(AISIYU) Hal-hal Baik Mengalir kepada Saya dan Saya Menerima Kelimpahannya

AISIYU 2025: Galeri Digital Kartu Afirmasi Diselenggarakan dalam rangka 16 HAKTP

Pembuat kartu adalah Griska yang tinggal di UK.

Kita sering menjadi pengkritik paling keras bagi diri sendiri. Melalui AISIYU, kami ingin mengingatkan: pemulihan dimulai dari keberanian untuk memaafkan dan menerima diri.

Dalam workshop online craft therapy bulan September, para peserta menulis kata-kata afirmasi yang lahir dari pengalaman, luka, dan harapan.

Karya mereka kini kami tampilkan dalam Galeri Digital AISIYU 2025: ruang untuk merayakan proses penyembuhan dan kekuatan perempuan.

(CERITA SAHABAT) Ini Cara Saya Melalui Midlife Crisis

Sahabat Ruanita, perkenalkan saya Griska Gunara, yang kini berusia sudah kepala empat alias 40-an. Saya telah menetap di Inggris selama beberapa tahun dan menjalani kehidupan yang dinamis, sebagai seorang ibu, praktisi yoga dan meditasi, dan photojournalist, serta juga menjadi kontributor di media online, termasuk juga di program cerita sahabat Ruanita loh. Seiring berjalannya usia, tentu saya pun menghadapi berbagai tantangan yang membuat saya melakukan refleksi diri.


Salah satu fase yang sering dihadapi manusia, namun jarang dibahas secara terbuka, adalah midlife crisis. Oleh karena itu, saya ingin berbagi pendapat dan pengalaman saya tersebut. Dulu, di usia 20-an, saya menganggap quarterlife crisis sebagai sesuatu yang menakutkan dan negatif. Namun, setelah mengalaminya sendiri, saya menyadari bahwa ini adalah fase transisi psikologis yang alami terjadi dalam diri manusia. Berbicara tentang Midlife crisis, umumnya terjadi antara usia 40 dan 60 tahun dan ditandai dengan perasaan tidak puas, kegelisahan, serta pencarian makna hidup. Ini bukan sekadar gangguan emosional, tetapi refleksi diri yang mendalam mengenai identitas, pencapaian, dan tujuan hidup ke depan.

Follow us

Saat mengalami quarterlife crisis di usia 20-an, saya berjuang mencari jati diri, menghadapi tekanan dari lingkungan, dan mencari tahu arah hidupnya. Berbeda dengan itu, midlife crisis atau yang disebut “krisis paruh baya” lebih berkaitan dengan refleksi mendalam tentang perjalanan hidup yang sudah ditempuh dan bagaimana seseorang ingin menjalani sisa hidupnya. Hal ini sejalan dengan istilah “Krisis paruh baya” dicetuskan pertama kali pada tahun 1960-an oleh Psikolog asal Kanada. Menurut saya, krisis yang dihadapi ini bukanlah pengalaman universal dan hanya berbeda fase pada Midlife-Crisis dan Quarterlife-Crisis.

Menurut saya, beberapa tanda dan gejala umum dari midlife crisis meliputi:

  • Ketidakseimbangan emosional
  • Kegelisahan dan kecemasan
  • Keinginan untuk mengubah hidup secara signifikan
  • Mempertanyakan identitas dan pencapaian diri
  • Kesadaran tentang penuaan dan keterbatasan hidup
  • Gangguan fisik seperti insomnia atau perubahan berat badan drastis

Setiap individu memiliki pemicu yang berbeda dalam menghadapi midlife crisis. Saya mengalaminya setelah ada perubahan dalam keluarga, terutama ketika putri saya akan segera lulus SMA dan melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi. Selain itu, perbedaan budaya antara Indonesia dan Inggris juga memberikan tantangan tersendiri dalam menavigasi peran saya sebagai ibu dan perempuan yang ingin terus berkembang. Saya menilai, terkadang kurangnya penghargaan atas kontribusi dalam proyek kolaboratif juga bisa menjadi pemicu ketidakpuasan diri.


Sahabat Ruanita, saya menilai tantangan terbesar dalam menghadapi midlife crisis adalah diri sendiri. Terkadang, seseorang tanpa sadar menciptakan hambatan yang menghalangi pertumbuhan pribadi. Oleh karena itu, menyeimbangkan kehidupan, memiliki waktu untuk diri sendiri (me-time), serta menjaga kesehatan mental menjadi hal yang sangat penting. Seperti yang saya lakukan sebagai praktisi yoga dan meditasi, tentunya sangat membantu saya mengenali diri saya sendiri. 


Dengan kemajuan digitalisasi, masyarakat Indonesia, terutama di perkotaan, mulai lebih sadar akan adanya fenomena ini. Namun, masih ada stigma dan pandangan tabu terkait midlife crisis, terutama bagi perempuan. Misalnya, munculnya istilah puber kedua atau menopause yang sering kali dikaitkan dengan perubahan psikologis dan emosional pada perempuan usia paruh baya. Apakah sahabat Ruanita pernah mendengar atau mengalami hal ini?


Menurut saya, terdapat perbedaan mendasar antara cara perempuan Indonesia dan Inggris dalam menghadapi midlife crisis. Budaya di Inggris cenderung lebih individualistis, jadi banyak perempuan yang menghadapi midlife crisis dengan mencari perubahan yang lebih personal, seperti beralih karier, traveling, atau mengejar hobi baru. Terapi & self-care lebih umum karena lebih diterima secara luas, sehingga lebih banyak perempuan yang mencari bantuan profesional untuk mengatasi perasaan kehilangan arah atau ketidakpuasan dalam hidup. Tekanan sosial untuk tetap menjalankan peran tradisional sebagai istri atau ibu lebih rendah dibandingkan di Indonesia. 

Perempuan Inggris dapat lebih bebas menentukan pilihan hidup – keterbukaan ini yang membuat mereka merasa lebih leluasa untuk bercerai, pindah kota, atau mengubah gaya hidup tanpa merasa terlalu terikat oleh ekspektasi masyarakat. Isu seperti menopause, kesehatan mental depresi, atau perubahan hormonal dapat diperbincangkan lebih terbuka, sehingga perempuan di Inggris merasa lebih didukung dan memiliki lebih banyak sumber daya untuk menghadapinya.

Berdasarkan pengalaman, ini beberapa cara yang bisa membantu seseorang menghadapi midlife crisis dengan lebih positif, antara lain:

  1. Menjelajahi Minat Baru
    • Belajar keterampilan baru seperti bahasa, seni, atau musik.
    • Menulis jurnal reflektif untuk mencatat perjalanan hidup.
  2. Meningkatkan Koneksi Spiritual & Emosional
    • Praktik yoga dan meditasi untuk menenangkan pikiran.
    • Melakukan retreat atau perjalanan spiritual.
  3. Menjalin Koneksi Sosial Baru
    • Menghadiri agenda pertemuan di organisasi kemasyarakatan.
    • Berbagi pengalaman dengan orang lain melalui mentorship.
  4. Merawat Kesehatan Fisik & Mental
    • Mencoba olahraga baru seperti hiking atau bersepeda.
    • Mengadopsi pola makan sehat dan memasak makanan bergizi.
  5. Mengeksplorasi Karier & Kreativitas
    • Mencari peluang karier baru yang lebih bermakna.
    • Mengeksplorasi kegiatan kreatif seperti fotografi atau menulis.
    • Traveling untuk menemukan perspektif baru dalam hidup.


Seiring dengan perjalanan menghadapi midlife crisis, saya merasakan perubahan cara pandang terhadap diri sendiri dan kehidupan. Saya menjadi lebih percaya diri, tidak lagi terlalu bergantung pada validasi eksternal, dan lebih sadar akan pentingnya keseimbangan hidup. Saya menyadari bahwa kesuksesan sejati bukan hanya tentang pencapaian materi atau prestasi, tetapi juga tentang penerimaan diri dan kedamaian batin.


Di akhir, saya ingin memberikan pesan yang inspiratif kepada sahabat Ruanita, terutama perempuan Indonesia yang sedang menghadapi midlife crisis:

“Beranilah menghadapi diri sendiri dan berikan ruang untuk refleksi. Hidup tidak berhenti sampai di sini—ini justru awal dari babak baru yang lebih matang dan bermakna. Tidak selalu harus kuat atau mengutamakan orang lain; merawat diri sendiri bukanlah tindakan egois, tetapi bentuk mencintai diri sendiri. Jangan takut menghadapi perubahan, karena keindahan seorang perempuan tidak ditentukan oleh usia. Dunia belum berakhir—justru babak baru yang luar biasa menanti untuk dituliskan dalam perjalanan hidup kita.”


Jadi sahabat Ruanita, Midlife crisis bukanlah akhir, melainkan kesempatan untuk menata ulang hidup dengan lebih sadar dan bermakna. Semoga cerita saya dapat menginspirasi banyak perempuan untuk menghadapi fase ini dengan keberanian, kesadaran, dan kebahagiaan yang lebih dalam.

Penulis: Griska Gunara, tinggal di Inggris dan dapat dihubungi via akun instagram @griskagunara.

(CERITA SAHABAT) “I am Enough!” dan Standar Kecantikan di Media Sosial

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan saya, Griska Gunara dan kerap disapa dengan nama Griska. Saat ini saya menetap di United Kingdom. Sehari-hari saya berprofesi sebagai Jurnalis Foto, Praktisi Yoga, dan Meditasi. Saya senang sekali dapat berpartisipasi dalam program cerita sahabat dalam tema: social media’s impact on beauty standar and how they affect women, karena media sosial yang menjadi bagian dari keseharian kita sekarang telah mengubah standar kecantikan di masyarakat.

Perubahan ini cukup signifikan karena keinginan perempuan untuk tetap cantik dan sehat secara alami. Itu sebab, saya perhatikan banyak wanita masa kini memilih sehat dengan konsumsi make up yang alami pula. Produk kecantikan di pasaran sekarang juga banyak yang menawarkan berbahan alami. 

Bagaimana pun produk kecantikan adalah bagian dari upaya perempuan untuk tampil menarik dan percaya diri ketika tampil di hadapan umum. Sejujurnya, saya pernah merasa tertekan dan tidak percaya diri juga. Ketidakpercayaan diri saya muncul ketika dihadapkan pada sesuatu yang saya belum siap secara mental, misalnya. Namun, bagi saya ini menjadi hal yang lucu, bila saya membandingkan diri saya dengan orang lain di media sosial. Pada kenyataannya, kepercayaan diri itu ditentukan oleh saya secara pribadi. Prinsip saya, sayalah yang bertanggungjawab jika saya ingin meningkatkan kepercayaan diri.

Di sisi lain, tidak dapat dipungkiri bahwa ada peran influencer di media sosial. Dengan pesan yang tepat sasaran, nyatanya cukup banyak membantu memperkuat standar kecantikan yang sudah ada, misalnya persepsi kecantikan alami wanita Indonesia. Meski kenyataannya, saya belum menemukan influencer yang “Setia” dengan satu brand saja. Kebanyakan dari mereka sudah bekerja sama (endorse) dengan client satu dan lainnya untuk urusan barter promosi. 

Follow us

Selain peran influencer di media sosial, ada faktor lain yang juga membentuk standar kecantikan di dunia maya. Tentu, kalian masih ingat bagaimana media sosial juga memperlihatkan foto wajah para selebritis, tanpa filter atau edit foto dengan foto yang sudah diedit. Menurut saya, itu sah saja menggunakan filter dan aplikasi pengeditan foto. Hal itu tergantung dengan kebutuhan si pengguna. Saya pribadi senang menggunakan filter foto kalau sedang -bad hair day– misalnya. Atau, ketika saya sedang mengedit foto, saya paling suka tone warna mendekati momen aslinya. Justru, penggunaan filter tidak terlalu sering saya gunakan. 

Sahabat Ruanita, setujukah kalau standar kecantikan yang ada di media sosial itu berpengaruh pada kesehatan mental juga? Seiring dengan meningkatnya produk kecantikan di media sosial, tak sering penjualnya adalah dokter dan pakar kecantikan juga yang berlomba memberikan service dan produk terbaik. Nah, sebagai konsumen, kita perlu cermat. Jika tidak, produk yang tidak sesuai dan tidak cocok dengan kulit, misalnya, akan cukup merugikan kita, baik itu secara finansial maupun mental juga loh.

Oh ya, apakah kalian juga merasakan kalau media sosial juga menuntut kita untuk tampil sempurna? Saya merasakan bahwa media sosial kini memegang peran penting dalam memberikan image standard sosial untuk tampil terbaik. Pengaruhnya tentu dalam hidup sehari-hari yang bisa terlihat dari seberapa konsumtifnya kalian dalam mengeluarkan biaya untuk belanja kebutuhan agar tetap sesuai dengan standar kecantikan tersebut. 

Kita tidak bisa menghindari apa yang ditampilkan di media sosial dengan algoritmanya, tetapi kita bisa mengatur sendiri pilihan konten yang efektif untuk kita konsumsi. Namun, media sosial juga memunculkan gerakan body positivity yang marak untuk melawan standar kecantikan yang sempit dan tidak sehat.

Gerakan ‘Body Positivity’ mengajak kita untuk menjadi percaya diri dengan apa yang kita punya. Menyadari bahwa diri ini saja sudah cukup. “I am enough!” Dorongan untuk menjadi berani menghadapi tekanan standar kecantikan di  media sosial adalah hal mendasar yang bisa didapatkan dari rumah.

Untuk menghadapi tekanan standar kecantikan di media sosial memang tidak mudah, termasuk saya di usia saya yang tidak lagi muda dan suka merasa tidak percaya diri. Terkadang saya pun ikut berlomba mengusahakan diri untuk lebih ini dan itu. Namun, saya sekarang sudah menemukan strategi untuk melawannya. Lewat yoga yang rutin saya lakukan dan tekuni selama beberapa tahun belakangan ini, ini menjadi strategi saya untuk menjaga pola hidup seimbang.

Strategi lainnya, tentu saya melakukan hiatus atau sejenak berhenti dari media sosial untuk beberapa minggu. Ternyata istirahat dari media sosial yang saya lakukan hingga sebulan. Saya merasa berbeda, karena prioritas fokus yang diatur untuk tetap balance dengan kehidupan sehari-hari. Jadi, hal yang yang dilakukan lebih dari 21 hari dapat mengubah pola hidup sehari-hari tergantung dengan apa yang kita lakukan. 

Saya sendiri sekarang sedang banyak mengurangi penggunaan chemical juga. Memang, ini tidak bisa langsung seluruh keluarga mengubah pola hidup tetapi saya berusaha tetap melakukannya dan memberi contoh saja dulu. Saya percaya pada diri sendiri saja dulu. Dan ini telah membantu kita tetap percaya diri akan diri sendiri, tanpa terpengaruh persepsi negatif tentang kecantikan yang ditentukan masyarakat. 

Kembali ke tema tentang standar kecantikan di media sosial, sebagai Praktisi Yoga dan aktif bersosial media, berikut pesan saya. Pertama, kita perlu meminimalisir pilihan kita untuk following media sosial. Kedua, kita bisa mencari komunitas yang mendekati apa yang kita suka, misalnya grup memasak atau grup yoga. Hal yang mendasar lainnya adalah kita belajar mengatur asupan nutrisi untuk diri sendiri. Jika kita sudah berhasil konsisten, maka kita bagikan ke seluruh keluarga untuk melakukan hal sehat yang sama. Dari mindset ini, kemudian lahirlah keingintahuan untuk memasak makanan sehat untuk diri sendiri dan keluarga. 

Penulis: Griska Gunara, berprofesi sebagai Photojournalist, Yoga Instructor and Meditation Practitioner. Griska kini menetap di United Kingdom dan dapat dihubungi via akun IG : @griskagunara, @griskashtanga.