(PODCAST RUMPITA) Meraih Mimpi dari Melbourne: Perjalanan Anindya Zahra di Dunia Farmasi

Di program diskusi Podcat Rumpita – Rumpi bersama Ruanita – episode Februari 2026 mempersembahkan diskusi inspiratif bersama Anindya Zahra Nugrahningrum, atau akrab disapa Anin atau Anne, mahasiswa asal Indonesia yang kini menempuh pendidikan di Monash University, Melbourne, Australia, dalam bidang Pharmaceutical Science.

Bersama Anna di Jerman dan Rieska di Italia, host Podcast RUMPITA, Anin berbagi cerita tentang perjuangan, adaptasi, serta visinya membangun industri farmasi dan kosmetik berbasis kekayaan alam Indonesia.

Anin memulai pendidikannya di Melbourne sejak Februari 2024. Dengan usia yang masih muda, ia langsung menempuh kuliah S1 di luar negeri. Tantangan adaptasi menjadi bagian besar dari perjalanannya, namun dukungan penuh dari pihak kampus dan komunitas internasional membantunya untuk terus maju.

“Saya bersyukur mendapatkan banyak dukungan dari Monash, mulai dari layanan konseling gratis, bantuan akademik, hingga lingkungan pertemanan yang suportif,” ujar Anin.

Di Australia, sistem pendidikan farmasi berbeda dari Indonesia. Mahasiswa hanya fokus pada empat mata kuliah utama setiap semester agar pembelajaran lebih efektif.

Anin menyoroti pentingnya fokus akademik, serta bagaimana mahasiswa internasional diberikan ruang untuk berkembang, baik secara akademik maupun mental.

Bahasa Inggris menjadi tantangan tersendiri, terutama dalam konteks akademik yang berbeda dari percakapan sehari-hari. Namun, keberagaman mahasiswa dari berbagai negara membuatnya merasa tidak sendiri.

Salah satu bagian paling menarik dari cerita Anin adalah visinya membangun industri skincare dan kosmetik berbahan alami dari Kalimantan.

Sebagai putri daerah, ia merasa memiliki tanggung jawab untuk memanfaatkan potensi alam Indonesia, khususnya bahan organik yang dapat dikembangkan secara global.

“Saya ingin menimba ilmu selama dua sampai tiga tahun di Australia, lalu kembali ke Indonesia untuk mengembangkan produk skincare berbasis bahan lokal dari Kalimantan,” kata Anin penuh semangat.

Ia juga menyadari pentingnya kesadaran nasional terhadap kekayaan sumber daya alam, terutama untuk keperluan farmasi dan kosmetik alami, yang saat ini menjadi tren di berbagai negara, termasuk Eropa.

Melalui diskusi bersama Rieska dan Anna, podcast ini juga memberikan wawasan tentang bagaimana industri farmasi berkembang di Italia dan Jerman.

Di Eropa, tren kembali ke bahan-bahan organik terus menguat seiring meningkatnya kesadaran terhadap efek samping bahan kimia.

Pengalaman pribadi para host dalam mengakses obat-obatan juga memperlihatkan perbedaan sistem kesehatan antar negara.

Di akhir sesi, Anin memberikan pesan yang menyentuh bagi perempuan Indonesia yang ingin terjun di dunia farmasi dan kecantikan:

“Kita perlu sadar akan potensi negeri sendiri. Jangan ragu bermimpi besar dan belajar ke luar negeri, tapi jangan lupa kembali untuk berkontribusi. Indonesia kaya, dan kita bisa memanfaatkan kekayaan itu untuk membantu lebih banyak orang.”

Podcast ini bukan hanya tentang farmasi, tapi juga tentang semangat perempuan muda Indonesia dalam berkarya untuk tanah air.

Dengarkan program diskusi Podcast Rumpita: Rumpi bersama Ruanita. Pastikan FOLLOW akun podcast RUMPITA di kanal Spotify berikut ini:

(PODCAST RUMPITA) Belajar dan Berkiprah di Dunia Medis, Tiongkok bersama Hilda Amanda Safir

Di awal tahun 2026, podcast RUMPITA – Rumpi bareng Ruanita menghadirkan sosok inspiratif yang tengah menempuh pendidikan kedokteran di luar negeri: Hilda Amanda Safir, mahasiswi asal Indonesia di Anhui Medical University, Tiongkok.

Dipandu oleh Anna, percakapan hangat ini mengupas kehidupan Hilda di provinsi Anhui, mulai dari proses perkuliahan, budaya setempat, hingga teknologi medis terkini yang ia temui selama studi di Tiongkok.

Hilda telah tinggal di Tiongkok sejak tahun 2019. Ia mengungkap bahwa proses pendaftaran kuliah dan beasiswa di Tiongkok cukup sederhana, seleksi dilakukan sepenuhnya melalui dokumen seperti paspor, transkrip nilai, sertifikat TOEFL atau HSK, serta hasil medical check-up.

Ia menyarankan untuk menyiapkan dokumen jauh hari sebelum tenggat karena peminat beasiswa sangat banyak.

Hilda menerima beasiswa penuh dari Pemerintah Anhui yang mencakup:

  • Biaya kuliah (SPP),
  • Buku dan perlengkapan akademik,
  • Asrama kampus,
  • Tunjangan hidup dan makan.

Ia menambahkan bahwa semua mahasiswa, baik lokal maupun internasional, diwajibkan tinggal di asrama kampus.

Sebagai mahasiswi program kedokteran bidang bedah, Hilda memulai perjalanannya dengan niat menjadi dokter sejak SMA. Kecintaannya pada ilmu pengetahuan dan semangat memberi dampak langsung kepada pasien mendorongnya untuk memilih spesialisasi ini.

Salah satu tantangan terberat di awal adalah bahasa Mandarin. Saat baru tiba, ia belum bisa berbicara Mandarin dan sempat berkomunikasi dengan bahasa tubuh dan Google Translate.

Namun seiring waktu, Hilda berhasil menyesuaikan diri karena lingkungan memaksanya belajar dengan cepat, terutama karena pasien rumah sakit tidak bisa berbahasa Inggris.

“Kalau mau praktik langsung di rumah sakit, kita harus bisa Bahasa Mandarin. Karena pasiennya tidak bisa berbahasa Inggris. Jadi kita harus bisa tanya kondisi mereka langsung.”

Hilda sempat menceritakan pengalaman menarik ketika pertama kali menangani pasien di rumah sakit. Salah satu pasiennya bertanya kenapa ia mengenakan hijab saat musim panas. Ia menjelaskan bahwa itu bagian dari keyakinannya sebagai Muslim, dan pasien merespons dengan baik.

Hilda menyampaikan bahwa teknologi medis di Tiongkok berkembang sangat pesat, bahkan di kampusnya sudah digunakan robot operasi. Dokter hanya duduk di depan monitor dan mengoperasikan robot untuk melakukan prosedur langsung ke pasien.

