(CERITA SAHABAT) Ini Kisah Saya Ikutan Program Pertukaran Pelajar

Halo Sahabat Ruanita, perkenalkan nama saya Yasinta Putri Cinta Aryanti. Saya biasa dipanggil Cinta. Saya merupakan mahasiswi yang pernah tinggal di Warsawa, Polandia selama tiga bulan. Saya berada di sana untuk mengikuti program pertukaran pelajar dari bulan September hingga Desember 2023.

Pada awalnya, saya merasa takut dan ingin kembali ke rumah ketika saya mengalami perbedaan budaya antara Indonesia dengan Polandia. Saya pikir itu adalah masa-masa culture shock, walaupun saya merasa sudah  mempersiapkan diri dengan baik sebelum berangkat, ternyata ada beberapa perasaan baru yang muncul tanpa bisa saya prediksi.

Misalnya saja di minggu pertama, saya kerap merasa ketakutan di tengah kerumunan orang, karena tubuh saya yang jauh lebih pendek dari kebanyakan orang-orang di sana. 

Hal itu diperparah juga dengan raut wajah warga lokal yang tampak dingin, berbanding terbalik dengan orang Indonesia yang selalu tampak ramah dan penuh senyum. Saya lumayan setuju dengan anggapan, bahwa warga Polandia cenderung berwajah serius. Namun, berwajah dingin dan tampak serius bukan berarti hal buruk atau tidak hangat.

Ketika saya berbicara dan mengenal lebih jauh dengan orang Polandia, mereka menjadi terbuka dan lebih hangat. Bahkan, saya memiliki flatmate yang sangat ramah dan selalu membantu, bila ada masalah dengan kamar asrama. Mereka juga mudah tersenyum ketika diajak berbicara dan terbuka dalam mengutarakan pikiran, tanpa berbasa-basi. Menurut saya, raut wajah tersebut sebenarnya memang kebiasaan yang ada.

Berbicara soal kuliner, cita rasa makanan Polandia sangat berbeda dengan Indonesia. Menurut saya, makanan di Polandia cenderung memiliki rasa asam, dibandingkan rasa makanan Indonesia yang menjadi favorit saya, kebanyakan berasa pedas dan manis.

Selain itu, bumbu-bumbu yang digunakan pada makanan orang-orang Polandia cenderung lebih ringan, daripada masakan Indonesia yang kuat akan rasa rempah.

Saya sendiri memerlukan waktu hampir sebulan untuk menyesuaikan lidah saya dengan masakan lokal dan bumbu yang ada. Hal ini juga membuat saya sangat merindukan rumah.

Namun, setelah saya mengerti dan menerima perbedaan budaya yang ada, saya merasa bahwa saya memiliki “rumah kedua”, yaitu Polandia. Saya banyak belajar mendapatkan hal-hal positif selama tinggal di sana.

Follow us

Masyarakat Polandia juga cenderung sangat menghargai waktu, sehingga saya harus selalu tepat waktu ketika menghadiri kelas dan berbagai acara. Oh ya, yang saya tahu, mereka juga suka berjalan kaki dan menggunakan kendaraan umum.

Untuk pembelajaran di kelas, masyarakat Polandia lebih mengutamakan metode self-study, sehingga kami mendapatkan kebebasan dalam belajar. Namun, kita tetap harus bertanggung jawab untuk mengikuti pelajaran dengan baik, misalnya dengan cara membaca buku dan jurnal secara mandiri. 

Menjalani misi pertukaran pelajar juga memberikan saya banyak pengalaman menarik selama belajar di Polandia. Salah satu pengalaman paling menarik, ketika saya mendapatkan mata kuliah tentang penulisan secara akademik.

Saya sempat mengalami kesulitan dan harus mengulang kerangka tulisan dari awal. Walau begitu, dosen yang mengajarkan mata kuliah tersebut mau membimbing dan memberikan masukan sekaligus selalu menyemangati saya.

Bagi saya, ini sangat berkesan, karena saya merasa kalau progress dari setiap mahasiswa amat sangat diperhatikan di Polandia.

Sebagai warga Indonesia, saya tentunya tidak lupa memperkenalkan budaya Indonesia juga kepada mereka. Menurut saya, ini merupakan salah satu hal penting yang dapat WNI lakukan di luar negeri, supaya budaya tanah air dapat terus dilestarikan dan semakin dikenal masyarakat global.

Selain itu, terkadang memperkenalkan budaya ke warga negara asing dapat membuka kesempatan untuk berinteraksi, bertukar pengalaman, dan juga memperdalam pemahaman mengenai budaya satu sama lain secara mutual. 

Untuk memperkenalkan budaya Indonesia, saya bersama teman-teman awardees IISMA di University of Warsaw lainnya mengadakan dua acara yaitu Indonesian Day dan Batik Day. Selama Indonesian Day, kami mempersembahkan tarian Indonesia, makanan khas Indonesia, menampilkan aneka kain batik dan memberikan edukasi mengenai budaya di Indonesia.

Selanjutnya, sebagai orang Indonesia tentu kita bangga akan batik. Nah, saat Batik Days, kami mengajarkan cara menulis batik kepada teman-teman dari Ukraina, yang juga sedang berada di Polandia.

Saya dan teman-teman juga mengajarkan membuat pernak-pernik dari batik kepada sesama International Students di University of Warsaw.

Jika saya punya kesempatan untuk datang ke Eropa lagi, saya ingin kembali untuk belajar di Polandia. Saya menilai para pengajarnya berdedikasi untuk mendidik dan mau membimbing siswa-siswinya. Yang saya suka, mereka menuntun mahasiswanya untuk berpikir secara kritis.

Walaupun, metode belajar yang diterapkan lebih ke arah self-study, mereka tetap akan membantu. Oh ya, jika mahasiswa ada pertanyaan, kita bisa bertanya pada jam-jam yang ditentukan. Selain itu, perkembangan mahasiswa, baik di dalam maupun di luar kelas, juga amat sangat didukung. Saya pikir, ini semua karena ketersediaan sarana, prasarana, dan tenaga pengajar yang berkualitas. 

Sebagai tamu yang sedang berada di negara orang lain, menurut saya, kita harus selalu menghargai kebiasaan dan budaya setempat. Kita sebaiknya bisa beradaptasi dalam berperilaku sesuai kebiasaan yang ada.

Contohnya, kita bisa menciptakan suasana tenang, ketika kita naik public transportation, sebagaimana kebiasaan semua orang di sana yang biasa tenang di kendaraan umum.

Contoh lainnya, kebiasaan untuk membersihkan sisa bekas piring makanan dari meja, ketika kita datang berkunjung ke restoran self-service.

Nah, Sahabat Ruanita mungkin saja tertarik untuk mengikuti program pertukaran pelajar seperti yang saya lakukan. Tentu saja, kita harus selalu mematuhi aturan dan menghargai budaya yang ada, karena kita tinggal di negara orang.

Menurut saya, kita perlu memiliki pikiran dan pandangan yang terbuka juga. Ini penting, supaya kita dapat menghindari culture shock yang berkepanjangan. Selain itu, kita perlu mempersiapkan diri sebelum tinggal di luar negeri dengan cara mempelajari bahasa lokal, yakni bahasa sehari-hari yang digunakan warga di sana. 

Oh ya, kita perlu belajar cara memasak jugal loh. Bagi teman-teman yang ingin tinggal di luar negeri, saya menyarankan untuk belajar cara memasak. Ini supaya kalian tidak kesulitan dalam mencari makanan Indonesia.

Satu lagi nih yang penting, kita perlu juga belajar cara membersihkan rumah, supaya kita tidak merepotkan orang lain. Jangan lupa, kita selalu tetap bersemangat! Kita perlu memiliki pikiran yang terbuka dalam setiap langkahnya. Terakhir, jangan terlalu lama bersedih ketika hal-hal yang ditemui di negara orang berbeda dengan apa yang ada di rumah!

Terakhir, saya tentu senang sekali pernah menjadi bagian dari program pertukaran pelajar yang difasilitasi pemerintah Indonesia. Saya berharap semoga program ini selalu didukung dan terus diperbaiki dari tahun ke tahun agar nantinya exposure budaya Indonesia dapat semakin meluas di kancah internasional.

Penulis: Cinta, pernah menjadi peserta pertukaran pelajar di Polandia, dapat dikontak di akun Instagram yp_cinta.

(PODCAST RUMPITA) Bagaimana Pengalaman Mahasiswi Asal Jerman Magang dan Tinggal di Indonesia?

Memasuki episode ke-24 dari diskusi Podcast Rumpita, Ruanita Indonesia mengundang Sahabat Ruanita yang berasal dari Jerman dan pernah tinggal di Indonesia untuk bekerja magang dan ikut program pertukaran pelajaran ketika dia sedang remaja.

Dia adalah Leonie, yang pernah ikut program pertukaran pelajar di Sumatera Utara selama setahun dan tinggal bersama keluarga Indonesia. Oleh sebab itu, Leonie bisa berbahasa Indonesia dengan baik dan mendorongnya untuk mencoba melamar program magang di Indonesia.

Follow us

Saat magang di Indonesia selama enam bulan, Leonie bekerja di area Menteng, Jakarta Pusat. Banyak hal menarik bagaimana Leonie bekerja sama dengan orang-orang Indonesia di tempat kerja. Contoh yang mengesankannya bagi Leonie adalah “jam karet” yang sangat berbeda dengan ketepatan waktu untuk orang-orang di Jerman. Menurut Leonie, kebiasaan ‘jam karet’ itu tidak sopan dalam budaya orang-orang di Jerman.

Lainnya, adalah penggunaan WhatsApp untuk berkomunikasi dalam situasi pekerjaan. Namun, Leonie mengakui kehangatan dan keramahan orang-orang Indonesia sangat membantu Leonie mengatasi culture shock Indonesia dan mengenali budaya Indonesia lebih baik lagi.

Leonie sangat menyukai Soto Medan, yang membuatnya bisa membedakan dengan baik, Soto Jakarta yang menggunakan santan. Leonie pun suka dengan sambal dan makanan pedas.

Leonie pun melakukan hal yang sama dengan menambahkan cabai setiap makanan, yang membuat anggota keluarganya merasa terkejut ketika Leonie kembali lagi ke Jerman. Leonie sangat senang dengan kuliner Indonesia yang membuatnya kerap merindukannya dan dia tidak punya masalah dengan kuliner Indonesia.

Orang Indonesia berkomunikasi dengan tidak direct, dibandingkan dengan orang-orang Jerman yang berkomunikasi langsung. Leonie juga mengakui bahwa orang-orang Jerman tampak serius dan tidak mudah juga membangun pertemanan.

Leonie berpesan untuk orang-orang Indonesia yang ingin bekerja dan tinggal di Jerman agar tidak malu berlatih Bahasa Jerman. Supaya tidak merasa kesepian, mahasiswa asal Indonesia di Jerman bisa bergabung dengan kelompok mahasiswa di universitas atau bersabar untuk membangun pertemanan dengan rekan-rekan kerja di kantor.

Diskusi Podcast ini dipandu oleh Fadni, Mahasiswi S2 di Jerman dan Anna. Mengapa Leonie ingin magang dan tinggal di Indonesia? Mengapa Leonie suka akan budaya Indonesia? Pengalaman berkesan apa yang ditemuinya selama magang dan tinggal di Indonesia? Apa pendapatnya tentang Bahasa Indonesia yang dipelajarinya selama ini? Apa pesan dan harapan Leonie sebagai perempuan Jerman kepada orang-orang Indonesia yang dikenalnya? 

Selengkapnya diskusi Podcast RUMPITA dalam kanal Spotify berikut ini dan jangan lupa follow kanal SPOTIFY kami: