliau menyatakan bahwa saat ini, terminologi femisida belum dikenal dalam hukum Indonesia, sehingga pembunuhan terhadap perempuan sering dianggap sama dengan pembunuhan biasa. Akibatnya, analisis mendalam terkait akar permasalahan femisida dan upaya pencegahannya belum optimal. Dengan adanya pengakuan dan pengaturan khusus tentang femisida, diharapkan penanganan kasus, identifikasi akar masalah, dan langkah pencegahan dapat lebih jelas dan efektif.

Diskusi online ini juga dihadiri oleh Siti Aminah Tardi (Komisioner Komnas Perempuan), Dini Tiara Sasmi (Akademisi Universitas Riau), Dr. Livia Iskandar (Psikolog, Wakil LPSK RI Periode 2019-2024 dan Direktur Yayasan Pulih), serta Dr. Gopala Sasie Rekha (Dosen Krimonologi di University Winchester, Inggris) sebagai para pemateri untuk membahas isu femisida dalam perspektif budaya, psikologi, dan hukum. 

Diskusi ini dibuka untuk umum dan dapat diakses oleh masyarakat Indonesia di manapun berada, yang tertarik dengan topik ini. Diskusi ini diharapkan dapat memberikan wawasan baru dan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang isu femisida, serta memberikan pemahaman multidimensional terkait femisida dari perspektif psikologi, budaya, dan hukum.

Lebih lanjutnya, adanya diskusi online ini diharapkan dapat mendorong lebih banyak pelaporan dan pendataan kasus kekerasan berbasis gender terhadap perempuan Indonesia, serta mendorong pembentukan langkah-langkah strategis yang dapat diterapkan untuk mengatasi dan mengurangi kasus kekerasan berbasis gender. Adapun kolaborasi antara Ruanita Indonesia dan PPI Dunia bertujuan untuk memperkuat komunitas yang mendukung pemberdayaan perempuan di berbagai bidang.

Ruanita (Rumah Aman Kita) Indonesia di bawah naungan Yayasan Ruanita Perempuan Indonesia merupakan organisasi nirlaba yang ditujukan untuk berbagi dan berdiskusi pengetahuan, pengalaman, pengamatan, dan praktik baik kehidupan di mancanegara. Program Ruanita dikelola berdasarkan manajemen berbasis nilai, intervensi komunitas, dan menggunakan Bahasa Indonesia. Aktivitas Ruanita berfokus pada isu kesehatan mental dan kesetaraan gender sesuai dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals). Sejak berdiri pada 2021, Ruanita Indonesia telah menjadi social support system untuk warga Indonesia, terutama perempuan yang tinggal di mancanegara.

Untuk informasi lebih lanjut, sila hubungi Aini Hanafiah melalui surel: info@ruanita.com atau kunjungi situs web kami di https://ruanita.com. Materi informasi dapat diberikan setelah Anda mengisi formulir elektronik yang ditautkan tersebut dan mengirimkan ke Admin via surel: info@ruanita.com.

(DISKUSI ONLINE) Awali Tahun 2025, Ruanita dan Komunitas Indonesia di Eropa Gelar Diskusi Inspiratif

Frankfurt, JERMAN – Memulai tahun baru dengan semangat positif, Ruanita Indonesia bekerja sama KJRI FRANKFURT, ALZI Nederland, komunitas ALZI Jerman, dan SELINDO mengadakan diskusi bauran/hybrid bertema “Awali Tahun Agar Aktif dan Produktif Sejak Usia Emas”.

Acara ini dirancang untuk menginspirasi warga Indonesia di Eropa, agar tetap sehat, produktif, dan terhubung secara sosial. Acara ini akan diselenggarakan pada Sabtu, 4 Januari 2025, pukul 11.00–13.00 CET (17.00–19.00 WIB) melalui platform Zoom Meeting.

Banyak warga Indonesia yang tinggal di Eropa menghadapi tantangan khas, seperti keterbatasan dukungan sosial dan perubahan gaya hidup. Dalam diskusi ini, peserta akan diajak untuk mengeksplorasi cara menjaga kesehatan fisik dan mental serta mempererat solidaritas dalam komunitas.

