(SIARAN BERITA) Workshop Daring Menulis PMI Perempuan: Dorong Suara Perempuan Migran Lewat Tulisan

Singapura, Mei 2026 — Dalam rangka memperingati Hari Buruh Sedunia, Ruanita Indonesia dan komunitas FPMI di Singapura menyelenggarakan kegiatan Workshop Daring Menulis bertajuk “From Zero to Hero: Bersuara Lewat Tulisan untuk Pekerja Migran Indonesia (PMI) Perempuan”. Kegiatan ini dilaksanakan pada Minggu, 3, 10, dan 17 Mei 2026 secara daring melalui platform Zoom Meeting.

Workshop ini bertujuan untuk menyediakan ruang aman dan produktif bagi PMI perempuan untuk mendokumentasikan pengalaman hidup mereka di perantauan melalui tulisan, sekaligus memperkuat kapasitas literasi sebagai bagian dari upaya advokasi dan produksi pengetahuan berbasis pengalaman.

Kegiatan ini mendapat dukungan dari Kedutaan Besar Republik Indonesia di Singapura, yang dihadiri oleh Maradona A Runtukahu, Koordinator Protokol dan Kekonsuleran, dan Komnas Perempuan sebagai lembaga nasional yang fokus pada perlindungan perempuan.

Dalam sesi pembukaan, perwakilan KBRI Singapura menyampaikan pentingnya peningkatan kapasitas dan ruang ekspresi bagi PMI, khususnya perempuan, sebagai bagian dari upaya penguatan perlindungan dan pemberdayaan. KBRI Singapura juga menegaskan komitmennya untuk terus mendukung program-program yang memberikan dampak langsung bagi kesejahteraan dan perlindungan pekerja migran Indonesia di Singapura.

Sementara itu, Komnas Perempuan, yang diwakili oleh Komisioner Devi Rahayu, menyoroti pentingnya perspektif perlindungan berbasis gender dalam konteks migrasi tenaga kerja. Dalam paparannya, Komnas Perempuan menekankan bahwa pengalaman perempuan migran tidak hanya terkait aspek ekonomi, tetapi juga mencakup isu kerentanan, kekerasan berbasis gender, serta pentingnya akses terhadap keadilan dan perlindungan yang komprehensif.

Workshop ini menghadirkan pemateri pertama Dr. Nor Ismah, PostDoctoral Fellow di Asian Research Institute National University of Singapore (NUS) yang memberikan pelatihan teknis menulis dan storytelling berbasis pengalaman. Pemateri kedua adalah Anna Knöbl, PhD Student di Universität Passau, Germany yang menyampaikan pentingnya narasi dalam mendokumentasikan pengalaman hidup.

Melalui rangkaian workshop selama 3 kali pertemuan, peserta tidak hanya belajar menulis, tetapi juga akan mendapatkan pendampingan (mentoring) hingga menghasilkan karya tulisan yang akan dihimpun dalam sebuah buku bersama sebagai output akhir kegiatan. Program ini juga membuka ruang jejaring (networking) antar PMI perempuan, serta memberikan sertifikat elektronik bagi peserta.

Selain itu, kegiatan dimoderasi oleh Dewi Lubis, PMI di Singapura dan Founder komunitas penulis migran. Acara ini juga menghadirkan sesi diskusi, refleksi, dan mentoring penulisan yang diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam membangun komunitas penulis PMI perempuan, sekaligus memperkuat suara dan narasi perempuan migran Indonesia di ruang publik.

(SIARAN BERITA) Ruanita Indonesia Fasilitasi Workshop Online tentang Empati, Gender, dan Keadilan Sosial dalam Konteks Banda Neira

Jakarta, April 2026 – Ruanita Indonesia bersama Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Amerop telah menyelenggarakan workshop online bertajuk “The Forgotten Banda Neira: Women, Gender, Inclusivity & Social Justice in Island Community” pada Sabtu–Minggu, 18–19 April 2026 melalui platform Zoom.

Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian persiapan program pengabdian masyarakat ke Banda Neira, dengan fokus pada penguatan perspektif etika, kesadaran gender, serta keadilan sosial bagi peserta yang berasal dari berbagai negara studi.

Workshop difasilitasi oleh Fransisca Ariantiningsih, PhD student di Amerika Serikat dan aktivis lingkungan hidup; Zakiyatul Mufidah, PhD student di Inggris sekaligus dosen di Indonesia; serta fasilitator Ferdyani Atikaputri dan Anna Knöbl.

Selama dua hari pelaksanaan, workshop menghadirkan ruang diskusi yang mendorong peserta untuk memahami Banda Neira tidak hanya sebagai lokasi geografis atau destinasi sejarah, tetapi sebagai komunitas dengan kompleksitas sosial yang dipengaruhi oleh warisan kolonial, dinamika ekonomi, serta relasi gender.

Peserta diajak untuk merefleksikan berbagai pertanyaan kunci, antara lain:

  • Bagaimana cara berkunjung tanpa mengeksotisasi komunitas lokal?
  • Siapa yang diuntungkan dari narasi tentang Banda Neira?
  • Bagaimana sejarah kolonial masih memengaruhi kehidupan sosial saat ini?

Pendekatan yang digunakan bersifat partisipatif, melalui diskusi kelompok, refleksi kritis, serta pemetaan gagasan secara kolektif.

Workshop juga menekankan pentingnya memahami isu gender dalam konteks yang lebih luas melalui pendekatan interseksionalitas, yang mempertimbangkan keterkaitan antara gender, kelas, geografi, dan akses terhadap sumber daya.

Dalam sesi diskusi, peserta mengeksplorasi konsep kerja tak terlihat (invisible labor), khususnya peran perempuan dalam menopang kehidupan sosial dan ekonomi yang sering tidak tercatat dalam narasi dominan.

Selain itu, peserta didorong untuk mengembangkan kesadaran terhadap posisi dan peran mereka sebagai bagian dari masyarakat yang lebih luas, serta potensi bias dalam praktik pengabdian masyarakat.

Salah satu fokus utama workshop adalah membangun kesadaran tentang etika representasi dan risiko eksotisasi dalam dokumentasi maupun narasi tentang komunitas.

Peserta diajak untuk membedakan antara empati dan pendekatan yang berpotensi memosisikan masyarakat sebagai objek, serta untuk menghindari narasi yang bersifat heroik atau paternalistik.

Sebagai bagian dari proses ini, peserta juga menyusun komitmen etis yang akan menjadi panduan dalam pelaksanaan kegiatan lapangan.

Sebagai tindak lanjut, peserta diharapkan membentuk kelompok kerja untuk mengembangkan karya kolektif, ssebagai medium yang etis dan tidak eksploitatif, sekaligus menjadi arsip pembelajaran kolektif peserta.

Komitmen terhadap Pembelajaran Kritis

Melalui workshop ini, Ruanita Indonesia menegaskan komitmennya dalam mendorong pendekatan pengabdian masyarakat yang tidak hanya berorientasi pada kegiatan lapangan, tetapi juga pada proses pembelajaran kritis, reflektif, dan berkelanjutan.

Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi landasan bagi peserta untuk menjalankan program pengabdian dengan kesadaran sosial yang lebih mendalam, serta membangun praktik yang lebih adil dan inklusif dalam berinteraksi dengan komunitas.

(KNOWLWDGE SHARING) Memahami Keberagaman Cara Kerja Otak

Frankfurt, 14 Februari – Ruanita Indonesia menyelenggarakan sesi Knowledge Sharing bertajuk “Neurodiversitas: Memahami Keberagaman Cara Kerja Otak”, sebuah ruang belajar daring yang mengajak peserta untuk melihat keberagaman neurologis secara lebih inklusif, empatik, dan membumi. Kegiatan ini diselenggarakan pada Sabtu, 14 Februari 2026, pukul 10.00 CET, melalui Zoom Meeting dengan durasi 120 menit.

Sesi ini menghadirkan Lovely Christi Zega, Psikolog Klinis yang berbasis di Jerman, sebagai pemateri. Dengan pendekatan psikoedukasi dan knowledge sharing yang bersifat non-layanan terapi, sesi ini dirancang untuk memperluas pemahaman dasar tentang neurodiversitas, mengurangi stigma terhadap individu neurodivergen, serta mengajak peserta merefleksikan peran diri dalam menciptakan ruang yang lebih ramah dan aman, baik di keluarga, kampus, maupun lingkungan kerja.

Acara diawali dengan pembukaan yang menekankan penciptaan ruang aman, penyamaan ekspektasi, serta penegasan bahwa sesi ini tidak bertujuan untuk diagnosis dan terapi individual.

Pengantar mengenai konsep neurodiversitas kemudian disampaikan, mencakup asal-usul istilah, perbedaannya dengan diagnosis medis, serta pengenalan istilah neurodivergen dan neurotipikal. Peserta diajak memahami mengapa pembahasan neurodiversitas menjadi semakin relevan dalam konteks kehidupan hari ini.

Dalam sesi berikutnya, pemateri mengulas ragam neurodiversitas yang sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari, seperti autisme, ADHD, Asperger, disleksia, serta variasi neurologis lainnya. Pembahasan difokuskan pada kekuatan dan tantangan yang kerap muncul, sekaligus membongkar mitos yang masih melekat di masyarakat. Penekanan diberikan bahwa materi ini tidak ditujukan untuk self-diagnosis dan pelabelan.

Sesi refleksi interaktif menjadi ruang penting bagi peserta untuk berhenti sejenak dan meninjau kembali cara pandang personal dan sosial. Melalui pertanyaan reflektif yang bersifat opsional dan tanpa kewajiban berbagi, peserta diajak bertanya pada diri sendiri, seperti tentang apa yang selama ini dianggap “tidak biasa”, serta sejauh mana lingkungan yang mereka alami sudah cukup ramah bagi keberagaman cara berpikir.

Diskusi kemudian diperluas ke konteks Indonesia dan lintas budaya. Tantangan yang dihadapi individu neurodivergen dalam budaya kolektivistik, ekspektasi keluarga dan pendidikan, hingga pengalaman tinggal, belajar, atau bekerja di luar negeri dibahas dengan menekankan pentingnya sensitivitas budaya. Dari sini, peserta diajak melihat bahwa inklusivitas tidak bisa dilepaskan dari konteks sosial yang melingkupinya.

Pada bagian praktis, sesi ini mengajak peserta untuk merefleksikan langkah-langkah sederhana namun berdampak dalam membangun sikap yang lebih inklusif. Mulai dari cara berkomunikasi, menjadi rekan atau anggota keluarga yang suportif, hingga memahami batas empati, dan bagaimana membantu tanpa memaksakan. Fokus tetap diarahkan pada sikap dan perilaku sehari-hari, bukan intervensi klinis.

Sesi tanya jawab berlangsung dengan panduan yang jelas untuk menjaga keamanan psikologis bersama. Pertanyaan difokuskan pada pemahaman dan sikap, tanpa membahas kasus personal secara mendetail atau meminta diagnosis. Acara ditutup dengan rangkuman poin kunci dan pesan reflektif dari pemateri, sebagai ajakan untuk terus belajar dan bertumbuh bersama.

Sebagai catatan penting, tujuan dari program Knowledge Sharing adalah berbagi pengetahuan, pengalaman, dan praktik baik dari para praktisi kesehatan mental Indonesia di berbagai negara, dengan menghadirkan ruang aman untuk mempromosikan kesehatan mental yang inklusif dan selaras dengan nilai-nilai Indonesia.

Program ini merupakan bagian dari inisiatif Ruanita Indonesia yang didirikan dan dikelola oleh Anna Knöbl di Jerman, sebagai ruang kolektif digital berbasis manajemen nilai, resource sharing, dan intervensi komunitas dalam konteks lintas negara. Inisiatif ini berfungsi sebagai social support system yang memanfaatkan teknologi digital modern sebagai medium interaksi dan pembelajaran.

(POLICY BRIEF) Memperkuat Keamanan Digital dan Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender Online bagi Perempuan Indonesia di Ruang Siber Global

POLICY BRIEF (DRAFT – UNTUK KOMNAS PEREMPUAN & KEMENPPPA) 

Disusun untuk: Komnas Perempuan & Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) 

1. Executive Summary 

Peningkatan Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO) terhadap perempuan Indonesia menunjukkan urgensi intervensi kebijakan yang lebih sistematis dan berbasis bukti. Bentuk-bentuk kekerasan seperti non-consensual dissemination of intimate images (NCII), sexual extortion, cyberstalking, penipuan berbasis relasi semu, serta penyalahgunaan teknologi deepfake semakin meluas. 

Policy brief ini menyajikan analisis dan rekomendasi strategis untuk memperkuat perlindungan melalui penguatan regulasi, literasi digital, akuntabilitas platform, dan layanan pemulihan, selaras dengan mandat Komnas Perempuan dan KemenPPPA. 

2. Latar Belakang 

KBGO meningkat dan menjadi ancaman serius terhadap hak asasi perempuan. Ruang digital menjadi bagian integral kehidupan perempuan, namun risiko seperti eksploitasi data, manipulasi teknologi, dan kekerasan psikologis terus berkembang. Mandat Komnas Perempuan dan KemenPPPA diperlukan untuk menghasilkan kebijakan efektif. 

3. Identifikasi Masalah Utama 

  • Kompleksitas bentuk KBGO seperti NCII dan deepfake. 
  • Dampak serius pada kesehatan mental dan partisipasi publik. 
  • Kerentanan teknis dan rendahnya literasi digital. 
  • Kesenjangan implementasi kebijakan dan layanan korban. 

4. Analisis Kebijakan 

KBGO melanggar hak atas rasa aman dan privasi. Intervensi diperlukan melalui penguatan pemantauan, layanan korban, akuntabilitas platform, dan edukasi publik. 

5. Rekomendasi Kebijakan 

A. Untuk Komnas Perempuan: 

  • Memperkuat dokumentasi dan pemantauan KBGO. 
  • Mengembangkan rekomendasi kebijakan terkait NCII dan deepfake. 
  • Sinkronisasi kebijakan antarlembaga. 
  • Memperluas kampanye perlindungan perempuan di ruang digital. 

B. Untuk KemenPPPA: 

  • Integrasi literasi digital sensitif gender dalam program nasional. 
  • Modul literasi digital bagi perempuan terkait keamanan data.
  • Penguatan layanan trauma-informed. 
  • Peningkatan kapasitas UPTD PPA dalam penanganan bukti digital. 

C. Kolaborasi Komnas Perempuan – KemenPPPA: 

  • Menyusun pedoman nasional penanganan KBGO. 
  • Kampanye nasional “Ruang Digital Aman bagi Perempuan Indonesia”. 
  • Membangun mekanisme rujukan cepat antarinstansi dan platform digital. 

D. Untuk Platform Digital: 

  • Mekanisme pelaporan cepat untuk NCII dan deepfake. 
  • Implementasi safety by default. 
  • Dialog teknis dengan pemerintah dan Komnas Perempuan. 

E. Untuk Sektor Pendidikan & Organisasi Sipil: 

  • Penguatan riset dan edukasi publik tentang KBGO. 
  • Pelibatan komunitas perempuan sebagai agen deteksi dini. 

6. Pesan Kunci 

KBGO adalah pelanggaran serius yang memerlukan respons terintegrasi. Literasi digital sensitif gender dan akuntabilitas platform adalah pilar utama. 

7. Penutup 

Ancaman digital terhadap perempuan Indonesia membutuhkan kolaborasi kuat antar lembaga negara, platform digital, dan masyarakat sipil. Rekomendasi kebijakan ini diharapkan memperkuat perlindungan perempuan di ruang digital.

