(KNOWLWDGE SHARING) Memahami Keberagaman Cara Kerja Otak

Frankfurt, 14 Februari – Ruanita Indonesia menyelenggarakan sesi Knowledge Sharing bertajuk “Neurodiversitas: Memahami Keberagaman Cara Kerja Otak”, sebuah ruang belajar daring yang mengajak peserta untuk melihat keberagaman neurologis secara lebih inklusif, empatik, dan membumi. Kegiatan ini diselenggarakan pada Sabtu, 14 Februari 2026, pukul 10.00 CET, melalui Zoom Meeting dengan durasi 120 menit.

Sesi ini menghadirkan Lovely Christi, Psikolog Klinis yang berbasis di Jerman, sebagai pemateri. Dengan pendekatan psikoedukasi dan knowledge sharing yang bersifat non-layanan terapi, sesi ini dirancang untuk memperluas pemahaman dasar tentang neurodiversitas, mengurangi stigma terhadap individu neurodivergen, serta mengajak peserta merefleksikan peran diri dalam menciptakan ruang yang lebih ramah dan aman, baik di keluarga, kampus, maupun lingkungan kerja.

Acara diawali dengan pembukaan yang menekankan penciptaan ruang aman, penyamaan ekspektasi, serta penegasan bahwa sesi ini tidak bertujuan untuk diagnosis dan terapi individual. Pengantar mengenai konsep neurodiversitas kemudian disampaikan, mencakup asal-usul istilah, perbedaannya dengan diagnosis medis, serta pengenalan istilah neurodivergen dan neurotipikal. Peserta diajak memahami mengapa pembahasan neurodiversitas menjadi semakin relevan dalam konteks kehidupan hari ini.

Dalam sesi berikutnya, pemateri mengulas ragam neurodiversitas yang sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari, seperti autisme, ADHD, disleksia, serta variasi neurologis lainnya. Pembahasan difokuskan pada kekuatan dan tantangan yang kerap muncul, sekaligus membongkar mitos yang masih melekat di masyarakat. Penekanan diberikan bahwa materi ini tidak ditujukan untuk self-diagnosis dan pelabelan.

Sesi refleksi interaktif menjadi ruang penting bagi peserta untuk berhenti sejenak dan meninjau kembali cara pandang personal dan sosial. Melalui pertanyaan reflektif yang bersifat opsional dan tanpa kewajiban berbagi, peserta diajak bertanya pada diri sendiri: tentang apa yang selama ini dianggap “tidak biasa”, serta sejauh mana lingkungan yang mereka hidupi sudah cukup ramah bagi keberagaman cara berpikir.

Diskusi kemudian diperluas ke konteks Indonesia dan lintas budaya. Tantangan yang dihadapi individu neurodivergen dalam budaya kolektivistik, ekspektasi keluarga dan pendidikan, hingga pengalaman tinggal, belajar, atau bekerja di luar negeri dibahas dengan menekankan pentingnya sensitivitas budaya. Dari sini, peserta diajak melihat bahwa inklusivitas tidak bisa dilepaskan dari konteks sosial yang melingkupinya.

Pada bagian praktis, sesi ini mengajak peserta untuk merefleksikan langkah-langkah sederhana namun berdampak dalam membangun sikap yang lebih inklusif. Mulai dari cara berkomunikasi, menjadi rekan atau anggota keluarga yang suportif, hingga memahami batas empati, dan bagaimana membantu tanpa memaksakan. Fokus tetap diarahkan pada sikap dan perilaku sehari-hari, bukan intervensi klinis.

Sesi tanya jawab berlangsung dengan panduan yang jelas untuk menjaga keamanan psikologis bersama. Pertanyaan difokuskan pada pemahaman dan sikap, tanpa membahas kasus personal secara mendetail atau meminta diagnosis. Acara ditutup dengan rangkuman poin kunci dan pesan reflektif dari pemateri, sebagai ajakan untuk terus belajar dan bertumbuh bersama.

Sebagai catatan penting, tujuan dari program Knowledge Sharing adalah berbagi pengetahuan, pengalaman, dan praktik baik dari para praktisi kesehatan mental Indonesia di berbagai negara, dengan menghadirkan ruang aman untuk mempromosikan kesehatan mental yang inklusif dan selaras dengan nilai-nilai Indonesia.

Program ini merupakan bagian dari inisiatif Ruanita Indonesia yang didirikan dan dikelola oleh Anna Knöbl di Jerman, sebagai ruang kolektif digital berbasis manajemen nilai, resource sharing, dan intervensi komunitas dalam konteks lintas negara. Inisiatif ini berfungsi sebagai social support system yang memanfaatkan teknologi digital modern sebagai medium interaksi dan pembelajaran.

(POLICY BRIEF) Memperkuat Keamanan Digital dan Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender Online bagi Perempuan Indonesia di Ruang Siber Global

POLICY BRIEF (DRAFT – UNTUK KOMNAS PEREMPUAN & KEMENPPPA) 

Disusun untuk: Komnas Perempuan & Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) 

1. Executive Summary 

Peningkatan Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO) terhadap perempuan Indonesia menunjukkan urgensi intervensi kebijakan yang lebih sistematis dan berbasis bukti. Bentuk-bentuk kekerasan seperti non-consensual dissemination of intimate images (NCII), sexual extortion, cyberstalking, penipuan berbasis relasi semu, serta penyalahgunaan teknologi deepfake semakin meluas. 

Policy brief ini menyajikan analisis dan rekomendasi strategis untuk memperkuat perlindungan melalui penguatan regulasi, literasi digital, akuntabilitas platform, dan layanan pemulihan, selaras dengan mandat Komnas Perempuan dan KemenPPPA. 

2. Latar Belakang 

KBGO meningkat dan menjadi ancaman serius terhadap hak asasi perempuan. Ruang digital menjadi bagian integral kehidupan perempuan, namun risiko seperti eksploitasi data, manipulasi teknologi, dan kekerasan psikologis terus berkembang. Mandat Komnas Perempuan dan KemenPPPA diperlukan untuk menghasilkan kebijakan efektif. 

3. Identifikasi Masalah Utama 

  • Kompleksitas bentuk KBGO seperti NCII dan deepfake. 
  • Dampak serius pada kesehatan mental dan partisipasi publik. 
  • Kerentanan teknis dan rendahnya literasi digital. 
  • Kesenjangan implementasi kebijakan dan layanan korban. 

4. Analisis Kebijakan 

KBGO melanggar hak atas rasa aman dan privasi. Intervensi diperlukan melalui penguatan pemantauan, layanan korban, akuntabilitas platform, dan edukasi publik. 

5. Rekomendasi Kebijakan 

A. Untuk Komnas Perempuan: 

  • Memperkuat dokumentasi dan pemantauan KBGO. 
  • Mengembangkan rekomendasi kebijakan terkait NCII dan deepfake. 
  • Sinkronisasi kebijakan antarlembaga. 
  • Memperluas kampanye perlindungan perempuan di ruang digital. 

B. Untuk KemenPPPA: 

  • Integrasi literasi digital sensitif gender dalam program nasional. 
  • Modul literasi digital bagi perempuan terkait keamanan data.
  • Penguatan layanan trauma-informed. 
  • Peningkatan kapasitas UPTD PPA dalam penanganan bukti digital. 

C. Kolaborasi Komnas Perempuan – KemenPPPA: 

  • Menyusun pedoman nasional penanganan KBGO. 
  • Kampanye nasional “Ruang Digital Aman bagi Perempuan Indonesia”. 
  • Membangun mekanisme rujukan cepat antarinstansi dan platform digital. 

D. Untuk Platform Digital: 

  • Mekanisme pelaporan cepat untuk NCII dan deepfake. 
  • Implementasi safety by default. 
  • Dialog teknis dengan pemerintah dan Komnas Perempuan. 

E. Untuk Sektor Pendidikan & Organisasi Sipil: 

  • Penguatan riset dan edukasi publik tentang KBGO. 
  • Pelibatan komunitas perempuan sebagai agen deteksi dini. 

6. Pesan Kunci 

KBGO adalah pelanggaran serius yang memerlukan respons terintegrasi. Literasi digital sensitif gender dan akuntabilitas platform adalah pilar utama. 

7. Penutup 

Ancaman digital terhadap perempuan Indonesia membutuhkan kolaborasi kuat antar lembaga negara, platform digital, dan masyarakat sipil. Rekomendasi kebijakan ini diharapkan memperkuat perlindungan perempuan di ruang digital.

Tertanda 

Tim Penyelenggara Forum Online: PhD Connections

  • Anna Knöbl, Founder Ruanita Indonesia
  • Ari Nursenja Rivanti, PhD Student di Finlandia
  • Zakiyatul Mufidah, PhD Student di UK
  • Fransisca Hapsari, PhD Student di Jerman
  • Anggy Eka Pratiwi, PhD Student di India

(SIARAN BERITA) Ruanita Sukses Gelar Diskusi Interaktif tentang Dukungan Psikologis dan Responsif Gender Lintas Budaya di Wina, Austria

Wina, 26 Oktober 2025 — Ruanita bersama Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Wina telah sukses menyelenggarakan kegiatan Diskusi Interaktif bertema “Berbagi Dukungan Psikologis dan Praktik Baik Responsif Gender Lintas Budaya Indonesia–Austria” pada Sabtu, 25 Oktober 2025 pukul 14.00 sampai dengan selesai.

Acara ini berlangsung secara luring di ruang pertemuan KBRI Wina, Austria, yang kemudian dimanfaatkan Tim Ruanita untuk showcase. Kegiatan ini menjadi wadah berbagi pengalaman lintas budaya bagi masyarakat Indonesia yang tinggal di Austria dan Slovenia.

Dalam sambutan pembuka, Dr. iur. Damos Dumoli Agusman, Duta Besar RI untuk Austria dan Slovenia sekaligus Organisasi Internasional di Wina, menyampaikan pentingnya memperkuat jejaring dukungan psikologis bagi orang Indonesia, terutama saat tinggal di mancanegara. Menurutnya, kesehatan mental dan kesetaraan gender merupakan bagian integral dari diplomasi kemanusiaan yang perlu terus ditingkatkan.

Diskusi menghadirkan dua pembicara utama, yaitu Anna Knöbl, PhD Student di Universität Passau di Jerman, yang juga founder dari Ruanita Indonesia, dan Liebgard Fuchs, Neuro-Mental Trainer di Austria. Anna menyoroti tantangan psikologis yang dihadapi orang Indonesia dalam konteks transnasional dan pentingnya pendekatan responsif gender dalam kesehatan mental.

Sementara Liebgard Fuchs atau yang disapa Libi, perempuan asal Austria ini memperkenalkan perspektif lintas budaya dan berbasis gender dalam merespon resiliensi tinggal di Austria. Libi juga adalah seorang Neuro-Mental Trainer yang juga memperkenalkan teknik emotional power tapping sederhana kepada peserta.

Sesi dipandu oleh Azizah Seiger, relawan Ruanita di Austria, yang membawa suasana diskusi menjadi dinamis dan interaktif. Peserta aktif berdialog, berbagi pengalaman, dan bertukar pandangan tentang praktik baik dukungan psikologis lintas budaya.

Kegiatan ini mendapat sambutan positif dari peserta karena berhasil menjembatani perspektif profesional dan pengalaman lapangan dalam isu kesehatan mental yang responsif gender.

Ruanita di bawah naungan Yayasan Ruanita Perempuan Indonesia, sebagai komunitas yang memperkuat psikoedukasi dan psikososial dalam lintas budaya bagi orang Indonesia di mancanegara, berkomitmen untuk terus menghadirkan ruang diskusi, edukasi, dan dukungan bagi orang-orang Indonesia yang tinggal di mancanegara.

Untuk informasi lebih lanjut, hubungi Azizah Seiger, Koordinator Acara melalui e-mail info@ruanita.com.

(SIARAN BERITA) Berbagi Pengetahuan Keperawatan dan Layanan Kesehatan Jiwa di Jerman

KALIMANTAN SELATAN, 18 Oktober – Dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia 2025, Ruanita Indonesia bekerja sama dengan Organisasi Kesmenesia serta Ikatan Perawat Kesehatan Jiwa Indonesia (IPKJI) di Kalimantan Selatan menyelenggarakan diskusi online lintas negara pada hari ini.

Kegiatan ini mengusung tema “Akses Layanan Kesehatan Mental Saat Genting dan Bencana”, sesuai dengan fokus peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia 2025 secara global tahun ini.

Acara dihadiri lebih dari seratus orang yang berlangsung secara daring melalui platform Zoom ini diikuti oleh anggota IPKJI, mahasiswa keperawatan jiwa, praktisi kesehatan jiwa, serta masyarakat umum yang tertarik dengan isu lintas budaya dalam kesehatan mental.

Diskusi dibuka oleh Maria Frani Ayu, perawat jiwa sekaligus koordinator penyelenggara, dilanjutkan dengan sambutan dari Achmad Syamsudin, Ketua IPKJI Kalimantan Selatan.

Sesi utama menghadirkan narasumber Aulia Farsi, perawat jiwa di Jerman sekaligus Co-founder Kesmenesia, yang berbagi pengalaman mengenai profesi perawat jiwa di Jerman, mulai dari sistem pendidikan, peran, hingga tantangan di lapangan.

Selain itu, Anna Knöbl, pendiri Ruanita Indonesia, juga membagikan praktik baik mengenai akses layanan kesehatan jiwa di Jerman khususnya pada situasi darurat dan bencana.

Follow us

Diskusi semakin interaktif dengan sesi tanya jawab berdurasi hampir satu jam, di mana peserta antusias menyampaikan pertanyaan seputar layanan kesehatan mental lintas negara. Acara kemudian ditutup dengan rangkuman serta pesan peneguhan dari Maria Frani Ayu.

Melalui kegiatan ini, para peserta mendapatkan wawasan mengenai sistem layanan darurat kesehatan mental di Jerman, seperti: unit gawat darurat psikiatri, hotline krisis 24 jam, serta tim intervensi cepat komunitas, yang dapat menjadi inspirasi dalam memperkuat peran perawat jiwa di Indonesia.

Penyelenggara berharap diskusi ini tidak hanya menjadi ajang berbagi pengetahuan, tetapi juga memperkuat kolaborasi antarprofesi kesehatan jiwa di lintas negara. 

(SIARAN BERITA) Soft Launch Kesmenesia

JERMAN – Dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia 2025, organisasi profesi kesehatan mental orang Indonesia di Eropa, Kesmenesia (Kesehatan Mental Indonesia di Eropa), mulai diperkenalkan kepada publik melalui acara Soft Launch Event yang dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting pada Sabtu, 11 Oktober 2025.

Menyadari tantangan hidup transnasional yang unik dalam menjaga kesehatan mental, mulai dari rasa rindu kampung halaman (homesickness), tekanan akademik maupun pekerjaan, isolasi sosial, hingga perbedaan budaya (cultural shock) dan risiko burnout, Kesmenesia hadir memperkuat psikoedukasi dan psikososial yang dibutuhkan warga Indonesia di mancanegara.

Follow us

Tentu saja, perbedaan cara pandang antara masyarakat Indonesia dan Eropa terhadap isu kesehatan mental seperti: stigma, ekspresi emosi, hingga sistem dukungan psikologi, menjadi konteks penting yang diangkat dalam forum ini.

Mengusung format “Workshop Online: Berbagi Kesehatan Mental dan Perbedaan Budaya”, ruang interaktif digital yang berdurasi dua jam ini dihadiri oleh orang-orang yang tertarik akan tema kesehatan mental, lintas budaya, dan migrasi yang ingin berbagi pengalaman yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari peserta.

Para fasilitator yang terdiri atas Co-founder Kesmenesia yang tinggal di Eropa ini memfasilitasi berbagai topik, mulai dari pengalaman menghadapi stigma, perbedaan sistem bantuan psikologis, hingga strategi adaptasi lintas budaya. Peserta juga diajak berbagi pengalaman personal mengenai cara menjaga keseimbangan identitas budaya Indonesia sekaligus berintegrasi dengan kehidupan di Eropa.

Pendiri Kesmenesia terdiri atas praktisi, penggiat, peneliti, akademisi yang berfokus pada kesehatan mental di Eropa. Mereka antara lain: Ranindra Anandita, Aulia Farsi, Sven Juda, Firman Tambunan, Bernadia Dwiyani, Fransisca Hapsari, Nelden Djakababa-Gericke, dan Anna Knöbl. 

Kesmenesia (Kesehatan Mental Indonesia Eropa) merupakan organisasi profesi kesehatan mental yang menghimpun para psikolog, tenaga kesehatan jiwa, akademisi, serta individu Indonesia yang peduli pada isu kesehatan mental di Eropa. Berlandaskan nilai empati, keterbukaan, dan profesionalisme, Kesmenesia berkomitmen memperjuangkan layanan kesehatan mental yang inklusif bagi orang Indonesia di mancanegara.

Kontak Media: E-mail indonesiakesmen@gmail.com 

(SIARAN BERITA) Workshop Jamu: Warisan Budaya Indonesia untuk Kesehatan Musim Dingin di Eropa

JERMAN – Hari ini, (15/01) Workshop Jamu yang bertemakan “Jamu: Warisan Penyembuhan Tradisional Indonesia untuk Kesehatan di Musim Dingin” resmi dibuka. Acara ini diperkenalkan kepada para mahasiswa internasional di Universitas Passau sebagai seni penyembuhan tradisional Indonesia melalui jamu, yang juga merupakan bagian penting dari warisan budaya tak benda Indonesia.

Pembukaan acara diawali oleh sambutan dari Perwakilan KJRI Frankfurt melalui video, yang menyampaikan dukungannya terhadap inisiatif ini meskipun tidak dapat hadir secara langsung. Sebagai informasi, KJRI Frankfurt telah memfasilitasi workshop jamu ini agar acara berjalan sukses.

Selain itu, hadir di lokasi, Dr. rer. grout. Roniyus Marjunus, S.Si., M.Sc., Atase Pendidikan dan Kebudayaan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Berlin tampak memenuhi undangan untuk memberikan sambutan setelah KJRI Frankfurt.

Dalam sambutannya, Atdikbud KBRI Berlin menekankan pentingnya jamu sebagai simbol warisan budaya dan potensinya dalam mempererat hubungan akademik serta diplomatik antara Indonesia dan komunitas internasional.

Workshop ini bertujuan untuk memperkenalkan jamu sebagai solusi kesehatan yang alami dan berkelanjutan, terutama di tengah musim dingin. Selama sesi interaktif yang berlangsung selama tiga jam, para peserta tidak hanya belajar teori tentang jamu, tetapi juga berkesempatan untuk mempraktikkan pembuatan dan mencicipinya secara langsung.

Melalui acara ini, diharapkan tercipta pemahaman budaya yang lebih baik dan penguatan hubungan antara Indonesia dengan komunitas akademik internasional, khususnya di Jerman. Selain itu, program ini juga menjadi langkah strategis dalam mempromosikan potensi ekspor jamu dan relevansinya dalam diskusi kesehatan global masa kini.

Workshop Jamu ini merupakan salah satu program unggulan yang diinisiasi oleh Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Frankfurt, bekerja sama dengan Universitas Passau, guna memupuk dialog lintas budaya dan jembatan pendidikan serta membangun kerja sama yang lebih kuat di masa mendatang.

(AISIYU) Butuh Teman Bercerita

Nama pembuat foto: Anna

Lokasi negara tinggal: Jerman

Judul foto: “Butuh Teman Bercerita: Program Konseling Online Ruanita”

Keterangan foto: Per Agustus 2024, Ruanita Indonesia telah melayani sesi konseling online berbahasa Indonesia kepada lebih dari 60 orang yang tinggal di berbagai lokasi negara, sejak 2021. Program ini diselenggarakan secara gratis dan sukarela oleh Anna Knöbl, setiap Selasa dan Kamis pukul 18.00-20.00 waktu Eropa Tengah. Mayoritas peserta konseling online adalah perempuan Indonesia yang tinggal di mancanegara.

(SIARAN BERITA) Diskusi Kesehatan Mental di Lingkungan Kerja

Jerman, 2024 – Dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia 2024, Ruanita Indonesia dengan dukungan KJRI Frankfurt dan Komunitas ALZI Jerman sukses menyelenggarakan diskusi bertema “Sehat Secara Mental, Produktif Secara Optimal” di Aula KJRI Frankfurt.

Acara ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan yang dirancang untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya kesehatan mental, khususnya di lingkungan kerja, yang sesuai dengan tema World Mental Health Day 2024.

Acara ini menghadirkan Fransisca Hapsari, Relawan Ruanita di Jerman dan mahasiswi PhD Psikologi di Technische Universität Darmstadt, sebagai pemateri pertama. Pemateri kedua adalah Sven Juda, mahasiswa (M.Sc.) Maastricht University Belanda, yang berfokus pada Psikologi Industri dan Organisasi.

Acara dibuka dengan sambutan oleh Konjen KJRI Frankfurt Antonius Yudi Triantoro yang menegaskan pentingnya kesehatan mental dalam mendukung produktivitas dan hubungan kerja yang harmonis. Sebagai moderator diskusi, Relawan Ruanita lainnya, yakni Sesilia Susi, yang merupakan lulusan (M.A.) Hochschule Schmalkalden yang sedang bekerja sebagai Finance Staff di IOM, Berlin.

Diskusi dihadiri oleh para pekerja Indonesia di Jerman dan sejumlah warga Indonesia lainnya, yang datang langsung ke Aula KJRI Frankfurt ataupun mengikutinya secara daring via zoom meeting. Tujuan diskusi ini berfokus pada cara mengenali gejala awal gangguan kesehatan mental di tempat kerja serta strategi praktis untuk menciptakan lingkungan kerja yang mendukung kesejahteraan mental.

Sesi utama dimulai dengan pemaparan materi, yang menjelaskan definisi kesehatan mental di tempat kerja, gejala-gejala awal gangguan mental yang perlu diperhatikan, serta solusi dan strategi untuk menjaga keseimbangan mental di lingkungan kerja.

Selain itu, materi tentang situasi praktis dan kontekstual di Jerman juga turut dibagikan di sini. Sesi ini diakhiri dengan sesi tanya jawab yang interaktif, di mana peserta berbagi pengalaman dan menanyakan tips lebih lanjut terkait menjaga kesehatan mental di tempat kerja.

Pada kesempatan ini, Ruanita Indonesia sebagai social support system di mancanegara berkesempatan untuk ramah tamah dan berbincang dengan warga Indonesia di Frankfurt untuk memperkenalkan layanannya, terutama bagi mereka yang membutuhkan dukungan sosial.

Ruanita Indonesia, sebuah organisasi nirlaba yang didedikasikan untuk isu kesehatan mental dan kesetaraan gender bagi warga Indonesia di mancanegara, terus berupaya mempromosikan pentingnya kesehatan mental sebagai bagian integral dari kesejahteraan hidup.

Untuk materi informasi, dapat disimak lewat rekaman berikut di kanal YouTube kami:

(SIARAN BERITA) Pemutaran Perdana Film Dokumenter “Dua Kali” dan Diskusi Bertema Kesehatan Mental

Hamburg, 2024 – Dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia yang jatuh pada 10 Oktober, RUANITA Indonesia bekerja sama dengan KJRI Hamburg dan PPI Hamburg akan menyelenggarakan acara Pemutaran Perdana dan Diskusi Film “Dua Kali”.

Acara ini akan berlangsung pada Sabtu, 12 Oktober 2024 bertempat di Aula KJRI Hamburg, mulai pukul 13:30 hingga 16:00 CEST.

Film “Dua Kali”, yang diproduksi secara sukarela oleh relawan RUANITA, mengangkat isu-isu seputar kesehatan mental yang masih dianggap tabu dalam banyak masyarakat, terutama bagi masyarakat Indonesia di luar negeri.

Film dokumenter ini mengisahkan perjalanan perempuan Indonesia yang tinggal di luar negeri dan menghadapi tantangan terkait kesehatan mental.

Melalui film ini, RUANITA berharap dapat mengurangi stigma terhadap orang dengan gangguan mental, serta membangun solidaritas bagi mereka yang sedang berjuang dalam kesunyian.

Acara ini terdiri dari dua sesi utama, yakni pemutaran film dan diskusi mendalam bersama para ahli dan pembuat film. Aulia Farsi, psychiatric nurse di Jerman, dan Andi Arieta Amata Umar, Ketua PPI Hamburg, akan hadir sebagai penanggap dalam diskusi.

Selain itu, Ullil Azmi, sutradara film, serta Mariska Ajeng Harini, koordinator proyek film, juga akan berbagi pandangan mengenai proses produksi dan tujuan film ini.

Melalui acara ini, RUANITA berharap dapat meningkatkan kesadaran masyarakat Indonesia di Jerman tentang pentingnya kesehatan mental, sekaligus menyediakan ruang aman bagi mereka untuk berbagi pengalaman hidup di perantauan.

RUANITA juga berkomitmen untuk terus mendukung komunitas Indonesia di luar negeri dalam mengatasi tantangan kesehatan mental melalui pendekatan berbasis nilai dan sistem dukungan sosial.

RUANITA – Rumah Aman Kita, adalah komunitas digital yang memberikan dukungan dan psikoedukasi kepada perempuan Indonesia di mancanegara, dengan fokus pada kesetaraan gender, kesehatan mental, dan berbagi praktik hidup yang positif di luar negeri.

Melalui program diskusi dan menonton film bertema kesehatan mental ini, RUANITA berharap bisa mendorong lebih banyak percakapan terbuka tentang kesehatan mental dan memberikan rekomendasi kepada pemerintah Indonesia mengenai sistem layanan kesehatan mental di luar negeri, khususnya di Jerman.

Untuk informasi lebih lanjut atau pendaftaran, silakan kunjungi situs web kami di www.ruanita.com atau hubungi kami di info@ruanita.com.

(GALERI FOTO) Live Talkshow di TVRI World Berbicara Eksistensi Ruanita Indonesia

Dalam rangka menjangkau lebih banyak orang-orang Indonesia di mancanegara, Ruanita Indonesia hadir membagikan keberadaannya lewat program Live Talkshow yang menjadi salah satu program TVRI World dalam siaran berbahasa Inggris. Ruanita Indonesia diwakilkan oleh Hernita Oktarini dan Anna Knöbl menceritakan tentang bagaimana awal mula terbentuknya Ruanita Indonesia sebagai social support system untuk warga Indonesia, terutama perempuan di mancanegara.

Siaran TVRI World ini sudah tayang di sejumlah negara di dunia, termasuk Eropa melalui misi kebudayaan yang memperkenalkan Indonesia lebih mendunia dalam siaran berbahasa Inggris.

(SIARAN BERITA) Ruanita Indonesia Lakukan Audiensi dan Diskusi dengan Kementerian Luar Negeri RI

INDONESIA – Berdasarkan laporan permasalahan dan tantangan hidup tinggal di luar Indonesia, Ruanita (Rumah Aman Kita) Indonesia pada hari Rabu (20/9) melakukan kunjungan ke Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia. Hadir dari tim Ruanita Indonesia antara lain: Natasha Hartanto, Hernita Oktarini, dan Anna Knöbl.

Dalam kesempatan tersebut, juru bicara dari Ruanita Indonesia yakni Natasha menjelaskan: profil Ruanita Indonesia, permasalahan dan tantangan warga Indonesia di luar Indonesia, dan harapan Ruanita Indonesia terhadap Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Republik Indonesia.

Diskusi dan audiensi dari Kemlu dihadiri oleh Ardian Wicaksono, Fungsional Diplomat Madya di Amerika I, Ditjen Amerop; Chairul dari Direktorat Perlindungan WNI; dan Faisal dari Direktorat Eropa II.

Mereka mengapresiasi kinerja Ruanita Indonesia yang banyak terlibat untuk melakukan fungsi psikosial dan pendampingan permasalahan perempuan Indonesia di luar Indonesia, terutama area domestik.

Pada kesempatan tersebut, Kemlu RI memperkenalkan tentang aplikasi peduli yang diperuntukkan untuk warga Indonesia yang tinggal lebih dari 6 bulan dan bukan sebagai turis di negara tujuan. Aplikasi ini dilengkapi dengan fitur pelayanan lapor diri hingga tombol darurat yang dapat menginformasikan titik koordinat GPS bila warga Indonesia memerlukan bantuan darurat.

Sebagai contoh, ada seorang warga Indonesia yang tinggal di Jepang dan mengalami serangan jantung. Lalu dia menekan tombol darurat yang langsung terhubung dengan KBRI/KJRI terdekat. Alhasil, pertolongan pun datang sehingga dia tidak mendapatkan hal yang fatal. Sebenarnya lapor diri juga diperlukan untuk memastikan keberadaan warga Indonesia dan dapat dikenakan sanksi bila tidak melakukan lapor diri.

Aplikasi lain yang diperkenalkan Kemlu RI adalah aplikasi Safe Travel yang diluncurkan saat pandemi Covid-19 lalu. Aplikasi ini diperuntukkan untuk warga Indonesia yang tinggal kurang dari 6 bulan atau sebagai turis. Aplikasi ini memudahkan warga Indonesia untuk mengetahui situasi darurat di negara tujuan atau kontak perwakilan Indonesia di luar negeri.

Ruanita Indonesia mengharapkan adanya standar prosedur bagi warga Indonesia di luar negeri untuk melaporkan kejahatan/kriminalitas/permasalahan hukum yang dihadapi; fungsi konsuler yang aktif dan responsif dalam situasi darurat; memberikan sosialisasi dan edukasi yang mendalam dalam rangka preventif untuk permasalahan domestik; informasi dan komunikasi yang efektif tentang kondisi dan peraturan imigrasi negeri asing, dan perlindungan hak-hak WNI.

Dalam diskusi terbuka antara Ruanita Indonesia dengan Kemlu RI disebutkan pula tentang perlunya dukungan psikososial dan kapasitas knowledge yang diperlukan para diplomat KBRI/KJRI yang bertugas tentang masalah hukum yang menyangkut area domestik seperti hak asuh anak, perceraian, kekerasan dan pelecehan seksual sehingga hak hukum mereka dapat terpenuhi.

Selain itu, Kemlu diharapkan dapat membangun dialog hukum seputar hak-hak warga Indonesia di luar negeri yang lebih sering dengan melibatkan komunitas orang Indonesia di mancanegara atau organisasi kemasyarakatan seperti Ruanita Indonesia. Ruanita Indonesia juga berharap Kemlu dapat memiliki standar yang jelas dalam mengatasi pelanggaran hukum yang dilakukan seseorang dengan gangguan kesehatan mental.

Kesulitan warga Indonesia di luar negeri dalam memenuhi hak hukum dikarenakan kondisi finansial seperti tidak ada biaya untuk membayar pengacara setempat dan tidak ada biaya untuk penerjemah kasus hukumnya pun dibahas dalam diskusi terbuka.

Kemlu RI menyebutkan beberapa kasus hukum yang ditangani negara, apabila warga Indonesia dapat segera melaporkan permasalahan hukum yang ditanganinya.

Kemlu RI berharap sosialisasi terhadap aplikasi perlindungan WNI di luar negeri dapat ditingkatkan lagi, pembekalan untuk staf KBRI/KJRI dapat diperkuat untuk area domestik dan pemenuhan hak-hak perempuan di luar negeri dengan melibatkan Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan), dan lebih sering mengadakan dialog kemasyarakatan dengan melibatkan organisasi seperti Ruanita Indonesia lewat program-programnya.

(PRODUK) Buku: Warna-warni Kepemimpinan Perempuan

Ruanita Indonesia adalah komunitas orang Indonesia di mancanegara yang mendukung tujuan pembangunan keberlanjutan terutama untuk poin „Kesehatan Mental“ dan poin „Kesetaraan Gender“ serta membagikan praktik baik orang Indonesia melalui pengalaman, pengamatan dan pengetahuan dalam berbagai programnya.

Pada fokus kesetaraan gender, RUANITA melakukan berbagai program yang melibatkan banyak perempuan Indonesia di luar negeri untuk menggali potensi mereka dan menempatkan mereka untuk berbagi dukungan satu sama lain terutama untuk kelompok yang rentan ketika kami sedang berada di mancanegara.

Dengan prioritas manajemen berbasis nilai yang diusung, RUANITA diharapkan bisa menjadi social support system di luar negeri yang mendukung partisipasi perempuan Indonesia di luar negeri. Namun akses partisipasi perempuan Indonesia masih terbilang rendah baik di Indonesia maupun di luar Indonesia.

Salah satu cara meningkatkan partisipasi perempuan Indonesia dengan promosi praktik baik yang dituangkan dalam tulisan, yang ditulis oleh warga Indonesia di mancanegara melalui program Warga Menulis.

Program Warga Menulis 2023 sudah berhasil terlaksana berkat kerja sama antara RUANITA dengan APPBIPA Jerman pada 4-5 Februari 2023 dan telah menghasilkan 13 naskah bertema kepemimpinan perempuan di ruang publik yang kemudian dibukukan.

Follow us: @ruanita.indonesia

Para penulis naskah dalam buku ini berasal dari Jerman, Swiss, Spanyol, Belanda, dan Norwegia. Sosok perempuan yang ditulis tidak hanya para perempuan dari Indonesia yang menjadi pemimpin, tetapi juga para perempuan pemimpin dunia yang berada di luar Indonesia. Para perempuan yang menginspirasi tidak hanya sosok perempuan masa kini yang dikenal, tetapi juga perempuan pemimpin di masa lalu dalam peradaban sejarah.

Perempuan pemimpin tidak hanya dalam area publik saja, perempuan pun bisa memimpin dalam area privat. Kepemimpinan bukan berarti posisi tinggi dan posisi rendah, melainkan melibatkan perempuan untuk mengambil kebijakan dalam berbagai situasi, termasuk situasi bencana/krisis kemanusiaan. Bagaimanapun penulis buku ini tidak hanya perempuan saja, tetapi juga ada pria yang ikut menyuarakan kepemimpinan perempuan.

Oleh karena itu, buku ini kami beri judul: Warna-warni Kepemimpinan Perempuan yang mewakili suara warga Indonesia di mancanegara. Kata pengantar buku ini ditulis oleh Dubes RI untuk Denmark & Lithuania; Atdikbud KBRI Berlin; dan Sastrawan sekaligus Jurnalis. Buku ini tidak kami jual. Kami berharap buku ini mampu menyuarakan suara-suara warga Indonesia di mancanegara.

(WARGA MENULIS) Kepemimpinan Perempuan kala Bencana, Mungkinkah?

Apa yang Anda bayangkan jika mendengarkan kepemimpinan perempuan dalam bencana atau krisis seperti krisis pandemi yang baru saja kita lewati?

Ada yang menarik tentang kepemimpinan perempuan di negeri tua dalam peradaban manusia berabad-abad lalu saat saya berlibur ke Mesir. Di sana saya mengunjungi berbagai tempat-tempat bersejarah dan mengetahui bagaimana negeri tertua di dunia tersebut mengalami masa kejayaan.

Pemandu wisata menjelaskan bagaimana tiap Firaun, Sang Penguasa Mesir terlibat dalam berbagai kepemimpinan memimpin negeri itu. Firaun sebagai penguasa adalah para pria. Itu dalam benak saya saat itu. Pertanyaan saya kepada pemandu wisata, apakah tidak ada Firaun seorang perempuan? Dia pun menjawab, tentu ada Firaun yang juga seorang perempuan.

Tercatat ada 6-8 Firaun perempuan dari sekian banyak Firaun yang pernah berkuasa di Mesir. Di zaman kuno, Firaun yang notabene perempuan dipilih sangat jarang sekali dalam budaya patriarki yang masih kental. Kepemimpinan Firaun perempuan lebih ditekankan pada saat Mesir terjadi krisis. Misalnya, ketika sang Firaun laki-laki wafat dan tidak ada penggantinya lagi maka terpilihlah istrinya.

Bagaimana sih kepemimpinan perempuan saat bencana atau krisis?

Perempuan mampu memberdayakan komunitasnya secara partisipatif dan komunikatif ketimbang pemimpin lelaki yang lebih terkesan hierarki dan komando. Begitu dari literatur yang saya baca seputar kepemimpinan perempuan pada masa itu. Saya membayangkan bagaimana Cleopatra dengan cerdik memimpin negeri Mesir dan namanya tidak lekang oleh waktu.

Kepemimpinan perempuan di masa kini tentu Anda sudah mengenal berbagai tokoh dunia perempuan lainnya. Kepemimpinan kala bencana menurut saya, tidak harus selalu menjadi Leader tetapi perempuan diberi kesempatan dalam urusan publik seperti krisis Pandemi Covid-19. Saat krisis pandemi kemarin contohnya, ada kehadiran perempuan dalam penemuan vaksin Astrazeneca. Dia adalah Sarah Gilbert, seorang penemu perempuan dan lainnya adalah perempuan asal Indonesia yakni Carina Citra Dewi Joe.

Beralih ke pengalaman lainnya saat Pandemi Covid-19 lalu. Seorang rekan yang bekerja di LSM di Indonesia beberapa waktu lalu bercerita kepada saya tentang pendistribusian logistik dari pemerintah yang disampaikan kepada keluarga-keluarga binaannya.

Follow us: @ruanita.indonesia

Sebut saja Mbah, perempuan berusia lima puluh tahunan ini terpaksa menjadi tulang punggung keluarganya. Dia bekerja di sawah karena suaminya meninggal. Mbah tidak punya Handphone dan televisi karena pekerjaannya hanya sebagai buruh tani. Saat staf LSM mengantarkan bantuan sembako kepada Mbah, Mbah terkejut bercampur bahagia.

Mbah pun terharu dan menitipkan pesan terima kasih kepada Covid yang telah memberikan bantuan kepadanya. Rupanya Mbah tidak pernah melihat perkembangan situasi tentang Pandemi Covid-19 lalu. Mbah berpikir kalau Covid adalah nama seorang dermawan.

Anda bisa membayangkan bagaimana krisis atau bencana melanda perempuan seperti Carina Joe atau seperti Mbah yang kurang akses informasi. Belum lagi pasca bencana, perempuan dihadapkan pada situasi kehilangan suami atau anggota keluarganya yang menjadi tulang punggung keluarganya.

Perempuan masih berurusan dengan kesiapan mental dan masalah ekonomi yang harus dipecahkan solusinya apalagi bila dia tidak bekerja dan tidak punya lagi tempat tinggal akibat bencana. Rentetan persoalan perempuan saat bencana bukan lagi soal perempuan yang rentan secara fisik melainkan perempuan yang bisa jadi tidak diberi kesempatan dalam situasi krisis atau bencana. Lainnya, perempuan yang tidak tahu harus bertindak karena berbagai keterbatasannya.

Peran perempuan sebagai Caregiver keluarga apalagi saat bencana sangat terasa sekali saat krisis kemanusiaan Pandemi Covid-19 yang baru-baru ini kita alami. Perempuan diminta untuk mengurusi anak-anak dan keluarganya di rumah. Belum lagi, beban ganda para perempuan bekerja yang dituntut berbagi tugas dan tanggung jawab antara urusan pekerjaan dan rumah tangga dalam 24 jam.

Seorang rekan perempuan asal Indonesia yang tinggal di Jerman mengeluhkan beban ganda yang harus dipikulnya manakala Pandemi Covid-19 melanda dunia. Dia memilih bekerja porsi Teilzeit atau pekerjaan paruh waktu di rumah. Sementara dia juga harus menjadi guru bagi anak-anaknya yang juga semua dilakukannya di rumah. Hingga akhirnya dia datang kepada saya mengeluhkan semua yang dialaminya tersebut. Masalah psikologis adalah masalah yang tidak pernah terpikirkan ketika bencana datang.

Itu baru masalah psikologis selama bencana yang dihadapi perempuan sebagai Caregiver, mengurusi, dan merawat anggota keluarga lainnya bahkan keluarga besarnya. Selama bencana, perempuan berada di garda terdepan untuk menyelamatkan keluarganya. Anggapan ini berkembang kuat di masyarakat.

Padahal tugas menyelamatkan keluarga saat bencana tidak hanya perempuan saja, (tetapi) seharusnya juga laki-laki. Pandangan perempuan sebagai kelompok rentan secara fisik saat terjadi bencana atau krisis tentu bisa dipatahkan dengan melibatkan perempuan dalam berbagai kesempatan seperti ibu-ibu di tenda bantuan untuk berkoordinasi dengan petugas lapangan tentang ketersediaan logistik, mencatat kebutuhan pengungsi hingga tenaga kesehatan otodidak hanya karena perempuan dianggap sebagai Caregiver keluarga. 

Saya pernah terlibat dalam penanganan trauma psikologis pada saat bencana gempa bumi di Yogyakarta tahun 2006 silam. Kami tidur di posko bantuan yang lokasinya aman bersama pengungsi lainnya. Kami punya tim sukarelawan yang berasal dari warga sendiri untuk membantu mendata kebutuhan logistik warga seperti misalnya, apa saja yang diperlukan tiap-tiap rumah tangga saat itu.

Hal menarik, laporan pendataan yang ditulis perempuan lebih terstruktur ketimbang laki-laki dalam mengumpulkan data. Kami juga punya program penyuluhan tentang kesiapsiagaan kalau bencana datang lagi. Agar informasi ini tersampaikan dengan baik, kami meminta relawan untuk menjadi penyuluh yang datang ke keluarga-keluarga yang terdampak.

Hal menarik kedua adalah penyuluh perempuan itu lebih komunikatif dan interaktif dalam menyampaikan informasi ketimbang laki-laki. Itu hanya pengamatan saya saja kalau penyuluh perempuan itu lebih disukai daripada penyuluh laki-laki.

Saya tertarik untuk menuliskan kepemimpinan perempuan saat bencana ketika saya pernah terjun langsung mendampingi korban bencana seperti bencana gempa bumi tahun 2006 dan banjir besar di Jakarta tahun 2007. Pada saat banjir besar di Jakarta tersebut, saya masih bekerja di Jakarta dan bertugas mendampingi area yang terdampak sebagai sukarelawan.

Budaya patriarki masih kental ketika warga yang menjadi korban lebih memilih laki-laki sebagai tenaga relawan. Alasannya perempuan dianggap lemah secara fisik. Anggapan lainnya adalah perempuan sudah seyogyanya merawat dan mengurusi anggota keluarganya yang terdampak bencana di rumah. Para perempuan hanya dilibatkan untuk dapur umum kadang-kadang atau tenaga otodidak kesehatan di tenda pengungsian.

Ketika saya membicarakan soal pembagian peran perempuan dan laki-laki saat di kedua bencana tersebut, hal ini masih berbenturan dengan kebijakan yang mengatur proporsi perempuan dan laki-laki dalam penanggulangan bencana. Mereka tidak ingin melibatkan banyak perempuan karena anggapan di masyarakat.

Perempuan dianggap rentan secara fisik dan dipandang sebelah mata dalam program pasca atau Recovery bencana. Anggapan yang salah dari keyakinan banyak warga yang meremehkan peran serta perempuan. Dalam penanggulangan bencana, anggapan yang menyudutkan seperti “Perempuan bisa apa?” seperti tidak memberikan kesempatan perempuan yang ingin mencoba dan berdaya.

Kembali lagi soal pendekatan kepemimpinan yang dilakukan perempuan seperti partisipatif dan komunikatif, perempuan bisa mengambil bagian terlibat dalam program penanggulangan bencana atau pasca krisis seperti krisis Pandemi Covid-19 yang baru-baru ini terjadi. Dengan gaya kepemimpinan perempuan tersebut, perempuan bisa terlibat dalam manajemen risiko bencana.

Mengapa? Perempuan dianggap memiliki ikatan sosial yang kuat dalam masyarakatnya ketimbang laki-laki. Para ibu ingat betul siapa saja tetangga-tetangga mereka yang perlu ditolong, ketimbang para bapak. Ini hasil pengamatan saya saat membantu dalam dua bencana yang disebutkan di atas.

Gaya perempuan yang komunikatif ternyata membuat pesan tanggap darurat bencana lebih diterima ketimbang gaya komunikasi laki-laki yang terkesan komando. Kepemimpinan tidak harus selalu menjadi Leader, tetapi perempuan diberi kesempatan dalam urusan publik. Itu saja, menurut saya.

Di Hari Perempuan Sedunia 2023 ini saya berpesan agar kepemimpinan perempuan bisa dimulai dengan banyak melibatkan perempuan dalam ruang publik, tidak menunggu sampai bencana datang. Dalam situasi tanggap darurat seperti krisis atau bencana, perempuan perlu dilibatkan.

Kita bisa memulai dari sekarang, sebelum bencana atau krisis datang, dengan mengajak peran serta perempuan untuk penyusunan kebijakan payung hukum tanggap bencana, manajemen risiko bencana hingga program Life Skills pemberdayaan komunitas pasca bencana.

Kepemimpinan menurut saya tidak serta merta dalam urusan posisi mana yang lebih tinggi dan lebih rendah. Namun bagaimana duduk bersama-sama dan menganggap bahwa perempuan perlu diberi kesempatan, dalam hal apapun, termasuk situasi krisis, bencana atau tanggap darurat. Selamat Hari Perempuan Sedunia 2023!

Penulis: Anna Knöbl, peserta Workshop Warga Menulis 2023 dan tinggal di Jerman.

(IG LIVE) RUANITA Bagikan Tema Kawin Campur yang Berbeda kepada Pendengar Radio RRI Pro 1 FM

Di bulan September 2022 ini RUANITA menggelar Media Tour ke berbagai radio dan majalah di Jakarta dan Bali. Tim RUANITA diwakili oleh Anna Knöbl dan Yenni Connell. Melalui buku Cinta Tanpa Batas yang menjadi produk RUANITA untuk membagikan kisah kawin campur yang berbeda.

Bincang-bincang pagi di RRI Pro 1 FM ini dipandu oleh Nova di studio RRI, Jakarta. Diawali dengan penjelasan profil RUANITA, Anna menegaskan sebagai social support system di mancanegara. Bahkan Anna mengakui sebagian besar dia belum pernah bertemu muka dengan volunteers atau penerima manfaat RUANITA, termasuk 25 perempuan penulis di buku ini.

Nova sebagai penyiar telah mengajak pendengar RRI Pro 1 FM untuk mengenal lebih jauh, siapa dan di mana saja para penerima manfaat RUANITA. Anna menegaskan bahwa ini sebagai wadah kolektif dari mereka yang berbagi cerita, ilmu dan praktik baik melalui platforma teknologi. Melalui RUANITA, Anna berharap orang Indonesia tidak lagi merasa sendirian dalam mengatasi permasalahannya di luar negeri.

Buku Cinta Tanpa Batas ditulis dari kisah nyata oleh 25 perempuan di 12 negara. Melalui buku ini, Anna ingin menjelaskan untuk tidak meromantisasi pernikahan dengan Warga Negara Asing atau memandang sebelah mata tentang kawin campur. Buku ini memiliki kekuatan tentang tema yang dianggap tabu dan tak banyak diketahui publik seperti KDRT, diskriminasi, perpisahan dan lain sebagainya yang berkaitan dengan Lessons Learned.

Bagi mereka yang sedang menyiapkan pernikahan dengan warga negara asing, kita perlu mempelajari dulu budaya dan bahasa yang menjadi asal negara pasangan hidupnya. Pesan yang kuat dari buku ini adalah perempuan perlu memahami hak yang diperoleh setelah menikah dengan pria WNA agar tahu hukum yang sedang berlaku.

Yenni juga menceritakan bahwa kebahagiaan itu tak mengenal usia seperti bagaimana pertemuannya dengan suami saat usianya sudah memasuki 53 tahun. Lewat aplikasi kencan online, Yenni ingin membagikan saran untuk terhindar dari penipuan dan kepalsuan cinta.

Sebenarnya ada banyak benturan budaya yang dihadapi perempuan Indonesia saat menikahi pria WNA. Oleh karena itu bekal informasi seperti budaya dan bahasa lokal akan sangat membantu untuk beradaptasi di negara suami.

Tak banyak orang Indonesia yang akan menetap di luar negeri memahami hak yang diperoleh sebagai isteri/suami, pekerja, pelajar dan sebagainya. Perhatikan hukum-hukum di negara tujuan dan hak yang diperoleh seperti hak kursus bahasa asing gratis, hak bekerja dll.

Untuk menyaksikan siaran ulangnya, silakan disimak lewat tayangan berikut:

(SIARAN BERITA) Peluncuran Buku Bertema Perkawinan Campuran

JERMAN – Ruanita – Rumah Aman Kita bekerja sama dengan Padmedia Publisher di Indonesia telah menyelenggarakan proyek bersama untuk mengumpulkan cerita pengalaman para pelaku kawin campur, yakni pernikahan antara Warga Negara Indonesia (WNI) dengan Warga Negara Asing (WNA).

Acara pengumpulan naskah sudah dimulai sejak Oktober 2021 lalu. Semua naskah yang terkumpul ditulis oleh para perempuan asal Indonesia yang tinggal di berbagai lokasi dan negara.

Kisah perkawinan campuran yang tertuang dalam buku bukan hanya bercerita tentang dokumen dan kelengkapan administrasi, melainkan ada kisah-kisah lainnya yang mungkin jarang terdengar di ranah publik.

Cerita integrasi budaya di antara kedua insan manusia dalam biduk rumah tangga tentu menjadi kisah haru biru yang tidak selalu melulu mendatangkan kisah romantis saja, tetapi juga tragis.

Ada kisah tabu tentang pandangan keluarga, pengasuhan anak, pengalaman menjadi orang tua hingga perpisahan ditulis apik berdasarkan kisah nyata yang dialami masing-masing penulis.

Follow us: @ruanita.indonesia

Ini bukan soal fantasi atau dokumentasi, ini adalah kisah yang menginformasi dan menginspirasi. Begitu penjelasan Anna Knöbl selaku Koordinator Tim Buku yang berbicara tentang proyek penerbitan buku ini.

Di tengah meningkatnya mobilisasi dan migrasi, bukan tidak mungkin angka pernikahan kawin campur bertambah. Angka ini belum tentu diiringi oleh bekal yang cukup untuk mengetahui seluk beluk budaya, komunikasi hingga hukum yang kerap menjadi pemicu dalam berumah tangga. Ada saja kasus di mana perempuan bingung menempatkan dirinya saat minimnya informasi dan bahasa yang dimilikinya di mancanegara.

Pertemuan dua budaya yang berbeda akan menghadirkan banyak hal baru yang akan memperkaya kehidupan. Ada banyak pengalaman positif yang dijalani para pelaku kawin campur, meskipun harus diakui hubungan kawin campur tidak terlepas pula dari stigma, konflik maupun masalah spesifik lain yang mengikutinya.

Dalam perkawinan campuran, analisa mendalam diperlukan untuk menjadi bekal edukasi yang dikemas menarik sehingga dapat menjadi petunjuk bagi pasangan kawin campur baik bagi yang belum menikah maupun sudah menikah.

Oleh karena itu, RUANITA telah menggagas dua kali Diskusi Virtual jelang peluncuran buku yang membahas tema seputar perkawinan campuran. Pada akhirnya buku berjudul Cinta Tanpa Batas ini telah terbit pada akhir April 2022 dan sudah mulai didistribusikan.

Sejalan dengan hal tersebut, RUANITA menggelar peluncuran buku secara daring yang diadakan pada hari Minggu, 19 Juni 2022 jam 10.00 waktu Eropa Tengah atau jam 15.00 WIB.

Dalam kesempatan tersebut, RUANITA mengundang Wakil Ketua DWP KBRI Berlin – Tenny Edison – yang memberikan pengantar tentang problematika yang dihadapi perempuan Indonesia di luar negeri, terutama di Jerman. Sebagai informasi, buku Cinta Tanpa Batas ini telah ditulis oleh 7 perempuan asal Indonesia yang saat ini bermukim di Jerman.

Selanjutnya, RUANITA juga menghadirkan Ketua Komnas Perempuan Indonesia – Andy Yentriyani – yang memberikan tanggapan atas terbitnya buku bertema perkawinan campuran. Acara satu jam ini diharapkan dapat menjadi media konstruktif untuk membangun solidaritas perempuan Indonesia di mana saja, tidak hanya soal isu perkawinan campuran.

RUANITA (Rumah Aman Kita) Indonesia adalah komunitas orang Indonesia di mancanegara yang dibentuk untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman seputar praktik baik tinggal di mancanegara dan permasalahan psikologis yang kerap dihadapi. Tujuan didirikannya RUANITA adalah untuk mempromosikan isu kesehatan mental, psikoedukasi, kesetaraan gender serta berbagi praktik baik tentang keterampilan diri untuk tinggal di luar Indonesia.

Informasi: info@ruanita.com

Untuk mengikuti kliping berita kami, sila buka tautan yang diberikan.