Judul foto: “Butuh Teman Bercerita: Program Konseling Online Ruanita”
Keterangan foto: Per Agustus 2024, Ruanita Indonesia telah melayani sesi konseling online berbahasa Indonesia kepada lebih dari 60 orang yang tinggal di berbagai lokasi negara, sejak 2021. Program ini diselenggarakan secara gratis dan sukarela oleh Anna Knöbl, setiap Selasa dan Kamis pukul 18.00-20.00 waktu Eropa Tengah. Mayoritas peserta konseling online adalah perempuan Indonesia yang tinggal di mancanegara.
Dalam rangka peringatan Hari Internasional Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan sebagai bagian dari aksi program AISIYU (=AspIrasikan Suara & Inspirasi nYatamU) yang dilaksanakan sejak tahun 2021, Ruanita – Rumah Aman Kita – Indonesia mengadakan kampanye digital berupa foto bertema ruang aman perempuan.
Program AISIYU 2024 ini mendapatkan dukungan dari KJRI Hamburg dan KOMNAS PEREMPUAN yang berlangsung pada September lalu dan diikuti oleh sekitar dua puluh orang peserta yang mendapatkan keterampilan bagaimana teori dan teknik memotret dengan menggunakan ponsel. Terkumpul 13 foto yang telah terpilih oleh pemateri Workshop Fotografi Pakai Ponsel, yakni Yogi Ardhi, yang bekerja sebagai jurnalis foto.
Terkait dengan acara tersebut, Ruanita Indonesia melaksanakan diskusi IG Live episode November 2024 ini untuk membahas lebih dalam program AISIYU. Hadir sebagai informan adalah Mariska Ajeng Harini, selaku Koordinator AISIYU 2024 dan Bahrul Fuad, Komisioner Komnas Perempuan. Acara diskusi dipandu oleh Zukrufi Sysdawita, yang tinggal di Jerman.
Ajeng sendiri mengakui bahwa usulan mengadakan fotografi disebabkan kebutuhan untuk melakukan kampanye digital yang dirasa masih kurang dalam memotret ruang aman bagi perempuan selama ini. Sebagai orang yang suka dengan dunia fotografi, Ajeng ingin memotivasi sahabat Ruanita lainnya untuk menjadikan foto sebagai bentuk advokasi terhadap tema perempuan.
Ajeng merasa bahwa program AISIYU menjadi ruang ekpresi dan aspirasi untuk menyuarakan tema ruang aman perempuan agar lebih mudah diterima publik. Ruang aman yang dimaksud adalah ruang yang terbuka bagi perempuan, terlepas dari perbedaan latar belakang suku, agama, pendidikan, strata sosial, bahkan kelompok minoritas seperti perempuan dengan disabilitas atau perempuan dengan HIV & AIDS.
Komnas Perempuan yang diwakilkan oleh Cak Fu mengapresiasi upaya-upaya Ruanita Indonesia untuk melakukan berbagai aksi kampanye edukasi dan advokasi lewat program AISIYU, terutama untuk orang-orang Indonesia di luar Indonesia.
Cak Fu menambahkan Ruanita Indonesia telah mengemas tema AISIYU yang menarik sejak berdiri di tahun 2021. Hal ini tentunya lebih memudahkan publik untuk ikut serta bersuara, lewat berbagai produk kampanye global. Komnas Perempuan sendiri sudah memiliki berbagai program setiap tahunnya dalam 16 Hari Tanpa Kekerasan, agar menjadi gerakan bersama untuk siapa saja, terutama untuk menciptakan ruang aman bagi perempuan.
Simak selengkapnya diskusi IG LIVE episode November 2024 berikut ini:
Dalam program Cerita Sahabat Spesial episode September 2024 kali ini, kami mengundang sahabat Ruanita yang tinggal di Prancis. Dia adalah Rosy Daulay yang pernah tinggal lebih dari 14 tahun di Denmark dan sekarang pindah setelah pernikahan keduanya.
Rosy yang pernah bekerja sebagai Paedogogue di Denmark, bercerita bagaimana dia pada akhirnya bertemu dengan suami kedua di usia yang tidak lagi muda. Rosy menegaskan bahwa ia membutuhkan seorang teman hidup untuk mengisi hari-hari tuanya.
Tidak ada kata terlambat untuk membangun biduk bahtera rumah tangga, termasuk Rosy yang mengenal suaminya saat dia sudah memasuki usia yang terbilang tak muda lagi. Bagi Rosy yang sudah lama tinggal di Eropa, kehadiran partner hidup bukan lagi terhitung frekuensi pernikahan atau usia yang tidak lagi muda, tetapi bagaimana komitmen untuk membangun hidup bersama.