Tertanda 

Tim Penyelenggara Forum Online: PhD Connections

  • Anna Knöbl, Founder Ruanita Indonesia
  • Ari Nursenja Rivanti, PhD Student di Finlandia
  • Zakiyatul Mufidah, PhD Student di UK
  • Fransisca Hapsari, PhD Student di Jerman
  • Anggy Eka Pratiwi, PhD Student di India

(GALERI FOTO) Peringatan Hari Kesehatan Mental bersama KBRI Wina dan PPI Austria

Acara difasilitasi oleh KBRI Wina, Austria dan dihadiri oleh Dubes RI, Dr. iur. Damos Dumoli Agusman, Duta Besar RI untuk Austria dan Slovenia sekaligus Organisasi Internasional di Wina. Acara ini dipandu oleh relawan Ruanita di Austria, Azizah Seiger. Hadir sebagai pemateri adalah Anna Knöbl dan Liebgard Fuchs, Neuro-Mental Trainer di Austria.

(SIARAN BERITA) Ruanita Sukses Gelar Diskusi Interaktif tentang Dukungan Psikologis dan Responsif Gender Lintas Budaya di Wina, Austria

Wina, 26 Oktober 2025 — Ruanita bersama Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Wina telah sukses menyelenggarakan kegiatan Diskusi Interaktif bertema “Berbagi Dukungan Psikologis dan Praktik Baik Responsif Gender Lintas Budaya Indonesia–Austria” pada Sabtu, 25 Oktober 2025 pukul 14.00 sampai dengan selesai.

Acara ini berlangsung secara luring di ruang pertemuan KBRI Wina, Austria, yang kemudian dimanfaatkan Tim Ruanita untuk showcase. Kegiatan ini menjadi wadah berbagi pengalaman lintas budaya bagi masyarakat Indonesia yang tinggal di Austria dan Slovenia.

Dalam sambutan pembuka, Dr. iur. Damos Dumoli Agusman, Duta Besar RI untuk Austria dan Slovenia sekaligus Organisasi Internasional di Wina, menyampaikan pentingnya memperkuat jejaring dukungan psikologis bagi orang Indonesia, terutama saat tinggal di mancanegara. Menurutnya, kesehatan mental dan kesetaraan gender merupakan bagian integral dari diplomasi kemanusiaan yang perlu terus ditingkatkan.

Diskusi menghadirkan dua pembicara utama, yaitu Anna Knöbl, PhD Student di Universität Passau di Jerman, yang juga founder dari Ruanita Indonesia, dan Liebgard Fuchs, Neuro-Mental Trainer di Austria. Anna menyoroti tantangan psikologis yang dihadapi orang Indonesia dalam konteks transnasional dan pentingnya pendekatan responsif gender dalam kesehatan mental.

Sementara Liebgard Fuchs atau yang disapa Libi, perempuan asal Austria ini memperkenalkan perspektif lintas budaya dan berbasis gender dalam merespon resiliensi tinggal di Austria. Libi juga adalah seorang Neuro-Mental Trainer yang juga memperkenalkan teknik emotional power tapping sederhana kepada peserta.

Sesi dipandu oleh Azizah Seiger, relawan Ruanita di Austria, yang membawa suasana diskusi menjadi dinamis dan interaktif. Peserta aktif berdialog, berbagi pengalaman, dan bertukar pandangan tentang praktik baik dukungan psikologis lintas budaya.

Kegiatan ini mendapat sambutan positif dari peserta karena berhasil menjembatani perspektif profesional dan pengalaman lapangan dalam isu kesehatan mental yang responsif gender.

Ruanita di bawah naungan Yayasan Ruanita Perempuan Indonesia, sebagai komunitas yang memperkuat psikoedukasi dan psikososial dalam lintas budaya bagi orang Indonesia di mancanegara, berkomitmen untuk terus menghadirkan ruang diskusi, edukasi, dan dukungan bagi orang-orang Indonesia yang tinggal di mancanegara.

Untuk informasi lebih lanjut, hubungi Azizah Seiger, Koordinator Acara melalui e-mail info@ruanita.com.

(SIARAN BERITA) Berbagi Pengetahuan Keperawatan dan Layanan Kesehatan Jiwa di Jerman

KALIMANTAN SELATAN, 18 Oktober – Dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia 2025, Ruanita Indonesia bekerja sama dengan Organisasi Kesmenesia serta Ikatan Perawat Kesehatan Jiwa Indonesia (IPKJI) di Kalimantan Selatan menyelenggarakan diskusi online lintas negara pada hari ini.

Kegiatan ini mengusung tema “Akses Layanan Kesehatan Mental Saat Genting dan Bencana”, sesuai dengan fokus peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia 2025 secara global tahun ini.

Acara dihadiri lebih dari seratus orang yang berlangsung secara daring melalui platform Zoom ini diikuti oleh anggota IPKJI, mahasiswa keperawatan jiwa, praktisi kesehatan jiwa, serta masyarakat umum yang tertarik dengan isu lintas budaya dalam kesehatan mental.

Diskusi dibuka oleh Maria Frani Ayu, perawat jiwa sekaligus koordinator penyelenggara, dilanjutkan dengan sambutan dari Achmad Syamsudin, Ketua IPKJI Kalimantan Selatan.

Sesi utama menghadirkan narasumber Aulia Farsi, perawat jiwa di Jerman sekaligus Co-founder Kesmenesia, yang berbagi pengalaman mengenai profesi perawat jiwa di Jerman, mulai dari sistem pendidikan, peran, hingga tantangan di lapangan.

Selain itu, Anna Knöbl, pendiri Ruanita Indonesia, juga membagikan praktik baik mengenai akses layanan kesehatan jiwa di Jerman khususnya pada situasi darurat dan bencana.

Follow us

Diskusi semakin interaktif dengan sesi tanya jawab berdurasi hampir satu jam, di mana peserta antusias menyampaikan pertanyaan seputar layanan kesehatan mental lintas negara. Acara kemudian ditutup dengan rangkuman serta pesan peneguhan dari Maria Frani Ayu.

Melalui kegiatan ini, para peserta mendapatkan wawasan mengenai sistem layanan darurat kesehatan mental di Jerman, seperti: unit gawat darurat psikiatri, hotline krisis 24 jam, serta tim intervensi cepat komunitas, yang dapat menjadi inspirasi dalam memperkuat peran perawat jiwa di Indonesia.

Penyelenggara berharap diskusi ini tidak hanya menjadi ajang berbagi pengetahuan, tetapi juga memperkuat kolaborasi antarprofesi kesehatan jiwa di lintas negara. 

(SIARAN BERITA) Soft Launch Kesmenesia

JERMAN – Dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia 2025, organisasi profesi kesehatan mental orang Indonesia di Eropa, Kesmenesia (Kesehatan Mental Indonesia di Eropa), mulai diperkenalkan kepada publik melalui acara Soft Launch Event yang dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting pada Sabtu, 11 Oktober 2025.

Menyadari tantangan hidup transnasional yang unik dalam menjaga kesehatan mental, mulai dari rasa rindu kampung halaman (homesickness), tekanan akademik maupun pekerjaan, isolasi sosial, hingga perbedaan budaya (cultural shock) dan risiko burnout, Kesmenesia hadir memperkuat psikoedukasi dan psikososial yang dibutuhkan warga Indonesia di mancanegara.

Follow us

Tentu saja, perbedaan cara pandang antara masyarakat Indonesia dan Eropa terhadap isu kesehatan mental seperti: stigma, ekspresi emosi, hingga sistem dukungan psikologi, menjadi konteks penting yang diangkat dalam forum ini.

Mengusung format “Workshop Online: Berbagi Kesehatan Mental dan Perbedaan Budaya”, ruang interaktif digital yang berdurasi dua jam ini dihadiri oleh orang-orang yang tertarik akan tema kesehatan mental, lintas budaya, dan migrasi yang ingin berbagi pengalaman yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari peserta.

Para fasilitator yang terdiri atas Co-founder Kesmenesia yang tinggal di Eropa ini memfasilitasi berbagai topik, mulai dari pengalaman menghadapi stigma, perbedaan sistem bantuan psikologis, hingga strategi adaptasi lintas budaya. Peserta juga diajak berbagi pengalaman personal mengenai cara menjaga keseimbangan identitas budaya Indonesia sekaligus berintegrasi dengan kehidupan di Eropa.

Pendiri Kesmenesia terdiri atas praktisi, penggiat, peneliti, akademisi yang berfokus pada kesehatan mental di Eropa. Mereka antara lain: Ranindra Anandita, Aulia Farsi, Sven Juda, Firman Tambunan, Bernadia Dwiyani, Fransisca Hapsari, Nelden Djakababa-Gericke, dan Anna Knöbl. 

Kesmenesia (Kesehatan Mental Indonesia Eropa) merupakan organisasi profesi kesehatan mental yang menghimpun para psikolog, tenaga kesehatan jiwa, akademisi, serta individu Indonesia yang peduli pada isu kesehatan mental di Eropa. Berlandaskan nilai empati, keterbukaan, dan profesionalisme, Kesmenesia berkomitmen memperjuangkan layanan kesehatan mental yang inklusif bagi orang Indonesia di mancanegara.

Kontak Media: E-mail indonesiakesmen@gmail.com 

(SIARAN BERITA) Workshop Jamu: Warisan Budaya Indonesia untuk Kesehatan Musim Dingin di Eropa

JERMAN – Hari ini, (15/01) Workshop Jamu yang bertemakan “Jamu: Warisan Penyembuhan Tradisional Indonesia untuk Kesehatan di Musim Dingin” resmi dibuka. Acara ini diperkenalkan kepada para mahasiswa internasional di Universitas Passau sebagai seni penyembuhan tradisional Indonesia melalui jamu, yang juga merupakan bagian penting dari warisan budaya tak benda Indonesia.

Pembukaan acara diawali oleh sambutan dari Perwakilan KJRI Frankfurt melalui video, yang menyampaikan dukungannya terhadap inisiatif ini meskipun tidak dapat hadir secara langsung. Sebagai informasi, KJRI Frankfurt telah memfasilitasi workshop jamu ini agar acara berjalan sukses.

Selain itu, hadir di lokasi, Dr. rer. grout. Roniyus Marjunus, S.Si., M.Sc., Atase Pendidikan dan Kebudayaan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Berlin tampak memenuhi undangan untuk memberikan sambutan setelah KJRI Frankfurt.

Dalam sambutannya, Atdikbud KBRI Berlin menekankan pentingnya jamu sebagai simbol warisan budaya dan potensinya dalam mempererat hubungan akademik serta diplomatik antara Indonesia dan komunitas internasional.

Workshop ini bertujuan untuk memperkenalkan jamu sebagai solusi kesehatan yang alami dan berkelanjutan, terutama di tengah musim dingin. Selama sesi interaktif yang berlangsung selama tiga jam, para peserta tidak hanya belajar teori tentang jamu, tetapi juga berkesempatan untuk mempraktikkan pembuatan dan mencicipinya secara langsung.

Melalui acara ini, diharapkan tercipta pemahaman budaya yang lebih baik dan penguatan hubungan antara Indonesia dengan komunitas akademik internasional, khususnya di Jerman. Selain itu, program ini juga menjadi langkah strategis dalam mempromosikan potensi ekspor jamu dan relevansinya dalam diskusi kesehatan global masa kini.

Workshop Jamu ini merupakan salah satu program unggulan yang diinisiasi oleh Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Frankfurt, bekerja sama dengan Universitas Passau, guna memupuk dialog lintas budaya dan jembatan pendidikan serta membangun kerja sama yang lebih kuat di masa mendatang.

(AISIYU) Butuh Teman Bercerita

Nama pembuat foto: Anna

Lokasi negara tinggal: Jerman

Judul foto: “Butuh Teman Bercerita: Program Konseling Online Ruanita”

Keterangan foto: Per Agustus 2024, Ruanita Indonesia telah melayani sesi konseling online berbahasa Indonesia kepada lebih dari 60 orang yang tinggal di berbagai lokasi negara, sejak 2021. Program ini diselenggarakan secara gratis dan sukarela oleh Anna Knöbl, setiap Selasa dan Kamis pukul 18.00-20.00 waktu Eropa Tengah. Mayoritas peserta konseling online adalah perempuan Indonesia yang tinggal di mancanegara.

(SIARAN BERITA) Diskusi Kesehatan Mental di Lingkungan Kerja

Jerman, 2024 – Dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia 2024, Ruanita Indonesia dengan dukungan KJRI Frankfurt dan Komunitas ALZI Jerman sukses menyelenggarakan diskusi bertema “Sehat Secara Mental, Produktif Secara Optimal” di Aula KJRI Frankfurt.

Acara ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan yang dirancang untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya kesehatan mental, khususnya di lingkungan kerja, yang sesuai dengan tema World Mental Health Day 2024.

Acara ini menghadirkan Fransisca Hapsari, Relawan Ruanita di Jerman dan mahasiswi PhD Psikologi di Technische Universität Darmstadt, sebagai pemateri pertama. Pemateri kedua adalah Sven Juda, mahasiswa (M.Sc.) Maastricht University Belanda, yang berfokus pada Psikologi Industri dan Organisasi.

Acara dibuka dengan sambutan oleh Konjen KJRI Frankfurt Antonius Yudi Triantoro yang menegaskan pentingnya kesehatan mental dalam mendukung produktivitas dan hubungan kerja yang harmonis. Sebagai moderator diskusi, Relawan Ruanita lainnya, yakni Sesilia Susi, yang merupakan lulusan (M.A.) Hochschule Schmalkalden yang sedang bekerja sebagai Finance Staff di IOM, Berlin.

Diskusi dihadiri oleh para pekerja Indonesia di Jerman dan sejumlah warga Indonesia lainnya, yang datang langsung ke Aula KJRI Frankfurt ataupun mengikutinya secara daring via zoom meeting. Tujuan diskusi ini berfokus pada cara mengenali gejala awal gangguan kesehatan mental di tempat kerja serta strategi praktis untuk menciptakan lingkungan kerja yang mendukung kesejahteraan mental.

Sesi utama dimulai dengan pemaparan materi, yang menjelaskan definisi kesehatan mental di tempat kerja, gejala-gejala awal gangguan mental yang perlu diperhatikan, serta solusi dan strategi untuk menjaga keseimbangan mental di lingkungan kerja.

Selain itu, materi tentang situasi praktis dan kontekstual di Jerman juga turut dibagikan di sini. Sesi ini diakhiri dengan sesi tanya jawab yang interaktif, di mana peserta berbagi pengalaman dan menanyakan tips lebih lanjut terkait menjaga kesehatan mental di tempat kerja.

Pada kesempatan ini, Ruanita Indonesia sebagai social support system di mancanegara berkesempatan untuk ramah tamah dan berbincang dengan warga Indonesia di Frankfurt untuk memperkenalkan layanannya, terutama bagi mereka yang membutuhkan dukungan sosial.

Ruanita Indonesia, sebuah organisasi nirlaba yang didedikasikan untuk isu kesehatan mental dan kesetaraan gender bagi warga Indonesia di mancanegara, terus berupaya mempromosikan pentingnya kesehatan mental sebagai bagian integral dari kesejahteraan hidup.

Untuk materi informasi, dapat disimak lewat rekaman berikut di kanal YouTube kami:

(SIARAN BERITA) Pemutaran Perdana Film Dokumenter “Dua Kali” dan Diskusi Bertema Kesehatan Mental

Hamburg, 2024 – Dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia yang jatuh pada 10 Oktober, RUANITA Indonesia bekerja sama dengan KJRI Hamburg dan PPI Hamburg akan menyelenggarakan acara Pemutaran Perdana dan Diskusi Film “Dua Kali”.

Acara ini akan berlangsung pada Sabtu, 12 Oktober 2024 bertempat di Aula KJRI Hamburg, mulai pukul 13:30 hingga 16:00 CEST.

Film “Dua Kali”, yang diproduksi secara sukarela oleh relawan RUANITA, mengangkat isu-isu seputar kesehatan mental yang masih dianggap tabu dalam banyak masyarakat, terutama bagi masyarakat Indonesia di luar negeri.

Film dokumenter ini mengisahkan perjalanan perempuan Indonesia yang tinggal di luar negeri dan menghadapi tantangan terkait kesehatan mental.

Melalui film ini, RUANITA berharap dapat mengurangi stigma terhadap orang dengan gangguan mental, serta membangun solidaritas bagi mereka yang sedang berjuang dalam kesunyian.

Acara ini terdiri dari dua sesi utama, yakni pemutaran film dan diskusi mendalam bersama para ahli dan pembuat film. Aulia Farsi, psychiatric nurse di Jerman, dan Andi Arieta Amata Umar, Ketua PPI Hamburg, akan hadir sebagai penanggap dalam diskusi.

Selain itu, Ullil Azmi, sutradara film, serta Mariska Ajeng Harini, koordinator proyek film, juga akan berbagi pandangan mengenai proses produksi dan tujuan film ini.

Melalui acara ini, RUANITA berharap dapat meningkatkan kesadaran masyarakat Indonesia di Jerman tentang pentingnya kesehatan mental, sekaligus menyediakan ruang aman bagi mereka untuk berbagi pengalaman hidup di perantauan.

RUANITA juga berkomitmen untuk terus mendukung komunitas Indonesia di luar negeri dalam mengatasi tantangan kesehatan mental melalui pendekatan berbasis nilai dan sistem dukungan sosial.

RUANITA – Rumah Aman Kita, adalah komunitas digital yang memberikan dukungan dan psikoedukasi kepada perempuan Indonesia di mancanegara, dengan fokus pada kesetaraan gender, kesehatan mental, dan berbagi praktik hidup yang positif di luar negeri.

Melalui program diskusi dan menonton film bertema kesehatan mental ini, RUANITA berharap bisa mendorong lebih banyak percakapan terbuka tentang kesehatan mental dan memberikan rekomendasi kepada pemerintah Indonesia mengenai sistem layanan kesehatan mental di luar negeri, khususnya di Jerman.

Untuk informasi lebih lanjut atau pendaftaran, silakan kunjungi situs web kami di www.ruanita.com atau hubungi kami di info@ruanita.com.

(GALERI FOTO) Live Talkshow di TVRI World Berbicara Eksistensi Ruanita Indonesia

Dalam rangka menjangkau lebih banyak orang-orang Indonesia di mancanegara, Ruanita Indonesia hadir membagikan keberadaannya lewat program Live Talkshow yang menjadi salah satu program TVRI World dalam siaran berbahasa Inggris. Ruanita Indonesia diwakilkan oleh Hernita Oktarini dan Anna Knöbl menceritakan tentang bagaimana awal mula terbentuknya Ruanita Indonesia sebagai social support system untuk warga Indonesia, terutama perempuan di mancanegara.

Siaran TVRI World ini sudah tayang di sejumlah negara di dunia, termasuk Eropa melalui misi kebudayaan yang memperkenalkan Indonesia lebih mendunia dalam siaran berbahasa Inggris.

(SIARAN BERITA) Ruanita Indonesia Lakukan Audiensi dan Diskusi dengan Kementerian Luar Negeri RI

INDONESIA – Berdasarkan laporan permasalahan dan tantangan hidup tinggal di luar Indonesia, Ruanita (Rumah Aman Kita) Indonesia pada hari Rabu (20/9) melakukan kunjungan ke Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia. Hadir dari tim Ruanita Indonesia antara lain: Natasha Hartanto, Hernita Oktarini, dan Anna Knöbl.

Dalam kesempatan tersebut, juru bicara dari Ruanita Indonesia yakni Natasha menjelaskan: profil Ruanita Indonesia, permasalahan dan tantangan warga Indonesia di luar Indonesia, dan harapan Ruanita Indonesia terhadap Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Republik Indonesia.

Diskusi dan audiensi dari Kemlu dihadiri oleh Ardian Wicaksono, Fungsional Diplomat Madya di Amerika I, Ditjen Amerop; Chairul dari Direktorat Perlindungan WNI; dan Faisal dari Direktorat Eropa II.

Mereka mengapresiasi kinerja Ruanita Indonesia yang banyak terlibat untuk melakukan fungsi psikosial dan pendampingan permasalahan perempuan Indonesia di luar Indonesia, terutama area domestik.

Pada kesempatan tersebut, Kemlu RI memperkenalkan tentang aplikasi peduli yang diperuntukkan untuk warga Indonesia yang tinggal lebih dari 6 bulan dan bukan sebagai turis di negara tujuan. Aplikasi ini dilengkapi dengan fitur pelayanan lapor diri hingga tombol darurat yang dapat menginformasikan titik koordinat GPS bila warga Indonesia memerlukan bantuan darurat.

Sebagai contoh, ada seorang warga Indonesia yang tinggal di Jepang dan mengalami serangan jantung. Lalu dia menekan tombol darurat yang langsung terhubung dengan KBRI/KJRI terdekat. Alhasil, pertolongan pun datang sehingga dia tidak mendapatkan hal yang fatal. Sebenarnya lapor diri juga diperlukan untuk memastikan keberadaan warga Indonesia dan dapat dikenakan sanksi bila tidak melakukan lapor diri.

Aplikasi lain yang diperkenalkan Kemlu RI adalah aplikasi Safe Travel yang diluncurkan saat pandemi Covid-19 lalu. Aplikasi ini diperuntukkan untuk warga Indonesia yang tinggal kurang dari 6 bulan atau sebagai turis. Aplikasi ini memudahkan warga Indonesia untuk mengetahui situasi darurat di negara tujuan atau kontak perwakilan Indonesia di luar negeri.

Ruanita Indonesia mengharapkan adanya standar prosedur bagi warga Indonesia di luar negeri untuk melaporkan kejahatan/kriminalitas/permasalahan hukum yang dihadapi; fungsi konsuler yang aktif dan responsif dalam situasi darurat; memberikan sosialisasi dan edukasi yang mendalam dalam rangka preventif untuk permasalahan domestik; informasi dan komunikasi yang efektif tentang kondisi dan peraturan imigrasi negeri asing, dan perlindungan hak-hak WNI.

Dalam diskusi terbuka antara Ruanita Indonesia dengan Kemlu RI disebutkan pula tentang perlunya dukungan psikososial dan kapasitas knowledge yang diperlukan para diplomat KBRI/KJRI yang bertugas tentang masalah hukum yang menyangkut area domestik seperti hak asuh anak, perceraian, kekerasan dan pelecehan seksual sehingga hak hukum mereka dapat terpenuhi.

Selain itu, Kemlu diharapkan dapat membangun dialog hukum seputar hak-hak warga Indonesia di luar negeri yang lebih sering dengan melibatkan komunitas orang Indonesia di mancanegara atau organisasi kemasyarakatan seperti Ruanita Indonesia. Ruanita Indonesia juga berharap Kemlu dapat memiliki standar yang jelas dalam mengatasi pelanggaran hukum yang dilakukan seseorang dengan gangguan kesehatan mental.

Kesulitan warga Indonesia di luar negeri dalam memenuhi hak hukum dikarenakan kondisi finansial seperti tidak ada biaya untuk membayar pengacara setempat dan tidak ada biaya untuk penerjemah kasus hukumnya pun dibahas dalam diskusi terbuka.

Kemlu RI menyebutkan beberapa kasus hukum yang ditangani negara, apabila warga Indonesia dapat segera melaporkan permasalahan hukum yang ditanganinya.

Kemlu RI berharap sosialisasi terhadap aplikasi perlindungan WNI di luar negeri dapat ditingkatkan lagi, pembekalan untuk staf KBRI/KJRI dapat diperkuat untuk area domestik dan pemenuhan hak-hak perempuan di luar negeri dengan melibatkan Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan), dan lebih sering mengadakan dialog kemasyarakatan dengan melibatkan organisasi seperti Ruanita Indonesia lewat program-programnya.

(PRODUK) Buku: Warna-warni Kepemimpinan Perempuan

Ruanita Indonesia adalah komunitas orang Indonesia di mancanegara yang mendukung tujuan pembangunan keberlanjutan terutama untuk poin „Kesehatan Mental“ dan poin „Kesetaraan Gender“ serta membagikan praktik baik orang Indonesia melalui pengalaman, pengamatan dan pengetahuan dalam berbagai programnya.

Pada fokus kesetaraan gender, RUANITA melakukan berbagai program yang melibatkan banyak perempuan Indonesia di luar negeri untuk menggali potensi mereka dan menempatkan mereka untuk berbagi dukungan satu sama lain terutama untuk kelompok yang rentan ketika kami sedang berada di mancanegara.

Dengan prioritas manajemen berbasis nilai yang diusung, RUANITA diharapkan bisa menjadi social support system di luar negeri yang mendukung partisipasi perempuan Indonesia di luar negeri. Namun akses partisipasi perempuan Indonesia masih terbilang rendah baik di Indonesia maupun di luar Indonesia.

Salah satu cara meningkatkan partisipasi perempuan Indonesia dengan promosi praktik baik yang dituangkan dalam tulisan, yang ditulis oleh warga Indonesia di mancanegara melalui program Warga Menulis.

Program Warga Menulis 2023 sudah berhasil terlaksana berkat kerja sama antara RUANITA dengan APPBIPA Jerman pada 4-5 Februari 2023 dan telah menghasilkan 13 naskah bertema kepemimpinan perempuan di ruang publik yang kemudian dibukukan.

Follow us: @ruanita.indonesia

Para penulis naskah dalam buku ini berasal dari Jerman, Swiss, Spanyol, Belanda, dan Norwegia. Sosok perempuan yang ditulis tidak hanya para perempuan dari Indonesia yang menjadi pemimpin, tetapi juga para perempuan pemimpin dunia yang berada di luar Indonesia. Para perempuan yang menginspirasi tidak hanya sosok perempuan masa kini yang dikenal, tetapi juga perempuan pemimpin di masa lalu dalam peradaban sejarah.

Perempuan pemimpin tidak hanya dalam area publik saja, perempuan pun bisa memimpin dalam area privat. Kepemimpinan bukan berarti posisi tinggi dan posisi rendah, melainkan melibatkan perempuan untuk mengambil kebijakan dalam berbagai situasi, termasuk situasi bencana/krisis kemanusiaan. Bagaimanapun penulis buku ini tidak hanya perempuan saja, tetapi juga ada pria yang ikut menyuarakan kepemimpinan perempuan.

Oleh karena itu, buku ini kami beri judul: Warna-warni Kepemimpinan Perempuan yang mewakili suara warga Indonesia di mancanegara. Kata pengantar buku ini ditulis oleh Dubes RI untuk Denmark & Lithuania; Atdikbud KBRI Berlin; dan Sastrawan sekaligus Jurnalis. Buku ini tidak kami jual. Kami berharap buku ini mampu menyuarakan suara-suara warga Indonesia di mancanegara.