(CERITA SAHABAT) Mudik dan Kematian Senyap

Setiap tahun banyak keluarga diaspora yang bermukim di Belanda berlibur ke Indonesia, termasuk saya. Selain untuk berwisata, kami biasanya bersilaturahmi dan melepas kerinduan bersama keluarga di Tanah Air. Selain itu, tentu saja memanjakan lidah dengan menikmati aneka kuliner tradisional khas Indonesia.

Sejak tahun lalu, begitu banyak perubahan global yang terjadi sebagai dampak wabah corona. Pergerakan dan perpindahan atau migrasi penduduk dari satu wilayah ke wilayah lain, mengalami perubahan yang sangat drastis. Boleh dibilang semua mengalami hambatan sejak Covid-19 mewabah. 

Banyak negara memberlakukan lockdown, sistem karantina yang cukup lama, sarana transportasi udara yang tidak lagi terjadwal baik, bahkan lebih banyak pesawat terparkir di hanggar airport, dan beragam dampak pandemi lainnya. Itu pada akhirnya membuat banyak keluarga diaspora termasuk saya memutuskan untuk menunda liburan ke Tanah Air. Meski kerinduan pada orang tua, keluarga, kerabat, sahabat, teman, dan tetangga di begitu besar, namun demi kebaikan bersama, memang akan lebih baik menunda mudik hingga corona terkendali. 

Sejak pandemi dimulai tahun lalu, begitu banyak perubahan yang terjadi dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Bukan saja beragam aspek kehidupan yang berubah, melainkan juga berdampak pada aspek kesehatan masyarakat, yang berujung pada aspek spiritual kematian.

Pandemi ini mengabarkan berita kematian yang tak biasa silih berganti. Varian Delta mengganas dan menular dengan sangat cepat dan mematikan. Isolasi/karantina mandiri menjadi salah satu alternatif terakhir, setelah begitu banyak rumah sakit yang kehabisan daya tampung pasien. Banyak negara yang pada akhirnya memberlakukan pembatasan kegiatan kemasyarakatan. 

Follow us @ruanita.indonesia

Pandemi telah menggerus sebagian tatanan nilai dan norma kehidupan bermasyarakat. Salah satunya tata nilai kesakralan sebuah kematian. Di antara berita Covid-19, seakan muncul kultur baru yaitu kematian yang senyap. Itu sebuah kultur kematian yang seakan terpangkas dari akar spiritual keagamaan dan kultur budaya. Seperangkat aturan dan protokol kesehatan yang diberlakukan secara global menjadi salah satu penyebab prosesi kematian seseorang tanpa salam perpisahan.

Secara mental, setiap orang mungkin merasakan ruang hampa nan sunyi karena beragam pembatasan dalam melakukan kontak sosial secara ragawi. Kehampaan itu masih tetap terasa meski beragam jaringan komunikasi online kerap dilakukan. Meski sedikit mengobati kesunyian, namun tidak bisa menggantikan rasa bahagia saat bersua keluarga, tetangga, teman, sahabat, dan kolega. Itu sekarang berganti menjadi keriuhan suara dan keelokan gambar di layar gadget

Saya yang memiliki keluarga besar di Indonesia, tidak hanya kesunyian yang dirasakan, tetapi juga kekhawatiran. Sejak varian Delta merebak di beberapa negara, termasuk di Indonesia, kabar kematian dari orang-orang yang dikenal pun memenuhi inbox gadget saya. Paman, tante, tetangga, sahabat, kerabat, dan teman terdekat lainnya, meninggal karena corona. 

Begitu banyak orang yang tertular virus itu dan akhirnya harus karantina mandiri. Kebutuhan akan oksigen melonjak! Tabung oksigen menjadi barang yang begitu berharga untuk menyambung nyawa. 

Begitu banyak kisah kematian yang membuat hati miris. Di beberapa kasus, sekeluarga meninggal dalam masa karantina mandiri di rumah mereka, atau meninggal sendirian di apartemen, dan kasus-kasus lainnya yang menjadi berita. 

Kesedihan saya semakin dalam karena hampir semua kematian karena corona, menjadikan keluarga yang ditinggalkan tidak bisa melepas kepergian orang yang dicintai dengan prosesi kematian yang wajar, khidmat, dan sakral. Saya yang pernah merasakan kehilangan ditinggal ibu dan kakak laki-laki karena penyakit yang lain, dapat membayangkan trauma kehilangan yang dirasakan ayah, ibu, anak, paman, tante, tetangga, kerabat, sahabat, dan teman yang ditinggalkan karena virus itu. 

Rasa kehilangan itu akan membekas begitu dalam karena kepergian untuk selamanya tanpa prosesi perpisahan yang normal untuk jenazah, dan pembatasan kunjungan langsung pada keluarga yang ditinggalkan, meski untuk sekadar mengungkapkan rasa duka dan saling menguatkan. Sebuah kultur kematian tercabut.

Secara psikososial kematian seseorang biasanya menjelma menjadi kedukaan bersama. Tak heran bila orang-orang yang ada di sekitar keluarga yang berduka bergandengan tangan, saling menguatkan, dan berbagi rasa optimistis akan masa depan. Namun, di masa pandemi ini, mencegah kemungkinan wabah semakin meluas, setiap orang atau kelompok orang seakan menjaga jarak. Setiap orang dibayangi dengan pemikiran dan ketakutan tiba giliran mereka meninggal dalam kesendirian, sunyi tanpa sempat mengucap salam perpisahan pada orang-orang yang dicintai. 

Bagaimanapun fase kematian akan menghampiri setiap yang bernyawa. Meski demikian, kematian yang indah dan baik tetap menjadi impian dalam hidup seseorang. Prosesi kematian bukan saja layak bagi yang meninggal, melainkan juga penting buat keluarga yang ditinggal pergi. Setidaknya, mereka mempersiapkan ruang kosong dalam kehidupan setelah ditinggal pergi orang terkasih supaya tidak hampa dan tetap optimistis. 

Semoga pandemi ini segera dapat teratasi dan semua memulai kembali kehidupan sosial secara normal. Dengan demikian, kelak bisa meninggal dalam keikhlasan dan dapat sekadar mengucap salam perpisahan pada orang-orang tersayang. Kehidupan memang begitu berharga, namun kematian pun menempati ruang yang penting dalam aspek sosial kemasyarakatan. 

Saya berharap dapat segera mudik dalam situasi normal. Saya sudah tidak sabar melepas segala rindu dengan pelukan hangat dan eratnya jabat tangan di tanah air. 

Penulis: Risti Handayani, tinggal di Belanda dan dapat dikontak via Facebook Ristiyanti Handayani. Tulisan ini sudah diterbitkan dalam buku berjudul: Cinta Tanpa Batas – Kisah Cinta Lintas Benua yang merupakan kerja sama antara RUANITA dengan Padmedia Publisher. 

(IG LIVE) RUANITA Bagikan Tema Kawin Campur yang Berbeda kepada Pendengar Radio RRI Pro 1 FM

Di bulan September 2022 ini RUANITA menggelar Media Tour ke berbagai radio dan majalah di Jakarta dan Bali. Tim RUANITA diwakili oleh Anna Knöbl dan Yenni Connell. Melalui buku Cinta Tanpa Batas yang menjadi produk RUANITA untuk membagikan kisah kawin campur yang berbeda.

Bincang-bincang pagi di RRI Pro 1 FM ini dipandu oleh Nova di studio RRI, Jakarta. Diawali dengan penjelasan profil RUANITA, Anna menegaskan sebagai social support system di mancanegara. Bahkan Anna mengakui sebagian besar dia belum pernah bertemu muka dengan volunteers atau penerima manfaat RUANITA, termasuk 25 perempuan penulis di buku ini.

Nova sebagai penyiar telah mengajak pendengar RRI Pro 1 FM untuk mengenal lebih jauh, siapa dan di mana saja para penerima manfaat RUANITA. Anna menegaskan bahwa ini sebagai wadah kolektif dari mereka yang berbagi cerita, ilmu dan praktik baik melalui platforma teknologi. Melalui RUANITA, Anna berharap orang Indonesia tidak lagi merasa sendirian dalam mengatasi permasalahannya di luar negeri.

Buku Cinta Tanpa Batas ditulis dari kisah nyata oleh 25 perempuan di 12 negara. Melalui buku ini, Anna ingin menjelaskan untuk tidak meromantisasi pernikahan dengan Warga Negara Asing atau memandang sebelah mata tentang kawin campur. Buku ini memiliki kekuatan tentang tema yang dianggap tabu dan tak banyak diketahui publik seperti KDRT, diskriminasi, perpisahan dan lain sebagainya yang berkaitan dengan Lessons Learned.

Bagi mereka yang sedang menyiapkan pernikahan dengan warga negara asing, kita perlu mempelajari dulu budaya dan bahasa yang menjadi asal negara pasangan hidupnya. Pesan yang kuat dari buku ini adalah perempuan perlu memahami hak yang diperoleh setelah menikah dengan pria WNA agar tahu hukum yang sedang berlaku.

Yenni juga menceritakan bahwa kebahagiaan itu tak mengenal usia seperti bagaimana pertemuannya dengan suami saat usianya sudah memasuki 53 tahun. Lewat aplikasi kencan online, Yenni ingin membagikan saran untuk terhindar dari penipuan dan kepalsuan cinta.

Sebenarnya ada banyak benturan budaya yang dihadapi perempuan Indonesia saat menikahi pria WNA. Oleh karena itu bekal informasi seperti budaya dan bahasa lokal akan sangat membantu untuk beradaptasi di negara suami.

Tak banyak orang Indonesia yang akan menetap di luar negeri memahami hak yang diperoleh sebagai isteri/suami, pekerja, pelajar dan sebagainya. Perhatikan hukum-hukum di negara tujuan dan hak yang diperoleh seperti hak kursus bahasa asing gratis, hak bekerja dll.

Untuk menyaksikan siaran ulangnya, silakan disimak lewat tayangan berikut:

(DISKUSI ONLINE) Menikah atau Berpisah: Itu Tidak Mudah

Dalam rangka memperingati Hari Literasi Sedunia, RUANITA mengadakan diskusi dan bedah buku Cinta Tanpa Batas: Kisah Cinta Lintas Benua. Buku Cinta Tanpa Batas adalah sebuah antologi pengalaman hidup 25 perempuan Indonesia sebagai pasangan kawin campur yang tinggal di berbagai negara.

Acara diskusi dan bedah buku telah dilangsungkan via Zoom pada tanggal 10 September 2022 dengan mengangkat tema khusus ‘Menikah atau Berpisah, Itu Tidak Mudah’. Dengan moderator Novi @novikisav sebagai salah satu penulis buku antologi Cinta Tanpa Batas (domisili di Norwegia), RUANITA turut mengundang penulis lainnya yakni Arum I. Riddell-Carre (Indonesia), Leny A. Faqih (Turki), Alda Trisda (Belgia), dan Veronica Siregar (Australia). 

Salah satu tujuan ditulisnya antologi Cinta Tanpa Batas adalah untuk menyampaikan sudut pandang lain dalam realita kehidupan rumah tangga perkawinan campur dalam bentuk media literasi. Tak seindah rasa cinta yang muncul di awal perkenalan, perkawinan warga negara Indonesia (WNI) dan warga negara asing (WNA) kerap kali dimulai dengan kerumitan urusan dokumen hingga perbedaan budaya dari masing-masing pihak.

Perbedaan ini sering menjadi akar konflik yang dapat berujung pada perpisahan, atau justru memperkaya kehidupan perkawinan campuran. Banyak kisah perkawinan campur yang jarang terdengar di ranah publik dan jadi dianggap tabu, seperti pandangan keluarga besar, pengalaman menjadi orangtua dan membesarkan anak dalam dua budaya yang berbeda, hingga kisah perpisahan dan keberanian untuk kembali bangkit memulai hidup baru di tempat asing. Semuanya ditulis apik berdasarkan kisah nyata yang dialami masing-masing penulis. 

follow akun: ruanita.indonesia

Salah satu kisah yang dibagikan dalam buku Cinta Tanpa Batas adalah kisah dari Arum Riddell-Carre. Bicara dari pengalamannya, Arum menekankan bahwa cinta saja tidaklah cukup untuk menjalani pernikahan dan membangun keluarga. Salah satu buku favorit Arum adalah The Zahir yang ditulis oleh Paulo Coelho.

Dalam buku tersebut, disebutkan bahwa ‘You have to love yourself first’. Ini yang menjadi pengingat Arum dalam menjalani pernikahan keduanya. Lanjutnya lagi, selain mengenal pasangan, mengenal keluarga calon pasangan juga sama pentingnya. Terlepas dari perbedaan budaya, menurutnya kita harus melihat langsung apakah life virtues pasangan sejalan atau tidak dengan kita.

Tidak cukup hanya dengan sowan saja, namun lihatlah bagaimana interaksi pasangan dengan orangtua mereka dan how they respect each other. Mengenali pasangan serta melihat bagaimana interaksi pasangan dengan keluarga mereka justru lebih menentukan kecocokan selanjutnya saat menjalani pernikahan dan berkeluarga. 

Leny A. Faqih yang menikah dengan warga negara Turki membagikan kisahnya berwirausaha sebagai WNI di Turki. Sebelum menikah dan pindah ke Turki, Leny bekerja sebagai kontraktor dengan latar belakang ilmu teknik sipil. Namun begitu pindah ke Turki, semua berubah karena harus beradaptasi mempelajari sistem baru dan sendirian di rumah.

Saat itu ia kaget karena tidak boleh bepergian tanpa ditemani suami. Sementara di Indonesia, dia biasa bepergian dengan menyetir sendiri. Leny juga menjelaskan bahwa stereotipe perempuan harus manut masih lekat dalam masyarakat patriarki di Turki. Namun hal tersebut tidak sejalan dengan Leny yang yakin bahwa perempuan mampu berdaya dan berkarya. Dengan meyakini stereotipe tersebut tidak sejalan dengan nilai yang dianutnya, Leny dapat memberikan kontribusi dan berusaha mendobrak kultur tersebut sebagai perempuan migran.

Setelah dua tahun, Leny memutuskan mulai bergabung dengan komunitas Indonesia lalu berwirausaha dengan membuka usaha ekspor-impor. Kini ia mengelola Toko Organic Indonesia yang berlokasi di Istanbul. Ini juga tidak lepas dari dukungan sesama warga Indonesia maupun warga Turki yang mendukung usahanya. Leny mulai berwirausaha dengan bermitra bersama warga Turki, yang mana banyak membantu dalam urusan bahasa hukum dan bisnis resmi yang berbeda dengan bahasa Turki sehari-hari, selain perbedaan cara bisnis. Rasisme terselubung dalam urusan bisnis dan beacukai pun sudah ia lewati.

Akhirnya Leny memberanikan diri untuk mengambil alih perusahaan dan berjalan melawan arus. Meskipun itu semua dimulai dengan culture shock yang besar, namun usahanya masih berjalan terus sampai sekarang.

Alda Trisda yang berdomisili di Belgia menggambarkan perkawinan campur ini sebagai ‘a lonely business’, atau kisah yang kalau tidak menjalani langsung sendiri, maka tidak akan benar-benar paham. Bahkan seringnya pernikahan campur tak seutuhnya bisa dipahami oleh keluarga dari masing-masing pihak.

Begitu pula dengan pemerintah yang kurang paham akan apa yang dibutuhkan oleh pelaku kawin campur dan berakibat kurang bisa memprediksi kebutuhan pasangan kawin campur. Inilah yang membuat buku Cinta Tanpa Batas ini unik, karena berusaha menjelaskan apa yang sebenarnya dialami oleh pasangan kawin campur, sebagai sesuatu yang orang-orang kebanyakan tidak mengalami dan hanya dipahami oleh sesama pelaku kawin campur.

Sebagai pegiat literasi, Alda menuturkan bahwa sejak jaman penjajahan sudah ada literasi tentang kawin campur dengan posisi perempuan Indonesia yang dijadikan gundik oleh kaum penjajah lalu memiliki anak.

Namun memang, untuk konteks kondisi masa kini, informasi literasi mengenai pasangan kawin campur masih belum banyak. Tidak banyak yang menulis kisah kawin campur dari sudut pandang perempuan Indonesia selalu pelaku kawin campur di kondisi masa kini. 

Menurut Veronica Siregar, tak bisa dipungkiri bahwa mengenal calon pasangan itu butuh banyak waktu. Apalagi untuk pasangan kawin campur. Satu hal yang ditekankan Veronica adalah perbedaan keyakinan di mana agama bukanlah prioritas.

Kenyataannya bagi banyak warga negara asing, bersedia menikah secara agama bukan berarti otomatis bersedia menjadikan praktik agamanya sebagai prioritas dan mengikatkan diri secara iman. Ini adalah konteks yang harus dipahami terlebih dahulu bagi pasangan yang berasal dari dua budaya yang berbeda.

Satu hal lagi yang digarisbawahi oleh Veronica adalah pernikahan harus dilihat sebagai proses mengikatkan diri secara hukum dengan seseorang, sehingga selalu ada implikasi hukumnya. Implikasi hukum inilah yang tidak pernah disadari oleh pelaku kawin campur, karena biasanya urusan hukum ini sudah terdengar ribet dan kalah duluan dengan urusan cinta.

Padahal justru implikasi hukum inilah yang paling penting untuk dipahami, karena implikasi hukum besar pengaruhnya dalam hal status izin tinggal, akses kesejahteraan dan layanan kesehatan di negara domisili, akses bekerja, serta status legalitas anak.

Jika membicarakan implikasi hukum, menurut Veronica penting juga untuk membuat perjanjian pranikah dengan tujuan untuk melihat konsekuensi yang akan dihadapi sebagai WNI jika menikah dengan WNA. Semua urusan hukum ini penting untuk dipahami terlebih dahulu oleh kedua pihak pasangan.

Selain itu, penting juga untuk mencari tahu informasi tentang akses bekerja, pengaturan keuangan, serta kemerdekaan finansial masing-masing pihak. Membangun support system juga sama pentingnya, karena jika terjadi masalah hukum, masalah kesehatan, atau jika terjadi KDRT harus menghubungi siapa atau pihak mana di negara domisili.

Lebih lengkapnya, diskusi bedah buku Cinta Tanpa Batas dapat disaksikan di video berikut:

Penulis: Aini Hanafiah, tinggal di Norwegia (IG: aini_hanafiah)

(SIARAN BERITA) RUANITA Bagikan Cerita Kawin Campur ke Pendengar Radio KIS FM dan Berkunjung ke Redaksi Majalah FEMINA

JAKARTA – Pada Rabu (14/9) RUANITA: Rumah Aman Kita masih melanjutkan rangkaian Media Tour dan berkunjung ke stasiun radio KIS 95,1 FM dan kantor Redaksi Majalah FEMINA. Acara ini bertujuan untuk mempromosikan isu kawin campur yang masih dipandang sebelah mata atau terkesan meromantisasikan kehidupan di luar negeri.

Kunjungan pertama dilakukan ke Radio KIS FM yang mana Anna Knöbl dan Yenni Connell melakukan siaran talkshow on air. Acara bincang-bincang ini dipandu oleh Karina yang banyak membahas adaptasi budaya dan pemahaman nikah beda bangsa yang tak mudah.

Dalam siaran tersebut, Anna mengingatkan pentingnya solidaritas sesama orang Indonesia di perantauan sehingga RUANITA menjadi social support system. Anna menegaskan pentingnya untuk mengangkat cerita-cerita yang tak melulu meromantisasi kehidupan luar negeri tetapi cerita-cerita yang tidak banyak diangkat di narasi publik seperti masalah psikologis, masalah hukum, masalah parenting, dll.

Sementara Yenni lebih banyak mengisahkan pertemuannya dengan suami saat usianya 53 tahun melalui aplikasi kencan online. Yenni banyak berpesan untuk berhati-hati mengenal orang-orang dalam aplikasi kencan online agar tidak terjerumus pada kepalsuan atau penipuan yang semakin marak belakangan.

Follow akun: ruanita.indonesia

Kunjungan selanjutnya adalah kantor Redaksi FEMINA di Jakarta yang juga mendapatkan sambutan hangat dari Bennita dan Tim Redaktur. Dalam diskusi dengan Tim Redaktur FEMINA, Anna menceritakan tentang apa yang sudah dijalani RUANITA sebagai ‘Rumah Aman’ bagi orang Indonesia di luar negeri.

Fenomena kawin campur memang sudah banyak dikemas lewat dunia hiburan, tetapi Tim Redaktur FEMINA menyambut baik ajakan edukasi yang benar dan tepat agar masyarakat tidak salah kaprah. Apalagi pandangan untuk menetap di luar negeri masih menjadi impian orang-orang meski tak banyak yang menguasai bahasa, budaya, hukum dan pendidikan yang mumpuni.

Ke depan Tim Redaktur FEMINA berharap ada kisah-kisah inspiratif dan edukatif dari RUANITA untuk dibagikan. RUANITA yang diwakili Anna Knöbl dan Yenny Connell berharap FEMINA sebagai media informasi perempuan Indonesia dapat menyediakan ruang-ruang diskusi yang konstruktif sebagai jembatan untuk perempuan Indonesia di Indonesia dan perempuan Indonesia di mancanegara.

(SIARAN BERITA) Radio Hardrock FM Bali Ajak Pendengarnya Bekali Diri Sebelum Migrasi ke Luar Negeri

BALI – Dalam rangka mempromosikan edukasi tema kawin campur – WNI menikah dengan WNA – RUANITA menggelar Media Visit di Jakarta dan Bali seperti yang berlangsung baru-baru ini. RUANITA hadir di bincang-bincang siaran pagi hari di Hardrock FM, Denpasar (7/9).

Pemandu siaran adalah Mika dan Wulan yang mengawali cerita kerumitan dokumen pernikahan beda bangsa berdasarkan cerita-cerita pelaku kawin campur. Mika dan Wulan menyadari bahwa kerumitan dokumen itu terkadang membuat pasangan yang ingin menikah perlu berpikir ulang keyakinan mereka ke jenjang yang lebih serius.

Follow akun: @ruanita.indonesia.

Yenni Connell selaku kontributor buku berpendapat bahwa memilih pasangan hidup tak hanya sekedar cinta saja. Menurut Yenni, ada faktor Bibit, Bebet dan Bobot dalam menemukan pasangan hidupnya. Yenni mengakui dirinya berhasil mendapatkan jodoh di usia berkepala 5 lewat aplikasi Dating Online.

Meningkatnya jumlah kawin campur memang bisa jadi disebabkan faktor teknologi seperti keberhasilan yang diperoleh Yenni. Namun Yenni pun berpesan agar para pencari cinta lewat aplikasi online perlu memperhatikan sejumlah rambu-rambu agar tidak terjebak dalam fenomena Love Scammers yang memabukkan.

Kembali ke buku Cinta Tanpa Batas yang dikupas dalam bincang-bincang pagi tersebut, pendengar Hardrock FM perlu memperhatikan unsur-unsur antropologi, psikologi, hukum dan hak-hak yang di dapat setelah kita mendapatkan izin tinggal di suatu negara. Cerita nyata yang mengandung unsur-unsur tersebut bisa dibaca langsung dalam buku Cinta Tanpa Batas ini.

Selain promosi buku Cinta Tanpa Batas, Mika dan Wulan menggali eksistensi RUANITA yang telah menjadi social support system untuk warga Indonesia, terutama mereka yang mengalami masalah-masalah psikologis, domestik, pengasuhan anak, dan hal-hal lainnya yang masih dianggap tabu diceritakan di Indonesia.

Bagaimana pun buku Cinta Tanpa Batas menjadi bacaan wajib tidak hanya mereka yang menjadi pelaku kawin campur saja, melainkan juga mereka yang ingin tinggal dan menetap di luar negeri.

(SIARAN BERITA) Radio Thomson News Bali Gelar Talkshow On Air dan Diskusi Buku Bertema Kawin Campur

BALI – RUANITA melaksanakan Media Visit di Indonesia pada 6-16 September 2022 yang dimulai dengan Talkshow On Air di Radio Thomson News 93.3 FM (6/9) yang berada di Denpasar. Talkshow dipandu oleh Patrick Jonathans dan menghadirkan Anna Knöbl dan Yenni Connell.

Dalam kesempatan tersebut, Anna memperluas jangkauan Talkshow via Program IG Live (akun IG: ruanita.indonesia) di mana program IG Live menjadi program rutin RUANITA setiap bulan sekali.

Di bulan September ini RUANITA mengangkat kisah buku: Cinta Tanpa Batas untuk merayakan Hari Literasi Sedunia yang jatuh tiap 8 September.

Dalam Talkshow On Air, Anna banyak memperbincangkan tentang tema-tema yang tidak umum dan populer yang ditulis oleh 25 penulis perempuan asal Indonesia. Bagaimana pun Anna berharap kisah nyata para perempuan yang ada dalam buku tersebut dapat dipahami, bukan dihakimi.

Selain proses pengumpulan dan sunting naskah yang diceritakan dalam Talkshow On Air tersebut, Anna juga berpesan bahwa pernikahan campuran tidak melulu soal dokumen dan administrasi saja. Ada hal-hal seperti benturan budaya, pengalaman memiliki anak, identitas sosial, masalah hukum bahkan pengasuhan anak pun turut serta dibahas di dalam buku ini.

Usai Talkshow On Air, Radio Thomson News Bali menggelar diskusi buku yang menghadirkan sejumlah warga masyarakat yang tertarik dengan isu kawin campur atau masalah-masalah psikologis orang-orang Indonesia di mancanegara.

Follow akun IG: @ruanita.indonesia.

Dalam diskusi buku, Yenni mengingatkan bahwa perlu memperhatikan bibit, bebet dan bobot dalam memilih pasangan hidup. Meski pilihan jodohnya via dating online tetapi menikah dengan pria warga asing perlu juga memperhatikan soal budaya dan penerimaan budaya asing yang kadang sulit dipahami.

Diskusi buku mendapatkan apreasiasi dari peserta yang hadir dan mengamini kompleksitas masalah kawin campur tidak bisa dipandang sebelah mata. Harapannya suara perempuan yang menikah dengan pria asing ini bisa didengar lewat kebijakan yang berpihak pada perempuan seperti soal dokumen nikah, hak asuh anak, ijin tinggal dan lain sebagainya.

Bagaimana acara siaran tersebut berlangsung? Simak siaran ulang berikut:

Follow akun IG: ruanita.indonesia

(SIARAN BERITA) Peluncuran Buku Bertema Perkawinan Campuran

JERMAN – Ruanita – Rumah Aman Kita bekerja sama dengan Padmedia Publisher di Indonesia telah menyelenggarakan proyek bersama untuk mengumpulkan cerita pengalaman para pelaku kawin campur, yakni pernikahan antara Warga Negara Indonesia (WNI) dengan Warga Negara Asing (WNA).

Acara pengumpulan naskah sudah dimulai sejak Oktober 2021 lalu. Semua naskah yang terkumpul ditulis oleh para perempuan asal Indonesia yang tinggal di berbagai lokasi dan negara.

Kisah perkawinan campuran yang tertuang dalam buku bukan hanya bercerita tentang dokumen dan kelengkapan administrasi, melainkan ada kisah-kisah lainnya yang mungkin jarang terdengar di ranah publik.

Cerita integrasi budaya di antara kedua insan manusia dalam biduk rumah tangga tentu menjadi kisah haru biru yang tidak selalu melulu mendatangkan kisah romantis saja, tetapi juga tragis.

Ada kisah tabu tentang pandangan keluarga, pengasuhan anak, pengalaman menjadi orang tua hingga perpisahan ditulis apik berdasarkan kisah nyata yang dialami masing-masing penulis.

Follow us: @ruanita.indonesia

Ini bukan soal fantasi atau dokumentasi, ini adalah kisah yang menginformasi dan menginspirasi. Begitu penjelasan Anna Knöbl selaku Koordinator Tim Buku yang berbicara tentang proyek penerbitan buku ini.

Di tengah meningkatnya mobilisasi dan migrasi, bukan tidak mungkin angka pernikahan kawin campur bertambah. Angka ini belum tentu diiringi oleh bekal yang cukup untuk mengetahui seluk beluk budaya, komunikasi hingga hukum yang kerap menjadi pemicu dalam berumah tangga. Ada saja kasus di mana perempuan bingung menempatkan dirinya saat minimnya informasi dan bahasa yang dimilikinya di mancanegara.

Pertemuan dua budaya yang berbeda akan menghadirkan banyak hal baru yang akan memperkaya kehidupan. Ada banyak pengalaman positif yang dijalani para pelaku kawin campur, meskipun harus diakui hubungan kawin campur tidak terlepas pula dari stigma, konflik maupun masalah spesifik lain yang mengikutinya.

Dalam perkawinan campuran, analisa mendalam diperlukan untuk menjadi bekal edukasi yang dikemas menarik sehingga dapat menjadi petunjuk bagi pasangan kawin campur baik bagi yang belum menikah maupun sudah menikah.

Oleh karena itu, RUANITA telah menggagas dua kali Diskusi Virtual jelang peluncuran buku yang membahas tema seputar perkawinan campuran. Pada akhirnya buku berjudul Cinta Tanpa Batas ini telah terbit pada akhir April 2022 dan sudah mulai didistribusikan.

Sejalan dengan hal tersebut, RUANITA menggelar peluncuran buku secara daring yang diadakan pada hari Minggu, 19 Juni 2022 jam 10.00 waktu Eropa Tengah atau jam 15.00 WIB.

Dalam kesempatan tersebut, RUANITA mengundang Wakil Ketua DWP KBRI Berlin – Tenny Edison – yang memberikan pengantar tentang problematika yang dihadapi perempuan Indonesia di luar negeri, terutama di Jerman. Sebagai informasi, buku Cinta Tanpa Batas ini telah ditulis oleh 7 perempuan asal Indonesia yang saat ini bermukim di Jerman.

Selanjutnya, RUANITA juga menghadirkan Ketua Komnas Perempuan Indonesia – Andy Yentriyani – yang memberikan tanggapan atas terbitnya buku bertema perkawinan campuran. Acara satu jam ini diharapkan dapat menjadi media konstruktif untuk membangun solidaritas perempuan Indonesia di mana saja, tidak hanya soal isu perkawinan campuran.

RUANITA (Rumah Aman Kita) Indonesia adalah komunitas diaspora Indonesia yang dibentuk untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman seputar praktik baik tinggal di mancanegara dan permasalahan psikologis yang kerap dihadapi. Tujuan didirikannya RUANITA adalah untuk mempromosikan isu kesehatan mental, psikoedukasi, kesetaraan gender serta berbagi praktik baik tentang keterampilan diri untuk tinggal di luar Indonesia.

Informasi: info@ruanita.com

Untuk mengikuti kliping berita kami, sila buka tautan yang diberikan.