Ia membandingkan dengan beberapa negara lain, bahwa teknologi seperti ini belum tentu digunakan secara luas. Menurut Hilda, ini adalah salah satu kekuatan besar sistem medis di Tiongkok.

Tinggal di dekat dengan Wuhan, Hilda mengungkap bahwa jumlah Muslim di kota tersebut tidak sebanyak di daerah seperti Xinjiang. Untuk urusan makanan, meskipun banyak pilihan, ia lebih sering memasak sendiri makanan khas Indonesia.

Ia juga menyarankan bahwa bagi siapa pun yang ingin ke Tiongkok, ada banyak opsi kuliner, dan kebanyakan kota sudah sangat terbuka pada wisatawan maupun mahasiswa internasional.

Di akhir diskusi, Hilda menyampaikan pesan kepada para perempuan Indonesia yang ingin berkuliah atau mengejar mimpi, khususnya di bidang STEM atau kedokteran:

  1. Jangan ragu untuk bermimpi besar dan terus berusaha.
  2. Buang rasa insecure, karena kesempatan tidak datang dua kali.
  3. Ambil langkah kecil sekarang, karena itu akan membawamu lebih dekat ke tujuan besar.

“Coba dulu. Niat baik dan langkah kecil hari ini bisa jadi awal dari pencapaian besar di masa depan.”

Dengarkan diskusi podcast RUMPITA selengkapnya berikut ini di kanal Spotify dan pastikan FOLLOW untuk mendukung kami terus berbagi.

(PODCAST RUMPITA) Sustainable Shipping dan Digitalisasi Kapal bersama Benhard di Spanyol

Pada episode RUMPITA kali ini, Anna dan Sesilia Susi berbincang bersama narasumber Benhard yang saat ini sedang tinggal di Spanyol. Benhard merupakan penerima beasiswa Erasmus Mundus Joint Master Degree di bidang Sustainable Shipping 4.0.

Dalam podcast ini, ia membagikan pengalaman studi, pemahaman tentang digitalisasi di sektor perkapalan, serta tantangan dan strategi menuju industri kemaritiman yang lebih berkelanjutan.

Benhard menjelaskan bahwa program Erasmus Mundus memberikan kesempatan belajar lintas negara. Ia menjalani semester pertama di University of Naples Federico II di Italia, di mana ia mempelajari dasar-dasar konstruksi kapal dan stabilitas kapal, termasuk konsep second generation stability criteria yang sedang dikembangkan di dunia maritim.

Pada semester kedua dan ketiga, ia melanjutkan studi di Spanyol dengan fokus pada digitalisasi sistem perkapalan, sebuah bidang yang menjadi motivasinya sejak di Indonesia, mengingat tantangan dan peluang besar dalam modernisasi sistem pelayaran nasional.

Menurut Benhard, digitalisasi perkapalan tidak hanya berkaitan dengan teknologi tunggal, tetapi integrasi dari berbagai sistem seperti:

  • Internet of Things (IoT) untuk monitoring sistem kapal secara real-time.
  • Sensor suhu dan pH untuk sistem pendingin mesin.
  • Analisis data historis, misalnya untuk penjadwalan perawatan pompa.

Digitalisasi ini memungkinkan perawatan preventif dan efisiensi operasional kapal.

Follow us

Benhard juga menjelaskan bahwa dorongan global menuju sustainable shipping datang dari lembaga internasional seperti United Nations melalui IMO (International Maritime Organization). IMO memiliki berbagai fokus seperti:

  • Energy efficiency, maritime safety, dan traffic support.
  • Ocean governance, technical cooperation, dan new technology & innovation.

Ia juga mengungkap fakta menarik bahwa 80% logistik global dilakukan melalui laut, sehingga emisi dari sektor ini menjadi perhatian besar. Salah satu pendekatan yang digunakan adalah route optimization untuk jalur pelayaran yang aman, pendek, dan efisien.

Beberapa strategi yang dijelaskan oleh Benhard untuk mendukung zero emission shipping antara lain:

  1. Logistik dan digitalisasi, termasuk pengurangan kecepatan kapal saat tidak perlu buru-buru.
  2. Efisiensi hydrodinamik, seperti membersihkan lambung kapal agar tidak menambah beban mesin.
  3. Optimalisasi mesin, misalnya menggunakan teknologi waste heat recovery atau fuel cell.
  4. Penggunaan energi alternatif seperti biofuel, LNG, atau tenaga angin.
  5. After-treatment, seperti teknologi carbon capture dan storage.

Benhard menjelaskan bahwa mencapai target zero emission pada 2050 bukanlah hal yang mudah karena:

  • Investasi teknologi masih mahal.
  • Ketersediaan bahan bakar alternatif tidak merata di seluruh dunia.
  • Adaptasi mesin kapal dan pelabuhan terhadap teknologi baru.
  • Pelatihan awak kapal yang harus diperbarui sesuai teknologi terbaru.
  • Desain kapal baru yang harus menyesuaikan dengan sistem ramah lingkungan.

Menurutnya, semua tantangan ini bisa diatasi jika perusahaan memiliki strategi adaptif sesuai dengan posisi dan target masing-masing.

Menjawab pertanyaan dari Sesilia, Benhard menyampaikan bahwa kapal kecil seperti ferry sungai dan passenger ship memungkinkan menggunakan baterai. Namun, kapal besar seperti kontainer atau tanker memerlukan daya besar dan pendinginan yang kompleks, sehingga kombinasi teknologi seperti baterai dan auxiliary engine masih diperlukan.

Untuk kapal yacht, penggunaan baterai juga mungkin, tergantung desain dan kebutuhan pemiliknya. Namun, ada tantangan seperti durasi pengecasan dan infrastruktur pelabuhan yang harus tersedia.

Untuk Sahabat Ruanita yang ingin memahami lebih jauh dunia maritim modern dan peran Indonesia dalam masa depan pelayaran global, episode ini memberikan wawasan yang sangat relevan.

Dengarkan langsung podcast ini hanya di kanal RUMPITA di Spotify dan pastikan FOLLOW untuk mendukung kami:

(PODCAST RUMPITA) Memahami Psikologi dan Dunia Parenting di Prancis

Dalam episode kali ini, RUMPITA (Rumpi bersama Ruanita) menghadirkan narasumber spesial: Ranindra Anandita seorang psikolog yang tinggal dan praktik di Bordeaux, Prancis.

Bersama host Anna (dari Jerman) dan Rena (dari Swiss), obrolan kali ini berfokus pada isu parenting, pengalaman studi psikologi, serta tantangan menjadi psikolog Indonesia di luar negeri.

Ranindra memulai kehidupannya di Prancis sejak tahun 2015 untuk melanjutkan SMA. Ia kini memiliki praktik psikologi pribadi dan juga bekerja di sebuah institusi pendidikan setara sekolah dasar.

Praktiknya berfokus pada remaja dan keluarga, serta menangani anak-anak atau dewasa dengan kebutuhan khusus. Ia juga menggunakan pendekatan schema therapy dalam proses terapinya.

