(CERITA SAHABAT) Hanya Aku, Dia, dan Anak-anak

What others think of you is none your business. Dalam bahasa Indonesia bisa dijelaskan bahwa apa yang dipikirkan orang lain bukan menjadi urusan saya. Begitu yang saya terapkan dalam hidup saya agar hidup saya tidak disibukkan berbagai prasangka-prasangka yang belum tentu benar.

Saya memutuskan hal ini bukan tanpa alasan. Bahkan saat ini saya pun memutuskan untuk menyimpan rapat-rapat pernikahan saya dengan warga negara asing yang sudah dijalani selama tiga tahun. Pernikahan kedua ini adalah off the record alias tidak diketahui oleh keluarga besar saya di Indonesia. 

Orang Indonesia memiliki budaya kekeluargaan dan kebersamaan yang kental. Itu betul dan saya setuju dengan pendapat itu. Begitu kental dan akrabnya keluarga besar saya sehingga saya tahu bahwa mereka memiliki standar terbaik yang sudah ditetapkan bersama. Anehnya, kami semua harus mengikuti standar yang ditetapkan tersebut demi terjalinnya rasa kekeluargaan. Bagi saya, hidup itu tidak semestinya dibuat standar yang belum tentu itu baik bagi semua orang. 

Sayangnya keakraban itu sering dicurahkan dalam bentuk intervensi. Tidak hanya kepada saya, tetapi juga keluarga lain yang dianggap lebih muda. Hal ini sudah membuat saya jengah dan memutuskan untuk tidak terlalu mengakrabkan diri dengan keluarga besar saya. Keputusan ini diambil setelah saya mengakhiri pernikahan pertama saya dengan pria asal Indonesia. 

Siapa pun yang menikah selalu berharap yang terbaik hingga maut memisahkan, tetapi siapa bisa menebak jalannya takdir kehidupan. Sebagai survivor kekerasan dalam rumah tangga dengan level cukup membuat bulu kuduk bergidik, dan sebagian besar dilakukan di depan anak-anak kami, membuat saya memutuskan bahwa enough is enough, tidak akan ada lagi kekerasan terjadi. Setelah memutuskan bercerai, fokus saya adalah bekerja dan berusaha memperbaiki akibat yang telah ditimbulkan karena trauma atas kekerasan ayah mereka terhadap saya. 

Dengan didampingi Lembaga Swadaya Masyarakat, saya berhasil menggugat cerai suami pertama. Saya berhasil mendapatkan hak asuh kedua putra saya. Saya tidak meneruskan kasus perlakuan kekerasan mantan suami ke ranah hukum karena mantan suami mengalami gangguan psikologis. Alasan gangguan psikologis ini seperti menjadi alibinya melakukan kekerasan kepada saya. Setelah saya bercerai dari suami pertama, saya putuskan untuk mencari kebahagiaan untuk saya dan anak-anak. 

Saya merasa bahwa pengalaman pahit berkeluarga di pernikahan pertama tentu mengajari saya banyak hal termasuk cara saya berkomunikasi dengan keluarga besar saya. Saya berkomunikasi dengan mereka hanya sebatas peristiwa-peristiwa penting saja. Saya pun tidak ikut campur dalam konflik yang muncul dalam keluarga besar saya. Saya tidak merasa berutang budi atau uang kepada mereka. Saya putuskan untuk mencari kebahagiaan dengan cara sendiri. 

Menjadi single mother bukan hal yang mudah pun sulit. Saya bersyukur disibukkan dengan pekerjaan yang membuat saya tidak terlalu ikut campur dengan masalah keluarga besar. Di tengah kesibukan bekerja, saya bertemu dengan pria berkewarganegaraan Amerika, yang kini menjadi suami kedua.

Awalnya saya ragu untuk membangun bahtera rumah tangga dengannya mengingat pernikahan sebelumnya terus terang membuat saya mempunyai masalah dengan kepercayaan terhadap orang lain, terutama untuk menjalin hubungan baru. 

Namun pria ini begitu berbeda. Dia adalah pria yang jujur, setia, terbuka, dan apa adanya. Saya suka dengan gaya simple life yang dia jalani. Hal terpenting yang membuat saya jatuh hati adalah kesediaan dia untuk menerima anak-anak saya menjadi bagian dari hidupnya. 

Saya harus menyembuhkan diri saya akan trust issue, apalagi selama belasan tahun sendiri, saya sudah menemukan kebebasan, tidak perlu memikirkan hubungan yang melibatkan emosi. Mengapa saya harus menambah masalah dalam hidup saya? Akan tetapi, waktu membuktikannya bahwa kami bisa bersama. 

Kami memang berbeda secara budaya dan latar belakang, tetapi banyak hal yang membuat kami sejalan dalam pola pikir dan interest yang membangun minat kami. Kesamaan ini yang mendorong saya untuk menerima pinangan darinya. 

Kesetiaannya benar-benar ditunjukkan ketika saya perlu waktu untuk menyelesaikan masa lalu saya dan keluarga besar saya. Tekadnya untuk menunggu dan rasa kepeduliannya untuk memahami pekerjaan saya telah meluluhkan hati untuk membangun rumah tangga untuk kali kedua. 

Masa lalu sudah berlalu. Kini saya punya masa sekarang dan masa depan. Kami putuskan untuk tinggal bersama anak-anak di negeri tetangga. Saya jalani hidup tanpa intervensi dari keluarga besar. Saya pun menutup rapat-rapat cerita pernikahan kedua saya karena saya tidak ingin kisah pernikahan saya selanjutnya memunculkan potensi konflik. 

Saya sudah bahagia dengan suami dan anak-anak kini, mengapa saya perlu menunjukkan kebahagiaan ini pada keluarga besar dan dunia? Itu pendapat saya.

Beruntunglah, suami memahami keputusan saya untuk menyimpan rapat-rapat pernikahan saya dengannya. Dia menghargai apa yang saya putuskan. Bagi saya, komunikasi adalah hal terpenting dalam suami-istri terutama perkawinan campuran lintas budaya seperti ini. Sekecil apa pun masa lalu yang pernah terjadi, keduanya perlu bercerita jujur agar tidak menimbulkan prasangka dan konflik. 

Mungkin orang-orang sekitar saya bertanya, mengapa saya masih tetap merahasiakan pernikahan kedua saya. Jawaban saya, ini adalah keputusan berdua. Saya hanya tidak ingin menimbulkan prasangka tentang apa yang terjadi dalam hidup saya. Seperti yang saya sampaikan di awal, biarlah kebahagiaan itu hanya milik saya, dia, dan anak-anak saya. Saya hanya ingin hidup harmonis dan tanpa konflik yang bisa memperkeruh hubungan suami-istri. 

Keluarga besar memang penting yang membentuk solidaritas satu sama lain. Namun, kita perlu membatasi seberapa jauh bisa menjalin hubungan kekerabatan dengan mereka. Hal ini perlu agar bisa hidup seperti yang kita mau. Bagaimana pun saya tidak bisa membahagiakan semua orang. Saya sudah lelah mengikuti standar terbaik yang ditetapkan. Prinsip saya, menjadi diri sendiri sudah cukup membuat saya bahagia. 

Bahagia itu bukan yang kemarin atau mengikuti standar yang ditetapkan. Bahagia itu adalah sekarang, saat saya bisa merasa bebas menjadi diri sendiri, tanpa konflik keluarga atau standar yang ditetapkan keluarga. 

Penulis: Lorelai, tinggal di Singapura dan cerita ini bisa ditemukan dalam buku yang sudah diterbitkan oleh Ruanita dan Padmedia Publisher berjudul: Cinta Tanpa Batas: Kisah Cinta Lintas Benua.

(CERITA SAHABAT) Praktik Mindfulness Lewat Meditasi Hanya Lima Puluh Ribu Rupiah

Halo, sahabat Ruanita. Nama saya Gitanyali Dayinta Ratitia, yang biasa dipanggil Tiara. Saya tinggal di Magdeburg, Jerman sekarang, tetapi saya juga Permanent Resident Singapore dan pernah menetap lama di sana. Sehari-hari saya beraktivitas sebagai Praktisi Reiki, Life Coaching, pemilik SPA dan saya juga sedikit-sedikit mulai mempelajari psikologi juga.

Saya ini mempraktikkan Healing Therapy kepada klien-klien saya, termasuk mengajari klien saya untuk bermeditasi. Silakan terus ikuti cerita saya ini, siapa tahu kalian tertarik melakukan praktik meditasi juga. 

Masih ada anggapan bahwa meditasi dikaitkan dengan keyakinan atau ajaran agama tertentu. Namun menurut saya, meditasi adalah latihan tentang bagaimana kita bisa bekerja, sehingga pikiran kita menjadi aktif dalam kesadaran.

Banyak orang yang tidak sadar dalam beraktivitas sehari-hari. Nah, meditasi membantu kita menyadari kehadiran penuh tentang apa yang kita lakukan. Sebenarnya, banyak hal dalam hidup yang berada di luar kendali kita. Tentunya, ini berkaitan juga tentang bagaimana cara kita merespon situasi yang kita hadapi dalam hidup. 

Agar kita memiliki kesadaran penuh tentang bagaimana pikiran kita itu bekerja, maka kita perlu memiliki kemampuan untuk mempertahankan fokus tersebut.

Meditasi adalah salah satu cara untuk melakukan fungsi Mindfulness tersebut. Meditasi memberikan manfaat ketenangan, memusatkan perhatian, dan bagaimana kita bisa menjadi pribadi berkualitas yang melatih empati, fokus, dan kesabaran.

Saya mengenal meditasi ketika saya menginjak usia sekitar dua puluh tahunan. Saat itu, saya masih tinggal di Singapura dan masih menikah dengan seorang pria asal Singapura. Saya merasa bahwa hidup di negeri orang itu tidak mudah, yang mana saya mengalami fase kehidupan yang sangat berbeda dari Indonesia.

Saya mengalami benturan seperti budaya, bahasa, mentalitas orang, dan sebagainya sehingga membuat saya stres, mudah marah, tidak merasa tenang, dan hidup yang hedonis, Chaos hampir tidak ada kedamaian. Hidup saya, saat itu tidak balance. 

Karena permasalahan tersebut, saya pun mencari tahu penyebabnya. Di Singapura memang tumbuh subur komunitas klub-klub meditasi, terutama kelompok meditasi yang berasal dari etnis India dan Chinese. Saya pun mulai tertarik mengikuti acara-acara mereka. Awalnya, saya mencoba dengan bermeditasi itu ternyata tidak mudah karena dalam pemahaman saya waktu itu bermeditasi berarti fokus dalam kesatuan, padahal dalam praktiknya otak kita itu seperti: monkey brain, monkey see, monkey do.

Bagaimana mau fokus dengan sesuatu kalau kepala kita banyak sekali aneka ragam persoalan dan macam-macam problem? Ternyata pemahaman pertama saya tentang meditasi ini salah! Yang benar adalah sebenarnya memfokuskan terlebih dahulu pernapasan yang keluar dan masuk baru dengan mengikuti ritme pernapasan sendiri.

Meditasi dilakukan dengan duduk bersila dan mencoba mengosongkan pikiran. Saya pun patuh mengikuti alur yang diinstruksikan, seperti musiknya atau kalimat Leader yang menuntun kita untuk melakukan teknik meditasi. Makin lama, saya merasakan ada energi yang berevolusi atau bertransformasi dalam diri saya.

Dari perangai saya, yang adalah orang yang mudah marah dan tidak sabaran, menjadi diri saya yang sabar dan penuh empati pada orang lain. Perubahan ini saya rasakan real dalam realitas hidup saya setelah melakukan meditasi tersebut. 

