(IG LIVE) Perempuan Wirausaha di Negeri Rantau: Cerita Nyata dari Taiwan dan Polandia

Dalam rangka memperingati Micro, Small, and Medium-sized Enterprises Day yang jatuh pada 27 Juni, Ruanita Indonesia mengadakan diskusi Instagram Live bertema Kewirausahaan Perempuan di Negeri Rantau. Diskusi ini menghadirkan dua narasumber inspiratif: Sherly, pelaku usaha makanan dari Taiwan, dan Yeti, pemilik Toko Beta di Polandia.

Tantangan dan Awal Perjalanan Usaha

Sherly memulai bisnis kerupuk di Taiwan tanpa latar belakang hukum bisnis lokal, sehingga tantangan utamanya adalah memahami regulasi pemerintah setempat, terutama karena ia menjual produk makanan yang pengawasannya ketat.

Ia mengaku menjalani prosesnya secara learning by doing dan terus menyesuaikan diri dengan peraturan.

Sementara itu, Yeti memulai usaha karena kesulitan mendapatkan produk Indonesia di kota tempat tinggalnya di Polandia.

Bermodal kebutuhan pribadi dan dorongan suami, ia mulai berjualan secara informal pada 2021, lalu berkembang menjadi toko resmi.

Tantangan utamanya adalah memahami sistem perpajakan Polandia, yang diatasinya dengan latar belakang akuntansi dan kerja sama dengan tenaga profesional.

Follow us

Strategi Bisnis dan Peluang Pasar

Kedua sahabat Ruanita tersebut menekankan pentingnya mengenal kebutuhan pelanggan. Sherly, misalnya, memperluas lini produknya dengan menjual sambal sebagai pelengkap kerupuk.

Ia juga menyebut bahwa pendekatan personal kepada pelanggan penting, karena banyak yang berasal dari komunitas Indonesia dan merindukan rasa “rumah”.

Yeti menjelaskan bahwa Toko Beta memanfaatkan berbagai saluran pemasaran: mulai dari media sosial, website, kartu nama, hingga marketplace lokal Polandia.

Produk yang ditawarkan juga makin beragam dan menjangkau konsumen lintas negara di Eropa, baik warga Indonesia maupun warga lokal.

Menariknya, baik Sherly maupun Yeti menemukan bahwa produk makanan Indonesia ternyata disukai juga oleh warga setempat.

Tempe, nasi goreng, hingga rendang menjadi jembatan budaya yang memperkenalkan Indonesia lewat cita rasa.

Tips untuk Perempuan Indonesia yang Ingin Berwirausaha di Luar Negeri

Sherly menyarankan untuk memulai dari skala kecil (start small) dan tetap tekun.

Ia juga menyoroti keunggulan perempuan dalam berbisnis, seperti kepekaan terhadap kebutuhan pelanggan dan ketekunan dalam menghadapi tantangan.

Yeti menambahkan pentingnya menjalankan bisnis sesuai dengan minat dan hobi agar semangat tetap terjaga.

Ia menekankan bahwa dukungan moral dari lingkungan terdekat sangat penting untuk keberlangsungan usaha.

Penutup: Bisnis Sebagai Bentuk Diplomasi Budaya

Diskusi ini menyoroti bahwa perempuan Indonesia di luar negeri tidak hanya berperan sebagai pelaku ekonomi, tetapi juga sebagai duta budaya.

Melalui bisnis kuliner dan toko bahan makanan, mereka memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada dunia.

Ruanita Indonesia mengajak seluruh perempuan Indonesia di perantauan untuk terus berani bermimpi, mulai dari langkah kecil, dan konsisten dalam mewujudkan usaha yang berdampak—bukan hanya secara ekonomi, tetapi juga dalam membangun identitas dan komunitas.

Simak selengkapnya diskusi IG LIVE episode Juni 2025 berikut di kanal YouTube kami dan pastikan SUBSCRIBE agar kami dapat berbagi lebih banyak lagi.

(CERITA SAHABAT) Kisah Berwirausaha di Bangladesh: Menemukan Peluang di Tengah Pandemi COVID-19

Halo, sahabat Ruanita! Saya senang sekali bisa berpartisipasi dalam program cerita sahabat yang dikelola oleh Ruanita Indonesia. Saat ini, saya tinggal di Bangladesh dan mau bercerita tentang bagaimana pengalaman berwirausaha di sini. Ini semua berawal dari masa Pandemi COVID-19 yang melanda semua orang di dunia, termasuk saya di Bangladesh.

Tahun 2020 adalah tahun yang penuh tantangan bagi banyak orang, termasuk saya. Pandemi COVID-19 membuat kehidupan sehari-hari berubah drastis. Sebagai seorang WNI yang tinggal di Bangladesh, saya juga merasakan dampaknya. Kebijakan “Stay Home” membatasi aktivitas di luar rumah, dan teman-teman saya, sesama WNI, kesulitan mendapatkan produk Indonesia yang biasa mereka beli di pasar DCC Market.

Follow us

Awalnya, saya hanya membantu mereka dengan belanja titipan. Namun, semakin sering mereka meminta bantuan, saya mulai berpikir bahwa ini adalah peluang. Teman-teman menyarankan agar saya mulai berjualan online, agar mereka tidak perlu sungkan menitip terus. Dengan niat ingin membantu dan menyediakan akses mudah ke produk Indonesia, saya memutuskan untuk memulai usaha online kecil-kecilan. Itulah awal dari perjalanan bisnis saya.


Saat pertama memulai, saya tidak pernah menyangka bahwa antusiasme teman-teman WNI di sini akan sebesar itu. Awalnya, pelanggan saya hanyalah teman-teman dekat di sekitar rumah. Namun, berkat grup WhatsApp komunitas WNI, informasi tentang usaha saya menyebar dengan sangat cepat. Dalam waktu singkat, permintaan datang dari berbagai daerah di Bangladesh, termasuk mereka yang tinggal jauh dari Dhaka.

Namun, perjalanan ini tidak sepenuhnya mulus. Salah satu tantangan terbesar adalah pengiriman barang, terutama selama masa lockdown. Banyak pelanggan di luar Dhaka harus menunggu lebih lama untuk menerima pesanan mereka. Ada kalanya pengiriman yang biasanya hanya memakan waktu sehari menjadi tertunda hingga beberapa hari. Meski begitu, saya terus mencari cara untuk memastikan barang sampai dengan selamat, dan pelanggan tetap merasa puas.


Saya fokus menjual bahan pangan khas Indonesia, seperti Indomie, kecap, dan tepung tapioka, yang sangat diminati oleh komunitas WNI di sini. Untuk mempermudah transaksi, saya memanfaatkan teknologi lokal seperti aplikasi pembayaran Bkash, yang memungkinkan transfer uang dengan mudah. Selain itu, saya menggunakan WhatsApp dan Facebook sebagai media utama untuk promosi. Saya selalu memastikan foto produk dan daftar harga diperbarui agar pelanggan bisa melihat dengan jelas apa yang saya tawarkan.

Teknologi juga sangat membantu dalam hal pengiriman. Saat ini, jasa pengiriman di Bangladesh sudah cukup variatif, sehingga saya bisa memilih layanan yang sesuai dengan lokasi pelanggan. Dengan strategi ini, saya bisa menjangkau pelanggan di berbagai wilayah, bahkan yang berada di luar kota.


Saya bersyukur karena perjalanan bisnis ini tidak saya lalui sendirian. Saya bekerja sama dengan eksportir lokal untuk mendatangkan produk Indonesia, memastikan ketersediaan barang selalu terjaga. Saya juga mendapat dukungan besar dari komunitas WNI di sini, termasuk mahasiswa Indonesia di BRAC University. Mereka membantu mempromosikan usaha saya di lingkungan kampus, memperluas jangkauan pelanggan hingga ke teman-teman mereka yang berasal dari negara lain.

Keluarga suami saya juga menjadi pilar penting dalam usaha ini. Mereka tidak hanya memberikan dukungan moral, tetapi juga menjadi pelanggan setia. Produk seperti Indomie menjadi favorit mereka, dan hal ini semakin memotivasi saya untuk terus berkembang.


Bagi saya, wirausaha adalah pengalaman yang seru dan penuh pelajaran. Sebagai seorang ibu rumah tangga, saya merasa penting untuk tetap produktif. Usaha ini tidak hanya membantu teman-teman mendapatkan produk Indonesia, tetapi juga memberi saya kesempatan untuk belajar dan menghadapi tantangan baru. Selain bahan pangan, saya mulai menjual makanan homemade, seperti nastar, lontong sayur, dan cilok. Saya menikmati proses menciptakan sesuatu yang membawa rasa nostalgia kampung halaman bagi pelanggan saya.