Ranindra memilih studi psikologi di Prancis karena ketertarikannya pada isu parenting, terutama dalam konteks pernikahan campuran antara warga Indonesia dan Prancis.

Topik yang juga ia angkat dalam skripsi S1-nya. Ia menempuh kursus bahasa Prancis intensif selama 8 bulan untuk mencapai level B2, yang menjadi syarat masuk studi S2 di sana.

Namun, ia mengakui tahun pertamanya sangat berat. Kurangnya kemampuan bahasa dan sistem kuliah dalam bahasa Prancis membuatnya menangis setiap hari.

Di Prancis, sistem pendidikan pascasarjana lebih berfokus pada observasi di institusi atau rumah sakit, berbeda dengan di Indonesia di mana mahasiswa lebih cepat mendapat pengalaman langsung dengan klien.

Dalam praktiknya, Ranindra banyak menemui tantangan ketika kliennya berasal dari budaya Indonesia. Salah satu contoh kasus adalah ibu asal Indonesia yang menikah dengan pria Prancis. Dalam kasus seperti ini, Ranindra mengaku kesulitan menjembatani perbedaan nilai budaya terkait peran orang tua dan anak, seperti:

  • Di Indonesia, orang tua dianggap selalu benar dan anak tidak boleh membantah.
  • Di Prancis, suara anak lebih dihargai dalam pengambilan keputusan keluarga.

Ketika klien berharap Ranindra bisa “memahami” karena sama-sama orang Indonesia, justru ia merasa lebih “berjarak” karena kini terbiasa dengan pendekatan budaya Prancis. Sebaliknya, ia tidak mengalami kendala berarti saat menangani klien berbahasa Prancis karena sistem dan latar belakang studinya sudah sesuai.

Follow us

Untuk klien pertamanya di klinik, ia menangani anak pemalu yang baru saja mengalami perceraian orang tua. Ibunya, yang juga seorang psikolog, menjadi support penting dan membuat Ranindra merasa lebih nyaman memulai praktik profesional.

Ranindra menggunakan pendekatan Schema Therapy, yang menurutnya berasal dari pemikiran Carl Jung. Pendekatan ini melihat pola pikir atau thinking patterns yang terbentuk sejak kecil akibat kebutuhan yang tidak terpenuhi, baik secara emosional maupun fisik.

Ada 13 pola pikir atau schema, salah satunya adalah “abandonment”, perasaan bahwa semua orang akan meninggalkan kita. Hal ini bisa timbul dari pengalaman traumatis kecil yang berulang, seperti sering dicap bodoh oleh guru atau ditolak.

Untuk mengenali dan menyembuhkan schema ini, pasien dibimbing membuat life calendar, merefleksikan pengalaman penting dalam hidup, dan membayangkan kembali respons ideal yang mereka harapkan saat itu.

Namun, Ranindra menekankan bahwa semua analisis dan diagnosis yang ia berikan adalah hipotesis yang akan dieksplorasi bersama klien.

Menutup obrolan, Anna dan Rena bertanya tentang akses layanan psikologi bagi warga Indonesia yang tinggal di Prancis.

Meski tidak dijelaskan rinci dalam episode ini, pengalaman Ranindra memberi gambaran bahwa ada jalur profesional yang tersedia, baik melalui institusi pendidikan, rumah sakit, maupun praktik pribadi seperti miliknya.

Simak selengkapnya diskusi Podcast RUMPITA di kanal Spotify dan pastikan FOLLOW untuk mendukung kami:

(PODCAST RUMPITA) Statistik dalam Kehidupan Sehari-hari dan Pembangunan Dunia

Dalam rangka memperingati World Statistic Day, Podcast Rumpita menghadirkan Yoga Dwi Nugroho, seorang mahasiswa S2 di University of Edinburgh yang tengah menempuh studi di bidang Statistik Web Data Science.

Diskusi yang dipandu oleh Daya, yang tinggal di Belanda, dan Anna yang membahas pentingnya statistik dalam berbagai aspek kehidupan, terutama bagi perempuan dan masyarakat luas.

Menurut Yoga, statistik bukan sekadar angka, tetapi juga alat penting dalam pengambilan keputusan dan pembuatan kebijakan.

Dengan memahami data, masyarakat dapat lebih kritis dalam menyaring informasi dan membuat keputusan yang lebih tepat.

Follow us

Yoga juga berbagi pengalamannya selama sembilan tahun berkecimpung di dunia statistik, baik dalam pendidikan maupun di Badan Pusat Statistik (BPS).

Banyak orang merasa takut dengan statistik karena identik dengan angka dan perhitungan rumit. Namun, Yoga menekankan bahwa memahami konsep dasar, seperti mean, median, dan modus, dapat membantu siapa saja lebih akrab dengan dunia statistik.

Selain itu, kemampuan berpikir kritis, komunikasi data, serta pemahaman alat analisis seperti Python menjadi keterampilan penting dalam era digital.

Diskusi juga menyinggung peran statistik dalam berbagai bidang, termasuk bisnis, riset ilmiah, hingga pengembangan kecerdasan buatan (AI).

Yoga menjelaskan bahwa AI sendiri dibangun berdasarkan prinsip statistik, sehingga pemahaman statistik tetap relevan meskipun teknologi semakin canggih.

Sebagai penutup, Yoga mengajak pendengar untuk lebih sadar akan pentingnya statistik dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari berbelanja online hingga memahami tren sosial, statistik membantu kita membuat keputusan lebih rasional dan berbasis data.

Simak diskusi podcast RUMPITA episode ke-42 berikut ini dan pastikan FOLLOW akun spotify kami ya:

(PODCAST RUMPITA) Literasi Anak di Tengah Dunia Digital yang Mengglobal

Dalam program bulanan diskusi Podcast RUMPITA – Rumpi bersama Ruanita, Anna sebagai Podcaster didampingi oleh relawan Ruanita lainnya yakni Etty P. Theresia yang tinggal di Frankfurt, Jerman.

Diskusi podcast episode bulan September ini, dilakukan dalam rangka memperingati Hari Literasi Sedunia dengan menghadirkan kisah inspiratif dari perempuan Indonesia yang menjadi pemerhati dunia literasi anak-anak.

Informan dalam diskusi podcast RUMPITA episode ke-41 adalah Azizah Seiger, atau akrab disapa Zee, yang menetap di Austria sejak 14 tahun lalu dan merupakan co-founder Seger Reading Club, sebuah komunitas literasi anak yang baru berdiri tapi penuh semangat dan visi besar di Indonesia.

Sebelum menyelami kisah Zee, Etty sempat berbagi tentang inisiatifnya mendirikan klub membaca buku anak di Jerman, yang dikenal Wortschatzbook Klub, komunitas membaca bersama yang aktif sejak 2019 dan kini rutin mengadakan pertemuan luring dua bulan sekali di Frankfurt. Menariknya, “Wordschatz” berasal dari bahasa Jerman Wortschatz, yang berarti “kosa kata”.