Setelah meditasi, saya merasakan kegembiraan tersendiri, dalam arti hidup saya menjadi lebih plong atau semua terasa ringan. Setiap ada permasalahan, saya selalu mengambil dari sisi yang positif. Itu membuat saya berhasil keluar dari permasalahan tersebut. Saya seperti memakai kacamata yang positif dan indah dalam hidup. 

Siapa bilang meditasi itu bisa dengan mudah dilakukan setiap hari. Tidak! Tentunya, kita berhadapan dengan rasa malas dalam diri untuk melakukan meditasi. Ketika rasa malas sudah menyerang, itu bisa menjadi musuh utama dalam melakukan meditasi. 

Ketika rasa malas muncul, timbul dalam pikiran saya ‘mengapa saya perlu melakukan meditasi?’ Setelah bermeditasi, beban masalah hidup yang saya alami itu seperti “terlempar” dan saya merasa lebih ringan. Saya merasa lebih kuat dalam menjalani hidup. Lewat meditasi, itu seperti memberikan energi kebesaran saya sebagai manusia.

Banyak manusia tidak memahami bahwa kita ini diciptakan dengan sempurna oleh Tuhan. Hanya kacamata pikiran manusia saja yang belum sampai dan selalu berpikir Kita tidak sempurna , makanya kebanyakan manusia mencari-cari kesalahan dan kekurangan diri sendiri dan kekurangan orang lain supaya menjadi “sempurna”.

Padahal Tuhan menciptakan kita sempurna . Kita adalah ciptaannya yang sempurna. Dengan meditasi, kita berlatih kesadaran untuk sadar bahwa dalam ciptaan Tuhan yang maha sempurna ini kita sudah cukup.

Melalui meditasi, kita bisa memahami bagaimana kita sebagai manusia menjadi bagian dari alam semesta untuk saling menyempurnakan dengan sesama makhluk lainnya. Dan berbagi kebahagiaan keceriaan dan Keberkahan akan hidup itu sendiri. 

Untuk sahabat Ruanita yang ingin memulai praktik meditasi, pertama-tama kalahkan dulu itu rasa malas dalam diri. Kedua, kebanyakan orang tidak tahu teknik melakukan meditasi. Selain rasa malas dan ketidaktahuan teknik meditasi, tentu ada anggapan bahwa orang yang mengalami gangguan kecemasan itu susah mempraktikkan meditasi. 

Saya menyarankan untuk tidak langsung duduk dan bermeditasi, tetapi mereka yang mengalami gangguan kecemasan dapat mulai latihan pernapasan terlebih dulu, sambil mendengarkan musik meditasi.

Ini memang sulit dan butuh perjuangan di awal. Lakukan dengan fokus kemudian lakukan pengulangan, selama 5 sampai 10 menit. Tidak usah berpikir untuk menjadi sempurna dan benar dalam melakukan meditasi. Ikuti irama pola pernapasan dan mengalir apa adanya , jangan berperang dengan pikiran. Ikuti alurnya dan mencoba berdamai. 

Dan ada kabar baiknya, saya juga menawarkan kepada kalian semua yang ingin praktik meditasi lewat teknik 28 hari yang bisa ditemukan linknya di akhir cerita ini.

Di sana, saya mengajari langkah demi langkah untuk melakukan meditasi. Misalnya, teknik meditasi dimulai dengan hitungan nafas. Bernafas itu pun sudah bisa disebut dengan meditasi. Bersyukurlah, kalau kita masih bisa bernafas, berarti kita masih diberi kehidupan. 

Kebanyakan orang hidup bernafas, tetapi tidak menyadari bahwa mereka itu masih hidup. Artinya, orang-orang tersebut tidak sadar sepenuhnya. Meditasi itu bisa dilakukan sendiri atau saya menawarkan kelas offline selama 28 hari. Setelah praktik meditasi 28 hari, saya berharap kalian bisa merasakan manfaat meditasi.

Semua langkah-langkahnya dapat dilakukan lewat media video dan lembar kerja sederhana yang saya sertakan tersebut. Tantangannya tentu tidak mudah. Baru sepuluh menit latihan, tiba-tiba pikiran kita dipenuhi dengan berbagai hal chaotic, sehingga pikiran kita menjadi chaos. Tentunya, latihan meditasi itu perlu perjuangan. Mulailah mengikuti latihan meditasi dari hari pertama hingga hari kedua puluh delapan, seperti yang saya ajarkan dalam teknik meditasi untuk pemula tersebut. 

Saya hanya minta kontribusi dari peserta yang ingin serius latihan meditasi dengan membayar sebesar lima puluh ribu rupiah. Saya melakukan ini semua, sebagai bentuk rasa syukur atas hidup saya.

Untuk menemukan kelas latihan meditasi, dapat dilihat dengan mengikuti pranala berikut https://ratitia-loell.mayar.link/pl/tantangan-kesadaran-28-hari atau temukan juga link Bio Instagram Ruanita. 

Penulis: Ratitia atau Tiara, pemilik dan pengelola Bali Java Wellness Healing di Magdeburg, Jerman. Dapat dikontak via akun Instagram balijava_wellness_healing atau akun TikTok @tiarasaja7.

(CERITA SAHABAT) Pahami Alasan, Mengapa Saya Tidak Ingin Punya Anak

Halo, sahabat RUNITA. Saat memasuki usia 30-an, saya merasa seperti membuka bab baru dalam perjalanan hidup saya. Saya ingin berbagi cerita mengenai keputusan saya untuk tidak memiliki anak.

Saya seorang perempuan saat ini hidup dan tinggal di Jerman. Sebagai catatan, cerita ini merupakan pandangan pribadi saya sebagai perempuan individu, bukan sebagai bagian dari pasangan.

Ada banyak alasan yang mendorong orang-orang, baik perempuan maupun laki-laki, memilih jalur yang sama dengan saya: memutuskan untuk tidak memiliki anak.

Pertama-tama, mari kita bicara tentang faktor psikologis. Trauma masa kecil atau tantangan kesehatan mental dapat menjadi beban berat yang menghambat seseorang menerima tanggung jawab sebesar menjadi seorang orang tua. Namun, ini tidaklah satu-satunya faktor.

Lingkungan dan masalah sosial juga memiliki peran yang signifikan. Dari kemiskinan hingga perubahan iklim, dari kelaparan hingga konflik sosial, semua ini memengaruhi cara kita memikirkan kemampuan kita untuk menciptakan lingkungan yang stabil dan aman bagi anak-anak.

Aspek budaya dan dinamika sosial juga ikut berperan. Perubahan peran gender dalam rumah tangga, serta tren gaya hidup, semuanya memengaruhi pertimbangan seseorang tentang menjadi orang tua.

Bagi saya, sudah lima tahun sejak saya mengambil keputusan untuk tidak memiliki anak. Keputusan tersebut bukanlah sesuatu yang terjadi secara tiba-tiba.

Sebaliknya, itu adalah hasil dari proses panjang mengenal diri sendiri dan pembelajaran dari lingkungan sekitar. Saya menyadari bahwa saya tidak mampu untuk komitmen atas hidup orang lain untuk sepanjang sisa hidup saya, baik secara psikis maupun material.

Ini tidak berarti saya menelantarkan atau memutuskan hubungan dengan orang tua, teman, atau pasangan. Tetapi saya menyadari keterbatasan saya dalam komitmen untuk melahirkan, merawat, mengasuh, dan bertanggung jawab atas kehidupan anak, apalagi dengan dinamika kehidupan sosial dan lingkungan yang berkembang sangat cepat.

Saya sendiri kadang kewalahan untuk menciptakan hidup yang seimbang bagi diri saya sendiri. Oleh karena itu, saya lebih memilih untuk menjaga keluarga yang saya miliki saat ini daripada menambahnya.

Anak adalah komitmen seumur hidup, dan saya sadar bahwa saya tidak sanggup untuk itu. Saya menghormati kedua orang tua saya dan juga orang tua lain yang telah mencurahkan kasih sayang, berkorban baik secara material maupun psikis untuk anak-anak mereka.

Orang tua adalah orang-orang yang tangguh, berani, dan luar biasa. Saya sadar bahwa jalan mereka tidak cocok bagi jalan hidup saya. Saya sering mengingat sebuah kalimat yang pernah saya baca, “Lebih baik menyesal tidak memiliki anak daripada menyesal memiliki anak.”

Saya tidak ingin mengekspresikan penyesalan kepada anak saya di masa depan. Saya lebih memilih hidup menyesali diri sendiri daripada menjadikan anak sebagai pelampiasan atas penyesalan itu.

Salah satu alasan tambahan adalah faktor kesehatan, terutama mengingat riwayat diabetes dalam keluarga saya. Beberapa bulan yang lalu, saat berkonsultasi dengan dokter keluarga, tes menunjukkan bahwa saya memiliki kondisi prediabetes, yang menempatkan saya pada risiko tinggi untuk mengembangkan Diabetes Melitus, terutama tipe 2.

Dokter saya menjelaskan bahwa kehamilan dapat menjadi salah satu pemicu diabetes, meningkatkan risiko saya untuk mengalami Diabetes Gestasional. Kondisi ini dapat berkembang selama kehamilan dan, jika tidak dikelola dengan baik, berpotensi mengganggu metabolisme bayi dalam kandungan dan meningkatkan risiko diabetes pada si anak masa mendatang.

Selain itu, saya juga mengidap PCOS atau sindrom ovarium polikistik. Ini adalah masalah kesehatan hormonal pada perempuan yang mempengaruhi siklus menstruasi, kesuburan, dan kemampuan tubuh dalam mengolah insulin. Prevalensinya sekitar 4-6 persen pada perempuan usia produktif di Indonesia. Siklus menstruasi saya tidak teratur sejak SMA.

Saya sempat mengabaikannya, tetapi ketika berlanjut di bangku kuliah, saya menyadari bahwa ada yang salah dengan tubuh saya. Tidak sampai pandemi COVID-19, saya berani untuk berkonsultasi ke dokter spesialis Obstetri dan Ginekologi. COVID-19 benar-benar mengubah pandangan saya untuk lebih peduli dengan kesehatan tubuh saya. Perjalanan diagnosa PCOS dan perawatannya tidak sebentar. Saya mengganti dokter beberapa kali baik di Indonesia maupun saat sudah tinggal di Jerman.

Saat ini, siklus saya sudah rutin berkat pengobatan yang saya jalani kurang lebih satu tahun. Meskipun siklus saya menjadi rutin, saya jadi mengalami gejala-gejala PMS yang jarang saya alami sebelumnya.

Selain itu, perempuan yang mengalami PCOS memiliki risiko tinggi gangguan kesuburan. Meskipun saya belum berkonsultasi atau melakukan uji kesuburan, saya merasa kemungkinan untuk hamil dengan mudah sangat kecil.

Bukan berarti perempuan yang memiliki risiko diabetes dan mengidap PCOS tidak bisa hamil atau memiliki anak. Ada banyak perawatan kesuburan yang ditawarkan saat ini yang dapat membantu perempuan dengan berbagai masalah kesehatan, ataupun opsi untuk mengadopsi anak.

Namun, bagi saya sudah berat untuk fokus membentuk dan menjaga pola hidup sehat, mengurangi dan mencegah risiko diabetes di masa mendatang. Saya tidak sanggup untuk juga memikirkan persiapan memiliki anak, kehamilan, melahirkan, dan merawat anak baik secara psikis maupun material. Dengan pemikiran saya yang sebelumnya ditambah dengan kondisi kesehatan saya, semakin menguatkan keputusan saya untuk tidak ingin memiliki anak. 

Apakah keputusan saya egois? Ini adalah pertanyaan umum yang sering ditujukan kepada orang-orang yang memilih untuk tidak memiliki anak. Bagi saya, tidak. Saya ingin sehat hingga usia lanjut dan membahagiakan keluarga, teman, dan pasangan saya selama mungkin. Pengertian tentang “egois” bersifat relatif dan tergantung pada pengetahuan, pengalaman, serta latar belakang individu.

Secara umum, bagi saya, orang-orang yang memilih untuk tidak memiliki anak memiliki pertimbangan-pertimbangan pribadi yang mungkin tidak mereka bagikan secara terbuka kepada publik. Kita tidak memiliki hak untuk menghakimi mereka atas keputusan tersebut. Beberapa mungkin memilih untuk tidak memiliki anak untuk mengakomodasi pasangan mereka yang mungkin mengalami kesulitan dalam hal kesuburan atau memiliki hambatan lainnya.

Atau mungkin mereka ingin mendedikasikan hidup mereka untuk melayani masyarakat lebih luas. Yang jelas, mereka adalah manusia yang memiliki hak untuk menjalani hidup mereka sesuai dengan kemampuan dan nilai-nilai yang mereka anut.

Tentu saja, ada saat-saat ketika saya meragukan keputusan saya yang dianggap “nyeleweng” oleh sebagian besar orang di Indonesia. Salah satu pemicunya adalah ketika saya melihat perempuan sebaya di sekitar saya satu per satu menikah, hamil, dan melahirkan anak, dan orang-orang mulai menyodorkan pertanyaan, “Kamu kapan?”. Namun, saya selalu kembali kepada nilai-nilai yang saya bangun dan juga mendengarkan apa yang tubuh saya butuhkan.

Tahap terberat dalam keputusan untuk tidak ingin memiliki anak adalah menyampaikannya kepada orang-orang di sekitar. Proses yang paling panjang dan berliku adalah menyampaikannya kepada orang tua. Saya belum bisa mengatakan bahwa orang tua saya seratus persen menerima keputusan saya, tetapi mereka berada dalam tahap penerimaan yang positif.

Saya melakukan pendekatan secara tidak langsung, di mana saya memulai dengan penjelasan bertahap mengenai kondisi kesehatan saya, masalah yang saya alami, dan dampaknya. Saya juga selalu menceritakan hasil setiap kunjungan saya ke dokter. Di antara obrolan-obrolan tersebut, saya menyelipkan pernyataan dan mengekspresikan ketidaktertarikan saya untuk hamil dan memiliki anak.

Selain itu, dengan usia saya yang belum menikah, hal ini semakin mencerminkan indikasi kuat akan keputusan saya.

Namun, saya merasa beruntung. Teman-teman dekat saya adalah orang-orang yang berpikiran terbuka. Mereka terlibat dalam perenungan dan diskusi sejak awal saya mengeksplorasi keputusan ini.

Mereka tidak pernah menghakimi, menyudutkan, atau memberikan tekanan kepada saya. Perlu diingat, teman dekat saya tidak banyak, dan saya tidak sembarang menceritakan keputusan ini kepada teman atau kolega di lingkaran yang lebih besar.

Saya selalu mempertimbangkan karakter dan keyakinan mereka, karena saya tahu di beberapa budaya, keputusan untuk tidak memiliki anak adalah isu yang sensitif atau bahkan tabu untuk dibahas. Saya bisa menerima kritik langsung, tetapi tidak sedikit orang yang lebih suka mencela di belakang, yang berujung pada gosip atau rumor yang meluas. Lagipula, tidak ada kewajiban bagi saya untuk membagikan keputusan atas tubuh dan kehidupan pribadi saya yang tidak memiliki dampak terhadap kehidupan mereka.

Mungkin ini juga yang mendasari keengganan banyak orang terutama perempuan untuk berbicara di publik tentang keinginan mereka untuk tidak memiliki anak. Selain stigma negatif yang melekat di beberapa budaya, juga rumor-rumor tidak sehat yang tidak hanya bisa menimbulkan masalah psikis tetapi juga dapat berdampak pada karier atau material seseorang, padahal tidak ada hubungannya sama sekali dengan keputusan untuk tidak memiliki anak.

Terkait dengan teman kencan atau pasangan, saya jelas dan berani. Saya selalu membicarakan masalah keputusan untuk tidak memiliki anak di tahap perkenalan, tanpa memandang latar budaya mereka. Bagi saya, percuma membangun hubungan jika tujuan akhirnya sudah berbeda.

Jika kami ternyata cocok dalam hal-hal lain, mungkin kami lebih cocok sebagai teman atau kolega daripada pasangan hidup. Saya tidak takut bahwa kejujuran dan keterbukaan saya, atau mungkin bagi sebagian orang “kelancangan” saya ini, akan mengakibatkan kehilangan kesempatan untuk memiliki teman kencan atau pasangan. 

Pesanku untuk sahabat RUANITA adalah bahwa dalam mengeksplorasi keputusan untuk tidak ingin memiliki anak, tidak perlu merasa sendirian atau takut. Proses ini bisa menjadi kompleks dan penuh dengan ketidakpastian, tetapi ingatlah bahwa banyak orang yang berbagi pengalaman dan perjuangan yang sama.

follow us: ruanita.indonesia

Jika kamu merasa tidak memiliki teman dekat atau orang di sekitarmu yang bisa diajak berdiskusi tentang masalah ini, jangan ragu untuk bergabung dengan komunitas anonim di media sosial atau mencari dukungan dari klinik psikologi atau LSM perempuan yang mungkin memiliki kelompok pendukung untuk masalah kewanitaan dan rumah tangga.

Jika kamu memiliki pasangan, penting untuk berdiskusi dan bertukar pikiran dengannya tentang keputusan ini, dan lebih baik lagi jika dialog dimulai sejak awal masa penelusuran dan penasaran. Ingatlah bahwa memahami dan mendukung satu sama lain dalam proses ini dapat membantu mengurangi beban dan meningkatkan kepercayaan diri dalam mengambil keputusan yang tepat untuk dirimu dan pasanganmu. Selain itu, semoga cerita ini bisa menginspirasi juga untuk semakin jujur dengan diri kita sendiri dan menjadi pendengar yang baik bagi tubuh kita.

Banyak tanda-tanda yang tubuh kita berikan tetapi lebih sering kita mengabaikannya, mendorong untuk menjadi denial. Alasan seperti “saya masih muda,” “tidak ada riwayat di keluarga,” “hanya lewat doang,” atau “masalah hormon itu sepele” mungkin adalah panggilan untuk lebih memperhatikan dan menggali lebih dalam. Bertanya ke ahli, mencari tahu, dan membaca lebih banyak tentang tubuh kita dapat membantu kita membuat keputusan yang lebih baik dan memahami diri kita dengan lebih baik pula.

Penulis: Anonim, tinggal di benua biru.

(PODCAST IN ENGLISH) Persiapan Pindah Ke Luar Negeri Pakai Visa Penyatuan Keluarga

Ruanita Indonesia baru saja meluncurkan program Podcast terbaru dalam Bahasa Inggris.

Program podcast yang berbicara seputar peran dan pengalaman perempuan di mancanegara akan dimoderasi oleh Aini Hanafiah dan Kristina Ayuningtyas yang sama-sama tinggal di mancanegara untuk mendampingi suami yang bertugas di mancanegara.

Aini sudah lebih lama ikut mendampingi suami bertugas sejak lebih dari sepuluh tahun. Kini Aini menetap bersama keluarganya di Norwegia.

Sedangkan Kristin baru saja ikut serta mendampingi suami bertugas di Slowakia. Keduanya terlibat obrolan asyik seputar bagaimana persiapan dokumen melalui visa penyatuan keluarga.

Follow us

Aini mengatakan bahwa berpindah dari satu negara ke negara lainnya menjadi pengalaman menarik sekaligus menantang.

Mungkin tidak semua orang mudah beradaptasi dan memulai kehidupan yang baru di suatu negara yang berbeda kultur dan bahasa sehari-harinya.

Aini bisa memahami pengalaman culture shock yang tentunya tidak mudah dialami dari satu negara ke negara lainnya.

Kristin berbicara tentang bagaimana dokumen yang juga harus dilengkapi, termasuk tahapan yang cukup melelahkan mengingat panjangnya birokrasi dan tuntutan dokumen yang dipenuhi.

Kristin sampai tidak bisa berbicara banyak, bagaimana upayanya untuk bisa tetap mendampingi suami bertugas di mancanegara.

Tentang Podcast Jibber-Jabber Indonesian Women Abroad

Podcast audio berbahasa Inggris ini inisiatif Ruanita Indonesia (www.ruanita.com), sebuah organisasi nirlaba yang berkomitmen menciptakan ruang aman bagi perempuan Indonesia di perantauan. Melalui Jibber-Jabber Indonesian Women Abroad, Ruanita Indonesia ingin menghadirkan refleksi perempuan Indonesia dengan interseksionalitas yang dialaminya dalam konteks transnasional, sebagaimana yang digagas oleh Anna Knöbl.

(CERITA SAHABAT) Ini Peran Orang Tua Agar Anak Bangga Beridentitas Sebagai Anak Kawin Campur di “Rumah Ketiga”

Halo, sahabat Ruanita. Perkenalkan saya adalah Berta yang lahir dan  tumbuh besar di Bandung, Indonesia. Saya sekarang berdomisili di kota Aalborg, Denmark sejak Juli 2022. Saat ini, pekerjaan saya sebagai tenaga sukarela (volunteer) di rumah sakit Aalborg dan juga menjadi ibu rumah tangga.

Awal mulanya, suami dan saya bertemu di platforma penfriends online di tahun 2000, hingga akhirnya kami pun berlanjut ke jenjang pernikahan pada tahun 2007, yang membuat saya tinggal di Belanda. Tahun 2022, suami saya mendapatkan pekerjaan baru di kota Aalborg dan kami pun pindah ke sini. 

Saya begitu bersemangat untuk bercerita pengalaman saya membesarkan anak-anak yang menarik dan sedikit menantang. Sedini mungkin, anak-anak saya paham tentang identitas mereka sebagai anak kawin campur, ibu dari Indonesia dan ayah dari Belanda.

Misalnya saja, pada usia mereka masih di bawah 5 tahun, saya sudah mengenalkan kepada anak-anak kalau mereka itu memiliki darah campuran Belanda dan Indonesia. Sepertinya, mereka tidak memiliki masalah dengan identitas campur mereka. 

Ketika anak pertama saya lahir, saya pun menggunakan Bahasa Indonesia untuk berkomunikasi dengan anak, sedangkan suami menggunakan Bahasa Belanda. Namun ternyata menurut pengamatan dari biro konsultasi anak di Belanda, anak saya mengalami keterlambatan bicara.

Mereka pun menganjurkan kami sebagai orang tua hanya menggunakan satu bahasa saja, yaitu Bahasa Belanda. Lalu, anak yang kedua dan ketiga pun tumbuh dengan satu bahasa saja. Ketika anak-anak memasuki usia sekolah dasar, saya pun sedikit memperkenalkan Bahasa Indonesia, tapi tidak sampai tingkat penggunaan bahasa untuk percakapan sehari-hari; hanya sekedar memperkenalkan bahasa ibu saja. 

Kembali lagi, soal anggapan banyak orang tentang kebingungan anak menggunakan bahasa sehari-hari, saya pikir itu semua bergantung pada preferensi pribadi masing-masing. Setelah anak pertama mengalami keterlambatan bicara, kami memutuskan untuk menggunakan satu bahasa saja untuk berkomunikasi sehari-hari.

Lalu ketika mereka bertumbuh besar, saya memperkenalkan bahasa Indonesia sedikit demi sedikit. Namun, saya juga mendengar, banyak keluarga perkawinan campur yang berhasil mendidik anak-anaknya fasih multi bahasa, tanpa mengalami kesulitan atau kebingungan bahasa. 

Saya pribadi mengajarkan kepada anak-anak untuk menggunakan panggilan seperti “kakak”, “abang”, “om”, “tante”, ketika mereka berbicara dengan orang yang lebih tua. Hal ini sulit buat anak-anak karena anak-anak tidak pernah menggunakan panggilan tersebut di Belanda, tidak seperti kebiasaan di Indonesia.

Anak-anak di Belanda memanggil nama untuk orang yang lebih tua, kecuali guru di sekolah. Anak-anak saya tumbuh besar dengan menu nasi dan lauk pauk mirip dengan Indonesia, kecuali makanan yang pedas. Jadi, mereka jarang sekali makan makanan seperti orang di Belanda, misalnya kentang rebus. 

Itu baru soal makanan anak-anak sehari-hari, lalu bagaimana soal identitas anak sebagai anak kawin campur? Jujur, kami tidak berdiskusi terlalu larut tentang identitas campur dari anak-anak. Anak-anak pun tidak pernah bertanya terlalu rumit soal identitas campur mereka. Ketika kami berlibur di Indonesia, kami mencoba memperkenalkan sedikit lebih jauh bagaimana Indonesia dan kebiasaannya.

Kami lebih banyak mengajarkan kepada anak-anak soal tata krama dan sopan santun. Kami mengajarkan misalnya, bagaimana mereka berkomunikasi dengan orang lain, bertanya yang sopan atau berterima kasih ketika mereka menerima sesuatu. Mereka pun mencoba untuk menerapkan ajaran kami tersebut baik, di dalam maupun di luar rumah. Ketika mereka “lupa”, kami akan terus mengingatkan mereka.

Follow us

Agar anak memahami perkembangan identitas sebagai anak kawin campur, yakni anak yang berasal ibu dan ayah yang berbeda budaya dan bahasa, dari awal suami dan saya memperkenalkan kepada anak-anak bahwa mereka mempunyai dua keluarga besar, di Belanda dan di Indonesia. Mereka memiliki kakek dan nenek dari dua negara. Jadi, anak-anak belajar untuk memanggil opa dan oma untuk kakek dan nenek dari Belanda, dan “ompung” untuk kakek dan nenek dari Indonesia. 

Kami pun memperkenalkan kepada anak-anak bahwa mereka memiliki dua paspor, karena mereka memiliki orang tua dari dua negara yang berbeda. Namun, ketika usia mereka 18 tahun, mereka pun harus melepaskan salah satu paspor tersebut. Kami menganjurkan anak-anak untuk melepas paspor Indonesia, dengan alasan yang sederhana.

Mereka lahir dan besar di Belanda, mereka sudah terbiasa dengan sistem Belanda. Mereka tentunya akan menghadapi kendala-kendala tertentu ketika mereka melepas kewarganegaraan Belanda dan pindah ke Indonesia. Namun, darah Indonesia mereka tidak akan pernah hilang dan tali silaturahmi dengan keluarga di Indonesia pun tidak akan pernah putus. 

Berbicara dengan pengalaman anak-anak dalam lingkungan sosial mereka, rupanya anak-anak saya tidak pernah mendapatkan pengalaman buruk di sekolah terkait dengan identitas campur mereka. Anak pertama dan kedua pernah mendapat tugas untuk memberikan presentasi di kelas, dan mereka memilih untuk mempresentasikan tentang Indonesia.

Mereka pun membawa kerajinan asli Indonesia seperti wayang, angklung, gamelan, dan batik yang kami punya di rumah. Guru dan teman-teman di kelas sangat terkesan dengan presentasi tentang Indonesia, yang dibawakan anak saya. 

Ada pengalaman lucu sebenarnya yang dialami oleh anak bungsu saya. Waktu itu, ada temannya datang bermain ke rumah. Ketika mereka sedang bermain, anak bungsu saya ini memanggil kakak sulungnya dengan panggilan “kakak”. Teman sepermainan anak saya ini bingung, lalu kami jelaskan apa maksud panggilan “kakak” tersebut.

Sejak saat itu, setiap kali teman anak bungsu saya ini datang bermain ke rumah, dia pun ikut memanggil anak sulung saya dengan sebutan “kakak”. Bagaimanapun, budaya bentuk sapaan seperti kakak, adik, bapak, ibu, dan lainnya merupakan budaya Indonesia, yang ini berbeda dengan kebiasaan dengan orang-orang di sini.

Tentunya sebagai orang tua, kami perlu bekerja sama sebagai ayah dan ibu untuk terus mengingatkan anak-anak, bahwa mereka adalah anak-anak yang beruntung dengan memiliki identitas campur. Mereka harus bangga dengan identitas mereka. Namun, tantangan yang paling berat adalah menerapkan ajaran tata krama dan sopan santun di tengah-tengah masyarakat yang terlalu menerapkan kebebasan yang agak berlebihan.

Misalnya di Denmark, remaja usia 16 tahun sudah diijinkan untuk membeli minuman beralkohol dengan batas tertentu, seperti bir di supermarket. Anak sulung kami sudah berusia 16 tahun. Kami pun terus mengajarkan bahwa minuman beralkohol itu sangat tidak baik untuk kesehatan. Sama halnya kami mengajarkan tentang perilaku merokok pada remaja, baik itu rokok yang umum maupun rokok elektrik seperti vape. 

Menurut saya, fondasi anak-anak dari pengasuhan dalam keluarga sangat penting, sebelum mereka keluar rumah. Anak-anak harus terus diajarkan dan diingatkan, mana yang baik dan mana yang buruk.

Anak-anak harus terus diajarkan untuk tidak terpengaruh dengan teman-teman sekitarnya, terus diajarkan untuk berani berkata tidak, kalau mereka diajak untuk berbuat sesuatu yang salah. Orang tua perlu mengajarkan kebiasaan-kebiasaan yang baik dari kedua negara, dalam hal ini Belanda dan Indonesia. 

Ketika anak-anak masuk ke tengah-tengah masyarakat di Denmark, mereka telah beradaptasi dengan kebiasan-kebiasaan baik yang diajarkan orang tua. Seperti contoh, hierarki itu hampir tidak ada di Denmark. Anak-anak memanggil guru bahkan kepala sekolah langsung dengan nama, dan sampai saat ini anak-anak saya tidak terbiasa dengan kebiasaan itu.

Mereka menghindari untuk memanggil guru dengan nama langsung. Di sisi lain, Denmark memiliki budaya “janteloven”, di mana mereka tidak pernah memamerkan harta benda, kemewahan yang mereka miliki. Sebagai orang tua, ini kebiasaan baik yang kami bisa terapkan untuk anak-anak di rumah ketiga mereka, Denmark.

Anak-anak pun belajar untuk tidak pamer dengan kemewahan, bahkan tidak pamer dengan kepintaran yang dimiliki, tetap down to earth. Intinya, kami mengajarkan kepada anak-anak untuk tidak pernah lupa dengan apa yang kami ajarkan dan asal usul mereka sebagai anak kawin campur, di manapun kami tinggal atau mereka akan tinggal nantinya ketika mereka dewasa.

Penulis: Berta Situmeang, yang tinggal di Denmark dan dapat dihubungi via media sosial Facebook: Berta Situmeang atau Instagram: adenk_bvs.

(IG LIVE) Menyiasati Posisi Generasi Sandwich Saat Tinggal di Luar Indonesia

Dalam diskusi IG Live episode Juli 2024 mengangkat tema generasi sandwich, yang mungkin banyak relate dengan sahabat Ruanita yang tinggal di luar Indonesia dan sedang berada dalam posisi ini.

Namun begitu, tak banyak juga yang tahu istilah generasi sandwich tetapi kita telah berperan sebagai generasi sandwich meski tinggal jauh berada di luar Indonesia.

Untuk membahas lebih dalam, kami mengundang sahabat Ruanita yakni Ranindra Anandita, seorang Psikolog yang bermukim di Prancis dan Alfa Kurnia, seorang Mom Blogger yang tinggal di Brunei Darussalam.

Diskusi IG Live ini sepenuhnya dimoderasi oleh Rida Luthfiana Zahra, seorang relawan Ruanita yang sedang menempuh studi S2 di Jerman.

Banyak orang awam beranggapan bahwa generasi sandwich hanya terjadi di Indonesia atau Asia saja, padahal Ranindra menegaskah ada juga posisi generasi sandwich terjadi di Eropa atau Amerika saja.

Namun, cara pandang budaya di Asia atau Indonesia justru memperkuat dan menegaskan bahwa anak perlu bertanggung jawab kepada orang tua yang sudah melahirkan dan merawat sebelumnya.

Follow us

Sementara di budaya barat, peran ini ada tetapi diperkuat lagi dengan fasilitas yang tersedia bahwa orang-orang tua pun bisa mandiri atau tinggal di panti jompo.

Sementara Alfa Kurnia juga menceritakan bahwa tinggal di luar Indonesia itu tidak mudah dan tidak murah. Hal ini banyak tidak dipahami keluarga-keluarga di Indonesia yang menganggap tinggal di luar Indonesia itu lebih dari berkecukupan daripada tinggal di Indonesia.

Padahal berada dalam posisi generasi sandwich dan tinggal di luar Indonesia adalah dilema yang membuat mereka terbebani, bahkan tidak mungkin menjadi burnout.

Generasi sandwich ini juga bisa memunculkan intergenerational traumatic akibat anak-anak mengamati bagaimana relasi orang tua dengan nenek-kakeknya selama ini. Kita perlu memperhatikan bagaimana anak-anak memandang hal tersebut.

Peran menjadi generasi sandwich tidak hanya seputar tanggung jawab moral saja, tetapi juga tanggung jawab financial yang tidak mudah juga. Kita perlu bersikap hati-hati agar tidak memunculkan mindset yang berujung ke trauma untuk generasi berikutnya.

Lalu apa sih sebenarnya generasi sandwich itu? apakah generasi sandwich hanya terjadi di Indonesia atau Asia saja? Apakah benar generasi sandwich itu bisa menimbulkan burnout atau masalah mental di kemudian hari? Bagaimana sebaiknya kita bisa menyiasati tinggal di luar Indonesia tetapi masih terbenani dengan posisi generasi sandwich? Apa pesan dua tamu diskusi IG Live ini untuk sahabat Ruanita yang sedang menjalani peran generasi sandwich?

Simak diskusi IG Live selengkapnya di kanal YouTube kami sebagai berikut:

(PODCAST RUMPITA) Mulai Studi di Inggris Hingga ke Islandia Menuju Karier Internasional

Pada episode ke-27 ini, Podcast RUMPITA mengundang Dyah Anggraini C. yang kini menetap di Islandia.

Sebagai seorang ibu dan pekerja yang berkarier internasional, Dyah membagikan pengalaman hidupnya bagaimana studi pertama kali di mancanegara, yang dimulai dari Inggris.

Dyah pun sempat kembali ke Indonesia, dan kemudian memutuskan tinggal di Islandia.

Pernah bekerja di bidang financial and banking di Indonesia, Dyah pun mendalami studinya di Inggris.

Dyah pun tidak merasakan perbedaan yang besar antara berkuliah di Inggris dengan berkuliah di Islandia.

Mungkin perbedaan yang mencolok yang dialami seperti sistem penilaian yang berbeda, antara berkuliah di Inggris dengan di Islandia.

Follow us

Alasan keluarga membuat Dyah memutuskan pindah ke Islandia dan melanjutkan studi kembali di Islandia.

Tinggal di Reykjavic, ibukota Islandia, tentunya berbeda sekali dengan iklim dan suasana alamnya yang dirasakan Dyah, terutama saat musim panas atau musim dingin.

Dyah pun menceritakan bagaimana dukungan pemerintah Islandia saat dia sedang menyelesaikan studi dan baru saja melahirkan anaknya.

Tentunya, dukungan suami dan pengelolaan peran sangat diperlukan agar seimbang, sehingga kini Dyah pun tetap bekerja secara global bersama dengan orang-orang dari berbagai negara.