Rosy juga tidak ingin orang-orang sekitar lebih memberikan cap buruk pada perempuan apabila ada kegagalan pernikahan, bukan lagi memahami mengapa pernikahan mereka tidak berjalan harmonis.
Ketika menjalani pernikahan keduanya, Rosy merasa tidak perlu minta ijin pada siapa pun atau meminta pendapat orang lain. Dia merasa bahwa dia sudah cukup dewasa untuk memutuskan yang terbaik untuk hidupnya.
Apa yang membuat Rosy memutuskan untuk menikah kedua kalinya? Apa yang terjadi dengan pernikahan sebelumnya? Apakah Rosy tidak khawatir atau merasa malu untuk menikah di usia yang tak lagi muda? Apa pesan Rosy bagi orang-orang yang ingin menikah di usia senja?
Jerman – Salah satu program yang diusung Ruanita Indonesia sejak tahun 2021 adalah program jangka panjang AISIYU (AspIrasikan Suara dan Inspira nYatamu). Banyaknya laporan yang diterima Ruanita Indonesia tentang kasus pelecehan seksual, diskriminasi dan kekerasan domestik yang dialami perempuan Indonesia di luar negeri melatarbelakangi dibuatnya kampanye AISIYU ini.
Melalui program AISIYU, Ruanita Indonesia ingin meningkatkan kesadaran publik tentang masalah kekerasan terhadap perempuan yang terjadi tidak hanya di Indonesia saja, tetapi juga di luar Indonesia. Upaya ini dilakukan untuk mengubah sikap dan budaya di masyarakat yang sayangnya masih menganggap kekerasan terhadap perempuan adalah suatu hal yang biasa terjadi.
Adapun program AISIYU dibuat sebagai kampanye tahunan yang diadakan bertepatan dengan Hari Internasional Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan yang jatuh setiap tanggal 25 November. Kampanye tahunan ini diharapkan dapat mendorong masyarakat Indonesia untuk proaktif melaporkan tindak kekerasan terhadap perempuan dan berbagi dukungan sosial untuk para penyintas kekerasan.
Kampanye AISIYU dilangsungkan lewat platform digital melalui media sosial Ruanita Indonesia dalam bentuk konten edukatif, informatif, dan inspiratif. Kampanye AISIYU akan dilangsungkan selama 16 hari, mulai dari tanggal 25 November hingga 10 Desember 2024.
Diharapkan selama durasi masa kampanye ini, semakin besar pula peluang untuk membuat perubahan sosial, budaya, dan politik yang diperlukan untuk mengakhiri kekerasan terhadap perempuan di seluruh dunia, terutama di Indonesia. Lewat kampanye AISIYU pula masyarakat dapat diajak untuk berkontribusi dalam menciptakan ruang aman bagi perempuan, bebas dari ancaman dan kekerasan.
Setiap tahunnya Ruanita Indonesia menggunakan media yang berbeda untuk berkampanye. Pada tahun 2023, Ruanita Indonesia mengadakan visual art workshop yang menghasilkan 16 produk seni kolase. Kampanye AISIYU tahun 2024 ini mengusung tema “Ruang Aman Perempuan” lewat media fotografi. Di era digital ini, membuat foto dengan ponsel berkamera sangat mudah dilakukan.
Ditambah lagi penggunaan media sosial untuk saling berbagi foto terbukti menjangkau banyak orang dan dapat dijadikan media kampanye yang positif. Hal inilah yang mendasari Ruanita Indonesia untuk menggunakan fotografi sebagai media kampanye anti kekerasan terhadap perempuan tahun di 2024.
Rangkaian Kampanye AISIYU 2024 akan diadakan dalam bentuk online workshop dan pameran digital (media sosial Ruanita). Tahun ini Ruanita Indonesia menghadirkan online workshop keterampilan fotografi praktis menggunakan kamera ponsel. Workshop fotografi praktis ini akan dibagi dalam dua pertemuan pada tanggal 7 dan 14 September 2024, yang dibuka secara resmi oleh Renata Siagian, Konjen KJRI Hamburg di Jerman.
Pada pertemuan pertama, Bahrul Fuad selaku Komisioner Komnas Perempuan, akan menyampaikan konsep ruang aman bagi perempuan sebagai panduan tema untuk peserta dalam mengambil foto. Selanjutnya, Yogi Cahyadi selaku Redaktur Foto Republika Network, akan menyampaikan teori dan teknik dasar fotografi, termasuk pengambilan foto menggunakan fitur-fitur dalam kamera ponsel. Diharapkan peserta workshop tidak hanya mampu membuat foto estetik, tapi juga mampu menyuarakan isu pentingnya menciptakan ruang aman bagi perempuan.
