(CERITA SAHABAT) Bahasa Ibu, Jejak Identitas Saya di Perantauan

Halo, sahabat Ruanita! Saya lahir dan besar di  Jawa Barat. Dari sana perjalanan saya bermula: belajar, bermimpi, dan akhirnya melangkah menembus batas geografi menuju negara-negara jauh. Sejak kecil saya selalu dekat dengan bahasa, dengan cerita rakyat Sunda, dengan nyanyian ibu, dengan pelajaran di sekolah. Tidak pernah saya sangka, bahasa yang saya pelajari dengan penuh cinta inilah yang akan menjadi jalan hidup saya.

Ketika saya menulis refleksi ini dari Helsinki, Finlandia, dalam rangka Hari Bahasa Ibu Internasional, saya ingin berbagi perjalanan saya sebagai perempuan Indonesia yang menjadikan bahasa sebagai jembatan budaya. Perjalanan ini bukan hanya soal karier, tapi juga soal identitas, akar, dan tanggung jawab.

Saya menempuh pendidikan tinggi di bidang pendidikan bahasa, sebuah bidang yang sejak awal saya yakini akan menjadi lahan pengabdian saya. Dari kelas-kelas kecil di Sukabumi, saya melanjutkan ke kota besar, lalu akhirnya keluar negeri.

Saat ini saya sedang menjalani program PhD di University of Helsinki dalam bidang Teacher Education. Selain itu, saya juga tengah menyelesaikan International Professional Teacher Education (IPTE) di Häme University of Applied Sciences. Dua jalur studi ini menantang, tetapi sekaligus memperkaya wawasan saya sebagai seorang pendidik.

Di sisi lain, saya tetap aktif mengajar. Saat ini saya dipercaya mengajar bahasa Indonesia di University of Victoria, Kanada. Perjalanan akademik saya memang berkelindan dengan perjalanan mengajar BIPA (Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing) yang saya mulai sejak masih di Indonesia.

Banyak orang bertanya: mengapa memilih BIPA? Mengapa tidak bidang lain yang lebih “besar” atau lebih menjanjikan dari segi karier?

Bagi saya, jawabannya jelas. Saya percaya bahwa bahasa adalah pintu gerbang budaya. Dengan bahasa, kita bisa memahami cara berpikir, cara merasa, cara sebuah masyarakat menata hidup. Dengan mengajarkan bahasa Indonesia kepada penutur asing, saya tidak hanya mengajarkan kata-kata, tata bahasa, atau aturan. Saya mengajarkan sebuah identitas bangsa, membuka pintu persahabatan, dan menghadirkan diplomasi budaya.

Inspirasi itu pula yang menggerakkan saya mendirikan Rumah BIPA, sebuah komunitas belajar bahasa dan budaya Indonesia. Rumah BIPA bukan sekadar kelas, melainkan ruang perjumpaan, antara orang Indonesia dan dunia, bahasa ibu dan bahasa asing, identitas dan keterbukaan. Itu prinsip saya. 

Setiap negara yang saya singgahi menghadirkan pengalaman menarik.

  • Di Australia, mahasiswa begitu kritis. Mereka selalu punya pertanyaan tajam, selalu ingin tahu konteks politik, sosial, dan budaya di balik setiap kata. Itu membuat saya belajar menyiapkan bukan hanya materi bahasa, tetapi juga perspektif Asia Tenggara secara luas.
  • Di Thailand, saya merasa ada kedekatan budaya. Banyak mahasiswa menemukan kosakata yang mirip, cara berpikir yang serupa. Pembelajaran menjadi lebih cair, penuh tawa, seolah kita bukan guru dan murid, melainkan teman yang saling bertukar bahasa.
  • Di Kanada, saya menghadapi tantangan terberat. Di sana, bahasa Indonesia tidak populer, kalah pamor dibanding bahasa-bahasa global seperti Inggris, Prancis, atau bahkan Mandarin. Saya harus kreatif mencari cara agar mahasiswa tertarik. Saya membuat materi interaktif, mengaitkan bahasa Indonesia dengan musik, kuliner, bahkan peluang bisnis lintas Asia.
  • Di Finlandia, tempat saya sekarang, saya belajar dari sistem pendidikan mereka yang luar biasa inovatif. Pendekatan individualisasi membuat saya sadar bahwa setiap mahasiswa datang dengan latar belakang berbeda, dan bahasa Indonesia bisa mereka temukan maknanya dari berbagai pintu masuk.

Di mana pun saya mengajar, ada satu momen kecil yang selalu menjadi kebahagiaan saya, yakni ketika mahasiswa mulai menggunakan bahasa Indonesia dalam kehidupan nyata. Mereka menyapa saya dengan “Apa kabar, Bu?”, mereka berani mencoba menyanyikan lagu daerah, atau mereka dengan bangga membawa makanan Indonesia ke kelas. Saat itulah saya merasa bahwa bahasa Indonesia telah menjadi bagian dari kehidupan mereka.

Sebagai penutur asli bahasa Indonesia yang hidup di lingkungan multibahasa, saya justru semakin merasakan betapa berharganya bahasa ibu.

Bahasa ibu adalah akar identitas saya. Bahasa ibu adalah suara batin, doa, dan rasa yang pertama kali saya kenal. Ketika berada di negeri orang, bahasa itu berubah menjadi penanda jati diri. Bahwa saya orang Indonesia dan saya membawa sesuatu yang khas dari tanah air.

Mengajar BIPA membuat saya kerap berdiskusi dengan mahasiswa tentang konsep bahasa ibu. Mereka sering bertanya: “Apakah bahasa Indonesia juga punya dialek seperti bahasa ibu kami?” Dengan senang hati saya menjelaskan bahwa Indonesia kaya dengan ratusan bahasa daerah dan bahasa Indonesia hadir sebagai pemersatu. Penjelasan itu sering membuat mereka kagum, karena bagi banyak bangsa, memiliki bahasa pemersatu yang hidup di tengah keragaman adalah sesuatu yang langka.

Namun, memperkenalkan bahasa ibu juga punya tantangan. Misalnya ketika menjelaskan tingkatan tutur atau konsep kesopanan dalam bahasa Indonesia. Mengapa kita memakai “Anda” kepada orang asing, tapi “kamu” kepada teman dekat? Mengapa ada perbedaan “saya” dan “aku”? Mahasiswa sering membandingkan dengan budaya mereka. Di sinilah saya belajar bahwa bahasa bukan hanya struktur, tetapi juga nilai budaya yang harus dipahami.

Saya percaya bahasa tidak bisa dipisahkan dari budaya. Karena itu, dalam mengajar saya selalu mengintegrasikan keduanya. Saya membawa kuliner, musik, film, bahkan tarian ke kelas. Saya mengajak mahasiswa tidak hanya belajar kata, tapi juga merasakan jiwa bahasa lewat pengalaman budaya.

Di luar kelas, saya juga konsisten menggunakan bahasa Indonesia dalam keluarga dan komunitas orang Indonesia di mancanegara. Di rumah, kami berkomunikasi dengan bahasa Indonesia. Saya ingin anak-anak saya, meski lahir dan tumbuh di luar negeri, tetap punya ikatan dengan bahasa ibu mereka.

Bersama komunitas Indonesia di Finlandia, kami rutin mengadakan kegiatan kebahasaan: kelas BIPA, diskusi budaya, perayaan hari nasional. Semua itu adalah cara kami merawat bahasa ibu sebagai warisan untuk generasi berikutnya.

Sebagai seorang perempuan Indonesia, saya melihat peran perempuan sangat strategis dalam menjaga bahasa ibu. Perempuan sering menjadi pendidik pertama dalam keluarga. Dari ibulah, anak-anak mendengar kata-kata pertama, nyanyian, dongeng, doa, dan percakapan sehari-hari.

Oleh karena itu, saya percaya perempuan adalah garda depan pelestarian bahasa. Di manapun berada, perempuan bisa menanamkan bahasa ibu sejak dini, baik di rumah maupun dalam komunitas. Bahkan di perantauan, perempuan tetap bisa menjaga api bahasa ibu tetap menyala, lewat komunikasi sehari-hari, kegiatan bersama, atau pewarisan nilai budaya.

Salah satu pengalaman paling menyentuh bagi saya adalah ketika mahasiswa asing, pada perayaan Hari Bahasa Ibu Internasional, membacakan puisi dalam bahasa Indonesia. Mereka mungkin bukan penutur asli, tetapi keberanian mereka menunjukkan bahwa bahasa kita dihargai, dipelajari, dan diapresiasi lintas budaya.

Saya punya satu harapan besar: semoga bahasa Indonesia semakin diakui di dunia internasional. Saya ingin bahasa kita tidak hanya dikenal dalam ranah diplomasi atau akademik, tapi juga hadir dalam budaya populer, dalam musik, film, teknologi, bahkan dalam percakapan sehari-hari lintas bangsa.

Program BIPA menurut saya punya peran penting untuk itu. Lewat BIPA, bahasa Indonesia bisa menjadi bahasa komunikasi lintas bangsa, bukan hanya di kelas, tetapi juga di ruang-ruang kehidupan.

Saya punya satu harapan besar: semoga bahasa Indonesia semakin diakui di dunia internasional. Saya ingin bahasa kita tidak hanya dikenal dalam ranah diplomasi atau akademik, tapi juga hadir dalam budaya populer, dalam musik, film, teknologi, bahkan dalam percakapan sehari-hari lintas bangsa.

Program BIPA menurut saya punya peran penting untuk itu. Lewat BIPA, bahasa Indonesia bisa menjadi bahasa komunikasi lintas bangsa, bukan hanya di kelas, tetapi juga di ruang-ruang kehidupan.

Dalam rangka Hari Bahasa Ibu Internasional ini, saya berpesan sederhana kepada seluruh perempuan Indonesia di manapun berada. Rawatlah bahasa ibu dengan bangga. Gunakan dalam keseharian. Ajarkan kepada anak-anak dan generasi muda. Jangan pernah ragu memperkenalkan keindahannya kepada dunia.

Bahasa adalah identitas dan kekuatan kita. Bahasa adalah warisan yang tidak bisa tergantikan. Dan perempuan, dengan perannya sebagai pendidik pertama, pengasuh, sekaligus penggerak komunitas, memiliki peran utama dalam memastikan bahasa itu tetap hidup lintas generasi.

Hari ini, di Helsinki yang dingin, saya menulis dengan hati hangat. Saya membayangkan suara ibu saya di Sukabumi yang dulu mengajarkan saya kata-kata pertama. Saya membayangkan mahasiswa saya di kelas yang tertawa mencoba mengucapkan “terima kasih” dengan lidah mereka yang masih kaku.

Di antara jarak yang begitu jauh, bahasa ibu adalah jembatan. Ia menghubungkan saya dengan masa lalu, dengan tanah air, dengan keluarga, dan dengan dunia.

Selama saya masih bisa berbicara, mengajar, dan menulis, saya akan terus merawatnya. Karena bahasa ibu bukan hanya milik saya, melainkan milik kita semua.

Penulis: Ari Nursenja, Founder RUMAH BIPA dan PhD Student di Finlandia, yang dapat dikontak via akun instagram arinursenja. 

(RUMPITA) Jatuh Cinta (Lagi) dengan Bahasa Ibu

Episode kesepuluh di Februari 2023 ini adalah membicarakan bahasa ibu yang akan dirayakan pada Hari Bahasa Ibu Internasional pada 21 Februari nanti. Bagaimana pun Bahasa Ibu adalah bahasa pertama kita mengenal dunia dan pengetahuan pertama kali. Host program Podcast: Nadia, Fadni dan Alvina yang sedang menempuh studi pasca sarjana di Jerman ini berbagi celoteh seputar pengalaman berbahasa.

Sebagai orang Indonesia yang jauh dari perantauan, Fadni, Nadia dan Alvina membicarakan bagaimana pengalaman mereka dalam belajar bahasa asing. Kehidupan sehari-hari tentunya mereka mendengar dan berbicara dalam bahasa asing. Mereka bercerita bagaimana mereka belajar pertama kali bahasa asing tersebut.

Follow kami: ruanita.indonesia

Bahasa menjadi alat berkomunikasi antar sesama satu sama lainnya. Sayangnya saat berada di negeri jauh dari tanah air, banyak orang yang merasa malu dan tidak lagi menggunakan Bahasa Ibu. Alasannya bermacam-macam seperti terkesan kuno, tidak moderen hingga menggangap Bahasa Ibu tidak layak lagi digunakan di negeri asing.

Momen bulan Februari yang dipandang sebagian orang sebagai bulan penuh cinta. Nadia, Fadni dan Alvina mengajak Sahabat RUANITA untuk mencintai kembali Bahasa Ibu sebagai cerminan asal usul identitas kita.

Indonesia sendiri memiliki lebih dari 700-an bahasa daerah yang bermacam-macam yang sebenarnya membuat kita bangga. Menjadi duta bangsa di luar negeri tidak harus berlebihan dengan prestasi, cukup berperilaku baik dan bangga berbahasa ibu yang menunjukkan jati diri kita.

Semua bahasa di dunia itu penting. Sebelum kita mengenal berbagai bahasa asing lainnya, Bahasa Ibu adalah cara kita mengenal dunia pertama kali. Ayo, jangan malu berbahasa ibu di mana pun kalian berada!

Simak celoteh RUMPITA selengkapnya berikut ini:

(CERITA SAHABAT) Begini Rasanya Jadi Dosen Bahasa Indonesia di Universitas, Tempat Albert Einstein Belajar

Ilustrasi.

Banyak orang mungkin bertanya bagaimana rasanya bekerja di luar negeri, apalagi berprofesi sebagai dosen di universitas, tempat Albert Einstein belajar. Ini adalah pengalamanku yang menantang sekaligus berharga supaya dapat tetap berkarya di mana pun berada. 

Awalnya aku menetap di Swiss untuk menemani suami yang sedang melanjutkan studi PhD (S3) di Universität Zürich. Kami sempat menjalani Long Distance Marriage satu tahun sebelumnya, sehingga kemudian kuputuskan menyusul suami pada 2019. Tentu rasanya tak mudah meninggalkan pekerjaan dan rutinitas mengajar di Yogyakarta yang sudah kurintis sejak empat tahun terakhir, apalagi jika harus beranjak dari zona nyaman dan pindah ke negeri yang terkenal dengan kelezatan cokelatnya itu, suatu tempat yang benar-benar baru bagiku. 

Menjadi pengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) sebenarnya berawal dari sebuah ketidaksengajaan, saat aku melakukan perjalanan di Chiang Mai, Thailand, pada 2011 silam. Di negeri gajah putih ini aku melanjutkan studi S2 dengan jurusan yang sama dengan studi S1-ku, Sastra Inggris. Rupanya tawaran menjadi pengajar BIPA di Thailand telah memberiku pengalaman berkarir sebagai pengajar Bahasa Indonesia bagi Pemelajar Asing. Berbekal pengalaman dan pelatihan yang sering kuikuti, tak terasa aku menggeluti dunia ke-BIPA-an ini hingga sekarang.

Meski Bahasa Indonesia adalah bahasa ibu, ternyata mengajarkan Bahasa Indonesia bagi warga negara asing itu memiliki tantangan tersendiri. Selain setiap pemelajar memiliki karakteristiknya masing-masing, mengajarkan bahasa Indonesia kepada penutur asing juga menuntutku untuk memiliki keterampilan khusus dalam pemahaman lintas budaya. Hal ini penting untuk diketahui demi kelancaran proses pembelajaran di kelas. Misalnya, aku harus bisa menyesuaikan dengan budaya setempat seperti Swiss yang memiliki tiga bahasa sebagai pengantar sehari-hari yakni Bahasa Jerman, Bahasa Italia dan Bahasa Prancis. 

Seorang pemelajar pernah mengkritikku karena aku tidak bisa mengajar dengan pengantar bahasa Prancis, melainkan hanya bisa berbahasa Inggris dan sedikit berbahasa Jerman saat menjelaskan materi tata bahasa. Aku sempat berkecil hati atas kritik tersebut, namun aku dapat segera menemukan solusi dengan menggunakan direct teaching method dengan bantuan media visual untuk memudahkan pemelajar dalam mempelajari bahasa Indonesia tanpa adanya bahasa perantara. 

Tekanan psikologis lainnya tentu saja pernah kualami di negeri asing ini. Di awal mengajar, aku merasa sedikit kurang percaya diri, meskipun dengan pengalaman dan jam terbangku yang sudah lebih dari 10 tahun. Hal ini karena adanya kultur kerja yang berbeda dengan kampus tempatku dulu bekerja, ditambah juga dengan adanya karakteristik pemelajar Eropa yang cenderung lebih kritis dalam segala hal. Namun kemudian aku sadar bahwa aku bisa berada di sini karena aku mampu dan memang berkompeten dalam bidang yang aku tekuni saat ini. Pengalaman ini pula yang membuatku semakin semangat mengasah keterampilan mengajarkku melalui berbagai kegiatan webinar dan keterlibatanku dalam Afiliasi Pengajar BIPA se-Eropa, sebuah upaya agar aku tidak merasa sendiri dan mendapat support yang baik dari sesama pengajar BIPA di benua ini. 

Sejak 2019 aku telah menikmati proses menantang sekaligus menarik sebagai Pengajar BIPA di Universität Zürich dan di KBRI Bern yang dibuka pada tahun berikutnya. Sebagai pengajar BIPA, aku harus berhadapan dengan pemelajar dengan latar belakang dan motivasi belajar yang beragam. Di Universität Zürich, BIPA adalah mata kuliah pilihan yang berbobot 6 ECTS (=Satuan Kredit Semester/SKS di Eropa), sedangkan kursus BIPA di KBRI Bern dibuka untuk masyarakat Swiss secara umum.

Dengan berbagai keterbatasanku saat tiba di Zurich dulu, aku sebenarnya tidak punya banyak pilihan, akan tetapi aku mencoba menciptakan peluang untuk diriku sendiri sehingga aku tetap bisa berkarya walaupun jauh dari rumah dan dari segala kenyamanannya. Bagaimana pun juga kita perlu berdamai dengan diri sendiri, yaitu dengan menerima dan menjalani setiap prosesnya. Suami dan anakku telah banyak mendukungku untuk bertumbuh dan menjadi pendengar sekaligus social support terbaik mana kala aku menghadapi kecemasan akan adaptasi lingkungan, pekerjaan, maupun permasalahan psikologis lainnya.

Sebagai pengajar BIPA, aku juga belajar banyak untuk membuka wawasan dan jejaring yang lebih luas lagi, dapat melihat Indonesia dari kacamata ‘luar’ yang semakin menumbuhkan kecintaan terhadap tanah air. Menjadi pengajar BIPA juga memberiku peluang di negeri asing untuk menjadi diriku sendiri. Kunci menjadi pengajar BIPA adalah pentingnya toleransi budaya agar dapat memahami konteks Bahasa Indonesia yang dipelajari pemelajar asing.

Bahasa ibu adalah identitas diri siapapun dan dari manapun kita berasal. Bahasa ibu adalah bahasa utama untuk mengenal dunia. Jangan sungkan untuk berbahasa Indonesia di mana pun kita berada. Jika warga negara asing saja mau belajar, mengapa kita mesti malu berbahasa Indonesia?

Penulis: Hesti Aryani, tinggal di Zurich