Melanjutkan episode di bulan April, Nadia dan Fadni sebagai Host RUMPITA mengundang salah satu sahabat RUANITA yang tinggal di Norwegia. Tema yang dibahas kali ini bertepatan dengan Hari Kartini, yang diperingati setiap 21 April di Indonesia.
Hari Kartini yang dulu di Indonesia dirayakan ternyata masih dikenang oleh kebanyakan perempuan Indonesia yang kini telah tinggal di perantauan, di luar Indonesia. Menurut Aini, dahulu selebrasi perayaan Kartini lebih pada penempatan perempuan pada sektor domestik seperti lomba memasak atau berbusana.
Aini berpendapat bahwa sosok Ibu Kartini di masanya adalah tokoh visioner yang mampu menginspirasi perempuan lainnya dengan menggerakkan konsep sisterhood. Justru Ibu Kartini telah menanamkan nilai-nilai agar perempuan membebaskan dari nilai-nilai tradisional agar tidak terkekang.
Aini juga heran mengapa hanya Ibu Kartini yang lebih banyak diunggulkan sebagai tokoh pahlawan perempuan. Dia menyebutkan ada banyak tokoh pahlawan perempuan lainnya yang juga menorehkan sejarah bangsa Indonesia, tetapi mengapa hanya Ibu Kartini yang tampak ketika kita masih di Indonesia untuk merayakannya.
Nilai-nilai Ibu Kartini di masa kini justru semakin menguatkan peran perempuan dalam tantangan masa kini. Perempuan tidak meninggalkan peran domestik tetapi perempuan berhasil mengambil peran ganda atau multitasking. Namun perempuan sendiri masih dihadapkan dilema untuk mandiri seperti mengambil keputusan untuk dirinya sendiri.
Pengasuhan pun sangat berdampak untuk menghidupkan nilai-nilai Ibu Kartini di perantauan. Untuk perempuan yang berperan sebagai ibu seperti Aini atau bakal ibu seperti Nadia dan Fadni tentu tantangannya berbeda lagi. Apalagi anak-anak mereka dihadapkan pada values yang berbeda sekali dengan Indonesia, termasuk tentang sejarah bangsa Indonesia sendiri.
Aini mencontohkan bagaimana peran ibu bisa tetap mengajarkan ke anak-anak tentang values dan sejarah bangsa Indonesia lewat berbagai media kekinian. Selain itu perempuan Indonesia di perantauan tetap bisa menjadi role model untuk mengambil bagian dari peran masing-masing di perantauan seperti mahasiswi, akademisi, ibu, karyawati atau apapun peran yang disematkan ke kita.
Simak keseruan obrolan mereka dalam diskusi Podcast berikut ini
Pada episode Podcast – RUMPITA – bulan Desember 2022 membahas tentang liburan yang mulai terasa di Jerman karena sudah memasuki akhir tahun. Suasana akhir tahun di negeri empat musim memang terasa romantis, apalagi cuaca di Jerman kali ini memang sedang dihujani salju dan suhu yang dingin sekali.
Celoteh Nadia dan Fadni sebagai mahasiswa di Jerman diawali dari pengalaman mereka membayangkan liburan di negeri empat musim seperti film dan buku yang mereka baca saat masih di Indonesia. Fadni menceritakan bagaimana orang-orang Jerman merayakan Advent sebagai tradisi jelang Natal.
Meskipun Nadia dan Fadni tidak merayakan Natal tetapi mereka berdua mampu menceritakan dengan baik pengalaman mereka tentang keseharian orang Jerman mempersiapkan hari raya tersebut. Bahkan Nadia bisa membedakan bahwa tiap region di Jerman punya kebiasaan berbeda saat memikmati momen makan malam 24 Desember tersebut.
Nadia yang tinggal di Jerman belahan utara berpendapat masyarakat di sekitarnya biasa menyiapkan ikan. Fadni berpendapat di Berlin biasanya menyiapkan bebek untuk keluarganya.
Selain merayakan Advent, dekorasi Natal seperti pohon Natal mulai dijajakan di supermarket. Nadia dan Fadni yang memulai tinggal di Jerman saat di Studienkollege, merasakan bagaimana suasana gembira dirayakan orang-orang di Jerman di sekitarnya. Natal di Jerman.
Cerita Nadia dan Fadni yang menceritakan bagaimana mereka beradaptasi dengan tradisi orang-orang Jerman seperti Adventkalender, Nikolaustag, Sinterklas, Pohon Natal dan Tukar Kado. Fadni pun menjelaskan bagaimana budaya anak-anak di Jerman menantikan Sinterklas jelang Natal.
Bagaimana cerita mereka berdua mengamati tradisi orang-orang Jerman? Simak yuk dalam Podcast berikut ini:
Fadni yang tinggal di Berlin, Jerman pernah merasakan getirnya kenaikan harga sewa flat karena setiap tahun selalu ada kenaikan.
Fadni bercerita bahwa per September 2022 harus menghemat energi sehingga harus menjadi perhatian semua penyewa gedung, termasuk musim dingin ini adalah bagaimana kita memakai penghangat ruangan.
Kiat Nadia dan Fadni juga bisa diterapkan untuk mahasiswa yang tinggal di negeri empat musim. Dampak kenaikan harga pangan dan listrik juga mempengaruhi gaya hidup seperti sembako, penggunaan sepeda atau penggunaan barang-barang elektronik di rumah.
Pengaruh harga listrik telah berdampak pada kehidupan sehari-hari para mahasiswa yang ada di benua biru seperti Jerman.
Perilaku berhemat tidak hanya menguntungkan kocek sendiri melainkan juga gaya hidup sebagian besar orang-orang Jerman yang sudah mulai mengikat ikat pinggang.
Bagaimana celoteh Nadia dan Fadni tentang dampak inflasi terhadap kehidupan mereka? Bagaimana kiat-kiat mereka mengatasi tantangan hidup berhemat di tengah musim dingin?
Pada episode berikut dari RUMPITA – Rumpi bareng RUANITA – yang dibawakan oleh Nadia dan Fadni mengambil tema tentang bulan Oktober yang menjadi favorit mereka berdua.
Pasalnya keduanya merayakan hari ulang tahun di bulan ini. Mereka pun berdua menceritakan bagaimana awal mulanya mereka saling mengenal hingga mengetahui tanggal ulang tahun masing-masing.
Mungkinkah cerita pertemuan mereka yang tak sengaja di Jerman seperti kisah kalian yang juga tanpa sengaja sebenarnya sudah dekat, hanya saja tidak menyadarinya.
Bulan Oktober tidak hanya persoalan perayaan ulang tahun mereka saja, tetapi mereka juga menceritakan pengalaman mereka di musim gugur.
Musim gugur memiliki suka duka tersendiri bagi Nadia dan Fadni yang sudah lama tinggal di Jerman lebih dari 5 tahun.
Seperti Fadni, dia menceritakan bagaimana dia beradaptasi dengan suasana musim gugur yang kadang membuat musim angin dan cuaca yang tak menentu.
Suasana yang melow ini tentu membuat keduanya mengalami perubahan suasana hati.
Simak juga pengalaman Nadia dan Fadni yang berbagi tips makanan dan minuman yang biasa mereka nikmati di musim gugur.
Bagaimana kiat mereka berdua dalam menjalani hari-hari di musim gugur sebagai mahasiswa pascasarjana di Jerman? Atau bagaimana mereka mengatasi rasa rindu Indonesia saat berada di Jerman di musim gugur ini?
Ini adalah pengalamanku yang sampai saat ini kadang masih menjadi traumaku dan tentunya menjadi pelajaran berharga bagiku. Selama empat tahun, sejak aku masih SMA hingga aku tiba di Jerman 2017 yang lalu, aku memiliki mantan pacar yang enam tahun lebih tua dariku, yang melakukan gashlighting terhadapku dan sayangnya baru kusadari setelah aku berhasil putus darinya. Kami berkenalan di acara karang taruna desa kami saat aku masih duduk di bangku SMP.
Awalnya dia menunjukkan sikap yang baik dan perhatian. Namun lama kelamaan dia mulai berubah dan menunjukkan sikap yang tidak masuk akal. Dia mulai menjauhkanku dari teman-teman dan keluargaku. Ia mulai melarangku untuk bermain dengan teman-temanku.
Ia berusaha meyakinkanku bahwa teman-teman yang sudah kukenal lama ini bukanlah orang yang baik. “Kalau kamu cuma main sama dia, mau jadi apa kamu!”, katanya saat itu. Meskipun pulang malam adalah hal yang sudah biasa bagiku dan tentunya dengan sepengetahuan kedua orang tuaku, ia mulai sering berargumen, “Kamu tuh sudah dibilang bukan anak baik-baik, pulang malem. Tidak usah deh ikut acara apa-apa. Demi nama baik kamu.”
Selain dia menjauhkanku dari keluargaku, ia bahkan memanggil orang tuaku langsung dengan nama, mengatai-ngatai kedua orang tuaku dan berusaha mendoktrinku bahwa orang tuaku bukanlah orang yang baik.
Sebenarnya pun keluarga dan beberapa tetanggaku sudah memperingatkan dan melarangku untuk berhubungan dengannya. Sayangnya bagiku saat ini, hanya “jangan dekat dengannya” tidaklah cukup meyakinkanku.
Tidak seorang pun yang menjelaskan padaku dengan mengapa aku tak boleh dekat dengannya. Mereka hanya mengatakan: intinya jangan berhubungan sama dia. Titik. Peringatan itu kuabaikan saja dan aku tidak mau memercayainya. Aku pernah menanyakan hal ini padanya dan jawabannya, “Dia saja yang tidak mau kita bersama.” Bodohnya aku, aku memercayai jawabannya itu.
Ini yang menjadi poin penting bagaimana aku sulit lepas dari mantan pacarku ini dan entah bagaimana tetap saja mempercayainya. Mungkin sebagai gambaran awal, aku adalah tipikal orang yang “ngemong”, super care dan royal. Ketika orang melihat ini sebagai poin plus, ini adalah titik lemahku di hadapannya, yang sering ia manfaatkan. Caranya memanipulasiku sangatlah manis, menjanjikan sesuatu yang hampir setiap perempuan ingin dengar dari setiap laki-laki, seperti ingin membangunkan rumah untukku, membicarakan berapa banyak anak yang ingin dia miliki bersamaku, atau bagaimana ia ingin berakhir bersamaku.
Ketika ia tahu aku sudah dalam kuasanya, ia memanfaatkan “kelemahanku” dengan bersikap manja padaku, menunjukkan karakter lemah yang bisa menyentuh hatiku, dan mulai meminta ini itu. Lama kelamaan tidak lagi sungkan untuk meminta apapun dariku. “Aku mau ini dong”, “Aku mau itu dong” atau “Belikan ini dong”. Sayangnya makin ke sini ia jadi memaksa untuk dituruti keinginannya saat itu juga. Jika tidak dituruti ia akan berkata, “Apaan sih. Kayak begitu saja tidak bisa. Sudah, kalau tidak mau, putus aja.”
Bertahun-tahun ia terus mengulang-ulang, bahwa cuma dia yang mau menerimaku. Dia mendoktrinku untuk memercayai bahwa aku anak yang nakal dan ia sudah memperbaiki imejku. Dia mempermasalahkan keperawananku dan mengatakan bahwa semua mantannya masih perawan dan cuma aku yang tidak. Padahal dia juga melakukan hubungan sex denganku. Dia terus mengatakan, seharusnya aku bersyukur bahwa dia mau denganku, hanya dia yang mengerti aku dan sebagainya.
Bahkan pernah suatu kali, saat aku ketahuan chat dengan teman perempuanku yang dilarangnya, ia lalu menginjak hapeku dan menendang dadaku. Itu justru membuatku merasa bersalah mengapa aku melakukannya dan menyakiti dia. Ia bersikap seakan-akan dia orang tuaku, layaknya orang tua menasihati anaknya.
Ketika dia marah, aku jadi berpikir, dia mau aku jadi lebih baik. Karena ia membuatku sibuk memikirkan “kesalahanku” dan menyalahkan diriku sendiri, aku sampai tak sadar kalau dia sering “membeli perempuan”. Namun ketika dia mau sesuatu, seketika dia bisa berubah sikap begitu saja menjadi sangat sweet dan manja, yang membuatku tidak bisa menolak kemauannya.
Sebenarnya aku sadar bahwa dia bersikap buruk dan aku harus mengakhiri hubungan ini dengannya. Namun setiap kali mau putus, di kepalaku selalu muncul: siapa lagi yang bisa mengerti dia selain aku, siapa lagi yang mau sama dia selain aku. Yang ada di kepalaku justru bagaimana orang tuaku bisa menerima dia, karena meskipun begitu aku juga tidak mau kehilangan orang tuaku.
Ironisnya, bahkan saat aku sudah di Jerman ia mulai membuat janji-janji manis seperti akan mengunjungiku di Jerman. Selang dua minggu setelah kedatanganku di Jerman, ia minta dibelikan motor CB.
Ini semua membuatku jadi parno kalau dekat dengan laki-laki yang apa-apa minta dibayarin, sampai sekarang aku masih bermimpi tentangnya seperti dikejar-kejar, aku jadi merasa rendah diri dan merasa kecil dihadapan orang tuaku dan tentunya masih merasa bersalah terhadap orang tuaku dan belum bisa memaafkan diriku sendiri.
Sekolah ke Jerman lah yang menyelamatkan hidupku darinya. Setelah aku pindah ke Jerman, aku menjadi sibuk, banyak hal yang harus aku urus, aku memulai sesuatu yang besar, dan ini antara hidup dan mati tanpa orang tua. Bertemu berbagai macam orang, aku mulai merasakan perbedaan karakter dan treatment terhadapku dibandingkan dengan mantanku.
Selain itu, sejak aku ke Jerman aku bertemu banyak orang-orang baru dengan berbagai macam latar belakang, asal daerah yang berbeda dan cerita masa lalu yang hampir sama, yang membuatku berpikir bahwa aku tidak sendirian. Bahwa siapapun bisa membuat kesalahan dan mengambil keputusan yang salah dan itu tidak menjamin bahwa di masa depan juga akan mengambil keputusan yang salah lagi. Dan mereka juga bisa berhasil dalam hidup.
Untuk mengakhiri ceritaku, aku menyadari bahwa sulit untuk korban menyadari dan keluar dari hubungan seperti ini. Hanya orang itu sendiri yang bisa melepaskan dirinya dari hubungan itu dan mengambil keputusan. Namun sangat penting juga, kalau kalian punya teman atau anggota keluarga yang mengalami hal serupa, dalam kasus seperti ini kalian harus tegas dan jangan hanya melarang tanpa penjelasan apapun.
Episode ke-6 Podcast Rumpita ini – Nadia dan Fadni – dimulai dari nostalgia jelang persiapan acara Tujuhbelasan yang dulu mereka ikuti saat masih di Indonesia. Kini mereka menetap di Jerman selama satu dekade yang berawal dari studi sarjana mereka. Suka duka sebagai mahasiswa di tanah rantau dibahas oleh Fadni dan Nadia.
Cerita nostalgia, rindu tanah air mereka berawal dari bagaimana mereka menghias sekitar rumah tinggal, perlombaan Tujuhbelasan dan kemeriahan yang tak dijumpai di luar Indonesia. Namun apakah kemeriahan itu juga diperoleh saat mereka di negeri perantauan?
Mereka bertutur perasaan jauh dari kehidupan keluarga dan teman-teman di Indonesia. Jarak yang terbentang antara Jerman – Indonesia terkadang membuat kesepian, kerinduan dan kesedihan yang dialami oleh Nadia dan Fadni. Nadia perlu juga pertimbangkan bahwa biaya yang tak mudah dan murah untuk pulang-pergi Indonesia untuk melepas perasaan-perasaan tersebut.
Indonesia yang letaknya di ribuan kilometer terasa jauh saat kita berada di perantauan, seperti yang dirasakan Nadia dan Fadni, apalagi mereka adalah mahasiswa. Tahun-tahun perjuangan di Jerman begitu sulit dan panjang saat kita begitu kesulitan untuk membeli tiket pesawat pulang-pergi hanya untuk melepas kerinduan pada keluarga.
Sebagai orang yang dekat dengan keluarga, Nadia dan Fadni merasa iri melihat kebersamaan orang-orang sekitar yang bisa berkumpul bersama keluarga. Membangun impian di negeri orang terkadang membuat kita merindukan tanah air. Bagaimana kelanjutan celoteh Nadia dan Fadni pada episode ke-6?
Episode kedua Podcast kali ini membahas bagaimana mencari teman saat di mancanegara. Sebagaimana diketahui, Fadni dan Nadia adalah mahasiswa yang sedang studi program Pascasarjana di Jerman. Tentu tak mudah untuk mencari teman baru di lingkungan asing dengan bahasa dan budaya yang berbeda. Pencarian teman dimulai dengan mencari teman dari satu negara, satu kota asal hingga satu kamar kos.
Perjalanan Fadni dan Nadia dalam mencari teman berawal dari menyeleksi pertemanan agar mereka tetap fokus terhadap diri sendiri yakni tanggung jawab sebagai pelajar. Bahwa tak melulu teman akan menjadi lawan, tetapi bagaimana teman yang mendukung di saat susah dan senang selama di rantau bukan perkara mudah.
Bagaimana perjalanan Fadni dan Nadia tersebut dalam mencari teman? Apa kita perlu berhati-hati berkenalan dan membangun pertemanan, meski kita sama-sama berasal dari Indonesia?