(PODCAST RUMPITA) Pengalaman Hidup yang Menarik di Dubai yang Serba Internasional

Melanjutkan episode ke-39 Podcast RUMPITA di Spotify, Podcaster Anna dan Ecie dari Ruanita Indonesia mengundang Utari Giri, seorang ibu asal Indonesia yang kini menetap di Dubai bersama keluarganya.

Diskusi Podcast ini membuka wawasan tentang bagaimana rasanya membesarkan anak-anak di negeri penuh keberagaman budaya itu, khususnya soal pendidikan yang bernuansa internasional tersebut.

Utari menceritakan bahwa keputusannya pindah ke Dubai berawal dari mengikuti suami yang mendapat pekerjaan di sana.

Dengan tekad bulat dan penuh semangat, mereka memulai kehidupan baru, jauh dari tanah air. Salah satu tantangan terbesar yang langsung dihadapi adalah soal pendidikan anak-anak.

Memilih sekolah di Dubai, menurut Utari, tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dengan banyaknya pilihan sekolah — dari kurikulum Inggris, Amerika, hingga IB (International Baccalaureate) — keluarga harus berhati-hati menyesuaikan kebutuhan pendidikan anak dengan nilai-nilai keluarga.

Di Dubai, pilihan sekolah begitu banyak, tapi tidak semuanya terjangkau secara finansial. Utari menuturkan bahwa biaya sekolah swasta di Dubai bisa sangat tinggi, bahkan untuk pendidikan anak usia dini. Oleh karena itu, riset mendalam menjadi keharusan.

“Kita mesti lihat bukan cuma fasilitasnya, tapi juga filosofi sekolahnya, bagaimana pendekatan mereka terhadap anak-anak,” ujar Utari.

Ia menekankan pentingnya mencari sekolah yang mendukung perkembangan karakter anak, bukan hanya mengejar prestasi akademik semata. Selain itu, jarak antara rumah dan sekolah juga menjadi pertimbangan praktis, mengingat lalu lintas di Dubai bisa sangat padat.

Utari merasa bersyukur karena anak-anaknya relatif mudah beradaptasi dengan lingkungan sekolah internasional yang multikultural. Di Dubai, siswa berasal dari berbagai latar belakang — Asia, Eropa, Afrika, hingga Amerika — menciptakan suasana belajar yang penuh toleransi dan keterbukaan.

Namun, adaptasi ini tetap butuh waktu. Bahasa Inggris menjadi bahasa pengantar utama di hampir semua sekolah, sehingga penting bagi anak-anak untuk memiliki dasar bahasa Inggris yang baik, atau siap untuk mengejarnya dalam proses pembelajaran.

“Anak-anak justru lebih cepat belajar bahasa dibanding kita orang tuanya,” Utari tertawa.

Walaupun secara umum pengalaman sekolah di Dubai positif, Utari tidak menutup mata terhadap tantangan yang ada. Salah satunya adalah menjaga identitas budaya Indonesia di tengah arus globalisasi yang sangat kencang.

Untuk itu, di rumah, keluarga Utari tetap berusaha membiasakan penggunaan Bahasa Indonesia dalam percakapan sehari-hari, memperkenalkan budaya, makanan khas, dan juga cerita-cerita dari tanah air. Semua ini dilakukan agar anak-anak tetap merasa memiliki akar budaya, meskipun tumbuh besar di lingkungan internasional.

“Kalau bukan kita orang tuanya yang memperkenalkan, siapa lagi?” katanya tegas.

Sebagai muslim yang tinggal di negara berpenduduk mayoritas Muslim, Utari menemukan bahwa Dubai cukup mendukung dalam hal pendidikan agama. Banyak sekolah swasta yang menawarkan kelas agama Islam sebagai bagian dari kurikulum, meskipun tetap ada pilihan bagi keluarga dari agama lain.

Namun demikian, Utari tetap merasa penting untuk menguatkan pendidikan agama dari rumah. Ia percaya bahwa nilai-nilai dasar — kejujuran, kebaikan, tanggung jawab — perlu ditanamkan lebih dahulu oleh orang tua, baru dilengkapi oleh lingkungan sekolah.

Selain soal pendidikan, Utari juga berbagi cerita tentang kehidupan sehari-hari di Dubai. Ia mengakui bahwa kota ini menawarkan fasilitas yang sangat lengkap dan nyaman untuk keluarga — dari taman-taman hijau, komunitas ekspat, hingga layanan kesehatan yang modern.

Namun, ia juga menekankan perlunya kesiapan mental dan finansial sebelum memutuskan untuk menetap di Dubai. Standar hidup yang tinggi berarti biaya kehidupan juga besar, termasuk untuk hal-hal kecil seperti transportasi, hiburan, atau makanan.

“Kalau tidak cermat mengatur keuangan, bisa berat,” ujar Utari.

Pesan untuk Keluarga Indonesia yang Ingin Pindah

Menutup perbincangan, Utari memberikan beberapa pesan penting untuk keluarga Indonesia yang mungkin bermimpi membawa anak-anak bersekolah di Dubai:

  1. Lakukan riset mendalam tentang sekolah dan biaya hidup.
  2. Siapkan anak secara mental dan bahasa sebelum berangkat.
  3. Pertahankan budaya Indonesia meski tinggal di luar negeri.
  4. Fleksibel dalam beradaptasi, karena lingkungan baru akan selalu membawa tantangan tak terduga.

