(PODCAST RUMPITA) Kembali ke Indonesia, Jadi Konsultan di Bidang Lingkungan Hidup

Dalam program Podcast RUMPITA di bulan September 2024, kami mengundang sahabat Ruanita yang tinggal di Belanda untuk membahas pengalaman tinggal di Belanda dan rencana usai studi.

Sebagaimana kita ketahui, Belanda telah menjadi impian bagi banyak generasi muda Indonesia untuk merasakan pengalaman studi di mancanegara, sebagaimana yang dialami oleh Zukrufi Sysdawita atau yang disapa Rufi yang ikut memandu diskusi Podcast episode ini.

Tamu yang diundang adalah Farhan Kurniawan, yang adalah mahasiswa di IHE Delft Institute for Water Education, di Belanda dan sedang menyelesaikan Thesis S2. Farhan juga dikenal sebagai konsultan di bidang lingkungan hidup.

Farhan mengakui bahwa syarat-syarat lamar studi di Belanda tidak diperlukan pengakuan kemampuan Bahasa Belanda, meski Farhan sempat ikut les Bahasa Belanda sebelum studi.

Farhan mengamati bahwa kecenderungan orang-orang Belanda yang mau open dan friendly kepada orang asing, terutama adanya program Buddy yang diselenggarakan antara pihak universitas dengan warga lokal.

Lainnya adalah tentang bagaimana orang-orang Belanda suka sekali bersepeda, bahkan Farhan bisa menjelaskan dengan baik berdasarkan ilmu alam tentang bersepeda.

Selain pengalaman hidup, Farhan juga menjelaskan tentang sistematika penilaian di kampus yang dimulai dari 1-10 dengan angka 10 sebagai angka sempurna.

Namun, Farhan mengakui bahwa tidak mudah untuk mendapatkan nilai yang bagus di kampusnya.

Oh ya, Farhan mengakui bahwa kampusnya adalah satu-satunya kampus yang tidak memiliki orang Belanda yang studi di sana.

Saat rekaman Podcast berlangsung, Farhan sedang menekuni Thesis-nya dengan tema water flow yang membantu untuk estimasi bencana banjir misalnya.

Itu sebab, tema yang dikembangkannya memang disesuaika dengan kebutuhan di Indonesia seperti di Jakarta yang rawan banjir.

Usai studi di Belanda di tahun ini, Farhan ingin kembali ke Indonesia dan mulai mengembangkan pengetahuan yang diperolehnya di Belanda.

Farhan sendiri bercerita bagaimana prosesnya dia mendapatkan beasiswa dari Pemerintah Belanda. Dia pun menjelaskan bagaimana perjuangannya mendapatkan beasiswa tersebut.

Simak selengkapnya dalam diskusi Podcast RUMPITA berikut ini dan jangan lupa FOLLOW akun podcast kami:

(PODCAST RUMPITA) Menjajaki Karier di Negeri Baltik, Usai Studi di Estonia

Memasuki episode di musim panas, program podcast Rumpita yakni Rumpi bersama Ruanita mengundang sahabat Ruanita yang tinggal di Estonia. Diskusi via podcast ini dipandu oleh Fadni, mahasiswi S2 yang menempuh studi di Universitas Humboldt di Berlin, Jerman dan didampingi oleh Anna.

Tamu podcast yang diundang dalam episode ini adalah Enlik Tjio, seorang podcaster juga lewat akun instaram enliktjioe. Enlik juga suka dengan hal-hal yang berkaitan dengan green technologies yang sedang hits beberapa tahun belakangan ini.

Enlik adalah seorang Software Developer yang telah menyelesaikan studi master di bidang teknologi dan informatika di Estonia. Kini Enlik tetap tinggal di Estonia, mengelola program Podcast pribadinya, dan menjalani hobi traveling ke berbagai negara.

follow us

Nama Enlik bukanlah sebuah nama yang memilliki makna. Enlik mengakui bahwa ini adalah nama yang tidak sengaja disebutkan oleh ibunya yang kesulitan menyebutkan nama “Hendrik”, sehingga nama Enlik tercatat dalam dokumen resmi hingga sekarang.

Nama membawa berkah dan mungkin yang terjadi pada Enlik setelah dia menyelesaikan studi di bidang teknologi dan informatika di Indonesia.

Enlik pun sempat mengenyam pengalaman tinggal di Australia, kemudian membuatnya untuk terus mengasah pengalaman yang lebih menantang dan menarik lagi di benua biru.

Enlik mengakui bahwa dia sempat melamar studi di beberapa negara, hingga akhirnya dia memilih studi di Estonia yang lebih mudah secara birokrasi dan memberikan tunjangan sebagai mahasiswa di awal studi.

Bagaimana perjalanan Enlik hingga berhasil menempuh studi di Estonia? Apa saja syarat-syaratnya untuk bisa studi di Estonia? Bagaimana pengalaman menarik dan menantang yang dialami Enlik selama studi dan tinggal di Estonia? Apa saja rekomendasi Enlik terkait dengan green technologies yang sedang marak dibicarakan akhir-akhir ini untuk diterapkan di Indonesia? Kalau mau tinggal dan bekerja di Estonia, apa pesan Enlik?

Simak diskusi Podcast berikut ini dan jangan lupa follow akun podcast kami ya:

(PODCAST RUMPITA) Mulai Studi di Inggris Hingga ke Islandia Menuju Karier Internasional

Pada episode ke-27 ini, Podcast RUMPITA mengundang Dyah Anggraini C. yang kini menetap di Islandia.

Sebagai seorang ibu dan pekerja yang berkarier internasional, Dyah membagikan pengalaman hidupnya bagaimana studi pertama kali di mancanegara, yang dimulai dari Inggris.

Dyah pun sempat kembali ke Indonesia, dan kemudian memutuskan tinggal di Islandia.

Pernah bekerja di bidang financial and banking di Indonesia, Dyah pun mendalami studinya di Inggris.

Dyah pun tidak merasakan perbedaan yang besar antara berkuliah di Inggris dengan berkuliah di Islandia.

Mungkin perbedaan yang mencolok yang dialami seperti sistem penilaian yang berbeda, antara berkuliah di Inggris dengan di Islandia.

Follow us

Alasan keluarga membuat Dyah memutuskan pindah ke Islandia dan melanjutkan studi kembali di Islandia.

Tinggal di Reykjavic, ibukota Islandia, tentunya berbeda sekali dengan iklim dan suasana alamnya yang dirasakan Dyah, terutama saat musim panas atau musim dingin.

Dyah pun menceritakan bagaimana dukungan pemerintah Islandia saat dia sedang menyelesaikan studi dan baru saja melahirkan anaknya.

Tentunya, dukungan suami dan pengelolaan peran sangat diperlukan agar seimbang, sehingga kini Dyah pun tetap bekerja secara global bersama dengan orang-orang dari berbagai negara.

Apa saja perbedaan studi antara di Inggris dengan di Islandia? Bagaimana pendapat Dyah tentang iklim dan budaya orang-orang Islandia? Apa saja potensi yang bisa dilakukan warga Indonesia bila ingin studi atau berkarier di Islandia? Apa saja tantangan dan kesan yang dialami Dyah studi dan tinggal di Islandia? Apa pesan Dyah untuk orang Indonesia yang ingin wisata, studi, atau bekerja di Islandia?

Simak selengkapnya dalam diskusi Podcast RUMPITA, Rumpi bersama Ruanita, berikut ini:

(PODCAST RUMPITA) Berbekal Beasiswa Jadi Dosen di Indonesia, Menyelami Studi Nanoteknologi di Swedia

Melanjutkan program Podcast di episode ke-26, Podcasat RUMPITA by Ruanita Indonesia telah mengundang sahabat Ruanita yang sedang studi dan menetap di Swedia. Dia adalah Jessika yang pernah terlibat dalam diskusi online yang diselenggarakan oleh Ruanita Indonesia beberapa waktu lalu.

Kini Jessika menjelaskan bahwa dia sedang berencana meneruskan untuk studi lanjutan S3 di Swedia, setelah dia berhasil menyelesaikan studi S2 di bidang nanoteknologi.

Diskusi podcast dipandu oleh Fadni, mahasiswi S2 di Jerman dan Anna selama kurang lebih 60 menit. Jessika datang ke Swedia dengan mengikuti jalur beasiswa yang diselenggarakan oleh Kemdikbud untuk para calon dosen di perguruan tinggi di Indonesia. Jessika kini sedang menempuh studi di kampus KTH, Stockholm.

Menurut Jessika, nanoteknology itu adalah semua hal yang berkaitan dengan semua objek di bawah skala mikrometer. Jessika mengenal nanoteknologi pertama kali saat dia berkuliah di jurusan electrical engineering di ITB, Indonesia.

Setelah melamar studi di beberapa negara, Jessika memutuskan untuk mengambil tawaran di Swedia dengan jurusan nanoelectronic.

Follow us

Hal menarik yang diperoleh Jessika selama berkuliah nanoteknologi adalah ilmu yang dipelajarinya benar-benar interdisciplinary dari ilmu eksakta seperti kimia, fisika, dan sebagainya.

Mahasiswa yang berkuliah bersama Jessika pun berasal dari berbagai background akademis. Namun, pastinya berkuliah di Nanoteknologi masih berkaitan dengan STEM – Science, Technology, Engineering, and Mathematics.

Pemerintah Swedia juga tidak mensyaratkan untuk mahasiswa internasional memiliki level kemampuan Bahasa Swedia saat apply visa student. Jessika juga menuturkan tidak ada batasan pula untuk mahasiswa bisa bekerja di Swedia.

Hidup di Stockholm, Swedia telah membuat Jessika nyaman karena hampir sebagian besar masyarakat di sana bisa berbahasa Inggris dengan baik.

Simak selengkapnya diskusi Podcast lebih lanjut dengan Jessika berikut ini:

(PODCAST RUMPITA) Pengalaman Pertukaran Belajar dan Budaya di Polandia

Melanjutkan program diskusi Podcast RUMPITA, pada episode ke-25 Podcaster Fadni yang adalah mahasiswi S2 di Berlin, Jerman berkesempatan mengundang tamu yang pernah mengikuti program IISMA. IISMA merupakan singkatan dari Indonesia International Student Mobility Award dan memiliki 67 host universitas di seluruh dunia, untuk program mahasiswi S1 dan pendidikan vokasi.

Program IISMA difasilitasi oleh Kemdikbud dan LPDP RI. Tamu podcast tersebut adalah Yacinta Putri, yang sempat menjadi mahasiswi internasional di Universitas Warsawa, Polandia. Program IISMA yang dijalani Yacinta dilakukan selama tiga bulan dan tinggal di sebuah asrama mahasiswa.

Yacinta adalah mahasiswi S1 di sebuah perguruan tinggi swasta di Jakarta, yang sedang menjalani semester ke-5 pada saat berangkat ke Polandia, negara tujuan. Syarat untuk mengikuti program IISMA adalah mahasiswa yang terdaftar di universitas di Indonesia, memiliki kemampuan Bahasa Inggris yang dipersyaratkan, dan nilai IPK yang sesuai dengan persyaratan program IISMA, yang tercantum di website Kemdikbud. Selengkapnya dapat dicek di Home (kemdikbud.go.id).

Follow us

Program ini berlangsung selama tiga bulan di negara tujuan dan memiliki dua bentuk fasilitas pembiayaan. Pertama, siswa mendapatkan pembiayaan penuh seratus persen ditanggung oleh pemerintah Indonesia. Pembiayaan kedua disebut co-funding, yang mana siswa yang terpilih wajib memenuhi pembiayaan yang dipersyaratkan.

Meski Yacinta telah kembali dari Polandia, tentu ada banyak pengalaman berharga dan pembelajaran yang bisa direkomendasikan di perguruan tinggi asal. Yacinta merasa senang bisa mendapatkan kesempatan belajar dan budaya di Polandia, yang mana Yacinta bisa memahami perspektif lain dari warga asing tentang ilmu pengetahuan.

Fadni pun mengamini bagaimana Yacinta mengalami perubahan cara berpikir dan gaya belajar yang berbeda dibandingkan di Indonesia. Fadni mengatakan bahwa dia harus membaca teks yang diberikan dosen sebelum pembelajaran di kelas dimulai dan diskusi antar mahasiswa membantu Fadni dan Yacinta untuk berpikir kritis.

Culture shock untuk Yacinta tampak dari bagaimana dia berelasi dengan mahasiswa Polandia, yang terlihat serius, dingin, tidak ramah, dan sulit membangun pertemanan di awal. Budaya orang Polandia yang lebih individualis sangat kontras dengan budaya kolektif di masyarakat Indonesia, yang juga ramah kepada siapa saja. Yacinta juga sulit untuk beradaptasi dengan makanan Polandia, yang sangat berbeda sekali dengan Indonesia.

Apa saja pengalaman menarik dan berharga yang dialami Yacinta di Polandia? Bagaimana Yacinta menilai pembelajaran dan budaya di Polandia? Apa saja gegar budaya (culture shock) yang dialami selama Yacinta selama tinggal di Polandia? Bagaimana Yacinta mengatasi tantangan belajar dan budaya di Polandia? Apa pesan Yacinta untuk sahabat Ruanita yang ingin mengikuti program pertukaran budaya dan belajar?

Simak selengkapnya diskusi podcast berikut ini dan jangan lupa follow podcast kami:

(PODCAST RUMPITA) Bagaimana Pengalaman Mahasiswi Asal Jerman Magang dan Tinggal di Indonesia?

Memasuki episode ke-24 dari diskusi Podcast Rumpita, Ruanita Indonesia mengundang Sahabat Ruanita yang berasal dari Jerman dan pernah tinggal di Indonesia untuk bekerja magang dan ikut program pertukaran pelajaran ketika dia sedang remaja.

Dia adalah Leonie, yang pernah ikut program pertukaran pelajar di Sumatera Utara selama setahun dan tinggal bersama keluarga Indonesia. Oleh sebab itu, Leonie bisa berbahasa Indonesia dengan baik dan mendorongnya untuk mencoba melamar program magang di Indonesia.

Follow us

Saat magang di Indonesia selama enam bulan, Leonie bekerja di area Menteng, Jakarta Pusat. Banyak hal menarik bagaimana Leonie bekerja sama dengan orang-orang Indonesia di tempat kerja. Contoh yang mengesankannya bagi Leonie adalah “jam karet” yang sangat berbeda dengan ketepatan waktu untuk orang-orang di Jerman. Menurut Leonie, kebiasaan ‘jam karet’ itu tidak sopan dalam budaya orang-orang di Jerman.

Lainnya, adalah penggunaan WhatsApp untuk berkomunikasi dalam situasi pekerjaan. Namun, Leonie mengakui kehangatan dan keramahan orang-orang Indonesia sangat membantu Leonie mengatasi culture shock Indonesia dan mengenali budaya Indonesia lebih baik lagi.

Leonie sangat menyukai Soto Medan, yang membuatnya bisa membedakan dengan baik, Soto Jakarta yang menggunakan santan. Leonie pun suka dengan sambal dan makanan pedas.

Leonie pun melakukan hal yang sama dengan menambahkan cabai setiap makanan, yang membuat anggota keluarganya merasa terkejut ketika Leonie kembali lagi ke Jerman. Leonie sangat senang dengan kuliner Indonesia yang membuatnya kerap merindukannya dan dia tidak punya masalah dengan kuliner Indonesia.

Orang Indonesia berkomunikasi dengan tidak direct, dibandingkan dengan orang-orang Jerman yang berkomunikasi langsung. Leonie juga mengakui bahwa orang-orang Jerman tampak serius dan tidak mudah juga membangun pertemanan.

Leonie berpesan untuk orang-orang Indonesia yang ingin bekerja dan tinggal di Jerman agar tidak malu berlatih Bahasa Jerman. Supaya tidak merasa kesepian, mahasiswa asal Indonesia di Jerman bisa bergabung dengan kelompok mahasiswa di universitas atau bersabar untuk membangun pertemanan dengan rekan-rekan kerja di kantor.

