(CERITA SAHABAT SPESIAL) Dinamika Sejarah Gerakan Perempuan

Dalam rangka menyambut Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-79, Ruanita Indonesia mengundang sahabat Ruanita yang kini sedang menempuh pendidikan S3 di Canbera, Australia.

Dia adalah Dyah Ayu Kartika yang memiliki latar belakang ilmu psikologi dan sempat membantu teman-teman perempuan Indonesia dalam trauma healing.

Dyah mengakui bahwa pengalaman pekerjaannya selama ini banyak bersentuhan dengan isu perempuan dan kekerasan yang kemudian menggiringnya pada opini, bahwa bentuk-bentuk kekerasan pada perempuan tidak hanya di ranah domestik saja.

Ia menyadari bahwa ini harus ditangani lewat jalur kebijakan.

Follow kami

Menurut Dyah, sistem sosial di masyarakat Indonesia juga memberikan pengaruh dalam gerakan perempuan selama ini, termasuk bagaimana masyarakat lebih mengunggulkan peran laki-laki daripada perempuan.

Misalnya saja, gerakan patriotisme dalam merebut kemerdekaan Indonesia mulai banyak diangkat peran perempuan yang dulunya tidak terdengar gaungnya di masyarakat.

Selain itu, Dyah juga menyoroti peran perempuan dalam dunia politik yang dirasakan masih minim. Pertama, kebanyakan sistem sosial di masyarakat masih belum melihat peran perempuan sebagai individu yang berdaya.

Kedua, adanya beban ganda perempuan juga yang ingin maju dalam dunia politik. Ketiga, Dyah mengakui perlu ada peran partai politik untuk melakukan kaderisasi dalam memunculkan kader-kader berkualitas, termasuk perempuan juga.

Apa saja temuan Dyah tentang gerakan perempuan selama ini? Apa yang membuat gerakan perempuan sempat terhenti secara historis di Indonesia? Benarkah gerakan perempuan di Indonesia selama ini terjadi begitu beragam?

Dalam sejarah gerakan perempuan, bagaimana sebenarnya peran perempuan dalam dunia politik? Bagaimana caranya agar dapat mendorong partisipasi peran perempuan di dunia politik? Apa pesan Dyah di Hari Kemerdekaan Republik Indonesia?

Selengkapnya dapat dilihat dalam program Cerita Sahabat Spesial di kanal YouTube kami berikut:

Untuk mendukung kami, tolong SUBSCRIBE kanal kami.

(IG LIVE) Kepemimpinan Perempuan

Hari Perempuan Internasional yang dirayakan tiap 8 Maret menjadi kesempatan bagi Ruanita – Rumah Aman Kita – Indonesia untuk bersuara tentang bagaimana partisipasi perempuan Indonesia, terutama di wilayah global. Ruanita menggelar berbagai program online selama tiga minggu berturut-turut, termasuk di antaranya melakukan diskusi IG Live yang memanfaatkan platform instagram untuk berdiskusi selama 30-40 menit.

Pada episode spesial ini, Ruanita mengangkat tema kepemimpinan perempuan yang menjadi kaitan dengan Workshop Warga Menulis dan Hari Perempuan Internasional di tahun lalu. Ruanita sendiri telah berhasil menerbitkan buku kedua bersama APPIBIPA Jerman, yakni “Warna-warni Kepemimpinan Perempuan” yang ditulis oleh 13 warga Indonesia di Eropa.

Untuk membahas lebih dalam tentang kepemimpinan perempuan, kami mengundang Dyah Kartika Ayu, seorang mahasiswi S3 di The University Australian National University, Monash University, dan tinggal di Australia dan juga Aini Hanafiah, seorang kontributor buku “Warna-warni Kepemimpinan Perempuan” yang tinggal di Norwegia.

Follow us

Dyah Kartika Ayu, atau yang biasa disapa Katy menjelaskan bagaimana dinamika gerakan perempuan Indonesia sudah dimulai sejak sebelum kemerdekaan Indonesia. Hanya saja potret gerakan perempuan ini tidak banyak dipublikasikan dan lebih banyak menyorot patriotisme kaum laki-laki.

Gerakan perempuan di masa kini sudah banyak di bidang profesionalitas, seperti menjadi pemimpin di perusahaan atau industri usaha kecil/menengah. Katy mengakui sudah terjadi perubahan dinamika kelompok perempuan sesuai ideologi dan keyakinannya masing-masing.

Memang diakui bahwa angka partisipasi perempuan di bidang politik dan pemerintahan terbilang rendah. Berdasarkan penelitian, Katy menyatakan ada kesulitan bagi perempuan untuk mendapatkan posisi sebagai caleg. Misalnya, faktor personal perempuan yang punya kapabilitas sebagai caleg hanya saja terbentur biaya yang tidak murah.

Perempuan yang menjadi caleg kebanyakan adalah mereka yang punya modal cukup besar. Selain itu, masih ada diskriminasi dan bias stigma terhadap caleg perempuan. Diskriminasi dan bias stigma juga masih terjadi di antara sesama perempuan, semisal bagaimana kita masih melihat cara pandang terhadap Bos perempuan.

Pendapat berbeda tentang kepemimpinan perempuan disampaikan oleh Aini Hanafiah yang berfokus bagaimana peran perempuan di area privat atau keluarga. Bahwa masih banyak pandangan bahwa peran ibu adalah pelengkapnya ayah, kenyataannya tidak demikian. Menjalani peran sebagai ibu, Aini memberi pandangan berbeda terutama saat Aini harus menetap di mancanegara dengan berbagai tantangan yang berbeda saat berada di Indonesia.

Bagaimana dinamika perempuan memimipin yang sudah ada dalam sejarah bangsa Indonesia? Bagaimana pandangan Dyah Kartika Ayu tentang kepemimpinan perempuan di bidang legislatif di Indonesia? Apa saja yang membuat perempuan sulit mendapatkan kesempatan memimpin di bidang politik dan pemerintahan? Apakah mungkin perempuan bisa menjadi pemimpin dalam keluarga atau area privat? Tantangan seperti apa yang dihadapi perempuan Indonesia dalam memimpin kehidupannya saat mereka berada di mancanegara?

Simak diskusi IG Live selengkapnya di kanal YouTube kami berikut ini:

Subscribe kanal YouTube kami untuk mendukung kami berbagi lebih banyak lagi.