Simak selengkapnya diskusi podcast RUMPITA berikut ini dan pastikan FOLLOW akun Spotify kami agar dapat berbagi lebih banyak lagi:

(PODCAST RUMPITA) Studi dan Pembelajaran Hidup dari Jerman Ke Thailand

Melanjutkan episode ke-31 dari program podcast RUMPITA di bulan November kali ini, Podcaster Anna dan Ecie mengundang sahabat Ruanita yang tinggal di Bangkok, Thailand. Dia adalah Legiana Lestari yang baru saja menyelesaikan studi S2 di Thailand, untuk memperdalam keahlian Bahasa Jermannya. Dalam episode ini, Legiana banyak berbicara tentang studi dan pembelajaran hidup yang diperolehnya saat berada di Jerman dan di Thailand.

Awal studi S1 di Indonesia, Legiana yang studi Bahasa Jerman merasa perlu untuk melanjutkan studinya dan memperdalam kemampuan berbahasa Jerman karena dia tidak pernah mendapatkan Native Speaker sebagai pengajar tamu dalam perkuliahan. Legiana merasa perlu praktik Bahasa Jerman dengan penutur asli, sehingga ia memutuskan studi ke Jerman.

Setiba di Jerman, Legiana berkuliah di Universitas Hamburg tetapi tak mudah untuk mengikuti perkuliahan sepenuhnya. Untuk memperdalam keahliannya tersebut, Legiana sempat mencoba berbagai program di Jerman agar dapat langsung mempraktikkan Bahasa Jerman dengan native speaker.

Legiana tidak berhasil menyelesaikan studi di Jerman dan dia memutuskan kembali ke Jerman. Saat itu, Legiana harus merawat sang ibu yang sakit. Tak hanya itu, kondisi pandemi juga menyulitkan Legiana untuk meneruskan studi di Jerman.

Pada akhirnya, Legiana kembali menyusun rencana ulang agar dapat melanjutkan studi Bahasa Jerman dan meraih impiannya tersebut, yang sempat tertunda. Saat bertemu dengan pemelajar, Legiana seperti terpacu untuk dapat meneruskan studinya tersebut.

Legiana tahu bahwa tak mudah mendapatkan studi belajar dan tinggal di Jerman. Ada banyak cerita bagaimana studi di Jerman tak mudah, meskipun Legiana telah menguasai Bahasa Jerman di kampus sebelumnya di Indonesia.

Kita hanya berencana, Tuhan yang menentukan. Legiana mendapatkan kesempatan beasiswa di Thailand yang mana ia bisa tetap dapat melanjutkan studi berbahasa Jerman impiannya tersebut. Meski tinggal di Thailand, tak mudah tetapi Legiana bersyukur tidak ada perbedaan jam untuk tetap mengontak ibunya di Indonesia.

Legiana bercerita bahwa dia harus menguasai Bahasa Jerman dan Bahasa Thailand sekaligus agar dapat menyelesaikan studinya tersebut. Sehari-hari administrasi perkuliahan banyak menggunakan Bahasa Thailand. Tak hanya menguasai Bahasa Thailand saja, Legiana juga lebih sering menggunakan Bahasa Inggris untuk berkomunikasi selama tinggal di Thailand.

Simak diskusi podcast RUMPITA selengkapnya yang dipandu oleh Anna dan Ecie di Jerman berikut ini:

(PODCAST RUMPITA) Menjajaki Karier di Negeri Baltik, Usai Studi di Estonia

Memasuki episode di musim panas, program podcast Rumpita yakni Rumpi bersama Ruanita mengundang sahabat Ruanita yang tinggal di Estonia. Diskusi via podcast ini dipandu oleh Fadni, mahasiswi S2 yang menempuh studi di Universitas Humboldt di Berlin, Jerman dan didampingi oleh Anna.

Tamu podcast yang diundang dalam episode ini adalah Enlik Tjio, seorang podcaster juga lewat akun instaram enliktjioe. Enlik juga suka dengan hal-hal yang berkaitan dengan green technologies yang sedang hits beberapa tahun belakangan ini.

Enlik adalah seorang Software Developer yang telah menyelesaikan studi master di bidang teknologi dan informatika di Estonia. Kini Enlik tetap tinggal di Estonia, mengelola program Podcast pribadinya, dan menjalani hobi traveling ke berbagai negara.

follow us

Nama Enlik bukanlah sebuah nama yang memilliki makna. Enlik mengakui bahwa ini adalah nama yang tidak sengaja disebutkan oleh ibunya yang kesulitan menyebutkan nama “Hendrik”, sehingga nama Enlik tercatat dalam dokumen resmi hingga sekarang.

Nama membawa berkah dan mungkin yang terjadi pada Enlik setelah dia menyelesaikan studi di bidang teknologi dan informatika di Indonesia.

Enlik pun sempat mengenyam pengalaman tinggal di Australia, kemudian membuatnya untuk terus mengasah pengalaman yang lebih menantang dan menarik lagi di benua biru.

Enlik mengakui bahwa dia sempat melamar studi di beberapa negara, hingga akhirnya dia memilih studi di Estonia yang lebih mudah secara birokrasi dan memberikan tunjangan sebagai mahasiswa di awal studi.

Bagaimana perjalanan Enlik hingga berhasil menempuh studi di Estonia? Apa saja syarat-syaratnya untuk bisa studi di Estonia? Bagaimana pengalaman menarik dan menantang yang dialami Enlik selama studi dan tinggal di Estonia? Apa saja rekomendasi Enlik terkait dengan green technologies yang sedang marak dibicarakan akhir-akhir ini untuk diterapkan di Indonesia? Kalau mau tinggal dan bekerja di Estonia, apa pesan Enlik?

Simak diskusi Podcast berikut ini dan jangan lupa follow akun podcast kami ya:

(PODCAST RUMPITA) Mulai Studi di Inggris Hingga ke Islandia Menuju Karier Internasional

Pada episode ke-27 ini, Podcast RUMPITA mengundang Dyah Anggraini C. yang kini menetap di Islandia.

