(CERITA SAHABAT) Kebebasan Membaca dan Melawan Stigma Book Shaming

Perkenalkan saya, Maria Frani Ayu Andari Dias, dan banyak orang memanggil saya dengan panggilan, Maria atau Ayu. Saya adalah seorang perawat, dengan konsentrasi keilmuan pada ilmu keperawatan jiwa, yang pada saat ini sedang melayani dan berkarya pada tingkat pendidikan tinggi. Selain aktivitas sehari-hari sebagai seorang pengajar, saya juga senang memanfaatkan waktu luang dengan menulis di Blog, dan membaca buku. 

Membaca buku dan menulis di blog adalah bagian dari aktivitas harian yang sudah lama saya jalankan. Dapat dipastikan bahwa kedua aktivitas ini adalah bagian yang tidak terpisahkan dari hidup saya sehari-hari. Membaca buku seperti memberi makan jiwa, dan menulis seperti memberi tanda pada dunia tentang eksistensi saya di dunia. Suara saya dalam bentuk tulisan-tulisan yang pada saat ini dengan nyaman saya temukan dari blog.  

Berkaitan dengan dunia literasi, kalau diingat kembali, sejak kecil saya memang sudah ditakdirkan hidup bersama buku. Ketika masih bayi dan mendapatkan baptisan pertama, Pastor yang membaptis saya menghadiahkan buku sebagai hadiah. Buku tersebut berjudul, “Aneka Cerita tentang Don Bosco”, yang merupakan salah satu buku cerita anak-anak tentang sosok Santo Yohanes Bosco. Buku ini, tentu saja baru dapat saya lahap ketika saya sudah bisa mulai membaca, dan buku ini termasuk salah satu buku yang menemani masa-masa kecil saya. 

Selain itu, saya beruntung karena tumbuh di keluarga yang juga mencintai buku dan menulis. Ibu dan ayah adalah orang tua yang senang menghabiskan waktu dengan membaca, dan mengoleksi buku-buku bacaan yang menyenangkan. Ayah adalah orang yang senang menulis, meskipun tulisannya tidak banyak dipublikasikan, Ia senang menulis untuk dirinya sendiri dan anak-anaknya. Tulisan-tulsan beliau, menjadi inspirasi sendiri untuk melanjutkan hidup, dan ketika menghadapi situasi-situasi yang sulit. 

Saya belajar dari kedua orang tua saya untuk membaca, menulis, dan melihat serta merasakan  keuntungan yang dapat saya peroleh dari dua kegiatan ini, yang kemudian menjadi bagian tidak terpisahkan dari hidup. Meskipun demikian, kebiasaan membaca ini belum menjadi sebuah kebiasaan yang teratur. Saya hanya membaca karena ada waku luang saja. Sampai kemudian, ketika saya duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama, Guru Bahasa Indonesia saya waktu itu memberikan tantangan dengan meminta kami menuliskan di cermin tulisan, “Sudahkah Anda membaca buku hari ini?”. Saya ikuti saran beliau waktu itu, dan lambat laun saya menjadikan membaca sebagai sebuah kebiasaan, sampai akhirnya, saya berada pada titik, saya tidak bisa menjadi normal kembali kalau saya tidak membaca. 

Kalau saya mau menjadi waras, saya harus mengambil buku untuk membacanya. Keadaan ini berlanjut sampai saat ini, yaitu ketika membaca sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kebiasaan harian saya. Membaca, bahkan menulis sudah menjadi seperti kebiasaan fisiologis, yang membuat saya menjadi aman dan nyaman. 

Sebagai seorang perawat kesehatan jiwa, tentu saja ada hubungan yang erat antara kecintaan saya terhadap membaca-menulis dengan profesi saya saat ini. Pertama, Sebagai perawat, belajar terus menerus adalah salah satu syarat dapat bertahan dalam profesi ini, dan kegiatan membaca dan menulis memastikan bahwa “belajar terus menerus sepanjang hayat” ini menjadi semakin mudah untuk dijalankan. 

Kedua, sebagai seorang perawat kesehatan jiwa, yang merawat pasien dengan masalah gangguan mental dan emosional dari berbagai latar belakang, saya harus memiliki pengetahuan yang cukup dalam dan luas, untuk dapat mengakomodasi segala kebutuhan mem-fasilitasi diskusi dan konseling dengan pasien-pasien yang datang. Ketiga, membaca, digabungkan dengan menulis, adalah kegiatan untuk menenangkan jiwa. Dua kegiatan ini, jika dikombinasikan memiliki kekuatan yang sangat besar untuk membuat saya siap dengan berbagai tantangan atau turbulensi emosi karena berbagai hal yang ada di depan sana, termasuk keadaan pasien yang tidak menentu. 

Berkaitan dengan book shaming, tentunya Sahabat Ruanita pernasaran, apakah saya pernah mengalaminya? Ya, saya pernah menyaksikan fenomena book shaming, dan syukurnya belum pernah mengalami efek negatif karena kejadian book shaming pada buku yang saya tulis atau buku yang saya baca dan ulas. 

Dulu, karena saya membaca buku fiksi seperti “Fifhy Shades of Gray”, orang-orang yang saya kenal langsung berubah pemikirannya tentang saya, dan tidak menyangka bahwa saya adalah “orang yang seperti itu” dan “bisa membaca buku-buku seperti itu”. Kejadian ini, jika dipikir-pikir lagi adalah kejadian book shaming, yang mungkin tidak sengaja dilakukan dan terjadi pada saya. 

Dalam kejadian book shaming, setidaknya ada dua korban, pertama adalah buku dan kedua adalah orang yang membaca buku. Sejauh ini, tentang buku yang saya baca, saya tidak menemukan secara langsung kejdian book shaming. Meskipun jika saya cari di Internet, ada banyak kejadian ketika buku dianggap tidak layak untuk dibaca, bahkan disebarkan di masyarakat, yang jujur saja adalah tindakan yang mengejutkan. 

Kalau dipikir lagi, selain buku Fifty Shades of Grey, saya pernah membaca dan mendapatkan reaksi yang cukup ketika saya membaca buku “The Da Vinci Code” yang ditulis oleh Dan Brown. Buku yang dianggap cukup kontroversial ini dianggap sedang mengolok-olok ajaran gereja Katolik dan masih banyak lagi. Namun, buku-buku ini saya baca dengan senang hati, dan saya menikmatinya. Tidak ada masalah bagi saya. Buku-buku yang dinilai “di luar kebiasaan” adalah buku-buku yang dapat secara langsung digolongkan ke dalam buku yang memiliki potensi mengalami book shaming

Selama ini, saya membaca berbagai jenis buku, mulai dari fiksi sampai non-fiksi, dan saya merasa tidak memiliki masalah dengan berbagai buku yang saya lahap. Setiap buku ditulis dengan berbagai intensi penulisnya, dan setiap buku memiliki target pembacanya sendiri-sendiri. Memang, hal yang mungkin dikhawatirkan banyak orang adalah kekuatan buku untuk mengubah seseorang, atau bahkan sekelompok orang. Namun, kekuatan buku seperti ini sangatlah bergantung pada individu yang membaca dan memproses buku tersebut. 

Saya rasa, saya sependapat dengan apa yang dikatakan oleh banyak orang bahwa, “bukan salah bukunya”, tetapi salah orang yang membaca, menyerap dan mempersepsikan buku tersebut. Bagi saya, buku yang saya baca adalah ladang kesempatan untuk mengkritisi apapun yang ada didalamnya. Ini berlaku tidak hanya pada buku, tetapi juga pada berbagai catatan yang saya baca. Ketika membaca buku, setiap informasi yang ada didalamnya harus diproses, dan dikritisi- yang baik dilahap, dan yang tidak baik silakan jangan diserap juga- apalagi diaplikasikan dalam hidup sehari-hari. Wah, sudah tidak benar ini!

Untuk anak-anak yang masih belajar membaca, harus ada “pendampingan” untuk memahami apa yang dibaca. Demikian juga dengan orang dewasa, perlu sekali untuk membandingkan buku bacaannya dengan buku bacaan lainnya, jangan hanya berhenti di satu buku bacaan saja. Lagipula, membaca itu adalah kegiatan memperluas perspektif dan adalah pekerjaan untuk memahami. Memahami bagaimana dunia ini bekerja, termasuk apapun yang ada didalamnya. 

Menurut saya, ada banyak hal atau faktor yang menyebabkan mengapa book shaming terjadi di masyarakat kita. Pertama, adalah pengetahuan yang kurang atau tidak memadai. Pengetahuan yang tidak mencukupi ini akan menyebabkan seseorang menjadi “sombong” dan hanya menganggap hanya buku-buku yang dibaca saja yang terbaik. Parahnya, menganggap buku-buku milik orang lain atau yang dibaca orang lain itu tidak baik. 

Kedua, yang hampir sejalan dengan alasan pertama adalah, sifat rendah hati yang minim. Seperti yang sebelumnya pernah saya sampaikan bahwa, setiap tulisan bahkan buku memiliki takdirnya sendiri-sendiri, dan ada pembaca yang menjadi sasarannya. Ketidakmampuan untuk menyadari hal ini, membuat kita menjadi tinggi hati, dan tidak mampu melihat ada permata-permata yang tersimpan dibalik kata-kata dalam hampir setiap tulisan atau buku.

Ketiga, kita bersikap tidak bijak untuk memberikan penilaian, yang kembali didasarkan dari ketidaktahuan kita juga. Mereka yang tahu, mengerti atau yang berpengetahuan, adalah mereka yang akan menahan diri untuk tidak melontarkan penilaian bahwa buku ini tidak baik, buku ini tidak layak baca, dan seterusnya.

Well, yes! Ada banyak stereotip terhadap berbagai jenis buku yang menjadi sasaran book shaming. Buku-buku yang dianggap terlalu kekanak-kanakan, terlalu abstrak, terlalu mudah untuk dipahami, dan masih banyak lagi. Buku seperti Harry Potter Series adalah salah satu contoh buku yang dinilai terlalu “imaginatif” dan bahkan dikatakan “merusak” mental anak-anak. 

Sterotip yang datang dari banyak book shamers adalah kalau buku masuk dalam kelompok “terlalu”, dan ini sungguh sangat subjektif, dan kalau meluas bisa menjadi pemahaman kolektif yang dapat merugikan banyak pihak, mulai dari penulis, rumah produksi, sampai pembaca potensial lainnya. 

Stereotip ini pun sangat dipengaruhi oleh individu sendiri, pengetahuan, dan pengalamannya, serta sangat tidak terhindarkan. Jadi, saat ini yang tersisa adalah pembaca. Apakah pembaca adalah pembaca yang sadar, yang kritis, yang baik dan lembut hatinya? Apakah pembaca adalah seseorang yang mengolah apa yang dibacanya? Atau, hanya seorang pembaca yang mentah-mentah menerima apa yang dibaca dan mudah digerakkan oleh pendapat/opini orang lain? Well, pertanyaan saya kembalikan kepada pembaca. 

Sebagai perawat jiwa, tentunya saya punya pendapat tersendiri terkait book shaming yang menimpa orang-orang yang berjuang dengan kesehatan mentalnya. Orang-orang yang sedang berjuang dengan kesehatan mentalnya, adalah orang-orang yang terluka, sedang terluka dan masih terluka. Mereka rapuh dan sangat sensitif dengan hampir apapun yang ada di sekitar mereka. Ketika book shaming terjadi pada mereka, mereka akan “berdarah dan terluka” kembali. Tentu saja, ini akan kembali membebani mereka. 