Fokus pada klub membaca yang dikelola oleh Zee, diberi nama Seger Reading Club, yang lahir dari kolaborasi antara Zee di Austria dan sahabatnya di Indonesia, yang berlokasi di Dusun Seger, Indonesia.

Kisah lahirnya komunitas ini bermula dari unggahan sahabatnya tersebut di media sosial yang menunjukkan anak-anak membaca dan menggambar di halaman rumahnya. “Langsung saya japri dan bilang: yuk kita bikin Reading Club,” cerita Zee penuh semangat.

Nama “Seger” sendiri ternyata bukan plesetan dari “Seiger” (nama belakang Zee), melainkan nama dusun tempat kegiatan membaca ini berlangsung.

Menurut Zee, berdirinya Seger Reading Club dilandasi dua jenis motivasi:

  1. Motivasi eksternal: terinspirasi dari pejuang literasi di Lombok Utara, keluarga besar guru, serta semangat sahabatnya sendiri.
  2. Motivasi internal: keinginan mendalam untuk menjadi bagian dari perubahan positif, didorong oleh nilai pribadi, hobi menulis, dan semangat memberi makna hidup.

“Ada keberanian yang harus kita miliki untuk menciptakan sesuatu yang berdampak. Dan keberanian itu datang dari kepercayaan diri dan mindset positif,” ujar Zee.

Sebagai ibu dari Yuna, balita 3 tahun yang tumbuh trilingual (bahasa Indonesia, Jerman, dan Inggris), Zee sangat memperhatikan penguatan literasi sejak dini. Ia konsisten membacakan buku, menciptakan rutinitas bedtime stories, dan memperhatikan pelafalan dalam setiap komunikasi.

Menariknya, Zee juga tidak menolak penggunaan teknologi. “Yuna belajar banyak dari kanal seperti Miss Rachel,” ujarnya. Namun, ia selektif, hanya memperbolehkan screen time lewat TV, bukan gadget genggam, untuk menjaga fokus dan keseimbangan bermain.

Yuna kini mampu mengenali huruf-huruf sejak usia dua tahun dan membaca kata-kata sederhana, bukti bahwa dukungan literasi di rumah bisa menghasilkan dampak besar bahkan sejak usia dini.

Di Seger Reading Club, anak-anak yang terbiasa dengan gadget awalnya tampak kurang tertarik pada buku. Untuk menyiasatinya, para relawan membacakan cerita dengan penuh ekspresi dan gerakan.

Sahabat Zee sendiri dan tim juga membuat video dongeng untuk diputar bersama menggunakan laptop. Ke depan, program akan menggunakan proyektor agar anak-anak bisa menonton bersama-sama.

“Banyak anak sekarang mengalami speech delay karena kebanyakan screen time,” tutur Zee. Seger Reading Club menjadi ruang alternatif yang bukan hanya menyenangkan, tapi juga menstimulasi kemampuan bahasa dan komunikasi.

Apa yang dilakukan oleh Zee di Seger Reading Club dan Etty di Wordschatzbook club, menunjukkan bahwa gerakan literasi bisa dimulai dari ruang sekecil apapun, asal ada tekad, keberanian, dan kolaborasi.

“Tanpa keberanian, tidak akan ada karya. Tanpa keinginan membantu, tidak akan ada perubahan,” kata Zee. Di tengah dominasi layar dan tantangan suara perempuan Indonesia di negeri rantau, menjadi pengingat bahwa kita semua bisa menjadi bagian dari solusi.

Simak diskusi PODCAST RUMPITA episode ke-41 berikut di kanal SPOTIFY dan pastikan FOLLOW agar kami dapat berbagi lebih lagi:

(PODCAST RUMPITA) Membangun Desa, Usai Studi di Mancanegara

Dalam episode spesial RUMPITA kali ini, Ruanita Indonesia mengajak kamu mengenal lebih dekat sosok Muhammad Shahinshah Kafiul Khuluq, atau yang akrab disapa Kafi, mahasiswa Indonesia yang kini tengah menempuh pendidikan di Tiongkok setelah sebelumnya pernah belajar di Turki.

Bersama Eci dan Anna, yang tinggal di Jerman, perbincangan Podcaster RUMPITA dengan Kafi mengalir ringan namun sarat makna: tentang pendidikan lintas negara, tantangan bahasa dan budaya, hingga impian besar untuk berkontribusi kembali ke tanah air.

Follow us

Perjalanan akademik Kafi bukan kisah instan. Ia tumbuh dan belajar di pesantren, yang menurutnya memberikan bekal penting berupa kedisiplinan, etika, dan nilai tanggung jawab. Dari lingkungan yang kental dengan nilai-nilai tradisional, ia melangkah keluar untuk mengecap pengalaman global.

Kini, ia menempuh studi di jurusan International Economics and Trade di Nanjing University of Information Science and Technology, Tiongkok. Sebelumnya, ia juga sempat mengenyam pendidikan di Turki.

“Belajar di Tiongkok memberi saya akses langsung pada praktik perdagangan global dan teknologi,” ujar Kafi. “Sedangkan di Turki, saya lebih banyak dibekali fondasi teori dan suasana yang hangat dari masyarakatnya.”

Banyak orang menganggap bahasa Mandarin sulit, namun tidak bagi Kafi. “Saya justru merasa bahasa Cina lebih mudah daripada bahasa Turki,” ujarnya sambil tertawa. Menurutnya, meski Mandarin menggunakan karakter, struktur kalimatnya lebih sederhana. “Kuncinya hanya dua: hafalan kosa kata dan menulis.”

Sistem perkuliahan di Tiongkok juga mendukung pelajar internasional—kelas disampaikan dalam bahasa Inggris, meski tetap ada kelas bahasa Cina untuk menunjang interaksi sehari-hari.

Dalam menghadapi perbedaan budaya, Kafi juga berbagi kisah lucu dan reflektif. Salah satunya, saat ia tidak menghabiskan teh dan roti yang disuguhkan oleh tuan rumah Turki—hal yang ternyata dianggap kurang sopan di sana. “Ternyata cukup dicicipi saja untuk menghormati,” kenangnya.

Menurut Kafi, gaya pendidikan di Turki dan Tiongkok sangat berbeda. Di Turki, fokus lebih pada teori dan pemahaman konseptual. Sementara di Tiongkok, pendekatannya praktis dan adaptif terhadap perkembangan teknologi global.

“Kedua pengalaman ini sangat melengkapi. Saya jadi bisa melihat ekonomi dari dua sudut yang berbeda—yang analitis dan yang aplikatif,” jelasnya.

Pengalaman lintas budaya ini memperkaya perspektifnya, terutama dalam memahami perdagangan internasional secara lebih kontekstual dan sensitif terhadap perbedaan.

Tidak lengkap rasanya membahas kehidupan di luar negeri tanpa menyentuh soal makanan. Kafi mengaku menyukai berbagai hidangan dari kedua negara. Dari zurna kebap yang panjangnya bisa dibagi tiga orang di Turki, hingga baklava yang super manis dan cocok disandingkan dengan teh pahit khas sana.

