(PODCAST RUMPITA) Berdiplomasi Lewat Bahasa Indonesia dari Australia ke Finlandia

Dalam rangka memperingati Hari Bahasa Ibu Internasional yang jatuh tiap 21 Februari, Ruanita Indonesia turut serta mempromosikan Bahasa Indonesia lewat program Podcast RUMPITA yang menghadirkan pengajar BIPA, Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing.

Dia adalah Ari Nursenja Rivanti, yang adalah pengajar BIPA yang bertugas sebagai pengajar BIPA di Finlandia sejak 2019.

Dalam program Podcast RUMPITA, diskusi dipandu oleh Kristina Ayuningtyas yang kini menjadi relawan Ruanita di Prancis dan Anna.

Ari, begitu tamu podcast pada episode ini disapa, menjadi Founder dari Rumah BIPA sejak 2017. Selain itu, Ari kini menekuni sebagai pengajar BIPA di University of Victoria di Kanada sejak Agustus 2024 lalu.

Pada saat rekaman Podcast berlangsung, Ari sedang sibuk mempersiapkan materi ajar di kelas BIPA di Finlandia. Ari juga menjadi student double degree di sebuah universitas di Helsinki.

Untuk mengajarkan BIPA, Ari menggunakan Bahasa Inggris kepada pemelajar di Finlandia secara online yang ternyata cukup tinggi peminatnya.

Hal menarik lainnya, pemerintah Finlandia sendiri mendorong anak-anak birasial yakni salah satu orang tuanya berasal dari Indonesia, untuk dapat mengikuti kelas BIPA khusus anak-anak.

Meski begitu, pemelajar di Finlandia itu tidak melulu warga Finlandia saja.

Ari juga bercerita pengalamannya mengajar BIPA di Australia, di mana pelajaran Bahasa Indonesia juga menjadi mata pelajaran di kurikulum mereka.

Untuk mengajarkan BIPA lebih muda, Ari juga menjelaskan banyak menggunakan media interaktif yang menarik untuk siswa untuk memahami Bahasa Indonesia sebagai bahasa asing mereka.

Bagaimana pengalaman Ari mengajarkan BIPA di Australia, Asia, Eropa dan kini Kanada? Apa saja pengalaman menarik dan menantang untuk Ari mengajarkan BIPA?

Apa saja cerita seru dari Ari menghadapi pemelajar Bahasa Indonesia dari berbagai negara dan kultur? Apa saran Ari kepada sahabat Ruanita yang ingin belajar menjadi pengajar BIPA dan mendapatkan kesempatan bekerja di mancanegara?

Simak diskusi Podcast RUMPITA berikut ini selengkapnya dan jangan lupa FOLLOW akun Spotify kami:

(PODCAST RUMPITA) Berbagi Cerita Merantau Bersama “The Perantau” di Australia

Program RUMPITA – Rumpi bersama Ruanita – dalam episode berikut dipandu oleh Anna dan Putri yang tinggal di Jerman, yang membahas tentang pengalaman merantau di luar negeri. Untuk memperkaya cerita merantau, Anna mengundang Founder of The Perantau, yakni podcast yang dikhususkan untuk berbagi cerita merantau di seputaran benua Australia.

Billy sendiri telah berhasil menyelesaikan studi S1 dan S2 di salah satu universitas di Melbourne, Australia. Rekaman Podcast sudah dilakukan sejak tahun lalu. Selain mengelola Podcast “The Perantau”, Billy juga bekerja sebagai Digital and Social Journalist dan University Tutor. Lainnya, Billy aktif sebagai research assistant di Australia.

Dengan pengetahuannya di bidang komunikasi dan keahliannya, Billy mengajak teman-temannya untuk mengelola podcast “The Perantau” yang berisi serba-serbi kehidupan merantau di Australia. Bagi warga di Indonesia, Podcast “The Perantau” kini juga hadir di platform “Noice” dan APPLE PODCAST.

Berawal dari pengalamannya selama Pandemi Covid-19, Billy menemukan aktivitas barunya dengan membuat rekaman Podcast bersama orang-orang Indonesia di sekitarnya. Tentunya, begitu mudah bagi Billy bertemu dengan sesama orang Indonesia karena Melbourne banyak dihuni oleh perantau dari Indonesia. Selain itu, Billy juga aktif di PPI Australia, yang beragam jumlah dan jenisnya.

Billy menyebutkan ada sekitar dua ribu mahasiswa Indonesia di Melbourne. Belum lagi, Billy juga bisa menjumpai restoran khas masakan Indonesia, yang tentunya hal ini tidak mudah didapat di negara lain. Suasana merantau yang berbeda dibandingkan mereka yang merasa sendirian di negeri rantauan.

Lewat Podcast “The Perantau”, Billy menjumpai sesama perantau Indonesia yang sudah lebih puluhan tahun tinggal di Melbourne atau merintis usaha di negeri rantauan. Bagi Billy, setiap cerita yang dikemas dalam “The Perantau” selalu ada tujuan dan maksud yang ingin disampaikan, meski Billy tidak menyebutkan target market pendengarnya.

Apa yang mendasari Billy mengelola Podcast “The Perantau”? Apa saja strategi yang dikembangkan Billy dalam membagi waktu antara mengelola Podcast dengan pekerjaannya sehari-hari? Apa saja yang ditawarkan Billy lewat podcast ini? Apa pesan Billy bagi sahabat Ruanita yang ingin merantau, terutama merantau ke Melbourne, Australia?

Simak selengkapnya dalam diskusi podcast RUMPITA berikut ini:

(PODCAST RUMPITA) Berbagi Pengalaman Pernah Jadi Program Manager Isu HIV & AIDS di Papua

1 Desember diperingati setiap tahunnya sebagai World AIDS Day di seluruh dunia. Bagaimana pun HIV & AIDS masih menimbulkan stigma sosial bagi orang dengan AIDS (ODHA), terutama di masyarakat yang tidak mendapatkan literasi dan informasi yang benar dan tepat tentang isu ini.

Lewat program podcast RUMPITA, Rumpi bersama RUANITA, Anna dan Novi sebagai pemandu diskusi podcast pada episode ini mengajak sahabat Ruanita untuk peduli tentang HIV & AIDS dan mematahkan mitos-mitos yang tidak benar di masyarakat.

Episode ke-32 Podcast RUMPITA mengundang Restituti Betaubun atau yang akrab disapa sebagai Chichi, yang masih aktif menjadi aktivis yang mendukung sesamanya yang hidup dengan positif HIV. Chichi sendiri pernah bekerja di program HIV & AIDS selama lebih dari 10 tahun dengan berbagai posisi, di Yayasan Peduli AIDS di Timika, Papua Tengah.

Chichi juga bercerita bahwa ia sempat menjadi dosen lokal di sebuah perguruan tinggi di Timika dari 2013 hingga 2015, tetapi aktivitasnya untuk menjadi social support program HIV & AIDS telah memberikan banyak pengalaman berharga, agar stigma sosial di masyarakat Papua dapat dipatahkan.

Kampanye yang dibuat oleh Chichi dikhususkan untuk anak-anak muda sebagai bentuk preventif terhadap HIV & AIDS. Chichi banyak bersentuhan tentang bagaimana melakukan kampanye yang benar dan tepat kepada anak-anak muda yang menjadi penerima manfaat program tersebut.

Sebelum kehadiran Komisi Penanggulangan AIDS di Papua, Chichi bercerita bagaimana masyarakat masih merasa awam terhadap AIDS, sehingga perilaku salah menimbulkan stigma sosial kepada ODHA.

Sejak munculnya program HIV & AIDS di Papua, Chichi merasa keterlibatan tokoh masyarakat dan tokoh agama sangat membantu untuk mematahkan stigma sosial tersebut.

Simak diskusi podcast RUMPITA episode ke-32 berikut ini di saluran Spotify berikut ini:

(PODCAST RUMPITA) Studi dan Pembelajaran Hidup dari Jerman Ke Thailand

Melanjutkan episode ke-31 dari program podcast RUMPITA di bulan November kali ini, Podcaster Anna dan Ecie mengundang sahabat Ruanita yang tinggal di Bangkok, Thailand. Dia adalah Legiana Lestari yang baru saja menyelesaikan studi S2 di Thailand, untuk memperdalam keahlian Bahasa Jermannya. Dalam episode ini, Legiana banyak berbicara tentang studi dan pembelajaran hidup yang diperolehnya saat berada di Jerman dan di Thailand.

Awal studi S1 di Indonesia, Legiana yang studi Bahasa Jerman merasa perlu untuk melanjutkan studinya dan memperdalam kemampuan berbahasa Jerman karena dia tidak pernah mendapatkan Native Speaker sebagai pengajar tamu dalam perkuliahan. Legiana merasa perlu praktik Bahasa Jerman dengan penutur asli, sehingga ia memutuskan studi ke Jerman.

Setiba di Jerman, Legiana berkuliah di Universitas Hamburg tetapi tak mudah untuk mengikuti perkuliahan sepenuhnya. Untuk memperdalam keahliannya tersebut, Legiana sempat mencoba berbagai program di Jerman agar dapat langsung mempraktikkan Bahasa Jerman dengan native speaker.

Legiana tidak berhasil menyelesaikan studi di Jerman dan dia memutuskan kembali ke Jerman. Saat itu, Legiana harus merawat sang ibu yang sakit. Tak hanya itu, kondisi pandemi juga menyulitkan Legiana untuk meneruskan studi di Jerman.

Pada akhirnya, Legiana kembali menyusun rencana ulang agar dapat melanjutkan studi Bahasa Jerman dan meraih impiannya tersebut, yang sempat tertunda. Saat bertemu dengan pemelajar, Legiana seperti terpacu untuk dapat meneruskan studinya tersebut.

Legiana tahu bahwa tak mudah mendapatkan studi belajar dan tinggal di Jerman. Ada banyak cerita bagaimana studi di Jerman tak mudah, meskipun Legiana telah menguasai Bahasa Jerman di kampus sebelumnya di Indonesia.

Kita hanya berencana, Tuhan yang menentukan. Legiana mendapatkan kesempatan beasiswa di Thailand yang mana ia bisa tetap dapat melanjutkan studi berbahasa Jerman impiannya tersebut. Meski tinggal di Thailand, tak mudah tetapi Legiana bersyukur tidak ada perbedaan jam untuk tetap mengontak ibunya di Indonesia.