Ada banyak banyak cara yang dapat diusahakan untuk menghadapi masalah mental dan book shaming. Jalan pintas untuk menghadapi masalah seperti ini adalah “melepaskan kemelekatan” pada apapun, bahkan termasuk dan terhadap buku yang kita baca atau bahkan apapun yang kita anggap sebagai milik. Dengan melepaskan kemelekatan, kita tidak merasa bertanggung jawab atas apa yang kita miliki. Dalam hal ini maksudnya adalah bahkan ketika buku yang kita baca dan kita cintai diinjak-injak oleh orang lain, diambil, bahkan dihilangkan, kita menerimanya sebagai bagian dari hidup, dan tetap berjalan lagi. Mencapai titik ini memang sangatlah tidak mudah, tetapi sangat bisa diusahakan. 

Memilih buku apa yang ingin kita baca, adalah sebuah kebebasan dan juga kenikmatan yang dapat kita syukuri pada hidup di masa ini. Ketika kita membawa buku dengan tema-tema tertentu, motifnya akan berbeda-beda, dan sangat personal sifatnya. Banyak kali memang, buku dipilih berdasarkan kebutuhan. Misalkan, ketika kita sedang berada dalam keadaan patah hati, kita akan mencari buku-buku yang membuat kita bangkit kembali dari rasa terpuruk, atau mungkin mencari buku-buku yang dapat menjelaskan apa yang kita rasakan dan masih banyak lagi.  Semuanya sifatnya sangat personal memang. 

Terkait book shaming di blog saya, seingat saya, saya belum pernah menuliskan tentang pengalaman atau opini tentang book shaming di blog saya. Mungkin pernah dan saya tidak pernah menyadarinya, entahlah. Berhubung selama ini, menulis di blog itu, just comes naturaly untuk saya. Saya menulis dan membagikan apa yang saya pikirkan karena saya menginginkannya, seperti itu saja, termasuk buku yang saya baca. 

Tulisan mengenai buku, dan ulasan-ulasan dari buku yang saya tulis, saya tuliskan dengan tujuan sebagai pengingat. Saya senang dengan reaksi saya sendiri ketika menyadari bahwa, “Oh, saya pernah membaca buku ini ya? Begini isinya ya?” Menyenangkan saja menurut saya. Jika ada pembaca blog yang terbantu dengan ulasan yang saya buat, bagi saya itu adalah bonus. 

Media sosial, memiliki keunggulannya sendiri, yang tentu saja menitikberatkan pada memanjakan indra audio-visual. Konten-konten yang diproduksi di media sosial, yang semakin hari semakin bervariasi membuat orang-orang (pembaca) memiliki lebih banyak perspektif terhadap buku yang mereka baca. Banyaknya perspektif ini, kemudian menghasilkan variasi pendapat, yang akan menarik pembaca pada keputusan ikut melakukan book shaming atau tidak. Namun, pilihan pendapat ini pun sangat bergantung pada keadaan si individu juga. Oleh karena itu, saya sangat menyarankan pemberi ulasan buku, atau penilai buku untuk bersikap baik. Kalau pun memberikan kritik, mereka memberikan kritik yang membangun. 

Selain media sosial, ada blog. Blog memiliki halaman yang lebih luas untuk menilai dan memberikan ulasan tentang buku. Jika media sosial memiliki keterbatasan kolom untuk menulis, dan banyak bergantung pada foto atau video, maka blog memiliki ruang yang lebih luas dari itu. Meskipun demikian, blog jelas kalah popular saat ini, dibandingkan media sosial lain seperti Intagram, dan seterusnya.

Sama seperti media sosial, blog juga banyak dikatakan sebagai media sosial. Prinsipnya sama. Sebagai pengguna, gunakan dengan bijak terutama untuk mengedukasi orang lain tentang buku dan isi bukunya. Kedua, jika sebagai content creator, buatlah content yang memang memiliki tujuan untuk mengedukasi dan mencerahkan, bukan membuat content yang malah menggiring opini publik menuju hal yang tidak baik. Kalau pun proses penggiringan opini ini tidak bisa terelakkan, beberapa content creator menggunakan disclaimer seperti “gunakan akal sehat yang baik untuk mencerna isi ulasan” dan masih banyak lagi. 

