(SIARAN BERITA) Workshop Daring Produksi Audiobook  Dorong Kolaborasi untuk Literasi Inklusif

Jakarta, September 2026 – Yayasan Ruanita Perempuan Indonesia menyelenggarakan Workshop Daring Produksi Audiobook  pada 19–20 September 2026 sebagai bagian dari rangkaian Program AISIYU (AspIrasikan Suara dan Inspirasi nYatamU) dalam mendukung kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan pada 25 November – 10 Desember dan peringatan Hari Braile Sedunia pada Januari 2027 mendatang. Kegiatan ini mempertemukan pegiat inklusi, masyarakat umum, dan mitra strategis untuk memperkuat kapasitas produksi audiobook yang inklusif bagi siapa saja yang memerlukannya.

Workshop diselenggarakan bekerja sama dengan Komunitas Braille’iant Indonesia dan menghadirkan berbagai narasumber dari lembaga negara maupun komunitas yang memiliki perhatian terhadap isu kesetaraan gender, aksesibilitas, dan pendidikan inklusif. Sebagai informasi, komunitas Braille’iant Indonesia adalah komunitas anak muda Jogja yang berfokus pada pengembangan kapasitas difabel netra dan pendidikan inklusi.

Pada sesi pembuka, Ketua Komisi Nasional Disabilitas Republik Indonesia, Dante Rigmalia, menyampaikan materi mengenai pentingnya membangun akses informasi dan literasi yang inklusif bagi penyandang disabilitas. Dalam paparannya, beliau menekankan bahwa akses terhadap pengetahuan merupakan bagian dari pemenuhan hak penyandang disabilitas, sehingga pengembangan media yang mudah diakses, termasuk audiobook, menjadi salah satu upaya nyata untuk mewujudkan masyarakat yang lebih setara dan inklusif.

Sementara itu, sesi mengenai Pengarusutamaan Gender dan Inklusi Sosial (GESI) disampaikan oleh Komisioner Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan), Devi Rahayu. Materi tersebut mengajak peserta memahami pentingnya mengintegrasikan perspektif gender dalam produksi pengetahuan dan media digital, sekaligus memperkuat peran masyarakat dalam mendukung penghapusan kekerasan terhadap perempuan melalui kampanye yang inklusif dan berbasis hak asasi manusia. Workshop daring selama dua hari ini ini dimoderasi oleh Lu’luatul Awaliyah, mahasiswa S2 di UK.

Selain mendapatkan penguatan perspektif gender dan inklusi sosial, peserta juga memperoleh pelatihan teknis produksi audiobook yang difasilitasi oleh Veronica Christamia, Dosen Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) di Tiongkok sekaligus Founder Komunitas Braille’iant Indonesia. Materi mencakup teknik membaca naskah, perekaman suara, hingga penyuntingan audio menggunakan perangkat lunak Audacity.

Workshop diikuti oleh peserta dari berbagai daerah di Indonesia yang memiliki minat pada literasi, produksi konten digital, dan isu aksesibilitas. Melalui sesi praktik, setiap peserta mulai mengerjakan bagian audiobook yang akan dikembangkan secara kolaboratif sebagai produk akhir Program AISIYU. Untuk kampanye digital 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (HAKTP), penyelenggara mengharapkan peserta membuat konten terkait refleksi pengalaman selama proses produksi audiobook, yang berlangsung pada 25 November – 10 Desember mendatang.

Setelah proses produksi dan penyuntingan selesai, audiobook akan dipublikasikan melalui platform Yayasan Ruanita Perempuan Indonesia serta didistribusikan kepada komunitas netra, organisasi penyandang disabilitas, dan sekolah netra di Indonesia pada peringatan Hari Braille Sedunia, 4 Januari 2027. Audiobook ini merupakan bagian dari komitmen Yayasan Ruanita Perempuan Indonesia untuk menghadirkan ruang digital yang positif, kreatif, dan inklusif, sekaligus membangun ruang kolaboratif bagi masyarakat untuk memproduksi karya-karya yang mengangkat nilai kesetaraan gender, aksesibilitas, dan pemberdayaan.

Melalui inisiatif ini, Ruanita Indonesia berharap dapat memperluas akses literasi bagi penyandang disabilitas netra, memperkuat budaya gotong royong dalam berkarya, serta mendorong lahirnya lebih banyak konten digital yang memberikan manfaat sosial bagi masyarakat.

Anna Knöbl selaku bagian dari penyelenggara Workshop Audiobook berharap semakin banyak masyarakat yang memahami bahwa akses terhadap informasi, literasi, dan ruang berekspresi merupakan hak setiap orang. Dia menambahkan bahwa kolaborasi antara organisasi masyarakat sipil, komunitas penyandang disabilitas, dan lembaga negara diharapkan menjadi langkah bersama dalam membangun ekosistem literasi yang inklusif, setara, dan bebas dari kekerasan terhadap perempuan.

(SIARAN BERITA) Pentingnya Ruang Aman di Perantauan untuk Berbagi Dukungan Psikologis

MADRID, 5 September – Komunitas perantau Indonesia di Spanyol kini memiliki ruang aman untuk saling menguatkan mental di tengah kerasnya dinamika hidup di negeri orang. Langkah ini diinisiasi oleh Ruanita Indonesia yang menggelar Sesi Nonton & Diskusi Komunitas Indonesia di Spanyol, sebuah ruang inklusif yang dirancang khusus untuk membedah tantangan psikologis warga negara Indonesia di perantauan.

Acara ini dibuka secara resmi oleh Duta Besar RI LBBP untuk Kerajaan Spanyol, Dr. Muhammad Najib. Dalam sambutannya, Dubes Muhammad Najib menyampaikan pesan penguat yang menegaskan bahwa pihak kedutaan sangat mendukung kehadiran ruang-ruang diskusi terbuka seperti ini. Beliau menekankan pentingnya bagi sesama warga Indonesia di luar negeri untuk saling berbagi dukungan psikologis, meruntuhkan stigma seputar kesehatan mental, dan bergandengan tangan menghadapi tantangan adaptasi di lingkungan yang baru. Dukungan nyata dari perwakilan RI ini menjadi legitimasi penting bagi ruang aman yang terus dibangun oleh Ruanita Indonesia.