Apa saja perbedaan studi antara di Inggris dengan di Islandia? Bagaimana pendapat Dyah tentang iklim dan budaya orang-orang Islandia? Apa saja potensi yang bisa dilakukan warga Indonesia bila ingin studi atau berkarier di Islandia? Apa saja tantangan dan kesan yang dialami Dyah studi dan tinggal di Islandia? Apa pesan Dyah untuk orang Indonesia yang ingin wisata, studi, atau bekerja di Islandia?

Simak selengkapnya dalam diskusi Podcast RUMPITA, Rumpi bersama Ruanita, berikut ini:

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Tujuh Tahun Terpisah dari Anak, Usai Bercerai di India

Dalam episode cerita sahabat spesial di bulan Juni 2024, Ruanita Indonesia mengangkat cerita dari India terkait pelaksanaan Hari Janda Sedunia, yang diperingati setiap 23 Juni. Oleh karena itu, kami mengundang Dianita Pramesti yang tinggal di India dan bekerja sehari-hari sebagai pengajar di salah satu taman kanak-kanak atau Preschool di Goa, India.

Dianita adalah ibu dari dua orang putra, dari hasil perkawinannya dengan pria asal Goa, India. Di India, anak laki-laki begitu mendapat tempat istimewa dalam keluarga. Menjadi janda, terpisah dari anak kandung dan bertahan hidup di India yang tak mudah bagi Dianita saat itu.

Ini berbeda dengan anak-anak perempuan di India, ketika mereka tumbuh dewasa dan menikah, kebanyakan mereka akan ikut dan tinggal di pihak keluarga suami. Ketika perempuan menikah di India, perempuan pun perlu menyerahkan mas kawin kepada pihak keluarga laki-laki.

Sekelumit cerita Dianita tentang bagaimana dia mengenal betul kultur India, yang menjadi rumah keduanya sekarang. Awalnya, dia bertemu dengan pria berkewarganegaraan India yang kemudian membuatnya untuk menikah dan memutuskan tinggal di India.

follow us

Dianita mengakui dia sudah berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan pernikahannya, tetapi pada akhirnya mantan suaminya tersebut memutuskan untuk pergi ke negara lain dan bekerja di sana. Mantan suaminya pun telah menemukan tambatan hati yang baru.

Setelah Dianita terpisah dari suaminya, kedua putranya terpaksa tinggal bersama keluarga di pihak mantan suami. Anak-anak Dianita diasuh dan dibesarkan oleh keluarga mantan suami. Sesekali Dianita bisa berkunjung untuk melihat kedua putranya, misalnya kalau mereka berulang tahun.

Keluarga pihak mantan suami tidak mengizinkan kedua putranya Dianita tinggal bersamanya, meskipun ayahnya dari kedua putranya pun tidak ikut mengasuh mereka. Selama tujuh tahun, Dianita berjuang untuk bertahan hidup di India dan memperjuangkan hak asuhnya agar bisa bersatu kembali dengan anak-anaknya.

Dianita mengakui itu tidak mudah, apalagi Dianita saat itu sudah menjadi janda dan harus menghidupi dirinya sendiri. Beruntung ada banyak pihak yang menolong Dianita, sehingga perjuangannya tidak sia-sia. Dia berhasil mendapatkan hak asuh anaknya, walaupun dia harus membayar mahal pihak pengacara di sana.

Kalau Anda bersimpati terhadap cerita Dianita dan ingin membantu secara finansial, silakan mendapatkan kontak Dianita dengan menghubungi email Ruanita Indonesia.

Apa yang terjadi dengan Dianita sehingga dia tinggal dan berpisah dengan suaminya? Bagaimana perjuangan Dianita mendapatkan hak asuh anaknya? Siapa saja stakeholders yang sudah membantu Dianita untuk keluar dari permasalahan hak asuh anaknya? Setelah mendapatkan hak asuh anaknya, bagaimana kehidupan Dianita sekarang? Apa pesan Dianita kepada kita semua?

Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan tayangan video berdurasi sekitar 10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube Ruanita Rumah Aman Kita dan dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebagai ruang aman berbagi cerita inspiratif perempuan Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Program ini mengangkat pengalaman nyata, perjuangan, serta refleksi para perempuan dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mendorong promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Digagas oleh Anna Knöbl di Jerman, CSS menjadi wadah yang memperkuat suara perempuan, membangun solidaritas, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keadilan serta kesempatan yang setara bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan.

Simak selengkapnya di kanal YouTube kami berikut ini dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

SUBSCRIBE kanal YouTube kami agar kami dapat berbagi lebih banyak lagi.

(IG LIVE) Bagaimana Adaptasi Budaya dan Sekolah Anak yang Pindah Sekolah ke Mancanegara?

Dalam diskusi IG Live yang diselenggarakan pada bulan April 2024, Ruanita Indonesia mengambil tema parenting, yang khususnya tentang bagaimana adaptasi sosial dan budaya pada anak apabila anak berpindah sekolah ke luar negeri.

Bagaimana pun urusan kepindahan sekolah anak ke luar negeri, ternyata bukan hanya soal administrasi saja.

Melalui diskusi sekitar tiga puluh lima menit, Ruanita Indonesia mengajak orang tua untuk berbagi saran dan pengalaman agar dapat mengatasi permasalahan sosial dan budaya yang dihadapi anak.

Dalam diskusi yang dipandu oleh Rida Luthfiana Zahra, yang adalah mahasiswi S2 di Jerman, mengundang dua tamu yang tinggal di Jerman dan Korea Selatan.

Mereka adalah Citra Dewi, seorang ibu yang tinggal di Korea Selatan dan Nadiya Dewantari, seorang ibu yang tinggal di Jerman. Nadiya merasa kesulitan juga untuk menjelaskan ke anak-anak bahwa mereka harus pindah ke negara lain, padahal anak-anak sudah merasa nyaman di Jepang, negara pertama sebelum pindah ke Jerman.

Nadiya membuat contoh-contoh yang mudah dicerna anak ketika anaknya sedang berusia lima tahun untuk berpindah sekolah ke Jerman, dari negara Jepang.

Citra menjelaskan bahwa perpindahan sekolah anak ke Korea Selatan, bukan hal yang direncanakan. Citra mengakui bahwa tantangan yang dihadapi anak saat pindah, lebih pada kesulitan anak mempelajari Bahasa Korea.

Citra berusaha untuk mengatasi tantangan perpindahan sekolah anak ke Korea Selatan dengan datang ke Multicultural Centre.

Follow us

Menurut Nadiya, kunci perpindahan sekolah anak ke luar negeri ada di orang tua, seperti berbagi peran antara ibu dan ayah untuk memberikan motivasi kepada anak-anak, yang disesuaikan dengan cara pandang dan usia perkembangan anak.

Sedangkan Citra berpendapat, orang tua tidak perlu khawatir apabila ingin membawa serta anak ke mancanegara dalam rangka bertugas. Selain itu, saran Citra orang tua perlu aktif untuk mencari tahu bagaimaan situasi sosial dan budaya yang menjadi negara tujuan anak agar anak tidak mengalami permasalahan.

Apa saja yang diperlukan bagi ibu untuk mempersiapkan kepindahan sekolah anak ke luar negeri? Apa saja tantangan yang dihadapi anak yang pindah sekolah ke Jepang, Jerman, atau Korea Selatan?

Bagaimana peran orang tua untuk membantu anak menyesuaikan budaya dan sosial saat anak berpindah sekolah? Apa saran Nadiya dan Citra untuk orang tua yang bertugas ke mancanegara dan perlu membawa serta anak-anak untuk pindah sekolah?

Simak diskusi IG Live selengkapnya dalam kanal YouTube kami berikut ini:

Silakan subscribe kanal YouTube kami agar kami dapat berbagi lebih banyak lagi.

(CERITA SAHABAT) Usahaku Untuk Punya Anak

Sahabat Ruanita, perkenalkan namaku Renata. Aku tinggal di Belanda bersama suamiku dan anak kami yang berumur dua tahun. Aku dan suamiku menikah sejak tahun 2016, saat umurku sudah 34 tahun. Sejak itu kami berusaha untuk hamil, tetapi berkali-kali gagal. Pada akhirnya di tahun 2022, aku berhasil hamil dan anak kami lahir.

Setelah menikah, aku datang ke dokter kandunganku untuk minta rujukan ke klinik reproduksi, karena umurku yang waktu itu sudah tidak muda lagi. Beliau tidak langsung memenuhi permintaanku, tetapi menyuruh kami berusaha dulu sendiri selama satu tahun. Saat itu, suamiku dan aku masih tinggal terpisah karena alasan pekerjaan. Walaupun suamiku orang Jerman, tapi dia tinggal di Belanda, sedangkan aku tinggal di utara Jerman. Dokter kandunganku juga memberikan tips agar cepat hamil, sayangnya tidak berhasil.

Setahun kemudian, aku kembali ke dokterku, ternyata dia sudah pensiun dan diganti dokter lain. Sebelum memberikan rujukan, dia menyarankanku untuk tes ini dan itu, untuk mencari tahu penyebab susah hamil yang aku alami. Aku menolak, karena aku sudah mencoba secara alami seperti saran dokter sebelumnya dan biasanya di klinik reproduksi juga akan dicek semuanya. Akhirnya, aku dapat surat rujukan itu. 

Di klinik reproduksi, (Kinderwunschzentrum dalam bahasa Jerman) aku dijelaskan tentang tahap-tahap program punya anak sesuai dengan asuransiku. Aku hanya mempunyai asuransi umum, karena program kehamilan itu juga terbatas. Pada tahap pertama, kami dijelaskan penyebab-penyebab susah hamil. Selain tes hormon, rahimku juga diperiksa oleh mereka. Menurut mereka, tubafalopi kiriku tertutup dan ada polip di sana. Oleh karena itu, mereka melakukan operasi kecil untuk membuka pintu jalan tubafalopi itu ke rahimku dan mengangkat tiga polip yang sebesar buah ceri. Setelah itu, aku tidak boleh berhubungan seks selama tiga bulan.

Usai pasca operasi, aku kembali ke sana. Ternyata mereka menemukan polip lain, sehingga aku harus kembali ke ruang operasi. Setelah operasi pengangkatan, tetap saja aku belum hamil. Baru saat itulah, mereka menyarankan agar suamiku juga diperiksa. Hasilnya adalah sperma suamiku bermasalah. Kami susah hamil karena ada masalah dengan rahimku dan sperma suamiku. Setelah proses ini, kami kemudian bisa merencanakan proses inseminasi. Pengalamanku membuat janji di klinik reproduksi untuk proses ini tidak mudah, ditambah suamiku tinggal di negara lain. Di tahun 2017, aku pindah kerja ke Düsseldorf, sebuah kota di perbatasan Jerman dengan Belanda, agar bisa bertemu lebih sering dengan suamiku. Proses inseminasi ini dilanjutkan di sana. 

Asuransi umum di Jerman memberikan kesempatan delapan kali inseminasi dalam waktu dua tahun. Setelah kesempatan ini habis, baru proses bayi tabung bisa direncanakan. Total aku melakukan empat kali inseminasi. Dua kali berhasil hamil, tetapi keduanya aku keguguran. Aku putus asa, walau dokter bilang aku mengalami kemajuan karena terbukti bisa hamil.

Follow us

Aku meminta dokterku untuk langsung mencoba program bayi tabung karena umurku yang tidak lagi muda. Dokter kemudian membuat rencana program bayi tabung dan memberikan kami perkiraan biaya, yaitu sebesar 12.000-15.000 Euro yang harus kami bayar sendiri. Menurut hasil pemeriksaan mereka, hanya suamiku yang punya masalah sehingga aku susah hamil. Padahal menurut hasil pemeriksaan di kota sebelumnya, aku juga punya masalah. Sayangnya, suamiku tidak punya asuransi di Jerman, sehingga biaya tersebut harus kami tanggung sendiri. 

Setelah diskusi tersebut, kami berpikir untuk mencoba juga di Belanda. Sebelum aku memulai program bayi tabung, aku sempat hamil alami. Aku senang sekali bisa hamil sendiri tanpa bantuan, tapi sayangnya aku keguguran lagi. Waktu itu, aku posisinya baru pindah ke Belanda. Aku tidak mengerti harus ke mana, karena tidak seperti di Jerman yang banyak klinik dokter kandungan. Di lokasi tinggalku Belanda, aku tidak tahu di mana. Semua harus diurus di rumah sakit. Akhirnya, aku buat janji lagi dengan dokterku di Düsseldorf. Sayangnya, aku keguguran sebelum sempat ke sana untuk periksa kehamilan. 

Aku ingat, hari itu adalah hari sabtu. Praktik dokter tutup dan aku mengalami pendarahan saat berada di rumah kami di Belanda. Akhirnya, aku dan suamiku pergi ke Unit Gawat Darurat (UGD) di Düsseldorf. Menurut dokter jaga, wajar berdarah saat hamil, dan detak jantung janin juga masih ada. Malam itu, kami kembali ke rumah kosku di Düsseldorf. 

Keesokan harinya pendarahanku semakin parah, kami kembali ke UGD. Di sana dokter mengatakan detak jantung janinku sudah tidak ada. Duniaku runtuh, seperti lantai ditarik dari kakiku. Aku masih menyangkal dengan berpikir, “Masak sih? Kemarin masih ada (detak jantungnya). Salah kali alatnya. Salah kali dokternya.” Kami pulang kembali ke rumah kosku.  

Jam tiga pagi aku terbangun karena perutku sakit. Saat di atas toilet, aku merasa ada yang keluar. Aku pegang, bentuknya kecil seperti gummy bear. Saat itu aku tidak tahu itu apa. Antara sadar dan tidak sadar, aku flush dia ke dalam toilet. Belakangan aku baru sadar, kenapa waktu itu aku flush dia dan tidak  aku makamkan? Namun, pada saat kejadian tersebut, aku masih dalam fase penyangkalan. Dan semua itu terasa seperti mimpi. Aku masih berpikir itu bukan bayiku, bayiku masih di dalam rahimku. Setelah itu, aku langsung membangunkan suamiku, karena aku mengalami pendarahan hebat. Pada malam tersebut, aku dikuret di rumah sakit dan dirawat inap satu malam. Dokter di UGD menyarankan aku untuk melakukan pemeriksaan genetik, setelah dia tahu bahwa ini adalah keguguranku yang ketiga. Keguguran ini juga membuatku mengalami depresi dan sempat menerima terapi psikologi.

Beberapa bulan setelah keguguran ini, aku mendatangi klinik di Jerman untuk pemeriksaan genetik, seperti yang disarankan oleh dokter UGD. Tes hormon dilakukan untuk mengetahui alasan keguguran yang aku alami tiga kali. Dari pemeriksaan, ditemukan aku mengalami antiphospolipid syndrome (APS) pada kehamilan, yang membuat tubuhku melihat janin sebagai benda asing. Untuk mengusir “benda asing” ini, terjadi pengentalan darah di rahimku. Mereka memberikan saran, kalau aku hamil lagi aku harus dapat suntikan pengencer darah.

Sambil pemeriksaan ini, aku juga mendatangi klinik reproduksi di Belanda. Aku ceritakan tentang diagnosa tersebut, dokternya berkata “Tugas saya hanya membuat orang hamil, bukan mempertahankan kehamilan.” Namun, dia juga mendiskusikan hal ini ke dokter kandungan. 

Program hamil di Belanda sedikit berbeda dengan di Jerman. Di Belanda, semua biaya di-cover oleh asuransi. Tidak ada istilah, siapa yang “salah” dia yang harus bayar program hamil. Padahal saat di Jerman, kami disodori perkiraan biaya karena suami “penyebab” aku susah hamil. Oh ya, sebelum program bayi tabung dimulai, suami dites kembali oleh klinik reproduksi di Belanda. Hasilnya, dia sehat dan spermanya baik-baik saya. Hal ini bertentangan dengan dua hasil tes di Jerman. Batas umur di Belanda juga lebih tinggi, yaitu 43 tahun, sedangkan di Jerman 40 tahun. Di Belanda, aku mempunyai tiga kali jatah untuk program bayi tabung. Semuanya gratis.

Saat pertama kali datang ke klinik reproduksi, aku langsung dikasih resep obat suntik untuk menstimulasi hormon tubuh agar sel telurku keluar. Obat ini harus aku suntikan ke diriku sendiri selama 10 hari, dimulai dari hari pertama menstruasi. Mereka juga memberikan checklist, apa saja yang aku harus lakukan setiap hari, termasuk jam berapa aku harus disuntik. Setelah 10 hari pemberian suntikan, aku diminta datang lagi ke klinik untuk dicek, apakah ada sel telur yang siap untuk keluar.

Program pertama ini seperti percobaan untuk mengetahui berapa dosis yang sebenarnya dibutuhkan tubuhku. Dalam program pertama ini aku tidak hamil, karena dosisnya terlalu kecil untuk tubuhku, sehingga tidak ada reaksi apa pun. Pada program kedua, dokter memberikan dosis dua kali lebih besar dari dosis pertama. Dokter mengatakan itu adalah dosis tertinggi. Aku tidak akan diberikan lebih dari dosis tersebut. 

Berbeda dengan program pertama, di mana sel telurku tidak muncul, pada program kedua ini sel telurku ditemukan di tubafalopi kanan dan kiri. Jumlah dan ukuran mereka juga, ada yang siap untuk keluar dari tubafalopi. Setelah dilakukan pengecekan, aku diminta untuk tidak menyuntik lagi malam itu. Sebagai penggantinya, aku diberikan suntikan agar merangsang sel telur untuk keluar keesokan harinya. Aku diminta untuk menyuntik sendiri di rumah pada jam yang sudah ditentukan klinik. Mereka sudah memperhitungkan agar sel telur keluar saat aku berada untuk proses pengambilan sel telur dari folikel. Setelah sel telur diambil lewat vagina, pembuahan dilakukan saat itu juga. Suamiku datang 30 menit sebelumnya, agar spermanya bisa dibersihkan dan dipilih yang paling baik. 

Di Belanda, sel telur yang sudah dibuahi akan dikembalikan ke rahim setelah tiga hari, sedangkan di Jerman lima hari. Perbedaan lain, Belanda lebih hemat menggunakan obat bius pada saat proses pengambilan sel telur. Hanya bius lokal, bukan bius total seperti di Jerman. Pemeriksaan darah dan USG juga lebih hemat. Waktu aku hamil inseminasi di Jerman, aku periksa darah setiap dua hari. Di Belanda tidak seperti itu. Aku harus menunggu delapan minggu sampai aku boleh periksa darah dan USG untuk mengetahui, apakah ada detak jantung janinku atau tidak. Aku merasakannya, delapan minggu terlama di hidupku. Apakah janin berkembang atau tidak, kita tidak bisa melakukan apa-apa lagi, menurut pendapat dokter kandunganku di Belanda. Bagaimana pun, itu sudah menjadi takdir. Alhamdulillah, aku benar-benar hamil. 

Di awal kehamilan, aku kembali ke Düsseldorf untuk pemeriksaan genetik. Aku diberikan obat pengencer darah yang harus aku suntikkan setiap hari hingga enam minggu setelah melahirkan. Selama hamil, aku juga lima kali harus diopname karena pendarahan. Akibat obat pengencer darah itu, memang aku gampang berdarah. Karena aku sedang hamil dan masih di bawah berusia tiga bulan, kami langsung ke UGD untuk pemeriksaan. Waktu itu, aku tidak ada pilihan lain, sehingga aku menjalaninya saja. Aku juga berpikir, semua ini akan selesai begitu anakku lahir. Selama kehamilan, aku mengatakan ke suami, kalau aku hanya ingin hamil sekali ini saja. Namun, begitu anakku sudah lahir, aku lupa sakitnya berbagai suntikan-suntikan itu.

Adopsi juga merupakan salah satu opsi untuk aku dan suamiku. Bahkan sampai sekarang, suamiku masih bilang untuk mengadopsi anak kedua. Begitu kami dihadapi pada pilihan tersebut, kami sejujurnya merasa sulit juga memutuskan, karena kami tidak tahu latar belakang keluarga dan kesehatannya. Selain itu, anak adopsi pun tidak lahir dari rahimku sendiri, sehingga aku takut tidak bisa menyayanginya seperti menyayangi anak kandung sendiri. Namun, sekarang saat aku sudah punya anak kandung, apakah aku bisa adil dengan anak kandung dan anak adopsi? Jawabannya tidak mungkin untukku. Jika anakku mungkin sudah besar, aku akan mempertimbangkannya lagi.

Kami memang ingin memiliki anak lagi. Di Belanda, jika program hamil berhasil, maka orang tua kembali mempunyai tiga kali kesempatan untuk mencoba program hamil. Setahun anakku lahir, kami mencoba lagi. Sayangnya gagal. Bulan Januari tahun ini, kami juga mencoba lagi untuk kedua kalinya. Sayangnya, kembali gagal. Kami sebenarnya masih punya satu kali kesempatan lagi, tetapi sepertinya tidak akan kami ambil lagi, karena perubahan situasi hidup kami. Suamiku kembali bekerja dan tinggal di Jerman, sedangkan aku dan anakku masih tinggal di Belanda sampai kontrak kerjaku di Belanda selesai pada pertengahan tahun ini.

Untuk Sahabat Ruanita yang sedang berusaha untuk hamil, jangan menyerah! Aku tahu bagaimana rasanya, seperti jatuh ke jurang setiap menstruasi. Ini seumpama, kita berusaha naik ke lembah jurang tersebut, setiba di atas, kita sudah jatuh ke jurang lagi, karena ternyata kita menstruasi lagi. Teknologi kesehatan zaman sekarang sudah maju sekali. Aku sendiri takjub dengan majunya teknologi kehamilan saat ini. Kita bisa mencari tahu penyebab gagalnya kehamilan dan keguguran, meskipun kita mungkin tidak mendapatkan jawaban dan solusinya. Aku bersyukur bahwa aku mendapatkan rujukan untuk tes genetik dan mendapatkan solusi agar keguguran tidak lagi terjadi, yaitu suntik hormon selama sembilan bulan kehamilan.

Aku juga bersyukur bahwa aku tinggal di luar Indonesia, sehingga tidak ada yang sering bertanya, “Kapan hamil?”. Menurutku, pertanyaan tersebut tidak sensitif sama sekali sekali. Kita tidak tahu, apa yang mereka hadapi, sehingga membuatnya susah hamil. Selama ini, aku menghibur diriku sendiri dengan mengatakan, setidaknya  tidak ada yang bertanya “Kapan hamil?”. Awalnya, orang tua dan saudaraku juga bertanya tentang kehamilanku. Setelah aku menjelaskan masalahnya, mereka berhenti bertanya. Sepertinya, itu sudah takdir. 

Aku juga bersyukur, ada asuransi kesehatan, sistem, dan fasilitas klinik reproduksi di Jerman dan di Belanda. Di sini, aku bisa berusaha tanpa kendala biaya karena itu gratis. Kita hanya perlu rajin mencari tahu tentang prosesnya saja. Kalau ada Sahabat Ruanita yang berumur di atas 40-an dan ingin mencoba program bayi tabung, bisa langsung menegosiasikan ke dokter, karena pihak asuransi akan mendengarkan dokter terlebih dulu. Dahulu aku patuh dengan aturan (asuransi) di Jerman, sehingga sepertinya banyak waktu terbuang untuk birokrasi. Mungkin jika saat itu aku tidak pindah ke Belanda, kami akan mengusahakan program bayi tabung dengan biaya yang disebut oleh dokter kami di Düsseldorf.

Dari satu keguguran ke keguguran lain, telah membuatku sulit menerimanya. Pada akhirnya, aku berpikir memang itu belum takdirnya saja. Bisa jadi, itu merupakan bentuk proteksi pada diri kita sendiri dan calon bayi. Aku juga belajar, ini bukan hanya usaha ibu untuk hamil, melainkan usaha bayi untuk bertahan hidup. Setiap bayi yang lahir sudah berjuang sangat kuat sejak dini. Setelah pembuahan, baik kehamilan alami atau buatan, belum tentu dia akan menjadi embrio. Kalau pun menjadi embrio, belum tentu dia bisa bertahan dalam rahim. Kalau pun dia bertahan, bisa jadi juga kromosomnya lebih atau kurang. Jika ini terjadi, bayi yang lahir belum tentu bisa berjuang hidup. Berdasarkan hasil refleksiku tersebut, jika anakku mulai rewel, maka aku sering menarik nafas dan mengingat lagi, bagaimana usahaku memiliki anak. Namanya juga anak kecil, dia mungkin sering rewel.

Seandainya aku bisa berbicara ke my younger self, aku mau mengatakan, kamu perlu menikmati hidup sebelum hamil. Saat hamil, kamu mungkin sudah tidak bisa melakukan ini dan itu. Misalnya, kamu mendapatkan menstruasi saat sedang berusaha hamil, itu tidak apa-apa untuk merasa sedih. Namun, jangan berlarut-larut! Dahulu, aku berkutat pada rencana kehamilanku. Setiap merencanakan sesuatu, aku selalu berpikir “Bagaimana kalau aku hamil?”. Aku pernah berpikir, “Liburan ke Indonesia sekarang saja, kayaknya karena tahun depan aku hamil.” Begitu aku tidak hamil, sakit sekali rasanya. Aku seperti tidak menikmati momen saat sedang tidak hamil itu. Jangan sampai kita bergantung pada pertanyaan, “Bagaimana kalau hamil?”.

Diceritakan oleh Renata, ibu anak satu yang tinggal di Belanda. Ditulis oleh Mariska Ajeng, relawan Ruanita Indonesia dan mengelola program Cerita Sahabat di Ruanita. (www.mariskaajeng.com).

(PODCAST RUMPITA) Bagaimana Pengalaman Mahasiswi Asal Jerman Magang dan Tinggal di Indonesia?

Memasuki episode ke-24 dari diskusi Podcast Rumpita, Ruanita Indonesia mengundang Sahabat Ruanita yang berasal dari Jerman dan pernah tinggal di Indonesia untuk bekerja magang dan ikut program pertukaran pelajaran ketika dia sedang remaja.

Dia adalah Leonie, yang pernah ikut program pertukaran pelajar di Sumatera Utara selama setahun dan tinggal bersama keluarga Indonesia. Oleh sebab itu, Leonie bisa berbahasa Indonesia dengan baik dan mendorongnya untuk mencoba melamar program magang di Indonesia.

Follow us

Saat magang di Indonesia selama enam bulan, Leonie bekerja di area Menteng, Jakarta Pusat. Banyak hal menarik bagaimana Leonie bekerja sama dengan orang-orang Indonesia di tempat kerja. Contoh yang mengesankannya bagi Leonie adalah “jam karet” yang sangat berbeda dengan ketepatan waktu untuk orang-orang di Jerman. Menurut Leonie, kebiasaan ‘jam karet’ itu tidak sopan dalam budaya orang-orang di Jerman.

Lainnya, adalah penggunaan WhatsApp untuk berkomunikasi dalam situasi pekerjaan. Namun, Leonie mengakui kehangatan dan keramahan orang-orang Indonesia sangat membantu Leonie mengatasi culture shock Indonesia dan mengenali budaya Indonesia lebih baik lagi.

Leonie sangat menyukai Soto Medan, yang membuatnya bisa membedakan dengan baik, Soto Jakarta yang menggunakan santan. Leonie pun suka dengan sambal dan makanan pedas.

Leonie pun melakukan hal yang sama dengan menambahkan cabai setiap makanan, yang membuat anggota keluarganya merasa terkejut ketika Leonie kembali lagi ke Jerman. Leonie sangat senang dengan kuliner Indonesia yang membuatnya kerap merindukannya dan dia tidak punya masalah dengan kuliner Indonesia.

Orang Indonesia berkomunikasi dengan tidak direct, dibandingkan dengan orang-orang Jerman yang berkomunikasi langsung. Leonie juga mengakui bahwa orang-orang Jerman tampak serius dan tidak mudah juga membangun pertemanan.

Leonie berpesan untuk orang-orang Indonesia yang ingin bekerja dan tinggal di Jerman agar tidak malu berlatih Bahasa Jerman. Supaya tidak merasa kesepian, mahasiswa asal Indonesia di Jerman bisa bergabung dengan kelompok mahasiswa di universitas atau bersabar untuk membangun pertemanan dengan rekan-rekan kerja di kantor.

Diskusi Podcast ini dipandu oleh Fadni, Mahasiswi S2 di Jerman dan Anna. Mengapa Leonie ingin magang dan tinggal di Indonesia? Mengapa Leonie suka akan budaya Indonesia? Pengalaman berkesan apa yang ditemuinya selama magang dan tinggal di Indonesia? Apa pendapatnya tentang Bahasa Indonesia yang dipelajarinya selama ini? Apa pesan dan harapan Leonie sebagai perempuan Jerman kepada orang-orang Indonesia yang dikenalnya? 

Selengkapnya diskusi Podcast RUMPITA dalam kanal Spotify berikut ini dan jangan lupa follow kanal SPOTIFY kami:

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Resiliensi Ibu di Belgia yang Memiliki Anak dengan Autisme

Dunia memperingati Hari Peduli Autisme Sedunia pada 2 April agar publik mendapatkan informasi yang benar dan tepat tentang Autisme, termasuk mengadvokasi anak dengan Autisme yang masih mendapatkan stigma dan diskriminasi.

Oleh karena itu, Ruanita Indonesia mengundang Alda Trisda yang tinggal di Belgia untuk berbagi pengalaman dan perjuangannya sebagai ibu dalam membesarkan anak dengan Autisme.

Alda mengakui di awal ketika anaknya didiagnosa sebagai anak dengan Autisme, dia tidak berkoordinasi dengan suami dalam mendapatkan penanganan yang tepat untuk anaknya. Alda berpesan agar orang tua yang memiliki anak dengan Autisme dapat bekerja sama antara ayah dan ibunya dalam merawat anak dengan Autisme. Alda menyebut istilahnya adalah ayah dan ibu punya level pengetahuan yang sama dalam membesarkan anak dengan Autisme.

Follow us

Di Belgia sendiri, Alda menyadari bahwa pemerintahnya sangat peduli terhadap anak berkebutuhan khusus. Meskipun diakui Alda, fasilitas dan sarananya tidak sebaik seperti negara-negara Eropa lainnya yang ada di sekitar Belgia.

Alda mendapatkan tunjangan finansial yang cukup baik dari Pemerintah Belgia, dalam membesarkan anak dengan Autisme, seperti menyediakan sarana belajar di rumah. Bahkan Alda mengambil kelas khusus sebagai orang tua yang memiliki anak dengan Autisme.

Pemerintah Belgia sangat peduli terhadap anak berkebutuhan khusus, termasuk anak dengan Autisme. Alda sering mendapatkan kunjungan dari institusi perlindungan anak berkebutuhan khusus di Belgia untuk memastikan kebutuhan yang tepat untuk anak dengan Autisme.

Pemerintah Belgia juga menyediakan lokasi khusus yang membantu anak dengan Autisme tumbuh secara mandiri sosial yang mulai dari usia anak di bawah 18 tahun dan mereka yang sudah berusia di atas 18 tahun.

Alda lebih memilih untuk merawat dan membesarkan anaknya di rumah, sambil dia banyak mencari tahu bagaimana menangani anak dengan Autisme di rumah. Alda merasakan berbagai tantangan yang tak mudah sebagai ibu yang memiliki anak dengan Autisme.

Resiliensi sebagai ibu itu dirasakannya lebih sulit, dibandingkan membesarkan anak dengan Autisme. Hal terpenting ketika ada anak dengan Autisme di keluarga, adalah bagaimana kita menerima apa adanya dan kesabaran yang tinggi.

Bagaimana cara Alda dalam menyiapkan sarana belajar di rumah sehingga anak dengan Autisme dapat tumbuh mandiri? Apa yang sebaiknya dilakukan orang tua ketika memiliki anak dengan Autisme? Apa saja kebijakan yang berlaku di Belgia dan negara-negara sekitarnya di Eropa terhadpa kebijakan anak berkebutuhan khusus, terutama anak dengan Autisme? Apa pesan Alda di Hari Peduli Autisme Sedunia?

Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan tayangan video berdurasi sekitar 10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube Ruanita Rumah Aman Kita dan dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebagai ruang aman berbagi cerita inspiratif perempuan Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Program ini mengangkat pengalaman nyata, perjuangan, serta refleksi para perempuan dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mendorong promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Digagas oleh Anna Knöbl di Jerman, CSS menjadi wadah yang memperkuat suara perempuan, membangun solidaritas, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keadilan serta kesempatan yang setara bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan.

Simak selengkapnya dalam video program Cerita Sahabat Spesial berikut ini dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

Subscribe kanal YouTube kami untuk mendukung program-program kami ya!

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Naisen Komannossa: Di Bawah Komando Perempuan

Dalam program Cerita Sahabat Spesial episode Maret 2024 mengangkat tema tentang kepemimpinan perempuan yang masih menjadi satu rangkaian perayaan Hari Perempuan Internasional seperti tahun lalu, yakni mempromosikan isu kepemimpinan perempuan Indonesia. Untuk membahasnya lebih dalam, Ruanita – Rumah Aman Kita – Indonesia mengundang Sahabat Ruanita yang tinggal di Finlandia dan bekerja di industri tambang.

Sebagaimana kita ketahui bahwa angka partisipasi perempuan yang bekerja di dunia STEM (=Science, Technology, Engineering, and Math) masih sangat rendah. Namun hal ini berbeda seperti yang dialami oleh Selvie yang sudah bekerja di industri tambang sejak dia menyelesaikan kuliah pertambangan di Jakarta, Indonesia.

Follow us

Setelah lama bekerja di dunia pertambangan di Indonesia, Selvie mencoba peruntungan bekerja di pertambangan di luar Indonesia.

Sejak enam tahun lalu, Selvie bekerja dan menetap di Finlandia. Selvie pun mengakui sangat sedikit yang bekerja di dunia pertambangan. Bahkan pada saat Selvie masih studi, hanya 9 mahasiswa perempuan dari 50-an mahasiswa yang studi pertambangan.

Selvie melamar pekerjaan di Finlandia dengan sistem bekerja dua minggu on-side dan dua minggu harus berada di rumah.

Selvie mengakui bahwa perusahaan tambang di Finlandia telah menggalakkan kampanye “Women in Minning”. Selvie berpendapat bisa saja perempuan tidak tertarik bekerja di dunia tambang itu identik dengan pekerjaan yang kotor atau pekerjaan yang berbahaya.

Padahal menurut Selvie, perusahaan pastinya sudah melakukan uji keamanan yang memastikan keselamatan setiap perempuan. Finlandia pun telah menetapkan aturan kesetaraan gender dalam hal profesi pekerjaan.

Selvie pun bangga akan pekerjaannya, termasuk sebagai perempuan Asia yang bekerja di dunia pertambangan yang tidak mudah. Selvie pun pernah diwawancara oleh wartawan Finlandia dan kisahnya dimuat di surat kabar lokal berbahasa Finlandia yang berjudul: Di bawah Komando Perempuan.

Bagaimana Selvie bisa bekerja di dunia tambang? Mengapa tidak banyak perempuan bekerja di dunia tambang? Apa saja faktor-faktor yang membuat perempuan bisa bekerja di dunia tambang di luar Indonesia? Apa saja syarat bekerja di dunia tambang di Finlandia, terutama perempuan? Apa pesan Selvie di Hari Perempuan Internasional.

Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan tayangan video berdurasi sekitar 10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube Ruanita Rumah Aman Kita dan dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebagai ruang aman berbagi cerita inspiratif perempuan Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Program ini mengangkat pengalaman nyata, perjuangan, serta refleksi para perempuan dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mendorong promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Digagas oleh Anna Knöbl di Jerman, CSS menjadi wadah yang memperkuat suara perempuan, membangun solidaritas, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keadilan serta kesempatan yang setara bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan.

Simak selengkapnya dalam kanal YouTube kami berikut ini dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

Jangan lupa subscribe kanal YouTube kami agar kami bisa berbagi lebih banyak lagi!

(SIARAN BERITA) Diskusi Daring Perayaan Hari Perempuan Internasional dan Peluncuran Buku “Warna-warni Kepemimpinan Perempuan”

Denmark/Jerman – Menjadi pemimpin merupakan bagian dari hak asasi manusia, baik perempuan maupun laki-laki. Hak asasi merupakan hak dasar yang secara kodrati melekat pada diri manusia. Sebagai hak asasi, akses menjadi pemimpin tidak bisa diabaikan karena alasan gender atau alasan penyerta lainnya, seperti ras, suku, agama, atau kondisi fisik. Urgensi perempuan menjadi pemimpin berpijak pada pentingnya suara perempuan diperhitungkan dan dipertimbangkan dalam proses-proses pembangunan. Jumlah perempuan yang mencapai setengah dari penduduk Indonesia membutuhkan kehadiran perempuan sebagai representasi suara perempuan dalam setiap pengambilan keputusan.

Secara bertahap kepemimpinan perempuan semakin diperhitungkan seiring dengan pengakuan terhadap kualitas perempuan. Berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa perempuan memiliki kekuatan fisik, intelektual, emosional, dan spiritual yang sama seperti laki-laki. Perempuan juga mampu melakukan hal-hal yang dapat dilakukan oleh laki-laki, baik di bidang professional, sosial, maupun pribadi, termasuk dalam hal kepemimpinan. Namun sayangnya, kepemimpinan perempuan juga masih sedikit jumlahnya dibandingkan dengan laki-laki.

Follow us

Negara Republik Indonesia memiliki komitmen yang kuat untuk mengarusutamakan gender dalam pembangunan di segala bidang, baik di tingkat nasional, kawasan, maupun global. Sebagai warga Indonesia di mancanegara, Rumah Aman Kita (RUANITA) di bawah naungan Yayasan Ruanita Perempuan Indonesia bekerja sama dengan KJRI Frankfurt, DWP KJRI Frankfurt, yang didukung oleh Afiliansi Pengajar dan Pegiat Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (APPBIPA) Jerman, Bildung und Gesundheit für Indonesien e.V. (BUGI), dan Persatuan Masyarakat Indonesia – Frankfurt e.V. (Permif), bermaksud menggelar diskusi daring pada Jumat, 8 Maret 2024. Acara yang bertepatan dengan Hari Perempuan Internasional ini juga menjadi kesempatan untuk meluncurkan buku kedua RUANITA yang berjudul „Warna-warni Kepemimpinan Perempuan“ yang ditulis oleh 13 warga Indonesia yang tinggal di Eropa, sebagai bagian dari program Warga Menulis di tahun 2023 lalu.

Acara peluncuran buku tersebut dan perayaan Hari Perempuan Internasional ini akan diselenggarakan melalui kanal Zoom pada pukul 16.00-17.45 WIB atau 10.00-11.45 CET, dan terbuka untuk umum bagi warga negara Indonesia di mana pun. Acara ini akan dipandu oleh Zukhrufi Syasdawita, relawan Ruanita dan dibuka secara resmi oleh Tensi Triantoro, ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Konsulat Jendral Republik Indonesia (KJRI) Frankfurt. Peluncuran buku akan dilakukan oleh Andi Nurhaina sebagai ketua APPBIPA Jerman. Narasumber acara perayaan Hari Perempuan 2024 adalah Duta Besar RI untuk Denmark dan Lithuania, Dewi Savitri Wahab, yang akan menjelaskan peran KBRI/KJRI dalam mendukung partisipasi perempuan Indonesia di mancanegara.

Narasumber selanjutnya adalah Zakiyatul Mufidah Ahmad, yang adalah penerima beasiswa LPDP, seorang dosen di Indonesia, dan sedang menempuh pendidikan doktoral di Inggris. Dia akan menyampaikan materi tentang bagaimana dinamika kepemimpinan perempuan Indonesia dalam dunia digital. Sebagai penutup, Wendy A. Prajuli, yang adalah dosen di Universitas Bina Nusantara Indonesia, akan memberikan tanggapan dalam diskusi daring tersebut. Tersedia juga sesi tanya jawab dalam diskusi daring ini.

Diskusi daring ini diharapkan dapat mempromosikan partisipasi perempuan Indonesia dalam pembangunan dan berbagi informasi tentang peran perempuan Indonesia sebagai individu yang berdaya, punya potensi dan prestasi, sebagaimana yang menjadi tujuan proyek Ruanita, yakni mencapai kesetaraan gender.

Materi informasi dapat diunduh dengan mengisi formulir ini yang ditautkan.

Rekaman acara tersebut dapat dilihat pada kanal YouTube yang kami tautkan berikut ini:

Subscribe kanal YouTube kami untuk mendukung kami.

(CERITA SAHABAT) Meski Orang Tua Berpisah, Anak dengan Orang Tua Tidak Berpisah

Halo, perkenalkan nama saya Sekar. Sejak Oktober 2013, saya menetap di Kanton Zürich, Swiss, lebih tepatnya di kota Dietikon. Aktivitas saya sehari-hari saat ini adalah mengurus anak sekaligus bekerja sebagai Business Analyst yang memimpin sebuah tim beranggotakan 13 karyawan yang tersebar di Swiss, Inggris, dan Polandia.

Pernikahan yang dikaruniai seorang buah hati biasanya menjadikan kehidupan pasangan semakin lengkap. Menurut saya, kehadiran seorang anak di kehidupan kita adalah sebuah game changer. Anak sebagai individu dengan personality yang tentunya akan berbeda dengan orang tua nya, memunculkan perasaan sangat menggemaskan, penuh kasih sayang dan selalu ingin menemani tumbuh kembangnya. 

Namun, ada pula yang tidak siap untuk meninggalkan gaya hidup lamanya (tanpa anak). Begitupun dengan pernikahan ini. Setelah kehadiran anak yang lahir di tahun 2020, visi saya dan mantan suami ternyata menjadi tidak sejalan lagi. Berbagai upaya kami lakukan sampai menjalani konsultasi dan mediasi dengan seorang konsultan pasangan tetapi tidak berhasil. Alhasil, kami memutuskan untuk berpisah. Kami akhirnya resmi bercerai di tahun 2022.

Ketika awal berpisah, saya merasa sakit hati, marah, frustasi bahkan merasakan semua perasaan negatif pada saat itu. Namun, saya melihat kembali situasi dahulu setelah setahun lebih, kemudian ada perasaan lega yang sebelumnya tidak dirasakan. Saya lebih merasa bahagia dengan situasi sekarang.

Pada saat itu, kekhawatiran saya adalah soal anak. Bagaimana dia tetap bisa tumbuh dengan baik dan bahagia dengan kedua orang tua yang sudah berpisah. Saya juga tidak menginginkan anak putus kontak dengan ayahnya.

Menjadi seorang Single Mom, tidaklah mudah bagi saya. Saya membutuhkan waktu untuk bisa menerima dan berdamai dengan situasi saat ini. Saya bersyukur dikelilingi keluarga dan teman-teman yang selalu mendukung setiap saat. Wejangan orang tua sejak dulu untuk mandiri meskipun sudah menikah sangat membantu sekali. 

Sejak pindah ke Swiss, saya beruntung karena saya langsung mendapat pekerjaan hingga sekarang, kecuali sewaktu cuti melahirkan. Saya bersyukur perceraian tidak begitu mempengaruhi keadaan finansial saya. Saya berusaha untuk fokus pada diri sendiri dan keluarga (terutama anak) dan menghiraukan komentar-komentar negatif dari orang lain, terutama yang tidak begitu kenal kita. Toh, kita yang lebih tahu kehidupan kita sendiri, bukan orang lain=)

Pengalaman yang sangat menyentuh bagi saya pada saat menceritakan kepada orang tua mengenai kondisi pernikahan dan rencana akan berpisah dengan mantan suami. Saat itu, orang tua saya tidak menghakimi atau bertanya banyak hal. Mereka berkata bahwa mereka akan selalu ada di sisi saya dan mendukung apapun keputusan saya, begitupun adik dan teman-teman dekat saya. Saya sangat bersyukur atas dukungan mereka.

Berbicara mengenai bantuan sosial yang diberikan Pemerintah Swiss ini sebenarnya lebih diperuntukkan kepada orang-orang yang karena satu dan lain hal tidak bisa bekerja, termasuk Single Mom. Berdasarkan pengalaman dan pengamatan saya, bantuan tersebut hanya berlaku sementara. Tujuannya adalah untuk membantu mereka dalam mencari pekerjaan di Swiss sehingga dapat hidup lebih mandiri dan tidak lagi bergantung pada bantuan sosial pemerintah.

follow us

Pekerjaan yang saya jalankan saat ini, tidak menjadikan saya termasuk dalam kategori penerima bantuan sosial dari pemerintah setempat. Walaupun sesekali sibuk dengan pekerjaan ataupun keinginan untuk memiliki quality time, tetapi saya dan mantan suami tetap menjaga komunikasi dengan baik dan lancar terutama untuk mengatur jadwal anak. Saat ini, anak juga sudah terbiasa dengan situasi di mana orang tua tinggal terpisah. Hal tersebut dikarenakan kondisi seperti ini sudah berlangsung sejak anak usia 1,5 tahun.

Jika ada teman atau Sahabat RUANITA yang sedang mengalami hal yang sama dengan pengalaman saya, perlu diingat bahwa setiap orang berbeda. Namun, penting memberikan waktu untuk berdamai dengan keadaan atau diri sendiri. Beranikan diri untuk meminta bantuan kepada keluarga, teman, institusi atau komunitas yang relevan jika dibutuhkan. Jika perpisahannya tidak ada kasus kekerasan, usahakan untuk tetap menjalin hubungan baik dengan mantan pasangan demi perkembangan (mental) anak. Sangat penting anak mengetahui bahwasanya mereka dicintai oleh kedua orang tua, terlepas dari kondisi keluarga yang tidak konvensional, yang mana orang tua harus berpisah.

Sebagai WNI yang tinggal di luar negeri, bantuan dan dukungan dari Perwakilan Republik Indonesia di negara tersebut sangatlah bermakna. Jika ada WNI yang melaporkannya ke KBRI/KJRI dan membutuhkan bantuan, mohon KBRI/KJRI untuk segera menanggapi. Sekecil apapun dukungan moral yang diberikan, ini akan sangat berharga pada situasi tersebut.

Penulis: Inur Darham, tinggal di Swiss dan dapat dikontak di akun IG: inur_darham berdasarkan wawancara seorang sahabat, Sekar Istianingrum (akun IG: xxsekar.indxx) yang juga tinggal di Swiss.