Sebagai seorang ibu dan pekerja yang berkarier internasional, Dyah membagikan pengalaman hidupnya bagaimana studi pertama kali di mancanegara, yang dimulai dari Inggris.

Dyah pun sempat kembali ke Indonesia, dan kemudian memutuskan tinggal di Islandia.

Pernah bekerja di bidang financial and banking di Indonesia, Dyah pun mendalami studinya di Inggris.

Dyah pun tidak merasakan perbedaan yang besar antara berkuliah di Inggris dengan berkuliah di Islandia.

Mungkin perbedaan yang mencolok yang dialami seperti sistem penilaian yang berbeda, antara berkuliah di Inggris dengan di Islandia.

Follow us

Alasan keluarga membuat Dyah memutuskan pindah ke Islandia dan melanjutkan studi kembali di Islandia.

Tinggal di Reykjavic, ibukota Islandia, tentunya berbeda sekali dengan iklim dan suasana alamnya yang dirasakan Dyah, terutama saat musim panas atau musim dingin.

Dyah pun menceritakan bagaimana dukungan pemerintah Islandia saat dia sedang menyelesaikan studi dan baru saja melahirkan anaknya.

Tentunya, dukungan suami dan pengelolaan peran sangat diperlukan agar seimbang, sehingga kini Dyah pun tetap bekerja secara global bersama dengan orang-orang dari berbagai negara.

Apa saja perbedaan studi antara di Inggris dengan di Islandia? Bagaimana pendapat Dyah tentang iklim dan budaya orang-orang Islandia? Apa saja potensi yang bisa dilakukan warga Indonesia bila ingin studi atau berkarier di Islandia? Apa saja tantangan dan kesan yang dialami Dyah studi dan tinggal di Islandia? Apa pesan Dyah untuk orang Indonesia yang ingin wisata, studi, atau bekerja di Islandia?

Simak selengkapnya dalam diskusi Podcast RUMPITA, Rumpi bersama Ruanita, berikut ini:

(PODCAST RUMPITA) Pengalaman Pertukaran Belajar dan Budaya di Polandia

Melanjutkan program diskusi Podcast RUMPITA, pada episode ke-25 Podcaster Fadni yang adalah mahasiswi S2 di Berlin, Jerman berkesempatan mengundang tamu yang pernah mengikuti program IISMA. IISMA merupakan singkatan dari Indonesia International Student Mobility Award dan memiliki 67 host universitas di seluruh dunia, untuk program mahasiswi S1 dan pendidikan vokasi.

Program IISMA difasilitasi oleh Kemdikbud dan LPDP RI. Tamu podcast tersebut adalah Yacinta Putri, yang sempat menjadi mahasiswi internasional di Universitas Warsawa, Polandia. Program IISMA yang dijalani Yacinta dilakukan selama tiga bulan dan tinggal di sebuah asrama mahasiswa.

Yacinta adalah mahasiswi S1 di sebuah perguruan tinggi swasta di Jakarta, yang sedang menjalani semester ke-5 pada saat berangkat ke Polandia, negara tujuan. Syarat untuk mengikuti program IISMA adalah mahasiswa yang terdaftar di universitas di Indonesia, memiliki kemampuan Bahasa Inggris yang dipersyaratkan, dan nilai IPK yang sesuai dengan persyaratan program IISMA, yang tercantum di website Kemdikbud. Selengkapnya dapat dicek di Home (kemdikbud.go.id).

Follow us

Program ini berlangsung selama tiga bulan di negara tujuan dan memiliki dua bentuk fasilitas pembiayaan. Pertama, siswa mendapatkan pembiayaan penuh seratus persen ditanggung oleh pemerintah Indonesia. Pembiayaan kedua disebut co-funding, yang mana siswa yang terpilih wajib memenuhi pembiayaan yang dipersyaratkan.

Meski Yacinta telah kembali dari Polandia, tentu ada banyak pengalaman berharga dan pembelajaran yang bisa direkomendasikan di perguruan tinggi asal. Yacinta merasa senang bisa mendapatkan kesempatan belajar dan budaya di Polandia, yang mana Yacinta bisa memahami perspektif lain dari warga asing tentang ilmu pengetahuan.

Fadni pun mengamini bagaimana Yacinta mengalami perubahan cara berpikir dan gaya belajar yang berbeda dibandingkan di Indonesia. Fadni mengatakan bahwa dia harus membaca teks yang diberikan dosen sebelum pembelajaran di kelas dimulai dan diskusi antar mahasiswa membantu Fadni dan Yacinta untuk berpikir kritis.

Culture shock untuk Yacinta tampak dari bagaimana dia berelasi dengan mahasiswa Polandia, yang terlihat serius, dingin, tidak ramah, dan sulit membangun pertemanan di awal. Budaya orang Polandia yang lebih individualis sangat kontras dengan budaya kolektif di masyarakat Indonesia, yang juga ramah kepada siapa saja. Yacinta juga sulit untuk beradaptasi dengan makanan Polandia, yang sangat berbeda sekali dengan Indonesia.

Apa saja pengalaman menarik dan berharga yang dialami Yacinta di Polandia? Bagaimana Yacinta menilai pembelajaran dan budaya di Polandia? Apa saja gegar budaya (culture shock) yang dialami selama Yacinta selama tinggal di Polandia? Bagaimana Yacinta mengatasi tantangan belajar dan budaya di Polandia? Apa pesan Yacinta untuk sahabat Ruanita yang ingin mengikuti program pertukaran budaya dan belajar?

Simak selengkapnya diskusi podcast berikut ini dan jangan lupa follow podcast kami:

(PODCAST RUMPITA) Bagaimana Pengalaman Mahasiswi Asal Jerman Magang dan Tinggal di Indonesia?

Memasuki episode ke-24 dari diskusi Podcast Rumpita, Ruanita Indonesia mengundang Sahabat Ruanita yang berasal dari Jerman dan pernah tinggal di Indonesia untuk bekerja magang dan ikut program pertukaran pelajaran ketika dia sedang remaja.

Dia adalah Leonie, yang pernah ikut program pertukaran pelajar di Sumatera Utara selama setahun dan tinggal bersama keluarga Indonesia. Oleh sebab itu, Leonie bisa berbahasa Indonesia dengan baik dan mendorongnya untuk mencoba melamar program magang di Indonesia.

Follow us

Saat magang di Indonesia selama enam bulan, Leonie bekerja di area Menteng, Jakarta Pusat. Banyak hal menarik bagaimana Leonie bekerja sama dengan orang-orang Indonesia di tempat kerja. Contoh yang mengesankannya bagi Leonie adalah “jam karet” yang sangat berbeda dengan ketepatan waktu untuk orang-orang di Jerman. Menurut Leonie, kebiasaan ‘jam karet’ itu tidak sopan dalam budaya orang-orang di Jerman.

Lainnya, adalah penggunaan WhatsApp untuk berkomunikasi dalam situasi pekerjaan. Namun, Leonie mengakui kehangatan dan keramahan orang-orang Indonesia sangat membantu Leonie mengatasi culture shock Indonesia dan mengenali budaya Indonesia lebih baik lagi.

Leonie sangat menyukai Soto Medan, yang membuatnya bisa membedakan dengan baik, Soto Jakarta yang menggunakan santan. Leonie pun suka dengan sambal dan makanan pedas.

Leonie pun melakukan hal yang sama dengan menambahkan cabai setiap makanan, yang membuat anggota keluarganya merasa terkejut ketika Leonie kembali lagi ke Jerman. Leonie sangat senang dengan kuliner Indonesia yang membuatnya kerap merindukannya dan dia tidak punya masalah dengan kuliner Indonesia.

Orang Indonesia berkomunikasi dengan tidak direct, dibandingkan dengan orang-orang Jerman yang berkomunikasi langsung. Leonie juga mengakui bahwa orang-orang Jerman tampak serius dan tidak mudah juga membangun pertemanan.

Leonie berpesan untuk orang-orang Indonesia yang ingin bekerja dan tinggal di Jerman agar tidak malu berlatih Bahasa Jerman. Supaya tidak merasa kesepian, mahasiswa asal Indonesia di Jerman bisa bergabung dengan kelompok mahasiswa di universitas atau bersabar untuk membangun pertemanan dengan rekan-rekan kerja di kantor.

Diskusi Podcast ini dipandu oleh Fadni, Mahasiswi S2 di Jerman dan Anna. Mengapa Leonie ingin magang dan tinggal di Indonesia? Mengapa Leonie suka akan budaya Indonesia? Pengalaman berkesan apa yang ditemuinya selama magang dan tinggal di Indonesia? Apa pendapatnya tentang Bahasa Indonesia yang dipelajarinya selama ini? Apa pesan dan harapan Leonie sebagai perempuan Jerman kepada orang-orang Indonesia yang dikenalnya? 

Selengkapnya diskusi Podcast RUMPITA dalam kanal Spotify berikut ini dan jangan lupa follow kanal SPOTIFY kami:

(PODCAST RUMPITA) Mengenali Reiki, Pendekatan Kesehatan Komplementer dari Jepang

Dalam diskusi Podcast RUMPITA pada episode ke-21 ini, Ruanita Indonesia mengangkat tema tentang Reiki, yang dianggap sebagai terapi komplementer untuk kesehatan manusia sebagai pendekatan Holistik.

Untuk membahas lebih dalam Reiki, yang berasal dari Jepang ini, Ruanita Indonesia mengundang sahabat Ruanita yang menetap di Jerman dan telah menjadi Master Reiki.

Master Reiki adalah satu tingkatan lebih tinggi dari praktisi Reiki, yang telah menyelesaikan serangkaian pelatihan dan dianggap telah berhasil memberikan energi ke yang lain.

Master Reiki yang diundang untuk membahasnya lebih dalam adalah Ratitia, yang juga owner dari salon dan spa di Jerman. Ratitia menjelaskan bahwa Reiki berasal dari Jepang, sehingga disebut sebagai Reiki dari kata Rei dan Ki, yang berarti menjadi energi kekuatan.

Kalau energi kita rendah atau lemah, kita menjadi sakit. Reiki itu adalah kita semua dan ada di dalam diri kita semua. Kita yang bahagia adalah orang yang punya energi tinggi.

Untuk mendapatkan energi yang bagus adalah orang bisa belajar Reiki atau dia juga bisa ‘Gift’ sehingga tuned in dalam dirinya. Kalau energi yang dihasilkan adalah positif, maka kita menjadi lebih sehat, lebih bahagia, dan tidak mudah terserang penyakit.

Reiki membersihkan, meluruskan, dan memperbaiki jalur energi tersebut sehingga menjadi cara yang alamiah.

Reiki membuat kita relaksasi, aman, sejahtera dalam hidup. Meski sederhana dipelajari, tidak bisa diajarkan biasa tetapi diteruskan (attunement) atau pengisian energi yang diberikan oleh Master Reiki, kecuali orang tersebut memiliki “Gift” yang mungkin dia tahu bagaimana mengelolanya.

Reiki bisa dikombinasikan dengan terapi lainnya, karena Reiki hanya meletakkan tangan ke badan pasien. Ratitia juga mengajari terapis spa yang menjadi karyawannya untuk memberikan energi Reiki agar mereka tidak mudah sakit.

Follow us @ruanita.indonesia

Bagaimana kita bisa belajar Reiki untuk pemula? Apa yang membedakan Reiki dengan terapi komplementer lainnya untuk kesejahteraan batin dan well-being? Apakah mungkin Reiki bisa dilakukan dalam kondisi jarak jauh? Dalam kehidupan digital, apakah Reiki bisa dilakukan juga lewat media digital? Berapa besaran biaya untuk belajar Reiki dan mendapatkan “attunement” dari Master Reiki?

Diskusi Podcast selengkapnya dapat disimak sebagai berikut:

(RUMPITA) Memahami Negara Kolombia yang Bebas Visa Untuk WNI

Melanjutkan diskusi Podcast RUMPITA episode ke-20, Fadni yang menjadi Host mengundang sahabat Ruanita yang tinggal di Kolombia. Dia adalah Efi Yanuar, seorang kreator digital yang tinggal di Kolombia. Tentunya, Efi yang sudah menetap di Kolombia merasakan berbagai pengalaman menarik dan menantang selama di sana.

Barangkali diskusi podcast kali ini membuat sahabat Ruanita semakin penasaran untuk datang ke Kolombia dan mengetahui kebenaran sesungguhnya dari stereotip tentang orang-orang Kolombia. Cerita-cerita Efi tentang Kolombia bisa ditemukan di akun Instagramnya efi.di.kolombia.

Untuk datang sebagai turis, warga Indonesia tidak memerlukan turis tetapi cukup tiket pesawat pulang-pergi saja. Visa untuk warga Indonesia berlaku 90 hari dan bisa diperpanjang hingga 90 hari kemudian. Iklim dan cuaca negara Kolombia seperti layaknya di Indonesia, yang memiliki musim hujan dan musim panas. Efi sendiri mengakui tidak begitu sulit buat orang Indonesia untuk beradaptasi karena cuaca di Kolombia mirip dengan Indonesia. Ini berbeda dengan kota Bogota, yang berada di pegunungan atau dataran tinggi.

Bahasa yang digunakan warga Kolombia adalah Bahasa Spanyol, meskipun bahasa ini sedikit berbeda dengan Bahasa Spanyol di negara Spanyol seperti perbedaan kosakata. Perbedaan lainnya seperti subyek. Dalam Bahasa Spanyol ada 6 subyek, sedangkan dalam Bahasa Kolombia ada 5 subyek. Di Kolombia tidak ada sapaan seperti kakak, ibu, dan bapak seperti Bahasa Indonesia.

Soal kuliner di Kolombia, Efi merasakan sangat berbeda dengan Indonesia. Masakan Kolombia bisa saja memasukkan kacang merah, alpukat, singkong, jagung, atau pisang dan tidak banyak menggunakan rempah-rempah. Hal ini berbeda dengan kacang merah, alpukat atau singkong yang banyak digunakan dalam kuliner Indonesia sebagai dessert.

Follow us

Ada festival yang mirip di Kolombia seperti di Indonesia, yakni perayaan Semana Santa di Flores, Indonesia yang dilangsungkan selama tujuh hari dan menjelang Paskah. Stereotip yang selama ini dimunculkan pada telenovela atau opera sabun sewaktu Anna dan Fadni di Indonesia ternyata memang benar adanya, seperti kriminalitas di Kolombia. Efi pun mengakui tingkat kriminalitas di Kolombia pun cukup tinggi.

Bagaimana orang-orang Indonesia mempersepsikan negara Kolombia? Apakah Efi juga sempat mengalami culture shock selama tinggal di sana? Apa yang membuat Efi bertahan dan menyukai kehidupan bersama orang-orang Kolombia? Apa yang menarik dan menantang selama tinggal di Kolombia? Lalu apa yang perlu dipersiapkan kalau mau traveling ke Kolombia, yang mana WNI tidak perlu visa untuk berkunjung ke sana?

Lebih lanjut dan detilnya, silakan mendengarkan rekaman diskusi Podcast berikut ini:

(RUMPITA) Bagaimana Trauma Healing yang Tepat?

Pada episode ke-19 diskusi Podcast Rumpita – Rumpi bersama Ruanita – dipandu oleh Mutiah Nurfadni atau yang biasa akrab dipanggil Fadni mengambil tema tentang trauma.

Fadni sendiri adalah mahasiswi program studi master di salah satu universitas bergengsi di Berlin, Jerman. Untuk membahas lebih dalam tentang trauma, Fadni mengundang Estrelita Gracia., M.Sc. atau dikenal dengan Esta, yang juga Founder dari Momentizing yang berpusat di Taiwan.

Esta kini sedang mengambil master program psikologi klinis dewasa di salah satu universitas swasta di Jakarta, Indonesia. Esta berpendapat kita sebaiknya memilih kata yang tepat untuk menyebut trauma karena trauma adalah respon terhadap peristiwa yang membuat stres.

Trauma bisa terjadi secara kolektif seperti pandemi yang terjadi baru-baru ini. Covid-19 kemarin pun bisa memberikan trauma kolektif hingga menjadi budaya post-covid 19 yang baru seperti menggunakan konsep belajar digital, dan lainnya.

Follow us.

Menurut Esta, orang dengan trauma biasanya takut, tetapi orang yang takut belum tentu mengalami trauma. Trauma biasanya disertai dengan perasaan takut yang akut dan parah. Rasa takut tidak selalu menjadi trauma dan bergantung pada resiliensi/daya juangnya sehingga tidak menjadi trauma. Rasa takut berkepanjangan dan akut terhadap sesuatu tersebut dan tidak terselesaikan sehingga menjadi trauma.

Menjawab pertanyaan Fadni, Esta berpendapat bahwa orang harus bisa membedakan antara trauma dengan fobia yang biasanya ketakutan akan suatu objek. Trauma sendiri punya berbagai macam tergantung tingkatan, misalnya ada salah satu kejadian yang mengubah hidup kita seperti perang, pandemi, dll. Namun di sisi lain adalah kejadian yang sepele tetapi berlangsung sering/intens seperti misalnya pengabaian, kekerasan dalam rumah tangga, dsb bisa menyebabkan trauma.

Trauma perlu diatasi secara holistik (=holistic healing) dengan berbagai bantuan profesional seperti neurolog/ahli syaraf, psikiater, psikolog atau konselor. Kita perlu keseimbangan tubuh juga dengan nutrisi dan asupan makanan yang dikonsumsi dalam mengatasi trauma. Trauma perlu ditangani secara keseluruhan dan intensif, misalnya tidak cukup hanya konseling saja.

Apa perbedaan trauma yang terjadi pada anak-anak dengan orang dewasa? Bagaimana sebaiknya kita mengatasi trauma yang tepat? Apakah trauma bisa ditangani hanya dengan “Healing” yang menjadi gaya hidup kekinian? Bagaimana kita membantu anggota keluarga/kerabat yang lain yang sedang mengalami trauma?

Simak selengkapnya di diskusi Podcast Rumpita berikut ini:

(RUMPITA) Rasanya Menjadi First Time Mom di Jerman

Melanjutkan episode ke-18 di bulan Oktober, Podcast Rumpita mengangkat tema pengalaman menjadi seorang ibu pertama kali saat dia jauh dari keluarga besar di Indonesia dan tinggal di perantauan.

Untuk membahasnya lebih mendalam, Fadni yang menjadi Host dari Podcast Rumpita mengundang rekan Host lainnya, yakni Nadia yang saat ini sedang off dari Podcast Rumpita. Nadia dikabarkan sedang menjalani peran baru sebagai seorang ibu sehingga sedang mengambil cuti dari Podcast Rumpita.

Follow us.

Nadia telah tinggal lebih dari 10 tahun di Jerman sejak dia memulai studi S1. Tak disangka, Nadia pun menikah dan membangun keluarga di Jerman. Nadia pun merasakan berbagai perasaan yang menakutkan ketika dia mengetahui dirinya hamil. Perasaan cemas, khawatir, tidak percaya diri, hingga menyangsikan kemampuan diri sendiri sebagai ibu pun muncul dalam pikiran Nadia.

Bagi Nadia, tugas menjadi ibu adalah seumur hidup dalam menjalin ikatan batin antara ibu dengan anak. Nadia bertemu dengan suami, yang juga sesama pelajar asal Indonesia di Jerman, kemudian memulai hidup baru berkeluarga di Jerman. Tak hanya soal perasaan yang dialaminya, Nadia juga menceritakan pengalamannya untuk menyiapkan diri menjadi ibu seorang diri.

Nadia sempat didiagnosa punya kadar diabetes tinggi saat hamil. Dia pun harus wanti-wanti untuk mengonsumsi apa yang dinikmatinya selama hamil. Bagi Nadia, ketidakhadiran ibu dan keluarga besar di Indonesia membuat dia merasa was-was menantikan sang buah hati.

Di Indonesia, kita terbiasa mendapatkan berbagai segudang nasihat untuk ibu hamil. Belum lagi banyak sekali bentuk perhatian dan dukungan sosial yang diberikan keluarga besar. Namun, Nadia tidak mengalaminya saat dia seorang diri tinggal di perantauan.

Bagaimana pengalaman Nadia menyiapkan diri untuk tidak takut menghadapi proses kehamilan? Apa saja yang harus dipersiapkan kalau seorang perempuan pendatang seperti Nadia, hamil dan melahirkan di Jerman? Mengapa Nadia merasa cemas dan khawatir sebelum persalinan? Bagaimana proses persalinan pada umumnya di Jerman? Siapa yang membantu persalinan Nadia di Jerman?

Selengkapnya diskusi Podcast dapat didengar berikut ini:

(RUMPITA) Pengalaman Studi Kedokteran Ayurveda di Delhi, India

Di bulan Juli 2023 Podcast RUMPITA mengundang Sahabat RUANITA yang tinggal di India dan sekarang sedang menempuh studi kedokteran yang berfokus pada Ayurveda. Dia adalah Rakanita Arifah yang berasal dari Tangerang dan kini menetap di India untuk mendalami pengobatan tertua di dunia, yang dikenal Ayurveda. Nita, demikian beliau disapa, mengenal Ayurveda sejak dia mengikuti jejak ibunya yang adalah guru Yoga di Bali.

Banyak orang Indonesia belum memahami dan tidak mengenali Ayurveda, di bawah Kementerian Ayush di India, Central Council of Indian Medicine, dan kurikulum pembelajarannya diatur oleh lembaga yang bernama CCIM (=Central Coucil Indian Medicine) sejak 1971. Nita pertama kali belajar bahasa Sansekreta untuk memelajari dasar-dasar Ayurveda, anatomi tubuh, fisiologis dan lainnya di tahun pertama studi.

Follow us: @ruanita.indonesia

Dalam Ayurveda, kita perlu memahami bahwa setiap orang bisa memiliki pengobatan yang berbeda meski memiliki penyakit yang sama dengan orang lain karena semua tergantung pada tipe tubuhnya.

Menurut Nita, konten pengobatan Ayurveda ini universal meski pendekatan yang dipakai seperti dalam ajaran agama Hindu. Pada tahun ketiga, Nita pun mulai mendalami kasus dan praktik klinis langsung di rumah sakit yang ditemani oleh dosen.

Di tahun keempat, Nita mulai menjalani praktik klinis langsung di rumah sakit sebagai tahun terakhir. Untuk praktik klinis langsung, Nita akan mendapatkan giliran bersama mahasiswa lainnya.

Nita banyak menggunakan bahasa pengantar Bahasa Inggris terutama untuk hal-hal yang masih belum dipahami selama pembelajaran.

Nita berharap usai studi Ayurveda dapat diaplikasikan di Indonesia terutama masyarakat Indonesia yang bisa menjadi alternatif pengobatan. Indonesia sendiri telah mulai diperkenalkan Ayurveda sebagai pengobatan sejak lama.

Bagaimana Nita menjalani studi kedokteran Ayurveda? Bagaimana Nita menjelaskan Ayurveda sebagai pengobatan untuk masyarakat yang belum banyak diketahui secara umum di Indonesia? Apa yang akan dilakukan oleh Nita setelah selesai studi?

Simak selengkapnya di Podcast RUMPITA – Rumpi bersama RUANITA berikut ini:

(RUMPITA) Tantangan Ibu Pekerja di Jerman Tanpa Asisten Rumah Tangga

Pada episode bulan Juni 2023, program Podcast RUMPITA atau Rumpita bersama RUANITA kali ini mengangkat tema tentang tantangan perempuan sebagai ibu pekerja di Jerman dalam membagi waktu dan peran. Untuk membahas diskusi lebih lanjut, Nadia yang menjadi host mengundang Euginia Putri Stederi Martenelli yang bekerja di salah satu institusi pemerintahan di Jerman setelah Utte, begitu beliau disapa, menyelesaikan studi Bachelor di Jerman.

Sejak 2021 Utte mendapatkan peran baru sebagai ibu dari seorang putri. Utte memahami bahwa peran sebagai pekerja dan ibu tidak mudah terutama dalam membagikan waktu dan peran, tanpa bantuan asisten rumah tangga dan keluarga besar. Utte mengakui bahwa pemberi kerja di tempatnya telah memberikan dukungan sosial bagi para ayah atau ibu baru dalam membagikan perannya sebagai orang tua. Utte bekerja hanya 4-5 jam saja dalam sehari.

Follow us: @ruanita.indonesia

Utte mengakui bahwa biaya untuk mengeluarkan asisten rumah tangga sangat mahal di Jerman. Selama Utte bekerja di kantor, anak dititipkan di Daycare yang memang menjadi salah satu program pemerintah Jerman. Semakin besar gaji orang tuanya, maka semakin besar pula biaya pengeluarannya di Daycare. Misalnya, suami Utte bekerja fulltime sedangkan Utte bekerja sebagai paruh waktu sehingga dia mendapatkan level ke-4 dalam pembiayaan Daycare.

Bagaimana pengalaman Utte untuk mengakses waktu cuti menjadi orang tua di Jerman? Simak juga bagaimana Utte mendapatkan tunjangan pemerintah di Jerman dalam mengasuh anak? Apa saja kiat-kiat Utte untuk mengatasi tantangan sebagai pekerja dan ibu di Jerman? Apa saja strategi yang diperlukan pekerja dan ibu apabila kita ingin tinggal di Jerman?

Simak penjelasan lebih lanjut dalam diskusi Podcast berikut ini:

(RUMPITA) Menembus Batas: Perjalanan Karir Menjadi Perancang Perhiasan Internasional

Di episode ke-13 kali ini, Podcast Rumpita yang dipandu oleh Nadia dan Fadni kedatangan narasumber seorang perancang perhiasan Indonesia yang sedang bermukim di Italia, Amelia Rachim.

Amelia Rachim memutuskan menjadi seorang perancang perhiasan ketika dirinya bekerja praktek di Bali setelah lulus dari jurusan Desain Produk FSRD ITB, dan pada tahun 2008 ia mendapat beasiswa Master di bidang Jewellery Engineering di Politecnico di Torino Italia.

Pada tahun 2011 ia mendapatkan penghargaan sebagai pemenang termuda kompetisi perhiasan yang diadakan oleh Breil, sebuah merk Italia terkemuka untuk jam dan perhiasan. Tidak hanya menang beberapa kompetisi Internasional. Perhiasan rancangan Amelia juga dipakai oleh artis ternama internasional seperti Anggun C. Sasmi dan juga Kristin Chenoweth.

Menjalani kuliah master di Italia, Amelia mengalami tantangan terbesar ketika dirinya juga harus mempelajari sifat dan daya lebur logam dari sisi kimia dan fisika, dan tidak semata-mata hanya dari sudut pandang seninya saja.

Amelia juga menjelaskan tentang karakteristik emas sebagai logam dan tingkat karatnya, dimana semakin tinggi tingkat karat emas maka kemungkinan emas mudah bengkok akan tinggi.

Ketika berbicara tentang desain, desain perhiasan Amelia sendiri terinspirasi oleh filosofi Indonesia dan itu menjadi ciri khas Amelia yang telah dikenal oleh para kliennya.

Follow us: ruanita.indonesia

Ia menambahkan bahwa market internasional sangat menyukai cerita atau makna filosofis dibalik sebuah perhiasan, oleh karena itu yang akan membuat desainer semakin dihargai dan desainnya dihargai lebih tinggi.

Dalam podcast ini Amelia berbagi tips untuk meraih kesuksesan sebagai perancang perhiasan. Menurutnya untuk menjadi seorang perancang perhiasan sangat dibutuhkan persistensi, kesabaran yang tinggi, dan selalu mengasah jiwa kreatif dengan bersekolah di sekolah seni. Rajin mengikuti lomba juga akan menambah wawasan tentang trend masa kini yang ditunjukkan oleh para peserta desain lainnya.

Tidak hanya kesuksesan, Amelia juga berbagi tentang jatuh bangunnya sebagai seorang perancang perhiasan Indonesia yang bermukim di Italia.

Jika Sahabat Rumpita ingin mengetahui ceritanya lebih lanjut dan topik seru lainnya dengan Amelia, silahkan putar podcast episode kali ini.

(RUMPITA) Menghidupkan Nilai-Nilai Kartini di Perantauan

Melanjutkan episode di bulan April, Nadia dan Fadni sebagai Host RUMPITA mengundang salah satu sahabat RUANITA yang tinggal di Norwegia. Tema yang dibahas kali ini bertepatan dengan Hari Kartini, yang diperingati setiap 21 April di Indonesia.

Hari Kartini yang dulu di Indonesia dirayakan ternyata masih dikenang oleh kebanyakan perempuan Indonesia yang kini telah tinggal di perantauan, di luar Indonesia. Menurut Aini, dahulu selebrasi perayaan Kartini lebih pada penempatan perempuan pada sektor domestik seperti lomba memasak atau berbusana.

Follow us ruanita.indonesia

Aini berpendapat bahwa sosok Ibu Kartini di masanya adalah tokoh visioner yang mampu menginspirasi perempuan lainnya dengan menggerakkan konsep sisterhood. Justru Ibu Kartini telah menanamkan nilai-nilai agar perempuan membebaskan dari nilai-nilai tradisional agar tidak terkekang.

Aini juga heran mengapa hanya Ibu Kartini yang lebih banyak diunggulkan sebagai tokoh pahlawan perempuan. Dia menyebutkan ada banyak tokoh pahlawan perempuan lainnya yang juga menorehkan sejarah bangsa Indonesia, tetapi mengapa hanya Ibu Kartini yang tampak ketika kita masih di Indonesia untuk merayakannya.

Nilai-nilai Ibu Kartini di masa kini justru semakin menguatkan peran perempuan dalam tantangan masa kini. Perempuan tidak meninggalkan peran domestik tetapi perempuan berhasil mengambil peran ganda atau multitasking. Namun perempuan sendiri masih dihadapkan dilema untuk mandiri seperti mengambil keputusan untuk dirinya sendiri.

Pengasuhan pun sangat berdampak untuk menghidupkan nilai-nilai Ibu Kartini di perantauan. Untuk perempuan yang berperan sebagai ibu seperti Aini atau bakal ibu seperti Nadia dan Fadni tentu tantangannya berbeda lagi. Apalagi anak-anak mereka dihadapkan pada values yang berbeda sekali dengan Indonesia, termasuk tentang sejarah bangsa Indonesia sendiri.

Aini mencontohkan bagaimana peran ibu bisa tetap mengajarkan ke anak-anak tentang values dan sejarah bangsa Indonesia lewat berbagai media kekinian. Selain itu perempuan Indonesia di perantauan tetap bisa menjadi role model untuk mengambil bagian dari peran masing-masing di perantauan seperti mahasiswi, akademisi, ibu, karyawati atau apapun peran yang disematkan ke kita.

Simak keseruan obrolan mereka dalam diskusi Podcast berikut ini

(RUMPITA) Perempuan, Konsumtifitas, dan Lingkungan

RUMPITA – Rumpi bersama RUANITA yang menjadi program Podcast di Episode 11 ini membahas tema yang berkaitan dengan Hari Perempuan Internasional yang jatuh pada 8 Maret tiap tahunnya. Untuk membahas lebih detil, Tim RUMPITA yang terdiri atas Nadia, Fadni, dan Alvina mengundang seorang Sahabat RUANITA yang tinggal di Berlin, Jerman yakni Vina Aulia.

Perempuan dihadapkan pada berbagai pilihan dalam hidupnya untuk memenuhi tuntutan sosial seperti gaya hidup, tekanan peer-groups, mode fashion, dan lainnya. Vina Aulia bercerita tentang bagaimana perempuan di Indonesia mendapatkan tawaran mencoba produk baru dari lingkungan pertemanan, yang kadang belum tentu mudah untuk menerima perubahan gaya hidup tersebut. Misalnya, kelompok arisan yang memberikan iming-iming produk elektronik terbaru sehingga membuat perempuan “terpaksa” mengikutinya

Tim RUMPITA dan Vina Aulia menyetujui kalau mereka tinggal di Jerman masih berpikir tanggung jawab sosial dan moral ketika mereka harus mengikuti tren gaya hidup. Contoh yang dimaksud Vina Aulia seperti Fast Fashion yang bergerak cepat untuk memenuhi gaya hidup. Sementara Vina berpikir tentang bagaimana upah yang diberikan kepada pekerja dengan pakaian yang murah tersebut. Belum lagi masalah lingkungan yang ditimbulkan dari akibat perilaku konsumtif sebagai akibat tidak langsung dari Fast Fashion.

Follow us ruanita.indonesia

Nadia mengamini kalau harga murah memang memikat orang berperilaku konsumtif, tetapi tanggung jawab sosial dan moral harus menjadi pertimbangan demi keberlanjutan dunia yang lebih layak. Seperti yang disampaikan Nadia, Fadni juga menyetujui tentang pertimbangan lingkungan, sosial, dan moral dalam memenuhi tuntutan gaya hidup apalagi Fadni memang memiliki usaha yang bergerak di bidang fesyen.

Saran Vina Aulia untuk mengurangi perilaku konsumtif, kita perlu mengedukasi diri sendiri agar dapat memahami pentingnya tanggung jawab sosial dan moral dalam mengikuti gaya hidup. Kita perlu berpikir ulang tentang prioritas barang ketika ingin dibeli sehingga tidak sekedar memenuhi tuntutan gaya hidup saja. Kedua, kita cari tahu lebih banyak tentang produk ini termasuk apakah perusahaan yang memproduksinya benar-benar memperhatikan tanggung jawab sosial, moral, dan lingkungan.

Lebih lanjut tentang RUMPITA Episode 11 ini, silakan mendengarkan diskusi seru mereka berikut ini: