(CERITA SAHABAT) Ketika Dulu Tubuhku Jadi Bahan Candaan

Ini membuatku sadar. Bahwa selama aku di Jerman, tidak pernah sekali pun aku mendengar mereka membuat komentar, menyebut, atau bahkan menjadikan jidatku yang lebar sebagai bahan candaan mereka. Tidak hanya jidat, tetapi fisik juga. Kami tidak pernah menjadikan fisik sebagai bahan bercanda.

Jika kalian bertanya pada teman-temanku di Indonesia (SD, SMP, SMA, teman gereja) apa yang paling mereka ingat tentangku selain karakterku? Aku yakin diantaranya akan bilang tentang jidatku yang lebar. Lainnya bilang aku nonong atau jenong. Aku masih ingat dengan jelas bahwa seumur hidupku hingga aku pindah ke Jerman, hal itu atau istilah itu tidak pernah lepas dariku. 

Percayalah, aku tak pernah sakit hati karena panggilan atau ejekan atau candaan itu, karena nyatanya memang jidatku lebar. Meskipun seiring berjalannya waktu panggilan-panggilan itu berkembang menjadi: lapangan terbang, lapangan sepak bola, mirip megamind, dan sebagainya.

Ketika mereka bercanda akan selalu ada imbuhan tentang “jidatku” itu di akhir kalimat mereka. Seumur hidupku pula tak pernah aku mendengar, baik teman, sahabat atau keluarga yang memberikan pujian terhadap fisik atau penampilanku. Sekedar kamu cantik saja tak pernah mereka katakan sehingga aku terbiasa dengan itu semua. Aku menganggap itu adalah hal biasa.

Hingga akhirnya di tahun 2020, dikarenakan kondisi kesehatan mentalku yang menjadi sangat tidak terkendali, aku harus mengonsumsi obat anti depresi yang memiliki efek samping terhadap perubahan hormon dan nafsu makanku. Akibatnya hanya dalam 1.5 bulan saja, berat badanku naik 13 kilogram.

Sebuah perubahan yang sangat ekstrim bagiku. Selama 4 bulan pertama aku sangat kesulitan untuk menerima perubahan bentuk tubuhku. Aku selalu merasa sangat gemuk. Aku terlihat aneh dan bantet.

Sepanjang waktu atau setiap kali aku melihat timbangan, aku selalu mengomel dan kesal dengan diriku sendiri. Hal ini adalah hal baru bagiku. Seumur hidup aku tak pernah bisa relate dengan apa yang perempuan-perempuan lain keluhkan seperti perut berlipat atau lipatan lemak yang muncul di sana-sini yang bisa membuat tidak percaya diri. Saat itu, akhirnya aku mengalaminya. 

Menariknya adalah sejak tubuhku berubah aku mendapatkan begitu banyak compliment. Bahwa aku sangat cantik, tubuhku menarik, ini, dan itu sampai membuatku risih. Aku tidak biasa mendengar seperti itu. Tidak pernah aku mendapatkan pujian seperti itu di mana teman-temanku di sini terus menerus memuji setiap bertemu.

Bahkan mereka di sini iri dengan badanku sekarang. Aneh sekali rasanya. Hal itu sama sekali tidak membuatku besar kepala justru risih sekali. Selalu kujawab, “Apaan sih!”, “Halu lo!” atau “Ah, you just wanna make me happy.”

Salah satu temanku dan pacarku pun mengaku sedih mendengarkan jawabanku. Bagi mereka, aku benar-benar cantik dan menarik. Sedih rasanya bagi mereka ketika mereka mendengar reaksiku. Namun, apa boleh buat. Ini pun hal yang aneh bagiku. Aku tidak terbiasa dengan pujian itu.

Namun, karena pujian-pujian yang kudengar pertama kalinya dalam hidupku ini ternyata membuatku sadar. Bahwa selama aku di Jerman, baik teman-teman Indonesiaku, pacarku, teman-teman, kenalanku orang asing, orang Jerman maupun pria-pria asing yang aku pernah dekat pun, tidak pernah sekali pun aku mendengar mereka membuat komentar, menyebut, atau bahkan menjadikan jidatku yang lebar sebagai bahan candaan mereka.

Tidak hanya jidat, tetapi fisik juga. Kami tidak pernah menjadikan fisik sebagai bahan bercandaan. Kok bisa? Mungkin kebanyakan orang di Indonesia punya poni yang bisa menutupi dahi mereka, sedangkan aku tidak. Mungkin punya jidat yang lebar bukan hal yang umum di Indonesia.

Namun percayalah, di Jerman semuanya berjidat lebar adalah hal biasa. Untuk perempuan mengikat rambutnya ke belakang model ponytail dan tidak akan ada yang bilang, “Kamu tuh sudah tahu jidatnya lebar, mbok ya jangan dikucir begitu!” Yang mana kalimat ini sering kudengar dulu.

Lama-kelamaan aku bisa menerima tubuhku yang sekarang. Aku bisa menerima dan menghargai pujian yang kuterima. Aku memang jauh lebih cantik sekarang, terlihat jauh lebih sehat, dan bahagia dibandingkan saat aku di Indonesia dulu. Ah, mungkin makanya aku tak pernah mendapatkan pujian apapun tentang fisikku seumur hidupku, karena dulu aku memang terlihat tidak menarik sama sekali. Hahaha. 

Lucunya, aku sekarang malah jijik kalau melihat foto-foto lamaku di Indonesia dan sekarang jadi khawatir kalau kelihatan sedikit lebih kurus. Hahaha. Begitulah manusia, tidak pernah puas. Namun yang mungkin harus digaris bawahi lagi adalah mengapa di sini aku tak pernah mendengar candaan atau panggilan tentang jidatku yang lebar atau bentuk fisikku yang lain dibandingkan di Indonesia? Jawabannya? Silakan direnungkan sendiri:) 

Penulis: Nisyma, tinggal di Jerman