Legiana bercerita bahwa dia harus menguasai Bahasa Jerman dan Bahasa Thailand sekaligus agar dapat menyelesaikan studinya tersebut. Sehari-hari administrasi perkuliahan banyak menggunakan Bahasa Thailand. Tak hanya menguasai Bahasa Thailand saja, Legiana juga lebih sering menggunakan Bahasa Inggris untuk berkomunikasi selama tinggal di Thailand.

Simak diskusi podcast RUMPITA selengkapnya yang dipandu oleh Anna dan Ecie di Jerman berikut ini:

(PODCAST RUMPITA) Mengenali Isu Kesehatan Mental dan Cashless Society di Tiongkok

Dalam episode ke-29, program Podcast Rumpita (=Rumpi bersama Ruanita) mengambil tema kesehatan mental, sebagaimana peringatan dunia setiap 10 Oktober. Untuk membahas lebih lanjut, Fadni yang memandu diskusi podcast mengundang sahabat Ruanita yang tinggal di Tiongkok. Fadni adalah mahasiswa S2 di Universitas Humboldt di Berlin, Jerman.

Tamu yang hadir adalah Yantri Dewi, yang pernah tinggal di Belgia dan Norwegia, dan kini menetap di Tiongkok bersama keluarga. Yantri menceritakan pengalamannya saat terjadi Lockdown di Tiongkok, di mana Yantri bisa merasakan isu kesehatan mental dijalaninya selama di sana. Yantri mengatakan tema kesehatan mental telah ada dalam materi ajar kursus mandarin yang dipelajarinya.

Meski begitu, perlakukan Yantri sebagai expat selama tinggal di Tiongkok berbeda dengan warga Tiongkok sendiri dalam mendapatkan layanan kesehatan jiwa. Bagi Yantri, ia kini sudah fasih dalam berbicara bahasa Mandarin dan tidak kesulitan dalam berkomunikasi dengan warga lokal.

Yanti kini bekerja sebagai pengajar di sekolah internasional di Tiongkok. Dia juga banyak bercerita tentang perubahan masyarakat yang mengarah pada budaya digitalisasi yang meningkat. Budaya yang disebut cashless society memang diterapkan di Tiongkok. Banyak hal yang memang terkesan asing tetapi ini membuat tampak mudah ketika cashless menjadi kultur sehari-hari.

Apa yang membuat Yantri memutuskan tinggal di Tiongkok? Bagaimana pengalaman Yantri terkait isu kesehatan mental di Tiongkok? Apa saja yang menarik dan menantang dari kehidupan cashless society yang diterapkan di Tiongkok? Apa pesan Yantri kalau sahabat Ruanita ingin tinggal atau berwisata ke Tiongkok?

Simak selengkapnya lewat kanal podcast Spotify berikut ini dan jangan lupa follow kanal Spotify kami:

(PODCAST RUMPITA) Kembali ke Indonesia, Jadi Konsultan di Bidang Lingkungan Hidup

Dalam program Podcast RUMPITA di bulan September 2024, kami mengundang sahabat Ruanita yang tinggal di Belanda untuk membahas pengalaman tinggal di Belanda dan rencana usai studi.

Sebagaimana kita ketahui, Belanda telah menjadi impian bagi banyak generasi muda Indonesia untuk merasakan pengalaman studi di mancanegara, sebagaimana yang dialami oleh Zukrufi Sysdawita atau yang disapa Rufi yang ikut memandu diskusi Podcast episode ini.

Tamu yang diundang adalah Farhan Kurniawan, yang adalah mahasiswa di IHE Delft Institute for Water Education, di Belanda dan sedang menyelesaikan Thesis S2. Farhan juga dikenal sebagai konsultan di bidang lingkungan hidup.

Farhan mengakui bahwa syarat-syarat lamar studi di Belanda tidak diperlukan pengakuan kemampuan Bahasa Belanda, meski Farhan sempat ikut les Bahasa Belanda sebelum studi.

Farhan mengamati bahwa kecenderungan orang-orang Belanda yang mau open dan friendly kepada orang asing, terutama adanya program Buddy yang diselenggarakan antara pihak universitas dengan warga lokal.

Lainnya adalah tentang bagaimana orang-orang Belanda suka sekali bersepeda, bahkan Farhan bisa menjelaskan dengan baik berdasarkan ilmu alam tentang bersepeda.

Selain pengalaman hidup, Farhan juga menjelaskan tentang sistematika penilaian di kampus yang dimulai dari 1-10 dengan angka 10 sebagai angka sempurna.

Namun, Farhan mengakui bahwa tidak mudah untuk mendapatkan nilai yang bagus di kampusnya.

Oh ya, Farhan mengakui bahwa kampusnya adalah satu-satunya kampus yang tidak memiliki orang Belanda yang studi di sana.

Saat rekaman Podcast berlangsung, Farhan sedang menekuni Thesis-nya dengan tema water flow yang membantu untuk estimasi bencana banjir misalnya.

Itu sebab, tema yang dikembangkannya memang disesuaika dengan kebutuhan di Indonesia seperti di Jakarta yang rawan banjir.

Usai studi di Belanda di tahun ini, Farhan ingin kembali ke Indonesia dan mulai mengembangkan pengetahuan yang diperolehnya di Belanda.

Farhan sendiri bercerita bagaimana prosesnya dia mendapatkan beasiswa dari Pemerintah Belanda. Dia pun menjelaskan bagaimana perjuangannya mendapatkan beasiswa tersebut.

Simak selengkapnya dalam diskusi Podcast RUMPITA berikut ini dan jangan lupa FOLLOW akun podcast kami:

(PODCAST RUMPITA) Menjajaki Karier di Negeri Baltik, Usai Studi di Estonia

Memasuki episode di musim panas, program podcast Rumpita yakni Rumpi bersama Ruanita mengundang sahabat Ruanita yang tinggal di Estonia. Diskusi via podcast ini dipandu oleh Fadni, mahasiswi S2 yang menempuh studi di Universitas Humboldt di Berlin, Jerman dan didampingi oleh Anna.

Tamu podcast yang diundang dalam episode ini adalah Enlik Tjio, seorang podcaster juga lewat akun instaram enliktjioe. Enlik juga suka dengan hal-hal yang berkaitan dengan green technologies yang sedang hits beberapa tahun belakangan ini.

Enlik adalah seorang Software Developer yang telah menyelesaikan studi master di bidang teknologi dan informatika di Estonia. Kini Enlik tetap tinggal di Estonia, mengelola program Podcast pribadinya, dan menjalani hobi traveling ke berbagai negara.

follow us

Nama Enlik bukanlah sebuah nama yang memilliki makna. Enlik mengakui bahwa ini adalah nama yang tidak sengaja disebutkan oleh ibunya yang kesulitan menyebutkan nama “Hendrik”, sehingga nama Enlik tercatat dalam dokumen resmi hingga sekarang.

Nama membawa berkah dan mungkin yang terjadi pada Enlik setelah dia menyelesaikan studi di bidang teknologi dan informatika di Indonesia.

Enlik pun sempat mengenyam pengalaman tinggal di Australia, kemudian membuatnya untuk terus mengasah pengalaman yang lebih menantang dan menarik lagi di benua biru.

Enlik mengakui bahwa dia sempat melamar studi di beberapa negara, hingga akhirnya dia memilih studi di Estonia yang lebih mudah secara birokrasi dan memberikan tunjangan sebagai mahasiswa di awal studi.

Bagaimana perjalanan Enlik hingga berhasil menempuh studi di Estonia? Apa saja syarat-syaratnya untuk bisa studi di Estonia? Bagaimana pengalaman menarik dan menantang yang dialami Enlik selama studi dan tinggal di Estonia? Apa saja rekomendasi Enlik terkait dengan green technologies yang sedang marak dibicarakan akhir-akhir ini untuk diterapkan di Indonesia? Kalau mau tinggal dan bekerja di Estonia, apa pesan Enlik?

Simak diskusi Podcast berikut ini dan jangan lupa follow akun podcast kami ya:

(PODCAST RUMPITA) Mulai Studi di Inggris Hingga ke Islandia Menuju Karier Internasional

Pada episode ke-27 ini, Podcast RUMPITA mengundang Dyah Anggraini C. yang kini menetap di Islandia.

Sebagai seorang ibu dan pekerja yang berkarier internasional, Dyah membagikan pengalaman hidupnya bagaimana studi pertama kali di mancanegara, yang dimulai dari Inggris.

Dyah pun sempat kembali ke Indonesia, dan kemudian memutuskan tinggal di Islandia.

Pernah bekerja di bidang financial and banking di Indonesia, Dyah pun mendalami studinya di Inggris.

Dyah pun tidak merasakan perbedaan yang besar antara berkuliah di Inggris dengan berkuliah di Islandia.

Mungkin perbedaan yang mencolok yang dialami seperti sistem penilaian yang berbeda, antara berkuliah di Inggris dengan di Islandia.

Follow us

Alasan keluarga membuat Dyah memutuskan pindah ke Islandia dan melanjutkan studi kembali di Islandia.

Tinggal di Reykjavic, ibukota Islandia, tentunya berbeda sekali dengan iklim dan suasana alamnya yang dirasakan Dyah, terutama saat musim panas atau musim dingin.

Dyah pun menceritakan bagaimana dukungan pemerintah Islandia saat dia sedang menyelesaikan studi dan baru saja melahirkan anaknya.

Tentunya, dukungan suami dan pengelolaan peran sangat diperlukan agar seimbang, sehingga kini Dyah pun tetap bekerja secara global bersama dengan orang-orang dari berbagai negara.

Apa saja perbedaan studi antara di Inggris dengan di Islandia? Bagaimana pendapat Dyah tentang iklim dan budaya orang-orang Islandia? Apa saja potensi yang bisa dilakukan warga Indonesia bila ingin studi atau berkarier di Islandia? Apa saja tantangan dan kesan yang dialami Dyah studi dan tinggal di Islandia? Apa pesan Dyah untuk orang Indonesia yang ingin wisata, studi, atau bekerja di Islandia?

Simak selengkapnya dalam diskusi Podcast RUMPITA, Rumpi bersama Ruanita, berikut ini:

(PODCAST RUMPITA) Berbekal Beasiswa Jadi Dosen di Indonesia, Menyelami Studi Nanoteknologi di Swedia

Melanjutkan program Podcast di episode ke-26, Podcasat RUMPITA by Ruanita Indonesia telah mengundang sahabat Ruanita yang sedang studi dan menetap di Swedia. Dia adalah Jessika yang pernah terlibat dalam diskusi online yang diselenggarakan oleh Ruanita Indonesia beberapa waktu lalu.

Kini Jessika menjelaskan bahwa dia sedang berencana meneruskan untuk studi lanjutan S3 di Swedia, setelah dia berhasil menyelesaikan studi S2 di bidang nanoteknologi.

Diskusi podcast dipandu oleh Fadni, mahasiswi S2 di Jerman dan Anna selama kurang lebih 60 menit. Jessika datang ke Swedia dengan mengikuti jalur beasiswa yang diselenggarakan oleh Kemdikbud untuk para calon dosen di perguruan tinggi di Indonesia. Jessika kini sedang menempuh studi di kampus KTH, Stockholm.

Menurut Jessika, nanoteknology itu adalah semua hal yang berkaitan dengan semua objek di bawah skala mikrometer. Jessika mengenal nanoteknologi pertama kali saat dia berkuliah di jurusan electrical engineering di ITB, Indonesia.

Setelah melamar studi di beberapa negara, Jessika memutuskan untuk mengambil tawaran di Swedia dengan jurusan nanoelectronic.

Follow us

Hal menarik yang diperoleh Jessika selama berkuliah nanoteknologi adalah ilmu yang dipelajarinya benar-benar interdisciplinary dari ilmu eksakta seperti kimia, fisika, dan sebagainya.

Mahasiswa yang berkuliah bersama Jessika pun berasal dari berbagai background akademis. Namun, pastinya berkuliah di Nanoteknologi masih berkaitan dengan STEM – Science, Technology, Engineering, and Mathematics.

Pemerintah Swedia juga tidak mensyaratkan untuk mahasiswa internasional memiliki level kemampuan Bahasa Swedia saat apply visa student. Jessika juga menuturkan tidak ada batasan pula untuk mahasiswa bisa bekerja di Swedia.

Hidup di Stockholm, Swedia telah membuat Jessika nyaman karena hampir sebagian besar masyarakat di sana bisa berbahasa Inggris dengan baik.

Simak selengkapnya diskusi Podcast lebih lanjut dengan Jessika berikut ini:

(PODCAST RUMPITA) Pengalaman Pertukaran Belajar dan Budaya di Polandia

Melanjutkan program diskusi Podcast RUMPITA, pada episode ke-25 Podcaster Fadni yang adalah mahasiswi S2 di Berlin, Jerman berkesempatan mengundang tamu yang pernah mengikuti program IISMA. IISMA merupakan singkatan dari Indonesia International Student Mobility Award dan memiliki 67 host universitas di seluruh dunia, untuk program mahasiswi S1 dan pendidikan vokasi.

Program IISMA difasilitasi oleh Kemdikbud dan LPDP RI. Tamu podcast tersebut adalah Yacinta Putri, yang sempat menjadi mahasiswi internasional di Universitas Warsawa, Polandia. Program IISMA yang dijalani Yacinta dilakukan selama tiga bulan dan tinggal di sebuah asrama mahasiswa.

Yacinta adalah mahasiswi S1 di sebuah perguruan tinggi swasta di Jakarta, yang sedang menjalani semester ke-5 pada saat berangkat ke Polandia, negara tujuan. Syarat untuk mengikuti program IISMA adalah mahasiswa yang terdaftar di universitas di Indonesia, memiliki kemampuan Bahasa Inggris yang dipersyaratkan, dan nilai IPK yang sesuai dengan persyaratan program IISMA, yang tercantum di website Kemdikbud. Selengkapnya dapat dicek di Home (kemdikbud.go.id).

Follow us

Program ini berlangsung selama tiga bulan di negara tujuan dan memiliki dua bentuk fasilitas pembiayaan. Pertama, siswa mendapatkan pembiayaan penuh seratus persen ditanggung oleh pemerintah Indonesia. Pembiayaan kedua disebut co-funding, yang mana siswa yang terpilih wajib memenuhi pembiayaan yang dipersyaratkan.

Meski Yacinta telah kembali dari Polandia, tentu ada banyak pengalaman berharga dan pembelajaran yang bisa direkomendasikan di perguruan tinggi asal. Yacinta merasa senang bisa mendapatkan kesempatan belajar dan budaya di Polandia, yang mana Yacinta bisa memahami perspektif lain dari warga asing tentang ilmu pengetahuan.

Fadni pun mengamini bagaimana Yacinta mengalami perubahan cara berpikir dan gaya belajar yang berbeda dibandingkan di Indonesia. Fadni mengatakan bahwa dia harus membaca teks yang diberikan dosen sebelum pembelajaran di kelas dimulai dan diskusi antar mahasiswa membantu Fadni dan Yacinta untuk berpikir kritis.

Culture shock untuk Yacinta tampak dari bagaimana dia berelasi dengan mahasiswa Polandia, yang terlihat serius, dingin, tidak ramah, dan sulit membangun pertemanan di awal. Budaya orang Polandia yang lebih individualis sangat kontras dengan budaya kolektif di masyarakat Indonesia, yang juga ramah kepada siapa saja. Yacinta juga sulit untuk beradaptasi dengan makanan Polandia, yang sangat berbeda sekali dengan Indonesia.

Apa saja pengalaman menarik dan berharga yang dialami Yacinta di Polandia? Bagaimana Yacinta menilai pembelajaran dan budaya di Polandia? Apa saja gegar budaya (culture shock) yang dialami selama Yacinta selama tinggal di Polandia? Bagaimana Yacinta mengatasi tantangan belajar dan budaya di Polandia? Apa pesan Yacinta untuk sahabat Ruanita yang ingin mengikuti program pertukaran budaya dan belajar?

Simak selengkapnya diskusi podcast berikut ini dan jangan lupa follow podcast kami:

(PODCAST RUMPITA) Bagaimana Pengalaman Mahasiswi Asal Jerman Magang dan Tinggal di Indonesia?

Memasuki episode ke-24 dari diskusi Podcast Rumpita, Ruanita Indonesia mengundang Sahabat Ruanita yang berasal dari Jerman dan pernah tinggal di Indonesia untuk bekerja magang dan ikut program pertukaran pelajaran ketika dia sedang remaja.

Dia adalah Leonie, yang pernah ikut program pertukaran pelajar di Sumatera Utara selama setahun dan tinggal bersama keluarga Indonesia. Oleh sebab itu, Leonie bisa berbahasa Indonesia dengan baik dan mendorongnya untuk mencoba melamar program magang di Indonesia.

Follow us

Saat magang di Indonesia selama enam bulan, Leonie bekerja di area Menteng, Jakarta Pusat. Banyak hal menarik bagaimana Leonie bekerja sama dengan orang-orang Indonesia di tempat kerja. Contoh yang mengesankannya bagi Leonie adalah “jam karet” yang sangat berbeda dengan ketepatan waktu untuk orang-orang di Jerman. Menurut Leonie, kebiasaan ‘jam karet’ itu tidak sopan dalam budaya orang-orang di Jerman.

Lainnya, adalah penggunaan WhatsApp untuk berkomunikasi dalam situasi pekerjaan. Namun, Leonie mengakui kehangatan dan keramahan orang-orang Indonesia sangat membantu Leonie mengatasi culture shock Indonesia dan mengenali budaya Indonesia lebih baik lagi.

Leonie sangat menyukai Soto Medan, yang membuatnya bisa membedakan dengan baik, Soto Jakarta yang menggunakan santan. Leonie pun suka dengan sambal dan makanan pedas.

Leonie pun melakukan hal yang sama dengan menambahkan cabai setiap makanan, yang membuat anggota keluarganya merasa terkejut ketika Leonie kembali lagi ke Jerman. Leonie sangat senang dengan kuliner Indonesia yang membuatnya kerap merindukannya dan dia tidak punya masalah dengan kuliner Indonesia.

Orang Indonesia berkomunikasi dengan tidak direct, dibandingkan dengan orang-orang Jerman yang berkomunikasi langsung. Leonie juga mengakui bahwa orang-orang Jerman tampak serius dan tidak mudah juga membangun pertemanan.

Leonie berpesan untuk orang-orang Indonesia yang ingin bekerja dan tinggal di Jerman agar tidak malu berlatih Bahasa Jerman. Supaya tidak merasa kesepian, mahasiswa asal Indonesia di Jerman bisa bergabung dengan kelompok mahasiswa di universitas atau bersabar untuk membangun pertemanan dengan rekan-rekan kerja di kantor.

Diskusi Podcast ini dipandu oleh Fadni, Mahasiswi S2 di Jerman dan Anna. Mengapa Leonie ingin magang dan tinggal di Indonesia? Mengapa Leonie suka akan budaya Indonesia? Pengalaman berkesan apa yang ditemuinya selama magang dan tinggal di Indonesia? Apa pendapatnya tentang Bahasa Indonesia yang dipelajarinya selama ini? Apa pesan dan harapan Leonie sebagai perempuan Jerman kepada orang-orang Indonesia yang dikenalnya? 

Selengkapnya diskusi Podcast RUMPITA dalam kanal Spotify berikut ini dan jangan lupa follow kanal SPOTIFY kami:

(PODCAST RUMPITA) Perjalanan Studi S3 dan Keluarga ke Inggris

Diskusi Podcast RUMPITA pada episode ke-23 mengangkat tema yang berkaitan dengan perayaan Hari Perempuan Internasional yang diperingati tiap 8 Maret. Untuk membahas lebih dalam, Ruanita Indonesia mengundang Sahabat Ruanita yang tinggal di Inggris dan sedang menempuh studi S3 di University of Birmingham.

Dia adalah Zakiyatul Mufidah Ahmad yang bekerja sebagai dosen di salah satu provinsi di Indonesia dan juga seorang ibu dari tiga orang putra.

Zakiya, begitu dia disapa, merupakan salah satu penerima beasiswa LPDP yang berkesempatan juga membawa serta keluarganya untuk mendampingi beliau menjalani studi S3 di Inggris.

Dalam kesempatan diskusi podcast, Zakiya mengaku bahwa dia tidak ingin kehilangan momen kebersamaan bersama anak-anaknya, terutama hal-hal yang menyangkut pendidikan non formal yang tidak diterimanya di sekolah.

Pendidikan non formal menurut Zakiya pun sama pentingnya melalui keterlibatan peran orang tua dalam keseharian bersama anak-anak.

Zakiya ingin agar anak-anaknya bisa mengenyam pendidikan yang sama baiknya seperti dirinya yang sedang menempuh pendidikan lanjutan S3 di Inggris dan dia tidak ingin menelantarkan anak-anak, terutama pendidikan non formal bersama orang tua.

Follow us

Zakiya pun berbagi peran bersama suami untuk mengurus keperluan dan kebutuhan pendidikan anak-anak selama tinggal studi S3. Zakiya mengakui anak-anak tidak mudah beradaptasi dengan situasi di Inggris, apalagi anak-anak dulu di Indonesia tinggal di wilayah rural.

Anak-anak Zakiya pun mengaku mengalami perubahan adaptasi sosial dan budaya, terutama bagaimana anak-anak dipersiapkan untuk bisa mengenyam pendidikan di Inggris.

Apa saja strategi yang dipersiapkan Zakiya agar peran sebagai mahasiswi S3 dengan ibu bisa dapat berjalan seimbang? Apa saja persiapan yang dilakukan Zakiya agar anak-anak dapat beradaptasi sosial dan budaya untuk sekolah baru mereka di Inggris? Tantangan apa yang dihadapi Zakiya dalam menjalani peran tersebut di Inggris? Apa pesan Zakiya dalam perayaan Hari Perempuan Internasional?

Diskusi Podcast selengkapnya dapat disimak berikut ini:

(PODCAST RUMPITA) Berkuliah Sambil Berwirausaha di Jerman

Dalam episode ke-22 diskusi Podcast Rumpita mengambil tema kehidupan pelajar di Jerman sambil berwirausaha. Sebagai pelajar di Jerman, kita dibatasi oleh aturan untuk bekerja yang terbatas dalam hitungan gaji/pendapatan yang tidak melebihi batas dikenakan pajak.

Di Jerman, pelajar yang ingin bekerja terhitung dalam penghasilan mini jobs. Tentunya, perjuangan untuk bertahan hidup di Jerman dengan segala kesukarannya memenuhi kehidupan sehari-hari dialami juga oleh Cynthia Utami, yang mengelola usaha masakan padang (lewat akun Instagram: kualiangek). Cynthia kini studi di Sosiologi di salah satu universitas di Jerman.

Rupanya aktivitas Cynthia pun tak hanya berwirausaha, dia pernah terlibat menjadi pengurus PPI. Lainnya, Cynthia juga founder dari Ikatan Pelajar Minang Internasional (IPMI). Untuk Ikatan IPMI ini, dapat dikontak via akun Instagram ipmi.internasional dan akun Instagram Cynthia dapat dikontak ke akun cynthiautami12.

Follow us

Tentunya Cynthia perlu membagi waktu antara berkuliah dengan berwirausaha. Cynthia mengambil di sela-sela kesibukan kuliah untuk berdagang, demi mencukupi kebutuhan sehari-hari. Ketika masa ujian datang, Cynthia pun membatasi usaha wirausahanya. Cynthia pun berjualan hanya berdasarkan pesanan dan kebutuhan untuk berdagang sesuai acara.

Cynthia akan menjual dagangan masakan padangnya hanya pada saat musim dingin, sehingga pelanggan tetap menerima masakan dalam kondisi fresh dan pesanan dalam jumlah terbatas. Cynthia pun benar-benar mendapatkan rempah-rempah fresh yang dijual di toko Asia di Jerman dan bumbu rempah yang tidak ada di Jerman, benar-benar didatangkan langsung dari Indonesia.

Cynthia sendiri mengaku tidak berpengalaman dalam memasak di Indonesia. Cynthia pun menjelaskan teknik dan cara memasak masakan Padang yang memiliki bervariasi, termasuk rempah-rempah Indonesia yang sangat kaya yang bisa dikatakan menjadi rahasia racikan masakan Padang. Cynthia pun bangga dengan kultur orang Padang, yang mahir dalam berdagang dan bisa survive di tanah rantau.

Bagaimana Cynthia membagi waktu antara berkuliah dengan berwirausaha? Apa rahasia masakan Padang sebenarnya? Apa saja tantangan Cynthia sebagai mahasiswa untuk berwirausaha di Jerman? Apa yang mendasari Cynthia untuk berwirausaha masakan padang seperti nasi kapau di Jerman? Bagaimana Cynthia mendapatkan bumbu orisinal, meracik masakan hingga memasarkannya di Jerman? Sebagai orang Minang, apa yang membuat Cynthia mendirikan IPMI?

Simak selengkapnya diskusi Podcast Rumpita berikut ini:

(PODCAST RUMPITA) Mengenali Reiki, Pendekatan Kesehatan Komplementer dari Jepang

Dalam diskusi Podcast RUMPITA pada episode ke-21 ini, Ruanita Indonesia mengangkat tema tentang Reiki, yang dianggap sebagai terapi komplementer untuk kesehatan manusia sebagai pendekatan Holistik.

Untuk membahas lebih dalam Reiki, yang berasal dari Jepang ini, Ruanita Indonesia mengundang sahabat Ruanita yang menetap di Jerman dan telah menjadi Master Reiki.

Master Reiki adalah satu tingkatan lebih tinggi dari praktisi Reiki, yang telah menyelesaikan serangkaian pelatihan dan dianggap telah berhasil memberikan energi ke yang lain.

Master Reiki yang diundang untuk membahasnya lebih dalam adalah Ratitia, yang juga owner dari salon dan spa di Jerman. Ratitia menjelaskan bahwa Reiki berasal dari Jepang, sehingga disebut sebagai Reiki dari kata Rei dan Ki, yang berarti menjadi energi kekuatan.

Kalau energi kita rendah atau lemah, kita menjadi sakit. Reiki itu adalah kita semua dan ada di dalam diri kita semua. Kita yang bahagia adalah orang yang punya energi tinggi.

Untuk mendapatkan energi yang bagus adalah orang bisa belajar Reiki atau dia juga bisa ‘Gift’ sehingga tuned in dalam dirinya. Kalau energi yang dihasilkan adalah positif, maka kita menjadi lebih sehat, lebih bahagia, dan tidak mudah terserang penyakit.

Reiki membersihkan, meluruskan, dan memperbaiki jalur energi tersebut sehingga menjadi cara yang alamiah.

Reiki membuat kita relaksasi, aman, sejahtera dalam hidup. Meski sederhana dipelajari, tidak bisa diajarkan biasa tetapi diteruskan (attunement) atau pengisian energi yang diberikan oleh Master Reiki, kecuali orang tersebut memiliki “Gift” yang mungkin dia tahu bagaimana mengelolanya.

Reiki bisa dikombinasikan dengan terapi lainnya, karena Reiki hanya meletakkan tangan ke badan pasien. Ratitia juga mengajari terapis spa yang menjadi karyawannya untuk memberikan energi Reiki agar mereka tidak mudah sakit.

Follow us @ruanita.indonesia

Bagaimana kita bisa belajar Reiki untuk pemula? Apa yang membedakan Reiki dengan terapi komplementer lainnya untuk kesejahteraan batin dan well-being? Apakah mungkin Reiki bisa dilakukan dalam kondisi jarak jauh? Dalam kehidupan digital, apakah Reiki bisa dilakukan juga lewat media digital? Berapa besaran biaya untuk belajar Reiki dan mendapatkan “attunement” dari Master Reiki?

Diskusi Podcast selengkapnya dapat disimak sebagai berikut:

(RUMPITA) Memahami Negara Kolombia yang Bebas Visa Untuk WNI

Melanjutkan diskusi Podcast RUMPITA episode ke-20, Fadni yang menjadi Host mengundang sahabat Ruanita yang tinggal di Kolombia. Dia adalah Efi Yanuar, seorang kreator digital yang tinggal di Kolombia. Tentunya, Efi yang sudah menetap di Kolombia merasakan berbagai pengalaman menarik dan menantang selama di sana.

Barangkali diskusi podcast kali ini membuat sahabat Ruanita semakin penasaran untuk datang ke Kolombia dan mengetahui kebenaran sesungguhnya dari stereotip tentang orang-orang Kolombia. Cerita-cerita Efi tentang Kolombia bisa ditemukan di akun Instagramnya efi.di.kolombia.

Untuk datang sebagai turis, warga Indonesia tidak memerlukan turis tetapi cukup tiket pesawat pulang-pergi saja. Visa untuk warga Indonesia berlaku 90 hari dan bisa diperpanjang hingga 90 hari kemudian. Iklim dan cuaca negara Kolombia seperti layaknya di Indonesia, yang memiliki musim hujan dan musim panas. Efi sendiri mengakui tidak begitu sulit buat orang Indonesia untuk beradaptasi karena cuaca di Kolombia mirip dengan Indonesia. Ini berbeda dengan kota Bogota, yang berada di pegunungan atau dataran tinggi.

Bahasa yang digunakan warga Kolombia adalah Bahasa Spanyol, meskipun bahasa ini sedikit berbeda dengan Bahasa Spanyol di negara Spanyol seperti perbedaan kosakata. Perbedaan lainnya seperti subyek. Dalam Bahasa Spanyol ada 6 subyek, sedangkan dalam Bahasa Kolombia ada 5 subyek. Di Kolombia tidak ada sapaan seperti kakak, ibu, dan bapak seperti Bahasa Indonesia.

Soal kuliner di Kolombia, Efi merasakan sangat berbeda dengan Indonesia. Masakan Kolombia bisa saja memasukkan kacang merah, alpukat, singkong, jagung, atau pisang dan tidak banyak menggunakan rempah-rempah. Hal ini berbeda dengan kacang merah, alpukat atau singkong yang banyak digunakan dalam kuliner Indonesia sebagai dessert.

Follow us

Ada festival yang mirip di Kolombia seperti di Indonesia, yakni perayaan Semana Santa di Flores, Indonesia yang dilangsungkan selama tujuh hari dan menjelang Paskah. Stereotip yang selama ini dimunculkan pada telenovela atau opera sabun sewaktu Anna dan Fadni di Indonesia ternyata memang benar adanya, seperti kriminalitas di Kolombia. Efi pun mengakui tingkat kriminalitas di Kolombia pun cukup tinggi.

Bagaimana orang-orang Indonesia mempersepsikan negara Kolombia? Apakah Efi juga sempat mengalami culture shock selama tinggal di sana? Apa yang membuat Efi bertahan dan menyukai kehidupan bersama orang-orang Kolombia? Apa yang menarik dan menantang selama tinggal di Kolombia? Lalu apa yang perlu dipersiapkan kalau mau traveling ke Kolombia, yang mana WNI tidak perlu visa untuk berkunjung ke sana?

Lebih lanjut dan detilnya, silakan mendengarkan rekaman diskusi Podcast berikut ini: