(SIARAN BERITA) APPBIPA Jerman dan Ruanita Gelar Diskusi Daring Hari Bahasa Ibu Internasional

JERMAN, 21 Februari 2025 – Hari Bahasa Ibu Internasional merupakan momentum penting untuk menghargai bahasa pertama yang dikenalkan sejak lahir—bahasa yang tidak hanya menjadi sarana komunikasi, tetapi juga fondasi dalam membangun identitas pribadi, sosial, dan budaya. Bahasa ibu membuka pintu bagi pemahaman nilai-nilai lokal, kearifan tradisional, serta perspektif unik suatu komunitas. 

Di era globalisasi, pemahaman mendalam terhadap bahasa ibu turut memudahkan pembelajaran bahasa lain, mengenal budaya baru, dan memperkuat koneksi lintas budaya. Melalui pelestarian dan promosi bahasa ibu, termasuk Bahasa Indonesia, diharapkan dapat memperkaya keberagaman global sekaligus mengukuhkan identitas bangsa.

Dalam rangka memperingati Hari Bahasa Ibu Internasional yang diperingati setiap tanggal 21 Februari sebagai penghormatan terhadap keberagaman bahasa dan budaya di dunia, APPBIPA (Afiliasi Pengajar dan Pegiat Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing) Jerman bekerja sama dengan Ruanita Indonesia mengadakan diskusi online dengan tema “Bahasa Ibu Sebagai Pintu ke Keberagaman Dunia.”

Acara ini diadakan sebagai upaya menegaskan peran bahasa ibu dalam pembentukan identitas, komunikasi lintas budaya, dan sebagai gerbang untuk memahami dunia yang lebih luas. Selain itu, acara diskusi daring ini sebagai upaya untuk meningkatkan promosi Bahasa Indonesia di kancah global, melalui peran APPBIPA Jerman. Lewat acara ini, kepengurusan baru APPBIPA Jerman periode 2024-2029 pun diperkenalkan. 

Diskusi daring dilaksanakan pada hari Jumat, 21 Februari 2025 pukul 19.00 – 21.00 secara terbuka kepada siapa saja yang tertarik tentang Indonesia dan Bahasa Indonesia. Dalam diskusi daring ini, Atdikbud KBRI Berlin, Roniyus Marjunus, turut hadir dan menyampaikan dukungannya terhadap pentingnya bahasa Ibu di mana pun berada.

Beliau menegaskan bahwa bahasa Ibu bukan hanya sekadar alat komunikasi, tetapi juga merupakan identitas yang memperkuat eksistensi bangsa. Selain itu, bahasa Ibu memainkan peran penting dalam diplomasi budaya, yang dapat mempererat hubungan antarbangsa melalui pemahaman dan penghormatan terhadap keberagaman bahasa dan budaya.

Ada pun sesi pertama dimulai dengan pemaparan materi, yang disampaikan oleh Desiree Luhulima, Pendidik dan Penulis Buku, sekaligus Relawan Ruanita Indonesia di Finlandia. Beliau memaparkan materi tentang Bahasa Ibu sebagai gerbang dunia. 

Menurut Desiree Luhulima, Relawan Ruanita di Finlandia sekaligus pakar pendidikan dan penulis buku Wujudkan Anak Bahagia: Pra-Pendidikan Dasar Metode Finlandia, “Bahasa Ibu bukan sekadar alat komunikasi, tetapi fondasi utama dalam membangun pemahaman dunia. Melalui Bahasa Ibu, anak-anak memperoleh keterampilan berpikir kritis, memahami konsep-konsep kompleks, dan mengembangkan identitas yang kuat. Tanpa penguasaan yang baik terhadap Bahasa Ibu, proses belajar bahasa lain dan ilmu pengetahuan dapat terhambat. Oleh karena itu, melestarikan dan memperkuat penggunaan Bahasa Ibu menjadi langkah krusial dalam mempersiapkan generasi mendatang yang mampu bersaing secara global tanpa kehilangan akar budaya mereka.”

Selanjutnya materi kedua disampaikan oleh Chatarina Maria, yang merupakan pengurus APPBIPA Jerman dengan materi mengenai peran BIPA di kancah internasional. Bahasa Ibu memiliki peran strategis dalam menjaga identitas budaya, meningkatkan prestasi akademik, serta menjadi alat diplomasi yang memperkuat posisi bangsa di kancah internasional. Program BIPA berkembang pesat dengan kehadiran di 54 negara, namun masih menghadapi tantangan dalam kualitas pengajaran, aksesibilitas, dan daya saing global dibandingkan bahasa asing lainnya​.

Untuk memperkaya wawasan yang disampaikan oleh pemateri, acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab kepada pemateri dan peserta yang hadir. APPBIPA Jerman dan Ruanita Indonesia berharap bahwa diskusi daring ini dapat menjadi wadah dialog yang konstruktif dan inspiratif. Melalui partisipasi bersama, diharapkan akan terbangun sinergi yang lebih kuat antar pegiat bahasa dan budaya, serta semakin mengukuhkan eksistensi Bahasa Indonesia di kancah internasional.

Ruanita (Rumah Aman Kita) Indonesia di bawah naungan Yayasan Ruanita Perempuan Indonesia merupakan organisasi nirlaba yang ditujukan untuk berbagi dan berdiskusi pengetahuan, pengalaman, pengamatan, dan praktik baik kehidupan di mancanegara. Program Ruanita dikelola berdasarkan manajemen berbasis nilai, intervensi komunitas, dan menggunakan Bahasa Indonesia. Aktivitas Ruanita berfokus pada isu kesehatan mental dan kesetaraan gender sesuai dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals). Sejak berdiri pada 2021, Ruanita Indonesia telah menjadi social support system untuk warga Indonesia, terutama perempuan yang tinggal di mancanegara.

Untuk informasi lebih lanjut, sila kontak panitia penyelenggara  melalui surel: info@ruanita.com atau kunjungi situs web kami di https://ruanita.com.

(SIARAN BERITA) Ruanita Gelar Workshop Meningkatkan Kapasitas Warga Indonesia di Dubai dalam Era Digital

Dubai, 10 Februari 2025 – Dalam upaya meningkatkan kapasitas warga Indonesia di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Dubai, DWP KJRI Dubai, Komunitas Gelas Kosong bekerja sama dengan Ruanita Indonesia menggelar Workshop Produksi & Editing Konten Video Digital. Acara ini bertujuan untuk membekali para peserta dengan keterampilan produksi konten video guna mendukung promosi usaha dan komunikasi digital yang lebih efektif.

Workshop ini resmi dibuka oleh Konsul Jenderal RI untuk Dubai, Bapak Denny Lesmana, yang dalam sambutannya menyatakan dukungannya terhadap program peningkatan kapasitas ini. “Di tengah kecanggihan teknologi saat ini, warga Indonesia di Dubai memiliki peluang besar untuk mengembangkan kreativitas mereka dalam pembuatan konten digital. Kegiatan ini diharapkan dapat menginspirasi dan mengedukasi peserta agar lebih siap bersaing dalam dunia digital, baik untuk kebutuhan promosi usaha maupun pengembangan komunitas,” ujar beliau.

Workshop ini berlangsung dalam tiga sesi yang akan dilaksanakan secara daring melalui Zoom pada tanggal 10, 17, dan 24 Februari 2025. Para peserta akan mendapatkan pelatihan dari para relawan Ruanita Indonesia yang berpengalaman di bidang digital content creation, yaitu Cindy Guchi dari Vietnam dan Anna dari Jerman, serta dipandu oleh moderator Utari Giri, Ketua Komunitas Gelas Kosong di Dubai.

Peserta workshop terdiri dari warga Indonesia yang tinggal di Dubai dan sekitarnya, anggota DWP KJRI Dubai, serta pemilik usaha kecil dan menengah yang ingin memperluas jangkauan bisnis mereka melalui media digital. Selain mendapatkan materi dan pelatihan praktis, peserta juga akan memperoleh akses ke rekaman workshop, sertifikat elektronik, serta pendampingan melalui grup WhatsApp.

Melalui workshop ini, diharapkan peserta mampu menciptakan konten video yang tidak hanya menarik dan informatif tetapi juga memiliki nilai edukatif serta dapat dimonetisasi. Acara ini merupakan bagian dari komitmen KJRI Dubai dan Ruanita Indonesia dalam memberdayakan komunitas warga Indonesia di luar negeri dengan keterampilan yang relevan di era digital.

Untuk informasi lebih lanjut, sila hubungi panita penyelenggara melalui surel: info@ruanita.com atau kunjungi situs web kami di https://ruanita.com.

(SIARAN BERITA) Femisida Dalam Berbagai Perspektif: Budaya, Psikolog, dan Hukum

Femisida, atau pembunuhan berbasis gender yang menargetkan perempuan, merupakan isu global yang semakin menjadi perhatian dunia. Berdasarkan Sidang Umum Dewan HAM PBB, femisida adalah pembunuhan terhadap perempuan yang didorong oleh kebencian, dendam, penaklukan, penguasaan, penikmatan dan pandangan terhadap perempuan sebagai kepemilikan di mana pelaku kejahatan berbuat sesuka hatinya karena korbannya adalah perempuan.

Muatan motif dalam kejahatan femisida berbeda dari pembunuhan biasa karena femisida mengandung aspek ketimpangan kuasa antara pria dan wanita, ketidaksetaraan gender, patriarki, stereotip misoginistik, dominasi/agresi/opresi, serta praktik budaya dan norma sosial yang merugikan perempuan. 

Pada tahun 2022, United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC) mengklasifikasikan femisida yang menjelaskan dengan rinci bahwa sebagian besar femisida terjadi di ruang privat dengan berbagai motif kompleks yang dijabarkan dalam 16 kategori.

Pada tahun 2018, 20 negara anggota Uni Eropa meratifikasi Konvensi Istanbul di mana negara berkewajiban untuk menangani kasus kekerasan terhadap perempuan secara menyeluruh dalam segala bentuk dan mengambil langkah-langkah untuk mencegah kekerasan terhadap perempuan, melindungi korban, dan mengadili para pelakunya.

Kegagalan dalam menangani kasus adalah tanggung jawab negara. Konvensi Istanbul menekankan bahwa sulit tercipta kesetaraan antara perempuan dan laki-laki jika perempuan terus mengalami kekerasan berbasis gender dalam skala besar, tetapi lembaga negara menutup mata akan kondisi ini.

Di Indonesia sendiri, kenyataan yang terjadi adalah kasus femisida belum tercatat secara memadai. Komnas Perempuan Indonesia telah memantau femisida sejak 2017. Dalam dokumen ‘Femisida: Tuntutan Pembaruan Hukum dan Kebijakan Menyikapi Ancaman’ yang diterbitkan Komnas Perempuan pada tahun 2020, disebutkan bahwa kasus-kasus femisida di Indonesia jelas meningkat dalam jumlah maupun jenisnya, tetapi belum mendapat perhatian serius, bahkan masih dipandang sebagai tindakan kriminal biasa.

Setelah rilisan dokumen Komnas Perempuan yang bertajuk ‘Alarm bagi Negara dan Kita Semua: Hentikan Femisida (Pembunuhan terhadap Perempuan)’ di tahun 2017, belum ada perubahan hukum dan kebijakan terkait femisida oleh Polri maupun negara.

Hasil dari pemantauan Komnas Perempuan terhadap berita femisida dari media daring sepanjang 2019 mencatat jumlah 145 kasus. Namun, jumlah ini baru sebatas kasus femisida yang diliput oleh media massa, belum terhitung yang tidak diberitakan.

Dari data yang dikumpulkan Komnas Perempuan, relasi pelaku dengan korban sebagian besar masih berada dalam ranah relasi personal. Lalu, terdapat pola kekerasan sadisme berlapis yang dialami oleh korban perempuan dan tindak pelucutan martabat korban.

Di Indonesia, penghilangan nyawa diatur tersebar dalam Pasal 44 UU Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga (UU KDRT) dan juga di KUHP yaitu Pasal 338, Pasal 339, Pasal 340, Pasal 344, Pasal 345, dan Pasal 350.

Berdasarkan pantauan Komnas Perempuan, motif dan modus kekerasan berbasis gender sebelum atau yang menyertainya tidak menjadi faktor pemberat hukuman. Kasus femisida tidak hanya merenggut nyawa tetapi juga berdampak signifikan pada tatanan sosial, termasuk kesehatan mental keluarga korban dan masyarakat.

Salah satu kasus femisida yang melibatkan perempuan Indonesia terjadi di Jerman pada tahun 2024, yang mana almarhum datang ke Jerman untuk menimba ilmu dan membangun karier yang gemilang. Oleh karena itu, diskusi ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan tentang kekerasan terhadap perempuan di mancanegara, terutama yang berkaitan dengan Femisida dan mendorong semua warga Indonesia untuk dapat melaporkan, dan mencatat kasus-kasus kekerasan yang dialami warga Indonesia di mancanegara lewat kolom pengaduan yang dibuat oleh Ruanita Indonesia, yang kemudian akan dilaporkan dalam laporan tahunan ke Komnas Perempuan Indonesia.

Untuk memperluas pengetahuan publik akan isu femisida dan kasus kekerasan terhadap perempuan Indonesia di mancanegara, Ruanita Indonesia bekerja sama dengan PPI Dunia akan menyelenggarakan diskusi online yang mengangkat tema “Femisida dalam Perspektif Psikologi, Budaya, dan Hukum“. Diskusi online ini akan diselenggarakan pada hari Minggu, 9 Februari 2025 pukul 10.00 – 12.00 CET (16.00 – 18.00 WIB) melalui platform digital Zoom meeting.

Diskusi online ini dibuka secara resmi oleh Asisten Deputi Perlinndungan Hak Perempuan dalam Rumah Tangga dan Rentan, Kementerian Pemberdayaan dan Perlindungan Perempuan dan Anak Republik Indonesia, Enni Widiyanti. Beliau menekankan pentingnya pengaturan khusus mengenai femisida dalam peraturan perundang-undangan Indonesia. Beliau menyatakan bahwa saat ini, terminologi femisida belum dikenal dalam hukum Indonesia, sehingga pembunuhan terhadap perempuan sering dianggap sama dengan pembunuhan biasa. Akibatnya, analisis mendalam terkait akar permasalahan femisida dan upaya pencegahannya belum optimal. Dengan adanya pengakuan dan pengaturan khusus tentang femisida, diharapkan penanganan kasus, identifikasi akar masalah, dan langkah pencegahan dapat lebih jelas dan efektif.

Diskusi online ini juga dihadiri oleh Siti Aminah Tardi (Komisioner Komnas Perempuan), Dini Tiara Sasmi (Akademisi Universitas Riau), Dr. Livia Iskandar (Psikolog, Wakil LPSK RI Periode 2019-2024 dan Direktur Yayasan Pulih), serta Dr. Gopala Sasie Rekha (Dosen Krimonologi di University Winchester, Inggris) sebagai para pemateri untuk membahas isu femisida dalam perspektif budaya, psikologi, dan hukum. 

Diskusi ini dibuka untuk umum dan dapat diakses oleh masyarakat Indonesia di manapun berada, yang tertarik dengan topik ini. Diskusi ini diharapkan dapat memberikan wawasan baru dan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang isu femisida, serta memberikan pemahaman multidimensional terkait femisida dari perspektif psikologi, budaya, dan hukum.

Lebih lanjutnya, adanya diskusi online ini diharapkan dapat mendorong lebih banyak pelaporan dan pendataan kasus kekerasan berbasis gender terhadap perempuan Indonesia, serta mendorong pembentukan langkah-langkah strategis yang dapat diterapkan untuk mengatasi dan mengurangi kasus kekerasan berbasis gender. Adapun kolaborasi antara Ruanita Indonesia dan PPI Dunia bertujuan untuk memperkuat komunitas yang mendukung pemberdayaan perempuan di berbagai bidang.

Ruanita (Rumah Aman Kita) Indonesia di bawah naungan Yayasan Ruanita Perempuan Indonesia merupakan organisasi nirlaba yang ditujukan untuk berbagi dan berdiskusi pengetahuan, pengalaman, pengamatan, dan praktik baik kehidupan di mancanegara. Program Ruanita dikelola berdasarkan manajemen berbasis nilai, intervensi komunitas, dan menggunakan Bahasa Indonesia. Aktivitas Ruanita berfokus pada isu kesehatan mental dan kesetaraan gender sesuai dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals). Sejak berdiri pada 2021, Ruanita Indonesia telah menjadi social support system untuk warga Indonesia, terutama perempuan yang tinggal di mancanegara.

Untuk informasi lebih lanjut, sila hubungi Aini Hanafiah melalui surel: info@ruanita.com atau kunjungi situs web kami di https://ruanita.com. Materi informasi dapat diberikan setelah Anda mengisi formulir elektronik yang ditautkan tersebut dan mengirimkan ke Admin via surel: info@ruanita.com.

(CERITA SAHABAT) Kanker, Cinta, dan Harapan Baru di Swedia

Halo, sahabat Ruanita! Saya Rizki, atau biasa dipanggil Kiki. Saya pindah ke Swedia sejak empat tahun lalu, terhitung sejak September ini. Sekarang saya bekerja full time di Swedia. Saya senang bisa berpartisipasi dalam program cerita sahabat yang dikelola Ruanita Indonesia, apalagi tema ini adalah tentang hari kepedulian kanker sedunia. Saya adalah caregiver dari suami yang meninggal beberapa tahun lalu, karena terminal kanker liver.

Saat saya pertama kali menginjakkan kaki di Swedia, saya tak pernah membayangkan perjalanan hidup saya akan penuh dengan cobaan besar. Suami, yang saya kenal sebagai sosok pekerja keras dan penuh kasih, adalah segalanya bagi saya. Namun, hidup memiliki cara tersendiri untuk menguji kita.

Musim panas 2021 menjadi awal dari perubahan besar dalam hidup saya. Suami saya yang selama ini tampak sehat, mulai sering diare. Awalnya, kami menganggapnya masalah biasa, mungkin efek makanan atau intoleransi laktosa. Namun, diare itu tidak kunjung sembuh, ditambah demam tinggi setiap malam. Di tengah kebingungan, kami bolak-balik ke dokter, menjalani berbagai tes hingga akhirnya ditemukan tumor di livernya.

Diagnosis awal menyebutkan tumor itu tidak ganas, dan rencana operasi segera disusun. Harapan kami tumbuh kembali. Tapi, tiga bulan kemudian, hasil tes lanjutan memberi kami pukulan yang tidak pernah kami duga: kanker liver stadium terminal. Dokter memperkirakan usianya tinggal enam bulan.

Diawali dengan diare yang terus-menerus hingga demam tinggi setiap malam, kami mengira ini hanya masalah pencernaan biasa. Namun, rangkaian kunjungan ke rumah sakit mengungkap kenyataan pahit: ada tumor di livernya. Hasil awal menyatakan tumor itu tidak ganas, tapi kondisinya terus memburuk. Setelah tiga bulan, diagnosis akhir menyatakan kanker hati stadium terminal. Dokter memprediksi usianya hanya tersisa enam bulan.

Saya hancur mendengar kabar itu. Tetapi dia—suami saya—memilih untuk tegar. Di tengah air mata saya yang tak terbendung, dia menggenggam tangan saya, memberi ketenangan yang rasanya jauh dari jangkauan saya saat itu.

Menjadi caregiver bukanlah sesuatu yang pernah saya bayangkan, apalagi dalam kondisi berada di negara asing. Setiap hari, saya belajar menjadi perawat darurat—mempersiapkan obat, memberi suntikan, hingga merawatnya di rumah. Melihat tubuhnya melemah, bekas suntikan yang membiru di perutnya, rasanya hati saya pecah. Tapi saya tahu, saya harus kuat. Saya harus ada di sana untuknya.

Sistem kesehatan di Swedia sangat membantu, memberikan kami akses langsung ke dokter dan perawat khusus. Tapi, sebagai seorang pendatang, kendala bahasa dan budaya sering membuat saya merasa terasing. Dia selalu berusaha menguatkanku, bahkan meminta istri sahabatnya mengajak saya keluar rumah untuk sekadar menghirup udara segar. “Kamu perlu keluar, meskipun hanya sebentar,” katanya.

Momen paling sulit dalam hidup saya adalah saat-saat terakhirnya. Saya  ingat malam itu, ketika suhu tubuhnya tak kunjung turun meskipun sudah diberi obat. Saya memeluknya erat, berdoa tanpa henti, berharap ada mukjizat. Dalam detik-detik terakhir, dia menggenggam tanganku dan berbisik, “Aku mencintaimu. Semua akan baik-baik saja.” Saya tahu itu caranya berpamitan, memberi saya kekuatan untuk melanjutkan hidup.


Saya mendapati diri saya berada di medan yang tidak pernah saya siapkan. Merawat seseorang yang Anda cintai saat ia perlahan melemah adalah perjuangan fisik dan mental yang tiada duanya. Setiap hari saya belajar melakukan banyak hal: memberikan suntikan, menyiapkan makanan, hingga memastikan ia nyaman di tengah rasa sakitnya. Semua itu dilakukan tanpa memikirkan diri sendiri.

Sulit berada di negara asing tanpa dukungan yang saya butuhkan. Bahasa menjadi kendala, dan saya sering merasa sendirian. Namun, dia selalu menemukan cara untuk mendukung saya, bahkan dalam kondisi tubuhnya yang semakin lemah. “Pergilah keluar sebentar, ngopi dengan istri sahabatku,” katanya. Meski berat meninggalkannya, saya tahu dia ingin saya tetap kuat.

Dari perjalanan ini, saya belajar banyak hal. Saya belajar untuk menghargai setiap momen, sekecil apa pun. Saya belajar untuk mencintai tanpa syarat dan berdoa tanpa henti. Kehilangan memang menyakitkan, tapi cinta yang kami miliki membuat segalanya lebih ringan.

Tiga minggu setelah diagnosis terminal, dia meninggal dunia. Momen itu begitu cepat, tapi sekaligus melegakan karena saya tahu ia tak lagi merasakan sakit. Sebelum ia pergi, ia menggenggam tangan saya erat dan berbisik, “I love you. Everything will be okay.”

Dalam kehilangan, saya belajar banyak tentang kekuatan cinta dan doa. Saya belajar untuk selalu menghargai waktu bersama orang-orang yang kita sayangi, sekecil apa pun momennya. Perjuangan kami melawan kanker adalah pengingat bahwa setiap hari adalah anugerah.

Pesan untuk Hari Kanker Sedunia

Saya ingin berbagi pesan kepada siapa pun yang menghadapi perjalanan ini: jangan pernah berhenti berdoa, berharap, dan mencintai. Sebagai caregiver, kita bisa menjadi pilar kekuatan bagi orang yang kita cintai. Jangan ragu untuk meminta bantuan dari keluarga atau teman, dan luangkan waktu untuk menjaga kesehatan mental Anda sendiri.

Untuk Sahabat Ruanita, mari kita tunjukkan kepedulian kepada mereka yang berjuang melawan kanker, baik pasien maupun caregiver. Terkadang, dukungan kecil seperti mendengarkan atau memberi pelukan hangat bisa membuat perbedaan besar.

Hari Kanker Sedunia bukan hanya tentang kesadaran akan penyakit ini, tetapi juga tentang cinta, keteguhan, dan harapan. Semoga cerita saya dapat menjadi pelita kecil bagi mereka yang sedang berjalan di jalan penuh duri ini.

Penulis: Kiky, relawan Ruanita Indonesia di Swedia yang dapat dikontak via akun instagram: little_monkey2016.

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Kemeriahan Imlek di Taiwan

Program Cerita Sahabat Spesial tayang tiap bulan yang mengundang partisipasi berbagai perempuan Indonesia untuk bercerita sesuai tema yang beragam, termasuk tema yang sedang terjadi pada hari ini, yakni Chinese Lunar New Year. Di Indonesia, Chinese Lunar New Year disebut juga Imlek yang tentunya bisa jadi pengalaman berharga bagi orang Indonesia yang tinggal di Taiwan.

Dia adalah sahabat Ruanita yang kini menetap di Taiwan sejak sebelas tahun lalu, di Kota Taipeh. Dia bernama Lili, yang awal mulanya datang ke Taiwan untuk belajar bahasa Taiwan. Lili sendiri mengatakan bahwa perayaan Imlek mendapat hati bagi warga Taiwan, karena durasinya yang lama untuk merayakannya bersama keluarga.

Warga Taiwan biasanya menyambutnya dengan membersihkan rumah sebelum Imlek datang. Namun, Lili menekankan membersihkan rumah hanya sebelum datangnya Imlek, bukan pada jelang H min satu hari dari Chinese Lunar New Year karena hal itu malahan akan menghilangkan keberuntungan di tahun yang baru.

Tak hanya membersihkan rumah, mereka di Taiwan juga mendekorasi rumah mereka sesuai shio yang akan datang pada tahun tersebut. Mereka juga kadang menggantungkan tulisan-tulisan keberuntungan secara terbalik agar keberuntungan datang ke dalam rumah.

Hal menarik yang diceritakan Lili adalah bagaimana warga Taiwan menyiapkan hidangan yang semuanya ditujukan untuk mendatangkan rezeki, keberuntungan, dan kebahagiaan untuk penghuni rumah. Tak hanya itu, Lili juga menjelaskan makna pemberian uang angpo hingga jumlah yang disarankan untuk warga di Taiwan agar bisa mendatangkan keberuntungan.

Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan tayangan video berdurasi sekitar 10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube Ruanita Rumah Aman Kita dan dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebagai ruang aman berbagi cerita inspiratif perempuan Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Program ini mengangkat pengalaman nyata, perjuangan, serta refleksi para perempuan dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mendorong promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Digagas oleh Anna Knöbl di Jerman, CSS menjadi wadah yang memperkuat suara perempuan, membangun solidaritas, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keadilan serta kesempatan yang setara bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan.

Seperti apa kemeriahan perayaan Imlek di Taiwan, simak selengkap di kanal YouTube berikut dan jangan lupa SUBSCRIBE kanal YouTube agar dapat berbagi lebih banyak lagi

(SWG) Bagaimana Kesetaraan Gender di India?

Melanjutkan episode ke-2 program Sharing with Guchi (SWG), Cindy Guchi yang menjadi host dari program ini mengundang sahabat Ruanita, yakni perempuan berkebangsaan India yang tinggal di West Bengali dan berprofesi seagai Researcher dan Lecturer sekarang. Dia bernama Sanchali Sarkar yang dapat dikontak lewat akun instagram sanchali_s yang juga kini sedang menempuh pendidikan PhD di Jerman.

Sebagaimana yang disampaikan oleh Cindy, program ini bertujuan untuk memberikan ruang untuk diskusi antara Cindy sebagai perempuan Indonesia dan perempuan dari negara lain tentang topik menarik dan bagaimana perspektif mereka terkait dengan tema yang ditawarkan di negara mereka.

Pada episode ke-2, Cindy mengangkat tema kesetaraan gender di India yang masih menjadi isu yang kompleks dan bagaimana implementasinya, sepanjang pengamatan dan pengetahuan dari informan yang juga menjadi dosen keseteraan gender di salah satu universitas di India.

Berbicara tentang kesetaraan gender, Sanchali menyatakan bahwa masih ada ketimpangan gender di negara tempat tinggalnya. Menurut informan, ada banyak faktor yang menyebabkan ketimpangan terjadi seperti: masalah keluarga, agama, seksualitas, kasta, dan benturan budaya yang membuatnya sulit diimplementasikan.

Misalnya, pernikahan anak di India yang sudah dilarang sejak tahun 2006 tetapi faktanya masih saja terjadi pernikahan anak yang terjadi di masyarakat di negara tinggal Sanchali. Padahal, aturan menikah sudah jelas ketat yakni laki-laki berumur 21 tahun dan perempuan berusia 18 tahun, tetapi antara peraturan dan implementasi begitu timpang.

Sanchali mengakui bahwa struktur di masyarakat tempat tinggalnya begitu sangat patriakal, meskipun banyak juga yang mengakui bahwa undang-undang yang dibuat oleh pemerintah India sudah berpihak pada perempuan. Dalam realitanya, itu begitu sulit bagi orang-orang untuk mengaksesnya.

Tema-tema menarik apa saja yang dibahas dalam antara Cindy dengan Sanchali? Mengapa kesetaraan gender di India begitu sulit diterapkan? Apa pesan Sanchali kepada perempuan India dan perempuan seluruh dunia?

Simak selengkapnya program Sharing with Guchi (SWG) episode ke-2 berikut ini dan jangan lupa SUBSCRIBE kanal YouTube kami agar dapat berbagi lebih banyak lagi.

Sharing With Guchi adalah program bincang-bincang digital yang diproduksi oleh Ruanita Indonesia. Di sini, kami mengangkat cerita, pengetahuan, dan perspektif yang memperkuat suara perempuan global bersama perempuan Indonesia yang menjadi #relawanruanitaindonesia dalam wacana global. Lewat percakapan hangat dan bermakna, SWG bertujuan mendorong solidaritas, pembelajaran, dan aksi nyata.

(PODCAST RUMPITA) Berbagi Cerita Merantau Bersama “The Perantau” di Australia

Program RUMPITA – Rumpi bersama Ruanita – dalam episode berikut dipandu oleh Anna dan Putri yang tinggal di Jerman, yang membahas tentang pengalaman merantau di luar negeri. Untuk memperkaya cerita merantau, Anna mengundang Founder of The Perantau, yakni podcast yang dikhususkan untuk berbagi cerita merantau di seputaran benua Australia.

Billy sendiri telah berhasil menyelesaikan studi S1 dan S2 di salah satu universitas di Melbourne, Australia. Rekaman Podcast sudah dilakukan sejak tahun lalu. Selain mengelola Podcast “The Perantau”, Billy juga bekerja sebagai Digital and Social Journalist dan University Tutor. Lainnya, Billy aktif sebagai research assistant di Australia.

Dengan pengetahuannya di bidang komunikasi dan keahliannya, Billy mengajak teman-temannya untuk mengelola podcast “The Perantau” yang berisi serba-serbi kehidupan merantau di Australia. Bagi warga di Indonesia, Podcast “The Perantau” kini juga hadir di platform “Noice” dan APPLE PODCAST.

Berawal dari pengalamannya selama Pandemi Covid-19, Billy menemukan aktivitas barunya dengan membuat rekaman Podcast bersama orang-orang Indonesia di sekitarnya. Tentunya, begitu mudah bagi Billy bertemu dengan sesama orang Indonesia karena Melbourne banyak dihuni oleh perantau dari Indonesia. Selain itu, Billy juga aktif di PPI Australia, yang beragam jumlah dan jenisnya.

Billy menyebutkan ada sekitar dua ribu mahasiswa Indonesia di Melbourne. Belum lagi, Billy juga bisa menjumpai restoran khas masakan Indonesia, yang tentunya hal ini tidak mudah didapat di negara lain. Suasana merantau yang berbeda dibandingkan mereka yang merasa sendirian di negeri rantauan.

Lewat Podcast “The Perantau”, Billy menjumpai sesama perantau Indonesia yang sudah lebih puluhan tahun tinggal di Melbourne atau merintis usaha di negeri rantauan. Bagi Billy, setiap cerita yang dikemas dalam “The Perantau” selalu ada tujuan dan maksud yang ingin disampaikan, meski Billy tidak menyebutkan target market pendengarnya.

Apa yang mendasari Billy mengelola Podcast “The Perantau”? Apa saja strategi yang dikembangkan Billy dalam membagi waktu antara mengelola Podcast dengan pekerjaannya sehari-hari? Apa saja yang ditawarkan Billy lewat podcast ini? Apa pesan Billy bagi sahabat Ruanita yang ingin merantau, terutama merantau ke Melbourne, Australia?

Simak selengkapnya dalam diskusi podcast RUMPITA berikut ini:

(IG LIVE) Literasi Ibu Untuk Persiapan Kelahiran Bayi Prematur

Menutup akhir tahun 2024, Ruanita Indonesia menggelar diskusi ig live yang diselengggarakan tiap bulan dengan beragam tema yang menarik. Nah, program diskusi ig live ruanita juga meningkatkan promosi tema parenting yang mungkin belum banyak dibahas, mengingat tema ini masih dipandang personal. Hal ini termasuk tentang bagaimana pengalaman ibu melahirkan prematur dalam tema yang dibahas berikut ini.

Diskusi IG LIVE episode Desember 2024 mengundang sahabat Ruanita yang tinggal di Jerman dan di Indonesia untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan seputar kelahiran bayi prematur yang mereka hadapi. Bagaimana mereka bertukar cerita dan informasi, sehingga memperkaya diskusi IG LIVE kali ini tentang pentingnya literasi kesehatan ibu dan anak, agar ibu dan anak sama-sama sehat.

Diawali dengan cerita Siwi yang melahirkan anak prematur di Jerman. Ia bercerita bagaimana pihak rumah sakit dan pemerintah Jerman begitu mendukung fasilitas pada saat ia melahirkan bayi prematur. Siwi merasakan bahwa pengalamannya ini tidak mudah dan begitu mengkhawatirkan baginya saat itu.

Bagi Siwi, kehadiran suami sangat berarti untuk mendukung pemulihan kondisinya setelah melahirkan bayi premature. Hal serupa juga dialami oleh Mosi yang menekankan pentingnya dukungan suami dan keluarga besar saat ibu baru saja melahirkan bayi premture.

Mosi merasa kagum dengan cerita Siwi tentang bagaimana kehadiran negara lewat fasilitas yang diterima Siwi setelah melahirkan. Siwi bahkan mendapatkan perhatian ekstra karena kelahiran bayi prematur, seperti asisten rumah tangga selama dua minggu hingga kondisinya pulih dan adanya tenaga ahli seperti dokter dan bidan yang membantu merawat bayinya yang masih prematur.

Bagi Siwi dan Mosi, kehadiran social support system seperti pasangan hidup, keluarga besar, hingga support group yang mengalami kelahiran prematur sangat membantu untuk meningkatkan pemahaman bagaimana menghadapi bayi yang lahir prematur, terutama persoalan psikologis yang tidak mudah dihadapi oleh para ibu yang memiliki bayi prematur.

Simak Diskusi IG Live selengkapnya berikut ini dan jangan lupa SUBSCRIBE kanal YouTube kami:

(PODCAST IN ENGLISH) Pengalaman Cari Tempat Tinggal yang Menantang

Sebagai perempuan Indonesia yang tinggal di luar Indonesia, Ruanita Indonesia kembali menayangkan program PODCAST terbaru dalam siaran Bahasa Inggris. Para podcaster ini adalah Aini Hanafiah (akun instagram: aini_hanafiah) yang tinggal di Norwegia dan Kristina Ayuningtias (akun instagram: kayuningtias) yang saat itu tinggal di Prancis, akan bercerita pengalaman serunya mencari tempat tinggal, ketika menjejakkan kaki pertama kali di negara tujuan.

Kristina bercerita bagaimana ia mengalami perbedaan antara pengalaman mencari rumah tinggal di Bratislava, Slowakia dengan mencari rumah tinggal di Marseille, Prancis. Rupanya tiap negara di Eropa memiliki ketentuan yang berbeda-beda, termasuk juga bagaimana standar prosedur yang diberlakukan oleh pihak penyewa tempat tinggal.

Sebagai orang asing, tentunya tidak mudah mencari tempat tinggal mengingat mereka kerap dihadapkan pada scammers atau penipu. Aini bercerita serba-serbi pengalamannya pindah bersama keluarga, mulai dari Penang, Malaysia hingga sempat di Amerika Serikat. Status suami yang dianggap mahasiswa di negara tujuan kadang membuat Aini frustrasi mencari tempat tinggal bersama buah hatinya.

Hal menarik bagi Aini ketika dia mulai mencari tempat tinggal di Amerika Serikat. Dia mengatakan negeri paman sam menerapkan seleksi ketat yang dibutuhkan penyewa, mulai dari ketersediaan bus atau transportasi umum hingga lokasi yang aman dari predator kejahatan seksual.

Pengalaman berbeda kembali Aini hadapi saat dia dan keluarganya pindah ke Norwegia. Misalnya, Aini berhadapan dengan bagaimana harus tersedia uang di muka sebagai deposit di awal ketika akan mencari tempat tinggal.

Kristina sendiri menggunakan jaringan media sosial yang berisi komunitas Indonesia di negara tujuan untuk mencari tahu tentang sewa tempat tinggal. Bergabung dalam grup di media sosial bisa juga membantu untuk mengetahui bagaimana trik dan tips cari tempat tinggal saat berada di luar negeri.

Tentang Podcast Jibber-Jabber Indonesian Women Abroad

Podcast audio berbahasa Inggris ini inisiatif Ruanita Indonesia (www.ruanita.com), sebuah organisasi nirlaba yang berkomitmen menciptakan ruang aman bagi perempuan Indonesia di perantauan. Melalui Jibber-Jabber Indonesian Women Abroad, Ruanita Indonesia ingin menghadirkan refleksi perempuan Indonesia dengan interseksionalitas yang dialaminya dalam konteks transnasional, sebagaimana yang digagas oleh Anna Knöbl.

Simak selengkapnya diskusi podcast Jibber-Jabber berikut ini:

(AISIYU) Dijalani Bersama

Nama pembuat foto: Aini Hanafiah

Lokasi negara tinggal: Norwegia

Judul foto: Dijalani Bersama

Keterangan foto: Ruang aman terbangun dari assurance akan hadirnya rasa aman dalam hubungan atau dalam dinamika sebuah kelompok. Namun beda kultur, bisa beda pula konsep ruang amannya. Salah satu kultur nordic percaya bahwa interaksi dengan alam bisa menurunkan kadar stress dan membuat orang semakin rileks, sehingga kegiatan bonding yang dilakukan di alam terbuka dipercaya dapat membantu terbentuknya hubungan yang sehat dan menjadi ruang aman untuk sesama.

Di banyak kelompok support group untuk perempuan imigran di Norwegia, kegiatan hiking bersama sering diadakan untuk bonding sekaligus mengenalkan salah satu konsep lokal tentang ruang aman: bahwa alam di Norwegia itu aman dan inklusif untuk semua orang. Selain itu, biasanya orang Norwegia baru bisa rileks dan mengobrol banyak justru ketika hiking.

Lucunya, kegiatan hiking ini dinilai cukup menantang secara fisik bagi banyak perempuan imigran yang mengikuti support group lokal. 

Mereka terbiasa membangun safe space lewat acara memasak dan makan bersama (kitchen table talk). Akhirnya hiking dan kitchen table talk dibuat berselang-seling dalam program support group lokal, untuk mengakomodir kebutuhan menghadirkan ruang aman dalam proses integrasi.

(AISIYU) Ruang Aman Wanita

Nama pembuat foto: Helena Siwi

Lokasi negara tinggal: Jerman

Judul foto: Ruang Aman Wanita

Keterangan foto: Duduk sendiri di sebuah taman merupakan juga tempat teraman wanita ketika rasa jenuh melanda. 

Sekedar hanya duduk melihat keadaan sekitar pun bisa menjadi pelipur rasa karena menghirup udara segar, mendengar kicauan burung, dan berdiam sejenak bisa membuat kita untuk recovery sesaat.

(AISIYU) Fragile Dreams in Broken Horizon

Nama pembuat foto: Devi Aulia Nofitri Umada

Lokasi negara tinggal: Indonesia

Judul foto: Fragile Dreams in Broken Horizon

Keterangan foto: In classrooms and playgrounds, laughter should be the only sound. But under the cruel shadow of colonialism, Palestinian children’s laughter was silenced by the deafening roar of war. 

Their schools, once sanctuaries of learning, became battlefields. Amidst the ruins of their cities, a haunting question lingers: can these children ever feel safe, truly human, in their own land, where their only good memories are lost?

(AISIYU) Hadiah Ulang Tahun dari Penganiaya

Nama pembuat foto: Go Suan Ny

Lokasi negara tinggal: Jerman

Judul foto: Self Potrait (kiri) dan Hadiah Ulang Tahun dari Penganiaya (kanan)

Keterangan foto: (Kiri) Dipotret oleh seorang difabel menggunakan ujung lidah, yang juga adalah penyintas kekerasan. Sejak kecelakaan mobil tahun 2017, saya lumpuh total dari leher ke bawah dan dirawat di rumah oleh suster. 

Beberapa suster perawat melakukan kekerasan, dari pelecehan fisik hingga pelecehan sek***** pada terakhir Agustus 2024 lalu.

Semua suster perawat yang terlibat sudah diproses hukum.

(kanan) Salah satu suster perawat tetap saya cuti 6 minggu, dan seorang suster perawat pengganti datang pada pertengahan Agustus 2024.

Dia melakukan pelecehan sek**** dan memberi saya hadiah ulang tahun berupa lukisan diri saya, yang menggambarkan seorang gadis kecil tela*****, jongkok dengan tangan memegang kepala, kesakitan, karena rambut panjangnya yang hitam pekat ditarik.