Konjen RI untuk Frankfurt, Antonius Yudi Triantoro berkesempatan membuka acara diskusi ini dan menjelaskan bahwa acara ini dirancang untuk memberikan ruang berbagi dan belajar. “Kami berharap diskusi ini dapat memberikan inspirasi baru bagi warga senior untuk menjalani hidup lebih bermakna dan terhubung,” ujarnya.

Diskusi ini akan menghadirkan pemateri terkemuka, di antaranya:

  • Antonius Yudi Triantor (Konjen RI Frankfurt), yang akan memberikan sambutan pembuka.
  • Danny Yatim, penulis buku Tetap Aktif di Usia Emas dan psikolog.
  • dr. Dara R. Pabittei, Elderly Care Physician dan penggiat Alzheimer Demensia dari ALZI Nederland, yang akan berbagi wawasan tentang kesehatan otak.
  • Rusdin Sumbajak, perwakilan SELINDO (Senior Lansia Indonesia di Jerman), yang akan menjadi penanggap diskusi.

Diskusi ini mencakup sesi inspiratif dan interaktif, termasuk pembahasan tentang:

  • Menjaga produktivitas di usia emas oleh Danny Yatim.
  • Kesehatan otak dan cara mencegah demensia oleh dr. Dara R. Pabittei.
  • Sesi tanya jawab interaktif untuk berbagi pengalaman hidup di usia lanjut.

Acara ini diharapkan menjadi langkah awal untuk memulai tahun baru dengan semangat aktif dan produktif. “Melalui kolaborasi lintas komunitas ini, kami ingin memperkuat solidaritas dan dukungan sosial bagi warga Indonesia di Eropa,” tambah Teti Arndt, komunitas ALZI Jerman.

Untuk materi informasi diskusi, silakan simak di kanal YouTube kami dan jangan lupa SUBSCRIBE kanal YouTube kami agar kami bisa berbagi lebih banyak lagi:

(SIARAN BERITA) Diskusi Kesehatan Mental di Lingkungan Kerja

Jerman, 2024 – Dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia 2024, Ruanita Indonesia dengan dukungan KJRI Frankfurt dan Komunitas ALZI Jerman sukses menyelenggarakan diskusi bertema “Sehat Secara Mental, Produktif Secara Optimal” di Aula KJRI Frankfurt.

Acara ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan yang dirancang untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya kesehatan mental, khususnya di lingkungan kerja, yang sesuai dengan tema World Mental Health Day 2024.

Acara ini menghadirkan Fransisca Hapsari, Relawan Ruanita di Jerman dan mahasiswi PhD Psikologi di Technische Universität Darmstadt, sebagai pemateri pertama. Pemateri kedua adalah Sven Juda, mahasiswa (M.Sc.) Maastricht University Belanda, yang berfokus pada Psikologi Industri dan Organisasi.

Acara dibuka dengan sambutan oleh Konjen KJRI Frankfurt Antonius Yudi Triantoro yang menegaskan pentingnya kesehatan mental dalam mendukung produktivitas dan hubungan kerja yang harmonis. Sebagai moderator diskusi, Relawan Ruanita lainnya, yakni Sesilia Susi, yang merupakan lulusan (M.A.) Hochschule Schmalkalden yang sedang bekerja sebagai Finance Staff di IOM, Berlin.

Diskusi dihadiri oleh para pekerja Indonesia di Jerman dan sejumlah warga Indonesia lainnya, yang datang langsung ke Aula KJRI Frankfurt ataupun mengikutinya secara daring via zoom meeting. Tujuan diskusi ini berfokus pada cara mengenali gejala awal gangguan kesehatan mental di tempat kerja serta strategi praktis untuk menciptakan lingkungan kerja yang mendukung kesejahteraan mental.

Sesi utama dimulai dengan pemaparan materi, yang menjelaskan definisi kesehatan mental di tempat kerja, gejala-gejala awal gangguan mental yang perlu diperhatikan, serta solusi dan strategi untuk menjaga keseimbangan mental di lingkungan kerja.

Selain itu, materi tentang situasi praktis dan kontekstual di Jerman juga turut dibagikan di sini. Sesi ini diakhiri dengan sesi tanya jawab yang interaktif, di mana peserta berbagi pengalaman dan menanyakan tips lebih lanjut terkait menjaga kesehatan mental di tempat kerja.

Pada kesempatan ini, Ruanita Indonesia sebagai social support system di mancanegara berkesempatan untuk ramah tamah dan berbincang dengan warga Indonesia di Frankfurt untuk memperkenalkan layanannya, terutama bagi mereka yang membutuhkan dukungan sosial.

Ruanita Indonesia, sebuah organisasi nirlaba yang didedikasikan untuk isu kesehatan mental dan kesetaraan gender bagi warga Indonesia di mancanegara, terus berupaya mempromosikan pentingnya kesehatan mental sebagai bagian integral dari kesejahteraan hidup.

Untuk materi informasi, dapat disimak lewat rekaman berikut di kanal YouTube kami:

(SIARAN BERITA) Diskusi Daring Perayaan Hari Perempuan Internasional dan Peluncuran Buku “Warna-warni Kepemimpinan Perempuan”

Denmark/Jerman – Menjadi pemimpin merupakan bagian dari hak asasi manusia, baik perempuan maupun laki-laki. Hak asasi merupakan hak dasar yang secara kodrati melekat pada diri manusia. Sebagai hak asasi, akses menjadi pemimpin tidak bisa diabaikan karena alasan gender atau alasan penyerta lainnya, seperti ras, suku, agama, atau kondisi fisik. Urgensi perempuan menjadi pemimpin berpijak pada pentingnya suara perempuan diperhitungkan dan dipertimbangkan dalam proses-proses pembangunan. Jumlah perempuan yang mencapai setengah dari penduduk Indonesia membutuhkan kehadiran perempuan sebagai representasi suara perempuan dalam setiap pengambilan keputusan.

Secara bertahap kepemimpinan perempuan semakin diperhitungkan seiring dengan pengakuan terhadap kualitas perempuan. Berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa perempuan memiliki kekuatan fisik, intelektual, emosional, dan spiritual yang sama seperti laki-laki. Perempuan juga mampu melakukan hal-hal yang dapat dilakukan oleh laki-laki, baik di bidang professional, sosial, maupun pribadi, termasuk dalam hal kepemimpinan. Namun sayangnya, kepemimpinan perempuan juga masih sedikit jumlahnya dibandingkan dengan laki-laki.

Follow us

Negara Republik Indonesia memiliki komitmen yang kuat untuk mengarusutamakan gender dalam pembangunan di segala bidang, baik di tingkat nasional, kawasan, maupun global. Sebagai warga Indonesia di mancanegara, Rumah Aman Kita (RUANITA) di bawah naungan Yayasan Ruanita Perempuan Indonesia bekerja sama dengan KJRI Frankfurt, DWP KJRI Frankfurt, yang didukung oleh Afiliansi Pengajar dan Pegiat Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (APPBIPA) Jerman, Bildung und Gesundheit für Indonesien e.V. (BUGI), dan Persatuan Masyarakat Indonesia – Frankfurt e.V. (Permif), bermaksud menggelar diskusi daring pada Jumat, 8 Maret 2024. Acara yang bertepatan dengan Hari Perempuan Internasional ini juga menjadi kesempatan untuk meluncurkan buku kedua RUANITA yang berjudul „Warna-warni Kepemimpinan Perempuan“ yang ditulis oleh 13 warga Indonesia yang tinggal di Eropa, sebagai bagian dari program Warga Menulis di tahun 2023 lalu.

Acara peluncuran buku tersebut dan perayaan Hari Perempuan Internasional ini akan diselenggarakan melalui kanal Zoom pada pukul 16.00-17.45 WIB atau 10.00-11.45 CET, dan terbuka untuk umum bagi warga negara Indonesia di mana pun. Acara ini akan dipandu oleh Zukhrufi Syasdawita, relawan Ruanita dan dibuka secara resmi oleh Tensi Triantoro, ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Konsulat Jendral Republik Indonesia (KJRI) Frankfurt. Peluncuran buku akan dilakukan oleh Andi Nurhaina sebagai ketua APPBIPA Jerman. Narasumber acara perayaan Hari Perempuan 2024 adalah Duta Besar RI untuk Denmark dan Lithuania, Dewi Savitri Wahab, yang akan menjelaskan peran KBRI/KJRI dalam mendukung partisipasi perempuan Indonesia di mancanegara.

Narasumber selanjutnya adalah Zakiyatul Mufidah Ahmad, yang adalah penerima beasiswa LPDP, seorang dosen di Indonesia, dan sedang menempuh pendidikan doktoral di Inggris. Dia akan menyampaikan materi tentang bagaimana dinamika kepemimpinan perempuan Indonesia dalam dunia digital. Sebagai penutup, Wendy A. Prajuli, yang adalah dosen di Universitas Bina Nusantara Indonesia, akan memberikan tanggapan dalam diskusi daring tersebut. Tersedia juga sesi tanya jawab dalam diskusi daring ini.

Diskusi daring ini diharapkan dapat mempromosikan partisipasi perempuan Indonesia dalam pembangunan dan berbagi informasi tentang peran perempuan Indonesia sebagai individu yang berdaya, punya potensi dan prestasi, sebagaimana yang menjadi tujuan proyek Ruanita, yakni mencapai kesetaraan gender.

Materi informasi dapat diunduh dengan mengisi formulir ini yang ditautkan.

Rekaman acara tersebut dapat dilihat pada kanal YouTube yang kami tautkan berikut ini:

Subscribe kanal YouTube kami untuk mendukung kami.

(MATERI INFORMASI) Workshop Seni Kolase Online 2023

Acara Workshop Seni Kolase Online dalam rangka Hari Internasional Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan 2023 dalam kerja sama Ruanita Indonesia dengan Komnas Perempuan melalui produk kolase bertema: Merdeka dari Kekerasan.

Workshop Seni Kolase Online disampaikan oleh Seniman Kolase, Putri Ayusha yang kini menetap di Spanyol. Karya-karya beliau dapat dilihat di Fanpage Facebook atau Instagram Kertasiun.

Sebagai informasi, Ruanita Indonesia memberikan akses materi untuk kepentingan pribadi dan pembelajaran bersama. Kami merekam data untuk kepentingan untuk komunikasi, informasi dan edukasi.

Untuk mengunduh materi tersebut, silakan mengisi formulir berikut yang ditautkan. Rekaman ulang acara tersebut atau permohonan materi, dapat juga langsung mengontak Admin via email di info@ruanita.com, apabila Anda belum mendapatkan materi atau rekaman zoom yang dimaksud.

(MATERI INFORMASI) Diskusi Online Hari Perempuan Internasional 2023

Acara Diskusi Online dalam rangka Hari Perempuan Internasional 2023 disampaikan oleh Ibu Gopala Sasie Rekha, Pengajar di University of Winchester Inggris dan Ibu Yacinta Kurniasih, Pengajar di University of Monash Australia yang telah menyampaikan materi sesuai pengalaman dan keilmuannya.

Sebagai informasi, RUANITA memberikan akses materi untuk kepentingan pribadi dan pembelajaran bersama. Kami merekam data untuk kepentingan untuk komunikasi, informasi dan edukasi.

Untuk mengunduh materi tersebut, silakan mengisi formulir berikut yang ditautkan. Informasi lebih lanjut, silakan kontak Admin di info@ruanita.com.

Rekaman ulang acara tersebut dapat disaksikan sebagai berikut:

Tolong subscribe Kanal YouTube kami untuk mendapatkan video-video terbaru dan mendukung kami.

(MATERI INFORMASI) Webinar Kewirusahaan

Dubes RI untuk Turki, Lalu Muhamad Iqbal hadir membuka resmi acara webinar.

Acara webinar bertema kewirausahaan berjudul: Melihat Peluang Usaha Perempuan di Eropa dilaksanakan pada Minggu, 6 Februari 2022.

Poin poin yang dibicarakan pada webinar kali ini :

  1. Narasumber:  Bapak Sabbat Christian Sirait 
  • Peluang bisnis İndonesia ke Uni Eropa cukup bagus, yang mana Uni eropa merupakan tujuan ekspor dan asal impor non migas ke-3 bagi İndonesia
  • Banyak produk dari İndonesia baik itu skala kecil dan menengah yang sudah beredar di pasaran Belanda antara lain makanan minuman, rempah-rempah, Pakaian, furniture, arang termasuk pakaian yang diproduksi oleh UKM
  • Untuk masuk ke pasar Eropa sebaiknya mempunyai mitra usaha membantu kelancaran marketing di Eropa
  • Ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi untuk mengekspor produk ke Eropa sesuai dengan peraturan Uni Eropa mengenai Produk and safety food
  • Dari Pertanyaan yang diajukan disimpulkan yang utama bahwa suatu perusahaan harus memberikan NİB, Company profile ke Atase Perdagangan untuk lebih melihat keseriusan perusahaan untuk melakukan ekspor
  1. Narasumber: İbu Leny Milla
  • Untuk mendirikan perusahaan di Turki sebaiknya mempunyai İzin tinggal, guna memperlancar proses pendirian perusahaan tersebut
  • Menyiapkan nama perusahaan, anggaran dasar perusahaan, mendaftarkan ke kantor pajak dan asuransi, mendaftarkan perusahaan ke Kantor Perdagangan Turki untuk mendapatkan sertifikat yang menjelaskan izin usaha yang dapat perusahaan operasikan
  • Dari pertanyaan yang diajukan peserta  produk  yang akan masuk ke Turki harus memiliki HACCP dan COS. Pihak Atase Perdagangan İndonesia di Turki merencanakan tempat untuk mendisplay barang yang akan didatangkan ke Turki yang mana sebelumnya barang tersebut dıakurasi. Produk yang telah siap yang akan didisplay dan dikirim.
  1. Narasumber : Ferlin V. Yoswara
  • Beliau menyatakan dalam menjalankan usaha jangan pernah takut untuk belajar dan melangkah.
  • Harus Openminded.
  • Dalam memasarkan suatu produk dapat menggunakan ambassador dan influencer.
  1. Narasumber: İbu Dessy Rutten
  • Memulai sesuatu usaha sebelumnya harus kepercayaan diri sebelum mempunyaı personal branding
  • Bertanya kepada diri sendiri haruskan melakukan pemasaran secara intrapreneruship atau entrepreneurship
  • Bila belum siap jadilah İntrapreneurship, karena intrapreneurship merupakan sebuah proses
  • Dalam Entrepreneurship kita harus mempunyai tujuan atau misi usaha, bidang marketıng, daya beli dan harga serta sumber keuangan.
  • Jangan memaksakan menjadi entrepreneurship tapi jadilah intrapreneurship dulu tanpa mengorbankan aset pribadi atau aset keluarga.

Bila Anda menghendaki materi presentasi narasumber, mohon isi formulir berikut yang ditautkan.

Siaran ulang webinar bisa disaksikan sebagai berikut:

(MATERI INFORMASI) Pahami KDRT dan Kelola Dampaknya

Untuk mendapatkan akses materi informasi yang disampaikan ibu Ika Putri Dewi dari Yayasan Pulih Indonesia, silakan isi formulir yang ditautkan. Kami akan segera memberikannya kepada Anda setelah Anda mengisi formulir tersebut. Konfirmasi bisa langsung kontak Admin ke info@ruanita.com.

Mari dukung keberlangsungan RUANITA – Rumah Aman Kita dengan follow akun media sosial kami di IG ruanita.indonesia, Facebook: Ruanita Ruanita dan Fanpage FB Ruanita – Rumah Aman Kita.

(MATERI INFORMASI) Pentingnya “Self-Care” Untuk Kesehatan Mental

Hidup dan tinggal di luar Indonesia bukan hal yang mudah. Kita perlu beradaptasi mengikuti budaya dari negara yang kita tempati. Terkadang kita merasa stress mengejar tuntutan hidup sebagai mahasiswa, karyawan atau penduduk yang tinggal di negeri perantauan.

Saat kita berupaya memenuhi ambisi tinggal dan hidup di tanah perantauan, sadarkah kita bahwa kita lupa akan diri sendiri? Kita memikirkan tentang bagaimana bisa bertahan hidup di negeri orang. Kita memikirkan tentang keluarga yang kita tinggalkan di Indonesia. Namun kita tidak memikirkan diri sendiri. Kita lupa bahwa kita perlu meluangkan waktu juga untuk diri sendiri.

Self-care itu perlu dilakukan setidaknya satu kali dalam seminggu. Self-care berarti kita menyediakan waktu untuk diri sendiri, bersikap relax dan menepikan diri dari kesibukan yang menyita waktu kita selama ini. Self-care penting sebagai nutrisi tubuh, pikiran dan jiwa kita agar menyadari bahwa kita begitu berharga sebagai pribadi.

1. Emotional Self-Care

Adalah aktivitas yang membantu kita lebih rileks, tenang dan mengelola suasana hati menjadi lebih baik seperti menulis jurnal, bermain musik, melukis, menari, dll.

Membuat jurnal pribadi misalnya perlu dilakukan agar kita bisa menyadari rasa syukur atas hidup yang terlewati. Bagaimana pun bersyukur itu perlu dilakukan, tetapi kadang kita lupa mendokumentasikan. Menuliskannya akan membantu kita mengingat hal-hal yang kita syukuri dan sudah berlalu.

2. Social Self-Care

Adalah aktivitas yang membuat kita terhubung dengan orang lain dalam kehidupan kita seperti makan bersama keluarga, mengunjungi oma-opa atau rehat dari media sosial.

Media sosial bisa bermanfaat tetapi juga bisa menjadi mudarat. Sesekali detox media sosial akan membuat kita lebih tenang dan menemukan kenyataan yang sesungguhnya.

3. Physical Self-Care

Aktivitas yang membuat tubuh kita bergerak sehat seperti berkebun, berjalan, bersepeda, berkemah, bermain dengan binatang peliharaan, dll.

Bergerak tidak hanya membuat kita lebih sehat, tetapi membuat kita menyadari bahwa hidup itu tidak membosankan. Temukan pengalaman menyenangkan dari aktivitas yang kita lakukan.

4. Mental Self-Care

Aktivitas yang meransang kerja dan fungsi otak seperti membaca buku, pergi ke museum, bermain games, menonton dll.

Membaca buku misalnya bukan hanya meningkatkan pengetahuan saja, tetapi meningkatkan kesadaran diri terhadap apa yang dibacanya dengan realita kehidupan yang dihadapinya.

5. Spiritual Self-Care

Aktivitas yang meningkatkan aspek spiritualitas hidup kita sehingga kita menjadi lebih bersemangat seperti meditasi, yoga, ikut kelompok ibadah, mendengarkan lagu rohani dll.

Kebutuhan spiritualitas diperlukan untuk mengurangi tension dan beban yang kita hadapi. Aktivitas ini bisa dilakukan secara berkelompok atau secara pribadi. Sesuaikan dengan minat atau kebutuhan kita. Dengan demikian kita sadar bahwa segalanya baik-baik saja.

Dari kelima hal di atas, kita perlu juga meluangkan waktu sejenak dari rutinitas di depan komputer atau meja kerja setelah bekerja. Dengarkan suara di sekitar atau hiruplah udara sekitar. Terakhir, perhatikan pula pola tidur agar jiwa raga kita pun tetap sehat.

Butuh teman konseling, kirimkan ke konseling@ruanita.com.