Di Tiongkok, ia menemukan banyak cita rasa yang lebih dekat dengan lidah Asia Tenggara. Meski begitu, ia menyarankan untuk tetap berhati-hati karena beberapa makanan sangat pedas atau penuh minyak cabai.

“Di Turki, saya belajar membangun jaringan sosial dalam masyarakat multikultural. Di Tiongkok, saya belajar beradaptasi cepat dan memanfaatkan teknologi,” ujar Kafi. Kedua pelajaran ini menurutnya sangat penting dalam membentuk pribadi yang fleksibel, berwawasan global, dan tahan banting.

Ia juga terinspirasi untuk terus menimba ilmu, dengan rencana melanjutkan studi S2 di Kanada di bidang bisnis dan ekonomi. Tapi impian utamanya tidak berhenti di sana.

Kafi berasal dari sebuah desa di Lamongan, Jawa Timur. Ia punya cita-cita besar: mendirikan perusahaan ekspor-impor yang bisa memberdayakan masyarakat lokal, khususnya para petani.

“Saya ingin masyarakat desa tidak hanya menjual hasil panen mentah, tapi bisa mengolahnya agar nilai jualnya lebih tinggi,” katanya. Ia percaya bahwa Indonesia kaya akan sumber daya—yang dibutuhkan adalah sistem dan pengetahuan agar kekayaan itu bisa dikelola dan dimanfaatkan secara berkelanjutan.

Bagi para pendengar RUMPITA yang bermimpi untuk studi ke luar negeri, Kafi punya pesan sederhana namun kuat: “Beranilah mencoba dan siapkan diri sebaik mungkin.”

Ia menekankan pentingnya riset, kepercayaan diri, dan ketekunan. “Persaingan itu ada, tapi peluang juga ada. Jangan takut memulai dari titik nol,” katanya.

Simak selengkapnya di saluran PODCAST RUMPITA dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami:

(PODCAST RUMPITA) Pengalaman Hidup yang Menarik di Dubai yang Serba Internasional

Melanjutkan episode ke-39 Podcast RUMPITA di Spotify, Podcaster Anna dan Ecie dari Ruanita Indonesia mengundang Utari Giri, seorang ibu asal Indonesia yang kini menetap di Dubai bersama keluarganya.

Diskusi Podcast ini membuka wawasan tentang bagaimana rasanya membesarkan anak-anak di negeri penuh keberagaman budaya itu, khususnya soal pendidikan yang bernuansa internasional tersebut.

Utari menceritakan bahwa keputusannya pindah ke Dubai berawal dari mengikuti suami yang mendapat pekerjaan di sana.

Dengan tekad bulat dan penuh semangat, mereka memulai kehidupan baru, jauh dari tanah air. Salah satu tantangan terbesar yang langsung dihadapi adalah soal pendidikan anak-anak.

Memilih sekolah di Dubai, menurut Utari, tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dengan banyaknya pilihan sekolah — dari kurikulum Inggris, Amerika, hingga IB (International Baccalaureate) — keluarga harus berhati-hati menyesuaikan kebutuhan pendidikan anak dengan nilai-nilai keluarga.

Di Dubai, pilihan sekolah begitu banyak, tapi tidak semuanya terjangkau secara finansial. Utari menuturkan bahwa biaya sekolah swasta di Dubai bisa sangat tinggi, bahkan untuk pendidikan anak usia dini. Oleh karena itu, riset mendalam menjadi keharusan.

“Kita mesti lihat bukan cuma fasilitasnya, tapi juga filosofi sekolahnya, bagaimana pendekatan mereka terhadap anak-anak,” ujar Utari.

Ia menekankan pentingnya mencari sekolah yang mendukung perkembangan karakter anak, bukan hanya mengejar prestasi akademik semata. Selain itu, jarak antara rumah dan sekolah juga menjadi pertimbangan praktis, mengingat lalu lintas di Dubai bisa sangat padat.

Utari merasa bersyukur karena anak-anaknya relatif mudah beradaptasi dengan lingkungan sekolah internasional yang multikultural. Di Dubai, siswa berasal dari berbagai latar belakang — Asia, Eropa, Afrika, hingga Amerika — menciptakan suasana belajar yang penuh toleransi dan keterbukaan.

Namun, adaptasi ini tetap butuh waktu. Bahasa Inggris menjadi bahasa pengantar utama di hampir semua sekolah, sehingga penting bagi anak-anak untuk memiliki dasar bahasa Inggris yang baik, atau siap untuk mengejarnya dalam proses pembelajaran.

“Anak-anak justru lebih cepat belajar bahasa dibanding kita orang tuanya,” Utari tertawa.

Walaupun secara umum pengalaman sekolah di Dubai positif, Utari tidak menutup mata terhadap tantangan yang ada. Salah satunya adalah menjaga identitas budaya Indonesia di tengah arus globalisasi yang sangat kencang.

Untuk itu, di rumah, keluarga Utari tetap berusaha membiasakan penggunaan Bahasa Indonesia dalam percakapan sehari-hari, memperkenalkan budaya, makanan khas, dan juga cerita-cerita dari tanah air. Semua ini dilakukan agar anak-anak tetap merasa memiliki akar budaya, meskipun tumbuh besar di lingkungan internasional.

“Kalau bukan kita orang tuanya yang memperkenalkan, siapa lagi?” katanya tegas.

Sebagai muslim yang tinggal di negara berpenduduk mayoritas Muslim, Utari menemukan bahwa Dubai cukup mendukung dalam hal pendidikan agama. Banyak sekolah swasta yang menawarkan kelas agama Islam sebagai bagian dari kurikulum, meskipun tetap ada pilihan bagi keluarga dari agama lain.

Namun demikian, Utari tetap merasa penting untuk menguatkan pendidikan agama dari rumah. Ia percaya bahwa nilai-nilai dasar — kejujuran, kebaikan, tanggung jawab — perlu ditanamkan lebih dahulu oleh orang tua, baru dilengkapi oleh lingkungan sekolah.

Selain soal pendidikan, Utari juga berbagi cerita tentang kehidupan sehari-hari di Dubai. Ia mengakui bahwa kota ini menawarkan fasilitas yang sangat lengkap dan nyaman untuk keluarga — dari taman-taman hijau, komunitas ekspat, hingga layanan kesehatan yang modern.

Namun, ia juga menekankan perlunya kesiapan mental dan finansial sebelum memutuskan untuk menetap di Dubai. Standar hidup yang tinggi berarti biaya kehidupan juga besar, termasuk untuk hal-hal kecil seperti transportasi, hiburan, atau makanan.

“Kalau tidak cermat mengatur keuangan, bisa berat,” ujar Utari.

Pesan untuk Keluarga Indonesia yang Ingin Pindah

Menutup perbincangan, Utari memberikan beberapa pesan penting untuk keluarga Indonesia yang mungkin bermimpi membawa anak-anak bersekolah di Dubai:

  1. Lakukan riset mendalam tentang sekolah dan biaya hidup.
  2. Siapkan anak secara mental dan bahasa sebelum berangkat.
  3. Pertahankan budaya Indonesia meski tinggal di luar negeri.
  4. Fleksibel dalam beradaptasi, karena lingkungan baru akan selalu membawa tantangan tak terduga.

Simak selengkapnya diskusi podcast RUMPITA berikut ini dan pastikan FOLLOW akun Spotify kami agar dapat berbagi lebih banyak lagi:

(PODCAST RUMPITA) Mulai dari Tri Hita Kirana ke Waste Management: Studi S2 di Italia

Diskusi Podcast RUMPITA – Rumpi bersama Ruanita – hadir setiap bulan dengan berbagai tema, termasuk di bulan Juni ini dengan tema lingkungan hidup.

Melanjutkan episode ke-38, diskusi podcast RUMPITA mengundang sahabat Ruanita yang baru saja menyelesaikan studi S2 di Milan, Italia. Dia adalah Ni Made Asri Wahyuni, yang meneliti keterkaitan Tri Hita Karana dengan perilaku buang sampah di Bali.

Diskusi Podcast RUMPITA dipandu oleh Novi di Norwegia dan Anna. Kebetulan Novi pernah menggeluti bidang lingkungan hidup sewaktu masih bekerja di Indonesia.

Novi sendiri mengamati saat berlibur di Bali beberapa waktu lalu, bahwa objek wisata yang dikenal dunia itu sudah banyak mengalami perubahan, termasuk tumpukan sampah yang tak sedap dilihat.

Bagi Asri yang lahir dan besar di Bali, perilaku membuang sampah orang Bali kini mengalami perubahan seiring dengan perkembangan zaman, seperti penggunaan plastik yang dianggap praktis dan efisien.

Padahal dulu orang Bali lebih menggunakan daun dan menyatukan sampah organik begitu saja, karena hanya sampah dapur dan sampah ritual upacara adat.

Follow us

Ketertarikan Asri meneliti perilaku membuang sampah didasari oleh fenomena sosial tentang Bali yang kotor oleh tumpukan sampah.

Sebagai pusat pariwisata dunia, Asri yang juga kerap disapa Made ini juga mengingatkan kearifan lokal warga Bali, yang terpaut dengan perspektif Tri Hita Karana.

Asri atau Made pernah bergabung sebagai aktivis lingkungan sebelum dia melanjutkan studi S2 di Italia.

Beliau merasa telah banyak banjar atau komunitas masyarakat di Bali yang menerapkan pemilahan sampah atau menerapkan pemanfaatan sampah organik untuk kebutuhan masyarakat sendiri.

Dari pengamatannya tersebut, Asri pun meneliti perilaku membuang sampah dengan perspektif kearifan lokal yang sudah dialami oleh warga Bali sendiri.

Apa itu Tri Hita Karana? Bagaimana keterkaitan Tri Hita Karana dengan perilaku membuang sampah? Apa hasil penelitian Asri sendiri untuk rekomendasi masyarakat di Bali? Apa pesan Asri yang juga menjadi aktivis lingkungan di Hari Lingkungan Hidup Sedunia?

Simak selengkapnya diskusi Podcast RUMPITA berikut dan pastikan FOLLOW akun kami berikut:

(PODCAST RUMPITA) Pentingnya Storytelling tentang Indonesia untuk Dunia

Dalam episode podcast RUMPITA ke-37 yang tayang di SPOTIFY RUMPITA, kami menghadirkan sosok istimewa, Rane Hafied, seorang penulis, podcaster, dan penggerak literasi yang telah lama menetap di Amerika Serikat, Singapura, dan Thailand.

Diskusi hangat bersama Rane membuka banyak wawasan tentang dunia kepenulisan, tantangan hidup di luar negeri, serta upaya mempertahankan identitas Indonesia lewat cerita.

Sejak muda, Rane sudah akrab dengan dunia menulis. Berawal dari keisengan menulis cerita pendek di majalah sekolah, kecintaannya terhadap dunia literasi tumbuh semakin kuat.

Namun, siapa sangka perjalanan panjang itu membawanya ke berbagai pengalaman menarik, termasuk bekerja di bidang media dan akhirnya memutuskan untuk tinggal di mancanegara.

Salah satu bagian menarik dari perbincangan adalah bagaimana Rane melihat pentingnya menjaga akar budaya Indonesia, bahkan saat tinggal jauh dari tanah air.

Dalam karyanya, ia kerap menyelipkan nuansa Indonesia, baik melalui karakter, latar, maupun nilai-nilai yang diangkat. “Menulis itu buat saya seperti cara menjaga jembatan ke rumah,” kata Rane dalam podcast ini.

Tak hanya soal menulis, Rane juga bercerita tentang dunia podcasting. Ia dikenal sebagai salah satu podcaster senior di Indonesia yang terus konsisten memproduksi konten berbobot, terutama tentang literasi dan budaya.

Lewat podcast-nya, ia berharap bisa menularkan semangat membaca dan menulis kepada lebih banyak orang, terutama generasi muda.

Namun perjalanan ini tentu tidak selalu mulus. Rane mengungkapkan berbagai tantangan yang dihadapinya, mulai dari keterbatasan akses buku berbahasa Indonesia di luar negeri, hingga tantangan mental seperti homesick dan kerinduan akan komunitas lokal.

Menariknya, semua itu justru menjadi bahan bakar kreativitasnya.

Dalam diskusi podcast RUMPITA yang dipandu oleh Kristin dan Anna, Rane juga membagikan tips untuk para calon penulis yang ingin mulai menulis tapi merasa minder atau takut.

Menurutnya, kunci utama adalah konsistensi dan keberanian untuk “menulis dulu, edit kemudian.” Ia menekankan bahwa tulisan pertama tidak harus sempurna.

Yang terpenting adalah menuangkan ide, lalu perlahan memperbaikinya seiring waktu.

Rane juga berbagi pengalamannya membangun komunitas literasi daring. Ia percaya bahwa komunitas sangat penting dalam menjaga semangat menulis dan membaca, apalagi bagi mereka yang tinggal jauh dari tanah air.

Di komunitas ini, para anggotanya saling menyemangati, berbagi karya, dan bertumbuh bersama.

Menariknya, Rane melihat teknologi sebagai peluang, bukan ancaman. Menurutnya, di era digital ini, kesempatan untuk berbagi karya semakin terbuka lebar.

“Tidak perlu lagi menunggu penerbit besar. Kamu bisa mulai dari blog, podcast, atau media sosial. Yang penting konsisten dan tetap autentik,” ungkapnya.

Diskusi santai namun penuh makna bersama Rane Hafied ini memberikan banyak inspirasi, tidak hanya bagi para penulis, tetapi juga siapa saja yang berjuang mempertahankan identitas diri di tengah perubahan zaman.

Kami di RUMPITA merasa beruntung bisa menghadirkan cerita-cerita seperti ini kepada para pendengar setia.

Jangan lewatkan episode lengkapnya di bawah ini dan pastikan FOLLOW akun spotify RUMPITA. Siapapun kamu, di manapun berada, semoga cerita Rane Hafied bisa menjadi pengingat bahwa semangat berkarya dan menjaga akar budaya tak pernah mengenal batas.

(PODCAST RUMPITA) Peluang dan Tantangan PostDoc di Jepang Sebagai Perempuan Indonesia

Dunia memperingati 7 April sebagai World Health Day, yang mendorong Ruanita – Rumah Aman Kita – Indonesia mengundang sahabat Ruanita yang berprofesi sebagai dokter untuk berbagi pengalaman dan pengetahuannya.

Lewat Podcast RUMPITA yang tayang tiap bulan, episode kali ini membahas tentang pengalaman riset Postdoc setelah studi PhD di Jepang tentang dunia medis.

Dia adalah dokter Mita, yang adalah seorang ibu, periset, dan dokter untuk berbagi tentang peluang dan tantangan yang harus dihadapi dalam menjalani studi Postdoc selama di Jepang.

Setelah berhasil menyelesaikan studi PhD di Jepang, setahun kemudian dokter Mita langsung menerima tawaran untuk lanjut studi Postdoc.

Follow us

Meskipun Jepang termasuk dalam benua Asia, tetapi budaya dan etos kerja orang-orang Jepang memiliki keunggulan tersendiri. Beruntung, supervisor dokter Mita sangat memahami situasinya sebagai ibu.

Sejak tinggal lebih dari lima tahun di Jepang, dokter Mita harus beradaptasi juga bagaimana tinggal di Jepang yang juga tak mudah.

Contohnya, bagaimana kehidupan di Jepang yang juga rawan bencana alam. Pemerintah Jepang telah mengantisipasi dengan memberikan peringatan dini kepada warganya, apabila ada prediksi typhoon misalnya.

Konsistensi adalah kunci keberhasilan dari dokter Mita dalam menyelesaikan studi PhD-nya. Dia pun tak lupa untuk berbagi peran sebagai ibu dan peneliti juga.

Dokter Mita belajar bahwa membuat riset di bidang kedokteran tentu berdasarkan pada apa yang dibutuhkan masyarakat.

Hasil risetnya tentu akan sangat membantu agar masyarakat tetap sehat. Peran pemerintah di sini sangat menentukan bagaimana kebijakan mengatur kadar gula atau garam dalam kemasan produk makanan misalnya.

Bagaimana pengalaman menarik dan menantang dari perjalanan PhD dan studi Postdoc dokter Mita? Apa saja yang diperlukan untuk melamar beasiswa yang disediakan pemerintah Jepang?

Apa saja yang perlu diperhatikan dalam melakukan riset di bidang kedokteran? Apa pesan dokter Mita bagi sahabat Ruanita yang ingin berhasil menyelesaikan studi di Jepang?

Simak selangkapnya di saluran Podcast SPOTIFY kami dan pastikan Anda juga FOLLOW RUMPITA untuk mendukung kami:

(PODCAST RUMPITA) Lesson Learned Jadi Business Analyst dan Single Mom di Swiss

Program Diskusi Podcast Rumpita – Rumpi by Ruanita Indonesia – tayang tiap bulan dengan berbagai tema yang ditawarkan. Pada episode Maret 2025 ini, Ruanita Indonesia mengangkat tema terkait perayaan Hari Perempuan Internasional yang jatuh tiap 8 Maret. Oleh karena itu, informan yang diundang adalah sahabat Ruanita yang tinggal di Swiss.

Dia adalah Sekar, yang telah lama tinggal di Swiss sejak tahun 2017, kini bekerja sebagai Business Analyst di perusahaan swasta yang menyediakan data-data finansial untuk kebutuhan kliennya.

Sekar sendiri secara profesional telah berhasil memimpin timnya yang terdiri atas orang-orang dari berbagai latar belakang kebangsaan.

Sekar bercerita perjalanan kariernya yang tak mudah. Itu semua bermula dari pekerjaannya di Indonesia yang berurusan dengan perbankan. Tak puas dengan kariernya di Indonesia, Sekar memutuskan untuk mengambil studi lanjutan di Korea Selatan.

Para pendengar Podcast RUMPITA akan mendengar bagaimana perjalanan kuliah Sekar yang tak mudah juga di Korea Selatan, yang semula dibayangkannya indah seperti layaknya drama-drama yang disajikan dalam film asal negeri gingseng ini.

Kuliah belum selesai di Korea Selatan, Sekar bertemu dengan pria yang menjadi ayah dari anaknya. Sekar pun memutuskan untuk pindah dan melanjutkan studi di Swiss.

Follow us

Swiss merupakan negara maju yang tak mudah juga ditaklukan oleh Sekar seorang diri, ketika akhirnya dia harus menjadi Single Mom.

Lewat kebijakan yang ditetapkan oleh Pemerintah Swiss, Sekar tidak perlu bekerja banting tulang seratus persen agar dapat membesarkan anaknya.

Sekar bisa tetap merawat anaknya dan bekerja secara profesional. Meski telah berpisah dengan suami, Sekar pun berbagi peran dan tanggung jawab dengan anaknya untuk membesarkan anak mereka.

Simak diskusi podcast yang dipandu oleh Kristin dan Anna tentang perjalanan karier Sekar mulai dari Indonesia, Korea Selatan, hingga Swiss. Apakah mendapatkan pekerjaan di Swiss itu cukup hanya berbekal Bahasa Inggris saja?

Apa saja syarat-syarat untuk berkuliah di Korea Selatan dan di Swiss? Bagaimana Sekar berbagi peran dan tanggung jawabnya menjadi pekerja profesional dengan seorang Single Mom? Apa kiat-kiat Sekar untuk menjalani kehidupan kerja yang seimbang di Hari Perempuan Internasional ini?

Jangan lupa FOLLOW akun Spotify Rumpita, Rumpi by Ruanita Indonesia agar kami dapat berbagi lebih banyak lagi.

(PODCAST RUMPITA) Berdiplomasi Lewat Bahasa Indonesia dari Australia ke Finlandia

Dalam rangka memperingati Hari Bahasa Ibu Internasional yang jatuh tiap 21 Februari, Ruanita Indonesia turut serta mempromosikan Bahasa Indonesia lewat program Podcast RUMPITA yang menghadirkan pengajar BIPA, Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing.

Dia adalah Ari Nursenja Rivanti, yang adalah pengajar BIPA yang bertugas sebagai pengajar BIPA di Finlandia sejak 2019.

Dalam program Podcast RUMPITA, diskusi dipandu oleh Kristina Ayuningtyas yang kini menjadi relawan Ruanita di Prancis dan Anna.

Ari, begitu tamu podcast pada episode ini disapa, menjadi Founder dari Rumah BIPA sejak 2017. Selain itu, Ari kini menekuni sebagai pengajar BIPA di University of Victoria di Kanada sejak Agustus 2024 lalu.

Pada saat rekaman Podcast berlangsung, Ari sedang sibuk mempersiapkan materi ajar di kelas BIPA di Finlandia. Ari juga menjadi student double degree di sebuah universitas di Helsinki.

Untuk mengajarkan BIPA, Ari menggunakan Bahasa Inggris kepada pemelajar di Finlandia secara online yang ternyata cukup tinggi peminatnya.

Hal menarik lainnya, pemerintah Finlandia sendiri mendorong anak-anak birasial yakni salah satu orang tuanya berasal dari Indonesia, untuk dapat mengikuti kelas BIPA khusus anak-anak.

Meski begitu, pemelajar di Finlandia itu tidak melulu warga Finlandia saja.

Ari juga bercerita pengalamannya mengajar BIPA di Australia, di mana pelajaran Bahasa Indonesia juga menjadi mata pelajaran di kurikulum mereka.

Untuk mengajarkan BIPA lebih muda, Ari juga menjelaskan banyak menggunakan media interaktif yang menarik untuk siswa untuk memahami Bahasa Indonesia sebagai bahasa asing mereka.

Bagaimana pengalaman Ari mengajarkan BIPA di Australia, Asia, Eropa dan kini Kanada? Apa saja pengalaman menarik dan menantang untuk Ari mengajarkan BIPA?

Apa saja cerita seru dari Ari menghadapi pemelajar Bahasa Indonesia dari berbagai negara dan kultur? Apa saran Ari kepada sahabat Ruanita yang ingin belajar menjadi pengajar BIPA dan mendapatkan kesempatan bekerja di mancanegara?

Simak diskusi Podcast RUMPITA berikut ini selengkapnya dan jangan lupa FOLLOW akun Spotify kami:

(PODCAST RUMPITA) Berbagi Cerita Merantau Bersama “The Perantau” di Australia

Program RUMPITA – Rumpi bersama Ruanita – dalam episode berikut dipandu oleh Anna dan Putri yang tinggal di Jerman, yang membahas tentang pengalaman merantau di luar negeri. Untuk memperkaya cerita merantau, Anna mengundang Founder of The Perantau, yakni podcast yang dikhususkan untuk berbagi cerita merantau di seputaran benua Australia.

Billy sendiri telah berhasil menyelesaikan studi S1 dan S2 di salah satu universitas di Melbourne, Australia. Rekaman Podcast sudah dilakukan sejak tahun lalu. Selain mengelola Podcast “The Perantau”, Billy juga bekerja sebagai Digital and Social Journalist dan University Tutor. Lainnya, Billy aktif sebagai research assistant di Australia.

Dengan pengetahuannya di bidang komunikasi dan keahliannya, Billy mengajak teman-temannya untuk mengelola podcast “The Perantau” yang berisi serba-serbi kehidupan merantau di Australia. Bagi warga di Indonesia, Podcast “The Perantau” kini juga hadir di platform “Noice” dan APPLE PODCAST.

Berawal dari pengalamannya selama Pandemi Covid-19, Billy menemukan aktivitas barunya dengan membuat rekaman Podcast bersama orang-orang Indonesia di sekitarnya. Tentunya, begitu mudah bagi Billy bertemu dengan sesama orang Indonesia karena Melbourne banyak dihuni oleh perantau dari Indonesia. Selain itu, Billy juga aktif di PPI Australia, yang beragam jumlah dan jenisnya.

Billy menyebutkan ada sekitar dua ribu mahasiswa Indonesia di Melbourne. Belum lagi, Billy juga bisa menjumpai restoran khas masakan Indonesia, yang tentunya hal ini tidak mudah didapat di negara lain. Suasana merantau yang berbeda dibandingkan mereka yang merasa sendirian di negeri rantauan.

Lewat Podcast “The Perantau”, Billy menjumpai sesama perantau Indonesia yang sudah lebih puluhan tahun tinggal di Melbourne atau merintis usaha di negeri rantauan. Bagi Billy, setiap cerita yang dikemas dalam “The Perantau” selalu ada tujuan dan maksud yang ingin disampaikan, meski Billy tidak menyebutkan target market pendengarnya.

Apa yang mendasari Billy mengelola Podcast “The Perantau”? Apa saja strategi yang dikembangkan Billy dalam membagi waktu antara mengelola Podcast dengan pekerjaannya sehari-hari? Apa saja yang ditawarkan Billy lewat podcast ini? Apa pesan Billy bagi sahabat Ruanita yang ingin merantau, terutama merantau ke Melbourne, Australia?

Simak selengkapnya dalam diskusi podcast RUMPITA berikut ini:

(PODCAST RUMPITA) Berbagi Pengalaman Pernah Jadi Program Manager Isu HIV & AIDS di Papua

1 Desember diperingati setiap tahunnya sebagai World AIDS Day di seluruh dunia. Bagaimana pun HIV & AIDS masih menimbulkan stigma sosial bagi orang dengan AIDS (ODHA), terutama di masyarakat yang tidak mendapatkan literasi dan informasi yang benar dan tepat tentang isu ini.

Lewat program podcast RUMPITA, Rumpi bersama RUANITA, Anna dan Novi sebagai pemandu diskusi podcast pada episode ini mengajak sahabat Ruanita untuk peduli tentang HIV & AIDS dan mematahkan mitos-mitos yang tidak benar di masyarakat.

Episode ke-32 Podcast RUMPITA mengundang Restituti Betaubun atau yang akrab disapa sebagai Chichi, yang masih aktif menjadi aktivis yang mendukung sesamanya yang hidup dengan positif HIV. Chichi sendiri pernah bekerja di program HIV & AIDS selama lebih dari 10 tahun dengan berbagai posisi, di Yayasan Peduli AIDS di Timika, Papua Tengah.

Chichi juga bercerita bahwa ia sempat menjadi dosen lokal di sebuah perguruan tinggi di Timika dari 2013 hingga 2015, tetapi aktivitasnya untuk menjadi social support program HIV & AIDS telah memberikan banyak pengalaman berharga, agar stigma sosial di masyarakat Papua dapat dipatahkan.

Kampanye yang dibuat oleh Chichi dikhususkan untuk anak-anak muda sebagai bentuk preventif terhadap HIV & AIDS. Chichi banyak bersentuhan tentang bagaimana melakukan kampanye yang benar dan tepat kepada anak-anak muda yang menjadi penerima manfaat program tersebut.

Sebelum kehadiran Komisi Penanggulangan AIDS di Papua, Chichi bercerita bagaimana masyarakat masih merasa awam terhadap AIDS, sehingga perilaku salah menimbulkan stigma sosial kepada ODHA.

Sejak munculnya program HIV & AIDS di Papua, Chichi merasa keterlibatan tokoh masyarakat dan tokoh agama sangat membantu untuk mematahkan stigma sosial tersebut.

Simak diskusi podcast RUMPITA episode ke-32 berikut ini di saluran Spotify berikut ini: