(WARGA MENULIS) Puisi Akrostik : RUANITA

Puisi Akrostik : RUANITA

R

indu tak harus bersembunyi di balik sunyi, di dalam kelam;

uang ini, tempat hati menyulam;

uang aman, tempat pulih yang tentram.

U

ngkapkan kisah tanpa ragu;

sap air mata yang jatuh pilu, menahan sembilu;

ntukmu, tempat ini tak akan beku.

Follow us

A

da Cahaya di sudut yang pernah gelap pekat;

rahkan Langkah, jangan terikat !!!

man di peluk hangat, walau berbatas sekat.

N

an damai tumbuh perlahan;

iat tulus tak kenal genggaman;

apas tenang dalam dekapan.

I

ngatan pahit, biarlah luruh seluruh;

si hari dengan senyum teduh;

zinkan hati berdamai penuh, walau menahan peluh keluh.

T

angis bukan tanda lemah, tangis itu telah berubah;

eguh berdiri tanpa resah gelisah;

ak ada takut, hanya kasih yang ramah.

A

man bukan sekedar kata;

ku, kamu, kami, kita, kalian, mereka di dalamnya;

gar tak ada yang merasa hampa.  Ruanita – Rumah Aman Kita.

Karya oleh Vania Dea Wibowo (akun Instagram vaniadeawibowo)

(WARGA MENULIS) Puisi -Wanita dan Azimat Asa

Wanita dan Azimat Asa

Titik hujan melankolis merintik di malam sabtu.

Pemuja udara hangat mesti sabar menunggu karena suhu belum beranjak dari titik beku.

Angin dingin Winter Ostsee menembus ventilasi kayu sesaki ruang tamu, menusuk kulit seorang hawa yang sedang berkutik diruang tamu.

Malam itu perapian telah membakar kobar cinta api pada kayu yang lagi bercumbu, menjadikannya bara penghangat tubuh ruang tamu.

Wanita dan degup gundah, diluar beberapa mata bintang masih menyala.

Mata pijar lampu baca diatas meja kerja empat persegi belum gugur, menerangi baris Aksara dan kertas putih, meluap rasa yang tak ingin menjadi mata bara di jiwa yang mencari asa.

Jelaga merayap, hampir menutup mata lampu, 

menemani debu yang tak ingin berkaca sendiri di wajah lampu baca ruang tamu. 

Anjing tetangga menggonggong, memecah denting Tuan penguasa sunyi

Follow us

Wanita itu tidak sendiri, seribu aksara gundah, prasangka pengap memadati ruang gerak benak di malam yang jatuh lewat pukul satu.

Langkah kaki akan menapak di atas benang takdir di sisi lain tapal sayap samudera, membelah Kontinent mempertemukan kultur tidak serupa.

Apakah disana serat benang patriarki akan dipintal menjadi gaun pengantin wanita ? 

Riuh suara gaduh ruang benak kian belum  aman  

Atau wanita itu harus berjalan menyusuri Grünewald, berbincang pada Birken dan Eiche tua ?

Prasangka dan gundah menjadi aksara malam itu yang belum selesai menaut puisi di malam sabtu lewat pukul satu, 

Keduanya berkelana, mengawang di pekat malam, bertanya pada mata bintang yang masih menyala.

Wanita itu menyemat doa dan azimat asa yang terbang menembus pagar langit angkasa raya. 

Berlin 27 januari 2025, Elfitri Muchtamid