Topik teori dan teknik dasar fotografi menggunakan ponsel akan diteruskan pada pertemuan kedua. Di akhir workshop, peserta diminta untuk membuat dan mengirimkan minimal dua buah foto menggunakan ponsel sesuai dengan tema “Ruang Aman Perempuan”.
Dari foto-foto yang masuk akan dipilih 16 foto yang nantinya akan dipublikasikan pada pameran digital di media sosial Ruanita pada tanggal 25 November hingga 10 Desember 2024. Program Workshop Fotografi diselenggarakan Ruanita Indonesia dalam kerja sama bersama KJRI Hamburg, KBRI Berlin, dan Komnas Perempuan.
Ruanita (Rumah Aman Kita) Indonesia di bawah naungan Yayasan Ruanita Perempuan Indonesia merupakan organisasi nirlaba yang ditujukan untuk berbagi dan berdiskusi pengetahuan, pengalaman, pengamatan, dan praktik kehidupan di mancanegara.
Program Ruanita dikelola berdasarkan manajemen berbasis nilai, intervensi komunitas, dan menggunakan Bahasa Indonesia. Proyek kami berfokus pada isu kesehatan mental dan kesetaraan gender sesuai dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Sejak berdiri pada 2021, Ruanita Indonesia telah menjadi social support system, untuk warga Indonesia di luar Indonesia, terutama perempuan.
Info lebih lanjut: Aini Hanafiah, yang dapat dikontak info@ruanita.com
Dalam episode cerita sahabat spesial di bulan Juni 2024, Ruanita Indonesia mengangkat cerita dari India terkait pelaksanaan Hari Janda Sedunia, yang diperingati setiap 23 Juni. Oleh karena itu, kami mengundang Dianita Pramesti yang tinggal di India dan bekerja sehari-hari sebagai pengajar di salah satu taman kanak-kanak atau Preschool di Goa, India.
Dianita adalah ibu dari dua orang putra, dari hasil perkawinannya dengan pria asal Goa, India. Di India, anak laki-laki begitu mendapat tempat istimewa dalam keluarga. Menjadi janda, terpisah dari anak kandung dan bertahan hidup di India yang tak mudah bagi Dianita saat itu.
Ini berbeda dengan anak-anak perempuan di India, ketika mereka tumbuh dewasa dan menikah, kebanyakan mereka akan ikut dan tinggal di pihak keluarga suami. Ketika perempuan menikah di India, perempuan pun perlu menyerahkan mas kawin kepada pihak keluarga laki-laki.
Sekelumit cerita Dianita tentang bagaimana dia mengenal betul kultur India, yang menjadi rumah keduanya sekarang. Awalnya, dia bertemu dengan pria berkewarganegaraan India yang kemudian membuatnya untuk menikah dan memutuskan tinggal di India.
Dianita mengakui dia sudah berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan pernikahannya, tetapi pada akhirnya mantan suaminya tersebut memutuskan untuk pergi ke negara lain dan bekerja di sana. Mantan suaminya pun telah menemukan tambatan hati yang baru.
Setelah Dianita terpisah dari suaminya, kedua putranya terpaksa tinggal bersama keluarga di pihak mantan suami. Anak-anak Dianita diasuh dan dibesarkan oleh keluarga mantan suami. Sesekali Dianita bisa berkunjung untuk melihat kedua putranya, misalnya kalau mereka berulang tahun.
Keluarga pihak mantan suami tidak mengizinkan kedua putranya Dianita tinggal bersamanya, meskipun ayahnya dari kedua putranya pun tidak ikut mengasuh mereka. Selama tujuh tahun, Dianita berjuang untuk bertahan hidup di India dan memperjuangkan hak asuhnya agar bisa bersatu kembali dengan anak-anaknya.
Dianita mengakui itu tidak mudah, apalagi Dianita saat itu sudah menjadi janda dan harus menghidupi dirinya sendiri. Beruntung ada banyak pihak yang menolong Dianita, sehingga perjuangannya tidak sia-sia. Dia berhasil mendapatkan hak asuh anaknya, walaupun dia harus membayar mahal pihak pengacara di sana.
Kalau Anda bersimpati terhadap cerita Dianita dan ingin membantu secara finansial, silakan mendapatkan kontak Dianita dengan menghubungi email Ruanita Indonesia.
Apa yang terjadi dengan Dianita sehingga dia tinggal dan berpisah dengan suaminya? Bagaimana perjuangan Dianita mendapatkan hak asuh anaknya? Siapa saja stakeholders yang sudah membantu Dianita untuk keluar dari permasalahan hak asuh anaknya? Setelah mendapatkan hak asuh anaknya, bagaimana kehidupan Dianita sekarang? Apa pesan Dianita kepada kita semua?
Simak selengkapnya di kanal YouTube kami berikut ini:
SUBSCRIBE kanal YouTube kami agar kami dapat berbagi lebih banyak lagi.
Deskripsi: Di sini ada awan biru sebagai bentuk ruang bebas, di mana langit selalu memberi kesempatan kepada siapapun manusia, termasuk seorang korban kekerasan. Bahkan, seorang korban punya kebebasan untuk menemukan support system atau women support women, membantunya untuk membatasi hubungan berkedok mengendalikan dan menjatuhkan.
Judul karya: Menyembuhkan Diri, Mencari Jalan Keluar dari Kekerasan
Deskripsi: Saya punya pengalaman, dari seorang rekan yang sedang hamil dan mengalami kekerasan. Kekerasan fisik terhadap perempuan yang sedang hamil, tentunya menciptakan situasi traumatis yang berpotensi merugikan ibu dan janin. Pilihan antara tetap tinggal atau mencari tempat aman menjadi dilema sulit. Belum lagi dia perlu mempertimbangkan kesehatan mental dan fisik yang rentan. Penting untuk mencari dukungan dari keluarga, teman, atau lembaga yang kompeten dalam membantu korban kekerasan domestik. Menemukan tempat yang lebih aman dan berusaha menyembuhkan diri adalah langkah penting menuju pemulihan dan keselamatan jangka panjang.
Deskripsi: Kemerdekaan untukku adalah keberanian untuk kita lari, kabur, berpisah, melepaskan, dari semua penjara-penjara tak berbentuk yang dibangun oleh pola pikir patriarki. Bukan hanya secara fisik tetapi yang lebih utamanya secara pikiran, karena kalau kita tidak memerdekakan pola pikir kita, sejauh apapun kita melarikan diri, penjara itu akan tetap mengikuti. Kita harus sadar bahwa kita ini NYATA dan MAMPU melakukan apapun. Sendiri saja mampu apalagi bersama-sama. Uluran tangan banyak pihak juga sangat membantu untuk para perempuan memerdekakan diri dan pikirannya dan kungkungan penjara patriarki. Seni adalah cara memerdekakan diri, sudah digunakan sejak ratusan abad atau bahkan lebih lama. Dengan berkesenian apapun bentuknya, semoga para perempuan bisa menemukan pintu-pintu kemerdekaannya.
Setiap bulan kami menghadirkan program cerita sahabat spesial yang disampaikan oleh sahabat Ruanita Indonesia di seluruh dunia. Dalam rangka memperingati Hari Internasional Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan, kami mengundang Indah Sibuea yang tinggal di India. Indah adalah warga negara Indonesia yang tinggal di India, tepatnya di New Delhi hampir tiga tahun.
Indah juga mengelola kanal YouTube pribadinya Indah Sibuea dengan pengikut hampir dua ribu. Indah banyak bercerita tentang serba-serbi kehidupan barunya, termasuk bagaimana pengamatan dan pengalamannya tinggal di India. Indah dapat dikontak via akun Instagram indahsibuea.
Berdasarkan pengamatannya, memang ada perbedaan perlakuan pengasuhan keluarga-keluarga di India dalam membesarkan dan mengasuh anak. Ketidaksetaraan terjadi misalnya bagaimana anak laki-laki lebih didahulukan untuk mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi, dibandingkan anak perempuan. Fenomena ini masih nyata terjadi di desa, dibandingkan di kota besar seperti New Delhi yang menjadi kota tempat tinggalnya sekarang.
Selama tinggal di India, Indah sempat mengalami kehamilan dan memeriksakan diri di dokter kandungan di sana. Ada aturan yang menurut dia tidak biasa, seperti bagaimana keinginannya untuk mengetahui jenis kelamin bayinya sebelum dilahirkan. Namun, hal itu tidak bisa dibenarkan untuk Indah mengetahui apakah anak yang dilahirkan itu anak laki-laki atau anak perempuan.
Dari pengamatan dan obrolannya dengan orang-orang India, pernikahan di India merupakan pesta besar yang memerlukan biaya. Hal ini mengingat status sosial dalam sebuah keluarga. Setelah menikah, perempuan di India terbiasa untuk tinggal menyatu dengan keluarga pihak suami. Kebanyakan mereka juga tinggal bersama ipar dan keluarga besar pihak suami.
Mengapa Indah tidak boleh mengetahui jenis kelamin bayi yang dilahirkan saat dia tinggal di India? Apakah masih terjadi perbedaan perlakuan pengasuhan antara anak laki-laki dengan anak perempuan? Bagaimana Indah menjelaskan tentang kehidupan keluarga di India? Apa saran Indah dalam rangka Hari Internasional Penghapusah Kekerasan terhadap Perempuan?
Simak selengkapnya dalam video berikut ini di kanal YouTube kami:
Subscribe kanal YouTube kami untuk mendukung kami.
Acara Workshop Seni Kolase Online dalam rangka Hari Internasional Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan 2023 dalam kerja sama Ruanita Indonesia dengan Komnas Perempuan melalui produk kolase bertema: Merdeka dari Kekerasan.
Workshop Seni Kolase Online disampaikan oleh Seniman Kolase, Putri Ayusha yang kini menetap di Spanyol. Karya-karya beliau dapat dilihat di Fanpage Facebook atau Instagram Kertasiun.
Sebagai informasi, Ruanita Indonesia memberikan akses materi untuk kepentingan pribadi dan pembelajaran bersama. Kami merekam data untuk kepentingan untuk komunikasi, informasi dan edukasi.
Untuk mengunduh materi tersebut, silakan mengisi formulir berikut yang ditautkan. Rekaman ulang acara tersebut atau permohonan materi, dapat juga langsung mengontak Admin via email di info@ruanita.com, apabila Anda belum mendapatkan materi atau rekaman zoom yang dimaksud.
Program Workshop Visual Arts – Seni Kolase diselenggarakan Ruanita Indonesia bekerja sama dengan Komnas Perempuan Republik Indonesia yang bertujuan agar mendorong partisipasi warga melalui karya seni sebagai gerakan global untuk menyuarakan anti kekerasan terhadap perempuan, sehingga tercapai kesetaraan gender yang menjadi fokus proyek.
Program Workshop Seni Kolase 2023 diselenggarakan pada Sabtu, 4 & 11 November 2023 pukul 10.00 – 12.00 CET/ pukul 16.00 – 18.00 WIB melalui zoom meeting. Harapannya peserta dapat mengambil bagian dalam kampanye 16 Hari untuk memperingati Hari Internasional untuk Penghapusan Kekerasan terhadap perempuan yang berlangsung 25 November – 10 Desember 2023.
Program Workshop Seni Kolase 2023 ini hanya untuk 30 peserta. Mohon peserta menuliskan alasan kuat mengikuti workshop ini sehingga menjadi pertimbangan panitia untuk memilih Anda. Pendaftaran ditutup hingga tanggal 2 November 2023.
Ketentuan peserta:
Warga Indonesia berusia minimal 18 tahun.
Bersedia hadir penuh dan tepat waktu dalam pertemuan 1 dan 2.
Bersedia menyerahkan hasil karyanya setelah workshop kedua selesai.
Bersedia mengambil foto/scan karya yang diproduksinya dan mengirimkannya ke panitia penyelenggara via email info@ruanita.com.
Bersedia menuliskan deskripsi singkat (3-5 kalimat) tentang karya yang dibuat dan dicantumkan (nama & akun media sosialnya) pada saat kampanye berlangsung.
Bersedia menyediakan peralatan seperti: gunting, cutter, lem kertas, isolasi, doubletape, kertas gambar ukuran A4, penggaris, alas pemotong dan bahan seperti: majalah/brosur/koran bekas, dll.
Bersedia mengisi formulir berikut
Pengiriman produk workshop sebagai partisipasi kampanye dilakukan selama 11 – 14 November 2023 via email info@ruanita.com. Sebagai tindak lanjut, 15 karya terbaik dari peserta akan dipilih panitia dan ditampilkan di akun media sosial IG, FB, dan website Ruanita Indonesia dan di-repost oleh akun Komnas Perempuan Indonesia. Karya peserta juga bisa dilihat di website www.ruanita.com.
Program cerita sahabat spesial digelar oleh Ruanita (Rumah Aman Kita) Indonesia setiap bulan melalui video berkisar 5-10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube. Pada episode Oktober 2023 ini, Ruanita Indonesia mengundang Mala Holland yang telah bekerja di Inggris sebagai Psikoterapis. Sebagai tenaga profesional untuk Trauma Care Practitioner, Mala melakukan pendekatannya melalui play and creative arts dalam melayani kliennya dari berbagai kelompok usia.
Menurut Mala, trauma terjadi sebagai respon tubuh terhadap peristiwa yang pernah dialami. Mala menyadari bahwa tidak mudah bagi tiap orang untuk menceritakan persoalan trauma yang dialaminya. Bahkan Mala pernah mendapatkan klien usia anak-anak yang sama sekali belum dapat mengkomunikasikan apa yang dialaminya akibat peristiwa yang menyebabkan dia trauma.
Melalui pendekatan Play and Creative Art Therapy, Mala membantu para kliennya untuk mengkomunikasikan apa yang mereka alami dan rasakan. Menurut Mala, creative art atau playdough bisa membantu klien menggali hal yang tidak disadarinya yang ada di bagian ketidaksadaran manusia.
Trauma menurut Mala terjadi pada memori yang fragmented dan mungkin saja “tidak utuh” sehingga perlu dibantu untuk mengenali apa yang membuat seseorang itu merasa trauma. Setiap orang mengalami trauma yang tidak mudah dan perlu penanganan ahli/profesional melalui berbagai pendekatan. Mala sendiri juga menyebutkan berbagai trik yang bisa membantu seseorang untuk keluar dari traumanya.
Pergi ke terapi atau bertemu dengan tenaga ahli adalah sebagian kecil yang memang membantu seseorang untuk keluar dari trauma. Namun, sebagian besar waktu yang diperlukan keluar dari trauma bergantung pada orang tersebut dan dukungan sosial dari orang-orang sekitarnya seperti keluarga.
Mala menyarankan agar kita perlu mencari tahu mana terapi yang cocok dengan kebutuhan kita. Bahkan Mala meminta kita untuk mengecek policy yang dimiliki si terapi dalam membantu kliennya. Kita bisa saja pergi mencari bantuan ke piskoterapi lainnya, bilamana dirasakan tidak cocok.
Bagaimana pendekatan play and creative art therapy dalam membantu klien mengatasi trauma? Apa saja yang diperlukan orang yang mengalami trauma untuk mengatasinya? Apa yang sebaiknya dilakukan keluarga dan social support system dalam membantu orang sekitar yang mengalami trauma? Berapa besaran biaya dan cara mendapatkan terapi untuk mengatasi trauma?
INDONESIA – Berdasarkan laporan permasalahan dan tantangan hidup tinggal di luar Indonesia, Ruanita (Rumah Aman Kita) Indonesia pada hari Rabu (20/9) melakukan kunjungan ke Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia. Hadir dari tim Ruanita Indonesia antara lain: Natasha Hartanto, Hernita Oktarini, dan Anna Knöbl.
Dalam kesempatan tersebut, juru bicara dari Ruanita Indonesia yakni Natasha menjelaskan: profil Ruanita Indonesia, permasalahan dan tantangan warga Indonesia di luar Indonesia, dan harapan Ruanita Indonesia terhadap Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Republik Indonesia.
Diskusi dan audiensi dari Kemlu dihadiri oleh Ardian Wicaksono, Fungsional Diplomat Madya di Amerika I, Ditjen Amerop; Chairul dari Direktorat Perlindungan WNI; dan Faisal dari Direktorat Eropa II.
Mereka mengapresiasi kinerja Ruanita Indonesia yang banyak terlibat untuk melakukan fungsi psikosial dan pendampingan permasalahan perempuan Indonesia di luar Indonesia, terutama area domestik.
Pada kesempatan tersebut, Kemlu RI memperkenalkan tentang aplikasi peduli yang diperuntukkan untuk warga Indonesia yang tinggal lebih dari 6 bulan dan bukan sebagai turis di negara tujuan. Aplikasi ini dilengkapi dengan fitur pelayanan lapor diri hingga tombol darurat yang dapat menginformasikan titik koordinat GPS bila warga Indonesia memerlukan bantuan darurat.
Sebagai contoh, ada seorang warga Indonesia yang tinggal di Jepang dan mengalami serangan jantung. Lalu dia menekan tombol darurat yang langsung terhubung dengan KBRI/KJRI terdekat. Alhasil, pertolongan pun datang sehingga dia tidak mendapatkan hal yang fatal. Sebenarnya lapor diri juga diperlukan untuk memastikan keberadaan warga Indonesia dan dapat dikenakan sanksi bila tidak melakukan lapor diri.
Aplikasi lain yang diperkenalkan Kemlu RI adalah aplikasi Safe Travel yang diluncurkan saat pandemi Covid-19 lalu. Aplikasi ini diperuntukkan untuk warga Indonesia yang tinggal kurang dari 6 bulan atau sebagai turis. Aplikasi ini memudahkan warga Indonesia untuk mengetahui situasi darurat di negara tujuan atau kontak perwakilan Indonesia di luar negeri.
Ruanita Indonesia mengharapkan adanya standar prosedur bagi warga Indonesia di luar negeri untuk melaporkan kejahatan/kriminalitas/permasalahan hukum yang dihadapi; fungsi konsuler yang aktif dan responsif dalam situasi darurat; memberikan sosialisasi dan edukasi yang mendalam dalam rangka preventif untuk permasalahan domestik; informasi dan komunikasi yang efektif tentang kondisi dan peraturan imigrasi negeri asing, dan perlindungan hak-hak WNI.
Dalam diskusi terbuka antara Ruanita Indonesia dengan Kemlu RI disebutkan pula tentang perlunya dukungan psikososial dan kapasitas knowledge yang diperlukan para diplomat KBRI/KJRI yang bertugas tentang masalah hukum yang menyangkut area domestik seperti hak asuh anak, perceraian, kekerasan dan pelecehan seksual sehingga hak hukum mereka dapat terpenuhi.
Selain itu, Kemlu diharapkan dapat membangun dialog hukum seputar hak-hak warga Indonesia di luar negeri yang lebih sering dengan melibatkan komunitas diaspora atau organisasi kemasyarakatan seperti Ruanita Indonesia. Ruanita Indonesia juga berharap Kemlu dapat memiliki standar yang jelas dalam mengatasi pelanggaran hukum yang dilakukan seseorang dengan gangguan kesehatan mental.
Kesulitan warga Indonesia di luar negeri dalam memenuhi hak hukum dikarenakan kondisi finansial seperti tidak ada biaya untuk membayar pengacara setempat dan tidak ada biaya untuk penerjemah kasus hukumnya pun dibahas dalam diskusi terbuka.
Kemlu RI menyebutkan beberapa kasus hukum yang ditangani negara, apabila warga Indonesia dapat segera melaporkan permasalahan hukum yang ditanganinya.
Kemlu RI berharap sosialisasi terhadap aplikasi perlindungan WNI di luar negeri dapat ditingkatkan lagi, pembekalan untuk staf KBRI/KJRI dapat diperkuat untuk area domestik dan pemenuhan hak-hak perempuan di luar negeri dengan melibatkan Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan), dan lebih sering mengadakan dialog kemasyarakatan dengan melibatkan organisasi seperti Ruanita Indonesia lewat program-programnya.
INDONESIA – Pada hari Senin (18/9) Ruanita Indonesia melakukan audiensi dan diskusi bersama Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan atau Komnas Perempuan yang bertempat di kantor Komnas Perempuan di Jakarta. Dalam kesempatan tersebut, Ruanita diwakilkan oleh Anna Knöbl selaku Founder of Ruanita Indonesia yang didampingi oleh para relawan seperti: Hernita Oktarini, Natasha Hartanto, dan Stephanie Iriana Pasaribu.
Kedatangan tim Ruanita Indonesia disambut dengan baik oleh Komnas Perempuan yang dipimpin oleh Ketua Subkomisi Partisipasi Masyarakat , Veryanto Sitohang dan didamping oleh Staf Komnas Perempuan lainnya. Dalam kesempatan tersebut, Komnas Perempuan mengapresiasi kerja Ruanita Indonesia yang selama ini telah berupaya untuk membuat program terstruktur dalam mengatasi kekerasan yang terjadi pada perempuan Indonesia di luar Indonesia.
Hernita Oktarini, selaku juru bicara dalam Tim Ruanita Indonesia menjelaskan tentang profil Ruanita Indonesia yang baru saja menginjak usia 2 tahun. Pada Maret 2023, Ruanita Indonesia telah berbadan hukum di bawah Pemerintah Indonesia dengan nama: Yayasan Ruanita Perempuan Indonesia dan bekerja secara digital untuk terhubung dengan berbagai perempuan Indonesia di mancanegara.
Hernita juga menjabarkan tentang permasalahan dan tantangan yang dihadapi perempuan Indonesia selama ini di luar Indonesia seperti: status izin tinggal, kultur (bahasa dan budaya), psikologis, pekerjaan, krisis sosial dan identitas kebangsaan, keamanan hingga keluarga dan pengasuhan anak.
“Tinggal di negara yang memiliki budaya, bahasa, dan sistem pemerintahan yang berbeda tentu mendapatkan beragam tantangan. Mulai dari aspek psikologosi, saat tinggal di luar negeri, hingga kekerasan yang dialami oleh perempuan-perempuan yang terikat dalam perkawinan campuran,” kata Anna menambahkan penjelasan Hernita.
Selain itu, Ruanita Indonesia berharap kepada Komnas Perempuan untuk memberikan dukungan dan perlindungan kepada perempuan Indonesia di luar negeri melalui dukungan psikosial, dukungan informasi dan edukasi tentang hak-hak perempuan di luar negeri, pemberdayaan ekonomi, dan advokasi hak-hak perempuan seperti menjadi perantara dengan KBRI/KJRI dalam mengakses layanan kekonsuleran. Ruanita Indonesia berharap dapat menindaklanjuti kerja sama dengan Komnas Perempuan sehingga menjadi program terintegrasi dan menyeluruh untuk memerangi kekerasan terhadap perempuan.
Lebih lanjut, Komnas Perempuan yang diwakilkan oleh Veryanto Sitohang menjelaskan: “Kasus kekerasan terhadap perempuan yang terjadi, baik di luar negeri atau melibatkan warga negara asing lebih rumit untuk ditangani karena mempertimbangkan sistem hukum kedua negara.”
Acara ditutup dengan diskusi terbuka antara Ruanita Indonesia dengan Komnas Perempuan untuk menindaklanjuti kampanye bersama yang sudah dijalankan oleh Ruanita Indonesia setiap 25 November tiap tahun pada saat peringatan Hari Internasional Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan.
Dalam rangka Hari Internasional Anti Perdagangan Manusia Sedunia yang jatuh tiap 30 Juli, RUANITA mengundanga Sahabat RUANITA yang tinggal di Inggris dan pernah menyelesaikan studi S3 terkait Human Trafficking atau Trafficking in Persons dengan studinya dilakukan di Indonesia. Dia adalah Gopala Sasie Rekha yang kini menjadi pengajar di Faculty of Law, Crime & Justice, Universitas of Winchester, Inggris. Dengan nama panggilan Rekha atau Sasie, dia menjelaskan tentang perbudakaan di masa lalu dan masa kini yang terjadi dalam berbagai bentuk.
Di awal, Rekha menjelaskan tentang bagaimana perbudakan atau Slavery pada jaman kolonial terjadi dan mengapa bisa terjadi pada masa itu. Rekha pun menjelaskan bagaimana nenek moyangnya dari India telah membawanya hingga ke Indonesia akibat pada masa itu. Menurut Rekha, orang terpaksa menjalani perbudakan karena terjadi otomatis.
Perbudakan pertama yang terjadi adalah Racial Slavery atau perbudakan berdasarkan kulit, yang kemudian disusul perbudakan berdasarkan agama, ekonomi, status sosial, dsb. Pada akhirnya, perbudakan sudah dilarang sejak tahun 1800-an.
Pada masa kini, Rekha mengakui terjadi berbagai bentuk “perbudakan moderen” yang tampak seperti payung yang lebih fokus pada “perbudakaan ekonomi”, yang terdiri atas berbagai macam istilah seperti Human Trafficking, Child Exploitation, Labor Exploitation, dan lainnya yang banyak ragamnya.
Bahkan istilah trafficking bisa merujuk pada drugs trafficking, organ trafficking, dan lainnya sehingga ini termasuk sebagai organized crime. Kebanyakan awam memandang Human Trafficking hanya pada area internasional, kenyataannya tidak demikian. Kebutuhan akan permintaan orang dengan berbagai tujuan bermunculan setiap saat yang tidak tampak seperti Bride Trafficking yang mungkin dianggapnya adalah seperti pernikahan impian.
Ketika perempuan tersebut menjadi korban Bride Trafficking, dia tidak menyadari bahwa ada banyak pekerjaan rumah tangga yang dipikulnya dan tidak mengetahui hak-haknya untuk hidup dan tinggal di negara tujuan. Tak jarang korban Bride Trafficking pun harus mengalami penyiksaan dan kekerasan dari pasangan.
Rekha juga menambahkan istilah Human Smuggling yang kini dianggap menjadi jalan seseorang untuk keluar dari negaranya. Di jaman seperti sekarang, kasus Human Smuggling masih terjadi karena tradisi, ritual atau Honor Killing yang menyebabkan seseorang terpaksa keluar dari negaranya tersebut. Rekha juga berpendapat kalau Human Smuggling ini pasti ilegal dan tidak ada dokumen penyertanya.
Lalu mengapa istilah “Slavery” tidak tepat digunakan dalam konteks sekarang? Mengapa Human Trafficking disebut sebagai organized crime? Apa bedanya Human Trafficking dengan Human Smuggling? Apa maksudnya Honor Killing itu? Apa yang sebaiknya kita lakukan agar terhindar dari jerat perdagangan manusia ini?
Simak video selengkapnya di kanal YouTube berikut ini: