(CERITA SAHABAT) Membesarkan Anak di Latvia dan Bagaimana Menemukan “Rumah” di Negeri Baltik

Halo, sahabat Ruanita! Nama saya Soca Indriya, biasa dipanggil Soca. Saya tinggal di Latvia bersama suami dan ketiga anak kami. Perjalanan ini awalnya bukan rencana besar yang kami buat jauh-jauh hari. Kami pindah ke sini karena saya mendapat tawaran bekerja di sebuah perusahaan multinasional yang berkantor di Latvia. Dari situlah kehidupan baru kami dimulai, jauh dari tanah air dan keluarga besar.

Jika dulu ada yang bertanya pada saya, “Apakah kamu akan menetap di Latvia?” mungkin saya hanya akan tersenyum bingung. Latvia bukan negara yang sering masuk dalam daftar destinasi impian. Tapi takdir membawa kami ke sini. Dengan tiga anak kecil, yakni si sulung usia 9 tahun, si anak tengah perempuan 8 tahun, dan si bungsu laki-laki 4 tahun, yang kemudian membuat kami berani mencoba hidup di negeri Baltik.

Awalnya penuh tanda tanya. Bagaimana dengan sekolah anak-anak? Bagaimana dengan cuaca yang katanya ekstrem? Bagaimana dengan bahasa yang terdengar asing di telinga? Semua itu jadi bagian dari petualangan pertama kami.

Dan ternyata, setelah dijalani, Latvia menyimpan kenyamanan tersendiri. Fasilitas umum untuk anak-anak sangat mendukung. Kota terasa tenang, tidak bising. Ada ruang untuk keluarga menikmati waktu bersama, sesuatu yang sebelumnya agak sulit kami dapatkan ketika masih di Indonesia karena kesibukan pekerjaan.

Perbedaan pertama yang paling terasa adalah soal cuaca. Latvia hanya punya musim panas sekitar tiga bulan. Sisanya adalah musim gugur, musim dingin, dan musim semi, di mana saya merasakan suhu yang jauh lebih dingin dari yang pernah saya bayangkan.

Di Indonesia, saya terbiasa bertemu orang di jalan, tersenyum, atau sekadar berbasa-basi dengan tetangga. Di Latvia, semua itu hampir tidak ada. Orang keluar rumah biasanya karena ada urusan. Senyum pada orang asing bahkan bisa dianggap mencurigakan.

Awalnya aneh, bahkan terasa dingin bukan hanya di udara, tetapi juga soal interaksi satu sama lain. Namun lama-kelamaan saya belajar, inilah budaya mereka. Dan sedikit demi sedikit, saya juga ikut berubah. Saya mulai terbiasa hidup dengan cara yang lebih “Latvian”, meski tetap menjaga jati diri sebagai orang Indonesia.

Salah satu perbedaan besar membesarkan anak di Latvia adalah ketiadaan dukungan keluarga besar. Tidak ada nenek, kakek, atau kerabat yang bisa ikut membantu. Akibatnya, anak-anak jadi lebih dekat kepada kami sebagai orang tua.

Saya merasakan ini sebagai hal yang sangat berharga. Hubungan emosional kami terasa lebih kuat. Tapi tentu saja, ada tanggung jawab tambahan. Di Indonesia, banyak orang tua bisa “menitipkan” urusan belajar anak kepada guru les atau kursus tambahan. Di sini, kami harus benar-benar mengambil peran penuh.

Saya dan suami menjadi guru untuk anak-anak kami. Dari pelajaran sekolah, hingga nilai-nilai kehidupan. Dan jujur saja, saya merasa banyak belajar juga dari proses ini.