Membaca itu adalah kegiatan untuk menyerap, memproses dan mengolah. Membaca pun dapat diartikan sebagai aktivitas untuk menciptakan. Menciptakan pengalaman, dan bahkan kehidupan yang baru. Menciptakan jalan yang baru, dan melakukan perubahan. 

Saya merasa, tugas pembaca adalah bertransformasi bersama buku atau tulisan-tulisan yang dibaca. Sebuah proses untuk menjadi, tentunya jelas adalah proses yang personal. Orang-orang di luar kita adalah variabel pelengkap, yang dapat saja membantu atau bahkan mengganggu proses ini. Jadi, bijaklah untuk memilih, menyaring, dan memperlakukan orang lain. 

Pada dasarnya, kita ini sama-sama pengembara, untuk mengetahui, memahami, dan mencari tahu eksistensi kita di planet Bumi ini. Kita perlu saling mendukung dalam kebaikan dan saling menasihati dalam kesulitan dan kesusahan. Diri, individu, self, adalah yang lebih penting, dari pada buku atau tulisan yang kita permalukan, yang kita nilai hanya dengan keterbatasan kita. Be good!  

Membaca adalah kegiatan untuk memperluas perspektif, dan memperkaya diri dengan kebijaksaan. Saat kita atau bahan bacaan menjadi target dari Book shaming, ambillah kejadian ini sebagai pelajaran. Belajar untuk memahami bahwa, tidak semua orang memiliki perspektif yang sama seperti kita, atau berlari dengan sepatu yang sama seperti kita. Lanjutkan membaca, lanjutkan mengeksplorasi keajaiban dari kata-kata, dan dunia yang kita huni saat ini. Nikmati prosesnya! 

Jika buku atau bahan bacaan kita menjadi target, ingatlah bahwa buku juga memiliki takdir atau tujuan pembacanya masing-masing. Mungkin di tangan orang-orang itu, buku ini tidak mendapatkan rumahnya. Mungkin hanya pada tangan-tangan orang seperti Anda, saya, kita, buku ini menemukan tempatnya. 

Jika orang lain memiliki pendapat yang berbeda tentang buku atau bacaan yang sama seperti yang ada di tangan kita, nikmati, dan rayakanlah perbedaan ini. Ini bukti betapa kaya buku yang kita lahap saat ini dan rangkullah buku ini sesuai dengan tujuannya.

Jika buku yang kita lahap sudah tidak lagi menarik, berikan kepada orang lain yang memang membutuhkan. Mungkin kata-kata yang tertulis dalam buku tersebut sudah menjadi bagian dari kita, menjadi satu dengan kita. Tentu saja, buku ini sudah mencapai tujuannya. Mungkin buku tersebut membutuhkan rumah baru untuk kembali diproses. 

Membacalah untuk diri kita sendiri terlebih dahulu, sebelum kita membaca untuk orang lain. Ini adalah saran saya untuk para pembaca yang ingin membangun iklim membaca yang supportive dan terbuka. Ini berarti membacalah untuk memenuhi kebutuhan akan informasi untuk diri kita terlebih dahulu. 

Selanjutnya, cari dan temukan book club yang memang mendukung aktivitas membaca harian kita. Jika tidak menemukan book club yang cocok, jangan dipaksa. Kita memiliki gaya membaca, kecepatan membaca, dan bahkan jenis buku untuk dibaca yang berbeda-beda. Jadi, santai saja. 

Lalu, membacalah karena kita memang ingin membaca! Bukan karena dipaksa, atau karena harus memenuhi target tertentu. Di awal-awal, pemaksaan untuk menghabiskan satu atau dua buku dalam waktu tertentu dapat berjalan dengan baik, tetapi lambat laun kebiasaan ini seharusnya sudah berubah menjadi ‘kebutuhan’. Kita membaca buku karena kita membutuhkannya. Kalau tidak membaca, kita mungkin tidak bisa sepenuhnya dikatakan hidup. 

Sejauh pengalaman saya membaca, sangat disayangkan saya tidak memiliki buku yang dapat saya rekomendasikan untuk dijadikan referensi tentang book shaming atau tentang kebebasan dalam membaca. Namun, sahabat Ruanita bisa mencoba untuk membaca buku dengan judul “The Gifts of Impection” dari Brene Brown. Buku ini tidak secara langsung membahas tentang perilaku book shaming, tetapi buku ini cukup menjelaskan tentang “the concept of shame” dan bagaimana mengolah penerimaan diri (self-acceptance). Ini akan sangat bermanfaat dalam menghadapi masalah-masalah yang ada hubungannya dengan perasaan dipermalukan, termasuk book shaming

Penulis: Maria Frani Ayu Andari Dias, seorang perawat jiwa, Blogger yang dapat dibaca tulisannya lewat blog Mariafraniayu.com dan dapat dikontak via akun instagram @mariafraniayu.

(CERITA SAHABAT) Apakah Avoidant Personality Disorder (AvPD)Disebabkan oleh Krisis Kepercayaan?

Halo, sahabat Ruanita! Saya adalah Maria Frani Ayu Andari Dias atau biasa dipanggil Ayu dan saat ini bekerja sebagai perawat jiwa di Indonesia. Berdasarkan Undang-Undang No. 38 Tahun 2014 tentang Keperawatan, perawat jiwa adalah perawat yang telah mendapatkan pendidikan dan pelatihan khusus dalam bidang kesehatan jiwa atau keperawatan jiwa di Indonesia. Perawat jiwa bekerja di berbagai fasilitas kesehatan, seperti rumah sakit jiwa, bagian psikiatri di rumah sakit umum, klinik kesehatan mental, dan layanan kesehatan komunitas. 

Berbicara tentang Avoidant Personality Disorder (AvPD), saya ingin berbagi pengalaman saya. Sebelum saya membagikan cerita berikut, saya telah meminta consent dari yang bersangkutan. Di Hari Kesehatan Mental Sedunia 2024, tujuan saya berbagi cerita adalah agar kita dapat meningkatkan literasi di bidang kesehatan mental dan mendorong kesadaran diri untuk mengecek status kesehatan mental kepada tenaga profesional. Terdapat 1.5% sampai 2.5% ditemukan kasus AvPD pada populasi warga Amerika Serikat. Ini bukan berarti bahwa AvPD dapat dianggap biasa saja oleh kebanyakan dari kita. 

Dia adalah Dian (bukan nama yang sebenarnya) yang selalu menarik perhatian saya. Saat pertama kali bertemu, kesan pertama yang saya dapatkan adalah Dian sangat pendiam dan cenderung menghindari interaksi sosial. Matanya selalu menunduk dan dia jarang sekali terlibat dalam percakapan dengan yang lain. Setelah beberapa sesi konsultasi, saya mulai mencurigai bahwa dia menunjukkan gejala yang konsisten dengan Avoidant Personality Disorder (AvPD). Psikiater dan psikolog pun memiliki satu suara, Dian memang menunjukkan tanda-tanda Avoidant Personality Disorder (AvPD).

AvPD adalah gangguan kepribadian menghindar yang ditandai dengan rasa takut yang berlebihan terhadap penolakan dan kritik dari orang lain. Dian hidup dalam ketakutan akan penolakan sehingga lebih memilih untuk menjauh dari interaksi sosial yang mungkin mempermalukannya. Sebagai seorang Perawat Jiwa, tugas saya adalah membantu dia mengidentifikasi dan mengatasi ketakutannya ini, dengan cara yang aman dan efektif.

AvPD berbeda dengan Social Anxiety Disorder (SAD), meskipun keduanya menunjukkan tanda dan gejala yang hampir sama, yaitu sama-sama menghindari atau menjauhi hubungan sosial dengan orang lain. Meskipun demikian, ada perbedaan yang sangat signifikan antara AvPD dan SAD. Orang dengan SAD menjauhi interaksi sosial karena adanya ketakutan untuk dinilai atau diperhatikan oleh orang lain. Sedangkan orang dengan AvPD memiliki motivasi untuk menghindari interaksi sosial atau bahkan hubungan dengan orang lain, yang terjadi karena rendahnya harga diri yang dimiliki dan disertai kecemasan. Orang dengan SAD pasti memiliki masalah kecemasan, sedangkan orang dengan AvPD tidak selalu memiliki masalah kecemasan. 

Dian menunjukkan tanda dan gejala yang sangat jelas mengarah pada AvPD. Dia memiliki pemikiran-pemikiran negatif tentang dirinya sendiri dan sangat sensitif akan kritik dari orang lain. Ketika orang lain menilai dirinya, termasuk penilaian tergolong positif, Dian tetap tidak mampu menerimanya. Dian akan menganalisis setiap pernyataan yang dilemparkan kepadanya, langsung sangat terbebani akan pernyataan tersebut, dan kemudian menghindari interaksi dengan orang lain. Dalam dialog, Dian pun tidak mampu menyebutkan satu hal positif tentang dirinya. Ia menolak untuk bercermin. Dian selalu mengatakan bahwa, “Rambut saya tidak rapi, pakaian saya jelek, suara saya tidak merdu, jadi lebih baik saya diam saja,” dan masih banyak lagi. 

Dalam beberapa pertemuan, Dian mengatakan ia sering ditinggal sendiri ketika masih kecil, karena kedua orang tuanya sibuk bekerja. Ketika Dian meminta perhatian dari orang tuanya, terutama dari ibunya, Dian langsung dibentak dan dimarahi. Hal ini membuat Dian memilih untuk menjadi mandiri, menyelesaikan masalahnya sendiri, perlahan menjauhkan diri dari berbagai interaksi sosial, dan bahkan enggan menjalin hubungan dengan orang lain. 

Pada dasarnya, Dian adalah seorang perempuan yang cantik dan menawan. Dian mampu menyelesaikan pekerjaan yang diberikan kepadanya. Namun, ia menolak untuk kontak dengan orang lain, lebih memilih untuk diam, menghindar, dan mengisolasikan diri secara sadar. Dian merasa tidak nyaman dengan orang lain yang mendekatinya, apalagi yang “penasaran” dengan dirinya. Dian sering tidak hadir dalam pertemuan-pertemuan keluarga. Dian sungguh tidak merasa ada yang salah dengan tingkah lakunya ini. 

Ketika ditanya mengenai alasannya, Dian mengatakan bahwa dia takut dengan penolakan-penolakan yang mungkin akan muncul dari pertemuannya dengan orang lain. Dian merasa dirinya tidak cukup. Dian telah menilai bahwa orang lain tidak akan bisa menerima dirinya. Dian juga mengatakan bahwa dia tidak ingin merepotkan orang lain dengan berinteraksi dengan dirinya. 

Dalam kasus seperti ini, pendekatan pertama yang saya lakukan adalah membangun rasa percaya, dalam bahasa yang sering kami – Perawat Jiwa – gunakan adalah membina hubungan saling percaya. Ya, kepercayaan adalah dasar dari hubungan terapeutik yang dapat menyembuhkan dan memulihkan. Dalam kasus AvPD, sangat penting bagi klien untuk merasa aman dan diterima, sebelum mereka dapat membuka diri. Saya selalu berusaha menciptakan suasana yang tenang dan mendukung, setiap kali kami bertemu. Saya tidak pernah memaksanya untuk berbicara atau melakukan sesuatu yang tidak nyaman baginya. Sebaliknya, saya memberinya ruang untuk menyampaikan perasaannya secara perlahan.

Setelah hubungan yang lebih terbuka terbentuk, saya mulai mengajaknya untuk berbicara tentang perasaannya, khususnya mengenai ketakutannya terhadap interaksi sosial. Saya mendengarkan dengan penuh perhatian dan mencoba memahami sudut pandangnya, tanpa memberikan penilaian. Saya ingin dia tahu bahwa perasaannya valid dan dapat dipahami, meskipun kita berdua tahu bahwa rasa takutnya sering kali berlebihan.