Diskusi Podcast ini dipandu oleh Fadni, Mahasiswi S2 di Jerman dan Anna. Mengapa Leonie ingin magang dan tinggal di Indonesia? Mengapa Leonie suka akan budaya Indonesia? Pengalaman berkesan apa yang ditemuinya selama magang dan tinggal di Indonesia? Apa pendapatnya tentang Bahasa Indonesia yang dipelajarinya selama ini? Apa pesan dan harapan Leonie sebagai perempuan Jerman kepada orang-orang Indonesia yang dikenalnya? 

Selengkapnya diskusi Podcast RUMPITA dalam kanal Spotify berikut ini dan jangan lupa follow kanal SPOTIFY kami:

(PODCAST RUMPITA) Perjalanan Studi S3 dan Keluarga ke Inggris

Diskusi Podcast RUMPITA pada episode ke-23 mengangkat tema yang berkaitan dengan perayaan Hari Perempuan Internasional yang diperingati tiap 8 Maret. Untuk membahas lebih dalam, Ruanita Indonesia mengundang Sahabat Ruanita yang tinggal di Inggris dan sedang menempuh studi S3 di University of Birmingham.

Dia adalah Zakiyatul Mufidah Ahmad yang bekerja sebagai dosen di salah satu provinsi di Indonesia dan juga seorang ibu dari tiga orang putra.

Zakiya, begitu dia disapa, merupakan salah satu penerima beasiswa LPDP yang berkesempatan juga membawa serta keluarganya untuk mendampingi beliau menjalani studi S3 di Inggris.

Dalam kesempatan diskusi podcast, Zakiya mengaku bahwa dia tidak ingin kehilangan momen kebersamaan bersama anak-anaknya, terutama hal-hal yang menyangkut pendidikan non formal yang tidak diterimanya di sekolah.

Pendidikan non formal menurut Zakiya pun sama pentingnya melalui keterlibatan peran orang tua dalam keseharian bersama anak-anak.

Zakiya ingin agar anak-anaknya bisa mengenyam pendidikan yang sama baiknya seperti dirinya yang sedang menempuh pendidikan lanjutan S3 di Inggris dan dia tidak ingin menelantarkan anak-anak, terutama pendidikan non formal bersama orang tua.

Follow us

Zakiya pun berbagi peran bersama suami untuk mengurus keperluan dan kebutuhan pendidikan anak-anak selama tinggal studi S3. Zakiya mengakui anak-anak tidak mudah beradaptasi dengan situasi di Inggris, apalagi anak-anak dulu di Indonesia tinggal di wilayah rural.

Anak-anak Zakiya pun mengaku mengalami perubahan adaptasi sosial dan budaya, terutama bagaimana anak-anak dipersiapkan untuk bisa mengenyam pendidikan di Inggris.

Apa saja strategi yang dipersiapkan Zakiya agar peran sebagai mahasiswi S3 dengan ibu bisa dapat berjalan seimbang? Apa saja persiapan yang dilakukan Zakiya agar anak-anak dapat beradaptasi sosial dan budaya untuk sekolah baru mereka di Inggris? Tantangan apa yang dihadapi Zakiya dalam menjalani peran tersebut di Inggris? Apa pesan Zakiya dalam perayaan Hari Perempuan Internasional?

Diskusi Podcast selengkapnya dapat disimak berikut ini:

(PODCAST RUMPITA) Berkuliah Sambil Berwirausaha di Jerman

Dalam episode ke-22 diskusi Podcast Rumpita mengambil tema kehidupan pelajar di Jerman sambil berwirausaha. Sebagai pelajar di Jerman, kita dibatasi oleh aturan untuk bekerja yang terbatas dalam hitungan gaji/pendapatan yang tidak melebihi batas dikenakan pajak.

Di Jerman, pelajar yang ingin bekerja terhitung dalam penghasilan mini jobs. Tentunya, perjuangan untuk bertahan hidup di Jerman dengan segala kesukarannya memenuhi kehidupan sehari-hari dialami juga oleh Cynthia Utami, yang mengelola usaha masakan padang (lewat akun Instagram: kualiangek). Cynthia kini studi di Sosiologi di salah satu universitas di Jerman.

Rupanya aktivitas Cynthia pun tak hanya berwirausaha, dia pernah terlibat menjadi pengurus PPI. Lainnya, Cynthia juga founder dari Ikatan Pelajar Minang Internasional (IPMI). Untuk Ikatan IPMI ini, dapat dikontak via akun Instagram ipmi.internasional dan akun Instagram Cynthia dapat dikontak ke akun cynthiautami12.

Follow us

Tentunya Cynthia perlu membagi waktu antara berkuliah dengan berwirausaha. Cynthia mengambil di sela-sela kesibukan kuliah untuk berdagang, demi mencukupi kebutuhan sehari-hari. Ketika masa ujian datang, Cynthia pun membatasi usaha wirausahanya. Cynthia pun berjualan hanya berdasarkan pesanan dan kebutuhan untuk berdagang sesuai acara.

Cynthia akan menjual dagangan masakan padangnya hanya pada saat musim dingin, sehingga pelanggan tetap menerima masakan dalam kondisi fresh dan pesanan dalam jumlah terbatas. Cynthia pun benar-benar mendapatkan rempah-rempah fresh yang dijual di toko Asia di Jerman dan bumbu rempah yang tidak ada di Jerman, benar-benar didatangkan langsung dari Indonesia.

Cynthia sendiri mengaku tidak berpengalaman dalam memasak di Indonesia. Cynthia pun menjelaskan teknik dan cara memasak masakan Padang yang memiliki bervariasi, termasuk rempah-rempah Indonesia yang sangat kaya yang bisa dikatakan menjadi rahasia racikan masakan Padang. Cynthia pun bangga dengan kultur orang Padang, yang mahir dalam berdagang dan bisa survive di tanah rantau.

Bagaimana Cynthia membagi waktu antara berkuliah dengan berwirausaha? Apa rahasia masakan Padang sebenarnya? Apa saja tantangan Cynthia sebagai mahasiswa untuk berwirausaha di Jerman? Apa yang mendasari Cynthia untuk berwirausaha masakan padang seperti nasi kapau di Jerman? Bagaimana Cynthia mendapatkan bumbu orisinal, meracik masakan hingga memasarkannya di Jerman? Sebagai orang Minang, apa yang membuat Cynthia mendirikan IPMI?

Simak selengkapnya diskusi Podcast Rumpita berikut ini:

(PODCAST RUMPITA) Mengenali Reiki, Pendekatan Kesehatan Komplementer dari Jepang

Dalam diskusi Podcast RUMPITA pada episode ke-21 ini, Ruanita Indonesia mengangkat tema tentang Reiki, yang dianggap sebagai terapi komplementer untuk kesehatan manusia sebagai pendekatan Holistik.

Untuk membahas lebih dalam Reiki, yang berasal dari Jepang ini, Ruanita Indonesia mengundang sahabat Ruanita yang menetap di Jerman dan telah menjadi Master Reiki.

Master Reiki adalah satu tingkatan lebih tinggi dari praktisi Reiki, yang telah menyelesaikan serangkaian pelatihan dan dianggap telah berhasil memberikan energi ke yang lain.

Master Reiki yang diundang untuk membahasnya lebih dalam adalah Ratitia, yang juga owner dari salon dan spa di Jerman. Ratitia menjelaskan bahwa Reiki berasal dari Jepang, sehingga disebut sebagai Reiki dari kata Rei dan Ki, yang berarti menjadi energi kekuatan.

Kalau energi kita rendah atau lemah, kita menjadi sakit. Reiki itu adalah kita semua dan ada di dalam diri kita semua. Kita yang bahagia adalah orang yang punya energi tinggi.

Untuk mendapatkan energi yang bagus adalah orang bisa belajar Reiki atau dia juga bisa ‘Gift’ sehingga tuned in dalam dirinya. Kalau energi yang dihasilkan adalah positif, maka kita menjadi lebih sehat, lebih bahagia, dan tidak mudah terserang penyakit.

Reiki membersihkan, meluruskan, dan memperbaiki jalur energi tersebut sehingga menjadi cara yang alamiah.

Reiki membuat kita relaksasi, aman, sejahtera dalam hidup. Meski sederhana dipelajari, tidak bisa diajarkan biasa tetapi diteruskan (attunement) atau pengisian energi yang diberikan oleh Master Reiki, kecuali orang tersebut memiliki “Gift” yang mungkin dia tahu bagaimana mengelolanya.

Reiki bisa dikombinasikan dengan terapi lainnya, karena Reiki hanya meletakkan tangan ke badan pasien. Ratitia juga mengajari terapis spa yang menjadi karyawannya untuk memberikan energi Reiki agar mereka tidak mudah sakit.

Follow us @ruanita.indonesia

Bagaimana kita bisa belajar Reiki untuk pemula? Apa yang membedakan Reiki dengan terapi komplementer lainnya untuk kesejahteraan batin dan well-being? Apakah mungkin Reiki bisa dilakukan dalam kondisi jarak jauh? Dalam kehidupan digital, apakah Reiki bisa dilakukan juga lewat media digital? Berapa besaran biaya untuk belajar Reiki dan mendapatkan “attunement” dari Master Reiki?

Diskusi Podcast selengkapnya dapat disimak sebagai berikut:

(RUMPITA) Memahami Negara Kolombia yang Bebas Visa Untuk WNI

Melanjutkan diskusi Podcast RUMPITA episode ke-20, Fadni yang menjadi Host mengundang sahabat Ruanita yang tinggal di Kolombia. Dia adalah Efi Yanuar, seorang kreator digital yang tinggal di Kolombia. Tentunya, Efi yang sudah menetap di Kolombia merasakan berbagai pengalaman menarik dan menantang selama di sana.

Barangkali diskusi podcast kali ini membuat sahabat Ruanita semakin penasaran untuk datang ke Kolombia dan mengetahui kebenaran sesungguhnya dari stereotip tentang orang-orang Kolombia. Cerita-cerita Efi tentang Kolombia bisa ditemukan di akun Instagramnya efi.di.kolombia.

Untuk datang sebagai turis, warga Indonesia tidak memerlukan turis tetapi cukup tiket pesawat pulang-pergi saja. Visa untuk warga Indonesia berlaku 90 hari dan bisa diperpanjang hingga 90 hari kemudian. Iklim dan cuaca negara Kolombia seperti layaknya di Indonesia, yang memiliki musim hujan dan musim panas. Efi sendiri mengakui tidak begitu sulit buat orang Indonesia untuk beradaptasi karena cuaca di Kolombia mirip dengan Indonesia. Ini berbeda dengan kota Bogota, yang berada di pegunungan atau dataran tinggi.

Bahasa yang digunakan warga Kolombia adalah Bahasa Spanyol, meskipun bahasa ini sedikit berbeda dengan Bahasa Spanyol di negara Spanyol seperti perbedaan kosakata. Perbedaan lainnya seperti subyek. Dalam Bahasa Spanyol ada 6 subyek, sedangkan dalam Bahasa Kolombia ada 5 subyek. Di Kolombia tidak ada sapaan seperti kakak, ibu, dan bapak seperti Bahasa Indonesia.

Soal kuliner di Kolombia, Efi merasakan sangat berbeda dengan Indonesia. Masakan Kolombia bisa saja memasukkan kacang merah, alpukat, singkong, jagung, atau pisang dan tidak banyak menggunakan rempah-rempah. Hal ini berbeda dengan kacang merah, alpukat atau singkong yang banyak digunakan dalam kuliner Indonesia sebagai dessert.

Follow us

Ada festival yang mirip di Kolombia seperti di Indonesia, yakni perayaan Semana Santa di Flores, Indonesia yang dilangsungkan selama tujuh hari dan menjelang Paskah. Stereotip yang selama ini dimunculkan pada telenovela atau opera sabun sewaktu Anna dan Fadni di Indonesia ternyata memang benar adanya, seperti kriminalitas di Kolombia. Efi pun mengakui tingkat kriminalitas di Kolombia pun cukup tinggi.

Bagaimana orang-orang Indonesia mempersepsikan negara Kolombia? Apakah Efi juga sempat mengalami culture shock selama tinggal di sana? Apa yang membuat Efi bertahan dan menyukai kehidupan bersama orang-orang Kolombia? Apa yang menarik dan menantang selama tinggal di Kolombia? Lalu apa yang perlu dipersiapkan kalau mau traveling ke Kolombia, yang mana WNI tidak perlu visa untuk berkunjung ke sana?

Lebih lanjut dan detilnya, silakan mendengarkan rekaman diskusi Podcast berikut ini:

(RUMPITA) Bagaimana Trauma Healing yang Tepat?

Pada episode ke-19 diskusi Podcast Rumpita – Rumpi bersama Ruanita – dipandu oleh Mutiah Nurfadni atau yang biasa akrab dipanggil Fadni mengambil tema tentang trauma.

Fadni sendiri adalah mahasiswi program studi master di salah satu universitas bergengsi di Berlin, Jerman. Untuk membahas lebih dalam tentang trauma, Fadni mengundang Estrelita Gracia., M.Sc. atau dikenal dengan Esta, yang juga Founder dari Momentizing yang berpusat di Taiwan.

Esta kini sedang mengambil master program psikologi klinis dewasa di salah satu universitas swasta di Jakarta, Indonesia. Esta berpendapat kita sebaiknya memilih kata yang tepat untuk menyebut trauma karena trauma adalah respon terhadap peristiwa yang membuat stres.

Trauma bisa terjadi secara kolektif seperti pandemi yang terjadi baru-baru ini. Covid-19 kemarin pun bisa memberikan trauma kolektif hingga menjadi budaya post-covid 19 yang baru seperti menggunakan konsep belajar digital, dan lainnya.

Follow us.

Menurut Esta, orang dengan trauma biasanya takut, tetapi orang yang takut belum tentu mengalami trauma. Trauma biasanya disertai dengan perasaan takut yang akut dan parah. Rasa takut tidak selalu menjadi trauma dan bergantung pada resiliensi/daya juangnya sehingga tidak menjadi trauma. Rasa takut berkepanjangan dan akut terhadap sesuatu tersebut dan tidak terselesaikan sehingga menjadi trauma.

Menjawab pertanyaan Fadni, Esta berpendapat bahwa orang harus bisa membedakan antara trauma dengan fobia yang biasanya ketakutan akan suatu objek. Trauma sendiri punya berbagai macam tergantung tingkatan, misalnya ada salah satu kejadian yang mengubah hidup kita seperti perang, pandemi, dll. Namun di sisi lain adalah kejadian yang sepele tetapi berlangsung sering/intens seperti misalnya pengabaian, kekerasan dalam rumah tangga, dsb bisa menyebabkan trauma.

Trauma perlu diatasi secara holistik (=holistic healing) dengan berbagai bantuan profesional seperti neurolog/ahli syaraf, psikiater, psikolog atau konselor. Kita perlu keseimbangan tubuh juga dengan nutrisi dan asupan makanan yang dikonsumsi dalam mengatasi trauma. Trauma perlu ditangani secara keseluruhan dan intensif, misalnya tidak cukup hanya konseling saja.

Apa perbedaan trauma yang terjadi pada anak-anak dengan orang dewasa? Bagaimana sebaiknya kita mengatasi trauma yang tepat? Apakah trauma bisa ditangani hanya dengan “Healing” yang menjadi gaya hidup kekinian? Bagaimana kita membantu anggota keluarga/kerabat yang lain yang sedang mengalami trauma?

Simak selengkapnya di diskusi Podcast Rumpita berikut ini:

(RUMPITA) Rasanya Menjadi First Time Mom di Jerman

Melanjutkan episode ke-18 di bulan Oktober, Podcast Rumpita mengangkat tema pengalaman menjadi seorang ibu pertama kali saat dia jauh dari keluarga besar di Indonesia dan tinggal di perantauan.

Untuk membahasnya lebih mendalam, Fadni yang menjadi Host dari Podcast Rumpita mengundang rekan Host lainnya, yakni Nadia yang saat ini sedang off dari Podcast Rumpita. Nadia dikabarkan sedang menjalani peran baru sebagai seorang ibu sehingga sedang mengambil cuti dari Podcast Rumpita.

Follow us.

Nadia telah tinggal lebih dari 10 tahun di Jerman sejak dia memulai studi S1. Tak disangka, Nadia pun menikah dan membangun keluarga di Jerman. Nadia pun merasakan berbagai perasaan yang menakutkan ketika dia mengetahui dirinya hamil. Perasaan cemas, khawatir, tidak percaya diri, hingga menyangsikan kemampuan diri sendiri sebagai ibu pun muncul dalam pikiran Nadia.

Bagi Nadia, tugas menjadi ibu adalah seumur hidup dalam menjalin ikatan batin antara ibu dengan anak. Nadia bertemu dengan suami, yang juga sesama pelajar asal Indonesia di Jerman, kemudian memulai hidup baru berkeluarga di Jerman. Tak hanya soal perasaan yang dialaminya, Nadia juga menceritakan pengalamannya untuk menyiapkan diri menjadi ibu seorang diri.

Nadia sempat didiagnosa punya kadar diabetes tinggi saat hamil. Dia pun harus wanti-wanti untuk mengonsumsi apa yang dinikmatinya selama hamil. Bagi Nadia, ketidakhadiran ibu dan keluarga besar di Indonesia membuat dia merasa was-was menantikan sang buah hati.

Di Indonesia, kita terbiasa mendapatkan berbagai segudang nasihat untuk ibu hamil. Belum lagi banyak sekali bentuk perhatian dan dukungan sosial yang diberikan keluarga besar. Namun, Nadia tidak mengalaminya saat dia seorang diri tinggal di perantauan.

Bagaimana pengalaman Nadia menyiapkan diri untuk tidak takut menghadapi proses kehamilan? Apa saja yang harus dipersiapkan kalau seorang perempuan pendatang seperti Nadia, hamil dan melahirkan di Jerman? Mengapa Nadia merasa cemas dan khawatir sebelum persalinan? Bagaimana proses persalinan pada umumnya di Jerman? Siapa yang membantu persalinan Nadia di Jerman?

Selengkapnya diskusi Podcast dapat didengar berikut ini:

(RUMPITA) Mengajar Bahasa Asing Untuk Orang Asing di Jerman

Episode Podcast RUMPITA yang ke-17 mengangkat tema tentang pengajaran bahasa asing untuk kemanusiaan, dalam rangka Hari Internasional Aktivitas Charity. Itu sebab kami mengundang tamu yakni Debora Sisca, yang berprofesi sehari-hari sebagai pengajar bahasa Jerman untuk pendatang, yang akan menetap di Jerman.

Sisca adalah warga Indonesia yang berasal dari Parakan, Temanggung. Kini dia menetap di Leipzig, Jerman atau sekitar dua jam kalau kita naik kereta dari ibu kota Jerman.

Sisca sudah menyukai pelajaran bahasa asing sejak duduk di Sekolah Dasar, yakni pelajaran Bahasa Inggris. Berawal dari tugas pertukaran budaya melalui program Au Pair, Sisca datang di tahun 2015.

Di situ, Sisca mendalami Bahasa Jerman bersama keluarga yang menjadi Host Family di area Freiburg. Ternyata pelajaran Bahasa Jerman yang dikuasainya sejak di Indonesia pun mengalami kendala karena Bahasa Jerman di tempat tinggalnya memiliki dialek.

Setelah menyelesaikan program Au-Pair dan kursus Bahasa Jerman di level C1, Sisca melanjutkan studi di Jena. Au-Pair menjadi batu loncatan untuk mimpi Sisca melanjutkan impian studi di Jerman. Sisca terinspirasi untuk meneruskan studi di Jerman, yang masih berkaitan dengan Germanistik, tepatnya jurusan Bahasa Jerman untuk Penutur Asing.

Follow us @ruanita.indonesia

Penutur Asing yang dimaksud adalah mereka yang datang ke Jerman untuk memulai hidup baru. Sisca menjelaskan bahwa kebanyakan pemelajar adalah mereka yang datang dari negara-negara konflik, atau karena keadaan sehingga mereka harus pindah ke Jerman.

Sebagai pengajar, Sisca mengalami banyak pengalaman menarik dan juga menantang. Menurut Sisca, tugas pengajar itu adalah seperti “memasak” atau meramu agar siswa didiknya bisa memahami apa yang disampaikan pengajar.

Sisca mengajar Bahasa Jerman yang menjadi bagian dari program integrasi budaya, yang memang diwajibkan oleh pemerintah Jerman. Pemelajar harus hadir setiap Senin hingga Jumat selama durasi 7 bulan. Sementara bagi Fadni, kemampuan bahasa asing itu karena kebiasaan. Sisca menyarankan untuk tidak menertawakan pemelajar yang salah berkomunikasi saat belajar bahasa asing.

Bagaimana Sisca menjelaskan metode pengajaran bahasa asing untuk orang asing demi kemanusiaan? Apa saja tantangan yang dihadapi oleh Sisca menghadapi orang-orang yang berbeda latar belakang negara dan budaya? Apa pengalaman menarik dari pengajaran bahasa asing untuk orang-orang yang berbeda latar belakang akademis dan kebutuhan pemelajar? Apa lesson learned dari Sisca sebagai pengajar bahasa asing di Jerman?

Simak selengkapnya diskusi Podcast RUMPITA Episode ke-17 berikut ini:

(RUMPITA) Cerita WNI di Singapura yang Setia pada Indonesia

Pada episode 16 di bulan Agustus 2023, Podcast RUMPITA – Rumpi bersama RUANITA mengundang Influencer asal Singapura, Virda Lestari yang dapat dikontak via akun Instagram: chuplayavirda dan telah menetap lebih dari 5 tahun di negeri tetangga Indonesia tersebut.

Virda, begitu disapa, sempat meneruskan studi S2 di Singapura dan menikah dengan pria berkebangsaan Rusia. Virda pun memutuskan untuk tinggal di Singapura. Dalam episode ini, Fadni yang adalah mahasiswi S2 di Jerman didampingi oleh Anna untuk sementara waktu.

Fadni membaca baru-baru ini hampir 4.000 WNI yang berganti kewarganegaraan menjadi WNA Singapura dan sempat menjadi pemberitaan di harian Indonesia. Berdasarkan fenomena tersebut, RUANITA mengundang Virda untuk berbagi pendapat dan pengalaman selama tinggal di Singapura.

Menurut Virda, pemerintah Singapura tidak menjanjikan apa-apa untuk menjadi warga negaranya. Virda berpendapat bahwa alasan orang memilih menjadi warga negara Singapura lebih pada kekuatan paspor Singapura untuk bisa berpergian dan mengunjungi berbagai negara di dunia.

Follow us ruanita.indonesia

Alasan selanjutnya menurut Virda, orang memilih menjadi warga negara Singapura dikarenakan benefits yang diperoleh oleh WNA Singapura dibandingkan mereka yang telah memiliki permanent resident di Singapura.

Benefits yang menjanjikan mulai dari tunjangan pekerjaan, pendidikan, properti, hingga kesehatan pada akhirnya membuat banyak orang tergiur untuk WNA Singapura, meskipun Anna menjelaskan kalau fenomena ini sudah ada dari sepuluh tahun lalu. Fadni mengamini kalau tiap tahun angka permintaan kewarganegaraan menjadi WNA Singapura dari Indonesia menjadi semakin bertambah.

Virda pun sempat terpikir untuk berganti kewarganegaraan, apalagi suami Virda pun sudah tinggal di Singapura lebih dari 20 tahun. Alasan yang mendominasi ingin berganti kewarganegaraan lebih pada kemudahan untuk traveling.

Virda berpendapat tidak mudah juga untuk mengajukan pergantian kewarganegaraan menjadi WNA Singapura, sama seperti mengajukan ijin tinggal di Singapura. Contohnya suami Virda yang berasal dari Rusia pun pernah ditolak menjadi WNA Singapura.

Diskusi ini juga membahas tentang nasionalisme sebagai orang Indonesia yang tinggal di luar Indonesia. Apakah ada terpikir oleh Virda yang masih WNI untuk berganti kewarganegaraan menjadi WNA Singapura atau WNA Rusia seperti suami?

Apa saja yang diperlukan kalau mau tinggal di Singapura? Bagaimana Virda memandang sesama WNI yang sudah berganti WNA Singapura? Apa pesan Virda sebagai WNI yang tinggal di Singapura dalam rangka Hari Kemerdekaan ke-78 Negara Kesatuan Republik Indonesia?

Simak diskusi Podcast RUMPITA episode 16 selengkapnya berikut ini:

Follow us di RUMPITA by RUANITA.

(RUMPITA) Pengalaman Studi Kedokteran Ayurveda di Delhi, India

Di bulan Juli 2023 Podcast RUMPITA mengundang Sahabat RUANITA yang tinggal di India dan sekarang sedang menempuh studi kedokteran yang berfokus pada Ayurveda. Dia adalah Rakanita Arifah yang berasal dari Tangerang dan kini menetap di India untuk mendalami pengobatan tertua di dunia, yang dikenal Ayurveda. Nita, demikian beliau disapa, mengenal Ayurveda sejak dia mengikuti jejak ibunya yang adalah guru Yoga di Bali.

Banyak orang Indonesia belum memahami dan tidak mengenali Ayurveda, di bawah Kementerian Ayush di India, Central Council of Indian Medicine, dan kurikulum pembelajarannya diatur oleh lembaga yang bernama CCIM (=Central Coucil Indian Medicine) sejak 1971. Nita pertama kali belajar bahasa Sansekreta untuk memelajari dasar-dasar Ayurveda, anatomi tubuh, fisiologis dan lainnya di tahun pertama studi.

Follow us: @ruanita.indonesia

Dalam Ayurveda, kita perlu memahami bahwa setiap orang bisa memiliki pengobatan yang berbeda meski memiliki penyakit yang sama dengan orang lain karena semua tergantung pada tipe tubuhnya.

Menurut Nita, konten pengobatan Ayurveda ini universal meski pendekatan yang dipakai seperti dalam ajaran agama Hindu. Pada tahun ketiga, Nita pun mulai mendalami kasus dan praktik klinis langsung di rumah sakit yang ditemani oleh dosen.

Di tahun keempat, Nita mulai menjalani praktik klinis langsung di rumah sakit sebagai tahun terakhir. Untuk praktik klinis langsung, Nita akan mendapatkan giliran bersama mahasiswa lainnya.

Nita banyak menggunakan bahasa pengantar Bahasa Inggris terutama untuk hal-hal yang masih belum dipahami selama pembelajaran.

Nita berharap usai studi Ayurveda dapat diaplikasikan di Indonesia terutama masyarakat Indonesia yang bisa menjadi alternatif pengobatan. Indonesia sendiri telah mulai diperkenalkan Ayurveda sebagai pengobatan sejak lama.

Bagaimana Nita menjalani studi kedokteran Ayurveda? Bagaimana Nita menjelaskan Ayurveda sebagai pengobatan untuk masyarakat yang belum banyak diketahui secara umum di Indonesia? Apa yang akan dilakukan oleh Nita setelah selesai studi?

Simak selengkapnya di Podcast RUMPITA – Rumpi bersama RUANITA berikut ini: