(PODCAST RUMPITA) Pengalaman Hidup yang Menarik di Dubai yang Serba Internasional

Melanjutkan episode ke-39 Podcast RUMPITA di Spotify, Podcaster Anna dan Ecie dari Ruanita Indonesia mengundang Utari Giri, seorang ibu asal Indonesia yang kini menetap di Dubai bersama keluarganya.

Diskusi Podcast ini membuka wawasan tentang bagaimana rasanya membesarkan anak-anak di negeri penuh keberagaman budaya itu, khususnya soal pendidikan yang bernuansa internasional tersebut.

Utari menceritakan bahwa keputusannya pindah ke Dubai berawal dari mengikuti suami yang mendapat pekerjaan di sana.

Dengan tekad bulat dan penuh semangat, mereka memulai kehidupan baru, jauh dari tanah air. Salah satu tantangan terbesar yang langsung dihadapi adalah soal pendidikan anak-anak.

Memilih sekolah di Dubai, menurut Utari, tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dengan banyaknya pilihan sekolah — dari kurikulum Inggris, Amerika, hingga IB (International Baccalaureate) — keluarga harus berhati-hati menyesuaikan kebutuhan pendidikan anak dengan nilai-nilai keluarga.

Di Dubai, pilihan sekolah begitu banyak, tapi tidak semuanya terjangkau secara finansial. Utari menuturkan bahwa biaya sekolah swasta di Dubai bisa sangat tinggi, bahkan untuk pendidikan anak usia dini. Oleh karena itu, riset mendalam menjadi keharusan.

“Kita mesti lihat bukan cuma fasilitasnya, tapi juga filosofi sekolahnya, bagaimana pendekatan mereka terhadap anak-anak,” ujar Utari.

Ia menekankan pentingnya mencari sekolah yang mendukung perkembangan karakter anak, bukan hanya mengejar prestasi akademik semata. Selain itu, jarak antara rumah dan sekolah juga menjadi pertimbangan praktis, mengingat lalu lintas di Dubai bisa sangat padat.

Utari merasa bersyukur karena anak-anaknya relatif mudah beradaptasi dengan lingkungan sekolah internasional yang multikultural. Di Dubai, siswa berasal dari berbagai latar belakang — Asia, Eropa, Afrika, hingga Amerika — menciptakan suasana belajar yang penuh toleransi dan keterbukaan.

Namun, adaptasi ini tetap butuh waktu. Bahasa Inggris menjadi bahasa pengantar utama di hampir semua sekolah, sehingga penting bagi anak-anak untuk memiliki dasar bahasa Inggris yang baik, atau siap untuk mengejarnya dalam proses pembelajaran.

“Anak-anak justru lebih cepat belajar bahasa dibanding kita orang tuanya,” Utari tertawa.

Walaupun secara umum pengalaman sekolah di Dubai positif, Utari tidak menutup mata terhadap tantangan yang ada. Salah satunya adalah menjaga identitas budaya Indonesia di tengah arus globalisasi yang sangat kencang.

Untuk itu, di rumah, keluarga Utari tetap berusaha membiasakan penggunaan Bahasa Indonesia dalam percakapan sehari-hari, memperkenalkan budaya, makanan khas, dan juga cerita-cerita dari tanah air. Semua ini dilakukan agar anak-anak tetap merasa memiliki akar budaya, meskipun tumbuh besar di lingkungan internasional.

“Kalau bukan kita orang tuanya yang memperkenalkan, siapa lagi?” katanya tegas.

Sebagai muslim yang tinggal di negara berpenduduk mayoritas Muslim, Utari menemukan bahwa Dubai cukup mendukung dalam hal pendidikan agama. Banyak sekolah swasta yang menawarkan kelas agama Islam sebagai bagian dari kurikulum, meskipun tetap ada pilihan bagi keluarga dari agama lain.

Namun demikian, Utari tetap merasa penting untuk menguatkan pendidikan agama dari rumah. Ia percaya bahwa nilai-nilai dasar — kejujuran, kebaikan, tanggung jawab — perlu ditanamkan lebih dahulu oleh orang tua, baru dilengkapi oleh lingkungan sekolah.

Selain soal pendidikan, Utari juga berbagi cerita tentang kehidupan sehari-hari di Dubai. Ia mengakui bahwa kota ini menawarkan fasilitas yang sangat lengkap dan nyaman untuk keluarga — dari taman-taman hijau, komunitas ekspat, hingga layanan kesehatan yang modern.

Namun, ia juga menekankan perlunya kesiapan mental dan finansial sebelum memutuskan untuk menetap di Dubai. Standar hidup yang tinggi berarti biaya kehidupan juga besar, termasuk untuk hal-hal kecil seperti transportasi, hiburan, atau makanan.

“Kalau tidak cermat mengatur keuangan, bisa berat,” ujar Utari.

Pesan untuk Keluarga Indonesia yang Ingin Pindah

Menutup perbincangan, Utari memberikan beberapa pesan penting untuk keluarga Indonesia yang mungkin bermimpi membawa anak-anak bersekolah di Dubai:

  1. Lakukan riset mendalam tentang sekolah dan biaya hidup.
  2. Siapkan anak secara mental dan bahasa sebelum berangkat.
  3. Pertahankan budaya Indonesia meski tinggal di luar negeri.
  4. Fleksibel dalam beradaptasi, karena lingkungan baru akan selalu membawa tantangan tak terduga.

Simak selengkapnya diskusi podcast RUMPITA berikut ini dan pastikan FOLLOW akun Spotify kami agar dapat berbagi lebih banyak lagi:

(PODCAST RUMPITA) Mulai dari Tri Hita Kirana ke Waste Management: Studi S2 di Italia

Diskusi Podcast RUMPITA – Rumpi bersama Ruanita – hadir setiap bulan dengan berbagai tema, termasuk di bulan Juni ini dengan tema lingkungan hidup.

Melanjutkan episode ke-38, diskusi podcast RUMPITA mengundang sahabat Ruanita yang baru saja menyelesaikan studi S2 di Milan, Italia. Dia adalah Ni Made Asri Wahyuni, yang meneliti keterkaitan Tri Hita Karana dengan perilaku buang sampah di Bali.

Diskusi Podcast RUMPITA dipandu oleh Novi di Norwegia dan Anna. Kebetulan Novi pernah menggeluti bidang lingkungan hidup sewaktu masih bekerja di Indonesia.

Novi sendiri mengamati saat berlibur di Bali beberapa waktu lalu, bahwa objek wisata yang dikenal dunia itu sudah banyak mengalami perubahan, termasuk tumpukan sampah yang tak sedap dilihat.

Bagi Asri yang lahir dan besar di Bali, perilaku membuang sampah orang Bali kini mengalami perubahan seiring dengan perkembangan zaman, seperti penggunaan plastik yang dianggap praktis dan efisien.

Padahal dulu orang Bali lebih menggunakan daun dan menyatukan sampah organik begitu saja, karena hanya sampah dapur dan sampah ritual upacara adat.

Follow us

Ketertarikan Asri meneliti perilaku membuang sampah didasari oleh fenomena sosial tentang Bali yang kotor oleh tumpukan sampah.

Sebagai pusat pariwisata dunia, Asri yang juga kerap disapa Made ini juga mengingatkan kearifan lokal warga Bali, yang terpaut dengan perspektif Tri Hita Karana.

Asri atau Made pernah bergabung sebagai aktivis lingkungan sebelum dia melanjutkan studi S2 di Italia.

Beliau merasa telah banyak banjar atau komunitas masyarakat di Bali yang menerapkan pemilahan sampah atau menerapkan pemanfaatan sampah organik untuk kebutuhan masyarakat sendiri.

Dari pengamatannya tersebut, Asri pun meneliti perilaku membuang sampah dengan perspektif kearifan lokal yang sudah dialami oleh warga Bali sendiri.

Apa itu Tri Hita Karana? Bagaimana keterkaitan Tri Hita Karana dengan perilaku membuang sampah? Apa hasil penelitian Asri sendiri untuk rekomendasi masyarakat di Bali? Apa pesan Asri yang juga menjadi aktivis lingkungan di Hari Lingkungan Hidup Sedunia?

Simak selengkapnya diskusi Podcast RUMPITA berikut dan pastikan FOLLOW akun kami berikut:

(PODCAST RUMPITA) Pentingnya Storytelling tentang Indonesia untuk Dunia

Dalam episode podcast RUMPITA ke-37 yang tayang di SPOTIFY RUMPITA, kami menghadirkan sosok istimewa, Rane Hafied, seorang penulis, podcaster, dan penggerak literasi yang telah lama menetap di Amerika Serikat, Singapura, dan Thailand.

Diskusi hangat bersama Rane membuka banyak wawasan tentang dunia kepenulisan, tantangan hidup di luar negeri, serta upaya mempertahankan identitas Indonesia lewat cerita.

Sejak muda, Rane sudah akrab dengan dunia menulis. Berawal dari keisengan menulis cerita pendek di majalah sekolah, kecintaannya terhadap dunia literasi tumbuh semakin kuat.

Namun, siapa sangka perjalanan panjang itu membawanya ke berbagai pengalaman menarik, termasuk bekerja di bidang media dan akhirnya memutuskan untuk tinggal di mancanegara.

Salah satu bagian menarik dari perbincangan adalah bagaimana Rane melihat pentingnya menjaga akar budaya Indonesia, bahkan saat tinggal jauh dari tanah air.

Dalam karyanya, ia kerap menyelipkan nuansa Indonesia, baik melalui karakter, latar, maupun nilai-nilai yang diangkat. “Menulis itu buat saya seperti cara menjaga jembatan ke rumah,” kata Rane dalam podcast ini.

Tak hanya soal menulis, Rane juga bercerita tentang dunia podcasting. Ia dikenal sebagai salah satu podcaster senior di Indonesia yang terus konsisten memproduksi konten berbobot, terutama tentang literasi dan budaya.

Lewat podcast-nya, ia berharap bisa menularkan semangat membaca dan menulis kepada lebih banyak orang, terutama generasi muda.

Namun perjalanan ini tentu tidak selalu mulus. Rane mengungkapkan berbagai tantangan yang dihadapinya, mulai dari keterbatasan akses buku berbahasa Indonesia di luar negeri, hingga tantangan mental seperti homesick dan kerinduan akan komunitas lokal.

Menariknya, semua itu justru menjadi bahan bakar kreativitasnya.

Dalam diskusi podcast RUMPITA yang dipandu oleh Kristin dan Anna, Rane juga membagikan tips untuk para calon penulis yang ingin mulai menulis tapi merasa minder atau takut.

Menurutnya, kunci utama adalah konsistensi dan keberanian untuk “menulis dulu, edit kemudian.” Ia menekankan bahwa tulisan pertama tidak harus sempurna.

Yang terpenting adalah menuangkan ide, lalu perlahan memperbaikinya seiring waktu.

Rane juga berbagi pengalamannya membangun komunitas literasi daring. Ia percaya bahwa komunitas sangat penting dalam menjaga semangat menulis dan membaca, apalagi bagi mereka yang tinggal jauh dari tanah air.

Di komunitas ini, para anggotanya saling menyemangati, berbagi karya, dan bertumbuh bersama.

Menariknya, Rane melihat teknologi sebagai peluang, bukan ancaman. Menurutnya, di era digital ini, kesempatan untuk berbagi karya semakin terbuka lebar.

“Tidak perlu lagi menunggu penerbit besar. Kamu bisa mulai dari blog, podcast, atau media sosial. Yang penting konsisten dan tetap autentik,” ungkapnya.

Diskusi santai namun penuh makna bersama Rane Hafied ini memberikan banyak inspirasi, tidak hanya bagi para penulis, tetapi juga siapa saja yang berjuang mempertahankan identitas diri di tengah perubahan zaman.

Kami di RUMPITA merasa beruntung bisa menghadirkan cerita-cerita seperti ini kepada para pendengar setia.

Jangan lewatkan episode lengkapnya di bawah ini dan pastikan FOLLOW akun spotify RUMPITA. Siapapun kamu, di manapun berada, semoga cerita Rane Hafied bisa menjadi pengingat bahwa semangat berkarya dan menjaga akar budaya tak pernah mengenal batas.

(PODCAST RUMPITA) Peluang dan Tantangan PostDoc di Jepang Sebagai Perempuan Indonesia

Dunia memperingati 7 April sebagai World Health Day, yang mendorong Ruanita – Rumah Aman Kita – Indonesia mengundang sahabat Ruanita yang berprofesi sebagai dokter untuk berbagi pengalaman dan pengetahuannya.

Lewat Podcast RUMPITA yang tayang tiap bulan, episode kali ini membahas tentang pengalaman riset Postdoc setelah studi PhD di Jepang tentang dunia medis.

Dia adalah dokter Mita, yang adalah seorang ibu, periset, dan dokter untuk berbagi tentang peluang dan tantangan yang harus dihadapi dalam menjalani studi Postdoc selama di Jepang.

Setelah berhasil menyelesaikan studi PhD di Jepang, setahun kemudian dokter Mita langsung menerima tawaran untuk lanjut studi Postdoc.

Follow us

Meskipun Jepang termasuk dalam benua Asia, tetapi budaya dan etos kerja orang-orang Jepang memiliki keunggulan tersendiri. Beruntung, supervisor dokter Mita sangat memahami situasinya sebagai ibu.

Sejak tinggal lebih dari lima tahun di Jepang, dokter Mita harus beradaptasi juga bagaimana tinggal di Jepang yang juga tak mudah.

Contohnya, bagaimana kehidupan di Jepang yang juga rawan bencana alam. Pemerintah Jepang telah mengantisipasi dengan memberikan peringatan dini kepada warganya, apabila ada prediksi typhoon misalnya.

Konsistensi adalah kunci keberhasilan dari dokter Mita dalam menyelesaikan studi PhD-nya. Dia pun tak lupa untuk berbagi peran sebagai ibu dan peneliti juga.

Dokter Mita belajar bahwa membuat riset di bidang kedokteran tentu berdasarkan pada apa yang dibutuhkan masyarakat.

Hasil risetnya tentu akan sangat membantu agar masyarakat tetap sehat. Peran pemerintah di sini sangat menentukan bagaimana kebijakan mengatur kadar gula atau garam dalam kemasan produk makanan misalnya.

Bagaimana pengalaman menarik dan menantang dari perjalanan PhD dan studi Postdoc dokter Mita? Apa saja yang diperlukan untuk melamar beasiswa yang disediakan pemerintah Jepang?

Apa saja yang perlu diperhatikan dalam melakukan riset di bidang kedokteran? Apa pesan dokter Mita bagi sahabat Ruanita yang ingin berhasil menyelesaikan studi di Jepang?

Simak selangkapnya di saluran Podcast SPOTIFY kami dan pastikan Anda juga FOLLOW RUMPITA untuk mendukung kami:

(PODCAST RUMPITA) Lesson Learned Jadi Business Analyst dan Single Mom di Swiss

Program Diskusi Podcast Rumpita – Rumpi by Ruanita Indonesia – tayang tiap bulan dengan berbagai tema yang ditawarkan. Pada episode Maret 2025 ini, Ruanita Indonesia mengangkat tema terkait perayaan Hari Perempuan Internasional yang jatuh tiap 8 Maret. Oleh karena itu, informan yang diundang adalah sahabat Ruanita yang tinggal di Swiss.

Dia adalah Sekar, yang telah lama tinggal di Swiss sejak tahun 2017, kini bekerja sebagai Business Analyst di perusahaan swasta yang menyediakan data-data finansial untuk kebutuhan kliennya.

Sekar sendiri secara profesional telah berhasil memimpin timnya yang terdiri atas orang-orang dari berbagai latar belakang kebangsaan.

Sekar bercerita perjalanan kariernya yang tak mudah. Itu semua bermula dari pekerjaannya di Indonesia yang berurusan dengan perbankan. Tak puas dengan kariernya di Indonesia, Sekar memutuskan untuk mengambil studi lanjutan di Korea Selatan.

Para pendengar Podcast RUMPITA akan mendengar bagaimana perjalanan kuliah Sekar yang tak mudah juga di Korea Selatan, yang semula dibayangkannya indah seperti layaknya drama-drama yang disajikan dalam film asal negeri gingseng ini.

Kuliah belum selesai di Korea Selatan, Sekar bertemu dengan pria yang menjadi ayah dari anaknya. Sekar pun memutuskan untuk pindah dan melanjutkan studi di Swiss.

Follow us

Swiss merupakan negara maju yang tak mudah juga ditaklukan oleh Sekar seorang diri, ketika akhirnya dia harus menjadi Single Mom.

Lewat kebijakan yang ditetapkan oleh Pemerintah Swiss, Sekar tidak perlu bekerja banting tulang seratus persen agar dapat membesarkan anaknya.

Sekar bisa tetap merawat anaknya dan bekerja secara profesional. Meski telah berpisah dengan suami, Sekar pun berbagi peran dan tanggung jawab dengan anaknya untuk membesarkan anak mereka.

Simak diskusi podcast yang dipandu oleh Kristin dan Anna tentang perjalanan karier Sekar mulai dari Indonesia, Korea Selatan, hingga Swiss. Apakah mendapatkan pekerjaan di Swiss itu cukup hanya berbekal Bahasa Inggris saja?

Apa saja syarat-syarat untuk berkuliah di Korea Selatan dan di Swiss? Bagaimana Sekar berbagi peran dan tanggung jawabnya menjadi pekerja profesional dengan seorang Single Mom? Apa kiat-kiat Sekar untuk menjalani kehidupan kerja yang seimbang di Hari Perempuan Internasional ini?

Jangan lupa FOLLOW akun Spotify Rumpita, Rumpi by Ruanita Indonesia agar kami dapat berbagi lebih banyak lagi.

(PODCAST RUMPITA) Berdiplomasi Lewat Bahasa Indonesia dari Australia ke Finlandia

Dalam rangka memperingati Hari Bahasa Ibu Internasional yang jatuh tiap 21 Februari, Ruanita Indonesia turut serta mempromosikan Bahasa Indonesia lewat program Podcast RUMPITA yang menghadirkan pengajar BIPA, Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing.

Dia adalah Ari Nursenja Rivanti, yang adalah pengajar BIPA yang bertugas sebagai pengajar BIPA di Finlandia sejak 2019.

Dalam program Podcast RUMPITA, diskusi dipandu oleh Kristina Ayuningtyas yang kini menjadi relawan Ruanita di Prancis dan Anna.

Ari, begitu tamu podcast pada episode ini disapa, menjadi Founder dari Rumah BIPA sejak 2017. Selain itu, Ari kini menekuni sebagai pengajar BIPA di University of Victoria di Kanada sejak Agustus 2024 lalu.

Pada saat rekaman Podcast berlangsung, Ari sedang sibuk mempersiapkan materi ajar di kelas BIPA di Finlandia. Ari juga menjadi student double degree di sebuah universitas di Helsinki.

Untuk mengajarkan BIPA, Ari menggunakan Bahasa Inggris kepada pemelajar di Finlandia secara online yang ternyata cukup tinggi peminatnya.

Hal menarik lainnya, pemerintah Finlandia sendiri mendorong anak-anak birasial yakni salah satu orang tuanya berasal dari Indonesia, untuk dapat mengikuti kelas BIPA khusus anak-anak.

Meski begitu, pemelajar di Finlandia itu tidak melulu warga Finlandia saja.

Ari juga bercerita pengalamannya mengajar BIPA di Australia, di mana pelajaran Bahasa Indonesia juga menjadi mata pelajaran di kurikulum mereka.

Untuk mengajarkan BIPA lebih muda, Ari juga menjelaskan banyak menggunakan media interaktif yang menarik untuk siswa untuk memahami Bahasa Indonesia sebagai bahasa asing mereka.

Bagaimana pengalaman Ari mengajarkan BIPA di Australia, Asia, Eropa dan kini Kanada? Apa saja pengalaman menarik dan menantang untuk Ari mengajarkan BIPA?

Apa saja cerita seru dari Ari menghadapi pemelajar Bahasa Indonesia dari berbagai negara dan kultur? Apa saran Ari kepada sahabat Ruanita yang ingin belajar menjadi pengajar BIPA dan mendapatkan kesempatan bekerja di mancanegara?

Simak diskusi Podcast RUMPITA berikut ini selengkapnya dan jangan lupa FOLLOW akun Spotify kami:

(PODCAST RUMPITA) Berbagi Cerita Merantau Bersama “The Perantau” di Australia

Program RUMPITA – Rumpi bersama Ruanita – dalam episode berikut dipandu oleh Anna dan Putri yang tinggal di Jerman, yang membahas tentang pengalaman merantau di luar negeri. Untuk memperkaya cerita merantau, Anna mengundang Founder of The Perantau, yakni podcast yang dikhususkan untuk berbagi cerita merantau di seputaran benua Australia.

Billy sendiri telah berhasil menyelesaikan studi S1 dan S2 di salah satu universitas di Melbourne, Australia. Rekaman Podcast sudah dilakukan sejak tahun lalu. Selain mengelola Podcast “The Perantau”, Billy juga bekerja sebagai Digital and Social Journalist dan University Tutor. Lainnya, Billy aktif sebagai research assistant di Australia.

Dengan pengetahuannya di bidang komunikasi dan keahliannya, Billy mengajak teman-temannya untuk mengelola podcast “The Perantau” yang berisi serba-serbi kehidupan merantau di Australia. Bagi warga di Indonesia, Podcast “The Perantau” kini juga hadir di platform “Noice” dan APPLE PODCAST.

Berawal dari pengalamannya selama Pandemi Covid-19, Billy menemukan aktivitas barunya dengan membuat rekaman Podcast bersama orang-orang Indonesia di sekitarnya. Tentunya, begitu mudah bagi Billy bertemu dengan sesama orang Indonesia karena Melbourne banyak dihuni oleh perantau dari Indonesia. Selain itu, Billy juga aktif di PPI Australia, yang beragam jumlah dan jenisnya.

Billy menyebutkan ada sekitar dua ribu mahasiswa Indonesia di Melbourne. Belum lagi, Billy juga bisa menjumpai restoran khas masakan Indonesia, yang tentunya hal ini tidak mudah didapat di negara lain. Suasana merantau yang berbeda dibandingkan mereka yang merasa sendirian di negeri rantauan.

Lewat Podcast “The Perantau”, Billy menjumpai sesama perantau Indonesia yang sudah lebih puluhan tahun tinggal di Melbourne atau merintis usaha di negeri rantauan. Bagi Billy, setiap cerita yang dikemas dalam “The Perantau” selalu ada tujuan dan maksud yang ingin disampaikan, meski Billy tidak menyebutkan target market pendengarnya.

Apa yang mendasari Billy mengelola Podcast “The Perantau”? Apa saja strategi yang dikembangkan Billy dalam membagi waktu antara mengelola Podcast dengan pekerjaannya sehari-hari? Apa saja yang ditawarkan Billy lewat podcast ini? Apa pesan Billy bagi sahabat Ruanita yang ingin merantau, terutama merantau ke Melbourne, Australia?

Simak selengkapnya dalam diskusi podcast RUMPITA berikut ini:

(PODCAST RUMPITA) Berbagi Pengalaman Pernah Jadi Program Manager Isu HIV & AIDS di Papua

1 Desember diperingati setiap tahunnya sebagai World AIDS Day di seluruh dunia. Bagaimana pun HIV & AIDS masih menimbulkan stigma sosial bagi orang dengan AIDS (ODHA), terutama di masyarakat yang tidak mendapatkan literasi dan informasi yang benar dan tepat tentang isu ini.

Lewat program podcast RUMPITA, Rumpi bersama RUANITA, Anna dan Novi sebagai pemandu diskusi podcast pada episode ini mengajak sahabat Ruanita untuk peduli tentang HIV & AIDS dan mematahkan mitos-mitos yang tidak benar di masyarakat.

Episode ke-32 Podcast RUMPITA mengundang Restituti Betaubun atau yang akrab disapa sebagai Chichi, yang masih aktif menjadi aktivis yang mendukung sesamanya yang hidup dengan positif HIV. Chichi sendiri pernah bekerja di program HIV & AIDS selama lebih dari 10 tahun dengan berbagai posisi, di Yayasan Peduli AIDS di Timika, Papua Tengah.

Chichi juga bercerita bahwa ia sempat menjadi dosen lokal di sebuah perguruan tinggi di Timika dari 2013 hingga 2015, tetapi aktivitasnya untuk menjadi social support program HIV & AIDS telah memberikan banyak pengalaman berharga, agar stigma sosial di masyarakat Papua dapat dipatahkan.

Kampanye yang dibuat oleh Chichi dikhususkan untuk anak-anak muda sebagai bentuk preventif terhadap HIV & AIDS. Chichi banyak bersentuhan tentang bagaimana melakukan kampanye yang benar dan tepat kepada anak-anak muda yang menjadi penerima manfaat program tersebut.

Sebelum kehadiran Komisi Penanggulangan AIDS di Papua, Chichi bercerita bagaimana masyarakat masih merasa awam terhadap AIDS, sehingga perilaku salah menimbulkan stigma sosial kepada ODHA.

Sejak munculnya program HIV & AIDS di Papua, Chichi merasa keterlibatan tokoh masyarakat dan tokoh agama sangat membantu untuk mematahkan stigma sosial tersebut.

Simak diskusi podcast RUMPITA episode ke-32 berikut ini di saluran Spotify berikut ini:

(PODCAST RUMPITA) Studi dan Pembelajaran Hidup dari Jerman Ke Thailand

Melanjutkan episode ke-31 dari program podcast RUMPITA di bulan November kali ini, Podcaster Anna dan Ecie mengundang sahabat Ruanita yang tinggal di Bangkok, Thailand. Dia adalah Legiana Lestari yang baru saja menyelesaikan studi S2 di Thailand, untuk memperdalam keahlian Bahasa Jermannya. Dalam episode ini, Legiana banyak berbicara tentang studi dan pembelajaran hidup yang diperolehnya saat berada di Jerman dan di Thailand.

Awal studi S1 di Indonesia, Legiana yang studi Bahasa Jerman merasa perlu untuk melanjutkan studinya dan memperdalam kemampuan berbahasa Jerman karena dia tidak pernah mendapatkan Native Speaker sebagai pengajar tamu dalam perkuliahan. Legiana merasa perlu praktik Bahasa Jerman dengan penutur asli, sehingga ia memutuskan studi ke Jerman.

Setiba di Jerman, Legiana berkuliah di Universitas Hamburg tetapi tak mudah untuk mengikuti perkuliahan sepenuhnya. Untuk memperdalam keahliannya tersebut, Legiana sempat mencoba berbagai program di Jerman agar dapat langsung mempraktikkan Bahasa Jerman dengan native speaker.

Legiana tidak berhasil menyelesaikan studi di Jerman dan dia memutuskan kembali ke Jerman. Saat itu, Legiana harus merawat sang ibu yang sakit. Tak hanya itu, kondisi pandemi juga menyulitkan Legiana untuk meneruskan studi di Jerman.

Pada akhirnya, Legiana kembali menyusun rencana ulang agar dapat melanjutkan studi Bahasa Jerman dan meraih impiannya tersebut, yang sempat tertunda. Saat bertemu dengan pemelajar, Legiana seperti terpacu untuk dapat meneruskan studinya tersebut.

Legiana tahu bahwa tak mudah mendapatkan studi belajar dan tinggal di Jerman. Ada banyak cerita bagaimana studi di Jerman tak mudah, meskipun Legiana telah menguasai Bahasa Jerman di kampus sebelumnya di Indonesia.

Kita hanya berencana, Tuhan yang menentukan. Legiana mendapatkan kesempatan beasiswa di Thailand yang mana ia bisa tetap dapat melanjutkan studi berbahasa Jerman impiannya tersebut. Meski tinggal di Thailand, tak mudah tetapi Legiana bersyukur tidak ada perbedaan jam untuk tetap mengontak ibunya di Indonesia.

Legiana bercerita bahwa dia harus menguasai Bahasa Jerman dan Bahasa Thailand sekaligus agar dapat menyelesaikan studinya tersebut. Sehari-hari administrasi perkuliahan banyak menggunakan Bahasa Thailand. Tak hanya menguasai Bahasa Thailand saja, Legiana juga lebih sering menggunakan Bahasa Inggris untuk berkomunikasi selama tinggal di Thailand.

Simak diskusi podcast RUMPITA selengkapnya yang dipandu oleh Anna dan Ecie di Jerman berikut ini:

(PODCAST RUMPITA) Mengenali Isu Kesehatan Mental dan Cashless Society di Tiongkok

Dalam episode ke-29, program Podcast Rumpita (=Rumpi bersama Ruanita) mengambil tema kesehatan mental, sebagaimana peringatan dunia setiap 10 Oktober. Untuk membahas lebih lanjut, Fadni yang memandu diskusi podcast mengundang sahabat Ruanita yang tinggal di Tiongkok. Fadni adalah mahasiswa S2 di Universitas Humboldt di Berlin, Jerman.

Tamu yang hadir adalah Yantri Dewi, yang pernah tinggal di Belgia dan Norwegia, dan kini menetap di Tiongkok bersama keluarga. Yantri menceritakan pengalamannya saat terjadi Lockdown di Tiongkok, di mana Yantri bisa merasakan isu kesehatan mental dijalaninya selama di sana. Yantri mengatakan tema kesehatan mental telah ada dalam materi ajar kursus mandarin yang dipelajarinya.

Meski begitu, perlakukan Yantri sebagai expat selama tinggal di Tiongkok berbeda dengan warga Tiongkok sendiri dalam mendapatkan layanan kesehatan jiwa. Bagi Yantri, ia kini sudah fasih dalam berbicara bahasa Mandarin dan tidak kesulitan dalam berkomunikasi dengan warga lokal.

Yanti kini bekerja sebagai pengajar di sekolah internasional di Tiongkok. Dia juga banyak bercerita tentang perubahan masyarakat yang mengarah pada budaya digitalisasi yang meningkat. Budaya yang disebut cashless society memang diterapkan di Tiongkok. Banyak hal yang memang terkesan asing tetapi ini membuat tampak mudah ketika cashless menjadi kultur sehari-hari.

Apa yang membuat Yantri memutuskan tinggal di Tiongkok? Bagaimana pengalaman Yantri terkait isu kesehatan mental di Tiongkok? Apa saja yang menarik dan menantang dari kehidupan cashless society yang diterapkan di Tiongkok? Apa pesan Yantri kalau sahabat Ruanita ingin tinggal atau berwisata ke Tiongkok?

Simak selengkapnya lewat kanal podcast Spotify berikut ini dan jangan lupa follow kanal Spotify kami:

(PODCAST RUMPITA) Kembali ke Indonesia, Jadi Konsultan di Bidang Lingkungan Hidup

Dalam program Podcast RUMPITA di bulan September 2024, kami mengundang sahabat Ruanita yang tinggal di Belanda untuk membahas pengalaman tinggal di Belanda dan rencana usai studi.

Sebagaimana kita ketahui, Belanda telah menjadi impian bagi banyak generasi muda Indonesia untuk merasakan pengalaman studi di mancanegara, sebagaimana yang dialami oleh Zukrufi Sysdawita atau yang disapa Rufi yang ikut memandu diskusi Podcast episode ini.

Tamu yang diundang adalah Farhan Kurniawan, yang adalah mahasiswa di IHE Delft Institute for Water Education, di Belanda dan sedang menyelesaikan Thesis S2. Farhan juga dikenal sebagai konsultan di bidang lingkungan hidup.

Farhan mengakui bahwa syarat-syarat lamar studi di Belanda tidak diperlukan pengakuan kemampuan Bahasa Belanda, meski Farhan sempat ikut les Bahasa Belanda sebelum studi.

Farhan mengamati bahwa kecenderungan orang-orang Belanda yang mau open dan friendly kepada orang asing, terutama adanya program Buddy yang diselenggarakan antara pihak universitas dengan warga lokal.

Lainnya adalah tentang bagaimana orang-orang Belanda suka sekali bersepeda, bahkan Farhan bisa menjelaskan dengan baik berdasarkan ilmu alam tentang bersepeda.

Selain pengalaman hidup, Farhan juga menjelaskan tentang sistematika penilaian di kampus yang dimulai dari 1-10 dengan angka 10 sebagai angka sempurna.

Namun, Farhan mengakui bahwa tidak mudah untuk mendapatkan nilai yang bagus di kampusnya.

Oh ya, Farhan mengakui bahwa kampusnya adalah satu-satunya kampus yang tidak memiliki orang Belanda yang studi di sana.

Saat rekaman Podcast berlangsung, Farhan sedang menekuni Thesis-nya dengan tema water flow yang membantu untuk estimasi bencana banjir misalnya.

Itu sebab, tema yang dikembangkannya memang disesuaika dengan kebutuhan di Indonesia seperti di Jakarta yang rawan banjir.

