(SIARAN BERITA) Lewat Daring, Ruanita Indonesia Temui KBRI Wina


Jerman, 7 Juli 2025 — Tim Ruanita Indonesia melakukan audiensi dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Wina, Austria, sebagai bagian dari upaya memperkuat peran komunitas, terutama partisipasi perempuan Indonesia di mancanegara.

Pertemuan daring ini dihadiri oleh perwakilan KBRI Wina, yakni Bapak Shabda Thian dan Ibu Vita, yang menyambut tim Ruanita dalam situasi hangat dan konstruktif.

Pihak KBRI Wina kemudian menyampaikan apresiasi terhadap upaya kerja para relawan Ruanita Indonesia yang telah berkontribusi dalam menciptakan ruang aman dan mendukung bagi perempuan Indonesia, khususnya mereka yang sedang berada di luar Indonesia.

Pertemuan ini juga menandai langkah awal penjajakan kolaborasi antara KBRI Wina dan Ruanita Indonesia.

Salah satu poin penting yang disepakati adalah perlunya melakukan pre-assessment bagi para calon perawat dari Indonesia yang belajar dan akan bekerja di Austria.

Pendekatan ini bertujuan untuk menyesuaikan kebutuhan program pendukung yang sesuai dengan konteks dan tantangan mereka di Austria, sebagai negara tujuan.

Selain itu, kedua pihak membuka kemungkinan mengembangkan program pertukaran informatif, yang dirancang berdampak positif dan edukatif, baik secara sosial, budaya, maupun profesional.

Program ini diharapkan menjadi kontribusi nyata dalam penguatan komunitas warga Indonesia di Austria, serta membuka akses informasi dan ruang dialog yang lebih inklusif.

Audiensi ini dimoderasi oleh Ibu Azizah Seiger, relawan Ruanita di Austria, dan merupakan bagian dari misi Ruanita Indonesia sebagai jembatan kolektif yang edukatif dan inspiratif yang mengedepankan nilai-nilai Indonesia, intervensi komunitas, dan berbagi sumber daya.

Dengan semangat kolaboratif, Ruanita Indonesia dan KBRI Wina akan terus menjajaki bentuk kerja sama yang konkret demi mendukung pemberdayaan perempuan dan warga Indonesia di luar negeri secara lebih luas.

Kontak: Azizah Seiger, relawan Ruanita di Austria (e-mail: info@ruanita.com).

(CERITA SAHABAT) Gagal Berpacaran Hingga Takut Kesepian

Sahabat Ruanita, aku tinggal di benua biru sejak 2016. Awalnya aku tinggal di Eropa untuk melanjutkan studi S2. Selesai studi, aku putuskan untuk bertahan di sini dengan berbagai pertimbangan. Beruntungnya aku segera mendapatkan kesempatan kerja. Namun, aku tak merasa beruntung dengan perjalanan cintaku.  

Awal perjalanan cintaku dimulai dari “cinta monyet” sejak aku duduk di bangku SMP. Namun semenjak SMA, ketertarikanku terhadap lawan jenis sudah mulai semakin serius. Beberapa kali aku menjalin hubungan serius berpacaran selama SMA. Rupanya hubungan-hubungan tersebut terjalin tidak begitu lama, antara 1 sampai 6 bulan saja. 

Menginjak masa kuliah aku mempunyai hubungan pacaran yang terbilang cukup lama, kurang lebih selama 9 tahun. Pada akhirnya aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan tersebut karena aku menilai ini adalah hubungan yang tidak sehat. Aku pun kemudian berangkat ke Eropa untuk studi lanjutan. Sejak masa SMA sampai akhir hubungan 9 tahun tersebut, percaya atau tidak, aku tidak pernah menjadi single (atau hidup tanpa pasangan) lebih dari beberapa hari. 

Awal hubungan berpacaranku di Eropa dapat dikatakan cukup unik. Aku mengenal A sudah sejak ketika aku masih berada di Indonesia. A berasal dari Pakistan. Pada saat itu dia sedang melanjutkan studinya di salah satu negara di Eropa.  Aku “bertemu” A melalui jejaring online Yahoo Messenger dalam suatu forum. Selama perkenalanku dengan A, aku sering menceritakan hal-hal yang terjadi dalam kehidupanku. Tak terkecuali mengenai apa yang terjadi dalam hubunganku dengan pacar-pacarku di Indonesia. Dia pulalah yang menyarankanku untuk melanjutkan studi di Eropa dengan pertimbangan yang rasional tentunya. 

Setiba di Eropa, aku hanya bertemu dengannya beberapa kali saja karena dia tinggal di kota yang berbeda dan juga cukup jauh dari kota di mana aku tinggal. Hubunganku dengan A berakhir karena dia memutuskan untuk menikah dengan perempuan pilihan orang tuanya. Bahkan sebelum hubungan kami berakhir pun, A sudah sering memberitahu bahwa hubungan kami tidak akan sampai ke jenjang pernikahan. 

Lepas dari A, aku berpacaran dengan B yang juga berasal dari Afghanistan. Dia bekerja di salah satu perusahaan besar di kota tempatku tinggal. Pada awalnya aku berpikir, mungkin dengan B, aku akan mendapatkan kenyamanan karena dia mempunyai agama yang sama denganku apalagi dia merupakan pekerja migran. Dengan latar belakang tersebut, aku pikir, dia mempunyai resiliensi dan etos kerja yang bagus. Namun sayang, aku harus mengakhiri hubunganku setelah 3 bulan berpacaran karena terjadi kekerasan baik fisik, verbal maupun mental terhadapku. Keputusanku ini aku ambil atas saran dari seorang teman dekat kala itu. 

Beberapa saat kemudian aku mulai dekat dengan C. C berasal dari kota di mana aku tinggal di Eropa. Dia lebih muda 6 tahun dariku. Aku merupakan pacar pertama C. Hubunganku dengan C bertahan selama kurang lebih 1 tahun sampai pada akhirnya aku merasa bahwa perbedaan usia, pengalaman, pandangan hidup dan agama menjadi penghambat hubungan kami di masa mendatang. Sebelum benar-benar mengakhiri hubunganku dengan C, aku sudah terlebih dahulu dekat dengan D yang aku kenal lewat aplikasi jejaring mahasiswa.  Dia juga memberiku support mental ketika aku memutuskan hubunganku dengan C. 

Hubunganku dengan D menjadi semakin serius dan kami sudah merencanakan berbagai macam kegiatan dan hal yang dapat kami lakukan bersama di masa mendatang. Kami juga bahkan sudah membicarakan mengenai agama dan pernikahan. Namun rencana tinggallah rencana. D memutuskan untuk pindah ke negara lain karena pekerjaan. Bagiku memutuskan untuk pindah negara lain bersama D merupakan hal yang besar dan kompleks, tidak semudah D yang berkewarganegaraan Eropa. Aku putuskan untuk tinggal dan hubungan kami pun semakin renggang.  Namun begitu, hubunganku dengan D masih terbilang sangat baik hingga sekarang.  

Setelah kepindahan D ke negara lain, hubungan kami yang semakin renggang pun menjadi celah sehingga ada orang lain singgah di hidupku. Ada beberapa orang, namun tidak sampai menjalin hubungan. Sampai pada akhirnya aku bertemu dengan E, di salah satu klinik kesehatan mental di kota tempatku tinggal. Kami sama-sama merupakan pasien rawat jalan di sana. E kebetulan juga mempunyai masalah mental sepertiku. Kami tidak sampai pada tahap berpacaran karena aku pikir, aku butuh waktu untuk mengenal kepribadiannya lebih dekat dan lebih dalam. Aku tidak mau terburu-buru mengambil keputusan seperti yang sering atau selalu aku lakukan sebelumnya. Kedekatanku dengan E berakhir setelah 6 bulan karena ada beberapa sikap dan hal-hal yang dilakukan E, entah sadar atau tidak, memancing trauma masa laluku.  

Aku merasa bahagia ketika aku dapat menjalin hubungan dengan seseorang yang dapat mengerti aku, menerima aku dan masa laluku, dan dapat memberiku rasa aman dan nyaman. Tidak semua orang dapat menerima masa laluku yang tidak biasa untuk kebanyakan orang. Butuh orang yang cukup berpikiran terbuka untuk dapat menerimaku seutuhnya.  Terlebih lagi jika seseorang tersebut dapat memberikan rasa aman dan nyaman, apalagi aku ada orang yang asertif. Aku berani menyatakan pendapat atau ketidaksetujuanku pada pasanganku. 

Aku merasa hubungan yang terkesan dipaksakan, tersiksa lahir dan batin merupakan hubungan yang menyakitkan bagiku. Selama berpacaran di Eropa, aku juga berpacaran dengan orang dengan kondisi psikisnya tidak stabil. Itu sungguh membuatku sangat sengsara. Terlebih lagi dengan kondisi mentalku sendiri yang juga belum stabil. Menghadapi orang tersebut, aku harus berpikir seribu kali jika aku mau melakukan sesuatu atau mau mengutarakan pendapatku. Aku harus serba berhati-hati agar dia tidak merasa tertekan dan memancing emosinya. Ini sungguh sangat menyiksa ketika aku sendiri pada akhirnya merasa tertekan dan tidak merasa nyaman lagi dalam hubungan tersebut. Di sisi lain, ada beberapa perilaku mantan pacarku yang disebabkan oleh keadaan psikisnya yang secara tidak sadar memantik trauma masa laluku.   

Ada ketakutan tersendiri jikalau aku akan menjadi sendiri selama hidupku tanpa ada seseorang untuk saling berbagi perasaan, pengalaman dan keluh kesah sehingga keinginanku untuk mempunyai pasangan sangat besar. Ada pula perasaan kehampaan dalam hati yang bahkan tidak dapat terobati dengan berkomunikasi dengan keluarga ataupun sahabat dekat. Namun, aku juga sadar perasaan-perasaan inilah yang mendorong aku untuk secepatnya mempunyai pasangan baru setelah putus dari hubungan yang lalu tanpa mengenal orang tersebut lebih dalam sehingga hubungan pacaran pun tidak dapat bertahan lama karena berbagai ketidakcocokan karakter dan perbedaan ekspektasi dan kenyataan yang muncul belakangan. 

Bisa dibilang, aku tidak mempunyai role model bagaimana sebuah hubungan yang sehat itu dari keluargaku, baik keluarga inti maupun keluarga besar. Ada sih beberapa tapi sebagian besar malah sebaliknya. Bahkan hubungan orang tuaku sendiri tergolong tidak harmonis. Sewaktu aku masih tinggal dengan mereka, sering kali aku mendapati orang tuaku „perang dingin“. Namun akulah yang menjadi „sasaran“ mereka. 

Secara bergantian mereka „mengadu“ padaku keburukan pasangannya tanpa menyelesaikannya dengan memperbaiki komunikasi satu sama lain. Sewaktu mereka bekerja, waktu mereka habis untuk bekerja mencari nafkah untuk keluarga. Tak jarang, aku merasa, aku hanya mendapatkan „sisa-sisa“ kasih sayang, perhatian dan energi mereka setelah mereka lelah bekerja. Aku merasa aku kurang mendapatkan kasih sayang dari orang tua secara materiil. Sewaktu aku beranjak dewasa, knowing the facts that they were both cheating on each other (although not at the same time) broke my heart into pieces

Ada beberapa kali proses pacaran di masa lalu yang membuatku dalam menjalin hubungan. Tetapi yang membuatku trauma sampai saat ini dan sampai aku harus mengikuti terapi adalah hubungan pacaranku selama 9 tahun itu. Pacarku waktu itu 10 tahun lebih tua dariku. Kenapa aku berpacaran dengannya? Mungkin karena aku terjebak dengan mindset „cari pacar yang mapan“ di lingkunganku  sehingga perbedaan umur yang cukup jauh tersebut tidak terlalu aku ambil pusing. Dan juga keadaanku waktu itu yang merasa sangat membutuhkan kasih sayang yang tidak aku dapatkan dari orangtuaku. 

Singkat cerita banyak hal yang terjadi selama 9 tahun tersebut. Bahkan hal-hal yang tidak dibenarkan olah norma-norma sekalipun. Dengan pikiranku yang naif waktu itu aku pikir „aku harus bertanggung jawab atas perbuatanku“ dengan cara tidak meninggalkan pacarku atau memutuskan hubunganku walaupun aku mendapatkan pelecehan baik secara psikis maupun seksual. 

Tak hanya itu, dia tidak mengizinkanku untuk pergi sendiri bertemu/berkumpul dengan teman-temanku. Dia takut aku curhat dengan teman-temanku tentang masalahku dengannya. Handphone pun harus siap sedia. Jika aku tidak angkat teleponnya sekali saja, dia akan membombardir dengan telepon berpuluh-puluh kali dan tak jarang dia akan datang ke rumahku hanya untuk bertanya „kok kamu tidak jawab telponku? Memangnya kamu taruh mana handphonemu?“ 

Kadang aku menghadapi khayalan dia „gimana kalau tadi tu telpon penting? Gimana kalau aku kecelakaan atau ditangkap polisi dan butuh bantuan“. Akupun harus memberitahunya kalau aku mau bepergian dan ketika aku sudah sampai rumah, tak terkecuali saat aku bepergian dengan keluargaku. Pergerakan dan perkembanganku sebagai seorang remaja menuju dewasa sungguh sangat terbatas waktu itu. Aku merasa masa mudaku terampas olehnya. 

Awalnya aku tidak berani bercerita pada siapapun mengenai hal ini, termasuk pada keluargaku. Aku takut bagaimana pandangan orang nantinya. Untuk mengakhiri hubungan pacaran pun sulit aku rasakan waktu itu karena tiap kali aku sampaikan niatku untuk mengakhiri hubungan padanya, dia selalu mengancamku: dia akan memberitahu orang tuaku semua yang terjadi antara aku dan dia. Waktu itu aku sangat ketakutan kalau orang tuaku sampai tahu dan aku merasa sangat sendiri.  

Aku sadar 9 tahun itu bukan jangka waktu yang pendek, sedikit banyak sifat dan sikapku pun terpengaruh. Aku menjadi seseorang yang sangat takut untuk mengutarakan perasaan dan pendapatku. Aku takut hal tersebut dapat menyinggung orang lain dan membuatnya marah dan kecewa. Sepertinya karakterku pun terbentuk untuk selalu menjadi anak yang manis dan penurut walaupun dalam hatiku menjerit dan meronta-ronta. 

Dari sinilah aku merasa aku haus akan kasih sayang dan merasa sangat kesepian sehingga secuil kasih sayang yang ditawarkan orang lain padaku dapat aku salah artikan kalau mereka benar-benar mengasihiku, until it’s proven wrong; which happened so many times. Dalam lubuk hatiku, aku takut tidak ada orang yang mau mengasihiku sampai aku tua nanti. Aku takut tidak ada seseorang yang selalu ada untukku untuk saling berbagi. 

Aku hanya bisa menyarankan, jika sahabat Ruanita punya pengalaman yang sama denganku, maka segera perbaiki hubungan dengan keluarga, sambung komunikasi yang baik dengan keluarga inti sehingga kamu tidak merasa kesepian. Kedua, carilahi teman yang terpercaya dan bisa menjaga rahasia merupakan hal yang penting, setidaknya kamu memiliki tempat untuk meluapkan emosimu. Ketiga, carilah bantuan profesional (terapi, klinik, dll) jika hal itu sudah sangat mengganggu kehidupanmu dan mentalmu. Percayalah selalu ada bantuan di luar sana untukmu kalau kamu mau membuka diri dan berani keluar dari tekanan tersebut. Keempat, sebaiknya tidak terlalu cepat mengambil keputusan untuk memulai suatu hubungan tanpa merasa yakin dan cocok dengan calon pasangan. Terakhir, menurutku, sibukkan diri kalian dengan hobi dan kegiatan yang bermanfaat. 

Penulis: Anonim, tinggal di benua biru.

(IG LIVE) Bagaimana Prosedur dan Adaptasi Anak di Daycare di Eropa?

JERMAN – IG Live Episode Maret 2022 mengambil tema tentang Daycare di Eropa. Seperti biasa, Atika mengundang dua orang tamu yakni Hesti Aryani (akun IG: hestiaryani) yang kini menetap di Zürich, Swiss dan Juwita (akun IG: juwitanzl) yang menetap di Gerestried, sekitar 30 menit dari Kota Munich, Jerman. Mereka berdua akan cerita bagaimana pengalaman mendaftarkan anak di Daycare. Lebih lanjut mereka bercerita prosedur dan biaya yang diperlukan untuk mendaftarkan anak. Tak lupa, mereka bercerita menangani anak untuk beradaptasi di Daycare, yang terasa asing secara budaya untuk anak-anak mereka.

Juwita memiliki seorang putra berumur 3 tahun, yang sekarang masih bersekolah di Kinderkrippe (semacam Playgroup di Jerman) sejak tahun lalu. Awal pendidikan di Jerman dimulai sejak September tiap tahun. Jika orang tua ingin mendaftarkan anak ke Daycare di Jerman, orang tua perlu mendaftarkan secara online melalui website yang tersedia oleh pemerintah setempat. Orang tua di Jerman biasanya lebih sulit mendaftarkan anak di Daycare karena perlu menunggu antrian, terutama mereka yang tinggal di kota besar. Juwita sempat tertunda setahun untuk mendapatkan Daycare, yang jaraknya tak jauh dari rumah tinggal. Kemudian ia mendaftarkan ulang di website dan berhasil mendapatkan Daycare yang letaknya sedikit lebih jauh dari rumah tinggal.

Di Jerman, pendaftaran anak di Daycare gratis sementara biaya Daycare bergantung pada kebijakan dan fasilitas yang tersedia. Pengalaman Juwita yang menyekolahkan anak di Daycare milik pemerintah setempat, dia harus membayar uang makan untuk anak selama di Daycare. Pembayaran Daycare bergantung pada lamanya anak tinggal di Daycare. Juwita bercerita dia harus membayar 450€ per bulan selama 8 jam di Kinderkrippe/Playgroup. Pembayaran Taman Kanak-kanak di Jerman sebenarnya jauh lebih murah, sekitar 280€ per bulan.

Tak jauh berbeda dengan Juwita, Hesti yang tinggal di Zürich bertutur pengalaman anaknya yang sekarang berumur 4 tahun dan sedang memasuki Taman Kanak-kanak. Prosedur memasukkan anak ke Taman Kanak-kanak berdasarkan pengalaman Hesti, lebih mudah karena Universitas yang menjadi tempat bekerjanya telah menyediakan fasilitas tersebut. Pencarian Daycare di kota besar di Swiss pun tak jauh berbeda dengan di Jerman. Bahkan saat seorang ibu sedang hamil besar, dia bisa saja sudah mulai mencari tahu Daycare yang tersedia untuk anaknya kelak. Pemerintah Swiss biasanya lebih memprioritaskan anak-anak dari kedua orang tua yang bekerja.

“Saya bekerja hanya 40 persen dalam satu minggu, sehingga slot anak saya bisa terpakai untuk anak lain yang membutuhkan” kata Hesti. Salah satu syarat di Swiss adalah orang tua perlu menginformasikan bukti vaksin yang diterima sebelumnya oleh anak dengan menyerahkan buku vaksin. Syarat vaksin di Daycare di Swiss tidak wajib. Pembayaran Daycare di Swiss ditentukan berdasarkan lama anak dalam hitungan “Half Day” dan “Full Day”. “Half Day” berarti anak tidak mendapatkan makan siang selama di Daycare. Uniknya, pembayaran Daycare dihitung per hari. Harganya bisa bervariasi. Hesti menuturkan ia membayar 135 Franc Swiss atau sekitar 135€ per hari. Oleh sebab itu, orang tua perlu memikirkan ulang untuk memasukkan anak di Daycare di Swiss. Hesti menambahkan semakin kecil anak dititipkan di Daycare maka semakin mahal biayanya. Misalnya anak umur 4 bulan sudah bisa dititipkan ke Daycare dengan estimasi biaya 180 Franc Swiss per hari. Hesti memperkirakan jika orang tua menitipkan anak di Daycare selama sebulan, maka estimasi biayanya sekitar 2.400 Franc Swiss.

Pengalaman menarik dari Hesti yang datang sebagai akademisi, dia mendapatkan tawaran program integrasi untuk anaknya. Program Integrasi ini, seperti belajar Bahasa Jerman dan biasanya diikuti oleh anak-anak yang berasal dari keluarga pendatang di Swiss. Biaya program ini disubsidi oleh pemerintah lokal. Selain itu, pemerintah di Swiss juga memperhitungkan income dari kedua orang tua untuk mendapatkan potongan pembiayaan anak di Daycare. Taman kanak-kanak atau yang disebut Kindergarten dalam Bahasa Jerman merupakan fasilitas yang gratis dan disediakan oleh pemerintah. Memang usia terberat untuk membiayai anak-anak adalah pada saat anak-anak membutuhkan Daycare, anak-anak yang belum bisa masuk ke Taman Kanak-kanak.

Bagaimana mengatasi adaptasi anak di Daycare?

Juwita menceritakan proses adaptasi untuk anaknya berlaku selama sebulan. Hal itu semacam kebijakan yang umumnya berlaku di Jerman, di mana orang tua bisa bersama anak di Daycare yang  kemudian dilepas bertahap. Juwita melihat anaknya bisa bersosialisasi baik dengan sesama anak-anak lainnya setelah dua minggu anaknya masuk Kinderkrippe/Playgroup.

Sebagaimana cerita Juwita, Hesti juga mengamini bahwa tersedia kebijakan adaptasi di Daycare untuk anaknya di Swiss yang berlaku selama dua bulan. Proses adaptasi ini sangat diperlukan untuk anak-anak agar pengalaman pertama di Daycare ini tidak membuat anak trauma. Oleh karena itu, Hesti tidak bisa meninggalkan anaknya selama proses adaptasi, meskipun anaknya sudah bisa bersosialisasi dengan baik dalam hitungan sebulan.  Orang tua wajib berada di Daycare selama dua bulan pertama sesuai tahapan kebijakan yang diberikan oleh Daycare. Orang tua juga tidak boleh langsung meninggalkan anak, tanpa mengucapkan perpisahan. Bagaimana pun anak perlu diberitahukan jika orang tua mereka pergi, meskipun anak menangis karena mereka berpisah dari orang tua mereka.

Hesti melihat bahwa anaknya begitu menyenangi fasilitas dan suasana Daycare yang tersedia, tetapi ada kendala pada bahasa yang terdengar asing untuk anaknya. Dahulu Hesti tinggal di Yogyakarta di mana anak sehari-hari lebih banyak mendengarkan Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa. Hesti tidak mengajarkan bahasa asing sedikit pun kepada anaknya.

Apa manfaat Daycare?

Juwita merasakan manfaat anaknya berada di Daycare, terutama untuk kefasihan berbahasa anak. Sebagai pelaku kawin campur, Juwita merasa anaknya memiliki kemampuan berbahasa yang sangat cepat selama di Daycare. Sebelum anak masuk di Daycare, Juwita melihat bagaimana anaknya kesulitan dalam berkomunikasi. Setelah anaknya masuk di Daycare, kosakata anak berkembang lebih cepat. Anak juga belajar disiplin seperti anak bisa makan sendiri. Juwita merasakan manfaat Daycare untuk anaknya.

Serupa dengan Juwita, Hesti juga merasakan manfaat yang besar dari memasukkan anak ke Daycare. Anak bisa belajar rules, ada tahapan anak menjadi mandiri. Anak juga mengobservasi anak lain seusia dia sehingga memotivasi anak untuk mencoba juga. Misalnya, anak melihat anak lain bisa makan sendiri maka anak juga ikut mencoba makan sendiri. Itu bekal yang sangat bagus sebelum anak masuk Taman Kanak-kanak.

Bagaimana pun Hesti menjelaskan bahwa syarat anak untuk masuk ke Taman Kanak-Kanak di Swiss adalah anak sudah bisa melakukan toilet training dengan baik, pakai baju dan sepatu sendiri serta anak mampu merespon komunikasi orang lain. Sebetulnya, anak merasakan banyak manfaat selama berada di Daycare seperti melatih kemampuan mandiri dan kemampuan sosialisasi.

Apa saran dan tips untuk memasukkan anak di Daycare?

Untuk orang tua yang masih di Indonesia dan ingin membawa anaknya ke Eropa, Juwita berpendapat bahwa anak perlu memiliki catatan buku vaksin sebagai syarat masuk. Setelah anak lahir, orang tua juga harus bersegera mendaftarkan anak secara online, meski anak masuk dalam daftar tunggu. Pemerintah Jerman juga membantu orang tua yang kesulitan secara financial untuk membayar Playgroup atau Kindergarten. Bagaimana pun kebutuhan anak untuk pendidikan dini sangat diperlukan bagi tumbuh kembang anak.

Hesti menambahkan tips untuk orang tua adalah mulai mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang prosedur pendaftaran anak di Daycare, terutama bagi orang tua yang sudah tahu akan lokasi tinggalnya. Bagaimana pun lokasi Daycare biasanya bergantung pada lokasi tempat tinggalnya. Ia menambahkan orang tua tidak perlu khawatir untuk tantangan bahasa asing yang harus dikuasi anak di bawah lima tahun. Berdasarkan pengalamannya, anak yang memasuki usia golden age itu sangat mudah untuk menyerap bahasa asing dari sekitarnya.

Orang tua perlu juga membangun koneksi dengan sesama komunitas orang tua lainnya sehingga bisa mendapatkan informasi seluas-luasnya tentang Daycare. Terakhir, Hesti mengatakan bahwa orang tua tidak boleh memaksakan anak ke Daycare supaya anak lebih nyaman untuk tahapan berikutnya.