(IG LIVE) Mengenal Lebih Dalam Tuberkulosis dan Patahkan Stigma Sosial di Peringatan Hari TB Sedunia

Dalam rangka memperingati Hari Tuberkulosis (TB) Sedunia yang jatuh setiap 24 Maret, Ruanita Indonesia kembali menghadirkan diskusi Instagram Live yang sarat makna. Dipandu oleh Rufi, ruang digital itu berubah menjadi wadah belajar bersama, tentang penyakit yang masih menjadi tantangan besar kesehatan global: tuberkulosis (TB).

Dengan menghadirkan dua narasumber dari latar belakang berbeda, antara lailn: dr. Sharifah Janatin Aliyah SpP, seorang dokter spesialis paru, dan Hilda Amanda Safir, mahasiswa kedokteran di Tiongkok, diskusi ini menjembatani ilmu medis dan perspektif lapangan lintas negara.

“Tuberkulosis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis,” jelas dr. Aliyah membuka diskusi. Ia menekankan bahwa TB bukan hanya penyakit paru, tetapi bisa menyerang hampir seluruh organ tubuh, mulai dari otak, tulang belakang, hingga usus.

Penularannya pun terbilang mudah. Bakteri menyebar melalui udara ketika penderita TB aktif batuk, bersin, atau bahkan berbicara. Namun menariknya, tidak semua orang yang terpapar akan langsung sakit.

Sekitar 90% orang mampu melawan bakteri ini dengan sistem imun mereka. Sisanya, sekitar 10–20%, berisiko mengembangkan infeksi laten, di mana bakteri “tidur” dalam tubuh dan bisa aktif kembali ketika daya tahan tubuh menurun.

“Di sinilah TB menjadi unik sekaligus menantang. Bakterinya bisa bersembunyi dari sistem imun,” tambahnya.

Salah satu tantangan terbesar dalam penanganan TB adalah gejala yang sering tidak disadari. Batuk lebih dari dua minggu, penurunan berat badan, keringat malam, dan demam ringan adalah tanda-tanda umum, tetapi sering dianggap sepele.

Padahal, keterlambatan diagnosis bisa berujung pada komplikasi serius.

Kini, metode diagnosis sudah semakin canggih. Tes cepat molekuler memungkinkan deteksi bakteri sekaligus mengetahui resistensi obat hanya dalam waktu singkat. Ini menjadi kemajuan besar dibanding metode lama yang memerlukan waktu berminggu-minggu.

TB bukan penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Namun, proses pengobatannya membutuhkan komitmen tinggi.

“Pengobatan standar berlangsung minimal enam bulan dan harus diminum setiap hari,” tegas dr. Aliyah.

Masalahnya, banyak pasien berhenti di tengah jalan, entah karena merasa sudah sembuh atau karena tekanan sosial. Hal ini berbahaya, karena dapat menyebabkan bakteri menjadi resisten terhadap obat.

Hilda, mahasiswa kedokteran yang tengah menempuh studi di Tiongkok, membagikan perspektif menarik tentang bagaimana negara tersebut menangani TB.

Di sana, pasien TB langsung masuk ke dalam sistem pelaporan nasional yang terintegrasi. Data dipantau secara real-time oleh lembaga kesehatan nasional, sehingga pengobatan dapat diawasi secara ketat.

“Pasien tidak hanya diobati, tapi juga dipantau kepatuhannya. Bahkan keluarga dilibatkan sebagai pengawas minum obat,” jelas Hilda.

Pendekatan ini dikenal sebagai Directly Observed Treatment Short Course (DOTS), di mana pasien tidak minum obat sendiri tanpa pengawasan.

Selain itu, strategi preventif juga diperkuat melalui:

  • Screening aktif pada kelompok berisiko tinggi
  • Edukasi berbasis komunitas
  • Kampanye digital melalui platform populer
  • Program kampus seperti seminar dan pemeriksaan gratis

Meski sistemnya kuat, Tiongkok tetap menghadapi tantangan serupa dengan Indonesia:
akses layanan yang belum merata, edukasi yang belum menyentuh semua lapisan masyarakat, dan yang paling sulit adalah lagi-lagi stigma sosial.

Bahkan di era digital, misinformasi masih beredar. Hilda menyinggung konten viral yang mengklaim TB bisa disembuhkan hanya dengan obat herbal, sebuah contoh nyata bagaimana informasi keliru bisa membahayakan.

Melalui diskusi hangat ini, Ruanita Indonesia tidak hanya memperingati Hari TB Sedunia, tetapi juga menghidupkan semangat kolektif untuk melawan TB.

Karena pada akhirnya, perjuangan melawan TB bukan hanya soal obat dan diagnosis, tetapi juga tentang keberanian untuk peduli, memahami, dan bergerak bersama.

“TB bisa disembuhkan, asal kita tidak berhenti di tengah jalan, baik sebagai pasien, tenaga kesehatan, maupun masyarakat,” menjadi pesan yang menggema di akhir sesi.

Selengkapnya tentang diskusi IG LIVE episode Maret dapat disimak di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

(PODCAST RUMPITA) Belajar dan Berkiprah di Dunia Medis, Tiongkok bersama Hilda Amanda Safir

Di awal tahun 2026, podcast RUMPITA – Rumpi bareng Ruanita menghadirkan sosok inspiratif yang tengah menempuh pendidikan kedokteran di luar negeri: Hilda Amanda Safir, mahasiswi asal Indonesia di Anhui Medical University, Tiongkok.

Dipandu oleh Anna, percakapan hangat ini mengupas kehidupan Hilda di provinsi Anhui, mulai dari proses perkuliahan, budaya setempat, hingga teknologi medis terkini yang ia temui selama studi di Tiongkok.

Hilda telah tinggal di Tiongkok sejak tahun 2019. Ia mengungkap bahwa proses pendaftaran kuliah dan beasiswa di Tiongkok cukup sederhana, seleksi dilakukan sepenuhnya melalui dokumen seperti paspor, transkrip nilai, sertifikat TOEFL atau HSK, serta hasil medical check-up.

Ia menyarankan untuk menyiapkan dokumen jauh hari sebelum tenggat karena peminat beasiswa sangat banyak.

Hilda menerima beasiswa penuh dari Pemerintah Anhui yang mencakup:

  • Biaya kuliah (SPP),
  • Buku dan perlengkapan akademik,
  • Asrama kampus,
  • Tunjangan hidup dan makan.

Ia menambahkan bahwa semua mahasiswa, baik lokal maupun internasional, diwajibkan tinggal di asrama kampus.

Sebagai mahasiswi program kedokteran bidang bedah, Hilda memulai perjalanannya dengan niat menjadi dokter sejak SMA. Kecintaannya pada ilmu pengetahuan dan semangat memberi dampak langsung kepada pasien mendorongnya untuk memilih spesialisasi ini.

Salah satu tantangan terberat di awal adalah bahasa Mandarin. Saat baru tiba, ia belum bisa berbicara Mandarin dan sempat berkomunikasi dengan bahasa tubuh dan Google Translate.

Namun seiring waktu, Hilda berhasil menyesuaikan diri karena lingkungan memaksanya belajar dengan cepat, terutama karena pasien rumah sakit tidak bisa berbahasa Inggris.

“Kalau mau praktik langsung di rumah sakit, kita harus bisa Bahasa Mandarin. Karena pasiennya tidak bisa berbahasa Inggris. Jadi kita harus bisa tanya kondisi mereka langsung.”

Hilda sempat menceritakan pengalaman menarik ketika pertama kali menangani pasien di rumah sakit. Salah satu pasiennya bertanya kenapa ia mengenakan hijab saat musim panas. Ia menjelaskan bahwa itu bagian dari keyakinannya sebagai Muslim, dan pasien merespons dengan baik.

Hilda menyampaikan bahwa teknologi medis di Tiongkok berkembang sangat pesat, bahkan di kampusnya sudah digunakan robot operasi. Dokter hanya duduk di depan monitor dan mengoperasikan robot untuk melakukan prosedur langsung ke pasien.

Ia membandingkan dengan beberapa negara lain, bahwa teknologi seperti ini belum tentu digunakan secara luas. Menurut Hilda, ini adalah salah satu kekuatan besar sistem medis di Tiongkok.

Tinggal di dekat dengan Wuhan, Hilda mengungkap bahwa jumlah Muslim di kota tersebut tidak sebanyak di daerah seperti Xinjiang. Untuk urusan makanan, meskipun banyak pilihan, ia lebih sering memasak sendiri makanan khas Indonesia.

Ia juga menyarankan bahwa bagi siapa pun yang ingin ke Tiongkok, ada banyak opsi kuliner, dan kebanyakan kota sudah sangat terbuka pada wisatawan maupun mahasiswa internasional.

Di akhir diskusi, Hilda menyampaikan pesan kepada para perempuan Indonesia yang ingin berkuliah atau mengejar mimpi, khususnya di bidang STEM atau kedokteran:

  1. Jangan ragu untuk bermimpi besar dan terus berusaha.
  2. Buang rasa insecure, karena kesempatan tidak datang dua kali.
  3. Ambil langkah kecil sekarang, karena itu akan membawamu lebih dekat ke tujuan besar.

“Coba dulu. Niat baik dan langkah kecil hari ini bisa jadi awal dari pencapaian besar di masa depan.”

Dengarkan diskusi podcast RUMPITA selengkapnya berikut ini di kanal Spotify dan pastikan FOLLOW untuk mendukung kami terus berbagi.