Usai studi di Belanda di tahun ini, Farhan ingin kembali ke Indonesia dan mulai mengembangkan pengetahuan yang diperolehnya di Belanda.

Farhan sendiri bercerita bagaimana prosesnya dia mendapatkan beasiswa dari Pemerintah Belanda. Dia pun menjelaskan bagaimana perjuangannya mendapatkan beasiswa tersebut.

Simak selengkapnya dalam diskusi Podcast RUMPITA berikut ini dan jangan lupa FOLLOW akun podcast kami:

(PODCAST RUMPITA) Menjajaki Karier di Negeri Baltik, Usai Studi di Estonia

Memasuki episode di musim panas, program podcast Rumpita yakni Rumpi bersama Ruanita mengundang sahabat Ruanita yang tinggal di Estonia. Diskusi via podcast ini dipandu oleh Fadni, mahasiswi S2 yang menempuh studi di Universitas Humboldt di Berlin, Jerman dan didampingi oleh Anna.

Tamu podcast yang diundang dalam episode ini adalah Enlik Tjio, seorang podcaster juga lewat akun instaram enliktjioe. Enlik juga suka dengan hal-hal yang berkaitan dengan green technologies yang sedang hits beberapa tahun belakangan ini.

Enlik adalah seorang Software Developer yang telah menyelesaikan studi master di bidang teknologi dan informatika di Estonia. Kini Enlik tetap tinggal di Estonia, mengelola program Podcast pribadinya, dan menjalani hobi traveling ke berbagai negara.

follow us

Nama Enlik bukanlah sebuah nama yang memilliki makna. Enlik mengakui bahwa ini adalah nama yang tidak sengaja disebutkan oleh ibunya yang kesulitan menyebutkan nama “Hendrik”, sehingga nama Enlik tercatat dalam dokumen resmi hingga sekarang.

Nama membawa berkah dan mungkin yang terjadi pada Enlik setelah dia menyelesaikan studi di bidang teknologi dan informatika di Indonesia.

Enlik pun sempat mengenyam pengalaman tinggal di Australia, kemudian membuatnya untuk terus mengasah pengalaman yang lebih menantang dan menarik lagi di benua biru.

Enlik mengakui bahwa dia sempat melamar studi di beberapa negara, hingga akhirnya dia memilih studi di Estonia yang lebih mudah secara birokrasi dan memberikan tunjangan sebagai mahasiswa di awal studi.

Bagaimana perjalanan Enlik hingga berhasil menempuh studi di Estonia? Apa saja syarat-syaratnya untuk bisa studi di Estonia? Bagaimana pengalaman menarik dan menantang yang dialami Enlik selama studi dan tinggal di Estonia? Apa saja rekomendasi Enlik terkait dengan green technologies yang sedang marak dibicarakan akhir-akhir ini untuk diterapkan di Indonesia? Kalau mau tinggal dan bekerja di Estonia, apa pesan Enlik?

Simak diskusi Podcast berikut ini dan jangan lupa follow akun podcast kami ya:

(PODCAST RUMPITA) Mulai Studi di Inggris Hingga ke Islandia Menuju Karier Internasional

Pada episode ke-27 ini, Podcast RUMPITA mengundang Dyah Anggraini C. yang kini menetap di Islandia.

Sebagai seorang ibu dan pekerja yang berkarier internasional, Dyah membagikan pengalaman hidupnya bagaimana studi pertama kali di mancanegara, yang dimulai dari Inggris.

Dyah pun sempat kembali ke Indonesia, dan kemudian memutuskan tinggal di Islandia.

Pernah bekerja di bidang financial and banking di Indonesia, Dyah pun mendalami studinya di Inggris.

Dyah pun tidak merasakan perbedaan yang besar antara berkuliah di Inggris dengan berkuliah di Islandia.

Mungkin perbedaan yang mencolok yang dialami seperti sistem penilaian yang berbeda, antara berkuliah di Inggris dengan di Islandia.

Follow us

Alasan keluarga membuat Dyah memutuskan pindah ke Islandia dan melanjutkan studi kembali di Islandia.

Tinggal di Reykjavic, ibukota Islandia, tentunya berbeda sekali dengan iklim dan suasana alamnya yang dirasakan Dyah, terutama saat musim panas atau musim dingin.

Dyah pun menceritakan bagaimana dukungan pemerintah Islandia saat dia sedang menyelesaikan studi dan baru saja melahirkan anaknya.

Tentunya, dukungan suami dan pengelolaan peran sangat diperlukan agar seimbang, sehingga kini Dyah pun tetap bekerja secara global bersama dengan orang-orang dari berbagai negara.

Apa saja perbedaan studi antara di Inggris dengan di Islandia? Bagaimana pendapat Dyah tentang iklim dan budaya orang-orang Islandia? Apa saja potensi yang bisa dilakukan warga Indonesia bila ingin studi atau berkarier di Islandia? Apa saja tantangan dan kesan yang dialami Dyah studi dan tinggal di Islandia? Apa pesan Dyah untuk orang Indonesia yang ingin wisata, studi, atau bekerja di Islandia?

Simak selengkapnya dalam diskusi Podcast RUMPITA, Rumpi bersama Ruanita, berikut ini:

(PODCAST RUMPITA) Berbekal Beasiswa Jadi Dosen di Indonesia, Menyelami Studi Nanoteknologi di Swedia

Melanjutkan program Podcast di episode ke-26, Podcasat RUMPITA by Ruanita Indonesia telah mengundang sahabat Ruanita yang sedang studi dan menetap di Swedia. Dia adalah Jessika yang pernah terlibat dalam diskusi online yang diselenggarakan oleh Ruanita Indonesia beberapa waktu lalu.

Kini Jessika menjelaskan bahwa dia sedang berencana meneruskan untuk studi lanjutan S3 di Swedia, setelah dia berhasil menyelesaikan studi S2 di bidang nanoteknologi.

Diskusi podcast dipandu oleh Fadni, mahasiswi S2 di Jerman dan Anna selama kurang lebih 60 menit. Jessika datang ke Swedia dengan mengikuti jalur beasiswa yang diselenggarakan oleh Kemdikbud untuk para calon dosen di perguruan tinggi di Indonesia. Jessika kini sedang menempuh studi di kampus KTH, Stockholm.

Menurut Jessika, nanoteknology itu adalah semua hal yang berkaitan dengan semua objek di bawah skala mikrometer. Jessika mengenal nanoteknologi pertama kali saat dia berkuliah di jurusan electrical engineering di ITB, Indonesia.

Setelah melamar studi di beberapa negara, Jessika memutuskan untuk mengambil tawaran di Swedia dengan jurusan nanoelectronic.

Follow us

Hal menarik yang diperoleh Jessika selama berkuliah nanoteknologi adalah ilmu yang dipelajarinya benar-benar interdisciplinary dari ilmu eksakta seperti kimia, fisika, dan sebagainya.

Mahasiswa yang berkuliah bersama Jessika pun berasal dari berbagai background akademis. Namun, pastinya berkuliah di Nanoteknologi masih berkaitan dengan STEM – Science, Technology, Engineering, and Mathematics.

Pemerintah Swedia juga tidak mensyaratkan untuk mahasiswa internasional memiliki level kemampuan Bahasa Swedia saat apply visa student. Jessika juga menuturkan tidak ada batasan pula untuk mahasiswa bisa bekerja di Swedia.

Hidup di Stockholm, Swedia telah membuat Jessika nyaman karena hampir sebagian besar masyarakat di sana bisa berbahasa Inggris dengan baik.

Simak selengkapnya diskusi Podcast lebih lanjut dengan Jessika berikut ini:

(PODCAST RUMPITA) Pengalaman Pertukaran Belajar dan Budaya di Polandia

Melanjutkan program diskusi Podcast RUMPITA, pada episode ke-25 Podcaster Fadni yang adalah mahasiswi S2 di Berlin, Jerman berkesempatan mengundang tamu yang pernah mengikuti program IISMA. IISMA merupakan singkatan dari Indonesia International Student Mobility Award dan memiliki 67 host universitas di seluruh dunia, untuk program mahasiswi S1 dan pendidikan vokasi.

Program IISMA difasilitasi oleh Kemdikbud dan LPDP RI. Tamu podcast tersebut adalah Yacinta Putri, yang sempat menjadi mahasiswi internasional di Universitas Warsawa, Polandia. Program IISMA yang dijalani Yacinta dilakukan selama tiga bulan dan tinggal di sebuah asrama mahasiswa.

Yacinta adalah mahasiswi S1 di sebuah perguruan tinggi swasta di Jakarta, yang sedang menjalani semester ke-5 pada saat berangkat ke Polandia, negara tujuan. Syarat untuk mengikuti program IISMA adalah mahasiswa yang terdaftar di universitas di Indonesia, memiliki kemampuan Bahasa Inggris yang dipersyaratkan, dan nilai IPK yang sesuai dengan persyaratan program IISMA, yang tercantum di website Kemdikbud. Selengkapnya dapat dicek di Home (kemdikbud.go.id).

Follow us

Program ini berlangsung selama tiga bulan di negara tujuan dan memiliki dua bentuk fasilitas pembiayaan. Pertama, siswa mendapatkan pembiayaan penuh seratus persen ditanggung oleh pemerintah Indonesia. Pembiayaan kedua disebut co-funding, yang mana siswa yang terpilih wajib memenuhi pembiayaan yang dipersyaratkan.

Meski Yacinta telah kembali dari Polandia, tentu ada banyak pengalaman berharga dan pembelajaran yang bisa direkomendasikan di perguruan tinggi asal. Yacinta merasa senang bisa mendapatkan kesempatan belajar dan budaya di Polandia, yang mana Yacinta bisa memahami perspektif lain dari warga asing tentang ilmu pengetahuan.

Fadni pun mengamini bagaimana Yacinta mengalami perubahan cara berpikir dan gaya belajar yang berbeda dibandingkan di Indonesia. Fadni mengatakan bahwa dia harus membaca teks yang diberikan dosen sebelum pembelajaran di kelas dimulai dan diskusi antar mahasiswa membantu Fadni dan Yacinta untuk berpikir kritis.

Culture shock untuk Yacinta tampak dari bagaimana dia berelasi dengan mahasiswa Polandia, yang terlihat serius, dingin, tidak ramah, dan sulit membangun pertemanan di awal. Budaya orang Polandia yang lebih individualis sangat kontras dengan budaya kolektif di masyarakat Indonesia, yang juga ramah kepada siapa saja. Yacinta juga sulit untuk beradaptasi dengan makanan Polandia, yang sangat berbeda sekali dengan Indonesia.

Apa saja pengalaman menarik dan berharga yang dialami Yacinta di Polandia? Bagaimana Yacinta menilai pembelajaran dan budaya di Polandia? Apa saja gegar budaya (culture shock) yang dialami selama Yacinta selama tinggal di Polandia? Bagaimana Yacinta mengatasi tantangan belajar dan budaya di Polandia? Apa pesan Yacinta untuk sahabat Ruanita yang ingin mengikuti program pertukaran budaya dan belajar?

Simak selengkapnya diskusi podcast berikut ini dan jangan lupa follow podcast kami: