(CERITA SAHABAT) Terima Kasih Itu Bukan Hanya Perlu, Melainkan Harus

Halo Sahabat Ruanita, perkenalkan nama saya Theresia Indri Noviatun Assenheimer. Saya biasa dipanggil Iin. Saat ini, saya tinggal di Dietzenbach, suatu kota kecil 15 Kilometer dari Frankfurt, Jerman

Sejak tahun 1993, saya tinggal di Dietzenbach. Saya lahir dan dibesarkan di Yogyakarta dan telah menyelesaikan pendidikan sarjana di IKIP Sanata Dharma Yogyakarta.

Saya adalah ibu dari dua orang putra yang sudah dewasa. Anak pertama sudah bekerja, sedangkan anak kedua masih menyelesaikan studi Master di Universitas St. Gallen, Swiss.

Sejak anak pertama saya berusia 11 bulan, saya bekerja paruh waktu di suatu toko kado dan peralatan rumah tangga di Offenbach. Sejak tahun 1998 sampai sekarang, saya bekerja 25 jam per minggu di suatu Supermarket di Offenbach. Meskipun hanya separuh hari, tetapi saya dipercaya untuk memegang Backstation atau Bakery.

Di waktu senggang saya suka menulis kecil-kecilan dan sederhana di kompasiana. Kesenangan menulis baru saya mulai pada saat pandemi Covid-19 lalu. Selain itu, saya juga aktif melayani di paroki di mana kami tinggal. Tanggung jawab saya seperti menata bunga di sekitar altar di gereja. Untuk merangkai bunga di gereja ini memang sudah saya lakukan sejak di Yogyakarta. Hobi ini berlanjut  pada tahun 1995, saya mengikuti kursus merangkai bunga di VHS di Dietzenbach.

Saya juga aktif melayani di Komunitas Masyarakat Katolik di Frankfurt sebagai kuster atau menyiapkan perayaan Misa. Saya tergerak menuliskan tema “Terima Kasih” yang sudah menjadi bagian dari hidup kita sehari-hari. Kata terima kasih sangat penting bagi saya. 

Suatu saat, saya bertemu dengan seorang rekan kerja lama, yang mana kami sama-sama. pernah bekerja di supermarket yang sama. Rekan kerja saya itu terkesan pada saya, karena saya selalu bilang terima kasih. Misalnya, saat saya duduk di kasir dan memanggil rekan kerja lainnya agar kasir berikutnya dapat dibuka, bila antrian sudah panjang. Rupanya rekan kerja saya terkesan, karena saya tidak hanya memanggil nama sambil  berkata Bitte (Silakan, dalam Bahasa Indonesia), tetapi juga selalu diakhiri dengan Danke (terima kasih). 

Rekan kerja saya tersebut berpendapat, bahwa panggilan mikrofon yang saya lakukan selalu ada kata Bitte dan diakhir dengan Danke. Sebisa mungkin saya mengucapkan terima kasih juga untuk hal-hal sederhana. Misalnya, saya selalu berucap terima kasih kepada seseorang yang menahan pintu, ketika kami memasuki suatu ruangan. 

Ucapan terima kasih merupakan penghargaan kepada orang lain. Nyatanya, itu tidak mudah untuk mampu mengucapkan terima kasih dengan tulus dari hati. Saya merasa kuncinya adalah kerendahan hati. Menurut saya, seseorang yang memiliki kerendahan hati tidak sulit untuk mengucapkan terima kasih.

Dalam ucapan terima kasih tersirat rasa syukur, seperti syukur karena kebaikan orang lain. 

Jadi, menurut saya mengucapkan terima kasih itu perlu,  bahkan harus.

Budaya mengucapkan terima kasih bagus karena membuat hubungan dengan orang lain lebih nyaman. Ucapan terima kasih, baik yang diterima maupun diberikan, membuat nyaman yang menerimanya, meskipun kadang dikatakan tanpa senyuman. Bagi kita orang timur, kata terima kasih selalu diiringi dengan tersenyum.

Sering saya mendapati orang-orang tidak mengucapkan terima kasih. Menurut saya, mungkin saja mereka tidak terbiasa mengucapkan terima kasih. Misalnya, saat mereka sedang membayar di kasir dan uangnya tidak cukup, masih beberapa Cent. Kekurangan beberapa Cent tersebut saya ikhlaskan, meskipun orang tersebut tidak saya kenal. Setelah saya relakan beberapa Cent kepada orang tersebut, dia tidak mengatakan terima kasih sama sekali. Dia hanya cukup mengatakan „Ok“.

Ada kemungkinan mereka tidak terbiasa. Mungkin saja mereka begitu tiba-tiba, sehingga mereka bisa saja tidak terpikir bilang terima kasih. Ada kemungkinan lain orang tersebut tidak bisa Bahasa Jerman. Sekarang, Jerman telah menjadi negara multikultural dan banyak orang juga bukan orang Jerman yang bisa jadi tidak mengerti Bahasa Jerman.

Kalau kita melakukan sesuatu yang baik pada orang lain, kemudian orang tersebut tidak mengucapkan terima kasih, maka ya sudahlah! Saya selalu berpikir memberi saja dan membuat kebaikan saja,  tidak perlu berharap orang mengucapkan terima kasih. 

Sejak kecil di rumah, anak- anak saya telah terbiasa mengucapkan terima kasih mulai dari hal-hal sederhana. Misalnya, setelah kami selesai makan bersama, maka anak-anak hampir selalu mengatakan „Danke Mama für leckere Essen„  atau “Terima kasih mama untuk makanan yang enak.”

Demikian juga saya mengatakan terima kasih untuk anak- anak, apabila anak-anak membantu saya membereskan meja makan, dan lain sebagainya. Saat ini, anak- anak tidak tinggal di rumah lagi. Bila mereka datang, saya mengucapkan terima kasih juga untuk waktunya dan kedatangan mereka. 

Dalam keluarga, terkadang kita menyepelekan dan sudah biasa tidak perlu mengucapkan terima kasih, karena hubungan sangat dekat. Tidak! Menurut saya, terima kasih itu perlu dalam relasi apa pun, seperti suami istri, orang tua dan anak, anak dan orang tua, dan seterusnya.

Saya yakin ucapan terima kasih yang biasa dan sederhana akan menyenangkan dan membahagiakan. Kalau hal ini dibiasakan dari rumah, maka anak-anak pun tidak sulit untuk mengucapkan terima kasih di luar rumah.

Menurut saya, ucapan terima kasih sangatlah perlu. Ucapan terimakasih disampaikan di mana saja, bila diperlukan, bahkan dengan orang yang tidak dikenal. Dari ucapan terima kasih yang biasa dan sederhana ini, tentu akan membuat nyaman siapa saja.

Penulis: Iin Assenheimer yang tinggal di Jerman dan dapat dikontak via akun Instagram iinassenheimer.