Mengidentifikasi Gelombang Emosi di Perantauan

Selanjutnya, diskusi interaktif ini dipandu oleh dua fasilitator ahli, yaitu Bernadia Dwiyani, seorang mental health educator sekaligus co-founder Kesmenesia di Spanyol, bersama Anna Knöbl, PhD Student, Psikolog di Jerman yang juga menjadi Produser film pendek dokumenter “Dua Kali” yang mengambil setting kehidupan perantau Indonesia di Jerman. Film “Dua Kali” mengambil cerita dari Relawan Ruanita Indonesia di Jerman yang mengalami permasalahan mental saat Pandemi COVID-19 lalu dan bagaimana dia mengakses layanan kesehatan mental, disertai perjuangannya untuk mematahkan stigma sosial. Suasana diskusi berjalan dengan prinsip ruang aman yang sangat ketat, di mana lembar kerja dan cerita para peserta dijaga kerahasiaannya secara penuh.

Sesi pertama dimulai tepat setelah pemutaran Film “Dua Kali”, yang memicu para peserta untuk mengidentifikasi emosi dominan melalui kacamata karakter di layar kaca. Mereka diajak memvalidasi perasaan-perasaan berat yang kerap melanda warga Indonesia di Spanyol, mulai dari homesickness, rasa sepi ekstrim (expat loneliness), kecemasan mendalam terhadap birokrasi dan masa depan, hingga krisis kehilangan identitas diri.

Menyusun Peta Strategi Hadapi Stres

Memasuki paruh kedua acara setelah penayangan Film “Dua Kali”, fokus diskusi bergeser pada penyusunan peta koping atau strategi konkret dalam menghadapi stres. Para fasilitator memetakan dua jalur utama yang bisa diambil oleh para perantau di Spanyol.

Jalur pertama adalah problem-focused coping untuk mengubah situasi stres, seperti mulai mengambil kursus bahasa lokal, merapikan jadwal pengurusan TIE, atau aktif bergabung dalam jaringan masyarakat Indonesia di Spanyol. Jalur kedua adalah emotion-focused coping untuk menenangkan pikiran saat situasi belum bisa diubah, yang diimplementasikan melalui aksi sederhana seperti menelepon keluarga di tanah air, berjalan sore di taman, atau berolahraga.

Melalui siaran pers ini, Ruanita Indonesia menegaskan kembali pesan psikoedukasi utama mereka bahwa merasa tidak baik-baik saja di tempat yang baru adalah respons yang sepenuhnya normal, dan mengakui kerentanan merupakan langkah awal menuju ketahanan diri. Bagi masyarakat Indonesia di Spanyol yang membutuhkan jaring pengaman atau bantuan psikologis lebih lanjut, Ruanita Indonesia membuka akses konsultasi yang dapat dijadwalkan secara langsung melalui laman booking resmi di website.

(GALERI FOTO) Nonton dan Diskusi Film “Dua Kali”

Dalam rangka mempromosikan kesehatan mental sekaligus memperkenalkan program konseling online Ruanita Indonesia, acara pemutaran film “Dua Kali” yang disertai psikoedukasi berhasil diselenggarakan dengan baik di gedung pertemuan KBRI Madrid, Spanyol (5/9). Sebelumnya, Tim Ruanita Indonesia juga sempat melakukan audiensi dan tatap muka bersama Dubes RI untuk Kerajaan Spanyol beserta jajarannya, guna memperkuat dukungan sosial bagi warga Indonesia di Spanyol di bidang psikologi, sosial, dan budaya. Ada pun kegiatan ini dilaksanakan oleh relawan Ruanita Indonesia di Spanyol, yakni: Bernadia Dwiyani, Tyka Karunia dan didampingi Anna Knöbl di Jerman.

(PRODUK) Buku Kumpulan Cerita Fiksi Kolektif: Gema dari Ruang Hening

Buku ini merupakan kumpulan cerita fiksi yang lahir dari pengalaman batin, refleksi, dan imajinasi 25 perempuan Indonesia yang hidup tersebar di 14 negara. Berakar dari kampanye digital Ruanita Indonesia dalam rangka Hari Perempuan Internasional Maret 2026, karya ini menjadi ruang bersama untuk merayakan suara perempuan sebagai warga global yang melintasi batas geografis, budaya, dan identitas.

Setiap cerita menghadirkan potret kehidupan perempuan Indonesia di perantauan: tentang rindu yang tak sederhana, pergulatan identitas di negeri orang, relasi rumah tangga yang kompleks, hingga perjuangan menghadapi diskriminasi, kekerasan, dan kesepian. Di sisi lain, kisah-kisah ini juga menampilkan ketangguhan, keberanian mengambil keputusan, pencarian makna diri, serta upaya membangun mimpi dan kemandirian di tengah keterbatasan.

Dari konflik keluarga, tekanan sosial, hingga pertemuan lintas budaya, para tokoh dalam buku ini bergerak di antara dua dunia, yakni mempertahankan akar sekaligus beradaptasi dengan realitas baru. Ada suara-suara yang dulu dipendam kini menemukan jalannya: tentang menjadi anak perempuan pertama, menjadi istri di tanah konflik, menjadi pekerja migran yang terpinggirkan, hingga menjadi individu yang berani mendefinisikan ulang kebahagiaan dan identitasnya.

Disunting dari hasil Workshop Online Warga Menulis Fiksi, buku ini bukan sekadar kumpulan cerita melainkan arsip hidup tentang pengalaman perempuan Indonesia di panggung global. Ini menjadi bukti bahwa setiap pengalaman perempuan adalah pengetahuan, setiap luka adalah narasi, dan setiap kata adalah bentuk keberanian.


Buku ini mengajak pembaca untuk tidak hanya membaca, tetapi juga mendengar dan merasakan, bahwa di balik jarak dan perbedaan, ada benang merah yang menghubungkan antara perjuangan untuk menjadi diri sendiri dan dunia yang lebih setara.

Nantikan buku ini yang akan dijadikan dalam versi audio dalam produksi bersama secara sukarela dalam waktu dekat.

(SIARAN BERITA) Ruanita Indonesia Berhasil Perkuat Kesiapan Profesional dan Interkultural Perawat Indonesia di Negara Berbahasa Jerman

Berlin, 28 Juni – Workshop online bertajuk “Praktik Nyata Perawat Indonesia di Eropa” sukses diselenggarakan dalam dua sesi pada Minggu, 28 Juni 2026 dan Minggu, 5 Juli 2026, pukul 10.00–12.00 CEST, melalui platform Zoom Meeting yang difasilitasi oleh Ruanita Indonesia. Kegiatan ini menghadirkan Henny Silalahi, dosen keperawatan di Jerman, sebagai pemateri utama, dengan fokus pada penguatan kompetensi profesional, komunikasi klinis, serta kesiapan interkultural bagi perawat Indonesia yang bekerja atau akan berkarier di negara-negara berbahasa Jerman seperti Jerman, Swiss, dan Austria.

Workshop ini terbuka bagi perawat Indonesia dari berbagai jalur karier, termasuk mereka yang sedang mempersiapkan keberangkatan ke Jerman untuk meniti profesi keperawatan. Dengan pendekatan berbasis bukti (evidence-based insight), simulasi kasus nyata, dan refleksi pengalaman peserta, kegiatan ini dirancang untuk menjawab tantangan riil yang dihadapi perawat migran Indonesia di Eropa.

Selama ini, dunia keperawatan antarbudaya lebih banyak menekankan sisi administrasi dan kompetensi bahasa asing saja, padahal praktik nyata lebih daripada itu. Workshop daring ini menjawab kebutuhan komunikasi dan kompetensi yang masih ada gap di antara perawat-perawat di negara berbahasa Jerman.

Pada sesi pertama, workshop dibuka secara resmi oleh Deputy Chief of Mission (DCM) KBRI Berlin, Bapak Fajar Wirawan Harijo. Bapak Fajar Wirawan Harijo mengapresi ruang-ruang digital yang dibangun oleh Ruanita Indonesia untuk menyediakan ruang belajar sesama orang Indonesia, seperti workshop daring keperawatan antarbudaya. Ia menilai program ini bisa terus dilanjutkan di kemudian hari untuk membantu para perawat Indonesia beradaptasi dengan situasi negara tujuan, seperti Jerman.

Di hari pertama, peserta mendalami tema Intercultural Nursing Practice (Indonesia vs Jerman) yang membahas perbedaan budaya kerja, pola komunikasi, otonomi pasien, serta tanggung jawab hukum perawat di sistem kesehatan Jerman. Diskusi berkembang pada dinamika hubungan profesional antara tenaga kesehatan, termasuk bagaimana gaya komunikasi langsung dalam budaya Jerman dapat dipersepsikan berbeda oleh tenaga kesehatan asal Indonesia.

Sesi kedua mengangkat topik Clinical Communication & Workplace Survival, yang menitikberatkan pada keterampilan komunikasi efektif di lingkungan klinis, termasuk penggunaan metode SBAR, interaksi dengan pasien lansia, hingga strategi menghadapi konflik komunikasi dalam tim interprofesional. Peserta juga mengikuti simulasi handover dan latihan kalimat klinis yang relevan untuk konteks rumah sakit di Jerman.

Setiap sesi dirancang selama dua jam dengan struktur pembelajaran 20 persen konsep inti, 50 persen studi kasus dan simulasi, serta 30 persen diskusi dan refleksi pengalaman. Model ini memungkinkan peserta tidak hanya memahami teori, tetapi juga memperoleh alat praktis yang dapat diterapkan langsung di tempat kerja.

Sebagai luaran, peserta memperoleh berbagai perangkat pendukung seperti checklist adaptasi budaya klinis, template komunikasi praktis, serta kumpulan frasa kunci yang umum digunakan dalam pelayanan kesehatan di Jerman.

Anna Knöbl, Founder Ruanita Indonesia, yang turut mengoordinasikan jalannya kegiatan, menegaskan bahwa workshop ini lahir dari kebutuhan nyata komunitas perawat Indonesia di Eropa.

“Perawat Indonesia di negara-negara berbahasa Jerman membutuhkan ruang belajar yang tidak hanya membahas teori, tetapi juga praktik nyata di lapangan. Workshop ini menjadi jembatan untuk memperkuat kesiapan profesional, adaptasi budaya, dan strategi karier yang realistis bagi mereka,” ujar Founder Ruanita Indonesia, Anna Knöbl yang tinggal di Jerman. Lebih lanjut Anna menekankan pentingnya kolaborasi lintas budaya dalam membangun ekosistem pendukung bagi tenaga kesehatan migran.

“Kami ingin menghadirkan forum yang relevan dan berdampak langsung. Tantangan terbesar bukan hanya bahasa, tetapi bagaimana memahami sistem kerja, komunikasi profesional, dan budaya klinis yang berbeda. Inilah kompetensi yang perlu dipersiapkan sejak awal,” jelas Anna Knöbl sekali lagi. Melalui workshop ini, diharapkan peserta menjadi lebih siap menghadapi culture shock, mampu berkomunikasi lebih efektif di rumah sakit, serta memiliki strategi karier yang lebih terarah di negara-negara berbahasa Jerman.

Keberhasilan penyelenggaraan program ini menandai semakin pentingnya ruang pengembangan kapasitas bagi tenaga kesehatan Indonesia di ranah global, sekaligus membuka peluang untuk penyelenggaraan program lanjutan yang lebih spesifik sesuai kebutuhan komunitas profesional Indonesia di Eropa.

(SIARAN BERITA) Seminar Daring Hari UMKM Internasional 2026

Jakarta, 27 Juni 2026 — Dalam rangka memperingati Hari UMKM Internasional, Ruanita Indonesia sukses menyelenggarakan kegiatan diskusi daring bertajuk “Dari Nol ke Global, Cara Jitu Berwirausaha” pada Sabtu, 27 Juni 2026 melalui platform Zoom Meeting. Kegiatan ini menghadirkan narasumber perempuan Indonesia yang memiliki pengalaman dan praktik baik dalam mengelola kewirausahaan di mancanegara.

Kegiatan diikuti oleh pelaku UMKM, perempuan wirausaha, akademisi, dan masyarakat umum di mana saja yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman peserta mengenai penyusunan business plan, proses perizinan usaha di luar negeri, serta strategi membangun usaha di tingkat global.

Koordinator penyelenggara sekaligus moderator kegiatan, Griska Gunara, menyampaikan bahwa perempuan Indonesia memiliki potensi besar untuk berkembang dalam dunia kewirausahaan internasional apabila diberikan akses pengetahuan, jejaring, dan inspirasi yang tepat.

“Diskusi ini menjadi ruang berbagi pengalaman dan praktik baik perempuan Indonesia di berbagai negara agar semakin banyak perempuan berani memulai dan mengembangkan usaha hingga tingkat global,” ujar Griska Gunara.

Acara dibuka dengan motivasi dari Griska sendiri yang pernah menjadi pelaku usaha saat masih di Indonesia dulu. Dia berharap acara ini mendorong siapa saja dapat memanfaatkan keterampilan kejuruan dan teknologi digital sebagai bekal membangun usaha kreatif dan inovatif.

Acara kemudian dilanjutkan dengan pemaparan sisi akademisi, Novy Anggaraini, PhD Student di Hungaria dan dosen ekonomi di Indonesia, menjelaskan pentingnya business plan sebagai fondasi dalam membangun usaha yang berkelanjutan. Ia juga menekankan perlunya adaptasi budaya bisnis dan penguatan kompetensi kewirausahaan bagi perempuan Indonesia yang ingin mengembangkan usaha di luar negeri.

Sementara itu, Winda Sulistiawati, perempuan wirausaha di Austria, berbagi pengalaman mengenai proses penyusunan business plan, pengajuan izin usaha, serta tantangan membangun usaha kuliner di Eropa, umumnya dan Austria, khususnya. Pada sesi berikutnya, Dewi Maya, perempuan wirausaha di Amerika Serikat dan owner brand tas “Dewi Maya”, memaparkan strategi pemasaran dan legalisasi usaha di Amerika Serikat.

Diskusi juga menghadirkan praktisi Dwi Kuntari, yang telah melakukan ekspor impor dengan brand Jamu Deka. Dia membagikan pengalaman dalam mengelola usaha “Jamu Deka” serta tantangan ekspor produk lokal Indonesia ke pasar internasional, seperti Italia.

Peserta terlihat antusias mengikuti sesi tanya jawab interaktif yang membahas peluang usaha global, tantangan adaptasi budaya bisnis, hingga strategi pemasaran digital untuk UMKM. Melalui kegiatan ini, Ruanita Indonesia berharap semakin banyak perempuan Indonesia yang percaya diri untuk memulai usaha, memperluas jejaring kolaborasi, dan mengembangkan bisnis hingga tingkat internasional.

Anna Knöbl ingin memperkuat jaringan perempuan yang tertarik berwirausaha untuk membuat networking berkelanjutan yang saling mendukung lewat ruang digital yang diinisasi Ruanita Indonesia. Di masa berikutnya, Ruanita Indonesia akan membuat Networking para perempuan Indonesia di mana saja untuk bisa belajar satu sama lain dalam kewirausahaan.

(SIARAN BERITA) Workshop Daring Menulis PMI Perempuan: Dorong Suara Perempuan Migran Lewat Tulisan

Singapura, Mei 2026 — Dalam rangka memperingati Hari Buruh Sedunia, Ruanita Indonesia dan komunitas FPMI di Singapura menyelenggarakan kegiatan Workshop Daring Menulis bertajuk “From Zero to Hero: Bersuara Lewat Tulisan untuk Pekerja Migran Indonesia (PMI) Perempuan”. Kegiatan ini dilaksanakan pada Minggu, 3, 10, dan 17 Mei 2026 secara daring melalui platform Zoom Meeting.

Workshop ini bertujuan untuk menyediakan ruang aman dan produktif bagi PMI perempuan untuk mendokumentasikan pengalaman hidup mereka di perantauan melalui tulisan, sekaligus memperkuat kapasitas literasi sebagai bagian dari upaya advokasi dan produksi pengetahuan berbasis pengalaman.

Kegiatan ini mendapat dukungan dari Kedutaan Besar Republik Indonesia di Singapura, yang dihadiri oleh Maradona A Runtukahu, Koordinator Protokol dan Kekonsuleran, dan Komnas Perempuan sebagai lembaga nasional yang fokus pada perlindungan perempuan.

Dalam sesi pembukaan, perwakilan KBRI Singapura menyampaikan pentingnya peningkatan kapasitas dan ruang ekspresi bagi PMI, khususnya perempuan, sebagai bagian dari upaya penguatan perlindungan dan pemberdayaan. KBRI Singapura juga menegaskan komitmennya untuk terus mendukung program-program yang memberikan dampak langsung bagi kesejahteraan dan perlindungan pekerja migran Indonesia di Singapura.

Sementara itu, Komnas Perempuan, yang diwakili oleh Komisioner Devi Rahayu, menyoroti pentingnya perspektif perlindungan berbasis gender dalam konteks migrasi tenaga kerja. Dalam paparannya, Komnas Perempuan menekankan bahwa pengalaman perempuan migran tidak hanya terkait aspek ekonomi, tetapi juga mencakup isu kerentanan, kekerasan berbasis gender, serta pentingnya akses terhadap keadilan dan perlindungan yang komprehensif.

Workshop ini menghadirkan pemateri pertama Dr. Nor Ismah, PostDoctoral Fellow di Asian Research Institute National University of Singapore (NUS) yang memberikan pelatihan teknis menulis dan storytelling berbasis pengalaman. Pemateri kedua adalah Anna Knöbl, PhD Student di Universität Passau, Germany yang menyampaikan pentingnya narasi dalam mendokumentasikan pengalaman hidup.

Melalui rangkaian workshop selama 3 kali pertemuan, peserta tidak hanya belajar menulis, tetapi juga akan mendapatkan pendampingan (mentoring) hingga menghasilkan karya tulisan yang akan dihimpun dalam sebuah buku bersama sebagai output akhir kegiatan. Program ini juga membuka ruang jejaring (networking) antar PMI perempuan, serta memberikan sertifikat elektronik bagi peserta.

Selain itu, kegiatan dimoderasi oleh Dewi Lubis, PMI di Singapura dan Founder komunitas penulis migran. Acara ini juga menghadirkan sesi diskusi, refleksi, dan mentoring penulisan yang diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam membangun komunitas penulis PMI perempuan, sekaligus memperkuat suara dan narasi perempuan migran Indonesia di ruang publik.

(SIARAN BERITA) Ruanita Indonesia Fasilitasi Workshop Online tentang Empati, Gender, dan Keadilan Sosial dalam Konteks Banda Neira

Jakarta, April 2026 – Ruanita Indonesia bersama Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Amerop telah menyelenggarakan workshop online bertajuk “The Forgotten Banda Neira: Women, Gender, Inclusivity & Social Justice in Island Community” pada Sabtu–Minggu, 18–19 April 2026 melalui platform Zoom.

Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian persiapan program pengabdian masyarakat ke Banda Neira, dengan fokus pada penguatan perspektif etika, kesadaran gender, serta keadilan sosial bagi peserta yang berasal dari berbagai negara studi.

Workshop difasilitasi oleh Fransisca Ariantiningsih, PhD student di Amerika Serikat dan aktivis lingkungan hidup; Zakiyatul Mufidah, PhD student di Inggris sekaligus dosen di Indonesia; serta fasilitator Ferdyani Atikaputri dan Anna Knöbl.

Selama dua hari pelaksanaan, workshop menghadirkan ruang diskusi yang mendorong peserta untuk memahami Banda Neira tidak hanya sebagai lokasi geografis atau destinasi sejarah, tetapi sebagai komunitas dengan kompleksitas sosial yang dipengaruhi oleh warisan kolonial, dinamika ekonomi, serta relasi gender.

Peserta diajak untuk merefleksikan berbagai pertanyaan kunci, antara lain:

  • Bagaimana cara berkunjung tanpa mengeksotisasi komunitas lokal?
  • Siapa yang diuntungkan dari narasi tentang Banda Neira?
  • Bagaimana sejarah kolonial masih memengaruhi kehidupan sosial saat ini?

Pendekatan yang digunakan bersifat partisipatif, melalui diskusi kelompok, refleksi kritis, serta pemetaan gagasan secara kolektif.

Workshop juga menekankan pentingnya memahami isu gender dalam konteks yang lebih luas melalui pendekatan interseksionalitas, yang mempertimbangkan keterkaitan antara gender, kelas, geografi, dan akses terhadap sumber daya.

Dalam sesi diskusi, peserta mengeksplorasi konsep kerja tak terlihat (invisible labor), khususnya peran perempuan dalam menopang kehidupan sosial dan ekonomi yang sering tidak tercatat dalam narasi dominan.

Selain itu, peserta didorong untuk mengembangkan kesadaran terhadap posisi dan peran mereka sebagai bagian dari masyarakat yang lebih luas, serta potensi bias dalam praktik pengabdian masyarakat.

Salah satu fokus utama workshop adalah membangun kesadaran tentang etika representasi dan risiko eksotisasi dalam dokumentasi maupun narasi tentang komunitas.

Peserta diajak untuk membedakan antara empati dan pendekatan yang berpotensi memosisikan masyarakat sebagai objek, serta untuk menghindari narasi yang bersifat heroik atau paternalistik.

Sebagai bagian dari proses ini, peserta juga menyusun komitmen etis yang akan menjadi panduan dalam pelaksanaan kegiatan lapangan.

Sebagai tindak lanjut, peserta diharapkan membentuk kelompok kerja untuk mengembangkan karya kolektif, ssebagai medium yang etis dan tidak eksploitatif, sekaligus menjadi arsip pembelajaran kolektif peserta.

Komitmen terhadap Pembelajaran Kritis

Melalui workshop ini, Ruanita Indonesia menegaskan komitmennya dalam mendorong pendekatan pengabdian masyarakat yang tidak hanya berorientasi pada kegiatan lapangan, tetapi juga pada proses pembelajaran kritis, reflektif, dan berkelanjutan.

Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi landasan bagi peserta untuk menjalankan program pengabdian dengan kesadaran sosial yang lebih mendalam, serta membangun praktik yang lebih adil dan inklusif dalam berinteraksi dengan komunitas.

(KNOWLWDGE SHARING) Memahami Keberagaman Cara Kerja Otak

Frankfurt, 14 Februari – Ruanita Indonesia menyelenggarakan sesi Knowledge Sharing bertajuk “Neurodiversitas: Memahami Keberagaman Cara Kerja Otak”, sebuah ruang belajar daring yang mengajak peserta untuk melihat keberagaman neurologis secara lebih inklusif, empatik, dan membumi. Kegiatan ini diselenggarakan pada Sabtu, 14 Februari 2026, pukul 10.00 CET, melalui Zoom Meeting dengan durasi 120 menit.

Sesi ini menghadirkan Lovely Christi Zega, Psikolog Klinis yang berbasis di Jerman, sebagai pemateri. Dengan pendekatan psikoedukasi dan knowledge sharing yang bersifat non-layanan terapi, sesi ini dirancang untuk memperluas pemahaman dasar tentang neurodiversitas, mengurangi stigma terhadap individu neurodivergen, serta mengajak peserta merefleksikan peran diri dalam menciptakan ruang yang lebih ramah dan aman, baik di keluarga, kampus, maupun lingkungan kerja.

Acara diawali dengan pembukaan yang menekankan penciptaan ruang aman, penyamaan ekspektasi, serta penegasan bahwa sesi ini tidak bertujuan untuk diagnosis dan terapi individual.

Pengantar mengenai konsep neurodiversitas kemudian disampaikan, mencakup asal-usul istilah, perbedaannya dengan diagnosis medis, serta pengenalan istilah neurodivergen dan neurotipikal. Peserta diajak memahami mengapa pembahasan neurodiversitas menjadi semakin relevan dalam konteks kehidupan hari ini.

Dalam sesi berikutnya, pemateri mengulas ragam neurodiversitas yang sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari, seperti autisme, ADHD, Asperger, disleksia, serta variasi neurologis lainnya. Pembahasan difokuskan pada kekuatan dan tantangan yang kerap muncul, sekaligus membongkar mitos yang masih melekat di masyarakat. Penekanan diberikan bahwa materi ini tidak ditujukan untuk self-diagnosis dan pelabelan.

Sesi refleksi interaktif menjadi ruang penting bagi peserta untuk berhenti sejenak dan meninjau kembali cara pandang personal dan sosial. Melalui pertanyaan reflektif yang bersifat opsional dan tanpa kewajiban berbagi, peserta diajak bertanya pada diri sendiri, seperti tentang apa yang selama ini dianggap “tidak biasa”, serta sejauh mana lingkungan yang mereka alami sudah cukup ramah bagi keberagaman cara berpikir.

Diskusi kemudian diperluas ke konteks Indonesia dan lintas budaya. Tantangan yang dihadapi individu neurodivergen dalam budaya kolektivistik, ekspektasi keluarga dan pendidikan, hingga pengalaman tinggal, belajar, atau bekerja di luar negeri dibahas dengan menekankan pentingnya sensitivitas budaya. Dari sini, peserta diajak melihat bahwa inklusivitas tidak bisa dilepaskan dari konteks sosial yang melingkupinya.

Pada bagian praktis, sesi ini mengajak peserta untuk merefleksikan langkah-langkah sederhana namun berdampak dalam membangun sikap yang lebih inklusif. Mulai dari cara berkomunikasi, menjadi rekan atau anggota keluarga yang suportif, hingga memahami batas empati, dan bagaimana membantu tanpa memaksakan. Fokus tetap diarahkan pada sikap dan perilaku sehari-hari, bukan intervensi klinis.

Sesi tanya jawab berlangsung dengan panduan yang jelas untuk menjaga keamanan psikologis bersama. Pertanyaan difokuskan pada pemahaman dan sikap, tanpa membahas kasus personal secara mendetail atau meminta diagnosis. Acara ditutup dengan rangkuman poin kunci dan pesan reflektif dari pemateri, sebagai ajakan untuk terus belajar dan bertumbuh bersama.

Sebagai catatan penting, tujuan dari program Knowledge Sharing adalah berbagi pengetahuan, pengalaman, dan praktik baik dari para praktisi kesehatan mental Indonesia di berbagai negara, dengan menghadirkan ruang aman untuk mempromosikan kesehatan mental yang inklusif dan selaras dengan nilai-nilai Indonesia.

Program ini merupakan bagian dari inisiatif Ruanita Indonesia yang didirikan dan dikelola oleh Anna Knöbl di Jerman, sebagai ruang kolektif digital berbasis manajemen nilai, resource sharing, dan intervensi komunitas dalam konteks lintas negara. Inisiatif ini berfungsi sebagai social support system yang memanfaatkan teknologi digital modern sebagai medium interaksi dan pembelajaran.

(POLICY BRIEF) Memperkuat Keamanan Digital dan Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender Online bagi Perempuan Indonesia di Ruang Siber Global

POLICY BRIEF (DRAFT – UNTUK KOMNAS PEREMPUAN & KEMENPPPA) 

Disusun untuk: Komnas Perempuan & Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) 

1. Executive Summary 

Peningkatan Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO) terhadap perempuan Indonesia menunjukkan urgensi intervensi kebijakan yang lebih sistematis dan berbasis bukti. Bentuk-bentuk kekerasan seperti non-consensual dissemination of intimate images (NCII), sexual extortion, cyberstalking, penipuan berbasis relasi semu, serta penyalahgunaan teknologi deepfake semakin meluas. 

Policy brief ini menyajikan analisis dan rekomendasi strategis untuk memperkuat perlindungan melalui penguatan regulasi, literasi digital, akuntabilitas platform, dan layanan pemulihan, selaras dengan mandat Komnas Perempuan dan KemenPPPA. 

2. Latar Belakang 

KBGO meningkat dan menjadi ancaman serius terhadap hak asasi perempuan. Ruang digital menjadi bagian integral kehidupan perempuan, namun risiko seperti eksploitasi data, manipulasi teknologi, dan kekerasan psikologis terus berkembang. Mandat Komnas Perempuan dan KemenPPPA diperlukan untuk menghasilkan kebijakan efektif. 

3. Identifikasi Masalah Utama 

  • Kompleksitas bentuk KBGO seperti NCII dan deepfake. 
  • Dampak serius pada kesehatan mental dan partisipasi publik. 
  • Kerentanan teknis dan rendahnya literasi digital. 
  • Kesenjangan implementasi kebijakan dan layanan korban. 

4. Analisis Kebijakan 

KBGO melanggar hak atas rasa aman dan privasi. Intervensi diperlukan melalui penguatan pemantauan, layanan korban, akuntabilitas platform, dan edukasi publik. 

5. Rekomendasi Kebijakan 

A. Untuk Komnas Perempuan: 

  • Memperkuat dokumentasi dan pemantauan KBGO. 
  • Mengembangkan rekomendasi kebijakan terkait NCII dan deepfake. 
  • Sinkronisasi kebijakan antarlembaga. 
  • Memperluas kampanye perlindungan perempuan di ruang digital. 

B. Untuk KemenPPPA: 

  • Integrasi literasi digital sensitif gender dalam program nasional. 
  • Modul literasi digital bagi perempuan terkait keamanan data.
  • Penguatan layanan trauma-informed. 
  • Peningkatan kapasitas UPTD PPA dalam penanganan bukti digital. 

C. Kolaborasi Komnas Perempuan – KemenPPPA: 

  • Menyusun pedoman nasional penanganan KBGO. 
  • Kampanye nasional “Ruang Digital Aman bagi Perempuan Indonesia”. 
  • Membangun mekanisme rujukan cepat antarinstansi dan platform digital. 

D. Untuk Platform Digital: 

  • Mekanisme pelaporan cepat untuk NCII dan deepfake. 
  • Implementasi safety by default. 
  • Dialog teknis dengan pemerintah dan Komnas Perempuan. 

E. Untuk Sektor Pendidikan & Organisasi Sipil: 

  • Penguatan riset dan edukasi publik tentang KBGO. 
  • Pelibatan komunitas perempuan sebagai agen deteksi dini. 

6. Pesan Kunci 

KBGO adalah pelanggaran serius yang memerlukan respons terintegrasi. Literasi digital sensitif gender dan akuntabilitas platform adalah pilar utama. 

7. Penutup 

Ancaman digital terhadap perempuan Indonesia membutuhkan kolaborasi kuat antar lembaga negara, platform digital, dan masyarakat sipil. Rekomendasi kebijakan ini diharapkan memperkuat perlindungan perempuan di ruang digital.

Tertanda 

Tim Penyelenggara Forum Online: PhD Connections

  • Anna Knöbl, Founder Ruanita Indonesia
  • Ari Nursenja Rivanti, PhD Student di Finlandia
  • Zakiyatul Mufidah, PhD Student di UK
  • Fransisca Hapsari, PhD Student di Jerman
  • Anggy Eka Pratiwi, PhD Student di India

(GALERI FOTO) Peringatan Hari Kesehatan Mental bersama KBRI Wina dan PPI Austria

Acara difasilitasi oleh KBRI Wina, Austria dan dihadiri oleh Dubes RI, Dr. iur. Damos Dumoli Agusman, Duta Besar RI untuk Austria dan Slovenia sekaligus Organisasi Internasional di Wina. Acara ini dipandu oleh relawan Ruanita di Austria, Azizah Seiger. Hadir sebagai pemateri adalah Anna Knöbl dan Liebgard Fuchs, Neuro-Mental Trainer di Austria.

(SIARAN BERITA) Ruanita Sukses Gelar Diskusi Interaktif tentang Dukungan Psikologis dan Responsif Gender Lintas Budaya di Wina, Austria

Wina, 26 Oktober 2025 — Ruanita bersama Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Wina telah sukses menyelenggarakan kegiatan Diskusi Interaktif bertema “Berbagi Dukungan Psikologis dan Praktik Baik Responsif Gender Lintas Budaya Indonesia–Austria” pada Sabtu, 25 Oktober 2025 pukul 14.00 sampai dengan selesai.

Acara ini berlangsung secara luring di ruang pertemuan KBRI Wina, Austria, yang kemudian dimanfaatkan Tim Ruanita untuk showcase. Kegiatan ini menjadi wadah berbagi pengalaman lintas budaya bagi masyarakat Indonesia yang tinggal di Austria dan Slovenia.

Dalam sambutan pembuka, Dr. iur. Damos Dumoli Agusman, Duta Besar RI untuk Austria dan Slovenia sekaligus Organisasi Internasional di Wina, menyampaikan pentingnya memperkuat jejaring dukungan psikologis bagi orang Indonesia, terutama saat tinggal di mancanegara. Menurutnya, kesehatan mental dan kesetaraan gender merupakan bagian integral dari diplomasi kemanusiaan yang perlu terus ditingkatkan.

Diskusi menghadirkan dua pembicara utama, yaitu Anna Knöbl, PhD Student di Universität Passau di Jerman, yang juga founder dari Ruanita Indonesia, dan Liebgard Fuchs, Neuro-Mental Trainer di Austria. Anna menyoroti tantangan psikologis yang dihadapi orang Indonesia dalam konteks transnasional dan pentingnya pendekatan responsif gender dalam kesehatan mental.

Sementara Liebgard Fuchs atau yang disapa Libi, perempuan asal Austria ini memperkenalkan perspektif lintas budaya dan berbasis gender dalam merespon resiliensi tinggal di Austria. Libi juga adalah seorang Neuro-Mental Trainer yang juga memperkenalkan teknik emotional power tapping sederhana kepada peserta.

Sesi dipandu oleh Azizah Seiger, relawan Ruanita di Austria, yang membawa suasana diskusi menjadi dinamis dan interaktif. Peserta aktif berdialog, berbagi pengalaman, dan bertukar pandangan tentang praktik baik dukungan psikologis lintas budaya.

Kegiatan ini mendapat sambutan positif dari peserta karena berhasil menjembatani perspektif profesional dan pengalaman lapangan dalam isu kesehatan mental yang responsif gender.

Ruanita di bawah naungan Yayasan Ruanita Perempuan Indonesia, sebagai komunitas yang memperkuat psikoedukasi dan psikososial dalam lintas budaya bagi orang Indonesia di mancanegara, berkomitmen untuk terus menghadirkan ruang diskusi, edukasi, dan dukungan bagi orang-orang Indonesia yang tinggal di mancanegara.

Untuk informasi lebih lanjut, hubungi Azizah Seiger, Koordinator Acara melalui e-mail info@ruanita.com.

(SIARAN BERITA) Berbagi Pengetahuan Keperawatan dan Layanan Kesehatan Jiwa di Jerman

KALIMANTAN SELATAN, 18 Oktober – Dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia 2025, Ruanita Indonesia bekerja sama dengan Organisasi Kesmenesia serta Ikatan Perawat Kesehatan Jiwa Indonesia (IPKJI) di Kalimantan Selatan menyelenggarakan diskusi online lintas negara pada hari ini.

Kegiatan ini mengusung tema “Akses Layanan Kesehatan Mental Saat Genting dan Bencana”, sesuai dengan fokus peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia 2025 secara global tahun ini.

Acara dihadiri lebih dari seratus orang yang berlangsung secara daring melalui platform Zoom ini diikuti oleh anggota IPKJI, mahasiswa keperawatan jiwa, praktisi kesehatan jiwa, serta masyarakat umum yang tertarik dengan isu lintas budaya dalam kesehatan mental.

Diskusi dibuka oleh Maria Frani Ayu, perawat jiwa sekaligus koordinator penyelenggara, dilanjutkan dengan sambutan dari Achmad Syamsudin, Ketua IPKJI Kalimantan Selatan.

Sesi utama menghadirkan narasumber Aulia Farsi, perawat jiwa di Jerman sekaligus Co-founder Kesmenesia, yang berbagi pengalaman mengenai profesi perawat jiwa di Jerman, mulai dari sistem pendidikan, peran, hingga tantangan di lapangan.

Selain itu, Anna Knöbl, pendiri Ruanita Indonesia, juga membagikan praktik baik mengenai akses layanan kesehatan jiwa di Jerman khususnya pada situasi darurat dan bencana.

Follow us

Diskusi semakin interaktif dengan sesi tanya jawab berdurasi hampir satu jam, di mana peserta antusias menyampaikan pertanyaan seputar layanan kesehatan mental lintas negara. Acara kemudian ditutup dengan rangkuman serta pesan peneguhan dari Maria Frani Ayu.

Melalui kegiatan ini, para peserta mendapatkan wawasan mengenai sistem layanan darurat kesehatan mental di Jerman, seperti: unit gawat darurat psikiatri, hotline krisis 24 jam, serta tim intervensi cepat komunitas, yang dapat menjadi inspirasi dalam memperkuat peran perawat jiwa di Indonesia.

Penyelenggara berharap diskusi ini tidak hanya menjadi ajang berbagi pengetahuan, tetapi juga memperkuat kolaborasi antarprofesi kesehatan jiwa di lintas negara. 

(SIARAN BERITA) Soft Launch Kesmenesia

JERMAN – Dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia 2025, organisasi profesi kesehatan mental orang Indonesia di Eropa, Kesmenesia (Kesehatan Mental Indonesia di Eropa), mulai diperkenalkan kepada publik melalui acara Soft Launch Event yang dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting pada Sabtu, 11 Oktober 2025.

Menyadari tantangan hidup transnasional yang unik dalam menjaga kesehatan mental, mulai dari rasa rindu kampung halaman (homesickness), tekanan akademik maupun pekerjaan, isolasi sosial, hingga perbedaan budaya (cultural shock) dan risiko burnout, Kesmenesia hadir memperkuat psikoedukasi dan psikososial yang dibutuhkan warga Indonesia di mancanegara.

Follow us

Tentu saja, perbedaan cara pandang antara masyarakat Indonesia dan Eropa terhadap isu kesehatan mental seperti: stigma, ekspresi emosi, hingga sistem dukungan psikologi, menjadi konteks penting yang diangkat dalam forum ini.

Mengusung format “Workshop Online: Berbagi Kesehatan Mental dan Perbedaan Budaya”, ruang interaktif digital yang berdurasi dua jam ini dihadiri oleh orang-orang yang tertarik akan tema kesehatan mental, lintas budaya, dan migrasi yang ingin berbagi pengalaman yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari peserta.

Para fasilitator yang terdiri atas Co-founder Kesmenesia yang tinggal di Eropa ini memfasilitasi berbagai topik, mulai dari pengalaman menghadapi stigma, perbedaan sistem bantuan psikologis, hingga strategi adaptasi lintas budaya. Peserta juga diajak berbagi pengalaman personal mengenai cara menjaga keseimbangan identitas budaya Indonesia sekaligus berintegrasi dengan kehidupan di Eropa.

Pendiri Kesmenesia terdiri atas praktisi, penggiat, peneliti, akademisi yang berfokus pada kesehatan mental di Eropa. Mereka antara lain: Ranindra Anandita, Aulia Farsi, Sven Juda, Firman Tambunan, Bernadia Dwiyani, Fransisca Hapsari, Nelden Djakababa-Gericke, dan Anna Knöbl. 

Kesmenesia (Kesehatan Mental Indonesia Eropa) merupakan organisasi profesi kesehatan mental yang menghimpun para psikolog, tenaga kesehatan jiwa, akademisi, serta individu Indonesia yang peduli pada isu kesehatan mental di Eropa. Berlandaskan nilai empati, keterbukaan, dan profesionalisme, Kesmenesia berkomitmen memperjuangkan layanan kesehatan mental yang inklusif bagi orang Indonesia di mancanegara.

Kontak Media: E-mail indonesiakesmen@gmail.com 

(SIARAN BERITA) Workshop Jamu: Warisan Budaya Indonesia untuk Kesehatan Musim Dingin di Eropa

JERMAN – Hari ini, (15/01) Workshop Jamu yang bertemakan “Jamu: Warisan Penyembuhan Tradisional Indonesia untuk Kesehatan di Musim Dingin” resmi dibuka. Acara ini diperkenalkan kepada para mahasiswa internasional di Universitas Passau sebagai seni penyembuhan tradisional Indonesia melalui jamu, yang juga merupakan bagian penting dari warisan budaya tak benda Indonesia.

Pembukaan acara diawali oleh sambutan dari Perwakilan KJRI Frankfurt melalui video, yang menyampaikan dukungannya terhadap inisiatif ini meskipun tidak dapat hadir secara langsung. Sebagai informasi, KJRI Frankfurt telah memfasilitasi workshop jamu ini agar acara berjalan sukses.

Selain itu, hadir di lokasi, Dr. rer. grout. Roniyus Marjunus, S.Si., M.Sc., Atase Pendidikan dan Kebudayaan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Berlin tampak memenuhi undangan untuk memberikan sambutan setelah KJRI Frankfurt.

Dalam sambutannya, Atdikbud KBRI Berlin menekankan pentingnya jamu sebagai simbol warisan budaya dan potensinya dalam mempererat hubungan akademik serta diplomatik antara Indonesia dan komunitas internasional.

Workshop ini bertujuan untuk memperkenalkan jamu sebagai solusi kesehatan yang alami dan berkelanjutan, terutama di tengah musim dingin. Selama sesi interaktif yang berlangsung selama tiga jam, para peserta tidak hanya belajar teori tentang jamu, tetapi juga berkesempatan untuk mempraktikkan pembuatan dan mencicipinya secara langsung.

Melalui acara ini, diharapkan tercipta pemahaman budaya yang lebih baik dan penguatan hubungan antara Indonesia dengan komunitas akademik internasional, khususnya di Jerman. Selain itu, program ini juga menjadi langkah strategis dalam mempromosikan potensi ekspor jamu dan relevansinya dalam diskusi kesehatan global masa kini.

Workshop Jamu ini merupakan salah satu program unggulan yang diinisiasi oleh Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Frankfurt, bekerja sama dengan Universitas Passau, guna memupuk dialog lintas budaya dan jembatan pendidikan serta membangun kerja sama yang lebih kuat di masa mendatang.