Latvia memiliki sejarah panjang sebagai bagian dari Uni Soviet. Salah satu dampaknya adalah, masyarakat di sini tidak begitu religius. Agama ada, tetapi tidak begitu kuat dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagai muslim, saya harus ekstra berjuang menanamkan nilai agama pada anak-anak. Kami mengajarkan mengaji di rumah, melatih berpuasa meski teman-teman mereka tidak berpuasa, dan menjaga ibadah harian sebisa mungkin. Rasanya seperti mendaki perlahan, tapi saya percaya inilah investasi terbesar bagi masa depan anak-anak.

Syukurlah ada komunitas masjid di kota kami. Sesekali mereka mengadakan acara khusus anak-anak. Itu sangat berarti, karena membuat anak-anak merasa tidak sendirian dalam menjalani identitas keislamannya.

Bahasa adalah dunia baru bagi anak-anak saya. Di rumah, kami tetap menggunakan Bahasa Indonesia. Saya ingin mereka tidak kehilangan bahasa ibu. Tapi di luar rumah, anak-anak harus berbahasa Latvia.

Follow for more

Hal menarik, mereka juga otomatis bisa berbahasa Inggris. Teman-teman di sekolah datang dari berbagai negara, sehingga bahasa Inggris menjadi jembatan komunikasi. Tanpa kursus khusus, anak-anak bisa menguasai tiga bahasa sekaligus: Indonesia, Latvia, dan Inggris.

Ada pengalaman yang sampai sekarang membuat saya tersenyum setiap kali mengingatnya. Anak kedua saya, ketika baru masuk sekolah, memilih diam total. Ia tidak berbicara sama sekali dalam bahasa Latvia. Ternyata, itu caranya belajar. Ia mengamati, menyerap, mencatat dalam ingatan. Setelah tiga bulan, ia tiba-tiba bisa berbahasa Latvia dengan lancar. Wali kelasnya sampai terkejut, dan seluruh teman sekelas bertepuk tangan menyambut “aksi diam” yang akhirnya berakhir.

Saya merasa bersyukur dengan sistem pendidikan di Latvia. Sekolah menerima anak-anak kami dengan tangan terbuka. Guru wali kelas baik dan sabar.

Ketika bulan Ramadhan tiba, saya memberi tahu guru bahwa anak-anak tidak akan makan siang selama sebulan. Mereka tidak sepenuhnya mengerti konsep puasa, tapi mereka menghormati keputusan itu. Rasanya hangat sekali ketika melihat anak-anak tetap didukung meski berbeda dengan mayoritas.

Secara sosial, keluarga kami cukup diterima di Latvia. Jumlah imigran memang tidak banyak, sehingga wajah Asia masih terbilang jarang. Generasi muda Latvia relatif terbuka. Namun generasi tua masih sering memperlihatkan rasa asing, misalnya dengan tatapan penuh selidik di transportasi umum.

Awalnya, hal itu membuat saya kurang nyaman. Tapi lama-kelamaan, saya belajar untuk tidak terlalu memikirkan. Saya lebih memilih fokus pada hal-hal positif: anak-anak punya teman, sekolah mendukung, dan kehidupan berjalan baik.

Di rumah, kami berusaha sekuat tenaga menjaga budaya Indonesia. Kami tetap berbicara dalam Bahasa Indonesia, tetap memasak makanan Indonesia, dan tetap menceritakan kisah-kisah tentang tanah air.

Setiap 17 Agustus dan Idul Fitri, komunitas Indonesia di Latvia mengadakan perayaan sederhana. Kami membawa makanan masing-masing, berbagi cerita, dan melepas rindu akan suasana tanah air. Itu jadi momen penting untuk mengingatkan anak-anak: bahwa mereka berasal dari negeri kaya budaya bernama Indonesia.

Tantangan terbesar adalah soal tradisi. Bahasa dan makanan masih bisa dijaga. Tapi suasana perayaan kampung, tarian daerah, atau upacara bendera di sekolah tentu sulit tergantikan.

Hidup di lingkungan yang berbeda tentu memberi dampak psikologis bagi anak-anak. Saya dan suami berusaha mendukung perkembangan emosional mereka. Kami mendorong anak-anak ikut dalam kegiatan sekolah, berteman dengan siapa saja, dan berani menghadapi perbedaan.

Kadang ada miskomunikasi dengan teman-teman. Saya mencoba menjembatani, tapi tidak mengambil alih. Saya ingin anak-anak belajar menyelesaikan masalah sendiri. Saya percaya, itu akan membuat mereka lebih dewasa.

Sejauh ini, anak-anak cukup kuat. Tidak ada rasa minder atau merasa berbeda. Justru mereka lebih percaya diri karena bisa menguasai bahasa lebih dari satu.

Saya menyadari bahwa kelak, ketika anak-anak menginjak remaja, mungkin akan ada benturan budaya. Remaja Latvia cenderung lebih bebas, dengan pola pergaulan yang berbeda dari nilai yang kami anut sebagai keluarga Indonesia muslim.

Itu menjadi tantangan besar bagi kami. Kami hanya bisa menyiapkan pondasi sejak dini, agar mereka kuat memegang nilai yang kami tanamkan, sekaligus tetap bisa beradaptasi dengan lingkungannya.

Dari semua perjalanan ini, saya belajar bahwa hidup di luar negeri membuat keluarga kecil kami semakin solid. Dulu, ketika masih di Indonesia, saya dan suami sibuk bekerja. Waktu berkualitas bersama anak-anak hanya tersedia di akhir pekan. Itu pun kadang terganggu urusan pekerjaan.

Di Latvia, meski jauh dari keluarga besar, justru kami lebih banyak waktu bersama. Anak-anak lebih dekat dengan kami. Hubungan terasa lebih hangat. Saya benar-benar menikmati fase ini.

Harapan saya sederhana tapi besar: saya ingin anak-anak menyelesaikan pendidikan dengan baik, tumbuh menjadi pribadi yang kuat, bisa beradaptasi dengan dunia global, tapi tetap mencintai Indonesia.

Saya ingin mereka tetap fasih berbahasa Indonesia, tetap bangga dengan identitasnya, dan kelak, dari manapun mereka berada, bisa memberi kontribusi untuk negeri asal.

Untuk para orang tua Indonesia yang juga menjalani kehidupan di negeri orang, saya ingin menyampaikan: Tetap semangat. Syukuri hal-hal kecil setiap hari. Situasi di luar negeri mungkin tidak selalu ideal, tapi selalu ada sisi yang layak dijalani, dinikmati, dan diperjuangkan.

Perjalanan ini bukan sekadar tentang beradaptasi di tempat baru, tetapi juga tentang menemukan kembali arti keluarga, kebersamaan, dan cinta pada tanah air meski dari jauh.

Penulis: Soca Indriya, tinggal di Latvia dan dapat dikontak via akun instagram @socasoci.

(CERITA SAHABAT) Pengalaman Menyekolahkan Anak di Daycare Portugal adalah Perjalanan Adaptasi

Portugal bukanlah tujuan awal kami, tetapi takdir membawa kami ke negeri ini. Awalnya, kami berencana tinggal hanya enam bulan untuk mendukung studi suami, tetapi pesona Lisbon yang hangat, keramahan warganya, serta lingkungan yang inklusif membuat kami memutuskan untuk menetap lebih lama. 

Seiring berjalannya waktu, kami mulai memikirkan bagaimana tumbuh kembang anak-anak kami di masa depan, termasuk bagaimana anak-anak bersekolah nantinya. Rupanya kami memiliki tantangan untuk mencari sekolah yang sesuai untuk kebutuhan anak-anak kami, terutama Daycare bagi si kecil.

Berbeda dengan di Indonesia, pendaftaran Daycare di Portugal dilakukan secara online atau langsung dengan mengisi formulir di sekolah yang dituju. Syaratnya cukup jelas, seperti kartu identitas anak dan orang tua, bukti pajak, bukti tempat tinggal, buku vaksin, dan dalam beberapa kasus, surat keterangan tidak bekerja dari salah satu orang tua. 

Sebagai orang tua, kami pun harus merespon bagaimana proses pendaftaran segera dimulai. Apalagi sistem pendaftaran di sini berdasarkan sistem zonasi, yang menentukan sekolah berdasarkan alamat tempat tinggal. Kami harus bergerak cepat, karena masa pendaftaran berlangsung dari Maret hingga April.

Jika di Indonesia, saya mendapati banyak orang tua menunggu anak-anak mereka di sekolah, terutama di hari pertama mereka bersekolah. Namun, ini tidak berlaku di Portugal.

Di Portugal, baik Daycare maupun Taman Kanak-kanak (TK) memiliki kebijakan di mana orang tua hanya boleh mengantar dan menjemput anak. Orang tua dilarang untuk menemani anak-anak mereka di kelas. 

Saya merasa awalnya sangat sulit, terutama bagi anak kami yang masih perlu beradaptasi dengan lingkungan baru. Namun, seiring waktu, kami melihat peraturan tersebut sangat berdampak positif bagi anak-anak kami. Anak-anak belajar mandiri lebih cepat dan mulai membangun kepercayaan diri mereka. Wow!

Tantangan selanjutnya yang dihadapi adalah bahasa sebagai komunikasi sehari-hari orang tua dengan anak. Bahasa menjadi tantangan utama, baik bagi kami sebagai orang tua maupun anak-anak kami. Di rumah, kami berbicara dalam Bahasa Inggris, sementara di sekolah mereka harus beradaptasi dengan Bahasa Portugis. 

Pada awalnya, komunikasi dengan anak-anak terasa sulit buat kami. Namun,  anak-anak sudah mulai berbicara dengan lancar, setelah enam bulan berlalu. Bahkan, komunikasi anak-anak terdengar seperti penutur asli. Kecepatan adaptasi sosial mereka sungguh mengejutkan dan menginspirasi kami untuk ikut belajar Bahasa Portugis lebih serius.

Daycare dan TK di Portugal lebih menekankan pada eksplorasi dan sosialisasi dibandingkan akademik. Anak-anak tidak diajarkan membaca dan menulis seperti di Indonesia, tetapi mereka dibiasakan dengan aktivitas di luar ruangan, jalan-jalan ke taman, mengunjungi museum, menonton teater, serta merawat hewan peliharaan kelas. Kami menyadari bahwa pendidikan di sini lebih menitikberatkan pada pengembangan empati, disiplin, dan kemandirian dibandingkan keterampilan akademik di usia dini.

Berbicara tentan dukungan Pemerintah Portugal, kami menilai pemerintah di sini memberikan berbagai tunjangan bagi keluarga, termasuk Daycare gratis bagi yang memenuhi syarat. Sekolah negeri pun tidak memungut biaya, sedangkan sekolah swasta menerapkan biaya bervariasi, bergantung dengan subsidi dan berdasarkan penghasilan keluarga. Kami sendiri membayar sekitar 90 Euro per bulan, jauh lebih murah dari tarif standar yang bisa mencapai 300 Euro.

Selain itu, snack pagi hingga sore dan makan siang sepenuhnya disediakan oleh sekolah. Sahabat Ruanita perlu tahu, jika anak-anak ingin membawa bekal dari rumah, ada aturan ketat yang harus dipatuhi, seperti larangan membawa makanan gorengan, makanan manis, ataupun makanan instan. 

Bagaimana pun, menyekolahkan anak di Portugal memberi kami perspektif baru tentang pendidikan. Sekolah tidak memberlakukan adanya sistem ranking, seperti zaman saya bersekolah di Indonesia dulu. Sekolah juga tidak menerapkan ekstrakurikuler yang berlebihan. Saya menilai sekolah melakukan pendekatan yang lebih santai terhadap tugas sekolah, sehingga membuat anak-anak menikmati masa kecil mereka dengan lebih bebas. Sebagai orang tua, kami juga merasa lebih rileks, karena anak-anak belajar dengan cara yang lebih natural dan alami.

Di masa depan, kami ingin memastikan bahwa anak-anak tetap mendapatkan pendidikan berbasis nilai-nilai keluarga kami. Kami tengah mempertimbangkan sekolah Islam yang ada di Portugal, baik yang menggunakan kurikulum Portugal maupun Cambridge. Harapan kami, mereka tetap bisa tumbuh menjadi pribadi yang kuat dengan nilai-nilai yang seimbang antara budaya lokal dan keyakinan kami.

Untuk sahabat Ruanita, yang ingin menyekolahkan anak di Portugal, mohon perhatikan informasi pendaftaran Daycare sedini mungkin. Daftar tunggu bisa panjang, jadi semakin cepat mengurus pendaftaran, semakin besar kemungkinan mendapatkan tempat yang diinginkan. Hal yang terpenting, bersiaplah untuk mendukung anak-anak dalam menghadapi tantangan bahasa dan budaya yang baru.

Menurut saya, Portugal kini telah menjadi rumah kedua bagi kami.  Kami bersyukur atas pengalaman luar biasa ini.

Penulis: Rindu Ragillia, seorang ibu yang tinggal di Portugal dan dapat dikontak via akun instagram rinduragg.

(IG LIVE) Bagaimana Prosedur dan Adaptasi Anak di Daycare di Eropa?

JERMAN – IG Live Episode Maret 2022 mengambil tema tentang Daycare di Eropa. Seperti biasa, Atika mengundang dua orang tamu yakni Hesti Aryani (akun IG: hestiaryani) yang kini menetap di Zürich, Swiss dan Juwita (akun IG: juwitanzl) yang menetap di Gerestried, sekitar 30 menit dari Kota Munich, Jerman. Mereka berdua akan cerita bagaimana pengalaman mendaftarkan anak di Daycare. Lebih lanjut mereka bercerita prosedur dan biaya yang diperlukan untuk mendaftarkan anak. Tak lupa, mereka bercerita menangani anak untuk beradaptasi di Daycare, yang terasa asing secara budaya untuk anak-anak mereka.

Juwita memiliki seorang putra berumur 3 tahun, yang sekarang masih bersekolah di Kinderkrippe (semacam Playgroup di Jerman) sejak tahun lalu. Awal pendidikan di Jerman dimulai sejak September tiap tahun. Jika orang tua ingin mendaftarkan anak ke Daycare di Jerman, orang tua perlu mendaftarkan secara online melalui website yang tersedia oleh pemerintah setempat. Orang tua di Jerman biasanya lebih sulit mendaftarkan anak di Daycare karena perlu menunggu antrian, terutama mereka yang tinggal di kota besar. Juwita sempat tertunda setahun untuk mendapatkan Daycare, yang jaraknya tak jauh dari rumah tinggal. Kemudian ia mendaftarkan ulang di website dan berhasil mendapatkan Daycare yang letaknya sedikit lebih jauh dari rumah tinggal.

Di Jerman, pendaftaran anak di Daycare gratis sementara biaya Daycare bergantung pada kebijakan dan fasilitas yang tersedia. Pengalaman Juwita yang menyekolahkan anak di Daycare milik pemerintah setempat, dia harus membayar uang makan untuk anak selama di Daycare. Pembayaran Daycare bergantung pada lamanya anak tinggal di Daycare. Juwita bercerita dia harus membayar 450€ per bulan selama 8 jam di Kinderkrippe/Playgroup. Pembayaran Taman Kanak-kanak di Jerman sebenarnya jauh lebih murah, sekitar 280€ per bulan.

Tak jauh berbeda dengan Juwita, Hesti yang tinggal di Zürich bertutur pengalaman anaknya yang sekarang berumur 4 tahun dan sedang memasuki Taman Kanak-kanak. Prosedur memasukkan anak ke Taman Kanak-kanak berdasarkan pengalaman Hesti, lebih mudah karena Universitas yang menjadi tempat bekerjanya telah menyediakan fasilitas tersebut. Pencarian Daycare di kota besar di Swiss pun tak jauh berbeda dengan di Jerman. Bahkan saat seorang ibu sedang hamil besar, dia bisa saja sudah mulai mencari tahu Daycare yang tersedia untuk anaknya kelak. Pemerintah Swiss biasanya lebih memprioritaskan anak-anak dari kedua orang tua yang bekerja.

“Saya bekerja hanya 40 persen dalam satu minggu, sehingga slot anak saya bisa terpakai untuk anak lain yang membutuhkan” kata Hesti. Salah satu syarat di Swiss adalah orang tua perlu menginformasikan bukti vaksin yang diterima sebelumnya oleh anak dengan menyerahkan buku vaksin. Syarat vaksin di Daycare di Swiss tidak wajib. Pembayaran Daycare di Swiss ditentukan berdasarkan lama anak dalam hitungan “Half Day” dan “Full Day”. “Half Day” berarti anak tidak mendapatkan makan siang selama di Daycare. Uniknya, pembayaran Daycare dihitung per hari. Harganya bisa bervariasi. Hesti menuturkan ia membayar 135 Franc Swiss atau sekitar 135€ per hari. Oleh sebab itu, orang tua perlu memikirkan ulang untuk memasukkan anak di Daycare di Swiss. Hesti menambahkan semakin kecil anak dititipkan di Daycare maka semakin mahal biayanya. Misalnya anak umur 4 bulan sudah bisa dititipkan ke Daycare dengan estimasi biaya 180 Franc Swiss per hari. Hesti memperkirakan jika orang tua menitipkan anak di Daycare selama sebulan, maka estimasi biayanya sekitar 2.400 Franc Swiss.

Pengalaman menarik dari Hesti yang datang sebagai akademisi, dia mendapatkan tawaran program integrasi untuk anaknya. Program Integrasi ini, seperti belajar Bahasa Jerman dan biasanya diikuti oleh anak-anak yang berasal dari keluarga pendatang di Swiss. Biaya program ini disubsidi oleh pemerintah lokal. Selain itu, pemerintah di Swiss juga memperhitungkan income dari kedua orang tua untuk mendapatkan potongan pembiayaan anak di Daycare. Taman kanak-kanak atau yang disebut Kindergarten dalam Bahasa Jerman merupakan fasilitas yang gratis dan disediakan oleh pemerintah. Memang usia terberat untuk membiayai anak-anak adalah pada saat anak-anak membutuhkan Daycare, anak-anak yang belum bisa masuk ke Taman Kanak-kanak.

Bagaimana mengatasi adaptasi anak di Daycare?

Juwita menceritakan proses adaptasi untuk anaknya berlaku selama sebulan. Hal itu semacam kebijakan yang umumnya berlaku di Jerman, di mana orang tua bisa bersama anak di Daycare yang  kemudian dilepas bertahap. Juwita melihat anaknya bisa bersosialisasi baik dengan sesama anak-anak lainnya setelah dua minggu anaknya masuk Kinderkrippe/Playgroup.

Sebagaimana cerita Juwita, Hesti juga mengamini bahwa tersedia kebijakan adaptasi di Daycare untuk anaknya di Swiss yang berlaku selama dua bulan. Proses adaptasi ini sangat diperlukan untuk anak-anak agar pengalaman pertama di Daycare ini tidak membuat anak trauma. Oleh karena itu, Hesti tidak bisa meninggalkan anaknya selama proses adaptasi, meskipun anaknya sudah bisa bersosialisasi dengan baik dalam hitungan sebulan.  Orang tua wajib berada di Daycare selama dua bulan pertama sesuai tahapan kebijakan yang diberikan oleh Daycare. Orang tua juga tidak boleh langsung meninggalkan anak, tanpa mengucapkan perpisahan. Bagaimana pun anak perlu diberitahukan jika orang tua mereka pergi, meskipun anak menangis karena mereka berpisah dari orang tua mereka.

Hesti melihat bahwa anaknya begitu menyenangi fasilitas dan suasana Daycare yang tersedia, tetapi ada kendala pada bahasa yang terdengar asing untuk anaknya. Dahulu Hesti tinggal di Yogyakarta di mana anak sehari-hari lebih banyak mendengarkan Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa. Hesti tidak mengajarkan bahasa asing sedikit pun kepada anaknya.

Apa manfaat Daycare?

Juwita merasakan manfaat anaknya berada di Daycare, terutama untuk kefasihan berbahasa anak. Sebagai pelaku kawin campur, Juwita merasa anaknya memiliki kemampuan berbahasa yang sangat cepat selama di Daycare. Sebelum anak masuk di Daycare, Juwita melihat bagaimana anaknya kesulitan dalam berkomunikasi. Setelah anaknya masuk di Daycare, kosakata anak berkembang lebih cepat. Anak juga belajar disiplin seperti anak bisa makan sendiri. Juwita merasakan manfaat Daycare untuk anaknya.

Serupa dengan Juwita, Hesti juga merasakan manfaat yang besar dari memasukkan anak ke Daycare. Anak bisa belajar rules, ada tahapan anak menjadi mandiri. Anak juga mengobservasi anak lain seusia dia sehingga memotivasi anak untuk mencoba juga. Misalnya, anak melihat anak lain bisa makan sendiri maka anak juga ikut mencoba makan sendiri. Itu bekal yang sangat bagus sebelum anak masuk Taman Kanak-kanak.

Bagaimana pun Hesti menjelaskan bahwa syarat anak untuk masuk ke Taman Kanak-Kanak di Swiss adalah anak sudah bisa melakukan toilet training dengan baik, pakai baju dan sepatu sendiri serta anak mampu merespon komunikasi orang lain. Sebetulnya, anak merasakan banyak manfaat selama berada di Daycare seperti melatih kemampuan mandiri dan kemampuan sosialisasi.

Apa saran dan tips untuk memasukkan anak di Daycare?

Untuk orang tua yang masih di Indonesia dan ingin membawa anaknya ke Eropa, Juwita berpendapat bahwa anak perlu memiliki catatan buku vaksin sebagai syarat masuk. Setelah anak lahir, orang tua juga harus bersegera mendaftarkan anak secara online, meski anak masuk dalam daftar tunggu. Pemerintah Jerman juga membantu orang tua yang kesulitan secara financial untuk membayar Playgroup atau Kindergarten. Bagaimana pun kebutuhan anak untuk pendidikan dini sangat diperlukan bagi tumbuh kembang anak.

Hesti menambahkan tips untuk orang tua adalah mulai mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang prosedur pendaftaran anak di Daycare, terutama bagi orang tua yang sudah tahu akan lokasi tinggalnya. Bagaimana pun lokasi Daycare biasanya bergantung pada lokasi tempat tinggalnya. Ia menambahkan orang tua tidak perlu khawatir untuk tantangan bahasa asing yang harus dikuasi anak di bawah lima tahun. Berdasarkan pengalamannya, anak yang memasuki usia golden age itu sangat mudah untuk menyerap bahasa asing dari sekitarnya.

Orang tua perlu juga membangun koneksi dengan sesama komunitas orang tua lainnya sehingga bisa mendapatkan informasi seluas-luasnya tentang Daycare. Terakhir, Hesti mengatakan bahwa orang tua tidak boleh memaksakan anak ke Daycare supaya anak lebih nyaman untuk tahapan berikutnya.