Meski menghadapi banyak kendala, seperti ketika akses internet di Bangladesh sempat dimatikan selama dua minggu pada Juli 2024 akibat gejolak politik, saya terus berusaha untuk mempertahankan bisnis ini. Saat itu, komunikasi dan pengiriman barang menjadi sangat sulit. Namun, saya belajar bahwa dengan kesabaran dan tekad, semua hambatan bisa diatasi.


Perjalanan ini mengajarkan saya banyak hal. Saya menyadari bahwa wirausaha tidak hanya tentang mencari keuntungan, tetapi juga tentang membangun hubungan, memahami kebutuhan orang lain, dan memberikan solusi. Melihat teman-teman WNI di seluruh Bangladesh bisa menikmati produk Indonesia membuat saya merasa bahagia. Saya merasa menjadi bagian dari upaya menjaga rasa kebersamaan dan memori kampung halaman bagi mereka.

Ke depan, saya berharap barang-barang Indonesia bisa lebih mudah masuk ke Bangladesh, sehingga variasi produk yang saya tawarkan bisa semakin beragam. Saya juga ingin terus meningkatkan keterampilan memasak agar bisa menghadirkan lebih banyak pilihan makanan khas Indonesia bagi pelanggan saya.


Bagi siapa saja yang ingin memulai usaha, terutama di negara berkembang, pesan saya sederhana: jangan takut mencoba. Gali potensi diri, pahami lingkungan sekitar, dan jangan ragu untuk belajar dari pengalaman. Setiap tantangan yang dihadapi adalah peluang untuk tumbuh. Perjalanan saya membuktikan bahwa dengan niat baik dan kerja keras, kita bisa menciptakan sesuatu yang bermakna, tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk orang lain.

Penulis: Elia Qudo, perempuan Indonesia yang tinggal di Bangladesh dan dapat dikontak via akun Instagram @eliaqudo88.

(KARTINI VIRTUAL 2022) Polandia: Yeti Yolanda

Dalam rangka menindaklanjuti webinar kewirausahaan perempuan di Eropa yang berhasil di gelar 6 Februari 2022 lalu, Tim Ruanita berhasil mengumpulkan representasi profil perempuan berwirausaha di Eropa dan sekitarnya untuk merayakan Hari Kartini 2022 secara virtual. Hal ini bertujuan untuk memberikan informasi dan inspirasi tentang keragaman domisili dan jenis usaha untuk diketahui bersama. Tim Ruanita memposting representasi profil perempuan berwirausaha selama 2 pekan, 18 – 30 April 2022 di semua saluran media sosial.

Nama: Yeti Yolanda

Nama akun media sosial (Facebook + Instagram + YouTube) 

    Facebook: Toko Beta

    Website: www.tokobeta.pl

Nama usaha: Toko Beta

Domisili negara: Polandia

Lama berwirausaha: 1 tahun 

Bagaimana sosok “Kartini” yang diingat sewaktu masih di Indonesia? Jelaskan!

Yang di ingat Hari Kartini di Indonesia adalah bagaimana perempuan Indonesia sudah banyak memegang peranan penting di berbagai sektor industri, kedudukannya setara dengan kaum pria. Perempuan tidak hanya di dapur, tetapi mereka juga bisa bersekolah lebih tinggi dan bekerja.

Menurut teman-teman, bagaimana seharusnya sosok “Kartini” masa kini? 

Kartini masa kini adalah Kartini yang memiliki pola pikir yang maju,disertai perkembangan zaman dan mampu memberikan inspirasi untuk perempuan-perempuan Indonesia yang lain.

Apa pesan untuk perempuan-perempuan Indonesia yang ingin merintis usaha di luar Indonesia?

Ayo, mari kita sama-sama belajar untuk menciptakan lapangan kerja!

(KARTINI VIRTUAL 2022) Italia: Amelia Rachim

Dalam rangka menindaklanjuti webinar kewirausahaan perempuan di Eropa yang berhasil di gelar 6 Februari 2022 lalu, Tim Ruanita berhasil mengumpulkan representasi profil perempuan berwirausaha di Eropa dan sekitarnya untuk merayakan Hari Kartini 2022 secara virtual. Hal ini bertujuan untuk memberikan informasi dan inspirasi tentang keragaman domisili dan jenis usaha untuk diketahui bersama. Tim Ruanita memposting representasi profil perempuan berwirausaha selama 2 pekan, 18 – 30 April 2022 di semua saluran media sosial.

Nama: Amelia Rachim 

Nama akun media sosial (Facebook + Instagram + YouTube) 

    Instagram: ameliarachim

    Website: www.ameliarachim.com

    YouTube: www.youtube.com/ameliarachim

Nama usaha:  Amelia Rachim Jewelry Design 

Domisili negara: Italia

Lama berwirausaha:  13 tahun 

Bagaimana sosok “Kartini” yang diingat sewaktu masih di Indonesia? Jelaskan! Kartini yang saya ingat sewaktu masih di Indonesia adalah salah satu perintis perjuangan wanita untuk mencapai kesetaraan dalam pendidikan dan segala bidang. 

Menurut teman-teman, bagaimana seharusnya sosok “Kartini” masa kini?

Kartini masa kini bukan lagi para perintis. Sudah banyak pejuang-pejuang wanita yang berjuang di bidangnya masing-masing. Tugas kita buka lagi “membuka” jalan, namun bersama-sama “membangun” jalan yang sudah terbuka lebar. Saling support, saling bantu, dan saling mendukung dan melindungi. 


Apa pesan untuk perempuan-perempuan Indonesia yang ingin merintis usaha di luar Indonesia?

Tetap semangat, tetap berjuang saling bahu membahu karena meski jalan kita sudah terbuka lebar, namun masih panjang, berliku, dan penuh lubang.

(KARTINI VIRTUAL 2022) Denmark: Seruni Petersen

Dalam rangka menindaklanjuti webinar kewirausahaan perempuan di Eropa yang berhasil di gelar 6 Februari 2022 lalu, Tim Ruanita berhasil mengumpulkan representasi profil perempuan berwirausaha di Eropa dan sekitarnya untuk merayakan Hari Kartini 2022 secara virtual. Hal ini bertujuan untuk memberikan informasi dan inspirasi tentang keragaman domisili dan jenis usaha untuk diketahui bersama. Tim Ruanita memposting representasi profil perempuan berwirausaha selama 2 pekan, 18 – 30 April 2022 di semua saluran media sosial.

Nama: Seruni Petersen

Nama akun media sosial:

Facebook: Seruni Petersen

Instagram: @Lombok.indonesiskmad

Nama usaha: Mofomofa Lombok.Indonesiskmad (Rumah Indonesia)

Domisili negara: Denmark 

Lama berwirausaha: 2014

Bagaimana sosok “Kartini” yang diingat sewaktu masih di Indonesia? Jelaskan!

Sosok Kartini, gambaran sosok pejuang perempuan yang selalu tidak pernah berhenti untuk menginspirasi perempuan untuk selalu tidak lupa dengan kultur & budaya. Tidak pantang menyerah dan menuntut ilmu agar bisa mandiri. Berani menyuarakan kebenaran akan hak hak perempuan.

Menurut teman-teman, bagaimana seharusnya sosok “Kartini” masa kini? 

Welas asih, memperjuangkan hak-hak perempuan dan berkarya untuk membantu ekonomi serta menjadi solusi terhadap masalah yang ada. Plus maju lebih positif!

Apa pesan untuk perempuan-perempuan Indonesia yang ingin merintis usaha di luar Indonesia?

“Be original, unique and be simple”

(KARTINI VIRTUAL 2022) Jerman: Yanti Contiffy

Dalam rangka menindaklanjuti webinar kewirausahaan perempuan di Eropa yang berhasil di gelar 6 Februari 2022 lalu, Tim Ruanita berhasil mengumpulkan representasi profil perempuan berwirausaha di Eropa dan sekitarnya untuk merayakan Hari Kartini 2022 secara virtual. Hal ini bertujuan untuk memberikan informasi dan inspirasi tentang keragaman domisili dan jenis usaha untuk diketahui bersama. Tim Ruanita memposting representasi profil perempuan berwirausaha selama 2 pekan, 18 – 30 April 2022 di semua saluran media sosial.

Nama: Yanti

Nama akun media sosial (Facebook + Instagram + YouTube) 

Facebook: Yanti Contiffy

Instagram: Contiffy

Nama usaha: Bali Shanti Massage Praxis

Domisili negara Jerman

Lama berwirausaha 9 Tahun 

Bagaimana sosok “Kartini” yang diingat sewaktu masih di Indonesia? Jelaskan! 

Kartini adalah perempuan berasal dari Jawa yang berstatus sosial tinggi dan mengenyam pendidikan sekolah. Sesuatu hal yang pada saat itu merupakan luar biasa. Kesedihannya adalah Kartini melihat kaumnya, terutama dari golongan status rendah tak mendapatkan hak yang sama dengan kaum pria. Oleh karena itu beliau memperjuangkan hak-hak perempuan. Saya ingat perayaan-perayaan Hari Kartini di sekolah dengan perlombaan dan berkebaya.

Menurut teman-teman, bagaimana seharusnya sosok “Kartini” masa kini?

Kartini masa kini adalah perempuan yang mandiri, tahu apa yang diinginkan dan berjuang mewujudkannya.

Apa pesan untuk perempuan-perempuan Indonesia yang ingin merintis usaha di luar Indonesia?

Jika sudah memiliki ide yang matang, rajin mencari informasi dan peluang serta siap bekerja keras.

(KARTINI VIRTUAL 2022) Belanda: Iis Bierbooms

Dalam rangka menindaklanjuti webinar kewirausahaan perempuan di Eropa yang berhasil di gelar 6 Februari 2022 lalu, Tim Ruanita berhasil mengumpulkan representasi profil perempuan berwirausaha di Eropa dan sekitarnya untuk merayakan Hari Kartini 2022 secara virtual. Hal ini bertujuan untuk memberikan informasi dan inspirasi tentang keragaman domisili dan jenis usaha untuk diketahui bersama. Tim Ruanita memposting representasi profil perempuan berwirausaha selama 2 pekan, 18 – 30 April 2022 di semua saluran media sosial.

Nama Pemilik: Iis Bierbooms

Nama akun media sosial (Facebook + Instagram + YouTube) 

Facebook: Pivo Dirvos

Youtube: Pivo Dirvos Holland

Nama usaha Raden Ayis (Akupuntur)

Domisili negara Belanda

Lama berwirausaha Lebih dari 10 tahun

Bagaimana sosok “Kartini” yang diingat sewaktu masih di Indonesia? Jelaskan!

Saya masih teringat kalimat “Habis Manis Terbitlah Terang” dan bahwa segala sesuatu yang kita inginkan harus dengan pembelajaran, teori dan praktik sehingga kita, sebagai perempuan, bisa menjalani kehidupan dalam situasi apapun.

Menurut teman-teman, bagaimana seharusnya sosok “Kartini” masa kini? 

Menurut saya, sosok “Kartini” sekarang lebih banyak pada kesempatan untuk berkarya, mencurahkan ide dan pikiran.

Apa pesan untuk perempuan-perempuan Indonesia yang ingin merintis usaha di luar Indonesia?

Saya berpesan bahwa jangan ada kata gengsi dan malu untuk memulai usaha, manfaatkan peluang usaha melalui media sosial, jalin networking dengan orang-orang yang memang sesuai dengan bidang usaha yang kita jalani. Cari informasi sebanyak mungkin!

(IG LIVE) Perempuan dan Kewirausahaan di Luar Negeri

Flyer.

JERMAN – Sabtu (5/2) Ruanita – Rumah Aman Kita lewat akun IG ruanita.indonesia menggelar diskusi virtual bertajuk: Perempuan dan Kewirausahaan selama kurang lebih 30 menit. Tema tersebut sengaja diangkat karena Ruanita dan KEMI Turki akan menggelar webinar kewirausahaan yang dilaksanakan sehari setelah IG Live. Demikian Atika, Moderator IG Live menjelaskannya di hadapan dua tamunya yakni Bimo Wikantiyoso (akun IG: darth_consicous) dan Josephine (akun IG: jossiejosephine).

Bimo, seorang Psikolog yang tinggal di Indonesia menjelaskan hasil penelitiannya tentang kewirausahaan yang berkaitan dengan karakter kepribadian yang dimiliki para pengelola usaha di bilangan Jakarta. Temuannya menunjukkan bahwa ada pengaruh karakter kerpibadian dengan keberhasilan berwirausaha.

Bimo menegaskan di tengah situasi dunia yang tidak pasti karena pandemi, dia menyimpulkan motivasi berwirausaha demi orang lain seperti orang yang dicintai, orang yang dianggap penting dalam hidupnya atau tidak memikirkan dirinya sendiri ternyata memiliki ketahanan berwirausaha di tengah ketidakpastian. Bimo mengambil penelitian saat awal pandemi tahun 2020 kepada sejumlah usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) yang sebagian besar adalah perempuan.

Senada dengan Bimo, Josephine yang kini menetap di Norwegia dan memulai usaha saat pandemi pun mengamini pernyataan Bimo. Josephine berpendapat motivasi, kemauan belajar, riset market dan segera beradaptasi adalah mentalitas yang diperlukan dalam kewirausahaan, apalagi menetap di negeri orang. Ini menjadi tantangan tersendiri mengingat orang tersebut harus keluar dari zona kenyamanan menuju situasi yang penuh risiko dan ketidakpastian. Pemahaman ini diperlukan bagi seorang yang ingin membangun usaha.

Setelah enam tahun tinggal di Norwegia, Josephine memutuskan untuk memulai usaha yang membuatnya itu tak mudah. Norwegia menetapkan high standar quality dalam setiap layanannya meski makanan Asia begitu digemari dan banyak peminatnya. Pasarnya cukup kompetitif karena tidak ada persaingan. Hanya Josephine yang kini menekuni usaha penjualan produk Indonesia yang melayani Bergen, kota tempat tinggalnya dan seluruh Norwegia. Josephine pun segera belajar market dan menjalani penjualan online agar dapat memburu pelanggannya. Ada plus dan minus tergantung bagaimana memasarkannya di Norwegia.

Bimo menilai apa yang dilakukan Josephine sudah sesuai dengan mentalitas kewirausahaan, apalagi Josephine membangun circle network dengan mengandalkan kekuatan dirinya yang segera cepat beradaptasi dengan budaya dan market di Norwegia. Bimo sebagai psikolog menyadari bahwa bakat dan lahir di lokasi yang tepat memang bisa menjanjikan untuk menjadi pengusaha.

Ada empat saran yang diperlukan untuk membangun mentalitas kewirausahaan di negeri perantauan, antara lain:

  1.  Jangan kuatir!

Menghadapi ketidakpastian itu tidak mudah. Menurut Bimo, kalau mau hal-hal yang pasti, jangan berwirausaha! Terbiasa dalam kondisi ketidakpastian dan menikmati dalam ketidakpastian, itu diperlukan dalam berwirausaha. Jadi kalau misalnya, tidak ada jiwa menghadapi ketidakpastian sebaiknya tidak berwirausaha.

2. Jangan minder!

Orang Indonesia sangat peka membaca perubahan mood/situasi atau kebutuhan orang lain daripada bangsa lain. Justru ini menjadi keunggulan orang Indonesia untuk melihat peluang pasar. Ini merupakan hasil penelitian dari seorang kolega saya tentang kepribadian orang Indonesia. Menurut kolega saya, orang Indonesia memiliki kepekaan tinggi.

3. Keterampilan beradaptasi juga tinggi

Orang Indonesia sendiri sudah dihadapi dengan tiga bahasa dalam kehidupan sehari-hari yakni bahasa daerah, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Tak hanya bahasa, orang Indonesia yang beragam budaya dan kultur juga memiliki keunggulan tersendiri sehingga orang Indonesia mudah beradaptasi. Kemampuan beradaptasi menjadi faktor keunggulan untuk berwirausaha di negeri asing.

4. Pengetahuan, market dan taat hukum

Josephine menambahkan bahwa diperlukan juga kepribadian yang kuat untuk mampu mengatasi rasa tidak percaya diri karena kita adalah orang asing. Kita harus punya pengetahuan dasar dan bagaimana memasarkan produk karena kita hidup di negeri yang punya standar tinggi. Tak hanya itu, kita harus taat hukum untuk menghindari denda yang membuat kita lebih bangkrut lagi.

Silakan follow akun ruanita.indonesia untuk mendapatkan jadwal regular IG Live lainnya yang lebih menarik untuk Anda.

(SIARAN BERITA) Melihat Peluang Usaha Perempuan Indonesia di Eropa

NORWEGIA – Menurut laporan Women Entrepreneurship in Indonesia yang dikerjakan Bank Dunia dan Kementerian Bappenas tahun 2016 menyebutkan sebanyak 36% dari total perempuan Indonesia pada usia kerja lebih memilih untuk menjadi pengusaha. Mayoritas pengusaha perempuan tersebut bergerak di sektor informal, atau pada sektor semi formal. 

Membuka usaha di perantauan menjadi pilihan bagi sebagian perempuan Indonesia yang tinggal di luar Indonesia. Namun sebagai pendatang, pilihan menjadi wirausahawati bagi perempuan Indonesia di luar negeri bukan hal yang mudah.

Aturan pajak yang rumit, proses pendaftaran usaha, iklim ekonomi negara yang ditinggali, hambatan bahasa dan komunikasi serta perbedaan budaya menjadi beberapa tantangan yang harus diperhatikan perempuan Indonesia saat akan membuka usaha di perantauan. 

Rumah Aman Kita (RUANITA) bekerjasama dengan Komunitas Exportir Muda Indonesia (KEMI) Perwakilan Turki menggelar webinar bertema kewirausahan dengan judul: Melihat Peluang Usaha Perempuan Indonesia di Eropa.

Follow us ruanita.indonesia

Webinar kewirausahaan ini akan diadakan pada Minggu, 6 Februari 2022 pukul 13.00 – 15.00 CET (15.00-17.00 TRT (Turkey Time) atau 19.00-21.00 WIB). Adapun webinar ini diselenggarakan dengan dukungan sepenuhnya oleh KBRI Ankara dan KBRI Den Haag.

Acara webinar ini terbuka untuk umum bagi warga negara Indonesia dan diaspora Indonesia di Eropa dan Turki. Pendaftaran dapat dilakukan pada link bit.ly/RUANITA-KEMI. Dipandu oleh Siti Aisah Putri Utami (mahasiswa Bisnis dan Budaya Universitas Passau Jerman), webinar akan dibuka secara resmi oleh Duta Besar RI untuk Turki, Bapak Lalu Muhamad Iqbal.

Pemateri dalam webinar antara lain: Atase Perdagangan RI untuk Belanda Sabbat Christian Sirait, Ketua KEMI Turki Leny Mila, Dessy Rutten selaku ekonom dan akademisi di Eropa, serta Ferlin Yoswara selaku wirausahawati Indonesia di Belanda.

Kegiatan wirausaha di luar Indonesia dapat menjadi peluang menguntungkan bagi warga negara Indonesia selaku pengusaha dan ini menjadi bagian upaya soft diplomacy.

Lewat webinar tersebut dapat diinformasikan peluang dan potensi produk-produk Indonesia di Eropa. Beberapa negara di Eropa seperti Turki dan Belanda menjadi pintu masuk untuk mengenalkan potensi produk-produk Indonesia. 

Untuk itu, penting bagi para pelaku usaha agar mendapatkan informasi tentang aturan perdagangan ekspor dan impor sesuai kebijakan yang berlaku di negara-negara tersebut. Melalui webinar kewirausahaan ini diharapkan dapat membekali perempuan Indonesia yang tinggal di luar Indonesia mengenai informasi regulasi perdagangan, meningkatkan pengetahuan seputar mentalitas kewirausahaan dan komunikasi lintas budaya untuk strategi marketing, berbagi pengalaman dalam berwirausaha serta berbagi praktik baik tentang pengelolaan usaha di Eropa. 

Beberapa bahasan yang akan diangkat dalam webinar adalah mengenai peluang dan potensi produk Indonesia di Belanda, prosedur pendirian usaha di Turki, mentalitas kewirausahaan bagi perempuan Indonesia dan komunikasi lintas budaya dalam strategi marketing di Eropa, serta pengalaman mengelola usaha dan pemasaran produk di Eropa.

Adapun tindak lanjut dari webinar kewirausahaan ini adalah rencana kegiatan workshop kewirausahaan dan pembentukan forum pengusaha perempuan asal Indonesia di Eropa.  

RUANITA (Rumah Aman Kita) Indonesia adalah komunitas diaspora Indonesia yang dibentuk untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman seputar permasalahan psikologis dan kehidupan di luar negeri. Tujuan diberdirikannya RUANITA adalah untuk mempromosikan isu kesehatan mental, psikoedukasi serta berbagi praktik baik tentang keterampilan diri untuk tinggal di luar Indonesia.

Informasi:

Retno Aini Wijayanti, WNI tinggal di Norwegia (email: info@ruanita.com)