(PODCAST IN ENGLISH) Dari Lulusan Keperawatan di Indonesia Menjadi Paramedis di Amerika Serikat: Perjalanan Memulai Lagi dari Nol

“Saya pikir memindahkan ijazah ke Amerika Serikat akan mudah. Ternyata tidak.”

Kalimat itu diucapkan Eka Nilawati tanpa dramatisasi. Setelah lebih dari satu dekade berkarier sebagai perawat di Indonesia, termasuk menjadi kepala perawat ICU dan ia membayangkan pengalamannya akan menjadi modal untuk melanjutkan profesi yang sama di Amerika Serikat. Namun, kenyataan berkata lain. Ketika pindah ke Amerika Serikat pada 2016 melalui visa keluarga setelah menikah dengan warga negara Amerika, Eka mendapati bahwa pengalaman profesional yang telah dibangunnya selama bertahun-tahun tidak otomatis diakui. Di balik statusnya sebagai tenaga kesehatan berpengalaman, ia kembali menjadi seseorang yang harus memulai semuanya dari awal. Perjalanan itu bukan sekadar soal administrasi atau penyetaraan ijazah. Ia adalah kisah tentang identitas, migrasi, menjadi ibu, menjadi mahasiswa lagi, hingga belajar menerima bahwa memulai dari nol bukan berarti gagal.

Banyak perempuan Indonesia yang bermigrasi berharap dapat melanjutkan profesinya di negara tujuan. Namun, bagi tenaga kesehatan, proses tersebut jauh lebih kompleks dibanding sekadar menerjemahkan ijazah. Eka menjelaskan bahwa setiap negara bagian di Amerika Serikat memiliki regulasi berbeda terkait pengakuan profesi keperawatan. Proses verifikasi pendidikan, pengalaman kerja, hingga lisensi harus dilakukan melalui lembaga resmi, dan sering kali membutuhkan komunikasi langsung antara institusi di Indonesia dengan otoritas di Amerika. Ketika ia menjalani proses tersebut, Indonesia masih berada dalam masa transisi dari sistem administrasi manual menuju digital. Tidak adanya titik kontak yang jelas untuk proses verifikasi membuat langkahnya terhambat selama bertahun-tahun.

“Yang saya bayangkan sederhana, ternyata membutuhkan waktu, biaya, dan kesabaran yang luar biasa.”

Alih-alih menyerah, Eka memilih jalan lain. Karena belum dapat bekerja sebagai perawat, ia menerima pekerjaan sebagai caregiver di panti lansia. Pekerjaan yang secara administratif hanya membutuhkan ijazah sekolah menengah itu menjadi pintu masuknya kembali ke dunia pelayanan kesehatan. Dari sana, ia mengikuti pelatihan menjadi Certified Nursing Assistant (CNA), kemudian meningkatkan sertifikasinya agar dapat bekerja di rumah sakit.

Lima tahun bekerja sebagai CNA memberinya pengalaman baru mengenai sistem kesehatan Amerika Serikat sekaligus memperlihatkan bahwa perjalanan karier tidak selalu bergerak lurus. Kadang seseorang harus mundur beberapa langkah agar dapat melangkah lebih jauh. Di balik perjalanan profesional tersebut, ada kehidupan lain yang terus berjalan. Eka juga menjalani peran sebagai ibu dari dua anak, bekerja, sekaligus kembali menjadi mahasiswa. Setelah kelahiran anak keduanya, ia memutuskan kembali ke bangku kuliah untuk menentukan arah karier berikutnya.

“Target saya bukan menjadi mahasiswa dengan nilai sempurna. Target saya adalah menyelesaikan pendidikan.”

Pernyataan sederhana itu menggambarkan perubahan cara pandang yang dialami banyak perempuan setelah bermigrasi. Standar kesempurnaan yang selama ini melekat sering kali harus dinegosiasikan dengan realitas kehidupan sehari-hari. Ada waktu ketika buku kuliah harus ditutup karena anak membutuhkan perhatian. Ada saat ketika tugas kuliah dikerjakan setelah semua pekerjaan rumah selesai. Dan ada hari-hari ketika keberhasilan diukur bukan dari nilai A, melainkan dari kemampuan bertahan menjalani semuanya.

Awalnya, Eka berencana kembali menjadi perawat. Namun pandemi mengubah segalanya. Ibunya di Indonesia mengalami stroke. Tidak adanya sistem layanan darurat seperti 911 menyebabkan penanganan medis terlambat diberikan. Tak lama kemudian, ayahnya meninggal dunia akibat komplikasi diabetes setelah mengalami keterlambatan mendapatkan pertolongan. Peristiwa itu mengubah arah hidupnya. Alih-alih kembali menempuh jalur keperawatan, Eka memilih menjadi paramedis. Baginya, profesi tersebut bukan sekadar pekerjaan baru, melainkan cara untuk memahami sistem layanan darurat yang suatu hari nanti ingin ia bawa pulang ke Indonesia. Mimpi itu mungkin masih jauh. Namun justru dari pengalaman personal itulah lahir gagasan tentang perubahan.

Bagi perempuan Indonesia yang ingin melanjutkan karier tenaga kesehatan di Amerika Serikat, Eka memiliki satu pesan utama: persiapan harus dimulai bahkan sebelum meninggalkan Indonesia. Kemampuan bahasa Inggris, sertifikasi seperti IELTS atau TOEFL, memahami persyaratan lisensi di negara bagian tujuan, hingga membangun komunikasi dengan universitas asal merupakan langkah yang dapat menghemat banyak waktu dan biaya. Menurutnya, proses tersebut tidak murah. Namun biaya terbesar justru datang ketika seseorang berangkat tanpa informasi yang memadai.

Di luar seluruh proses administrasi dan pendidikan, ada satu hal yang menurut Eka jauh lebih penting. Bekerja di sektor kesehatan tidak bisa hanya didorong oleh alasan ekonomi. Merawat seseorang pada masa paling rentan dalam hidupnya membutuhkan empati, kesabaran, dan penghormatan terhadap martabat manusia. Ia juga menyoroti pentingnya perlindungan privasi pasien di Amerika Serikat melalui regulasi seperti HIPAA. Bagi tenaga kesehatan, menjaga kerahasiaan informasi pasien bukan sekadar etika, melainkan kewajiban hukum yang dapat menentukan keberlangsungan profesi.

Baginya, budaya menghormati privasi pasien merupakan salah satu pelajaran penting yang layak terus diperkuat di berbagai sistem kesehatan, termasuk di Indonesia. Perjalanan Eka menunjukkan bahwa migrasi bukan hanya perpindahan geografis. Ia adalah proses menegosiasikan ulang identitas profesional, membangun kembali rasa percaya diri, dan menerima bahwa pengalaman panjang sekalipun kadang tidak langsung diakui di tempat baru. Namun, memulai dari awal tidak selalu berarti kehilangan arah. Kadang justru dari titik nol itulah seseorang menemukan alasan baru untuk terus melangkah. Dan bagi banyak perempuan Indonesia di perantauan, keberanian untuk terus belajar, beradaptasi, serta membuka kemungkinan-kemungkinan baru mungkin menjadi bekal paling berharga dalam perjalanan lintas negara.

Tentang Podcast Jibber-Jabber Indonesian Women Abroad

Podcast audio berbahasa Inggris ini merupakan inisiatif Ruanita Indonesia (www.ruanita.com), sebuah organisasi nirlaba yang berkomitmen menciptakan ruang aman bagi perempuan Indonesia di perantauan. Melalui Jibber-Jabber Indonesian Women Abroad, Ruanita Indonesia ingin menghadirkan refleksi perempuan Indonesia dengan interseksionalitas yang dialaminya dalam konteks transnasional, sebagaimana yang digagas oleh Anna Knöbl.

Simak selengkapnya di kanal SPOTIFY dan pastikan FOLLOW untuk mendukung kami.

(PODCAST RUMPITA) Menembus Dunia Hospitality Global: Cerita Inspiratif dari Bandung ke Swiss

Program diskusi bulanan Audio Podcast RUMPITA, Rumpi bersama Ruanita, kembali hadir dengan diskusi inspiratif lintas negara. Dipandu oleh Anna, host Podcast yang menetap di Jerman, episode kali ini mengangkat tema yang semakin relevan di era global: dunia hospitality, kepemimpinan, dan entrepreneurship.

Seperti biasa, Anna didampingi oleh relawan Ruanita Indonesia lainnya, Griska Gunara, yang saat ini berdomisili di Inggris (UK). Pengalaman panjang Griska di dunia kerja internasional membuat diskusi terasa lebih kaya dan kontekstual.

Griska membuka diskusi dengan refleksi pengalamannya di industri hospitality sejak pertengahan 2000-an. Menurutnya, hospitality memang berakar pada pelayanan, namun praktiknya sangat bergantung pada budaya, regulasi, dan standar di masing-masing negara.

Diskusi pun semakin menarik ketika Anna memperkenalkan tamu spesial dari Swiss, sosok muda Indonesia yang tengah menekuni dunia hospitality secara akademik dan praktis.

Informan yang diundang adalah Diva Arya Saskia Putri, mahasiswa Magister Hospitality, Entrepreneurship, and Innovation di Glion Institute of Higher Education, Swiss. Diva merupakan penerima Beasiswa LPDP, alumni Bandung, sekaligus Ketua PPI Swiss–Liechtenstein periode 2024–2025.

Tak hanya aktif secara akademik dan organisasi, Diva juga dikenal sebagai figur muda inspiratif yang memadukan dunia studi, kepemimpinan, dan bisnis digital.

Dalam diskusi, Diva membagikan perjalanan pendidikannya yang tidak instan. Keinginannya untuk kuliah di luar negeri sudah tumbuh sejak SMA. Ia akhirnya memilih International Class di ITB, dengan satu tahun masa studi di Inggris. Latar belakang akademiknya adalah business school, yang sama sekali belum bersinggungan langsung dengan hospitality.

Meski begitu, ketertarikannya pada dunia kuliner, traveling, dan pariwisata terus terpendam. Setelah lulus S1 di usia yang sangat muda, sekitar 19 tahun, Diva memutuskan untuk bekerja terlebih dahulu, sesuai arahan orang tua, demi memahami dunia profesional sebelum benar-benar terjun membangun bisnis sendiri. Ia menghabiskan hampir lima tahun bekerja di dunia startup dan e-commerce di Jakarta sebelum akhirnya kembali mengejar mimpi lamanya: menempuh pendidikan hospitality di Swiss.

Sebagai mahasiswa magister, ketua organisasi pelajar, sekaligus pebisnis, Diva mengakui pentingnya manajemen waktu. Ia membagikan prinsip sederhana namun konsisten yang ia pegang. Menurutnya, semua orang memiliki 24 jam yang sama. Perbedaannya terletak pada bagaimana waktu tersebut dikelola. Ia membagi hari menjadi tiga bagian besar: waktu tanggung jawab (belajar atau bekerja), waktu istirahat, dan waktu personal yang menentukan kualitas hidup.

“Lima jam sisa itu yang bikin perbedaan. Mau dipakai untuk berkembang atau habis untuk scrolling,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya to-do list harian, kalender digital, dan evaluasi rutin sebelum tidur untuk menjaga produktivitas tanpa kehilangan keseimbangan hidup.

Pengalaman lintas negara memberi Diva perspektif baru tentang hospitality. Menurutnya, setiap negara memiliki cara berbeda dalam memberikan layanan. Swiss, yang kerap disebut sebagai “jantung hospitality dunia”, memberikan kesan mendalam baginya.

Salah satu pengalaman paling berkesan adalah kunjungan ke sebuah vila retreat di Swiss yang menerapkan konsep disconnect from technology. Para tamu diajak kembali menyatu dengan alam, tanpa internet, tanpa distraksi digital.

“Di situ aku sadar, hospitality bukan cuma soal profit, tapi juga sustainability, lingkungan, dan memberi dampak ke masyarakat,” tuturnya dengan emosional.

Menutup diskusi, Diva menyoroti tren besar di industri hospitality dan bisnis: AI, big data, dan personalisasi layanan. Menurutnya, hospitality modern menuntut empati yang didukung teknologi, mengenal tamu lebih dalam bahkan sebelum mereka datang.

Ia juga berpesan kepada generasi muda bahwa menjadi entrepreneur tidak selalu berarti langsung membangun bisnis besar. Entrepreneur adalah mindset: berani mengambil risiko, memahami diri sendiri, dan terus belajar.

“Sebelum melangkah, kenali diri kita. Lakukan assessment, pahami kekuatan dan kelemahan. Dari situ baru tentukan strategi,” pungkasnya.

Simak selengkapnya diskusi berikut ini di kanal SPOTIFY RUMPITA dan pastikan FOLLOW untuk mendukung kami.

(SIARAN BERITA) Seminar Daring Hari UMKM Internasional 2026

Jakarta, 27 Juni 2026 — Dalam rangka memperingati Hari UMKM Internasional, Ruanita Indonesia sukses menyelenggarakan kegiatan diskusi daring bertajuk “Dari Nol ke Global, Cara Jitu Berwirausaha” pada Sabtu, 27 Juni 2026 melalui platform Zoom Meeting. Kegiatan ini menghadirkan narasumber perempuan Indonesia yang memiliki pengalaman dan praktik baik dalam mengelola kewirausahaan di mancanegara.

Kegiatan diikuti oleh pelaku UMKM, perempuan wirausaha, akademisi, dan masyarakat umum di mana saja yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman peserta mengenai penyusunan business plan, proses perizinan usaha di luar negeri, serta strategi membangun usaha di tingkat global.

Koordinator penyelenggara sekaligus moderator kegiatan, Griska Gunara, menyampaikan bahwa perempuan Indonesia memiliki potensi besar untuk berkembang dalam dunia kewirausahaan internasional apabila diberikan akses pengetahuan, jejaring, dan inspirasi yang tepat.

“Diskusi ini menjadi ruang berbagi pengalaman dan praktik baik perempuan Indonesia di berbagai negara agar semakin banyak perempuan berani memulai dan mengembangkan usaha hingga tingkat global,” ujar Griska Gunara.

Acara dibuka dengan motivasi dari Griska sendiri yang pernah menjadi pelaku usaha saat masih di Indonesia dulu. Dia berharap acara ini mendorong siapa saja dapat memanfaatkan keterampilan kejuruan dan teknologi digital sebagai bekal membangun usaha kreatif dan inovatif.

Acara kemudian dilanjutkan dengan pemaparan sisi akademisi, Novy Anggaraini, PhD Student di Hungaria dan dosen ekonomi di Indonesia, menjelaskan pentingnya business plan sebagai fondasi dalam membangun usaha yang berkelanjutan. Ia juga menekankan perlunya adaptasi budaya bisnis dan penguatan kompetensi kewirausahaan bagi perempuan Indonesia yang ingin mengembangkan usaha di luar negeri.

Sementara itu, Winda Sulistiawati, perempuan wirausaha di Austria, berbagi pengalaman mengenai proses penyusunan business plan, pengajuan izin usaha, serta tantangan membangun usaha kuliner di Eropa, umumnya dan Austria, khususnya. Pada sesi berikutnya, Dewi Maya, perempuan wirausaha di Amerika Serikat dan owner brand tas “Dewi Maya”, memaparkan strategi pemasaran dan legalisasi usaha di Amerika Serikat.

Diskusi juga menghadirkan praktisi Dwi Kuntari, yang telah melakukan ekspor impor dengan brand Jamu Deka. Dia membagikan pengalaman dalam mengelola usaha “Jamu Deka” serta tantangan ekspor produk lokal Indonesia ke pasar internasional, seperti Italia.

Peserta terlihat antusias mengikuti sesi tanya jawab interaktif yang membahas peluang usaha global, tantangan adaptasi budaya bisnis, hingga strategi pemasaran digital untuk UMKM. Melalui kegiatan ini, Ruanita Indonesia berharap semakin banyak perempuan Indonesia yang percaya diri untuk memulai usaha, memperluas jejaring kolaborasi, dan mengembangkan bisnis hingga tingkat internasional.

Anna Knöbl ingin memperkuat jaringan perempuan yang tertarik berwirausaha untuk membuat networking berkelanjutan yang saling mendukung lewat ruang digital yang diinisasi Ruanita Indonesia. Di masa berikutnya, Ruanita Indonesia akan membuat Networking para perempuan Indonesia di mana saja untuk bisa belajar satu sama lain dalam kewirausahaan.

(WARGA MENULIS) Dressing room self-talk

Dalam rangka merayakan Hari Perempuan Internasional sepanjang Maret 2026, Ruanita Indonesia menghadirkan sebuah kampanye digital yang merayakan kekuatan suara, imajinasi, dan pengalaman perempuan Indonesia sebagai warga global. Kampanye ini mengangkat karya-karya fiksi yang ditulis oleh perempuan Indonesia dari berbagai penjuru dunia, sebuah ruang aman di mana jarak geografis tidak lagi membatasi keberanian untuk bercerita, merawat ingatan, dan membayangkan masa depan.

Melalui Workshop Online Warga Menulis Fiksi, para peserta menarasikan kehidupan mereka di negeri-negeri yang jauh dari tanah air, tentang rindu yang berlapis bahasa, tentang identitas yang terus bertransformasi, tentang keteguhan menghadapi perbedaan, serta tentang solidaritas yang lahir dari keberanian untuk bersuara. Kutipan-kutipan karya fiksi yang lahir dari proses ini akan melalui kurasi dan penyuntingan untuk kemudian diterbitkan sebagai sebuah buku. Ini diharapkan sebuah produk pengetahuan yang merekam jejak batin, pemikiran, dan pengalaman perempuan Indonesia di panggung dunia.

Proyek ini dikelola oleh dua perempuan Indonesia yang juga hidup sebagai warga global: Asmayani Kusrini yang berbasis di Belgia dan Anna Knöbl yang berkarya di Jerman. Bersama, mereka membuka ruang lintas batas bagi perempuan Indonesia untuk menulis bukan hanya sebagai ekspresi kreatif, tetapi sebagai tindakan keberanian, perlawanan, dan perayaan diri.

Kampanye ini bukan sekadar tentang karya fiksi, melainkan tentang menghadirkan perempuan Indonesia sebagai subjek yang berpikir, merasakan, dan menciptakan makna di berbagai belahan dunia. Setiap cerita adalah bukti bahwa pengalaman perempuan adalah sumber pengetahuan yang hidup. Setiap kata adalah langkah menuju dunia yang lebih setara.

Maret 2026, mari membaca, mendengar, dan merayakan suara perempuan Indonesia, di mana pun mereka berada.

“I am entitled to a good life. I am a strong believer that only good things happen to girls like me now. And I say that boldly and proudly every single morning in the mirror; I’m like, ‘Bad things like this don’t happen to girls like me!’ I believe that I am entitled to thrive in this country!”

Ditulis oleh Griska Gunara Keating di UK.

(SIARAN BERITA) Workshop Warga Menulis Fiksi: Setiap Orang Punya Cerita

Jakarta, Januari 2026 – Ruanita Indonesia kembali menyelenggarakan program literasi bertajuk Workshop Warga Menulis Fiksi “Gema dari Ruang Hening”, sebuah ruang menulis kolektif untuk orang Indonesia di berbagai negara dalam mengolah pengalaman hidup menjadi karya fiksi yang kuat, bermakna, dan berlapis konteks transnasional. Program ini digelar sebagai bagian dari Kampanye Digital peringatan Hari Perempuan Internasional 2026 dan menjadi salah satu agenda literasi tahunan Ruanita.

Workshop yang berlangsung secara daring ini menghadirkan Asmayani Kusrini, penulis fiksi dan seorang Communications Officer yang bermukim di Brussel, sebagai pemateri utama. Sementara jalannya kegiatan dimoderasi oleh Griska Gunara, relawan Ruanita di Inggris Raya, yang punya latar belakang jurnalistik.

Program berformat tiga pertemuan ini diselenggarakan pada hari Sabtu, 17, 24 Januari, dan 7 Februari 2026 dengan durasi dua jam setiap sesi. Waktu disesuaikan dengan zonasi internasional mulai pukul 09.00 GMT, 10.00 CET, 11.00 EET, hingga 16.00 WIB, untuk memastikan keterjangkauan peserta yang berada di berbagai negara.

Di Ruanita, penyelenggara meyakini bahwa setiap orang memiliki kisahnya sendiri, dan pengalaman lintas batas kerap melahirkan narasi yang kompleks dan kaya. Karena itu, workshop ini dirancang bukan hanya sebagai kelas teknis menulis, tetapi juga sebagai ruang aman untuk meresapi pengalaman transnasional, membaca dan mendiskusikan referensi cerita pendek, menonton film relevan, serta memproduksi karya fiksi yang kemudian dipersiapkan sebagai bagian kampanye publik.

Selain menghasilkan naskah, peserta juga ditargetkan menyelesaikan draft final untuk dikirimkan selambatnya 14 Februari 2026. Karya-karya terpilih akan dipublikasikan dalam Kampanye Digital Hari Perempuan Internasional 2026, serta berpeluang diterbitkan dalam buku ketiga Ruanita Indonesia. Dengan demikian, program ini diharapkan berkontribusi pada produksi pengetahuan dan narasi perempuan Indonesia lintas negara, sekaligus memperkuat praktik literasi kultural yang inklusif dan sensitif pengalaman.

Workshop ini terbuka bagi warga berusia di atas 18 tahun dari mana pun berada yang pernah atau sedang mengalami kehidupan antarnegara. Peserta wajib mengikuti ketentuan teknis seperti kehadiran penuh dalam tiga sesi, penyusunan karya sesuai instruksi pemateri, penyerahan naskah final, serta pemberian persetujuan penggunaan karya dalam kampanye digital. Perekaman dilakukan hanya untuk keperluan dokumentasi internal dan seluruh data peserta akan disimpan maksimal enam bulan sesuai kebijakan privasi penyelenggara.

Melalui workshop “Gema dari Ruang Hening”, Ruanita berharap muncul suara-suara baru dalam penulisan fiksi Indonesia kontemporer yang bersumber dari pengalaman hidup orang Indonesia di berbagai penjuru dunia, baik sebagai pelajar, pekerja, maupun individu yang bergerak lintas batas budaya.

Program ini merupakan bagian dari inisiatif Ruanita Indonesia yang didirikan dan dikelola oleh Anna Knöbl di Jerman, sebagai ruang kolektif digital berbasis manajemen nilai, resource sharing, dan intervensi komunitas dalam konteks lintas negara. Inisiatif ini berfungsi sebagai social support system yang memanfaatkan teknologi digital modern sebagai medium interaksi dan pembelajaran.

Informasi lebih lanjut, kontak Griska Gunara di UK melalui email: info@ruanita.com.

(AISIYU) Hal-hal Baik Mengalir kepada Saya dan Saya Menerima Kelimpahannya

AISIYU 2025: Galeri Digital Kartu Afirmasi Diselenggarakan dalam rangka 16 HAKTP

Pembuat kartu adalah Griska yang tinggal di UK.

Kita sering menjadi pengkritik paling keras bagi diri sendiri. Melalui AISIYU, kami ingin mengingatkan: pemulihan dimulai dari keberanian untuk memaafkan dan menerima diri.

Dalam workshop online craft therapy bulan September, para peserta menulis kata-kata afirmasi yang lahir dari pengalaman, luka, dan harapan.

Karya mereka kini kami tampilkan dalam Galeri Digital AISIYU 2025: ruang untuk merayakan proses penyembuhan dan kekuatan perempuan.

(CERITA SAHABAT) Ini Cara Saya Melalui Midlife Crisis

Sahabat Ruanita, perkenalkan saya Griska Gunara, yang kini berusia sudah kepala empat alias 40-an. Saya telah menetap di Inggris selama beberapa tahun dan menjalani kehidupan yang dinamis, sebagai seorang ibu, praktisi yoga dan meditasi, dan photojournalist, serta juga menjadi kontributor di media online, termasuk juga di program cerita sahabat Ruanita loh. Seiring berjalannya usia, tentu saya pun menghadapi berbagai tantangan yang membuat saya melakukan refleksi diri.


Salah satu fase yang sering dihadapi manusia, namun jarang dibahas secara terbuka, adalah midlife crisis. Oleh karena itu, saya ingin berbagi pendapat dan pengalaman saya tersebut. Dulu, di usia 20-an, saya menganggap quarterlife crisis sebagai sesuatu yang menakutkan dan negatif. Namun, setelah mengalaminya sendiri, saya menyadari bahwa ini adalah fase transisi psikologis yang alami terjadi dalam diri manusia. Berbicara tentang Midlife crisis, umumnya terjadi antara usia 40 dan 60 tahun dan ditandai dengan perasaan tidak puas, kegelisahan, serta pencarian makna hidup. Ini bukan sekadar gangguan emosional, tetapi refleksi diri yang mendalam mengenai identitas, pencapaian, dan tujuan hidup ke depan.

Follow us

Saat mengalami quarterlife crisis di usia 20-an, saya berjuang mencari jati diri, menghadapi tekanan dari lingkungan, dan mencari tahu arah hidupnya. Berbeda dengan itu, midlife crisis atau yang disebut “krisis paruh baya” lebih berkaitan dengan refleksi mendalam tentang perjalanan hidup yang sudah ditempuh dan bagaimana seseorang ingin menjalani sisa hidupnya. Hal ini sejalan dengan istilah “Krisis paruh baya” dicetuskan pertama kali pada tahun 1960-an oleh Psikolog asal Kanada. Menurut saya, krisis yang dihadapi ini bukanlah pengalaman universal dan hanya berbeda fase pada Midlife-Crisis dan Quarterlife-Crisis.

Menurut saya, beberapa tanda dan gejala umum dari midlife crisis meliputi:

  • Ketidakseimbangan emosional
  • Kegelisahan dan kecemasan
  • Keinginan untuk mengubah hidup secara signifikan
  • Mempertanyakan identitas dan pencapaian diri
  • Kesadaran tentang penuaan dan keterbatasan hidup
  • Gangguan fisik seperti insomnia atau perubahan berat badan drastis

Setiap individu memiliki pemicu yang berbeda dalam menghadapi midlife crisis. Saya mengalaminya setelah ada perubahan dalam keluarga, terutama ketika putri saya akan segera lulus SMA dan melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi. Selain itu, perbedaan budaya antara Indonesia dan Inggris juga memberikan tantangan tersendiri dalam menavigasi peran saya sebagai ibu dan perempuan yang ingin terus berkembang. Saya menilai, terkadang kurangnya penghargaan atas kontribusi dalam proyek kolaboratif juga bisa menjadi pemicu ketidakpuasan diri.


Sahabat Ruanita, saya menilai tantangan terbesar dalam menghadapi midlife crisis adalah diri sendiri. Terkadang, seseorang tanpa sadar menciptakan hambatan yang menghalangi pertumbuhan pribadi. Oleh karena itu, menyeimbangkan kehidupan, memiliki waktu untuk diri sendiri (me-time), serta menjaga kesehatan mental menjadi hal yang sangat penting. Seperti yang saya lakukan sebagai praktisi yoga dan meditasi, tentunya sangat membantu saya mengenali diri saya sendiri. 


Dengan kemajuan digitalisasi, masyarakat Indonesia, terutama di perkotaan, mulai lebih sadar akan adanya fenomena ini. Namun, masih ada stigma dan pandangan tabu terkait midlife crisis, terutama bagi perempuan. Misalnya, munculnya istilah puber kedua atau menopause yang sering kali dikaitkan dengan perubahan psikologis dan emosional pada perempuan usia paruh baya. Apakah sahabat Ruanita pernah mendengar atau mengalami hal ini?


Menurut saya, terdapat perbedaan mendasar antara cara perempuan Indonesia dan Inggris dalam menghadapi midlife crisis. Budaya di Inggris cenderung lebih individualistis, jadi banyak perempuan yang menghadapi midlife crisis dengan mencari perubahan yang lebih personal, seperti beralih karier, traveling, atau mengejar hobi baru. Terapi & self-care lebih umum karena lebih diterima secara luas, sehingga lebih banyak perempuan yang mencari bantuan profesional untuk mengatasi perasaan kehilangan arah atau ketidakpuasan dalam hidup. Tekanan sosial untuk tetap menjalankan peran tradisional sebagai istri atau ibu lebih rendah dibandingkan di Indonesia. 

Perempuan Inggris dapat lebih bebas menentukan pilihan hidup – keterbukaan ini yang membuat mereka merasa lebih leluasa untuk bercerai, pindah kota, atau mengubah gaya hidup tanpa merasa terlalu terikat oleh ekspektasi masyarakat. Isu seperti menopause, kesehatan mental depresi, atau perubahan hormonal dapat diperbincangkan lebih terbuka, sehingga perempuan di Inggris merasa lebih didukung dan memiliki lebih banyak sumber daya untuk menghadapinya.

Berdasarkan pengalaman, ini beberapa cara yang bisa membantu seseorang menghadapi midlife crisis dengan lebih positif, antara lain:

  1. Menjelajahi Minat Baru
    • Belajar keterampilan baru seperti bahasa, seni, atau musik.
    • Menulis jurnal reflektif untuk mencatat perjalanan hidup.
  2. Meningkatkan Koneksi Spiritual & Emosional
    • Praktik yoga dan meditasi untuk menenangkan pikiran.
    • Melakukan retreat atau perjalanan spiritual.
  3. Menjalin Koneksi Sosial Baru
    • Menghadiri agenda pertemuan di organisasi kemasyarakatan.
    • Berbagi pengalaman dengan orang lain melalui mentorship.
  4. Merawat Kesehatan Fisik & Mental
    • Mencoba olahraga baru seperti hiking atau bersepeda.
    • Mengadopsi pola makan sehat dan memasak makanan bergizi.
  5. Mengeksplorasi Karier & Kreativitas
    • Mencari peluang karier baru yang lebih bermakna.
    • Mengeksplorasi kegiatan kreatif seperti fotografi atau menulis.
    • Traveling untuk menemukan perspektif baru dalam hidup.


Seiring dengan perjalanan menghadapi midlife crisis, saya merasakan perubahan cara pandang terhadap diri sendiri dan kehidupan. Saya menjadi lebih percaya diri, tidak lagi terlalu bergantung pada validasi eksternal, dan lebih sadar akan pentingnya keseimbangan hidup. Saya menyadari bahwa kesuksesan sejati bukan hanya tentang pencapaian materi atau prestasi, tetapi juga tentang penerimaan diri dan kedamaian batin.


Di akhir, saya ingin memberikan pesan yang inspiratif kepada sahabat Ruanita, terutama perempuan Indonesia yang sedang menghadapi midlife crisis:

“Beranilah menghadapi diri sendiri dan berikan ruang untuk refleksi. Hidup tidak berhenti sampai di sini—ini justru awal dari babak baru yang lebih matang dan bermakna. Tidak selalu harus kuat atau mengutamakan orang lain; merawat diri sendiri bukanlah tindakan egois, tetapi bentuk mencintai diri sendiri. Jangan takut menghadapi perubahan, karena keindahan seorang perempuan tidak ditentukan oleh usia. Dunia belum berakhir—justru babak baru yang luar biasa menanti untuk dituliskan dalam perjalanan hidup kita.”


Jadi sahabat Ruanita, Midlife crisis bukanlah akhir, melainkan kesempatan untuk menata ulang hidup dengan lebih sadar dan bermakna. Semoga cerita saya dapat menginspirasi banyak perempuan untuk menghadapi fase ini dengan keberanian, kesadaran, dan kebahagiaan yang lebih dalam.

Penulis: Griska Gunara, tinggal di Inggris dan dapat dihubungi via akun instagram @griskagunara.

(CERITA SAHABAT) “I am Enough!” dan Standar Kecantikan di Media Sosial

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan saya, Griska Gunara dan kerap disapa dengan nama Griska. Saat ini saya menetap di United Kingdom. Sehari-hari saya berprofesi sebagai Jurnalis Foto, Praktisi Yoga, dan Meditasi. Saya senang sekali dapat berpartisipasi dalam program cerita sahabat dalam tema: social media’s impact on beauty standar and how they affect women, karena media sosial yang menjadi bagian dari keseharian kita sekarang telah mengubah standar kecantikan di masyarakat.

Perubahan ini cukup signifikan karena keinginan perempuan untuk tetap cantik dan sehat secara alami. Itu sebab, saya perhatikan banyak wanita masa kini memilih sehat dengan konsumsi make up yang alami pula. Produk kecantikan di pasaran sekarang juga banyak yang menawarkan berbahan alami. 

Bagaimana pun produk kecantikan adalah bagian dari upaya perempuan untuk tampil menarik dan percaya diri ketika tampil di hadapan umum. Sejujurnya, saya pernah merasa tertekan dan tidak percaya diri juga. Ketidakpercayaan diri saya muncul ketika dihadapkan pada sesuatu yang saya belum siap secara mental, misalnya. Namun, bagi saya ini menjadi hal yang lucu, bila saya membandingkan diri saya dengan orang lain di media sosial. Pada kenyataannya, kepercayaan diri itu ditentukan oleh saya secara pribadi. Prinsip saya, sayalah yang bertanggungjawab jika saya ingin meningkatkan kepercayaan diri.

Di sisi lain, tidak dapat dipungkiri bahwa ada peran influencer di media sosial. Dengan pesan yang tepat sasaran, nyatanya cukup banyak membantu memperkuat standar kecantikan yang sudah ada, misalnya persepsi kecantikan alami wanita Indonesia. Meski kenyataannya, saya belum menemukan influencer yang “Setia” dengan satu brand saja. Kebanyakan dari mereka sudah bekerja sama (endorse) dengan client satu dan lainnya untuk urusan barter promosi. 

Follow us

Selain peran influencer di media sosial, ada faktor lain yang juga membentuk standar kecantikan di dunia maya. Tentu, kalian masih ingat bagaimana media sosial juga memperlihatkan foto wajah para selebritis, tanpa filter atau edit foto dengan foto yang sudah diedit. Menurut saya, itu sah saja menggunakan filter dan aplikasi pengeditan foto. Hal itu tergantung dengan kebutuhan si pengguna. Saya pribadi senang menggunakan filter foto kalau sedang -bad hair day– misalnya. Atau, ketika saya sedang mengedit foto, saya paling suka tone warna mendekati momen aslinya. Justru, penggunaan filter tidak terlalu sering saya gunakan. 

Sahabat Ruanita, setujukah kalau standar kecantikan yang ada di media sosial itu berpengaruh pada kesehatan mental juga? Seiring dengan meningkatnya produk kecantikan di media sosial, tak sering penjualnya adalah dokter dan pakar kecantikan juga yang berlomba memberikan service dan produk terbaik. Nah, sebagai konsumen, kita perlu cermat. Jika tidak, produk yang tidak sesuai dan tidak cocok dengan kulit, misalnya, akan cukup merugikan kita, baik itu secara finansial maupun mental juga loh.

Oh ya, apakah kalian juga merasakan kalau media sosial juga menuntut kita untuk tampil sempurna? Saya merasakan bahwa media sosial kini memegang peran penting dalam memberikan image standard sosial untuk tampil terbaik. Pengaruhnya tentu dalam hidup sehari-hari yang bisa terlihat dari seberapa konsumtifnya kalian dalam mengeluarkan biaya untuk belanja kebutuhan agar tetap sesuai dengan standar kecantikan tersebut. 

Kita tidak bisa menghindari apa yang ditampilkan di media sosial dengan algoritmanya, tetapi kita bisa mengatur sendiri pilihan konten yang efektif untuk kita konsumsi. Namun, media sosial juga memunculkan gerakan body positivity yang marak untuk melawan standar kecantikan yang sempit dan tidak sehat.

Gerakan ‘Body Positivity’ mengajak kita untuk menjadi percaya diri dengan apa yang kita punya. Menyadari bahwa diri ini saja sudah cukup. “I am enough!” Dorongan untuk menjadi berani menghadapi tekanan standar kecantikan di  media sosial adalah hal mendasar yang bisa didapatkan dari rumah.

Untuk menghadapi tekanan standar kecantikan di media sosial memang tidak mudah, termasuk saya di usia saya yang tidak lagi muda dan suka merasa tidak percaya diri. Terkadang saya pun ikut berlomba mengusahakan diri untuk lebih ini dan itu. Namun, saya sekarang sudah menemukan strategi untuk melawannya. Lewat yoga yang rutin saya lakukan dan tekuni selama beberapa tahun belakangan ini, ini menjadi strategi saya untuk menjaga pola hidup seimbang.

Strategi lainnya, tentu saya melakukan hiatus atau sejenak berhenti dari media sosial untuk beberapa minggu. Ternyata istirahat dari media sosial yang saya lakukan hingga sebulan. Saya merasa berbeda, karena prioritas fokus yang diatur untuk tetap balance dengan kehidupan sehari-hari. Jadi, hal yang yang dilakukan lebih dari 21 hari dapat mengubah pola hidup sehari-hari tergantung dengan apa yang kita lakukan. 

Saya sendiri sekarang sedang banyak mengurangi penggunaan chemical juga. Memang, ini tidak bisa langsung seluruh keluarga mengubah pola hidup tetapi saya berusaha tetap melakukannya dan memberi contoh saja dulu. Saya percaya pada diri sendiri saja dulu. Dan ini telah membantu kita tetap percaya diri akan diri sendiri, tanpa terpengaruh persepsi negatif tentang kecantikan yang ditentukan masyarakat. 

Kembali ke tema tentang standar kecantikan di media sosial, sebagai Praktisi Yoga dan aktif bersosial media, berikut pesan saya. Pertama, kita perlu meminimalisir pilihan kita untuk following media sosial. Kedua, kita bisa mencari komunitas yang mendekati apa yang kita suka, misalnya grup memasak atau grup yoga. Hal yang mendasar lainnya adalah kita belajar mengatur asupan nutrisi untuk diri sendiri. Jika kita sudah berhasil konsisten, maka kita bagikan ke seluruh keluarga untuk melakukan hal sehat yang sama. Dari mindset ini, kemudian lahirlah keingintahuan untuk memasak makanan sehat untuk diri sendiri dan keluarga. 

Penulis: Griska Gunara, berprofesi sebagai Photojournalist, Yoga Instructor and Meditation Practitioner. Griska kini menetap di United Kingdom dan dapat dihubungi via akun IG : @griskagunara, @griskashtanga.