Salah satu bagian penting dari perawatan adalah memberikan pendidikan kesehatan yang tepat. Saya menjelaskan kepada Dian tentang AvPD, termasuk apa yang menyebabkan kondisi ini dan bagaimana cara mengatasinya. Saya juga memperkenalkan berbagai strategi coping yang dapat membantunya mengelola rasa cemas, seperti teknik relaksasi dan terapi kognitif perilaku. Saya yakin, dia dapat mulai merasa lebih terkendali terhadap situasinya dengan bekal pengetahuan yang cukup.

Selain itu, saya juga mendorong Dian untuk mengambil langkah-langkah kecil dalam menghadapi ketakutannya. Misalnya, saya mengajaknya untuk mencoba berinteraksi dengan satu atau dua orang secara perlahan. Awalnya, dia sangat enggan. Namun, dukungan dan dorongan yang tepat telah membuat Dian mulai mengambil risiko-risiko kecil dalam situasi sosial. Setiap langkah kecil yang diambil adalah sebuah pencapaian besar. Saya selalu memastikan untuk mengakui kemajuannya.

Saya juga bekerja sama dengan tim multidisiplin, termasuk psikolog dan psikiater, untuk memastikan bahwa dia mendapatkan perawatan yang komprehensif. Terapis memberikan dukungan tambahan melalui sesi terapi yang lebih mendalam, sementara saya fokus pada aspek perawatan sehari-hari dan pemantauan perkembangan emosionalnya. Kolaborasi ini sangat penting untuk memberikan pendekatan holistik bagi kemajuan Dian.

Namun, perjalanan ini tentu tidak selalu mudah. Ada saat-saat di mana dia kembali mundur ke dalam cangkangnya, merasa putus asa, dan kembali menutup diri. Dalam momen-momen seperti ini, saya harus bersabar dan memberikan dukungan tanpa henti. Saya menyadari bahwa proses ini bukanlah instan; ini adalah proses panjang yang memerlukan kesabaran, ketekunan, dan pengertian.

Seiring waktu, saya mulai melihat perubahan positif pada dirinya. Dia menjadi lebih berani untuk berinteraksi dengan orang lain, meskipun masih dalam lingkup yang sangat terbatas. Keberanian yang mulai tumbuh ini adalah hasil dari dukungan berkelanjutan dan usaha kerasnya untuk melawan ketakutannya. Saya merasa bangga melihat dia mulai menemukan kepercayaan diri yang sebelumnya hilang.

Melalui pengalaman ini, saya belajar bahwa merawat  orang dengan AvPD  memerlukan pendekatan yang hati-hati dan penuh empati. Setiap klien memiliki tempo pemulihan yang beragam. Sebagai perawat jiwa, saya harus siap untuk mendukungnya sepanjang perjalanan tersebut. Saya juga menyadari betapa pentingnya peran saya dalam memberikan rasa aman dan dukungan emosional, yang sering kali menjadi pondasi utama bagi proses pemulihan.

Sebagai penutup, saya ingin menekankan bahwa krisis kepercayaan atau trust issues dapat menjadi bagian dari AvPD, tetapi bukan satu-satunya faktor penyebab. Orang dengan AvPD sering mengalami kesulitan mempercayai orang lain, tetapi ini lebih karena rasa takut akan penolakan dan kritik daripada sekedar ketidakpercayaan.

Krisis kepercayaan biasanya berkembang karena pengalaman negatif di masa lalu yang membuat seseorang sulit mempercayai orang lain, tetapi dalam AvPD, masalah ini lebih terkait dengan perasaan inferioritas dan kecemasan sosial. Di Hari Kesehatan Mental Sedunia, saya ingin berbagi dukungan dan apresiasi kepada para perawat jiwa yang telah melayani para klien selama ini. 

Selamat Hari Kesehatan Mental Sedunia 2024!

Penulis: Maria Frani Ayu Andari Dias, Perawat Jiwa dan tinggal di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Indonesia.